Artikelilmiahs

Menampilkan 47.741-47.760 dari 48.725 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4774151130G1A022002Karakteristik Limfoma Maligna Non-Hodgkin Ekstranodal Traktus Digestivus Inferior Dan Mesenterium Di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Tahun 2022–2024
Latar Belakang: Limfoma non-Hodgkin (LNH) merupakan salah satu neoplasma limfoid yang sering ditemukan dengan manifestasi ekstranodal, termasuk pada saluran cerna dan mesenterium. Diagnosis LNH memerlukan integrasi data klinis, histopatologi, serta imunohistokimia (IHK). Data mengenai karakteristik klinis dan profil IHK LNH pada traktus digestivus inferior dan mesenterium di Indonesia masih terbatas.
Tujuan: Mengetahui karakteristik klinis dan profil IHK (CD20 dan CD3) pasien LNH pada traktus digestivus inferior dan mesenterium di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo periode 2022–2024.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif menggunakan data sekunder dari rekam medis dan laporan pemeriksaan patologi anatomi. Populasi penelitian adalah seluruh pasien dengan diagnosis LNH pada traktus digestivus inferior atau mesenterium yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data yang dikumpulkan meliputi usia, jenis kelamin, tempat tinggal, lokasi tumor, serta hasil pemeriksaan IHK (CD20 dan CD3). Analisis dilakukan secara deskriptif univariat dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan persentase.
Hasil: Ditemukan sejumlah 40 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Mayoritas pasien berada pada kelompok usia 40-60 tahun dengan proporsi jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki. Lokasi tumor paling banyak ditemukan pada caecum dan mesenterium. Pasien umumnya bertempat tinggal di wilayah eks-karesidenan Banyumas. Pemeriksaan IHK menunjukkan bahwa ekspresi CD20 positif lebih dominan dibandingkan ekspresi CD3.
Kesimpulan: LNH pada traktus digestivus inferior dan mesenterium di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo periode 2022–2024 paling sering ditemukan pada kelompok usia 40-60 tahun dengan jenis kelamin laki-laki, dengan lokasi terbanyak di caecum. Pasien paling banyak bertempat tinggal di Banyumas. Ekspresi IHK didominasi oleh CD20, yang menegaskan bahwa mayoritas kasus berasal dari sel B.
Background: Non-Hodgkin lymphoma (NHL) is one of the most common lymphoid neoplasms, with frequent extranodal manifestations, including the gastrointestinal tract and mesentery. The diagnosis of NHL requires integration of clinical, histopathological, and immunohistochemical (IHC) findings. However, data on the clinical characteristics and IHC profiles of NHL in the lower gastrointestinal tract and mesentery in Indonesia remain limited.
Objective: To describe the clinical characteristics and immunohistochemical (CD20 and CD3) profiles of patients with NHL of the lower gastrointestinal tract and mesentery at RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo during the period 2022–2024.
Methods: This was a retrospective descriptive study using secondary data obtained from medical records and pathology reports. The study population included all patients diagnosed with NHL of the lower gastrointestinal tract or mesentery who met the inclusion and exclusion criteria. Data collected included age, sex, place of residence, tumor location, and IHC expression of CD20 and CD3. Data were analyzed descriptively and presented as frequency distributions and percentages.
Results: A total of 40 patients met the inclusion criteria. The majority of patients were in the 40-60 years age group, with male predominance. The most common tumor location was caecum and mesenterium, while there was no NHL located in the appendix. The distribution of cases showed that the majority originated from districts within the former Banyumas Residency and its surrounding areas. IHC analysis revealed that CD20 positivity was predominant, with a small proportion of CD3 positivity.
Conclusion: NHL of the lower gastrointestinal tract and mesentery at RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo most frequently occurred in 40-60 years, males are more dominant than women, with the highest tumor distribution in the mesentery. Most patients reside in Banyumas. The IHC profile was dominated by CD20 positivity, indicating that most cases originated from B-cells.
4774250561C1B022098THE MEDIATING ROLE OF WORK-LIFE BALANCE IN THE RELATIONSHIP
BETWEEN WORKLOAD AND EMPLOYEE PRODUCTIVITY
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh beban kerja terhadap produktivitas karyawan dengan work-life balance (WLB) sebagai variabel mediasi. Penelitian dilakukan pada dua perusahaan—PT. Refo Digital Creative dan PT. Uba Uhud International—yang keduanya menghadapi tantangan terkait tingginya beban kerja dan ketidakseimbangan kehidupan kerja. Sebanyak 82 responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria tertentu. Data dikumpulkan melalui kuesioner tertutup dengan skala Likert dan dianalisis menggunakan regresi linier sederhana serta uji Sobel untuk analisis mediasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa beban kerja berpengaruh negatif signifikan terhadap produktivitas karyawan, karena beban kerja yang berlebihan menimbulkan stres fisik maupun mental yang menurunkan kinerja dan motivasi. Beban kerja juga berdampak negatif terhadap WLB dengan mengurangi waktu istirahat dan kualitas kehidupan pribadi. Sebaliknya, WLB berpengaruh positif terhadap produktivitas, karena karyawan dengan kondisi kehidupan kerja yang seimbang cenderung lebih efisien, termotivasi, dan akurat dalam menyelesaikan tugas. WLB terbukti sepenuhnya memediasi hubungan antara beban kerja dan produktivitas.
Temuan ini menekankan pentingnya pengelolaan beban kerja yang proporsional serta dukungan organisasi terhadap kesejahteraan karyawan. Perusahaan didorong untuk menerapkan kebijakan seperti jam kerja fleksibel, program kesehatan mental, dan lingkungan kerja yang suportif. Penelitian ini memperkuat Job Demands-Resources (JD-R) model, dengan menekankan peran krusial keseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan sumber daya yang memadai, seperti WLB, dalam meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan karyawan.
This study aims to examine the effect of workload on employee productivity with work-life balance (WLB) as a
mediating variable. The research was conducted on two companies—PT. Refo Digital Creative and PT. Uba
Uhud International—both of which face challenges related to high workload and work-life imbalance. A total
of 82 respondents were selected using purposive sampling based on specific criteria. Data were collected
through a closed-ended questionnaire using a Likert scale and analyzed using simple linear regression and the
Sobel test for mediation analysis. The results indicate that workload has a significant negative effect on
employee productivity, as excessive workload leads to physical and mental stress that reduces performance
and motivation. Workload also negatively affects WLB by reducing rest time and personal life quality.
Conversely, WLB has a positive effect on productivity, as employees with a balanced work-life condition tend
to be more efficient, motivated, and accurate in task completion. WLB is proven to fully mediate the
relationship between workload and productivity. These findings highlight the importance of proportional
workload management and organizational support for employee well-being. Companies are encouraged to
implement policies such as flexible work hours, mental health programs, and supportive environments. The
study reinforces the Job Demands-Resources (JD-R) model, emphasizing the critical role of balancing job
demands with adequate resources like WLB in enhancing productivity and employee well-being.
4774351127G1A022070Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Adas (Foeniculum vulgare Mill.) Terhadap Persentase Jenis Leukosit Mencit Yang Diinfeksi Plasmodium bergheiLatar Belakang : Malaria merupakan penyakit infeksi akibat parasit Plasmodium yang masih menjadi masalah kesehatan global seiring meningkatnya resistensi terhadap obat malaria. Infeksi malaria menyebabkan perubahan pada berbagai jenis leukosit sebagai respon tubuh. Persentase jenis leukosit dapat menggambarkan respon imun tubuh selama infeksi dan menilai efektivitas kandidat obat. Pengembangan pengobatan berbasis bahan alam menjadi salah satu alternatif pengobatan malaria. Daun adas (F.vulgare Mill.) berpotensi sebagai antimalaria dan dapat memengaruhi perubahan persentase jenis leukosit. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun adas (F.vulgare Mill.) terhadap persentase leukosit pada mencit yang diinfeksi P.berghei. Metode : Penelitian eksperimental desain pretest-postest with control group menggunakan 40 mencit jantan. Mencit dibagi dalam dua kelompok kontrol sehat (DMSO 3%, ekstrak 400 mg/kgBB), satu kontrol sakit (P.berghei tanpa pengobatan), lima perlakuan (50, 100, 200, 400, 800 mg/kgBB). Infeksi dilakukan secara intraperitoneal, diikuti perlakuan ekstrak per oral selama 4 hari. Persentase jenis leukosit dihitung saat sebelum dan setelah perlakuan melalui apusan darah dengan pewarnaan Giemsa. Data dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis dan post hoc Dunn-Bonferonni. Hasil : Pemberian ekstrak daun adas menunjukkan peningkatan persentase neutrofil pada hari ke-2 dan ke-4, peningkatan persentase monosit pada hari ke-3, dan penurunan persentase limfosit pada hari ke-2 dan ke-4 dalam rentang nilai normal. Persentase eosinofil dan basofil tidak menunjukkan perubahan signifikan. Kesimpulan : Ekstrak daun adas memengaruhi persentase neutrofil pada dosis 800 mg/kgBB, persentase monosit pada dosis 200 mg/kgBB, dan persentase limfosit pada dosis 800 mg/kgBB dalam rentang nilai normal pada mencit yang diinfeksi P.berghei.Background : Malaria is an infectious disease caused by Plasmodium parasites and remains a global health problem due to increasing resistance to antimalarial drugs. Malaria infection causes changes in various types of leukocytes as a body response. The differential leukocyte count can reflect the body’s condition during infection and evaluate the effect of a candidate drug. Development of herbal-based treatments is one of the alternative approaches. Fennel leaves (F.vulgare Mill.) have potential as antimalarial and may influence changes in leukocyte percentages during malaria infection. Objective : This study aimed to evaluate the effect of fennel leaf extract (F. vulgare Mill.) on leukocyte percentages in mice infected with P.berghei. Methods : This experimental study used a pretest–posttest control group design involving 40 male mice. The mice were divided into two healthy control groups (3% DMSO and extract 400 mg/kgBW), one infected control group (P. berghei without treatment), and five treatment groups receiving extract doses of 50, 100, 200, 400, and 800 mg/kgBW. Infection was induced intraperitoneally, followed by oral extract administration for four days. Differential leukocyte percentages were assessed before and after treatment using Giemsa-stained blood smears. Data were analyzed using the Kruskal–Wallis test followed by Dunn–Bonferroni post hoc analysis. Results : Fennel leaf extract shows an increase in neutrophil percentages on day 2 and 4, an increase in monocytes on day 3, and a decrease in lymphocytes on day 2 and 4 within normal ranges. Eosinophil and basophil percentages show no significant changes. Conclusion : Fennel leaf extract affects neutrophil (800 mg/kgBW), monocyte (200 mg/kgBW), and lymphocyte (800 mg/kgBW) percentages within normal ranges in mice infected with P. berghei.
4774451132G1A022065PERBANDINGAN NILAI PETA KONSEP ANTAR JENIS GAYA BELAJAR MODEL VISUALAURAL-READ/WRITE-KINESTHETIC (VARK)Latar Belakang: Peta konsep merupakan strategi belajar visual yang telah banyak digunakan dalam
bidang pendidikan kedokteran karena kemampuannya dalam mendorong pola pikir yang terstruktur serta
meningkatkan penalaran klinis. Meskipun demikian, penyusunan peta konsep tampaknya tidak konsisten
dan makin dilupakan oleh mahasiswa. Berdasarkan kerangka presage-process-product (3P), nilai peta
konsep (faktor product) dipengaruhi secara langsung oleh strategi belajar penyusunan peta konsep
(faktor process), serta dipengaruhi secara tidak langsung oleh gaya belajar VARK (faktor presage).
Kecenderungan semakin jarangnya strategi belajar ini digunakan diduga berkaitan dengan
ketidaksesuaian antara gaya belajar mahasiswa dengan strategi belajar tersebut, yang pada akhirnya
dapat menurunkan hasil belajar. Tujuan: Mengetahui apakah terdapat perbedaan bermakna pada nilai
peta konsep mahasiswa Jurusan Kedokteran Umum FK Unsoed semester 2 TA 2024/2025 berdasarkan
berbagai jenis gaya belajar model VARK. Metode: Rancangan cross sectional dilakukan pada 80
mahasiswa Jurusan Kedokteran Umum FK Unsoed semester 2 TA 2024/2025 yang dipilih melalui total
sampling. Menggunakan data sekunder berupa data gaya belajar yang diambil menggunakan kuesioner
VARK berbahasa Indonesia versi 8.01 dan data nilai peta konsep dari Ketua Tim Peneliti Payung (Hibah
BLU LPPM Unsoed Skim Riset Dasar Unsoed Tahun Anggaran 2025). Uji hipotesis menggunakan
Kruskal-Wallis. Hasil: Gaya belajar dengan proporsi tertinggi adalah quadmodal VARK (35%). Rerata
nilai peta konsep adalah 277,50, dengan rerata tertinggi terdapat pada gaya belajar VARK (321,32),
sedangkan rerata terendah terdapat pada gaya belajar RK (224,67). Penelitian ini tidak signifikan (p =
0,791). Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan bermakna nilai peta konsep antar berbagai jenis gaya
belajar model VARK pada mahasiswa semester 2 TA 2024/2025 Jurusan Kedokteran Umum FK Unsoed
Background: Concept mapping is a visual learning strategy that has been widely used in medical
education due to its ability to promote structured thinking and enhance clinical reasoning. However, the
consistent use of concept mapping among students appears to be declining. Based on the presage–
process–product (3P) framework, concept-map scores (product factor) are directly influenced by the
concept-mapping learning strategy (process factor) and indirectly influenced by VARK learning styles
(presage factor). The decreasing use of this strategy is suspected to be associated with a mismatch
between students’ learning styles and the strategy itself, which may ultimately reduce learning outcomes.
Objective: To determine whether there are significant differences in concept-map scores among firstyear medical students at the Faculty of Medicine, Jenderal Soedirman University, based on different
VARK learning styles. Methods: A cross-sectional study was conducted involving 80 first-year medical
students selected through total sampling. Secondary data were used, consisting of learning-style
information measured using the Indonesian version of the VARK Questionnaire (version 8.01) and
concept-map scores obtained from the Principal Investigator of the parent research project (BLU LPPM
Unsoed Basic Research Grant, Fiscal Year 2025). The Kruskal–Wallis test was used for hypothesis
testing. Results: The most prevalent learning style was quadmodal VARK (35%). The mean conceptmap score was 277.50, with the highest mean score found in the VARK group (321.32), and the lowest
in the RK group (224.67). The study showed no statistically significant difference (p = 0.791).
Conclusion: There was no significant difference in concept-map scores across the various VARK
learning styles among first-year medical students at the Faculty of Medicine, Jenderal Soedirman
University.
4774551129G1A022122PREVALENSI DAN FAKTOR RISIKO NEUROPATI DIABETIK
PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN DURASI PENYAKIT
LEBIH DARI LIMA TAHUN DI KLINIK DIABETES MELITUS
RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO
Latar Belakang: Diabetes Melitus Tipe 2 merupakan penyakit kronis yang sering
menimbulkan komplikasi mikrovaskuler, salah satunya neuropati diabetik yang
menyebabkan gangguan fungsi saraf perifer, nyeri, serta penurunan kualitas hidup.
Risiko neuropati diabetik meningkat pada pasien dengan durasi penyakit lebih dari
lima tahun. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menentukan prevalensi neuropati
diabetik serta mengidentifikasi faktor risiko yang berperan, meliputi status gizi,
riwayat merokok, dislipidemia, hipertensi, dan gula darah tidak terkontrol pada
pasien DM Tipe 2 dengan durasi penyakit > 5 tahun di Klinik Diabetes Melitus
RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Metode Penelitian: Penelitian ini
menggunakan analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi
penelitian yaitu pasien DM Tipe 2 dengan durasi penyakit >5 tahun, dengan jumlah
sampel 141 pasien. Analisis data dilakukan menggunakan uji bivariat chi-square
dan analisis logistik berganda multivariat. Hasil: Penelitian ini menunjukkan
prevalensi neuropati diabetik yaitu 80%. Terdapat hubungan signifikan (p<0,05)
antara hipertensi dengan neuropati diabetik. Sementara itu, status gizi, dislipidemia,
riwayat merokok dan gula darah tidak terkontrol tidak menunjukkan hubungan
bermakna (p>0,05). Analisis multivariat mengidentifikasi hipertensi sebagai faktor
risiko yang paling berkontribusi terhadap terjadinya neuropati diabetik.
Kesimpulan: Prevalensi neuropati diabetik pada pasien DM Tipe 2 dengan durasi
penyakit >5 tahun di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo tergolong sangat tinggi,
dan faktor risiko seperti hipertensi memiliki peran signifikan dalam perkembangan
neuropati diabetik.
Background: Type 2 diabetes mellitus is a chronic disease frequently associated
with microvascular complications, one of which is diabetic neuropathy, leading to
peripheral nerve dysfunction, pain, and reduced quality of life. The risk of diabetic
neuropathy increases in patients with a disease duration of more than five years.
Objective: This study aimed to determine the prevalence of diabetic neuropathy and
to identify associated risk factors, including nutritional status, smoking history,
dyslipidemia, hypertension, and uncontrolled blood glucose levels, among patients
with type 2 diabetes mellitus with a disease duration of more than five years at the
Diabetes Clinic of Prof. Dr. Margono Soekarjo Regional General Hospital.
Methods: This study employed an observational analytic design with a cross
sectional approach. The study population consisted of patients with type 2 diabetes
mellitus with a disease duration of more than five years, involving a total sample of
141 patients. Data were analyzed using the chi-square test for bivariate analysis
and multivariate logistic regression analysis. Results: The results showed that the
prevalence of diabetic neuropathy was 80%. A significant association (p < 0.05)
was found between hypertension and diabetic neuropathy. In contrast, nutritional
status, dyslipidemia, smoking history, and uncontrolled blood glucose levels were
not significantly associated with diabetic neuropathy (p > 0.05). Multivariate
analysis identified hypertension as the most contributing risk factor to the
occurrence of diabetic neuropathy. Conclusion: The prevalence of diabetic
neuropathy among patients with type 2 diabetes mellitus with a disease duration of
more than five years at Prof. Dr. Margono Soekarjo Regional General Hospital
was very high, and hypertension played a significant role in the development of
diabetic neuropathy.
4774651133G1A022090Perbandingan Nilai Ujian Lisan Terstruktur Berdasarkan Variasi Gaya Belajar Visual-Aural-Read/Write-Kinesthetic (VARK): Studi pada Mahasiswa Jurusan Kedokteran Umum Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal SoedirmanLatar Belakang: Ujian lisan terstruktur merupakan metode penilaian yang diterapkan untuk memberikan lebih banyak informasi terkait pemahaman mahasiswa kedokteran. Tingkat kelulusan ujian lisan terstruktur di FK Unsoed masih tergolong rendah. Berdasarkan model pembelajaran 3P, nilai ujian lisan terstruktur (faktor product) dipengaruhi secara langsung oleh strategi belajar mahasiswa (faktor process), serta dipengaruhi secara tidak langsung oleh faktor individual presage, seperti gaya belajar VARK. Ketidaksesuaian antara strategi dan gaya belajar merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi capaian akademik, karena gaya belajar memengaruhi pemilihan strategi belajar yang mendukung kebiasaan belajar efektif dan capaian hasil belajar yang optimal. Tujuan: Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan bermakna pada nilai ujian lisan terstruktur mahasiswa Jurusan Kedokteran Umum FK Unsoed Angkatan 2024 berdasarkan variasi gaya belajar VARK. Metode: Rancangan cross sectional yang dilakukan pada 145 mahasiswa Jurusan Kedokteran Umum FK Unsoed Angkatan 2024 yang dipilih melalui total sampling. Menggunakan data sekunder berupa data gaya belajar yang diambil menggunakan kuesioner VARK berbahasa Indonesia versi 8.01 dan data nilai ujian lisan terstruktur dari Bagian Pendidikan FK Unsoed. Uji hipotesis menggunakan Kruskal-Wallis. Hasil: Gaya belajar dengan proporsi tertinggi adalah quadmodal VARK (32,4%). Rerata nilai ujian lisan terstruktur adalah 50,10 (D), dengan proporsi terbesar terdapat pada nilai E (40,7%), sedangkan proporsi terkecil terdapat pada nilai A (6,9%). Penelitian ini tidak signifikan secara statistik (p = 0,910 dan p = 0,918). Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan bermakna nilai ujian lisan terstruktur berdasarkan variasi modalitas (p = 0,910) dan preferensi (p = 0,918) gaya belajar VARK pada mahasiswa Jurusan Kedokteran Umum FK Unsoed Angkatan 2024Background: Structured oral examinations is an assessment method used to provide more comprehensive information about medical students’ understanding. The pass rates of structured oral examinations at FK Unsoed remain relatively low. Based on the 3P learning model, structured oral examination score (product factor) is directly influenced by students’ learning strategy (process factor) and indirectly influenced by individual presage factors, such as VARK learning styles. A mismatch between learning strategies and learning styles may affect academic achievement, as learning styles guide the selection of strategies that support effective study habits and optimal learning outcomes. Objective: To investigate whether differences exist in structured oral examination scores among first-year medical students at the Faculty of Medicine, Jenderal Soedirman University, based on variations in VARK learning styles. Methods: A cross-sectional study was conducted among 145 first-year medical students selected through total sampling. Secondary data were used, including learning style classifications obtained through the Indonesian version of the 8.01 VARK questionnaire and structured oral examination scores obtained from the Education Department of FK Unsoed. The Kruskal–Wallis test was employed for hypothesis testing. Results: The most common learning style was quadmodal VARK (32.4%). The mean structured oral examination score was 50.10 (D), with the highest proportion in grade E (40.7%) and the lowest in grade A (6.9%). This study showed no significant differences in scores based on VARK learning style variations (p = 0.910 and p = 0.918). Conclusion: There is no significant differences in structured oral examination scores based on VARK learning style modalities (p = 0.910) or learning style preferences (p = 0.918) among first-year medical students at the Faculty of Medicine, Jenderal Soedirman University
4774751134G1A022036Korelasi antara Nilai Penugasan Peta Konsep dengan Nilai Ujian Lisan Terstruktur : Studi Kuantitatif pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal SoedirmanLatar Belakang : Ujian lisan terstruktur merupakan bentuk penilaian sumatif yang menuntut kemampuan berpikir tingkat tinggi, namun rerata nilai mahasiswa pada beberapa blok sebelumnya masih berada di bawah batas kelulusan. Salah satu strategi belajar yang diasumsikan mendukung kesiapan ujian lisan adalah penyusunan peta konsep dalam proses diskusi kelompok Problem-Based Learning. Pembuatan peta konsep membantu mahasiswa mengorganisasikan dan membentuk pengetahuan mengenai suatu subjek, yang mengarah pada pembelajaran bermakna.
Tujuan : Untuk mengetahui adanya korelasi bermakna antara nilai penugasan peta konsep dengan nilai ujian lisan terstruktur pada mahasiswa semester 2 Jurusan Kedokteran Umum FK Unsoed Tahun Ajaran 2024/2025.
Metode : Rancangan cross sectional yang dilakukan pada 81 mahasiswa Jurusan Kedokteran Umum FK Unsoed Angkatan 2024 dipilih melalui total sampling. Penelitian menggunakan data sekunder berupa data nilai penugasan peta konsep dan data nilai ujian lisan terstruktur dari Bagian Pendidikan FK Unsoed. Analisis meliputi statistik deskriptif dan uji korelasi Spearman.
Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen struktural (p=0,022), komponen relasional (p=0,008), dan nilai total peta konsep (p=0,019) memiliki korelasi bermakna dengan nilai ujian lisan terstruktur, dengan kekuatan hubungan yang lemah. Temuan ini menunjukkan bahwa nilai peta konsep cenderung meningkat seiring meningkatnya nilai ujian lisan, meskipun hubungan tersebut tidak konsisten.
Kesimpulan : Terdapat korelasi bermakna antara nilai penugasan peta konsep dengan nilai ujian lisan terstruktur pada mahasiswa semester 2 Jurusan Kedokteran Umum (KU) FK Unsoed Tahun Ajaran 2024/2025 dengan kekuatan korelasi lemah.
Background : Structured oral examinations are a form of summative assessment that require higher-order thinking skills; however, the average student scores in several previous blocks were still below the passing threshold. One learning strategy assumed to support readiness for oral examinations is concept map construction during Problem-Based Learning group discussions. Concept map development helps students organize and structure their knowledge of a subject, leading to meaningful learning.
Objective : This study aimed to determine whether there was a significant correlation between concept map assignment scores and structured oral examination scores among second-semester medical students of the Faculty of Medicine, Universitas Jenderal Soedirman, Academic Year 2024/2025.
Methods : A cross-sectional study design was conducted involving 81 medical students from the 2024 cohort, selected through total sampling. The study used secondary data consisting of concept map assignment scores and structured oral examination scores obtained from the Education Department of the Faculty of Medicine, Universitas Jenderal Soedirman. Data analysis included descriptive statistics and Spearman correlation tests.
Results : The results show that the structural component (p = 0.022), relational component (p = 0.008), and total concept map score (p = 0.019) have a significant correlation with structured oral examination scores, with weak correlation strength. These findings indicate that concept map scores tend to increase along with oral examination scores, although the relationship is not consistent.
Conclusion : There is a significant correlation between concept map assignment scores and structured oral examination scores among second-semester medical students of the Faculty of Medicine, Universitas Jenderal Soedirman, Academic Year 2024/2025, with weak correlation strength.
4774851131G1A022015HUBUNGAN EKSPRESI Ki-67 TERHADAP TUMOR INFILTRATING LYMPHOCYTES (TILs) PADA PASIEN KARSINOMA
MAMMAE SUBTIPE LUMINAL B HER2 NEGATIVE
DI RSUD PROF. Dr. MARGONO SOEKARJO


Latar Belakang: Karsinoma mammae subtipe luminal B HER2-negative memiliki proliferasi tinggi yang dapat dinilai melalui ekspresi Ki-67 dan respons imun tumor yang dapat dilihat dari Tumor Infiltrating Lymphocytes (TILs). Hubungan keduanya masih belum konsisten.Tujuan: Mengetahui hubungan ekspresi Ki-67 terhadap densitas TILs pada pasien karsinoma mammae subtipe luminal B HER2-negative di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo.Metodologi: Penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional menggunakan total sampling pada data rekam medis periode 2023–2024. Data Ki-67 diperoleh dari imunohistokimia dan densitas TILs dari histopatologi. Analisis menggunakan uji Chi-Square.Hasil: Sebanyak 89 sampel memenuhi kriteria inklusi. Ekspresi Ki-67 tinggi ditemukan pada 61,8% sampel dan TILs rendah pada 43,8% sampel. Uji Chi-Square menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara ekspresi Ki-67 dan densitas TILs (p = 0,410).Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan signifikan antara ekspresi Ki-67 dan densitas TILs pada karsinoma mammae subtipe luminal B HER2-negative.Background: Luminal B HER2-negative breast cancer is characterized by high proliferation, commonly assessed by Ki-67 expression, while tumor immune response can be evaluated through tumor-infiltrating lymphocytes (TILs). The relationship between Ki-67 and TILs remains inconsistent.Objective: To determine the association between Ki-67 expression and TILs density in luminal B HER2-negative breast cancer patients at RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo.Methods: This observational analytic study used a cross-sectional design with total sampling of medical records from 2023–2024. Ki-67 expression was obtained from immunohistochemistry, and TILs density was assessed from histopathological examination. Data were analyzed using the Chi-Square test.Results: A total of 89 samples met the inclusion criteria. High Ki-67 expression was found in 61.8% of cases, while low TILs density was observed in 43.8%. Chi-Square analysis showed no significant association between Ki-67 expression and TILs density (p = 0.410).Conclusion: There was no significant association between Ki-67 expression and TILs density in luminal B HER2-negative breast cancer patients.
4774951135C4C024018LAPORAN STUDI INDEPENDEN PERHITUNGAN ANALISIS VARIANCE UNTUK ROOM DEPARTMENT DAN FOOD & BEVERAGE DEPARTMENT HOTEL EAGLE WONOSOBOIndustri perhotelan menuntut efektivitas manajemen keuangan yang tinggi, di mana penyusunan anggaran (budgeting) berfungsi sebagai alat perencanaan sekaligus pengendalian kinerja. Studi ini bertujuan untuk menganalisis variance (selisih) antara anggaran dan realisasi pada dua departemen utama, yaitu Rooms Department dan Food & Beverage Department di Hotel Eagle Wonosobo, dengan mengacu pada standar internasional Uniform System of Accounts for the Lodging Industry (USALI).

Metode yang digunakan dalam studi independen ini meliputi observasi lapangan, wawancara dengan manajemen, serta analisis data laporan keuangan hotel. Data anggaran dan realisasi diklasifikasikan dan dibandingkan menggunakan format pelaporan standar USALI untuk mengidentifikasi efisiensi operasional.

Hasil analisis menunjukkan bahwa penerapan prinsip USALI di Hotel Eagle Wonosobo sudah berjalan baik dalam hal pemisahan laporan per departemen. Namun, evaluasi kinerja menunjukkan adanya Unfavorable Variance (selisih merugikan) dengan total sebesar Rp 245 juta pada kedua departemen tersebut. Secara spesifik, Rooms Department mengalami penurunan pendapatan sebesar 9,24% dari target akibat tingkat hunian yang rendah, meskipun berhasil melakukan efisiensi biaya tenaga kerja sebesar 13,86%. Penyebab utama varians negatif meliputi inefisiensi pengendalian biaya makanan (food cost), tingginya biaya lembur (overtime), serta strategi revenue management yang belum optimal menghadapi fluktuasi pasar.

Sebagai langkah perbaikan, direkomendasikan agar manajemen meningkatkan strategi harga dinamis (dynamic pricing) dan promosi digital, memperketat standar persentase food cost, serta menerapkan sistem cross-training karyawan untuk mengurangi biaya lembur.
The hospitality industry demands high effectiveness in financial management, where budgeting serves as both a planning tool and a performance control mechanism. This study aims to analyze the variance between the budget and realization in two main departments, the Rooms Department and the Food & Beverage Department at Eagle Hotel Wonosobo, by referring to the international standard of the Uniform System of Accounts for the Lodging Industry (USALI).

The methods used in this independent study include field observations, interviews with management, and analysis of hotel financial data. Budget and realization data were classified and compared using the USALI standard reporting format to identify operational efficiency.



The analysis results indicate that the application of USALI principles at Eagle Hotel Wonosobo has been well implemented regarding the separation of departmental reports. However, performance evaluation reveals an Unfavorable Variance totaling IDR 245 million across both departments. Specifically, the Rooms Department experienced a revenue decline of 9.24% from the target due to lower occupancy rates, although it successfully achieved labor cost efficiency of 13.86%. The primary causes of the negative variance include inefficiencies in food cost control, increased overtime costs, and suboptimal revenue management strategies in facing market fluctuations.

As corrective measures, it is recommended that management enhance dynamic pricing strategies and digital promotions, enforce stricter food cost percentage standards, and implement employee cross-training systems to reduce overtime costs.
4775051137G1A022034EFEK PEMBERIAN KEFIR SUSU KAMBING BERBAGAI DOSIS TERHADAP KADAR C-REACTIVE PROTEIN (CRP) PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) MODEL DIABETES MELITUS TIPE 2Latar belakang: Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) dapat disertai inflamasi yang ditandai dengan peningkatan kadar CRP. Tujuan: Menganalisis efek pemberian kefir susu kambing berbagai dosis terhadap kadar C-Reactive Protein (CRP) pada tikus Wistar model DMT2. Metode: Penelitian ini menggunakan metode true experimental dengan rancangan posttest only with control group design. Tiga puluh ekor tikus dibagi menjadi lima kelompok secara acak. Kelompok A sebagai kontrol sehat, kelompok B sebagai kontrol sakit dengan induksi HFD-STZ, kelompok perlakuan C, D, E dengan induksi HFD-STZ yang diberi kefir susu kambing selama 28 hari dengan dosis 1,05, 2,1, dan 4,2 mL/200gBB/hari. Hasil: Rerata kadar CRP (ng/mL) pada setiap kelompok tikus, yaitu kelompok A = 3,64±0,38; kelompok B = 4,28±0,37; kelompok C = 4,57±0,53; kelompok D = 3,81±0,55; kelompok E = 3,80±0,50. Hasil uji parametrik One Way ANOVA didapatkan nilai p = 0,031 yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kadar CRP yang signifikan antar kelompok. Uji Post Hoc Tukey HSD menunjukkan perbedaan signifikan hanya ditemukan antara kelompok A dengan C. Tidak terdapat perbedaan bermakna antara kelompok A dengan kelompok perlakuan dosis 2,1 mL (D) maupun dosis 4,2 mL (E). Kesimpulan: Kefir susu kambing tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kadar CRP tikus putih Galur Wistar (Rattus norvegicus) model DMT2. Namun, dosis 2,1 mL dan 4,2 mL per 200 gBB/hari menunjukkan tren perbaikan kadar CRP yang lebih mendekati kelompok sehat dibandingkan kelompok sakitBackground: Type 2 diabetes mellitus (T2DM) may be accompanied by liver dysfunction reflected by altered transaminase enzymes. Objective: To analyze the effects of different doses of goat milk kefir on alanine aminotransferase (ALT) and aspartate aminotransferase (AST) levels in a T2DM Wistar rat model. Methods: This study used a true experimental method with a posttest-only control group design. Thirty male Wistar rats were randomly divided into five groups: healthy control (A), diabetic control induced by HFD-STZ (B), and treatment groups (C, D, E) induced with HFD-STZ and administered goat milk kefir at doses of 1.05, 2.1, and 4.2 mL/200 gBW/day for 28 days. Results: Mean CRP levels (ng/mL) in each group were as follows: A = 3.64 ± 0.38, B = 4.28 ± 0.37, C = 4.57 ± 0.53, D = 3.81 ± 0.55, and E = 3.80 ± 0.50. One-Way ANOVA showed a significant difference among groups (p = 0.031). Post Hoc Tukey HSD test revealed a significant difference only between group A and group C (p < 0.05). No significant differences were found between the diabetic control group (B) and treatment groups D or E (p > 0.05), although groups D and E demonstrated a trend of decreased CRP levels approaching the healthy control group. Conclusion: Goat milk kefir did not significantly reduce CRP levels in Wistar rats (Rattus norvegicus) with T2DM. However, kefir at doses of 2.1 and 4.2 mL/200 gBW/day showed a non-significant trend toward improving CRP levels compared to the diabetic control group
4775151142C1A022099DETERMINAN PREFERENSI KERJA GENERASI Z DI SEKTOR EKONOMI KREATIF BERKELANJUTAN: STUDI PADA SUBSEKTOR BATIK PEKALONGANBatik merupakan salah satu subsektor ekonomi kreatif yang memiliki peran penting bagi perekonomian di Indonesia, terutama bagi perekonomian lokal Kota Pekalongan. Namun, saat ini pekerja di industri batik mengalami penurunan akibat minimnya minat generasi muda terutama Generasi Z untuk bekerja di industri batik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang mempengaruhi preferensi kerja Generasi Z pada subsektor batik Kota Pekalongan dengan menguji variabel ekspektasi gaji, tingkat pendidikan, lingkungan kerja suportif, dan fleksibilitas jam kerja. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif melalui survei kuesioner kepada 156 responden. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji crosstabss dan uji regresi linear berganda untuk menguji pengaruh ekspektasi gaji, tingkat pendidikan, lingkungan kerja suportif, dan fleksibilitas jam kerja terhadap preferensi kerja. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekspektasi gaji, tingkat pendidikan, lingkungan kerja suportif, dan fleksibilitas jam kerja berpengaruh positif signifikan terhadap preferensi kerja Generasi Z terhadap subsektor batik. Dengan demikian, pemerintah diharapkan dapat mendorong perkembangan ekonomi kreatif terutama batik dengan menyusun kebijakan yang mendukung peningkatan kesejahteraan pekerja, meningkatkan kualitas pendidikan terutama pendidikan yang berkaitan dengan kekayaan budaya lokal seperti batik, meningkatkan standar lingkungan kerja, dan meningkatkan standar jam kerja yang dapat meningkatkan produktivitas pekerja sehingga dapat menarik kembali minat Generasi Z untuk bekerja di subsektor batik.Batik is a part of the creative economy subsectors that has an important role in the Indonesian economy, especially for the local economy of Pekalongan City. However, currently workers in the batik industry have decreased due to the lack of interest of the younger generation, especially Generation Z to work in the batik industry. This study aims to analyze the factors that influence Generation Z's work preferences in the batik subsector of Pekalongan City by examining the variables of salary expectations, education level, supportive work environment, and flexibility of working hours. This study uses quantitative methods through a questionnaire survey to 156 respondents. Data analysis in this study used crosstabss test and multiple linear regression test to analyze the effect of salary expectations, education level, supportive work environment, and flexibility of working hours on work preferences. The results of this study found that salary expectations, education level, supportive work environment, and flexibility of working hours have a significant positive effect on Generation Z's work preference in the batik subsector. Therefore, the government is expected to encourage the development of the creative economy, especially batik, by making regulations that support the improvement of workers' welfare, providing technology-based training, and creating a modern and inclusive work ecosystem so as to attract Generation Z to work in the batik subsector.
4775251143G1A022113Pengaruh Paparan Sub-Kronik Timbal Asetat (Pb)
Terhadap Kadar Glutathion (GSH) Pada Hepar Tikus Wistar Jantan (Rattus norvegicus).
Pendahuluan: Pencemaran logam berat saat ini menjadi permasalahan yang cukup parah. Timbal merupakan bahan kimia berbahaya yang mengganggu ekosistem makhluk hidup dan memicu stres oksidatif melalui pembentukan reactive oxygen species (ROS). Antioksidan diperlukan untuk mengurangi stres oksidatif. Salah satu antioksidan yang dibutuhkan adalah glutathion (GSH). Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh paparan sub-kronik timbal asetat (Pb) terhadap kadar glutathion (GSH) pada hepar Tikus Wistar Jantan.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode true experimental dengan rancangan post test only with control group design. Sebanyak 45 ekor tikus jantan dibagi menjadi lima kelompok secara acak dengan dosis (10; 25; 50; 75mg/KgBB/hari) dan tiga subkelompok durasi (35, 40, 45 hari). Paparan timbal asetat diberikan secara oral setiap hari. Pada akhir perlakuan, tikus diterminasi kemudian diukur kadar GSH dengan metode Ellman. Analisis statistik menggunakan Uji One Way ANOVA untuk dosis dan Welch ANOVA untuk durasi.
Hasil: Hasil pengaruh dosis paparan timbal menggunakan uji One Way ANOVA didapatkan p<0.001 (p<0.05). Hasil pengaruh durasi paparan timbal menggunakan Welch ANOVA didapatkan nilai p = 0.793 (p>0.05) untuk kelompok kontrol, kelompok perlakuan 1 nilai p = 0.023, perlakuan 2 nilai p = 0.022, perlakuan 3 nilai p = 0.008, perlakuan 4 nilai p = 0.015 (p<0.05).
Kesimpulan: Paparan timbal dengan berbagai dosis dan durasi memberikan pengaruh signifikan terhadap penurunan kadar GSH hepar pada tikus Wistar Jantan (Rattus norvegicus).
Introduction: Heavy metal pollution is currently a serious problem. Lead is a harmful environmental chemical that disrupts ecosystems of living things and triggers oxidative stress through the formation of reactive oxygen species (ROS). Antioxidants are necessary to reduce oxidative stress. One of the antioxidants needed is glutathione (GSH). The purpose of the study was to determine the effect of sub-chronic exposure to lead acetate (Pb) on glutathione (GSH) levels in the liver of male Wistar rats.
Methods: This study used a true experimental method with a post test only design with control group design. A total of 45 male mice were randomly divided into five groups by dose (10; 25; 50; 75mg/KgBB/day) and three subgroups of duration (35, 40, 45 days). Lead acetate exposure is administered orally daily. At the end of the treatment, the mice were terminated and their GSH levels were measured using the Ellman method. Statistical analysis used the One Way ANOVA Test for dose and Welch ANOVA for duration.
Results: The effect of the dose of lead exposure using the One Way ANOVA test was obtained p<0.001 (p<0.05). The results of the effect of the duration of lead exposure using Welch ANOVA were obtained a value of p = 0.793 (p>0.05) for the control group, treatment group 1 p-value = 0.023, treatment 2 p-value = 0.022, treatment 3 p-value = 0.008, treatment 4 p-value = 0.015 (p<0.05).
Conclusions: Exposure to lead at various doses and durations had a significant effect on the reduction of hepatic GSH levels in male Wistar rats (Rattus norvegicus).
4775351138H1A022097RANCANG BANGUN SISTEM MONITORING PERGESERAN TANAH DENGAN MEMANFAATKAN DIGITAL CALIPER DAN SENSOR KELEMBABAN TANAH PADA SIMULASI MODEL LERENG BUATANTanah longsor merupakan bencana geologi yang sering terjadi di Indonesia dan menimbulkan kerugian besar, mulai dari kerusakan infrastruktur hingga korban jiwa. Infiltrasi air hujan meningkatkan kadar air dalam tanah dan menurunkan kekuatan gesernya, sehingga kestabilan lereng mudah terganggu. Untuk mendukung upaya mitigasi, diperlukan sistem monitoring pergeseran tanah yang sederhana, akurat, dan dapat diimplementasikan pada skala laboratorium maupun lapangan. Penelitian ini mengembangkan prototipe instrumen monitoring berbasis digital caliper yang dimodifikasi sebagai linear encoder guna mengukur displacement translasi, serta sensor kelembaban tanah resistif untuk memantau dinamika kadar air akibat infiltrasi. Sistem terdiri dari dua unit, yaitu alat utama dan pasak sensor, yang diintegrasikan menggunakan protocol MQTT menggunakan mikrokontroler ESP8266 dan ESP32 C3. System utama dilengkapi modul RTC, OLED, SD card, dan sistem pasak dilengkapi sensor MPU6050 untuk memantau orientasi pasak. Pengujian dilakukan pada model lereng buatan skala laboratorium dengan dua kelas kemiringan (24° dan 35°) pada kondisi tanah kering serta hujan buatan. Data displacement, kelembaban, dan orientasi pasak direkam secara real-time untuk menganalisis respons tanah selama proses pergeseran.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa prototipe bekerja konsisten dan stabil pada seluruh skenario uji. Digital caliper menghasilkan error rata-rata 3,42% (akurasi 96,58%), sementara sensor kelembaban tanah memiliki error rata-rata 3,23% (akurasi 96,77%). Pengujian hujan buatan menunjukkan bahwa pergerakan tanah mulai meningkat signifikan pada kelembaban kritis 37-40%. Orientasi pasak pada sumbu (pitch dan roll) berada pada rentang (0°-6°), sehingga pergerakan yang terjadi dapat dipastikan berupa translasi tanpa rotasi signifikan. Drift pada sumbu yaw muncul akibat akumulasi error gyroscope tanpa referensi magnetometer. Secara keseluruhan, prototipe terbukti mampu memantau displacement, kelembaban, dan orientasi secara reliabel, sehingga efektif digunakan sebagai instrumen deteksi awal potensi pergerakan tanah pada skala laboratorium.
Landslides are a geological disaster that frequently occur in Indonesia and cause substantial losses, ranging from infrastructure damage to loss of life. Rainwater infiltration increases the water content in the soil and reduces its shear strength, making slope stability more susceptible to disturbance. To support mitigation efforts, a simple, accurate, and field-deployable monitoring system is required, suitable for both laboratory and real-world conditions. This study develops a prototype monitoring instrument utilizing a modified digital caliper as a linear encoder to measure translational displacement, along with a resistive soil moisture sensor to monitor water-content dynamics induced by infiltration. The system consists of two units the main device and the sensor stake integrated via the MQTT protocol using ESP8266 and ESP32-C3 microcontrollers. The main unit is equipped with an RTC module, OLED display, and SD card, while the stake unit includes an MPU6050 sensor to monitor its orientation. Experiments were conducted on a laboratory-scale artificial slope model with two slope classes (24° and 35°) under dry conditions and simulated rainfall. Displacement, moisture content, and stake orientation data were recorded in real time to analyze soil responses during the movement process.
The results indicate that the prototype operated consistently and stably across all test scenarios. The digital caliper produced an average error of 3.42% (accuracy of 96.58%), while the soil moisture sensor showed an average error of 3.23% (accuracy of 96.77%). The artificial rainfall test revealed that soil movement began to increase significantly at a critical moisture level of 37-40%. The stake orientation along the pitch and roll axes remained within the range of 0°-6°, confirming that the observed movement was translational with no significant rotation. Drift in the yaw axis occurred due to gyroscope error accumulation in the absence of a magnetometer reference. Overall, the prototype successfully monitored displacement, moisture, and orientation with high reliability, demonstrating its effectiveness as an early-warning instrument for potential soil movement at laboratory scale.
4775451118G1A022123HUBUNGAN DURASI PENGGUNAAN SMARTPHONE DAN FUNGSI KOGNITIF PADA SISWA SMPN 1 SOKARAJALatar Belakang: Penggunaan smartphone yang berlebihan diketahui dapat berdampak negatif terhadap fungsi kognitif melalui peningkatan produksi reactive oxygen species (ROS) yang memicu stres oksidatif pada jaringan otak. Kondisi ini terutama memengaruhi hipokampus dan korteks prefrontal yang berperan penting dalam proses belajar, memori, perhatian, serta fungsi eksekutif. Dampak tersebut menjadi lebih bermakna pada siswa sekolah menengah pertama (SMP) karena mereka masih berada pada fase perkembangan kognitif, sehingga lebih rentan terhadap pengaruh penggunaan smartphone yang tidak terkontrol.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara durasi penggunaan smartphone dengan fungsi kognitif pada siswa kelas VIII SMPN 1 Sokaraja.
Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari 82 siswa kelas VIII yang dipilih menggunakan teknik stratified random sampling. Durasi penggunaan smartphone dicatat melalui smartphone usage diary selama satu bulan dan diklasifikasikan ke dalam kategori ringan, sedang, berat, dan sangat berat. Fungsi kognitif diukur menggunakan instrumen Montreal Cognitive Assessment versi Indonesia (MoCAINA). Analisis data dilakukan dengan uji normalitas Kolmogorov–Smirnov, uji homogenitas Levene, serta uji One-way ANOVA yang dilanjutkan dengan uji post hoc Tukey HSD.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan pada fungsi kognitif berdasarkan durasi penggunaan smartphone (p < 0,05). Uji post hoc menunjukkan perbedaan bermakna antara kelompok penggunaan sedang dan berat, serta antara kelompok sedang dan sangat berat.
Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara durasi penggunaan smartphone dan fungsi kognitif pada siswa kelas VIII SMPN 1 Sokaraja.
Background: Excessive smartphone use has been associated with impaired cognitive function, primarily through increased production of reactive oxygen species (ROS) that induce oxidative stress in brain tissue. This process particularly affects the hippocampus and prefrontal cortex, which are essential for learning, memory,
attention, and executive function. Junior high school students are especially vulnerable to these effects because they are in a critical period of cognitive development, making uncontrolled smartphone use a potential risk to optimal cognitive performance.
Objective: This study aimed to determine the relationship between the duration of smartphone use and cognitive function among eighth-grade students at SMPN 1
Sokaraja.
Methods: This observational analytic study used a cross-sectional design. A total of 82 eighth-grade students were selected using stratified random sampling. Smartphone use duration was recorded through a one-month smartphone usage diary and categorized into light, moderate, heavy, and very heavy use. Cognitive function was assessed using the Indonesian version of the Montreal Cognitive Assessment (MoCAINA). Data analysis included the Kolmogorov–Smirnov test, Levene’s test, One-way ANOVA, and Tukey HSD post hoc test.
Results: The results showed significant differences in cognitive function across smartphone use duration groups (p < 0.05). Post hoc analysis revealed significant differences between the moderate and heavy use groups and between the moderate and very heavy use groups.
Conclusion: There is a significant relationship between smartphone use duration and cognitive function among eighth-grade students at SMPN 1 Sokaraja.
4775551139G1A022031ANALISIS POLA PERESEPAN OBAT DAN BIAYA TERAPI PADA PASIEN GASTRITIS DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJOLatar belakang: Gastritis merupakan salah satu penyakit saluran cerna dengan prevalensi tinggi dan berkontribusi terhadap peningkatan beban pelayanan kesehatan. Pola peresepan obat yang tidak rasional berpotensi menimbulkan terapi yang tidak optimal serta meningkatkan biaya pengobatan. Oleh karena itu, evaluasi pola peresepan obat dan biaya terapi pada pasien gastritis diperlukan sebagai dasar peningkatan mutu pelayanan dan efisiensi pembiayaan Kesehatan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola peresepan obat dan biaya terapi pada pasien gastritis rawat jalan di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo serta hubungannya dengan karakteristik pasien. Metodologi: Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain potong lintang menggunakan data sekunder rekam medis pasien gastritis rawat jalan di Poli Gastroentero Hepatologi periode Januari–November 2025. Analisis dilakukan terhadap karakteristik pasien, pola peresepan obat utama dan obat penyerta, serta biaya terapi medis langsung dari perspektif rumah sakit. Hasil: Pola peresepan menunjukkan dominasi penggunaan obat penekan asam lambung sebagai terapi utama, baik tunggal maupun kombinasi dengan obat penyerta. Terdapat perbedaan biaya terapi antar kelompok pola peresepan, dimana penggunaan obat penyerta dan kombinasi lebih dari satu obat utama menghasilkan biaya yang lebih tinggi. Karakteristik pasien, terutama usia dan diagnosis, menunjukkan hubungan yang bermakna dengan variasi pola peresepan obat. Kesimpulan: Pola peresepan obat pada pasien gastritis berhubungan dengan peningkatan biaya terapi. Evaluasi rasionalitas peresepan diperlukan untuk meningkatkan efisiensi biaya tanpa mengurangi efektivitas terapi pada pasien gastritis.Background: Gastritis is a common gastrointestinal disorder with a high prevalence and contributes to increased healthcare utilization. Inappropriate prescribing patterns may lead to suboptimal therapy and higher treatment costs. Therefore, an evaluation of drug prescribing patterns and treatment costs in gastritis patients is necessary to improve healthcare quality and cost efficiency. Objective: This study aimed to analyze drug prescribing patterns and treatment costs among outpatient gastritis patients at Prof. Dr. Margono Soekarjo Regional General Hospital and their association with patient characteristics. Methodology: This study was an observational analytic study with a cross-sectional design using secondary data obtained from medical records of outpatient gastritis patients at the Gastroenterohepatology Clinic from January to November 2025. The analysis focused on patient characteristics, prescribing patterns of main and adjunctive drugs, and direct medical costs from the hospital perspective. Results: The prescribing pattern is dominated by the use of acid-suppressive therapy as the main treatment, either as monotherapy or in combination with adjunctive drugs. Treatment costs vary among prescribing pattern groups, with higher costs observed in regimens involving adjunctive drugs and multiple main therapies. Patient characteristics, particularly age and diagnosis, show a significant association with variations in prescribing patterns. Conclusion: Drug prescribing patterns in gastritis patients are associated with differences in treatment costs. Rational prescribing practices are essential to enhance cost efficiency while maintaining effective therapy for gastritis patients.
4775651140C1A022011ANALISIS FAKTOR SOSIAL EKONOMI TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI PROVINSI JAWA TENGAH: DATA PANEL 2021-2023Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator utama yang digunakan untuk mengukur perkembangan ekonomi suatu negara. Berbagai faktor dapat berperan sebagai pendorong atau penghambat pertumbuhan ekonomi, seperti tantangan yang dihadapi di Provinsi Jawa Tengah, termasuk tenaga kerja yang besar, masa pendidikan yang panjang, dan pengeluaran modal yang kurang optimal, yang telah menghambat penurunan tingkat kemiskinan dan pada gilirannya menghalangi pertumbuhan ekonomi.

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh faktor-faktor sosial ekonomi terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Jawa Tengah periode 2021-2023. Penelitian ini menganalisis rata-rata lama sekolah, angkatan kerja, dan tingkat kemiskinan sebagai faktor sosial, serta belanja modal daerah sebagai faktor ekonomi dengan data panel dari 35 kabupaten/kota. Pendekatan kuantitatif deskriptif dengan regresi linier berganda digunakan dalam penelitian ini, dan data dianalisis menggunakan EViews 12.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata lama sekolah memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Namun, tenaga kerja dan tingkat kemiskinan memiliki pengaruh negatif dan signifikan, sementara belanja modal daerah memiliki pengaruh negatif tetapi tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Jawa Tengah selama periode yang dimaksud.

Implikasi dari penelitian ini yaitu pentingnya investasi berkelanjutan dalam pendidikan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui perpanjangan program wajib sekolah, peningkatan kualitas guru dan kurikulum, serta beasiswa, yang merupakan kunci pembangunan. Pemerintah daerah perlu mengevaluasi strategi terkait penciptaan lapangan kerja, pengentasan kemiskinan, dan efektivitas pengeluaran modal daerah untuk penyerapan tenaga kerja yang lebih baik. Selain itu, penting untuk mempertahankan kolaborasi antara pemerintah dan peran aktif masyarakat mendukung dan melaksanakan berbagai program guna mencapai pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan
Economic growth is one of the main indicators used to measure a country's economic development. Various factors can act as drivers or inhibitors of economic growth, such as the challenges faced in Central Java Province, including a large workforce, long education periods, and suboptimal capital expenditure, which have hampered poverty reduction and, in turn, hindered economic growth.

The purpose of this study is to analyze the influence of socioeconomic factors on economic growth in Central Java Province for the period 2021-2023. This study analyzes average length of schooling, labor force, and poverty rate as social factors, as well as regional capital expenditure as an economic factor using panel data from 35 districts/cities. A descriptive quantitative approach with multiple linear regression was used in this study, and the data were analyzed using EViews 12.

The results show that average years of schooling has a positive and significant effect on economic growth. However, labor force and poverty rate have a negative and significant effect, while regional capital expenditure has a negative but insignificant effect on economic growth in Central Java Province during the period in question.

The implications of this study are the importance of sustainable investment in education to improve the quality of human resources through the extension of compulsory schooling programs, improvement of teacher and curriculum quality, and scholarships, which are key to development. Local governments need to evaluate strategies related to job creation, poverty alleviation, and the effectiveness of regional capital expenditure for better labor absorption. In addition, it is important to maintain collaboration between the government and the active role of the community in supporting and implementing various programs to achieve inclusive and sustainable economic growth.
4775751145H1A022010IMPLEMENTASI CHATBOT BERBASIS LANGCHAIN DAN RETRIEVAL-AUGMENTED GENERATION (RAG) UNTUK NOTULENSI AUDIT SITE DI PT INDOSAT OOREDOO HUTCHISON GOMBELPengolahan notulensi audit site di perusahaan masih menjadi tantangan
yaitu dalam hal mencatat, mencari dan penampilan kembali catatan yang tersimpan
secara manual. Di PT Indosat Ooredoo Hutchison Gombel, karyawan kesulitan
dalam menemukan notulensi audit site dengan itu perlunya solusi berbasis
teknologi kecerdasan buatan. Salah satu inovasi relevan adalah chatbot berbasis
Large Language Model (LLM) dan Retrieval-Augmented Generation (RAG) yang
mampu menjawab pertanyaan pengguna berdasarkan isi notulensi.
Chatbot dengan framework LangChain memungkinkan sistem untuk bisa
mengintegrasikan bahasa alami dengan basis data eksternal, sehingga proses
pencarian informasi yang dilakukan dapat lebih cepat, akurat, dan efisien. Sistem
dilengkapi fitu pencatatan, penampilan notulensi, ekspor hasil (TXT/PDF), rekap
periodic (mingguan, bulanan, atau berdasarkan tanggal), pembaruan status audit
site.
Penelitian ini mengimplementasikan chatbot notulensi berbasis LangChain
dan RAG dengan dukungan PostgreSQL dan ekstensi pgvector untuk pencarian
semantik yang relevan. Sistem dilengkapi antarmuka Gradio yang mudah
digunakan serta fitur multi-user. Hasil pengujian dan implementasi menunjukkan
seluruh fitur berjalan sesuai rancangan dan mampu meningkatkan efisiensi kerja
tim audit, mempercepat pencarian data notulensi audit site, serta mendukung
pembuatan laporan notulensi yang lebih terstruktur, cepat diakses, dan aman.
The processing of audit site minutes in the company remains a challenge,
particularly in recording, searching, and retrieving manually stored notes. At PT
Indosat Ooredoo Hutchison Gombel, employees often face difficulties in finding
audit site minutes, indicating the need for an artificial intelligence–based solution.
One relevant innovation is a chatbot powered by a Large Language Model (LLM)
and Retrieval-Augmented Generation (RAG), which can answer user queries based
on the contents of the stored minutes.
The chatbot, developed using the LangChain framework, enables the
integration of natural language with external databases, allowing the information
retrieval process to be faster, more accurate, and efficient. The system includes
features for recording and displaying minutes, exporting results (TXT/PDF),
periodic recap (weekly, monthly, or by date), and updating audit site status.
This study implements a minutes chatbot based on LangChain and RAG,
supported by PostgreSQL and the pgvector extension for relevant semantic search.
The system also features a user-friendly Gradio interface and supports multi-user
access. The test results show that all features functioned as designed and were able
to improve the efficiency of the audit team’s work, accelerate the retrieval of audit
site minutes, and support the generation of structured, easily accessible, and secure
audit reports.
4775851146I1J022005THE RELATIONSHIP BETWEEN FAMILY SUPPORT AND SELF-CARE IN BREAST CANCER PATIENTS AT PROF. DR. MARGONO SOEKARJOLatar Belakang: Kanker payudara merupakan salah satu penyebab utama kematian akibat kanker didunia. Perawatan jangka panjang menimbulkan tantangan fisik dan psikologis bagi pasien dalam melakukan self-care. Dukungan keluarga merupakan faktor penting dalam menjaga self-care. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan hubungan antara dukungan keluarga dan self-care pada pasien kanker payudara di Prof. Dr. Margono Soekarjo.
Metodologi: Studi ini menggunakan desain cross-sectional dengan analisis korelasi. Sampel dalam studi ini terdiri dari 124 pasien kanker payudara yang dipilih melalui accidental sampling. Alat ukur dalam penelitian ini meliputi kuesioner dukungan keluarga dan kuesioner self-care. Data dianalisis menggunakan uji korelasi rank Spearman.
Hasil: Sebagian besar responden adalah dewasa usia pertengahan (41–60 tahun), dengan tingkat pendidikan terakhir SD/sederajat. Semua responden telah menikah, mayoritas tidak bekerja, mayoritas tidak memiliki riwayat keluarga kanker, dan memiliki gaya hidup sehat. Setengah responden menderita kanker kurang dari 1 tahun dengan pengobatan kemoterapi dan operasi, setengah responden menjalani siklus pengobatan 3–4 kali, dan mengalami efek samping berat seperti mual, kerontokan rambut, kelemahan, dan nyeri. Sebagian besar responden memiliki dukungan keluarga yang baik (94,4%) dan kemampuan self-care yang baik (89,5%). Hasil analisis menunjukkan hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dan self-care pada pasien kanker payudara. (p = 0,001 dan r = 0,715)
Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dan self-care pada pasien kanker payudara di Prof. Dr. Margono Soekarjo. Semakin baik dukungan keluarga yang diberikan, semakin baik pula kemampuan self-care pasien.
Background: Breast cancer is leading causes of cancer deaths globally. Long-term treatment poses physical and psychological challenges to patients self-care. Family support is important factor to maintain self-care. This study aims to determine the relationship between family support and self-care in breast cancer patients at Prof. Dr. Margono Soekarjo.
Methodology: This study used cross-sectional design with correlation analysis. The sample in this study consisted of 124 breast cancer patients selected through accidental sampling. The research instruments included a family support questionnaire and a self-care questionnaire. The data were analyzed using Spearman's rank correlation test.
Results: Most respondents were middle-aged adults (41–60 years old), with a final education level of elementary school/equivalent. All respondents were married, majority were unemployed, majority had no family history of cancer, and had a healthy lifestyle. A half of respondents had cancer for < 1 year with chemotherapy and surgery, a half of respondents cycle being 3–4 times, and showing severe side effects such as nausea, hair loss, weakness, and pain. Most respondents had good family support (94.4%) and good self-care abilities (89.5%). The analysis results showed a significant relationship between family support and self-care in breast cancer patients. (p = 0.001 and r = 0.715)
Conclusion: There is a significant relationship between family support and self-care in breast cancer patients at Prof. Dr. Margono Soekarjo. The better the family support provided, the better the patient's self-care ability
4775951147G1A022126Efek Pemberian Kefir Susu Kambing Berbagai Dosis Terhadap Kadar Ureum Tikus Putih (Rattus norvegicus) Galur Wistar Model Diabetes Melitus Tipe 2Latar belakang: Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia akibat terganggunya hormon insulin. DMT2 dapat memicu berbagai komplikasi, salah satunya nefropati diabetik yang berkaitan pada peningkatan ureum. Tujuan: Mengetahui efek pemberian kefir susu kambing berbagai dosis terhadap kadar ureum tikus putih (Rattus norvegicus) galur Wistar model DMT2. Metode: Penelitian eksperimental dengan lima kelompok: kontrol sehat (A), kontrol DMT2 (B), DMT2+kefir 1,05 mL/200 gBB (C), DMT2+kefir 2,1 mL/200 gBB (D), dan DMT2+kefir 4,2 mL/200 gBB (E). Induksi DMT2 dilakukan dengan pemberian diet tinggi lemak (otak sapi) 28 hari dan injeksi streptozotocin dua kali (30 mg/kgBB lalu 50 mg/kgBB). Pemeriksaan ureum dilakukan dengan metode Urease-GLDH Enzymatic UV Test. Analisis data univariat dan bivariat menggunakan software SPSS. Hasil: Rerata kadar ureum (mg/dL) pada setiap kelompok tikus, yaitu kelompok A = 36 mg/dL; kelompok B = 58,6 mg/dL; kelompok C = 65 mg/dL; kelompok D = 40,3 mg/dL; kelompok E = 42,2 mg/dL. Hasil uji non parametrik Kruskal-Wallis didapatkan nilai p = 0, 261 yang menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan kadar ureum yang bermakna antar kelompok. Kesimpulan: Kefir susu kambing tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kadar ureum tikus putih Galur Wistar (Rattus norvegicus) model Diabetes melitus tipe 2.Background: Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is a metabolic disease characterized by hyperglycemia due to disruption of the insulin hormone. T2DM can trigger complications, one of which is diabetic nephropathy, which is associated with increased urea levels. Objective: To determine the effect of goat milk kefir at various doses on urea levels in white rats (Rattus norvegicus) of Wistar strain with T2DM. Methods: A laboratory experimental study with five groups: healthy control (A), T2DM control (B), T2DM+kefir 1.05 mL/200 gBW (C), T2DM+kefir 2.1 mL/200 gBW (D), and T2DM+kefir 4.2 mL/200 gBW (E). T2DM was induced using a high-fat diet (cow brain) for 28 days followed by two streptozotocin injections (30 mg/kgBW then 50 mg/kgBW). Urea levels were measured using the Urease–GLDH Enzymatic UV Test method. Univariate and bivariate data analyses were performed using SPSS software. Results: Mean urea levels (mg/dL) in each group of rats were as follows: group A = 36,0 mg/dL; group B = 58,6 mg/dL; group C = 65 mg/dL; group D = 40,3 mg/dL; group E = 42,2 mg/dL. The results of the nonparametric Kruskal-Wallis test showed a p-value of 0,261 indicating that there was no significant difference in urea levels between groups. Conclusion: Goat milk kefir does not significantly affect urea levels in Wistar strain (Rattus norvegicus) white rats with Type 2 diabetes mellitus.
4776051148G1A022111HUBUNGAN ANTARA KEMAMPUAN PEMBENTUKAN BIOFILM DENGAN PARAMETER LABORATORIUM PADA PASIEN INFEKSI PARU BAKTERIAL DI RSUD BANYUMAS
Latar belakang: Bakteri penghasil biofilm menjadi perhatian dunia medis saat ini salah satunya pada pasien infeksi paru bakterial karena biofilm dapat menghindari deteksi sistem imun host yang memengaruhi parameteter laboratorium seperti leukosit dan trombosit. Tujuan: Menganalisis hubungan antara kemampuan pembentukan biofilm dengan parameter laboratorium pada pasien infeksi paru bakterial Di RSUD Banyumas. Metodologi: Metode penelitian menggunakan pendekatan observasional analitik dengan mengumpulkan data dari pasien infeksi paru bakterial dan melakukan uji biofilm microtiter plate biofilm assay pada 90 isolat. Hasil: Hasil analisis bivariat menggunakan uji Spearman menunjukan bahwa semakin kuat kemampuan pembentukan biofilm, maka semakin tinggi jumlah leukosit dalam darah (rₛ = +0,249, p-value = 0,018). Namun, tidak terdapat hubungan bermakna antara kemampuan pembentukan biofilm dengan jumlah trombosit darah (rₛ = +0,133, p-value = 0,213) maupun leukosit pada pewarnaan Gram (rₛ = 0,119, p-value = 0,264). Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara kemampuan pembentukan biofilm dengan parameter leukosit darah namun tidak terdapat hubungan signifikan antara kemampuan pembentukan biofilm dengan parameter trombosit darah maupun pada leukosit pada pewarnaan Gram. Background: Biofilm-producing bacteria have become a major concern in modern medical practice, particularly in patients with bacterial pulmonary infections, as biofilms can evade host immune system detection and subsequently influence laboratory parameters such as leukocyte and platelet counts. Objective: To analyze the relationship between biofilm-forming ability and laboratory parameters in patients with bacterial pulmonary infections at Banyumas Regional General Hospital. Methodology: This study employed an analytical observational design by collecting data from patients with bacterial pulmonary infections and performing a microtiter plate biofilm assay on 90 bacterial isolates. Results: Bivariate analysis using the Spearman correlation test demonstrated that stronger biofilm-forming ability was associated with higher blood leukocyte counts (rₛ = +0.249, p-value = 0.018). However, no significant association was found between biofilm-forming ability and blood platelet counts (rₛ = +0.133, p-value = 0.213) or leukocyte counts observed in Gram-stained specimens (rₛ = 0.119, p-value = 0.264). Conclusion: There is a significant relationship between biofilm-forming ability and blood leukocyte parameters; however, no significant association was observed between biofilm-forming ability and blood platelet counts or leukocyte counts in Gram-stained specimens