Artikelilmiahs
Menampilkan 46.041-46.060 dari 48.741 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 46041 | 49414 | C2C023007 | Pengaruh Otonomi, Kompetensi, dan Keterhubungan terhadap Perilaku Kerja Inovatif melalui Efikasi Diri | Penelitian ini merupakan penelitian survei kuantitatif yang bertujuan untuk menguji pengaruh faktor-faktor psikologis terhadap perilaku kerja inovatif. Penelitian ini mengambil judul “Pengaruh Otonomi, Kompetensi, dan Keterhubungan terhadap Perilaku Kerja Inovatif melalui Efikasi Diri”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah otonomi, kompetensi, dan keterhubungan berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung (melalui efikasi diri) terhadap perilaku kerja inovatif karyawan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik pengambilan data pada satu waktu (cross-sectional). Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan di Komunitas Kombas yang berjumlah 440 orang. Berdasarkan rumus Slovin dengan tingkat toleransi kesalahan (margin of error) 5%, sampel minimum yang diperlukan adalah 210 responden. Survei disebarkan kepada seluruh populasi dan memperoleh tingkat response rate sebesar 56,36%. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data dengan menggunakan Structural Equation Modeling - Partial Least Squares (SEM-PLS), diperoleh temuan (1) Otonomi memiliki pengaruh positif terhadap Perilaku Kerja Inovatif, (2) Kompetensi tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Perilaku Kerja Inovatif, (3) Keterhubungan memiliki pengaruh positif terhadap Perilaku Kerja Inovatif, (4) Efikasi Diri memediasi pengaruh Otonomi terhadap Perilaku Kerja Inovatif, (5) Efikasi Diri tidak memediasi pengaruh Kompetensi terhadap Perilaku Kerja Inovatif, dan (6) Efikasi Diri memediasi pengaruh Keterhubungan terhadap Perilaku Kerja Inovatif. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa teori Determinasi Diri, khususnya dimensi Otonomi dan Keterhubungan, berperan penting dalam mendorong Perilaku Kerja Inovatif, baik secara langsung maupun melalui Efikasi Diri sebagai mediator. Lingkungan kerja yang mendukung otonomi dan keterhubungan sosial dapat meningkatkan keyakinan diri karyawan untuk berinovasi. Temuan ini memberikan kontribusi teoretis dalam menjelaskan mekanisme psikologis yang menghubungkan motivasi dengan perilaku inovatif, serta kontribusi praktis bagi organisasi dalam merancang strategi pelibatan karyawan berbasis dukungan psikologis yang mendorong inovasi berkelanjutan. | This research is a quantitative survey study examining the influence of psychological factors on innovative work behavior. The study is titled “The Influence of Autonomy, Competence, and Relatedness on Innovative Work Behavior through Self-Efficacy.” The objective of this research is to determine whether autonomy, competence, and relatedness have a direct or indirect effect (through self-efficacy) on employees’ innovative work behavior. This study uses a quantitative approach with data collection conducted at a single point in time (cross-sectional). The population in this research consists of employees at the Kombas Community, totaling 440 seseorangals. Based on the Slovin formula with a margin of error of 5%, the minimum required sample size is 210 respondents. The survey was distributed to the entire population and achieved a response rate of 56,36%. Based on the research findings and data analysis using Structural Equation Modeling - Partial Least Squares (SEM-PLS), the study found that (1) Autonomy has a positive influence on Innovative Work Behavior, (2) Competence does not have a significant influence on Innovative Work Behavior, (3) Relatedness has a positive influence on Innovative Work Behavior, (4) Self- Efficacy mediates the influence of Autonomy on Innovative Work Behavior, (5) Self-Efficacy not mediates the influence of Competence on Innovative Work Behavior, and (6) Self-Efficacy mediates the influence of Relatedness on Innovative Work Behavior. The findings of this study imply that Self-Determination Theory, particularly the dimensions of Autonomy and Relatedness, plays a significant role in promoting Innovative Work Behavior, both directly and indirectly through Self-Efficacy as a mediator. A work environment that supports autonomy and social connectedness can enhance employees’ confidence to engage in innovation. These results provide a theoretical contribution by explaining the psychological mechanisms that link motivation to innovative behavior, as well as a practical contribution for organizations in designing employee engagement strategies based on psychological support to foster sustainable innovation. | |
| 46042 | 50430 | J1A021056 | GENDER AND SEXUAL PERFORMATIVITY OF BRANDON TEENA IN THE FILM BOYS DON'T CRY BY KIMBERLY PIERCE (1999) | Studi ini mengeksplorasi fluiditas identitas gender dan seksual Brandon Teena melalui lensa performativitas gender, seperti yang digambarkan dalam film Boys Don't Cry (1999). Brandon membangun identitas maskulin melalui penampilan, perilaku, dan interaksinya, yang mencerminkan teori performativitas Judith Butler. Ekspresi gendernya diperkuat oleh pengaruh eksternal, seperti Lonny, yang mendukung presentasi maskulin Brandon, dan lingkungan sosial yang keras yang membentuk kinerja maskulinitasnya. Teori maskulinitas Brannon dan David juga diterapkan untuk menganalisis jenis maskulinitas yang diungkapkan Brandon. Terlepas dari gagasan Butler bahwa gender dan identitas seksual dipisahkan, Brandon masih secara konsisten menunjukkan minat romantis pada wanita, tanpa indikasi ketertarikan pada pria. Kinerja maskulinitasnya berfungsi tidak hanya sebagai ekspresi diri tetapi juga sebagai sarana bertahan hidup dan penerimaan dalam masyarakat homofobik. Studi ini menyimpulkan bahwa identitas Brandon adalah kinerja yang dibentuk oleh hasrat internal dan tekanan eksternal. | This study explores the fluidity of Brandon Teena’s gender and sexual identity through the lens of gender performativity, as depicted in the film Boys Don't Cry (1999). Brandon constructs a masculine identity through his appearance, behavior, and interactions, reflecting Judith Butler's theory of performativity. His gender expression is reinforced by external influences, such as Lonny, who supports Brandon's masculine presentation, and a harsh social environment that shapes his performance of masculinity. Brannon and David's masculinity theory is also applied to analyze the type of masculinity Brandon expressed. Despite Butler's notion that gender and sexual identity are seperated, Brandon still consistently displays romantic interest in women, with no indication of attraction to men. His performance of masculinity serves not only as self-expression but also as a means of survival and acceptance in a homophobic society. This study concludes that Brandon's identity is a performance shaped by internal desires and external pressures. | |
| 46043 | 49416 | F1C021038 | Pengaruh Terpaan dan Kredibilitas Konten TikTok @InfoBMKG terhadap Pemenuhan Kebutuhan Informasi Pengikut mengenai Gempa Megathrust | Penelitian ini menganalisis pengaruh terpaan dan kredibilitas konten TikTok @InfoBMKG terhadap pemenuhan kebutuhan informasi pengikut mengenai gempa megathrust. Pentingnya informasi kebencanaan yang akurat di media sosial menjadi latar belakang studi kuantitatif ini, melibatkan 150 pengikut melalui survei dan analisis regresi linier berganda. Hasilnya menunjukkan bahwa terpaan dan kredibilitas konten berpengaruh positif dan signifikan secara parsial maupun simultan. Atensi menjadi dimensi terpaan paling dominan, sementara keahlian (expertise) merupakan dimensi kredibilitas yang paling berpengaruh. Kedua variabel ini menjelaskan 81.3% variasi pemenuhan kebutuhan informasi. Temuan ini mengafirmasi Teori Uses and Gratification, menegaskan bahwa khalayak aktif mencari media kredibel yang memenuhi kebutuhan informatif mereka. Implikasi praktisnya, pengelola akun kebencanaan perlu fokus pada kualitas, akurasi, dan keahlian konten selain jangkauan luas untuk membangun kepercayaan dan memaksimalkan informasi publik. | This study investigates the influence of content exposure and content credibility of the TikTok account @InfoBMKG on followers' fulfillment of information needs regarding megathrust earthquakes. The research's context stems from the crucial role of accurate and trustworthy disaster information dissemination on social media platforms. Employing a quantitative approach with a survey design, this study involved 150 followers of the @InfoBMKG TikTok account, selected through purposive sampling. Data were collected via questionnaires and analyzed using multiple linear regression. The findings indicate that both content exposure and content credibility significantly and positively influence followers' information needs fulfillment, both partially and simultaneously. Among the dimensions of exposure, attention proved to be the most dominant factor, surpassing frequency and duration. Conversely, within content credibility, the expertise of the information source emerged as the most influential dimension. Together, these two variables explain 81.3% of the variation in information needs fulfillment. These findings affirm the Uses and Gratification Theory, emphasizing that audiences actively seek credible media that satisfy their informative needs. Practically, it highlights the importance for disaster communication account managers to not only ensure broad exposure but also to enhance content quality, accuracy, and expertise to build trust and maximize public information fulfillment. | |
| 46044 | 49417 | C2C023021 | Pengaruh Occupational Self-Efficacy Terhadap Job Performance Dimoderasi Oleh Tiga Dimensi Job Crafting | Penelitian ini mengkaji pengaruh Occupational Self-Efficacy (OSE) terhadap Job Performance dengan moderasi tiga dimensi Job Crafting (task, cognitive, dan relational) pada guru Madrasah Aliyah di Purwokerto. Menggunakan pendekatan kuantitatif dan analisis SEM-PLS terhadap 141 responden, hasil menunjukkan OSE berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja. Task crafting tidak memoderasi hubungan ini, sementara cognitive dan relational crafting berperan positif sebagai moderator. Temuan menekankan pentingnya dukungan psikologis dan sosial serta strategi job crafting yang sesuai untuk meningkatkan kinerja guru berbasis self-efficacy | This research examines the influence of Occupational Self-Efficacy (OSE) on Job Performance, moderated by three dimensions of Job Crafting (task, cognitive, and relational), among Madrasah Aliyah teachers in Purwokerto. Using a quantitative approach and SEM-PLS analysis on 141 respondents, the results indicate that OSE has a significant positive effect on job performance. Task crafting does not moderate this relationship, while cognitive and relational crafting positively moderate it. The findings emphasize the importance of psychological and social support, as well as appropriate job crafting strategies, to enhance teacher performance based on self-efficacy. | |
| 46045 | 49415 | H1B021033 | Analisis Dampak Perubahan Iklim Terhadap Debit Aliran Rendah Di Kawasan IKN: Pengembangan Model Hidrologi Rainrun Berdasarkan IPCC AR-6 | Perubahan iklim merupakan tantangan global yang berdampak signifikan terhadap pola aliran sungai, terutama pada debit aliran rendah yang penting bagi ketahanan air. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model hidrologi Rainrun untuk mensimulasikan dampak perubahan iklim masa depan terhadap debit aliran rendah di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) dengan pendekatan skenario iklim IPCC AR6. Proses simulasi dilakukan berdasarkan data historis dan proyeksi dengan data masukan berupa curah hujan serta evapotranspirasi dengan menggunakan parameter hasil kalibrasi pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Sepaku–Semoi. Kalibrasi model menggunakan metode optimasi Particle Swarm Optimization (PSO) melalui paket hydroPSO menghasilkan nilai R 0,7309, CE 0,5079, dan VE 2,44%. Verifikasi model menunjukkan penurunan hasil dengan nilai CE negatif, yang mengindikasikan keterbatasan model. Kemudian dari parameter tersebut dilakukan simulasi debit masa depan menggunakan skenario iklim IPCC AR6 (SSP1-2.6, SSP2-4.5, dan SSP5-8.5) dan dianalisis mengenai dampak yang terjadi. Pada pola curah hujan, menunjukkan pola musiman yang relatif konsisten antar skenario, namun skenario emisi tinggi (SSP5-8.5) memperlihatkan penurunan curah hujan yang lebih tajam selama musim kemarau, disertai peningkatan evapotranspirasi dan bertambahnya hari kering. Pada debit aliran rendah menggunakan pendekatan debit minimum dan Q95 mengindikasikan adanya kecenderungan penurunan debit aliran rendah di masa depan, terutama pada skenario emisi menengah hingga tinggi. Tren antar skenario memperlihatkan bahwa penurunan debit bertahap seiring meningkatnya emisi gas rumah kaca. Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi ilmiah dalam memahami dampak perubahan iklim terhadap debit aliran rendah, khususnya di kawasan IKN, serta menjadi pertimbangan awal untuk pengelolaan sumber daya air yang adaptif dan berkelanjutan. | Climate change is a global challenge that significantly impacts river flow patterns, particularly low flow discharge, which is crucial for water security. The goal of this research is to use the IPCC AR6 climate scenario approach to simulate the impact of future climate change on low flow discharge in the Nusantara Capital City (IKN) with the Rainrun hydrological model. The simulation process uses historical and projected data, as well as rainfall and evapotranspiration input data, with calibrated parameters in the Sepaku-Semoi watershed. Calibrating the model using the Particle Swarm Optimization (PSO) method via the hydroPSO package yielded an R-value of 0.7309, a CE-value of 0.5079, and a VE-value of 2.44%. Model verification showed decreased results with a negative CE value, indicating model limitations. Using these parameters, we then carried out future discharge simulations with the IPCC AR6 climate scenarios (SSP1-2.6, SSP2-4.5, and SSP5-8.5) and analyzed the resulting impacts. Although rainfall patterns show relatively consistent seasonal trends across scenarios, the high-emission scenario (SSP5-8.5) exhibits a steeper decline in rainfall during the dry season. This decline is accompanied by increased evapotranspiration and a greater number of dry days. Using the minimum discharge approach and Q95, low flow discharge indicates a decreasing trend, especially in the medium to high emission scenarios. The trend between scenarios indicates that discharge gradually decreases as greenhouse gas emissions increase. This research is expected to contribute to the scientific understanding of the impact of climate change on low flow discharge, especially in the IKN area, and inform the initial considerations of adaptive and sustainable water resources management. | |
| 46046 | 49418 | H1B021039 | Pemodelan Dampak Perubahan Iklim pada Debit Aliran Rendah di Kawasan IKN Berdasarkan IPCC AR-6 dengan Pendekatan Model Hidrologi MOCK | Perubahan iklim global telah menyebabkan perubahan signifikan terhadap pola curah hujan dan peningkatan suhu di berbagai wilayah. Perubahan iklim yang buruk dapat menyebabkan berkurangnya debit sungai untuk mendukung kehidupan makhluk hidup. Di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang tengah dikembangkan sebagai pusat pemerintahan baru, menghadapi tantangan besar dalam memastikan ketersediaan air di masa depan. Oleh karena itu, diperlukan analisis dampak perubahan iklim terhadap debit aliran rendah/ kondisi aliran air yang terjadi pada tingkat yang sangat rendah menjadi krusial untuk mendukung perencanaan dan pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan di Kawasan IKN. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan respon hidrologi terhadap perubahan iklim dengan fokus pada debit aliran rendah menggunakan model hidrologi MOCK. Data yang digunakan meliputi curah hujan bulanan, evapotranspirasi, koefisien tanaman (crop factor), dan data debit historis sebagai dasar kalibrasi dan verifikasi model. Dengan simulasi model MOCK menggunakan data historis, penelitian ini memproyeksikan besarnya nilai debit aliran rendah di masa depan menggunakan data proyeksi laporan IPCC AR-6 yang memiliki skenario proyeksi iklim berdasarkan tingkat emisi di masa depan, didasarkan pada Shared Socioeconomic Pathways (SSP). Hasil penelitian menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan grafik evapotranspirasi dan penurunan grafik curah hujan yang berdampak pada penurunan debit aliran rendah pada proyeksi tahun 2100. Berdasarkan empat skenario SSP, dihasilkan proyeksi debit aliran rendah terkecil pada SSP 5-8.5 dan lebih kecil dari debit saat ini. Temuan ini menjadi sangat penting dalam perencanaan siklus hidrologi di wilayah IKN, khususnya dalam menghadapi tantangan pengelolaan sumber daya air di tengah perubahan iklim. | Global climate change has led to significant changes to rainfall patterns and rising temperatures in various regions. Bad climate change can lead to reduced river discharge to support the life of living things. In various regions of Indonesia, including the Nusantara Capital Region (IKN) which is being developed as a new government center, it faces a major challenge in ensuring the availability of water in the future. Therefore, it is necessary to analyze the impact of climate change on low flow discharge/water flow conditions that occur at very low levels to support sustainable planning and management of water resources in the IKN Area. This study aims to model the hydrological response to climate change with a focus on low stream discharge using the MOCK hydrological model. The data used include monthly rainfall, evapotranspiration, crop coefficients, and historical discharge data as the basis for calibration and model verification. By simulating the MOCK model using historical data, this study projects the magnitude of future low-flow discharge values using the projection data of the IPCC AR-6 report which has a climate projection scenario based on future emission levels, based on Shared Socioeconomic Pathways (SSP).The results of the study show that there is a tendency to increase evapotranspiration graphs and decrease rainfall graphs which have an impact on decreasing low-flow discharge in the projection of 2100. Based on four SSP scenarios, the smallest low-flow discharge projection at the SSP is 5-8.5 and smaller than the current discharge. These findings are very important in hydrological cycle planning in the IKN region, especially in facing the challenges of water resource management in the midst of climate change. | |
| 46047 | 49419 | H1D018061 | SUPERVISORY ASSESSMENT SYSTEM USING THE SIMPLE ADDITIVE WEIGHTING (SAW) METHOD FOR WEBSITE-BASED JUNIOR HIGH SCHOOLS | Kantor Pengawas Sekolah Menengah Pertama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Batang merupakan sub-instansi yang melakukan kegiatan kepengawasan secara langsung terhadap Sekolah Menengah Pertama di wilayah Kabupaten Batang namun belum memiliki sistem untuk menampung dan mendigitalisasikan informasi nilai tersebut. Permasalahan tersebut dapat dihindari dengan pembuatan sistem yang memudahkan pengawas untuk memasukkan data dan menilai sekolah yang dibina. Sistem yang dibuat adalah Sistem Penilaian Kepengawasan Menggunakan Metode Simple Additive Weighting (SAW). Sistem tersebut digunakan untuk memudahkan pengawas memasukkan data dan menilai sekolah binaan. Dalam sistem ini, pengawas dapat menilai sekolah binaan, melihat data sekolah dan guru binaan, dan membuat rekapitulasi dari penilaian yang dilakukan. Sistem ini dibuat dengan metode Simple Additive Weighting (SAW) untuk mengolah data penilaian kepengawasan sekolah, metode pengembangan Waterfall dan diimplementasikan menggunakan bahasa PHP, Framework Laravel dan MySQL sebagai penyimpanan data. Berdasarkan hasil blackbox testing, sistem yang dibuat telah sesuai dengan 100% validasi fitur dan hasil perhitungan SAW yaitu SMP Negeri 3 Batang skor 0,983 di peringkat pertama, SMP Negeri 1 Batang skor 0,955 di peringkat kedua, dan SMP Negeri 2 Batang skor 0,915 di peringkat 3. | The Junior High School Supervisory Office of the Batang Regency Education and Culture Office is a sub-agency that carries out direct supervision for Junior High Schools in the Batang Regency but doesn’t yet have a system to accommodate and digitalize the information. This problem can be avoided by creating a system that makes it easier for supervisors to assess and record the schools they supervise. The developed system is a Supervisory Assessment System Using the Simple Additive Weighting (SAW) Method that makes it easier for supervisors. Supervisors can assess the schools they supervise, view data on schools and teachers they supervise, and make a recapitulation of the assessments they have made. This system was created using the Simple Additive Weighting (SAW) method to process school supervision assessment data, the Waterfall development method, and implemented using the PHP language, Laravel Framework, and MySQL as data storage. Based on the results of blackbox testing, the system created has been in accordance with 100% feature validation and SAW calculation results, namely SMP Negeri 3 Batang with 0.983 in first place, SMP Negeri 1 Batang with 0.955 in second place, and SMP Negeri 2 Batang with 0.915 in third place. | |
| 46048 | 49420 | I1D021077 | FORMULASI BISKUIT SUMBER PROVITAMIN A BERBASIS TEPUNG KOMPOSIT LABU KUNING (Cucurbita moschata) DAN DAUN KELOR (Moringa oleifera) SEBAGAI MP-ASI BADUTA USIA 9-24 BULAN | ABSTRAK FORMULASI BISKUIT SUMBER PROVITAMIN A BERBASIS TEPUNG KOMPOSIT LABU KUNING (Cucurbita moschata) DAN DAUN KELOR (Moringa oleifera) SEBAGAI MP-ASI BADUTA USIA 9-24 BULAN Masayu Nindia Pertiwi, Indah Nuraeni, Hiya Alfi Rahmah Latar Belakang : Pencegahan Kekurangan Vitamin A dapat melalui peningkatan keragaman pangan kaya vitamin A. Penggunaan bahan alami seperti labu kuning dan daun kelor dapat menjadi alternatif makanan selingan pada baduta usia 9-24 bulan. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh proporsi labu kuning dan daun kelor terhadap kandungan beta karoten, dan mutu hedonik biskuit. Metode : Penelitian eksperimental dengan Rancangan Acak Kelompok menggunakan 3 formula dengan 6 kali ulangan. Terdapat 3 perlakuan yaitu masing-masing perbandingan tepung terigu : tepung labu kuning : tepung daun kelor yaitu G1 = 20% : 65% : 15% ; G2 = 20% : 70% : 10% ; G3 = 20% : 75% : 5%. Analisis statistik kandungan beta karoten menggunakan ANOVA, sedangkan mutu hedonik menggunakan uji Friedman. Apabila terdapat pengaruh nyata (p<0,05), dilanjutkan dengan uji DMRT. Penentuan formula terbaik menggunakan uji indeks efektivitas De Garmo. Hasil : Proporsi tepung labu kuning dan tepung daun kelor berpengaruh nyata (p value < 0,05) terhadap mutu hedonik rasa, warna, dan aroma, namun tidak berpengaruh nyata (p value > 0,05) terhadap mutu hedonik tekstur dan kandungan beta karoten biskuit. Formula terbaik biskuit (G3) mengandung energi 373,94 kkal, protein 6,96 gram, lemak 2,69 gram, karbohidrat 383,60 gram, kadar air 4,05%, kadar abu 0,05%, dan beta karoten 1185,77 RE. Kesimpulan : Serving size biskuit yaitu 10 gram yang mengandung energi 38,36 kkal, protein 0,70 gram, lemak 0,27 gram, karbohidrat 37,39 gram, dan beta karoten 118,58 μg RE. Konsumsi biskuit memenuhi kebutuhan beta karoten sebesar 296,45% dari kebutuhan selingan sehari. Kata kunci : Biskuit, Labu Kuning, Daun Kelor, Beta Karoten | ABSTRACT FORMULATION OF PROVITAMIN A-BASED BISCUITS MADE FROM COMPOSITE FLOUR OF PUMPKIN (Cucurbita moschata) AND MORINGA LEAVES (Moringa oleifera) AS MP-ASI FOR CHILDREN AGED 9-24 MONTHS Masayu Nindia Pertiwi, Indah Nuraeni, Hiya Alfi Rahmah Background: Prevention of vitamin A deficiency can be achieved by increasing the diversity of foods rich in vitamin A. The consumption of natural ingredients such as pumpkin and moringa leaves can be an alternative snack for children aged 9-24 months. The study aims to determine the effect of the proportion of pumpkin and moringa leaves on beta-carotene content and the hedonic quality of biscuits. Method : The experimental study used a randomized group design with three formulas and six replicates. There were 3 treatments, each with a different ratio of wheat flour : pumpkin flour : moringa leaf flour, namely G1 = 20% : 65% : 15%; G2 = 20% : 70% : 10%; G3 = 20% : 75% : 5%. Statistical analysis of beta-carotene content was performed using ANOVA, while hedonic quality was assessed using the Friedman test. If a significant effect (p<0.05) was detected, the DMRT test was conducted. The best formula was determined using the De Garmo effectiveness index test. Results : The proportions of pumpkin flour and moringa leaf flour had a significant effect (p value < 0.05) on the hedonic quality of taste, color, and aroma, but did not have a significant effect (p value > 0.05) on the hedonic quality of texture and beta-carotene content of the biscuits. The best biscuit formula (G3) contains 373.94 kcal of energy, 6.96 grams of protein, 2.69 grams of fat, 383.60 grams of carbohydrates, 4.05% moisture content, 0.05% ash content, and 1185.77 RE of beta-carotene. Conclusion : Serving size of biscuits is 10 grams which contains 38.36 kcal energy, 0.70 grams protein, 0.27 grams fat, 37.39 grams carbohydrate, and 118.58 μg RE beta carotene. Consumption of biscuits fulfills the beta carotene requirement of 296.45% of the daily intake. Keywords: Biscuit, Pumpkin, Moringa leaves, Beta-carotene | |
| 46049 | 49421 | I1D021026 | PERBEDAAN PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PRAKTIK PEMBERIAN BEKAL SAYUR BUAH PADA ORANG TUA MELALUI EDUKASI WEBSITE | Latar Belakang: Anak usia dini merupakan konsumen pasif yang bergantung pada makanan dari orang tua, sehingga peran orang tua penting dalam membentuk kebiasaan konsumsi sayur dan buah, misalnya melalui bekal sekolah. Untuk mendukung peran ini, dibutuhkan media edukasi gizi yang fleksibel dan mudah diakses, salah satunya adalah website. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengetahuan, sikap, dan praktik bekal sayur dan buah pada orang tua murid TK Diponegoro 125 Arcawinangun Purwokerto Timur melalui edukasi gizi berbasis website. Metodologi: Penelitian ini menggunakan metode quasy experimental dengan desain one group pre-test dan post-test design. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2024 selama 2 minggu dengan pemberian 4 materi edukasi yang diakses melalui website, dengan durasi membaca materi ±15 menit. Sampel sebanyak 30 orang tua murid dipilih dengan teknik simple random sampling. Kriteria inklusi meliputi orang tua murid yang bersedia mengikuti penelitian, memiliki akses internet, dan membawakan bekal makanan untuk anak. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon karena variabel data berdistribusi tidak normal. Hasil Penelitian: Sebagian besar responden merupakan ibu rumah tangga berusia 36–45 tahun, berpendidikan menengah/SMA sederajat, dan berpendapatan di bawah UMK Banyumas. Terdapat peningkatan pengetahuan sebesar 24,64% dengan median 5 menjadi 8 (nilai p=0,000), serta peningkatan sikap membawa bekal sayur buah sebesar 9,37% dengan median 26 menjadi 28 (nilai p=0,000). Namun, tidak terdapat perubahan praktik membawa bekal sayur buah (nilai p=0,461). Kesimpulan: Terdapat perbedaan antara pengetahuan dan sikap sebelum dan sesudah edukasi, dan tidak terdapat perbedaan praktik membawa bekal sayur buah sebelum dan sesudah edukasi. | Background: Early childhood relies on parents for food, making parents key to shaping children’s vegetable and fruit consumption habits, including through school lunch provisions. To support this role, accessible nutrition education media such as websites are needed. This study aimed to examine differences in parents' knowledge, attitudes, and practices (KAP) of providing vegetable and fruit lunches after website-based nutrition education. Methodology: This study used a quasy experimental one group pre-test and post-test design. Conducted in November 2024 over two weeks, the intervention included four website-based materials (15 minutes/session). Thirty parents from TK Diponegoro 125 Arcawinangun were selected via simple random sampling. Inclusion criteria included internet access, willingness to participate, and regularly preparing their child’s lunch. Data were analyzed using the Wilcoxon test due to non-normal distribution. Results: Most respondents were housewives aged 36-45 years, with a secondary education background and family income below the regional minimum wage. Knowledge increased by 24.64% (median score rising from 5 to 8, p = 0.000), and attitudes improved by 9.37% (median score rising from 26 to 28, p = 0.000). However, no significant change occurred in lunch provision practices (p = 0.461). Conclusion: There were significant differences in knowledge and attitudes before and after the education intervention, but no difference in lunch provision practices. | |
| 46050 | 49422 | L1C021076 | Characteristics of Turbulent Potential in the Lasolo Bay, Southeast Sulawesi | Teluk Lasolo merupakan salah satu kawasan wisata bahari yang masih alami dengan berbagai biota laut yang ada di wilayah perairan Indonesia. Teluk ini terletak di bagian timur Laut Banda, berhadapan langsung dengan Laut Seram, yang berada di jalur Arus Lintas Indonesia. Karakteristik potensi turbulen disajikan berdasarkan hasil pengamatan langsung CTD (Conductivity, Temperature, Depth) dan Vessel Mounted Acoustic Doppler Current Profiler (VMADCP) pada bulan Juli 2011 dengan menggunakan RV Baruna Jaya VIII. Potensi turbulen diperoleh dengan menggunakan metode Richardson Number (Ri), yang dihitung sebagai rasio antara arus geser dan stratifikasi massa air. Ditemukan tiga zona potensi turbulensi yang berbeda, yaitu di pintu masuk Teluk Lasolo, perairan dalam Teluk Lasolo, dan perairan dangkal Teluk Lasolo. Potensi turbulensi maksimum ditemukan di pintu masuk Teluk Lasolo, dan beberapa titik, yang sangat terkait dengan geseran yang kuat dan kolom air yang kurang bertingkat. | Lasolo Bay is one of the natural marine tourism regions with various marine life in the Indonesian territorial waters. The bay is located in the eastern part of the Banda Sea, directly open to the Seram Sea, which are in the path of the Indonesian Throughflow. The characteristics of turbulent potential are presented based on the direct observations of CTD (Conductivity, Temperature, Depth) and Vessel Mounted Acoustic Doppler Current Profiler (VMADCP) in July 2011 using RV Baruna Jaya VIII. Turbulent potential was obtained using the Richardson Number (Ri) method, calculated as the ratio between shear currents and water mass stratification. Three different strengths of potential of turbulence zone are found, i.e., in the entrance to the Lasolo Bay, deep water of the Lasolo Bay, and the shallow waters of the Lasolo Bay. The maximum of turbulence potential was found in the entrance to the Lasolo Bay, and some spots, which are highly related to strong shears and less stratified water column. | |
| 46051 | 49423 | L1B021033 | PEMANFAATAN Azolla sp. DALAM PEMBUATAN HIDROLISAT PROTEIN SECARA ENZIMATIS MENGGUNAKAN ENZIM PAPAIN SEBAGAI PAKAN IKAN | Hidrolisis protein merupakan suatu metode untuk menghasilkan peptida dan asam amino yang lebih sederhana melalui proses penguraian protein dan disebut hidrolisat protein. Azolla merupakan tanaman air yang masih jarang dimanfaatkan, namun memiliki kandungan nutrisi yang cukup tinggi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh lama waktu hidrolisis protein azolla terhadap pH, suhu, dan aktifitas enzim hidrolisat protein menggunakan enzim papain, serta mengetahui komposisi asam amino dan nutrisi hidrolisat protein Azolla menggunakan enzim papain. Metode yang digunakan adalah penelitian eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 7 perlakuan dan 3 kali ulangan, yaitu pengamatan hidrolisat protein azolla selama 0 jam (P0), 6 jam (P1), 12 jam (P2), 18 jam (P3), 24 jam (P4), 30 jam (P5), dan 36 jam (P6). Perlakuan terbaik masing-masing parameter yaitu pada P4 (24 jam) dengan nilai pH 6,67, suhu 24,33oC, dan aktivitas enzim 2,47. Hidrolisat protein Azolla menggunakan enzim papain memiliki 18 jenis asam amino terdiri dari 9 jenis asam amino esensial dan 9 jenis asam amino non esensial, serta memiliki kadar air (10,00%), abu (26,12%), lemak (2,37%), protein (29,26%), dan karbohidrat (32,26%). | Protein hydrolysis is a method for producing simpler peptides and amino acids through the process of protein breakdown, known as protein hydrolysate. Azolla is an aquatic plant that is still rarely utilized, but has a fairly high nutritional content. The objective of this study is to determine the effect of protein hydrolysis duration on pH, temperature, and protein hydrolysate enzyme activity using papain enzyme, as well as to determine the amino acid composition and nutritional content of Azolla protein hydrolysate using papain enzyme. The method used is an experimental study employing a Completely Randomized Design (CRD) with 7 treatments and 3 replications, namely observing Azolla protein hydrolysate at 0 hours (P0), 6 hours (P1), 12 hours (P2), 18 hours (P3), 24 hours (P4), 30 hours (P5), and 36 hours (P6). The best treatment for each parameter was at P4 (24 hours) with a pH value of 6.67, temperature of 24.33°C, and enzyme activity of 2.47. The protein hydrolysate of Azolla using papain enzyme contains 18 types of amino acids, including 9 essential amino acids and 9 non-essential amino acids, as well as moisture content (10.00%), ash (26.12%), fat (2.37%), protein (29.26%), and carbohydrates (32.26%). | |
| 46052 | 49424 | F2C022019 | DISEMINASI INFORMASI PROGRAM GENERASI BERENCANA (GENRE) DI KABUPATEN BANYUMAS | Kasus pernikahan dini, HIV, dan narkotika menjadi kasus-kasus yang periu mendapat perhatian khusus dari pemerintah Kabupaten Banyumas karena jumlahnya yang masih tinggi. Guna mengatasi kasus-kasus tersebut, pemerintah Kabupaten Banyumas melalui Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlidungan Anak (DPPKBP3A) turut menyelenggarakan program yang ditujukan bagi remaja seperti program Generasi Berencana (GenRe) dan membentuk organisasi Forum Generasi Berencana (GenRe). Pada pelaksanaan Program GenRe oleh Forum Genre, terdapat diseminasi informasi yang menjadi salah satu proses dalam mendukung pelaksanaan Program GenRe. Proses diseminasi menjadi proses penting untuk memperkenalkan Program GenRe kepada siswa-siswi SMA se-wilayah Kabupaten Banyumas yang menjadi target utama program ini. Disamping itu, data dari penelitian terdahulu menunjukkan 68% siswa-siswi SMA se-wilayah Kabupaten Banyumas tidak pernah mendapatkan informasi mengenai program Generasi Berencana (Genre). Literatur yang digunakan pada kajian ini berdasarkan topik kajian yang memiliki tema penerapan proses diseminasi dalam suatu kasus. Kajian ini memiliki model kajian studi kasus intrinsik dengan validitas data triangulasi sumber Kajian ini bertujuan untuk menganalisis diseminasi informasi Generasi Berencana (GenRe) yang dilakukan DPPKBP3A Kabupaten Banyumas, mengkaji faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan diseminasi informasi Program Generasi Berencana (GenRe) yang dilakukan Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlidungan Anak (DPPKBP3A) Kabupaten Banyumas. Hasil dari penulisan ini menunjukkan bahwa proses diseminasi informasi Program GenRe telah dilakukan melalui tiga tahap yakni tahap perencanaan, pelaksanaan dan output pelaksanaan diseminasi. Disamping itu, ditemukan pula faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan yang jika mendapat perhatian khusus dari DPPKBP3A Kabupaten Banyumas dapat menjadikan pelaksanaan proses diseminasi informasi pada Program GenRe menjadi lebih baik. | Cases of early marriage, HIV, and narcotics are cases that require special attention from the Banyumas Regency government because the number is still high. To address these cases, the Banyumas Regency government through the Population Control, Family Planning, Women's Empowerment and Child Protection Agency (DPPKBP3A) also organizes programs aimed at adolescents such as the Generation Planning (GenRe) program and forms the Generation Planning (GenRe) Forum organization. In the implementation of the GenRe Program by the Genre Forum, there is information dissemination which is one of the processes in supporting the implementation of the GenRe Program. The dissemination process is an important process to introduce the GenRe Program to high school students throughout the Banyumas Regency area who are the main targets of this program. In addition, data from previous research shows that 68% of high school students in the Banyumas Regency area have never received information about the Generation Planning (GenRe) program. The literature used in this study is based on the study topic that has the theme of applying the dissemination process in a case. This study uses an intrinsic case study model with data validity based on source triangulation. This study aims to analyze the dissemination of Generation Planning (GenRe) information conducted by the Banyumas Regency Population Control, Family Planning, Women's Empowerment, and Child Protection Agency (DPPKBP3A). The study also examines the supporting and inhibiting factors in the dissemination of information on the Generation Planning (GenRe) Program, conducted by the Banyumas Regency Population Control, Family Planning, Women's Empowerment, and Child Protection Agency (DPPKBP3A). The results of this study indicate that the information dissemination process for the GenRe Program has been carried out through three stages: planning, implementation, and output. Furthermore, supporting and inhibiting factors were identified, which, if given special attention by the Banyumas Regency DPPKBP3A, could improve the dissemination process for the GenRe Program. | |
| 46053 | 49469 | H1B021077 | Risiko Dominan pada Rantai Pasok Material Proyek Konstruksi Gedung | Proyek konstruksi bangunan sering menghadapi risiko keterlambatan akibat permasalahan dalam rantai pasok material, di mana keterlambatan dalam pengadaan material menjadi salah satu isu utama dalam pelaksanaan proyek. Sekitar 60% proyek konstruksi mengalami keterlambatan yang berkaitan dengan permasalahan rantai pasok material. Keterlambatan ini berdampak pada jadwal proyek dan menyebabkan pembengkakan biaya hingga 20% dari anggaran awal. Oleh karena itu, manajemen rantai pasok yang efektif dan efisien memegang peran penting dalam mencegah keterlambatan pengiriman material. Sehubungan dengan itu, penelitian ini menganalisis faktor-faktor risiko dominan dalam proyek konstruksi bangunan. Data dikumpulkan melalui kuesioner, dengan responden yang dipilih dari pihak kontraktor menggunakan teknik purposive sampling, yaitu project manager, site engineer, dan personel logistik. Penelitian ini mengidentifikasi 20 (dua puluh) faktor risiko rantai pasok material yang dikategorikan ke dalam 4 (empat) kriteria utama: supply, demand, process, dan control. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 3 (tiga) faktor risiko dominan yang menempati peringkat tertinggi dalam kategori risiko tinggi. Faktor-faktor risiko tersebut mencakup kesulitan dalam memperoleh persetujuan material, izin kerja, dan gambar kerja; keterlambatan pengiriman material akibat masalah keuangan; serta keterlambatan yang disebabkan oleh kontraktor dalam melakukan pembayaran kepada subkontraktor atau pemasok. | Building construction projects often face the risk of delays due to problems in the material supply chain, where delays in material procurement are one of the main issues in project implementation. Around 60% of construction projects experience delays related to material supply chain problems. This delay impacted the project schedule and caused cost overruns of up to 20% of the initial budget. Therefore, effective and efficient supply chain management plays an important role in preventing delays in material delivery. In this regard, this research analyzes the dominant risk factors in building construction projects. Data were collected through questionnaires, with respondents selected from the contractor using purposive sampling techniques, including project managers, site engineers and logistics personel. This research identified 20 (twenty) material supply chain risk factors, which are categorized into 4 (four) main criteria: supply, demand, process and control. The results of the research show that there are 3 (three) dominant risk factors which rank highest in the high-risk category. These risk factors include difficulties obtaining material approvals, work permits and work drawings; delays in material delivery due to financial problems; and delays caused by contractors making payments to subcontractors or suppliers. | |
| 46054 | 49483 | C1A021027 | PENGARUH ASPEK KEMUDAHAN PENGGUNAAN, KEAMANAN, KEUNTUNGAN FINANSIAL, DAN FLEKSIBILITAS TERHADAP PREFERENSI ADOPSI LAYANAN BANK DIGITAL: STUDI KASUS GENERASI Z DI JABODETABEK | Penelitian ini merupakan studi kuantitatif yang bertujuan untuk menganalisis pengaruh kemudahan penggunaan, keamanan, keuntungan finansial, dan fleksibilitas terhadap preferensi adopsi layanan bank digital oleh Generasi Z di Jabodetabek. Sebanyak 100 responden dipilih menggunakan metode purposive sampling, dengan kriteria individu yang lahir antara tahun 1997–2007, berdomisili di Jabodetabek, serta telah menggunakan layanan bank digital lebih dari satu kali dalam enam bulan terakhir. Data dianalisis menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel keuntungan finansial dan fleksibilitas layanan berpengaruh positif dan signifikan terhadap preferensi adopsi bank digital, sedangkan kemudahan penggunaan dan keamanan tidak memiliki pengaruh yang signifikan. Temuan ini menunjukkan bahwa Generasi Z lebih mempertimbangkan manfaat langsung dan praktis, seperti efisie nsi biaya dan kemudahan operasional, dibandingkan aspek teknis. Implikasi dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penyedia layanan bank digital perlu memperkuat strategi promosi yang menyoroti keuntungan finansial seperti cashback, diskon, dan bebas biaya administrasi, serta mengembangkan fitur-fitur layanan yang fleksibel, mudah diakses, dan sesuai dengan gaya hidup dinamis Generasi Z. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mempertimbangkan variabel lain seperti citra merek, pengaruh sosial, perceived coolness, dan brand image guna memperoleh pemahaman yang lebih menyeluruh terhadap faktor-faktor yang memengaruhi adopsi layanan bank digital oleh Generasi Z. | This quantitative study aims to analyze the influence of ease of use, security, financial benefits, and service flexibility on the adoption preference of digital banking services among Generation Z in the Greater Jakarta area (Jabodetabek). A total of 100 respondents were selected using purposive sampling, with criteria including individuals born between 1997 and 2007, residing in Jabodetabek, and having used digital banking services more than once in the past six months. Data were analyzed using multiple linear regression. The results show that financial benefits and service flexibility have a positive and significant influence on the adoption preference of digital banking, whereas ease of use and security do not show a significant effect. These findings indicate that Generation Z tends to prioritize direct and practical benefits, such as cost efficiency and operational convenience, over technical aspects. The implications of this study suggest that digital banking providers should strengthen promotional strategies that highlight financial benefits such as cashback, discounts, and zero administrative fees, as well as develop flexible, easily accessible services tailored to the dynamic lifestyle of Generation Z. Future research is recommended to consider additional variables such as brand image, social influence, perceived coolness, and overall brand perception in order to gain a more comprehensive understanding of the factors influencing digital banking adoption among Generation Z. | |
| 46055 | 49425 | A1C021067 | PENGARUH KEMIRINGAN TALANG PADA HIDROPONIK SISTEM NUTRIENT FILM TECHNIQUE (NFT) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL VARIETAS BUNGA KOL (Brassica oleracea var. botrytis L.) DATARAN RENDAH | Bunga kol merupakan sayuran bernilai gizi tinggi yang kaya akan serat serta vitamin B1, B2, dan C, berperan penting dalam metabolisme energi dan sistem kekebalan tubuh. Meski umumnya dibudidayakan di dataran tinggi, kini telah tersedia varietas untuk dataran rendah seperti PM 3000 F1, Larisa F1, dan PM 126. Penurunan produksi bunga kol dari 203.385 ton pada tahun 2021 menjadi 175.073 ton pada tahun 2023 disebabkan antara lain oleh alih fungsi lahan. Hidroponik, khususnya sistem Nutrient Film Technique (NFT), menjadi alternatif budidaya di lahan terbatas karena efisien dalam penggunaan air, nutrisi, dan ruang. Salah satu aspek penting dalam sistem NFT adalah kemiringan talang, yang memengaruhi kecepatan aliran larutan nutrisi dan penyerapan hara oleh akar tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh kemiringan talang NFT terhadap pertumbuhan dan hasil tiga varietas bunga kol dataran rendah. Penelitian dilakukan di Experimental Farm, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman (±102 mdpl), menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dua faktor dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah kemiringan talang (4%, 7%, dan 10%), dan faktor kedua adalah varietas bunga kol. Variabel yang diamati meliputi iklim mikro (suhu, kelembapan, intensitas cahaya), pertumbuhan (tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar), dan hasil (bobot dan diameter curd). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemiringan talang 7% memberikan pertumbuhan dan hasil terbaik dengan tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar, bobot segar curd, dan diameter curd. Varietas Larisa F1 menunjukkan performa pertumbuhan paling baik dengan tinggi tanaman, jumlah daun, dan panjang akar. | Cauliflower is a highly nutritious vegetable rich in fiber and vitamins B1, B2, and C, which play essential roles in energy metabolism and the immune system. Although it is typically cultivated in highland areas, several lowland varieties such as PM 3000 F1, Larisa F1, and PM 126 are now available. The decline in cauliflower production from 203,385 tons in 2021 to 175,073 tons in 2023 is partly due to land-use changes. Hydroponics, particularly the Nutrient Film Technique (NFT) system, offers an alternative cultivation method for limited land areas due to its efficiency in water, nutrient, and space usage. One critical factor in NFT systems is the slope of the growing channel, which affects the flow rate of nutrient solution and nutrient absorption by plant roots. This study aimed to examine the effect of different NFT channel slopes on the growth and yield of three lowland cauliflower varieties. The research was conducted at the Experimental Farm, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University (±102 meters above sea level), using a two-factor Completely Randomized Design (CRD) with three replications. The first factor was channel slope (4%, 7%, and 10%), and the second was cauliflower variety. Observed variables included microclimate parameters (temperature, humidity, light intensity), growth (plant height, number of leaves, root length), and yield (curd weight and diameter). The results of the study showed that a 7% gutter slope provided the best growth and yield, including plant height, number of leaves, root length, fresh curd weight, and curd diameter. The Larisa F1 variety demonstrated the best growth performance in terms of plant height, number of leaves, and root length. | |
| 46056 | 49426 | E1B019021 | Legal Protection for Consumers in the Use of kWh Meter Devices (A Case Study of Decision Number 80 K/Pdt.Sus-BPSK/2024/PN Bjb) | Energi listrik adalah kebutuhan pokok masyarakat yang berperan penting dalam mendukung aktivitas sehari-hari di berbagai bidang kehidupan. Pada penelitian ini ditemukan permasalahan sengketa antara PT PLN (Persero) dengan konsumennya terkait keabsahan tagihan susulan sebesar Rp. 33.325.249 akibat dugaan pelanggaran pemakaian listrik yang belum didukung oleh bukti yang memadai oleh pihak konsumen. Permasalahan yang dianalisis dalam penelitian ini yaitu mengenai bagaimana bentuk perlindungan hukum terhadap konsumen PT PLN (Persero) berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, serta bagaimana upaya penyelesaian sengketa yang dapat ditempuh oleh konsumen jika dirugikan oleh pelaku usaha. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif. Perlindungan hak konsumen dalam kasus ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan, yang ditetapkan dalam Pasal 4 UUPK, serta dalam Pasal 29 UUK yang menyatakan bahwa konsumen listrik memiliki kewajiban, salah satunya menjaga keamanan instalasi tenaga listrik milik konsumen. Proses penyelesaian sengketa pada kasus ini dilakukan dengan menggunakan jalur litigasi yaitu pengadilan, dan jalur non-litigasi yaitu di luar pengadilan, melalui BPSK, mediasi, arbitrase, konsiliasi. Meskipun kedua jalur telah digunakan, penerapan asas pembalikan beban pembuktian belum optimal. Hal ini mencerminkan perlunya pembaruan hukum acara dalam sengketa konsumen agar prinsip perlindungan konsumen dapat diterapkan secara maksimal. | Electrical energy is a fundamental necessity of the community, playing a crucial role in supporting daily activities across various aspects of life. In this study, a dispute was found between PT PLN (Persero) and its consumers regarding the validity of follow-up bills amounting to Rp 33,325,249 due to alleged violations of electricity usage, for which adequate evidence from the consumer has not been provided. The problem analyzed in this study concerns the form of legal protection for PT PLN (Persero) consumers, as outlined in Law No. 8 of 1999 concerning Consumer Protection, and how consumers can resolve disputes when business actors harm them. The research method used is normative juridical. Protection of consumer rights in this case is regulated in The Consumer Law (1999) and The Electricity Law (2009), which is stipulated in Article 4 of the UUPK, as well as in Article 29 of the UUK which states that electricity consumers have obligations, one of which is to maintain the safety of consumer electrical power installations. The dispute resolution process in this case was conducted through both litigation, namely in the courts, and non-litigation, namely out-of-court, through the BPSK (Regional Consumer Protection Agency), including mediation, arbitration, and conciliation. Although both channels were utilized, the application of the principle of the burden of proof reversal was not optimal. This reflects the need for reform of procedural law in consumer disputes to maximize the application of consumer protection principles. | |
| 46057 | 49427 | E1B019035 | LEGAL PROTECTION OF BUSINESS ENTERPRISES OF PT. OTO MULTIARTHA BASED ON LAW NUMBER 8 OF 1999 CONCERNING CONSUMER PROTECTION (STUDY OF DECISION NUMBER 118/PDT.SUS-BPSK/2022/PN.KWG) | Kebutuhan yang cepat akan moda transportasi munculah lembaga pembiayaan di tengah masyarakat, hal mana lembaga pembiayaan dianggap dapat memenuhi kebutuhan masyarakat secara cepat. Badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan dana atau modal didefinisikan sebagai Lembaga pembiayaan, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 angka 1 Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2009. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan hukum antara pelaku usaha dan konsumen lembaga pembiayaan dan menganalisis perlindungan hukum bagi pelaku usaha terhadap konsumen yang tidak membayar hutang angsuran, Penelitian ini mengadopsi pendekatan yuridis normatif dan memiliki spesifikasi deskriptif. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder, yang mencakup bahan hukum sekunder. Pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan. Data yang terkumpul kemudian disajikan secara sistematis, dan analisisnya dilakukan secara normatif kualitatif. Berdasarkan penemuan dari riset dan pembahasan bahwa Putusan Badan Penyelesaian Sengketa (BPSK) tidak berwenang memeriksa dan memutuskan perkara yang diajukan oleh Termohon, karena dalam perjanjian pembiayaan konsumen tidak pernah disepakati penyelesaian sengketa secara arbitrase melalui Badan Penyelesaian Sengketa (BPSK). Oleh karena itu, putusan yang dijatuhkan oleh Badan Penyelesaian Sengketa tidak sah, dan batal dengan segala akibat hukumnya. | The rapid need for transportation modes has given rise to financing institutions in the community, which are considered to fulfill the community's needs quickly. Financing institutions are business entities involved in supplying capital or funds, as outlined in Article 1, number 1 of Presidential Regulation Number of 2009 regarding Financing Institutions. This study aims to determine the legal relationship between business actors and consumers of financing institutions and to analyze legal protection for business actors against consumers who do not pay installment debts. A normative legal approach with descriptive research characteristics guides this study. It relies on secondary data, particularly secondary legal documents, which were acquired through literature studies. The collected data is organized systematically for analysis is normatively qualitatively conducted. Considering the results of the study and the discussion, the Decision of the Dispute Resolution Agency (BPSK) is not permitted to examine and decide the case filed by the Respondent because it was never agreed to settle disputes through arbitration through the Dispute Resolution Agency (BPSK) in the consumer financing agreement. Therefore, the decision issued by the Dispute Resolution Body is invalid and void with all its legal consequences. | |
| 46058 | 49428 | E1A021028 | ANALISIS PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MENGABULKAN GUGATAN REKONVENSI ATAS HAK ISTRI DAN ANAK DALAM PERKARA CERAI TALAK (Studi Putusan Nomor : 1828/Pdt.G/2023/PA.Pwt) | Perkara Nomor 1828/Pdt.G/2023/PA.Pwt merupakan salah satu perkara cerai talak yang diajukan oleh pihak suami sebagai Pemohon, istri sebagai Termohon, dalam jawaban menggugat balik/rekonvensi atas hak-hak istri dan anak, oleh majelis hakim gugatan rekonvensinya dikabulkan sebagian. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis Pertimbangan Hakim Mengabulkan Gugatan Rekonvensi Atas Hak Istri dan Anak serta untuk mengetahui dan menganalisis akibat hukumnya. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan kasus, perundang-undangan dan konsep Data sekunder dianalisis secara preskriptif melalui studi kepustakaan dan dianalisis secara normatif kualitatif serta disajikan dalam teks naratif. Hasil penelitiannya pertimbangan majelis hakim Pengadilan Agama Purwokerto dalam mengabulkan gugatan rekonvensi terbukti. didasarkan dengan hasil pembuktian yang diajukan oleh dalil termohon dalam rekonvensi terbukti tetapi dikabulkan hanya sebagian yaitu dengan memperhatikan faktor lamanya usia pernikahan dan kemampuan ekonomi pemohon. Akibat Hukumnya pemohon sebelum ikrar talak wajib membayar nafkah Iddah Rp. 4.500.000 (empat juta lima ratus rupiah), Mut’ah Rp. 5.000.000 (lima juta rupiah), Nafkah Madhiyah selama 5 (lima) bulan sejumlah Rp. 5.000.000 (lima juta rupiah). | Case Number 1828/Pdt.G/2023/PA.Pwt is a divorce case filed by the husband as the Petitioner and the wife as the Respondent, in which the wife filed a counterclaim/reconvention regarding the rights of the wife and children. The panel of judges granted the counterclaim in part. The purpose of this study is to identify and analyze the judges' considerations in granting the counterclaim regarding the rights of the wife and children, as well as to identify and analyze the legal consequences thereof. This research uses a normative legal method with a case approach, legislation, and secondary data analyzed prescriptively through literature review and analyzed normatively qualitatively, presented in narrative text. The results of the study show that the considerations of the panel of judges at the Purwokerto Religious Court in granting the counterclaim were based on the evidence presented by the respondent in the counterclaim, which was proven but only partially granted, taking into account the length of the marriage and the economic capacity of the petitioner. The legal consequences are that the petitioner must pay maintenance during the waiting period (Iddah) of Rp. 4,500,000 (four million five hundred thousand rupiah), mut'ah of Rp. 5,000,000 (five million rupiah), and madiyah maintenance for 5 (five) months amounting to Rp. 5,000,000 (five million rupiah). | |
| 46059 | 49429 | F2C023020 | Invisibilitas Peran Perempuan Dalam Narasi Produksi Gula Kelapa Di Pedesaan Banyumas | Terdapat pembagian peran gender dalam tahapan produksi gula kelapa di pedesaan Banyumas. Dalam konteks ini peran gender menjadi sangat jelas, di mana laki-laki umumnya bertanggung jawab untuk mengambil nira kelapa dari pohonnya (menderes). Sementara perempuan terlibat dalam proses pengolahan. Namun, meskipun peran perempuan dalam proses produksi gula kelapa sangat signifikan, mereka seringkali dianggap sebagai bagian dari bantuan dalam proses produksi. Sedangkan laki-laki yang mengambil nira kelapa dianggap sebagai petani utama dalam narasi produksi gula kelapa. Ketidakadilan ini menunjukkan adanya stigma gender yang mendominasi narasi produksi gula kelapa di pedesaan Banyumas, di mana peran perempuan seringkali mengalami invisibilitas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana peran perempuan dalam proses produksi gula kelapa di pedesaan Banyumas. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik pengambilan data menggunakan metode wawancara dan observasi. Informan dalam penelitian ini merupakan petani laki-laki dan perempuan yang terlibat langsung dalam proses produksi gula kelapa di Desa Pernasidi dan Desa Batuanten. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan analisis tematik Braun & Clarke (2006). Temuan penelitian ini menggambarkan konstruksi gender yang kompleks dalam proses produksi gula kelapa. Konstruksi gender ini dilihat dari tiga aspek utama, yaitu 1) pembagian peran berbasis gender, 2) proses pewarisan pengetahuan, dan 3) dinamika pengambilan keputusan dalam proses produksi. Kemudian, terdapat tiga faktor yang turut membentuk konstruksi gender dalam masyarakat antara lain: 1) relasi kuasa, 2) budaya patriarki, dan 3) faktor ekonomi. Konstruksi gender ini berlangsung di setiap praktik sosial, mulai dari pewarisan keterampilan, pemilihan pekerjaan, hingga cara berkomunikasi. Tterdapat ketimpangan struktural dalam industri gula kelapa yang menempatkan petani laki-laki dan perempuan pada posisi yang tidak setara, yang berdampak pada pengalaman kerja, akses sumber daya, dan pengakuan formal yang mereka terima. Oleh karena itu, perlu adanya pengakuan formal dan pemberdayaan ekonomi terhadap kontribusi perempuan dalam industri gula kelapa yang selama ini terpinggirkan oleh budaya patriarki untuk keberlanjutan industri tradisional ini. | There is a gender-based division of labor in the stages of palm sugar production in rural Banyumas. In this context, gender roles are clearly defined, where men are generally responsible for tapping sap from coconut trees, while women are involved in the processing stages. However, even though women’s roles in the palm sugar production process are highly significant, they are often regarded merely as assistants in the production process. Meanwhile, men who tap the coconut sap are viewed as the primary farmers in the narrative of palm sugar production. This inequity reveals the presence of gender stigma that dominates the narrative of palm sugar production in rural Banyumas, in which women’s roles are frequently rendered invisible. Therefore, this study aims to analyze the role of women in the palm sugar production process in rural Banyumas. This research is a descriptive qualitative study using interview and observation methods for data collection. The informants in this study are both male and female farmers directly involved in the palm sugar production process in Pernasidi and Batuanten Villages. The data in this study were analyzed using Braun & Clarke’s (2006) thematic analysis. The findings of this study illustrate the complex construction of gender in the palm sugar production process. This gender construction can be seen through three main aspects: 1) gender-based division of labor, 2) the inheritance of knowledge, and 3) the dynamics of decision-making in the production process. Furthermore, there are three factors that shape the construction of gender in the community: 1) power relations, 2) patriarchal culture, and 3) economic factors. Gender construction occurs in every social practice, ranging from the transfer of skills, job selection, to modes of communication.There is a structural inequality in the palm sugar industry that places male and female farmers in unequal positions, affecting their work experiences, access to resources, and formal recognition. Therefore, formal recognition and economic empowerment of women’s contributions in the palm sugar industry—which have long been marginalized by patriarchal culture—are essential for the sustainability of this traditional industry. | |
| 46060 | 49430 | E1A021188 | PERLINDUNGAN HUKUM BAGI NARAPIDANA DALAM PENGAJUAN REMISI DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS II A PURWOKERTO | Penelitian ini mengkaji perlindungan hukum bagi narapidana dalam pengajuan remisi di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Purwokerto, terutama setelah diterbitkannya Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Permenkumham) Nomor 7 Tahun 2022 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 3 Tahun 2018 tentang Syarat dan Tata Cara Pemberian Remisi, Asimilasi, Cuti Mengunjungi Keluarga, Pembebasan Bersyarat, Cuti Menjelang Bebas, dan Cuti Bersyarat. Remisi, sebagai bentuk penghargaan negara bagi narapidana yang berkelakuan baik, mengalami berbagai kendala dalam implementasinya, termasuk keterlambatan administratif, kurangnya koordinasi antar lembaga, dan minimnya pemahaman narapidana terhadap mekanisme remisi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak perubahan kebijakan terhadap efektivitas pemberian remisi dan mengidentifikasi kendala yang dihadapi oleh narapidana dan petugas. Data menunjukkan fluktuasi jumlah penerima remisi di Lapas Kelas IIA Purwokerto, dengan penurunan signifikan dari 627 narapidana pada tahun 2022 menjadi 498 narapidana pada tahun 2024. Penurunan ini mengindikasikan bahwa perubahan regulasi dan kendala administratif berdampak langsung pada jumlah narapidana yang menerima remisi. Selain itu, jumlah tersebut mengindikasikan adanya kelebihan kapasitas lebih dari jumlah tamping maksimal dalam Lapas yaitu 488 Narapidana. Meskipun beberapa penelitian sebelumnya telah membahas hambatan administratif dan disiplin dalam pemberian remisi, belum ada kajian yang secara spesifik menganalisis dampak Permenkumham No. 7 Tahun 2022 terhadap implementasi remisi di Lapas Kelas IIA Purwokerto. Melalui pendekatan kualitatif, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap kebijakan pemasyarakatan yang lebih adil, transparan, dan efektif di Indonesia. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan rekomendasi untuk perbaikan sistem remisi yang lebih optimal, serta meningkatkan pemahaman narapidana mengenai hak dan kewajiban mereka dalam proses pengajuan remisi. | This study examines the legal protection for inmates in the remission application process at the Class IIA Purwokerto Correctional Institution, particularly following the issuance of the Minister of Law and Human Rights Regulation (Permenkumham) Number 7 of 2022, which amends the Minister of Law and Human Rights Regulation Number 3 of 2018 concerning the Requirements and Procedures for Granting Remission, Assimilation, Family Visitation Leave, Conditional Release, Pre-Release Leave, and Conditional Leave. Remission, as a form of state recognition for well-behaved inmates, faces various implementation challenges, including administrative delays, lack of inter-agency coordination, and inmates’ limited understanding of the remission mechanism. This study aims to analyze the impact of policy changes on the effectiveness of remission granting and to identify obstacles faced by inmates and officers. Data indicates a significant decline in the number of remission recipients at the Class IIA Purwokerto Correctional Institution, from 627 inmates in 2022 to 498 inmates in 2024. This decline suggests that regulatory changes and administrative constraints directly affect the number of inmates receiving remission. Additionally, the data highlights an overcapacity issue, with the inmate population exceeding the facility’s maximum capacity of 488 inmates. Although previous studies have addressed administrative and disciplinary barriers in remission granting, no specific study has analyzed the impact of Permenkumham No. 7 of 2022 on remission implementation at the Class IIA Purwokerto Correctional Institution. Through a qualitative approach, this study is expected to contribute to a more just, transparent, and effective correctional policy in Indonesia. The findings are anticipated to provide recommendations for optimizing the remission system and enhancing inmates’ understanding of their rights and obligations in the remission application process. |