Artikelilmiahs
Menampilkan 47.701-47.720 dari 48.726 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 47701 | 51089 | G1A021052 | HUBUNGAN TINGKAT DEPRESI DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISIS DI RSUD BANYUMAS | Latar Belakang — Gagal ginjal kronik adalah kerusakan ginjal yang berlangsung selama lebih dari tiga bulan, disertai dengan penurunan fungsi filtrasi ginjal yang bersifat irreversible. Gagal ginjal kronik masih menjadi salah satu penyakit dengan angka mortalitas yang tinggi, di Indonesia tercatat 42.000 kematian pada tahun 2023. Gagal ginjal kronik bersifat progresif dan tidak dapat pulih secara spontan menyebabkan penurunan fungsi ginjal yang signifikan, maka dari itu pasien memerlukan terapi pengganti ginjal yakni hemodialisis seumur hidup, yang dapat berdampak terhadap depresi dan kualitas hidup pasien. Tujuan — Mengetahui hubungan tingkat depresi dengan kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSUD Banyumas. Metode Penelitian — Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian cross sectional dengan populasi berupa pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSUD Banyumas. Penentuan jumlah sampel pada penelitian ini menggunakan rumus total sampling, yakni meneliti seluruh data yang tersedia yaitu 72 data. Variabel bebas penelitian ini adalah tingkat depresi yang diukur menggunakan kuesioner Hamilton Depression Rating Scale dan variabel terikat penelitian ini adalah kualitas hidup yang diukur menggunakan kuesioner WHOQOL-BREF. Analisis data dilakukan secara univariat untuk mendeskripsikan karakteristik responden dan bivariat untuk mengetahui ada tidaknya hubungan yang bermakna antar variabel, menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil — Uji korelasi Spearman menunjukkan bahwa koefisien korelasi tingkat depresi dengan kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSUD Banyumas adalah -0,128 dengan p-value 0,284. Kesimpulan — Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat depresi dengan kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSUD Banyumas. Kata kunci : gagal ginjal kronik, hemodialisis, kualitas hidup, tingkat depresi. | Background — Chronic kidney disease is kidney damage that persists for more than three months, accompanied by an irreversible decline in the kidney’s filtration function. Chronic kidney disease remains one of the diseases with a high mortality rate, reaching up to 42,000 deaths in 2023. As a progressive condition that cannot recover spontaneously, chronic kidney disease leads to a significant decline in kidney function. Therefore, patients require lifelong renal replacement therapy, such as hemodialysis, which can have an impact on patients’ depression levels and overall quality of life. Objective — The aim of this study was to determine the relationship between the level of depression and the quality of life of chronic kidney disease patients who underwent hemodialysis at Banyumas Regional General Hospital. Research Method — This study uses a cross sectional research design with a population consisting of chronic kidney disease patients undergoing hemodialysis at Banyumas Regional General Hospital. The total sample of this study is 72 patients, using the total sampling method, in which all available data are included. The independent variable in this study is the level of depression, which is measured using the Hamilton Depression Rating Scale questionnaire, and the dependent variable is quality of life, which is measured using the WHOQOL BREF questionnaire. Data analysis is carried out univariately to describe the characteristics of the respondents and bivariately to determine whether there is a significant relationship between variables, using the Spearman correlation test. Results — The Spearman correlation test shows that the correlation coefficient between the level of depression and the quality of life of chronic kidney disease patients undergoing hemodialysis at Banyumas Regional General Hospital is –0,128 with a p value of 0,284. Conclusion — There is no significant relationship between the level of depression and the quality of life of chronic kidney disease patients undergoing hemodialysis at Banyumas Regional General Hospital. Keywords : chronic kidney disease, hemodialysis, quality of life, depression level | |
| 47702 | 51090 | H1B021025 | STUDI PERBANDINGAN ANALISIS ELEMEN HINGGA DAN EKSPERIMENTAL PADA UJI LENTUR DAN GESER PRECAST SPUN PILE D800 PRATEGANG | Spun pile merupakan salah satu elemen pondasi dalam yang banyak digunakan pada konstruksi bangunan dan infrastruktur karena memiliki kapasitas daya dukung tinggi serta ketahanan yang baik terhadap lingkungan. Namun, dalam kondisi tertentu seperti akibat beban lateral dan aktivitas seismik, spun pile dapat mengalami momen lentur dan gaya geser yang berpotensi menimbulkan retak hingga kerusakan struktural. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan perilaku lentur dan geser spun pile diameter 800 mm menggunakan pendekatan numerik metode elemen hingga dan hasil pengujian eksperimental. Pemodelan numerik dilakukan menggunakan perangkat lunak ATENA dengan bantuan GiD sebagai pre-processor untuk merepresentasikan perilaku nonlinier material beton dan baja prategang, termasuk pola retak, deformasi, serta kapasitas ultimit. Selain itu, perangkat lunak ETABS digunakan sebagai alat bantu validasi awal untuk memperoleh respons struktur linier elastis berupa gaya dalam. Data eksperimental diperoleh dari hasil pengujian laboratorium di PT. Waskita Beton Precast, Tbk., dengan sistem pembebanan lentur dan geser sesuai standar yang berlaku. Hasil analisis menunjukkan bahwa kurva hubungan beban–lendutan hasil pemodelan numerik memiliki kecenderungan yang sejalan dengan hasil eksperimental, baik pada uji lentur maupun geser. Tingkat kesesuaian antara hasil numerik dan eksperimental dievaluasi menggunakan metode Normalized Mean Square Error (NMSE), yang menunjukkan nilai kesalahan relatif kecil dan dapat diterima. Selain itu, nilai daktilitas dan kapasitas beban ultimit dari model numerik mendekati hasil pengujian laboratorium. Dengan demikian, pemodelan numerik berbasis metode elemen hingga dinilai mampu merepresentasikan perilaku struktural spun pile prategang secara cukup akurat dan dapat digunakan sebagai alternatif yang lebih efisien dari segi waktu dan biaya dibandingkan pengujian eksperimental. | Spun piles are widely used as deep foundation elements in building and infrastructure construction due to their high bearing capacity and good durability under environmental exposure. However, under certain conditions such as lateral loading and seismic actions, spun piles may experience bending moments and shear forces that can lead to cracking and structural damage. This study aims to analyze and compare the flexural and shear behavior of 800 mm diameter spun piles using a numerical approach based on the finite element method and experimental test results. Numerical modeling was conducted using ATENA software with GiD as a pre-processor to simulate the nonlinear behavior of concrete and prestressing steel, including crack patterns, deformation, and ultimate capacity. In addition, ETABS software was employed as an initial validation tool to obtain linear elastic structural responses in the form of internal forces. Experimental data were obtained from laboratory tests conducted at PT. Waskita Beton Precast, Tbk., under flexural and shear loading systems in accordance with applicable standards. The results show that the load–deflection curves obtained from numerical simulations exhibit trends consistent with the experimental results for both flexural and shear tests. The level of agreement between numerical and experimental results was evaluated using the Normalized Mean Square Error (NMSE) method, which indicated relatively small and acceptable error values. Furthermore, the ductility and ultimate load capacity predicted by the numerical models were in close agreement with the laboratory test results. Therefore, finite element–based numerical modeling is considered capable of accurately representing the structural behavior of prestressed spun piles and can serve as a more time- and cost-efficient alternative to experimental testing. | |
| 47703 | 51091 | J0A022088 | Creating a Bilingual e-Booklet as a Digital Infromation Medium for Promoting Tourist Spots in Sukoharjo | Laporan ini disusun berdasarkan kegiatan praktik kerja yang dilaksanakan di Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Sukoharjo (Disporapar). Kegiatan praktik kerja ini dilaksanakan selama 13 minggu, mulai dari tanggal 23 September 2024 hingga 20 Desember 2024. Selama melaksanakan praktik kerja, sebuah bilingual e-booklet berjudul “Explore Sukoharjo” diproduksi dan dapat diakses melalui akun Instagram Disporapar Sukoharjo: @disporaparsukoharjo. Bilingual e-booklet ini bertujuan untuk mempromosikan beberapa desa wisata dan wisata kuliner yang ada di Kabupaten Sukoharjo guna meningkatkan jumlah turis asing maupun lokal untuk berwisata ke Kabupaten Sukoharjo. Dalam pelaksanaan praktik kerja ini, terdapat tiga metode yang dilakukan, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan untuk lebih mengenal lingkungan kerja Disporapar Sukoharjo dan mencari tahu tentang spot wisata yang akan dipromosikan. Wawancara dilakukan bersama dengan salah satu staff dari Disporapar Sukoharjo untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai spot wisata dan menanyakan pendapat mengenai produk bilingual e-booklet. Dokumentasi dilakukan untuk mendapatkan material pembuatan memproduksi bilingual e-booklet. Proses pembuatan bilingual e-booklet ini terdiri dari tiga tahap, yaitu pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi. Pada tahap pra-produksi, terdapat tiga langkah, yaitu menentukan spot wisata, mengumpulkan data dan informasi, serta menentukan aplikasi pengeditan. Pada tahap produksi, terdapat dua langkah; penulisan konten dan pengeditan desain. Terakhir di tahap pasca-produksi adalah publikasi hasil akhir bilingual e-booklet yang diunggah di akun Instagram Disporapar Sukoharjo. Selama periode praktik kerja, hambatan dalam pelaksanaannya meliputi kurangnya fitur untuk pengeditan desain, kesulitan mengunjungi beberapa objek wisata, dan kurangnya perangkat lunak ponsel untuk mengambil gambar. Namun, solusi yang diambil meliputi: menignkatkan akun Canva, mengunjungi objek wisata yang dapat dijangkau, dan meminta beberapa foto objek wisata kepada staf Disporapar. | This report is written based on a job training activity carried out at the Sukoharjo Regency Youth, Sports, and Tourism Department (Disporapar). The job training activity was carried out for 13 weeks starting from September 23, 2024 to December 20, 2024. During the job training, a bilingual e-booklet entitled “Explore Sukoharjo” is produced and it can be accessed through the Sukoharjo Disporapar Instagram account: @disporaparsukoharjo. This bilingual e-booklet is aimed to promote several tourism villages and culinary tours in Sukoharjo Regency in order to increase the number of foreign and local tourists to visit Sukoharjo Regency. In the implementation of this job training, there were three methods used, namely observation, interview, and documentation. The observations were done to get to know the work environment of Disporapar Sukoharjo and find out about the tourist spots that will be promoted. The interviews were conducted with one of the staff from Disporapar Sukoharjo to get more information about tourist spots and ask opinions about bilingual e-booklet products. The documentation was conducted to obtain materials for producing bilingual e-booklets. The process of producing this bilingual e-booklet consisted of three stages, namely pre-production, production, and post-production. In the pre-production stage, there were three steps, namely determining tourist spots, collecting data and information, and determining editing applications. Going into the production stage, there were two steps; writing the content and editing the design. Finally, the post-production stage is the publication of the final bilingual e-booklet results uploaded on the Sukoharjo Disporapar Instagram account. During the job training period, the obstacles in its implementation are lack of feature for design editing, difficulties to visit some tourist spots, and lack of mobile phone software tools for capturing images. However, solutions are made by, upgraded my canva account, visited spots that can be rached only, and asking for some pictures of some spots to the Disporapar staff. | |
| 47704 | 50976 | C1C021073 | ANALISIS NIAT AUDITOR MENGGUNAKAN APLIKASI AUDIT DENGAN MODEL UNIFIED THEORY OF ACCEPTANCE AND USE OF TECHNOLOGY PADA KANTOR AKUNTAN PUBLIK TERAMIHARDJA, PRADHONO & CHANDRA | Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi niat auditor menggunakan aplikasi Audit Tools and Linked Archived System (ATLAS) pada Kantor Akuntan Publik Teramihardja, Pradhono & Chandra (TPC). Model penelitian menggunakan Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT) dengan empat variabel utama ekspektasi kinerja, ekspektasi usaha, faktor sosial, dan kondisi yang memfasilitasi serta menambahkan pengalaman auditor sebagai variabel pengembangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausalitas. Data diperoleh dari 59 auditor melalui penyebaran kuesioner dan dianalisis menggunakan uji instrumen, uji asumsi klasik, regresi linear berganda, serta uji F dan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model layak dalam menjelaskan niat auditor menggunakan ATLAS. Namun secara parsial, hanya kondisi yang memfasilitasi yang berpengaruh positif dan signifikan. Temuan ini menegaskan bahwa dukungan infrastruktur, pelatihan, dan bantuan teknis menjadi faktor utama yang mendorong auditor mengadopsi ATLAS, sehingga KAP perlu meningkatkan dukungan organisasi serta fasilitas teknologi. | ||
| 47705 | 51097 | G1A022051 | PENGARUH EKSTRAK PEGAGAN (Centella asiatica) TERHADAP FUNGSI KOGNITIF TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) YANG DIBERI PAPARAN GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK TELEPON SELULER | Latar Belakang – Paparan gelombang elektromagnetik telepon seluler dapat menyebabkan stres oksidatif dan gangguan fungsi kognitif. Pegagan (Centella asiatica) memiliki aktivitas antioksidan dan neuroprotektif yang berpotensi mencegah kerusakan sel saraf akibat paparan gelombang elektromagnetik. Tujuan – Mengetahui pengaruh ekstrak pegagan terhadap fungsi kognitif tikus putih (Rattus norvegicus) yang diberikan paparan gelombang elektromagnetik telepon seluler. Metode – Penelitian eksperimental dengan rancangan true experimental randomized post-test only controlled group design pada 30 ekor tikus Wistar jantan yang dibagi menjadi lima kelompok, yaitu kontrol, paparan gelombang elektromagnetik tanpa ekstrak pegagan, serta paparan gelombang elektromagnetik dengan ekstrak pegagan dosis 125, 250, dan 500 mg/kgBB selama 45 hari. Paparan diberikan 2 jam/hari pada frekuensi 2100 MHz. Fungsi kognitif diukur menggunakan uji Y-Maze spontaneous alternation. Analisis data dilakukan dengan One-way ANOVA dan post hoc Tukey HSD. Hasil – Rerata alternasi spontan tertinggi terdapat pada kelompok kontrol (75,48%), diikuti kelompok dengan pemberian pegagan dosis 500 mg/kgBB (61,55%), 250 mg/kgBB (55,68%), dan 125 mg/kgBB (54,52%), sedangkan rerata terendah terdapat pada kelompok tanpa pegagan (47,18%). Uji One-way ANOVA menunjukkan perbedaan signifikan fungsi kognitif antar kelompok (p=0,022). Analisis post hoc Tukey HSD menunjukkan perbedaan bermakna hanya antara kelompok kontrol dan kelompok tanpa pegagan (p=0,013), sementara kelompok yang mendapat pegagan menunjukkan rerata alternasi spontan lebih tinggi, dengan nilai tertinggi pada dosis 500 mg/kgBB, tetapi belum mencapai signifikansi statistik. Kesimpulan – Paparan gelombang elektromagnetik memengaruhi fungsi kognitif tikus putih. Ekstrak pegagan belum menunjukkan pengaruh signifikan, tetapi terdapat kecenderungan perbaikan fungsi kognitif seiring peningkatan dosis. | Background – Exposure to mobile phone electromagnetic waves can induce oxidative stress and impair cognitive function. Centella asiatica has antioxidant and neuroprotective properties that may reduce neuronal damage caused by electromagnetic wave exposure. Objective – To determine the effect of Centella asiatica extract on cognitive function in white rats (Rattus norvegicus) exposed to mobile phone electromagnetic waves. Methods – This experimental study used a true experimental randomized post-test only controlled group design involving 30 male Wistar rats divided into five groups: control, electromagnetic wave exposure without Centella asiatica extract, and exposure with Centella asiatica extract at doses of 125, 250, and 500 mg/kgBW for 45 days. Exposure was administered for 2 hours/day at 2100 MHz. Cognitive function was assessed using the Y-Maze spontaneous alternation test. Data were analyzed using One-way ANOVA followed by the Tukey HSD post hoc test. Results – The highest mean spontaneous alternation was observed in the control group (75.48%), followed by groups receiving Centella asiatica at doses of 500 mg/kgBW (61.55%), 250 mg/kgBW (55.68%), and 125 mg/kgBW (54.52%). The lowest mean was found in the group without Centella asiatica (47.18%). One-way ANOVA showed a significant difference among groups (p=0.022). Tukey HSD post hoc analysis revealed a significant difference only between the control group and the group without Centella asiatica (p=0.013). Groups receiving Centella asiatica showed higher mean values, with the highest at 500 mg/kgBW, but were not statistically significant. Conclusion – Electromagnetic wave exposure affects cognitive function in white rats. Centella asiatica extract did not show a significant effect; however, a dose-related trend toward improved cognitive function was observed. | |
| 47706 | 34246 | A1C016049 | PENINGKATAN MUTU GARAM KROSOK MENJADI GARAM KONSUMSI MELALUI METODE KRISTALISASI AIR TUA DENGAN BAHAN PENGIKAT PENGOTOR Na2C2O4 - Na2CO3 | Telah dilakukan penelitian tentang pemurnian garam krosok dengan penambahan bahan pengikat pengotor pada proses kristalisasi air tua dalam pembuatan garam dengan tujuan diperoleh garam krosok yang memiliki kadar NaCl tinggi dan kadar pengotor Mg yang rendah. Sampel garam dalam penelitian ini adalah air tua dari Miritpetikusan, Kec. Mirit, Kab. Kebumen Jawa Tengah yang diambil pada meja air tua di Kelompok Garam Rakyat (KUGAR) Jagad Kidul. Air tua dikristalisasi biasa dengan penambahan bahan pengikat pengotor Na2C2O4 – Na2CO3, yang divariasikan konsentrasinya. Kadar NaCl dan kadar pengotor Mg dihitung tanpa dan dengan penambahan bahan pengikat pengotor setelah kristalisasi. Kadar NaCl ditentukan dengan metode analisis Argentometri sedangkan pengotor Mg ditentukan dengan menggunakan metode SSA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar NaCl dan kadar pengotor Mg garam krosok dapat ditingkatkan secara efektif dengan kristalisasi air tua menggunakan bahan pengikat pengotor Na2C2O4 – Na2CO3. Kadar NaCl tanpa penambahan bahan pengikat pengotor 76,515% ditingkatkan menjadi 90,381%, dan untuk kadar pengotor Mg tanpa penambahan bahan pengikat pengotor 0,155% diturunkan menjadi 0,152%. | Research has been conducted on the purification of raw salts with the addition of impurities binding materials in the process of crystallization of old water in the manufacture of salt with the aim of obtaining raw salts that have high NaCl levels and low mg impurities. The salt sample in this study was old water from Miritpetikusan, Kec. Mirit, Kab. Kebumen Central Java taken on an old water table in the People's Salt Group (KUGAR) Jagad Kidul. Old water is crystallized regularly with the addition of the impurities of Na2C2O4 – Na2CO3, which varies in concentration. NaCl levels and Mg impurities are calculated without and with the addition of impurities after crystallization. NaCl levels are determined by argentometric analysis method while mg impurities are determined using the SSA method. The results showed that NaCl levels and mg impurities of raw salts can be effectively increased by crystallization of old water using the impurities Na2C2O4 – Na2CO3. NaCl levels without the addition of impurities binding material 76.515% were increased to 90.381%, and for the rate of impurities Mg without the addition of impurities binding material 0.155% was lowered to 0.152%. | |
| 47707 | 51093 | G1A022093 | Evaluasi Kualitatif Penggunaan Antibiotik pada Pasien Infeksi Paru Bangsal Penyakit Dalam RSUD Banyumas dengan Kriteria Gyssens | Latar Belakang: Infeksi paru masih menjadi permasalahan utama dalam praktik klinis, terutama terkait tingginya angka morbiditas dan mortalitas yang ditimbulkan, serta kecenderungan peningkatan resistensi antibiotik akibat penggunaan yang tidak rasional di rumah sakit. Fenomena penggunaan antibiotik yang tidak sesuai kaidah menimbulkan urgensi dilakukannya evaluasi kualitatif terhadap ketepatan terapi, khususnya pada pasien dewasa dengan infeksi paru di RSUD Banyumas, agar efektivitas pengobatan dapat dioptimalkan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi secara kualitatif penggunaan antibiotik dengan menggunakan kriteria Gyssens pada pasien infeksi paru di bangsal penyakit dalam RSUD Banyumas. Metodologi: Penelitian menggunakan desain observasional deskriptif retrospektif melalui pengambilan data sekunder dari rekam medis pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dengan teknik consecutive sampling. Data mencakup identitas pasien, diagnosis klinis, jenis antibiotik, dosis, interval, rute, durasi pemberian, efektivitas, keamanan, biaya terapi, serta hasil pemeriksaan penunjang, yang dianalisis menggunakan algoritma kriteria Gyssens secara univariat. Hasil: Terdapat 38 rekam medis dengan 67 peresepan antibiotik sebagai terapi empiris dan definitif. Antibiotik yang paling banyak digunakan yaitu ceftriaxone injeksi (47,3%) dengan mayoritas pasien berusia >65 tahun dan berjenis kelamin laki-laki. Sebanyak 52,2% penggunaan antibiotik memenuhi kategori rasional (kategori 0), namun 47,8% penggunaan antibiotik tidak rasional pada kategori IVA yaitu terdapat penggunaan antibiotik lain yang lebih efektif (41,8%), kategori IIIB yaitu durasi penggunaan antibiotik terlalu singkat (4,5%) dan kategori IIA yaitu dosis penggunaan antibiotik tidak tepat (1,5%). Kesimpulan: Berdasarkan 38 rekam medis yang dianalisis, tercatat 67 peresepan antibiotik dengan 35 peresepan antibiotik (52,2%) telah memenuhi kriteria penggunaan antibiotik rasional. | Background: Pulmonary infection remains a major problem in clinical practice, particularly in relation to the high morbidity and mortality rates it causes, as well as the tendency for increased antibiotic resistance due to irrational use in hospitals. The phenomenon of inappropriate antibiotic use necessitates a qualitative evaluation of the appropriateness of therapy, particularly in adult patients with pulmonary infections at Banyumas Regional General Hospital, in order to optimize treatment effectiveness. Objective: This study aims to qualitatively evaluate antibiotic use using Gyssens criteria in patients with pulmonary infections in the internal medicine ward of Banyumas Regional General Hospital. Methodology: This study used a retrospective descriptive observational design through secondary data collection from patient medical records that met the inclusion and exclusion criteria using consecutive sampling. The data included patient identity, clinical diagnosis, type of antibiotic, dosage, interval, route, duration of administration, effectiveness, safety, cost of therapy, and supporting examination results, which were analyzed using the Gyssens criteria algorithm. Results: There were 38 medical records with 67 antibiotic prescriptions as empirical and definitive therapy. The most commonly used antibiotic was ceftriaxone injection (48.1%), with the majority of patients being >65 years old and male. 52,2% of antibiotic use classified as the rational category (category 0), but 47,8 % of antibiotic use was deemed irrational in category IVA, indicating more effective alternatives available (41.8%), category IIIB, indicating short duration of antibiotic (4.5%), and category IIA, indicating inappropriate dosage (1.5%). Conclusion: In this study, 38 medical records evaluated with 67 antibiotic prescriptions reviewed, 35 antibiotic uses (52,2%) met the criteria for rational antibiotic use | |
| 47708 | 51094 | C1A022005 | PENGARUH SEKTOR INDUSTRI PARIWISATA TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH DI WILAYAH EKS BARLINGMASCAKEB TAHUN 2014-2023 | Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan indikator utama kemandirian fiskal pemerintah daerah dan sumber pendanaan utama untuk pengembangan regional. Studi ini menganalisis dampak sektor pariwisata terhadap PAD di wilayah bekas Barlingmascakeb dari tahun 2014 hingga 2023. Sektor pariwisata dianggap sebagai aset strategis untuk mendukung pembiayaan regional yang berkelanjutan. Studi ini menggunakan data sekunder dari BPS dan Bappeda Provinsi Jawa Tengah. Variabel independen meliputi jumlah wisatawan domestik, objek wisata, hotel, dan restoran. Regresi data panel diterapkan dengan data time series dari tahun 2014 hingga 2023 dan data cross-section yang mencakup Kabupaten Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen. Hasil menunjukkan bahwa jumlah wisatawan domestik, objek wisata, dan hotel secara signifikan dan positif mempengaruhi PAD baik secara simultan maupun parsial. Namun, jumlah restoran tidak menunjukkan efek yang signifikan. Temuan ini menyarankan agar pemerintah daerah meningkatkan infrastruktur pariwisata, mempromosikan destinasi, memperbaiki pengelolaan pajak pada hotel dan restoran, serta menyederhanakan perizinan usaha untuk memaksimalkan kontribusi sektor pariwisata terhadap PAD dan kesejahteraan regional. | Locally-generated revenue (PAD) is a key indicator of local government fiscal independence and a primary funding source for regional development. This study analyzes the impact of the tourism sector on PAD in the former Barlingmascakeb region from 2014 to 2023. The tourism sector is considered a strategic asset to support sustainable regional financing. The study uses secondary data from BPS and Bappeda Central Java Province. The independent variables are the number of domestic tourists, tourist attractions, hotels, and restaurants. Panel data regression is applied with time series data from 2014 to 2023 and cross-sections including Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, and Kebumen Regencies. Results show that domestic tourists, tourist attractions, and hotels significantly and positively influence PAD both simultaneously and partially. However, the number of restaurants does not show a significant effect. The findings suggest that local governments should enhance tourism infrastructure, promote destinations, improve tax management on hotels and restaurants, and simplify business licensing to maximize the tourism sector’s contribution to PAD and regional welfare. | |
| 47709 | 51095 | G1A022013 | Karakteristik Pasien Presbikusis di RSUD Prof Dr Margono Soekarjo Purwokerto | Latar Belakang: Presbikusis merupakan gangguan pendengaran sensorineural progresif yang sering terjadi pada lanjut usia dan dapat menurunkan kualitas hidup secara signifikan. RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto sebagai rumah sakit rujukan memiliki jumlah pasien lansia yang tinggi, sehingga penting untuk mengetahui karakteristik pasien presbikusis di rumah sakit tersebut. Tujuan: Mengetahui karakteristik pasien presbikusis berdasarkan usia, jenis kelamin, pekerjaan, penyakit penyerta, dan derajat gangguan pendengaran. Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif kuantitatif dengan pendekatan retrospektif. Sampel diambil menggunakan metode total sampling dari seluruh pasien yang didiagnosis presbikusis di Poliklinik THT-KL RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto periode 2022–2024. Data diperoleh dari rekam medis dan dianalisis secara univariat. Hasil: Sebanyak 81 pasien memenuhi kriteria inklusi. Pasien presbikusis didominasi oleh laki-laki (60,5%) dan kelompok usia 61–74 tahun (56,8%). Pekerjaan terbanyak adalah petani (22,2%). Penyakit penyerta yang paling sering ditemukan adalah hipertensi (59,3%), diikuti diabetes melitus (12,3%), gagal ginjal kronik (9,9%), dan dislipidemia (7,4%). Derajat gangguan pendengaran terbanyak adalah sedang hingga sedang berat. Rata-rata ambang dengar telinga kiri sedikit lebih tinggi dibandingkan telinga kanan. Kesimpulan: Pasien presbikusis di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto paling sering merupakan lansia laki-laki usia 61–74 tahun dengan penyakit penyerta, terutama hipertensi. Gangguan pendengaran umumnya bersifat bilateral dengan derajat sedang hingga sedang berat. | Background: Presbycusis is a progressive sensorineural hearing loss commonly affecting the elderly and significantly impairing quality of life. RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto serves as a referral hospital with a high number of elderly patients, making it important to describe the characteristics of presbycusis patients. Objective: To describe the characteristics of presbycusis patients based on age, sex, occupation, comorbidities, and degree of hearing loss. Methods: This retrospective descriptive study used total sampling of presbycusis patients treated at the ENT outpatient clinic of RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto from 2022 to 2024. Data were obtained from medical records and analyzed using univariate analysis. Results: A total of 81 patients were included. Most patients were male (60.5%) and aged 61–74 years (56.8%). The most common occupation was farming (22.2%). Hypertension was the most frequent comorbidity (59.3%), followed by diabetes mellitus (12.3%), chronic kidney disease (9.9%), and dyslipidemia (7.4%). The most common degree of hearing loss was moderate to moderately severe. The mean hearing threshold of the left ear was slightly higher than that of the right ear. Conclusion: Presbycusis patients at RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto were predominantly elderly males aged 61–74 years with comorbidities, particularly hypertension. Hearing loss was generally bilateral and of moderate to moderately severe degree. | |
| 47710 | 51100 | G1A022110 | Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Sukun (Artocarpus altilis) terhadap Kadar Insulin Tikus Putih (Rattus norvegicus) Model Tinggi Lemak | Latar Belakang : Konsumsi tinggi lemak berkontribusi terhadap gangguan metabolik, termasuk disfungsi sel beta pankreas yang ditandai penurunan sekresi insulin akibat peningkatan stres oksidatif. Metformin diketahui memiliki efek protektif terhadap sel beta pankreas, tetapi dapat menimbulkan efek samping. Daun sukun (Artocarpus altilis) mengandung flavonoid, tanin, dan saponin yang bersifat antioksidan dan berpotensi melindungi sel beta pankreas, tetapi pengaruhnya terhadap kadar insulin pada model diet tinggi lemak masih terbatas. Metode : Penelitian ini merupakan studi analitik dengan desain kausal komparatif menggunakan data sekunder dari penelitian eksperimental sebelumnya. Subjek terdiri dari 30 ekor tikus putih jantan galur Sprague-Dawley yang dibagi menjadi lima kelompok, yakni kontrol negatif, kontrol positif (metformin), serta tiga kelompok perlakuan ekstrak daun sukun dosis 200, 300, dan 400 mg/kgBB. Seluruh tikus diinduksi diet tinggi lemak sebelum pemberian perlakuan. Kadar insulin diukur dari serum menggunakan metode ELISA. Analisis data dilakukan menggunakan uji One-Way ANOVA yang dilanjutkan dengan uji post hoc Tukey HSD. Hasil : Hasil uji One-Way ANOVA menunjukkan adanya perbedaan kadar insulin yang bermakna antar kelompok (p<0,05). Pemberian ekstrak daun sukun meningkatkan kadar insulin dengan pola dosis – respons. Uji post hoc Tukey HSD menunjukkan bahwa dosis 400 mg/kgBB meningkatkan kadar insulin secara signifikan dibandingkan kontrol dan menunjukkan efek yang sebanding dengan metformin. Kesimpulan : Ekstrak daun sukun berpengaruh meningkatkan kadar insulin pada tikus diet tinggi lemak dengan dosis 400 mg/kgBB memberikan efek tertinggi dan mendekati kelompok metformin. | Background : High-fat consumption contributes to metabolic disorders, including pancreatic beta-cell dysfunction characterized by decreased insulin secretion due to increased oxidative stress. Metformin is known to have protective effects on pancreatic beta cells; however, its use may cause adverse effects. Breadfruit leaves (Artocarpus altilis) contain flavonoids, tannins, and saponins with antioxidant properties and potential protective effects on pancreatic beta cells. Nevertheless, evidence regarding the effect of breadfruit leaf extract on insulin levels in high-fat diet models remains limited. Methods : This study was an analytic study with a causal-comparative design using secondary data derived from a previous experimental study. The subjects consisted of 30 male Sprague-Dawley rats divided into five groups: negative control, positive control (metformin), and three treatment groups receiving breadfruit leaf extract at doses of 200, 300, and 400 mg/kg body weight. All rats were induced with a high-fat diet prior to treatment. Serum insulin levels were measured using the ELISA method. Data analysis was performed using One-Way ANOVA followed by Tukey HSD post hoc test. Results : One-Way ANOVA analysis demonstrated a statistically significant difference in insulin levels among groups (p<0.05). Administration of breadfruit leaf extract increased insulin levels in a dose-response manner. Tukey HSD post hoc analysis showed that the 400 mg/kg body weight dose significantly increased insulin levels compared to the negative control and exhibited an effect comparable to metformin. Conclusion : Breadfruit leaf extract increases insulin levels in high-fat diet-induced rats, with a dose of 400 mg/kg body weight showing the highest effect and approaching that of metformin | |
| 47711 | 51101 | G1A022053 | Pengaruh Ekstrak Daun Sukun ( Artocarpus altilis) Terhadap Kadar Dipeptidyl Peptidase 4 (DPP4) Pada Tikus (Rattus norvegicus) Model Diet Tinggi Lemak | Latar Belakang: Diet tinggi lemak dapat meningkatkan kadar enzim dipeptidyl peptidase 4 (DPP4) yang berperan dalam inflamasi dan metabolisme glukosa. Ekstrak daun sukun (Artocarpus altilis) mengandung senyawa bioaktif yang bersifat antioksidan dan antiinflamasi sehingga berpotensi menurunkan kadar DPP4. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh ekstrak daun sukun terhadap kadar DPP4 pada tikus model diet tinggi lemak. Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan ex post facto berdasarkan data sekunder lima kelompok, yaitu kontrol negatif, kontrol positif dengan metformin, dan tiga kelompok perlakuan ekstrak daun sukun dosis 200, 300, dan 400 mg/KgBB. Pengukuran kadar DPP4 dilakukan menggunakan metode ELISA, kemudian dianalisis dengan uji One Way ANOVA dan uji lanjutan Post Hoc Tukey. Hasil: Terdapat perbedaan bermakna kadar DPP4 antar kelompok. Rerata kadar DPP4 pada kelompok kontrol negatif, kontrol positif, dan perlakuan secara berurutan adalah 130,09 ng/mL; 127,94 ng/mL; 103,18 ng/mL; 66,74 ng/mL; dan 37,73 ng/mL. Ekstrak daun sukun menunjukkan pola dosis-respon, di mana peningkatan dosis menghasilkan penurunan kadar DPP4 yang lebih besar. Dosis 400 mg/KgBB memberikan efek paling optimal. Kesimpulan: Ekstrak daun sukun efektif menurunkan kadar DPP4 pada tikus yang diberi diet tinggi lemak. | Background: A high-fat diet can increase the level of dipeptidyl peptidase 4 (DPP4), an enzyme involved in inflammation and glucose metabolism. Breadfruit (Artocarpus altilis) leaf extract contains bioactive compounds with antioxidant and anti-inflammatory properties that may reduce DPP4 levels. Objective: This study aimed to determine the effect of breadfruit leaf extract on DPP4 levels in rats fed a high-fat diet. Methods: This research used a quantitative analytic observational design with an ex post facto approach based on secondary data from five groups, namely a negative control group, a positive control group receiving metformin, and three treatment groups given breadfruit leaf extract at doses of 200, 300, and 400 mg/KgBW. DPP4 levels were measured using the ELISA method and analyzed using One Way ANOVA followed by a Post Hoc Tukey test. Results: There are significant differences in DPP4 levels among groups. The mean DPP4 levels in the negative control, positive control, and treatment groups are 130.09 ng/mL, 127.94 ng/mL, 103.18 ng/mL, 66.74 ng/mL, and 37.73 ng/mL, respectively. The extract shows a dose-response pattern, in which increasing doses result in greater reductions in DPP4 levels. The 400 mg/KgBB dose shows the most optimal effect. Conclusion: Breadfruit leaf extract effectively reduces DPP4 levels in rats fed a high-fat diet. | |
| 47712 | 51098 | G1A022020 | Hubungan Temuan MRI Vertebra Lumbal dengan Nyeri Neuropatik pada Pasien Low Back Pain di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo | Latar Belakang: Low back pain (LBP) merupakan salah satu keluhan muskuloskeletal yang paling sering ditemukan dan dapat disertai nyeri neuropatik akibat gangguan atau kompresi struktur saraf. Berbagai kelainan struktural pada vertebra lumbal seperti Hernia Nukleus Pulposus (HNP), stenosis, spondylosis, dan spondylolisthesis diketahui berperan dalam menimbulkan iritasi atau kompresi radiks saraf, namun bukti hubungan langsung antara temuan MRI dan kejadian nyeri neuropatik masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Tujuan: Mengetahui hubungan antara temuan MRI vertebra lumbal dengan nyeri neuropatik pada pasien LBP di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Metodologi: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Data diperoleh dari rekam medis MRI lumbal dan hasil skrining nyeri neuropatik menggunakan kuesioner ID Pain. Sebanyak 68 pasien memenuhi kriteria inklusi. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji Chi-Square dan regresi logistik multivariat dengan nilai signifikansi p < 0,05. Hasil: Dari 68 pasien, temuan MRI terbanyak adalah HNP 58 (85,3%) kasus, stenosis 39 (57,4%) kasus, spondylosis 26 (38,2%) kasus, dan spondylolisthesis 13 (19,1%) kasus. Sebanyak 45 pasien (66,2%) teridentifikasi mengalami nyeri neuropatik. Uji Chi-Square menunjukkan hubungan bermakna antara nyeri neuropatik dengan HNP (p = 0,014), stenosis (p = 0,003), spondylosis (p = 0,006), dan spondylolisthesis (p = 0,004). Analisis multivariat menunjukkan stenosis sebagai faktor dengan signifikansi paling kuat. Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara temuan MRI vertebra lumbal dan nyeri neuropatik pada pasien LBP. Stenosis lumbal merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap terjadinya nyeri neuropatik. Temuan ini menegaskan pentingnya evaluasi radiologis dalam penatalaksanaan LBP dengan komponen neuropatik. | Background: Low back pain (LBP) is one of the most prevalent musculoskeletal complaints and may be accompanied by neuropathic pain resulting from irritation or compression of neural structures. Various structural abnormalities of the lumbar vertebrae such as herniated nucleus pulposus (HNP), spinal stenosis, spondylosis, and spondylolisthesis are known to contribute to nerve root compression. However, evidence regarding the direct association between specific MRI findings and neuropathic pain remains limited and requires further investigation. Objective: This study aims to determine the association between lumbar MRI findings and neuropathic pain among patients with LBP at Prof. Dr. Margono Soekarjo General Hospital. Methods: This study employed an analytical observational design with a cross- sectional approach. Data were obtained from lumbar MRI reports and neuropathic pain screening using the ID Pain questionnaire. A total of 68 patients met the inclusion criteria. The associations between MRI findings and neuropathic pain were analyzed using the Chi-square test and multivariate logistic regression, with a significance threshold of p < 0.05. Results: The study demonstrated among 68 patients, the most common MRI findings were HNP (58 cases; 85.3%), stenosis (39 cases; 57.4%), spondylosis (26 cases; 38.2%), and spondylolisthesis (13 cases; 19.1%). Neuropathic pain was identified in 45 patients (66.2%). Chi-square analysis demonstrated significant associations between neuropathic pain and HNP (p = 0.014), stenosis (p = 0.003), spondylosis (p = 0.006), and spondylolisthesis (p = 0.004). Multivariate analysis indicated that spinal stenosis was the strongest predictor of neuropathic pain. Conclusion: There is a significant association between lumbar MRI abnormalities and the presence of neuropathic pain in patients with LBP. Lumbar spinal stenosis emerges as the most influential factor contributing to neuropathic symptoms. These findings underscore the importance of radiological evaluation in the clinical management of LBP with neuropathic components. | |
| 47713 | 51099 | G1A022050 | PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN SUKUN (Artocarpus altilis) TERHADAP KADAR GLP-1 PADA TIKUS PUTIH MODEL TINGGI LEMAK | Latar Belakang: Peningkatan konsumsi makanan tinggi lemak di Indonesia berkontribusi pada meningkatnya kasus overweight dan risiko obesitas. Kondisi ini memicu stres oksidatif dan inflamasi kronis yang menyebabkan penurunan sekresi hormon inkretin GLP-1, yaitu hormon penting dalam regulasi glukosa, nafsu makan, dan metabolisme. Daun sukun (Artocarpus altilis) diketahui mengandung senyawa flavonoid, tanin, dan saponin yang bersifat antioksidan dan antiinflamasi, sehingga berpotensi meningkatkan sekresi GLP-1. Tujuan : Mengetahui kemampuan ekstrak daun sukun (Artocarpus altilis) dalam meningkatkan kadar GLP-1 pada tikus putih jantan model tinggi lemak. Metodologi : Penelitian menggunakan desain analitik kuantitatif dengan metode kausal komparatif berbasis data sekunder dari penelitian eksperimental posttest-only group design. Hasil : Pemberian ekstrak daun sukun meningkatkan kadar GLP-1 dengan dosis 400 mg/kgBB memberikan peningkatan paling besar. Temuan ini menunjukkan bahwa ekstrak daun sukun mampu memperbaiki respons GLP-1 pada tikus model tinggi lemak. Kesimpulan : Pemberian ekstrak daun sukun (Artocarpus altilis) terbukti meningkatkan kadar GLP-1 pada tikus jantan model diet tinggi lemak | Background: The increasing consumption of high-fat foods in Indonesia contributes to a rise in overweight and obesity prevalence. This condition triggers oxidative stress and chronic inflammation, leading to reduced secretion of the incretin hormone GLP-1, which plays a key role in glucose regulation, appetite control, and metabolism. Breadfruit leaves (Artocarpus altilis) contain flavonoids, tannins, and saponins with antioxidant and anti-inflammatory properties, making them a potential agent to enhance GLP-1 secretion. Objective: To determine the ability of Artocarpus altilis leaf extract to increase GLP-1 levels in male rats subjected to a high-fat diet. Methods: This study employed a quantitative analytical design using a causal-comparative approach based on secondary data from an experimental posttest-only group design. Results: GLP-1 levels differed significantly among groups (p=0.000), with the lowest levels in the negative control group and the highest in the positive control group. A. altilis leaf extract increased GLP-1 levels with the 400 mg/kgBW dose showing the greatest effect. These findings indicate that breadfruit leaf extract can improve GLP-1 response in high fat diet–induced rats. Conclusion: Artocarpus altilis leaf extract effectively increases GLP-1 levels in male rats subjected to a high-fat diet. | |
| 47714 | 51102 | G1A022059 | KORELASI ANTARA FUNGSI PARU DENGAN FUNGSI KOGNITIF PADA SISWA SMA NEGERI 1 BATURRADEN | Latar belakang: Gangguan fungsi kognitif menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat dunia. Fungsi paru diduga dapat memengaruhi fungsi kognitif secara tidak langsung. Fungsi paru yang baik sangat penting untuk memastikan tercukupinya penyediaan oksigen dalam proses metabolisme sel terutama pada otak. Tujuan: Untuk mengetahui korelasi antara fungsi paru dengan fungsi kognitif pada siswa SMA Negeri 1 Baturraden. Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasional-analitik dengan desain penelitian cross-sectional. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 34 subjek yang dipilih dengan metode purposive sampling. Pengukuran fungsi paru dilakukan menggunakan spirometri dan fungsi kognitif menggunakan kuesioner MoCA-Ina. Analisis data menggunakan uji Spearman untuk mengetahui korelasi antara fungsi paru dengan fungsi kognitif. Hasil: Hasil uji Spearman menunjukkan adanya korelasi positif dengan kekuatan cukup antara FVC dengan fungsi kognitif (p = 0,005, r = +0,471) dan antara FEV1 dengan fungsi kognitif (p = 0,025, r = +0,384). Tidak terdapat korelasi antara rasio FEV1/FVC dengan fungsi kognitif (p = 0,315, r = -0,178) maupun antara PEF dengan fungsi kognitif (p = 0,225, r = +0,214). Kesimpulan: Terdapat korelasi antara fungsi paru berdasarkan FVC dan FEV1 dengan fungsi kognitif. Semakin baik fungsi paru, maka semakin baik fungsi kognitif seseorang. | Background: Cognitive impairment is a major global public health issue. Lung function is hypothesized to have an indirect association with cognitive function. Optimal lung function is crucial for ensuring an adequate oxygen supply for cellular metabolism, especially in the brain. Objective: To determine the correlation between lung function and cognitive function in students of SMA Negeri 1 Baturraden. Methods: This study used an observational-analytical method with a cross-sectional design. The sample size for this study was 34 subjects selected by a purposive sampling method. Lung function was measured using spirometry and cognitive function measured using the MoCA-Ina questionnaire. Data were analyze using the Spearman test. Result: Spearman test result showed a significant sufficient positive correlation between FVC and cognitive function (p = 0.005, r = +0.471), as well as between FEV1 and cognitive function (p = 0.025, r = +0.384). No significant correlation was found between the FEV1/FVC and cognitive function (p = 0.315, r = -0.178) or between PEF and cognitive function (p = 0.225, r = +0.214). Conclusion: There is a correlation between lung function based on FVC and FEV1 with cognitive function. Better lung function, better cognitive function. | |
| 47715 | 51136 | I1J025005 | ||||
| 47716 | 51103 | G1A020108 | HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DAN PENGENDALIAN HIPERTENSI PADA PESERTA PROGRAM PENGELOLAAN PENYAKIT KRONIS (PROLANIS) DI SEMBILAN FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA (FKTP) DI KABUPATEN BANYUMAS | Latar Belakang: Hipertensi merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskuler dengan jumlah kasus yang terus meningkat setiap tahun. Prolanis merupakan salah satu pelayanan kesehatan melalui FKTP yang menjadi salah satu upaya pengendalian penyakit kronis seperti hipertensi. Dukungan sosial merupakan memberi kenyamanan dan bantuan kepada sesesorang untuk menghadapi tekanan biologis, sosial dan psikologis. Dukungan sosial menjadi salah satu faktor yang berperan dalam pengendalian hipertensi yaitu kepatuhan seseorang dalam melakukan pengobatan. Faktor pendukung lain yang dapat mempengaruhi antara lain usia, jenis kelamin, pendidikan, status sosial ekonomi, komorbid, asupan nutrisi, aktivitas fisik, rutinitas kunjungan dan rutinitas pengobatan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional study. Pengumpulan data dilakukan di sembilan FKTP di Kabupaten Banyumas pada 175 peserta dengan menggunakan data sekunder. Data sekunder diambil dari penelitian “Determinan Pengendalian Tekanan Darah Pada Pasien Prolanis Hipertensi JKN di Kabupaten Banyumas”. Pengambilan sampel diambil menggunakan teknik cluster sampling bertingkat. Analisis data penelitian menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat dengan menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Total 175 responden, 58,29% (102 orang) merupakan peserta hipertensi terkontrol. Hubungan dukungan sosial dengan pengendalian hipertensi yang dianalisis menggunakan uji Chi-Square memiliki p-value 0,453 (p>0,05) yang berarti bahwa tidak memiliki hubungan yang signifikan. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara dukungan sosial dengan pengendalian hipertensi. | Background: Hypertension is a major risk factor for cardiovascular diseases, with its number of cases continuing to rise each year. Prolanis is a healthcare service provided through primary healthcare facilities (FKTP) as part of the efforts to control chronic diseases, such as hypertension. Social support is the provision of comfort and assistance to individuals in coping with biological, social, and psychological pressures. Social support is one of the factors that plays a part in hypertension management, particularly an individual’s compliance in treatment. Other contributing factors that can influence controlled hypertension include age, gender, education level, socioeconomic status, comorbidities, nutritional intake, physical activity, visit routine, and treatment routine. Methods: This study is an analytical observational study with a cross-sectional design. Data collection was conducted at nine primary healthcare facilities (FKTP) in Banyumas Regency on 175 participants using secondary data. Secondary data were obtained from the prior study “Determinants of Blood Pressure Control Among Hypertension Patients in the Prolanis Program Under JKN in Banyumas Regency.” Samples were collected using a multistage cluster sampling technique. Data analysis was conducted using univariate and bivariate analyses with the Chi-Square test. Results: From a total of 175 respondents, 58.29% (102 people) are controlled hypertension participants. The association between social support and hypertension management, analyzed by using the Chi-Square test, has a p-value of 0.453 (p>0.05), indicating no significant association. Conclusion: There is no association between social support and controlled hypertension. | |
| 47717 | 51106 | G1A022056 | HUBUNGAN EKSPRESI HER2 TERHADAP TUMOR INFILTRATING LYMPHOCYTES (TILs) PADA PASIEN KARSINOMA MAMMAE DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO | Latar belakang: Karsinoma mammae merupakan karsinoma dengan insidensi tertinggi pada perempuan di Indonesia dan memiliki beban kesehatan yang signifikan pada tingkat nasional maupun daerah. Ekspresi HER2 dan infiltrasi tumor infiltrating lymphocytes (TILs) merupakan dua parameter biologis yang berperan dalam perkembangan tumor serta respons terapi, namun hubungan keduanya pada populasi lokal masih belum konsisten. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menilai hubungan antara tingkat ekspresi HER2 dan densitas TILs pada pasien karsinoma mammae. Metodologi: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan total sampling terhadap pasien karsinoma mammae yang menjalani pemeriksaan imunohistokimia HER2 di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto pada periode Januari 2023 hingga Desember 2024. Ekspresi HER2 dikategorikan menjadi skor 1+, 2+, dan 3+, sedangkan densitas TILs dikelompokkan menjadi rendah, sedang, dan tinggi berdasarkan pemeriksaan histopatologi. Hasil: Sebanyak 250 kasus dianalisis, dengan mayoritas menunjukkan ekspresi HER2 skor 3+. Densitas TILs terbagi relatif seimbang pada seluruh kategori. Uji chi-square menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara tingkat ekspresi HER2 dan densitas TILs (p = 0,940). Kesimpulan: Hasil penelitian mengindikasikan bahwa infiltrasi limfosit tumor pada populasi penelitian ini tidak dipengaruhi oleh tingkat ekspresi HER2, sehingga faktor biologis lain kemungkinan lebih berperan dalam menentukan variasi respons imun. Penelitian lebih lanjut dianjurkan untuk memasukkan variabel tambahan seperti reseptor hormonal, Ki-67, dan marker imun lain guna memperoleh gambaran prognostik yang lebih komprehensif. | Background: Breast cancer is the most common malignancy among women in Indonesia and contributes substantially to national and regional health burdens. HER2 expression and tumor-infiltrating lymphocytes (TILs) are important biological parameters involved in tumor progression and treatment response; however, their association remains inconsistent across different populations.Objective: This study aimed to evaluate the relationship between HER2 expression levels and TILs density in patients with breast carcinoma. Methods: A cross-sectional design with total sampling was applied to breast carcinoma cases that underwent HER2 immunohistochemistry examination at Prof. Dr. Margono Soekarjo General Hospital, Purwokerto, from January 2023 to December 2024. HER2 expression was classified into 1+, 2+, and 3+ scores, while TILs density was categorized as low, moderate, or high based on histopathological assessment. Results: A total of 250 cases were analyzed, with the majority demonstrating a HER2 score of 3+. The distribution of TILs density was relatively balanced across categories. The chi-square test shows no significant association between HER2 expression levels and TILs density (p = 0.940). Conclusions: These findings indicate that lymphocytic infiltration in this population is not influenced by HER2 expression, suggesting that other biological factors may play a more prominent role in shaping immune responses within breast carcinoma. Further studies incorporating additional variables such as hormonal receptor status, Ki-67, and immune biomarkers are recommended to obtain a more comprehensive prognostic evaluation. | |
| 47718 | 51104 | G1A022124 | HUBUNGAN POLA MAKAN DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA SISWI SMAN 1 AJIBARANG | Latar Belakang: Anemia merupakan masalah gizi di Indonesia yang sering ditemukan pada remaja perempuan. Pola makan merupakan perilaku memperoleh makanan untuk memenuhi kebutuhan gizi harian. Angka anemia di Kabupaten Banyumas masih cukup tinggi meskipun sudah dilaksanakan program pemberian Tablet Tambah Darah (TTD), sehingga diperlukan kajian terkait kemungkinan penyebab anemia. Pola makan menjadi salah satu faktor yang dapat menyebabkan anemia. Penelitian dilaksanakan di Ajibarang karena belum terdapat kajian serupa di daerah tersebut. Tujuan: Mengetahui hubungan antara pola makan dengan kejadian anemia pada remaja putri SMAN 1 Ajibarang. Metodologi: Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional berbasis data primer dari penelitian analitik observasional. Responden mendapat perlakuan pengukuran kadar hemoglobin dan pengisian kuesioner FFQ (Food Frequency Questionnaire). Hasil: Penelitian ini terdiri dari 261 responden yang didominasi usia 15 tahun (58,2%) dengan pola makan buruk (58,2%) dan anemia (41,0%). Mayoritas responden memiliki orang tua dengan pendidikan terakhir SMA (31%), kategori pekerjaan sebagai buruh/tani (47,2%), dan pendapatan menengah-rendah (78,2%). Uji chi-square menunjukkan hubungan signifikan antara pola makan dengan kejadian anemia (p=0,027), dengan Odds Ratio 1,777 (CI 95% 1,067-2,962) yang menunjukkan bahwa siswi dengan pola makan buruk memiliki peluang lebih besar mengalami anemia dibandingkan siswi dengan pola makan baik. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara pola makan dengan kejadian anemia di siswi SMAN 1 Ajibarang. Hasil pada penelitian ini menegaskan pentingnya pola makan baik sebagai upaya pencegahan anemia pada remaja putri. | Background: Anemia is a nutritional problem in Indonesia commonly found among adolescent girls. Dietary pattern refers to individual behavior in obtaining food to meet daily nutritional requirements. The prevalence of anemia in Banyumas remains relatively high despite the implementation of the Iron Supplementation Program, indicating the need to explore potential contributing factors. Dietary pattern is considered one of the factors associated with anemia. This study was conducted in Ajibarang because there is no similar research in this area. Objective: This study aimed to determine the association between dietary patterns and anemia among female students at public senior highschool 1 Ajibarang. Methods: This study used a cross-sectional design based on primary data from an observational analytic study. Hemoglobin levels were measured and dietary patterns were assessed using a Food Frequency Questionnaire (FFQ). Results: This study includes 261 respondents, predominantly aged 15 years (58,2%) with poor dietary patterns (58,2%) and anemia (41,0%). Most respondents have parents with senior high school education (31%), occupations as laborers/farmers (47,2%), and low-to-middle household income (78,2%). Chi-square test shows a significant association between dietary patterns and anemia (p=0,027). Odds Ratio 1,777 (95% CI: 1,067–2,962) indicates that students with poor dietary patterns have a higher likelihood of experiencing anemia compared to those with good dietary patterns. Conclusion: There is an association between dietary patterns and anemia among female students at public senior highschool 1 Ajibarang, highlighting the importance of healthy dietary patterns in preventing anemia among adolescent girls. | |
| 47719 | 51105 | G1A022081 | PERBANDINGAN NILAI RED CELL DISTRIBUTION WIDTH INDEX SEBAGAI METODE SKRINING TALASEMIA BETA MINOR DAN ANEMIA DEFISIENSI BESI DI RSUD PROF DR MARGONO SOEKARJO | Latar Belakang: Anemia defisiensi besi dan talasemia beta minor merupakan penyebab utama anemia mikrositik hipokromik dan sering menunjukkan gambaran hematologis yang tumpang tindih pada pemeriksaan darah rutin. Perbedaan tatalaksana antara kedua kondisi tersebut memerlukan metode skrining awal yang akurat, mudah, dan berbasis pemeriksaan hematologi. Red Cell Distribution Width Index (RDWI) dikembangkan untuk membedakan kedua kondisi tersebut, namun performa diagnostiknya dilaporkan bervariasi antar populasi. Data mengenai performa RDWI pada populasi anak di wilayah Banyumas khususnya di RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo masih terbatas. Tujuan: Menentukan nilai cut-off RDWI yang optimal dalam membedakan talasemia beta minor dan anemia defisiensi besi pada pasien anak di RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo. Metodologi: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan consecutive sampling. Subjek penelitian adalah pasien berusia <18 tahun dengan diagnosis anemia defisiensi besi atau talasemia beta minor berdasarkan pemeriksaan darah lengkap, status besi, dan elektroforesis hemoglobin. Data diperoleh dari Laboratory Information System dan rekam medis RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo. Analisis kemampuan diagnostik RDWI dilakukan menggunakan kurva Receiver Operating Characteristic (ROC). Hasil: Analisis ROC menghasilkan nilai cut-off RDWI sebesar 354,99 dengan sensitivitas 69,8%, spesifisitas 79,1%, Youden Index 0,488, dan area under the curve (AUC) sebesar 69,6% dengan talasemia beta minor sebagai disease positive. Kesimpulan: RDWI memiliki kemampuan kurang dalam membedakan anemia defisiensi besi dan talasemia beta minor sehingga tidak dapat digunakan sebagai metode skrining tunggal. Pemeriksaan status besi dan elektroforesis hemoglobin tetap diperlukan untuk penegakan diagnosis. | Background: Iron deficiency anemia and beta thalassemia minor are the main causes of microcytic hypochromic anemia and often show overlapping hematological features on routine blood examinations. Differences in management require an accurate and simple hematology-based screening method. The Red Cell Distribution Width Index (RDWI) was developed to differentiate these conditions, but its diagnostic performance varies across populations. Data on RDWI performance in pediatric patients in Banyumas, particularly at Prof. dr. Margono Soekarjo Regional General Hospital, are limited. Objective: To determine the optimal RDWI cut-off value for differentiating beta thalassemia minor and iron deficiency anemia in pediatric patients. Methodology: This cross-sectional study used consecutive sampling. Subjects were patients aged <18 years diagnosed with iron deficiency anemia or beta thalassemia minor based on complete blood count, iron status examination, and hemoglobin electrophoresis. RDWI diagnostic performance was analyzed using a Receiver Operating Characteristic (ROC) curve. Results: ROC analysis yields an RDWI cut-off value of 354.99, with a sensitivity of 69.8%, specificity of 79.1%, Youden Index of 0.488, and an area under the curve (AUC) of 69.6%, with beta thalassemia minor as the disease-positive condition. Conclusion: RDWI demonstrates limited ability to distinguish between iron deficiency anemia and beta thalassemia minor and cannot be used as a single screening method. Iron status assessment and hemoglobin electrophoresis remain necessary for diagnosis. | |
| 47720 | 51107 | D1A022059 | EVALUASI PERFORMA PRODUKSI AYAM BROILER DI EKO SETIA B FARM DITINJAU DARI KONVERSI PAKAN, RATAAN BOBOT BADAN, DAN MORTALITAS | Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan performa pemeliharaan ayam broiler di Eko Setia B farm dengan standar produksi internal yang mencakup konversi pakan (Feed Conversion Ratio), bobot badan rata-rata, dan tingkat mortalitas. Penelitian dilakukan selama satu periode pemeliharaan dari September hingga Oktober 2024 pada ayam broiler strain CP 707 berpopulasi 40.500 ekor yang dipelihara di kandang closed house tiga lantai. Data dikumpulkan melalui observasi langsung dan rekaman produksi, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa nilai FCR mingguan rata-rata 1,295 ± 0,204 yang setara dengan standar produksi (1,299 ± 0,279). Bobot badan rata-rata ayam di Eko Setia B farm lebih tinggi dari standar produksi dengan rata-rata pertambahan mencapai 475,67 ± 235,55 gram/ekor, serta bobot akhir mendekati 2,9 kg pada minggu keenam. Tingkat mortalitas selama periode pemeliharaan juga lebih rendah dibandingkan standar produksi, yaitu 2,10% ± 1,08% vs 2,65% ± 1,32%. Pencapaian bobot badan yang tinggi sejalan dengan pengurangan mortalitas menunjukkan manajemen pemeliharaan yang efektif dan efisien, sehingga usaha peternakan berada pada posisi menguntungkan untuk memperoleh nilai ekonomi maksimal. Penelitian ini menegaskan pentingnya pengelolaan pakan, lingkungan, dan kesehatan dalam mendukung pertumbuhan optimal ayam broiler. | This study aims to compare the broiler chicken maintenance performance at Eko Setia B Farm with its internal production standards, focusing on Feed Conversion Ratio (FCR), average body weight, and mortality rate. The study was conducted over one maintenance period from September to October 2024 on a population of 40,500 CP 707 strain broiler chickens kept in a three-story closed house. Data were collected through direct observation and production records, then analyzed descriptively. Results showed that the farm's weekly average FCR was 1.295 ± 0.204, comparable to the production standard of 1.299 ± 0.279. The average body weight of chickens at Eko Setia B Farm exceeded the production standard, with an average weekly gain of 475.67 ± 235.55 grams per bird and a final weight close to 2.9 kg at the sixth week. The mortality rate during the maintenance period was also lower than the production standard, at 2.10% ± 1.08% versus 2.65% ± 1.32%. The achievement of high body weight alongside reduced mortality indicates effective and efficient management, positioning the farm advantageously for maximizing economic value. This study emphasizes the importance of feed management, environmental control, and health maintenance in supporting optimal broiler growth. |