Artikelilmiahs

Menampilkan 47.581-47.600 dari 48.726 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4758151217L2A022002
4758250981C0D021033INTERNSHIP REPORT FROM BPJS KETENAGAKERJAAN PURWOKERTOPelaksanaan program jaminan sosial merupakan salah satu tanggung jawab dan kewajiban negara untuk memberikan perlindungan sosial ekonomi kepada masyarakat, sesuai dengan kondisi kemampuan keuangan negara. Indonesia, seperti halnya negara berkembang lainnya, telah mengembangkan program jaminan sosial yang didanai oleh peserta dan masih terbatas pada pekerja di sektor formal. Secara kronologis, proses lahirnya asuransi sosial tenaga kerja semakin transparan. Kinerja PT Jamsostek (Persero) yang mengutamakan kepentingan serta hak normatif pekerja di Indonesia diwujudkan melalui penyediaan 4 (empat) program perlindungan, yaitu Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM), Jaminan Hari Tua (JHT), dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) bagi seluruh pekerja dan keluarganya. BPJS Ketenagakerjaan terus meningkatkan kompetensi di seluruh lini pelayanan, sekaligus mengembangkan berbagai program dan manfaat yang dapat langsung dirasakan oleh para pekerja dan keluarganya.The implementation of social security programs is one of the responsibilities and obligations of the state to provide socio-economic protection for the community, in accordance with the country's financial capacity. Indonesia, like other developing countries, has developed a participant-funded social security program that is still limited to workers in the formal sector. Chronologically, the process of the establishment of labor social insurance has become increasingly transparent. The performance of PT Jamsostek (Persero), which prioritizes the interests and normative rights of workers in Indonesia, is realized through the provision of four (4) protection programs, namely the Work Accident Insurance Program (JKK), Death Insurance (JKM), Old Age Insurance (JHT), and Health Maintenance Insurance (JPK) for all workers and their families. BPJS Ketenagakerjaan continues to enhance its competence across all service lines while also developing various programs and benefits that can be directly enjoyed by workers and their families.
4758350977J1E019059THE UTILIZATION OF CHAIN DRILL TECHNIQUE IN TEACHING SPEAKING SKILL USING PERSONAL RECOUNT TEXT
(A Descriptive Qualitative Study to Grade VIII A Students of MTs Ma’arif NU 1 Pekuncen in the Academic Year 2025/2026)
Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi bagaimana teknik Chain Drill digunakan dalam pembelajaran keterampilan berbicara dengan menggunakan teks Personal Recount, kendala-kendala yang dihadapi guru selama proses pembelajaran, serta strategi yang digunakan untuk mengatasi kendala tersebut. Penelitian ini juga bertujuan untuk menggambarkan kondisi nyata di kelas ketika teknik Chain Drill diterapkan. Subjek penelitian ini adalah guru bahasa Inggris dan siswa kelas VIII A. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif karena penelitian ini berupaya mendeskripsikan secara mendalam proses pembelajaran dan respons siswa selama penerapan teknik Chain Drill. Data penelitian dikumpulkan melalui tiga instrumen, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan selama tiga kali pertemuan untuk mencatat bagaimana teknik Chain Drill diterapkan di kelas. Wawancara dilakukan dengan guru bahasa Inggris untuk memperoleh informasi lebih mendalam mengenai prosedur yang digunakan, kesulitan yang muncul, serta strategi yang dilakukan untuk mengatasinya. Dokumentasi, seperti foto kegiatan, dan RPP, turut dikumpulkan untuk mendukung temuan dari observasi dan wawancara. Data dianalisis menggunakan teknik analisis tematik yang terdiri dari memahami data, membuat kode awal, mencari tema, mendefinisikan tema, dan membuat laporan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menerapkan teknik Chain Drill melalui tiga tahapan utama: pembukaan, pelaksanaan Chain Drill, dan penutup. Teknik ini terbukti mampu meningkatkan partisipasi siswa, mendorong mereka untuk berbicara, serta membantu meningkatkan kefasihan dan pelafalan. Siswa menjadi lebih percaya diri dalam berbicara karena teknik Chain Drill memberikan latihan lisan yang terstruktur dan berkelanjutan. Kendala yang ditemukan selama proses pembelajaran meliputi keterbatasan kosakata siswa, kesalahan pelafalan, serta kesulitan siswa dalam mempertahankan fokus. Untuk mengatasi hal tersebut, guru menggunakan beberapa strategi seperti memberikan daftar kosakata, memodelkan pelafalan, memberikan pengulangan, dan memberikan bimbingan individual. Secara keseluruhan, penerapan teknik Chain Drill dalam pengajaran Personal Recount Text sangat membantu dalam meningkatkan kemampuan berbicara siswa serta membangun kepercayaan diri mereka dalam menggunakan bahasa Inggris.This study aims to investigate how the Chain Drill Technique is utilized in teaching speaking using Personal Recount Text, the challenges faced by the teacher during its implementation, and the strategies used to overcome those challenges. This study also aims to describe the real classroom condition when the Chain Drill Technique is applied. The research subjects of this study were the English teacher and the eighth-grade students of class VIII A. The research method used by the researcher was qualitative descriptive, because this research seeks to fully describe the process and the students’ responses during the application of the Chain Drill Technique. The data were collected through three instruments: observation, interview, and documentation. The observations were conducted during three teaching sessions to record how the Chain Drill Technique was implemented in the classroom. Interviews were conducted with the English teacher to obtain deeper information about the procedures used, the difficulties encountered, and the strategies to overcome them. Documentation, including photos, and lesson plans, was also collected to support the findings of the observation and interview. The data were analyzed using thematic analysis, including familiarizing the data, generating the initial codes, searching the themes, defining the themes, and making reports. The findings of this study indicate that the teacher implemented the Chain Drill Technique in three main stages: opening, Chain Drill practice, and closing. The technique successfully increased students’ participation, encouraged them to speak repeatedly, and helped them improve their fluency and pronunciation. The students were able to speak more confidently because the Chain Drill provided structured and continuous speaking practice. The challenges found during the teaching process were related to students’ limited vocabulary, mispronunciation, and difficulty maintaining focus. To overcome these problems, the teacher used strategies such as providing vocabulary lists, modeling pronunciation, giving repetition, and offering individual guidance. The overall findings show that the utilization of the Chain Drill Technique in teaching Personal Recount Text is helping students in speaking performance and building their confidence to speak English.
4758450666I1A021034Faktor-Faktor yang Memengaruhi Tekanan Darah pada Peserta Skrining PTM di Puskesmas Patikraja Kabupaten Banyumas Tahun 2024Latar Belakang: Tekanan darah abnormal merupakan masalah kesehatan masyarakat global dan salah satu penyumbang utama morbiditas dan mortalitas kardiovaskular. Di Kabupaten Banyumas, prevalensi tekanan darah abnormal masih tinggi, namun penelitian yang mengeksplorasi faktor-faktor yang berhubungan di antara peserta skrining Penyakit Tidak Menular (PTM) masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi tekanan darah pada peserta skrining PTM di Puskesmas Patikraja tahun 2024. Metode: Metode kuantitatif dengan rancangan potong lintang digunakan. Populasi penelitian meliputi seluruh peserta program skrining PTM, dan teknik total sampling menghasilkan 206 responden. Variabel bebas yang dinilai adalah usia, indeks massa tubuh (IMT), konsumsi makanan asin dan berminyak, perilaku merokok, konsumsi kopi, riwayat hipertensi dalam keluarga, aktivitas fisik, asupan alkohol, dan konsumsi buah dan sayur. Data diperoleh dari sumber sekunder dengan menggunakan formulir kuesioner skrining PTM. Analisis statistik terdiri dari regresi logistik univariat, bivariat (chi-square), dan multivariat. Hasil: menunjukkan bahwa perilaku merokok (p=0,008; POR=23,378; 95% CI=2,265–241,329), usia (p=0,000; POR=21,029; 95% CI=6,861–64,546), dan konsumsi makanan asin dan berminyak (p=0,016; POR=3,127; 95% CI=1,238–7,901) berhubungan signifikan dengan status tekanan darah. Sebaliknya, kategori IMT, konsumsi alkohol, konsumsi kopi, aktivitas fisik, dan asupan buah dan sayur tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p>0,05). Kesimpulan: Analisis multivariat mengidentifikasi perilaku merokok sebagai faktor paling berpengaruh terkait dengan tekanan darah abnormal di antara partisipan. Sebagai kesimpulan, merokok tetap menjadi penentu dominan tekanan darah, yang menekankan kebutuhan mendesak akan intervensi penghentian merokok dan strategi promosi kesehatan untuk mengurangi risiko kardiovaskular pada populasi ini.Background : Abnormal blood pressure is a global public health concern and one of the leading contributors to cardiovascular morbidity and mortality. In Banyumas Regency, the prevalence of abnormal blood pressure remains high, yet research exploring associated factors among participants of Non-Communicable Disease (NCD) screenings is still limited. This study aimed to identify factors influencing blood pressure among NCD screening participants at Patikraja Community Health Center in 2024. Methods : A quantitative method with a cross-sectional design was employed. The study population included all participants of the NCD screening program, and a total sampling technique yielded 206 respondents. Independent variables assessed were age, body mass index (BMI), consumption of salty and oily foods, smoking behavior, coffee consumption, family history of hypertension, physical activity, alcohol intake, and fruit and vegetable consumption. Data were obtained from secondary sources using the NCD screening questionnaire form. Statistical analyses consisted of univariate, bivariate (chi-square), and multivariate logistic regression. Result : The findings revealed that smoking behavior (p=0.008; POR=23.378; 95% CI=2.265–241.329), age (p=0.000; POR=21.029; 95% CI=6.861–64.546), and consumption of salty and oily foods (p=0.016; POR=3.127; 95% CI=1.238–7.901) were significantly associated with blood pressure status. In contrast, BMI categories, alcohol consumption, coffee consumption, physical activity, and fruit and vegetable intake showed no significant relationships (p>0.05). Conclusion : Multivariate analysis identified smoking behavior as the most influential factor related to abnormal blood pressure among participants. In conclusion, smoking remains the dominant determinant of blood pressure, emphasizing the urgent need for smoking cessation interventions and health promotion strategies to reduce cardiovascular risks in this population.
4758550980J1A021039The Social Identity Formation of PUBG Mobile Players in Discord CommunityPenelitian ini mengkaji pembentukan identitas sosial pada pemain PUBG Mobile dalam komunitas Discord PUBG dengan berlandaskan Social Identity Theory dari Tajfel dan Turner, yang memberikan kerangka komprehensif untuk menelaah fenomena tersebut. Sebagian besar penelitian sebelumnya berfokus pada MMORPG, sehingga studi ini berkontribusi pada kesenjangan tersebut dengan menyoroti permainan battle royale dan ruang digital yang terkait. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui wawancara mendalam dan observasi, penelitian ini membahas bagaimana pemain membangun dinamika identitas mereka melalui tiga tahapan, yaitu kategorisasi sosial, identifikasi sosial, dan perbandingan sosial. Temuan penelitian menunjukkan bahwa perkembangan identitas tidak hanya dipengaruhi oleh interaksi di dalam gim, tetapi juga oleh nilai-nilai budaya regional seperti rasa hormat, kerja sama, dan harmoni, serta gaya bermain yang diadopsi oleh komunitas. Humor, penggunaan bahasa, dan ekspresi budaya yang khas berfungsi sebagai batas simbolis yang membedakan kelompok regional dari kelompok lain dan menjadi penanda identitas kelompok yang memperkuat ikatan antaranggota. Berdasarkan hasil penelitian, komunitas Discord PUBG dapat dipandang sebagai “ruang ketiga” di mana interaksi digital sehari-hari memberikan kebanggaan budaya, saling menghormati, dan identitas bersama. Dengan demikian, penerapan Social Identity Theory dalam konteks permainan yang multikultural diperluas melalui studi ini dan memberikan kontribusi pada kajian akademik mengenai budaya digital dan identitas daring.This is a study of the formation of social identity in PUBG Mobile players within PUBG Discord community inspired by Tajfel and Turner's Social Identity Theory, which may provides a comprehensive investigation into this phenomenon. Most research has so far concentrated on MMORPGs, so this current study contributes to such a gap by looking into battle royal games and their associated digital spaces. Using a qualitative method based on in-depth interviews and observation, this study seem deals with the way in which players stage their identifications dynamics between three stages of social categorization, social identification and social comparison. The findings indicates how identity development is not just influenced by in-game interactions, but also regional cultural values such as respect, cooperation and harmony, and community act play styles. Humor, language use and culturally specific expressions also operate as symbolic boundaries that are used to differentiate the regional in-group from other groups and as markers of group identity which facilitate bonds among members. According to the study, can be viewed that PUBG Discord community serves as a “third place” in which everyday digital interactions may provide cultural pride, mutual respect and shared identity. Therefore, the application of Social Identity Theory to multicultural gaming contexts is extended in this study, adding to the scholarly conversation on digital culture and online identity.
4758650982J1A021054THE DEPICTIONS OF CLIMATE CHANGE IN SCOTT Z. BURNS'S EXTRAPOLATIONS (2023): AN ECO-CRITICISM STUDYPenelitian ini mengkaji bagaimana perubahan iklim di masa depan digambarkan dalam serial fiksi iklim Apple TV Extrapolations (2023), dan dampak perubahan iklim terhadap manusia. Selain itu, penelitian ini mengkaji bagaimana serial Extrapolations (2023) dianalisis dari sudut pandang gaya visual untuk mendapatkan analisis yang lebih mendalam. Penelitian ini menggunakan teori ekokritik Timothy Clark sebagai landasan teori, dan menggunakan aspek-aspek perubahan iklim Muhammad Ishaq-ur Rahman, yaitu pemanasan global, penyusutan lapisan es, kenaikan permukaan laut, dan pemanasan laut. Demikian juga, konsep Levy dan Patz tentang disparitas antarnegara, kesehatan, dan hak asasi manusia, serta elemen gaya visual dari teori mise-en-scène, pencahayaan, warna, properti, ruang, dan pembingkaian. Penelitian ini menemukan bahwa aspek-aspek perubahan iklim Muhammad Ishaq-ur Rahman digambarkan dalam empat aspek dalam Extrapolations (2023), yang secara gamblang menceritakan berbagai kerusakan alam dan bencana akibat perubahan iklim. Dampak perubahan iklim terhadap disparitas antarnegara, kesehatan, dan hak asasi manusia yang dikaji Levy dan Patz juga menjelaskan dampak perubahan iklim terhadap manusia, yang memengaruhi berbagai krisis di negara-negara berkembang, sektor kesehatan, dan kegagalan upaya mitigasi. Dari sudut pandang mise-en-scène, lima elemen – meliputi pencahayaan, warna, properti, ruang, dan pembingkaian – mengungkap hasil analisis yang lebih mendalam dari perspektif gaya visual untuk setiap elemen data terlampir. Studi ini menyimpulkan bahwa penggambaran perubahan iklim di masa depan (2037-2070) disebabkan oleh aktivitas antropogenik dan keserakahan korporasi, yang memicu krisis iklim dan bencana alam. Studi ini lebih lanjut mengeksplorasi empat aspek perubahan iklim yang dikemukakan Rahman. Krisis perubahan iklim berdampak signifikan terhadap negara-negara berkembang, memengaruhi berbagai bidang termasuk kesehatan pernapasan dan mental, serta upaya mitigasi dampak dan adaptasi manusia untuk bertahan hidup. Penelitian lebih lanjut direkomendasikan, termasuk eksplorasi teori eko-feminisme dan pascahumanisme dalam konteks tema perubahan iklim dari seri ini. This research examines how climate change in the future is depicted in the Apple TV climate fiction series Extrapolations (2023), and the impact of climate change on humans. Also, this research examines how the Extrapolations (2023) series is analyzed from a visual style lens to gain a deeper analysis. This research employs Timothy Clark’s eco-criticism theory as the theoretical basis, and employs Muhammad Ishaq-ur Rahman climate change aspects of global warming, shrinking ice sheets, rise in sea level, and warming ocean. Likewise, Levy and Patz’s concept disparities among countries, health. and human rights, and the visual style elements of mise-en-scène theory, lighting, colour, props, space, and framing. The research discovers that Muhammad Ishaq-ur Rahman climate change aspects are depicted in four aspects in Extrapolations (2023), vividly narrating several natural destruction and disasters of climate change. Levy and Patz’s climate change impact on disparities among countries, health, and human rights also depicted explaining the impact of climate change on humans, which affects several crises on developing countries, the health sector, and the failure of mitigation efforts. From the mise-en-scène lens, five elements – including lighting, colour, props, space, and framing – reveal the results of a more in-depth analysis from a visual style perspective for each attached data element. This study concludes that the depiction of climate change in the future (2037-2070) is attributable to anthropogenic activities and corporate avarice, which precipitate climate crises and natural disasters. The study further explores Rahman's four climate change aspects. The climate change crisis has a significant impact on developing countries, affecting a wide range of areas including respiratory and mental health, as well as efforts to mitigate the effects and the adaptation of people to survive. Further research is recommended, including an exploration of eco-feminism and posthumanism theories in the context of climate change themes from the series.
4758750613C3A021003Membangun Kinerja Pemasaran Melalui Keunggulan Motif Budaya Daerah (Regiocultral) pada IKM Batik di Wilayah Ciayumajakuning
Penelitian ini didasari karena adanya perbedaan penelitian mengenai pengaruh kapabilitas inovasi terhadap kinerja pemasaran, dimana terdapat peneliti yang menyatakan berpengaruh dan tidak berpengaruh. UKM di Indonesia memiliki peran penting, tetapi masih dihadapkan dengan masalah, terutama dengan kinerja pemasaran. Berdasarkan pada masalah, maka untuk menyelesaikannya dibangun suatu model kebaruan sebagai variabel mediasi, yaitu keunggulan motif regiocultural. Keunggulan motif regioculural merupakan sintesa dari resourcce advantage theory and competition dan cultural identity theory. Penelitian ini melibatkan peran variabel lain yang berkaitan, yaitu kemampuan eksplorasi dan kemampuan penetrasi pasar. Penelitian ini merupakan penelitian dasar kausalitas dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah IKM batik di wilayah Ciayumajakuning (Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Kuningan) Provinsi Jawa Barat. Ukuran sampel ditetapkan sebanyak 200 responden menggunakan metode disproportionate random sampling. Pengumpulan data bersumber dari data primer melalui penyebarkan kuisioner dan data sekunder melalui penelusuran data yang terpublikasi. Pengukuran variabel menggunakan skala interval dengan teknik agree-disagree scale. Analisis data menggunakan Structural Equation Modelling (SEM) dengan program AMOS (Analysis of Moment Structure). Simpulan penelitian menyatakan bahwa kemampuan eksplorasi memiliki peran penting dalam meningkatkan kapabilitas inovasi, kapabilitas inovasi memiliki peran penting dalam meningkatkan keunggulan motif regiocultural dan kinerja pemasaran, keunggulan motif regiocultural memiliki peran penting dalam meningkatkan kemampuan penetrasi pasar dan kinerja pemasaran, serta keunggulan motif regiocultural memediasi pengaruh kapabilitas inovasi terhadap kinerja pemasaran. Berdasarkan simpulan tersebut sehingga penelitian ini memiliki peran penting dalam menyelesaikan riset gap dan masalah yang dihadapi UKM. Penelitian ini menyarankan untuk penelitian mendatang agar melakukan pembaharuan data IKM batik di Ciayumajakuning, mengakomodir kepentingan dari sisi konsumen dengan mengadopsi teori ¬co-creation, dan dilakukan pada industri lain selain batik.This research is based on the differences in research on the effect of innovation capability on marketing performance, where some researchers find that it has an effect and some find that it has no effect. SMEs in Indonesia have an important role, but they still face problems, especially in marketing performance. Based on this problem, a novelty model was developed as a mediating variable to solve it, namely the superiority of regiocultural motives. The superiority of regiocultural motives is a synthesis of resource advantage theory and competition and cultural identity theory. This study includes the role of other related variables, namely exploration ability and market penetration ability. This study is a basic causal study with a quantitative approach. The population of this study is batik IKM in Ciayumajakuning area (Cirebon city, Cirebon regency, Indramayu regency, Majalengka regency and Kuningan regency) in West Java province. The sample size was set at 200 respondents using the disproportionate random sampling method. Data collection was based on primary data by distributing questionnaires and secondary data by searching published data. An interval scale was used to measure the variables using the agree-disagree scale technique. Structural equation modelling (SEM) was used to analyse the data using AMOS (Analysis of Moment Structure). The research conclusion is that exploration ability has an important role in increasing innovation ability, innovation ability has an important role in increasing the superiority of regiocultural motives and marketing performance, the superiority of regiocultural motives has an important role in increasing market penetration ability and marketing performance, and the superiority of regiocultural motives mediates the influence of innovation ability on marketing performance. Based on these conclusions, this study has an important role in addressing research gaps and problems faced by adopting co-creation theory, and be conducted in industries other than batik.
4758850978C1H022047The Role of Socio-Technical Systems in Optimizing Employee Performance in The Middle of Limited Human Resources and High Workload: A Study on Directorate General of Treasury, Central Java Regional OfficePenelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Socio-Technical System (STS) dalam mengoptimalkan kinerja karyawan di bawah kondisi sumber daya manusia yang terbatas dan beban kerja yang tinggi. Penelitian ini berfokus pada Kantor Wilayah Jawa Tengah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb). Dengan menggunakan pendekatan kuantitatifdan metode survei, penelitian ini melibatkan 44 karyawan dan menguji tiga variabel kunci: STS, beban kerja, dan kinerja karyawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa STS secara positif dan signifikan mempengaruhi kinerja karyawan. Meskipunbeban kerja juga secara signifikan mempengaruhi kinerja, namun tidak memoderasi hubungan antara STS dan kinerja. Hasil ini menyarankan bahwa meningkatkan integrasi socio-technical di dalam lembaga publik dapat meningkatkan kinerja,bahkan ketika kondisi beban kerja tinggi. Oleh karena itu, organisasi disarankan untuk menguatkan keselarasan antara teknologi dan sumber daya manusia untuk meningkatkan produktivitas dan mengurangi kelelahan.This study aims to analyze the role of socio-technical systems (STS) in optimizing employee performance under conditions of limited human resources and high workloads. The study focuses on the Directorate General of Treasury (DJPb)'s Central Java Regional Office. Using a quantitative approach and a survey method, the study examined 44 employees and tested three key variables: STS, workload, and employee performance. The results revealed that STS positively and significantly affects employee performance. While workload also significantly affects performance, it does not moderate the relationship between STS and performance. These results suggest that improving socio-technical integration within public institutions can enhance performance, even when workload conditions are high. Therefore, organizations are advised to strengthen the alignment of technology and human resources to increase productivity and reduce burnout.
4758950984I2B023026PENGARUH BANTAL TURU MIRING (BANTURING) MIRDLAN TERHADAP HEMODINAMIK PASIEN BARING LATERAL SAAT PERSONAL HYGIENE MANDI DI RUANG ICU RSUD MARGONO SOEKARJOLatar Belakang: Pasien kritis di ICU mengalami perubahan status hemodinamik pada saat perubahan posisi lateral ketika personal hygiene mandi. Hal ini menyebabkan perubahan Tekanan darah sistolik, diastolik, nadi, pernapasan, SpO₂. Pengembangan alat Bantal Turu Miring (Banturing) Mirdlan dalam proses asuhan keperawatan di ICU diharapkan mampu mempertahankan status hemodinamik pasien tetap stabil saat personal hygiene mandi.
Tujuan: Mengetahui pengaruh penggunaan Bantal Turu Miring (Banturing) Mirdlan terhadap stabilitas hemodinamik pasien saat personal hygiene mandi di posisi lateral di ICU RSUD Margono Soekarjo.”
Metode: Penelitian ini dilakukan melalui 2 tahap. Pada tahan R&D, diterapkan metode prototyping, pengujian validitas alat menggunakan CVI, uji reliabilitas menggunakan Cronbach’s Alpha serta uji kegunaan alat menggunakan kuisioner USE. Tahap eksperimental dilakukan melalui Quasy Experiment pre-post test with control group dengan populasi pasien kritis di ICU.
Hasil: Hasil penelitian tahap I adalah prototype pengembangan Banturing Mirdlan yang valid (CVI = 1) dan reliabel (p= 0.581) serta layak untuk di gunakan. Hasil penelitian tahap II menunjukan terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok intervensi dan kontrol pada variabel Tekanan darah sistolik (p=0.030), nadi (p=0.000), nafas(0.000), SPO₂ (p=0.000), dan tidak ada perbedaan yang bermakna pada variabel tekanan darah diastolik (p=0.934).
Kesimpulan: Banturing Mirdlan reliabel dan layak gunakan untuk menjaga stabilisasi hemodinamik pasien saat personal hygiene mandi dengan posisi lateral.
Background: Critical patients in the ICU experience changes in hemodynamic status when changing lateral positions during personal hygiene bathing. This causes changes in systolic blood pressure, diastolic blood pressure, pulse, respiration and SPO₂. Development of the Bantal Turu Miring (Banturing) Mirdlan in the nursing care process in the ICU is expected to be able to maintain the patient's hemodynamic status remains stable when personal hygiene.
Objective: To determine the effect of the Banturing Mirdlan on the hemodynamic stability of critically ill patients during personal hygiene bathing in the lateral position at the Intensive Care Unit of RSUD Margono Soekarjo.
Method: research was conducted in 2 stages. In the R & D stage the method was prototyping; tool validity, reliability and usability testing using CVI, Cronbach's Alpha and the USE questionnaire. The experimental stage was carried out through a Quasy-experiment pre-posttest with a control group with a critical patient population in the ICU.
Results: The results of the first phase of the study were a prototype for the development of a valid Banturing Mirdlan which was valid (CVI = 1) and reliable (p = 0.581) and suitable for use. The results of the second phase of the study showed that there were significant differences between the intervention and control groups in the variables of systolic blood pressure (p = 0.030), pulse (p = 0.000), respiration (0.000), SPO₂ (p = 0.000), and there was no significant difference in the variable of diastolic blood pressure (p = 0.934).
Conclusion: Banturing Mirdlan is reliable and suitable for use to maintain hemodynamic stabilization of patients during personal hygiene bathing in a lateral position.
4759050983J1D020056Kritik Sosial dalam Lirik lagu album Slankissme karya SlankPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis kritik sosial dalam lirik lagu Album
Slankissme karya Slank, dengan fokus mendeskripsikan bentuk kritik sosial yang
terkandung dalam lirik lagu tersebut dan mengetahui fungsi kritik sosialnya. Metode
penelitian kualitatif dengan analisis tematik digunakan untuk mencapai tujuan ini. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa album Slankissme mengandung kritik sosial yang tajam
dan relevan dengan isu-isu sosial di masyarakat, tercermin dalam lirik lagu yang
menggambarkan masalah sosial ekonomi, birokrasi, dan lingkungan hidup. Fungsi kritik
sosial dalam album ini adalah untuk mempertahankan atau mengubah struktur sosial,
mengkritik ideologi dominan, dan memicu perubahan sosial. Penelitian ini menyimpulkan
bahwa album Slankissme karya Slank dapat dianggap sebagai contoh karya seni yang
efektif dalam menyampaikan kritik sosial dan meningkatkan kesadaran masyarakat
tentang masalah sosial yang ada. Kritik sosial dalam album ini dapat menjadi inspirasi bagi
masyarakat untuk lebih peduli dengan isu-isu sosial dan berpartisipasi dalam menciptakan
perubahan sosial yang lebih baik. Dengan demikian, karya Slank melalui album Slankissme
menunjukkan potensi besar sebagai medium penyampaian pesan sosial yang kuat dan
berpengaruh.
This research aims to analyze the social criticism in the lyrics of the Slankissme album by
Slank, focusing on describing the forms of social criticism contained in the song lyrics and
understanding its functions. A qualitative research method with thematic analysis was
employed to achieve this objective. The results show that the Slankissme album contains
sharp and relevant social criticism reflecting social issues in society, as depicted in lyrics
addressing socio-economic problems, bureaucracy, and environmental concerns. The
functions of social criticism in this album include maintaining or altering social structures,
critiquing dominant ideologies, and triggering social change. This study concludes that
Slank's Slankissme album is an effective example of art conveying social criticism and raising societal awareness about existing social issues. The social criticism in this album can inspire
society to be more concerned with social issues and participate in creating better social
change. Thus, Slank's work through the Slankissme album demonstrates significant potential
as a powerful and influential medium for delivering social messages.
4759150573F1F021062TRANSISI KEKUASAAN DI ASIA TENGAH PASCAKONFLIK NAGORNO KARABAKH (2020-2024)Konflik Nagorno Karabakh kedua pada tahun 2020 menjadi salah satu momentum penting yang mengubah lanskap geopolitik di Asia Tengah. Kekalahan Armenia dan kemenangan Azerbaijan yang didukung oleh teknologi militer Turki melalui penggunaan drone Bayraktar TB2 semakin meningkatkan peran Turki sebagai aktor regional yang strategis bagi negara-negara Asia Tengah. Rusia yang selama ini memiliki berperan sebagai hegemon di kawasan ini mulai menunjukkan kelemahan dalam mempertahankan posisinya yang ditunjukkan dengan ketidakmampuan Rusia untuk memberikan bantuan kepada sekutunya yaitu Armenia dalam konflik Nagorno Karabakh yang menimbulkan kekecewaan dari pihak Armenia. Dalam situasi ini, Turki berupaya untuk meningkatkan perannya sebagai mitra strategis bagi negara-negara Asia Tengah melalui Organization of Turkic States (OTS) sebagai wadah integrasi politik, ekonomi dan budaya yang memperkuat pengaruh Turki di kawasan Asia Tengah. Di sisi lain, Cina melihat melemahnya pengaruh Rusia sebagai peluang strategis untuk meningkatkan keterlibatan di kawasan melalui jalur ekonomi, perdagangan, energi, dan infrastruktur. Melalui inisiatif Belt and Road Initiative (BRI) serta penguatan kerja sama multilateral dalam kerangka Shanghai Cooperation Organization (SCO), Cina berhasil membangun citra sebagai mitra pembangunan yang strategis dibandingkan Rusia. Investasi besar dalam jaringan transportasi, pipa energi, dan proyek konektivitas lintas batas menjadikan negara-negara Asia Tengah semakin bergantung pada diplomasi ekonomi Cina. The Second Nagorno-Karabakh conflict in 2020 became one of the crucial turning points that reshaped the geopolitical landscape of Central Asia. Armenia’s defeat and Azerbaijan’s victory, supported by Turkish military technology through the use of Bayraktar TB2 drones, significantly elevated Turkey’s role as a strategic regional actor for Central Asian states. Russia, which had long positioned itself as the hegemon in the region, began to show weaknesses in maintaining its dominant position, as reflected in its inability to provide assistance to its ally Armenia during the Nagorno-Karabakh conflict—an inaction that led to Armenia’s disappointment. In this context, Turkey sought to enhance its role as a strategic partner for Central Asian countries through the Organization of Turkic States (OTS), which serves as a platform for political, economic, and cultural integration, thereby strengthening Turkey’s influence across the region. Meanwhile, China viewed the weakening of Russia’s influence as a strategic opportunity to expand its engagement in the region through economic, trade, energy, and infrastructure channels. Through the Belt and Road Initiative (BRI) and deeper multilateral cooperation within the framework of the Shanghai Cooperation Organization (SCO), China has successfully built an image of itself as a more credible development partner compared to Russia. Large-scale investments in transportation networks, energy pipelines, and cross-border connectivity projects have made Central Asian states increasingly dependent on China’s economic diplomacy.
4759250985C1G019022COMPARATIVE ANALYSIS OF POVERTY IN INDONESIA: MULTIDIMENSIONAL POVERTY AND MONETARY POVERTY (IFLS-5 DATA ANALYSIS)Kemiskinan di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan pendapatan rendah, tetapi juga melibatkan deprivasi dalam aspek sosial, kesehatan, dan standar hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan kemiskinan multidimensi dan kemiskinan moneter dengan menggunakan data sekunder dari Indonesia Family Life Survey (IFLS-5) tahun 2014. Metode analisis yang digunakan adalah regresi logistik dengan dua pendekatan: metode Alkire-Foster untuk kemiskinan multidimensi dan garis kemiskinan BPS untuk kemiskinan moneter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemiskinan multidimensi dipengaruhi secara signifikan oleh lama pendidikan, literasi, kematian anak, imunisasi, asuransi kesehatan, kebutuhan kalori, kepemilikan kendaraan, peralatan rumah tangga, kualitas air bersih, kondisi lantai, dan sanitasi. Sementara itu, kemiskinan moneter dipengaruhi oleh lama pendidikan, sektor pekerjaan, aset rumah tangga, dan ukuran keluarga. Temuan ini menegaskan bahwa pendekatan multidimensi memberikan gambaran lebih komprehensif dibandingkan pendekatan moneter semata. Implikasi penelitian menunjukkan perlunya kebijakan terpadu yang mencakup aspek pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur dasar untuk mengurangi angka kemiskinan secara berkelanjutan.Poverty in Indonesia is not only related to low income, but also involves deprivation in social, health, and living standards. This study aims to analyze the determinants of multidimensional poverty and monetary poverty using secondary data from the 2014 Indonesia Family Life Survey (IFLS-5). The analysis method used is logistic regression with two approaches: the Alkire-Foster method for multidimensional poverty and the BPS poverty line for monetary poverty. The results show that multidimensional poverty is significantly influenced by length of education, literacy, child mortality, immunization, health insurance, caloric needs, vehicle ownership, household appliances, clean water quality, floor conditions, and sanitation. Meanwhile, monetary poverty is influenced by factors such as the length of education, employment sector, household assets, and family size. These findings confirm that a multidimensional approach provides a more comprehensive picture than a monetary approach alone. The implications of this study suggest the need for integrated policies that encompass education, health, and basic infrastructure to sustainably reduce poverty rates.
4759350986D1B023002Evaluasi Kinerja Produksi Ayam Petelur Strain Lohmann Brown pada Fase Awal Bertelur hingga Puncak Produksi di Peternakan Wijaya Farm Kabupaten Kuningan Jawa BaratLatar Belakang. Performa produksi ayam petelur sangat dipengaruhi oleh umur awal bertelur dan pencapaian puncak produksi. Strain Lohmann Brown merupakan salah satu tipe ayam petelur komersial yang banyak digunakan karena memiliki potensi genetik produksi telur yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja produksi ayam petelur strain Lohmann Brown pada fase awal bertelur hingga puncak produksi di Peternakan Wijaya Farm, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Materi dan Metode. Penelitian dilakukan menggunakan metode observasi secara langsung terhadap populasi ayam niaga petelur sebanyak 2.422 ekor dari umur 20 minggu hingga 36 minggu. Variabel yang diamati meliputi Hen Day Production (HDP), Hen House Production (HHP), Produksi telur (kilogram), konversi pakan (Feed Conversion Ratio), dan tingkat mortalitas. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan pencatatan harian produksi, kemudian dianalisis menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dan regresi linear sederhana untuk mengkaji hubungan langsung antar umur ayam dengan indikator performa produksi. Hasil. Hasil menunjukkan bahwa performa produksi ayam petelur pada umur 20-36 minggu memiliki rataan Hen Day Production (HDP) sebesar 0,86 ± 0,18, Hen House Production (HHP) sebesar 0,85 ± 0,17, produksi telur harian mencapai rata-rata 127,97 ± 26,89 kg, nilai Feed Conversion Ratio (FCR) 2,3 ± 0,67 yang menunjukkan tingkat efisiensi pakan masih dapat ditingkatkan. Sementara itu, angka mortalitas relatif rendah yaitu 0,13 ± 5,7. Simpulan. Kesimpulan menunjukkan bahwa umur ayam berpengaruh nyata terhadap performa produksi. Performa produksi ayam petelur mengalami peningkatan hingga mencapai kestabilan. Nilai HDP, HHP, serta produksi telur harian berada pada kisaran yang baik dengan mortalitas yang rendah. Namun, efisiensi pakan masih perlu dioptimalkan agar produktivitas pada fase selanjutnya dapat lebih optimal.Background. The production performance of laying hens is strongly influenced by the age at first laying and the achievement of peak production. Lohmann Brown is one of the widely used commercial laying hen strains due to its high genetic potential for egg production. This study aimed to evaluate the production perfoemance of Lohmann Brown laying hens during the early laying phase up to peak production in Kuningan Regency, West Java. Materials and Methods. The research was conducted through direct observation of a population of 2.422 commercial laying hens from 20 to 36 weeks of age. The observed variables included Hen Day Production (HDP), Hen House Production (HHP), egg production (kg), Feed Conversion Ratio (FCR), and mortality rate. Data were collected through daily records off egg production, then analyzed using quantitative descriptive methods and simple linear regression to examine the relationship between hen age and production performance indicator. Result. The finding revealed that the production performance of laying hens an 20-36 weeks of age had an average HDP of 0,86 ± 0,18 and HHP of 0,85 ± 0,17, with daily egg production averaging 127,97 ± 26,89 kg. The Feed Conversion Ratio (FCR) was 2,3 ± 0,67, indicating that feed efficiency could still be improved. Meanwhile, mortality was relatively low at 0,13 ± 5,7. Conclusion. The study concluded that hen age had a significant effect on production performance. Production performance of laying hens increased gradually and reached stability during the observed phase. HDP, HHP, and daily egg production were within favorable ranges with low mortality. However, feed efficiency remains a critical factor that should be optimalized to enhance productivity in the subsequent phase.
4759450987I1A019095Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Kepatuhan Penggunaan Alat Pelindung Diri Safety Belt pada Petani Gula Kelapa di Desa Petahunan Kecamatan PekuncenFAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP KEPATUHAN PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI SAFETY BELT PADA PETANI GULA KELAPA DI DESA PETAHUNAN KECAMATAN PEKUNCEN
Fourthinawati Juelaike, Suryanto, Siti Harwanti

Latar Belakang: Penduduk Desa Petahunan sebagian besar berprofesi sebagai petani gula kelapa. Petani gula kelapa berpotensi mengalami kecelakaan kerja. Potensi bahaya pada petani gula kelapa, yaitu jatuh dari ketinggian. Melakukan hierarki pengendalian tingkat terakhir, yaitu penggunaan alat pelindung diri safety belt. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang paling berpengaruh terhadap kepatuhan penggunaan alat pelindung diri safety belt pada petani gula kelapa di Desa Petahunan.

Metode Penelitian: Penelitian menggunakan metode kuantitatif pendekatan Cross Sectional. Populasi penelitian adalah seluruh petani gula kelapa di Desa Petahunan Kecamatan Pekuncen berjumlah 600 orang dan sampel diambil dengan rumus Nomogram Harry King sejumlah 162 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan lembar ceklis. Analisis data menggunakan uji chi square dan uji regresi logistik ganda.

Hasil Penelitian: Variabel yang berpengaruh adalah ketersediaan APD (p=0,000) dan pengawasan (p=0,003). Variabel yang tidak berpengaruh adalah usia (p=0,919), pendidikan (p=0,729), masa kerja (p=0,481), pengetahuan (p=0,346), sikap (p=0,902), dan motivasi (p=0,599).

Kesimpulan: Variabel yang paling berpengaruh adalah variabel ketersediaan APD dengan nilai Odds Ratio (OR) 43,882.
FACTORS INFLUENCING THE COMPLIANCE WITH THE USE OF PERSONAL PROTECTIVE EQUIPMENT SAFETY BELT AMONG COCONUT SUGAR FARMERS IN PETAHUNAN VILLAGE, PEKUNCEN DISTRICT
Fourthinawati Juelaike, Suryanto, Siti Harwanti

Background: The majority of Petahunan Village residents work as coconut sugar farmers. Coconut sugar farmers are at risk of workplace accidents. A potential hazard for coconut sugar farmers is falling from a height. The final level of the control hierarchy is the use of safety belts. This study aims to determine the factors most influencing compliance with safety belt use among coconut sugar farmers in Petahunan Village.

Research Methodology: The study used a quantitative cross-sectional approach. The population was all 600 coconut sugar farmers in Petahunan Village, Pekuncen District, and 162 respondents were sampled using the Harry King Nomogram. Data collection used questionnaires and checklists. Data analysis used the chi-square test and multiple logistic regression.

Research Results: The variables that had an influence were the availability of PPE (p=0,000) and supervision (p=0,003). The variables that did not show a significant influence were age (p=0,919), education (p=0,729), length of works (p=0,481), knowledge (p=0,346), attitude (p=0,902), and motivation (p=0,599).

Conclusion: The most influential variable was the availability of PPE with an Odds Ratio (OR) value of 43,882.
4759550691H2B022001Analisis Pengaruh Aktivitas Sisi Jalan Terhadap Kinerja Ruas Jalan
(Studi Kasus: Kawasan Industri di Jl. Jend. A. Yani Purbalingga)
Arus lalu lintas di jalan-jalan kota sangat dipengaruhi oleh elemen-elemen hambatan samping, seperti parkir di badan jalan (On Street-Parking), penyeberangan pejalan kaki, dan kendaraan tidak bermotor (KTB), terutama di daerah dengan lalu lintas campuran. Studi ini melihat efek-efek ini pada Jalan Jenderal A. Yani di Purbalingga, Indonesia, yang merupakan rute industri penting yang menghubungkan lokasi-lokasi manufaktur utama dan melihat banyak lalu lintas kendaraan dan pejalan kaki. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) menemukan faktor hambatan samping yang paling memengaruhi kecepatan rata-rata ruang kendaraan (SMS), (2) menggunakan regresi multivariat/berganda untuk memahami hubungan antara hambatan samping dan SMS, dan (3) menentukan model arus lalu lintas klasik—Underwood, Greenshield, atau Greenberg—yang paling sesuai dengan pola arus yang diamati dalam situasi lalu lintas campuran. Hasil awal menunjukkan bahwa kendaraan yang berhenti adalah elemen hambatan terbesar yang menurunkan SMS, sementara penyeberangan pejalan kaki dan KTB juga menyebabkan penundaan selama jam sibuk. Model Underwood, yang menunjukkan bagaimana kecepatan menurun secara eksponensial seiring bertambahnya kepadatan, merupakan model yang paling akurat untuk menggambarkan dinamika lalu lintas di Jalan Jenderal A. Yani, dengan kepadatan kritis 9,80 kendaraan per km yang mengindikasikan awal kemacetan. Temuan ini bermanfaat untuk menyusun rencana yang dapat meningkatkan arus lalu lintas di kawasan perkotaan-industri. Dengan mengatasi hambatan samping dan menggunakan model lalu lintas yang tepat, penelitian ini membantu mengembangkan pendekatan berbasis data untuk meningkatkan Tingkat Pelayanan (LOS) pada jalan dengan hambatan samping yang tinggi, terutama di negara-negara berkembang yang menghadapi tantangan lalu lintas serupa. Pekerjaan ini membantu dalam mengelola lalu lintas perkotaan dengan meletakkan dasar bagi perencanaan yang mengakomodasi lalu lintas campuran dan mengurangi kemacetan.Traffic flow on city roads is significantly affected by side-friction elements, such as on-street parking (OTP), pedestrian crossings, and non-motorized vehicles (NMVs), especially in mixed-traffic areas. This study examines these effects on Jalan Jenderal A. Yani in Purbalingga, Indonesia, which is an important industrial route connecting major manufacturing locations and sees significant vehicle and pedestrian traffic. The objectives of this study are to (1) identify the side-friction factors that most influence the space mean speed (SMS), (2) use multivariate/multiple regression to understand the relationship between side-friction and SMS, and (3) determine which classical traffic flow model—Underwood, Greenshield, or Greenberg—best fits the observed flow patterns in mixed-traffic situations. Preliminary results indicate that stopped vehicles are the largest single-contact element that decreases SMS, while pedestrian crossings and NMVs also contribute to peak-hour delays. The Underwood model, which shows how speed decreases exponentially with density, is the most accurate model for describing traffic dynamics on Jalan Jenderal A. Yani, with a critical density of 9.80 vehicles per km indicating the onset of congestion. These findings are useful for developing plans to improve traffic flow in urban-industrial areas. By addressing side frictions and using appropriate traffic models, this research helps develop a data-driven approach to improving the Level of Service (LOS) on roads with high side frictions, particularly in developing countries facing similar traffic challenges. This work helps in managing urban traffic by laying the groundwork for planning that accommodates mixed traffic and lessens congestion.
4759650990C2C023076Determinant Analysis Revisit Intention and Word of Mouth in Purwokerto Private HospitalPenelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi niat berkunjung kembali dan promosi dari mulut ke mulut (WOM) pada pasien rawat jalan di Rumah Sakit JIH Purwokerto. Penelitian ini secara khusus mengkaji hubungan antara nilai yang dirasakan, kualitas layanan, kepuasan pasien, pengalaman merek, dan citra rumah sakit terhadap niat berkunjung kembali dan WOM. Pendekatan kuantitatif cross sectional diterapkan, melibatkan 372 responden yang dipilih secara accidental sampling. Data dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai yang dirasakan, kualitas layanan, kepuasan pasien, pengalaman merek, dan citra rumah sakit secara signifikan memengaruhi niat berkunjung kembali dan WOM, yang menunjukkan pentingnya faktor-faktor ini dalam memperkuat loyalitas pasien di rumah sakit swasta.This study aims to analyze the factors influencing revisit intention and word of mouth (WOM) among outpatients at JIH Purwokerto Hospital. The study specifically examines the relationships between perceived value, service quality, patient satisfaction, brand experience, and hospital image on revisit intention and WOM. A quantitative cross sectional approach was applied, involving 372 respondents selected through accidental sampling. Data were analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS SEM). The results indicate that perceived value, service quality, patient satisfaction, brand experience, and hospital image significantly affect revisit intention and WOM, suggesting the importance of these factors in strengthening patient loyalty in private hospitals.
4759750993C1G019024ANALYSIS OF FACTORS AFFECTING THE DEMAND FOR MIXUE IN PURWOKERTOPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi permintaan Mixue di Purwokerto dan mengukur elastisitas permintaan tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan survei terhadap 100 konsumen Mixue di Purwokerto menggunakan purposive sampling. Analisis data yang digunakan yaitu analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor harga Mixue, harga minuman substitusi, pendapatan konsumen, dan jarak dari rumah ke gerai secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap permintaan Mixue di Purwokerto. Sedangkan faktor-faktor yang berpengaruh secara parsial adalah harga Mixue, pendapatan konsumen dan jarak dari rumah ke gerai. Nilai elastisitas harga Mixue bersifat inelastis dengan nilai elastisitas harga -0,584. Penelitian ini memberikan implikasi bagi franchisee dan franchisor Mixue untuk menjaga stabilitas harga, memperhatikan daya beli masyarakat, serta mempertimbangkan lokasi gerai yang mudah dijangkau dalam upaya meningkatkan permintaan.This study aims to determine the factors that influence the demand for Mixue in Purwokerto and measure the elasticity of that demand. This study employs a quantitative approach with a survey design, targeting 100 Mixue consumers in Purwokerto using purposive sampling. The data analysis used was multiple linear regression analysis. The results showed that the factors of Mixue price, substitute beverage price, consumer income, and distance from home to the outlet simultaneously had a significant effect on the demand for Mixue in Purwokerto. Meanwhile, the factors that have a partial impact were Mixue price, consumer income, and distance from home to the outlet. The price elasticity value of Mixue is inelastic, with a price elasticity value of -0.584. This study has implications for Mixue franchisees and franchisors to maintain price stability, consider people's purchasing power, and select outlet locations that are easily accessible to increase demand.
4759850662H1B021037STUDI PARAMETRIK PERILAKU LENTUR BALOK PERSEGI BETON BERTULANG DENGAN PERKUATAN NEAR SURFACE MOUNTED (NSM) PELAT BAJA 2 mmBeton bertulang banyak digunakan pada berbagai struktur namun sering mengalami penurunan kekuatan selama masa layan, sehingga diperlukan upaya perkuatan. Salah satu metode yang menjanjikan adalah Near Surface Mounted (NSM), yang memberikan efisiensi perkuatan tinggi, tahan terhadap debonding dini, serta meningkatkan durabilitas tanpa penambahan beban mati. Penelitian ini mengkaji pengaruh variasi kuat tekan beton dan strategi perkuatan NSM terhadap kinerja lentur balok beton bertulang dengan analisis elemen hingga menggunakan perangkat lunak ATENA. Sebanyak 11 balok dimodelkan, meliputi balok kontrol, balok dengan perkuatan pelat baja bawah selebar 20 mm dan 40 mm, serta balok dengan perkuatan samping NSM, masing-masing dengan kuat tekan 17,5 MPa dan 50 MPa. Hasil menunjukkan bahwa peningkatan kuat tekan beton meningkatkan kapasitas lentur, kekakuan, dan energi serap, namun menurunkan daktilitas. Balok dengan perkuatan pelat baja bawah (BP2L, BP4L) menunjukkan peningkatan kapasitas dan daktilitas, sedangkan strategi perkuatan samping NSM (BPS2L, BPS4L) tidak secara signifikan meningkatkan kapasitas lentur, tetapi efektif dalam meningkatkan daktilitas dan energi serap. Mekanisme keruntuhan yang teridentifikasi meliputi keruntuhan lentur, tarik diagonal, dan tekan geser, dengan pola retak khas sesuai jenis kegagalan. Secara keseluruhan, mutu beton tinggi berpengaruh utama terhadap kapasitas lentur dan kekakuan, sedangkan perkuatan NSM samping lebih dominan dalam meningkatkan daktilitas dan energi serap.Reinforced concrete is widely used in various structures but often experiences strength degradation underservice conditions, making strengthening interventions necessary. One promising method is the Near Surface Mounted (NSM) technique, which provides high reinforcement efficiency, resistance to premature debonding, and improved durability without additional dead loads. This study investigates the effect of concrete compressive strength and NSM strengthening strategies on the flexural performance of reinforced concrete beams using finite element analysis with ATENA software. A total of 11 beam specimens were modeled, including control beams, beams strengthened with bottom-mounted steel plates of 20 mm and 40 mm, and beams with side-mounted NSM reinforcement, each with compressive strengths of 17.5 MPa and 50 MPa. The results indicate that increasing concrete compressive strength improves flexural capacity, stiffness, and energy absorption but reduces ductility. Strengthened beams with bottommounted plates (BP2L, BP4L) exhibited improvements in both strength and ductility, while side-mounted NSM strengthening (BPS2L, BPS4L) did not significantly enhance flexural capacity but effectively increased ductility and energy absorption. Failure mechanisms were identified as flexural, diagonal tension, and shear compression, consistent with characteristic crack patterns. Overall, higher concrete strength primarily enhanced flexural capacity and stiffness, whereas side NSM strengthening contributed more to ductility and energy absorption.
4759950967I1D021071HUBUNGAN PRAKTIK PEMBERIAN MP-ASI, POLA ASUH, DAN PARTISIPASI IBU DALAM KEGIATAN POSYANDU DENGAN STATUS GIZI BADUTA USIA 6-24 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PURWOKERTO TIMUR IILatar Belakang: Status gizi baduta merupakan indikator penting kesehatan anak yang dipengaruhi oleh praktik pemberian MP-ASI, pola asuh, dan partisipasi ibu dalam kegiatan posyandu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara praktik pemberian MP-ASI, pola asuh ibu, dan partisipasi ibu di posyandu dengan status gizi baduta di wilayah kerja Puskesmas Purwokerto Timur II.
Metodologi: Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional dengan melibatkan 44 ibu yang memiliki baduta 6-24 bulan yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Variabel praktik pemberian MP-ASI, pola asuh, dan partisipasi posyandu diukur menggunakan kuesioner dan dibantu dengan buku KIA, sedangkan status gizi dalam BB/U z-score diukur menggunakan berat badan. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji fisher exact dengan tingkat kemaknaan 95%.
Hasil Penelitian: Terdapat hubungan yang signifikan antara praktik pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi (p-value=0,000), dan terdapat hubungan antara pola asuh orang tua dengan status gizi (p-value=0,000), serta terdapat hubungan antara keikutsertaan ibu dalam kegiatan posyandu dengan status gizi (p-value=0,007).
Kesimpulan: Terdapat hubungan bermakna antara praktik pemberian MP-ASI dengan status gizi, dan terdapat hubungan antara pola asuh dengan status gizi, serta terdapat hubungan antara partisipasi ibu dalam kegiatan posyandu dengan status gizi.
Background: The nutritional status of children under two years (baduta) is an important indicator of child health influenced by complementary feeding practices, parenting style, and maternal participation in posyandu activities. This study aimed to determine the relationship between complementary feeding practices, maternal parenting style, and maternal participation in posyandu with the nutritional status of children under two years in the working area of Purwokerto Timur II Public Health Center.
Methodology: This study used a cross-sectional approach involving 44 mothers of children aged 6-24 months, selected using a purposive sampling technique. Complementary feeding practices, parenting patterns, and participation in integrated health service posts (Posyandu) were measured using a questionnaire and the KIA book. Nutritional status, measured by weight for age (BB/U) z-score, was measured using body weight. Data were analyzed using univariate and bivariate methods using the Fisher exact test with a 95% significance level.
Results: There is a significant relationship between the practice of providing complementary feeding with nutritional status (p-value=0.000), and there is a relationship between parenting patterns and nutritional status (p-value=0.000), and there is a relationship between maternal participation in integrated health post activities and nutritional status (p-value=0.007).
Conclusion: There is a significant relationship between the practice of providing complementary feeding with nutritional status, and there is a relationship between parenting patterns and nutritional status, and there is a relationship between maternal participation in integrated health post activities and nutritional status.
4760050991C2A023004PENGARUH VARIABEL EKONOMI, DEMOGRAFI, DAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP INDEKS KETAHANAN PANGAN DI INDONESIAKetahanan pangan adalah isu strategis global dalam mencapai Sustainable Development Goals (SDGs) ke-2 (penghapusan kelaparan dan akses pangan bergizi). Di Indonesia, penurunan luas panen padi dan produksi beras menunjukkan tekanan serius pada pasokan pangan pokok nasional. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variabel ekonomi, demografi, dan sektor pertanian terhadap Indeks Ketahanan Pangan di Indonesia.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan analisis regresi data panel. Data sekunder 34 provinsi (2018–2023) meliputi variabel ekonomi (PDRB per kapita, inflasi harga pangan, nilai tukar petani), demografi (jumlah penduduk, persentase penduduk miskin), dan sektor pertanian (produksi beras, jagung) sebagai variabel bebas terhadap Indeks Ketahanan Pangan (IKP).
Hasil analisis menunjukkan PDRB per kapita berpengaruh positif signifikan terhadap IKP, sedangkan inflasi harga pangan berpengaruh negatif signifikan, nilai tukar petani tidak berpengaruh signifikan. Jumlah penduduk tidak signifikan, tetapi persentase penduduk miskin berdampak negatif signifikan pada IKP. Peningkatan produksi beras dan jagung justru berpengaruh negatif signifikan terhadap IKP, mengindikasikan pentingnya perbaikan distribusi pangan dan mekanisme pasar.
Implikasi praktisnya mencakup pengentasan kemiskinan melalui program bantuan sosial produktif yang terintegrasi dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pemerintah juga perlu mengembangkan indikator kesejahteraan petani yang lebih komprehensif (meliputi pendapatan bersih, konsumsi gizi, dan investasi) sebagai dasar kebijakan harga pokok, subsidi, dan perlindungan sosial bagi petani. Selain itu, bonus demografi perlu dimanfaatkan dengan penciptaan lapangan kerja di sektor pertanian (termasuk pertanian perkotaan dan agroindustri). Pemerintah perlu mempertimbangkan pembangunan pusat pangan regional yang mengintegrasikan produksi, penyimpanan, pengolahan, dan distribusi untuk mengurangi disparitas pasokan antardaerah dan menekan kehilangan pascapanen.
Food security is a strategic global issue in achieving the second Sustainable Development Goal (SDG-2), namely eliminating hunger and ensuring access to nutritious food. In Indonesia, the decline in rice-harvested area and production indicates serious pressure on the national staple food supply. This study aims to analyze the influence of economic, demographic, and agricultural sector variables on the Food Security Index in Indonesia.
This research applies a quantitative method using panel data regression analysis. Secondary data from 34 provinces (2018–2023) cover economic variables (GRDP per capita, food price inflation, farmers’ terms of trade), demographic variables (population size, percentage of poor population), and agricultural sector variables (rice and corn production) as independent variables affecting the Food Security Index.
The results show that GRDP per capita has a significant positive effect on the Food Security Index, while food price inflation has a significant negative effect; farmers’ terms of trade are not significant. Population size is insignificant, but the percentage of poor population has a significant negative effect on food security. In contrast, increased rice and corn production unexpectedly show a significant negative effect, indicating the importance of improving food distribution and market mechanisms.
The practical implications include poverty alleviation through productive social assistance programs integrated with community economic empowerment. The government also needs to develop more comprehensive farmer welfare indicators (covering net income, nutritional consumption, and investment) as the basis for staple food pricing, subsidies, and social protection policies. Moreover, the demographic bonus should be utilized by creating jobs in the agricultural sector (including urban farming and agro-industry). Finally, the government should consider developing regional food hubs integrating production, storage, processing, and distribution to reduce interregional disparities and minimize post-harvest losses.