Artikelilmiahs
Menampilkan 8.441-8.460 dari 48.905 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 8441 | 8940 | A1L010264 | APLIKASI FORMULA CAIR Pseudomonas fluorescens P60 dan P32 TUNGGAL DAN GABUNGAN TERHADAP PENYAKIT MOLER BAWANG MERAH | Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi P. fluorescens P60 dan P32 tunggal dan gabungan terhadap penyakit moler dan pertumbuhan dan produksi bawang merah. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman dan lahan pertanaman bawang merah di Desa Grinting, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, pada bulan Januari sampai April 2014. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan yang dicoba meliputi kontrol, perendaman benih selama 15 menit dan penyemprotan ke tanah dengan fungisida azoxystrobi sebanyk 6 kali, perendaman benih selama 15 menit dan penyemprotan ke tanah dengan P. fluorescens P60 atau P32 atau gabungan antara P60 dan P32 sebanyak 6 kali (10 mL/tanaman). Variabel yang diamati meliputi masa inkubasi, intensitas penyakit, laju infeksi, kepadatan akhir patogen dan antagonis, panjang tanaman, jumlah daun per umbi, bobot segar dan kering akar, bobot segar dan kering tanaman, bobot segar dan kering umbi, jumlah umbi per rumpun, bobot hasil, dan analisis jaringan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan gabungan P. fluorescens P60+P32 mampu mengendalikan penyakit moler pada tanaman bawang merah, yang ditunjukkan dengan memperpanjang masa inkubasi selama 51,09%, menurunkan intensitas penyakit sebesar 80,09%, dan menekan populasi akhir F. oxysporum sebesar 300%. P. fluorescens P32 mampu meningkatkan bobot umbi segar dan kering sebesar 36,53 dan 62,91%. Bakteri antagonis mampu mengimbas senyawa glikosida pada tanaman bawang merah. Kata kunci: Bawang merah, P. fluorescens P60 dan P32, penyakit moler. | The research aimed at knowing the influence of P. fluorescens P60 and P32 application alone or in combination on the Fusarium wilt and growth and production of shallot. This research was carried out at the Laboratory of Plant Protection, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University and the shallot field at Grinting Village, Bulakamba Subdistrict, Brebes Regency from January to April 2014. Randomized Block Design was used with five treatments and five replicates. The treatments tested included: control, soaked the seeds for 15 minutes and sprayed the ground with a fungicide azoxystrobi for 6 times, soaked the seeds for 15 minutes and the ground with P. fluorescens P60 or P32 or combination between P60 and P32 for 6 times (10 mL/crop). Variables observed were incubation period, disease intensity, infection rate, late density of the pathogen and the antagonist, plant height, number of leaves per hills, fresh and dry weight of roots, fresh and dry weight of plants, fresh and dry weight of tuber, number of tuber per hills, and tissue analysis. The result showed that combination of P. fluorescens P60+P32 could control the disease by lengthening incubation periode 51.09%, decreasing the disease 80.09%, and decreasing the population of F. oxysporum as 300%. P. fluorescens P32 increase fresh and dry weight of tuber 36.53 and 62.91%. The antagonists could increase glycoside content of the shallot. Key word: Shallot, P. fluorescens P60 and P32, Fusarium wilt. | |
| 8442 | 11049 | P2CD11031 | IMPLIKASI GOOD IT GOVERNANCE TERHADAP KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN DENGAN INTELLECTUAL CAPITAL SEBAGAI VARIABEL MEDIASI (Studi Pada Perbankan Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia) | IMPLIKASI GOOD IT GOVERNANCE TERHADAP KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN DENGAN INTELLECTUAL CAPITAL SEBAGAI VARIABEL MEDIASI (Studi Pada Perbankan Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia) | IMPLIKASI GOOD IT GOVERNANCE TERHADAP KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN DENGAN INTELLECTUAL CAPITAL SEBAGAI VARIABEL MEDIASI (Studi Pada Perbankan Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia) | |
| 8443 | 8807 | G1D010014 | HUBUNGAN PERSEPSI PERAWAT MENGENAI OTONOMI PERAWAT DENGAN PENGEMBANGAN PROFESIONAL PADA PERAWAT KOMUNITAS DI KABUPATEN BANYUMAS | Latar Belakang: Sebagian besar perawat komunitas yang bekerja di Puskesmas masih berpendidikan Diploma dan mengerjakan bukan hanya tugas keperawatan melainkan tugas di bidang farmasi dan sebagai bendahara sehingga tidak terlihat otonomi sebagai profesi. Disisi lain perawat dianggap sebagai profesi jika telah menempuh pendidikan minimal Sarjana keperawatan. Oleh karena itu perawat perlu merencanakan pengembangan professional. Belum ada riset tentang hal ini sehingga riset ini diperlukan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan persepsi otonomi perawat dengan pengembangan profesional pada perawat komunitas di Puskesmas. Metode: Desain analitik korelasional digunakan untuk meneliti 77 perawat yang diseleksi dengan metode accidental sampling. Spearman test digunakan untuk menguji hubungan antara persepsi otonomi perawat dan pengembangan profesional pada perawat yang dilakukan di Puskesmas Kabupaten Banyumas Hasil: Mayoritas responden berusia 40-59 tahun 50,6%, perempuan 57,1%, berpendidikan keperawatan awal SPK 49,4%, berpendidikan keperawatan akhir Diploma 72,7% dan bekerja selama <15 tahun 58,4%. Persepsi perawat mengenai otonomi perawat berkorelasi positif r (0,342) dan bermakna p-value (0,002) dengan pengembangan professional. Simpulan: Persepsi perawat mengenai otonomi perawat dengan pengembangan profesional berkorelasi positif yang lemah tetapi signifikan. | Background: Most of the nurses who work in community health centers are still educated Diploma and they do assignment in addition in nursing field but tasks in field of pharmacy and as treasurer, so that it is no visible autonomy as their profession. On the other hand if the nurse is considered as a profession has been studying at least S1. Therefore, nurses need to plan for professional development. There is no research about it, so this research is needed. Aims: The aim of this research is to analyze relationship between autonomy of nurses and professional development on community nurses who work in Puskesmas. Methods: Analytic correlational design was used to examine 77 nurses were selected by accidental sampling method. Spearman test was used to examine the relationship between perceptions of autonomy and professional development of nurses committed to nurses at the health center Banyumas Regency Results: The majority of respondents aged 40-59 years (50,6%), there were 57,1% female. The prevalence of their educational background were SPK (49,4%); Diploma (72,1%), and have been working for less than 15 years (58,4%). Perception of nurses about nurse autonomy positive correlated r (0,342) and significant p-value (0,002) with professional development. Conclusion: Perception of nurses about nurse autonomy with professional development is positively correlated with a weak but significant. | |
| 8444 | 8941 | A1H010010 | KARAKTERISTIK PENGERINGAN PISANG MENJADI SALE PISANG DENGAN PENGERING EFEK RUMAH KACA TIPE RAK BERPUTAR PADA PERPUTARAN TIDAK KONTINU | Sale pisang merupakan salah satu produk yang dibuat dari buah pisang matang yang diawetkan dengan cara pengeringan dengan atau tanpa pengasapan sampai mencapai kadar air tertentu. Proses pengeringan sale pisang selama ini yang hanya dijemur langsung dibawah matahari dinilai membutuhkan waktu yang lama dan kurang higienis. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan nilai karakteristik pengeringan sale pisang menggunakan pengering tipe rak berputar dengan memanfaatkan energi panas dari sistem efek rumah kaca dan panas radiator. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sale pisang memiliki kadar air awal sebesar 75,86%bb atau 315,28%bk. Suhu ruang pengering berkisar antara 29,60-49,10 oC. Suhu bahan berkisar antara 26,00-49,00 oC. RH ruang pengering berkisar antara 30,20-47,11%. RH lingkungan berkisar antara 58,83-80,34%, dan RH outlet berkisar antara 45,05-68,86%. Rata-rata laju pengeringan yang dicapai berkisar antara 54,74-78,69%bk/jam. | Banana “Sale” is one product made from ripe banana that preserved by drying with or without fumigation until the water reaches a certain level. Recently drying process of banana “sale” that only dried directly under the Sun takes a long time and less hygienic. The purpose of this research are to determine the characteristic value of banana “sale” drainage using a dryer at the rotating rack type by utilizing greenhouse effect system and radiator heat. The results of this research are indicate that banana “sale" has initial moisture content is 75,86% wb or 315,28%db. The temperature range of drying room is 29,60-49,10 oC. The temperature range of the material is 26.00-49.00 oC. Relative humidity range of drying room is 30.20-47,11%. Relative humidity range of environment is 58.83 to 80.34 % , and Relative humidity range of the outlet is 45.05 to 68.86 %. Average drying rate is 54.74 to 78.69 % db / hour. | |
| 8445 | 10556 | D1E010068 | PENGARUH PENAMBAHAN BIJI KEFIR TERHADAPJUMLAH BAKTERI ASAM LAKTAT, pH, DAN KADAR AIR KEFIR SUSU KAMBING DAN SUSU SAPI | Pengaruh Penambahan Biji Kefir terhadap Jumlah Bakteri Asam Laktat,pH, dan Kadar Air Kefir Susu Kambing dan Susu Sapi. Pengambilan data penelitian dilaksanakan tanggal 3 Desember 2014 sampai dengan 5 Januari 2015 di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Penelitian bertujuan untuk perbedaan penambahan biji kefir, penggunaan jenis susu, dan interaksinya terhadap jumlah bakteri asam laktat, pH dan kadar air kefir susu kambing dan susu sapi. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap Pola Faktorial 2x3 dengan ulangan 4 kali. Faktor pertama adalah Jenis Susu yang digunakan K= Susu Kambing, S= Susu Sapi, dan faktor kedua adalah Penambahan Biji Kefir 1%, 8,5%, 16%. Susu difermentasi selama 24 jam. Data dianalisis dengan Analisis Variansi dilanjutkan dengan uji Orthogonal Polinomial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara penambahan biji kefir dan penggunaan jenis susu yang berbeda tidak berpengaruh nyata (P>0.05) terhadap jumlah bakteri asam laktat, nilai pH, dan kadar air kefir susu kambing dan sapi. Penambahan biji kefir berpengaruh nyata (P<0.05) terhadap jumlah bakteri asam laktat dan nilai pH dengan persamaan garis Y = 0,055x + 4,486 (r) = 0,568, Y = -0,045x + 4,658 (r) = 0,601 secara berturut-turut. Simpulan penelitian ini penambahan biji kefir 16 % menghasilkan jumlah bakteri asam laktat tertinggi, dan nilai pH terendah, tetapi kadar air tetap pada susukambing dan susu sapi. | The Effect of Kefir Grain Addition on the number of Lactic Acid Bacteria, pH Value, and Water Content of Goat and cow’s Milk Kefir. The research was conducted on November 3d 2014 to January 5th 2015, at the Laboratory of Animal Products Technology, Animal Science Faculty, University of Jenderal Soedirman, Purwokerto. The research aimed to know the effect kefir grain addition, different kind of milk, and their interaction on the number of Lactic Acid Bacteria, pH Value, and Water Content of Goat and cow’s Milk Kefir. The experiment used 2x3 factorial completely randomized design with 4 replications. First factor was milk K = Goat milk, S = Cow milk, and second factor was kefir grain addition 1%, 8,5%, 16%. Milk was fermented for 24 hours. Data were analyzed with analysis of variance followed by orthogonal polynomial test. The results showed the interaction between of kefir grain addition and kind of milk has no significant effect (P>0.05) on the number of lactic acid bacteria, pH value, and content water of kefir. The percentage of kefir grain addition has significant effectt (P<0,05) on the number of lactic acid bacteria, and pH value with the equation Y= 0,055x + 4,468 (r)= 0,568 for lactic acid bacteria, pH value Y= -0,045x + 4,658 (r)= 0,601, respectively. The conclusions of this research 16% kefir grain addition produce highest on the number of lactic acid bacteria, and lowest pH value, but similar water content in kefir made from cow’s and goat’s milk. | |
| 8446 | 10557 | D1F013010 | KADAR LEMAK DAN TINGKAT KEMASIRAN TELUR ASIN DENGAN METODE PEMASAKAN YANG BERBEDA | Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode perebusan, pengukusan dan pengovenan terhadap kadar lemak dan tingkat kemasiran telur asin. Materi penelitian yang digunakan adalah 93 butir telur itik umur 1 hari dengan pemeliharaan ekstensif dari daerah Sumpiuh, garam 1602 g, serbuk batu bata merah 6498 g dan air secukupnya. Telur asin dibungkus dengan adonan pengasin dan diperam selama 12 hari. Metode penelitian menggunakan ekperimental, yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) untuk kadar lemak dan Rancangan Acak Kelompok untuk tingkat kemasiran dengan menggunakan uji organoleptik (25 panelis agak terlatih). Perlakuan terdiri dari 3 perlakuan dan 6 ulangan. Perlakuan pada telur asin dengan metode pemasakan yang berbeda yaitu: (T1) pengukusan, (T2) perebusan, (T3) pengovenan. Peubah yang diukur yaitu kadar lemak dan tingkat kemasiran telur asin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pemasakan yang berbeda berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap kadar lemak telur asin itik, tetapi terdapat pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap tingkat kemasiran telur asin itik. Kesimpulan, pemasakan telur asin itik dengan metode berbeda memiliki kadar lemak yang sama, sedangkan metode pemasakan telur asin itik dengan cara dioven memiliki tingkat kemasiran yang paling rendah dibandingkan dengan metode pemasakan lainnya. | The research was aimed to investigate the influence of cooking methods, boiling, steaming, and roasting on the fat content and granular level of salted egg. The material consistead of 93 duck eggs obtained (extensive system form) from Sumpiuh, salt 1602 g, 6498 g of brick powder and water. Salted egg wrapped in the batter of salted brick powder and stored for 12 days. The research method was done experimentaly by using a completely randomized design for the fat content and randomized block design for the granular level by using the organoleptic test (25 semi-trained panelist) there were 3 treatments and 6 replications. The treatments were different cooking methods (T1) steaming, (T2) boiling, and (T3) roasting. The variables measured were fat content and granular level of the salted eggs. The result showed that there was no significant effect of cooking method (P > 0,05) on fat content of salted egg, however there was highly significant effect of cooking method (P < 0,01) on granular level of salted egg. In addition, cooking the salted egg with different methods has low fat content, while cooking by boiling produced the highest granular level of salted egg compared to other cooking methods. Keyword : fat content, Granular, steaming, boiling, roasting | |
| 8447 | 10558 | F1B009098 | KEGAGALAN KEBIJAKAN TARIF PAJAK BUMI BANGUNAN PEDESAAN DAN PERKOTAAN (PBB-P2) TAHUN 2011 DI KABUPATEN BANYUMAS | Pajak Bumi Bangunan Pedesaan dan Perkotaan (PBB-P2) merupakan salah satu peluang bagi daerah untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Adanya Undang-Undang Nomor 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (UU PDRB), Peraturan Bersama Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri tentang Tahapan Persiapan Pengalihan PBB-P2 sebagai Pajak Daerah, ditindaklanjuti oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Banyumas dengan menyusun Peraturan Daerah (Perda) Nomor 1 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah, yang diimplementasikan tahun 2013. Akan tetapi kebijakan tarif PBB-P2 dalam Perda tersebut terindikasi gagal dalam implementasinya, karena mendapat banyak protes dari masyarakat dan para stakeholders. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyusunan kebijakan tarif PBB-P2 dalam Perda tersebut, serta mengetahui dan menganalisis faktor penyebab kegagalan implementasinya. Metode penelitian yang digunakan yaitu kualitatif deskriptif, dengan teknik pemilihan informan menggunakan teknik pusposive sampling dan snowball sampling. Pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Metode analisis yang digunakan adalah model analisis linear Creswell. Berdasarkan analisa hasil penelitian menunjukkan bahwa penyusunan kebijakan tarif PBB-P2 dalam Perda Nomor 1 tahun 2011 tentang Pajak Daerah masih buruk, dikarenakan rendahnya aspek keadilan, aspek kepentingan aktor kebijakan yang kurang mengakomodir kepentingan masyarakat, dan aspek kemampuan birokrasi yang masih rendah. Hal-hal inilah yang menyebabkan kegagalan implementasi kebijakan tarif PBB-P2 pada Perda tersebut. Kata Kunci: keadilan, kebijakan tarif, kegagalan implementasi, kemampuan birokrasi, kepentingan aktor kebijakan, pajak bumi bangunan. | Building land tax of urban rural (PBB-P2) is one of the opportunities for the region to increase revenue (PAD). The existence of Law No. 28 of 2009 on Regional Taxes and Levies (UU PDRB), Regulation of the Minister of Finance and Minister of Home Affairs on Transfer Preparation Stages PBB-P2 as Local Tax, followed by the Local Government Banyumas by arranging Regulation (Perda) No. 1 of 2011 on Local Taxes, starting implementation in 2013. But PBB-P2 tariff policy on these regulation indicated failure in its implementation, because gets a lot of protests from the public and stakeholders. This research aims to determine the tariff policy formulation PBB-P2 on that regulation, as well as identify and analyze the factors causing the failure of implementation. The method used is descriptive qualitative research, informant selection techniques using pusposive techniques and snowball sampling. The data was collected using interviews, observation, and documentation. The analytical method used is a linear analysis model Creswell and validity of the data was tested by triangulation. Based on the analysis of the results showed that the preparation of the tariff policy of the PBB-P2 in Perda No. 1 of 2011 on Local Taxes are still bad, due to low equity aspects, aspects of policy actors less interest to accommodate the interests of society, and the capabilities of the bureaucracy is still low. That is causing failure of the implementation of the PBB-P2 tariff policy on that regulation. Keywords : building land tax, equity, implementation failure, tariff policy, the ability of the bureaucracy, the interests of policy actors. | |
| 8448 | 4644 | G1F008014 | PEMANFAATAN EKSTRAK TEH HIJAU (Camellia sinensis) SEBAGAI AGEN PENGKHELAT BESI PADA HATI TIKUS YANG DIINDUKSI FERRO SULFAT | Daun teh hijau (Camellia sinensis) mengandung senyawa polifenol yang telah terbukti sebagai antioksidan dan berpotensi sebagai agen pengkhelat besi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas ekstrak etanol teh hijau dalam mengurangi kerusakan hati tikus berdasarkan penurunan kadar ALT serta gambaran histopatologi hati tikus betina sprague dawley yang diinduksi ferro sulfat (FeSO4). Ekstrak daun teh hijau diperoleh dengan maserasi menggunakan etanol 70%. Perlakuan ini terdiri dari 4 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 4 tikus. Kelompok 1 diberi aquabidest 1 ml peroral, kelompok II diberi FeSO4 0,5 g/kgBB serta diberi Ekstrak teh hijau dosis 50 mg/gBB peroral, kelompok III diberi FeSO4 0,5 g/kgBB serta diberi Ekstrak teh hijau dosis 100 mg/gBB peroral, dan kelompok IV hanya diberi FeSO4 0,5 g/kgBB peroral. Setelah hari ke 30 Kadar ALT darah tikus dianalisis menggunakan (one way) ANOVA dengan taraf kepercayaan 95%. Histopatologi hati dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil menunjukan pemberian FeSO4 mampu meningkatkan kadar ALT darah tikus sebesar 69% pada kelompok kontrol. Ekstrak etanol teh hijau (Camellia sinensis) dengan dosis 50 mg/gBB mampu menurunkan kadar ALT darah tikus dibanding dengan kelompok kontrol (p<0,05). Pemeriksaan histopatologi hati menunjukkan pada masing-masing kelompok kontrol maupun perlakuan tidak terjadi kerusakan organ hati. | Green tea leaves (Camellia sinensis) had polyphenolic compounds as antioxidants and potentially as iron-binding agent. The purpose of research to determine the activities of the extract ethanol from green tea in reduced liver injury mice by decreased levels of ALT, and liver histopathology picture sparaguay Dawley female rats were induced ferro sulfate (FeSO4). Green tea leaf extract were obtained by maceration with 70% ethanol. The mice were devided into 4 groups (n=4). The group 1 were given orally aquabidest 1 ml, group II were given FeSO4 0.5 g/kg bw and were given green tea extract dose of 50 mg/g bw orally, group III were given FeSO4 0.5 g/kg bw and were given green tea extract dose of 100 mg/g bw orally, and group IV were given FeSO4 0.5 g/kg bw orally. After the 30th day rat’s blood ALT levels were analyzed using a (one-way) ANOVA with a level of 95%. Histopathology of the liver were analyzed by descriptive qualitative. Results showed FeSO4 administration can increase blood levels of ALT mice by 69% in the control group. The extract ethanol of green tea (Camellia sinensis) at a dose of 50 mg/g bw could decrease ALT levels when compared with the control group (p <0.05). Histopathological examination of the liver showed that each treatment group and the control did not damage the liver. | |
| 8449 | 8943 | A1L009121 | Pengaruh Pemberian Limbah Media Jamur Tiram Dan Interval Pemberian BIO-P60 Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Kedelai Di Tanah Ultisol | Peningkatan budi daya jamur akan menyebabkan bertambahnya jumlah limbah budi daya jamur. Penelitian ini dilakukan dalam rangka mencari solusi pembuangan limbah yang tepat khususnya limbah jamur tiram serta memberikan kontribusi bagi pengembangan pupuk organik. Jenis tanaman yang digunakan pada penelitian ini adalah kedelai varietas Slamet. Kedelai memiliki potensi pasar yang cukup menjanjikan karena dapat diolah lebih lanjut menjadi berbagai bentuk makanan ringan tahu, tempe, dan kecap. Akan tetapi, petani masih enggan menanam kedelai dikarenakan hasilnya yang rendah. Hal tersebut sering kali disebabkan oleh kondisi lahan yang tidak subur. Ekstensifikasi areal pertanian perlu dilakukan karena areal pertanian selalu mengalami penyusutan akibat penurunan tingkat kesuburan tanah. Ekstensifikasi saat ini dipreoritaskan pada daerah luar pulau Jawa yang didominasi oleh tanah masam seperti Ultisol. Salah satu upaya untuk meningkatkan kesuburan tanah yang baik adalah dengan pemberian pupuk organik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis limbah media jamur tiram dan interval pemberian BIO P60 terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai di tanah Ultisol, serta interaksi antara dosis limbah media jamur tiram dan interval pemberian BIO P60 terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai di tanah Ultisol. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai Juli 2014 di Screenhouse Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto dengan ketinggian tempat lebih kurang 110 meter di atas permukaan laut. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) faktorial dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama adalah dosis limbah media jamur tiram yaitu 0, 20, 40 dan 60 ton/ha. Faktor kedua adalah interval pemberian BIO P60 yaitu 3 hari sekali, 6 hari sekali dan 9 hari sekali. Variabel yang diamati yaitu jumlah daun, tinggi tanaman, diameter batang, bobot kering akar, bobot kering brangkasan, R/S Ratio, jumlah polong, jumlah biji, bobot kering biji per tanaman, bobot kering 100 biji dan indeks panen. Hasil penelitian menunjukkan pemberian limbah media jamur tiram dapat meningkatkan seluruh variabel pertumbuhan dan hasil yang diamati kecuali R/S ratio. Hasil terbaik diperoleh dari pemberian dosis limbah media jamur tiram 60 ton/ha dan berbeda sangat nyata dengan pemberian dosis 20 dan 40 ton/ha. Interval pemberian BIO P60 yang dilakukan hanya dapat meningkatkan hasil pada variabel bobot kering biji per tanaman, bobot kering 100 biji per tanaman dan indeks panen. Pada perlakuan kombinasi limbah media jamur tiram dan interval pemberian BIO P60 dapat meningkatkan hasil pada variabel jumlah polong, jumlah biji per tanaman, bobot kering biji per tanaman, berat kering brangkasan tanaman, R/S ratio, dan indeks panen. Jadi untuk beberapa variabel yang diamati pemberian limbah media jamur tiram dipengaruhi oleh interval pemberian BIO P60. | Increased cultivation of the fungus will lead to increasing the amount of increased cultivation of mushrooms will cause an increasing amount of waste yeast cultivation. This research was conducted in order to find the proper waste disposal solutions in particular waste Oyster mushrooms as well as contributing to the development of organic fertilizer. The types of plants that are used in this research is the soy varietal Slamet. Soy has enough promising market potential because it can be further processed into various snack forms of tofu, tempeh, and soy sauce. However, farmers are still reluctant to plant soybeans because the results are low. It is often caused by the condition of the land infertile. Extensification of agricultural areas need to be done because of the agricultural area is always experiencing shrinkage due to decreased levels of soil fertility. The current dipreoritaskan in extensification areas outside Java island which is dominated by such wry Ultisol soil. One of the efforts to improve the fertility of the soil is good is by giving organic fertilizer. This research aims to know the influence of dose of Oyster Mushrooms and media waste intervals giving BIO P60 towards growth and yield of soybean crops in the land of Ultisol, as well as the interaction between waste media dose of Oyster Mushrooms and interval granting BIO P60 towards growth and yield of soybeans in the land of Ultisol. The research was carried out in March to July 2014 in an experimental Garden Screenhouse Faculty of Agriculture University of General Soedirman Purwokerto with more or less the height of 110 meters above sea level. The experimental design used the Random Design Group (RAKL) Full factorial with two treatment factors.The first factor is the waste media dose of Oyster Mushrooms, 0, 20, 40 and 60 tons/ha. The second factor is the delivery interval BIO P60 i.e 3 days, 6 days and 9 days. Variable observed that the number of leaves, plant height, stem diameter, and dry weight of root dry weight, brangkasan, R/S Ratio, the number of pods, number of seeds, dried seed weight per plant, the dry weight of 100 seeds and harvest index. The results showed issuing waste media Oyster Mushrooms can increase the growth variables and the observed results except for the R/S ratio. The best results are obtained from the dosing medium oyster mushroom waste 60 ton/ha and differ very markedly by administering doses of 20 and 40 tonnes/ha. Interval granting BIO a P60 is done can only improve results on variable weights of dry seeds per plant, the dry weight of 100 seeds per plant and harvest index. On the combination of waste treatment the media Oyster Mushrooms and interval granting BIO P60 can improve the results on variable number of pods, number of seeds per plant, seeds per plant dry weight, dry weight of plant, brangkasan R/S ratio, and harvest index. So for some of the observed variable giving the waste media oyster mushroom is affected by the grant of interval BIO P60. | |
| 8450 | 8949 | A1C010056 | PERBANDINGAN PENDAPATAN USAHATANI PADI (Oryza sativa L.) ORGANIK DAN PADI NON ORGANIK DI KECAMATAN BATURRADEN KABUPATEN BANYUMAS | Tujuan penelitian yaitu 1) mengevaluasi pendapatan usahatani padi organik dan non organik, apakah sudah menguntungkan ataukah belum; 2) membandingkan produktivitas, pendapatan dan R/C usahatani padi organik dengan non organik; 3) mengetahui kendala-kendala yang dihadapi oleh petani padi organik. Penelitian dilakukan di Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas, dengan metode survey. Sampel petani padi organik sebanyak 30 petani diperoleh dengan metode sensus, dan 32 petani padi non organik dengan metode alokasi Neyman. Data dianalisis dengan analisis finansial, yang meliputi analisis biaya, penerimaan, pendapatan dan R/C, kemudian diuji dengan uji perbedaan menggunakan uji Z, dan yang terakhir yaitu menggunakan analisis deskriptif untuk mengetahui kendala-kendala dalam usahatani padi organik. Hasil penelitian menunjukkan 1) usahatani padi organik dan padi non organik di Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas sudah menguntungkan, namun lebih menguntungkan usahatani padi organik; 2) hasil uji perbandingan menunjukkan terdapat perbedaan produktivitas, pendapatan dan R/C antara usahatani padi organik dan non organik; 3) kendala usahatani padi organik yaitu (a) membutuhkan pupuk organik, khususnya pupuk kandang lebih banyak; (b) benih untuk pertanian organik tidak tersedia di pasaran; (c) lingkungan kurang mendukung; (d) pasar khusus padi atau beras organik masih sedikit; (e) mahalnya uji sertifikasi organik. | The purpose of this research is to (1) evaluate the farming earning on organic and non-organic, whether it is profitable or not; (2) compare the productivity, income and R/C of organic with non-organic rice farming; (3) determine the obstacles which are faced by organic rice farmers.The study was conducted in Baturraden District, Banyumas Regency, with a survey method. Sample of organic farmers as much as 30 farmer was obtained by census method, because the population is still small and 32 non-organic rice farmers by the method of Neyman allocation. The data is analyzed with a financial analysis, which includes analysis of costs, revenues, incomes and R/C, and then it is tested with a different test using the Z test, and the last is to use descriptive analysis to determine the obstacles on organic farms. The result of this research showed 1) farming on organic and non-organic in Baturaden District Banyumas Regency are already profitable, but organic farming rice more profitable; 2) the result of comparison test revealed that there is a difference of productivity, incomes and R/C between an organic and non-organic farming; 3) the obstacles of the organic rice farming are (a) to require a lot of organic fertilizers, especially more manure, (b) the seed for organic farming is not available on the market, (c) the environment is not support, (d) still a little market of organic rice, (e) and also the expensiveness of organic certification. | |
| 8451 | 8913 | H1H010015 | DAYA TAHAN LELE MASAMO (Clarias sp.) DAN LELE SANGKURIANG (Clarias gariepinus) TERHADAP INFEKSI Aeromonas hydrophila | Bakteri Aeromonas hydrophila dapat menyebabkan penyakit Motile Aeromonas Septicaemia (MAS) pada berbagai jenis ikan air tawar termasuk lele. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan daya tahan dan faktor daya tahan Lele Masamo dan Lele Sangkuriang yang diinjeksi secara intramuskular dengan suspensi A. hydrophila. Penelitian ini dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari dua perlakuan dan lima ulangan. Mortalitas ikan diamati setiap hari dan pada hari ke 7 setelah diinjeksi, sampel darah ikan diambil untuk pengamatan hematokrit dan titer antibodi. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa injeksi A. hydrophila menurunkan sintasan Lele Masamo dan Lele Sangkuriang namun tidak terdapat perbedaan yang nyata antar sintasan kedua jenis lele tersebut. Titer antibodi kedua jenis lele tersebut relatif sama sebelum injeksi bakteri. Setelah infeksi A. hydrophila Lele Sangkuriang menunjukkan titer antibodi yang jauh lebih tinggi dibandingkan titer antibodi Lele Masamo. Lele Sangkuriang mempunyai nilai hematokrit yang lebih tinggi dibanding nilai hematokrit Lele Masamo baik sebelum dan sesudah injeksi. | Aeromonas hydrophila is a causative agent of Motile Aeromonads Septicaemia (MAS) disease in freshwater fish culture, including catfish. This study was aimed at comparing defense and several immune factors of Masamo and Sangkuriang catfish against intramuscularly injection by A. hydrophila. This experiment was conducted based on randomized experimental design which consisted of two treatments and five replicates. Fish mortality was examined daily and at day 7 post injection blood sample was collected for antibody titer and hematocrit measurement. Result showed that the bacterial injection decreased survival rate of the fish. However, there was no a significant difference between survival rates of the two catfishes. Before bacterial injection, Masamo and Sangkuriang catfish had relatively similar level of antibody titer. After bacterial injection, Sangkuriang catfish showed higher level of antibody titer than its counterpart did. Sangkuriang catfish also had higher level of hematocrit before and after bacterial injection than masamo catfish. | |
| 8452 | 8944 | H1D008027 | ANALISIS WAKTU PERTUKARAN AIR AKIBAT PASANG SURUT DIMUARA SUNGAI SEGARA ANAKAN CILACAP | Sirkulasi air di daerah pantai dimana terdapat sungai bermuara (estuari) berbeda karena adanya pengaruh arus pasang surut dan aliran sungai. Jika pengaruh faktor tersebut tidak ada, maka air sungai akan mengalir ke laut membentuk lapisan air tawar dibagian permukaan. Pelapisan massa air ini disebabkan karena perbedaan salinitas antara air laut yang mempunyai salinitas lebih besar dan air tawar yang mempunyai salinitas lebih rendah. Desakan arus pasang surut memegang peranan penting sehingga terjadi pencampuran turbulen, dimana arus pasang surut cenderung pecah dibagian permukaan sehingga terjadi pencampuran air laut dan air tawar. Waktu pembilasan adalah waktu yang dibutuhkan untuk memindahkan kandungan bahan terlarut dalam air dari satu tempat ke tempat lain. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan waktu pembilasan dari beban masukan yang masuk ke perairan Sungai Segara Anakan. Dan mengetahui waktu pembilasan yang terjadi yang di akibatkan pasang surut air di Sungai Segara Anakan. Metode analisis menggunakan analisis fraksi air tawar dalam menentukan waktu pembilasan. Hasil analisis menunjukan bahwa Waktu pertukaran air di daerah Majingklak adalah 10195 s(2 jam 50 menit). Dan di daerah Klaces adalah11593 s(3 jam 13 menit). Dalam melakukan analisis waktu pembilasan dipengaruhi oleh salinitas, kecepatan arus dan pasang surut permukaan air laut. | The circulation of water in coastal areas where the river empties (estuaries) is different because of the influence of the tidal currents and river flow. If the influence of such factors does not exist, then the river water will flow into the sea to form a layer of fresh water on the surface. Coating mass of water is caused due to the difference in salinity between salt water has greater salinity and freshwater which has lower salinity. Insistence on tidal currents play an important role so that the turbulent mixing occurs, where tidal currents tend to rupture the surface so that it occurs the mixing of sea water and fresh water. The flushing time is the time it takes to move the substances dissolved in the water from one place to another. This research aims to determine the flushing time of input load coming into the waters of the river Segara Anakan. And knowing the time flushing that occurs in tidal water in akibatkan River Segara Anakan. Methods of analysis use analysis in determining the fraction of fresh water flushing time. Results of the analysis showed that While the exchange of water in the area of Majingklak is 10195 s(2 hour 50 minute). Klaces and in the region is 11593 s(3 hour 13 minute). In doing the flushing time analysis is affected by salinity, tidal currents and speeds surface sea water. | |
| 8453 | 12066 | H1F010033 | ANALISIS PETROFISIKA DAN PERHITUNGAN SUMBERDAYA HIDROKARBON FORMASI FORMASI TALANG AKAR, BATURAJA DAN CIBULAKAN ATAS LAPANGAN PB, CEKUNGAN JAWA BARAT UTARA | Cekungan Jawa Barat Utara merupakan cekungan belakang busur dengan luas 23.340 km2 dan terdiri dari 6 (enam) Sub Cekungan yaitu Sub Cekungan Arjuna, Sub Cekungan Ciputat, Pasir Putih, Vera, Billiton dan Sub Cekungan Jatibarang. Cekungan Jawa Barat Utara terutama Sub Cekungan Arjuna dianggap prospek sehingga menarik untuk diteliti. Penelitian yang dilakukan meliputi analisis kualitatif maupun kuantitatif. Kualitatif berdasarkan analisis log maupun data sekunder, sedangkan analisis kuantitatif menggunakan perhitungan petrofisika. Berdasarkan hasil analisis litologi, korelasi antar sumur dan analisis lingkungan pengendapan pada sumur PB-1, PB-4, PB-5, PB-6 dan PB-9 didapatkan litologi penyusun secara umum berupa perselingan antara serpih – batupasir, batubara dan batugamping yang terendapkan pada lingkungan fluvial hingga laut dangkal. Dari hasil analisis petrofisika, zona Batupasir B pada sumur PB-1 merupakan zona ideal sebagai tempat terakumulasinya hidrokarbon dengan jumlah cadangan sebesar 14.245.378,48 barrel. Untuk kategori optimis, total cadangan hidrokarbon dalam reservoar dari kelima sumur sebesar 32.485.921,54 barrel. Total volume hidrokarbon ini merupakan total volume OOIP (original oil in place). | North West Java Basin is a back arc basin with an area of 23 340 km2 and consists of 6 (six) sub-basins that Arjuna Sub Basin, Ciputat Sub Basin, Pasir Putih, Vera, Billiton and Jatibarang sub basins. North West Java Basin especially Arjuna Sub Basin is considered to prospects so interesting to study. The study consisted of qualitative and quantitative analysis. Qualitative based on log analysis and secondary data, while the quantitative analysis using petrophysical calculations. Based on the results of the analysis of lithology, well logs correlation and depositional environment analysis on well PB-1, PB-4, PB-5, PB-6 and PB-9 in general composed by lithology between shale – sandstone, coal and limestone, was deposited in fluvial – shallow marine environment. From the results of petrophysical analysis, Sandstone B zone in wells PB-1 is ideal as a zone of accumulation of hydrocarbons with a resource of 14245378.48 barrel. For optimistic category, the total resources of hydrocarbons in the reservoir of the five wells is 32485921.54 barrels. The total volume of hydrocarbons is the total volume of OOIP (original oil in place). | |
| 8454 | 8945 | D1E010007 | PERBEDAAN FREKUENSI INJEKSI FOLLICLE STIMULATING HORMONE (FSH) DALAM PROGRAM SUPEROVULASI TERHADAP KUALITAS DAN KUANTITAS EMBRIO SAPI SIMMENTAL SECARA INVIVO | Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui metode penyuntikan FSH yang lebih efektif dalam meningkatkan kualitas dan jumlah embrio sapi simmental. Penelitian dilaksanakan di Balai Embrio Ternak Cipelang, Bogor pada tanggal 26 Juni 2014 sampai dengan 18 Juli 2014. Materi yang digunakan dalam penelitian adalah data produksi embrio sapi Simmental dengan metode sinkronisasi estrus menggunakan cue mate pada tahun 2012. Parameter yang diamati meliputi kualitas dan jumlah embrio sapi simmental dalam program superovulasi. Perlakuan penelitian, yaitu P1 = Metode 1 penyuntikan FSH selama empat hari berturut-turut dengan dosis menurun sebanyak 20 ml yang dilakukan pada pagi dan sore hari dengan interval waktu 8 - 12 jam atau metode (4, 4, 3, 3, 2, 2, 1, 1), P2 = metode 2 penyuntikan FSH selama tiga hari berturut-turut dengan dosis menurun sebanyak 20 ml yang dilakukan pada pagi dan sore hari dengan interval waktu 8 - 12 jam atau metode (5, 5, 3, 3, 2, 2). Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan metode survey. Data yang diperoleh diuji menggunakan Uji chi square. Hasil penelitian menyatakan terdapat perbedaan yang nyata (p < 0,05) pada perlakuan metode penyuntikan FSH yang menunjukkan bahwa penggunaan metode 2 lebih efektif daripada metode 1 untuk meningkatkan kualitas dan jumlah embrio sapi simmental dalam program superovulasi. | The purpose of this research is to know the method of FSH injection is more effective to improving the quality and quantity of simmental cow embryos. The research was carried out in Livestock Center Breeding Cipelang on Bogor on June 26, 2014 until July 18, 2014. The material used in the study were Simmental cow embryo production data by the method of synchronization of estrus using cue mate in 2012. The observed parameters include quality and the number of simmental cow embryo in the superovulation program. Treatment research, i.e. P1 = 1st method of FSH injection for four days in a row with a dose decreased by as much as 20 ml carried out on a morning and evening with a time interval of 8 - 12 hours or methods (4, 4, 3, 3, 2, 2, 1, 1), P2 = 2nd method of FSH injection over three days in a row with a dose decreased by as much as 20 ml carried out on a morning and evening with a time interval of 8 - 12 hours or methods (5, 5, 3, 3, 2, 2). The experiment was conducted using a survey method. The data obtained were tested using the chi square test. The results stated there were significant differences (p < 0.05) in the treatment of FSH injection method showed that the use of 2nd method is more effective than 1st method to increase the quality and number of Simmental cow embryo in superovulation program. | |
| 8455 | 10559 | F1D008036 | STRATEGI PEMENANGAN JOKO WIDODO DAN BASUKI TJAHAJA PURNAMA DALAM PILKADA DKI JAKARTA TAHUN 2012 DI JAKARTA BARAT | Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui tentang strategi yang dipakai oleh tim sukses pasangan calon Joko Widodo (Jokowi) dan Basuki Tjahaja Ahok) pada saat Pilkada DKI 2012 dan juga melihat strategi yang dipakai untuk menghadapi isu SARA yang berkembang di masyarakat Jakarta Barat. Tim sukses Jokowi saat kampanye di Jakarta Barat melakukan cara marketing politik yang sesuai dengan teori sembilan element marketing politik milik Adman Nursal. Salah satu marketing politik yang paling berpengaruh dan dilakukan oleh tim sukses Jokowi dan Ahok adalah dengan memanfaatkan unsur media massa (Pull Marketing) sebagai sarana pembangun opini masyarakat terhadap Jokowi dan Ahok. Delapan elemen lainnya sangat terbantu dengan media massa salah satunya adalah elemen person (figure) yang dapat mengangkat opini masyarkat tentang sosok Jokowi dan Ahok. Kemudian strategi yang dipakai tim sukses menghadapi isu SARA adalah tidak melakukan apa-apa karena isu SARA itu sendiri menjadi sebuah senjata makan tuan bagi pasangan Foke-Nara. Isu SARA tidak dapat berkembang karena kondisi sosial masyarakat Jakarta Barat sudah menjadi sebuah masyarakat multicultural yang toleran dan dapat berbaur dengan antar etnis. | The purpose of this research are to know what strategy that Jokowi and Ahok’s campaign team used to win the election in West Jakarta and also to know what strategy used to face SARA issue that grows in West Jakarta population. When Jokowi’s campaign team in Jakarta Barat, they used political marketing that similar with Adman Nursal’s nine element of political marketing teory. One of nine marketing element that very important and used by campaign team is mass media as mass opinion reconstruction. One out 8 of 9 elements really helped by mass media is Person element that raises mass opinion about Jokowi and Ahok. Strategy that used by campaign team to face SARA issue is doing nothing because SARA issue became ‘a gun that shot his master’ for Foke Nara. SARA issue can’t grow up because West Jakarta social condition had become a multiculturalism society that very tolerant society and mix with other ethnic. | |
| 8456 | 11048 | G1B010074 | STUDI KOMPARASI JUMLAH TOTAL COLIFORM SEBELUM DAN SESUDAH DIGUNAKAN PADA AIR KOLAM RENANG DREAM LAND PARK PANCASAN AJIBARANG | Tempat-tempat umum seperti kolam renang mestinya harus memenuhi syarat kesehatan. Kondisi ini dapat menahan atau mengurangi penularan penyakit yang dapat ditularkan melalui air. Salah satu syarat tersebut adalah terbebas dari bakteri indikator pencemar seperti bakteri Total coliform. Tujuan penelitian untuk mengetahui perbandingan jumlah Total coliform sebelum dan sesudah digunakan pengunjung pada kolam renang Dream Land Park Pancasan Ajibarang serta mengetahui kualitas bakteriologis air kolam renang Dream Land Park Pancasan Ajibarang dihubungkan dengan ketentuan persyaratan kesehatan yang ditetapkan Permenkes No. 416/MENKES/PER/IX/1990. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan studi komparasi (perbandingan). Studi perbandingan/komparasi yaitu membandingkan objek penelitian jumlah Total coliform sebelum dan sesudah digunakan pengunjung pada kolam renang. Sampel yang diambil berjumlah 8 sampel yang terdapat pada 2 kolam renang sebelum digunakan dan sesudah digunakan. Analisis data yang digunakan adalah uji wilcoxon dan uji korelasi product moment. Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa kualitas air kolam renang Dream Land Park Pancasan Ajibarang antara sebelum dan sesudah digunakan oleh pengunjung memiliki rata-rata Total coliform sebesar 8410 koloni/100 ml. Jumlah tersebut sudah melampaui nilai ambang batas untuk standar persyaratan air kolam renang menurut Permenkes No. 416/MENKES/PER/IX/1990 yaitu berjumlah 0 koloni/100 ml. | Public places such as swimming pool should be must meet the requirements health. This condition can hold or reduce diseases that can be spread through water. One of the conditions are free from bacteria indicators pollutants such as bacteria total coliform. This research aimed to find a comparison of total coliform, in swimming pool in Dream Land Park Pancasan Ajibarang and by determined the bacteriological quality of the water swimming pool Dream Land Park Pancasan Ajibarang associated with the provision of health requirements set Permenkes No. 416/HEALTH MINISTER IX/1990. Type of this research was comparative study (observational with comparison) of total coliform before and after used by visitors in swimming pool. Sample was taken 8 samples that was found in 2 swimming pool before and after used. Data analysis was wilcoxon test and korela'si product moment test. Laboratory test result showed that water quality swimming pool Dream Land Park Pancasan Ajibarang between before and after used by the visitors with an average total coliform colony of 8410/100 ml. This number exceeds threshold for the standard of regulation arrangement water swimming pool according to Permenkes No. 416/HEALTH MINISTER IX/1990 the colony 0/100 ml. | |
| 8457 | 8947 | A1L008123 | KAJIAN PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN PERTANIAN DI KECAMATAN CILACAP UTARA KABUPATEN CILACAP | Sejalan dengan waktu, kebutuhan lahan meningkat sehingga terjadi perubahan tata guna lahan. Terdapat beberapa macam atau jenis perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Cilacap Utara Kabupaten Cilacap. Luas dan persebaran perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Cilacap Utara Kabupaten Cilacap dapat diketahui dengan metode penginderaan jauh. Penelitian mengenai hal ini diharapkan dapat mengatasi permasalahan yang terus berkembang, dengan melakukan suatu studi mengenai kajian perubahan penggunaan lahan serta faktor yang mempengaruhinya di Kecamatan Cilacap Utara. Mengingat pemanfaatan lahan perlu diatur dengan baik, sehingga sesuai dengan rencana tata-ruang kota yang bersangkutan, dengan mempertimbangkan aspek keseimbangan ekologis sehingga tidak sampai terjadi penurunan kualitas lahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1). Luas perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Cilacap Utara Kabupaten Cilacap; 2). Laju perubahan tahunan penggunaan lahan pertanian di Kecamatan Cilacap Utara Kabupaten Cilacap. Penelitian dilaksanakan di wilayah Kecamatan Cilacap Utara Kabupaten Cilacap. Pada bulan April 2013 hingga bulan januari 2014. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei menggunakan interpretasi penginderaan jauh. Analisis spasial data menggunakan teknik Image Analysis dengan klasifikasi Unsupervised yang dilanjutkan dengan analisis statistik dengan analisis spasial peta untuk mendapatkan data penggunaan lahan 2003, 2006, 2009, dan 2012. Kemudian, dilanjutkan melalui teknik Overlay data perubahan lahan dari 2003-2006, 2006-2009, dan 2009-2012. Proses pengolahan data citra menggunakan perangkat lunak Er Mapper 7.0 dan data vektor menggunakan sofware Arc GIS 9.3. Penelitian ini dibagi menjadi 4 tahapan, yaitu tahapan persiapan dan pra survei, tahap survei utama, tahap analisis, tahap pemetaan dan penyusunan laporan. konversi perubahan penggunaan lahan yang terjadi selama kurun waktu 2003-2012, terjadi beberapa jenis perubahan. Perubahan yang cukup besar terjadi pada wilayah badan air menjadi hutan yaitu sebesar 284,88 Ha (7,9%), wilayah hutan menjadi kebun seluas 139,94 Ha (3,88%), wilayah kebun menjadi pemukiman seluas 280,31 Ha (7,78%), wilayah sawah-kebun seluas 238,55 Ha (6,62%) dan wilayah sawah menjadi pemukiman 270,02 Ha (7,49%). | Over time, the demand for land increases resulting in a land use change. There are several kinds or types of land use change in the Northern Cilacap Sub-District Cilacap . Vast magnitude and distribution of land use change in Northern Cilacap Sub-District Cilacap can be identified by mean of remote sensing. Research on this is expected to address the growing problem, by conducting a study on the assessment of land use change and the factors that influence it in Northern Cilacap Sub-District Cilacap. Given the land use needs to be regulated properly, so according to the city spatial planning is concerned, taking into account aspects of the ecological balance so as not to decrease the quality of land. This study aims to determine: 1). the magnitude of changes in land use in the Northern Cilacap Sub-District Cilacap, 2). annual rate of change of use of agricultural land in the Northern Cilacap Sub-District Cilacap. The research was conducted in Northern Cilacap Sub-District Cilacap. In the months of April 2013 to January 2014. The research was conducted by survey method using remote sensing interpretation. Spatial analysis for image data processed by image analysis technique with classification unsupervised and continued with statistical analysis with spatial map analysis to obtain land use data 2003, 2006, 2009, and 2012. Afterwards, continued with overlay data technique to obtain land use change 2003-2006, 2006-2009, and 2009-2012. The processing of image data using Er Mapper 7.0 software and vector data using Arc GIS 9.3 software. This study is divided into four stages, namely stages of preparation and pre-survey, the main survey phase, phase analysis, mapping and report preparation stage. conversion of land use changes that occurred during the period 2003-2012, there was some kind of change. Substantial change occurs in a body of water that is equal to 284.88 Ha of forest (7.9%), forest areas into a farm field area of 139.94 Ha (3.88%), farm field areas into residential area of 280.31 Ha (7.78%), paddy field area covering 238.55 ha (6.62%) and the area of paddy fields into residential 270.02 ha (7.49%) | |
| 8458 | 8946 | A1G011013 | ANALISIS PENDAPATAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKTIVITAS USAHATANI KENTANG DI DESA KUTABAWA KECAMATAN KARANGREJA KABUPATEN PURBALINGGA JAWA TENGAH | Kentang merupakan salah satu komoditas pertanian yang dikembangkan di Indonesia. Hal ini disebabkan kentang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sumber karbohidrat penunjang program diversifikasi pangan, komoditas ekspor non migas dan bahan baku untuk agroindustri. Salah satu daerah di Jawa Tengah yang mengembangkan usahatani tanaman kentang adalah Desa Kutabawa Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga. Produktivitas yang masih belum maksimal dikarenakan penerapan teknologi maupun penggunaan sarana produksi diduga belum memenuhi kaidah standar operasional prosedur yang dianjurkan. Penggunaan sarana produksi berlebihan tentunya membuat petani mengeluarkan biaya besar pula, sedangkan kurangnya penggunaan sarana produksi dapat menurunkan hasil. Hal tersebut pada akhirnya mempengaruhi pendapatan usahatani petani kentang di Desa Kutabawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) tingkat pendapatan usahatani kentang (2) mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas kentang. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kutabawa Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga pada tanggal 06 Desember 2013 sampai 23 Maret 2014. Sampel dalam penelitian ini adalah petani yang sedang melakukan usahatani tanaman kentang. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis biaya dan pendapatan, analisis regresi linear berganda dan analisis sensivitas dengan menggunakan metode simple random sampling. Hasil peneltian menunjukkan biaya produksi total rata-rata per hektar adalah sebesar Rp54.942.991,00 rata-rata penerimaan yang diterima petani adalah sebesar Rp94.996.141,00 rata-rata pendapatan usahatani kentang per hektar adalah sebesar Rp40.053.150,00 nilai R/C sebesar 1,73 itu lebih besar dari 1 maka usahatani tersebut layak untuk diusahakan. Faktor-faktor yang berpengaruh dan signifikan terhadap produktivitas usahatani kentang adalah benih, pupuk organik, pupuk anorganik dan pestisida dengan nilai t hitung > t tabel dan nilai signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05 (α = 5%), sedangkan untuk tenaga kerja tidak berpengaruh positif atau nyata dengan nilai t hitung < t tabel dan nilai signifikansi sebesar 0, 304 lebih besar dari 0,05 (α = 5%). | The potato is one of the agricultural commodities that are developed in Indonesia. This is due to the potato has potential to be developed as a source of carbohydrates the food diversification program supporting, non oil and gas export commodities and raw materials for agro-industries. One of the areas in Central Java who developed the potato crop farming is the village of Kutabawa sub-district of Purbalingga Karangreja. The maximum productivity due to technology implementation or use of the means of production is suspected has not met the standard operational procedures rules is recommended. Excessive use of the means of production would make farmers pay big, while the lack of use of the means of production can lower the results. It ultimately affects the income of farming Potato farmers in the village of Kutabawa. This research aims to know (1) the income levels of farming potatoes (2) know the factors that affect the productivity of potatoes.This research was carried out in the village of Kutabawa sub-district of Purbalingga Karangreja on 06 December 2013 until March 23, 2014. The sample in this research are farmers who are doing the potato crop farming. Analysis of the method used is descriptive analysis, analysis of costs and revenues, multiple linear regression analysis and analysis of sensivitas using a simple random sampling method.Result reseach show production cost total the average per hectares are of Rp54.942.991,00 average acceptance received farmers is worth Rp94.996.141,00 the average income farming potato per hectare is worth Rp40.053.150,00 value r / c ratio of 1,73 that is greater than 1 and farming the worthy to attempted. The results showed the cost of production research total average per hectare is worth Rp54.942.991,00 average acceptance of farmers is worth Rp94.996.141,00 farming potatoes the average income per hectare is worth Rp40.053.150,00 value r / c ratio of 1,73 that is greater than 1 and farming was unfit for attempted.Factors that influence and significant impact on farm productivity is the seed potatoes, organic fertilizers, inorganic fertilizers and pesticides with the value t count> t table and a significance value of 0.000 is smaller than 0.05 (α = 5%), whereas for labor no effect or a positive real value t <t table and a significance value of 0, 304 greater than 0.05 (α =5%). | |
| 8459 | 8948 | E1A109029 | PERAN KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DALAM MEWUJUDKAN KEAMANAN DAN KETERTIBAN MASYARAKAT (KAMTIBMAS) YANG KONDUSIF (Studi di Satuan Pembinaan Masyarakat Polres Purbalingga) | ABSTRAK PERAN KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DALAM MEWUJUDKAN KEAMANAN DAN KETERTIBAN MASYARAKAT (KAMTIBMAS) YANG KONDUSIF (Studi di Satuan Pembinaan Masyarakat Polres Purbalingga) Oleh : HABIBI MUAMMAR IRVAN A.R E1A109029 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran Satuan Pembinaan Masyarakat (Binmas) Polres Purbalingga dalam mewujudkan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) yang kondusif. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan perundang-undangan (statue approach) dan pendekatan konsep. Sumber data adalah data primer dan data sekunder dan dianalisis dengan metode normatif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa peran Satuan Pembinaan Masyarakat (Binmas) Polres Purbalingga dalam mewujudkan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) yang kondusif sudah sesuai dengan Pasal 13 dan Pasal 14 ayat (1) huruf c Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, yaitu sebagai pembimbing dan penyuluh, penertib masyarakat (kamtibmas), pendidikan dan pelatihan kepada masyarakat (diklatmas), pengumpulan pendapat masyarakat, dan sebagai tempat rehabilitasi. Dalam melaksanakan perannya, aparat Kepolisian tidak dapat bertindak sendiri, namun juga harus ada peranan Pemerintah dan partisipasi dari masyarakat demi terciptanya kamtibmas yang kondusif. Kata kunci: peran, keamanan dan ketertiban, kondusif | ABSTRACT THE ROLE OF INDONESIAN NATIONAL POLICE IN REALIZING SECURITY AND ORDER SOCIETY (KAMTIBMAS) THAT ARE CONDUCIVE (Studies in The Public Assistant Unit of Purbalingga Polres) By: HABIBI MUAMMAR IRVAN A.R E1A109029 The purpose of the research was to find out the role of Satuan Pembinaan Masyarakat (The Public Assistant Unit) or Binmas, in order to establish an encouraging order and protection towards the society. The researcher applied statue approach and also conceptual approach in this research. Meanwhile, the data sources of the research were primary and secondary data which was analyzed using normative qualitative method. Based on the result of the research and the analysis, the researcher was able to make a conclusion that the role of Satuan Pembinaan Masyarakat, or Binmas of Purbalingga Police Department in order to achieve an encouraging order and protection towards the society was already equivalent with the Pasal 13 (Chapter 13) and Pasal 14 ayat (1) huruf c (Chapter 14 Subchapter (1) Section c) of Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 (Act Number 2 Year 2002) in relation to the roles of Kepolisian Negara Republik Indonesia (The National Police Department of The Republic of Indonesia) as to advise and counsel, to preserve the order of the society, to educate and to guide the society, to gather the public opinion, and to rehab. However, to accomplish an encouraging order and protection for the society, the Police Officer cannot stand alone. The involvement of the Government and the society itself could help to achieve their goal. Keywords : roles, encouraging, order and protection | |
| 8460 | 8950 | H1L010032 | Pengujian Sistem Informasi Studi Akhir Menggunakan Selenium (Studi Kasus Jurusan Teknik Universitas Jenderal Soedirman) | Jurusan Teknik Universitas Jenderal Soedirman telah membangun Sistem Informasi Studi Akhir. Selenium merupakan alat untuk melakukan pengujian secara otomatis. Pengujian menggunakan selenium memfokuskan pada fungsionalitas dari sistem. Fungsionalitas yang diuji meliputi fungsionalitas login, fungsionalitas pengelolaan pengguna, fungsionalitas pengelolaan berita studi akhir, fungsionalitas pengelolaan tugas akhir, dan fungsionalitas pengelolaan pendadaran. Pengujian dilakukan berdasarkan diagram sequence dari perancangan Sistem Informasi Studi Akhir. Sistem Informasi Studi Akhir terdiri dari 2 package, 33 class pada package controllers, 36 class pada package models, dan mempunyai 129 view. Pengujian dilakukan pada 28 fungsionalitas. Dari total 28 pengujian, jumlah pengujian berhasil dieksekusi oleh selenium adalah 28 dan tidak ditemukan pengujian yang gagal dieksekusi oleh selenium. Rata-rata eksekusi tiap fungsionalitas memerlukan waktu 9,32 detik dengan menggunakan komputer berspesifikasi Processor Intel Atom N570 @1,66 GHz, RAM 2GB. | Department of Engineering Jenderal Soedirman University has built a Final Study Information Systems. Selenium is a tool for testing automatically. Testing using selenium focus on the functionality of the system. Functionality tested includes login functionality, user management functionality, news management functionality, the final task management functionality, and comprehensive exam management functionality. Tests performed by sequence diagram based on design Final Study Information System. Final Study Information System consists of 2 packages, 33 classes in the package controllers, 36 classes in the package models, and has 129 views. Tests performed on 28 functionality. From 28 tests, 28 tests successfully executed by selenium and was not found failed executed by selenium. Average execution time of each functionality requires 9.32 seconds using a computer spec Intel Atom N570 @ 1,66 GHz, 2GB RAM. |