Artikelilmiahs
Menampilkan 8.701-8.720 dari 48.907 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 8701 | 9081 | D1F012002 | KARAKTERISTIK BOBOT TUBUH DOMBA PADA KELOMPOK TANI TERNAK PROGRAM SARJANA MEMBANGUN DESA BERDASARKAN UMUR FISIOLOGIS DAN JENIS KELAMIN | Penelitian bertujuan untuk mengetahui (1) bobot tubuh domba pada masing-masing umur fisiologis (cempe, muda dan dewasa), (2) perbedaan bobot tubuh domba pada masing-masing bangsa (Domba Batur (DB), Domba Ekor Tipis(DET) dan Domba Ekor Gemuk (DEG)), (3) perbedaan bobot tubuh domba antara jantan dan betina pada masing-masing umur fisiologis dan (4) hubungan antara umur kronologis dengan bobot tubuh domba pada kelompok tani ternak (KTT) program Sarjana Membangun Desa (SMD). Penelitian dilakukan pada KTT program SMD di Kabupaten Banjarnegara, Brebes, Cilacap, Pemalang dan Tegal. Variabel yang diamati meliputi bobot tubuh cempe(jantan dan betina), muda (jantan dan betina) dan dewasa (jantan dan betina). Analisis statistik deskriptif, analisis variansi, uji t dan analisis regresi digunakan pada penelitian. Data bobot tubuh domba DB, DET dan DEG dikoleksi dari 174 ekor cempe, 83 ekor domba muda dan 268 ekor domba dewasa pada 8 KTT program SMD aktif (Lj Mandiri, Manunggal Mandiri, Tunas Harapan, Kendil Makmur, Sido Makmur, Perkasa 1, Maenda Rahayu dan Gapura Rahayu). Hasil penelitian sebagai berikut: rataan bobot tubuh cempe jantan DB 22,09 ± 6,66 kg, cempe betina 20,56 ± 3,99 kg.Muda jantan 24,14 ± 2,41 kg, muda betina 25,62 ± 4,52 kg. Dewasa jantan 57,85± 4,93, dewasa betina 39,51 ± 6,02. Bobot tubuh cempe jantan DET 10,12 ± 1,64 kg, cempe betina 9,20 ± 0,44 kg. Muda jantan 15,73 ± 1,48 kg, muda betina 15,85 ± 1,34 kg. Dewasa jantan 29,26 ± 1,82 kg, dewasa betina 22,66 ± 3,14 kg. Bobot tubuh cempe jantan DEG 12,00 ± 1,64 kg, cempe betina 7,70 ± 1,26 kg. Muda jantan 13,60 ± 0,91 kg, muda betina 13,12 ± 1,24 kg. Dewasa jantan 47,95 ± 4,80 kg, dewasa betina 31,20 ± 2,22 kg. Terdapat perbedaansangat nyata(P<0,01) bobot tubuh domba antar bangsa DB, DET dan DEG, tetapi tidak pada semua umur fisiologis.Bobot tubuh domba pada umur fisiologis cempe jantan DEG, dewasa jantan DB, dewasa jantan DET dan dewasa jantan DEG nyata lebih tinggi (P<0,01) dari bobot tubuh domba betina.Bobot tubuh domba masing-masing pada DB, DET dan DEG dipengaruhi umur yaitu sebesar DB (69,40%), DET (62,10%) dan DEG (81,70%). | The studyaims todetermaine(1)the body weight of sheep in each physiological age (lamb, young sheep and sheep), (2) difference in body weight of sheep in each breed (Batur Sheep (BS),Javanese Thin Tail Sheep (JTT)and Javanese Fat-Tailed Sheep (JFT)), (3) difference in body weight between male and female lambs at each physiological age and (4) relationship between chronological age with body weight of sheep in farmer group Sarjana MembangunDesa(SMD) programs. The study was conducted farmer groupin the SMD Banjarnegara, Brebes, Cilacap, Pemalang and Tegaldistrict. Variables observed included lamb body weight (male and female), young (male and female) and sheep (ram and ewes). Descriptive statistical analysis, analysis of variance, t test and regression analysis were used in the study. Body weight data were collected from 174 lambs, 83 youngsheep and 268 sheep at 8 farmer group active SMD program (Lj Mandiri, Mandiri Manunggal, Tunas Harapan, Kendil Makmur, Sido Makmur Perkasa 1, Maenda Rahayu and Gapura Rahayu). The following results: the mean body weight of male BSlamb is 22.09 ± 6.66 kg, 20.56 ± 3.99 females lamb kg. Young males 24.14 ± 2.41 kg, 25.62 ± 4.52 female young kg. Ram 57.85 ± 4.93, 39.51 ± 6.02 ewes.Lamb male body weight 10.12 ± 1.64 kg JTT, lamb females 9.20 ± 0.44 kg. Young males 15.73 ± 1.48 kg, 15.85 ± 1.34 female young kg. Ram 29.26 ± 1.82 kg, ewes 22.66 ± 3.14 kg. Lamb male body weight 12.00 ± 1.64 kg JFT, lamb females 7.70 ± 1.26 kg. Young males 13.60 ± 0.91 kg, 13.12 ± 1.24 female young kg. Ram 47.95 ± 4.80 kg, ewes 31.20 ± 2.22 kg. There is a highly significant difference (P <0.01) body weight of sheep among breedBS, JTT and JFT, but not at all physiological age. Body weight of sheep in the physiological age lambJFT male, BS ram, JTT ram and JFTram significantly higher (P<0,01) than the body weight of ewes. Body weight of each lamb at BS, JTT and JFT affected the life that is equal to BS (69.40%), JTT (62.10%) and JFT (81.70%). | |
| 8702 | 9082 | H1E009004 | PENDUGAAN SEBARAN BATUAN GRANODIORIT MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK RESISTIVITAS KONFIGURASI WENNER DI DESA BASEH KECAMATAN KEDUNGBANTENG KABUPATEN BANYUMAS | Penelitian geolistrik resistivitas dengan konfigurasi Wenner telah dilakukan di Desa Baseh, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui penyebaran batuan granodiorit. Pengukuran dilakukan pada tiga lintasan menggunakan Resistivitymeter tipe Naniura NRD 22 S. Pengolahan data menggunakan perangkat lunak Res2Dinv 3.54. Hasil pengolahan data adalah model sebaran nilai resistivitas batuan dan litologi batuan bawah permukaan tanah. Interpretasi struktur batuan bawah permukaan menunjukkan bahwa batuan granodiorit di lintasan 1 berada pada kedalaman 2,5 – 12,8 m dengan nilai resistivitas sebesar 378 – 1.004 Ωm yang menyebar dari arah Utara ke Selatan. Lintasan 2, batuan granodiorit berada pada kedalaman 2,5 – 18,5 m dengan nilai resistivitas sebesar 462 – 898 Ωm yang menyebar dari arah Timur ke Barat. Lintasan 3, batuan granodiorit terdapat pada kedalaman 2,5 – 24,9 meter dengan nilai resistivitas sebesar 1.566 – 3.540 Ωm yang menyebar dari arah Utara ke Selatan | The research of geoelectrical resistivity with Wenner configuration has been done at Baseh village, Kedungbanteng District, Banyumas. The aim of the research was to determine the spread of granodiorite rocks. The measurements were taken on three lines use Resistivitymeter Naniura type NRD 22 S. The data processing using software Res2Dinv 3.54. The results of the data processing is a model of distribution resistivity value of rocks and rocks lithology under subsurface. Interpretation of subsurface rock structures shows that the granodiorite rocks on the line 1 is at a depth of 2.5 to 12.8 m with resistivity values of 378 – 1.004 Ωm which spread from North to South direction. Line 2, granodiorite rocks were at a depth of 2.5 to 18.5 m with resistivity values of 462 – 898 Ωm which spread from East to West. Line 3, granodiorite rocks at a depth of 2.5 to 24.9 m with a resistivity values of 1.566 -3540 Ωm which spread from North to South direction. | |
| 8703 | 9083 | D1E010222 | PEMANFAATAN TEPUNG LIMBAH SURIMI DAN AMPAS KECAP UNTUK FORMULASI MILK REPLACER ANAK KAMBING PRA SAPIH TERHADAP KECERNAAN BAHAN KERING DAN ORGANIK SECARA IN VITRO | Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kecernaan bahan kering (KBK) dan kecernaan bahan organik (KBO) berbahan dasar tepung limbah surimi dan tepung ampas kecap secara in vitro. Penelitian dilaksanakan mulai tanggal 20 Mei sampai 10 Juni 2014 di Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Materi penelitian menggunakan formulasi MR yang terdiri atas bahan basal (20% susu skim, 20% pollard, 10% bungkil kelapa, 9,4% tepung tapioka, 0,5 % mineral dan 0,1% probiotik), tepung limbah surimi (TLS) dan Tepung Ampas Kecap (TAK) serta cairan rumen kambing yang diperoleh dari Rumah Potong Hewan Sokaraja. Penelitian menggunakan metode eksperimental dengan rancangan penelitian Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan terdiri atas MR0: kontrol (susu sapi murni dalam bentuk bubuk), MR1: 60% bahan basal + 30% TLS + 10% TAK, MR2: 60% bahan basal + 20% TLS + 20% TAK dan MR3: 60% bahan basal + 10% TLS + 30% TAK serta cairan rumen kambing. Metode penelitian adalah eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) untuk kecernaan bahan kering (KBK) dan kecernaan bahan organik (KBO). Data analisis menggunakan analisis variansi dan dilanjutkan dengan uji beda nyata jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan berpengaruh sangat nyata terhadap kecernaan bahan kering (P<0.01) dan berpengaruh nyata pada kecernaan bahan organik (P<0.05). Berdasarkan uji beda nyata jujur (BNJ), Kecernaan bahan kering MR0 65,73%; MR1 64,87%; dan MR2 62,41% tidak berbeda nyata. Akan tetapi MR0 (65,73%) dengan MR3 (53,54%) berbeda nyata. Kecernaan bahan organik MR1 67,54%; MR2 64,55%; MR0 59,47% tidak berbeda nyata, akan tetapi MR1 (67,54%) dengan MR3 (54,66%) berbeda nyata. Kesimpulan dari penelitian menyatakan formulasi MR1 merupakan milk replacer terbaik untuk menggantikan susu sapi murni. | The research aimed to evaluate dry matter digestibility (DMD) and organic matter digestibility (OMD) of cow Milk Replacer by in vitro. The experiment was conducted from May 20th to June 10th 2014 in the Laboratory of Nutrition Science, Faculty of Animal Science, Jenderal Soedirman University, Purwokerto. The materials of this research were MR formula consisted of basal materials (20% skim milk, 20% pollard, 10% coconut meal, 9.4%tapioca powder, 0.5% minerals and 0.1% probiotics), surimi waste powder (SWP) and ketchup dregs powder (KDP) and goat rumen fluid obtained from Slaughterhouses, Sokaraja. The method was an experimental research using completely randomized design (CRD) for dry matter digestibility and organic matter digestibility. The treatment consisted of MR0: control (pure milk of cows in powder form), MR1: 60% of basal materials + 30% TLS + 10% TAK, MR2: 60% of basal materials + 20% TLS + 20% TAK and MR3: 60% of basal materials + 10% TLS + 30% TAK. The data were analyzed using analysis of variance followed by honestly significant difference test (HSD). The results showed that the treatment gave very significant effect on dry matter digestibility (P<0.01), and significant effect on organic matter digestibility (P<0.05). Based on the test of honestly significant difference (HSD), dry matter digestibility MR0 65,73%; MR1 64,87%; and MR2 62,41% was not significantly different. However MR0 (65,73%) with MR3 (53,54%) was significantly different. Organic matter digestibility MR1 67,54%; MR2 64,55%; MR0 59,47% was not significantly, However MR1 (67,54%) with MR3 (54,66%) was significantly different. The conclusion of the study is, milk replacer formula (MR1) is the best to replace pure milk of cows. | |
| 8704 | 10619 | H1I011004 | PENGARUH PERBEDAAN PADAT PENEBARAN TERHADAP KUALITAS AIR, SINTASAN, DAN PERTUMBUHAN BENIH IKAN PATIN (Pangasius hypopthalmus) YANG DIBERI PROBIOTIK EM4 | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian dosis probiotik EM4 dan perbedaan padat penebaran terhadap kualitas air, sintasan, dan pertumbuhan benih ikan patin (Pangasius hypopthalmus). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap pola faktorial 3 x 2 x 3. Kombinasi perlakuan dalam penelitian ini adalah perbedaan dosis probiotik EM4 sebanyak 0, 0,5, atau 1 mL/L dengan padat penebaran 1 atau 2 ekor/L. Benih ikan patin dipelihara selama 28 hari dengan frekuensi pemberian pakan 2 kali sehari dan tanpa pergantian air selama penelitian. Parameter yang diteliti yaitu kualitas air, sintasan, dan pertumbuhan mutlak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian dosis probiotik EM4 hanya berpengaruh nyata terhadap kandungan ammonia namun tidak berpengaruh nyata terhadap kandungan nitrit, sintasan, dan pertumbuhan mutlak benih ikan patin. | This research aimed to evaluate use of different dose of probiotic and rearing density to improve water quality, survival rate, and growth of catfish (Pangasius hypopthalmus). Experimental method was used based on factorial completely random design of 3 x 2 x 3 pattern. Treatments were performed to combine 0, 0,5 or 1 mL/L of probiotic dose with 1 or 2 fish/L of rearing density. Fish was reared for 28 days, fed twice perday and water was not changed during the experiment. Water quality parameter, survival rate, growth rate were observed. Results showed that probiotic significantly decreased level of ammonia. However there was not a significant different in level of nitrit, survival rate and growth rate among treatments. | |
| 8705 | 10606 | F1B009045 | EFEKTIFITAS IMPLEMENTASI PROGRAM BEDAH KAMPUNG DI DESA BANJARSARI KECAMATAN AJIBARANG KABUPATEN BANYUMAS | Desa Banjarsari Kecamatan Ajibarang merupakan salah satu desa yang masih memiliki banyak rumah dengan kondisi tidak layak huni. Berdasarkan kondisi tersebut Desa Banjarsari Kecamatan Ajibarang mendapatkan bantuan Program Bedah Kampung di Kabupaten Banyumas pada tahun 2012. Penelitian ini akan membahas mengenai implementasi Program Bedah Kampung di Desa Banjarsari Kecamatan Ajibarang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh faktor komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi terhadap efektifitas implementasi program Bedah Kampung di Desa Banjarsari Kecamatan Ajibarang. Empat variabel yang akan dijadikan fokus dari penelitian ini mengutip dari model implementasi Edward III yang meliputi komunikasi, sumber-sumber, disposisi atau kecenderungan-kecenderungan dan struktur birokrasi. Indikator mengenai efektivitas yang dipergunakan adalah indikator dari Subagyo, yaitu ketepatan sasaran, sosialisasi program, tujuan dan pemantauan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan menggunakan metode survey, yaitu penelitian yang mengambil sampel dari sebuah populasi dan menggunakan kuesioner sebagai pengumpul data yang pokok. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian adalah sample random sampling. Teknik pengumpulan datanya adalah dengan kuisioner, wawancara, observasi dan dokumentasi. Untuk pengujian validitas instrumen penelitian berupa skor yang memiliki tingkatan (ordinal), rumus yang digunakan adalah rumus korelasi product moment (product moment corelation formula) sedangkan uji reliabilitas menggunakan teknik dari cronbach yaitu dengan menggunakan koefisian alpha (α). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif yaitu melakukan analisis dan melalui uji statistik terhadap hipotesis yang diajukan, untuk mengetahui pengaruh variabel yang diteliti. Dalam penelitian ini, komunikasi, sumber-sumber, disposisi dan struktur birokasi secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap efektivitas implementasi kebijakan program bedah kampung di Desa Banjarsari Kecamatan Ajibarang. Program Bedah Kampung yang sedang berjalan telah dapat memberikan hunian yang bagus dan semangat kepada warganya untuk meningkatkan ekonomi keluarga. | The village of Banjarsari in A jibarang is one of villages which still has many inhabitable houses. Based on this condition, the village of Banjarsari in Ajibarang got Program Bedah Kampung in Banyumas in 2012. This research discusses about the implementation of Program Bedah Kampung in the village of Banjarsari in Ajibarang. This research is aimed at finding out the influence of communication factors, sources, dispositions and bureaucrachy structures towards the effectiveness of implementation program of Bedah Kampung in the village of Banjarsari in Ajibarang. The four variables which will be the focus of this research are taken from implementation model Edward III which covers communication, sources, dispositions or tendencies and bureaucrachy structure. The indicator of the effectiveness that is used is the indicator from Subagyo, such as target accuracy, programme sosilaization, purpose and monitoring. The research method that is used is quantitative method by using survey method in which the research takes some samples from a population and uses questionnaire as the main data sources. The sampling technique used in this research is sample random sampling. The data collecting technique is done by using questionnaire interview, observation and documentation. To test the research instrument validity which is in the form of ordinal level the formula used is product moment correlation formula. Mean while, the reliability test is conducted by using a technique from Cronbach that uses alpha (α) coefficient. The method used this research is quantitative method in which the researcher conducts the analysis and statistic test towards the hypotheses which is proposed to find out the variable influence that is observed. In this research, communication, sources, dispositions and bureaucrachy structures influences significanly to the implementation effectiveness of the programme policy of Bedah Kampung in the village of Banjarsari in Ajibarang. Program Bedah Kampung which is running has been able to give habitable houses and excitement to the people there to increase the family economic level. | |
| 8706 | 10631 | H1K010011 | UJI POTENSI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI LAUT PENDEGRADASI HIDROKARBON MINYAK BUMI DARI PERAIRAN SAMUDERA HINDIA | Proses pengolahan dan transportasi minyak bumi sering menghasilkan kebocoran, kecelakaan dan menyebabkan tumpahan minyak secara langsung ke lingkungan laut diantaranya Samudera Hindia. Penelitian ini bertujuan menguji, mengetahui potensi dan mengidentifikasi isolat bakteri yang berpotensi dalam mendegradasi hidrokarbon minyak bumi dari perairan Samudera Hindia. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu uji emulsifikasi, dan kadar minyak bumi dengan gravimetri. Total 30 isolat bakteri yang diujikan terdapat 6 isolat yang mampu mendegradasi hidrokarbon minyak bumi. Hasil degradasi minyak bumi oleh bakteri laut selama 10 hari memperlihatkan bahwa hasil degradasi terbesar pada isolat 21SH (70.26%), diikuti dengan isolat 39SH (67.71%), 23SH (65.52%), 4SH (60.92%), 9SH (59.45%), dan 42SH (26.14%). Identifikasi molekuler berbasis 16S rDNA dan analisis sekuen DNA dengan program penelusuran database Basic Local Alignment Search Tool (BLAST) diketahui isolat 4SH memiliki kemiripan dengan spesies Bacillus aquimaris (98%), 21SH dengan spesies Bacillus thioparans (100%), 23SH dan 39SH dengan spesies Bacillus horikoshii (99% dan 98%). | Processing and transportation of petroleum often produce leaks, accidents and causing oil spills directly into the marine environment. Such as in the example of maritime lanes of the Indian Ocean. This research aims to screen petroleum and identify potential bacterial isolates from the Indian Ocean to degrade petroleum hydrocarbon. The analysis performed in this research include emulsification test, and hydrocarbon content using gravimetric method. A thirty isolates bacteria as the agent of bioremediation petroleum hydrocarbon there are six isolates capable to degrade petroleum hydrocarbon The result during ten days course showed the higher removal with isolate bacteria performance was for strain 21SH (70.26%) followed by isolates 39SH (67.71%), 23SH (65.52%), 4SH (60.92%), 9SH (59.45%) and 42SH (26.14%). Molecular identification based 16S rDNA and analysis of DNA sequences in a database search Basic Local Alignment Search Tool (BLAST) allowed to identify 4SH as Bacillus aquimaris (98%), 21SH as Bacillus thioparans (100%), 23SH and 39SH as Bacillus horikoshii (99% and 98%). | |
| 8707 | 10620 | E1A109082 | PEMBUKTIAN ALAT BUKTI HASIL CETAK BLACKBERRY MESSENGER DALAM KASUS ANGELINA SONDAKH (Studi terhadap Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor : 54/Pid.B/TPK/2012/PN.Jkt.Pst) | Perkembangan Teknologi, informasi dan komunikasi menjadi sorotan pada zaman moderen ini. Karena banyak perubahan yang disebabkan oleh perkembangan yang berdampak pada maraknya tindak pidana dengan menggunakan media elektronik, salah satunya komunikasi menggunakan BlackBerry Messenger selain itu perubahan atau perkembangan terjadi dalam hal pembuktian dalam hukum acara pidana yaitu bahwa alat bukti informasi elektoronik dan/atau dokumen elekronik dan/atau hasil cetaknya dapat dijadikan alat bukti dalam hukum acara pidana di indonesia, hal tersebuat tentu saja tidak sesuai dengan Pasal 184 KUHAP yang sifatnya limitatif. Namun hal ini sudah diperluas dengan adannya Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penggunaan alat bukti informasi dan transaksi elektronik yang berupa hasil cetak Blackberry Messenger dalam pembuktian di persidangan mengenai tindak pidana korupsi Angelina Sondakh berdasarkan Putusan Nomor 54/Pid.B/TPK/2012/PN.Jkt.Pst. Pendekatan yang digunakan adalah yuridis normatif yaitu penelitian yang menggunakan legis positifis, yang menyatakan bahwa hukum identik dengan norma- norma tertulis yang dibuat dan diundangkan oleh lembaga atau pejabat yang berwenang. Data kemudian dianalisis menggunakan metode analisi normatif kulitatif. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa alat bukti hasil cetak BlackBerry Messenger termasuk alat bukti surat yang sah menurut Pasal 5 ayat (1) dan (2) undang undang nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik dan merupakan perluasan dari Pasal 184 Undang- Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana mengenai alat bukti yang sah dan sifatnya limitatif atau terbatas dengan yang ditentukan saja. | The development of information and communication technologies, to the spotlight in these modern times. Because of many changes caused by the developments that have an impact on the rise of criminal acts by using electronic media, one communication using BlackBerry Messenger in addition changes or developments occur in terms of proof in criminal procedure law, namely that the evidence elektoronik information and/or documents elekronik and/or print the results can become evidence in a criminal procedure law in indonesia, it tersebuat certainly not pursuant to section 184 limitatif punitive CODE of CRIMINAL PROCEDURE. However this has been expanded with the adannya law number 11 Year 2008 Of the information and electronic transactions. This research was conducted to find out the information and evidence of the use of electronic transactions in the form of prints Blackberry Messenger in the proof in the trial concerning the criminal offence of corruption Angelina Sondakh based on Decision No. 54/Pid. B/TPK/2012/PN.Jkt.Pst. The approach used is the juridical normative is research using legis positifis, which States that the law is identical to the written norms that are created and enacted by the agency or the competent authority. The data are then analyzed using the methods of normative analysis qualitative. Based on the results of the study revealed that the imprint evidence included proof of BlackBerry Messenger letter is legitimate according to article 5 paragraph (1) and (2) the law number 11 year 2008 of the information and electronic transactions and is an extension of article 184 the Act No. 8 of 1981 on the law of criminal procedure concerning the means of valid evidence and its nature or limited with limitatif specified only. | |
| 8708 | 9087 | E1A010226 | NETRALITAS PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM PELAKSANAAN PEMILUKADA DI KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2013 | Pengertian Pegawai Negeri Sipil menurut pasal Pasal 1 angka 1 Undang Undang No 43 tahun 1999 Tentang Perubahan Undang Undang No 8 tahun 1974 tentang Pokok Pokok Kepegawaian adalah setiap warga negara Republik Indonesia yang telah memenuhi syarat yang ditentukan, diangkat oleh pejabat yang berwenang dan diserahi tugas dalam suatu jabatan negeri, atau diserahi tugas negara lainnya, dan digaji berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam menjalankan tugas dan fungsinya PNS harus bersikap netral, bersikap netral artinya PNS harus bebas dari semua pengaruh golongan dan partai politik. Netralitas Pegawai Negeri Sipil bertujuan agar PNS dapat menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik. Pelaksanaan Netralitas juga harus diterapkan dalam pelaksanaan Pemilukada di Kabupaten Banyumas Tahun 2013. Metode penelitian dalam penulisan ini adalah Sosiologis Yuridis. Hasil penelitian menunjukan bahwa pengetahuan PNS mengenai Netralitas PNS adalah sangat baik, hal ini didapat dari data primer yang telah diolah menunjukan bahwa 6 % PNS memiliki pengetahuan mengenai Netralitas tidak baik, sebanyak 45 % responden memiliki pengetahuan mengenai netralitas yang baik, dan sebanyak 49 % mempunyai pemahaman mengenai Netralitas yang sangat baik. Dalam Pemilukada Kabupaten Banyumas tahun 2013 terdapat dua calon Wakil Kepala Daerah yang berstatus sebagai PNS, yaitu dr. GS dan Drs. DB. Bagi PNS yang hendak mencalonkan diri menjadi Kepala Daerah, bagi PNS yang hendak mengikuti Pemilukada wajib mengundurkan diri dari jabatan negeri sebelum mengikuti Pemilukada. Pelaksanaan Netralitas PNS bagi PNS yang tidak menjadi calon Kepala Daerah dapat dikatakan baik, hal ini didasarkan atas wawancara, dan inventarisasi data Panwaslu, meskipun dari hasil kuisioner menunjukan bahwa adanya pelanggaran yang menunjukan keikutsertaan PNS dalam kampanye, yaitu sebanyak 7 %. | Definition of Civil Servant according to section 1 point 1 of Article No. 43 of Law 1999 on the Amendment Act No. 8 of 1974 on Basic Principles of Civil Servant is every citizen of the Republic of Indonesia, which has been determined eligible, appointed by the competent authority and entrusted with the task in an office of the country, or other countries tasked, and paid based on the laws and regulations in force. In carrying out the duties and functions, Civil Servants should be neutral, neutral means that Civil Servants should be free from all influence of groups and political parties. The problem of Research were taken: Neutrality of the Civil Servants aims to make civil servants can complete their duties and functions well. Neutrality Implementation should also be applied in Banyumas General Election in 2013. Research method in this paper was Juridical Sociology. The results showed that Civil Servants’ knowledge about the Neutrality of Civil Servant was very good, it’s obtained from the primary data that have been processed indicated that 6% Civil Servants had knowledge about the neutrality were not good, there were 45% of respondents had a good knowledge of neutrality, and there were 49% had an understanding about Neutrality were very good. In Banyumas General Election of 2013, there were two candidates for the Deputy Regional Head status as Civil Servants, namely dr. GS and Drs. DB. For Civil Servants who want to be candidate for Regional Head, for Civil Servants who want to participate the Regional General Election is obligated to resign the position before registering the Regional General Election. Implementation of Civil Servants’ neutrality for civil servants who were not be candidates for Regional Heads can be said was good, this is based on interviews and data inventory Election Supervisory Committee, although the results of the questionnaire showed that the presence of which indicates the participation of civil violation preformance campaign, was 7%. | |
| 8709 | 9085 | G1B010049 | EFEKTIVITAS PENDAMPINGAN SAFETY BEHAVIOR PADA TENAGA KERJA BULU MATA PALSU BAGIAN KNITING DESA PENARUBAN KECAMATAN KALIGONDANG KABUPATEN PURBALINGGA | Tenaga kerja bulu mata palsu bagian kniting merupakan pekerjaan dengan risiko penyakit akibat kerja yang tinggi seperti sakit tulang belakang, sakit pinggang, dan penurunan ketajaman penglihatan. Tenaga kerja harus menerapkan perilaku aman untuk mengurangi risiko kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Diperlukan suatu metode pendidikan kesehatan untuk menciptakan perilaku aman pada tenaga kerja. Metode pendampingan adalah metode pendidikan yang langsung melibatkan interaksi searah antara pendamping dan yang didampingi. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat efektivitas pendampingan safety behavior pada tenaga kerja bulu mata palsu bagian kniting Desa Penaruban Kecamatan Kaligondang Kabupaten Purbalingga. Metode yang digunakan adalah quasy eksperiment dengan rancangan pre-test dan post-test. Populasi dan sampel dalam penelitian ini berjumlah 40 orang tenaga kerja bulu mata palsu bagian kniting dengan teknik sampel yaitu total sampling. Analisis data yang digunakan adalah uji Wilcoxon dan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukan bahwa pendampingan efektif dalam meningkatkan perilaku aman pada tenaga kerja bulu mata palsu bagian kniting. Pendampingan hendaknya diterapkan secara berkesinambungan untuk menciptakan perilaku aman kerja. | Syntethic eyelashes worker part kniting is a work with high risk of occupational disease, for eksamlpe low back pain, and decreased visual acuity. Worker should implement safety behavior to reduce the risk of occupational accidents and occupational diseases. Required a health education method to create safety behavior on worker. Assistance is a method of education that involves direct interaction between the companion and the accompanied. The purpose of this researchwas to know at the effectiveness of safety behavior assistance on syntethic eyelash part kniting in Penaruban Village Kaligondang Subdistrict Purbalingga District. The method used a quasy-experiment with pre-test and post-test design. Population and samples in this research are 40 workers with total sampling techniques. Analysis of the data used Wilcoxon test and Mann-Whitney test. The results showed that mentoring was effective in increasing safe behavior on worker. Assistence should be implemented routinely to create a safe behavior on worker. | |
| 8710 | 9084 | D1E010025 | KAJIAN KADAR AIR DAN KADAR GARAM TELUR ASIN DENGAN METODE PEMASAKAN YANG BERBEDA | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar air dan kadar garam telur asin dengan metode pemasakan yang berbeda. Penelitian dilaksanakan tanggal 2 sampai dengan 12 Juli 2014 di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Materi penelitian yang digunakan adalah 90 butir telur itik, 1602 g garam, 6498 g serbuk batu bata dan air secukupnya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode Rancangan Acak Lengkap dengan 3 perlakuan dan 6 ulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu P1= pemasakan dengan perebusan selama 60 menit suhu 100 C, P2= pemasakan dengan perebusan selama 60 menit suhu 100 C, P3= pemasakan dengan pengovenan selama 60 menit suhu 100 C. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis variansi kemudian dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa cara pemasakan perebusan, pengukusan dan pengovenan memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap kadar air dan kadar garam telur asin. Hasil uji Beda Nyata Jujur (BNJ) untuk kadar air menunjukkan pemasakan dengan cara perebusan (P1) berbeda sangat nyata dengan cara pengovenan (P3) dengan rataan masing-masing 70,17±1,54 persen dan 65,42±2,87. Kadar garam telur asin setiap perlakuan meunjukkan kadar garam yang berbeda antara perebusan sebesar 0,87±0,05 persen, pengukusan 1,24±0,20 persen dan pengovenan 1,62±0,23 persen. Kesimpulan, metode pemasakan dengan cara pengukusan dan pengovenan mempunyai kadar air yang tidak berbeda, akan tetapi pemasakan dengan pengovenan mempunyai kadar garam yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode pemasakan perebusan dan pengukusan. | This study aimed to determine the water content and salt content of salted eggs with different cooking methods. The study was carried out from July 2nd until 12th 2014 at the Laboratory of Animal Products Technology, Animal Science Faculty of Jenderal Soedirman University Purwokerto. The materials used in this study were 90 duck eggs, 1602 g, 6498 g brick powder and water. The method used in this study was completely randomized design (RAL) with 3 treatments and 6 replications. The treatments given were P1 = cooking by boiling for 60 minutes temperature 100 C, P2 = cooking by steaming for 60 minutes temparature 100 C, P3 = cooking by roasting for 60 minutes temperature 100 C. The data were analyzed by analysis of variance followed by Honesty Significant Difference (HSD). The results showed that different cooking methods were highly significantly (P< 0.01) diferent on water content and salt content of salted duck eggs. The results of Honesty Significant Difference test (HSD) for water content showed that cooking by boiling (P1) was significantly different relative to cooking by roasting (P3) with the averages of 70.17 ± 1.54 and 65.42 ± 2.87 percent respectively. The salinity among the treatments of boiled, steamed and roasted salted egg showed differentces with the average values of 0.87± 0.05 percent, 1,24±0,20 percent and 1.62±0.23 percent, respectively. The conclusion is, cooking by steaming and cooking by roasting have the similar water content and cooking by roasting had higher salinity compared to cooking by boiling and steaming. | |
| 8711 | 9086 | D1E009187 | PENGARUH BERBAGAI DOSIS PROSTAGLANDIN (PGF2α) DAN GnRH TERHADAP LITTER SIZE DAN LAMA KEBUNTINGAN PADA DOMBA GARUT | Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian berbagai dosis hormon Prostaglandin (PGF2α) dan GnRH terhadap litter size dan lama kebuntingan pada domba garut. Materi yang digunakan adalah 18 ekor domba Garut yang pernah melahirkan, serta 3 ekor domba jantan dewasa yang digunakan sebagai pejantan. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode eksperimental dan menggunakan Rancouldgan Acak Lengkap (RAL) faktorial, dengan enam perlakuan tiga kali ulangan dan setiap ulangan terdiri atas 3 ekor domba. Perlakuan yang diuji adalah pemberian hormon PGF2α 1 ml (P1), 1,5 ml (P2), 2 ml (P3) dan pemberian hormon GnRH 0 ml (G1) dan 1 ml (G2) berisi 300 IU secara intramuscular. Peubah yang diukur adalah Litter size dan Lama bunting. Data di analisis menggunakan analisis variansi dan dilanjutkan dengan uji lanjut beda nyata jujur (BNJ). Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa interaksi antara hormon PGF2α dan GnRH tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap litter size dan lama kebuntingan. Hasil penelitian menunjukan bahwa rataan litter size adalah 1,8 dan rataan lama bunting adalah 150,27 hari. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Pemberian hormon PGF2α dapat menyerentakan birahi dan memperpendek siklus birahi pada domba Garut tapi tidak berpengaruh terhadap litter size dan lama kebuntingan serta pemberian hormon GnRH dengan dosis 300 IU pada domba dapat menghasilkan lama kebuntingan yang relatif sama dan dapat meningkatkan litter size pada domba Garut hingga 60%. | The purpose of the study was to determine the effect of variuos doses of hormone prostaglandins (PGF2α) and GnRH on litter size and length of pragnancy of Garut sheep. The Materials that were used were 18 Garut sheep, that had ever given birth and 3 adult, male sheep. This research was conducted by experimental method, by using Completely Randomized Design (CRD) factorials pattern, with six treatments three replications and every replication consisted of 3 head of sheep. Tested Treatment were injections hormone PGF2α 1 ml (P1), 1.5 ml (P2), 2 ml (P3) and injections hormone GnRH 0 ml (G1) and 1 ml (G2) containing 300 IU by intramuscular. The observed Variables were recorded i.e. litter size and length of pregnancy. The data were analysed using analysis of variance. The result of analysis showed that the interaction between hormone PGF2α and GnRH was not significant (P>0.05) on litter size and length of pregnancy. The research showed that the average value of litter size was 1.8 and athe verage value of length of pregnancy was 150.27 days. The conclusion of this research is the injection of hormone PGF2α can synchronize estrous cycles and shortening estrous cycles in Garut sheep however it has no affect on the litter size and length of pregnancy and the injection of hormone GnRH with a dose 300 IU on sheep does not effect to length of pregnancy (relatively similar), and increases of litter size in Garut sheep by 60%. | |
| 8712 | 10621 | E1A010221 | PEMENUHAN HAK-HAK ANAK YANG BERSTATUS SEBAGAI TERSANGKA DALAM TAHAP PENYIDIKAN DI KEPOLISIAN DAERAH JAWA BARAT | Tersangka Anak pada dasarnya juga memiliki hak-hak yang sama dengan hak-hak yang dimiliki oleh seorang tersangka dewasa. Kepolisian merupakan ujung tombak dalam penanganan suatu tindak pidana yang harus memperhatikan hak-hak anak. Permasalahan dalam penelitian yang diambil antara lain: menganalisis pemenuhan hak-hak anak yang berstatus sebagai tersangka dalam tahap penyidikan di Polisi Daerah Jawa Barat. Kendala-kendala yang dihadapi oleh Kepolisian Daerah Jawa Barat dalam memenuhi hak-hak anak yang berstatus tersangka dalam tahap penyidikan di Kepolisian. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis sosiologis yaitu penelitian yang menekankan pada aspek-aspek sosiologis. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Sumber data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Pemenuhan hak-hak tersangka Anak dalam tahap penyidikan pada saat penangkapan, penahanan, pemeriksaan di Kepolisian Daerah Jawa Barat berbeda dengan cara tersangka Dewasa. Sedangkan kendala Kepolisian Daerah Jawa Barat dalam pemenuhan hak anak sebagai tersangka dalam proses penyidikan, yaitu belum adanya peraturan pemerintah sebagai penunjang pelaksanaan dalam hal pemenuhan hak anak sebagai tersangka ditahap penyidikan, belum mempunyai ruangan khusus untuk pemeriksaan anak, sumber daya manusia berupa penyidik anak masih sangat sedikit, masih banyak penyidik yang tidak paham undang-undang tersebut sehingga banyak penyidik yang masih belum paham secara detail, dan keluarga korban yang masih berfikir bahwa menuntut hukuman yang berat bagi tersangka anak dan tetap menuntut agar anak masuk dalam sistem peradilan pidana anak dan dihukum seberat-beratnya. | Child Suspect basically also has the same rights with the rights that owned by Adult Suspect. Police are the forefront in handling of a criminal offense that should pay attention to the rights of children. Problems that raised in the research include: analyzing the fulfillment of children’s rights who has status as a suspect in the investigation in West Java Regional Police. Constraints faced by West Java Regional Police in fulfilling the rights of children who become suspect in a police investigation phase. The approach that used in this research is a juridical sociological research, which is emphasizing on the sociological aspects. The data that have been obtained then analyzed by quantitative descriptive. Sources of data that used are primary data and secondary data. The fulfillment of rights for child suspect in the investigation phase at the time of arrest, detention, examination in West Java Regional Police is different with the adult suspect. While the constraints that faced by West Java Regional Police in order to fulfill the rights of child suspect in the investigation process, are there is not yet government regulation to support the implementation in the term of the fulfillment of children’s right as a suspect in the investigation phase, does not yet have a special room for children’s examination, the human resources especially the child investigator is still in a few, there are still many investigators who do not understand the law it is why many investigator are still not understand in detail, and the families of victim who still think that demanded severe punishment for child suspect and continue to demand that child to should entering the children criminal justice system and punished severe. | |
| 8713 | 11065 | H1D007087 | KAJIAN KELAYAKAN TEKNIS DAMPAK TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR SAMPAH TERHADAP AIR TANAH DI DESA BANJARAN, KECAMATAN BOJONGSARI, KABUPATEN PURBALINGGA | ABTRAKSI Pertumbuhan permukiman yang semakin cepat, selain berdampak pada naiknya kepadatan penduduk sebagai akibat semakin menyempitnya lahan-lahan yang digunakan untuk pemukiman juga menimbulkan persoalan baru, yaitu penumpukan volume sampah yang semakin meningkat dan berdampak pada estetika lingkungan maupun kesehatan masyarakat itu sendiri. Tumpukan sampah dapat menimbulkan kondisi lingkungan fisik - kimia menjadi tidak sesuai dengan kondisi normal, sehingga dapat menyebabkan kenaikan suhu dan perubahan pH tanah maupun air yang menjadi terlalu asam atau basa, sehingga terjadi pencemaran air. Pencemaran air yang terjadi dikarenakan oleh tumpukan sampah selalu terjadi proses dekomposisi sampah organik yang menghasilkan gas-gas dan cairan yang disebut dengan air lindi (leachate). Air lindi mengandung bahan-bahan kimia baik organik maupun anorganik dan sejumlah bakteri baik bersifat patogen ataupun tidak patogen. Slamet (2000) menyatakan bahwa air lindi dapat membahayakan kesehatan dan lingkungan karena air lindi mengandung mikroba patogen dan logam berat. Penelitian terhadap kualitas air sumur meliputi parameter fisika-kimia yaitu warna air, zat padat terlarut(TDS), pH, Nitrat, Krom dan parameter mikrobiologi berupa total koliform. Sedangkan penelitian terhadap IPAL OUTLET meliputi parameter fisika-kimia yaitu suhu, TDS, pH, BOD, COD, Nitrat, Krom dan parameter mikrobiologi berupa total koliform. Persepsi masyarakat dilakukan dengan metode survai terhadap masyarakat Desa Banjaran yang masih menggunakan air dengan jumlah responden sebanyak 68 orang. Kualitas air sumur dianalisis dengan membandingkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Nomor Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Persepsi masyarakat dianalisis secara deskriptif. Analisis hubungan kualitas air sumur dan persepsi masyarakat dengan menggunakan analisis korelasi. Hasil penelitian menunjukan kondisi kualitas air IPAL OUTLET dan kualitas air sumur di daerah TPA sampah Desa Banjaran, dan Desa Patemon, Kecamatan Bojongsari, Kabupaten Purbalingga dalam kondisi tercemar ringan, ditunjukan dengan peningkatan konsentrasi total koliform pada air sumur. Persepsi masyarakat Desa Banjaran terhadap Pengelolaan dan Pengolahan sampah pada TPA sampah menunjukan kondisi yang kurang baik yang ditunjukan oleh sebagian besar (64%) masyarakat menolak keberadaan TPA di Desa Banjaran. Dengan cara ditutup atau dipindahkan.Persepsi kurang baik masyarakat antara lain disebabkan adanya bau yang tidak sedap yang menyengat disekitar TPA.Dari hasil focus grouf discussion, menurut warga keberadaan TPA Sampah di Desa Banjaran mencemari air sumur. Kualitas air sumur dan persepsi masyarakat berkaitan terhadap pengelolaan dan pengolahan sampah pada TPA sampah di Desa Banjaran, Kecamatan Bojongsari, Kabupaten Purbalingga. | SUMMARY The increasing rapid growth of settlement,in addition to its impact on the rising population density as a result of the narrowing of land used for residential land also created new problem,namely the buildup of waste volume increasing and aesthetic impact on the environment and public health itself.Piles of garbage can lead to physical,chemical environmental conditions incompatible with normal condition,soit can cause a rise in temperature and changes in soil pH and water becomes too acidic or alkaline. Water pollution that occurs due to a pile of garbage is always a process of decomposition of organic waste which result gases and liquids called Lindi water.Lindi Water Containing chemical substances both organic and not organic,and a number of bacteria which are pathogenic or not patogen.slamet stated that the lindi water can be harmful to health and the environment because It is containing pathogens microbe and heavy metal. Research on the quality of well water include chemical physics parameters, namely the color of water,dissolved solid,ph,nitrate,chromium and microbiological parameters such as total koliform.whereas the research of IPAL OUTLET include chemical physical parameters such as temperature, tds, ph, bod, cod, nitrate, chromium and microbiological parameters such as total coliforms. Public perception was conducted by questionnaire and focus group discussion method for Banjaran rural communities and Patemon village that still use water which the number of respondent is sixty eight People.The quality of well water were analyzed by comparing the Indonesian republic government regulation number 82 of 2001 on water quality management and control water pollution.Public perception of the relationship descriptive.The relationship analysis well water quality and public perception by using correlation analysis. The results showed IPAL OUTLET condition and quality of well water in the area waste landfill Banjaran village and Patemon village,Bojongsari sub-district,Purbalingga District in light polluted condition, indicated by an increase in the concentration of total coliforms in water well. Banjaran rural community's perception of the management and processing of waste in landfill showed unfavorable conditions indicated by the large majority ( 64%) of society deny the existence of the landfill in the Banjaran Village.With way closed or moved. unfavorable public perception partly due to the unpleasant smell that stung around waste Landfill .From the result of focus group discussions,according to residents in the village,Landfill in the village Banjaran contaminate to well water.Well water quality and public perception relating to the management and processing of waste in landfill in the village of Banjaran, Bojongsari sub-district, Purbalingga district. | |
| 8714 | 4955 | D1E008025 | PENGARUH SUMBER KARBOHIDRAT DAN BAKTERI ASAM LAKTAT TERHADAP KARAKTERISTIK FISIK SILASE HIJAUAN PADA HARI KE-21 | Silase rumput gajah merupakan pakan ternak yang dihasilkan melalui proses fermentasi alami rumput gajah oleh bakteri asam laktat dengan kadar air yang tinggi (60%) dalam keadaan anaerob. Penelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh sumber karbohidrat dan bakteri asam laktat terhadap karakteristik fisik rumput gajah yang paling baik. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), adapun perlakuannya adalah R1 = Penggunaan 2 Kg rumput gajah layu + 40 ml tetes + 20 ml bakteri asam laktat, R2 = Penggunaan 2 Kg rumput gajah layu + 40 ml tetes + 40 ml bakteri asam laktat, R3 = Penggunaan 2 Kg rumput gajah layu + 200 g onggok + 20 ml bakteri asam laktat, R4 = Penggunaan 2 Kg rumput gajah layu + 200 g onggok + 40 ml bakteri asam laktat, R5 = Penggunaan 2 Kg rumput gajah layu + 200 g bekatul + 20 ml bakteri asam laktat dan R6 = Penggunaan 2 Kg rumput gajah layu + 200 g bekatul + 40 ml bakteri asam laktat. Tiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Peubah yang diukur adalah warna, bau, tekstur dan penampakan jamur silase. Hasil analisis menunjukkan penambahan jenis additive dan bakteri asam laktat berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap warna, bau, tekstur dan penampakan jamur silase rumput gajah pada hari ke – 21. Kisaran nilai dari warna, bau, tekstur dan penampakan jamur berturut-turut adalah 2-3, dengan nilai tengah masing-masing adalah : warna 2,42 - 2,8, bau 2,88 – 3,0, tekstur 2,96 – 3,0 dan penampakan jamur 2,86 – 3,0. Hal tersebut berarti penambahan bahan additive berupa tetes, onggok, bekatul dan bakteri asam laktat sampai dengan level yang diterapkan dalam penelitian ini berpengaruh terhadap warna, bau, tekstur dan penampakan jamur silase. Kesimpulan berdasarkan penelitian yaitu penggunaan 2 Kg rumput gajah layu + 200 g onggok + 20 ml bakteri asam laktat menghasilkan karakteristik fisik silase hijauan yang paling baik. | Elephant grass silage fodder is produced through a natural fermentation process in elephant grass by lactic acid bacteria with a high water moisture (60%) under anaerobic conditions. The study was aimed to assess the effect of carbohydrate and lactic acid bacteria on the physical characteristics good grass silage. The Research used experimental method and semi-random sampling. This research used completely randomized design (CRD) with 6 treatments R1; = Usage of 2 Kg withered elephant grass + 40 ml molasses + 20 ml lactic acid bacteria, R2 = Usage of 2 Kg withered elephant grass + 40 ml molasses + 40 lactic acid bacteria, R3 = Usage of 2 Kg withered elephant grass + 200 g onggok + 20 ml lactic acid bacteria, R4 = Usage of 2 Kg withered elephant grass +200 g onggok + 40 ml lactic acid bacteria, R5 = Usage of 2 Kg withered elephant grass + 200 g bran + 20 ml lactic acid bacteria and R6 = Usage of 2 Kg withered elephant grass + 200 g bran + 40 ml lactic acid bacteria, each treatment was repeated 3 times. The variables measured were color, odor and texture. The results of the analysis showed that the addition of additive types and lactic acid bacteria significantly (P <0.05) affected the physical characteristics of silage (color, odor, texture). There was a little fungi detected on day 21. The range of values of the color, smell, texture, were 2-3, with median values of each color were : 2.42 to 2.8, the smell : 2.88 to 3.0, texture 2. 96 to 3.0 and there was a little mold that was seen with the values of 2.86 to 3.0. This meant that the addition of additive materials such as molasses, cassava, rice bran and lactic acid bacteria to the level applied in this study affected the color, smell and, texture, and there was a little mold in the silage at day 21. The conclusion based on thit research is that the uses of 2 kg of wilted grass + 200 g cassava + 20 ml lactic acid bacteria produces the best physical characteristics of the forage silage. | |
| 8715 | 11281 | D1E010075 | HUBUNGAN ANTARA UMUR INDUK DAN LAMA MENYUSUI TERHADAP PERIODE POST PARTUM ANOESTRUS (PPA) KAMBING LOKAL DI KECAMATAN SUMBANG KABUPATEN BANYUMAS | Penelitian dengan metode survei di Kecamatan Sumbang menggunakan 278 ekor induk kambing lokal dilaksanakan di Desa Tambaksogra, Desa Sikapat, dan Desa Gandatapa. Rataan umur induk secara berurutan Desa Tambaksogra 31,793 bulan, Desa Sikapat 34,043 bulan, dan Desa Gandatapa 35,527 bulan. Rataan lama menyusui kambing lokal secara berurutan Desa Tambaksogra 114,109 hari, Desa Gandatapa 121,699 hari, dan Desa Sikapat 128,151 hari. rataan periode post partum anoestrus (PPA) kambing lokal di Desa Tambaksogra 113,065 hari, Desa Gandatapa 120,097 hari, dan Desa Sikapat 127,065 hari. Hasil analisis regresi linier menunjukan umur induk dan lama menyusui berpengaruh sangat nyata (P˂0,01) terhadap periode post partum anoestrus (PPA). Persamaan garis regresi umur induk terhadap periode post partum anoestrus (PPA) adalah Y = 97,113 + 0,6802 X1, besar koefisien determinasi (R2) 3,32% dan koefisien korelasi (r) 0,182%, dan persamaan garis regresi lama menyusui terhadap periode post partum anoestrus (PPA) adalah Y = 0,0816 + 0,9891 X2, besar koefisien determinasi (R2) 99,33% dan koefisien korelasi (r) 0,997%. Hal tersebut menunjukan umur induk berpengaruh sebesar 3,32%, dan lama menyusui berpengaruh sebesar 99,33% terhadap periode post partum anoestrus (PPA). | Research with survey method in Sumbang District is conducted by using 278 doe of local goats from Tambaksogra, Sikapat, and Gandatapa Villages. Averages of doe age at Tambaksogra Villages is 31,793 month, Sikapat Villages is 34,043 months, and Gandatapa Villages is 35,527 months. Averages lactating period of doe local goat Tambaksogra Villages is 114,109 days, Gandatapa Villages is 121,699 days, and Sikapat Villages is 128,151 days. Avareges of post partum anoestrus period at Tambaksogra Villages is 113,065 days, Gandatapa Villages is 120,097 days, and Sikapat Village is 127,065 days. Linear regression analysis result showed that doe age and lactating period showed significant relationship (P<0,01) toward post partum anoestrus period (PPA). Line equation obtained from doe age toward post partum anoestrus period (PPA) is Y = 97,113 + 0,6802 X1, determination coefficient (R2) is 3,32% and correlation coefficient (r) is 0,182%, and line equation obtained from lactating period toward post partum anoestrus period (PPA) is Y = 0,0816 + 0,9891 X2, determination coefficient (R2) is 99,33% and correlation coefficient is 0,997%. That is showed that doe age contributed a 3,32% and lactating period contributed a 99,33% toward post partum anoestrus (PPA). | |
| 8716 | 9090 | F1C007082 | MOTIF MAHASISWA UNSOED DALAM BERBELANJA ONLINE MELALUI FACEBOOK ( Studi Deskriptif Kualitatif Mengenai Motif Mahasiswa Unsoed dalam Berbelanja Online Melalui Facebook) | Penelitian ini mengambil judul “Motif Mahasiswa Unsoed dalam Berbelanja Online Melalui Facebook”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana motif mahasiswa Unsoed dalam berbelanja online melalui facebook. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Sasaran penelitian ini adalah Mahasiswa Unsoed. Teknik pengumpulan data menggunakan metode wawancara dan dokumentasi. Teknik penentuan informan dalam penelitian ini menggunakan Snowball Sampling atau bola salju. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif deskriptif dengan model interaktif. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa bahwa motif yang digunakan mahasiswa beragam antara lain, gengsi, penghematan waktu dan biaya (efisiensi), keterbatasan barang yang tersedia di toko-toko setempat, dan iseng. Dengan belanja online, mahasiswa dapt dengan mudah mendapatkan barang yang mereka inginkan tanpa menyita biaya dan waktu yang berlebihan. | This study took a title “Motif Mahasiswa Unsoed dalam Berbelanja Online Melalui Facebook”. The target of this research is teenager students which is ever doing online shopping on Facebook. This research is trying to see how the students motive to shopping on Facebook. Technique of the data collecting is using interviews and documentation. This research use snowball sampling technique to choose the informant and the analytical data methods was using qualitative descriptive with interactive model. Based on the research the researcher obtained that every students have variety of motives, there are prestige, saving time (efficiency), the limited goods availability in local store, and just for fad. With online shopping, the informants can easly to get something as they want, without taking so much time and costs.. | |
| 8717 | 9091 | D1F011017 | ERITROSIT, HEMOGLOBIN, DAN HEMATOKRIT DARAH KELINCI YANG DIINFEKSI Eimeria sp. | Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh infeksi Eimeria sp. dengan dosis berbeda terhadap jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, dan hematokrit pada darah kelinci, selain itu untuk mengetahui level infeksi Eimeria sp. yang paling berpengaruh terhadap jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, dan hematokrit pada darah kelinci. Penelitian menggunakan metode eksperimental. Infeksi Eimeria sp. dilakukan per oral yang terdiri dari 5 macam level, yaitu R0 (kontrol / dosis Eimeria sp. 0), R1 (dosis Eimeria sp. 1 x 101), R2 (dosis Eimeria sp. 1 x 102), R3 (dosis Eimeria sp. 1 x 103), dan R4 (dosis Eimeria sp. 1 x 104).Infeksi kelinci kontrol/ dosis Eimeria sp. 0 dilakukan dengan memberikan akuades per oral. Analisis yang digunakan adalah analisis variansi. Hasil penelitian menunjukkan kelinci yang diinfeksi memiliki eritrosit dengan kisaran 4,285x106/l sampai 5,155x106/l, kadar hemoglobin dengan kisaran 9,060 g/dl sampai 11,040 g/dl, dan hematokrit dengan kisaran 31,920 sampai 38,113%. Hasil analisis menunjukkan bahwa infeksi Eimeria sp. pada kelinci tidak berpengaruh nyata terhadap eritrosit, hemoglobin, dan hematokrit darah kelinci (P>0.05). | The purpose of this study was to know the effect of Eimeria sp. infection between of different doses on the value of erythrocyte, haemoglobin, and hematocryte, and to know the most effective doses of Eimeria sp. on the value of erythrocyte, haemoglobin, dan hematocryte. The research used experimental methode. The infection of Eimeria sp used 5 level, there are R0 (control / Eimeria sp. 0), R1 (Eimeria sp. 1 x 101), R2 (Eimeria sp. 1 x 102), R3 (Eimeria sp. 1 x 103), and R4 (Eimeria sp. 1 x 104). Infection of rabbits for control is done by providing aquadest orally. The analysis used was analysis of variance. The results showed that infected rabbits had erythrocytes with a range 4,285x106/l to 5,155x106/l, hemoglobin levels in the range of 9.060 g/dl up to 11,040 g/dl, and the hematocrit in the range of 31,920 to 38,113%. The analysis showed that that the infection Eimeria sp. in rabbits did not significantly affect erythrocytes, hemoglobin, and hematocrit rabbit blood (P> 0:05). | |
| 8718 | 9089 | D1E010131 | KECERNAAN PROTEIN DAN SERAT KASAR BERBAGAI BANGSA SAPI LOKAL YANG DIBERI PAKAN JERAMI PADI AMONIASI DAN KONSENTRAT | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecernaan protein dan serat kasar berbagai bangsa sapi lokal yang diberi pakan jerami padi amoniasi dan konsentrat. Penelitian menggunakan metode eksperimental secara in-vivo yang dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap(RAL). Perlakuan yang diuji adalah empat bangsa sapilokal yang terdiri dari: sapi Crossing (P1), sapi Madura (P2), sapi Bali (P3) sapi Peranakan Ongole (P3) dengan bobot badan antara 230-280 kg (α=2,5) dan tiap perlakuan diulang empat kali. Tiap sapi diberi pakan jerami padi amoniasi (JPA) dan konsentrat dengan jumlah bahan kering (BK) 3,3% dari bobot hidup dengan perbandingan BK 40% : 60%. Konsentrat terdiri dari: pollard, jagung, bungkil kelapa, onggok, mineral mix, dan garam. Pemberian pakan dilakukan dengan metode component feedingdengan frekuensi pemberian JPA 4 kali dan pemberian Konsentrat 2 kali perhari. Peubah yang diukur adalah kecernaan protein dan serat kasar menggunakan metode koleksi total.Untuk mengetahui pengaruh perlakuan yang diuji terhadap peubah respon, dilakukan sidik ragam dan dilakukan dengan uji beda nyata jujur (BNJ).Hasil penelitian menunjukan kecernaan protein dipengaruhi oleh perbedaan bangsa (P<0.01) akan tetapi, kecernaan serat kasar tidak dipengaruhi oleh perbedaan bangsa (P>0.05). Uji BNJ menunjukan kecernaan protein kasar tertinggi dicapai oleh sapi Crossing yaitu sebesar 91,85%, diikuti oleh sapi Madura, sapi Bali dan sapi Perananakan Ongole berturut – turut adalah 84,26%, 71,17%, 68,81%, akan tetapi diantara sapi Bali dan Sapi Peranakan Ongole tidak berbeda nyata (P>0,05).Kesimpulanya adalah kecernaan protein sangat bergantung pada bangsa sapi, sedangkan kecernaan serat kasar tidak. | This study aims to determine the digestibility of crude protein and crude fiber on variousof local breed which fed ammoniatedrice straw and concentrates.The research conducted by experimental methods in in-vivo technique using a completely randomized design. The treatment tested were 4 kind of local breed: Crossbred cattle, Madura, Bali cattle and Ongole gradewith initial weight were 230-280 kg(α=2,5), with performed 4 replications. Each cattle received dry matter of 3.3% from body weight with a ratio of ammoniated rice straw and concentrate of 40%:60%. Concentrate consists of: pollard, maize, coconut cake, cassava, mineral mix, and salt. Feeding method used this research was component fedding with four times frequency for ammoniated rice straw and two times frequency for concentrates. The variables measured were protein and crude fiber digestibility using the total collection method. Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) and continued with HSD test.The results showed that the crude protein digestibility was influenced by differences of breed (P <0.01), however crude fiber digestibility was not influenced by differences of breed (P> 0:05). HSD test showed the highest crude fiber digestibility achieved by Crossbred cattle of 91.85%, followed by Madura cattle, Bali cattle and Ongole grade respectively were 84.26%, 71.17%, 68.81%, but between Bali cattle and Ongole grade has not significantly different (P> 0.05). It can be concluded that digestibility were of crude protein depend of breeds cattle, while digestibility of crude fiber was not affected by breeds of cattle. | |
| 8719 | 9093 | H1D010070 | ANALISIS EFISIENSI DAN KEHILANGAN AIR PADA SALURAN SEKUNDER NUSAMANGIR KABUPATEN BANYUMAS | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai efisiensi dan kehilangan air pada Saluran Sekunder Nusamangir Kabupaten Banyumas. Efisiensi didefinisikan sebagai perbandingan antara debit yang masuk dan debit yang keluar. Kehilangan air yang terjadi disebabkan oleh rembesan dan evapotranspirasi. Data-data yang dipakai dalam analisis ini adalah data primer berupa data kecepatan, dimana pengambilan datanya dengan menggunakan Metode Current Meter. Selain itu, digunakan juga data sekunder berupa data evapotranspirasi dari tahun 2002 sampai 2009. Hasil penelitian menunjukan bahwa kehilangan air rata-rata pada saluran utama sebesar 0,017 m3/s. Pada saluran buatan kehilangan air yang terjadi sebesar 0,019 m3/s dan pada saluran tanah yang terjadi sebesar 0,006 m3/s. Selain itu, efisiensi rata-rata untuk saluran utama sebesar 93,549 %. Pada saluran saluran buatan, efisiensi saluran yang terjadi sebesar 86,55 %. Pada saluran tanah, efisiensi saluran yang terjadi sebesar 93,505 %. | The purpose of this research is to find out the value of efficiency and water loss in the Nusamangir Secondary Channel Banyumas District. Efficiency is defined as the ratio between the incoming discharge and the exit discharge. Water loss that occurs due to seepage and evapotranspiration. The data were used in this analysis are the primary data of velocity that taken by Current Meter Method. In the other hand, it is used secondary data of evapotranspiration from 2002 until 2009. The research result shows that water loss value in the main channel is 0,017 m3/s. In the artificial channel, the water loss is 0,019 m3/s and in natural channel is 0.006 m3/s. The efficiency value for the main channel is 93.549%, in the artificial is 86.55%, and in the natural channel is 93.505%. | |
| 8720 | 9112 | E1A109031 | PENERAPAN PERLINDUNGAN HAK ASASI MANUSIA TERHADAP PEKERJA / BURUH DI BAWAH UMUR BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 39 TAHUN 1999 TENTANG HAK ASASI MANUSIA ( Kajian Di Toko Besi Gelora) | ABSTRAK Hak asasi manusia merupakan hak yang melekat pada manusia secara kodrati. Pengakuan terhadap hak asasi manusia lahir dari adanya keyakinan bahwa semua manusia dilahirkan dalam keadaan bebas dan memiliki harkan dan martabat yang sama antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. Dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakekat dan keberadaan manusia sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa, dan merupakan anugerahnya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum dan pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia. Terkait Perlindungan hak asasi manusia terhadap pekerja atau buruh di bawah umur di Toko Besi Gelora bahwa ada beberapa macam perlindungan hak antara lain: a) Hak untuk hidup b) Hak untuk mengembangkan diri c) Hak untuk memperoleh keadilan d) Hak atas kebebasan pribadi e) Hak untuk mendapatkan rasa aman f) Hak kesejahteraan Penerapan Perlindungan hak oleh Toko Besi Gelora terhadap hak pekerja efektif karena semua hak pekerja terpenuhi, yang mana wujud daripada pelaksanaan hak dan kewajiba terkait dari pekerja di bawah umur dan pengusaha seimbang. Pada dasarnya semua pekerja di Toko Besi Gelora disama ratakan, tidak ada perlakuan khusus bagi siapapun. | ABSTRACT Human rights are rights inherent in human kodrati. Recognition of human rights was born of the conviction that all human beings are born in freedom and dignity, and have the same harkan between one man with another man. In Law Number 39 Year 1999 on Human Rights is a set of rights attached to the yolk and human existence as a creature of God Almighty, and the grace that must be respected, upheld and protected by the state, law and government, and each the sake of honor and the protection of the dignity of man. Related to human rights protection for workers or laborers under the age of Iron Stores Gelora that there is some kind of protection for the rights of others: a) The right to life b) The right to develop c) the right to obtain justice d) the rights over personal liberty e) right to feel safe f) welfare rights By Iron Stores Gelora on effective labor rights for all workers' rights are met, which arise from the exercise of rights and related kewajiba of workers under age and operators balanced. Basically all workers Iron Stores turbulence were level, there is no special treatment for anyone. Keywords: human rights, protection of rights, employee / labor |