Artikelilmiahs

Menampilkan 47.601-47.620 dari 48.726 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4760150994I1J021001Overview Of Knowledge About Nutrition And Perineal Care In Postpartum Mothers With Perineal WoundsLatar Belakang: Penyembuhan luka perineum dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya perawatan luka dan nutrisi pada masa postpartum. Banyaknya kejadian infeksi pada luka perineum dapat disebabkan karena kurangnya pengetahuan ibu dalam perawatan luka dan manajemen nutrisi pada masa postpartum.
Metodologi: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu postpartum yang mengalami robekan perineum di Kedungbanteng pada periode July – Agustus 2025. Teknik sampel yang digunakan pada penelitian ini menggunakan total sampling dengan jumlah 30 orang. Analisis data menggunakan Analisis Univariat menggunakan rumus Distribusi Frekuensi.
Hasil Penelitian: Sebagian 50% responden memiliki pengetahuan tentang perawatan perineum kategori cukup, dan 90% responden memiliki pengetahuan tentang nutrisi kategori tingi. tentang perawatan perineum cukup dan 90% pengetahuan tenteng nutrisi tinggi. Seluruh responden berusia 20-35 tahun, mayoritas pendidikan SMA (50%), IRT (77%), primipara (53%), memiliki luka perineum derajat 1 (63%).
Kesimpulan: Responden memiliki cukup pengetahuan tentang perawatan luka perineum sedangkan pengetahuan tentang nutrisi tinggi.
Background: The healing of perineal wounds is influenced by several factors, one of which is wound care and nutrition during the postpartum period. The high incidence of infection in perineal wounds can be attributed to mothers' lack of knowledge about wound care and nutritional management during the postpartum period.
Methods: This study used a cross-sectional design. The population in this study were postpartum mothers who experienced perineal tears in Kedungbanteng during the period of July–August 2025. The sampling technique used in this study was total sampling with a sample size of 30 people. Data analysis was performed using univariate analysis with the frequency distribution formula.
Result: 50% of respondents had adequate knowledge about perineal care, and 90% of respondents had high knowledge about nutrition. All respondents were aged 20-35 years, the majority had a high school education (50%), were housewives (77%), were primiparas (53%), and had grade 1 perineal tears (63%).
Conclusion: Respondents had enough knowledge about perineal wound care and high nutritional knowledge.
4760250995C1A021066PENGARUH PENGGUNAAN METODE PEMBAYARAN QRIS, APLIKASI BELANJA ONLINE DAN GAYA HIDUP TERHADAP PERILAKU KONSUMTIF MAHASISWA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMANEra globalisasi dan modernisasi telah memberikan dampak perubahan yang signifikan dari berbagai macam segi kehidupan masyarakat, tidak terkecuali pada perilaku konsumsi mahasiswa. Ditengah arus modernisasi serta perkembangan teknologi, mahasiswa justru semakin rentan terhadap perilaku konsumtif yang tidak rasional. Realitas ini semakin nyata dengan kemunculan berbagai kemudahan bertransaksi, seperti sistem pembayaran digital berbasis QRIS, dan maraknya penggunaan aplikasi belanja online. Selain itu, gaya hidup mahasiswa yang cenderung mengikuti tren dan pengaruh lingkungan pergaulan, juga mempengaruhi konsumsi mereka yang pada akhirnya dapat mengarah pada perilaku konsumtif.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan metode pembayaran QRIS, aplikasi belanja online dan gaya hidup terhadap perilaku konsumtif mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh mahasiswa aktif Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman dengan sampel sebanyak 100 responden. Teknik pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang disebarkan secara daring menggunakan Google Form. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, menunjukkan bahwa (1) penggunaan QRIS tidak berpengaruh signifikan terhadap perilaku konsumtif mahasiswa. (2) Penggunaan aplikasi belanja online berpengaruh signifikan terhadap perilaku konsumtif mahasiswa. (3) Gaya hidup berpengaruh signifikan terhadap perilaku konsumtif mahasiswa. (4) Penggunaan QRIS, aplikasi belanja online, dan gaya hidup secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap perilaku konsumtif mahasiswa. Implikasi dari kesimpulan tersebut yaitu mahasiswa diharapkan mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan saat melakukan aktivitas konsumsi. Salah satu cara yang bisa diterapkan adalah dengan membuat skala prioritas sehingga bisa terhindar dari perilaku konsumsi yang impulsif dan tidak rasional. Selain itu disarankan bagi mahasiswa agar dapat lebih bijak dalam penggunaan teknologi digital seperti aplikasi belanja online. Meskipun teknologi digital memberikan kemudahan dalam bertransaksi, penting bagi mahasiswa untuk memiliki kontrol diri dan kesadaran terhadap prioritas kebutuhan. Dengan memiliki kontrol diri yang kuat, mahasiswa dapat tetap mempertahankan integritas finansial meskipun dalam lingkungan yang konsumtif.
The era of globalization and modernization has had a significant impact on various aspects of society, including student consumption behavior. Amidst the tide of modernization and technological developments, students are increasingly vulnerable to irrational consumerism. This reality is increasingly evident with the emergence of various transaction conveniences, such as QRIS-based digital payment systems, and the widespread use of online shopping applications. In addition, the lifestyle of students, who tend to follow trends and the influence of their social environment, also affects their consumption, which can ultimately lead to consumptive behavior.
This study aims to analyze the effect of the use of QRIS payment methods, online shopping applications, and lifestyle on the consumptive behavior of students at the Faculty of Economics and Business, Jenderal Soedirman University. The research method used is quantitative. The population in this study is all active students at the Faculty of Economics and Business, Jenderal Soedirman University, with a sample of 100 respondents. Data collection techniques were carried out using questionnaires distributed online using Google Forms. The data analysis technique used was multiple linear regression analysis.
Based on the results of research and data analysis, it shows that(1) The use of QRIS does not have a significant effect on the consumptive behavior of students. (2) The use of online shopping applications has a significant effect on the consumptive behavior of students. (3) Lifestyle has a significant effect on the consumptive behavior of students. (4) The combined use of QRIS, online shopping applications, and lifestyle significantly affects students' consumption behavior. The implication of these conclusions is that students are expected to be able to distinguish between needs and wants when engaging in consumption activities. One way to do this is by creating a priority scale so that they can avoid impulsive and irrational consumption behavior. In addition, it is recommended that students be more prudent in their use of digital technology such as online shopping applications. Although digital technology makes transactions easier, it is important for students to have self-control and awareness of their priority needs. By having strong self-control, students can maintain their financial integrity even in a consumptive environment.
4760350643C2C023079MULTI-FACTORIAL INFLUENCES ON MALARIA TRANSMISSION
DYNAMICS IN INDONESIA: INSIGHTS FROM CLIMATE TO
COMMUNITY INTERVENTIONS: A Literature Review
Malaria tetap menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia, terutama di wilayah dengan tingkat endemisitas tinggi seperti Papua dan Nusa Tenggara Timur. Meskipun berbagai strategi pengendalian telah diterapkan, penyebaran penyakit ini masih dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi. Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi insidensi malaria, serta mengevaluasi strategi pengendalian yang telah dilaksanakan di berbagai daerah di Indonesia.
Metode yang digunakan mencakup penelaahan terhadap 20 jurnal ilmiah nasional yang diterbitkan antara tahun 2016 hingga 2024. Analisis dilakukan terhadap studi observasional, deskriptif, dan kebijakan yang menyoroti pengaruh iklim, demografi, perilaku, kondisi lingkungan, dan kebijakan pemerintah terhadap insidensi malaria.
Hasil tinjauan pustaka menunjukkan bahwa faktor iklim seperti curah hujan dan suhu udara secara signifikan memengaruhi fluktuasi kasus malaria, terutama pada lingkungan yang basah dan lembap. Faktor demografis seperti usia, rendahnya tingkat pendidikan, dan kondisi sosial ekonomi yang kurang mendukung juga berkontribusi secara signifikan terhadap risiko infeksi. Perilaku masyarakat, kualitas lingkungan permukiman, serta mobilitas penduduk semakin memperkuat rantai penularan.
Di sisi lain, berbagai strategi intervensi seperti pemetaan spasial, pengobatan massal, distribusi kelambu berinsektisida, dan pelibatan kader kesehatan lokal terbukti efektif di beberapa wilayah seperti Purbalingga dan Papua.
Kesimpulan dari studi ini menegaskan bahwa upaya pengendalian malaria di Indonesia memerlukan pendekatan integratif berbasis data lokal, yang menggabungkan dimensi epidemiologis, klimatologis, sosial, dan kebijakan. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam merumuskan strategi eliminasi malaria nasional yang lebih adaptif dan kontekstual menuju tercapainya Indonesia bebas malaria pada tahun 2030.
Malaria remains a significant public health issue in Indonesia, particularly in regions with high
endemicity levels such as Papua and East Nusa Tenggara. Despite the implementation of various
control strategies, the spread of this disease continues to be influenced by multiple interrelated
factors. This literature review aims to identify and analyze the factors affecting malaria incidence,
as well as to evaluate the control strategies implemented across various regions in Indonesia. The
method involved reviewing 20 national scientific journals published between 2016 and 2024. The
analysis encompassed observational, descriptive, and policy studies that examined the influence of
climate, demographics, behavior, environmental conditions, and government policies on malaria
incidence.
The results of the literature review indicate that climatic factors such as rainfall and air temperature
significantly affect the fluctuation of malaria cases, particularly in wet and humid environments.
Demographic factors such as age, low educational attainment, and poor socioeconomic status also
significantly contribute to infection risk. Community behavior, residential environmental quality,
and population mobility further reinforce transmission chains. On the other hand, intervention
strategies such as spatial mapping, mass treatment, mosquito net distribution, and local health cadre
engagement have proven effective in several regions including Purbalingga and Papua. The
conclusion of this study emphasizes that malaria control in Indonesia requires an integrative
approach based on local data, combining epidemiological, climatological, social, and policy
dimensions. These findings are expected to serve as a foundation for formulating a more adaptive
and contextually appropriate national malaria elimination strategy toward the goal of a malaria-free
Indonesia by 2030.
4760450996K1C021027IDENTIFIKASI AKUIFER REKAHAN MENGGUNAKAN METODE MAGNETIK DI DESA SUMBANG, KECAMATAN SUMBANG, KABUPATEN BANYUMAS
Eksplorasi air tanah umumnya dilakukan menggunakan metode geolistrik, namun metode ini sering mengalami kendala ketika diterapkan pada lingkungan batuan vulkanik keras yang masif. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi akuifer rekahan di Desa Sumbang, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas dengan memanfaatkan data magnetik. Akuifer rekahan menjadi penting karena pada daerah vulkanik keras, air tanah umumnya tersimpan dan mengalir melalui rekahan sekunder. Data medan magnet diperoleh menggunakan Proton Precission Magnetometer (PPM) GSM-19T pada area seluas 1500 x 1500 m² dengan spasi grid 100 m. Data magnetik kemudian diproses melalui koreksi harian dan IGRF, reduksi bidang datar, Upward Continuation, reduksi ke ekuator (RTE), dan analisis First Horizontal Derivative (FHD), lalu dimodelkan secara 2D dengan software Zondgm2D. Hasil pengolahan menunjukkan sebaran anomali magnetik di lokasi penelitian berkisar antara -2312,5 nT hingga 2350,66 nT. Anomali tinggi diasosiasikan dengan batuan vulkanik segar yang masih kompak, sedangkan anomali rendah berhubungan dengan batuan teralterasi atau lapuk yang berpotensi mengandung rekahan. Pemodelan 2D pada lima lintasan memperlihatkan tiga lapisan utama, yaitu lava andesit/basaltik kompak di bagian atas, breksi/tuf teralterasi di kedalaman menengah, serta batuan vulkanik tak
terdiferensiasi di bagian bawah. Zona rekahan yang diinterpretasikan dari hasil FHD berasosiasi dengan lapisan alterasi dan pelapukan, yang berpotensi menjadi jalur akuifer rekahan. Dengan demikian, metode magnetik terbukti efektif dalam mendelineasi zona rekahan di batuan vulkanik keras, sehingga dapat menjadi acuan awal eksplorasi potensi air tanah di Desa Sumbang.
Groundwater exploration is commonly conducted using the geoelectric method; however, this approach often encounters difficulties when applied to massive, hard volcanic rocks. Therefore, this study aims to identify fractured aquifers in Sumbang Village, Sumbang District, Banyumas Regency by utilizing magnetic data. Fractured aquifers are significant in volcanic terrains, as groundwater is typically stored and transmitted through secondary fractures. Magnetic data were acquired using a Proton Precession Magnetometer (PPM) GSM-19T over an area of 1500 × 1500 m² with a grid spacing of 100 m. The dataset was processed through diurnal and IGRF corrections, reduction to a flat plane, upward continuation, reduction to the equator (RTE), and First Horizontal Derivative (FHD) analysis, followed by 2D modeling using Zondgm2D software. The results show that magnetic anomaly values in the study area range from –2312.5 nT to 2350.66 nT. High anomalies are associated with fresh, compact volcanic rocks, while low anomalies correspond to altered or weathered rocks that potentially contain fractures. The 2D modeling across five profiles revealed three principal subsurface layers, namely compact andesitic/basaltic lava at shallow depths, altered breccia/tuff at intermediate depths, and undifferentiated volcanic rocks at greater depths. Fracture zones interpreted from the FHD analysis are strongly correlated with alteration and weathered layers, indicating potential groundwater pathways. Thus, the magnetic method has been proven effective in delineating fractured zones within hard volcanic rocks and can serve as a preliminary reference for groundwater exploration in the study area.
4760550997I2A023009EFEKTIVITAS FORMULA MIKROEMULSI GEL MINYAK ATSIRI KENANGA (Cananga odorata) SEBAGAI DAYA PROTEKSI
REPELLENT TERHADAP NYAMUK Aedes aegypti DAN
Culex quinquefasciatus

Latar Belakang. Demam berdarah dan filariasis, yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan Culex quinquefasciatus., masih endemik di Indonesia. Pengendalian vektor kimia, seringkali melalui repellent sangat bergantung pada DEET, yang dapat menimbulkan risiko kesehatan jika digunakan secara berkala. Penelitian ini memperkenalkan formulasi repellent alami inovatif yang memanfaatkan minyak esensial (Cananga odorata), yang dikenal memiliki sifat antivektor.. Untuk mengatasi volatilitas tinggi minyak esensial, formulasi gel mikroemulsi dikembangkan meningkatkan stabilitas dan penyerapan kulit. Tujuan Penelitian ini mengevaluasi efektivitas gel mikroemulsi minyak esensial pada konsentrasi (F1) 2,5%; (F2) 5%; dan (F3) 7,5% sebagai repellent nyamuk. Metode yang digunakan adalah true experimental post-test-only control group design, Hasil menunjukkan bahwa formulasi (F2) 5%; dan (F3) 7,5% memberikan perlindungan efektif (>95%) terhadap gigitan nyamuk hingga jam keenam. Analisis statistik melalui Uji ANOVA Berulang menunjukkan interaksi antara waktu dan formulasi signifikan, dengan nilai p 0,031 (<0,05), serta interaksi antara waktu dan jenis nyamuk signifikan, dengan nilai p 0,008 (<0,05). Namun, interaksi antara faktor formula dengan jenis nyamuk tidak signifikan, dengan nilai p 0,100 (>0,01). Uji post hoc mengonfirmasi bahwa konsentrasi F3 (7,5) efektif sebagai daya proteksi terhadap Aedes aegypti dan Culex quinquefasciatus. Kesimpulan, gel mikroemulsi minyak atsiri Kenanga sangat efektif sebagai repellent, dengan F2 (5%) dan F3 (7,5%) mencapai perlindungan lebih dari 95% untuk kedua spesies Aedes aegypti dan Culex quinquefasciatus. Formulasi ini aman untuk penggunaan topikal jangka panjang, menjadi alternatif alami yang dapat dikembangkan menjadi produk repellent dan efektif untuk pencegahan gigitan nyamuk.background. Dengue fever and filariasis, transmitted by Aedes aegypti and Culex quinquefasciatus., remain prevalent in Indonesia. Chemical vector control, often through repellents, relies heavily on DEET, which may pose health risks with frequent use. This study introduces an innovative, natural repellent formulation utilizing (Cananga odorata) essential oil, known for its antivector properties due to active compounds which mosquitoes find repellent. To address the high volatility of essential oils, a gel microemulsion formulation was developed to enhance stability and skin absorption.This research evaluates the effectiveness of essential oil gel microemulsions at concentrations of (F1)2.5%; (F2)5%; and (F3) 7.5% as mosquito repellents. Using a true experimental post-test-only control group design, The results revealed that formulations(F2)5%; and (F3) 7.5% provided effective protection (>95%) against mosquito bites for up to six hours. Statistical analysis through Repeated Measures ANOVA indicated interaction between time and formulas significant, with a p-value 0.031 (<0.05), time with type of mosquitos significant, with p-value 0.008(<0.05) . But,interaction factor formulas with type of mousquitos not significant, p- value 0.100 (>0,01). Post hoc test confirmed that consentration of F3 (7,5) was effective as a protective power against Aedes aegypti and Culex quinquefasciatus. In conclusion, the ylang-ylang essential oil gel microemulsion is highly effective as a repellent, with F2 (5%) and F3 (7.5%) achieving over 90% protection for both Aedes aegypti and Culex quinquefasciatus. The formulation is safe for extended topical use, offering a natural alternative that can be developed into repellent product and effective for disease prevention
4760650989A2C024003EVALUASI PENGGUNAAN NITROGEN SLOW RELEASE DAN
PUPUK ORGANIK CAIR PADA TANAMAN PADI (Oryza sativa L.)
Nitrogen adalah unsur penting yang dibutuhkan oleh tanaman.
Namun, nitrogen mudah hilang dari tanah. Untuk mengurangi kehilangan nitrogen tersebut, digunakan pupuk N-ZEO-SR Plus yang terbuat dari zeolit dan melepaskan nitrogen secara perlahan. Selain itu, tanaman juga membutuhkan pupuk organik cair yang membantu meningkatkan penyerapan dan penyebaran nutrisi oleh tanaman. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji sejauh mana pemberian pupuk N-ZEO-SR Plus, Pupuk Organik Cair (POC), sert kombinasi keduanya memengaruhi perkembangan tanaman, proses fisiologis, dan produktivitas tanaman padi. Penelitian ini dilakukan dengan menerapkan desain acak kelompok lengkap (RKAL) menggunakan pendekatan factorial, di mana setiap perlakuan diberikan pengulangan sebanyak tiga kali. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa penggunaan pupuk N-ZEO-SR Plus mampu meningkatkan hasil produksi padi sebesar 10,54% pada dosis 150 kg per hektar, dan meningkat hingga 28,99% pada dosis 300 kg per hektar. Kombinasi dosis yang paling baik adalah menggunakan pupuk N-ZEO-SR Plus sebanyak 300 kg per hektar tanpa ditambahkan pupuk organik cair.

Nitrogen is an essential element needed by plants. However, nitrogen is easily lost from the soil. To reduce this nitrogen loss, N-ZEO-SR Plus fertilizer, made from zeolite and slowly releasing nitrogen, is used. Furthermore, plants also require liquid organik fertilizer to help improve nutrient absorption and distribution. This research sought to evaluate how N-ZEO-SR Plus fertilizer, Liquid Organik Fertilizer (LOF), and the combination of both influence rice plant growth, physiological responses, and crop yield. The experiment was arranged use a factorial Randomized Complete Block Design (RCBD) and was carried out with three repetitons. This experience employed a Completely Randomized Block Design (CRBD) arranged in a factorial scheme and carried out with three repetitions. The findings indicated that the application of N-ZEO-SR Plus fertilizer increased rice yield by 10.54% at a dose of 150 kg per hectare, and increased by up to 28.99% at a dose of 300 kg per hectare. The best dose combination was using 300 kg of N-ZEO-SR Plus fertilizer per hectare without the addition of liquid organik fertilizer.

4760751005D1A019200PENGARUH POSISI LANTAI KANDANG TERHADAP BODY WEIGHT DAN MORTALITAS AYAM BROILERAyam broiler memiliki siklus produksi yang relatif singkat dan menjadi komoditas unggas
yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Performanya sangat dipengaruhi oleh faktor
pakan, genetik, dan manajemen pemeliharaan, termasuk kondisi lingkungan kandang. Pada
sistem kandang closed house bertingkat, posisi lantai berpotensi menimbulkan perbedaan
lingkungan mikro sehingga dapat memengaruhi body weight (BW) dan mortalitas ayam
broiler. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh posisi lantai kandang terhadap BW
dan mortalitas ayam broiler di CV Mulya Sentosa. Penelitian dilakukan selama 32 hari
pemeliharaan menggunakan 66.000 ekor ayam broiler strain Cobb yang ditempatkan pada
tiga lantai kandang (22.000 ekor per lantai). Data dianalisis menggunakan ANOVA dengan
taraf signifikansi 5%, dan dilanjutkan dengan uji Tukey apabila terdapat perbedaan yang
signifikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa posisi lantai kandang tidak berpengaruh
terhadap body weight ayam (p>0,05), ditunjukkan dengan nilai F hitung 0,006 yang lebih
rendah dari F kritis 3,094. Sebaliknya, posisi lantai kandang berpengaruh signifikan terhadap
mortalitas (p<0,05), dengan nilai F hitung 8,76. Uji lanjut Tukey menunjukkan bahwa
perbedaan mortalitas signifikan terjadi antara lantai 1 dan lantai 3, di mana lantai 3 memiliki
mortalitas tertinggi. Dapat disimpulkan bahwa posisi lantai tidak memengaruhi pertumbuhan
BW, namun berpengaruh terhadap tingkat mortalitas ayam broiler. Optimalisasi lingkungan
kandang diperlukan terutama pada lantai dengan mortalitas tertinggi.
Broiler chickens have a relatively short production cycle and are a widely cultivated poultry
commodity in Indonesia. Its performance is greatly influenced by feed factors, genetics, and
maintenance management, including the environmental conditions of the cage. In a multistorey closed house cage system, the floor position has the potential to cause differences in
the microenvironment so that it can affect body weight (BW) and mortality of broiler
chickens. This study aims to analyze the influence of cage floor position on BW and broiler
chicken mortality at CV Mulya Sentosa. The study was conducted for 32 days of
maintenance using 66,000 Cobb strain broiler chickens placed on three floors of the cage
(22,000 chickens per floor). The data was analyzed using ANOVA with a significance level
of 5%, and continued with the Tukey test if there was a significant difference. The results
showed that the position of the cage floor had no effect on the body weight of the chicken
(p>0.05), as shown by the F value calculated at 0.006 which was lower than the critical F of
3.094. On the other hand, the position of the cage floor had a significant effect on mortality
(p<0.05), with an F value of 8.76. Tukey's follow-up tests showed that a significant
difference in mortality occurred between the 1st and 3rd floors, where the 3rd floor had the
highest mortality. It can be concluded that the floor position does not affect the growth of BW, but it does affect the mortality rate of broiler chickens. Optimization of the cage
environment is necessary, especially on the floors with the highest mortality.
4760851009G4A023017Hubungan Religiusitas terhadap Perawatan Diri untuk Pengendalian
Diabetes Melitus pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Kecamatan
Sumbang Banyumas
Latar Belakang : Diabetes melitus (DM) masih menjadi salah satu masalah
kesehatan besar di dunia dan dapat menyebabkan berbagai komplikasi sehingga
membutuhkan manajemen diabetes. Religiusitas dapat menimbulkan kesejahteraan
psikologis dan membantu pasien DM mengatasi berbagai masalah yang berpotensi
muncul melalui perawatan diri. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan
religiusitas dan perawatan diri terhadap kadar HbA1c pasien diabetes melitus tipe
2 di Kecamatan Sumbang, Banyumas. Metode : Penelitian ini bersifat observatif
analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel diambil menggunakan teknik
total sampling berjumlah 65 pasien DM tipe 2 di Puskesmas Sumbang 1 dan 2. Data
religiusitas dan perawatan diri diambil menggunakan kuesioner CRS-15 dan
DSMQ. HbA1c diukur menggunakan metode borronate affinity. Data diuji
menggunakan aplikasi SPSS dengan uji Kolmogorov Smirnov dan Spearman. Hasil
: Tingkat religiusitas tinggi 44 (75.9%) dan sedang 14 (24.1%). Tingkat perawatan
diri baik 55 (94.8%), cukup 2 (3.4%), dan kurang 1 (1.7%). Kadar HbA1c tidak
mencapai target 44 (75.7%) dan mencapai target 14 (24.1%). Religiusitas dan
perawatan diri diuji menggunakan uji Kolmogorov Smirnov didapakan Sig. 0.195,
kemudian dengan uji Spearman didapatkan nilai Asymp Sig. 0.226. Hubungan
perawatan diri dengan pengendalian DM diuji menggunakan Kolmogorov Smirnov
didapatkan Sig. 0.200, kemudian uji Spearman didapatkan nilai Asymp Sig. 0.336.
Kesimpulan : Tidak ada hubungan antara religiusitas dan perawatan diri. Tidak
ada hubungan antara perawatan diri dan kadar HbA1c.
Background : Diabetes mellitus (DM) was still a major health problem in the world
and could cause various complications that require diabetes management.
Religiosity could lead to psychological well-being and help DM patients overcome
various potential problems through self-care. The purpose of this study was to
determine the relationship between religiosity and self-care on HbA1c levels in type
2 diabetes mellitus patients in Sumbang District, Banyumas. Methods: This
research was an analytic observation with a cross-sectional approach. Sample was
taken using a total sampling technique totaling 65 type 2 DM patients at Sumbang
1 and 2 Health Centers. Religiosity and self-care data were taken using the CRS-
15 and DSMQ questionnaires. HbA1c levels were measured using the borronate
affinity method. The data was tested using the SPSS application with Kolmogorov
Smirnov and Spearman tests. Results: The level of religiosity were 44 (75.9%) high
and 14 (24.1%) moderate. The level of self-care were 55 (94.8%) good, 2 (3.4%)
enough, and 1 (1.7%) less. HbA1c measured were 44 (75.7%) patients did not reach
the target and 14 (24.1%) patients reached the target. Religiosity and self-care data
were tested using the Kolmogorov Smirnov resulted Sig. 0.195, then using
Spearman test obtained Asymp Sig. 0.226. Relationship between self-care and DM
control was measured using Kolmogorov Smirnov obtained Sig. 0.200 and using
Spearman test obtained Asymp Sig. 0.336. Conclusion : There is no relationship
between religiosity and self-care. There is no relationship between self-care and
HbA1c levels.
4760950998K1C021023IDENTIFIKASI STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN DAERAH PROSPEK PANAS BUMI TANUHI KALIMANTAN SELATAN BERDASARKAN DATA GRAVITASI GGMPLUS
Data gravitasi satelit dimanfaatkan untuk memetakan anomali gravitasi di permukaan bumi, pada penelitian ini digunakan untuk mengidentifiasi potensi panas bumi di Tanuhi, Kalimatan Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk membuat model dua dimensi yang digunakan sebagai salah satu acuan untuk menginterpretasikan lapisan batuan bawah permukaan di daerah penelitian. Proses pengolahan data dimulai dengan koreksi Bouguer dan koreksi medan sehingga diperoleh Anomali Bouguer Lengkap, melakukan pemisahan anomali regional dan residual dan analisis derivative. Hasil analisis derivative menunjukkan keberadaan 7 patahan yang terdiri dari 5 patahan naik dan 2 patahan normal, di mana patahan normal ditemukan pada area manifestasi panas bumi Tanuhi. Berdasarkan hasil pemodelan dua dimensi, diperoleh sebaran densitas bawah permukaan dengan nilai 2,1 g/cc yang diinterpretasikan sebagai batuan lempung. Nilai densitas 2,5 g/cc diinterpretasikan sebagai batupasir, serta densitas 2,7 g/cc diinterpretasikan sebagai batuan granit.Satellite gravity data is used to map gravity anomalies on the Earth's surface, in this research it is used to identify geothermal potential in Tanuhi, South Kalimantan. This research aims to create a two-dimensional model that can be used as a reference for interpreting subsurface rock layers in the research area. The data processing begins with Bouguer and terrain corrections to obtain the Complete Bouguer Anomaly, followed by regional and residual anomaly separation and derivative analysis. The derivative analysis results indicate the presence of 7 faults, consisting of 5 thrust faults and 2 normal faults, with the normal faults located in the geothermal manifestation area of Tanuhi. Based on the two-dimensional modeling results, subsurface density distributions were identified, with a value of 2.1 g/cc interpreted as clay, 2.5 g/cc interpreted as sandstone, and 2.7 g/cc interpreted as granite.
4761050999A2B023005KAJIAN KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK BAKSO BELUM BERLABEL HALAL PRODUKSI IKM KABUPATEN BANYUMASTerdapat kebutuhan yang jelas untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keputusan konsumen untuk memasuki pasar makanan halal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) tingkat pengetahuan, pemahaman, dan persepsi terhadap pembelian produk bakso tanpa sertifikasi halal di Kabupaten Banyumas; dan 2) pengaruh label sertifikasi halal terhadap keputusan pembelian. Penelitian ini dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada 100 responden menggunakan skala Likert. Variabel yang dianalisis meliputi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan tertinggi, pendapatan, pengetahuan terkait pelabelan halal, tingkat pemahaman keagamaan, pemahaman tentang bakso berlabel halal, dan perilaku konsumen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel-variabel tersebut tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian produk bakso dengan sertifikasi halal.There is a clear need to identify factors that affecting consumer purchasing decision to enter the halal food market. The study aims to determine: 1) the level of knowledge, understanding, and perception of purchasing meatball products without halal certification in Banyumas Regency; and 2) the effect of halal certification label on purchasing decision. This study was conducted by distributing questionnaires to 100 respondents using a Likert scale. The variables analyzed include age, gender, highest level of education, income, knowledge related to halal labeling, level of religious understanding, understanding of halal-labeled meatballs, and consumer behavior. The results of this study indicate thate the variables did not significantly affect purchasing decision for meatball products with halal certification
4761151000K1B020053REGRESI NONPARAMETRIK SPLINE UNTUK PEMODELAN TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA DI JAWA TENGAHTingkat Pengangguran Terbuka (TPT) merupakan indikator penting dalam menggambarkan kondisi ketenagakerjaan suatu wilayah. Penelitian ini bertujuan memodelkan faktor-faktor yang memengaruhi TPT di Jawa Tengah periode 2021–2023 menggunakan regresi nonparametrik spline multivariabel serta menentukan model terbaik berdasarkan Generalized Cross Validation (GCV). Variabel dependen adalah TPT dengan variabel independen kepadatan penduduk, laju pertumbuhan ekonomi, tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK), dan angka partisipasi kasar (APK) SMP. Hasil analisis menunjukkan model terbaik menggunakan empat titik knot dengan nilai GCV minimum 3,010905. Variabel kepadatan penduduk dan TPAK berpengaruh signifikan terhadap TPT, sedangkan laju pertumbuhan ekonomi signifikan hanya pada uji serentak dan APK SMP tidak signifikan. Uji normalitas residual terpenuhi dengan p-value 0,6455. Nilai koefisien determinasi yang diperoleh adalah 55,56% dan nilai koefesien determinasi adjusted 52,32% menunjukkan bahwa model mampu menjelaskan lebih dari separuh variasi TPT.The Open Unemployment Rate (OUR) is an important indicator in describing the employment conditions of a region. This study aims to model the factors affecting OUR in Central Java during the period of 2021–2023 by using multivariable nonparametric spline regression and to determine the best model based on the Generalized Cross Validation (GCV) criterion. The dependent variable is OUR, with independent variables including population density, economic growth rate, labor force participation rate (LFPR), and gross enrollment rate at junior secondary school (GER-SMP). The results of the analysis show that the best model was obtained using four knot points with a minimum GCV value of 3.010905. Population density and LFPR were found to have a significant effect on OUR, while economic growth rate was significant only in the simultaneous test, and GER-SMP was not significant. The residual normality assumption was satisfied with a p-value of 0.6455. The coefficient of determination obtained was 55,56% and determination obtained Adjusted was 52,32%, indicates that the model is able to explain more than a half of the variation in OUR.
4761251004D1A020182PERTUMBUHAN DAN KINERJA PRODUKSI SAPI PADA SISTEM FEEDLOT BERDASARKAN BANGSA YANG BERBEDAPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan kinerja produksi sapi potong pada sistem feedlot berdasarkan perbedaan bangsa sapi yang dipelihara, meliputi sapi Bali, Peranakan Ongole (PO), Simmental, dan Limousin. Pengamatan dilakukan selama periode penggemukan empat bulan dengan sistem pemeliharaan intensif. Parameter utama yang diamati mencakup pertambahan bobot badan harian (PBBH), Feed Conversion Ratio (FCR), dan Feed Efficiency (FE) usaha feedlot. Metode penelitian menggunakan pendekatan studi kasus dengan pengumpulan data primer dari kegiatan penggemukan sapi pada suatu unit feedlot. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan bangsa sapi memberikan pengaruh terhadap performa pertumbuhan dan efisiensi pakan. Rata-rata PBBH tertinggi diperoleh pada sapi Peranakan Ongole (PO) sebesar 0,85 ± 0,03ᵃ kg/ekor/hari, diikuti Limousin 0,84 ± 0,02ᵇ kg/ekor/hari, sedangkan sapi Bali 0,83 ± 0,03ᵇ kg/ekor/hari dan Simmental 0,83 ± 0,02ᵇ kg/ekor/hari. Nilai FCR rata-rata berkisar antara 13,90-14,26 kg BK/kg pertambahan bobot badan, dengan nilai terendah pada sapi PO 13,90 ± 0,44ᵃ kg BK/kg yang menunjukkan efisiensi konversi pakan terbaik. Nilai FE berada pada kisaran 6,78-7,54 %, dengan sapi PO juga memiliki efisiensi tertinggi sebesar 7,20 ± 0,23ᵃ %. Berdasarkan hasil tersebut, sapi PO cenderung memiliki performa pertumbuhan dan efisiensi pakan yang lebih baik dibandingkan dengan Limousin, Simmental dan Bali.This study aimed to determine the growth and production performance of beef cattle in a feedlot system based on different breeds, including Bali, Peranakan Ongole (PO), Simmental, and Limousin. Observations were conducted over a four-month fattening period under an intensive management system. The main parameters observed included Average Daily Gain (ADG), Feed Conversion Ratio (FCR), and Feed Efficiency (FE) of the feedlot enterprise. The research employed a case study approach with primary data collected from cattle fattening activities at a feedlot unit. Data were analyzed descriptively and quantitatively. The results showed that breed differences affected growth performance and feed efficiency. The highest average daily gain (ADG) was recorded in Peranakan Ongole (PO) cattle at 0,85 ± 0,03ᵃ kg/head/day, followed by Limousin 0,84 ± 0,02ᵇ kg/head/day, while Bali at 0,83 ± 0,03ᵇ kg/head/day and Simmental 0,83 ± 0,02ᵇ kg/head/day. The average FCR ranged from 13,90 to 14,26 kg DM/kg body weight gain, with PO cattle showing the lowest value 13,90 ± 0,44ᵃ kg DM/kg indicating the best feed conversion efficiency. Feed Efficiency (FE) ranged between 6.78-7.54%, with PO cattle also achieving the highest efficiency of 7,20 ± 0,23ᵃ %. Based on these results, PO cattle tended to have better growth performance and feed efficiency compared to Simmental and Bali cattle.

4761351033G4A022048
4761451002K1C021011IDENTIFIKASI STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN DAERAH PANAS BUMI NAGE, NUSA TENGGARA TIMUR BERDASARKAN DATA ANOMALI GRAVITASI CITRA SATELIT GGMPLUSIdentifikasi struktur bawah permukaan telah dilakukan untuk menentukan karakteristik patahan dan batuan penyusun sistem panas bumi di daerah Nage, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur menggunakan metode gravitasi dengan data satelit GGMPLUS. Tahapan pengolahan data mencakup perhitungan koreksi Bouguer dan koreksi medan (terrain) untuk memperoleh nilai Complete Bouguer Anomaly (CBA). Selanjutnya, data CBA direduksi ke bidang datar dan dilakukan pemisahan antara anomali regional dan residual dengan metode upward continuation. Anomali residual yang diperoleh kemudian dianalisis dengan Second Vertical Derivative (SVD) serta dimodelkan menggunakan inversi 2D. Analisis SVD menunjukkan keberadaan patahan yang terdiri atas 17 patahan naik dan 18 patahan normal. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas struktur patahan memiliki peran dalam mengontrol kemunculan manifestasi panas bumi di daerah Nage. Hasil interpretasi inversi 2D memperlihatkan tubuh batuan berdensitas tinggi (>2,8 g/cc) yang diinterpertasikan sebagai Jatuhan Piroklastik Wolo Piu (QPjp) dan Jatuhan Piroklastik Wolo Bena (QBjp), berupa lava andesitik berfungsi sebagai sumber panas. Lava andesitik teralterasi di sekitar manifestasi yang memiliki sifat impermeabel sehingga berperan sebagai batuan penudung. Adapun reservoir panas bumi teridentifikasi pada kedalaman sekitar 600 meter, berupa lava andesit yang telah terdeformasi menjadi lempung hingga pasir dengan permeabilitas tinggi akibat pengaruh aktivitas patahan. Hal ini menunjukkan bahwa sistem panas bumi Nage dikontrol oleh aktivitas patahan yang memengaruhi keberadaan sumber panas, batuan penudung, dan reservoir.Subsurface structure identification was carried out to characterize faults and rock units forming the geothermal system in Nage, Ngada District, East Nusa Tenggara, using gravity methods based on GGMPLUS satellite data. Data processing included Bouguer and terrain corrections to obtain the Complete Bouguer Anomaly (CBA). The data were then reduced to a flat plane using the Taylor series approach, followed by regional–residual anomaly separation through the upward continuation method. The residual anomalies were subsequently analyzed using the Second Vertical Derivative (SVD) and modeled through 2D inversion. SVD analysis revealed the presence of fault structures consisting of 17 reverse faults and 18 normal faults. This indicates that geothermal manifestations in Nage are controlled by fault activity. The 2D inversion results identified a high-density body (>2.8 g/cc) interpreted as the Wolo Piu (QPjp) and Wolo Bena (QBjp) Pyroclastic Fall deposits, composed of andesitic lava acting as the heat source. Altered andesitic lava around the manifestations exhibits impermeable properties, functioning as a cap rock. The geothermal reservoir is located at a depth of approximately 600 m, composed of Wolo Kenowe volcanic units (TpKv), which consist of deformed andesitic lava transformed into clay to sand with high permeability due to fault activity. These findings demonstrate that the Nage geothermal system is strongly controlled by fault structures influencing the heat source, cap rock, and reservoir.
4761550723D1A021067PENGARUH KARAKTERISTIK PETERNAK TERHADAP PRODUKTIVITAS USAHA PETERNAKAN SAPI POTONG PO DI KABUPATEN KEBUMEN Usaha peternakan sapi potong di Indonesia masih didominasi oleh peternakan sapi potong dengan skala usaha yang kecil karena sifatnya masih tradisional dan turun menurun. Peternak belum mengetahui produktivitas usaha peternakannya sehingga efektifitas usaha belum dapat di optimalkan. Tujuan penelitian ini adalah: (1). Mendeskripsikan umur peternak, pendidikan peternak, pengalaman beternak, dan jumlah ternak. (2). Mendeskripsikan produktivitas usaha peternakan Sapi PO di Kabupaten Kebumen. (3). Menganalisis faktor karakteristik peternak yang memengaruhi produktivitas usaha peternakan Sapi PO di Kabupaten Kebumen. Penelitian dilaksanakan dengan metode survei terhadap peternak Sapi PO di Kabupaten Kebumen. Sampel wilayah diambil dengan metode purposive sampling untuk memilih enam kecamatan di Kabupaten Kebumen dengan populasi sapi PO terbanyak yaitu Kecamatan Mirit, Kecamatan Ambal, Kecamatan Bulupesantren, Kecamatan Klirong, Kecamatan Petanahan dan Kecamatan Puring. Responden diambil menggunakan teknik kuota sampling sebanyak 90 responden. Variabel yang diteliti yaitu umur peternak, tingkat pendidikan peternak, pengalaman beternak, jumlah ternak, dan produktivitas usaha peternakan. Analisis produktivitas usaha peternakan dihitung menggunakan rumus perbandingan antara penerimaan dengan curahan jam kerja. Faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas usaha peternakan dianalisis menggunakan analisis regresi linear berganda. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa: 1). Rata-rata umur peternak Sapi PO di Kabupaten Kebumen adalah 46,87 + 10,72 tahun. Rata-rata tingkat pendidikan peternak adalah 9,55 +3,56 tahun. Rata-rata pengalaman beternak adalah 20,47 + 13,16 Tahun. Rata-rata jumlah ternak yang dikelola adalah 2,23 +1,18 ST; 2). Nilai rata-rata produktivitas usaha peternakan Sapi PO di Kabupaten Kebumen adalah sebesar Rp. 41.616 /JKSP; 3). Berdasarkan analisis regresi linear berganda diperoleh suatu persamaan : Y = 25.461 - 0,753X1 - 0,926X2 + 627X3 + 21.495X4 dengan Y= produktivitas usaha, X1=umur peternak, X2=tingkat pendidikan peternak, X3=pengalaman beternak, dan X4=jumlah ternak. Hasil analisis menunjukan bahwa produktivitas usaha peternakan Sapi PO dipengaruhi oleh umur peternak, pengalaman beternak, dan jumlah ternak. Peternak memiliki potensi untuk dapat meningkatkan produktivitas usaha peternakannya dengan menambah pengalaman beternak dan menambah jumlah ternak.Beef cattle farming in Indonesia is still dominated by small-scale beef cattle farms due to its traditional and hereditary nature. Farmers are not yet aware of the productivity of their farms, so the effectiveness of their businesses cannot be optimized. The objectives of this study are: (1) To describe the age, education, farming experience, and number of cattle owned by farmers. (2) To describe the productivity of PO cattle farming in Kebumen Regency. (3) To analyze the characteristics of farmers that affect the productivity of PO cattle farming in Kebumen Regency. The research was conducted using a survey method targeting PO cattle farmers in Kebumen Regency. The regional sample was taken using purposive sampling to select six subdistricts in Kebumen Regency with the largest PO cattle population, namely Mirit Subdistrict, Ambal Subdistrict, Bulupesantren Subdistrict, Klirong Subdistrict, Petanahan Subdistrict, and Puring Subdistrict. Respondents were selected using quota sampling, with a total of 90 respondents. The variables studied were the age of the farmers, their level of education, farming experience, number of cattle, and cattle farming productivity. The analysis of livestock business productivity was calculated using a formula comparing income with hours worked. Factors affecting livestock business productivity were analyzed using multiple linear regression analysis. The results of the study show that: 1). The average age of PO cattle farmers in Kebumen Regency is 46,87 + 10,72 years. The average education level of PO cattle farmers in Kebumen Regency is 9,55 + 3,56 years. The average farming experience of PO cattle farmers in Kebumen Regency is 20,47 + 13,16 years. The average number of cattle managed by PO cattle farmers in Kebumen Regency is 2,23 + 1,18 ST; 2). The average productivity value of PO cattle farming businesses in Kebumen Regency is Rp. 41,616 /JKSP; 3). Based on multiple linear regression analysis, the following equation was obtained: Y = 25,461 – 0,753X1 – 0,926X2 + 627X3 + 21,495X4 where Y = business productivity, X1 = farmer age, X2 = farmer education level, X3 = farming experience, and X4 = number of cattle. The results of the analysis show that the productivity of PO cattle farming is influenced by the age of the farmer, farming experience, and number of livestock. Farmers have the potential to increase the productivity of their farms by increasing their farming experience and the number of livestock.
4761651003C2D023011PERAN MODERASI KECERDASAN EMOSIONAL ATAS WORK LIFE BALANCE, KOMPETENSI, DAN TIME PRESSURE TERHADAP KINERJA AUDITORKinerja auditor merupakan faktor fundamental yang menentukan kualitas audit serta tingkat kepercayaan publik terhadap profesi akuntan publik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh work-life balance, kompetensi, dan time pressure terhadap kinerja auditor dengan kecerdasan emosional sebagai variabel moderasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 186 auditor yang bekerja pada lima Kantor Akuntan Publik (KAP) di wilayah DKI Jakarta, yaitu KAP TT di Jakarta Selatan, KAP MF di Jakarta Pusat, KAP RP di Jakarta Timur, KAP X di Jakarta Utara, dan KAP Y di Jakarta Barat. Pemilihan lokasi penelitian di wilayah DKI Jakarta didasarkan pada karakteristik lingkungan kerja auditor yang dinilai memiliki tingkat tekanan pekerjaan yang tinggi, mobilitas yang padat, serta jarak tempuh yang cukup jauh antara tempat tinggal dan kantor, sehingga berpotensi memengaruhi keseimbangan kehidupan kerja dan kinerja auditor secara keseluruhan. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Analisis data dilakukan menggunakan teknik analisis regresi moderasi (Moderated Regression Analysis atau MRA) dengan bantuan perangkat lunak statistic SPSS 23. Hasil penelitian menunjukkan bahwa work-life balance berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja auditor, kompetensi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja auditor, time pressure berpengaruh negatif terhadap kinerja auditor, kecerdasan emosional terbukti memoderasi hubungan antara time pressure dan kinerja auditor. Namun, kecerdasan emosional tidak memoderasi hubungan antara work-life balance maupun kompetensi terhadap kinerja auditor. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun kecerdasan emosional penting dalam mengelola stres dan dinamika pekerjaan, faktor tersebut tidak memengaruhi hubungan keseimbangan hidup atau kompetensi dengan kinerja auditor. Implikasi dari hasil penelitian ini yaitu pentingnya bagi organisasi, khususnya Kantor Akuntan Publik, untuk memberikan perhatian terhadap keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi auditor serta memperkuat program pelatihan yang berfokus tidak hanya pada peningkatan kompetensi teknis, tetapi juga pada pengembangan kecerdasan emosional. Pengelolaan time pressure yang baik melalui kebijakan yang fleksibel dan pembagian beban kerja yang proporsional dapat membantu auditor mencapai kinerja optimal. Selain itu, hasil penelitian ini juga memberikan kontribusi teoretis terhadap pengembangan Social Cognitive Theory Bandura, dengan menunjukkan bahwa faktor personal seperti kecerdasan emosional dapat memengaruhi hubungan antara tekanan kerja dan kinerja individu. Auditor performance is a fundamental factor that determines the quality of audits and the level of public trust in the accounting profession. This study aims to analyze the influence of work-life balance, competence, and time pressure on auditor performance, with emotional intelligence as a moderating variable. The research employs a quantitative approach involving 186 auditors working in five Public Accounting Firms (KAP) located across DKI Jakarta, namely KAP TT in South Jakarta, KAP MF in Central Jakarta, KAP RP in East Jakarta, KAP X in North Jakarta, and KAP Y in West Jakarta. The selection of these locations is based on the characteristics of auditors’work environments in Jakarta, which are known for their high work pressure, heavy traffic congestion, and significant commuting distances between home and the workplace—factors that may potentially affect auditors’ work-life balance and overall performance.The sampling technique used in this study is purposive sampling. Data were analyzed using Moderated Regression Analysis (MRA) with the assistance of SPSS version 23. The results show that work-life balance has a positive and significant effect on auditor performance, competence has a positive and significant effect on auditor performance, and time pressure has a negative effect on auditor performance. Furthermore, emotional intelligence is proven to moderate the relationship between time pressure and auditor performance. However, emotional intelligence does not moderate the relationship between work-life balance or competence and auditor performance. This indicates that although emotional intelligence plays an important role in managing stress and work dynamics, it does not influence the relationship between work-life balance or competence and auditor performance. The implications of this research highlight the importance for organizations, particularly Public Accounting Firms, to pay greater attention to auditors’ work life balance and to strengthen training programs that focus not only on enhancing technical competence but also on developing emotional intelligence. Effective management of time pressure through flexible policies and proportional workload distribution can help auditors achieve optimal performance. Moreover, this study contributes theoretically to the development of Bandura’s Social Cognitive Theory by demonstrating that personal factors, such as emotional intelligence, can influence the relationship between work pressure and individual performance.
4761751006D2A024007Penerapan Sistem Smart Farming Berbasis Internet of Things (IoT) pada Kandang Closed House Ayam Broiler di Lingkungan TropisProduktivitas ayam broiler bergantung pada kestabilan mikroklimat kandang yang presisi. Ketidakterkendalian mikroklimat sering memicu stres panas dan menurunkan efisiensi pakan, terutama di wilayah tropis. Kegiatan ini melakukan pengembangan inovasi sistem smart farming berbasis Internet of Things (IoT) pada kandang closed house ayam broiler. Sistem mengintegrasikan sensor suhu, kelembapan, cahaya, kebisingan, kecepatan udara, serta gas (O₂, CO₂, NH₃) dengan dashboard berbasis cloud dan pendekatan logika kendali Hysteresis–Finite State Machine (FSM). Metode deskriptif-eksploratif diterapkan selama 33 hari pemeliharaan untuk menilai kinerja sistem dan respon pengguna. Hasil menunjukkan suhu rata-rata 28,6°C, kelembapan 86,5%, kebisingan 60,4 dB, cahaya 15,4 lux, oksigen 20,4%, CO₂ 1.236 ppm, dan ammonia 0,041 ppm, semuanya dalam rentang optimal. Sistem bekerja stabil dan dapat meningkatkan kemampuan peternak dalam pengambilan keputusan berbasis data. Hasil ini terbukti efisien, adaptif terhadap iklim tropis, dan aplikatif bagi peternak menuju Smart Precision Livestock Farming (SPLF) berkelanjutan.Broiler chicken productivity depends on the stability of a precise microclimate in the coop. Uncontrolled microclimates often cause heat stress and reduce feed efficiency, especially in tropical regions. This activity involves developing an innovative Internet of Things (IoT)-based smart farming system for closed-house broiler chicken coops. The system integrates sensors for temperature, humidity, light, noise, air velocity, and gases (O₂, CO₂, NH₃) with a cloud-based dashboard and a Hysteresis–Finite State Machine (FSM) control logic approach. A descriptive-exploratory method was applied during 33 days of maintenance to assess system performance and user response. The results showed an average temperature of 28.6°C, humidity of 86.5%, noise of 60.4 dB, light of 15.4 lux, oxygen of 20.4%, CO₂ of 1,236 ppm, and ammonia of 0.041 ppm, all within the optimal range. The system operated stably and improved farmers' ability to make data-driven decisions. These results proved to be efficient, adaptable to the tropical climate, and applicable for farmers moving towards sustainable Smart Precision Livestock Farming (SPLF).
4761850863L1B021062Identifikasi Molekuler Bakteri Patogen pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus) yang Dibudidayakan di Kabupaten Banjarnegara Berdasarkan Gen 16s rDNAIkan nila (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu sumber daya perikanan air tawar utama yang mendukung ketahanan pangan di Indonesia sebagai komoditas produksi terbesar kedua setelah Sragen dan Klaten. Namun, budidaya ikan nila sering mengalami kendala akibat infeksi bakteri patogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi spesies bakteri patogen yang menginfeksi ikan nila Banjarnegara melalui analisis gen 16S rDNA. Sampel diambil secara purposive sampling dari Kabupaten Banjarnegara dan Purwanegara. Sampel ikan sakit dibawa ke laboratorium untuk pengamatan gejala, isolasi bakteri, dan uji postulat koch. DNA diekstraksi dari isolat bakteri dari hati dan ginjal kemudian dianalisis melalui amplifikasi gen 16S rDNA dilanjutkan dengan identifikasi menggunakan analisa BLAST dan analisis filogenetik. Gejala klinis yang diamati meliputi erosi sirip; hilangnya sisik; cloudy eyes; kulit menggelap; bercak putih pada operkulum, bercak putih sepanjang linea literalis, dan nekrosis pada limpa; serta hati berwarna kehijauan. Berdasarkan analisis molekuler, lima isolat dari kedua lokasi diidentifikasi sebagai bakteri patogen, khususnya Aeromonas veronii (99,31%), Enterobacter mori (99,72%), Citrobacter freundii (99,86%), Acinetobacter sp. (99,72%), dan Escherichia coli (100%) sebagai patogen bakteri sekunder. Infeksi multipatogen pada satu ikan menunjukkan bahwa ikan tersebut terpapar berbagai bakteri oportunistik dan patogen yang dapat hidup bersama dalam satu inang, umumnya terjadi dalam kondisi lingkungan yang tidak mendukung.Nile tilapia (Oreochromis niloticus) is one of the main freshwater fishery resources that supports food security in Indonesia as the second largest production commodity after Sragen and Klaten. However, tilapia cultivation often experiences obstacles due to pathogenic bacterial infections. This study aims to identify the pathogenic bacterial species that infect Banjarnegara tilapia through 16S rDNA gene analysis. Samples were taken randomly. Purposive sampling from Banjarnegara and Purwanegara Regencies. Samples of sick fish were taken to the laboratory for symptom observation, bacterial isolation, and testing postulate koch. DNA was extracted from bacterial isolates from the liver and kidneys and then analyzed through 16S rDNA gene amplification followed by identification using BLAST and phylogenetic analysis. Clinical symptoms observed included fin erosion; loss of scales; cloudy eyes; darkened skin; white spots on the operculum, white spots along the linea literalis, and necrosis in the spleen; and a greenish liver. Based on molecular analysis, five isolates from both locations were identified as pathogenic bacteria, specificallyAeromonas veronii (99,31%), Enterobacter mori (99,72%), Citrobacter freundii (99,86%), Acinetobacter sp. (99.72%), and Escherichia coli (100%) as secondary bacterial pathogens. Multipathogenic infections in a single fish indicate that the fish is exposed to a variety of opportunistic and pathogenic bacteria that can coexist in a single host, generally occurring under unfavorable environmental conditions.
4761951007E2A023037PERLINDUNGAN ATAS HAK PRIVASI PASIEN DARI TINDAKAN MEREKAM ATAU MEMFOTO
TANPA IZIN DI RUMAH SAKIT
Perlindungan hak privasi pasien di Rumah Sakit merupakan aspek yang harus dijaga untuk memastikan keamanan dan penghormatan terhadap HAM. Namun, dalam prakteknya masih ditemukan kasus pelanggaran hak privasi pasien dalam bentuk merekam dan memfoto. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perlindungan hukum terhadap hak pasien atas tindakan merekam atau memfoto tanpa izin di Rumah Sakit serta mekanisme penyelesaian sengketa yang timbul akibat tindakan tersebut di Rumah Sakit Umum Muhammadiyah Siti Aminah Bumiayu dan Rumah Sakit Emanuel. Penelitian ini menggunakan metode yuridis empiris dengan pendekatan deskriptif, menggunakan data primer dari wawancara dan data sekunder berupa bahan hukum formal dan literatur terkait.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlindungan hukum terhadap hak privasi pasien diatur dalam Undang-Undang No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan dan Undang-Undang No. 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi, serta kebijakan internal Rumah Sakit seperti pemasangan tanda larangan dan sosialisasi. Perlindungan yang diberikan yaitu perlindungan preventif dan perlindungan represif. Penyelesaian sengketa lebih dominan dilakukan melalui pendekatan non-litigasi seperti mediasi, dengan pemberian sanksi bertahap mulai dari teguran lisan hingga surat peringatan. Penelitian ini menyarankan agar Rumah Sakit meningkatkan edukasi dan sosialisasi terkait hak privasi, memperjelas SOP pengambilan foto/rekam, memperbarui regulasi internal, serta mengedukasi masyarakat untuk menghormati privasi pasien.
Patient privacy protection in hospitals is an essential aspect that must be upheld to ensure the security and respect for human rights. However, in practice, cases of patient privacy violations still occur in the form of unauthorized recording and photography. This study aims to examine the legal protection of patients’ rights concerning unauthorized recording or photographing in hospitals, as well as the dispute resolution mechanisms arising from such actions at Muhammadiyah Siti Aminah Bumiayu Hospital and Emanuel Hospital. The research employs an empirical juridical method with a descriptive approach, utilizing primary data from interviews and secondary data from formal legal materials and relevant literature. The findings indicate that legal protection for patient privacy rights is regulated under Law No. 17 of 2023 on Health and Law No. 36 of 1999 on Telecommunications, along with internal hospital policies such as the installation of prohibition signs and socialization efforts. The protection provided encompasses both preventive and repressive measures. Dispute resolution predominantly occurs through non-litigation approaches such as mediation, with graduated sanctions ranging from verbal warnings to written reprimands. This study recommends that hospitals enhance education and socialization related to privacy rights, clarify the standard operating procedures for taking photos or recordings, update internal regulations, and educate the public to respect patient privacy.
4762051008D2A023014Karakteristik Kefir Konsentrat Susu Kambing dengan Penambahan Virgin Coconut Oil (VCO)Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji karakteristik fisikokimia, bilangan peroksida, viabilitas BAL dan profil asam lemak kefir konsentrat susu kambing dengan penambahan VCO. Bahan penelitian utama adalah susu kambing, Virgin Coconut Oil (VCO) dan biji kefir. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 kali ulangan. Perlakuan terdiri dari kontrol (P0), penambahan VCO sebanyak 3% (P1), 6% (P2), 9% (P3), dan 12% (P4) dari jumlah kefir konsentrat. Data dianalisis menggunakan analisis variansi dan uji duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan VCO hingga 12% menyebabkan perbedaan yang sangat nyata terhadap pH. Namun, penambahan VCO hingga 12% tidak menyebabkan perbedaan yang tidak nyata pada karakteristik warna dan tekstur kefir konsentrat. Angka bilangan peroksida menurun dari 2,772 (kontrol) menjadi 0,915 meq/kg seiring dengan penambahan VCO hingga 12%. Total Bakteri Asam Laktat menurun dari 7,41 log CFU/ml (kontrol) dan penurunan terendah pada perlakuan penambahan VCO 6%. Terjadi perubahan profil asam lemak kefir konsentrat. Asam laurat, kaprilat, kapric dan miristat meningkat seiring penambahan VCO. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penambahan VCO hingga 12% dapat menurunkan pH, angka bilangan peroksida dan Total BAL serta peningkatan profil asam lemak (laurat, kaprilat, kapric dan miristat).The aim of this research is to examine the physicochemical characteristics, peroxide number, LAB, and fatty acid profile of concentrated goat milk kefir with the addition of VCO. The main materials used in this study are fresh goat milk, Virgin Coconut Oil (VCO), and kefir grains. The research was conducted using a Completely Randomized Design (CRD) with 5 treatments and 4 replications. The treatments consist of control (P0), addition of VCO at 3% (P1), 6% (P2), 9% (P3), and 12% (P4) of the total milk volume. Data were analyzed using variance analysis and Duncan's test. The research results indicate that the addition of VCO up to 12% causes a significant difference in pH. However, the addition of VCO up to 12% does not cause significant differences in the color and texture characteristics of concentrated kefir. The peroxide number decreased from 2.772 (control) to 0.915 meq/kg with the addition of VCO up to 12%. Total lactic acid bacteria decreased from 7.41 log CFU/ml (control), with the lowest decrease in the treatment with 6% VCO addition. There were changes in the fatty acid profile of concentrated kefir. Lauric, caprylic, capric and myristic acids increased with the addition of VCO. Based on the research results, it can be concluded that the addition of VCO up to 12% can lower pH, peroxide values, and Total BAL, along with an increase in the fatty acid profile (lauric, caprylic, capric, and myristic acids).