Artikelilmiahs

Menampilkan 46.001-46.020 dari 48.741 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4600149371F2C023014Instagram Sebagai Media Promosi Desa Wisata: Studi Desa Wisata Sumber UripInstagram telah menjadi salah satu platform media sosial terpopuler yang digunakan secara luas, tidak hanya untuk keperluan pribadi tetapi juga untuk kebutuhan kelompok atau lembaga. Penelitian ini mengkaji pemanfaatan Instagram sebagai media promosi Desa Wisata Sumber Urip. Di era digital, media sosial menjadi alat penting dalam strategi pemasaran destinasi wisata, namun efektivitasnya dalam konteks desa wisata masih perlu dieksplorasi lebih lanjut. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis strategi konten, tingkat engagement, dan dampaknya terhadap promosi Desa Wisata Sumber Urip melalui akun Instagram @sumber.urip__. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode netnografi, penelitian ini melakukan analisis konten digital terhadap postingan Instagram selama periode Desember 2020 hingga September 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Instagram memiliki potensi besar sebagai media promosi, pemanfaatannya oleh Desa Wisata Sumber Urip belum optimal. Ditemukan inkonsistensi dalam frekuensi posting, terbatasnya penggunaan hashtag, dan kurangnya interaksi dengan follower. Konten visual, terutama yang menampilkan keindahan alam, mendapat respons positif namun belum didukung oleh strategi storytelling yang kuat. Penelitian juga mengungkapkan belum adanya kolaborasi dengan influencer atau akun wisata lain, yang dapat meningkatkan visibilitas dan kredibilitas destinasi. Kesimpulannya, diperlukan strategi yang lebih komprehensif dan terencana dalam memanfaatkan Instagram, dengan fokus pada konsistensi konten, interaktivitas, storytelling, dan pemanfaatan fitur platform secara optimal untuk meningkatkan efektivitas promosi digital Desa Wisata Sumber Urip.Instagram has emerged as one of the most popular social media platforms, widely used not only for personal purposes but also for group or institutional needs. This study examines the utilization of Instagram as a promotional medium for Sumber Urip Tourism Village. In the digital era, social media has become a crucial tool in tourism destination marketing strategies; however, its effectiveness in the context of rural tourism villages requires further exploration. The aim of this research is to analyze content strategies, engagement levels, and their impact on the promotion of Sumber Urip Tourism Village through the Instagram account @sumber.urip__. Employing a qualitative approach with netnographic methods, this study conducts digital content analysis on Instagram posts from December 2020 to September 2024. The results indicate that while Instagram holds great potential as a promotional medium, its utilization by Sumber Urip Tourism Village has not been optimal. Inconsistencies in posting frequency, limited use of hashtags, and lack of interaction with followers were observed. Visual content, especially that showcasing natural beauty, received positive responses but was not supported by a strong storytelling strategy. The research also reveals a lack of collaboration with influencers or other tourism accounts, which could enhance the destination's visibility and credibility. In conclusion, a more comprehensive and planned strategy is needed in leveraging Instagram, focusing on content consistency, interactivity, storytelling, and optimal utilization of platform features to increase the effectiveness of digital promotion for Sumber Urip Tourism Village.
4600249372F2C022022Analisis Kampanye Pemasaran Sosial Penanggulangan Stunting di Desa Sudagaran, BanyumasStunting merupakan masalah gizi kronis pada anak usia dibawah
lima tahun (balita) yang hingga saat ini masih memerlukan
perhatian dan penanganan serius. Desa Sudagaran, Kecamatan
Banyumas, Kabupaten Banyumas, merupakan salah satu desa
yang hingga kini masih mengalami permasalahan dalam
mengatasi stunting. Padahal, upaya penurunan stunting di Desa
Sudagaran telah dilakukan oleh berbagai pihak seperti
Puskesmas Kecamatan Banyumas, Bidan Desa, Pemerintah Desa
Sudagaran melalui Tim Penggerak Pembina Kesejahteraan
Keluarga (TP PKK), dan Kader Posyandu. Program- program
yang dilakukan diantaranya adalah kegiatan Posyandu Balita,
Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT), dan Kelas Ibu
Hamil.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi
kampanye pemasaran sosial penanggulangan stunting di Desa
Sudagaran, Banyumas dan menganalisis hambatan pada proses
implementasi kampanye pemasaran sosial penanggulangan
stunting di Desa Sudagaran, Banyumas. Penelitian ini
menggunakan paradigma konstruktivisme dengan metode
kualitatif deskriptif. Teori yang digunakan dalam penelitian ini
adalah teori new media dan teori social behavior and change
communication. Hasil dan pembahasan menunjukkan bagaimana
terdapat tiga unsur utama dalam pemasaran sosial yaitu produk
sosial, target adopter, dan teknologi manajemen perubahan
sosial. Produk sosial berupa program-program seperti
Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan, Penyuluhan, Kelas
Ibu Hamil, dan Kelas Ibu Balita. Target adopter berupa keluarga
yang memiliki ibu hamil ataupun ibu balita yang terancam akan
adanya kasus stunting. Teknologi manajemen perubahan sosial berupa media komunikasi yang sudah akrab dengan masyarakat,
seperti WhatsApp, untuk mempercepat koordinasi dan respons
terhadap masalah gizi. Tahapan analisis kampanye pemasaran
sosial dibahas mulai dari siapa saja unsur-unsur komunikasi
yang terlibat mulai dari sumber, pesan, media, penerima, dan
umpan balik. Tahapan berikutnya adalah bagaimana perubahan
berkelanjutan yang terjadi dilihat dari kognitif, afektif, dan
konatif. Teori new media digunakan untuk menganalisis tentang
penggunaan media baru melalui lima postulat yaitu digitalisasi
dan interaktivitas, keterhubungan, keterbukaan dan
aksesibilitas, kustomisasi dan personalisasi, dan virtualitas.
Teori social behavior and change communication digunakan
untuk menganalisis tentang hambatan kampanye pemasaran
sosial yang dikategorikan menjadi hambatan di bagian advokasi,
hambatan mobilisasi sosial, dan juga hambatan edukasi
kesehatan.
Stunting is a chronic nutritional problem in children under five (toddlers)
that still requires serious attention and treatment. Sudagaran Village,
Banyumas District, Banyumas Regency, is one of the villages still
experiencing challenges in addressing stunting. Efforts to reduce stunting
in Sudagaran Village have been undertaken by various parties, including
the Banyumas District Community Health Center, Village Midwives, the
Sudagaran Village Government through the Family Welfare Development
Team, and Integrated Health Service Post cadres. These programs include
the Toddler Posyandu program, the Supplementary Feeding Program, and
Pregnant Women's Classes.
This study aims to analyze the implementation of a social marketing
campaign to combat stunting in Sudagaran Village, Banyumas, and to
analyze the obstacles to its implementation. This research uses a
constructivist paradigm with descriptive qualitative methods. The theories
used in this study are new media theory and social behavior and change
communication theory. The results and discussion demonstrate how there
are three main elements in social marketing: social products, target
adopters, and social change management technology. Social products
include programs such as Supplementary Recovery Feeding, Counseling,
Pregnant Women's Classes, and Mothers-Toddlers' Classes. Target
adopters are families with pregnant women or mothers of toddlers who are
at risk of stunting. Social change management technology takes the form of
familiar communication media, such as WhatsApp, to expedite coordination
and response to nutritional issues. The stages of social marketing campaign
analysis are discussed, starting with the communication elements involved:
the source, message, media, recipient, and feedback. The next stage is how
sustainable change occurs from a cognitive, affective, and conative
perspective. New media theory is used to analyze the use of new media
through five postulates: digitalization and interactivity, connectedness,
openness and accessibility, customization and personalization, and virtuality. Social behavior and change communication theory is used to
analyze barriers to social marketing campaigns, categorized as barriers to
advocacy, barriers to social mobilization, and barriers to health education.
4600349373I1E021029Persepsi Guru PJOK Kecamatan Pekuncen Terhadap Objek Desa Wisata Glempang Sebagai Sarana Dan Prasarana Pembelajaran Aktivitas Luar KelasLatar Belakang: Aktivitas luar kelas yang merupakan salah satu ruang lingkup pendidikan jasmani bertujuan agar siswa dapat beradaptasi dengan lingkungan, memahami pentingnya keterampilan hidup, dan memiliki apresiasi terhadap alam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) di Kecamatan Pekuncen terhadap pemanfaatan Objek Desa Wisata Glempang sebagai sarana dan prasarana pembelajaran aktivitas luar kelas.

Metodologi Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan terdiri dari guru PJOK, pengelola Objek Desa Wisata Glempang, dan siswa.

Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan, guru PJOK memiliki persepsi bahwa Objek Desa Wisata Glempang layak dan memiliki potensi sebagai sarana dan prasarana pembelajaran aktivitas luar kelas. Penilaian didasarkan pada tiga aspek yaitu sarana prasarana, aksesibilitas, dan keamanan. Dengan sebagian besar guru belum pernah melaksanakan pembelajaran aktivitas luar kelas di Objek Desa Wisata Glempang. Sebagian besar guru memberikan catatan mengenai perlunya peningkatan dan penambahan fasilitas, aksesibilitas, dan keamanan di Objek Desa Wisata Glempang agar lebih efektif mendukung kegiatan pembelajaran aktivitas luar kelas.

Kesimpulan: Hasil analisis data, Objek Desa Wisata Glempang memiliki potensi besar sebagai lokasi kegiatan pembelajaran aktivitas luar kelas. Namun, untuk mengoptimalkan pemanfaatannya, diperlukan perbaikan dan peningkatan fasilitas, aspek sarana prasarana, aksesibilitas, dan keamanan, agar lebih optimal mendukung kegiatan pembelajaran aktivitas luar kelas.
Background: Outdoor activities which are one of the scopes of physical education aim to enable students to adapt to the environment, understand the importance of life skills, and have an appreciation for nature. This study aims to analyze the perceptions of Physical Education, Sports, and Health (PESH) teachers in Pekuncen District regarding the use of Glempang Village Tourism Objects as facilities and infrastructure for outdoor learning activities.

Research Methodology: This study uses a qualitative descriptive approach method with data collection techniques in the form of observation, interviews, and documentation. Informants consist of PESH teachers, managers of Glempang Village Tourism Objects, and students.

Research Results: The results of the study indicate that PESH teachers have the perception that the Glempang Tourism Village Object is feasible and has the potential as a means and infrastructure for outdoor learning activities. The assessment is based on three aspects, namely facilities and infrastructure, accessibility, and security. With most teachers having never carried out outdoor learning activities at the Glempang Tourism Village Object. Most teachers provide notes on the need to improve and add facilities, accessibility, and security at the Glempang Tourism Village Object to be more effective in supporting outdoor learning activities.

Conclusion: Based on the results of data analysis, Glempang Village Tourism Object has great potential as a location for outdoor learning activities. However, to optimize its utilization, improvements and enhancements are needed in the aspects of facilities, infrastructure, accessibility, and security, in order to optimally support outdoor learning activities.
4600449374J1C021050Implikatur Ungkapan Cinta Tokoh Harumichi Namiki pada Dorama First Love Karya Yuri KanchikuPenelitian ini menganalisis implikatur ungkapan cinta yang diungkapkan oleh tokoh Harumichi Namiki dalam dorama "First Love" karya Yuri Kanchiku. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis implikatur yang muncul dalam tuturan Harumichi Namiki dan memahami bagaimana pelanggaran maksim dalam prinsip kerja sama Grice (1975) dapat memengaruhi komunikasi cinta antara Namiki dan tokoh lainnya, serta menghubungkannya dengan elemen cinta menurut Erich Fromm (2018). Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan data yang diperoleh dari sembilan episode dorama, berfokus pada dialog Harumichi Namiki yang mengandung ungkapan cinta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implikatur 'perhatian' mendominasi ungkapan cinta Namiki, di mana pelanggaran maksim relevansi sering terjadi. Selain itu, implikatur 'tanggung jawab' juga teridentifikasi, mencerminkan komitmen dan kesediaan Namiki untuk berkorban demi orang yang dicintainya, serta menunjukkan pemahaman emosional yang mendalam. Penelitian ini memberikan wawasan baru bahwa cinta tidak selalu harus diungkapkan secara langsung; terkadang, ungkapan tidak langsung dapat memiliki makna yang kuat.In the exchange of dialogue expressing love, Namiki does not always convey it explicitly. This serves as a foundation to investigate the implied meanings in Namiki's speech. The purpose of this study is to analyze the implicatures that arise in Namiki's utterances and to understand how violations of the maxims in Grice's (1975) cooperative principle can affect the communication of love between Namiki and other characters, as well as how this relates to the elements of love according to Erich Fromm (2018). The method used in this research is descriptive qualitative, where data is obtained from conversations in the drama and analyzed according to relevant theories. The results of this study indicate that there are eight violations of maxims in Namiki's expressions of love, with attention being the most prominent element of love. Although Namiki often violates the maxim of relevance, his actions and dedication to other characters reflect a deep love. The conclusion of this study states that expressions of love do not always have to be overt. The implicatures present in actions and responses can also convey strong feelings. This research provides a new perspective on the communication of love within the context of Japanese culture.
4600549380C1H021003The Influence of Virtual Try-On Technology on
Purchase Intention: The Role of Hedonic Value and
Utilitarian Value as Mediators and User
Information Privacy Control as a Moderator
Penelitian ini menganalisis pengaruh Virtual Try-On Technology terhadap minat beli dengan Hedonic Value dan
Utilitarian Value sebagai variabel mediator serta User Information Privacy Control sebagai variabel moderator. Studi
kuantitatif ini dilakukan pada konsumen aktif aplikasi SATURDAYS di Indonesia dengan melibatkan 221 responden
menggunakan metode convenience sampling. Penelitian ini menggunakan Structural Equation Modeling (SEM)
dengan software AMOS untuk analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Virtual Try-On Technology
berpengaruh positif signifikan terhadap Hedonic Value dan Utilitarian Value. Selanjutnya, baik Hedonic Value
maupun Utilitarian Value terbukti berpengaruh positif signifikan terhadap Purchase Intention. Hasil uji mediasi
mengkonfirmasi bahwa Hedonic Value dan Utilitarian Value secara signifikan memediasi hubungan antara Virtual
Try-On Technology dan Purchase Intention. Temuan menarik menunjukkan bahwa User Information Privacy
Control memoderasi hubungan Virtual Try-On Technology terhadap kedua nilai (hedonic dan utilitarian), di mana
kontrol privasi yang baik memperkuat dampak positif teknologi VTO. Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis
pada literature technology acceptance dengan mengintegrasikan perspektif nilai konsumen dan privasi digital dalam
konteks augmented reality e-commerce.
This research analyzes the influence of Virtual Try-On Technology on purchase intention with Hedonic Value and
Utilitarian Value as mediating variables and User Information Privacy Control as a moderating variable. This
quantitative study was conducted on active consumers of the SATURDAYS application in Indonesia, involving 221
respondents using convenience sampling method. This research used Structural Equation Modeling (SEM) with
AMOS software for data analysis. The results show that Virtual Try-On Technology has a significant positive effect
on Hedonic Value and Utilitarian Value. Furthermore, both Hedonic Value and Utilitarian Value are proven to have
a significant positive effect on Purchase Intention. The mediation test results confirm that Hedonic Value and
Utilitarian Value significantly mediate the relationship between Virtual Try-On Technology and Purchase Intention.
Interesting findings show that User Information Privacy Control moderates the relationship of Virtual Try-On
Technology on both values (hedonic and utilitarian), where good privacy control strengthens the positive impact of
VTO technology. This research contributes theoretically to the technology acceptance literature by integrating
consumer value perspectives and digital privacy in the context of augmented reality e-commerce
4600649375A1F021060Pemilihan Produk Unggulan Berbasis Nanas Madu di Desa Karangjengkol Kecamatan Kutasari Kabupaten Purbalingga dengan Metode Analitycal Hierarchy Process (AHP)Desa Karangjengkol yang berada di wilayah Kecamatan Kutasari Kabupaten Purbalingga. Salah satu desa yang telah membudidayakan tanaman nanas madu dan mempunyai potensi besar pada sektor pertanian karena lahan perkebunan buah nanas yang cukup luas sekitar 25-30 hektar dengan kondisi tanah yang subur. Nanas madu ini dapat berbuah sepanjang tahun sehingga ketika panen raya jumlahnya melimpah. Peluang ini belum dimanfaatkan oleh masyarakat desa karena selama ini nanas madu hanya dipasarkan dalam bentuk segar kepada tengkulak dengan harga sebesar Rp2000-Rp4000,- per buah, belum lagi nanas mudah mengalami kerusakan dan cepat busuk. Maka, dibutuhkan upaya untuk memanfaatkan nanas madu menjadi produk pangan unggulan untuk meningkatkan nilai jual nanas dan pertumbuhan usaha yang dapat mendorong perekonomian masyarakat Desa Karangjengkol. Tujuan dari pelaksanaan penelitian ini adalah untuk menetukan prioritas produk unggulan nanas madu yaitu: 1) Menentukan faktor yang paling berpengaruh dalam pemilihan produk unggulan berbasis nanas madu; 2) Menentukan aktor yang paling berpengaruh dalam pemilihan produk unggulan berbasis nanas madu; 3) Menentukan alternatif produk nanas madu yang paling potensial untuk dikembangkan di Desa Karangjengkol, Kecamatan Kutasari, Kabupaten Purbalingga. Penelitian ini dilakukan di Desa Karangjengkol, Kecamatan Kutasari, Kabupaten Purbalingga. Metode pengambilan responden dilakukan dengan menggunakan teknik nonprobability sampling dengan cara purposive sampling. Sampel yang diambil sebanyak 30 responden model pentahelix antara lain pemerintah, pengusaha, akademisi, media dan komunitas. Teknik ini dipilih karena responden pada metode AHP merupakan ahli atau yang mengetahui permasalahan terkait sehingga dipilih berdasarkan kriteria kepakaran dan keterlibatannya dalam pengembangan produk pangan unggulan. Analisis penentuan faktor, aktor, alternatif produk dilakukan dengan metode Analitycal Hierarcy Process (AHP).Hasil analisis AHP didapatkan prioritas yaitu: (1) Faktor yang paling berpengaruh terhadap penentuan produk unggulan nanas madu di Desa Karangjengkol yaitu permintaan pasar dengan bobot sebesar (0,199); (2) Aktor yang paling berpengaruh dalam penentuan produk unggulan nanas yaitu pengrajin dengan bobot sebesar (0,329); (3) Alternatif produk nanas madu yang paling potensial untuk dikembangkan yaitu koktail nanas dengan bobot sebesar (0,258).Karangjengkol Village, located in Kutasari District, Purbalingga Regency, is one of the villages that has cultivated honey pineapple plants and has great potential in the agricultural sector because the pineapple plantation area is quite large, around 25-30 hectares with fertile soil conditions. This honey pineapple is not seasonal or can bear fruit all year round so that when the harvest is abundant. This opportunity has not been utilized by the village community because so far honey pineapple has only been marketed fresh to middlemen at a price of IDR 2,000-IDR 4,000 per fruit, not to mention that pineapple is easily damaged and rots quickly. Therefore, efforts are needed to utilize honey pineapple as a superior food product to increase the selling value of pineapple and business growth that can boost the economy of the Karangjengkol Village community. The purpose of this research was to determine the priority of superior honey pineapple products, namely: 1) Determining the most influential factors in selecting superior honey pineapple-based products; 2) Determining the most influential actors in selecting superior honey pineapple-based products; 3) Determining the most potential alternative honey pineapple products for development in Karangjengkol Village, Kutasari District, Purbalingga Regency.This research was conducted in Karangjengkol Village, Kutasari District, Purbalingga Regency. The respondent selection method used a non-probability sampling technique with purposive sampling. The sample size was 30 respondents using a pentahelix model, including representatives from government, entrepreneurs, academics, the media, and the community. This technique was chosen because respondents in the AHP method are experts or knowledgeable about the related issues, and therefore were selected based on their expertise and involvement in the development of superior food products. Analysis of the factors, actors, and product alternatives was conducted using the Analytical Hierarchy Process (AHP) method.The results of the AHP analysis obtained priorities, namely: (1) The most influential factor in determining the superior honey pineapple product in Karangjengkol Village is market demand with a weight of (0.199); (2) The most influential actor in determining the superior pineapple product is the craftsman with a weight of (0.329); (3) The most potential alternative honey pineapple product to be developed is pineapple cocktail with a weight of (0.258).
4600749376F2C023005WhatsApp Sebagai Media Komunikasi Ibu dan Anak: Studi pada Perempuan Buruh Migran di Cilacap, Jawa Tengah, IndonesiaFenomena migrasi buruh migran perempuan di Kabupaten Cilacap menjadi sebuah isu sosial menghadirkan dinamika keluarga, khususnya dalam pengasuhan Ibu kepada anak. Salah satu cara yang sering dilakukan dalam mengatasi hal ini adalah memanfaatkan aplikasi media sosial WhatsApp untuk tetap melakukan komunikasi jarak jauh. Namun, dalam pemanfaatanya timbul beberapa hal yang juga harus diperhatikan. Tujuan dari penelitian ini adalah optimalisasi penggunaan Whatsapp sebagai media komunikasi Ibu dan anak serta hambatan yang dihadapi. Menggunakan metode kualitatif deskriptif, penelitian ini melakukan analisis dari beberapa percakapan yang dilakukan oleh ibu buruh migran dengan anak di aplikasi WhatsApp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gambaran dalam pemanfaatan penggunaan WhatsApp sebagai media komunikasi Ibu buruh migran dengan anak sudah cukup dilakukan. Beberapa terkendala dari jaringan serta kemampuan dalam mengakses teknologi digital. Kesimpulannya, buruh migran perempuan harus lebih banyak melakukan eksplor pada teknologi digital seperti WhatsApp agar penggunaanya dapat maksimal.The phenomenon of female migrant workers in Cilacap Regency has become a social issue that brings about family dynamics, especially in the mother-child caregiving. One of the ways often used to address this issue is by utilizing the WhatsApp social media application to maintain long-distance communication. However, in its utilization, there are several things that also need to be considered. The purpose of this research is to optimize the use of WhatsApp as a communication medium for mothers and children, as well as to identify the obstacles faced. Using a descriptive qualitative method, this research analyzes several conversations conducted by migrant worker mothers with their children on the WhatsApp application. The research results indicate that the use of WhatsApp as a communication medium between migrant worker mothers and their children has been adequately utilized. Some are hindered by network issues and the ability to access digital technology. In conclusion, female migrant workers need to explore digital technology like WhatsApp more so that its use can be maximized.
4600849377H1D020068SISTEM REKOMENDASI KURSUS PEMROGRAMAN ONLINE BERDASARKAN ROADMAP BERBASIS WEBSITE MENGGUNAKAN KOMBINASI METODE KEYWORD SEARCH DAN SEMANTIC SEARCHDalam era digital saat ini, platform pembelajaran online telah menjadi sumber utama bagi individu yang ingin meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mereka. Namun, meningkatnya jumlah kursus di platform-platform tersebut sering kali membuat pengguna kesulitan dalam menemukan kursus yang sesuai dengan kebutuhan dan tujuan belajar mereka. Untuk mengatasi tantangan ini, sistem rekomendasi kursus dapat menjadi solusi yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan aplikasi rekomendasi kursus pemrograman yang mempertimbangkan konteks belajar pengguna berdasarkan roadmap yang mereka pilih. Sistem yang dikembangkan menggabungkan dua teknik pencarian untuk meningkatkan akurasi rekomendasi. Teknik keyword search menggunakan full-text search PostgreSQL untuk menangkap permintaan eksplisit pengguna. Teknik semantic search menggunakan text embedding model alibaba-nlp/gte-multilingual-base untuk memahami konteks dan hubungan antar kursus. Metode Reciprocal Rank Fusion (RRF) digunakan untuk mengintegrasikan hasil dari kedua teknik pencarian tersebut menjadi rekomendasi kursus yang komprehensif dan relevan. Sistem diimplementasikan dalam bentuk website menggunakan Next.js, Node.js, dan PostgreSQL dengan ekstensi pgvector. Pengujian dilakukan menggunakan Cypress untuk pengujian end-to-end dan metrik Precision@K untuk evaluasi relevansi. Dataset yang digunakan terdiri dari kursus-kursus pemrograman pada Udemy dan roadmap dari situs roadmap.sh. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem berhasil memberikan rekomendasi yang terstruktur sesuai alur pembelajaran dengan passing rate 100% pada pengujian fungsional. Evaluasi rekomendasi mencapai metrik P@5 sebesar 0,647 dan P@10 sebesar 0,601. Hasil ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan metode tunggal dan membuktikan efektivitas pendekatan gabungan dalam menghasilkan rekomendasi yang lebih akurat dan relevan. In today's digital era, online learning platforms have become primary sources for individuals who want to improve their skills and knowledge. However, the increasing number of courses on these platforms often makes it difficult for users to find courses that match their learning needs and objectives. To address this challenge, a course recommendation system can be an effective solution. This research aims to develop a programming course recommendation application that considers users' learning context based on the roadmap they choose. The developed system combines two search techniques to improve recommendation accuracy. The keyword search technique uses PostgreSQL full-text search to capture users' explicit requests. The semantic search technique uses the alibaba-nlp/gte-multilingual-base text embedding model to understand context and relationships between courses. The Reciprocal Rank Fusion (RRF) method is used to integrate results from both search techniques into comprehensive and relevant course recommendations. The system is implemented as a website using Next.js, Node.js, and PostgreSQL with pgvector extension. Testing is conducted using Cypress for end-to-end testing and Precision@K metrics for relevance evaluation. The dataset used consists of programming courses from Udemy and roadmaps from roadmap.sh website. Test results show that the system successfully provides structured recommendations according to learning paths with a 100% passing rate in functional testing. Recommendation evaluation achieves P@5 metrics of 0.647 and P@10 of 0.601. These results demonstrate significant improvement compared to single methods and prove the effectiveness of the combined approach in generating more accurate and relevant recommendations.
4600949378F2A022014PENGEMBANGAN KARIR PEGAWAI NEGERI SIPIL PASCA KEBIJAKAN PENYETARAAN JABATAN DI KABUPATEN PURBALINGGAABSTRAK
Penyederhanaan birokrasi melalui penyetaraan jabatan administrasi ke jabatan fungsional merupakan kebijakan strategis nasional yang bertujuan menciptakan birokrasi yang lebih efektif, efisien, dan profesional. Di Kabupaten Purbalingga, implementasi kebijakan ini telah menyebabkan perubahan signifikan terhadap struktur organisasi, sistem kerja, dan pengembangan karir Pegawai Negeri Sipil (PNS). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dampak penyetaraan jabatan terhadap pengembangan karir PNS dan efektivitas sistem kerja pejabat fungsional hasil penyetaraan. Hasil kajian menunjukkan bahwa terdapat sejumlah permasalahan dalam pelaksanaan, seperti ketidaksesuaian jabatan fungsional dengan tugas pokok dan fungsi, perbedaan jenjang jabatan dengan pangkat, serta belum optimalnya sistem kerja dan pola karir yang mendukung. Dengan menggunakan teori pengembangan karir Bernardin & Russell (2013), penelitian ini menekankan pentingnya career goals, career planning, dan career development dalam mendukung transformasi birokrasi. Diperlukan penataan ulang sistem kerja, penguatan kompetensi, dan mekanisme pengembangan karir berbasis meritokrasi agar penyetaraan jabatan dapat memberikan dampak positif bagi individu maupun organisasi.
Kata kunci: penyetaraan jabatan, birokrasi, pengembangan karir, jabatan fungsional, ASN, Purbalingga
ABSTRACT

The bureaucratic simplification policy through the conversion of administrative positions into functional positions is a national strategic effort aimed at creating a more effective, efficient, and professional bureaucracy. In Purbalingga Regency, the implementation of this policy has significantly impacted the organizational structure, work systems, and career development of civil servants (PNS). This study aims to identify the effects of position conversion on PNS career development and the effectiveness of the new functional work system. The findings reveal several challenges, including mismatches between functional positions and job descriptions, discrepancies between job levels and rank, as well as an underdeveloped work system and career path framework. Using Bernardin & Russell’s (2013) career development theory, this study highlights the importance of career goals, career planning, and career development in supporting bureaucratic transformation. It is essential to restructure the work system, enhance competencies, and establish a merit-based career development mechanism to ensure the conversion of positions benefits both individuals and organizations.
Keywords: position conversion, bureaucracy, career development, functional positions, civil servants, Purbalingga
4601049379J0A022094Creating an Informative Tutorial Video:
How to Get to Prambanan Temple by Trans Jogja
Laporan akhir ini disusun berdasarkan pengalaman pelaksanaan praktik kerja lapangan di Tourist Information Centre yang berada di bawah naungan Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta. Tujuan dari penyusunan laporan ini adalah untuk menjelaskan pelaksanaan praktik kerja lapangan, menguraikan proses pembuatan video tutorial mengenai cara menuju Candi Prambanan menggunakan Trans Jogja, serta memaparkan hambatan beserta solusi dalam menghasilkan video tutorial yang informatif. Proyek ini difokuskan pada penyediaan informasi rute menuju Candi Prambanan menggunakan bus Trans Jogja, mengingat masih banyak wisatawan yang mengalami kesulitan dalam memahami petunjuk yang tersedia untuk rute tersebut.
Proses produksi dilakukan secara cermat, mulai dari tahap pengambilan gambar dan pembuatan storyboard hingga tahap pascaproduksi, seperti penambahan pengisi suara (voice-over), subtitle, dan musik latar. Kolaborasi dengan seorang juru kamera juga dilakukan guna memastikan komposisi visual video tampak jelas dan mudah diikuti. Beberapa kendala teknis, seperti menjaga kestabilan kamera di dalam bus dan pengaturan pencahayaan, berhasil diatasi dengan baik sepanjang proses produksi.
Terdapat beberapa kendala dalam pembuatan video tutorial ini, yaitu keterbatasan waktu dan sumber daya, tantangan dalam penyampaian informasi dengan bahasa yang jelas dan sederhana, serta ketergantungan pada teknologi yang berpotensi menimbulkan gangguan teknis. Untuk mengatasinya, diperlukan pengecekan peralatan sebelum produksi, penggunaan alat pendukung untuk memastikan kualitas rekaman, penyusunan naskah yang sederhana dan terstruktur dengan masukan untuk kejelasan pesan, serta pemeliharaan peralatan, penyediaan peralatan cadangan, dan pengalokasian waktu tambahan untuk mengantisipasi permasalahan teknis.
This final report was created based on job training experience at the Tourist Information Centre, which operates under the Department of Tourism of the Special Region of Yogyakarta. The purposes of this project are to explain the implementation of the job training, to explain the process of creating a tutorial video on how to get to Prambanan Temple by Trans Jogja, and to describe the obstacles and solutions in making an informative tutorial video. The project focuses on providing route information to Prambanan Temple using the Trans Jogja bus, as many tourists still find it difficult to understand the available guidance for this route.
The production process was done carefully, from shooting and storyboarding to post-production steps such as adding voice-over, subtitles, and background music. Collaborated with one cameraman was undertaken to ensure that the visual composition of the video was clear and easy to follow. Several technical challenges such as maintaining camera stability on the bus and managing lighting were handled successfully throughout the process.
There are some obstacles in creating the tutorial video, such as limited time and resources, the challenge of delivering information in clear and simple language, and reliance on technology that might cause technical issues. To address these obstacles, it is important to do technical checks and use supporting tools to ensure good recording quality, prepare a simple and well-structured script and getting feedback can also make the message clearer, and maintain equipment properly, have backup devices, and allocate extra time to handle potential technical problems.
4601149381C1L018022PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN GAME BASED LEARNING (GBL) BERBANTUAN MEDIA WORDWALL TERHADAP KEAKTIFAN SISWA PADA MATA PELAJARAN EKONOMI DI MAN 1 BANYUMASPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan keaktifan siswa antara yang menggunakan model pembelajaran GBL berbantuan media wordwall dengan model pembelajaran Make a Match pada mata pelajaran ekonomi kelas X di MAN 1 Banyumas dan mengetahui pengaruh model pembelajaran GBL berbantuan media wordwall terhadap keaktifan siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas X di MAN 1 Banyumas. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menggunakan metode quasi experimental dengan bentuk non-equivalent control group design. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X di MAN 1 Banyumas tahun ajaran 2024/2025. Penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 76 siswa yang terbagi menjadi 2 kelas, yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan masing-masing kelas berjumlah 38 siswa. Teknik pengumpulan data penelitian ini yaitu menggunakan wawancara, tes, kuesioner, dan dokumentasi. Pengujian hipotesis pada penelitian ini menggunakan uji independent sample t-test dan uji regresi linier sederhana.
Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) terdapat perbedaan keaktifan siswa antara kelas yang menggunakan model pembelajaran GBL berbantuan media wordwall dengan kelas yang menggunakan model pembelajaran Make a Match. (2) penggunaan model pembelajaran GBL berbantuan media wordwall memberikan pengaruh positif terhadap keaktifan siswa.
This research aims to determine the difference in student activeness between those using the GBL learning model assisted by wordwall media with the Make a Match learning model in class X economic subjects at MAN 1 Banyumas and to determine the effect of the GBL learning model assisted by wordwall media on student activeness in class X economic subjects at MAN 1 Banyumas. This research is a quantitative research using a quasi-experimental method with a non-equivalent control group design. The population in this study were all grade X students at MAN 1 Banyumas in the 2024/2025 academic year. This research used a sampling technique with purposive sampling technique. The number of samples in this research were 76 students who were divided into 2 classes: an experimental class and a control class, with 38 students in each class. The data collection techniques in this research were interviews, tests, questionnaires, and documentation. Hypothesis testing in this study used independent sample t-test and simple linear regression test.
The results of this research showed: (1) there is a difference in student activeness between classes that use the GBL learning model assisted by wordwall media and classes that use the Make a Match learning model. (2) the use of the GBL learning model assisted by wordwall media has a positive effect on student activeness.
4601249382J1A021015Analyzing the Translation of Conative Functions in Rhaenyra Targaryen’s Utterances in House of the Dragon Season 2Penelitian ini mengkaji prosedur penerjemahan dan akurasi fungsi konatif dalam ujaran Rhaenyra Targaryen di House of the Dragon Season 2. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini menganalisis bagaimana fungsi konatif diterjemahkan dan mengevaluasi dampak pilihan tersebut terhadap akurasi. Berdasarkan konsep fungsi konatif Jakobson (1995), penelitian ini mengidentifikasi tujuh jenis fungsi konatif, dengan activational vocative (42.03%) dan affirmative imperative (31.88%) muncul paling sering. Bentuk-bentuk dominan ini mencerminkan peran karakter sebagai penguasa dalam seri tersebut. Menggunakan prosedur penerjemahan Vinay dan Darbelnet (1995), penelitian ini mengidentifikasi empat strategi yang digunakan, dengan literal translation (60.87%) sebagai prosedur yang paling sering digunakan. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa sumber seringkali mengandung ekspresi yang dapat diterjemahkan secara langsung ke dalam bahasa sasaran. Akurasi penerjemahan, yang dinilai menggunakan model Nababan (2012), menunjukkan tingkat akurasi tinggi sebesar 88.41%, dengan sebagian besar ujaran mempertahankan makna imperatif atau vokatifnya. Beberapa ujaran menerima penilaian lebih rendah karena penghilangan bagian dari ujaran atau pergeseran makna. Temuan ini menyoroti pentingnya menjaga fungsi konatif secara akurat dalam penerjemahan audiovisual untuk memastikan maksud pembicara tersampaikan kepada penonton.This research examines the translation procedures and accuracy of conative functions in Rhaenyra Targaryen’s utterances in House of the Dragon Season 2. Employing a qualitative descriptive approach, the research analyzes how conative functions are translated and evaluates the impact of these choices on accuracy. Based on Jakobson’s (1995) concept of conative function, the study identifies seven types of conative functions, with activational vocative (42.03%) and affirmative imperative (31.88%) appearing most frequently. These dominant forms reflect the character’s role as a ruler in the series. Using Vinay and Darbelnet’s (1995) translation procedures, the study identifies four strategies employed, with literal translation (60.87%) being the most frequently used procedure. This indicates that the source language often contains expressions that can be directly translated to the target language. The accuracy of the translations, assessed using Nababan’s (2012) model, reveals a high accuracy rate of 88.41%, with most utterances maintaining their imperative or vocative meaning. A few received lower ratings due to omissions of parts of utterances or shifts in meaning. These findings highlight the importance of accurately preserving conative functions in audiovisual translation to ensure the speaker’s intent is conveyed to the target audience.
4601349383G1B021035HUBUNGAN POLA KONSUMSI MAKANAN PROCESSED DAN ULTRA-PROCESSED DENGAN KEJADIAN KARIES GIGI PADA ANAK USIA 9-12 TAHUN DI KECAMATAN PURWOKERTO SELATAN Latar Belakang. Makanan processed dan ultra-processed adalah produk pangan yang telah mengalami proses pengolahan atau modifikasi. Konsumsi makanan processed dan ultra-processed memiliki dampak negatif terhadap kesehatan gigi dan mulut yang salah satunya yaitu pembentukan karies gigi. Tujuan. Mengetahui hubungan antara pola konsumsi makanan processed dan ultra-processed dengan kejadian karies gigi pada anak usia 9-12 tahun di Kecamatan Purwokerto Selatan. Metode. Jenis penelitian metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah anak umur 9-12 tahun di SD Kecamatan Purwokerto Selatan. Teknik pengambilan responden menggunakan simple random sampling dengan total 209 responden. Analisis data menggunakan uji korelasi rank spearman untuk mengetahui hubungan antara 2 variabel. Hasil. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan (p≤0,05) antara pola konsumsi makanan processed dan ultra-processed dengan status karies pada anak usia 9-12 tahun di Kecamatan Purwokerto Selatan. Simpulan. Terdapat hubungan antara pola konsumsi makanan processed dan ultra-processed dengan kejadian karies gigi pada anak usia 9-12 tahun di Kecamatan Purwokerto Selatan.Background. Processed and ultra-processed foods are food products that have undergone processing or modification. Consumption of processed and ultra-processed foods has a negative impact on oral health, one of which is the formation of dental caries. Purpose. To determine the relationship between consumption patterns of processed and ultra-processed foods and the incidence of dental caries in children aged 9-12 years in South Purwokerto Sub-District. Methods. The type of research was analytic observational method with a cross sectional approach. The population in this study were children aged 9-12 years in elementary schools in South Purwokerto Sub-District. The technique of taking respondents using simple random sampling with a total of 209 respondents. Data analysis used Spearman rank correlation test to determine the relationship between 2 variables. Results. The results of this study showed that there was a significant relationship (p≤0.05) between consumption patterns of processed and ultra-processed foods and caries status in children aged 9-12 years in South Purwokerto Sub-District. Conclusion. There is a relationship between consumption patterns of processed and ultra-processed foods and the incidence of dental caries in children aged 9-12 years in South Purwokerto Sub-District.
4601449384J1A021007Subtitling Strategies and Accuracy of Teenagers’ Slang in Dope FilmPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis slang, strategi subtitel yang digunakan, dan tingkat akurasi terjemahan pada subtitel film Dope (2015). Dengan menggunakan metode kualitatif, data yang dianalisis terdiri dari ungkapan slang yang dituturkan oleh tokoh remaja dan terjemahannya dalam subtitel. Penilaian akurasi juga melibatkan penilai ahli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis slang yang paling dominan adalah slang segar dan kreatif dengan 36 data (47,37%), diikuti oleh clipping dengan 20 data (26,32%), imitatif dengan 19 data (25,00%), dan flippant dengan 1 data (1,32%). Terkait strategi subtitel, parafrase merupakan strategi yang paling sering digunakan, yaitu 26 data (34,21%), diikuti oleh transfer dengan 23 data (30,26%), desimasi dengan 14 data (18,42%), dan kondensasi dengan 11 data (14,47%). Berdasarkan penilaian akurasi, 60 dari 76 data (78,95%) dikategorikan akurat, sementara 16 data (21,05%) dinilai kurang akurat. Dominasi strategi parafrase dan transfer menunjukkan upaya penerjemah untuk mempertahankan makna meskipun terdapat perbedaan budaya dan bahasa. Strategi-strategi ini membantu memastikan ungkapan slang tetap mudah dipahami dan sesuai dengan budaya sasaran. Secara keseluruhan, penerjemahan slang dalam subtitel Dope (2015) sebagian besar akurat dan berhasil menyampaikan pesan yang diinginkan kepada target audiens.This study aims to identify the types of slang, the subtitling strategies used, and the accuracy level of the translation in the subtitles of the film Dope (2015). Using a qualitative method, the data analyzed consists of slang expressions spoken by teenage characters and their translations in the subtitles. The accuracy assessment also involved expert raters. The findings show that the most dominant type of slang is fresh and creative with 36 data
(47.37%), followed by clipping with 20 data (26.32%), imitative with 19 data (25.00%), and
flippant with 1 data (1.32%). Regarding subtitling strategies, paraphrase is the most
frequently used with 26 data (34.21%), followed by transfer with 23 data (30.26%),
decimation with 14 data (18.42%), and condensation with 11 data (14.47%). Based on the
accuracy assessment, 60 out of 76 data (78.95%) are categorized as accurate, while 16 data (21.05%) are considered less accurate. The dominance of paraphrase and transfer strategies indicates the translator’s effort to preserve meaning despite cultural and linguistic
differences. These strategies help ensure the slang expressions remain understandable and appropriate in the target culture. Overall, the translation of slang in the subtitles of Dope
(2015) is mostly accurate and successfully conveys the intended message to the target
audience.
4601549390I1J021024OVERVIEW OF KNOWLEDGE, ATTITUDES, AND BEHAVIOR OF TEA CONSUMPTION AMONG PREGNANT WOMEN WITH ANEMIA
AT KEDUNGBANTENG PRIMARY HEALTH CENTER
Latar Belakang: Anemia pada ibu hamil merupakan salah satu masalah kesehatan yang masih sering dijumpai di fasilitas pelayanan kesehatan dasar. Salah satu faktor yang memengaruhi kejadian pada kelompok usia reproduktif adalah kebiasaan konsumsi teh yang mengandung tanin, senyawa yang dapat menghambat penyerapan zat besi dalam tubuh. Kebiasaan ini jika tidak disertai dengan pengetahuan yang cukup, dapat berpotensi memperburuk kondisi anemia pada ibu hamil.
Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan design cross- sectional. Populasi penelitian ini adalah ibu hamil dengan anemia yang melakukan kunjungan ke Puskesmas Kedungbanteng periode Desember 2024-Maret 2025. Teknik pengumpulan sampel menggunakan purposive sampling sebanyak 120 ibu hamil yang mengalami anemia dengan kebiasaan konsumsi teh. Sampel penelitian diambil dari lokasi penelitian Puskesmas Kedungbanteng menggunakan kuesioner berupa formulir.
Hasil Penelitian: Mayoritas responden merupakan ibu hamil yang berusia 17-25 tahun (73,7%), pendidikan terakhir mayoritas ibu hamil adalah SMA (76,7%), mayoritas pendapatan keluarga responden >Rp2.338.410 (55,8%), mayoritas merupakan ibu hamil dengan usia kehamilan >14 minggu (57,5%), dan mayoritas responden mengalami anemia ringan (81,7%). Sebanyak 60 responden (50,0%) memiliki pengetahuan konsumsi yang baik, mayoritas responden memiliki sikap perilaku teh yang cukup yaitu sebanyak 71 responden (59,2%), dan 72 responden (60,0%) berada pada kategori perilaku konsumsi teh yang cukup.
Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian mayoritas ibu hamil memiliki pengetahuan terkait konsumsi teh yang baik, dengan sikap dan perilaku konsumsi teh berada pada kategori cukup.
Kata Kunci: Anemia, Ibu hamil, Konsumsi teh, Pengetahuan, Perilaku, Sikap.
Background: Anemia in pregnant women is one of the health problems that is still often found in basic health care facilities. One of the factors that influences the incidence in the reproductive age group is the habit of consuming tea containing tannin, a compound that can inhibit the absorption of iron in the body. This habit, if not accompanied by sufficient knowledge, can potentially improve the condition of anemia in pregnant women.
Methodology: This research is a quantitative descriptive study using a cross-sectional design. The study population included pregnant women who visited the Kedungbanteng Primary Health Center between December 2024 and March 2025. A purposive sampling technique was employed to select 120 pregnant women with anemia who had a habit of consuming tea. Data were collected at the Kedungbanteng Primary Health Center using a structured questionnaire.
Research Results: The majority of respondents were pregnant women aged 17–25 years (73.7%), with level of educated Senior High School (76.7%), more than half had a family income of over Rp2,338,410 (55.8%), and the majority were in a gestational age of <14 weeks (57.5%). Most of the respondents were also experiencing mild anemia (81.7%). Most of 60 respondents (50,0%) had good knowledge of consumption tea. The majority demonstrated moderate attitudes toward tea consumption, with 71 respondents (59.2%), and 72 respondents (60.0%) had tea consumption behavior in the moderate category.
Conclusion: Based on the research, the majority of pregnant women have good knowledge regarding proper tea consumption, with their attitudes and behaviors falling into the moderate category.
Keywords: Anemia, Pregnant women, tea consumption, knowledge, behavior, attitude.
4601649387H1B021022Pengaruh Penambahan Zeolit pada Campuran Beraspal Panas Hot Rolled Sheet-Wearing Course (HRS-WC) Terhadap Karakteristik MarshallHot Rolled Sheet-Wearing Course (HRS-WC) adalah lapis aus permukaan aspal pada perkerasan lapis tipis aspal beton yang bersinggungan langsung dengan roda kendaraan dan cuaca. Salah satu upaya dalam meningkatkan kekuatan lapis perkerasan adalah dengan memodifikasi aspal menggunakan bahan tambah, salah satunya yaitu mineral zeolit alam. Penambahan zeolit alam diharapkan bisa meningkatkan kekuatan campuran aspal sehingga mengurangi deformasi pada perkerasan. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui dan menganalisis pengaruh aspal modifikasi zeolit pada karakteristik marshall campuran beraspal panas HRS-WC menggunakan metode marshall. Kadar zeolit yang digunakan yaitu, 0%, 0,1%, 0,2%, dan 0,3% dengan kadar aspal rencana campuran yaitu 6%, 6,5%, 7%, 7,5%, dan 8%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan zeolit pada aspal tidak konsisten meningkatkan atau menurunkan kinerja campuran beraspal. Pada kadar 0,1%, penggunaan aspal modifikasi zeolit pada campuran beraspal HRS-WC mampu meningkatkan kinerja lapis perkerasan. Namun, penambahan kadar zeolit 0,2% dan 0,3% akan bersifat sebaliknya. Campuran beraspal panas HRS-WC modifikasi zeolit 0,1% mengalami kenaikan pada nilai VMA, VIM, dan stabilitas apabila dibandingkan campuran beraspal HRS-WC aspal penetrasi 60/70. Pada campuran beraspal modifikasi zeolit 0,2% dan 0,3% mengalami penurunan pada nilai kepadatan, VFA, dan stabilitas. Penggunaan aspal modifikasi zeolit pada campuran beraspal panas HRS-WC berpengaruh terhadap perubahan titik kadar aspal optimum. Kadar aspal optimum dapat meningkat seiring penambahan kadar zeolit pada campuran meskipun perubahan KAO tidak terlalu signifikan. Kadar aspal optimum untuk campuran beraspal panas HRS-WC dengan aspal penetrasi 60/70 dan modifikasi 0,1% adalah 7,5%. Kadar aspal optimum untuk campuran beraspal panas HRS-WC modifikasi 0,2% dan 0,3% adalah 7,75%.Hot Rolled Sheet-Wearing Course (HRS-WC) is the asphalt surface layer of thin asphalt concrete pavement that comes into direct contact with vehicle wheels and weather. One effort to enhance the strength of pavement layers is by modifying asphalt using additives, one of which is natural zeolite mineral. The addition of natural zeolite is expected to improve the strength of asphalt mixtures and reduce pavement deformation. This study aims to determine and analyze the effect of zeolite-modified asphalt on the Marshall characteristics of HRS-WC hot mix asphalt using the Marshall method. The zeolite contents used were 0%, 0.1%, 0.2%, and 0.3%, with design asphalt contents of 6%, 6.5%, 7%, 7.5%, and 8%. The results showed that the addition of zeolite to asphalt did not consistently increase or decrease the performance of the asphalt mixture. At a zeolite content of 0.1%, the use of zeolite-modified asphalt in the HRS-WC mixture was able to improve the performance of the pavement layer. However, increasing the zeolite content to 0.2% and 0.3% had the opposite effect. The HRS-WC hot mix asphalt with 0.1% zeolite modification showed an increase in VMA, VIM, and stability values compared to the HRS-WC mix using penetration grade 60/70 asphalt. In contrast, zeolite-modified asphalt mixtures with 0.2% and 0.3% zeolite showed a decrease in density, VFA, and stability values. The use of zeolite-modified asphalt in HRS-WC hot mix asphalt affects changes in the optimum asphalt content. The optimum asphalt content tends to increase with the addition of zeolite, although the changes are not significantly large. The optimum asphalt content for the HRS-WC hot mix asphalt using penetration grade 60/70 asphalt and 0.1% zeolite modification is 7.5%, while for 0.2% and 0.3% zeolite modifications, the optimum asphalt content is 7.75%.
4601749388F1B021009COLLABORATIVE GOVERNANCE DALAM PENGELOLAAN BUMDES: STUDI DI DESA SIKAPAT KECAMATAN SUMBANG KABUPATEN BANYUMASDesa Sikapat memiliki potensi di bidang pertanian dan pariwisata, namun menghadapi berbagai kendala seperti lahan kering, layanan publik terbatas, dan pengelolaan pasar yang belum optimal. Untuk menjawab tantangan tersebut, BUMDes Mitra Sejahtera didirikan pada 2021 dengan empat unit usaha. Penelitian ini bertujuan menganalisis proses kolaborasi antar stakeholder dalam pengelolaan BUMDes. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan yang dipilih secara purposive melalui teknik analisis data interaktif. Hasil penelitian menunjukkan terdapat kolaborasi yang melibatkan pemerintah desa, BUMDes, mitra kerja, dan masyarakat. Terdapat komunikasi rutin, transparansi informasi, pembagian peran yang jelas, dan kesamaan tujuan. Kolaborasi ini mampu mendorong peningkatan layanan dan pertumbuhan ekonomi lokal. Disimpulkan bahwa collaborative governance telah berjalan cukup efektif, meski masih perlu penguatan partisipasi masyarakat dan kelembagaan untuk keberlanjutan jangka panjang.Sikapat Village has potential in agriculture and tourism, but faces several challenges such as dry land, limited public services, and suboptimal market management. To address these issues, BUMDes Mitra Sejahtera was established in 2021 with four business units. This study aims to analyze the collaboration process among stakeholders in managing the BUMDes. A qualitative approach was employed, with data collected through interviews, observations, and documentation. Informants were selected purposively, and data were analyzed using an interactive model. The findings reveal collaboration involving the village government, BUMDes, partner institutions, and the community. Regular communication, transparent information sharing, clear division of roles, and shared goals were evident. This collaboration has contributed to improved services and local economic growth. It is concluded that collaborative governance has been fairly effective, although strengthening community participation and institutional capacity is still needed for long-term sustainability.
4601849385H1B020041Analisis dan Pemetaan Distribusi Tingkat Risiko Erosi Tanah di Kabupaten Purbalingga serta Perkiraan Responsnya terhadap Perubahan Parameter Curah Hujan pada Metode USLEKabupaten Purbalingga merupakan wilayah dengan kondisi geografis dan curah hujan yang sangat beragam sehingga menimbulkan kekhawatiran terhadap potensi erosi tanah bagi masyarakat yang tinggal di daerah dengan kemiringan lereng yang curam. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan distribusi tingkat risiko erosi tanah melalui persamaan Universal Soil Loss Equation (USLE) serta memperkirakan respons kondisi erosi saat ini terhadap perubahan parameter curah hujan di masa mendatang melalui analisis Autoregressive Integrated Moving Average (ARIMA). Penelitian ini memanfaatkan data sekunder, meliputi data geografis Kabupaten Purbalingga yang bersumber dari berbagai lembaga penyedia dan data curah hujan historis dari sistem Satelit PERSIANN-CCS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah yang memiliki curah hujan tinggi dan kemiringan lereng yang curam seperti di bagian utara Kabupaten Purbalingga menjadi wilayah dengan nilai erosi tanah tertinggi. Melalui analisis prediktif, nilai erosi tanah menunjukkan kemungkinan peningkatan dalam beberapa tahun mendatang akibat peningkatan curah hujan perkiraan hasil analisis ARIMA.Purbalingga Regency is characterized by diverse geographical conditions and rainfall patterns, raising concerns about soil erosion risks, particularly for communities living in areas with steep slopes. This study aims to map the distribution of soil erosion risk levels using the Universal Soil Loss Equation (USLE) and to estimate the response of current erosion conditions to future rainfall changes through Autoregressive Integrated Moving Average (ARIMA) analysis. The research utilizes secondary data, including geographical data of Purbalingga Regency sourced from various institutions and historical rainfall data from the PERSIANN-CCS satellite system. The findings indicate that areas with high rainfall and steep slopes, such as northern Purbalingga Regency, exhibit the highest soil erosion rates. Predictive analysis using ARIMA indicates a potential increase in soil erosion in the coming years due to projected rainfall increases.
4601949386H1B021040Simulasi Dampak Perubahan Iklim terhadap Debit Aliran Rendah di Kawasan Ibu Kota Nusantara dengan HEC-HMS Berdasarkan Skenario IPCC AR6Perubahan iklim merupakan tantangan besar dalam pengelolaan sumber daya air, khususnya terhadap debit aliran rendah yang berperan penting dalam menjaga keberlanjutan pasokan air, terutama di musim kemarau. Penelitian ini bertujuan untuk mensimulasikan dampak perubahan iklim terhadap debit aliran rendah di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) dengan menggunakan model hidrologi HEC-HMS dan skenario iklim IPCC AR6 (SSP1-2.6, SSP2-4.5, SSP3-7.0, dan SSP5-8.5). Lokasi penelitian berada di DAS Sepaku Semoi, Kalimantan Timur. Proses penelitian meliputi pengumpulan data curah hujan, evapotranspirasi, dan debit sungai, pemetaan DAS dengan bantuan GIS, kalibrasi dan validasi model, serta simulasi proyeksi debit dari tahun 2015 hingga 2100. Hasil kalibrasi menunjukkan nilai PBIAS sebesar -0,18% dan koefisien korelasi 0,581, sedangkan hasil validasi mencapai 0,575, yang menunjukkan akurasi model pada tingkat sedang. Debit aliran rendah dianalisis dengan pendekatan Q90, yaitu debit yang dilampaui selama 90% dari waktu pengamatan. Hasil menunjukkan tren penurunan debit Q90 pada seluruh skenario, dengan penurunan paling signifikan pada skenario emisi tinggi. Hal ini menunjukkan potensi kekeringan yang semakin besar di masa depan. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam penyusunan kebijakan pengelolaan sumber daya air yang adaptif terhadap perubahan iklim, serta memberikan manfaat dalam perencanaan pembangunan berkelanjutan di kawasan IKN dan wilayah lainnya yang memiliki karakteristik serupa.Climate change presents a major challenge in water resource management, particularly in relation to low flow discharge, which plays a crucial role in ensuring water availability during dry seasons. This study aims to simulate the impact of climate change on low flow discharge in the Nusantara Capital City (IKN) area using the HEC-HMS hydrological model and IPCC AR6 climate scenarios (SSP1-2.6, SSP2-4.5, SSP3-7.0, and SSP5-8.5). The research was conducted in the Sepaku Semoi Watershed, East Kalimantan. The methodology included collecting rainfall, evapotranspiration, and streamflow data; delineating the watershed using GIS; calibrating and validating the hydrological model; and running discharge projections for the period 2015 to 2100. Model calibration produced a PBIAS of -0.18% and a correlation coefficient of 0.581, while validation achieved a coefficient of 0.575, indicating moderate accuracy. Low flow discharge was analyzed using the Q90 method, which represents the flow exceeded 90% of the time. The results showed a declining trend in Q90 discharge across all climate scenarios, with the most significant reductions under high-emission pathways. This suggests an increasing risk of drought in the future. The findings of this study are expected to serve as a reference for the formulation of adaptive water management policies in response to climate change, as well as contribute to sustainable development planning in the IKN area and other regions with similar characteristics.
4602049389F1A020074KEARIFAN LOKAL SEBAGAI MODAL SOSIAL DALAM PENGEMBANGAN EKOWISATA DI DESA KETENGER BANYUMASPenerapan kearifan lokal dalam pengembangan ekowisata di Desa Ketenger, Kabupaten Banyumas, dianalisis menggunakan metode kualitatif deskriptif. Fokus penelitian ini adalah pada praktik kearifan lokal yang relevan dalam konteks ekowisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa empat bentuk kearifan lokal memegang peran penting: gotong royong, penghormatan kepada leluhur, petunjuk dari leluhur dan alam, serta rasa memiliki atau handarbeni. Penerapan nilai-nilai ini tidak hanya terbatas pada pemuka adat, tetapi juga diimplementasikan oleh Koperasi Multi Pihak (KMP) Mitra Jenggala Sejahtera dan para pekerja ekowisata. Meskipun demikian, cakupan penerapannya masih dominan di kalangan individu yang terlibat langsung dalam ekowisata, dan belum terinternalisasi secara menyeluruh di masyarakat luas. Menanggapi hal ini, pemuka adat secara proaktif menyosialisasikan kearifan lokal melalui teladan dan bimbingan langsung kepada masyarakat yang menunjukkan minat. Selain itu, untuk mendorong peningkatan partisipasi masyarakat, KMP secara konsisten menyosialisasikan program ekowisata melalui forum musyawarah dari tingkat RT/RW hingga desa, dengan tujuan utama untuk meningkatkan keterlibatan warga dan kesejahteraan ekonomi mereka sebagai penerima manfaat ekowisata.The application of local wisdom in ecotourism development in Ketenger Village, Banyumas Regency, was analyzed using a descriptive qualitative method. This research focuses on relevant local wisdom practices within the ecotourism context. The findings indicate that four forms of local wisdom play significant roles: gotong royong (mutual cooperation), respect for ancestors, guidance from ancestors and nature, and the value of sense of ownership/belonging (handarbeni). The implementation of these values is not limited to customary leaders but is also practiced by the Multi-Stakeholder Cooperative (KMP) Mitra Jenggala Sejahtera and ecotourism workers. However, its application remains predominantly among individuals directly involved in ecotourism and has not yet been thoroughly internalized within the broader community. Therefore, customary leaders proactively disseminate this local wisdom by setting examples and providing direct guidance to community members who show interest. Furthermore, to encourage increased community participation, KMP consistently socializes the ecotourism program through consultative forums from the RT/RW (neighborhood/community unit) level up to the village level. This is primarily aimed at fostering citizen involvement and enhancing the economic welfare of the community as ecotourism beneficiaries.