Artikel Ilmiah : F2C023020 a.n. SEKAR DIVA PARASDYA
| NIM | F2C023020 |
|---|---|
| Namamhs | SEKAR DIVA PARASDYA |
| Judul Artikel | Invisibilitas Peran Perempuan Dalam Narasi Produksi Gula Kelapa Di Pedesaan Banyumas |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Terdapat pembagian peran gender dalam tahapan produksi gula kelapa di pedesaan Banyumas. Dalam konteks ini peran gender menjadi sangat jelas, di mana laki-laki umumnya bertanggung jawab untuk mengambil nira kelapa dari pohonnya (menderes). Sementara perempuan terlibat dalam proses pengolahan. Namun, meskipun peran perempuan dalam proses produksi gula kelapa sangat signifikan, mereka seringkali dianggap sebagai bagian dari bantuan dalam proses produksi. Sedangkan laki-laki yang mengambil nira kelapa dianggap sebagai petani utama dalam narasi produksi gula kelapa. Ketidakadilan ini menunjukkan adanya stigma gender yang mendominasi narasi produksi gula kelapa di pedesaan Banyumas, di mana peran perempuan seringkali mengalami invisibilitas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana peran perempuan dalam proses produksi gula kelapa di pedesaan Banyumas. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik pengambilan data menggunakan metode wawancara dan observasi. Informan dalam penelitian ini merupakan petani laki-laki dan perempuan yang terlibat langsung dalam proses produksi gula kelapa di Desa Pernasidi dan Desa Batuanten. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan analisis tematik Braun & Clarke (2006). Temuan penelitian ini menggambarkan konstruksi gender yang kompleks dalam proses produksi gula kelapa. Konstruksi gender ini dilihat dari tiga aspek utama, yaitu 1) pembagian peran berbasis gender, 2) proses pewarisan pengetahuan, dan 3) dinamika pengambilan keputusan dalam proses produksi. Kemudian, terdapat tiga faktor yang turut membentuk konstruksi gender dalam masyarakat antara lain: 1) relasi kuasa, 2) budaya patriarki, dan 3) faktor ekonomi. Konstruksi gender ini berlangsung di setiap praktik sosial, mulai dari pewarisan keterampilan, pemilihan pekerjaan, hingga cara berkomunikasi. Tterdapat ketimpangan struktural dalam industri gula kelapa yang menempatkan petani laki-laki dan perempuan pada posisi yang tidak setara, yang berdampak pada pengalaman kerja, akses sumber daya, dan pengakuan formal yang mereka terima. Oleh karena itu, perlu adanya pengakuan formal dan pemberdayaan ekonomi terhadap kontribusi perempuan dalam industri gula kelapa yang selama ini terpinggirkan oleh budaya patriarki untuk keberlanjutan industri tradisional ini. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | There is a gender-based division of labor in the stages of palm sugar production in rural Banyumas. In this context, gender roles are clearly defined, where men are generally responsible for tapping sap from coconut trees, while women are involved in the processing stages. However, even though women’s roles in the palm sugar production process are highly significant, they are often regarded merely as assistants in the production process. Meanwhile, men who tap the coconut sap are viewed as the primary farmers in the narrative of palm sugar production. This inequity reveals the presence of gender stigma that dominates the narrative of palm sugar production in rural Banyumas, in which women’s roles are frequently rendered invisible. Therefore, this study aims to analyze the role of women in the palm sugar production process in rural Banyumas. This research is a descriptive qualitative study using interview and observation methods for data collection. The informants in this study are both male and female farmers directly involved in the palm sugar production process in Pernasidi and Batuanten Villages. The data in this study were analyzed using Braun & Clarke’s (2006) thematic analysis. The findings of this study illustrate the complex construction of gender in the palm sugar production process. This gender construction can be seen through three main aspects: 1) gender-based division of labor, 2) the inheritance of knowledge, and 3) the dynamics of decision-making in the production process. Furthermore, there are three factors that shape the construction of gender in the community: 1) power relations, 2) patriarchal culture, and 3) economic factors. Gender construction occurs in every social practice, ranging from the transfer of skills, job selection, to modes of communication.There is a structural inequality in the palm sugar industry that places male and female farmers in unequal positions, affecting their work experiences, access to resources, and formal recognition. Therefore, formal recognition and economic empowerment of women’s contributions in the palm sugar industry—which have long been marginalized by patriarchal culture—are essential for the sustainability of this traditional industry. |
| Kata kunci | Konstruksi Gender; Pedesaan Banyumas; Peran Gender; Pertanian Tradisional |
| Pembimbing 1 | Dr. Edi Santoso, S.Sos., M.Si. |
| Pembimbing 2 | Prof. Dr. Mite Setiansah, S.IP., M.Si. |
| Pembimbing 3 | Dr. Wiwik Novianti, S.I.Kom., M.I.Kom. |
| Tahun | 2025 |
| Jumlah Halaman | 8 |
| Tgl. Entri | 2025-08-01 09:56:32.878579 |