Artikelilmiahs

Menampilkan 46.061-46.080 dari 48.741 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4606149431I1C021082Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap Pengawas Minum Obat (PMO) dengan Kepatuhan Minum Obat Pasien Tuberkulosis di Desa Ledug Kecamatan KembaranTuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh
bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Hingga saat ini tingkat kepatuhan
pengobatan TB masih rendah, hal tersebut dipengaruhi oleh banyak
faktor salah satunya adalah faktor eksternal yaitu adanya Pengawas
Minum Obat (PMO). PMO merupakan salah satu pihak yang terlibat
dalam strategi DOTS yang memiliki tugas utama untuk mendampingi
pasien menjalani pengobatan hingga sembuh. Dalam menjalankan
perannya, PMO harus memiliki pengetahuan dan sikap yang baik agar
dapat mendorong pasien untuk meningkatkan kepatuhan
pengobatannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan
tingkat pengetahuan dan sikap PMO dengan kepatuhan minum obat
pasien TB di Desa Ledug Kecamatan Kembaran. Penelitian ini
menggunakan desain deskriptif korelasi dengan pendekatan cross-
sectional. Sampel penelitian berjumlah 37 PMO yang diambil
menggunakan metode total sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi.
Instrumen penelitian berupa kuesioner pengetahuan, sikap, dan
kepatuhan. Data dianalisis menggunakan uji Fisher’s Exact dengan
tingkat signifikansi p<0,05. Hasil analisis menunjukkan mayoritas PMO
memiliki pengetahuan baik (62,16%) dan sikap baik (70,27%). Hasil
penelitian menunjukkan mayoritas PMO memiliki pengetahuan baik
(62,16%) dan sikap baik (70,27%). Terdapat hubungan signifikan antara
tingkat pengetahuan PMO dengan kepatuhan pasien TB (p=0,027) serta
antara sikap PMO dengan kepatuhan pasien TB (p=0,018). Luaran
penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan pengetahuan dan sikap
PMO berperan penting dalam meningkatkan kepatuhan pengobatan
pasien TB, yang diharapkan dapat mendukung keberhasilan terapi
tuberkulosis dan mencegah terjadinya resistensi obat di masa
mendatang.
Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by Mycobacterium
tuberculosis. Currently, treatment adherence among TB patients remains
low, influenced by many factors, one of which is the external factor of
having a Treatment Supervisor (PMO). PMOs are part of the DOTS
strategy with the main task of assisting patients to complete their
treatment until recovery. In carrying out their roles, PMOs need to have
good knowledge and attitudes to encourage patients to improve their
treatment adherence. This study aimed to determine the relationship
between PMOs’ knowledge and attitudes and the medication adherence
of TB patients in Ledug Village, Kembaran Subdistrict. This research
used a descriptive correlational design with a cross-sectional approach
involving 37 PMOs selected using total sampling according to inclusion
and exclusion criteria. The research instruments were knowledge, attitude, and adherence questionnaires, and the data were analyzed using
Fisher’s Exact test with a significance level of p<0.05. The results
showed that most PMOs had good knowledge (62.16%) and good
attitudes (70.27%). There was a significant relationship between PMOs’
knowledge and patients’ adherence (p=0.027) as well as between PMOs’
attitudes and patients’ adherence (p=0.018). The findings of this study
indicate that improving PMOs’ knowledge and attitudes plays an
important role in enhancing TB patients’ treatment adherence, which is
expected to support the success of tuberculosis therapy and prevent drug
resistance in the future.
4606249432H1B021035OPTIMALISASI STRUKTUR PERANCAH PADA AREA TROWONG SISI MIRING BANGUNAN PELIMPAH
Penelitian ini mengkaji optimalisasi struktur perancah pada area trowong sisi miring bangunan pelimpah. Penelitian ini bertujuan meningkatkan efisiensi waktu dan biaya pekerjaan. Pelaksanaan pekerjaan dengan menggunakan metode kerja eksisting membutuhkan durasi pekerjaan yang panjang, biaya operasional yang tinggi, serta akses di lokasi pekerjaan yang terbatas. Solusi dari permasalahan tersebut adalah dengan merancang struktur perancah beroda yang dapat dipindahkan dengan mudah, cepat, dan aman. Penelitian ini bertujuan untuk merancang struktur perancah baru yang lebih efisien. Metodologi yang digunakan meliputi pengumpulan dan pengolahan data, serta analisis struktural menggunakan metode Finite Element Analysis (FEA) terhadap empat jenis model struktur perancah yang berbeda. Parameter pengujian mencakup tegangan, pergeseran, faktor keamanan, perhitungan daya dukung perancah, serta analisis biaya dan waktu pekerjaan. Hasil studi menunjukkan bahwa implementasi metode kerja baru dapat mengurangi durasi pada beberapa pekerjaan seperti pekerjaan instalasi perancah pengecoran yang semula membutuhkan waktu 62 hari menjadi 35 hari. Pekerjaan instalasi perancah pembesian yang semula membutuhkan waktu 35 hari menjadi 22 hari. Total durasi pekerjaan secara keseluruhan berdasarkan penjadwalan yang semula membutuhkan waktu selama 256 hari dapat berkurang menjadi 230 hari. Total biaya keseluruhan untuk metode kerja eksisting yang semula membutuhkan Rp 6.041.988.840 dapat dipangkas menjadi Rp 6.026.435.970 dengan metode kerja baru, sehingga menghasilkan penghematan sebesar Rp 15.552.870. Keunggulan metode kerja baru terletak pada kemudahan saat pemindahan struktur perancah, distribusi beban yang lebih optimal, dan pemanfaatan sumber daya yang lebih efektif.This study examines the optimization of scaffolding structures in the inclined tunnel area of the spillway structures. The aim of this study is to improve the efficiency of work time and costs. The implementation of work using existing work methods requires a long duration of work, high operational costs, and limited access to the work site. The solution to these issues is to design a wheeled scaffolding structure that can be easily, quickly, and safely moved. This study aims to design a new, more efficient scaffolding structure. The methodology used includes data collection and processing, as well as structural analysis using the Finite Element Analysis (FEA) method on four different types of scaffolding structure models. Testing parameters include stress, displacement, safety factors, scaffolding load-bearing capacity calculations, as well as cost and time analysis. The study results indicate that the implementation of the new work method can reduce the duration of certain tasks, such as formwork installation for concrete pouring, which previously required 62 days and is now reduced to 35 days. Formwork installation for reinforcement, which previously required 35 days, is now reduced to 22 days. The total project duration, based on the original schedule requiring 256 days, can be reduced to 230 days. The total cost for the existing work method, which originally required Rp 6.041.988.840, can be reduced to Rp 6.026.435.970 with the new work method, resulting in savings of Rp 15.552.870. The advantages of the new work method lie in the ease of moving the scaffolding structure, more optimal load distribution, and more effective use of resources.
4606349399H1C021023Geologi dan Analisis Bahaya Kegempaan Menggunakan Metode DSHA (Deterministic Seismic Hazard Analysis) dan PSHA (Probabilistic Seismic Hazard
Analysis) Pada Zona Baribis-Kendeng Thust-Belt, Kabupaten Brees, Jawa Tengah
Brebes merupakan salah satu wilayah di Provinsi Jawa Tengah dengan populasi
penduduk yang paling tinggi dan lokasinya yang strategis untuk pembangunan
infrastruktur dan industri. Karena posisinya yang berada pada zona Baribis-Kendeng
Thrust-Belt, sehingga menimbulkan ancaman bencana gempa bumi. Untuk itu,
diperlukan pemetaan bahaya kegempaan pada daerah Banjarharjo dan sekitarnya, untuk
mengetahui nilai Peak Ground Acceleration (PGA) dan percepatan spektral (SA) pada
batuan dasar dan permukaan guna mengurangi dampak dari bencana gempa bumi yang
ditimbulkan di masa mendatang. Analisis ini dilakukan untuk mengetahui ketahanan
bangunan terhadap guncangan akibat bencana gempa bumi. Analisis bahaya kegempaan
menggunakan program OpenQuake dilakukan dengan metode deterministik
(Deterministic Seismic Hazard Analysis/DSHA) dan Probabilistik (Probabilistic Seismic
Hazard Analysis/PSHA) sebagai pembanding dengan probabilitas terlampaui 2% dalam
50 tahun atau kala ulang 2500 tahun. Fungsi atenuasi/Ground Motion Prediction
Equation (GMPE) yang digunakan berfokus pada sumber gempa sesar. Hasil analisis
pada batuan dasar dengan metode deterministik berurut dari PGA, SA 0,2s dan SA 1s
yaitu 0.09 - 0.43 g, 0.22 - 1.06 g, dan 0.06 - 0.30 g. Untuk metode probabilistik di
dapatkan PGA, SA 0.2s, dan SA 1s yaitu 0.13 - 0.20 g, 0,21 - 0,35 g, dan 0.14 - 0.22 g.
Dilakukan analisis bahaya gempa di permukaan berdasarkan perhitungan perkalian
amplifikasi menggunakan data Vs30 dengan analisis bahaya kegempaan di batuan dasar.
Sehingga menghasilkan nilai berurut dari PGA, SA 0,2s dan SA 1s menggunakan metode
deterministik yaitu 0.40 - 0.46 g, 1.01 - 1.14 g, dan 0.48 - 0.54 g dan metode probabilistik
menghasilkan nilai berurut dari PGA, SA 0.2s, dan SA 1s yaitu 0.21 - 0.26 g, 0,42 - 0,54
g, dan 0.34 - 0.43 g.
Brebes is one of the regions in Central Java Province with the highest population and a
strategic location for infrastructure and industrial development. Due to its position within
the Baribis-Kendeng Thrust Belt zone, it faces the threat of earthquakes. Therefore,
seismic hazard mapping is required in the Banjarharjo area and its surroundings to
determine the Peak Ground Acceleration (PGA) and Spectral Acceleration (SA) values
in the bedrock and surface layers to mitigate the impact of future earthquakes. This
analysis was conducted to assess the resilience of buildings against seismic shocks caused by earthquakes. Seismic hazard analysis using the OpenQuake program was performed using deterministic (Deterministic Seismic Hazard Analysis/DSHA) and probabilistic (Probabilistic Seismic Hazard Analysis/PSHA) methods, with a 2% exceedance probability in 50 years or a return period of 2,500 years as a comparison. The attenuation function/Ground Motion Prediction Equation (GMPE) used focuses on fault earthquake sources. The analysis results for bedrock using the deterministic method are as follows: PGA, SA 0.2s, and SA 1s are 0.09–0.43 g, 0.22–1.06 g, and 0.06–0.30 g, in that order. For the probabilistic method, the results for PGA, SA 0.2s, and SA 1s are 0.13–0.20 g, 0.21–0.35 g, and 0.14–0.22 g, in that order. An earthquake hazard analysis at the surface was conducted based on amplification factor calculations using Vs30 data, combined with a seismic hazard analysis of the bedrock. This resulted in the following sequential values for PGA, SA 0.2s, and SA 1s using the deterministic method: 0.40–0.46 g, 1.01–1.14 g, and 0. 48 - 0.54 g, and the probabilistic method produced sequential values of PGA, SA 0.2s, and SA 1s of 0.21 - 0.26 g, 0.42 - 0.54 g, and 0.34 - 0.43 g.
4606449433H1A018067PERKIRAAN SUSUT ENERGI JANGKA PENDEK DENGAN METODE
ANFIS PADA JARINGAN DISTRIBUSI TEGANGAN RENDAH DI TELKOM
CORPORATE UNIVERSITY BANDUNG
Susut energi pada jaringan distribusi tegangan rendah merupakan masalah penting yang dapat mempengaruhi
efisiensi sistem kelistrikan. Susut energi dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk resistansi kabel, beban yang
tidak seimbang, dan kondisi lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan metode yang akurat untuk memperkirakan susut
energi agar dapat diambil langkah-langkah perbaikan yang tepat. Dalam proses perhitungan susut energi ini banyak
dialami kesulitan karena luasnya jaringan distribusi. Sehingga diperlukan suatu metode untuk menghitung susut tersebut.
Salah satunya adalah dengan membuat perancangan operasi susut energi yang dapat diketahui nilainya di waktu yang
akan datang yaitu prediksi nilai susut energi dengan metode Adaptive Neuro Fuzzy inference System (ANFIS). Penelitian
ini dilakukan di Telkom Corporate University Bandung pada main distribution panel gardu 2 dengan menggunakan data
yang diukur langsung menggunakan Power Quality Analyzer HIOKI 3169, data tegangan pada panel Gedung yang
disuplai dan data spesifikasi kabel yang digunakan yaitu NYY 4x70mm2
. Dari data yang dihasilkan kemudian dilakukan
perhitungan total susut energi pada setiap jam dari tanggal 18 juli 2022 sampai 24 juli 2022. Prediksi susut energi yang
dilakukan menggunakan Matlab R2016b menggunakan metode ANFIS. Data masukan yang digunakan pada metode ini
berupa suhu hari ini, kelembapan hari ini, waktu meliputi pukul 1 sampai pukul 24, dan nilai susut energi hari ini. Data
masukan tersebut dilakukan pelatihan dan pengujian menggunakan metode ANFIS dengan mencoba semua tipe fungsi
keanggotaan dan jumlah fungsi keanggotaan masing-masing variabel [3 3 3 3] untuk menghasilkan keluaran berupa nilai
susut energi besok. Keakuratan sistem diukur menggunakan nilai MAPE, nilai MAPE yang bagus kurang dari 10%.
Energy loss in low voltage distribution networks is an important problem that can affect the efficiency of the
electrical system. Energy loss can be caused by various factors, including cable resistance, unbalanced loads, and
environmental conditions. Therefore, an accurate method is needed to estimate energy loss so that appropriate
corrective steps can be taken. In the process of calculating energy loss, many difficulties are experienced due to the
vastness of the distribution network. So a method is needed to calculate the loss. One of them is by designing an energy
loss operation whose value can be known in the future, namely the prediction of energy loss values using the Adaptive
Neuro Fuzzy inference System (ANFIS) method. This research was conducted at Telkom Corporate University Bandung
on the main distribution panel of substation 2 using data measured directly using the HIOKI 3169 Power Quality
Analyzer, voltage data on the supplied Building panel and cable specification data used, namely NYY 4x70mm2. From
the data produced, the total energy loss was then calculated for each hour from July 18, 2022 to July 24, 2022. Energy
loss predictions were carried out using Matlab R2016b using the ANFIS method. The input data used in this method are
today's temperature, today's humidity, time from 1 to 24, and today's energy loss value. The input data is trained and
tested using the ANFIS method by trying all types of membership functions and the number of membership functions of
each variable [3 3 3 3] to produce output in the form of tomorrow's energy loss value. System accuracy is measured
using the MAPE value, a good MAPE value is less than 10%.
4606549434H1A018055ANALISIS BEBAN PENYEIMBANGAN PENYEIMBANGAN PADA PENYULANG KBL05 PADA GARDU INDUK KALIBAKAL UNTUK PERBAIKAN SUSUT TEKNIK DAN TEGANGAN PELAYANAN MENGGUNAKAN SOFTWARE ETAP
Fungsi pokok dari sistem distribusi kelistrikan adalah menyalurkan dan mendistribusikan tenaga listrik dari gardu induk menuju kelompok beban dan pelanggan dengan mutu memadai. Pembagian beban yang awalnya merata tetapi karena ketidakseimbangan
beban yang berdampak pada penyediaan tenaga listrik. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh, cara menekan serta membandingkan nilai ketidakseimbangan beban, arus netral dan losses setelah pemerataan beban dilakukan pada jaringan tegangan menengah

penyulang Kalibakal 05 Gardu Induk Kalibakal.
Pada metode penelitian dilakukan dengan mencari referensi dan sumber bacaan untuk
mengidentifikasi masalah yang terjadi. Kemudian menentukan objek, lokasi dan data
penelitian. Sebagai proses merepresentasikan objek penelitian kedalam bentuk persamaan,
grafis maupun bagan agar lebih mudah dipahami maka perlu dilakukan pemodelan. Sistem
permodelan rangkaian dan simulasi dilakukan pada software ETAP 19.0. Pendekatan yang
dilakukan adallah pemerataan beban pada jaringan. Jika simulasi pemerataan beban berhasil
maka proses selanjutnya adalah menganalisis hasil yang diperoleh tersebut. Penulisan laporan
diperlukan sebagai bagian untuik menjelaskan semua proses dari awal hingga akhir penelitian
kedalam bentuk tulisan ilmiah.
The main function of the electricity distribution system is to channel and distribute electric power from the main line to load groups and customers with adequate quality. The distribution of the load was initially even but due to load imbalance it had an impact on the
supply of electrical power. This research was carried out to analyze the influence, how to
suppress and compare the values of load imbalance, neutral current and losses after load
equalization was carried out on the Kalibakal 05 feeder medium voltage network, Kalibakal
Main Substation.
The research method is carried out by looking for references and reading sources to
identify problems that occur. Then determine the object, location and research data. As a
process of representing research objects in the form of equations, graphics or charts to make
them easier to understand, modeling needs to be carried out. The circuit modeling and
simulation system was carried out in ETAP 19.0 software. The approach taken is to evenly
distribute the load on the network. If the load equalization simulation is successful, the next
process is to analyze the results obtained. Report writing is needed as part of explaining all
processes from the beginning to the end of the research in the form of scientific writing
4606649435L1A021077Analisis Total Petroleum Hidrokarbon Pada Jenis Mangrove
Xylocarpus granatum dan Aegiceras corniculatum di Segara Anakan, Cilacap
Berbagai aktivitas masyarakat seperti transportasi, pelabuhan dan kegiatan industri kilang minyak
berkontribusi pada peningkatan potensi pencemaran petroleum hidrokarbon di ekosistem mangrove Segara Anakan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis TPH pada sedimen dan air, menganalisis Bioaccumulation Factor (BAF), Translocation Factor (TF), TPH pada mangrove Xylocarpus granatum dan Aegiceras corniculatum, serta menganalisis visualisasi akumulasi TPH. Metode pengambilan sampel yaitu random sampling berdasarkan keberadaan mangrove pada setiap lokasi pengambilan di 3 stasiun dengan
3 ulangan. Metode analisis data menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata konsentrasi TPH pada air adalah 166,7 ± 57,7 mg/L - 366,7 ± 251,7 mg/L yang berada di atas baku mutu berdasarkan PP RI nomor 22 tahun 2021 untuk air sebesar 0,02 mg/L. Sedangkan rata-rata konsentrasi TPH pada sedimen adalah 56666,7 ± 2081,7 mg/kg - 79633,3 ± 5598,5 mg/kg yang berada di atas baku mutu berdasarkan ANZECC, CCME and NOAA yaitu 150-5600 mg/kg. Konsentrasi TPH pada spesies X. granatum memiliki nilai rata-rata tertinggi sebesar 18100 ± 1909,9 mg/kg dan 15966,7 ± 2801,9
mg/kg daripada konsentrasi TPH pada spesies A. corniculatum yaitu sebesar 11800 ± 2066,7 mg/kg.
Berdasarkan perhitungan BAF dan TF pada kedua jenis mangrove tersebut relatif tidak mampu dalam
mengakumulasi dan mentranslokasi senyawa TPH pada organnya.
The community activities such as transportation, ports and oil refinery industry give contribute to increasing the potential of petroleum hydrocarbon pollution in the Segara Anakan mangrove ecosystem. This study aimed
to analyze TPH in sediment and water, analyze the Bioaccumulation Factor (BAF), Translocation Factor (TF), potential of TPH in Xylocarpus granatum and Aegiceras corniculatum mangroves, and analyze the visualization of TPH accumulation. The sampling method used random sampling based on the presence of
mangroves at each sampling location at 3 stations with 3 replications. The data analysis method used quantitative descriptive analysis. The results showed that the average TPH content in water was 166.7 ± 57.7
mg/L - 366.7 ± 251.7 mg/L more than the quality standard based on PP RI number 22 of 2021 which potential of water TPH of 0.02 mg/L. Meanwhile, the average TPH content in sediment was 56666.7 ± 2081.7 mg/kg - 79633.3 ± 5598.5 mg/kg which was above the quality standard based on ANZECC, CCME and NOAA, which was
150-5600 mg/kg. The TPH content in the species X. granatum had the highest average value of 18100 ± 1909.9 mg/kg and 15966.7 ± 2801.9 mg/kg than the TPH content in the species A. corniculatum, which was 11800 ±
2066.7 mg/kg. Based on the BAF and TF calculations, both types of mangroves were relatively unable to accumulate and translocate TPH compounds in their organs.
4606749436K1C018068POTENSI PENGGENANGAN TSUNAMI DI WILAYAH PESISIR PANTAI PANGANDARAN, JAWA BARAT MENGGUNAKAN SOFTWARE COMMIT (COMMUNITY MODEL INTERFACE FOR TSUNAMI)Penelitian ini menggunakan software ComMIT (Community Model Interface for Tsunami) untuk mengetahui potensi penggenangan tsunami dan membuat peta rencana jalur evakuasi tsunami di wilayah pesisir Pantai Pangandaran, Kabupaten Pangandaran (pemekaran dari kabupaten Ciamis) yang terletak di sebelah tenggara Jawa Barat. Berdasarkan pemodelan dari 9 skenario gempabumi yang penulis gunakan, didapatkan hasil inundasi dengan flow depth maksimal berkisar antara 14,17 hingga 41,94 meter. Waktu tempuh rata-rata yang diperlukan oleh gelombang tsunami pertama hingga mencapai pesisir Pantai Pangandaran, Kabupaten Pangandaran adalah 37,17 menit. Luas rendaman tsunami mencapai 12.501,881 ha pada 6 kecamatan terdampak di wilayah penelitian. Peta rencana jalur evakuasi tsunami terdiri dari 6 peta detail masing masing kecamatan dengan total 29 titik kumpul sementara dijadikan acuan dalam melakukan evakuasi jika terjadi tsunami. Metode evakuasi secara vertikal dan horizontal memiliki efektivitas yang relatif sama untuk dilakukan jika terjadi tsunami di wilayah pesisir Pantai Pangandaran, Kabupaten Pangandaran.This study uses ComMIT (Community Model Interface for Tsunami) software to determine the potential for tsunami inundation and create a tsunami evacuation route plan map in the coastal area of Pangandaran Beach, Pangandaran Regency (a division of Ciamis Regency) located in the southeast of West Java. Based on modeling of 9 earthquake scenarios that the author used, the results of inundation with a maximum flow depth ranging from 14.17 to 41.94 meters were obtained. The average travel time required by the first tsunami wave to reach the coast of Pangandaran Beach, Pangandaran Regency was 37.17 minutes. The area of tsunami inundation reached 12,501.881 ha in 6 affected sub-districts in the research area. The tsunami evacuation route plan map consists of 6 detailed maps for each sub-district with a total of 29 temporary gathering points used as a reference in carrying out evacuation in the event of a tsunami. Vertical and horizontal evacuation methods have relatively the same effectiveness to be carried out in the event of a tsunami in the coastal area of Pangandaran Beach, Pangandaran Regency.
4606848885C1A021036DAMPAK KREDIT PERBANKAN TERHADAP KEUNTUNGAN USAHA DAN KELAYAKAN HIDUP INDUSTRI RUMAH TANGGA KERIPIK TEMPE DI KECAMATAN RAWALO KABUPATEN BANYUMASUsaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) termasuk Industri Rumah Tangga (IRT) merupakan pelaku penting dalam perekonomian Indonesia, namun mereka seringkali mendapatkan kendala dalam meningkatkan produksi mereka melalui penambahan input berupa modal yang berasal dari kredit perbankan karena persyaratan yang rumit sehingga UMKM termasuk IRT tidak masuk kriteria perbankan untuk mendapatkan modal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan keuntungan usaha dan kelayakan hidup antara kelompok IRT keripik tempe yang menerima dan tidak menerima kredit perbankan, serta meneliti hubungan keuntungan usaha dengan kelayakan hidup pelaku IRT keripik Tempe. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif komparatif, dimana data berasal dari data primer hasil wawancara responden pelaku IRT keripik tempe di Kecamatan Rawalo. Jumlah sampel yang diambil adalah 94 pelaku IRT keripik tempe dimana 54 pelaku mengambil kredit perbankan dan 40 pelaku tidak mengambil kredit perbankan. Kemudian data dianalisis menggunakan Uji Normalitas Kormogolov Smirnov, Uji Mann Whitney, dan Uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukan terdapat perbedaan keuntungan usaha dan kelayakan hidup antara IRT keripik tempe yang menerima kredit perbankan dan tidak menerima kredit perbankan, dimana perbedaan yang dimaksud adalah IRT keripik tempe yang menerima kredit perbankan memiliki keuntungan usaha dan kelayakan hidup yang lebih tinggi dari IRT keripik tempe yang tidak menerima kredit perbankan. Penelitian ini juga menunjukan adanya hubungan antara keuntungan usaha dan kelayakan hidup pelaku IRT keripik tempe. Implikasi dari hasil penelitian ini adalah kredit perbankan layak diambil guna meningkatkan keuntungan usaha dan kelayakan hidup pelaku IRT keripik tempe, pentingnya peran kebijakan perbankan yang mendukung sektor UMKM, khususnya dalam hal akses pembiayaan dengan bunga yang lebih rendah dan tenor yang lebih fleksibel, serta pemerintah dapat merancang kebijakan atau program bantuan yang berfokus pada peningkatan keuntungan usaha kecil, misalnya dengan memberikan pelatihan atau akses ke pasar yang lebih luas.Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) including Home Industries are important players in the Indonesian economy, but they often encounter obstacles in increasing their production through additional input in the form of capital from bank credit due to complicated requirements so that MSMEs including IRT do not meet banking criteria to obtain capital. The purpose of this study was to determine the differences in business profits and livability between groups of tempeh chips home industries who received and did not receive bank credit, and to examine the relationship between business profits and livability of tempeh chips home industries actors. This study uses a comparative descriptive method, where the data comes from primary data from interviews with respondents of tempeh chips home industries in Rawalo District. The number of samples taken was 94 tempeh chips home industries, where 54 actors took bank credit and 40 actors did not take bank credit. Then the data was analyzed using the Kormogolov Smirnov Normality Test, Mann Whitney Test, and Chi Square Test. The results of the study showed that there were differences in business profits and livability between tempeh chips home industries who received bank credit and those who did not receive bank credit, where the difference in question was that tempeh chips home industries who received bank credit had higher business profits and livability than tempeh chips home industries who did not receive bank credit. This study also showed a relationship between business profits and living conditions of tempeh chips home industries. The implications of the results of this study are that bank credit is worth taking to increase business profits and livability tempeh chips home industries, the importance of the role of banking policies that support the MSMEs sector, especially in terms of access to financing with lower interest rates and more flexible tenors, and the government can design policies or assistance programs that focus on increasing the profits of small businesses, for example by providing training or access to a wider market.
4606949437H1B021093ANALISIS FAKTOR PENGGERAK ADOPSI PREFABRIKASI OLEH PENGEMBANG MENGGUNAKAN MCDM Tingginya pertumbuhan penduduk dan urbanisasi di Indonesia menyebabkan peningkatan backlog perumahan dari tahun ke tahun. Salah satu faktor utama yang memicu kondisi ini adalah terbatasnya kapasitas sektor konstruksi dalam memenuhi kebutuhan pembangunan perumahan secara cepat dan masif. Untuk menjawab tantangan tersebut, teknologi prefabrikasi muncul sebagai solusi alternatif dengan sejumlah keunggulan, seperti percepatan waktu pelaksanaan, peningkatan mutu konstruksi, serta efisiensi dalam mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Meskipun demikian, adopsi teknologi ini di Indonesia masih belum optimal, antara lain karena terbatasnya pengetahuan dan pengalaman para pengembang, yang merupakan salah satu faktor penting dalam proses pengambilan keputusan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mendorong adopsi sistem perumahan prefabrikasi berkelanjutan berdasarkan preferensi para pengembang. Metode yang digunakan adalah pendekatan Multi-Criteria Decision Making (MCDM), yaitu Fuzzy Modified Analytical Hierarchy Process (F-MAHP), dengan melibatkan pengembang perumahan di wilayah Jabodetabek sebagai responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa percepatan waktu konstruksi merupakan faktor pendorong utama, diikuti oleh upaya pengurangan dampak lingkungan dan peningkatan kontrol terhadap kualitas konstruksi.The rapid population growth and urbanization in Indonesia have led to a continuous increase in the housing backlog. One of the main contributing factors to this issue is the limited capacity of the construction sector to meet the demand for large-scale and fast-paced housing development. To address this challenge, prefabrication technology has emerged as an alternative solution offering various advantages, such as faster construction time, improved construction quality, and greater efficiency in minimizing environmental impact. However, the adoption of this technology in Indonesia remains suboptimal, partly due to the limited knowledge and experience of developers factors that play a critical role in decision-making processes. This study aims to identify the key factors that drive the adoption of sustainable prefabricated housing systems based on developers' preferences. The research employs a Multi-Criteria Decision Making (MCDM) approach, specifically the Fuzzy Modified Analytical Hierarchy Process (F-MAHP), involving housing developers in the Greater Jakarta area (Jabodetabek) as respondents. The findings reveal that faster construction time is the primary driving factor, followed by efforts to reduce environmental impact and enhance quality control in construction.
4607049439D1A021193PERBANDINGAN ANGKA MORTALITAS PADA AYAM NIAGA PEDAGING YANG DI PELIHARA PADA LANTAI SATU DAN LANTAI DUA DI KHAERUN FARMMeningkatnya permintaan daging ayam, para peternak dituntut untuk mengoptimalkan produksi sambil meminimalkan kerugian yang disebabkan oleh angka mortalitas. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan angka mortalitas pada ayam niaga pedaging yang dipelihara di lantai satu dan lantai dua di Khaerun Farm. Metode yang digunakan adalah observasi langsung selama periode pemeliharaan, dengan pengumpulan data mengenai jumlah ayam, tingkat kematian, serta faktor lingkungan seperti suhu dan kelembapan di masing-masing lantai. Hasil penelitian angka mortalitas ayam yang dipelihara pada lantai atas sebesar 10,41 ± 5,30 ekor dan pada lantai bawah sebesar 20,11 ± 20,55 ekor. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu terdapat perbedaan signifikan dalam angka mortalitas antara kedua lantai. Ayam yang dipelihara di lantai satu menunjukkan angka mortalitas yang lebih rendah dibandingkan dengan ayam di lantai dua. Temuan ini dihubungkan dengan faktor-faktor seperti ventilasi, akumulasi amonia, dan stres lingkungan yang lebih tinggi pada lantai dua. Penelitian ini memberikan wawasan penting bagi peternak dalam memilih metode pemeliharaan yang optimal untuk meningkatkan kesehatan dan produktivitas ayam niaga pedaging.The increasing demand for chicken meat requires farmers to optimize production while minimizing losses caused by mortality rates. This study aims to compare mortality rates in commercial broiler chickens raised on the first and second floors at Khaerun Farm. The method used was direct observation during the maintenance period, with data collection on the number of chickens, mortality rates, and environmental factors such as temperature and humidity on each floor. The results of the study showed that the mortality rate of chickens raised on the upper floor was 10.41 ± 5.30 and on the lower floor was 20.11 ±
20.55. The conclusion of this study is that there is a significant difference in mortality rates between the two floors. Chickens raised on the first floor showed lower mortality rates compared to chickens on the second floor. This finding is associated with factors such as ventilation, ammonia accumulation, and higher environmental stress on the second floor. This study provides important insights for farmers in choosing optimal maintenance methods to improve the health and productivity of commercial broiler chickens.
4607149438F1A021050Skena Dalam Perspektif Mahasiswa FISIP UnsoedPenelitian ini mengkaji fenomena "skena" sebagai bentuk ekspresi kultural dan konstruksi identitas di kalangan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman. Dalam perkembangannya, skena tidak lagi semata dipahami sebagai subkultur musik dengan semangat resistensi terhadap arus utama, melainkan telah bergeser menjadi simbol gaya hidup yang dimediasi oleh teknologi digital dan media sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi Alfred Schutz dan interaksionisme simbolik Herbert Blumer untuk memahami pengalaman subjektif serta proses negosiasi makna simbolik yang terjadi di antara mahasiswa. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dokumentasi terhadap mahasiswa yang terlibat dalam aktivitas skena, baik secara kultural maupun visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa atribut-atribut seperti kaos band, totebag, dan celana baggy tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetis, tetapi juga mengandung makna simbolik yang merepresentasikan afiliasi, identitas, dan eksistensi diri. Dalam konteks ini, skena dipahami sebagai medan sosial dinamis yang sarat dengan praktik simbolik, negosiasi makna, dan reproduksi identitas kolektif dalam kerangka budaya digital. Temuan ini mempertegas bahwa skena merupakan konstruksi sosial yang tidak statis, melainkan terus dibentuk dan ditafsirkan ulang melalui interaksi sosial serta dinamika media kontemporer.This study explores the phenomenon of "skena" as a form of cultural expression and identity construction among students of the Faculty of Social and Political Sciences at Jenderal Soedirman University. Over time, the term "skena" has shifted from representing a subcultural music scene rooted in resistance to mainstream culture, to becoming a symbol of lifestyle shaped by digital technology and social media. Employing a qualitative approach, the research integrates Alfred Schutz’s phenomenology and Herbert Blumer’s symbolic interactionism to analyze students’ subjective experiences and the symbolic negotiation of meaning. Data were collected through in-depth interviews and documentation involving students engaged in skena-related cultural and visual practices. The findings reveal that attributes such as band t-shirts, tote bags, and baggy pants are not merely fashion items, but symbolic tools that represent affiliation, identity, and self-expression. In this context, skena is conceptualized as a dynamic social field characterized by symbolic practices, negotiated meanings, and the reproduction of collective identities within the framework of digital culture. The study emphasizes that skena should be understood not as a static entity, but as a social construct that is continuously reshaped through social interactions and media dynamics.
4607249440I2A023010ANALISIS DETERMINAN KUALITAS HIDUP TERKAIT KESEHATAN MULUT PENDERITA DIABETES MELLITUS DI KECAMATAN CILONGOKDiabetes mellitus (DM) merupakan kelainan metabolisme yang ditandai dengan kadar glukosa darah tinggi. DM dapat menimbulkan komplikasi sistemik maupun oral, yang berdampak pada kualitas hidup terkait kesehatan mulut. Tingginya prevalensi DM di Kecamatan Cilongok berpotensi menurunkan kualitas hidup terkait kesehatan mulut, namun determinannya belum dikaji secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup terkait kesehatan mulut pada penderita DM di Kecamatan Cilongok. Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian ini adalah penderita DM yang telah didiagnosis oleh dokter serta mengikuti program Prolanis di Puskesmas Cilongok I dan II selama periode Bulan Januari – Februari 2025. Pemilihan sampel ditentukan dengan metode simple random sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Jumlah sampel penelitian yang diperoleh sebanyak 135 orang. Variabel independen meliputi usia, jenis kelamin, pendidikan, lama menderita DM, kadar gula darah puasa, status xerostomia, jumlah gigi, dan perilaku kebersihan mulut. Variabel dependen adalah kualitas hidup terkait kesehatan mulut. Data diperoleh dari pemeriksaan jumlah gigi, wawancara kuesioner (status xerostomia, perilaku kebersihan mulut, dan kualitas hidup terkait kesehatan mulut), dan rekam medis. Analisis data univariat, bivariat, dan multivariat dilakukan dengan uji regresi logistik berganda menggunakan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 4 (empat) variabel independen yang berpengaruh signifikan terhadap kualitas hidup terkait kesehatan mulut. Variabel tersebut meliputi status xerostomia (p = 0,000; POR = 28,317), jumlah gigi (p = 0,000; POR = 21,856), perilaku kebersihan mulut (p = 0,006; POR = 5,694), dan usia > 60 tahun (p = 0,009; POR = 4,677). Status xerostomia (ada xerostomia) menjadi faktor dominan yang berdampak terhadap penurunan kualitas hidup terkait kesehatan mulut. Status xerostomia menjadi faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi kualitas hidup terkait kesehatan mulut. Intervensi promosi kesehatan serta kolaborasi antar profesi diharapkan dapat membantu upaya deteksi dini, penentuan perawatan yang tepat, serta dapat berdampak positif terhadap perubahan perilaku kesehatan.Diabetes mellitus (DM) is a metabolic disorder characterized by high blood glucose levels. DM can cause systemic and oral complications, which have an impact on the quality of life related to oral health. The high prevalence of DM in Cilongok District has the potential to reduce the quality of life related to oral health, but its determinants have not been studied thoroughly. This study aims to determine the factors that influence the quality of life related to oral health in DM patients in Cilongok District. This study is an analytical observational study with a cross-sectional design. The population of this study were DM patients who had been diagnosed by a doctor and participated in the Prolanis program at Cilongok I and II Health Centers during the period of January - February 2025. Sample selection was determined by the simple random sampling method based on inclusion and exclusion criteria. The number of research samples obtained was 135 people. Independent variables include age, gender, education, duration of DM, fasting blood sugar levels, xerostomia status, number of teeth, and oral hygiene behavior. The dependent variable is quality of life related to oral health. Data were obtained from examination of the number of teeth, questionnaire interviews (xerostomia status, oral hygiene behavior, and quality of life related to oral health), and medical records. Univariate, bivariate, and multivariate data analysis was carried out using binary logistic regression tests using SPSS. The results of the study showed that there were 4 (four) independent variables that significantly influenced the quality of life related to oral health. These variables included xerostomia status (p = 0.000; POR = 28.317), number of teeth (p = 0.000; POR = 21.856), oral hygiene behavior (p = 0.006; POR = 5.694), and age > 60 years (p = 0.009; POR = 4.677). Xerostomia status (presence of xerostomia) was the dominant factor that impacted the decline in quality of life related to oral health. Xerostomia status is the most dominant factor influencing oral health-related quality of life. Health promotion interventions and interprofessional collaboration are expected to facilitate early detection, determine appropriate treatment, and positively impact health behavior changes.
4607349441L1B021090Profil Darah Ikan Nilem (Osteochilus vittatus) yang Diberi Pakan Dengan Substitusi Tepung Daun Ubi Jalar TerfermentasiPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil darah ikan nilem yang diberi pakan substitusi tepung daun ubi jalar terfermentasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 4 perlakuan dengan 4 ulangan. Perlakuan yang diberikan masing-masing adalah substitusi tepung daun ubi jalar terfermentasi dengan proporsi berbeda yaitu 0% (P1), 25% (P2), 50% (P3), dan 75% (P4) dengan masa pemeliharaan selama 50 hari. Parameter yang digunakan meliputi kadar hemoglobin, kadar hematokrit, kadar glukosa darah dan total eritrosit. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan ANOVA. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian pakan substitusi tepung daun ubi jalar terfermentasi tidak berpengaruh nyata terhadap profil darah ikan nilem. Kisaran hasil pengukuran profil darah yaitu Hb 6,35 ± 0,96 – 7,93 ± 0,40 g/dL, hematokrit 19,05 ± 2,88 % – 23,78 ± 1,21 %, glukosa darah 56 ± 11,40 – 69,25 ± 14,06 mg/dL dan total eritrosit sebanyak 0,27 ± 0,12 x 106 – 0,42 ± 0,07 x 106 Sel/ mm3. Nilai kisaran kualitas air untuk pH 6,93-7,6 amoniak 0-0,125 ppm dan nitrat 18,33-40 mg/L. Profil darah ikan nilem yang diberi pakan substitusi tepung daun ubi jalar terfermentasi masih berada dalam kisaran normal.This study aims to determine the blood profile of nilem fish fed with fermented sweet potato leaf meal substitution. The method used in this study is an experimental method with a completely randomized design (CRD) consisting of 4 treatments with 4 replicates. Each treatment given is a substitution of fermented sweet potato leaf flour with different proportions, namely 0% (P1), 25% (P2), 50% (P3), and 75% (P4) with a maintenance period of 50 days. Parameters used include hemoglobin levels, hematocrit levels, blood glucose levels and total erythrocytes. The data obtained were then analyzed with ANOVA. The results showed that feeding fermented sweet potato leaf meal substitution did not significantly affect the blood profile of nilem fish. The range of blood profile measurements were Hb 6.35 ± 0.96 - 7.93 ± 0.40 g/dL, hematocrit 19.05 ± 2.88 % - 23.78 ± 1.21 %, blood glucose 56 ± 11.40 - 69.25 ± 14.06 mg/dL and total erythrocytes of 0.27 ± 0.12 x 106 - 0.42 ± 0.07 x 106 cells/ mm3. Water quality range values for pH 6.93-7.6 ammonia 0-0.125 ppm and nitrate 18.33-40 mg/L. The blood profile of nilem fish fed with fermented sweet potato leaf meal substitution remained within the normal range.
4607449442H1B021085ANALISIS NUMERIK PERKUATAN SENGKANG BAJA DAN LAPIS
GEOPOLIMER PADA BETON BERTULANG DENGAN METODE NEAR SURFACE MOUNTED (NSM) MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA
Beton bertulang adalah material yang sering digunakan dalam konstruksi. Namun, material
ini memiliki keterbatasan dalam kekuatan tarik yang dapat menyebabkan keruntuhan struktural.
Untuk mengatasi hal ini, diperlukan perkuatan struktur guna meningkatkan kapasitas beban dan
umur layanan. Penelitian ini fokus pada analisis numerik perkuatan balok beton bertulang
bentang pendek menggunakan sengkang baja dan lapis geopolimer dengan metode Near
Surface Mounted (NSM). Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh perkuatan
terhadap kapasitas balok dan pola keruntuhan di bawah simulasi pembebanan monotonik
menggunakan perangkat lunak ATENA dan GiD. Metode elemen hingga (MEH) digunakan
untuk memodelkan perilaku struktur secara detail. Data masukan material beton dan tulangan
diperoleh dari penelitian eksperimental terdahulu. Pemodelan dilakukan untuk balok kontrol
dan balok perkuatan dengan spesifikasi tulangan utama D19 (tarik), D13 (tekan), dan sengkang
diameter 6 mm dengan jarak 250 mm (kontrol) dan 75 mm (perkuatan). Hasil simulasi
menunjukkan bahwa perkuatan NSM secara signifikan meningkatkan kapasitas beban ultimit
balok, yaitu sebesar 50,045% dari balok kontrol (dari 378,069 kN menjadi 567,273 kN). Selain
itu, perkuatan juga mempengaruhi pola keruntuhan. Pada balok kontrol, keruntuhan didominasi
oleh retak geser-lentur (retak diagonal) yang tidak terkendali, dan terjadi retak geser yang
signifikan terutama pada daerah tumpuan dengan lebar retak maksimum mencapai 1,2 cm.
Sebaliknya, pada balok perkuatan, pola retak lebih terkendali, didominasi oleh retak lentur
(tegak lurus tulangan longitudinal) dengan lebar retak maksimum hanya sekitar 0,4 cm. Hal ini
menunjukkan bahwa perkuatan efektif dalam menahan propagasi retak dan meningkatkan
ketahanan geser balok. Secara keseluruhan, metode perkuatan ini terbukti efektif dalam
meningkatkan performa struktural balok beton bertulang, khususnya balok bentang pendek
yang rentan terhadap kegagalan geser.
Reinforced concrete is a material frequently utilized in construction. However, this material
possesses limitations in tensile strength, which can lead to structural failure. To address this,
structural strengthening is necessary to enhance load capacity and service life. This research
focuses on the numerical analysis of short-span reinforced concrete beam strengthening using
steel stirrups and a geopolymer layer with the Near Surface Mounted (NSM) method. The
objective of this study is to analyze the influence of the strengthening on the beam's capacity
and failure patterns under monotonic loading simulation using ATENA and GiD software. The
Finite Element Method (FEM) was employed to model the structural behavior in detail. Input
data for concrete and reinforcement materials were obtained from previous experimental
research. The modeling was conducted for both control beams and strengthened beams with
D19 (tension) and D13 (compression) main reinforcement, and 6 mm diameter stirrups with a
spacing of 250 mm for control beams and 75 mm for strengthened beams. Simulation results
indicate that NSM strengthening significantly increased the ultimate load capacity of the beams,
specifically by 50.045% compared to the control beam (from 378.069 kN to 567.273 kN).
Furthermore, the strengthening also influenced the failure patterns. In control beams, failure
was dominated by uncontrolled flexural-shear cracks (diagonal cracks) , with significant shear
cracks occurring particularly in the support regions, and a maximum crack width reaching 1.2
cm. Conversely, in strengthened beams, the crack patterns were more controlled, dominated by
flexural cracks (perpendicular to longitudinal reinforcement) with a maximum crack width of
only approximately 0.4 cm. This demonstrates that the strengthening is effective in resisting
crack propagation and enhancing the shear resistance of the beams. Overall, this strengthening
method proved effective in improving the structural performance of reinforced concrete beams,
especially short-span beams that are prone to shear failure.
4607549443D1A021017Analisis Pendapatan Dan Efisiensi Usaha Ternak Domba Di Kabupaten TasikmalayaUsaha ternak domba di Indonesia, khususnya di daerah pedesaan, memiliki potensi ekonomi yang besar namun masih menghadapi berbagai tantangan. Usaha ternak di Kabupaten Tasikmalaya dijalankan sebagai kegiatan sampingan oleh keluarga, pekerjaan utama peternak meliputi buruh, pedagang, guru, dan petani. Pola usaha ternak yang dijalankan secara tradisional sering kali mengakibatkan pendapatan dan efisiensi peternak menjadi rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendapatan dan efisiensi usaha ternak domba di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Berbagai faktor diduga menjadi penentu peningkatan pendapatan dan efisiensi usaha ternak domba yaitu usia peternak (X1), lama beternak (X2), pendidikan peternak (X3), Jumlah tanggungan keluarga (X4), dan Jumlah Kepemilikan Ternak (X5). Penelitian dilakukan dengan metode survey melalui wawancara kepada 56 responden peternak domba yang dipilih dengan menggunakan metode purposive sampling. Regresi linear berganda digunakan untuk menganalisis pengaruh variabel bebas terhadap variabel pendapatan dan efisiensi usaha. Hasil analisis pendapatan rata-rata peternak domba pertahun 1.652.251,79 ±
Rp 1.321.323,76 dengan nilai efisiensi rata-rata 1,39 ± 0,29. Pendapatan usaha ternak domba di Kabupaten Tasikmalaya dipengaruhi oleh usia peternak, lama beternak dan pendidikan peternak, sedangkan efisiesi usaha ternak di Kabupaten Tasikmalaya dipengaruhi secara signifikan oleh usia peternak dan pendidikan peternak.
Sheep farming in Indonesia, especially in rural areas, has great economic potential but still faces various challenges. Livestock business in Tasikmalaya Regency is run as a side activity by the family, the main job of farmers includes laborers, traders, teachers, and farmers. Traditional livestock business patterns often result in low income and efficiency of farmers. This study aims to analyze the income and efficiency of the sheep farming business in Tasikmalaya Regency, West Java. Various factors are suspected to be determinants of increasing income and efficiency of the doba livestock business, namely the age of the farmer (X1), the length of breeding (X2), the education of the farmer (X3), the number of family dependents (X4), and the amount of livestock ownership (X5). The research was conducted by survey method through interviews with 56 sheep farmer respondents who were selected using the purposive sampling method. Multiple linear regression is used to analyze the influence of independent variables on revenue variables and business efficiency. The results of the analysis of the average income of sheep farmers per year are 1,652,251.79 ± IDR 1,321,323.76 with an average efficiency value of 1.39 ± 0.29. The income of the sheep farming business in Tasikmalaya Regency is influenced by the age of the farmer, the length of breeding and the education of the farmer, while the efficiency of the livestock business inTasikmalaya Regency is significantly influenced by the age of the farmer and the education of the farmer.
4607649445D1A021052NILAI PH DAN KEASAMAN ES KRIM YOGHURT DENGAN PENAMBAHAN PERSENTASE BUBUK KAYU SECANG (Caesalpinia sappan L.) YANG BERBEDAMargareth Christin Boru Padang. Penelitian dengan judul Nilai pH dan Keasaman Es Krim Yoghurt dengan Penambahan Persentase Bubuk Kayu Secang (Caesalpinia sappan L.) yang Berbeda dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto pada tanggal 13 Januari - 27 Maret 2025. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh persentase penambahan terbaik bubuk kayu secang pada es krim yoghurt terhadap nilai pH dan keasaman es krim. Materi penelitian yang digunakan yaitu 10.000 g susu sapi, 45 g bubuk kayu secang, 15 g yogourtmet, 796 g susu skim, 45 g CMC, 2.260 g gula, 1.386 g minyak dan 1000 g Aquadest. Metode penelitian dilakukan secara eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah penambahan bubuk kayu secang 0,1% (P1), penambahan bubuk kayu secang 0,2% (P2), penambahan bubuk kayu secang 0,3% (P3), penambahan bubuk kayu secang 0,4% (P4), penambahan bubuk kayu secang 0,5% (P5) dari berat es krim. Data dianalisis menggunakan analisis variansi dengan uji lanjut orthogonal polynomial. Hasil analisis menunjukkan penambahan bubuk kayu secang berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap nilai pH dan keasaman es krim yoghurt. Rataan nilai pH 5,32 dan rataan keasaman 0,60%. Kesimpulan, Nilai pH terbaik dihasilkan oleh es krim yoghurt dengan penambahan bubuk kayu secang sebanyak 0,2%, semakin tinggi penambahan bubuk kayu secang pada es krim yoghurt terbukti mampu meningkatkan nilai pH tetapi menurunkan tingkat keasaman es krim yoghurt.Margareth Christin Boru Padang. The research entitled pH and Acidity Values of Yogurt Ice Cream with Different Percentages of caesalpinia powder (Caesalpinia sappan L.) was conducted at the Animal Product Technology Laboratory, Faculty of Animal Husbandry, Jenderal Soedirman University, Purwokerto on January 13 – March 27, 2025. The purpose of the study was to determine the effect of the best percentage of caesalpinia powder addition to yogurt ice cream on the pH value and acidity of the ice cream. The research materials used were 10,000 g of cow's milk, 45 g of caesalpinia powder, 15 g of yogurt, 796 g of skim milk, 45 g of CMC, 2,260 g of sugar, 1,386 g of oil and 1000 g of Aquadest. The research method was carried out experimentally with a Completely Randomized Design (CRD) with 5 treatments and 4 replications. The treatments given were the addition of 0.1% caesalpinia powder (P1), the addition of 0.2% caesalpinia powder (P2), the addition of 0.3% caesalpinia powder (P3), the addition of 0.4% caesalpinia powder (P4), the addition of 0.5% caesalpinia powder (P5) of the weight of ice cream. Data were analyzed using analysis of variance with orthogonal polynomial further tests. The results of the analysis showed that the addition of caesalpinia powder had a very significant effect (P<0,01) on the pH value and acidity of yogurt ice cream. The average pH value was 5.32 and the average acidity was 0.60%. Inconclusion, The best pH value was produced by yogurt ice cream with the addition of 0.2% caesalpinia powder, the higher the addition of caesalpinia powder to yogurt ice cream was proven to be able to increase the pH value but reduce the acidity level of yogurt ice cream.
4607749446E1B021031RATIO DECIDENDI OF THE JUDGE IN ACQUITTING THE
DEFENDANT OF THE CRIME OF EMBEZZLEMENT
(Study Decision No.27/Pid.B/2024/PN.Pwt)
Tindak pidana penggelapan dilakukan oleh individu yang berada dalam
lingkungan perusahaan, meskipun tidak menutup kemungkinan pelaku
berasal dari luar lingkungan tersebut. Kejahatan ini termasuk tindak pidana
terhadap harta kekayaan yang bersifat merugikan, karena melibatkan
tindakan yang menyerang kepentingan hukum seseorang atas kepemilikan
harta benda miliknya. Majelis hakim menjatuhkan putusan bebas kepada
terdakwa tindak pidana penggelapan dalam putusan No.27/Pid.B/2024.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dasar pertimbangan hukum
hakim dalam menjatuhkan putusan bebas kepada terdakwa tindak pidana
penggelapan. Selain itu ntuk menngetahui akibat hukum yang terjadi akibat
putusan bebas yang dijatuhkan majelis hakim kepada terdakwa. Penelitian
ini menggunakan metode yuridis normatif dengan metode pendekatan kasus,
dan pendekatan perundang-undangan. Spesifikasi penelitian deskriptif
analitis. Sumber bahan hukum yang digunakan adalah data sekunder yang
dilakukan dengan studi kepustakaan. Hasil penelitian ini adalah bahwa
pertimbangan hukum hakim tidak tepat. Seharusnya hakim menjatuhkan
putusan lepas karena dalam perkara ini termasuk dalam ruanglingkup hukum
perdata. Selain itu adanya putusan bebas berakibat adanya disparitas
putusan pada kasus yang sama dikemudian hari.
The crime of embezzlement is committed by individuals within a company,
although this does not rule out the possibility that the perpetrator comes from
outside the environment. This crime is a criminal offense against property that
is detrimental in nature because it involves actions that attack a person's legal
interest in ownership of his property. The panel of judges acquitted the
defendant for the crime of embezzlement in verdict no.27/Pid. B/2024. This
study aims to determine the basis of the judge's legal considerations in
imposing an acquittal decision on the defendant of the crime of
embezzlement. In addition, the legal consequences that occur due to the
acquittal verdict imposed by the panel of judges on the defendant. This study
uses a normative juridical method with a case approach and a statutory
approach. Analytical descriptive research specifications. The source of the
legal material used was secondary data obtained from a literature study. The
result of this research is that the judge's legal considerations are incorrect. The
judge should have imposed a release verdict, because this case was included
in the scope of civil law. In addition, the existence of an acquittal verdict
results in disparity in decisions in the same case in the future.
4607849626I1D021008Hubungan antara Asupan Lemak, Vitamin D, dan Sedentary Lifestyle terhadap Kejadian Dismenore Primer pada Siswi SMA Negeri 3 PurwokertoLatar Belakang: Dismenore primer merupakan nyeri saat menstruasi tanpa adanya kelainan pada organ reproduksi dan berkaitan dengan kontraksi otot rahim. Di Indonesia, prevalensinya mencapai 54,89%, dengan 60-75% kasus dialami oleh remaja putri. Pada remaja dapat terjadi perubahan asupan makan serta pola hidup yang dapat menjadi faktor terjadinya dismenore primer. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara asupan lemak, vitamin D, dan sedentary lifestyle dengan kejadian dismenore primer pada siswi SMA Negeri 3 Purwokerto.
Metodologi: Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional dengan 81 siswi SMA Negeri 3 Purwokerto sebagai sampel, yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data asupan lemak dan vitamin D dikumpulkan melalui wawancara menggunakan SQ-FFQ, sedentary lifestyle dikumpulkan mengunakan kuesioner ASAQ, dan tingkat nyeri dismenore primer melalui kuesioner NRS. Analisis data dilakukan dengan Uji Korelasi Rank Spearman.
Hasil Penelitian: Sebanyak 46,9% responden mengalami dismenore sedang, 60,5% responden memiliki asupan lemak cukup, 86,4% responden memiliki asupan vitamin D kurang, dan 60,5% responden tergolong sedentari berat. Terdapat hubungan pada variabel asupan lemak (p = 0,003) dan sendentary lifestyle (p = 0,035). Tidak terdapat hubungan pada variabel asupan vitamin D (p = 0,605).
Kesimpulan: Terdapat hubungan antara asupan lemak dan sedentary lifestyle dengan kejadian dismenore primer, namun tidak terdapat hubungan antara asupan vitamin D dengan kejadian dismenore primer.
Background: Primary dysmenorrhea is menstrual pain without structural abnormalities in the reproductive organs, commonly experienced by adolescent girls. This study aims to examine the relationship between fat intake, vitamin D intake, and sedentary lifestyle with the incidence of primary dysmenorrhea.
Methodology: This cross-sectional study involved 81 female students from SMA Negeri 3 Purwokerto, selected via purposive sampling. Fat and vitamin D intake were assessed using SQ-FFQ, sedentary lifestyle using ASAQ, and pain level using the NRS. Data were analyzed using Spearman Rank correlation.
Result: About 46.9% experienced moderate dysmenorrhea, 60.5% had adequate fat intake, 86.4% had insufficient vitamin D intake, and 60.5% were highly sedentary. A significant relationship was found between fat intake (p = 0.003) and sedentary lifestyle (p = 0.035) with primary dysmenorrhea. No significant relationship was found with vitamin D intake (p = 0.605).
Conclusion: Fat intake and sedentary lifestyle are significantly associated with primary dysmenorrhea, while vitamin D intake is not.
4607949447K1C021001Interpretasi Struktur Bawah Permukaan Untuk Mengidentifikasi Potensi Panas Bumi di Pulau Sumatra Menggunakan Data Gravitasi dan MagnetikPulau Sumatra memiliki struktur geologi kompleks yang dikontrol oleh Sesar Sumatra dan jalur gunung api aktif, yang berpotensi membentuk sistem panas bumi. Penelitian ini menggunakan analisis anomali gravitasi dan magnetik untuk memetakan potensi panas bumi tersebut. Interpretasi anomali gravitasi mencakup kedalaman diskontinuitas Moho dengan rata-rata sebesar 18,05 km, Conrad sebesar 10,70 km, dan Shallow sebesar 6,15 km. Sementara itu, interpretasi magnetik berdasarkan kedalaman Curie Point Depth (CPD) menunjukkan nilai antara 9 hingga 21,9 km. CPD yang dangkal berasosiasi dengan Geothermal Gradient (GG) yang tinggi sebesar 63,9°C/km dan Heat Flow (HF) yang tinggi sebesar 148,7 mW/m², yang tersebar di zona Pegunungan Bukit Barisan. Analisis ini didukung oleh arah kelurusan struktur geologi yang dominan berorientasi barat laut-tenggara (NW-SE) dan utara-selatan (N-S), sejalan dengan arah Sesar Sumatra dan mengindikasikan keberadaan patahan aktif. Analisis profil 2D memperkuat temuan ini yang menunjukkan CPD dangkal, anomali bouguer dan RTE residual rendah di zona vulkanik, yang mengindikasikan bahwa sistem panas bumi di Pulau Sumatra dikendalikan oleh aktivitas sesar.Sumatra Island has a complex geological structure controlled by the Sumatra Fault and an active volcanic arc, which have the potential to form geothermal systems. This study utilizes gravity and magnetic anomaly analyses to map the geothermal potential. Gravity anomaly interpretation reveals the depth of the Moho discontinuity averaging 18.05 km, the Conrad discontinuity at 10.70 km, and the shallow discontinuity at 6.15 km. Meanwhile, magnetic interpretation based on Curie Point Depth (CPD) shows values ranging from 9 to 21.9 km. Shallow CPD is associated with a high Geothermal Gradient (GG) of 63.9°C/km and high Heat Flow (HF) of 148.7 mW/m², which are distributed along the Bukit Barisan Mountains. This analysis is supported by the dominant structural lineament orientations trending northwest-southeast (NW-SE) and north-south (N-S), which are consistent with the orientation of the Sumatra Fault and indicate the presence of active faulting. The 2D profile analysis reinforces these findings, showing shallow CPD, low Bouguer and residual RTE anomalies in volcanic zones, suggesting that the geothermal system in Sumatra Island is controlled by fault activity.
4608049392D1A021204Pengaruh Bangsa Sapi Lokal Yang Diberi Pakan Jerami Pada Dan Konsentrat Terhadap Lama Waktu Dan Frekuensi RuminasiPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh bangsa sapi lokal terhadap lama
waktu dan frekuensi ruminasi pada sapi yang diberi pakan jerami padi dan konsentrat.
Penelitian ini dilaksanakan selama 17 hari di Amanah Bata Farm, Desa Datar, Kecamatan
Sumbang, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah. Ada empat bangsa sapi yaitu sapi
Madura (MM), Bali Flores (BF), Madura Flores (MF), dan Peranakan Ongole (PO) dengan
rataan bobot badan ±300kg, digunakan sebagai peubah dan setiap perlakuan diulang
empat kali. Pakan yang diberikan terdiri atas jerami padi secara ad libitum terukur dan
konsentrat yaitu sekitar 2,5% dari bobot badan sapi. Penelitian menggunakan metode
Rancangan Acak Lengkap dengan pola searah. Variabel yang diukur adalah lama waktu
ruminasi dan frekuensi ruminasi. Analisis variansi menunjukkan bahwa bangsa sapi lokal
berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap lama waktu ruminasi, tetapi tidak
berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap frekuensi ruminasi. Lama ruminasi satu hari pada
sapi PO lebih tinggi (P<0,005) dibandingkan dengan MM, akan tetapi sama dengan MF dan
BF. Lama ruminasi siang hari pada sapi MM lebih rendah (P<0,01) dibandingkan dengan
BF, akan tetapi sama dengan MF dan PO. Lama ruminasi malam hari pada sapi PO sama
dengan BF, akan tetapi lebih tinggi (P<0,001) dibandingkan dengan MF dan MM.
Kesimpulannya adalah terdapat persamaan dan perbedaan lama waktu ruminasi, akan
tetapi tidak ada perbedaan frekuensi ruminasi pada bangsa sapi lokal berbeda.
This study aimed to evaluate the effect of local cattle breeds on the duration and frequency
of rumination in cattle fed rice straw and concentrate. The research was conducted over a
17-day period at Amanah Bata Farm, located in Datar Village, Sumbang District, Banyumas
Regency, Central Java Province. Four local cattle breeds—Madura (MM), Bali Flores (BF),
Madura Flores (MF), and Ongole Crossbreed (PO)—with an average body weight of
approximately 300 kg, were used as the treatment variables, with each treatment repeated
four times. The feed consisted of rice straw offered ad libitum in a measured manner and
concentrate provided at approximately 2.5% of the cattle’s body weight. A Completely
Randomized Design with a one-way pattern was used. Variables measured was rumination
duration and rumination frequency. Analysis of variance showed that cattle breed had a
highly significant effect (P<0.01) on rumination duration but no significant effect (P>0.05)
on rumination frequency. The daily rumination duration in PO cattle was significantly
higher (P<0.005) than in MM cattle, but not significantly different from MF and BF cattle.
During the daytime, the rumination duration of MM cattle was significantly lower (P<0.01)
than that of BF cattle, but similar to MF and PO cattle. At night, the rumination duration of
PO cattle was comparable to BF cattle, but significantly higher (P<0.001) than that of MF
and MM cattle. In conclusion, there are similarities and differences in rumination duration,
but no differences in rumination frequency among the different local cattle breeds.