Artikelilmiahs

Menampilkan 45.961-45.980 dari 48.741 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4596149329F2A023024ANALISIS DINAMIKA OPINI PUBLIK TENTANG REGULASI E-COMMERCE PADA APLIKASI
TIKTOK
ABSTRAK
Tiktok muncul dalam perdagangan online di Indonesia menimbulkan isu terkait ijin Tiktok, isu
predatory pricing dan dominasi barang impor. Hal ini menimbulkan gejolak protes dari pedagang
tradisional seperti di Pasar Tanah Abang. Pemerintah meresepon dengan menerbitkan Peraturan
Menteri Perdagangan (Permendag) No. 31 Tahun 2023 tentang Perdagangan Melalui Sistem
Elektronik (PSME) mengatur pemisahan aktivitas jual beli langsung di media sosial untuk
melindungi ekosistem perdagangan digital nasional. Setelah penerapan regulasi tersebut
diperlukan evaluasi melalui kacamata publik apakah kebutuhan masyarakat khusunya pelaku
usaha telah terpenuhi dengan adanya regulasi ini.
Penelitian ini menganalisis opini publik di TikTok terhadap kebijakan tersebut menggunakan
pendekatan kuantitatif deskriptif. Sebanyak 1.000 komentar dari akun influencer maupun non-
influencer, dianalisis dengan bantuan alat data mining Octoparse-8 dan dilakukan klasifikasi
sentimen menggunakan AI dan human. Penelitian ini dilakukan dalam dua periode sebelum dan
sesudah penerapan untuk melihat dinamika opini publik yang berkembang di masyarakat
khususnya di aplikasi Tiktok.
Hasil penelitian menunjukkan periode sebelum kebijakan opini publik cenderung positif (rata-
rata skor sentimen 0,104), dengan komentar yang mendukung dan harapan terhadap solusi yang
lebih baik dari pemerintah. Namun, setelah kebijakan diterapkan opini berubah menjadi negatif
(skor rata-rata -0,085), menunjukkan kekecewaan terhadap penutupan TikTokShop. Hipotesis
bahwa influencer dapat membentuk opini publik tidak terbukti, meskipun konten mereka
memiliki tingkat interaksi tinggi. Hal ini dikarenakan algoritma TikTok menampilkan konten
sesuai preferensi pengguna. Sehingga penilaian evaluasi kebijakan berdasar pada opini yang
berkembang di media sosial harus disertai dengan analisis tradisional dalam mencegah adanya
filterisasi algoritma.
Kata kunci : Opini publik, Social Commerce, E-Commerce, Tiktok, Permendag No 31 Tahun 2023
SUMMARY
TikTok's emergence in online commerce in Indonesia has raised issues related to TikTok's
licensing, predatory pricing, and the dominance of imported goods. This sparked protests from
traditional merchants, such as those at Tanah Abang Market. The government responded by
issuing Minister of Trade Regulation (Permendag) No. 31 of 2023 concerning Trade Through
Electronic Systems (PSME), which regulates the separation of direct buying and selling activities
on social media to protect the national digital commerce ecosystem. Following the
implementation of this regulation, a public evaluation is needed to determine whether the needs
of the community, particularly businesses, have been met.
This study analyzes public opinion on TikTok regarding this policy using a descriptive
quantitative approach. A total of 1,000 comments from influencer and non-influencer accounts
were analyzed using the Octoparse-8 data mining tool, and sentiment classification was
performed using AI and human input. This study was conducted over two periods, before andafter the implementation to observe the dynamics of public opinion within the community,
particularly on the TikTok app.
The results showed that in the period before the policy, public opinion tended to be positive
(average sentiment score of 0.104), with supportive comments and hopes for a better solution
from the government. However, after the policy was implemented, opinion shifted to negative
(average score -0.085), indicating disappointment with the closure of TikTokShop. The hypothesis
that influencers can shape public opinion was not proven, even though their content had a high
level of interaction. This is because the TikTok algorithm displays content according to user
preferences. Therefore, policy evaluation assessments based on opinions developing on social
media must be accompanied by traditional analysis to prevent algorithmic filtering.
Keywords : Public Opinion, Social Commerce, E-Commerce, Tiktok, Minister Of Trade Regulation
31 of 2023
4596249330J1C021031Penggunaan Dialek Kansai dalam Komunikasi di Arima Royal Golf Club Jepang: Analisis Pendekatan SosiolinguistikKomunikasi merupakan suatu kecakapan untuk menyampaikan pesan antara dua individu atau lebih dengan tujuan untuk mencapai kesamaan makna. Kesamaan makna kata dapat dicapai dengan alat komunikasi, yaitu bahasa yang terdiri dari simbol, kata, aturan bahasa dan elemen lainnya. Dalam kajian sosiolinguistik, variasi bahasa berdasarkan penuturnya dibagi menjadi empat jenis, yaitu, idiolek, dialek, kronolek (dialek temporal), dan sosiolek (dialek sosial). Dialek Kansai merupakan salah satu dialek Jepang yang digunakan oleh masyarakat yang tinggal di daerah Kansai atau Kinki yang mencakup prefektur Osaka, Kyoto, Mie, Wakayama, Shiga, dan Hyogo. Arima Royal Golf Club sendiri terletak di Ogocho Kitahata, Kobe, Prefektur Hyogo. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penggunaan dialek Kansai dalam komunikasi di Arima Royal Golf Club Jepang, khususnya komunikasi antara caddy asal Indonesia sebagai penutur asing dan pemain golf sebagi penutur dialek Kansai dengan menggunakan pendekatan sosiolinguistik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik observasi mendalam dan wawancara dalam mengumpulkan data. Observasi mendalam merupakan salah satu jenis observasi di mana peneliti terlibat langsung dalam kegiatan atau situasi yang sedang diamati. Untuk mendukung data yang ditemukan peneliti maka dilakukan wawancara terstruktur terhadap subjek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bagaimana penggunaan dialek Kansai cukup dominan karena mayoritas pemain berasal dari wilayah Kansai. Serta ditemukan beberapa tantangan dan hambatan yang dialami oleh caddy Indonesia saat berkomunikasi di Arima Royal Golf Club.Communication is the ability to convey messages between two or more individuals with the aim of achieving a common understanding. A common understanding of words can be achieved through communication tools, namely language, which consists of symbols, words, language rules, and other elements. In sociolinguistic studies, language variation based on its speakers is divided into four types: idiolect, dialect, chronolect (temporal dialect), and sociolect (social dialect). The Kansai dialect is one of the Japanese dialects used by people living in the Kansai or Kinki region, which includes the prefectures of Osaka, Kyoto, Mie, Wakayama, Shiga, and Hyogo. Arima Royal Golf Club itself is located in Ogocho Kitahata, Kobe, Hyogo Prefecture. This study aims to examine the use of the Kansai dialect in communication at the Arima Royal Golf Club in Japan, specifically communication between Indonesian caddies as foreign speakers and golfers as Kansai dialect speakers, using a sociolinguistic approach. The method used in this study is qualitative descriptive with deep observation and interview techniques to collect data. Deep observation is a type of observation where the researcher is directly involved in the activity or situation being observed. To support the data found by the researcher, structured interviews were conducted with the research subjects. The results show how the use of Kansai dialect is quite dominant because the majority of players come from the Kansai region. It also found some challenges and obstacles experienced by Indonesian caddies when communicating at Arima Royal Golf Club.
4596349313J1A018060ANALYSIS OF SPEECH ACTS AND TRANSLATION TECHNIQUES IN THE INDONESIAN DUBBING OF MRBEAST’S YOUTUBE VIDEOPenelitian ini mengkaji hubungan antara tindak tutur dan teknik penerjemahan dalam praktik sulih suara (dubbing) konten media digital ke Bahasa Indonesia. Fokus analisis adalah tuturan pembawa acara dalam video YouTube populer MrBeast berjudul “$456,000 Squid Game in Real Life!”. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini menganalisis 100 sampel tuturan. Analisis dilakukan melalui dua tahap: pertama, klasifikasi tindak ilokusi pada teks sumber berbahasa Inggris berdasarkan kerangka teori Searle (1976); kedua, identifikasi teknik penerjemahan yang digunakan untuk mengalihbahasakan tindak tutur tersebut ke Bahasa Indonesia, merujuk pada model Molina dan Albir (2002). Temuan menunjukkan bahwa tindak Representatif (41%) paling banyak muncul, disusul oleh Direktif (34%), Ekspresif (12%), Komisif (7%), dan Deklarasi (6%), yang mencerminkan beragamnya peran pembawa acara. Teknik Penerjemahan Harfiah (48%) menjadi yang paling sering digunakan, menandakan upaya menjaga kesepadanan makna. Meskipun demikian, teknik adaptif seperti Padanan Lazim (19%) dan Modulasi (17%) juga signifikan perannya dalam menghasilkan tuturan yang wajar dan efektif secara pragmatik, khususnya untuk tindak Ekspresif dan Representatif. Teknik lain seperti Kreasi Diskursif (5%), Amplifikasi (4%), Generalisasi (3%), Reduksi (3%), dan Peminjaman (1%) digunakan dengan frekuensi lebih rendah, masing-masing dengan fungsi kontekstual yang khas. Studi ini menyimpulkan bahwa pilihan teknik penerjemahan dalam konteks sulih suara ini didasari oleh pertimbangan strategis untuk mempertahankan daya ilokusi tuturan asli, seraya menyesuaikan dengan norma stilistika Bahasa Indonesia dan kendala teknis proses sulih suara.This research investigates the interplay between speech act and translation technique in the Indonesian dubbing of digital media content, specifically analyzing utterances by the host in MrBeast's highly popular YouTube video, “$456,000 Squid Game in Real Life!”. Employing a descriptive qualitative methodology, the study examines a sample of 100 utterances. The analysis is twofold: first, it classifies the illocutionary acts in the English source text using Searle's (1976) framework; second, it identifies the translation techniques applied to render these acts into Indonesian, based on the model proposed by Molina and Albir (2002). Findings reveal that Representative acts (41%) are the most prevalent, followed by Directives (34%), Expressives (12%), Commissives (7%), and Declarations (6%), reflecting the host's multifaceted role. Literal Translation (48%) was the dominant technique, indicating a baseline of semantic fidelity. However, adaptive techniques such as Established Equivalent (19%) and Modulation (17%) were significantly employed to ensure naturalness and pragmatic effectiveness, particularly for Expressive and Representative acts. Less frequent techniques like Discursive Creation (5%), Amplification (4%), Generalization (3%), Reduction (3%), and Borrowing (1%) were also identified, each serving specific contextual functions. The study concludes that the selection of translation techniques in this dubbed audiovisual text is strategically driven by the need to preserve the illocutionary force of the original utterance while adhering to the stylistic norms of the Indonesian language and the constraints of the dubbing process.
4596449331F2A023011PENINGKATAN EFISIENSI DAN TRANSPARANSi MELALUI SISTEM
PENGADAAN BARANG DAN JASA SECARA ELEKTRONIK DI SEKTOR
PUBLIK
ABSTRAK
Pemanfaatan sistem pengadaan elektronik di sektor publik
berpotensi besar meningkatkan efisiensi dan transparansi.
Transparansi dalam pengumuman tender, efisiensi proses
penawaran dan evaluasi, serta komunikasi terbuka dengan
pihak terkait dapat membuat pengadaan publik lebih
efektif dan akuntabel. Namun, tantangan teknis dan
infrastruktur, kendala budaya, serta isu keamanan dan
perlindungan data menjadi hambatan dalam penerapan
sistem ini. Penguatan infrastruktur teknologi dan akses
internet, serta penyuluhan dan pelatihan untuk
meningkatkan literasi digital masyarakat adalah kunci
untuk mengatasi hambatan tersebut. Kebijakan dan
regulasi yang kuat juga diperlukan untuk memastikan
keamanan data. Keterbatasan sumber daya manusia dan
anggaran memerlukan kolaborasi antara pemerintah,
swasta, dan masyarakat sipil. Dengan strategi holistik dan
terintegrasi, diharapkan pengadaan elektronik di sektor
publik dapat meningkatkan efisiensi, transparansi, dan
akuntabilitas, serta kepercayaan masyarakat terhadap
pemerintah, mendukung pembangunan yang
berkelanjutan dan merata bagi seluruh lapisan masyarakat.
Kata kunci: peningkatan efisiensi dan transparansi, sistem pengadaan barang dan jasa, sektor publik
ABSTRACT
The utilization of electronic procurement systems in the public
sector has great potential to enhance efficiency and
transparency. Transparency in tender announcements,
efficiency in the bidding and evaluation processes, and open
communication with relevant parties can make public
procurement more effective and accountable. However,
technical and infrastructure challenges, cultural barriers, and
issues of security and data protection pose obstacles to the
implementation of this system. Strengthening technology
infrastructure and internet access, along with outreach and
training to improve digital literacy among the public, are key to
overcoming these obstacles. Strong policies and regulations are
also needed to ensure data security. Limited human resources
and budgets require collaboration between the government,
private sector, and civil society. With a holistic and integrated
strategy, it is hoped that electronic procurement in the public
sector can enhance efficiency, transparency, and accountability,
as well as public trust in the government, supporting
sustainable and equitable development for all segments of
society.
Key words:
increasing efficiency and transparency, goods and services procurement system, public sector
4596549332B1A021129Potensi Diferensiasi Mesenchymal Stem Cells (MSCs) dari Umbilikus Marmut (Cavia porcellus) dalam Berbagai Konsentrasi SerumMesenchymal Stem Cells (MSCs) dari umbilikus memiliki potensi diferensiasi yang tinggi untuk aplikasi terapi regeneratif, namun karakterisasi MSCs umbilikus marmut (Cavia porcellus) masih belum diteliti. Hewan ini memiliki kesamaan fisiologis dengan manusia, sehingga berpotensi menjadi model yang relevan dalam penelitian biomedis. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi proliferasi dan viabilitas sel pada berbagai konsentrasi serum (0%, 5%, 10%, dan 15%) untuk menentukan kondisi kultur yang optimal; menyusun kurva pertumbuhan, dan mengevaluasi kemampuan diferensiasi MSCs umbilikus C. porcellus menjadi osteoblast dan adipoblast.
Penelitian dilaksanakan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan kultur primer fragmen dan subkultur MSCs umbilikus. Variabel terikat pada penelitian mencakup proliferasi, viabilitas, dan kemampuan diferensiasi MSCs umbilikus C. porcellus. Parameter penelitian meliputi pertambahan jumlah sel dan jumlah sel yang hidup. Parameter diferensiasi adalah reaksi spesifik sel MSCs umbilikus terhadap Oil Red O (sebagai indikator diferensiasi ke arah adipoblast) dan Alizarin Red (sebagai indikator diferensiasi ke arah osteoblast). Analisis keberhasilan induksi osteoblast menggunakan pewarna Alizarin Red dan induksi adipoblast menggunakan pewarna Oil Red O. Data kuantitatif diuji homogenitas dan normalitasnya dilanjutkan dengan uji ANOVA menggunakan GraphPad Prism dan analisis regresi menggunakan Excel. Data kualitatif berupa reaksi spesifik terhadap pewarnaan Alizarin Red dan Oil Red O dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksplan umbilikus C. porcellus yang dikultur dalam DMEM low glucose dengan suplemen 10% FBS, 5% penicillin/streptomycin, dan 5% L-glutamine pada temperatur 37°C, 5% CO2 telah membentuk outgrowth dan mencapai 80% confluence pada hari keempat. Sub kultur hasil outgrowth menunjukkan bahwa medium kultur dengan kadar FBS 10% menghasilkan pertumbuhan yang optimal dengan densitas 1,98.107 ± 0,79.107 sel/mL dan viabilitas 96,83 ± 1,22%. Kurva pertumbuhan sel yang dikultur dengan penambahan 10% FBS menunjukkan adanya pertumbuhan eksponensial pada 2 hari pertama kultur, pertumbuhan melambat hingga akhir periode kultur. Sel-sel umbilikus C. porcellus mampu berdiferensiasi menjadi sel-sel osteoblast setelah diinduksi selama 14 hari dan menjadi adipoblast setelah diinduksi selama 21 hari. Penelitian ini diharapkan memberikan informasi baru tentang karakteristik MSCs umbilikus C. porcellus yang dapat mendukung pengembangan lebih lanjut di bidang biomedis terutama dalam MSCs umbilikus C. porcellus.

Kata kunci: adipogenik, Cavia porcellus, in vitro, mesenkimal stem sel umbilikus, osteogenik
Umbilical Mesenchymal Stem Cells (UMSCs) have potential for regenerative therapy due to their capacity to differentiate. Yet the characteristics of the UMSCs, especially those from the guinea pig (Cavia porcellus), are less studied. This animal shares similarities in physiological and immune responses with humans; therefore, it is a good model for biomedical research. This research was conducted to evaluate the cell proliferation and viability cultured in medium containing different serum concentration (0%, 5%, 10%, and 15%) in searching the optimum serum concentration for UMSCs culture; create the cells growth curve, and evaluate the differentiating capacity of EMSCs into osteoblast and adipoblast.
This research was conducted experimentally on the primary culture of C. porcellus umbilical fragments and its subculture, applying the Completely Randomized Design (CRD). The dependent variables were cell proliferation, cell viability, and differentiation capacity of the UMSCs. The research parameters consisted of the number of cells and their viability at the end of the culture. The differentiation capacity of the MSCs was evaluated based on their reactivity to Oil Red O, an indicator of adipogenic differentiation, and to Alizarin Red, an indicator of osteogenic differentiation. The cell density and viability were subjected to normality and homogeneity tests before proceeding to ANOVA using GraphPad Prism and regression analysis using Microsoft Excel. The differentiation capacity of the UMSCs was analysed descriptively.
The results showed that C. porcellus umbilical fragments cultured in Low-glucose DMEM medium supplemented by 10% FBS, 5% penicillin/Streptomycin, 5% L-glutamine grew well in vitro at 37°C with 5% CO2. The cell outgrowth spread surrounding the fragment and reached 80% confluence on the 4th day of culture. The subculture of the outgrowth cells, in various FBS concentrations, revealed that optimum cell growth and viability were achieved in the cells cultured in medium supplemented with 10% FBS. The cell density was 1.98.107±0.79.107 cell/mL, and the cell viability was 96.83±1.22%. The cell growth curve showed that the cells divided exponentially on days 1 and 2 of culture, reached the stationary phase on days 3-4, then declined. The guinea pig UMSCs are capable of differentiating into osteogenic cells after 14 days of induction and osteogenic cells after 21 days of induction. This research provides new informations on the characteristics of C. porcellus UMSCs, and contributes to developing future research, especially on C. porcellus UMSCs.

Keywords: adipogenic, Cavia porcellus, in vitro, osteogenic, umbilical mesenchymal stem cells
4596649333F2C023025STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN SOCIETY COFFEE HOUSE
PURWOKERTO
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan strategi
komunikasi pemasaran yang diterapkan Society Coffee House di Purwokerto selama
periode 2015-2024 dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mendorong
keberhasilan Society Coffee House. Industri coffee shop di Indonesia mengalami
pertumbuhan pesat, terutama di kota-kota berkembang seperti Purwokerto,
sehingga diperlukan pemahaman mendalam tentang bagaimana coffee shop lokal
dapat bertahan dan berkembang melalui adaptasi strategi komunikasi pemasaran
yang efektif. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan
teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam dengan berbagai
stakeholder, observasi lapangan secara langsung, dan studi dokumentasi. Data yang
terkumpul dianalisis secara deskriptif untuk mengidentifikasi pola perkembangan
strategi komunikasi pemasaran dalam empat fase utama: fase awal pendirian (2015-
2017), fase pertumbuhan dan ekspansi (2018-2020), fase digitalisasi dan adaptasi
pandemi (2021-2022), dan fase konsolidasi dan ekspansi strategis (2023-2024).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Society Coffee House berhasil bertransformasi
dari pendekatan pemasaran tradisional berbasis word-of-mouth menjadi strategi
omnichannel yang sophisticated. Faktor kunci keberhasilan meliputi Kemampuan
Adaptasi terhadap Perubahan Lingkungan Bisnis, Transformasi Digital Sebagai
Kunci, Konsistensi Merek dalam Pengalaman Pelanggan, Edukasi Konsumen sebagai
Diferensiasi, dan Investasi pada Kualitas dan Pelatihan SDM. Berdasarkan Hasil
analisis SWOT menunjukkan bahwa posisi strategi Society Coffee House berada pada
kuadran I, yang mengindikasikan perlunya penerapan strategi S-O (Strength–
Opportunity). Penelitian ini memberikan kontribusi praktis bagi pelaku industri
coffee shop dalam mengembangkan strategi komunikasi pemasaran yang adaptif
dan sustainable.
Kata Kunci: strategi komunikasi pemasaran, coffee shop, transformasi
digital
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan strategi
komunikasi pemasaran yang diterapkan Society Coffee House di Purwokerto selama
periode 2015-2024 dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mendorong
keberhasilan Society Coffee House. Industri coffee shop di Indonesia mengalami
pertumbuhan pesat, terutama di kota-kota berkembang seperti Purwokerto,
sehingga diperlukan pemahaman mendalam tentang bagaimana coffee shop lokal
dapat bertahan dan berkembang melalui adaptasi strategi komunikasi pemasaran
yang efektif. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan
teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam dengan berbagai
stakeholder, observasi lapangan secara langsung, dan studi dokumentasi. Data yang
terkumpul dianalisis secara deskriptif untuk mengidentifikasi pola perkembangan
strategi komunikasi pemasaran dalam empat fase utama: fase awal pendirian (2015-
2017), fase pertumbuhan dan ekspansi (2018-2020), fase digitalisasi dan adaptasi
pandemi (2021-2022), dan fase konsolidasi dan ekspansi strategis (2023-2024).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Society Coffee House berhasil bertransformasi
dari pendekatan pemasaran tradisional berbasis word-of-mouth menjadi strategi
omnichannel yang sophisticated. Faktor kunci keberhasilan meliputi Kemampuan
Adaptasi terhadap Perubahan Lingkungan Bisnis, Transformasi Digital Sebagai
Kunci, Konsistensi Merek dalam Pengalaman Pelanggan, Edukasi Konsumen sebagai
Diferensiasi, dan Investasi pada Kualitas dan Pelatihan SDM. Berdasarkan Hasil
analisis SWOT menunjukkan bahwa posisi strategi Society Coffee House berada pada
kuadran I, yang mengindikasikan perlunya penerapan strategi S-O (Strength–
Opportunity). Penelitian ini memberikan kontribusi praktis bagi pelaku industri
coffee shop dalam mengembangkan strategi komunikasi pemasaran yang adaptif
dan sustainable.
Kata Kunci: strategi komunikasi pemasaran, coffee shop, transformasi
digital
4596749168L1B021028PENGARUH PENAMBAHAN ATRAKTAN HASIL HIDROLISIS SILASE IKAN TUNA PADA PAKAN BUATAN TERHADAP PERTUMBUHAN UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei)Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan atraktan pada pakan terhadap pertumbuhan Litopenaeus vannamei. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Penelitian ini terdiri atas perlakuan kontrol dan perlakuan variasi dosis atraktan. Perlakuan kontrol atau P1 (0 mL/100 gr pakan), P2 (2 mL/100 gr pakan), P3 (4 mL/100 gr pakan), dan P4 (6 mL/100 gr pakan) dengan masing-masing 3 ulangan, yang diberikan pada udang vanname dengan interval empat kali per hari selama 30 hari. Atraktan mengandung mineral, kalsium, protein kasar mencapai 36,10%, lemak kasar 8,52% dan nilai energi metabolis 3004 kkal/kg. Parameter utama pada penelitian ini adalah Average Daily Gain (ADG), Specific Growth Rate (SGR), Feed Convertion Ratio (FCR), dan Survival Rate (SR). Distribusi data berdasarkan uji Kolmogorov-Smirnov, uji homogenitas, dan uji normal. Uji One Way ANOVA (Analysis Of Varians) dilakukan dengan derajat signifikansi 5%, selanjutnya dilakukan uji BNT untuk mengetahui beda nyata antar perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan atraktan pada pakan buatan dalam berbagai konsentrasi berpengaruh nyata pada pertumbuhan udang vaname (Litopenaeus vannamei). Hasil terbaik ditunjukkan pada perlakuan P4 (6 mL/100 gr pakan) dengan nilai ADG sebesar 0,0128 gr/hari, FCR sebesar 1,55, SGR 13,4%, dan SR tertinggi pada P2 (2 mL/100 gr pakan) sebesar 91,8%.This study aims to determine the effect of adding attractants to feed on the growth of Litopenaeus vannamei. This study was experimental using a completely randomized design (CRD). This study consisted of control treatment and attractant dose variation treatment. Control treatment or P1 (0 mL/100 g feed), P2 (2 mL/100 g feed), P3 (4 mL/100 g feed), and P4 (6 mL/100 g feed) with 3 replications each, which were given to vannamei shrimp with an interval of four times per day for 30 days. The attractant contains minerals, calcium, crude protein reaching 36.10%, crude fat 8.52% and metabolic energy value of 3004 kcal/kg. The main parameters in this study were Average Daily Gain (ADG), Specific Growth Rate (SGR), Feed Conversion Ratio (FCR), and Survival Rate (SR). Data distribution based on the Kolmogorov-Smirnov test, homogeneity test, and normal test. One Way ANOVA (Analysis Of Variance) test was conducted with a significance level of 5%, then BNT test was conducted to determine the real difference between treatments. The results showed that the addition of attractants to artificial feed in various concentrations had a significant effect on the growth of whiteleg shrimp (Litopenaeus vannamei). The best results were shown in treatment P4 (6 mL/100 gr of feed) with an ADG value of 0.0128 gr/day, FCR of 1.55, SGR of 13.4%, and the highest SR in P2 (2 mL/100 gr of feed) of 91.8%.
4596849357F1F021073Analisis Kerja Sama Ekonomi Digital Indonesia-Singapura dalam Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Batam Tahun 2020-2024Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana kerja sama Indonesia-Singapura dalam pengembangan ekonomi digital di KEK NDP dapat berjalan selama masa pandemi hingga pasca-pandemi. Selain itu kerja sama ini terjadi awalnya karena terdapat peran perusahaan swasta (B2B) dalam membentuk sebuah perjanjian kerja sama yang kemudian diperkuat oleh kedua negara (G2G) dalam pertemuan resmi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat sejumlah tantangan dalam kerja sama kedua negara selama tahun 2020-2022 namun pada tahun berikutnya kerja sama ekonomi digital di KEK NDP meningkat. Kerja sama ini melihatkan bagaimana kedua negara merespon tuntutan globalisasi dan situasi pandemi global seperti penyusunan perjanjian, penguatan infrastruktur konektivitas untuk menjalankan pengembangan infrastruktur dan penyesuaian kebijakan yang mendukung jalannya kerja sama. Penelitian ini merekomendasikan pemerintah perlu memastikan pelaksanaan kebijakan pendukung investasi dan kemudahan berusaha berjalan secara maksimal. Serta pengelola dan otoritas KEK NDP, diharapkan dapat mempercepat pengembangan infrastruktur digital utama, seperti pembangunan pusat data, jaringan kabel bawah laut, dan penyediaan energi yang stabil untuk mendukung pertumbuhan industri digital. This research aims to examine how Indonesia-Singapore cooperated in developing the digital economy within the Nongsa Digital Park (NDP) Special Economic Zone during the COVID-19 pandemic and the post-pandemic period. The cooperation initially began with private sector initiative (B2B), which were later strengthened by official bilateral agreements (G2G) through government-level meetings. The findings show that although there were several challenges in the cooperation between 2020 and 2022, the digital economy partnership at NDP improved significantly in the following years. This case demonstrates how both countries responded to the pressures of globalization and the pandemic by drafting cooperation agreements, enhancing digital connectivity infrastructure, and adjusting supportive national policies. The study recommends that the government ensure the effective implementation of policies that promote investment and ease of doing business. Furthermore, the NDP authority and management are encouraged to accelerate the development of key digital infrastructure, such as data centers, undersea cable systems, and stable energy supply, to support the growth of the digital industry.
4596949347K1B021081PENENTUAN ENERGI KETETANGGAAN DAN ENERGI LAPLACE PADA KOMPLEMEN GRAF MULTIPARTIT LENGKAPEnergi graf adalah jumlah nilai mutlak dari semua nilai eigen matriks yang merepresentasikan graf tersebut. Energi graf yang dihitung berdasarkan matriks ketetanggaan disebut energi ketetanggaan. Selain itu, energi graf juga dapat dihitung menggunakan matriks Laplace, yang hasilnya disebut energi Laplace. Energi Laplace didefinisikan sebagai jumlah nilai mutlak dari selisih antara setiap nilai eigen matriks Laplace dengan derajat rata-rata graf. Penelitian ini membahas tentang penentuan energi ketetanggaan dan energi Laplace pada komplemen graf multipartit lengkap. Berdasarkan hasil penelitian, perhitungan energi ketetanggaan dan energi Laplace pada graf tersebut dapat dilakukan dengan membagi penyelesaian menjadi 2 kasus.Graph energy is defined as the sum of the absolute values of all eigenvalues of a matrix that represents the graph. When the graph energy is calculated using the adjacency matrix is called adjacency energy. Alternatively, graph energy can also be computed using the Laplacian matrix, in which case it is called Laplacian energy. Laplacian energy is defined as the sum of the absolute values of the differences between each Laplacian eigenvalue and the average degree of the graph. This research discusses the adjacency energy and Laplacian energy of the complement of a complete multipartite graph. Based on the results, the calculation of adjacency energy and Laplacian energy for this type of graph can be carried out by dividing the solution into two cases.
4597049335H1D021003ANALISIS KETERKAITAN POLA MAKAN DAN GAYA HIDUP DALAM MEMPREDIKSI RISIKO PENYAKIT MENGGUNAKAN ALGORITMA APRIORI DAN RANDOM FORESTPola makan dan gaya hidup merupakan faktor penting yang memengaruhi risiko penyakit kronis seperti jantung, obesitas, hipertensi, dan diabetes. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan antara pola makan dan gaya hidup terhadap risiko penyakit serta membangun sistem prediksi berbasis data. Metode yang digunakan adalah algoritma Apriori untuk menemukan aturan asosiasi dan algoritma Random Forest untuk membangun model prediksi. Dataset yang digunakan mencakup data demografi, data pola makan, data gaya hidup, dan risiko penyakit, yang diperoleh dari platform Kaggle. Hasil analisis menunjukkan bahwa algoritma Apriori mampu mengidentifikasi aturan keterkaitan yang cukup kuat
dengan nilai confidence 30% antara variabel pola makan dan gaya hidup terhadap risiko penyakit. Sementara itu, model Random Forest menunjukkan performa akurasi tinggi, yaitu 93% untuk risiko hipertensi dan obesitas, 99% untuk risiko jantung, serta 94% untuk risiko diabetes dalam memprediksi masing-masing risiko penyakit. Penelitian ini juga menghasilkan aplikasi berbasis website menggunakan
framework Streamlit yang menampilkan hasil analisis dan prediksi secara interaktif.
Diet and lifestyle are important factors that influence the risk of chronic diseases such as heart disease, obesity, hypertension and diabetes. This research aims to analyze the relationship between diet and lifestyle to disease risk and build a data-based prediction system. The methods used are Apriori algorithm to find
association rules and Random Forest algorithm to build prediction models. The dataset used includes demographic data, diet data, lifestyle data, and disease risk, obtained from the Kaggle platform. The analysis results show that the Apriori algorithm is able to identify a fairly strong association rule with a confidence value of 30% between diet and lifestyle variables and disease risk. Meanwhile, the
Random Forest model showed high accuracy performance, namely 93% for hypertension and obesity risk, 99% for heart risk, and 94% for diabetes risk in predicting each disease risk. This research also produced a web-based application using the Streamlit framework that displays the results of analysis and predictions interactively.
4597149336A1F021006Pemilihan Produk Unggulan Berbasis Nanas di Desa Candiwulan, Kecamatan Kutasari, Kabupaten Purbalingga dengan Menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP)Desa Candiwulan merupakan bagian dari wilayah Kecamatan Kutasari yang memiliki komoditas nanas yang cukup berlimpah. Desa Candiwulan memiliki luas wilayah lahan sebesar 262,6 hektar dan 5 hektar lahan yang digunakan untuk budidaya nanas dan komoditas lain, sehingga hampir 45% penduduknya memiliki pekerjaan utama maupun sampingan sebagai petani. Petani nanas di Desa Candiwulan mengalami beberapa permasalahan dalam penjualan nanas segar. Pertama, terkait dengan sistem jual beli tebasan yang merugikan petani. Kedua, ketatnya persaingan pasar baik komoditas sejenis maupun tidak sejenis, yang mengakibatkan anjloknya pada waktu tertentu, sedangkan ketersediannya berlimpah. Ketiga, kaitannya akan umur simpan nanas segar yang pendek antara 7-10 hari. Atas dasar permasalahan tersebut, diperlukan alternatif untuk menyelesaikan permasalahan yang dialami oleh petani nanas dengan jalan pengolahan, sekaligus adopsi strategi pengembangan desa dengan One Village One Product (OVOP). Adapun tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini, yaitu: 1) Menganalisis kriteria yang paling berpengaruh terhadap pemilihan prioritas produk berbasis nanas di Desa Candiwulan. 2) Menganalisis urutan kriteria yang paling berpengaruh terhadap penentuan prioritas produk unggulan berbasis nanas di Desa Candiwulan. 3) Menentukan prioritas alternatif produk unggulan berbasis nanas di Desa Candiwulan. Penelitian dilaksanakan di Desa Candiwulan dengan responden pentahelix yang menyebar di kawasan Kabupaten Purbalingga. Penentuan jumlah sampel dilakukan dengan pendekatan non probability metode purposive sampling sebanyak 30 responden. Penentuan pemilihan produk unggulan berbasis nanas di Desa Candiwulan meliputi faktor, aktor dan alternatif. Kriteria, sub kriteria, dan alternatif dianalisis menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Berdasarkan hasil analisis, faktor yang paling berpengaruh terhadap pemilihan produk unggulan berbasis nanas adalah peluang pasar dengan bobot 0,210 (21%). Aktor yang paling berperan adalah pengrajin dengan bobot 0,326 (32,6%). Alternatif produk olahan nanas terpilih adalah koktail nanas dengan bobot 0,235 (23,5%).Candiwulan Village is part of the Kutasari District which has quite Candiwulan Village is part of the Kutasari District, which has an abundant supply of pineapples. Candiwulan Village covers an area of 262.6 hectares, with 5 hectares used for pineapple and other commodity cultivation, making nearly 45% of its population primarily or partially engaged in farming. Pineapple farmers in Candiwulan Village face several challenges in selling fresh pineapples. First, the slashing buying and selling system is detrimental to farmers. Second, intense market competition for both similar and dissimilar commodities results in a price drop at certain times, while availability is abundant. Third, the short shelf life of fresh pineapples, which is between 7-10 days. Based on these challenges, an alternative solution is needed to address the problems experienced by pineapple farmers, including processing and adopting a village development strategy with One Village One Product (OVOP). The objectives of this study are: 1) To analyze the most influential criteria for selecting priority pineapple-based products in Candiwulan Village. 2) To analyze the order of the most influential criteria for determining priority pineapple-based superior products in Candiwulan Village. 3) Determining the priority of alternative pineapple-based superior products in Candiwulan Village. The study was conducted in Candiwulan Village with pentahelix respondents spread across Purbalingga Regency. The sample size was determined using a non-probability purposive sampling method with 30 respondents. The selection of superior pineapple-based products in Candiwulan Village included factors, actors, and alternatives. Criteria, sub-criteria, and alternatives were analyzed using the Analytical Hierarchy Process (AHP) method. Based on the analysis, the most influential factor in selecting superior pineapple-based products was market opportunities with a weight of 0,210 (21%). The most important actor was the craftsman with a weight of 0,326 (32,6%). The selected alternative pineapple processed product was pineapple cocktail with a weight of 0,23 (23,5%).
4597249339H1D021079KLASIFIKASI TINGKAT MOTIVASI BELAJAR SISWA SMP DI KABUPATEN BANYUMAS MENGGUNAKAN METODE K-NEAREST NEIGHBORPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat motivasi belajar siswa SMP di Kabupaten Banyumas menggunakan metode K-Nearest Neighbor (KNN). Motivasi belajar menjadi faktor kunci dalam keberhasilan pendidikan, namun di Banyumas ditemui masalah seperti rendahnya rata-rata lama sekolah (7,7 tahun) dan angka putus sekolah. Penelitian ini menggunakan dua variabel, yaitu variabel internal (fisik, psikologis) dan variabel eksternal (guru, orang tua, teman, fasilitas). Data dikumpulkan dari 16 SMP yang dipilih berdasarkan perbandingan akreditasi (9 sekolah A, 5 sekolah B, 2 sekolah C). Preprocessing data dilakukan dengan SMOTE untuk menangani ketidakseimbangan kelas. Model KNN kemudian dibangun dan diintegrasikan dalam sistem berbasis web menggunakan Streamlit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model KNN mencapai akurasi 92,2% dalam mengklasifikasikan motivasi belajar menjadi tiga kategori (rendah, sedang, tinggi). Sistem yang dikembangkan juga menyediakan fitur rekomendasi solusi dan laporan PDF. Dengan demikian, sistem ini dapat menjadi alat bantu bagi sekolah dan pemerintah daerah dalam merancang intervensi peningkatan motivasi belajar siswa secara efektif.This study aims to analyze the learning motivation levels of junior high school students in Banyumas Regency using the K-Nearest Neighbor (KNN) method. Learning motivation is a key factor in educational success, but Banyumas faces problems such as the low average length of schooling (7.7 years) and the dropout rate. This study used two variables: internal variables (physical, psychological) and external variables (teachers, parents, friends, facilities). Data were collected from 16 junior high schools selected based on accreditation comparisons (9 schools A, 5 schools B, 2 schools C). Data preprocessing was performed using SMOTE to address class imbalance. A KNN model was then built and integrated into a web-based system using Streamlit. The results showed that the KNN model achieved 92.2% accuracy in classifying learning motivation into three categories (low, medium, and high). The developed system also provides solution recommendations and PDF reports. Therefore, this system can be a tool for schools and local governments in designing effective interventions to improve student learning motivation.
4597349340E1B021042PENERAPAN RESTORATIVE JUSTICE DALAM PENYELESAIAN TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN DI WILAYAH HUKUM KEJAKSAAN NEGERI YOGYAKARTA Kasus penganiayaan sering kali hanya diselesaikan melalui pendekatan retributif, yang menimbulkan tantangan besar dalam memberikan keadilan bagi korban maupun pelaku. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana penerapan dan tantangan restorative justice dalam menyelesaikan kasus penganiayaan di Kejaksaan Negeri Yogyakarta. Restorative justice adalah pendekatan alternatif dalam sistem peradilan pidana yang berfokus pada pemulihan kerugian korban, tanggung jawab pelaku, dan pemulihan hubungan sosial melalui dialog serta kesepakatan antara pihak-pihak yang terlibat. Penelitian ini menggunakan metode yuridis empiris, dengan data primer yang diperoleh dari wawancara dengan jaksa serta data sekunder dari studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pendekatan restorative justice telah diterapkan sesuai dengan Peraturan Kejaksaan Nomor 15 Tahun 2020. Pendekatan ini melibatkan proses mediasi antara korban dan pelaku untuk mencapai kesepakatan yang memuaskan kedua belah pihak, seperti permintaan maaf dan ganti rugi. Meskipun begitu, penerapannya masih menghadapi kendala seperti persepsi masyarakat yang cenderung negatif, ketidakseimbangan kepentingan antara korban dan pelaku, serta kurangnya pemahaman masyarakat tentang konsep ini. Akan tetapi, pendekatan ini mampu memberikan perlindungan hukum yang lebih berfokus pada pemulihan korban dan pelaku, serta menciptakan perdamaian di antara pihak-pihak yang terlibat.Assault cases are often resolved through a retributive approach, which poses significant challenges in delivering justice for both victims and offenders. This study aims to explore the implementation and challenges of restorative justice in resolving assault cases at the Yogyakarta District Prosecutor’s Office. Restorative justice is an alternative approach in the criminal justice system that focuses on repairing harm to victims, holding offenders accountable, and restoring social relationships through dialogue and agreements between the parties involved. Using an empirical juridical method, the research involved primary data from interviews with prosecutors and secondary data from literature studies. The findings reveal that restorative justice has been implemented in accordance with Prosecutor Regulation Number 15 of 2020. This approach involves mediation processes between victims and offenders to achieve mutually satisfying agreements, such as apologies and restitution. However, its application faces challenges such as negative public preceptions, imbalances in the interests of victim and offenders, and a lack of public understanding of the concept. Nonetheless, this approach has proven effective in providing legal protection that prioritizes the recovery of both victims and offenders while fostering peace among the involved parties.
4597449341E1B021020PENYELESAIAN PERKARA TINDAK PIDANA ANAK MELALUI DIVERSI DI KEJAKSAAN NEGERI TARAKAN DALAM PERKARA KECELAKAAN LALU LINTASDiversi merupakan mekanisme penyelesaian perkara tindak pidana anak di luar sistem peradilan guna menghindari dampak negatif proses peradilan terhadap anak. Namun, dalam praktiknya, diversi tidak selalu berhasil diterapkan. Penelitian ini membahas penyelesaian diversi dalam kasus kecelakaan lalu lintas yang ditangani oleh Kejaksaan Negeri Tarakan, dengan fokus pada hambatan dan implikasinya dalam sistem peradilan pidana anak. Penelitian ini menggunakan metode yuridis empiris dengan pendekatan perundang-undangan, kasus, dan konseptual untuk mengkaji regulasi hukum terkait diversi serta data empiris dari wawancara dengan jaksa yang menangani kasus tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyelesaian diversi dalam kasus ini menemui hambatan, disebabkan oleh beberapa faktor utama, yaitu penolakan dari keluarga korban serta kurangnya itikad baik dari pelaku dan keluarganya. Meskipun secara normatif diversi diwajibkan dalam sistem peradilan pidana anak, penerapannya masih menghadapi berbagai kendala di lapangan. Oleh karena itu, perlu adanya sinkronisasi antara kepolisian, kejaksaan, pengadilan, serta Balai Pemasyarakatan (Bapas) agar proses diversi dapat berjalan secara optimal. Harmonisasi kebijakan dan prosedur antar penegak hukum juga penting untuk memastikan bahwa diversi dapat diterapkan secara efektif, adil, dan sesuai dengan tujuan utama sistem peradilan pidana anak, yaitu melindungi hak anak tanpa mengesampingkan hak korban dalam memperoleh keadilan.Diversion is a mechanism for resolving juvenile criminal cases outside the judicial system to avoid the negative impact of formal proceedings on children. However, in practice, diversion is not always successfully implemented. This research discusses the resolution of diversion in a traffic accident case handled by the District Attorney’s Office of Tarakan, with a focus on the obstacles encountered and its implications for the juvenile criminal justice system. This study employs an empirical juridical method with statutory, case-based, and conceptual approaches to examine the legal regulations related to diversion as well as empirical data obtained through interviews with the prosecutor handling the case. The findings indicate that the implementation of diversion in this case faced significant obstacles, primarily due to the refusal from the victim’s family and the lack of good faith from the perpetrator and their family. Although normatively mandated in the juvenile justice system, the practical application of diversion still faces various challenges in the field. Therefore, synchronization among the police, the prosecution, the court, and the Correctional Center (Bapas) is necessary to ensure the optimal implementation of diversion. Policy and procedural harmonization among law enforcement institutions is also crucial to ensure that diversion can be applied effectively, fairly, and in alignment with the main objective of the juvenile justice system—protecting the rights of the child without disregarding the victim’s right to justice.
4597549334H1D021011PENERAPAN DATA MINING ALGORITMA DECISION TREE C4.5 UNTUK MENGKLASIFIKASIKAN TINGKAT KEMISKINAN
DI KECAMATAN PAGUYANGAN
PENERAPAN DATA MINING ALGORITMA DECISION TREE C4.5 UNTUK MENGKLASIFIKASIKAN TINGKAT KEMISKINAN
DI KECAMATAN PAGUYANGAN
Muhammad Yasif Akbar
H1D021011
ABSTRAK
Kemiskinan merupakan permasalahan sosial yang kompleks dan memerlukan pendekatan berbasis data untuk mengidentifikasi tingkat kesejahteraan masyarakat secara lebih akurat. Penelitian ini bertujuan untuk mengklasifikasikan tingkat kemiskinan di Kecamatan Paguyangan dengan menerapkan algoritma Decision Tree C4.5, menggunakan data dari dua desa dalam rentang tahun 2019–2024 yang mencakup tiga variabel penting, yaitu pendapatan bulanan, jumlah anggota keluarga, kondisi tempat tinggal. Metode penelitian mencakup pengumpulan data primer dan sekunder, kemudian dilakukan preprocessing, transformasi label, normalisasi, serta pembentukan fitur baru berupa pendapatan per kapita sebelum data dilatih menggunakan algoritma C4.5 dan divalidasi dengan teknik Stratified K-Fold Cross Validation. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa model yang dibangun memiliki akurasi rata-rata sebesar 99,64% dengan nilai precision, recall, dan F1-score di atas 99%, yang menunjukkan kinerja klasifikasi sangat baik. Model ini kemudian diimplementasikan ke dalam dashboard interaktif berbasis Streamlit sebagai alat bantu bagi pemerintah desa dalam mengidentifikasi masyarakat yang layak menerima bantuan sosial. Penelitian ini membuktikan bahwa penerapan data mining dengan algoritma C4.5 dapat menjadi solusi efektif dalam mendukung pengambilan keputusan berbasis data untuk penanggulangan kemiskinan di tingkat lokal.
APPLICATION OF DATA MINING C4.5 DECISION TREE ALGORITHM TO CLASSIFY POVERTY LEVELS IN PAGUYANGAN DISTRICT
Muhammad Yasif Akbar
H1D021011
ABSTRACT
Poverty is a complex social problem and requires a data-based approach to identify the level of community welfare more accurately. This study aims to classify the level of poverty in Paguyangan District by applying the Decision Tree C4.5 algorithm, using data from two villages in the 2019–2024 period covering three important variables, namely monthly income, number of family members, and living conditions. The research method includes collecting primary and secondary data, then preprocessing, label transformation, normalization, and the formation of new features in the form of per capita income before the data is trained using the C4.5 algorithm and validated using the Stratified K-Fold Cross Validation technique. The evaluation results show that the model built has an average accuracy of 99.64% with precision, recall, and F1-score values above 99%, indicating very good classification performance. This model is then implemented into an interactive dashboard based on Streamlit as a tool for the village government in id entifying people who are eligible to receive social assistance. This study proves that the application of data mining with the C4.5 algorithm can be an effective solution in supporting data-based decision making for poverty alleviation at the local level.
4597649343J1C021049Representasi Omoiyari dalam Film Belle: Ryuu To Sobakasu No Hime Karya Mamoru HosodaPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan representasi nilai omoiyari dalam film Belle: Ryuu to Sobakasu no Hime karya Mamoru Hosoda. Di era digital, remaja menghadapi tantangan dalam membangun empati meski intens berinteraksi secara virtual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teori representasi Fiske serta konsep budaya omoiyari menurut Lebra. Data diperoleh melalui observasi dan dokumentasi terhadap adegan dan dialog dalam film, kemudian dianalisis berdasarkan enam bentuk omoiyari: memelihara konsensus, pengoptimalan kenyamanan lawan bicara, kerentanan perasaan, efek gema sosial, komunikasi intuitif, dan rasa bersalah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 16 temuan, bentuk omoiyari yang paling dominan adalah kerentanan perasaan dan pengoptimalan kenyamanan lawan bicara. Kerentanan perasaan tercermin dalam empati Suzu terhadap trauma yang dialami Ryuu, yang direspons dengan kelembutan dan tanpa penilaian. Sementara itu, pengoptimalan kenyamanan tampak dalam usaha Suzu membangun komunikasi yang aman dan penuh pengertian di dunia nyata maupun virtual. This study aims to identify and describe the representation of omoiyari values in the film Belle: Ryuu to Sobakasu no Hime directed by Mamoru Hosoda. In the digital era, teenagers face challenges in developing empathy despite engaging in frequent virtual interactions. This research employs a descriptive qualitative approach using Fiske’s theory of representation and the cultural concept of omoiyari as defined by Lebra. Data were collected through observation and documentation of scenes and dialogues in the film, and then analyzed based on six forms of omoiyari: maintaining consensus, optimizing the comfort of the interlocutor, emotional vulnerability, social echo effect, intuitive communication, and sense of guilt. The findings show that among the 16 identified instances, the most dominant forms of omoiyari are emotional vulnerability and optimizing the comfort of the interlocutor. Emotional vulnerability is reflected in Suzu’s empathy toward Ryuu’s trauma, which she responds to with gentleness and without judgment. Meanwhile, the optimization of comfort is evident in Suzu’s efforts to build safe and understanding communication in both real and virtual spaces.
4597749344J1C021054STUDI INTERNALISASI NILAI KAIZEN DI PANASONIC GOBEL LIFE SOLUTIONS MANUFACTURING INDONESIAPenelitian ini menganalisis penerapan prinsip-prinsip perusahaan Jepang, yaitu 5S dan Kaizen, di Panasonic Gobel Life Solutions Manufacturing Indonesia. Keberadaan perusahaan Jepang yang beroperasi secara global di berbagai dunia memerlukan kemampuan untuk menyesuaikan diri dan mengadopsi nilai-nilai manajemen yang khas, seperti 5S dan Kaizen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana budaya perusahaan Jepang, khususnya prinsip 5S dan Kaizen, diinternalisasi oleh karyawan Indonesia di Panasonic, serta menguraikan model internalisasi ini beserta faktor-faktor pendukung dan penghambatnya. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan observasi dan wawancara mendalam, data dikumpulkan dari lima informan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses internalisasi budaya 5S dan Kaizen melibatkan lima tahapan. Tahap Knowledge, Persuasion, Decision, Implementation, dan Confirmation. Tahap pengetahuan awal karyawan bervariasi, dengan pengalaman sebelumnya dan persepsi positif karyawan menjadi faktor pendorong utama. Penerapan 5S di lapangan menunjukkan bahwa tahapan Seiri (memilah) dan Seiton (menata) cenderung lebih mudah untuk diterapkan karena bersifat fisik dan terstruktur. Namun, tantangan terbesar ditemukan pada tahapan Seiketsu (merawat/standarisasi) dan Shitsuke (membiasakan/disiplin), yang membutuhkan perubahan perilaku dan konsistensi jangka panjang dari individu. Meskipun demikian, penerapan 5S dan Kaizen memberikan dampak positif yang signifikan, seperti lingkungan kerja yang lebih baik dan terstruktur, penurunan potensi kecelakaan kerja, dan peningkatan efisiensi operasional.


This research analyzes the implementation of Japanese corporate principles, namely 5S and Kaizen, at Panasonic Gobel Life Solutions Manufacturing Indonesia. The presence of Japanese companies operating globally in various parts of the world requires the ability to adapt and adopt distinctive management values such as 5S and Kaizen. This study aims to analyze how Japanese corporate culture, especially the principles of 5S and Kaizen, is internalized by Indonesian employees at Panasonic, and to describe the model of this internalization along with its supporting and inhibiting factors. Using a descriptive qualitative approach through observation and in-depth interviews, data were collected from five informants. The results of this study show that the process of internalizing 5S and Kaizen culture involves five stages: Knowledge, Persuasion, Decision, Implementation, and Confirmation. Employees' initial knowledge levels vary, with prior experience and positive perceptions being key driving factors. The implementation of 5S in the field shows that the stages of Seiri (sorting) and Seiton (organizing) tend to be easier to implement due to their physical and structured nature. However, the greatest challenges are found in the stages of Seiketsu (standardizing/maintaining) and Shitsuke (disciplining/habituating), which require behavioral change and long-term individual consistency. Nevertheless, the implementation of 5S and Kaizen has shown significant positive impacts, such as a better and more structured work environment, reduced risk of workplace accidents, and increased operational efficiency.

4597849359L1B021095Profil Darah Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) Yang Dibudidayakan Pada Sistem
Budikdamber Dengan Padat Tebar Berbeda
Ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) adalah salah satu spesies ikan air tawar yang mempunyai nilai
ekonomis tinggi dan dapat dibudidayakan menggunakan sistem budikdamber. Sistem budikdamber
merupakan bentuk inovasi berbasis akuaponik yang mengombinasikan budidaya ikan dan penanaman
sayur dalam satu wadah, untuk memaksimalkan pemanfaatan lahan serta sumber daya yang tersedia.
Padat tebar yang tidak optimal berdampak terhadap kondisi fisiologis ikan, yang dapat diindentifikasi
melalui perubahan parameter hematologis seperti jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, nilai hematokrit,
serta kadar glukosa darah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui profil darah ikan lele
dumbo (Clarias gariepinus) yang dibudidayakan dalam sistem budikdamber dengan perlakuan padat
tebar berbeda selama 40 hari pemeliharaan. Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan eksperimental,
dengan padat tebar ikan lele dumbo sebanyak 30 ekor/70 L, 40 ekor/70 L, dan 50 ekor/70 L. Hasil
analisis statistik menunjukkan bahwa perbedaan padat tebar tidak memberikan pengaruh yang signifikan
terhadap nilai eritrosit, hemoglobin, dan hematokrit namun memberikan pengaruh yang signifikan
terhadap glukosa darah ikan lele dumbo (Clarias gariepinus). Parameter kualitas air seperti suhu dan
pH berada dalam kisaran optimum, sedangkan oksigen terlarut dan amonia berada di bawah batas
standar kualitas air untuk budidaya ikan lele.
The dumbo catfish (Clarias gariepinus) is one of the freshwater fish species that has high economic
value and can be cultivated using the aquaponics system. The aquaponics system is an aquaponics-based
innovation that combines fish farming and vegetable cultivation in a single container to maximize land
and resource utilization. Suboptimal stocking density affects the physiological condition of the fish,
which can be identified through changes in hematological parameters such as red blood cell count,
hemoglobin levels, hematocrit values, and blood glucose levels. The objective of this study was to
determine the blood profile of dumbo catfish (Clarias gariepinus) cultivated in the budikdamber system
with different stocking densities over a 40 day rearing period. This study was conducted using an
experimental approach, with stocking densities of 30 fish/70 L, 40 fish/70 L, and 50 fish/70 L. Statistical
analysis results showed that stocking density differences did not significantly affect erythrocyte,
hemoglobin, and hematocrit values but significantly affected blood glucose levels in dumbo catfish
(Clarias gariepinus). Water quality parameters such as temperature and pH were within optimal ranges,
while dissolved oxygen and ammonia levels were below the standard water quality limits for catfish
farming.
4597949345C1A021054ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEDALAMAN KEMISKINAN KABUPATEN/KOTA DI JAWA TENGAH TAHUN 2020-2024
Penelitian ini berjudul “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kedalaman Kemiskinan Kabupaten/Kota di Jawa Tengah Tahun 2020-2024”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh : 1) rata-rata lama sekolah; 2) tingkat kesempatan kerja; 3) pertumbuhan ekonomi; 4) Bantuan Pangan Non Tunai; 5) rasio ketergantungan. Penelitian ini menggunakan data dari 35 Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah dengan metode regresi data panel menggunakan Random Effect Model (REM). Uji multikolinearitas dan uji heteroskedasitas, dilakukan untuk menguji keabsahan model.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata lama sekolah berpengaruh negatif signifikan terhadap kedalaman kemiskinan sehingga semakin tinggi jenjang pendidikan masyarakat akan mengurangi kedalaman kemiskinan. Sementara itu, tingkat kesempatan kerja tidak berpengaruh signifikan terhadap kedalaman kemiskinan. Pertumbuhan ekonomi juga memiliki tidak berpengaruh signifikan terhadap kedalaman kemiskinan. Pada Bantuan Pangan Non Tunai memiliki berpengaruh positif signifikan terhadap kedalaman kemiskinan. Sementara itu, variabel rasio ketergantungan tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kedalaman kemiskinan. Secara bersama-sama model yang digunakan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel kedalaman kemiskinan dengan nilai uji F sebesar 0.000034 < 0,05. Hasil uji koefisien determinasi R menunjukkan variabel independen yang digunakan dapat menjelaskan variabel kedalaman kemiskinan sebesar 12,7 % sementara 87,3% lainnya dijelaskan variabel lain di luar model.
Berdasarkan hasil penelitian ini Pemerintah Provinsi Jawa Tengah diharapkan memperkuat sektor pendidikan untuk mengatasi masalah kedalaman kemiskinan di Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, kebijakan ketenagakerjaan harus difokuskan pada peningkatan kualitas tenaga kerja sehingga angkatan kerja yang terserap memiliki pendapatan yang lebih layak. Pertumbuhan ekonomi juga harus lebih inklusif agar manfaatnya dapat dirasakan oleh kelompok miskin. Program Bantuan Pangan Non Tunai perlu dievaluasi agar lebih efektif dan memiliki dampak yang sesuai tujuan program. Terakhir, pemerintah perlu membuat kebijakan yang memprioritaskan kelompok usia produktif karena Provinsi Jawa Tengah sedang mengalami bonus demografi.
This study is entitled “An Analysis of the Factors Affecting the Poverty Depth Index in Regencies/Municipalities of Central Java for the Period 2020–2024 The objective of this study is to analyze the influence of: (1) average years of schooling; (2) employment rate; (3) economic growth; (4) Non-Cash Food Assistance (BPNT); and (5) dependency ratio. This study uses data from 35 regencies/municipalities in Central Java Province and employs a panel data regression method using the Random Effects Model (REM). Multicollinearity and heteroscedasticity tests were conducted to assess the validity of the model.
The results of this study show that average years of schooling have a significant negative effect on the poverty depth index, indicating that higher levels of education reduce the severity of poverty. Meanwhile, the employment rate does not have a significant effect on the poverty depth index. Economic growth also does not have a significant effect on the poverty depth index. Non-Cash Food Assistance has a significant positive effect on the poverty depth index. Meanwhile, the dependency ratio does not have a significant effect on the poverty depth index. Simultaneously, the model used in this study has a significant effect on the poverty depth index, with an F-test value of 0.000034 < 0.05. The coefficient of determination (R²) indicates that the independent variables explain 12.7% of the variation in the poverty depth index, while the remaining 87.3% is explained by other variables outside the model.
Based on the findings of this study, the Provincial Government of Central Java is expected to strengthen the education sector in order to address the issue of poverty depth in the region. In addition, employment policies should focus on improving the quality of the workforce so that the employed population can earn a more decent income. Economic growth must also be made more inclusive so that its benefits can reach the poor. The Non-Cash Food Assistance program should be evaluated to ensure its effectiveness and alignment with its intended objectives. Finally, the government needs to implement policies that prioritize the productive age groups, considering that Central Java Province is currently experiencing a demographic bonus.
4598049338A1D021208Karakter Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) pada Sistem Pertanian Padi Budidaya Organik dan KonvensionalPertanian organik mulai dikembangkan di berbagai daerah, salah satunya di Banyumas. Hal ini didasari oleh dampak dari pertanian konvensional yang berpengaruh terhadap kesuburan tanah. Terdapat perbedaan jumlah mikroorgansme tanah antara sistem pertanian organik dengan konvensional. Penelitian ini dilakukan guna mendapatkan isolat potensial PGPR dari sistem pertanian organik dan konvensional. Penelitian ini merupakan penelitian berbasis eksplorasi dari dua lokasi berbeda menggunakan metode pengambilan sampel secara diagonal pada lima titik berbeda. Penelitian dilakukan di Laboratorium Agroekologi, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Berdasarkan hasil penelitian, populasi bakteri rizosfer yang berasal dari lahan pertanian konvensional lebih tinggi yaitu 27,32 × 105 cfu/g dibandingkan dengan lahan pertanian organik 4,33 × 105 cfu/g. Karakter yang didapatkan berupa bakteri yang memilki ukuran sedang dan besar dengan tepian dominan timbul rata dan bentuk bervariasi, seperti bulat, kumparan, tidak beraturan, dan menyerupai akar. Karakteristik sel yang didapatkan berupa bakteri yang memiliki bentuk sel kokus dan basil dengan sifat gram dan endospora yang positif serta negatif. Sebanyak dua puluh isolat dominan dilakukan uji potensi PGPR dan didapatkan hasil semua isolat dapat menambat nitrogen, tujuh isolat dapat melarutkan fosfat, dan dua belas isolat dapat menghasilkan hormon IAA. Terdapat empat isolat yang memiliki kemampuan lebih dari satu, yaitu isolat AJB 2, AJB 4, AJB 6, dan GML 7. Isolat paling baik diuji waktu generasinya dan didapatkan waktu generasi selama 2 jam 27 menit untuk isolat AJB 4 dan 4 jam 19 menit untuk isolat GML 7.Organic farming has begun to be developed in various regions, one of which is Banyumas.This is based on the impact of conventional farming on soil fertility. There is a difference in the number of soil microorganisms between organic and conventional farming systems.This study was conducted to obtain potential PGPR isolates from organic and conventional farming systems. This is an exploratory study from two different locations using a diagonal sampling method at five different points. The study was conducted at the
Agroecology Laboratory, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University. Based on the research results, the rhizosphere bacterial population originating from conventional agricultural land was higher, at 27.32 × 105 cfu/g, compared to organic agricultural land, at 4.33 × 105 cfu/g. The characteristics observed include bacteria of medium to large size with predominantly smooth edges and varied shapes, such as round, spiral, irregular, and root-like. The cellular characteristics include bacteria with coccus and bacillus shapes, with both positive and negative Gram staining and endospore properties. Twenty dominant isolates were tested for PGPR potential, and the results showed that all isolates could fix nitrogen, seven isolates could solubilize phosphorus, and twelve isolates could produce IAA hormone. Four isolates exhibited more than one ability, namely isolates AJB 2, AJB 4, AJB 6, and GML 7. The best isolates were tested for generation time, with a generation time of 2 hours and 27 minutes for isolate AJB 4 and 4 hours and 19 minutes for isolate GML 7.