Artikelilmiahs

Menampilkan 8.781-8.800 dari 48.907 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
87819123E1A009145PEMBATALAN PERKAWINAN (Suatu Studi Tentang Dasar Pemikiran Hakim Dalam Putusan Pengadilan Agama Purwokerto Nomor: 0829/Pdt.G/2012/PA.Pwt)
Hakim dalam memeriksa dan mengadili perkara selalu harus memberikan
pertimbangan hukum terhadap dalil-dalil Pemohon dan Termohon mengenai
bukti- bukti yang diajukan di depan sidang Pengadil an. Substansi dari
pertimbangan hukum berisi dasar pemikiran Hakim dalam upaya menemukan
hukum dan mengkualifisir peristiwa hukumnya yang selanjutnya menjadi dasar
putusannya. Di dalam putusan Pengadilan Nomor: 0829/Pdt.G/2012/PA.Pwt
Hakim dalam memutus pe rkara tidak menerapkan Undang Undang nomor 1
Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan peraturan pelaksanaan lainnya yang
mengatur mengenai Pembatalan Perkawinan sebagai dasar hukumnya, tetapi
hanya menerapkan ketentuan dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) saja sebag ai
sumber hukumnya, sehingga tidak mencerminkan ketertiban hukum dan dengan
demikian telah tidak ada kepastian hukum. Pendekatan penelitian yang digunakan
untuk menjelaskan permasalahan tersebut adalah pendekatan Yuridis Normatif
dengan spesifikasi penerap an hukum serta menggunakan cara berpikir deduktif
kualitatif dalam pembahasannya.
Hasil penelitian yang diperoleh mengenai dasar pemikiran Hakim dalam
mengabulkan permohonan Pemohon, yaitu: bahwa Hakim hanya menerapkan
Pasal 40 huruf (a), dan huruf (b), se rta Pasal 71 huruf (c) Kompilasi Hukum Islam
(KHI) mengenai larangan kawin bagi seorang wanita masih terikat perkawinan
dengan orang lain dan masih dalam masa iddah dengan suami lain, dan
perkawinannya dapat dibatalkan. Hakim seharusnya sebelum menerapkan
ketentuan dalam Kompilasi Hukum Islam sebagai sumber hukumnya, terlebih
dahulu menerapkan dasar hukumnya dan menyatakan bahwa perkawinan antara
Termohon I dengan Termohon II telah melanggar Pasal 11 ayat (1) dan ayat (2)
Undang Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan Pasal 39 ayat (1)
huruf (b) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Tentang Peraturan
Pelaksanaan Undang Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan yang
mengatur mengenai syarat–syarat perkawinan. Dalam kasus ini Hakim seharusnya
tidak menerapkannya Pasal 40 huruf (a) Kompilasi Hukum Islam karena
Termohon II sudah tidak lagi terikat perkawinan dengan pria lain, hanya masih
berada dalam masa iddah.
Kata kunci: Pembatalan Perkawinan, larangan kawin, masa iddah.
Judges in check and adjudicate the matter must always give consideration
to the legal postulates the applicant and the responden t concerning the evidence
presented before the trial court. Legal consideration of the substance containing
the judge's rationale in an effort to find his legal qualifications and law events
which subsequently formed the basis of an award. In the Court decision number
0829 / pdt.g / 2012 / pa.pwt the judge in cutting off all these things don’t
implementing Law No. 1 of 1974 about marriage and other implementation of the
regula tions governing the nullification of Marriage as the basis of the law, but
merely implement the provisions in the compilation of Islamic law only as a
source of law, so that it does not reflect the legal order and thus has no legal
certainty. The research approaches used to describe these problems is the
Juridical Normative approach to the specification of the application of the law
and the use of qualitative deductive way of thinking in his discussion.
The research results obtained regarding the judge's rationale in granting
the petition of the applicant, namely: that the judge is simp ly applying the letter of
article 40 (a), and subparagraph (b), and Article 71 letters (c) compilation of
Islamic law concerning the prohibition of marriage for a woman still bound by
marriage with another person and still in the other, she with her husband and her
marriage may be cancelled. The judge should have before applying the provision
in the compilation of the Islamic law as a source of law, first apply the basic law
declaring that marriage between the respondent I with II the respondent has
violated article 11 paragraph (1) and paragraph (2) of Law No. 1 of 1974 about
marriage and article 39, paragraph (1) letter (b) Government Regulation No. 9 in
1975 about the Regulations Implementing Act No. 1 of 1974 about marriage
governing terms of marriage. I n this case a judge should not apply it to the letter
of article 40 (a) compilation of Islamic law because the respondent II is no longer
tied to marriage with another man, only to still be in the waiting of period.
Keyword : Nullification of Marriage, ba n on marriage, waiting of period
87825040C1A009091STRATEGI PENGEMBANGAN KETAHANAN PANGAN BERDASARKAN KOMODITAS UNGGULAN PANGAN DI KABUPATEN BANYUMASPenelitian ini berjudul “Strategi Pengembangan Ketahanan Pangan Berdasarkan Komoditas Unggulan Pangan di Kabupaten Banyumas”. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi komoditas unggulan pangan pada 27 kecamatan di Kabupaten Banyumas, mengidentifikasi prospek pengembangan komoditas pangan yang menjadi komoditas unggulan pangan di Kabupaten Banyumas, serta mengidentifikasi pola dan struktur pertumbuhan produksi komoditas unggulan pangan pada 27 kecamatan di Kabupaten Banyumas. Selanjutnya merumuskan strategi pengembangan ketahanan pangan berdasarkan komoditas unggulan pangan di Kabupaten Banyumas.
Agar dapat menjawab tujuan penelitian tersebut, maka komoditas unggulan pangan dianalisis menggunakan metode Location Quotient (LQ). Untuk mengidentifikasi prospek pengembangan komoditas unggulan pangan menggunakan metode trend LQ. Untuk mengidentifikasi pola dan struktur pertumbuhan produksi komoditas unggulan pangan menggunakan metode Tipologi Klassen. Kemudian untuk merumuskan strategi pengembangan menggunakan metode SWOT.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa komoditas padi, kacang tanah, telur ayam layer, daging ayam kampung dan daging kambing, merupakan komoditas basis pangan terbanyak yang tersebar pada 27 kecamatan yang berbeda di Kabupaten Banyumas. Selain itu, komoditas-komoditas tersebut juga memiliki prospek untuk dapat terus dikembangkan. Dimana dari 21 kecamatan yang memiliki komoditas basis pangan berupa komoditas padi, terdapat 10 kecamatan yang memiliki prospek untuk dapat terus dikembangkan. Dari 18 kecamatan yang memiliki komoditas basis pangan berupa komoditas kacang tanah, terdapat 4 kecamatan yang memiliki prospek untuk dapat terus dikembangkan. Dari 22 kecamatan yang memiliki komoditas basis pangan berupa komoditas telur ayam layer, terdapat 22 kecamatan yang memiliki prospek untuk dapat terus dikembangkan. Dari 20 kecamatan yang memiliki komoditas basis pangan berupa komoditas daging ayam kampung, terdapat 17 kecamatan yang memiliki prospek untuk dapat terus dikembangkan. Dari 23 kecamatan yang memiliki komoditas basis pangan berupa komoditas daging kambing, terdapat 13 kecamatan yang memiliki prospek untuk dapat terus dikembangkan.
Selanjutnya untuk komoditas yang dominan terhadap pola dan struktur pertumbuhan produksi komoditas maju dan tumbuh cepat adalah komoditas padi dan komoditas daging ayam kampung. Komoditas yang dominan terhadap pola dan struktur pertumbuhan produksi komoditas maju dan tumbuh lambat adalah komoditas daging kambing. Komoditas yang dominan terhadap pola dan struktur pertumbuhan produksi komoditas berkembang cepat adalah komoditas telur itik dan komoditas daging sapi. Komoditas yang dominan terhadap pola dan struktur pertumbuhan produksi relatif tertinggal adalah komoditas ketela pohon dan komoditas kedelai. Dalam merumuskan strategi pengembangan ketahanan pangan berdasarkan komoditas unggulan pangan di Kabupaten Banyumas, penelitian ini menghasilkan empat alternatif strategi pengembangan. Dimana kondisi pengembangan ketahanan pangan berdasarkan komoditas unggulan pangan di Kabupaten Banyumas sedang mengalami pertumbuhan dan pembangunan (grow and build). Strategi yang cocok dengan kondisi seperti ini ialah dengan strategi intensif atau strategi integratif.
Implikasi dari hasil penelitian ini adalah bahwa dalam rangka mengembangkan ketahanan pangan berdasarkan komoditas unggulan pangan di Kabupaten Banyumas, setiap kecamatan perlu adanya alternatif-alternatif spesialisasi produksi komoditas pangan berdasarkan komoditas-komoditas unggulan pangan yang terdapat pada masing-masing kecamatan di Kabupaten Banyumas. Kemudian Kabupaten Banyumas perlu mengembangkan komoditas unggulan pangan yang dapat memberikan nilai tambah ekonomis yang besar sesuai potensi wilayah yang ada. Selain itu, Kabupaten Banyumas perlu meminimalkan kegiatan konversi lahan pertanian dengan cara membuat suatu kebijakan tentang lahan pertanian produktif yang harus dipertahankan, serta memanfaatkan luas lahan pertanian yang ada secara optimal agar dapat terus memenuhi kebutuhan pangan penduduk. Dalam hal kelembagaan, Kabupaten Banyumas pun perlu menambah tenaga kerja dalam lembaga ketahanan pangan mengingat terbatasnya tenaga kerja yang ada dalam lembaga ketahanan pangan Kabupaten Banyumas. Selanjutnya dalam rangka pembangunan ekonomi wilayah, Kabupaten Banyumas perlu melakukan pembangunan ekonomi wilayahnya berbasis agribisnis melihat potensi wilayah yang ada sebagian besar bersumber dari sektor pertanian. Selain itu konsep agropolitan pun perlu dipertimbangkan dalam perencanaan pembangunan wilayah Kabupaten Banyumas untuk jangka panjang, melihat komoditas basis, prospek pengembangan, serta pola dan struktur pertumbuhan produksi komoditas pangan yang ada di Kabupaten Banyumas sangat menunjang untuk mengimplementasikan konsep agropolitan di Kabupaten Banyumas.
This research is entitled “Food Security Development Strategy Based On Leading Food Commodity In Banyumas Regency”. The objectives of the research are to identify leading food commodity in 27 sub districts in Banyumas regency, to identify food commodity development prospect as the leading food commodity in Banyumas regency and to identify any kind of pattern and structure of food commodity production growth in 27 sub districts in Banyumas regency. After all, to formulize leading food commodity development strategy in Banyumas regency.
To find all the research’s objectives, so leading food commodity is analyzed by Location Quotient (LQ) method. To identify leading food commodity development prospect used trend LQ. To identify form of pattern and structure leading food commodity development growth used Klassen Typology. And then to formulize development strategy used SWOT analysis.
The result of this research indicate that paddy, peanut, egg, chicken meat and mutton are the highest number of food basis commodity scattered in 27 different districts in Banyumas. In addition, these commodities also have the prospect to be developed. Among 21 sub districts that have a basis of food commodities for paddy commodity, there are 10 districts that have the prospect to be developed. among 18 districts that have a basis of food commodities for peanuts commodities, there are four districts that have the prospect to be developed. Among 22 districts that have a basis of food commodities for chicken eggs, there are 22 districts that have the prospect to be developed. Among 20 districts that have a basis of food commodities for chicken meat commodity, there are 17 districts that have the prospect to be developed. Among 23 districts that have a basis of food commodities for mutton, there are 13 districts that have the prospect to be developed.
Then for the dominant commodity to the pattern and structure of commodity production growth in advanced and rapidly grow commodity is paddy and chicken meat commodity . Commodities which dominant to the pattern and structure of commodity production growth in advanced and slowly grow commodity is mutton commodity. Commodities which dominant to the pattern and structure of commodityproduction growth in the fast growing commodity is a commodity of duck eggs and beef. Commodities which dominant to the pattern and structure of commodity production growth in relatively low commodity is cassava and soybean. In formulating a development strategy based on food security of food commodities in Banyumas, this research produced four alternatives of development strategy. Where the conditions of the development of food security based on food commodities in Banyumas has been growing and developing. The fit strategy with this condition is intensive or integrative strategy.
The implication of this research in order to improve food security based on leading food commodities in Banyumas is that each sub district needs for alternatives of food commodities production based on specification of leading food commodity in each sub district in Banyumas. Banyumas then need to develop a leading food commodity that can provide high economic value added according to the potential of existing areas. In addition, Banyumas needs to minimize the agricultural land conversion activities by creating a policy on productive agricultural land, as well as the use of existing agricultural land optimally in order to continue to meet of people’s food needs. In institutional terms, Banyumas also need to add more manpower focus on food security consider that the limited of manpower in the food security agency of Banyumas. Furthermore, in the context of regional economic development, Banyumas needs to undertake regional economic development based upon agribusiness consider that there are mostly derived from agriculture. Additionally agropolitan concept also needs to be considered in development planning of Banyumas for the long term, recognize commodity basis, development prospect, and the pattern and structure production growth of food commodities that exist in Banyumas is very supportive to implement the concept of agropolitan in Banyumas.
878313161E1A010047KEWENANGAN PENGADILAN HAM AD HOC DI INDONESIA DALAM MENANGANI PELANGGARAN HAM BERATPengadilan HAM ini merupakan jenis pengadilan yang khusus untuk mengadili kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Bagi pelanggaran berat hak asasi manusia yang terjadi sebelum Undang- Undang Nomor 26 Tahun 2000 diundangkan maka, seperti yang diatur dalam Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang Pengadilan HAM, dilaksanakan oleh Pengadilan HAM Ad hoc yang dibentuk dengan Keputusan Presiden berdasarkan usul Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Pertimbangan Mahkamah Konstitusi yang menyatakan bahwa pemberlakuan Undang-undang secara retroaktif dalam Pasal 43 ayat (1) adalah sebagai upaya pemerintah untuk menyelesaikan secara terhormat perkara pelanggaran HAM berat yang terjadi sebelum Undang-undang Pengadilan Hak Asasi Manusia diundangkan tanpa campur tangan dari dunia internasional melalui cara-cara beradab dan menggunakan standar yang berlaku dalam menangani kejahatan-kejahatan yang luar biasa .
Kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan perang, dan genosida merupakan hostis humanis generis (musuh bersama umat manusia), yang termasuk dalam kejahatan Internasional yang tidak boleh lolos dari penuntutan dan penghukuman. Bagi yang melakukan tindakan kekerasan (commission) atau pembiaran (omission) dapat dituntut secara retroaktif. karena itu tidak ada jalan lain kecuali menyelesaikan pelanggaran HAM berat di masa lalu untuk kepentingan bangsa dan Negara.
Human Rights Court is a kind of special court to justice crimes of genocide and crimes against humanity. For gross violations of human rights that occurred before the Act No. 26 of 2000 enacted then, as stipulated in Article 43 paragraph (1) of the Constitution Court of Human Rights, carried out by the ad hoc Human Rights Court established by the Decree of the President based on the proposal of the Board of Representatives (DPR).

Consideration of the Constitutional Court which states that the implementation of the Act retroactively in Article 43 paragraph (1) is a government effort to resolve honorably cases gross human rights violations that occurred before the Law Court of Human Rights enacted without the intervention of the international community through the way -how to use a civilized and standards that apply in dealing with extraordinary crimes.

Crimes against humanity, war crimes, and genocide is a humanist hostis generis (a common enemy of mankind), which is included in the International crime which should not escape prosecution and punishment. For those who commit acts of violence (commission) or omission may be prosecuted retroactively. Therefore there is no other way except to resolve serious human rights violations in the past for the benefit of the nation and the State.
878413206A1L011026APLIKASI DUA ISOLAT Trichoderma harzianum UNTUK MENGENDALIKAN
LAYU BAKTERI PADA TANAMAN KENTANG
Penelitian ini bertujuan untuk menguji kemampuan formula cair dari dua isolat Trichoderma harzianum dalam mengendalikan layu bakteri pada tanaman kentang dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kentang. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan Tanaman Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, dan Lahan Petani Kentang Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, mulai Maret sampai dengan Juni 2015.. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok, dengan 5 perlakuan dan 7 ulangan terdiri atas Kontrol, Trichoderma harzianum isolat bawang merah, Trichoderma harzianum isolate jahe, Trichoderma harzianum Gabungan isolat bawang merah dan jahe, dan bakterisida (berbahan aktif streptomisin sulfat 20%). Variabel yang diamati yaitu masa inkubasi, intensitas penyakit, laju infeksi, kepadatan akhir patogen, tinggi tanaman, jumlah umbi per tanaman, bobot umbi per tanaman, bobot tanaman kering, bobot akar kering, dan analisis jaringan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan Trichoderma harzianum isolat gabungan bawang merah dan jahe mampu menurunkan intensitas penyakit sebesar 51,72% serta meningkatkan tinggi tanaman, bobot akar kering, bobot tanaman kering masing-masing 5%, 26,6%, 34,9%. This research aimed to test the ability of liquid formula originated from two isolates of Trichoderma harzianum in controlling bacterial wilt disease of potato and their influence on the growth and yield of potatoes. This research was conducted at the Laboratory of Plant Protection, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, Purwokerto and potato field at Serang Village, Karangreja Subdistrict, Purbalingga Regency, from March until June, 2015. This research used a randomized block design, with 5 treatments and 7 replicates consisted of Control, Trichoderma harzianum onion isolate, Trichoderma harzianum ginger isolate, Trichoderma harzianum combined isolates of onion and ginger, and a bactericide (active ingredient of 20% streptomycin sulfate). Variables observed were incubation period, intensity of disease, the rate of infection, the final density of pathogens, plant height, number of tubers per plant, weight of tubers per plant, weight of dry plants, weight of dry roots, and tissue analysis. The research result indicated that the treatment of Trichoderma harzianum of combined isolates of onion and ginger was able to reduce the intensity of disease of 51.72% and to increase plant height, weight of dry root, weight of dry plant of 5%, 26.6%, 34.9% respectively.
87859126H1B010021Fuzzy Associative Memory Dan Aplikasinya Untuk Memprediksi Jumlah Produksi BelimbingFuzzy associative memory (FAM) adalah suatu metode pengambilan keputusan yang dihasilkan dari gabungan antara logika fuzzy dan jaringan syaraf tiruan (JST). Hal yang terpenting dalam metode pengambilan keputusan menggunakan FAM adalah algoritma pembelajarannya. Algoritma pembelajaran yang digunakan pada FAM yaitu algoritma pembelajaran Hebb. Pengkodean yang digunakan untuk mengkorelasikan pasangan himpunan fuzzy dalam FAM adalah pengkodean korelasi minimal. Setelah mendapatkan matriks FAM melalui pengkodean, vektor output diperoleh menggunakan relasi komposisi maks-min dan proses defuzzifikasi menggunakan winner take all. Kemudian dengan bantuan program Matlab, FAM diaplikasikan untuk memprediksi jumlah produksi belimbing. Diperoleh hasil prediksi jumlah produksi belimbing dengan tingkat kesalahan sebesar 12,01%, yang berarti kesamaan hasil prediksi dengan data sebenarnya sebesar 87,99%. Persentase ketepatan tersebut dapat berubah-ubah sesuai dengan bentuk fungsi keanggotaan di dalam sistem FAM.Fuzzy associative memory (FAM) is a method of decision-making generated from the combination of fuzzy logic and artificial neural network (ANN). The most important thing of FAM is learning algorithm. The learning algorithm used is Hebb learning algorithm, with the encoding used to correlate pairs of fuzzy sets in the FAM is the correlation-minimum encoding. After getting FAM matrix using the encodings, output vector is obtained using the max-min composition relations. Then the output defuzzification process using winner take all. By using Matlab programs to simplify the calculation, obtained prediction result of the amount of starfruit production with an error rate of 12,01%, which means similarity prediction results with the actual data of 87,99%. Percentage of accuracy can vary according to the membership function in the FAM system.
878610634E1A011089PERBARENGAN PERBUATAN TINDAK PIDANA KORUPSI DAN
TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG ( Tinjauan Yuridis Putusan
Mahkamah Agung Nomor 884 K/Pid.Sus/2013 )
Penelitian ini dilatarbelakangi karena Tindak Pidana Korupsi di Indonesia telah merambah ke seluruh lini kehidupan masyarakat, salah satu kasus nyata yang terjadi di masyarakat adalah Tindak Pidana Korupsi yang dilanjutkan dengan Tindak Pidana Pencucian Uang yang dilakukan oleh Anggota DPR RI WON, S.Sos. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menelaah apakah benar telah terjadi perbarengan perbuatan tindak pidana korupsi dan tindak pidana pencucian uang dalam perbuatan Terdakwa WON dan penjatuhan pidana yang dijatuhkan kepada WON. Untuk mencapai tujuan penelitian digunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan yurudis normatif.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis dapat diketahui bahwa WON, S.Sos. selaku Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) periode 2009-2014, serta Anggota Badan Anggaran DPR-RI telah menerima uang tunai yang seluruhnya sebesar Rp6.250.000.000,00 (enam milyar dua ratus lima puluh juta rupiah) dari Haris Andi Surahman, untuk mengusahakan agar Kabupaten Aceh Besar, Kabupaten Pidie Jaya, Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Minahasa sebagai daerah Penerima alokasi Dana Penyesuaian Infrastruktur Daerah (DPID) Tahun Anggaran 2011, dan menggunakan uang tersebut agar tersamarkan asal-usulnya, sehingga dapat diketahui bahwa benar WON, S.Sos. telah melakukan perbarengan perbuatan Tindak Pidana Korupsi dan Tindak Pidana Pencucian Uang, dan WON dijatuhi hukuman 6 (enam) tahun penjara dan denda sebesar RP. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) karena Majelis Hakim menolak permohonan kasasi dari Terdakwa dan Jaksa Penuntut Umum.
Lamanya pidana penjara yang dijatuhkan kepada WON sangat jauh dari ancaman maksimal hukuman yang dapat dijatuhkan yaitu selama 20 (dua puluh) tahun penjara, dan kurang dari setengah tuntutan Jaksa Penuntut Umum yang menuntut selama 14 (empat belas) tahun penjara, sehingga disini Majelis Hakim kurang tepat dalam menjatuhkan putusan kepada Terdakwa WON, S.Sos.
This research conducted because of corruption in Indonesia has arisen in entire citizen's life, one of the real case was corruption which followed by money laundering that was done by a member of Indonesia representative house, WON, S.Sos. This study aims to know and analyze whether or not there has been corruption and money laundering done by defendant WON, S.Sos. and the imprisonment imposed to WON. to achieve the objectives of the study, the writer used qualitative method with normative juridical approach.
According to the result and dta analysis, the writer found that WON, S.Sos. as a member of Indonesia representative house periods of 2009-2014 and other members of Indonesia representative house had received sum of Rp 6.250.000.000,00 (six billion and two hundred fiftymillion rupiahs) from Haris Andi Surahman, to make Aceh Besar regency, Pidie Jaya regency, Bener Meriah regency, and Minahasa regency as receiving areas of infrastructure development fund allocation (DPID) 2011, and use the money that obsecured its origin. Therefore, it can be seen that WON did corruption and money laundering and WON punished for 6 years in prisonand fine of Rp 500.000.000,00 (five hundred million rupiahs), because the supreme court judges refuse the cassation appeal from defendant and public persecutor.
The length of imprisonment that imposed to WON, S.Sos. is not appropriate, because the length of imprisonment is so far from the maximum threat of punishment to be imposed that is 20 years in prison and less than half of public persecutor has demanded, that is 14 yeas in prison. thus, the judges areless precise in taking decision to WON, S.Sos. and supposedly is in accordance with what the public persecutor has required.
878710635A1L009144PENGARUH VARIASI MEDIA TANAM DAN DHL LARUTAN HARA A-B TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG MERAH
(Allium ascalonicum L) SECARA HIDROPONIK TETES
Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui pengaruh variasi media tanam terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah, 2) mengetahui pengaruh variasi DHL larutan hara A-B terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah, 3) menetapkan variasi media tanam dan DHL larutan hara A-B terbaik untuk pertumbuhan dan hasil bawang merah, 4) mengetahui pengaruh kombinasi variasi media dan DHL larutan hara dan menetapkan kombinasi terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah. Rancangan percobaan yang digunakan adalah RAKL faktorial dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama adalah variasi media tanam, yaitu : M0 (1 pasir : 0 arang sekam), M1 (1 pasir : 1⁄2 arang sekam), M2 (1 pasir : 1 arang sekam), M3 (1 pasir : 2 arang sekam). Faktor kedua adalah variasi DHL, yaitu: E1 (1 mS/cm), E2 (2,5 mS/cm) dan E3 (4 mS/cm). Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, bobot tajuk segar, bobot tajuk kering, bobot akar segar, bobot akar kering, panjang akar, luas daun, bobot umbi segar dan diameter umbi. Variabel dianalisis dengan uji F dan uji Duncan (DMRT) pada taraf kesalahan 5 %. Hasil penelitian menunjukkan: 1) variasi media tanam hanya berpengaruh terhadap bobot akar kering dan panjang akar, 2) peningkatan DHL menurunkan tinggi tanaman, jumlah daun, bobot tajuk segar, bobot tajuk kering, bobot akar segar, bobot akar kering, panjang akar, bobot umbi segar dan diameter umbi tetapi tidak berpengaruh terhadap luas daun, 3) variasi media tanam terbaik yaitu M0 (1 pasir : 0 arang sekam) dan nilai DHL terbaik yaitu E1 (1 mS/cm), 4) kombinasi antar variasi media dan DHL larutan hara tidak memberikan pengaruh terhadap semua variabel pertumbuhan dan hasil bawang merah.This research aims to: 1) study the effect of planting media variations and determine the best planting media variation on the growth and yield of shallot, 2) study the effect of A-B solution electrical conducivity variations and determine the best electrical conducivity on the growth and yield of shallot. 3) determine the best planting media variations and electrical conductivity of A-B solution on the growth and yield of shallot, 4) the combination effect of variations in planting media and electrical conductivity and determine the best combination on the growth and yield of shallot. This research used a complete randomized block design (CRBD) with 2 factors and 3 replications. The first factor was the planting media variations, namely : M0 (1 sand : 0 rice husk), M1 (1 sand : 1⁄2 rice husk), M2 (1 sand : 1 rice husk), M3 (1 sand : 2 rice husk). The second factor was the electrical conductivity variations, namely: E1 (1 mS/cm), E2 (2,5 mS/cm) and E3 (4 mS/cm). The variables measured were plant height, leaf number, fresh plant weight, dry plant weight, fresh root weight, dry root weight, root length, leaf area, fresh bulb weight and bulb diameter. Variable were analyzed by F test and the Duncan test (DMRT) at 5% error level. The results of study showed that: 1) the planting media affected on dry root weight and root length, 2) increasing electrical conductivity reduced plant height, leaf number, fresh plant weight, dry plant weight, fresh root weight, dry root weight, root length,fresh bulb weight and bulb diameter, 3) the best electrical conductivity of A-B solution was E1 (1 mS/cm), 4)combinations between planting media and electrical conductivity variations didn’t affect on the growth and yield of shallot
878813226D1E011080Hubungan Panjang Badan, Lingkar Dada dan Tinggi Pundak dengan Bobot Non Karkas Dalam Sapi Simmental JantanPenelitian ini bertujuan untuk mempelajari hubungan antara panjang badan (PB), lingkar dada (LD), dan tinggi pundak (TP) dengan bobot non karkas dalam (BNKD) sapi Simmental jantan. Materi penelitian yang digunakan adalah 30 ekor sapi Simmental jantan. Variabel yang diamati adalah ukuran PB, LD, TP dengan menggunakan alat pita ukur dan BNKD dengan menggunakan alat timbangan digital. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan teknik pengambilan data menggunakan pendekatan purposive sampling. Analisis penelitian menggunakan regresi berganda, koefisien korelasi, koefisien determinasi, uji ANOVA dan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan karakteristik kuantitatif sapi Simmental jantan untuk PB, LD, TP, dan BNKD masing-masing adalah 146,27 ± 4,11 cm, 194,53 ± 8,11 cm, 140,00 ± 4,28 cm dan 37,04 ± 3,93 kg. Persamaan regresi berganda yang dapat digunakan dengan tepat adalah Y = -59,56 + 0,20 X2 + 0,42 X3. Analisis uji regresi secara parsial menunjukkan bahwa panjang badan (X1) mempunyai hubungan yang tidak nyata (P>0,05) terhadap bobot non karkas dalam, sedangkan lingkar dada (X2) dan tinggi pundak (X3) mempunyai hubungan yang nyata (P<0,05) terhadap bobot non karkas dalam. Penelitian dapat disimpulkan bahwa bobot non karkas dalam sapi Simmental jantan yang dipotong di RPH Mersi hanya dipengaruhi oleh lingkar dada dan tinggi pundak.The aims of the research is to assess the correlation between body length (BL), chest circumference (CC) and shoulder height (SH) with the inside non-carcass weight (INW) of Simmental bulls. The material used in this study were 30 heads of Simmental bulls. The variables measured were the size of the body length, chest circumference and shoulder height by using a measuring tape and the inside non-carcass weight by using a digital scales. The survey method used in this research was a purposive sampling approach to take the data. Analysis of this research are the multiple regression, the correlation coefficient, the determination coefficient, anova and t test. The results of the research showed that the average Simmental bulls quantitative characteristics for body length, chest circumference and shoulder height and the inside non-carcass weight each was 146,27 ± 4,11 cm, 194,53 ± 8,11 cm, 140,00 ± 4,28 cm and 37,04 ± 3,93 kg. Multiple regression equation that can be used appropriately is Y = -59,56 + 0,20 X2 + 0,42 X3. Partial Regression test analysis showed that the length of body (X1) have no significant correlation (P> 0.05) with the inside non carcass weight, while the shoulder height (X2) and chest circumference (X3) have a significant correlation (P <0.05) with the inside non carcass weight. Therefore, based on the results can be concluded that the inside non carcass weight for Simmental bulls which slaughtered in Mersi slaughterhouse only affected by chest circumference and shoulder height
87899127E1A010097PENERAPAN PERATURAN PEMERINTAH NO. 27 TAHUN 2012 TENTANG IZIN LINGKUNGAN DI KABUPATEN BANYUMASABSTRAK
PENERAPAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 27 TAHUN 2012 TENTANG IZIN LINGKUNGAN DI KABUPATEN BANYUMAS
Oleh:
ANNISA DEWI MAISYAROH
E1A010097

Hukum lingkungan diperlukan sebagai alat pergaulan sosial dalam masalah sosial dan difungsikan untuk menjamin tetap terpeliharanya kelestarian kemampuan lingkungan hidup. Sejalan dengan semakin meningkat dan meluasnya pembangunan maka ikut campurnya pemerintahpun semakin aktif dan intensif ke dalam berbagai segi kehidupan masyarakat. Salah satu otoritas pemerintah dalam rangka perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup adalah menerapkan izin lingkungan hidup. Pada dasarnya izin hanya merupakan otoritas dan monopoli pemerintah. Dalam memberikan izin lingkungan, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Banyumas mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izini Lingkungan, karena Kabupaten Banyumas belum mempunyai Peraturan Daerah yang mengatur secara khusus mengenai izin lingkungan.
Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif. Data sekunder yang terkumpul kemudian diolah, disajikan, dan dianalisa secara kualitatif dengan penyajian data teks naratif secara sistematis.
Hasil Penelitian menyatakan bahwa izin lingkungan telah didelegasikan dari Menteri kepada gubernur, gubernur kepada bupati/walikota. Untuk memperoleh izin lingkungan, pada umumnya permohonan izin lingkungan harus menempuh prosedur tertentu yang ditentukan oleh pemerintah dan juga harus memenuhi persyaratan-persyaratan yang telah diatur dalam suatu peraturan yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan. Pemrakarsa usaha atau kegiatan mengajukan permohonan izin lingkungan secara tertulis kepada bupati, lalu bupati memberikan dan menerbitkan izin lingkungan. Selanjutnya bupati berkewajiban mengumumkan izin lingkungan tersebut.

Kata kunci: Izin Lingkungan, Izin Lingkungan Kabupaten Banyumas
ABSTRACT

IMPLEMENTATION GOVERNMENT REGULATION NUMBER 27 OF 2012 ABOUT ENVIRONMENT PERMIT IN DISTRICT OF BANYUMAS

Enviroment’s law needed as a tool in society relationship for social problem and for guarantee the maintain of environment’s sustainibility. Development which increase and wide makes government take apart actively and intensified in many aspect of society life. One of the government’s authority in the term of protection and environment management is authority and monopoly’s goevernment. In giving environment permit, Enviroment Institution of District of Banyumas following on Government regulation Number 27 of 2012 about environment permit, because distrct of banyumas has area regulation yet which spesifically regulated about environment permit.
The method of this research is normative juridical. Secondary Data which collected then processed, lied on, and analyze with narative text systematically.
The result of this research showed that environment permit delegated from Ministry to Governor, Governor to Mayor or Regents. To get environment permit, environmant permit’s appeal have to pass through the procedure which determined by the government and also eligiblity based on Government Regulation Number 27 of 2012 about Environment Regulation. The founder submit written apeal to Regents, then the Regents gives and rising environment permit. Then regents obligate to announce that environment permit.
87909128G1G009012PERSENTASE BESAR RESORPSI AKAR MOLAR PERTAMA RAHANG ATAS DAN BAWAH PADA PENGGUNA PERANTI CEKAT ORTODONTIK DENGAN PENCABUTAN PREMOLAR PERTAMA MENGGUNAKAN FOTO RADIOGRAFI PANORAMIK
Resorpsi akar merupakan konsekuensi iatrogenik dari perawatan ortodontik. Resorpsi akar yang terjadi akibat perawatan ortodontik disebut Orthodontically Induced Inflammatory Root Resorption (OIIRR) karena perawatan ini memanfaatkan proses inflamasi untuk memperbaiki masalah fungsional dan estetik seseorang. Resorpsi akar dapat menyebabkan pemendekan akar dan merusak integritas gigi serta jaringan penyangganya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar resorpsi akar molar pertama rahang atas dan bawah pada pasien peranti cekat ortodontik dengan pencabutan premolar pertama menggunakan foto radiografi panoramik. Penelitian survei deskriptif ini menggunakan 60 sampel foto radiografi panoramik dari 30 pasien pengguna peranti cekat ortodontik yang ditapak menggunakan kertas tracing, kemudian ditentukan titik dan garis untuk pengukuran resorpsi akar, setelah itu diukur dan dihitung besar resorpsinya menggunakan rumus. Hasil penelitian menghasilkan persentase besar resorpsi akar gigi molar pertama rahang atas dan bawah yang bervariasi, besar resorpsi akar tertinggi dimiliki oleh akar mesial gigi 46 yaitu sebesar 12,27% sedangkan besar persentase resorpsi akar terendah dimiliki oleh akar mesial gigi 26 dan akar mesial gigi 46 yaitu sebesar 0,20%.

Kata Kunci: resorpsi akar, peranti cekat ortodontik, pencabutan premolar
pertama, foto radiografi panoramik.
Root resorption is an iatrogenic consequence of orthodontic treatment. Root resorption which cause by orthodontic treatment called Orthodontically Induced Inflammatory Root Resorption (OIIRR) because this treatment utilizes the inflammatory process to improve the functional and aesthetic problems for patients. Root resorption can lead shortening of the roots and damage the integrity of the tooth and its supporting tissues. This study aims to determine maxillary and mandibular first molar root resorption in patients with fixed orthodontic appliances with extraction of first premolars using panoramic radiographs. This descriptive survey study using 60 samples panoramic radiographs of 30 patients using fixed orthodontic appliances treaded using tracing paper, then set a point and a line for the measurement of root resorption using 3H pencil, after it was measured, calculate it using the formula of Apical Root Resorption (ARR). The results of the study show varying percentage of root resorption of maxillary and mandibular first molar, the highest percentage owned by mesial root of 46 which show 12.27% root resorption, while the lowest percentage owned by mesial root of 26 and 46 which show 0.20% root resorption.

Key word: root resorption, fixed orthodontic appliances, extraction of first
premolar, panoramic radiographs
87919129C1A010037PENDAPATAN DAN EFISIENSI USAHA BATIK TULIS DI DESA BENGLE KECAMATAN TALANG KABUPATEN TEGAL
Penelitian ini berjudul “PENDAPATAN DAN EFISIENSI USAHA BATIK TULIS DI DESA BENGLE KECAMATAN TALANG KABUPATEN TEGAL”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efisiensi ekonomi, pendapatan dan keuntungan yang diperoleh pengrajin batik tulis, dan membandingkan pendapatan perkapita pengrajin selama satu bulan dengan standar kebutuhan hidup layak Kabupaten Tegal. Produksinya ada dua macam yaitu batik tulis setengah jadi dan batik tulis yang sudah jadi.
Penelitian ini dilakukan di Desa Bengle Kecamatan Talang Kabupaten Tegal. Penelitian ini menggunakan populasi karena jumlah pengrajin berjumlah 30 dengan menggunakan survei melalui kuesioner dan wawancara, metode yang digunakan untuk menghitung pendapatan yaitu dengan rumus R = TR – TC, untuk menghitung efisiensi menggunakan alat analisis R/C Ratio, kemudian untuk menghitung KHL yaitu membandingkan pendapatan pengrajin batik tulis dan pendapatan rumah tangga per bulan dengan standar KHL Kabupaten Tegal.
Hasil penelitian menunjukan bahwa batik tulis setengah jadi mempunyai nilai R/C ratio sebesar 1,5494 lebih kecil dibandingkan nilai R/C ratio batik tulis sudah jadi sebesar 1,5630. Rata-rata pendapatan bersih atau keuntungan yang diperoleh pengrajin batik tulis setengah jadi Rp2.579.855,00 lebih kecil dibandingkan rata-rata keuntungan batik tulis sudah jadi Rp4.858.302,00. Pendapatan pengrajin batik tulis dan pendapatan rumah tangga pengrajin batik tulis setengah jadi per bulan 3 orang responden masih dibawah standar KHL dan 7 orang responden sudah diatas standar KHL kemudian pendapatan pengrajin batik tulis dan pendapatan rumah tangga pengrajin batik tulis sudah jadi semuanya sudah diatas standar KHL Kabupaten Tegal.
This research entitled “THE INCOME AND EFFICIENCY OF WRITTEN BATIK BUSINESS IN BENGLE VILLAGE TALANG SUB-DISTRICT TEGAL REGENCY”. The aims of this research are to know economics efficiency, how much income and profit that are gotten from written batik craftsman, and compare the percapita income of craftsman in one month with decent living needs standard of Tegal Regency. There are two kinds of written batik namely semi-finished written batik and finished written batik.
This research was done in Bengle Village, Talang Sub-district Tegal Regency. This research used population because there were 30 craftsmen by using survey through questionaire and interview. The method that was used to count the income is R = TR-TC, then to count efficiency used analysis devices R/C ratio, and then to count KHL was combining written batik craftsmen’s income and household income per month based on KHL standar Tegal regency.
The result show that semi-finished written batik has precentage R/C ratio amount 1,5494, smaller than R/C ratio finished written batik amount 1,5630. The average of net income and the profit are gotten by craftsman of semi-finished written batik were about Rp2.579.855,00. Smaller than the average of finished written batik were about Rp4.858.302,00. The income of 3 respondent written batik craftsmen and household income of semi-finished written batik were still under the KHL standar, and 7 respondent craftsman had been up the KHL standar, then all the income of household finished written batik had been already up the KHL standar of Tegal Regency.
87929429G1F010035Formulasi dan Uji Aktvitas Antioksidan Sediaan Gel yang Mengandung Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana)Buah manggis (Garcinia mangostana) merupakan salah satu sumber antioksidan alami dengan kandungan senyawa berupa xanthone. Penambahan senyawa antioksidan dari ekstrak bahan alam ke dalam sediaan kosmetik seperti gel merupakan salah satu cara untuk menghambat aktivitas radikal bebas. Tujuan penelitian ini adalah membuat formula sediaan gel dari ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana) yang memenuhi syarat stabilitas dan uji fisik selama penyimpanan serta mengetahui aktivitas antioksidan dari sediaan gel tersebut.
Penelitian ini adalah penelitian ekperimental laboratorium, dengan memvariasikan kadar ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana) dalam sediaan gel yaitu 2 gram, 4 gram dan 6 gram. Evaluasi sediaan gel meliputi pH, homogenitas, kestabilan fisik, uji daya sebar, daya lekat dan viskositas. Uji aktivitas antioksidan dilakukan menggunakan metode DPPH. Analisis data menggunakan one way ANOVA dengan taraf kepercayaan 95%.
Hasil penelitian menunjukkan ekstrak kulit buah manggis dapat diformulasikan menjadi sediaan gel yang memenuhi syarat uji sifat fisik sediaan gel, yaitu nilai viskositas berkisar (20.100-52.100 Cps), daya sebar (4,40-6,0 cm) dan daya lekat (1,14-2,93 detik). Formula yang memiliki aktivitas antioksidan adalah Formula IV dengan persentase peredaman yaitu sebesar 55,79%.
Mangosteen (Garciniamangostana) which has xanthone constituentis natural antioxidant resources. Additional of antioxidant compounds from extracts of natural ingredients in cosmetic preparations such as gel is one way to inhibit the activity of free radicals. The purpose of this study is making formulation of gel preparation which contain mangosteen pericarp extract (Garcinia mangostana) that qualify enough for the evaluation of physical characteristic and physical stability during storage, and to determine the activity of antioxydant in thegel preparation.
This study is a laboratory experimental study, by varying the level of mangosteen pericarp extract (Garcinia mangostana) on gel preparation, 2 gram, 4 gram and 6 gram. The evaluation of gel preparation consist of pH, homogeneity, physical stability, dispersion test, adhesion, and viscosity. Antioxydant activity test performed after storage using DPPH method. Data analysis using one way ANOVA with 95% confidence intervals.
The results showed that extract of mangosteen pericarp can be formulated intogel that fullfilrequirements of physical properties test gelpreparation, which are viscosity value about (20.100-52.100 Cps), dispersive (4,40-6,0 cm) and adhesion (1,14-2,93second). Formula IV has antioxidant activity with inhibition percentage (55,79%).
879310636E1A011166PERBANDINGAN KEBIJAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP SAKSI PELAKU YANG BEKERJASAMA (JUSTICE COLLABORATOR) DI INDONESIA, AMERIKA SERIKAT, JERMAN, DAN ITALIASaksi pelaku yang bekerjasama (justice collaborator) berdasarkan Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2011 tentang Perlakuan bagi Whistleblower dan Justice Collaborator adalah seorang pelaku tindak pidana tertentu, tetapi bukan pelaku utama yang mau mengakui perbuatannya dan bersedia menjadi saksi dalam proses peradilan. Seorang justice collaborator mempunyai peran yang sangat penting untuk membantu aparat mengungkap suatu tindak pidana terorganisir dan bersifat serius oleh karena itu, hak-hak seorang justice collaborator haruslah diatur dalam peraturan perundang-undangan. Di Indonesia belum ada peraturan perundang-undangan yang mengatur secara rinci mengenai justice collaborator sehingga dalam penerapannya sering menimbulkan kontroversi, berbeda dengan di Amerika Serikat, Jerman, dan Italia yang sudah mengatur mengenai justice collaborator secara rinci dan melindungi hak justice collaborator. Akibat belum adanya peraturan yang mengatur secara rinci mengenai justice collaborator dan dalam penerapannya sering menimbulkan kontroversi inilah yang membuat peneliti tertarik untuk mengkaji mengenai kebijakan hukum pidana mengenai justice collaborator di Indonesia, Amerika Serikat, Jerman, dan Italia.
Penelitian ini disusun menggunakan metode penelitian yuridis normatif dengan metode pendekatan perundang-undangan dan metode perbandingan yang membandingkan kebijakan hukum pidana di Indonesia, Amerika Serikat, Jerman, dan Italia mengenai justice collaborator. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa peraturan perundang-undangan, buku-buku literatur, dokumen resmi, dan situs-situs internet dan data tersier dengan cara studi pustaka, yaitu dengan menginventarisasi data-data tersebut yang kemudian disajikan dalam bentuk uraian sistematis. Data yang diperoleh dianalisa dan dijabarkan berdasarkan norma hukum yang berkaitan dengan objek penelitian.
Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa perbandingan kebijakan hukum pidana terhadap justice collaborator di Indonesia, Amerika Serikat, Jerman, dan Italia terdapat persamaan dan perbedaan dalam hal kualifikasi tindak pidana, jenis tindak pidana, berat ringannya pidana, hal yang meringankan, dan hal yang memberatkan. Status seseorang sebagai justice collaborator mempengaruhi dalam pemberian putusan dengan mendapatkan keringanan dalam penjatuhan pidana, namun di Indonesia berat ringannya pidana yang dijatuhkan belum diatur secara rinci.
Adapun saran yang diberikan adalah seharusnya kebijakan hukum pidana yang belum diatur di Indonesia dijadikan informasi untuk pembaharuan hukum pidana di Indonesia dan seharusnya dibuat peraturan perundang-undangan yang mengatur lebih rinci mengenai justice collaborator.
Witness cooperating perpetrators ( justice collaborator ) based on Circular Letter of Supreme Court number 4 year 2011 about the treatment for whistle blowers and justice collaborator are abuser of certain crimes, but not the main perpetrators who want to admit his actions and willing to become a witness in the judicial process. A justice collaborator have a very important role to help law enforcement officer stoun cover anorganized crimes and serious crimes. Hence, the rights of a justice collaborator shall be regulated in the legislation. In Indonesia thereis not yet legislation which is regulates specifically of the justice collaborator sothatinpractice of tenin flicting controversy, unlike in United States, Germany, and Italy that already regulate specifically about justice collaborator and protect the rights of justice collaborator. Due to the lack of regulations that governing specifically on justice collaborator in the application and of tenin flicting controversy makes researcher interested to study about the criminal law’s policy on justice collaborator in Indonesia, United States, Germany , and Italy.
Researcher has been formulate dusing research methodology juridical normative by a method of legislation approach and a method of comparison of criminal law’s policy for justice collaborator in Indonesia, United States, Germany, and Italy. The data used was secondary data in the form of legislation, literature books, official documents, and the internet sites. Tertiary data by study of literature, by thoroughly the datas then serve din the form of a systematic description.The data obtaine dan delaborated were analyzed based on then or msof law pertaining to an object research.
Based on the results of the research found that the criminal law policy of justice collaborator in Indonesia, United States, German, and Italy there are similarities and differences in term of qualification of crime, kind of crime, severe crime casually, mitigating factors, and the aggravating factors. The status of a justice collaborator affects the awarded a penal tyreduction. However, in Indonesia severe crime casually imposed not bemade specifically.
The advice given from researche is criminal law’s policy which is not yet regulated in Indonesia used as information to renewal of criminal law in indonesia and the reshould be legislation which are arranged more specific on justice collaborator .
87949130C1J009013THE EFFECT OF INCOME, EDUCATION, AND NUMBER OF DEPENDANT FAMILY MEMBERS ON POOR HOUSEHOLD ASSET OWNERSHIP IN KEBUMEN REGENCYPenelitian ini berjudul “ Pengaruh Pendapatan, Pendidikan, dan Jumlah Anggota Keluarga Yang Menjadi Tanggungan Terhadap Kepemilikan Aset Rumah Tangga Miskin Di Kabupatan Kebumen”. Penelitian ini bertujuan untuk (a) Untuk mengatahui pengaruh variabel pendapatan, pendidikan, jumlah anggota keluarga yang menjadi tanggungan terhadap kepemilikan aset rumah tangga miskin di Kabupaten Kebumen. (b) Untuk mengetahui variabel yang paling berpengaruh terhadap kepemilikan aset rumah tangga miskin di Kabupaten Kebumen. Penelitian ini menggunakan data primer dengan dilakukan secara survei, sedangkan metode pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling dengan rumus Slovin sehingga diperoleh 100 responden. Metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : Pendapatan, pendidikan, dan jumlah anggota keluarga yang menjadi tanggungan secara bersama-sama memiliki pengaruh terhadap kepemilikan aset rumah tangga miskin di Kabupaten Kebumen. Secara parsial hanya variabel pendapatan yang terbukti memiliki pengaruh positif secara signifikan. Variabel jumlah anggota keluarga yang menjadi tanggungan berpengaruh positif namun tidak signifikan. Terakhir, pendidikan justru berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap kepemilikan aset rumah tangga miskin di Kabupaten Kebumen. Berdasarkan hasil perhitungan regresi, variabel pendapatan merupakan variabel yang paling dominan.
Implikasi dari penelitian ini adalah rumah tangga miskin perlu meningkatkan pendapatan guna meningkatkan kepemilikan aset karena terbukti pengaruhnya positif dan signifikan. Untuk itu rumah tangga miskin diharapkan mampu meningkatkan pendapatan, dengan cara meningkatkan kinerja atau mencari pendapatan lain sesuai dengan kemampuan.
This research entitled "The Effect of Income, Education and Number of Dependant Family Members on Poor Household Asset Ownership in Kebumen Regency". This research aims to a). to find out the effect of income, education and number of dependant family members variable on poor household asset ownership in Kebumen Regency. b). to find out the most influencing variable on poor household asset ownership in Kebumen Regency. This research using primary data by conducted with survey, while sample collection method using purposive sampling method with Slovin formula thus obtained 100 respondents. Analysis method used is multiple linear regression.
Research result shows that: income, education and number of dependant family members altogether has influence on poor household asset ownership in Kebumen Regency. Partially only income variable that proven has significantly positive influence. Number of dependant family members variable has positive yet insignificant influence. The last, education variable surprisingly has negative and insignificant influence on poor household asset ownership in Kebumen Regency. Based on regression calculation result, income variable is the most dominant variable.
The implication of this research is poor household needs to increase income in order to increase asset ownership because it is proven has positive and significant influence. Therefore poor household expected to be able to increase income, by increasing performance or find another income according to their ability.
87959131B1J010012PENGARUH KONSENTRASI PAKLOBUTRAZOL DALAM MENINGKATKAN PENAMPILAN KRISAN (Chrysanthemum morifolium (L) Ramat) SEBAGAI BUNGA POTKrisan (Chrysanthemum morifolium (L) Ramat) merupakan tanaman hias yang memiliki keindahan dalam bentuk, ukuran, dan warna bunganya. Produksi bunga krisan di Indonesia mengalami peningkatan, namun masih rendah dalam hal kualitas bunganya. Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas bunga krisan dengan menjadikan krisan sebagai bunga pot. Aplikasi paklobutrazol pada tanaman krisan pot perlu dilakukan sehingga tanaman kompak, daun berwarna hijau tua, dan warna bunga mencolok. Paklobutrazol memiliki kemampuan menghambat biosintesis giberelin dan mempercepat fase vegetatif menuju generatif. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui pengaruh interaksi antara konsentrasi paklobutrazol dan varietas krisan sebagai krisan pot, (2) Menentukan kombinasi konsentrasi terbaik untuk paklobutrazol dan varietas yang cocok sebagai krisan pot. Metode yang digunakan adalah eksperimental dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial. Faktor pertama berupa konsentrasi paklobutrazol 0; 50; 100; 150 ppm. Faktor kedua berupa varietas krisan, Yellow Fiji, dan Super Red. Aplikasi paklobutrazol konsentrasi 50 ppm menunjukkan penampilan tanaman yang kompak pada tanaman perlakuan dibandingkan tanaman kontrol. Varietas Super Red yang digunakan dapat mempengaruhi luas daun, ukuran daun lebih kecil, dan posisi duduk daun tumpang tindih. Sementara itu, varietas Yellow Fiji yang digunakan dapat meningkatkan jumlah kuntum bunga.Chrysanthemum (Chrysanthemum morifolium (L) Ramat) is an ornamental plant which have beauty of shape, measurement, and colour of flower. Indonesian production of chrysanthemum has increased, but it’s still low from the quality side, one of the methods to increase quality of Chrysanthemum flower as potted flower. Paclobutrazol can be used to change a chrysanthemum into a potted flower. It has the ability to delay biosynthesis of gibberelin and quickly changed from vegetatif phase to generatif phase. The aim of this research is to learn: (1) the effect of interaction between paclobutrazol concentration and variety of Chrysanthemum as potted chrysanthemum, (2) the best combination between paclobutrazol concentration and variety of chrysanthemum. Method used in this research is experimental and the design of the research is a Randomized Completely Block Design (RCBD) with factorial pattern. Factor 1 is a paclobutrazol concentration, it’s consisted of four levels, namely: 0; 50; 100; 150 ppm. Factor 2 is a variety of chrysanthemum, it’s consisted of two type: Yellow Fiji, and Super Red. Concentration 50 ppm of paclobutrazol treatment show more compact in treatment plant than control. Super Red showed influence in leaf area, reduced leaf size, and overlapping of leaf positioning. Whereas, Yellow Fiji increased total number of floret.
87969132H1E010014INTERPRETASI STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN DAERAH JOKOTUO BAYAT, KLATEN, JAWA TENGAH BERDASARKAN DATA SURVEI ELEKTROMAGNETIK VERY LOW FREQUENCY (VLF) DAN CONDUCTIVITY METER DEPTH (CMD)Penelitian untuk menginterpretasikan struktur bawah permukaan di daerah Jokotuo, Kecamatan Bayat telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur bawah permukaan daerah Jokotuo berdasarkan peta kontur metode CMD dan penampang rapat arus ekuivalen metode VLF. Data yang digunakan merupakan data penelitian milik Dosen dari Program Studi Teknik Geofisika UPN “Veteran” Yogyakarta. Pengolahan data untuk metode CMD meliputi moving average, lalu dibuat grafik hubungan antara nilai MA conductivity dan in-phase di setiap lintasan dan dibuat peta kontur MA conductivity dan MA in-phase. Pengolahan berikutnya untuk metode VLF meliputi moving average dan dibuat grafik hubungan antara nilai MA tilt dan derivative fraser. Pengolahan metode VLF dilanjutkan dengan membuat penampang rapat arus ekuivalen menggunakan bahasa pemrograman MATLAB 6.1 dengan kedalaman 100 m. Interpretasi dilakukan dengan kedua metode yang memiliki penetrasi kedalaman berbeda, penetrasi dangkal untuk metode CMD dan penetrasi lebih dalam untuk metode VLF. Hasil dari interpretasi berdasarkan peta kontur dan penampang rapat arus ekuivalen ini menunjukkan adanya batuan sedimen, metamorf dan beku di daerah penelitian. Struktur yang terlihat di bawah permukaan menunjukkan adanya anomali dengan rapat arus ekuivalen yang tinggi yang menerobos batuan di sekitarnya, sehingga diinterpretasikan anomali itu adalah intrusi batuan beku. Intrusi tersebut memiliki nilai rapat arus ekuivalen 40 % hingga 250 % dan terlihat dari arah selatan ke arah barat laut daerah penelitian.ABSTRACT
Research to interpret the subsurface structure in the area Jokotuo, Subdistrict Bayat has been done. This research aims to know subsurface structure of Jokotuo area with based on contour map CMD method and equivalent current density section VLF method. The data used are research data owned by Lecturer of Geophysical Engineering Department UPN "Veteran" Yogyakarta. Processing data for CMD method includes moving average, then graphed the correlation between the value of MA conductivity and MA in-phase at each line and made contour maps MA conductivity and MA in-phase. Processing data for VLF methods subsequent include moving averages and graphed the correlation between values of MA tilt and derivatives fraser. Processing VLF method followed by making a equivalent current density section using MATLAB 6.1 program with depth of 100 m. Result of interpretation based on two methods that have different penetration depths, shallow penetration of CMD method and deeper penetration of the VLF method. The results of the interpretation based on contour maps and equivalent current density sections indicates the presence of sedimentary rocks, metamorphic and igneous in the research area. Structures visible the subsurface showed anomalies with high current density equivalent invading the surrounding rock, so the anomalies interpreted is igneous intrusions. The intrusion has a value equivalent current density 40% to 250%, and visible from the south to the northwest of the research area.
87979133H1L009059SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN
PENGOBATAN PENYAKIT HEPATITIS C MENGGUNAKAN
METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS
Hepatitis adalah peradangan pada hati oleh agen penyebab infeksi karena adanya virus Hepatitis A, B, C, D atau E. Hingga saat ini, vaksin Hepatitis C belum ditemukan karena masih dalam tahap pengembangan. Penyakit Hepatitis C memiliki resiko tinggi namun masih memiliki kemungkinan untuk sembuh sehingga pada aplikasi Sistem Pendukung Keputusan Pengobatan Penyakit Hepatitis C Menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) ini diharapkan dapat meningkatkan status kesehatan pasien. Aplikasi ini dibuat bertujuan agar mengetahui penggunaan metode AHPdalam pemilihan alternatif pengobatan penyakit Hepatitis C serta bagaimana merancang dan membangun aplikasi tersebut. Prinsip dasar dalam perhitungan menggunakan metode AHP yaitu menyelesaikan permasalahan dengan decomposition, comparative judgement, synthesis of priority and logical consistency. Pengembangan sistem ini dilakukan dengan metode rancang bangun perangkat lunak model waterfall yang terdiri dari empat tahap: analisis, desain, implementasi, dan pengujian. Sistem pendukung keputusan ini sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam menentukan pengobatan pasien Hepatitis C yang dapat menghasilkan alternatif pengobatan dengan prioritas tertinggi dan dengan keseluruhan nilai yang diberikan telah konsisten berdasar kriteria-kriteria yang dipilih.Hepatitis is an inflammation of the liver cased by an infection agents i.e.hepatitis A, B, C, D or E viruses. Until now, Hepatitis C vaccine has not been found because it is still in the development stage. Hepatitis C disease has a high risk but there is a possibility to recover then the application of Decision Support System Diseases Hepatitis C Treatment Method Using Analytical Hierarchy Process (AHP) is expected to improve the patients health status. This application aims to determine the use AHP in the selection of Hepatitis C treatment alternatives and how to design and build the application.The basic principle in the calculation using the AHP method is to solve the problems by decomposition, comparative judgment, synthesis of priority and logical consistency. The development of this system was conducted using waterfall model which consists of four phases: analysis, design, implementation, and testing. This decision support system as a material consideration in determining the treatment of Hepatitis C patients that can produce with the highest priority of alternative treatment and the overall value are consistent with the selected criteria.
87989134F1G010015KAJIAN FONOLOGI DAN LEKSIKON BAHASA JAWA DI DESA DERMAYU KECAMATAN SINDANG KABUPATEN INDRAMAYU
Judul penelitian ini adalah “Kajian Fonologi dan Leksikon Bahasa Jawa di Desa Dermayu Kecamatan Sindang Kabupaten Indramayu”. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan variasi fonologi dan leksikon bahasa Jawa di Desa Dermayu dengan bahasa Jawa standar.
Bentuk penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini berupa leksikon dan fonem bahasa Jawa di Desa Dermayu. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode cakap dengan teknik dasar adalah teknik pancing dan teknik lanjutannya berupa teknik cakap bertemu muka yang ditunjang dengan teknik catat, dan teknik rekam. Metode analisis data menggunakan metode padan dan metode agih. Teknik dasar dari metode padan adalah teknik pilah unsur penentu dan teknik lanjutannya adalah teknik hubung banding membedakan. Adapun teknik dasar dari metode agih adalah teknik bagi unsur langsung dengan teknik lanjutannya adalah teknik pengontrasan.
Berdasarkan hasil analisis data terdapat variasi fonologi dan leksikon antara bahasa Jawa di Desa Dermayu dengan bahasa Jawa standar. Variasi dalam bidang fonologi ditemukan adanya variasi fonem. Variasi fonem dapat terjadi pada fonem vokal dan konsonan. Selain itu terdapat juga proses perubahan bunyi yang berupa pelepasan dan penambahan bunyi antara bahasa Jawa di Desa Dermayu dengan bahasa Jawa standar. Proses pelepasan bunyi meliputi aferesis, sinkop, dan apokop. Adapun proses penambahan bunyi meliputi protesis, epentesis, dan paragog.
Pada bidang leksikon juga ditemukan adanya variasi leksikon antara BJDD dan BJS. Variasi leksikon tersebut terdapat dalam kosakata dasar Swadesh yang sudah dikembangkan menjadi kosakata budaya dasar menurut medan makna. Ada lima variasi leksikon dalam bahasa Jawa di Desa Dermayu dengan bahasa Jawa standar, yaitu variasi fonetik, variasi semantik, variasi onomasiologis, variasi semasiologis, dan variasi morfologi.

Title of this research is "The Study of Javanese Phonology and Lexicon in Sindang Village Dermayu Sub-district Indramayu District". The purpose of this study was to describe variations in the Java language phonology and the lexicon in the Dermayu village.
The form of this research is descriptive qualitative. The data in this study are lexicon and Javanese phoneme in Dermayu village. Methods of data collection used interview basic techniques of interview direction, followed by face to face interview, recording tehnique, and note tehnique. Data analysis method is using identity method and distributional method. The basic technique of identity methode is differently comparation correlation. The basic technique of distributional method is immediate technique and comparation and contrast technique as a continuation technique
Based on the analysis of data there are phonology and lexicon variation between Javanese of Dermayu village and standart Javanese. Variations in the field of phonology there are variations in sound. Variations that occur in sound vowel phonemes and consonant phonemes in Javanese Dermayu village with standart Javaese. In addition there is also the sound changes or additions in the form of sound release includes afferesis, syncope, apokop. Proccess of additional content are follow protesis, epentesis, and paragoge.
In lexicon also found a difference between Javanese in Dermayu Village and Standart Javanese. The difference is found in the root of Swadesh that has developed into the basic cultural vocabulary according of the meaning. In lexicon also found the lexicon variations betwee Javanese Dermayu and standard Javanese. There are five variations of Javanese at Dermayu with Javanese standard, follows: the phonethic variation, semantic, onomasiologis, semasiologis, and morphological variation.
87999135B1J009094KARAKTERISTIK PREDASI TUNGAU PREDATOR Phytoseius sp.
TERHADAP STADIUM LARVA Tetranychus urticae PADA SKALA LABORATORIUM
Tetranychus urticae merupakan tungau hama pada tanaman singkong (Manihot esculenta) yang menyerang bagian permukaan bawah daun. Phytoseius sp. merupakan salah satu musuh alami Familia Phytoseiidae yang berpotensi sebagai agen pengendali hayati tungau hama T. urticae. Meskipun demikian sebelum tungau predator ini dapat dinyatakan sebagai agen pengendali hayati tungau hama T. urticae, berbagai kriteria harus dipenuhi terlebih dahulu. Pentingnya menentukan karakteristik predasi (search and destroy type dan lying-in wait type) tungau predator Phytoseius sp. merupakan bagian terpenting dalam meningkatkan efektivitas tungau predator tersebut serta dalam strategi augmentasi tungau predator guna mengendalikan tungau Tetranychus urticae. Metode yang akan digunakan adalah metode eksperimental dengan rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang dicobakan adalah jumlah individu stadium larva tungau hama T. urticae sebanyak 2, 4 dan 6 individu yang diberikan pada satu individu tungau predator Phytoseius sp., setiap perlakuan diulang sebanyak 8 kali. Dicatat lama waktu mencari dan menangani mangsa (search and destroy type) serta lama waktu menunggu dan menangani mangsa (lying-in wait type) untuk setiap individu tungau predator Phytoseius sp. dalam 12 jam waktu pengamatan. Metode untuk analisis data menggunakan analisis ragam (Uji F) pada tingkat kesalahan 5% dan 1%. Apabila terdapat perbedaan yang nyata atau sangat nyata, dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan pada tingkat kesalahan yang sama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama waktu menunggu dan lama waktu mempredasi oleh tungau predator Phytoseius sp. semakin singkat pada kepadatan tungau T. urticae yang rendah dibandingkan kepadatan normal apalagi tinggi. Karakteristik predasi tungau predator Phytoseius sp. terhadap tungau hama T. urticae tergolong ke dalam karakteristik predasi lying-in wait type.Tetranychus urticae is mite in cassava plant (Manihot esculenta) which attacks the under the surface of leaf. Phytoseius sp. is one of natural enemies of Familia Phytoseiidae which is potential to control pest mite T. urticae. Nevertheless, before this predator mite can be stated as the natural controller agent of predator for pest mite T. urticae, it should meet several criteria. The importance of determining the predation characteristic (search and destroy type and lying-in wait type) of predator mite Phytoseius sp. is the most important part in increasing the effectiveness of predator mite and in augmentation strategy of predator mite in order to control Tetranychus urticae. This research employed experimental method using Complete Random Plan (RAL). The treatment treated was the number of mite larva. Mite larva T. urticae at about 2, 4 and 6 was given one predator mite Phytoseius sp. Each treatment was redone 8 times. The duration of searching and destroying prey (search and destroy type) and that of waiting and destroying prey (lying-in wait type) were recorded for each predator mite Phytoseius sp. in 12 hours of observation time. This research employed variance analysis (F test) as data analysis method at error rate at 5% and 1%. If there was significant or extremely significant difference, it was continued with Duncan multiple range test in the same error rate. The research result depicts that the duration of waiting and predation of predator mite Phytoseius sp. was faster in low density of T. urticae than in normal or even high density. Predation characteristic of predator mite Phytoseius sp. towards pest mite T. urticae belonged to lying-in wait type.
88009136B1J009051KERAGAMAN DAN PREVALENSI EKTOPARASIT SERTA INTENSITASNYA PADA IKAN MAS (Cyprinus carpio L.) SECARA POLIKULTUR DI DESA BEJI KECAMATAN KEDUNGBANTENG KABUPATEN BANYUMAS

Ikan Mas (Cyprinus carpio L.) banyak dibudidayakan di Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas dengan sistem polikultur. Keberhasilan dalam budidaya polikultur salah satunya dipengaruhi oleh infeksi ektoparasit. Telah dilakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui keragaman, prevalensi, dan intensitas ektoparasit pada ikan mas yang dibudidayakan dengan sistem polikultur. Penelitian dilakukan dengan metode survey dan sampling ikan mas dilakukan secara simple random pada kolam polikultur dan diulang sebanyak 4 kali, dengan selang waktu setiap satu minggu. Pemeriksaan dan identifikasi ektoparasit dilakukan di Laboratorium Entomologi - Parasitologi Fakultas Biologi UNSOED dengan membuat preparat rentang. Hasil dari penelitian ditemukan enam spesies, yaitu Trichodina sp., Epistylis sp., Icthyopthirius sp., Tetrahymena sp., Oodinium sp., dan Dactylogyrus sp.. Tingkat keragaman ektoparasit pada ikan mas sebesar 0,79 termasuk dalam keragaman yang rendah. Prevalensi ikan mas yang terinfeksi ektoparasit sebesar 86.67% termasuk kategori “usually” atau selalu ada dan Trichodina sp. memiliki nilai prevalensi yang tertinggi dengan nilai 35% yang termasuk kategori “commonly” atau umum. Intensitas ektoparasit pada ikan mas yang tertinggi adalah Epistylis sp. sebesar 22,73 ind/ekor dan intensitas yang terendah adalah Oodinium sp. sebesar 1 ind/ekor.Carp (Cyprinus carpio L.) is widely cultivated in the Beji village subdistrict Kedungbanteng, Banyumas with polyculture system. Success in polyculture cultivation is influenced by ectoparasites infection. Research has been conducted in order to determine the diversity, prevalence, and intensity of ectoparasites on farmed carp polyculture systems. The study was conducted by survey method and sampling conducted carp in pool. polyculture simple random and with 4 replications, with one-week interval each. Examination and identification of ectoparasites were carried out in the Laboratory of Entomology - Parasitology, Faculty of Biology UNSOED to make preparations ranges. The results of the study found six species, namely Trichodina sp., Epistylis sp., Icthyopthirius sp., Tetrahymena sp., Oodinium sp., and Dactylogyrus sp .. The level of diversity of ectoparasites in carp by 0.79 is included in a low diversity. The prevalence of ectoparasites infected carp was 86.67% was "usually" or always there and Trichodina sp. had the highest prevalence value with the value of 35% that are "commonly" or common. The intensity of ectoparasites in carp was highest Epistylis sp. amounted to 22.73 ind / tail and the lowest intensity was Oodinium sp. by 1 ind / tail.