Artikel Ilmiah : J1A021056 a.n. WINAYA NIDAAN KHOFIA

Kembali Update Delete

NIMJ1A021056
NamamhsWINAYA NIDAAN KHOFIA
Judul ArtikelGENDER AND SEXUAL PERFORMATIVITY OF BRANDON TEENA IN
THE FILM BOYS DON'T CRY BY KIMBERLY PIERCE (1999)
Abstrak (Bhs. Indonesia)Studi ini mengeksplorasi fluiditas identitas gender dan seksual Brandon
Teena melalui lensa performativitas gender, seperti yang digambarkan dalam film Boys
Don't Cry (1999). Brandon membangun identitas maskulin melalui penampilan, perilaku,
dan interaksinya, yang mencerminkan teori performativitas Judith Butler. Ekspresi
gendernya diperkuat oleh pengaruh eksternal, seperti Lonny, yang mendukung presentasi
maskulin Brandon, dan lingkungan sosial yang keras yang membentuk kinerja
maskulinitasnya. Teori maskulinitas Brannon dan David juga diterapkan untuk menganalisis
jenis maskulinitas yang diungkapkan Brandon. Terlepas dari gagasan Butler bahwa gender
dan identitas seksual dipisahkan, Brandon masih secara konsisten menunjukkan minat
romantis pada wanita, tanpa indikasi ketertarikan pada pria. Kinerja maskulinitasnya
berfungsi tidak hanya sebagai ekspresi diri tetapi juga sebagai sarana bertahan hidup dan
penerimaan dalam masyarakat homofobik. Studi ini menyimpulkan bahwa identitas Brandon
adalah kinerja yang dibentuk oleh hasrat internal dan tekanan eksternal.
Abtrak (Bhs. Inggris)This study explores the fluidity of Brandon Teena’s gender and sexual
identity through the lens of gender performativity, as depicted in the film Boys Don't Cry
(1999). Brandon constructs a masculine identity through his appearance, behavior, and
interactions, reflecting Judith Butler's theory of performativity. His gender expression is
reinforced by external influences, such as Lonny, who supports Brandon's masculine
presentation, and a harsh social environment that shapes his performance of masculinity.
Brannon and David's masculinity theory is also applied to analyze the type of masculinity
Brandon expressed. Despite Butler's notion that gender and sexual identity are seperated,
Brandon still consistently displays romantic interest in women, with no indication of
attraction to men. His performance of masculinity serves not only as self-expression but also
as a means of survival and acceptance in a homophobic society. This study concludes that
Brandon's identity is a performance shaped by internal desires and external pressures.
Kata kunciperfomativity, gender identity, sexual identity, transgender.
Pembimbing 1Eni Nur Aeni, S.S., M.A.
Pembimbing 2Ririn Kurnia Trisnawati, S.S., M.A.
Pembimbing 3
Tahun2025
Jumlah Halaman29
Tgl. Entri2025-08-25 07:53:22.2751
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.