Artikelilmiahs
Menampilkan 47.681-47.700 dari 48.726 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 47681 | 51069 | I1B022031 | HUBUNGAN KELUHAN MUSCULOSKELETAL DISORDERS (MSDs) DENGAN KINERJA PERAWAT DI RUANG INSTALASI GAWAT DARURAT (IGD) | Latar Belakang: Perawat Instalasi Gawat Darurat (IGD) memiliki risiko tinggi mengalami keluhan musculoskeletal disorders (MSDs) karena tingginya beban kerja dan tuntutan aktivitas fisik yang berat. Keluhan MSDs berpotensi menurunkan kemampuan teknis, meningkatkan kelelahan, serta angka absensi dan cuti sakit, sehingga dapat berdampak pada kinerja perawat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan keluhan MSDs dengan kinerja perawat di ruang IGD RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di ruang IGD RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo dengan melibatkan 32 perawat melalui teknik total sampling. Keluhan MSDs diukur menggunakan Nordic Body Map (NBM), sedangkan kinerja diukur menggunakan Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ). Analisis hubungan antara kedua variabel dilakukan menggunakan uji Somers’D. Hasil: Mayoritas responden mengalami keluhan MSDs kategori ringan yaitu sebesar 84,4%, sedangkan 40,63% memiliki kinerja pada kategori tinggi. Hasil uji bivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara keluhan MSDs dengan kinerja perawat (p=0,225, D=-202). Kesimpulan: Keluhan MSDs yang dialami perawat tidak memiliki hubungan signifikan dengan kinerja perawat di ruang IGD. | Background: Emergency Department (ED) nurses are at a high risk of developing musculoskeletal disorders (MSDs) due to heavy workloads and physically demanding tasks. MSDs can reduce technical proficiency, increase fatigue, and lead to higher rates of absenteeism and sick leave, all of which may negatively affect nurse performance. This study aims to examine the relationship between MSDs complaints and the performance of nurses in the ED at Prof. Dr. Margono Soekarjo Regional General Hospital. Methods: This study employed a quantitative design with a cross-sectional approach. The research was conducted in the ED at Prof. Dr. Margono Soekarjo Regional General Hospital, involving 32 nurses selected through a total sampling technique. MSDs complaints were measured using the Nordic Body Map (NBM), while performance was assessed using the Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ). The relationship between the two variables was analyzed using Somers’ D test. Result: The majority of respondents experienced mild MSDs complaints, accounting for 84.4%, while 40.63% demonstrated high performance levels. The bivariate test results showed no significant relationship between MSD complaints and nurse performance (p = 0.225, D = -0.202). Conclusion: Musculoskeletal disorder (MSD) complaints experienced by nurses have no significant relationship with nurse performance in the emergency department. | |
| 47682 | 51072 | I1B022105 | GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP MASYARAKAT TENTANG KESIAPSIAGAAN DAN DETEKSI DINI BENCANA GUNUNG MELETUS | Latar Belakang: Indonesia memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap erupsi gunung berapi, termasuk Gunung Slamet yang sejak tahun 2023 berada pada Level II (Waspada). Desa Limpakuwus sebagai wilayah rawan bencana memerlukan kesiapsiagaan masyarakat yang memadai. Meskipun penelitian sebelumnya melaporkan rendahnya tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat di daerah rawan erupsi, kondisi di Limpakuwus menunjukkan hasil yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesiapsiagaan dan deteksi dini bencana erupsi gunung berapi sebagai dasar penguatan strategi mitigasi yang kontekstual. Metode: Penelitian ini menggunakan desain survei deskriptif kuantitatif dengan melibatkan 69 responden yang dipilih melalui teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, kemudian dianalisis secara deskriptif menggunakan persentase univariat. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia produktif, bekerja sebagai petani, dan berpendidikan sekolah dasar. Tingkat pengetahuan dikategorikan baik (85,5%), cukup (13,0%), dan kurang (1,4%). Seluruh responden (100%) menunjukkan sikap yang baik terhadap kesiapsiagaan dan deteksi dini. Kesimpulan: Masyarakat Desa Limpakuwus tergolong siap dan responsif terhadap ancaman erupsi gunung berapi, dengan pengetahuan dan sikap positif sebagai dasar kuat untuk mitigasi bencana yang berkelanjutan. | Background: Indonesia has a high level of vulnerability to volcanic eruptions, including Mount Slamet, which has remained at Level II (Alert) since 2023. Limpakuwus Village, as a disaster-prone area, requires adequate community preparedness. Although previous studies reported low levels of knowledge and attitudes among residents in eruption-prone areas, conditions in Limpakuwus show different findings. This study aims to describe the community’s level of knowledge and attitudes toward preparedness and early detection of volcanic eruption disasters as a basis for strengthening contextual mitigation strategies. Method: This research used a quantitative descriptive survey design involving 69 respondents selected through a total sampling technique. Data were collected using validated and reliable questionnaires and analyzed descriptively using univariate percentages. Result: The results showed that most respondents were of productive age, worked as farmers, and had elementary education. The level of knowledge was categorized as good (85.5%), fair (13.0%), and poor (1.4%). All respondents (100%) demonstrated positive attitudes toward preparedness and early detection. Conclusion: The people of Limpakuwus Village are considered ready and responsive to volcanic eruption threats, with good knowledge and positive attitudes serving as a strong foundation for sustainable disaster mitigation. | |
| 47683 | 51075 | K1C021063 | METODE DIFFERENTIAL INTERFEROMETRIC SYNTHETIC APERTURE RADAR UNTUK ANALISIS DEFORMASI GUNUNG SLAMET PADA ERUPSI FREATIK TAHUN 2019 MENGGUNAKAN SATELIT SENTINEL-1A | Erupsi freatik Gunung Slamet terjadi pada tanggal 9 Agustus 2019. Fenomena tersebut merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya perubahan permukaan tanah. Perubahan tersebut dapat menunjukkan adanya deformasi, baik berupa kenaikan permukaan tanah (uplift) maupun penurunan permukaan tanah (subsidence). Pada penelitian ini, fenomena deformasi yang terjadi di Gunung Slamet dianalisis menggunakan metode Differential Interferometric Synthetic Aperture Radar (DInSAR). Metode tersebut dipilih karena mampu melakukan pemantauan wilayah yang luas secara efisien dan tidak terpengaruh oleh kondisi cuaca. Fokus penelitian ini adalah memetakan deformasi sebelum dan sesudah kejadian erupsi freatik Gunung Slamet pada 9 Agustus 2019 serta membandingkan hasil analisis antara metode InSAR dan DInSAR. Data yang digunakan berupa enam pasangan citra radar Sentinel-1A yang mewakili periode sebelum hingga sesudah erupsi freatik. Keenam pasang data tersebut kemudian diolah menggunakan perangkat lunak SNAP (Sentinel Application Platform). Pada metode InSAR sebelum erupsi freatik diperoleh nilai kenaikan permukaan tanah berkisar antara 0,07 hingga 0,102 meter dan penurunan permukaan tanah berkisar antara -0,013 hingga -0,055 meter. Pada rentang terjadinya erupsi freatik diperoleh nilai penurunan permukaan tanah berkisar antara -0,066 hingga -0,072 meter. Setelah periode erupsi diperoleh nilai kenaikan permukaan tanah berkisar antara -0,008 hingga 0,156 meter. Hasil pemrosesan dengan metode InSAR masih menunjukkan adanya pengaruh komponen topografi permukaan. Pada metode DInSAR sebelum erupsi freatik diperoleh nilai kenaikan permukaan tanah berkisar antara 0,013 hingga 0,063 meter dan penurunan permukaan tanah berkisar antara 0 hingga -0,029 meter. Pada rentang terjadinya erupsi freatik diperoleh nilai penurunan permukaan tanah berkisar antara -0,023 hingga -0,062 meter. Setelah periode erupsi diperoleh nilai kenaikan permukaan tanah berkisar antara 0,029 hingga 0,072 meter. | The phreatic eruption of Mount Slamet occurred on August 9, 2019. This phenomenon is one of the factors causing changes in the ground surface. These changes can indicate deformation, either in the form of ground uplift or subsidence. In this study, the deformation phenomenon that occurred at Mount Slamet was analyzed using the Differential Interferometric Synthetic Aperture Radar (DInSAR) method. This method was chosen because it is capable of monitoring a large area efficiently and is not affected by weather conditions. The focus of this study is to map the deformation before and after the phreatic eruption of Mount Slamet on August 9, 2019, and to compare the analysis results between the InSAR and DInSAR methods. The data used consists of six pairs of Sentinel-1A radar images representing the period before and after the phreatic eruption. The six pairs of data were then processed using SNAP (Sentinel Application Platform) software. Using the InSAR method before the phreatic eruption, ground surface elevation increases ranging from 0.07 to 0.102 meters and ground surface elevation decreases ranging from -0.013 to -0.055 meters were obtained. During the phreatic eruption, ground surface subsidence values ranged from -0.066 to -0.072 meters. After the eruption period, ground surface elevation values ranged from -0.008 to 0.156 meters. Processing results using the InSAR method still show the influence of surface topography components. Using the DInSAR method before the phreatic eruption, ground surface elevation ranged from 0.013 to 0.063 meters and ground surface elevation decrease values ranged from 0 to -0.029 meters. During the phreatic eruption, ground surface subsidence values ranged from -0.023 to -0.062 meters. After the eruption period, ground surface elevation values ranged from 0.029 to 0.072 meters. | |
| 47684 | 51068 | I1B022056 | Pengaruh Daily Reflective Journaling terhadap Perilaku Phubbing pada Mahasiswa Keperawatan Universitas Jenderal Soedirman | Latar Belakang: Perilaku phubbing yaitu kebiasaan mengabaikan orang lain dan fokus dengan ponsel, menjadi fenomena yang cukup mengkhawatirkan pada mahasiswa keperawatan. Kebiasaan ini dapat mengganggu komunikasi, kualitas hubungan interpersonal, dan empati mahasiswa. Daily reflective journaling merupakan metode menulis catatan keseharian yang dapat membantu individu memahami dan mengatasi emosi yang tertahan guna meningkatkan kemampuan individu dalam mengatur perilaku maladaptive seperti penggunaan ponsel yang berlebihan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh daily reflective journaling terhadap perilaku phubbing pada mahasiswa keperawatan. Metodologi: Penelitian ini menggunakan desain penelitian true experimental pretest-posttest with control group. Sampel terdiri dari 74 mahasiswa keperawatan yang dibagi mejadi dua kelompok, kelompok kontrol dan kelompok intervensi menggunakan simple random sampling. Pengukuran perilaku phubbing dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan The Phubbing Scale. Analisis perbedaan perubahan skor antara kedua kelompok dilakukan menggunakan independent sample t-test. Hasil Penelitian: Karakteristik partisipan berusia 19-23 tahun dan mayoritas berjenis kelamin perempuan. Terdapat perbedaan perubahan skor phubbing yang signifikan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol, dengan hasil uji independent sample t-test menunjukkan nilai p = 0.008, yang berarti daily reflective journaling berpengaruh dalam menurunkan perilaku phubbing. Kesimpulan: Terdapat pengaruh signifikan daily reflective journaling terhadap penurunan skor perilaku phubbing pada mahasiswa keperawatan. | Background: Phubbing, the habit of ignoring others and focusing on cell phones, has become a concerning phenomenon among nursing students. This behavior can disrupt communication, the quality of interpersonal relationships, and students’ empathy. Daily reflective journaling is a method of writing daily notes that helps individuals understand and process suppressed emotions, thereby improving their ability to regulate maladaptive behaviors such as excessive cell phone use. This study aims to determine the effect of daily reflective journaling on phubbing behavior among nursing students. Methodology: This study used a true experimental pretest-posttest design with a control group. The sample consisted of 74 nursing students divided into two groups, a control group and an intervention group, using simple random sampling. Phubbing behavior was measured before and after the intervention using The Phubbing Scale. Differences in score changes between the two groups were analyzed using an independent sample t-test. Research Results: Participants ranged in age from 19 to 23 years, and the majority were female. There was a significant difference in phubbing scores changes between the intervention group and the control group, with the independent sample t-test showing a p-value of 0.008, indicating that daily reflective journaling has an effect on reducing phubbing behavior. Conclusion: Daily reflective journaling has a significant effect on reducing phubbing behavior scores among nursing students. | |
| 47685 | 51076 | K1C021019 | Pemodelan Tiga Dimensi Dapur Magma Kompleks Gunungapi Ibu Kabupaten Halmahera Barat Maluku Utara Berdasarkan Data Anomali Gravitasi Citra Satelit | Pemodelan tiga dimensi kompleks Gunungapi Ibu telah dilakukan untuk mengetahui struktur bawah permukaan dan keberadaan dapur magma Gunungapi Ibu sebagai mitigasi awal gunung meletus. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang diperoleh dari website GGMplus 2013. Proses pengolahan data meliputi penentuan densitas batuan daerah penelitian menggunakan metode parasnis, koreksi bouguer untuk menghasilkan Anomali Bouguer Sederhana (ABS), koreksi medan untuk menghasilkan Anomali Bouguer Lengkap (ABL), ABL reduksi ke bidang datar menggunakan pendekatan Deret Taylor dan pemisahan anomali regional dan anomali residual menggunakan metode Uppward Continuation. Anomali residual dilakukan pemodelan tiga dimensi menggunakan software Grablox 1.7 dan software Bloxer 1.6. Kemudian, dilakukan 7 sayatan pada model tiga dimensi dan diinterpretasikan. Hasil penelitian menunjukkan struktur bawah permukaan kompleks Gunungapi Ibu tersusun atas 4 litologi batuan antara lain batuan cair (magma) dengan nilai densitas berkisar antara 1,60 – 1,70 g/cm3, lava yang tersusun atas andesit sampai basalt dengan nilai densitas berkisar antara 1,85 – 2,20 g/cm3, breksi andesit dengan nilai densitas berkisar antara 2,35 – 2,90 g/cm3 serta batu pasir tufaan dan konglomerat berkomponen andesit dan basalt dengan nilai densitas berkisar antara 2,95 – 3,60 g/cm3. Keberadaan dapur magma Gunungapi Ibu teridentifikasi pada koordinat longitude 347.93 km – UTM (127.6333° BT) dan latitude 165.15 km – UTM (1.493734° LU) wilayah penelitian. Dapur magma memiliki nilai densitas berkisar antara 1,60 – 1,70 g/cm3 dengan kedalaman antara 800 – 3500 meter di bawah permukaan. | Three-dimensional modeling of the Mount Ibu complex has been carried out to determine the subsurface structure and the presence of the Mount Ibu magma chamber as an early mitigation of volcanic eruptions. The data used are secondary data obtained from the GGMplus 2013 website. The data processing process includes determining the rock density of the research area using the parasnis method, bouguer correction to produce Simple Bouguer Anomaly (ABS), field correction to produce Complete Bouguer Anomaly (ABL), ABL reduction to a flat plane using the Taylor series approach and separation of regional anomalies and residual anomalies using the Upward Continuation method. Residual anomalies are modeled in three dimensions using software Grablox 1.7 and software Bloxer 1.6. Then, 7 sections are made on the three-dimensional model and interpreted. The results of the study show that the subsurface structure of the Ibu volcano complex is composed of 4 rock lithologies, including molten rock (magma) with a density value ranging from 1,60 – 1,70 g/cm3, lava composed of andesite to basalt with a density value ranging from 1,85 – 2,20 g/cm3, andesite breccia with a density value ranging from 2,35 – 2,90 g/cm3 and tuffaceous sandstone and conglomerate with andesite and basalt components with a density value ranging from 2,95 – 3,60 g/cm3. The existence of the Ibu volcano magma chamber was identified at the longitude coordinates of 347.93 km – UTM (127.6333° East Longitude) and latitude 165.15 km – UTM (1.493734° N) The research area. The magma chamber has a density value ranging from 1,60 – 1,70 g/cm3 with a depth of between 800 – 3500 meters below the surface. | |
| 47686 | 51027 | K1C021010 | Interpretasi Struktur Patahan Daerah Subang Jawa Barat Berdasarkan Data Anomali Gravitasi GGMPLUS Filter Rosenbach | Penelitian metode gravitasi telah dilaksanakan di wilayah Subang Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan mengetahui keberadaan serta jenis sesar dan hasil interpretasi struktur bawah permukaan patahan di daerah Subang menggunakan analisis derivative First Horizontal Derivative (FHD) dan Second Vertical Derivative (SVD) serta hasil pemodelan 2 dimensi. Data yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 21.304 titik data dengan luas area penelitian sekitar 1.034,16 km2. Proses pada penelitian dilakukan dengan mengakses data sekunder dari website GGMPlus 2013, pengolahan data mencakup koreksi metode gravitasi, reduksi ke bidang datar, pemisahan anomali regional dan anomali residual metode upward continuation, analisis derivative First Horizontal Derivative (FHD) dan Second Vertical Derivative (SVD) dari anomali residual yang sebelumnya telah dipisahkan untuk mengetahui keberadaan serta jenis sesar, interpretasi grafik dari kedua analisis derivative, dan pemodelan 2D. Hasil penelitian mengidentifikasikan pada daerah Subang terdapat sesar naik, memiliki orientasi barat-timur. Kemudian, hasil interpretasi pemodelan 2 dimensi menunjukan daerah Subang tersusun atas 4 formasi batuan, yaitu Formasi Batuan Sedimen Neogen (Tnsb) dengan densitas 1,20-1,32 g/cm3, Formasi Batuan Gunung Api Holosen (Qv) densitas 2,00-2,90 g/cm3, Formasi Batuan Miosen Akhir (Tmsb) densitas 2,20-2,95 g/cm3, dan Formasi Batuan Gunung Api Plistosen (Qpv) dengan densitas batuan 2,50-3,50 g/cm3. | Gravity method research has been conducted in the Subang area of West Java. This study aims to determine the existence and type of faults and the results of the interpretation of the subsurface structure of faults in the Subang area based on the derivative analysis of the First Horizontal Derivative (FHD) and Second Vertical Derivative (SVD) as well as the results of 2D modeling. The data used in this study amounted to 21,304 data points with a research area of approximately 1,034.16 km2. The process in the study was carried out by accessing secondary data from the GGMPlus 2013 website, data processing included correction of the gravity method, reduction to a flat plane, separation of regional anomalies and residual anomalies using the upward continuation method, derivative analysis of the First Horizontal Derivative (FHD) and Second Vertical Derivative (SVD) from residual anomalies that had previously been separated to determine the existence and type of faults, graphic interpretation of both derivative analyses, and 2D modeling. The results of the study identified that in the Subang area there is a reverse fault, having a west-east orientation. Then, the results of the 2-dimensional modeling interpretation show that the Subang area is composed of four rock formations: the Neogene Sedimentary Rock Formation (Tnsb) with a density of 1.20-1.32 g/cm3, the Holocene Volcanic Rock Formation (Qv) with a density of 2.00-2.90 g/cm3, the Late Miocene Rock Formation (Tmsb) with a density of 2.20-2.95 g/cm3, and the Pleistocene Volcanic Rock Formation (Qpv) with a rock density of 2.50-3.50 g/cm3. | |
| 47687 | 51078 | F1C021049 | Pengaruh Clash of Champions Terhadap Brand Awareness Ruangguru (Pada Komunitas X Academy & Clash of Champions) | Pendekatan IMC menjadi salah satu strategi pemasaran yang seringkali dilakukan dengan memadukan berbagai fungsi pemasaran mulai dari advertising, personal selling, sales promotion, public relations, dan direct marketing. Ruangguru sebagai perusahaan startup Edutech melakukan strategi pemasaran melalui program Clash of Champions. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Clash of Champions menggunakan teori Integrated Marketing Communication. Dalam penelitian ini, IMC diukur melalui lima variabel utama: advertising, direct & digital marketing, personal selling, sales promotion, serta public relations. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan populasi anggota komunitas X Academy & Clash of Champions. Sampel sebanyak 100 responden ditentukan melalui rumus Slovin, dengan pengukuran skala likert 1-5. Hasil uji korelasi menunjukkan terdapat pengaruh antara variabel (X) dengan variabel (Y) sebesar 0,510 dengan presentase pengaruh sebesar 51% terhadap variabel brand awareness (Y), sedangkan sisanya 49% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak ada dalam penelitian ini. Penelitian ini menemukan bahwa variabel advertising pada program Clash of Champions tidak berpengaruh signifikan terhadap brand awareness Ruangguru. | The IMC approach is a marketing strategy that often combines various marketing functions, ranging from advertising, personal selling, sales promotion, public relations, and direct marketing. Ruangguru, as an Edutech startup company, implemented a marketing strategy through the Clash of Champions program. This study aims to analyze the impact of Clash of Champions using the Integrated Marketing Communication theory. In this study, IMC is measured through five main variables: advertising, direct & digital marketing, personal selling, sales promotion, and public relations. The method used in this study is quantitative with a population of X Academy & Clash of Champions community members. A sample of 100 respondents was determined using the Slovin formula, with a 1-5 Likert scale measurement. The correlation test results show that there is an influence between variable (X) and variable (Y) of 0.510 with an influence percentage of 51% on the brand awareness variable (Y), while the remaining 49% is influenced by other variables not included in this study. This study found that the advertising variable in the Clash of Champions program did not have a significant effect on Ruangguru's brand awareness. | |
| 47688 | 51079 | G1A020120 | EFEKTIVITAS BAKTERIOSIN PADA YOGHURT DALAM MENGHAMBAT PERTUMBUHAN BAKTERI Staphylococcus aureus ATCC 29213 | Latar Belakang: Staphylococcus aureus merupakan bakteri patogen yang sering menyebabkan infeksi dan menunjukkan peningkatan resistensi, sehingga diperlukan alternatif antimikroba yang lebih aman, salah satunya bakteriosin yang dihasilkan bakteri asam laktat dalam yoghurt. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas bakteriosin pada yoghurt dalam menghambat pertumbuhan S. aureus ATCC 29213 serta melihat variasi respons berdasarkan perbedaan konsentrasi. Metode: Penelitian true experimental dengan rancangan posttest only control group dilakukan secara in vitro menggunakan metode difusi sumuran. Yoghurt yang mengandung bakteriosin pada berbagai konsentrasi (5–50%) dikontakkan dengan suspensi S. aureus ATCC 29213, kemudian diameter zona hambat diukur untuk menentukan aktivitas antibakteri. Kadar bakteriosin diukur melalui metode ekstraksi terstandar. Hasil: Yoghurt mengandung bakteriosin yang mampu menghasilkan zona hambat terhadap S. aureus, dan peningkatan konsentrasi yoghurt menunjukkan kecenderungan peningkatan diameter zona hambat. Kontrol negatif tidak menunjukkan penghambatan sehingga efek diinterpretasikan berasal dari aktivitas bakteriosin. Kesimpulan: Bakteriosin pada yoghurt memiliki efektivitas antibakteri terhadap S. aureus ATCC 29213 dan aktivitasnya meningkat seiring peningkatan konsentrasi, sehingga berpotensi sebagai agen antimikroba alami. Kata kunci: antibakteri, bakteriosin, Lactobacillus bulgaricus, Staphylococcus aureus, yoghurt | Bacground: Staphylococcus aureus is a pathogenic bacterium associated with various infections and rising antimicrobial resistance, creating a need for safer alternative agents such as bacteriocins produced by lactic acid bacteria in yogurt. Objective: This study aimed to determine the effectiveness of bacteriocins in yogurt in inhibiting the growth of S. aureus ATCC 29213 and to evaluate the response across different yogurt concentrations. Methods: A true experimental design with a posttest-only control group was used in an in vitro assay employing the well-diffusion method. Yogurt containing bacteriocins at concentrations ranging from 5% to 50% was applied to wells on Muller Hinton Agar inoculated with S. aureus ATCC 29213, and inhibition zones were measured to assess antibacterial activity. Bacteriocin content was determined using a standardized extraction method. Results: Yogurt demonstrated antibacterial activity indicated by inhibition zones around the wells, and increasing yogurt concentrations show a corresponding increase in inhibition zone diameter. The negative control produces no inhibition, indicating the effect derives from bacteriocin activity. Conclusion: Bacteriocins in yogurt present measurable antibacterial activity against S. aureus ATCC 29213, and their effectiveness increases with higher yogurt concentrations, supporting their potential use as natural antimicrobial agents. Keywords: antibacterial, bacteriocin, Lactobacillus bulgaricus, Staphylococcus aureus, yogurt | |
| 47689 | 3566 | H1F008049 | PEMETAAN GEOLOGI DAN STUDI LINGKUNGAN PENGENDAPAN FORMASI TAPAK DAERAH KARANGANYAR DAN SEKITARNYA KABUPATEN PURBALINGGA, JAWA TENGAH | Daerah penelitian termasuk dalam wilayah yang berada di Zona Pegunungan Serayu Selatan yang terletak di Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Purbalingga, Provinsi JawaTengah. Daerah telitian ini dapat dibedakan menjadi empat satuan morfologi, Stratigrafi daerah telitian dari lima satuan tak resmi. Struktur geologi yang berkembang pada daerah telitian berupa sesar mendatar Kebunderan dan sinklin Banjarkerta. Dari hasil pengamatan dilapangan Formasi Tapak berdasarkan adanya batupasir laminasi sejajar, gredded bedding, convolute, loadcast, reverse bedding, Cross Bedding dan bioturbasi, dapat disimpulkan bahwa lingkungan pengendapannya adalah neritik (50-150m). Formasi Kalibiuk berdasarkan adanya moluska dan ciri litologi nya dapat disimpulkan bahwa lingkungan pengendapannya adalah neritik (0-20m). Kata kunci: Karanganyar, Formasi Tapak, Formasi Kalibiuk,neritic | The research area includes the territory within South Serayu Mountains Zone, located in District Karanganyar Purbalingga, Central Java Province. The research area can be divided into four morphological units, and Stratigraphy area of five unofficial unit. Geological structures that develop in areas such as Kebunderan Sinistral fault and Banjarkerta syncline. From the field observations by the Tapak formation Tread parallel laminated sandstones, gredded bedding, convolute, loadcast, reverse bedding, Cross Bedding and bioturbasi, it can be concluded that the deposition is neritic (50-150m). Kalibiuk Formation by the mollusk and its lithological characteristics can be concluded that the deposition is neritik (0-20m). Keyword : Karanganyar, Tapak Formation, Kalibiuk Formation, neritic | |
| 47690 | 51074 | K1C021069 | RANCANG BANGUN PROTOTYPE ENERGI HARVESTING BERBASIS PIEZOELEKTRIK PADA POLISI TIDUR SEBAGAI PENERANGAN AREA PARKIR | Peningkatan kebutuhan energi listrik mendorong pengembangan teknologi energi alternatif yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Salah satu teknologi yang berpotensi dikembangkan adalah penggunaan teknologi piezoelektrik yang mampu mengkonversi energi mekanik menjadi energi listrik. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan membangun prototype sistem energy harvesting berbasis piezoelektrik yang diaplikasikan pada polisi tidur sebagai sumber energi tambahan untuk penerangan area parkir. Sistem bekerja dengan memanfaatkan tekanan kendaraan sebagai sumber energi mekanik yang dikonversi menjadi energi listrik, kemudian disearahkan menggunakan rangkaian dioda bridge, disimpan pada kapasitor, dan dialirkan ke baterai melalui modul TP4056 untuk menyalakan lampu LED. Pengujian dilakukan dengan variasi massa beban sebesar 1,9 kg, 2,9 kg, dan 4,3 kg. Hasil pengujian menunjukkan bahwa peningkatan massa beban menyebabkan kenaikan tegangan dan energi listrik yang dihasilkan. Namun, tren efisiensi konversi energi memiliki kecenderungan menurun seiring dengan bertambahnya beban, yang menunjukkan bahwa tidak seluruh energi mekanik dapat dikonversi secara optimal. Penurunan efisiensi ini dipengaruhi oleh keterbatasan karakteristik material piezoelektrik serta rugi-rugi mekanik pada sistem. Efisiensi konversi energi yang diperoleh berada pada kisaran 0,5–1,2%. Meskipun efisiensi sistem masih relatif rendah, penelitian ini menunjukkan potensi pemanfaatan energi mekanik kendaraan sebagai sumber energi tambahan yang ramah lingkungan. | Increased demand for electrical energy has driven the development of environmentally friendly and sustainable alternative energy technologies. One technology with great potential is piezoelectric technology, which can convert mechanical energy into electrical energy. This study aims to design and build a prototype piezoelectric energy harvesting system that can be applied to speed bumps as an additional energy source for parking lot lighting. The system works by utilizing vehicle pressure as a source of mechanical energy that is converted into electrical energy, then directed using a diode bridge circuit, stored in a capacitor, and flowed to the battery through the TP4056 module to turn on the LED lights. Testing was conducted with load mass variations of 1.9 kg, 2.9 kg, and 4.3 kg. The test results showed that an increase in load mass caused an increase in voltage and electrical energy produced. However, the energy conversion efficiency trend tended to decrease as the load increased, indicating that not all mechanical energy could be converted optimally. This decrease in efficiency is influenced by the limitations of piezoelectric material characteristics and mechanical losses in the system. The energy conversion efficiency obtained was in the range of 0.5–1.2%. Although the system efficiency is still relatively low, this study shows the potential for utilizing vehicle mechanical energy as an additional environmentally friendly energy source. | |
| 47691 | 51051 | J1B021057 | Eufemisme Pada Judul Artikel Berita Daring IDN Times Kategori Kesehatan | Dalam sebuah penulisan judul berita memiliki gaya dan ciri khasnya masing- masing untuk menarik para pembaca. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk, makna dan fungsi eufemisme yang terdapat dalam judul artikel berita daring IDN Times pada kategori kesehatan. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan data berupa judul artikel berita yang mengandung eufemisme. Data dikumpulkan melalui metode simak dengan teknik simak bebas libat cakap (SBLC), teknik catat,serta survei melalui wawancara. Analisis data dilakukan dengan metode padan, menggunakan teknik pilah unsur penentu (PUP) dan teknik hubung banding membedakan (HBB). Hasil penelitian menunjukan bahwa eufemisme dalam judul artikel berita daring IDN Times kategori kesehatan ditemukan dalam bentuk kata, frasa. Berdasarkan maknan- ya, eufemisme tersebut mencakup bagian tubuh, penyakit, aktivitas, benda, dan peristiwa. Fungsi eufemisme yang dominan digunakan adalah sebagai alat untuk menghaluskan ucapan, serta untuk merahasiakan makna yang dianggap tabu atau vulgar. Penggunaan eufemisme membantu menjaga kesopanan bahasa, meningkatkan daya tarik pembaca, serta mendukung penyampaian informasi kesehatan secara informatif namun tetap santun. Hasil penelitian ini menjadi pedoman bagi peneliti lain dalam merancang metode dan analisis untuk penelitian lanjutan tentang semantik. Kata kunci: Eufemisme, judul berita, kesehatan, IDN Times, semantik | News headlines have their own styles and characteristics to attract readers. This study aims to describe the form, meaning, and function of euphemisms found in the head- lines of online news articles on IDN Times in the health category. The method used is qualitative descriptive, with data in the form of news article headlines containing euphe- misms. Data was collected through observation using the free observation technique (SBLC), note-taking, and surveys through interviews. Data analysis was conducted using the matching method, using the determining element sorting technique (PUP) and the dis- tinguishing comparison technique (HBB). The results of the study show that euphemisms in the titles of IDN Times online news articles in the health category are found in the form of words and phrases. Based on their meaning, these euphemisms cover body parts, diseases, activities, objects, and events. The dominant function of euphemisms is as a tool to soften speech and to conceal meanings that are considered taboo or vulgar. The use of euphemisms helps maintain lin- guistic politeness, increases reader appeal, and supports the delivery of health infor- mation in an informative yet polite manner. The results of this study serve as a guideline for other researchers in designing methods and analyses for further research on seman- tics. Keywords: Euphemism, news headlines, health, IDN Times, semantics. | |
| 47692 | 5151 | F1B008025 | IMPLEMENTASI PROGRAM PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS PEDESAAN (PUAP) DI KECAMATAN PULOSARI KABUPATEN PEMALANG | Potensi pertanian Indonesia yang besar namun pada kenyataannya sampai saat ini sebagian besar dari petani kita masih banyak yang termasuk golongan miskin. Permasalahan mendasar yang dihadapi petani adalah kurangnya akses kepada sumber permodalan, pasar, dan teknologi, serta organisasi tani yang masih lemah. Untuk itu, program penanggulangan kemiskinan merupakan bagian dari pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang dan kesepakatan global untuk mencapai Tujuan Millenium. Kementerian Pertanian mulai tahun 2008 telah melaksanakan program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP). Desa calon lokasi PUAP seperti: Desa berbasis pertanian, diutamakan desa miskin; Memiliki Gapoktan yang sudah berjalan, dan belum memperoleh dana BLM-PUAP. Sedangkan Desa/kelurahan yang mendapat dana PUAP pertama kali di Kecamatan Pulosari yaitu: Desa Pulosari dan Desa Cikendung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan implementasi program PUAP di Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan fokus penelitian berdasarkan teori dari Merille Grindle yaitu Isi (content) Kebijakan dan Konteks (context) Implementasi. Penelitian ini mengambil lokasi penelitian di Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang. Teknik pemilihan informan dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Dalam menguji validitas data, teknik digunakan adalah teknik triangulasi sumber yaitu cara membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh pada waktu penelitian dan dengan alat yang berbeda. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis interaktif dari Milles dan Huberman. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pelaksanaan program PUAP di Kecamatan Pulosari sudah cukup baik. Hal itu terlihat dari kesesuaian antara perencanaan dengan pelaksanaannya, yaitu dengan adanya program PUAP ini dapat membantu penambahan modal usaha bagi petani melalui simpan pinjam yang dilaksanakan oleh Gapoktan, dan terdapat perubahan pada lingkungan pelaksanaan yang ditandai dengan adanya kesadaran para petani yang mau berorganisasi dan mau diajak bekerja sama. Keberhasilan Implementasi Kebijakan Program PUAP di Kecamatan Pulosari juga dipengaruhi oleh faktor produksi dan faktor kepuasan. Dari aspek produksi terlihat bahwa hampir semua kegiatan yang telah direncanakan sudah dapat terealisasi terlihat dari hasil-hasil pertanian, usaha bakulan. Dan adanya industri rumah tangga yang dicapai dari dana BLM-PUAP yang dicairkan secara bertahap pada tahun 2009 dan hasil dari kegiatan PUAP tersebut telah meningkatkan kualitas di Kecamatan Pulosari, dan juga cukup meningkatkan pendapatan masyarakat penerima pinjaman. | ABSTRACT Indonesia's agricultural potential is huge but in fact until recently most of our farmers are still many who are categorized as poor. The fundamental problem faced by farmers is the lack of access to sources of capital, markets, and technology, as well as farmer organizations are still weak. To that end, poverty reduction programs are part of the implementation of the Long Term Development Plan and the global agreement to achieve the Millennium. Ministry of Agriculture began in 2008 has been implementing Rural Agribusiness Development Program (PUAP). Villages candidate PUAP like: Village-based agriculture, preferably poor village; Have Gapoktan already running, and not obtaining BLM-PUAP. While the village / villages that received funding in the first PUAP Pulosari District namely: Pulosari Village and Cikendung Village. This study aims to identify and describe the implementation of programs in the district PUAP Pulosari Pemalang. This study uses descriptive qualitative study focusing on the theory of the Merille Grindle Content Policy and Context Implementation. This study took place in the District Pulosari research, Pemalang. Informant selection techniques in the study conducted by purposive sampling technique. Techniques of data collection by interview, observation and documentation. In testing the validity of the data, the technique used is triangulation technique is a way to compare and check back a degree of confidence that the information obtained at the time of the study and with different tools. The analysis technique used is interactive analysis of Milles and Huberman. These results indicate that the implementation of the program in the District Pulosari PUAP good enough. This is evident from the correspondence between planning and implementation, namely the existence of this program can help PUAP additional capital through savings and loans for farmers conducted by Gapoktan, and there is a change in the execution environment is characterized by the awareness of the farmers who want to organize, and want to work with. Success PUAP Program Policy Implementation in Sub Pulosari also influenced by production factors and satisfaction factors. From the aspect of production is seen that almost all of the planned activities are realized already seen from the results of agriculture, trade. The existence industries house holds that achieved from funds BLM-PUAP which thawed is gradually on the year 2009. The results of these activities have improved the quality PUAP in District Pulosari, and also simply increase the income of the beneficiaries of loans. | |
| 47693 | 51081 | C1A022102 | Pengaruh IPM, Jumlah UMKM, Belanja Sosial, Belanja Modal, dan Jumlah Tenaga Kerja terhadap Ketimpangan Pendapatan di Kota Magelang | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh IPM, jumlah UMKM, Belanja Sosial, Belanja Modal, serta Jumlah Tenaga Kerja terhadap Ketimpangan Pendapatan di Kota Magelang pada tahun 2010-2024. Topik ini dipilih karena ketimpangan pendapatan di Kota Magelang masih menjadi persoalan serius yang memengaruhi kesejahteraan masyarakat. Meskipun terdapat peningkatan pada IPM, jumlah UMKM, dan tenaga kerja, ketimpangan justru tetap terjadi. Hal ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan dalam distribusi pembangunan dan belum optimalnya pemanfaatan belanja sosial dan belanja modal. Pendekatan yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan metode analisis regresi linear berganda data time series dan menggunakan uji asumsi klasik serta uji kelayakan model. Hasil uji menunjukkan bahwa model penelitian telah memenuhi persyaratan statistik, seperti normalitas, bebas multikolinearitas, heteroskedastisitas, dan autokorelasi. Berdasarkan hasil analisis, IPM tidak berpengaruh signifikan terhadap ketimpangan pendapatan, yang menunjukkan bahwa peningkatan IPM belum dinikmati secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat. Jumlah UMKM juga tidak berpengaruh signifikan, menandakan bahwa keberadaan UMKM belum secara langsung mampu menekan tingkat ketimpangan. Di sisi lain, belanja sosial, belanja modal, dan jumlah tenaga kerja berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ketimpangan pendapatan. Hal ini mengindikasikan bahwa peningkatan alokasi anggaran pada sektor sosial dan pembangunan, serta perluasan kesempatan kerja, berperan penting dalam menurunkan ketimpangan pendapatan. Temuan ini mengimplikasikan perlunya pemerintah daerah untuk lebih memprioritaskan pemerataan pembangunan dan penguatan ekonomi masyarakat melalui kebijakan yang inklusif dan berkelanjutan. | This study aims to examine the influence of the Human Development Index (HDI), the number of Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs), social expenditure, capital expenditure, and workforce size on income inequality in Magelang City from 2010 to 2024. This topic was chosen because income inequality in Magelang City remains a significant issue affecting community welfare. Despite improvements in HDI, MSMEs, and workforce growth, inequality continues to persist, indicating an imbalance in development distribution and the suboptimal use of social and capital spending. The study uses a quantitative approach with multiple linear regression analysis based on time series data, accompanied by classical assumption tests and model feasibility testing. The results show that the model meets statistical requirements, including normality, no multicollinearity, homoscedasticity, and no autocorrelation. The analysis reveals that HDI has no significant effect on income inequality, suggesting that the benefits of human development have not been evenly distributed across all social groups. Similarly, the number of MSMEs does not show a significant effect, indicating that their presence has not directly helped reduce inequality. On the other hand, social expenditure, capital expenditure, and workforce size have significant negative effects on income inequality. These findings indicate that increased allocation to social and development spending, along with expanded employment opportunities, play a vital role in reducing inequality. The results imply that local governments should prioritize equitable development and strengthen the community’s economy through inclusive and sustainable policies. | |
| 47694 | 51092 | G1A022089 | Korelasi antara Kualitas Tidur dengan Fungsi Kognitif pada Siswa SMAN 1 Baturraden | Latar belakang : Kualitas tidur mempengaruhi perkembangan otak dan fungsi kognitif. Kualitas tidur yang baik dibutuhkan oleh remaja karena sedang terjadi perkembangan kognitif. Namun, sebagian besar remaja memiliki kualitas tidur yang buruk. Kualitas tidur yang buruk dapat menyebabkan kesulitan mengikuti proses belajar, mengambil keputusan, dan menerima memori baru sehingga berakibat pada penurunan prestasi belajar. Tujuan: Untuk mengetahui korelasi antara kualitas tidur dengan fungsi kognitif pada siswa SMAN 1 Baturraden Metode : Penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel pada penelitian ini sebanyak 38 responden yang diambil dengan metode purposive sampling. Kualitas tidur diukur dengan menggunakan kuesioner PSQI. Fungsi kognitif dievaluasi dengan kuesioner MoCA-Ina. Analisis data menggunakan uji Spearman untuk mengetahui korelasi antara kualitas tidur dengan fungsi kognitif. Hasil: Kualitas tidur siswa SMAN 1 Baturraden sebagian besar memiliki kualitas tidur yang buruk dengan proporsi sebesar 52,6 %. Pemeriksaan fungsi kognitif pada siswa SMAN 1 Baturraden menunjukkan proporsi lebih besar pada fungsi kognitif yang buruk yaitu sebesar 63,2 %. Analisis bivariat dengan uji Spearman didapatkan p<0,05 (r=-0,526) yang menunjukkan adanya korelasi sedang dengan arah negatif antara kualitas tidur dengan fungsi kognitif Kesimpulan : Terdapat korelasi negatif antara kualitas tidur dengan fungsi kognitif pada siswa SMAN 1 Baturraden Kata kunci : Fungsi Kognitif, Kualitas tidur, Remaja | Background : Sleep quality affects brain development and cognitive function. Good sleep quality is needed by adolescents because cognitive development is occuring. However, most teens have poor sleep quality. Poor sleep quality can cause difficulty in following the learning process, making decisions, and receiving new memories, resulting in a decrease in student learning achievement. Objective : To find out the correlation between sleep quality and cognitive function in student of SMAN 1 Baturraden. Methods : Observational analytical research with a cross-sectional approach. The sample in this study was 38 respondents who were taken by purposive sampling method. Sleep quality was measured using the PSQI questionnare. Cognitive function was evaluated with the Moca-Ina questionnare. Data analysis used the Spearman test to find out the correlation between sleep quality and cognitive function. Results : The sleep quality of SMAN 1 Baturraden students mostly had poor sleep quality with a proportion of 52,6%. Examination of cognitive function in students of SMAN 1 Baturraden showed a larger proportion of poor cognitive function, which was 63,2%. Bivariate analysis with the spearman test obtained p<0,05 (r = -0,526) which showed a moderate correlation with a negative direction between sleep quality and cognitive function. Conclusion : There is a negative correlation between sleep quality and cognitive function in SMAN 1 Baturraden students. Keywords : Adolescents, Cognitive Function, Sleep Quality | |
| 47695 | 51082 | I1J022014 | THE RELATIONSHIP BETWEEN SELF-EFFICACY, ROLE MODELS, PERCEPTIONS OF NURSING AND INTENTION TO BECOME A NURSE | Latar Belakang: Permintaan global akan perawat terus meningkat, sementara WHO memproyeksikan kekurangan 4,5 juta perawat pada tahun 2030 dan kekurangan ini tetap ada meskipun upaya sosialisasi profesional dalam pendidikan keperawatan. Tujuan: Meneliti hubungan antara efikasi diri, role modell, persepsi tentang keperawatan, dan niat untuk menjadi perawat. Metodologi: Studi korelasional kuantitatif dengan desain cross-sectional dilakukan. Data dikumpulkan melalui Google Forms. Sampel terdiri dari 256 mahasiswa keperawatan yang dipilih melalui pengambilan sampel acak bert stratified proporsional. Data dianalisis menggunakan uji Chi-square dan regresi logistik biner. Hasil: Hubungan signifikan antara efikasi diri dan niat untuk menjadi perawat (p = 0,007) dan antara persepsi tentang profesi keperawatan dan niat (p = 0,001). Tidak ada hubungan signifikan antara role model dan niat (p = 0,085). Efikasi diri (p = 0,032; OR = 1,804), persepsi tentang keperawatan (p = 0,001; OR = 2,471), dan role model (p = 0,034; OR = 1,968) secara simultan memengaruhi niat untuk menjadi perawat. Kesimpulan: Efikasi diri, persepsi tentang keperawatan, dan role model secara simultan memengaruhi niat untuk menjadi perawat, dengan persepsi tentang keperawatan sebagai prediktor terkuat. Kata kunci: niat, persepsi, panutan, efikasi diri | Background: The global demand for nurses continues to increase, while the WHO projects a shortage of 4.5 million nurses by 2030 and this shortage persists despite professional socialization efforts in nursing education. Purpose: Examined the relationship between self-efficacy, role models, perceptions of nursing, and the intention to become a nurse. Methodology: A quantitative correlational study with a cross-sectional design was conducted. Data were collected through Google Forms. The sample consisted of 256 nursing students selected through proportionate stratified random sampling. Data were analyzed using Chi-square tests and binary logistic regression. Results: Significant relationship between self-efficacy and the intention to become a nurse (p = 0.007) and between perceptions of the nursing profession and intention (p = 0.001). No significant relationship between role models and intention (p = 0.085). Self-efficacy (p = 0.032; OR = 1.804), perceptions of nursing (p = 0.001; OR = 2.471), and role models (p = 0.034; OR = 1.968) simultaneously influenced the intention to become a nurse. Conclusion: Self-efficacy, perceptions of nursing, and role models simultaneously influence the intention to become a nurse, with perceptions of nursing as the strongest predictor. Keywords: intention, perception, role models, self-efficacy | |
| 47696 | 51083 | C1A021081 | Analisis Pengaruh Pembentukan Modal Tetap Bruto, Modal Manusia, Jumlah Industri Manufaktur, dan Ekspor Non-Migas terhadap Middle-Income Trap Di Indonesia Tahun 2002-2024 | Middle-Income Trap (MIT) merupakan kondisi ketika suatu negara middle-income tidak dapat bergerak ke status high-income dalam jangka waktu tertentu. Middle-income trap dalam penelitian ini diukur dengan Pendapatan Nasional Bruto (PNB) per kapita, sehingga penting untuk memahami faktor-faktor apa saja yang memengaruhi pendapatan nasional bruto per kapita di Indonesia. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh pembentukan modal tetap bruto, modal manusia, jumlah industri manufaktur, dan ekspor nonmigas terhadap pendapatan nasional bruto per kapita di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data time series sekunder yang dianalisis dengan metode regresi linier berganda. Sumber data sekunder yang diolah diperoleh dari Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari berbagai sumber resmi dan kredibel, antara lain Badan Pusat Statistik (BPS), World Bank, Trading Economics, serta sumber lainnya seperti buku, artikel ilmiah, dan hasil penelitian sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan modal tetap bruto dan ekspor non-migas berpengaruh positif secara signifikan terhadap pendapatan nasional bruto per kapita di Indonesia. Sedangkan modal manusia dan jumlah industri manufaktur tidak berpengaruh terhadap pendapatan nasional bruto per kapita di Indonesia. Berdasarkan kesimpulan tersebut, implikasi penelitian ini adalah bahwa untuk keluar dari middle-income trap, Indonesia mempertahankan investasi fisik seperti pembangunan infrastruktur dan perbaikan iklim investasi. Selain itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan sangat penting untuk menciptakan tenaga kerja yang lebih kompeten. Sektor industri manufaktur perlu dilakukan perubahan agar kualitas dan efisiensinya sehingga mampu menambah pendapatan nasional. Pemerintah juga perlu mendorong ekspor non-migas dengan memperluas pasar dan meningkatkan kualitas produk ekspor. | The Middle-Income Trap (MIT) is a condition in which a middle-income country is unable to transition to highincome status within a certain period. In this study, the middle-income trap is measured using Gross National Income (GNI) per capita; therefore, it is important to understand the factors that influence GNI per capita in Indonesia. The purpose of this study is to examine the effects of gross fixed capital formation, human capital, the number of manufacturing industries, and non-oil and gas exports on GNI per capita in Indonesia. This study uses secondary time-series data analyzed using multiple linear regression methods. The secondary data processed in this research are obtained from various official and credible sources, including Statistics Indonesia (BPS), the World Bank, Trading Economics, as well as other sources such as books, scientific articles, and previous research findings. The results of the study show that gross fixed capital formation and non-oil and gas exports have a positive and significant effect on GNI per capita in Indonesia. Meanwhile, human capital and the number of manufacturing industries do not have a significant effect on GNI per capita in Indonesia. Based on these conclusions, the implications of this study are that, in order to escape the middle-income trap, Indonesia need to maintain physical investment such as infrastructure development and improvements in the investment climate. In addition, improving the quality of human resources through education and training is crucial. The manufacturing sector also needs transformation to enhance its quality. The government should promote non-oil and gas exports by expanding markets and improving the quality of export products. | |
| 47697 | 51085 | G1A022082 | PENGARUH EKSTRAK PEGAGAN (Centella asiatica) TERHADAP JUMLAH ERITROSIT DAN KADAR HEMOGLOBIN TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) YANG TERPAPAR ELEKTROMAGNETIK TELEPON SELULER | Latar Belakang: Paparan gelombang elektromagnetik dari telepon seluler dapat memicu stres oksidatif yang berdampak buruk bagi kesehatan, termasuk mempengaruhi jumlah eritrosit dan kadar hemoglobin. Centella asiatica memiliki aktivitas antioksidan yang berpotensi melindungi sel darah dari kerusakan tersebut. Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian ekstrak pegagan (Centella asiatica) terhadap jumlah eritrosit dan kadar hemoglobin tikus putih (Rattus norvegicus) yang terpapar elektromagnetik telepon seluler. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode true experimental dengan desain post-test only control group pada 30 tikus Wistar jantan yang dibagi menjadi 5 kelompok. Kelompok 1 menjadi kontrol tanpa ekstrak Centella asiatica dan tanpa paparan elektromagnetik. Kelompok 2 mendapat paparan elektromagnetik telepon seluler 2100 MHz selama 2 jam/hari melalui panggilan WhatsApp. Kelompok 3, 4, dan 5 diberikan ekstrak Centella asiatica (125, 250, 500 mg/kgBB) sebelum paparan. Jumlah eritrosit dan kadar hemoglobin diukur menggunakan Hematology Analyzer dan data dianalisis dengan uji One Way ANOVA dan ANOVA Welch. Hasil: Rerata jumlah eritrosit kelompok 1=7,43 juta/μL, 2=8,28 juta/μL, 3= 8,07 juta/μL, 4=6,51 juta/μL, dan 5=6,69 juta/μL . Rerata kadar hemoglobin kelompok 1=13,7 g/dL, 2=14,8 g/dL, 3=14,6 g/dL, 4=12,1 g/dL, dan 5=12,15 g/dL. Uji One Way ANOVA jumlah eritrosit menunjukkan p=0,000 dan uji ANOVA Welch kadar hemoglobin menunjukkan nilai p=0,002. Kesimpulan: Pemberian ekstrak pegagan (Centella asiatica) memberikan pengaruh signifikan terhadap jumlah eritrosit dan kadar hemoglobin tikus putih (Rattus norvegicus) yang terpapar elektromagnetik telepon seluler. | Background: Exposure to electromagnetic waves from mobile phones triggered oxidative stress that adversely affected health, including altering erythrocyte count and hemoglobin levels. Centella asiatica possessed antioxidant activity that might have protected blood cells from such damage. Objective: To determine the effect of Centella asiatica extract on erythrocyte count and hemoglobin levels in white rats (Rattus norvegicus) exposed to mobile phone electromagnetic. Method: This study used a true experimental with a post-test only control group design on 30 male Wistar rats that were divided into five groups. Group 1 was the control without Centella asiatica extract and without electromagnetic exposure. Group 2 received 2100 MHz mobile phone electromagnetic exposure for 2 hours/day through a WhatsApp call. Groups 3, 4, and 5 were given Centella asiatica extract (125, 250, 500 mg/kgBW) before exposure. Erythrocyte count and hemoglobin levels were measured using a Hematology Analyzer, and the data were analyzed using One Way ANOVA and Welch ANOVA. Results: The mean erythrocyte counts for groups 1, 2, 3, 4, and 5 are 7.43 million/μL, 8.28 million/μL, 8.07 million/μL, 6.51 million/μL, and 6.69 million/μL. The mean hemoglobin levels for groups 1, 2, 3, 4, and 5 are 13.7 g/dL, 14.8 g/dL, 14.6 g/dL, 12.1 g/dL, and 12.15 g/dL. The One-Way ANOVA test for erythrocyte count shows p-values=0,000 and the Welch ANOVA test for hemoglobin level show p-values=0,002. Conclusion: Administration of Centella asiatica extract has a significant effect on erythrocyte count and hemoglobin levels in white rats (Rattus norvegicus) exposed to mobile-phone electromagnetic. | |
| 47698 | 51084 | B1A021007 | IMPLIKASI STRAIN TERHADAP PERILAKU FORAGING PADA KECOAK JERMAN (Blatella germanica L.): LATENSI, FREKUENSI, DAN DURASI | Perubahan perilaku mencari makan akibat resistensi dapat menyebabkan efektivitas gel bait atau umpan toksik menurun dan mempersulit pengendalian kecoak jerman (Blatella germanica) di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) perilaku mencari makan antara kecoak jerman strain resisten (Semarang) dan strain susceptible (VCRU) meliputi: latensi, frekuensi, dan durasi; (2) mengetahui perbedaan antara perilaku mencari makan yang meliputi latensi, frekuensi, dan durasi antara kecoak jerman jantan, betina, dan nimfa pada masing-masing strain; (3) mengetahui hubungan antara frekuensi kunjungan pada umpan dan durasi berada pada umpan; (4) mengetahui puncak aktivitas makan antara strain Semarang dan strain VCRU. Penelitian di lakukan di Laboratorium Entomologi dan Parasitologi Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman, menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap. Metode yang digunakan adalah continuous sampling. Penelitian ini menggunakan 2 strain kecoak jerman yaitu strain Vector Control Research Unit (VCRU) dan strain Semarang. Masing-masing strain digunakan tiga individu, yaitu jantan, betina dan nimfa. Masing-masing perlakuan diulang empat kali. Pengamatan dilakukan selama 7 hari menggunakan Closed Circuit Television (CCTV). Variabel bebas berupa strain kecoak jerman, variabel terikat berupa perilaku mencari makan (foraging). Parameter yang diamati meliputi latensi menuju umpan, frekuensi kunjungan pada umpan dan durasi berada di umpan. Data penelitian berupa latensi, frekuensi dan durasi diuji normalitasnya menggunakan Kolmogrov-Smirnov. Data latensi tergolong tidak normal sehingga dianalisis secara non-parametrik menggunakan uji Kruskal-Wallis, sedangkan data frekuensi dan durasi tergolong normal sehingga dianalisis dengan Analysis of Variance (ANOVA) pada signifikansi p<0,05, selanjutnya data yang terdapat perbedaan nyata dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan Multiple Range Test (DMRT). Untuk membandingkan latensi, frekuensi dan durasi antara strain Semarang dan strain VCRU dianalisis menggunakan Uji T-test. Pada data frekuensi dan durasi juga dilakukan uji korelasi menggunkan Korelasi Pearson (Pearson Product Moment). Seluruh data kuantitatif dianalisis menggunakan software SPSS ver.27. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan waktu latensi menuju umpan antar strain (p<0.05), dimana strain VCRU lebih cepat merespon umpan, namun pada frekuensi kunjungan pada umpan dan durasi berada pada umpan tidak menunjukkan perbedaan antar strain (p>0.05). Individu jantan, betina, dan nimfa tidak memengaruhi waktu latensi menuju umpan baik strain Semarang maupun strain VCRU, frekuensi dan durasi antara jantan, betina, dan nimfa memliki perbedaan pada strain semarang namun tidak pada strain VCRU. Terdapat hubungan antara frekuensi kunjungan dan durasi waktu yang dibutuhkan saat berada pada umpan. Semakin tinggi frekuensi kunjungan pada umpan, maka semakin banyak durasi yang dibutuhkan saat berada pada umpan. Strain Semarang menunjukkan 3 puncak aktivitas makan pada pukul 17.00 – 20.00 WIB, 20.00 – 23.00 WIB dan 02.00 – 05.00 WIB, sedangkan strain VCRU menunjukkan 2 puncak aktivitas makan pada pukul pukul 17.00 – 20.00 WIB dan 02.00 – 05.00 WIB. | Changes in foraging behavior caused by resistance may reduce the effectiveness of gel baits or toxic baits and complicate the control of German cockroaches (Blatella germanica) in the field. This study aimed to: (1) compare the foraging behavior of resistant German cockroach strains (Semarang) and susceptible strains (VCRU), including latency, frequency, and duration; (2) determine differences in foraging behavior—latency, frequency, and duration—among male, female, and nymph stages within each strain; (3) examine the relationship between the frequency of visits to the bait and the duration spent on the bait; and (4) identify peak feeding activity between the Semarang and VCRU strains. The study was conducted at the Laboratory of Entomology and Parasitology, Faculty of Biology, Universitas Jenderal Soedirman, using an experimental method with a Completely Randomized Design. Continuous sampling was applied in this research. Two strains of German cockroach were used: the Vector Control Research Unit (VCRU) strain and the Semarang strain. Each strain consisted of three individual categories: male, female, and nymphs. Each treatment was replicated four times. Observations were carried out for seven days using Closed Circuit Television (CCTV). The independent variable was the German cockroach strain, while the dependent variable was foraging behavior. The observed parameters included latency to the bait, frequency of visits to the bait, and duration spent on the bait. Latency, frequency, and duration data were tested for normality using the Kolmogorov–Smirnov test. Latency data were not normally distributed and were therefore analyzed non-parametrically using the Kruskal–Wallis test. In contrast, frequency and duration data were normally distributed and analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) at a significance level of p < 0.05, followed by Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) when significant differences were detected. Comparisons of latency, frequency, and duration between the Semarang and VCRU strains were analyzed using the independent t-test. Pearson correlation analysis (Pearson Product Moment) was also performed to assess the relationship between frequency and duration data. All quantitative data were analyzed using SPSS software version 27. The results showed a significant difference in latency to the bait between strains (p < 0.05), with the VCRU strain responding to the bait more quickly. However, no differences were found in the frequency of visits to the bait or the duration spent on the bait. Male, female, and nymphal individuals did not influence the latency time to the bait in either the Semarang or VCRU strains. Differences in frequency and duration among males, females, and nymphs were observed in the Semarang strain but not in the VCRU strain. There was a relationship between the frequency of visits and the duration spent on the bait. The higher the frequency of visits to the bait, the longer the duration spent on it. The Semarang strain showed three peaks of feeding activity at 17:00–20:00 pm, 20:00–23:00 pm, and 02:00–05:00 am, while the VCRU strain exhibited two feeding activity peaks at 17:00–20:00 pm and 02:00–05:00 am. | |
| 47699 | 51086 | G1A022077 | Korelasi Kesanggupan Kardiovaskular dengan Fungsi Kognitif pada Siswa Sma Negeri 1 Baturraden | Latar Belakang: Fungsi kognitif memiliki peran penting dalam proses belajar dan pencapaian akademik. Kesanggupan kardiovaskular berkontribusi terhadap optimalisasi fungsi otak melalui peningkatan aliran darah serebral, neurogenesis, serta pelepasan faktor neurotropik seperti VEGF dan BDNF yang mendukung neuroplastisitas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara fungsi kognitif dengan kesanggupan kardiovaskular pada siswa laki-laki SMA Negeri 1 Baturraden. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain cross-sectional. Sampel terdiri dari 29 siswa laki-laki yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Fungsi kognitif diukur menggunakan Montreal Cognitive Assessment versi Indonesia (MoCA-Ina), sedangkan kesanggupan kardiovaskular diukur menggunakan Harvard Step Test. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi positif yang signifikan antara kesanggupan kardiovaskular dan fungsi kognitif (r = 0,750; p = 0,000). Rata-rata skor MoCA-Ina adalah 23,48 (kategori di bawah nilai normal) dan rata-rata skor Harvard Step Test adalah 76,97 (kategori cukup). Kesimpulan: Terdapat korelasi positif yang kuat antara fungsi kognitif dan kesanggupan kardiovaskular pada siswa. Peningkatan kesanggupan kardiovaskular berkaitan dengan peningkatan performa kognitif, sehingga aktivitas fisik yang teratur penting untuk mendukung kebugaran jantung dan perkembangan fungsi kognitif remaja. Kata kunci: kesanggupan kardiovaskular, fungsi kognitif, MoCA-Ina, Harvard Step Test, remaja | Background: Cognitive function plays a vital role in learning processes and academic achievement. Cardiovascular fitness supports optimal brain performance through improved cerebral blood flow, neurogenesis, and the release of neurotrophic factors such as VEGF and BDNF, which enhance neuroplasticity. Objective: This study aimed to determine the correlation between cognitive function and cardiovascular fitness among male students of SMA Negeri 1 Baturraden. Method: This analytic observational study used a cross-sectional design. A total of 29 male students were selected using purposive sampling. Cognitive function was measured using the Montreal Cognitive Assessment–Indonesian Version (MoCA-Ina) and cardiovascular fitness was assessed using the Harvard Step Test. Data were analyzed using the Spearman correlation test. Results: The results revealed a significant positive correlation between cognitive function and cardiovascular fitness (r = 0.750; p = 0.000). The mean Harvard Step Test score was 76.97 (moderate category), and the mean MoCA-Ina score was 23.48 (below normal cognitive function). Conclusion: There is a strong positive correlation between cognitive function and cardiovascular fitness among students. Improved cardiovascular capacity is associated with better cognitive performance, emphasizing the importance of physical activity in enhancing cardiovascular endurance and supporting cognitive development in adolescents. Keywords: cardiovascular fitness, cognitive function, MoCA-Ina, Harvard Step Test, adolescent | |
| 47700 | 51087 | G1A022125 | Hubungan Variasi Anatomi Osteomeatal Complex dengan Sinusitis Maksilaris pada Pemeriksaan Computed Tomography di RSUD Ajibarang Tahun 2024 | Latar Belakang: Osteomeatal complex (OMC) adalah jalur utama drainase sinus paranasal, di mana variasi anatomi seperti deviasi septum nasi dapat mengganggu aliran udara serta meningkatkan risiko sinusitis, sehingga CT Scan menjadi metode terbaik untuk mengevaluasinya. Tujuan: Mengetahui hubungan antara variasi anatomi OMC dengan sinusitis maksilaris berdasarkan hasil CT Scan kepala di RSUD Ajibarang tahun 2024. Metodologi: Penelitian analitik observasional cross-sectional ini menggunakan data CT Scan kepala dengan variabel bebas berupa variasi anatomi OMC dan variabel terikat sinusitis maksilaris; penilaian oleh tiga observer diuji menggunakan Fleiss’ Kappa, dilanjutkan analisis univariat untuk melihat frekuensi, serta analisis bivariat menggunakan Chi-square (χ²) dengan p < 0,05. Hasil: Tingkat kesesuaian antar-observer substantial hingga sempurna (κ = 0,76–1,00), dengan sebagian besar pasien mengalami sinusitis maksilaris (69,44%) dan variasi anatomi terbanyak berupa deviasi septum nasi (52,78%), di mana hanya deviasi septum nasi yang memiliki hubungan bermakna dengan sinusitis maksilaris (p=0,001). Kesimpulan: Deviasi septum nasi merupakan variasi anatomi OMC yang berhubungan signifikan dengan sinusitis maksilaris, sedangkan variasi lainnya tidak menunjukkan hubungan bermakna. Kata Kunci : osteomeatal complex, deviasi septum nasi, sinusitis maksilaris, CT Scan | Background: The osteomeatal complex (OMC) is the main drainage pathway of the paranasal sinuses, where anatomical variations such as nasal septal deviation may disrupt airflow and increase the risk of sinusitis; therefore, CT Scan serves as the best modality for its evaluation. Objective: To determine the association between OMC anatomical variations and maxillary sinusitis based on head CT Scan results at Ajibarang Regional Hospital in 2024. Methodology: This analytic observational cross-sectional study used head CT Scan data, with OMC anatomical variations as the independent variables and maxillary sinusitis as the dependent variable. Interobserver agreement was assessed using Fleiss’ Kappa, followed by univariate analysis to determine frequency distribution, and bivariate analysis using the Chi-square (χ²) test with a significance level of p < 0,05. Results: Interobserver agreement was substantial to almost perfect (κ = 0.76–1.00). Most patients presented with maxillary sinusitis (69.44%), and the most common anatomical variation was nasal septal deviation (52.78%), with only nasal septal deviation showing a significant association with maxillary sinusitis (p = 0.001). Conclusion: Nasal septal deviation is the only OMC anatomical variation significantly associated with maxillary sinusitis, while other variations showed no meaningful correlation. Keywords: osteomeatal complex, nasal septal deviation, maxillary sinusitis, CT Scan |