Artikelilmiahs

Menampilkan 48.901-48.903 dari 48.903 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4890152286A1G023005Nilai Tambah Kedelai dan Kelayakan Finansial Usaha pada UMKM Keripik Tempe Sagu Tiga Saudara 354 di Kabupaten BogorAgroindustri memiliki peranan penting dalam meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian serta memperkuat perekonomian masyarakat, khususnya melalui pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Kedelai merupakan salah satu komoditas pangan strategis yang banyak diolah menjadi berbagai jenis produk, salah satunya adalah tempe. Pengolahan tempe menjadi keripik tempe sagu merupakan bentuk diversifikasi produk yang mampu memperpanjang umur simpan, meningkatkan nilai tambah, serta memperkuat daya saing produk. Namun, ketergantungan terhadap bahan baku kedelai impor dan fluktuasi harga kedelai menjadi tantangan utama yang berpotensi mepengaruhi keberlanjutan usaha agroindustri berbasis kedelai. Kegiatan pengolahan kedelai menjadi keripik tempe sagu yang dilakukan oleh UMKM umumnya belum diketahui secara pasti besarnya nilai tambah yang diperoleh, sehingga harus melalui analisis serta perencanaan yang matang agar UMKM dapat mengurangi risiko kegagalan dan mendapatkan keuntungan, sehingga dapat diketahui apakah usaha yang sedang dijalankan dapat dikatakan layak atau tidak layak. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk menganalisis nilai tambah kedelai, kelayakan finansial usaha, serta tingkat sensitivitas terhadap perubahan harga bahan baku pada UMKM Keripik Tempe Sagu “Tiga Saudara 354” di Kabupaten Bogor. Metode yang digunakan pada penelitian adalah studi kasus dengan pendekatan analisis deskriptif kuantitatif. Analisis pada perhitungan nilai tambah dilakukan dengan menggunakan metode Hayami, sedangkan analisis kelayakan finansial meliputi perhitungan biaya, penerimaan, keuntungan, R/C ratio, dan Break Even Point (BEP). Selain itu, analisis sensitivitas dilakukan untuk mengetahui dampak kenaikan harga kedelai terhadap kelayakan usaha. Waktu pengambilan data dilakukan selama satu bulan yaitu tanggal 7 Juli - 6 Agustus 2025 dengan rata-rata produksi sebanyak 13 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengolahan kedelai menjadi keripik tempe sagu pada UMKM Keripik Tempe Sagu “Tiga Saudara 354” menghasilkan nilai tambah yang positif dan memberikan keuntungan bagi pelaku usaha. Analisis kelayakan finansial menunjukkan bahwa usaha ini layak untuk dijalankan, yang ditunjukkan oleh nilai R/C ratio lebih besar dari satu serta nilai BEP produksi dan penerimaan yang berada di bawah tingkat produksi aktual. Analisis sensitivitas memperlihatkan bahwa usaha masih tetap layak meskipun terjadi kenaikan harga bahan baku kedelai hingga batas tertentu, meskipun tingkat keuntungan mengalami penurunan. Maka, dapat disimpulkan bahwa UMKM Keripik Tempe Sagu “Tiga Saudara 354” memiliki prospek usaha yang baik. Implikasi pada penelitian ini menekankan pentingnya peningkatan efisiensi biaya produksi, pencatatan keuangan yang terstruktur, serta pengendalian risiko harga bahan baku guna mendukung keberlanjutan dan pengembangan usaha dimasa yang akan datang.Agroindustry plays an important role in increasing the added value of agricultural commodities and strengthening the community's economy, particularly through the development of Micro, Small, and Medium Enterprises (UMKM). Soybeans are one of the strategic food commodities that are widely processed into various types of products, one of which is tempeh. Processing tempeh into sago tempeh chips is a form of product diversification that can extend shelf life, increase added value, and strengthen product competitiveness. However, dependence on imported soybean raw materials and fluctuations in soybean prices are major challenges that have the potential to affect the sustainability of soybean-based agro-industry businesses. The processing of soybeans into tempeh sago chips by UMKM generally does not have a clearly defined added value, so it must undergo careful analysis and planning so that UMKM can reduce the risk of failure and obtain profits, there by determining whether the business being run is feasible or not. This study was conducted to analyze the added value of soybeans, the financial feasibility of the business, and the level of sensitivity to changes in raw material prices at the Tiga Saudara 354 UMKM in Bogor Regency. The research method used was a case study with a quantitative descriptive analysis approach. Value-added analysis was performed using the Hayami method, while financial feasibility analysis included calculations of costs, revenues, profits, R/C ratio, and BEP. Additionally, sensitivity analysis was conducted to determine the impact of soybean price increases on business feasibility. Data collection was conducted over a period of one month, from July 7 to August 6, 2025, with an average production of 13 times. The results of the study indicate that processing soybeans into sago tempe chips at the Tiga Saudara 354 positive added value and provides benefits for business actors. Financial feasibility analysis shows that this business is feasible to run, as indicated by an R/C ratio greater than one and a production and revenue BEP below the actual production level. Sensitivity analysis shows that the business remains feasible even if there is an increase in the price of soybean raw materials up to a certain limit, although the profit level will decrease. Therefore, it can be concluded that the Tiga Saudara 354 has good business prospects. The implications of this study emphasize the importance of improving production cost efficiency, structured financial recording, and controlling raw material price risks to support business sustainability and development in the future.
4890252287G1A022112Korelasi Nilai Platelet to Lymphocyte Ratio (PLR) dengan Subtipe Kanker Payudara di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo PurwokertoLatar belakang: Kanker Payudara (Carcinoma mammae) merupakan kanker dengan insidensi tinggi pada wanita di seluruh dunia. Kanker payudara memiliki karakteristik biologis yang berbeda berdasarkan subtipe molekuler, seperti Luminal A, Luminal B, HER2, dan Triple Negative Breast Cancer (TNBC). Inflamasi sistemik berperan dalam proses karsinogenesis dan progresivitas tumor. Salah satu parameter inflamasi adalah Platelet to Lymphocyte Ratio (PLR) yang mencerminkan keseimbangan antara aktivitas trombosit dan respon imun tubuh oleh limfosit terhadap sel tumor sehingga berpotensi digunakan sebagai penanda tambahan dalam karakterisasi subtipe kanker payudara. Namun, bukti hubungan antara nilai PLR dengan subtipe kanker payudara masih terbatas di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Tujuan: Mengetahui korelasi antara nilai Platelet to Lymphocyte Ratio (PLR) dengan subtipe kanker payudara di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 63 kanker payudara dipilih melalui metode consecutive sampling. Data dikumpulkan dari rekam medis mencakup usia, indeks massa tubuh (IMT), riwayat keluarga, nilai PLR, subtipe kanker payudara dan parameter hematologik untuk perhitungan PLR. Hasil: Mayoritas subjek (58,7%) menunjukkan profil inflamasi sistemik dengan nilai PLR kategori tinggi. Distribusi subtipe carcinoma mammae menunjukkan dominasi Luminal B (36,5%), diikuti TNBC (23,8%), HER2 (22,2%), dan Luminal A (17,5%). Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat korelasi yang signifikan antara nilai PLR dengan subtipe kanker payudara (p = 0,302). Kesimpulan: Nilai PLR tidak menunjukkan korelasi yang signifikan dengan subtipe kanker payudara.
Background: Breast cancer (carcinoma mammae) is a cancer with a high incidence among women worldwide. Breast cancer has distinct biological characteristics based on molecular subtypes, such as Luminal A, Luminal B, HER2, and Triple Negative Breast Cancer (TNBC). Systemic inflammation plays a role in carcinogenesis and tumor progression. One inflammatory parameter is the Platelet to Lymphocyte Ratio (PLR), which reflects the balance between platelet activity and the immune response mediated by lymphocytes against tumor cells thus having potential as an additional marker in characterizing breast cancer subtypes. However, evidence regarding the association between PLR values and breast cancer subtypes is still limited at RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Objective: To determine the correlation between Platelet to Lymphocyte Ratio (PLR) values and breast cancer subtypes at RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Methods: This study was an analytic observational study with a cross-sectional design using medical record data of breast cancer patients. Data collected included age, body mass index (BMI), family history, PLR values, and breast cancer subtypes. Statistical analysis was performed using the Chi-Square test to assess the association between PLR values and breast cancer subtypes. Results: A total of 63 subjects were analyzed. Most patients had high PLR values (58.7%). The most common subtype of carcinoma mammae was Luminal B (36.5%), followed by TNBC (23.8%), HER2 (22.2%), and Luminal A (17.5%). The analysis showed no statistically significant association between PLR values and breast cancer subtypes (p = 0.302). Conclusion: The PLR values did not show a significant association with breast cancer subtypes.
4890352288E1A022087PENERAPAN PRINSIP TANGGUNG JAWAB MUTLAK (STRICT LIABILITY) DALAM PENYELESAIAN SENGKETA LINGKUNGAN HIDUP (STUDI KASUS PT. AGRO BUMI SENTOSA)Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan prinsip tanggung jawab mutlak (strict liability) pada penyelesaian sengketa lingkungan hidup, dengan fokus pada perkara kebakaran hutan dan lahan oleh PT Agro Bumi Sentosa. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya inkonsistensi putusan antara pengadilan tingkat pertama dan tingkat banding, khususnya terkait hubungan antara pertanggungjawaban substantif dan aspek prosedural dalam hukum lingkungan. Prinsip strict liability sebagaimana diatur dalam Pasal 88 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup meniadakan kewajiban pembuktian unsur kesalahan dalam hal kegiatan menimbulkan ancaman serius terhadap lingkungan hidup. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan dan studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengadilan tingkat pertama telah mengimplementasikan prinsip strict liability secara tepat, namun putusan tersebut dibatalkan oleh pengadilan tingkat banding dengan alasan gugatan prematur karena tidak ditempuhnya mekanisme penyelesaian sengketa di luar pengadilan. Hal ini menunjukkan adanya ketegangan antara formalitas prosedural dan keadilan substantif dalam penegakan hukum lingkungan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa inkonsistensi tersebut berpotensi melemahkan kepastian hukum dan efektivitas penerapan prinsip strict liability. Oleh karena itu, diperlukan penguatan konsistensi putusan hakim serta penegasan hubungan antara aspek prosedural dan prinsip tanggung jawab mutlak guna mendukung penegakan hukum lingkungan yang efektif di Indonesia.This study aims to analyze the application of the strict liability principle in environmental dispute resolution, with a particular focus on the forest and land fire case involving PT Agro Bumi Sentosa. The study is motivated by inconsistencies between first-instance and appellate court decisions, particularly regarding the relationship between substantive liability and procedural aspects in environmental law. The principle of strict liability, as stipulated in Article 88 of Law No. 32 of 2009 on Environmental Protection and Management, eliminates the requirement to prove fault when activities pose a serious threat to the environment. This research employs a normative juridical method, using statutory and case study approaches. The findings indicate that the court of first instance correctly applied the strict liability principle; however, the decision was overturned by the appellate court on the grounds that the claim was premature due to the absence of prior non-litigation dispute resolution mechanisms. This reflects a tension between procedural formalism and substantive justice in environmental law enforcement. The study concludes that such inconsistency may undermine legal certainty and weaken the effectiveness of the strict liability principle. Therefore, strengthening judicial consistency and clarifying the relationship between procedural requirements and strict liability are essential to support effective environmental law enforcement in Indonesia.