Artikelilmiahs

Menampilkan 8.521-8.540 dari 48.905 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
852110577A1L010040PERTUMBUHAN DAN HASIL SELADA PADA BERBAGAI RAKITAN
TEKNOLOGI BUDIDAYA ORGANIK BERBASIS PUPUK ORGANIK CAIR
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh rakitan teknologi budidaya selada organik berbasis pupuk organik cair terhadap pertumbuhan selada, (2) pengaruh rakitan teknologi budidaya organik berbasis pupuk organik cair terhadap hasil selada. Penelitian dilaksanakan di rumah kasa milik petani Desa Windujaya, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, selama 3 bulan (April-Juni 2014). Rancangan percobaan yang digunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan. Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, bobot basah akar, bobot kering akar, volume akar, luas daun, bobot basah tanaman, bobot basah tanaman layak jual, bobot kering tanaman, bobot basah tajuk, bobot kering tajuk. Data dianalisis dengan uji F. Apabila terdapat perbedaan nyata, dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) dengan taraf kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukkan rakitan teknologi budidaya selada organik berbasis pupuk organik cair belum mampu meningkatkan komponen pertumbuhan dan komponen hasil.
ABSTRACT
This study aims to determine: (1) the influence of assembly technologies of organic lettuce cultivation based on liquid organic fertilizer on the growth of lettuce, (2) the effect of assembly technologies of organic lettuce cultivation based on liquid organic fertilizer to product of lettuce. The research was conducted in farmer's Screen house Windujaya Village, Kedungbanteng sub-district, Banyumas District for 3 months (April-June, 2014). The experimental design used was Complete Randomized Block Design (CRBD) with 6 treatments and 4 replications. The variables measured were plant height, number of leaves, root fresh weight, root dry weight, root volume, leaf area, plant fresh weight, fresh weight of marketable crops, plant dry weight, canopy fresh weight, canopy dry weight. Data were analyzed by F test. If there is significant difference, then it is followed by Duncan's Multiple Range Test (DMRT) with 5% error level. The results indicated that lettuce cultivation assemblies technology based on liquid organic fertilizer has not been able to increase growth and product components.
852210578G1F011069EFEK ANTIHIPERURISEMIA FRAKSI KLOROFORM DARI EKSTRAK ETANOLIK BATANG BROTOWALI (Tinospora crispa) PADA MENCIT TERINDUKSI POTASIUM OKSONATBatang brotowali (T.crispa) diketahui memiliki efek terapi untuk mengobati rematik dan asam urat berdasarkan pengalaman empiris. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi dan dosis optimum fraksi kloroform dari ekstrak etanolik batang brotowali sebagai antihiperurisemia pada mencit berdasarkan profil KLT dan aktivitas fraksi kloroform batang brotowali.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Identifikasi senyawa kimia dilakukan dengan metode KLT. Penelitian ini menggunakan hewan uji sebanyak 24 ekor mencit jantan galur Balb/C, dibagi menjadi 6 kelompok (4 ekor tiap kelompok). Kelompok I sebagai kontrol normal, Kelompok II kontrol negatif diberi potasium oksonat dosis 250 mg/KgBB secara i.p, Kelompok III kontrol positif diberi allopurinol dosis 10 mg/KgBB, Kelompok IV – VI diberi fraksi kloroform ekstrak etanolik batang brotowali dosis tunggal 50, 100, 200 mg/KgBB per oral dan diinduksi potasium oksonat dosis 250 mg/KgBB secara i.p setelah 1 jam. Kadar asam urat dan data persen penurunan kadar asam urat dianalisis statistika Kolmogorov Smirnov kemudian dilanjutkan ANOVA satu arah dan dilanjutkan uji LSD (data berdistribusi normal).
Analisis data dilakukan terhadap % penurunan kadar asam urat baik kelompok kontrol maupun kelompok perlakuan. Persentase penurunan kadar asam urat dalam pengobatan menggunakan fraksi kloroform batang brotowali (T. crispa) pada dosis 50; 100; dan 200 mg/KgBB adalah 71,404 ± 9,875%; 39,095 ± 12,107%; dan 26,063 ± 13,761%. Hasil tersebut menunjukkan uji in vivo untuk aktivitas antihiperurisemia pada semua dosis tidak berbeda signifikan dibandingkan dengan kontrol negatif (p>0,05).
Brotowali (T. crispa) is known to have therapeutic effects for treating rheumatism and gout based on empirical experience. This study aims to determine the optimum dose potency and chloroform fractions of ethanolic extract brotowali as antihyperuricemic in mice by TLC and activity profile brotowali chloroformic fraction.
This research is experimental. Identification of chemical compounds made by the method of TLC. This study uses the test animals were 24 male mice strain Balb/C, divided into 6 groups (4 individuals per group). Group I as a normal control, Group II negative controls were given a dose of 250 mg/KgBW of potassium oksonat by intraperitoneal, Group III positive control given allopurinol dose of 10 mg/KgBW, Group IV - VI given chloroform fraction brotowali ethanolic extract a single dose of 50, 100, 200 mg/KgBW orally and potassium oksonat induced a dose of 250 mg/KgBW by intraperitoneal after 1 hours. Uric acid levels and data percent decrease in uric acid levels were analyzed statistically Kolmogorov Smirnov followed one-way ANOVA followed by LSD test (normal distribution of data).
Data analysis was performed to% decrease in uric acid levels both the control and treatment groups. The percentage decrease in the levels of uric acid in the treatment using chloroform fraction brotowali (T. crispa) at a dose of 50; 100; and 200 mg/KgBW was 71.404 ± 9.875%; 39.095 ± 12.107%; and 26.063 ± 13.761%. These results demonstrate the in vivo test for antihyperuricemic activity at all doses did not differ significantly compared to the negative control (p> 0.05).
85234686B1J008161Studi Tingkah Laku Harian Bekantan (Nasalis larvatus Wurmb) di Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) Kota Tarakan Kalimantan TimurBekantan (Nasalis larvatus Wurmb) merupakan salah satu satwa endemik Kalimantan dan dilindungi baik secara nasional dalam UU No.5 tahun 1990 dan secara internasional termasuk dalam CITES Appendix 1. Berbagai macam habitat bekantan antara lain hutan rawa, hutan bakau dekat sungai, dan rawa bakau sepanjang pantai, teluk atau daerah pasang surut salah satunya adalah Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan ( KKMB ) Kota Tarakan Kalimantan Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku harian dan jenis pakannya. Penelitian ini dilaksanakan selama 12 bulan dari bulan Maret 2012 – Februari 2013. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Pengamatan perilaku harian menggunakan kombinasi antara Scan Sampling Method dan Time Sampling Method. Pengambilan data tumbuhan dengan metode Sensus, dan hasilnya dianalisis secara deskriptif. Perilaku harian yang diamati adalah grooming (11,34%), bermain (12,64%), agonistik (3,89%), seksual (1,21%), interaksi (16,71%), istirahat (17,06), dan makan (31,34%). Jenis pakannya adalah daun muda (59,97%) , buah pisang (33,98%), dan jenis lainnya (6,05%). Perilaku makan merupakan perilaku yang paling banyak dilakukan, dan perilaku seksual merupakan perilaku yang paling sedikit dilakukan. Daun muda adalah jenis pakan yang paling banyak dimakan dibanding dengan jenis pakan lainProboscis monkey (Nasalis larvatus Wurmb) is one of endemik animal in Kalimantan and it is protected nationaly in UU No.5 year 1990 and internationally in CITES Appendix 1. The habitats of Proboscis monkey are wetland, mangrove near river, and mangrove long beach, bay or intertidal area and Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) Tarakan city west kalimantan. This research describes the daily behaviour of Proboscis monkey and variation of food. This research were condacted for 12 month from march 2012 until February 2013. Method that used in this research is survey method. The observation of daily behaviour used combination method between Scan Sampling Method and Time Sampling Method. The taking of plant used sensus method and the result were analized descriptively. The daily behaviour that obseved is grooming (1,34%), playing (12,64%), agonistic (3,89%), sexsual (1,21%), interaction (16,71%), resting (17,06%), and eating (31,34%). The variation of food is young leaf (59,97%), banana (33,98%), etc (6,05%). Feeding behaviour is the most frequent activity that done sexsual activity is the rarely activity. Young leaves is the most eaten food rather than the other.


85248980C1C010044FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYEDIAAN DAN PENGGUNAAN INFORMASI AKUNTANSI PADA UMKM (Studi Pada UMKM Komoditi Industri Unggulan Kota Tasikmalaya)Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara statistik pengaruh variabel umur usaha, skala usaha, pendidikan formal manajer atau pemilik, dan pelatihan akuntansi yang diikuti manajer atau pemilik terhadap penyediaan dan penggunaan informasi akuntansi pada UMKM. Sampel dalam penelitian ini adalah UMKM Komoditi Unggulan Kota Tasikmalaya yang berjumlah 100. Responden dalam penelitian ini adalah para pelaku usaha (manajer/pemilik usaha) yang tergolong dalam usaha menengah yang tercatat di Disperindagkop Kota Tasikmalaya yang dikategorikan sebagai komoditi industri unggulan.
Penelitian ini menggunakan analisa regresi berganda, dan mengarah pada kesimpulan bahwa umur usaha, skala usaha, pendidikan formal manajer atau pemilik, dan pelatihan akuntansi yang diikuti manajer atau pemilik secara bersama-sama dan parsial berpengaruh signifikan terhadap penyediaan dan penggunaan informasi akuntansi pada UMKM di Kota Tasikmalaya. Pendidikan formal manajer atau pemilik memilik pengaruh terbesar pada penyediaan dan penggunaan informasi akuntansi pada UMKM di Kota Tasikmalaya.
This study aims to determine the statistical effect of the business’ age variable, the business’ scale variable, the formal education of the manager or the owner, and training of accounting that followed by the manager or owner of the provision and use of accounting information on SMEs. The sample in this study was100 best commodity SMEs in Tasikmalaya. Respondents in this study were entrepreneurs (managers/business owners) classified the recorded medium enterprises in Disperindagkop Tasikmalaya categorized as commodity seed industry.
This study used multiple regression analysis, and leads to the conclusion that the business’ age, business’ scale, the manager or owner of formal education, and training of accounting followed by the manager or owner simultaneously and partially significant effect on the provision and use of accounting information on SMEs in Tasikmalaya. Formal education manager or owner has the biggest influence on the provision and use of accounting information on SMEs in Tasikmalaya.
852510580A1H007013Pengaruh penambahan air pada pembuatan santan terhadap kadar air, rendemen dan kualitas minyak kelapa murni (Virgin Coconut Oil)Abstrak

Minyak kelapa merupakan salah satu bahan yang sudah lama dikenal di Indonesia. Minyak kelapa mempunyai nilai ekonomis yang tinggi dan termasuk salah satu minyak nabati yang sangat luas penggunaannya dalam kehidupan manusia. Bahan dasar yang digunakan untuk membuat minyak kelapa murni yaitu santan. Proses ekstraksi santan dipengaruhi oleh suhu dan jumlah air yang digunakan. Penelitian ini mengkaji pengaruh penambahan air pada pembuatan santan terhadap kadar air, rendemen, dan kualitas minyak kelapa murni yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penambahan air yang tepat untuk 1 Kg parutan kelapa, mengkaji kadar air dan rendemen yang terbaik dari minyak kelapa murni yang dihasilkan, mengetahui kualitas dari minyak kelapa murni yang dihasilkan berdasarkan kadarair, rendemen dan uji organoleptic berupa warna dan kesukaan aroma.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 kombinasi perlakuan dengan 3 kali ulangan sehingga diperoleh 9 unit percobaan. Faktor yang digunakan adalah penambahan air 1000 ml (V1), 750 ml (V2), dan 500 ml (V3) serta parutan kelapa 1 Kg (M).
Hasil uji f menunjukkan bahwa penambahan air berpengaruh sangat nyata terhadap kadar air minyak VCO, penambahan air tidak berpengaruh nyata terhadap rendemen. Rendemen tertinggi berada pada penambahan air 750 ml sebanyak 11,12%, dari ke 3 perlakuan penambahan air 500 ml untuk 1 Kg parutan kelapa mendapatkan minyak VCO yang berkualitas dan memenuhi standar SNI.
Kata kunci: minyak kelapa, penambahan air, parutan kelapa
Abstract

Coconut oil is one ingredient that has long been known in Indonesia. Coconut Oil has a high economic value and is one of the vegetable oils widely used in human life.Basic material used to make virgin coconut oil is coconut milk. Milk extraction process is influenced by the temperature and the amount of water used. This research examines the effect of the addition of water in the manufacture of coconut milk to moisture content, yield, and quality virgin coconut oil produced. This research aims to determine the appropriate addition of water to 1 kg of grated coconut, asses the water content and the best yield of pure coconut oil produced, knowing the quality of pure coconut oil are generated based on water content, yield, and organoleptic form of colour and joy aroma.
This research used acompletely randomized design consisting of three combined treatment with 3 repetitions in order to obtain 9 trial trial. Factor used is the addition of water 1000 ml(V1), 750 ml(V2), 500 ml(V3).
F test results showed that the addition of water have very significant effects on the moisture content of vco oil, however the addition of water does not significantly affect the yield. The highest yield was the addition of 750 ml of water as much as 11,12%, on the three treatments addition of 500 ml of water for 1 kg of grated coconut oil VCO gain quality and meet ISO standards.

Keyword : coconut oil, addition of water, grated coconut
85268981D1E010125LITER SIZE DAN TINGKAT MORTALITAS CEMPE PRA SAPIH DOMBA KLOWOH DI KECAMATAN KALIKAJAR KABUPATEN WONOSOBOPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji litter size dan tingkat mortalitas cempe pra sapih domba Klowoh di Kecamatan Kalikajar Kabupaten Wonosobo. Sasaran dan materi dalam penelitian adalah peternak domba Klowoh berjumlah 69 orang berasal dari anggota kelompok maupun bukan anggota kelompok dan 111 ekor induk domba Klowoh. Metode penelitian yang digunakan adalah metode sensus. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif statistik untuk mengetahui litter size dan tingkat mortalitas yang meliputi frekuensi, rata-rata, angka maksimal, angka minimal dan standar deviasi, dan analisis Chi- Square digunakan untuk melihat perbedaan proporsi mortalitas pada kategori litter size satu dan litter size dua. Hasil penelitian menunjukan bahwa rata-rata litter size domba Klowoh 1,05 ekor, dengan kelahiran tunggal frekuensinya lebih tinggi (89,47%) daripada kelahiran kembar dua (10,53%). Rata-rata tingkat mortalitas adalah 0,063 (6,3%) dari populasi yang diteliti dengan tingkat mortalitas 0% sebesar 94,74% dan pada tingkat mortalitas 50-100% adalah 5,26%. Tingkat mortalitas 0% pada litter size satu adalah 97,1% dan pada litter size dua 75%, sedangkan tingkat mortalitas 50-100% pada litter size satu sebesar 2,9% dan pada litter size dua 25%. Terdapat perbedaan secara signifikan (P<0,01) antara tingkat mortalitas cempe prasapih pada litter size satu yang lebih rendah dibandingkan dengan litter size dua pada domba Klowoh. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat perbedaan proporsi mortalitas pada kategori litter size satu dan litter size dua pada domba Klowoh di Kecamatan Kalikajar Kabupaten Wonosobo.


This study was aimed to assess litter size and mortality of pre weaned Klowoh lambs in Kalikajar District Wonosobo Regency. Target in the current research was Klowoh sheep of 111 heads and the breeder of 69 people who were member of the group and not member of the group. The research method used a census. The analysis used was Descriptive to determine litter size and mortality rate which includes the frequency, average, maximum rate, the minimum and standard deviation, Chi-Square analysis was used to determine the difference in the proportion of mortality in the category of litter size one and litter size two. The results showed that the average litter size was 1.05, single births were more frequent (89.47%) than that twin births (10.53%). Average mortality rate was 0.063 (6.3%) of the population studied with 0% mortality rate was 94.74% and with 50-100% mortality rate was 5.26%. The mortality rate of 0% on the litter size one was 97.1% and the litter size two was 75%, while the mortality rate of 50-100% in the litter size one was 2.9% and in the litter size two was 25%. There was a significant difference (P <0.01) in mortality rate between litter size one and two. The conclusion of this study is that there are differences in the proportion of mortality in the category of litter size one and litter size two of Klowoh lambs in Kalikajar District Wonosobo Regency.


852710515E1A010179ALASAN MAHKAMAH AGUNG MENOLAK PERMOHONAN KASASI PENUNTUT UMUM DALAM TINDAK PIDANA PERSETUBUHAN (Putusan Mahkamah Agung R.I. No. 924 K/Pid.Sus/2012)Penelitian ini berjudul “ALASAN MAHKAMAH AGUNG MENOLAK PERMOHONAN KASASI PENUNTUT UMUM DALAM TINDAK PIDANA PERSETUBUHAN (Putusan Mahkamah Agung R.I. No. 924 K/Pid.Sus/2012).
Berdasarkan dari judul tersebut, maka dapat dirumuskan permasalahan yang pertama yaitu alasan Mahkamah Agung menolak permohonan kasasi penuntut umum dalam tindak pidana persetubuhan dalam Putusan Mahkamah Agung R.I. No. 924 K/Pid.Sus/2012 dan akibat hukum kasasi yang ditolak oleh Mahkamah Agung dalam Putusan Mahkamah Agung R.I. No. 924 K/Pid.Sus/2012.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui alasan Mahkamah Agung menolak permohonan kasasi penuntut umum dalam tindak pidana persetubuhan dalam Putusan Mahkamah Agung R.I. No. 924 K/Pid.Sus/2012 dan juga untuk mengetahui akibat hukum kasasi yang ditolak oleh Mahkamah Agung dalam Putusan Mahkamah Agung R.I. No. 924 K/Pid.Sus/2012.
Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif, dengan pendekatan konseptual dan pendekatan kasus. Dimana pendekatan konseptual beranjak dari doktrin-doktrin yang berkembang di dalam ilmu hukum dan pendekatan kasus digunakan untuk mempelajari penerapan norma-norma atau kaidah hukum yang dilakukan dalam praktik hukum.
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa dari alasan yang diajukan oleh pemohon kasasi tidak ada yang sesuai dengan alasan – alasan kasasi dalam Pasal 253 ayat (1) Kitab Undang – Undang Hukum Acara Pidana dan akibat hukum kasasi yang ditolak oleh Mahkamah Agung dalam Putusan Mahkamah Agung R.I. No. 924 K/Pid.Sus/2012 yaitu menguatkan putusan pengadilan sebelumnya yaitu putusan Pengadilan Tinggi Semarang Nomor : 60/Pid.Sus/2012/PT.Smg.
The title of this research is “THE REASON SUPREME COURT REJECTING THE APPEAL LEGAL REMEDY OF PROSECUTOR IN COPULATION CRIMINAL ACT (Indonesia Supreme Court Decision Number 924 K/Pid.Sus/2012).
Based on the tittle, the problem that will be studied is the conformity of the reason Supreme Court rejecting the appeal legal remedy of prosecutor in copulation criminal act (Indonesia Supreme Court Decision Number 924 K/Pid.Sus/2012 and the legal consequence of the appeal legal remedy Indonesia Supreme Court Decision Number 924 K/Pid.Sus/2012 in this decision
The purpose of this research is to know the reason of the Supreme Court rejecting the appeal legal remedy of prosecutor Indonesia Supreme Court Decision Number 924 K/Pid.Sus/2012 and the legal consequence of the appeal legal remedy Indonesia Supreme Court Decision Number 924 K/Pid.Sus/2012.
The method of this research is juridical research or norm legal research with conceptual approach and case approach. The conceptual approach based on the doctrin that exist and expanded in law science and the case approach used to learn the implementation of legal norm in law practice.
The result of the research show that all the reason of appeal legal remedy Indonesia Supreme Court Decision Number 924 K/Pid.Sus/2012 submission have no conformity with the legal reason in Article 253 clause 1 Act 8/1981 about Law of Criminal Procedure (KUHAP) and the legal consequence of the appeal legal remedy refusal in Supreme Court Decision number 924 K/Pid.Sus/2012 is strengthen the previous court decision so that decision has the constancy of power.
852810581A1H007032PENGARUH JENIS BAHAN PENGEMAS TERHADAP KUALITAS PRODUK CABAI MERAH (Capsicum annuum L.) SEGAR KEMASAN SELAMA PENYIMPANAN DINGINCabai merah (Capsicum annuum L.) memiliki sifat yang mudah rusak. Sifat mudah rusak ini dipengaruhi oleh kadar air dalam cabai yang sangat tinggi sekitar 90% dari kandungan cabai merah itu sendiri. Pendinginan merupakan salah satu cara untuk mempertahankan hasil pertanian, khususnya sayuran. Pendinginan akan memperlambat atau mencegah terjadinya kerusakan tanpa menimbulkan gangguan pada proses pematangan dan memperlambat perubahan yang tidak diinginkan. Teknologi pascapanen yang biasanya diterapkan pada produk sayuran segar adalah teknologi pendinginan dalam lemari pendingin (Refrigerated Air Cooling). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh jenis bahan pengemas terhadap kualitas cabai merah segar selama penyimpanan dingin serta mengetahui pengaruh lama penyimpanan terhadap kualitas cabai merah segar selama penyimpanan dingin. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), yang terdiri dari 20 kombinasi perlakuan dengan dua kali ulangan sehingga diperoleh 40 unit percobaan. Faktor pertama adalah bahan pengemas yang terdiri dari empat taraf yaitu pengemasan dengan daun pisang (P1), pengemasan dengan LDPE (P2), pengemasan dengan stretch film (P3) dan tanpa pengemas (P4). Faktor kedua adalah lama penyimpanan yang terdiri dari lima taraf yaitu 0, 1, 2, 3 dan 4 minggu. Hasil uji F menunjukkan pada jenis bahan pengemas daun pisang memberikan kualitas terbaik dibanding perlakuan yang lain. Daun pisang memiliki nilai rata-rata kadar air: 38,02% ; vitamin C: 22,71 mg/100 gram ; susut bobot: 36,99% ; warna 1,16 ; tekstur: 0,31 kg.
Kata kunci : cabai merah, penyimpanan dingin, jenis kemasan, umur simpan
Red chili have a perishable nature. Perishable nature is influenced by the water content in the chili very high about 90% of the content of the red chili. Cooling is one way to maintain crops, especially vegetables. Cooling will slow or prevent damage without causing harm to the slow process of maturation and unwanted change. Postharvest technologies are usually applied to fresh vegetables are cooling technology in a refrigerator. Purpose of this research to determine the influence of the type of packaging materials on the quality of red chili during cold storage as well as determine the effect of storage time on the quality of fresh red chili during cold storage. This research was carried out for a month on Mei 2013 at the laboratory of Agriculture Engineering and the laboratory of nutrient and food. Completely Randomized Design (CRD) was used consisted of 20 treatment combination with twice replicates so that gotten 40 experimental units. Were of thinned, the first factor was packaging material ones consisted of four levels, i.e., packaging with banana leaves (P1), packaging with LDPE, packaging with stretch film and without packaging.the second factor is storage time consisted of five levels, i.e., 0, 1, 2, 3 and 4 weeks, if the real effect of treatment then continued with Duncan Multiple Range Test (DMRT) at 5%when significant difference was found. Result of F showed that type of banana leaf packaging materials provide the best quality compared to others treatments. Result of analysis of variance showed storage in banana leaves had an average value of water content: 38,02% ; vitamin C: 22,71 mg/100 g ; weight loss: 36,99% ; colour: 1,16 ; texture: 0,31 kg.
Keywords: red chili, cold storage, type of packaging, shelf life
852910583E1A011065PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN PENGGUNA OBAT PELANGSING BERDASARKAN PASAL 4 UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMENPenelitian ini berjudul “Perlindungan Hukum Terhadap Konsumen Pengguna Obat Pelangsing Berdasarkan Pasal 4 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen”. Latar belakang masalah penelitian ini adalah hak-hak konsumen sebagai pengguna obat pelangsing yang masih belum terpenuhi secara maksimal dikarenakan saat ini masih ada pelaku usaha yang memproduksi obat pelangsing berbahaya dengan campuran bahan berbahaya seperti sibutrmine yang dapat merugikan keamanan dan keselamatan konsumen.
Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pendekatan yuridis normatif, yaitu pendekatan yang menggunakan konsepsi legistis posivistis. Metode analisis yang digunakan adalah normatif kualitatif. Penelitian ini dilakukan di Dinas Kesehatan dan Dinas Perdagangan Kabupaten Banyumas, serta Pusat informasi Ilmiah Fakultas Hukum dan UPT Perpustakaan Universias Jenderal Soedirman.
Berdasarkan hasil penelitian bahwa Dinas Kesehatan bekerjasama dengan Badan pengawas Obat dan Makanana telah berupaya memberikan perlindungan hukum sebagaimana tercantum dalam Pasal 4 Undnag-undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, namun mengenai hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa belum terpenuhi secara maksimal karena masih ada pelaku yang memproduksi obat pelangsing berbahaya dengan tidak mematuhi peraturan yang ada dalam Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998 tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan. Mengenai hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa yang digunakan juga belum terpenuhi secara maksimal, karena masih ada pelaku usaha yang ,memproduksi obat pelangsing berbahaya dengan tidak mencantumkan komposisi atau komponen obat dalam penandaan obat plansing sebagaimana yang diatur dalam ketentuan Pasal 28 Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998 tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan mengenai syarat-syarat pencantumn penandaan dan informasi sediaan farmasi dan alat kesehatan secara obyektif, lengkap, serta tidak menyesatkan.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut hendaknya pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan usahanya harus menaati syarat-syarat serta ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan, supaya tidak ada lagi konsumen yang merasa dirugikan karena hak-haknya telah dilangar.


This research entitles “The Law Protection to the Consumer of the Slim Medicine User Based on the Article 4 Ordinance Number 8 in1999 about the Consumer Protection”. The background of the problem in this research is the consumers rights as the slim medicine user that still has not been fulfilled maximally it is caused recently there still the businessman who produces the dangerous slim medicine with the dangerous ingredient mixture such as sibutramine that can damage the security and consumer safety.
Method of approach in this research uses the method of normative juridical, it is the approach that uses the conception of legistis positivis. Method of analysis uses the qualitative normative. This research was conducted in the Department of Health and Department of Trade in the Regency of Banyumas, and the Scientific Central Information in the Faculty of Law and UPT Library in the Jenderal Soedirman University.
Based on the result of research that the Department of Health cooperates with the Board of Medicine and Food Controlling has tried to give the law protection as explained in the Article 4 Ordinance Number 8 in 1999 about the Consumer Protection, but about the right and comfort, and safety in using the goods and/service before being fulfilled maximally because there is still businessman that produces the dangerous slim medicine without obeying the regulation in the Government Regulation in Republic of Indonesia Number 72 in 1998 about the Safety Pharmacy Supply and Health tool. About the information right which is trusted, clear and honest about the condition and guarantee the good and/or service that is used it also has not be fulfilled maximally, because there is the business actor that produces the dangerous slim medicine without explaining the composition or component of medicines in the slim medicine where it is regulated in the regulation in Article 28 Government Regulation in Republic of Indonesia Number 72 in 1998 about the pharmacy supply safety and Health Tool about the explanation requirement and information of the pharmacy and health tool objectively, detail and not cheating.
Based on the result of research it is supposed to the businessman in running their business activities must obey the conditions and regulation in the regulation of Ordinance and there is no any consumers that feel being cheated because their rights have been broken.



85308982F1D007085PERAN DISPERINDAGKOP DALAM PENGEMBANGAN USAHA MIKRO KECIL MENENGAH (UMKM) PERAJIN LOGAM INDUSTRI SATRIA DI DESA PASIR WETAN KABUPATEN BANYUMASPenelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui Peran Disperindagkop Dalam Pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (Umkm) Perajin Logam Industri Satria Di Desa Pasir Wetan Kabupaten Banyumas. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa Pengembangan UMKM Perajin Logam Industri Satria di Desa Pasir Wetan Kabupaten Banyumas merupakan kelompok organisasi usaha mitra binaan Dinas Perindustrian kabupaten Banyumas. Dalam pengembangannya aktor-aktor yang berkepentingan diantaranya: Disperidagkop, pemerintah desa, pengusaha logam, perajin logam dan tokoh-tokoh yang ikut serta menjaga eksistensi kerajinan logam sekaligus berperan penting dalam pengembangan UMKM industri logam di Pasir Wetan. Selain itu, Pengembangan perajin logam juga belum sesuai dengan prinsip-prinsip community development. Adapun faktor penghambat dalam pengembangan pengrajin logam adalah lemahnya peran dan koordinasi pemerintah desa dalam memajukan usaha-usaha yang ada di desa. Kemudian masih lemahnya peran Disperidagkop dalam pembinaan pelatihan dan promosi. Selain itu masalah internal dari pengembangan ini adalah lemahnya pemahaman tentang perkoperasian didalam kelompok oleh anggota dan terus menurunnya antusias anggota kelompok terhadap kepentingan kemajuan kelompok sebagai organisasi. Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan, tingginya budaya usaha dan kewirausahaan, secara turun temurun terutama di kalangan angkatan kerja muda, tidak diimbangi dengan pelatihan, bimbingan konsultasi dan penyuluhan, serta kemitraan dan binaan dari Disperidagkop yang bersifat partisipatif dan pro aktif. Sehingga pembentukan organisasi kelompok usaha merupakan wadah koperasi yang mutlak dimaksudkan untuk melayani kepentingan anggota dan kemajuan bersama belum terlaksana dengan baik.

Kata Kunci: Pengrajin Logam, Pasir Wetan, Industri.
This research discusses the development of Micro, Small and Medium Craft Metal "Satria Industries" in the village Pasir Wetan Banyumas. This study aims to: 1) understand and explain the actors involved in the development of micro small and medium metal crafters "Satria Industries" in the village of Banyumas PasirWetan 2) understand and explain the factors that support and hinder the development of micro small and medium crafters metal "Satria Industries" in the village Pasir Wetan Banyumas. so that the method used is qualitative methods of describing a social phenomenon while the approach used is a case study approach and the interactive analysis of the data analysis techniques. Result of this research describes that the development of Micro, Small and Medium Craft Metal Satria Industries in Banyumas PasirWetan Village is a group of business organization established partners of Industry Banyumas district. In development actors concerned are: Disperidagkop, village government, employers metal, metal craftsmen and leaders participating at the same time maintaining the existence of metal craft was instrumental in the development of micro small and medium enterprises in the metal industry PasirWetan. In addition, the development of metal crafters is also not in accordance with the principles of community development. The limiting factor in the development of this art is the lack of coordination and the role of government in promoting rural businesses in the village. Later still weak Disperidagkop role in coaching training and promotion. In addition to the internal problems of development are the lack of understanding of cooperatives in the group by members and the enthusiastic members of the group continued to decline against the interests of the group as the organization's progress. In addition, this study shows, the high business and entrepreneurial culture, generation to generation, especially among the young workforce, is not matched with the training, guidance and counseling consultations, as well as partnerships and built from Disperidagkop participatory and pro-active. So the formation of the organization of cooperative group is a container that is absolutely meant to serve the interests of members and the progress has not been performing well together.
Key Words: Metal Craftmen, Pasir Wetan, Industry.
85318983F1B010116ANALISIS PROSES PERUMUSAN KEBIJAKAN PENGGABUNGAN KELURAHAN DI KOTA PEKALONGANAdanya Peraturan Daerah tentang penggabungan kelurahan dilatarbelakangi adanya permasalahan-permasalahan yang terkait dengan kelurahan di Kota Pekalongan seperti kondisi jumlah penduduk dan luas wilayah per kelurahan di Kota Pekalongan yang tidak memenuhi syarat yang terdapat dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri, adanya moratorium PNS akibat dari jumlah Belanja Pegawai yang melebihi 50% dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sehingga menyebabkan banyaknya jabatan yang kosong karena tidak adanya penambahan jumlah PNS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, mendeskripsikan dan menganalisis proses perumusan kebijakan penggabungan kelurahan di Kota Pekalongan serta mengetahui kendala-kendala apa saja yang dihadapi dalam perumusan kebijakan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan melakukan wawancara dan dokumentasi. Wawancara dilakukan dengan beberapa informan dari Sekretariat Daerah Kota Pekalongan, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), DPPKAD dan Dindukcapil. Kesimpulan dari penelitian ini ialah kebijakan penggabungan kelurahan merupakan kebijakan inisiatif dari pemerintah daerah atau eksekutif. Proses perumusan kebijakan penggabungan kelurahan terdiri dari 4 (empat) tahap yaitu mengidentifikasikan isu kebijakan, merumuskan agenda kebijakan, melakukan konsultasi dan menetapkan keputusan. Setiap tahap dalam proses perumusan kebijakan berjalan dengan baik dan keterlibatan atau partisipasi masyarakat cukup baik dalam proses perumusan kebijakan penggabungan kelurahan. Kebijakan penggabungan kelurahan ditetapkan dalam sebuah Peraturan Daerah, namun perda tersebut belum dapat diimplementasikan karena terhambat oleh surat edaran dari Kemendagri yang melarang setiap pemerintah daerah baik Kabupaten maupun Kota untuk tidak melakukan pemekaran dan penggabungan wilayah baik desa, kecamatan maupun kelurahan.The existence of Regional Regulation on subdistrict merger is caused by the problems that is associated with subdistrict in Pekalongan, such as the condition of total population and the wide area per subdistrict in Pekalongan which does not meet the requirement on Regulation of the Minister of Interior, moratorium of PNS (Pegawai Negeri Sipil/Civil Servants) is the result of the number of civil servants expenditure that exceed 50% from the total of APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah/Regional Budget), so it causes many vacant positions because there is no additional number of PNS.
This research aimed to know, describe and analyze the process of policy formulation on subdistrict merger in Pekalongan as well as to know what are the obstacles that are faced in making a policy.
The research method used was descriptive qualitative approach by conducting interview and documentation. The interview was conducted with several informants from Regional Secretary of Pekalongan, the Regional House of Representative (DPRD), Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah/Development Planning Agency at Sub-National Level), DPPKAD (Local Finance, Assets, and Revenue Office) and Dindukcapil (Population and Civil Registration Agency).
The conclusion of this research is the policy on subdistrict merger is a policy initiative of the local government or the executive. The process of policy formulation on subdistrict merger consists of 4 (four) stages identified policy issues, formulate policy agendas, consultation and establish a decision. Each stage in the process of policy formulation is going well and public involvement or participation is going pretty well in the process of subdistrict merger policy formulation. The policy on subdistrict merger set in a regional regulation, but the regional regulation yet to be implemented because it is hampered by a circular from the Kemendagri which prohibits any local government both District and City to not to do expansion and merger regions both village, district or subdistrict.
85328984E1A010141PENERAPAN PASAL 4 UNDANG-UNDANG NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DALAM PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 468 K/Pdt.Sus/2011.Pengertian tentang merek didalam ketentuan Pasal 1 angka (1) Undang Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek yaitu “Merek adalah tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna, atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa.” Undang Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek mengenut asas Konstitutif yaitu pihak yang berhak atas suatu merek adalah pihak yang telah mendaftarkan mereknya ke Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual.
Undang undang ini mengatur mengenai larangan pendaftaran merek terhadap pendaftar merek yang beritikad tidak baik dalam ketentuan Pasal 4 dan penjelasan Pasal 4 Undang Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek, yaitu Pemohon yang beritikad tidak baik adalah Pemohon yang mendaftarkan Mereknya secara tidak layak dan tidak jujur dengan ada niat untuk membonceng, meniru atau menjiplak ketenaran Merek pihak lain demi kepentingan usahanya yang berakibat kerugian pada pihak lain itu atau menimbulkan kondisi persaingan curang, mengecoh atau menyesatkan konsumen.
Adapun inti dari perkara sengketa Merek yang dibahas pada skripsi ini adalah Dugaan pelanggaran Merek Pak Elan yang dilakukan oleh Ir. Alamin (Tergugat), dimana Tergugat mendaftarkan merek yang diduga hasil pewarisan, bukan atas nama seluruh ahli waris (Para Penggugat) tetapi atas nama pribadi Tergugat, dan Hj. Ayumah (Penggugat) sekaligus ahli waris yang memiliki Rumah Makan PAK ELAN II keberatan atas tindakan Tergugat yang meminta royalti karena Penggugat menggunakan nama PAK ELAN pada rumah makannya.
The notion of brand within the provisions of Article 1 paragraph (1) of Law No. 15 of 2001 regarding Brand, "Brand is a sign that a picture, name, word, letters, figures, composition of colors, or a combination of those elements that have distinguishing features and used in the trading of goods or services.” Law No. 15 of 2001 regarding Brandembraces Constitutive principle that the parties which are entitled to a brand is the brand that has been registered to the Directorate General of Intellectual Property Rights.
This law governs the prohibition against the brand registration by the applicant with bad faith as mentioned within the provisions of Article 4 and the explanation of Article 4 of Law No. 15 of 2001 regarding Brand, the applicant with bad faithis the applicant who register their brand improperly and dishonestly with the intention to ride, imitate or plagiarize other parties Brand fame for the sake of their efforts that result in a loss on the other party or create conditions of unfair competition, deceptive, or misleading the consumer.
The main topic of brand dispute discussed in this research is a suspicion of violation of PAK ELAN’s brand committed by Ir. Alamin (Defendant) in which the Defendant registered brand which is thought to result from inheritance, not on behalf of all heirs (Plaintiffs) but on behalf of the Defendant personally, and Hj. Ayumah (Plaintiff), as one of the heirs who owns PAK ELAN II Restaurant, has objections to the actions of Defendant thatrequests royalties because Defendant has used PAK ELAN names as the name of his restaurant
853311054G1D011027PENGARUH EDUKASI DENGANMODUL PEMBELAJARAN TERHADAP KEPATUHAN DIET PENDERITA HIPERTENSI DI DESA REMPOAH KECAMATAN BATURADEN KABUPATEN BANYUMASLatar Belakang:Rendahnya tingkat kepatuhan diet menyebabkan kejadian hipertensi semakin meningkat. Cara meningkatkan kepatuhan yang pernah diteliti yaitu ceramah kesehatan, buku ilustrasi, booklet, dan leaflet, namun belum ada yang meneliti modul pembelajaran untuk meningkatkan kepatuhan diet hipertensi.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi dengan modul pembelajaran terhadap kepatuhan diet penderita hipertensi.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode dengan pre and post test with control group design. Desain ini menggunakan dua kelompok, yaitu perlakuan dan kontrol.Kelompok perlakuan diberi edukasi dengan modul, sedangkan kelompok kontrol diberi edukasi tanpa modul.Sampel diambil menggunakan teknik random sampling dengan jumlah 30 responden pada setiap kelompok. Analisis data menggunakan paired t test dan independent t test.
Hasil: Karakteristik responden sebagian besar adalah lansia awal dan lansia akhir (36,7%), berjenis kelamin perempuan (80%), berpendidikan sekolah dasar (88,3%), tidak bekerja (56,7%), memiliki IMT normal (70%), dan memiliki hipertensi sedang (50%). Hasil paired t test sebelum dan sesudah perlakuan pada kedua kelompok menunjukkan nilai p=0,000 (<0,05). Sedangkan hasil uji independent t test pada perbedaan peningkatan kepatuhan kedua kelompok menunjukkan nilai p=0,018 (<0,05).
Kesimpulan: Edukasi menggunakan modul pembelajaran efektif meningkatkan kepatuhan diet penderita hipertensi.
Background: The low levels of dietary compliance causes the increasing of hypertension. The method to improve the compliance that have studied are the health speech, counseling, booklets and leaflets, but no one has studied the learning module to improve the dietary compliance of hypertension.
Objective: This study aimed to determine the effect of education with learning modules on dietary compliance of hypertension patients.
Methods: This study used pre and post-test with control group design. This design uses two groups; treatment and control. The treatment group was educated by using module, while the control group were educated without modules. The samples were taken using random sampling technique of 30 respondents in each group. The data analysis was using paired t test and independent t test.
Results:Most of respondents characteristic were elderly (36,7%), female (80%), elementary school educated (88,3%), unemployment (56,7%), having normal BMI (70%) and having moderate hypertension (50%). The results of paired t test before and after treatmentin both groups showedp=0.000(<0.05). While the results ofthe independent t testonthe difference increasing compliance betweenthe twogroups showed p=0.018 (<0.05).
Conclusion: The education by using learning modules is effectively improve dietary compliance of hypertension patients.
853410582E1A011169IMPLEMENTASI PEMBERIAN BANTUAN HUKUM BAGI RAKYAT MISKIN DI JAWA TENGAH BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG BANTUAN HUKUMIndonesia adalah negara hukum. Negara wajib melindungi hak warga negaranya, termasuk hak atas bantuan hukum. Lahirnya Undang-Undang No. 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum memberikan harapan baru bagi rakyat miskin untuk mendapatkan akses terhadap keadilan (access to justice) dan kesamaan dihadapan hukum (equality before the law). Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui sejauh mana implementasi pemberian bantuan di Jawa Tengah serta hambatan-hambatan yang mempengaruhinya dalam implementasinya.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode pendekatan normatif-empiris. Data yang digunakan adalah data sekunder dan data primer. Pengumpulan data dilakukan dengan studi dokumen dan wawancara terhadap orang-orang yang dianggap berhubungan erat dengan permasalahan yang diteliti. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan analisis data kualitatif.
UU No. 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum belum terimplementasi dengan baik di Jawa Tengah. Hal ini dikarenakan beberapa faktor, yaitu: Masih banyak orang miskin yang belum tahu adanya bantuan hukum; Masih banyak orang miskin yang berperkara tanpa mendapat bantuan hukum; Pengawasan masih pada tataran administrasi, belum pada aspek pelayanan teknis pemberian bantuan hukum; Pelayanan LBH selaku pemberi bantuan hukum belum maksimal; Sistem reimbursement dana bantuan hukum masih ribet, belum efektif dan efisien. Faktor-faktor yang menghambat ada tiga, yakni: faktor substansi hukum, struktur hukum dan budaya hukum.
Indonesia is a legal state .The state is obliged to protect the rights of its citizens , including the right to legal aid .The establishment of the act of no. 16 years old 2011 about legal aid give new hope to the poor to get access to justice (access to justice) and similarity in to law (equality before the law). This research intend to understand the extent of the implementation of the provision of assistance in central java and the obstacles affecting it in their implementation.
The research is the qualitative study with the methods normatif-empiris approach. The data used was secondary data and primary data. Data collection is done with the study documents and interviewing people who are considered closely connected with the problems the treatment. The accumulated data analyzed by using analysis of qualitative data.
UU No. 16 tahun 2011 tentang Bantuan Hukum not implementation well in central java. It was because several factors, namely: still many poor people who are not yet know the legal aid; still many poor people who litigant without obtaining legal assistance; supervision still on a level administration, not yet on the technicavl service aspects granting legal aid; service providers lbh as senior legal aid not maximum; system tax restitution problem legal aid funds still nasty, not effective and efficient .The factors that hinder there are thre , people the substance legal factors , legal structure and cultural law.
85358985D1E010089SUBTITUSI BUNGKIL KEDELAI DENGAN KONSENTRAT PROTEIN BUNGKIL BIJI JARAK (KP-BBJ) FERMENTASI DALAM PAKAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP KARKAS DAN NON KARKAS KELINCIPenelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan konsentrat protein bungkil biji jarak (KP-BBJ) fermentasi terhadap karkas dan non karkas kelinci. Materi yang digunakan adalah kelinci rex unsexed lepas sapih dengan umur berkisar antara 6 sampai 8 minggu sebanyak 20 ekor dengan bobot awal antara 500-1000 gram dan ransum menggunakan KP-BBJ fermentasi. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode eksperimental in vivo dan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), empat perlakuan dengan lima ulangan. Perlakuan yang diuji adalah penggunaan KP-BBJ fermentasi dalam ransum R1 (ramnsum tanpa KP-BBJ fermentasi), perlakuan R2 (ransum dengan kandunan KP-BBJ fermentasi 6%), perlakuan R3 (ransum dengan kandungan KP-BBJ fermentasi 12%), dan perlakuan R4 (ransum dengan kandungan KP-BBJ fermentasi 18%). Peubah yang diukur adalah persentase karkas dan non karkas kelinci. Data dianalisis menggunakan analisis kovariansi dan dikoreksi ke arah sex yang sama. Hasil analisis kovariansi menunjukkan bahwa penggunaan konsentrat protein bungkil biji jarak fermentasi dalam pakan berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap persentase karkas dan non karkas kelinci. Kesimpulan dari penelitian ini adalah perlakuan pakan komplit pellet yang mengandung konsentrat protein bungkil biji jarak fermentasi hingga 18%, dapat menggantikan bungkil kedelai hingga 100% dan tidak mempengaruhi persentase karkas dan non karkas kelinci.The aim of this research was knowing the use protein concentrate of fermented Jatropha curcas L. seed meal on carcass and non carcass rabbit’s. Materials used were unsexed rex rabbit with the range of age 6 until 8 weeks as many as 20 heads and weight 500-1000 grams and ration use protein concentrates of fermented Jatropha curcas L. seed meal. This research was conducted by in vivo experimental method, by using Completely Randomized Design (CRD), four treatments with five replications. The tested treatments were the use of protein concentrates of fermented Jatropha curcas L. seed meal with R1 (feed without protein concentrates of fermented Jatropha curcas L. seed meal), R2 (feed containing 6% protein concentrate of fermented Jatropha curcas L. seed meal), R3 (feed containing 12% protein concentrate of fermented Jatropha curcas L. seed meal), R4 (feed containing 18% protein concentrate of fermented Jatropha curcas L. seed meal). Variables that were recorded and observed were percentage of carcass and non-carcass rabbit’s. Data were analyzed using analysis of covariance and corrected to the same sex. Covariance analysis results showed that the use of protein concentrate of fermented Jatropha curcas L. seed meal in feed had no significant (P>0.05) effect on percentage of carcass and non-carcass of rabbit’s. The conclusion of this research is, treatment of complete pelleted feed containing protein concentrates of fermented Jatropha curcas L seed in feed meal until 18%., soybean meal can replace up to 100% and does not affect the percentage of carcass and non-carcass rabbits.
853610584H1D010035PENGARUH VARIASI PANJANG PENYALURAN TULANGAN BAN BEKAS TERHADAP KUAT LEKAT DAN POLA KERUNTUHAN LEKATANBan bekas adalah bahan yang mempunyai regangan yang tinggi, sehingga apabila ingin dijadikan sebagai tulangan pada beton maka regangan beton dan regangan ban bekas harus diusahakan seimbang. Salah satu persyaratan dalam struktur beton bertulang adalah adanya lekatan antara tulangan dan beton sehingga apabila struktur beton diberikan beban tidak akan terjadi slip antara tulangan dan beton, asalkan tersedia panjang penyaluran yang cukup.
Benda uji yang digunakan berupa silinder beton dengan diameter 150 mm dan tinggi 300 mm dengan fc’ 15 MPa. Ban bekas yang digunakan sebagai tulangan memiliki dimensi penampang 10 mm x 10 mm dengan serat nylon dan dalam kedaan jenuh. Tulangan baja polos dengan diameter 8 mm digunakan sebagai pembanding.Tulangan dimasukkan ke dalam beton silinder dengan variasi panjang penyaluran 10 mm, 30 mm, 50 mm, 70 mm dan 100 mm dengan 3 buah sample setiapvariasinya. Penelitian ini menggunakan metode pengujian pull out.
Hasil penelitian menunjukkanbahwa tegangan lekat pada tulangan ban bekas μr= 0.173 ld-0.08 dan μs = 8.972 ld-0.10 untuk tulangan baja. Pola keruntuhan yang terjadi pada tulangan ban bekas sampai dengan ld < 15,9 cm tulangan ban bekas mengalami slip, sedangkan pada tulangan baja sampai dengan ld < 7,6 cm tulangan mengalami slip, untuk ld > 7,6 permukaan beton sudah mengalami kehancuran.
The waste tires is a material that has a high strain. Strain of concrete and waste tires should be in balance condition when they are used as a matrix material. One of the requirements in reinforced concrete structures is the bond strengthcapacity between reinforcement and the concrete.Due to the bond strength capacity,reinforcement and concrete behave as unity material.
This study use cylinder specimen with 150 mm of diameter and 300 mm of height in order to investigate the bond strength capacity. The waste tire and steel bar are inserted into cylinder specimen. The dimension of steel bar and cross section of the waste tires are 8 mm in diameter and 10 mm x 10 mm consecutively. The waste tire used in this study is tire with nylon fiber. The length of the steel bar and the waste tire inserted in concrete are 10 mm, 30 mm, 50 mm, 70 mm and 100 mm. Each model of them consist of three specimens. The bond strength is evaluated using pull out testing.
The results show that the bond strength on tires reinforcement μr= 0.173 ld-0.08andμs = 8.972 ld-0.10for steel reinforcement. Bond strengthof waste tire as reinforcement withld less than 15,9cm, the failure type on the testing is slip. On the other hand,the failure type ofthe steel bar as reinforcement with ld less than7,6cm is slip. The concrete is broken whenld of the steel bar more than7,6 cm.
853710585G1F011008
STANDARDISASI EKSTRAK ETANOL RIMPANG TEMULAWAK (Curcuma xanthorriza Roxb.), KUNYIT
(Curcuma longa Linn.) DAN JAHE MERAH
(Zingiber officinale var. rubrum)
Temulawak (Curcuma xanthorrhiza), kunyit (Curcuma longa Linn.) dan jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum) berpotensi untuk dikembangkan menjadi obat herbal terstandar sebagai agen ko-kemoterapi kanker. Standardisasi ekstrak harus dilakukan untuk menjamin mutu ketiga ekstrak tanaman tersebut sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam Farmakope Herbal Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui parameter standar dari ketiga ekstrak tersebut.
Parameter standar yang diuji meliputi kadar air, kadar abu total, kadar abu tidak larut asam, dan kandungan kimia (senyawa marker) ekstrak. Analisis senyawa marker (kurkumin) dalam ekstrak etanol rimpang temulawak, kunyit, dan jahe merah dilakukan dengan metode HPLC menggunakan detektor UV-Vis pada panjang gelombang 254 nm, kolom C18, dan fase gerak metanol:air (60:40 v/v).
Hasil penelitian menunjukkan kadar air ekstrak etanol rimpang temulawak, kunyit dan jahe merah memenuhi persyaratan. Kadar abu ekstrak etanol rimpang temulawak dan jahe merah memenuhi persyaratan, sedangakan kunyit tidak memenuhi persyaratan. Kadar abu tidak larut asam ekstrak etanol rimpang temulawak memenuhi persyaratan, sedangkan kunyit dan jahe merah tidak memenuhi persyaratan. Secara kualitatif terdeteksi senyawa kurkumin dalam ekstrak etanol rimpang kunyit dan temulawak, sedangkan pada jahe tidak terdeteksi. Secara kuantitatif kadar kurkumin yang terdapat dalam ekstrak etanol rimpang temulawak adalah 0,60% dan dalam ekstrak kunyit adalah 1,85%.
Curcuma (Curcuma xanthorrhiza Roxb.), turmeric (Curcuma longa Linn.) and ginger (Zingiber officinalevar. rubrum) has the potential to be developed into standarized herbal medicine as co-agent chemotherapy of cancer. Standardization extract should be taken to ensure the quality of the three extracts plant in accordance with the established in Farmakope Herbal Indonesia. This research aims to determine the standard parameters of them.
Standard parameters tested include water content, total ash, acid insoluble ash, and chemical content (marker compound) of extract. Analysis of marker compound (curcumin) in ethanol extract curcuma, turmeric and ginger rhizome has performed by HPLC method using UV-Vis detector at wavelength 254 nm, C18 column, and methanol:water (60:40 v/v) as mobile phase.
The results showed that ethanol extract of curcuma, turmeric and ginger meet the requirements set out. Total ash ethanol extract of curcuma and ginger meet the requirements set out, but turmeric does not meet the requirements. Acid insoluble ash ethanol extract of curcuma meet the requirements set out, but turmeric and ginger did not meet the requirements set out. Qualitatively detected the curcumin compounds in ethanol extracts of ginger and turmeric, while the ginger is not detected the curcumin compounds. Quantitatively levels of curcumin content in the ethanol extract of curcuma is 0.60% and the turmeric is 1.85%.
85388987E1A010064TANGGUNG JAWAB PT. POS INDONESIA (PERSERO) PURBALINGGA
SEBAGAI PENGANGKUT TERHADAP LAYANAN PAKET POS
PT. Pos Indonesia (Persero) sebagai salah satu BUMN yang bergerak dalam penyeleggaaraan pos. Salah satu layanan yang diberikan adalah Paket Pos yang dapat digunakan untuk mengirimkan barang. Pelaksanaan layanan tersebut dapat terjadi permasalahan seperti keterlambatan, kerusakan isi paket dan kehilangan kiriman. Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti terdorong untuk meneliti Tanggung Jawab PT. Pos Indonesia (Persero) Purbalingga sebagai Pengangkut terhadap Layanan Paket Pos. Penelitian ini membahas Paket Pos Kilat Khusus.

Metode pendekatan yang digunakan adalah metode pendekatan yuridis normatif yang disajikan dalam bentuk teks deskriptif. Penelitian ini dilaksanakan di PT. Pos Indonesia (Persero) Purbalingga.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Paket Pos Kilat Khusus memiliki waktu tempuh maksimal empat hari dan klasifikasi berat dari 2kg hingga 50kg. Apabila terjadi permasalahan seperti keterlambatan, kerusakan ataupun kehilangan kiriman maka pengirim dapat memperoleh ganti rugi dengan pemberian sejumlah uang. Perhitungan jumlah ganti rugi dibagi menjadi dua macam. Rincian penghitungannya adalah sebagai berikut:
1. Ganti rugi standar perusahaan terhadap Paket Pos Kilat Khusus yang tidak membayar bea jaminan ganti rugi, dengan perhitungan sebagai berikut:
• Kondisi barang yang hilang/ rusak seluruhnya adalah:
10 (sepuluh) x biaya pengiriman
• Kondisi barang yang hilang/ rusak sebagian adalah:
5 (lima) x biaya pengiriman
• Kiriman yang terlambat adalah:
50% (lima puluh persen) x biaya pengiriman
2. Ganti rugi dengan nilai jaminan ganti rugi terhadap Paket Pos Kilat Khusus yang telah membayar bea jaminan ganti rugi, dengan perhitungan sebagai berikut:
• Kondisi barang yang hilang/ rusak seluruhnya adalah:
100% (seratus persen) x nilai jaminan ganti rugi ditambah
10 (sepuluh) x biaya pengiriman.
• Kondisi barang yang hilang/ rusak sebagian adalah:
50% (lima puluh persen) x nilai jaminan ganti rugi ditambah
5 (lima) x biaya pengiriman.
• Kiriman yang terlambat adalah:
1,5 (satu koma lima) x biaya pengiriman.
PT. Pos Indonesia (Persero) as one of BUMN which exist in post exertions. One of services is Paket Pos which purpose for send goods. The implementation of these services may occur problems such as delay, packages contents damage and loss of shipment. Based on that background, researcher pushed to research the responsbility of PT Pos Indonesia (Persero) Purbalingga as carrier on Paket Pos services. This research will discuss about Paket Pos Kilat Khusus.

The method used in this study is normative juridical approach presented in the form of descriptive systematical text. This research was done in PT Pos Indonesia (Persero) Purbalingga.

This research showed goods which have weight about 2-50 kilograms will qualifcated as Paket Pos Kilat Khusus and this package will arrived to destination maximum for four days. If there are troubles such like delay, packages contents damage and loss of shipment, the shipper may obtain redress by giving some money. There are two kinds of calculation compensation, first based on the company standards and compensation by collateral compensation. This is the details of calculation:
1. Company standards Compensation on Paket Pos Kilat Khusus which not pay out collateral compensation, have right to get compensation with qualification are :
• The condition of the goods are lose or damaged overall is 10 (ten) x shipping cost .
• The condition of the goods are lose or damaged partly is 5 (five) x shipping cost.
• For delays shipment is 50% (fifty percent) x shipping cost.
2. Compensation by colleteral on Paket Pos Kilat Khusus which have pay out colleteral, have right compensation with qualification are :
• The condition of the goods are lose or damaged overall is 100% (a hundred percent) x colleteral plus 10 (ten) x shipping cost.
• The condition of the goods are lose/ damaged partly is 50% (fifty percent) x colleteral plus 5 (five) x shipping cost.
• For delays shipment is 1,5 (one point five) x shipping cost.
85398988A1L010035UJI DAYA HASIL DAN KORELASI ANTAR KARAKTER EMPAT BELAS
GENOTIP PADI GOGO DI KABUPATEN PURBALINGGA
Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengkaji komponen hasil dan daya hasil 14 genotip
padi gogo dan 2) mengkaji korelasi antar karakter 14 genotip padi gogo. Penelitian ini
dilaksanakan di desa Majatengah Kecamatan Kemangkon Kabupaten Pubalingga. Penelitian
dilaksanakan selama empat bulan, dimulai bulan Nopember sampai Maret 2014. Percobaan
ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 4 ulangan. Genotip yang
digunakan adalah AK.4-5-56-7, PK.15-16-527-28, B12154D-MR-10, B11902F-TB-6-1, UJS
136PS, UJS 191, SDM9-18-MR-4, IR83377-B-B-93-3, BIO 179, BIO 198, IPB 158-2, and
IPB 159-25 galur yang memiliki daya hasil tinggi dengan komponen hasil tinggi adalah UJS
136PS, IR83377-B-B-93-3, dan IPB 159-25. Galur yang memiliki daya hasil tinggi dengan
komponen hasil yang rendah AK.4-5-56-7, B12154D-MR-10, dan IPB 158-2. Galur yang
memiliki daya hasil rendah dengan komponen hasil rendah PK.15-16-527-28, B11902F-TB-
6-1, UJS 191, SDM9-18-MR-4, BIO 179, dan BIO 198. Terdapat hubungan searah antara
tinggi tanaman dengan jumlah gabah per malai, panjang malai, bobot 1000 biji. Jumlah
anakan total dengan jumlah anakan produktif. Umur berbunga dengan bobot 1000 biji, jumlah
gabah per malai dengan persentase gabah isi per malai, panjang malai, hasil gabah kering per
plot. Persentase gabah isi per malai dengan hasil gabah kering per plot dan bobot 1000 biji
dengan hasil gabah kering per plot. Terdapat hubungan berlainan arah antara tinggi tanaman
dengan jumlah anakan total, panjang malai, bobot 1000 biji. Jumlah anakan total dengan jumlah
gabah per malai, panjang malai, bobot 1000 biji. Jumlah anakan produktif dengan jumlah gabah
per malai, panjang malai. Umur berbunga dengan persentase gabah isi per malai, umur panen
dengan persentase gabah isi per malai.
Purposes of this research were 1) to assess the yield component and productivity of 14
upland rice genotypes. 2) to examine correlation among characters of 14 gogo rice
genotypes. This research was conducted in Majatengah Village, Kemangkon Sub-district,
Pubalingga District. This research was carried out for four months, started from Nopember
to March 2014. Was used in this experiment Randomized block design (RBD) with four
replications. Genotypes this research were AK.4-5-56-7, PK.15-16-527-28, B12154D-MR-10,
B11902F-TB-6-1, UJS 136PS, UJS 191, SDM9-18-MR-4, IR83377-B-B-93-3, BIO 179, BIO
198, IPB 158-2, and IPB 159-25. Lines with high productivity and high yield components
were UJS 136PS, IR83377-BB-93-3, and IPB 159-25. Lines with high productivity but low
yield components were AK.4-5-56-7, B12154D-MR-10, and IPB 158-2. Lines with low
productivity and low yield components were PK.15-16-527-28, B11902F-TB-6-1, UJS 191,
SDM9-18-MR-4, BIO 179, and BIO 198. There was a positive correlation between plant
height and number of grains per panicle, panicle length, 1000 seed’s weight, total number of
seedling by the number of productive tillers, flowering period with 1000 seed’s weight, the
number of grains per panicle with the percentage of filled grains per panicle, panicle length,
dry grain per plot, the percentage of filled grain per panicle with dry grain per plot and
weight of 1000 seeds with dry grain yield per plot. There were negative correlation between
plants height and total number of tillers, panicle length, 1000 seeds’ weight, total number of
number of grains per panicle, panicle length, and weight of 1000 seeds. The number of
productive tillers with number of grains per panicle, panicle length, flowering period with
the percentage of filled grain per panicle, period of harvest with the percentage of filled
grain per panicle.
854012073H1E011021PEMBUATAN KACA KERAMIK LITHIUM PHOSPHATE DENGAN DOPING Fe2O3 ALAM SEBAGAI KATODA PADA BATERAI SEKUNDERBaterai memiliki tiga komponen utama yaitu katoda, anoda dan elektrolit. Bahan katoda merupakan salah satu komponen kunci, untuk menunjang kinerja baterai, sehingga dibutuhkan penelitian intensif untuk fokus pada katoda. Katoda kaca keramik lithium phosphate dengan doping Fe2O3 telah dibuat menggunakan metode glass route pada temperatur 900 oC dengan komposisi 5 Li2CO3 : 15 ZnO : x Fe2O3 : (80 – x) P2O5 dimana x = 0; 0,5; 1,5 (dalam mol%). Stabilitas termal katoda kaca keramik ditelaah melalui penentuan temperatur kaca Tg dan temperatur kristal Tc. X-ray Diffraction dan LCR meter digunakan untuk menentukan fasa, struktur dan konduktivitas ionik katoda kaca keramik lithium phosphate dengan doping Fe2O3. Pola difraksi x-ray dari lithium phosphate dengan doping Fe2O3 menunjukkan fasa-fasa yang berbeda, LiFePO4 berhasil dibentuk pada penambahan 1,5% Fe2O3. Konduktivitas ionik meningkat seiring dengan bertambahnya konsentrasi doping Fe2O3. Nilai konduktivitas tertinggi yaitu 8,42 x 10-4 S/cm pada penambahan 1,5% Fe2O3, Analisa performa sampel dilakukan dengan melakukan uji voltametri siklik dan charge-discharge. Hasil uji menunjukkan bahwa katoda kaca keramik yang di buat, dimungkinkan dapat digunakan sebagai sel baterai namun kapasitas yang dimiliki sangat kecil jauh dari kapasitas teoritis katoda baterai sekunder Li-ion.The battery has there main components, cathode, anode, and electrolite. Cathode is one of important element to sustain the battery, so that we need an intensif research on catode. Ceramic-glass cathode of lithium phosphate with Fe2O3 as a dopping has been made using glass route method at 900 oC with the composition 5 Li2CO3 : 15 ZnO : x Fe2O3 : (80 – x) P2O5¬ where x = 0. 0,5. 1,5 (in mol percent). Ceramic-glass cathode thermal stability is studied through determination of glass temperature Tg and crystal temperature Tc. X-ray diffraction and LCR meter are used to determine phase, structure and ionic conductivity of lithium phosphate with Fe2O3 ceramic-glass cathode. X-ray diffraction pattern of lithium phosphate with Fe2O3 dopping shows different phases, and LiFePO4 is formed at 1.5% addition of Fe2O3. Ionic conductivity rise up by the increase of Fe2O3 concentration, the highest conductivity is 8,42 x 10-4 S/cm at 1.5% addition of Fe2O3. Sample performance analyzing is done by cyclic voltammetry and charge-discharge test. The result shows that well-made ceramic-glass cathode can be used as battery, despite of a very wide gap of Li-ion battery capacity result in experiment and theory.