Artikelilmiahs

Menampilkan 8.501-8.520 dari 48.905 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
85014714F0A009004UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN READING
DENGAN METODE DRILLING UNTUK SISWA KELAS VI A DAN B SEMESTER I SD MARIA IMMACULATA CILACAP
TAHUN AJARAN 2012/2013
RINGKASAN

Nama : Agung Swandono
NIM : F0A009004
Tanggal Praktik Kerja : 22 September – 13 Oktober 2012
Tempat Praktik Kerja : SD Maria Immaculata Cilacap
Judul : Upaya Meningkatkan Keterampilan Reading Dengan Metode Drilling Untuk Siswa Kelas VI A Dan B Semester I SD Maria Immaculata Cilacap.


Proses pengajaran Bahasa Inggris pada siswa kelas VI A dan VI B SD Maria Immaculata Cilacap dilaksanakan setiap hari Sabtu sebagai mata pelajaran tambahan (supplement) berupa penerapan metode drilling dalam bentuk pemberian teks naratif pendek dan soal secara berulang-ulang, yang bertujuan supaya siswa dapat lebih mengerti dan memahami isi dari bacaan dan maksud dari soal, sehingga dapat menjawab pertanyaan dengan baik. Upaya ini ditujukan agar siswa lebih siap untuk mengahdapi Ujian Nasional Bahasa Inggris. Materi kosakata, bacaan dan soal sudah dipersiapkan oleh pengajar.
Dalam mengajar, ada tiga tahap yang digunakan oleh pengajar yaitu tahap pendahuluan, kegiatan inti dan penutup. Pertama siswa terlebih dahulu diajak untuk mengenal kosakata - kosakata baru yang ada di dalam teks yang sudah dicetak tebal maupun dipisah dan menterjemahkannya agar mempermudah mereka dalam menterjemahkan dan memahami isi dari teks bacaan. Kedua, siswa diperintahkan untuk membaca teks dengan seksama lalu memahaminya. Setelah membaca teks dan memahaminya, siswa diminta membaca dan memahami soal terlebih dahulu baru mengerjakannya. Saat mengerjakan, siswa diperbolehkan untuk bertanya kepada pengajar mengenai hal yang belum jelas. Setelah mengerjakan soal, siswa diajak untuk membahas apa yang sudah dikerjakan agar mereka mengerti jawaban yang benar dan cara menjawabnya. Kegiatan ini selalu dilakukan berulang setiap pertemuan. Materi ajar yang digunakan diambil dari: Lee, Dorothy P.S, M.A. and Lee Hai Ming, B.A. NEW STANDARD ENGLISH READERS 4. Singapore: CHILDREN’S BOOK PUBLISHER.
Pada pertemuan pertama pengajar hanya berorientasi dengan seluruh siswa kelas VI, memberi motivasi belajar dan memberi gambaran umum mengenai Ujian Nasional Bahasa Inggris. Pada pertemuan kedua, pretest diberikan kepada siswa untuk mengetahui kemampuan awal (raw skill) siswa dilanjutkan dengan pengenalan metode drilling. Pada pertemuan ketiga, metode drilling sudah mulai diterapkan dan pada pertemuan terakhir, diadakan postest untuk mengetahui hasil dari penerapan metode tersebut.
Beberapa kendala ditemui oleh pengajar dalam proses pengajaran, diantaranyaadalah;
a. Kurangnya fasilitas penunjang seperti kamus Bahasa Inggris.
b. Rating yang masih sangat mencolok dan daya tangkap siswa yang berbeda-beda.
c. Kemalasan siswa untuk menghafal kosakata.
d. Situasi dan kondisi kelas yang terkadang kurang kondusif.
e. Rendahnya pemahaman siswa dalam ejaan, dan cara membaca.
f. Metode ajar guru yang masih klasik.

Untuk mengatasi hal tersebut, ada beberapa cara yang ditempuh oleh pengajar, diantaranya dengan melibatkan guru kelas dalam mengkondisikan situasi kelas, menstandardkan cara mengajar namun lebih intensif pada siswa yang daya tangkapnya kurang, memberikan catatan kosakata kepada siswa dan memberi feedback yang dilakukan setiap pertemuan.

SUMMARY

Name : Agung Swandono
Student’s Number : F0A009004
Date of Job Training : September, 22th – October, 13rd 2012
Place of Job Training : SD Maria Immaculata Cilacap
Title : The Effort In Increasing Reading Skill By Using Drilling Method In The First Semester of Sixth Grade Students in Class A And B Of Maria Immaculata Elementary School, Cilacap Regency, Academic Year 2012/2013.

The English teaching activity in sixth grade students in class A and B of Maria Immaculata Cilacap Elementary School was held every Saturday as supplement subject by application of drilling method. This was conducted by giving short narrative texts and then the students were questioned repeatedly in order to make them understand the contents of the texts and the purpose of the questions; therefore they will be able to answer the questions well. This effort was intended to make students ready to face the final exam of English subject. Vocabularies, reading materials and exercises had been prepared by the teacher.
In teaching the sixth grade students, there were three steps used by the teacher, namely introduction, main activity and closing. Firstly, the students were introduced to the new and unfamiliar vocabularies provided in the text. They were printed bold or separated from the text and the students had to translate them, to make them easier to translate and understand the whole reading text(s). Secondly, they were instructed to read the text carefully and understand the meaning of the translation. After reading the text and understand it, students were asked to read and recognize the questions first before answering. In answering the question, they were allowed to ask the teacher about the things they didn’t understand. After dealing with the questions, they were encouraged to discuss what they had done to make them understand the right answer and how to answer correctly. After the discussion section, feedback was given to them by reasking the previous questions. The answer had to be answered orally. This activity was always repeatedly done in each meeting. The teaching materials were taken from: Lee, Dorothy P.S, M.A. and Lee Hai Ming, B.A. NEW STANDARD ENGLISH READERS4. Singapore: CHILDREN’S BOOK PUBLISHER.
In the first meeting, the teacher only gave orientation to the entire sixth grade students, motivated them, and gave them the illustration of English final exam. In the second meeting, the pretest was given to the entire students to get their raw skill, continued with the drilling method introduction. In the third meeting, drilling method began to be applied, and in the last meeting, post-test was held to get the result of drilling method application.
There were some obstacles found in teaching process by the teacher, some of them were:
a. The lack of English dictionary.
b. Various levels of students’ intelligence.
c. The students’ laziness in memorizing vocabularies.
d. The lack of conducive atmosphere inside the classroom.
e. The lack of students’ understanding in spelling and pronunciation.
f. The lack of teacher’s creativity, classical method was still used.

To overcome the above problems, there were several ways used by the teacher, such as involving homeroom teacher in conditioning the class situation, standardizing the teaching method, and giving more intensive drilling for students with below standardized quotient, giving vocabulary notes and feedback for students in every meeting.
850210571E1A009092PENGUATAN FUNGSI DEWAN PERWAKILAN DAERAH (DPD) DALAM SISTEM KETATANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA (Analisis Tentang Peluang Amandemen Pasal 22 D Undang-Undang Dasar 1945)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis fungsi Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia dan peluang amandemen Pasal 22 D UUD 1945 dalam kerangka penguatan fungsi DPD dalam sistem ketatanegaraan pada masa yang akan datang. Metode pendekatan yang dipakai adalah yuridis normatif atau legal research. Spesifikasi Penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitis yaitu penelitian yang menggambarkan keadaan objek yang akan diteliti untuk kemudian dianalisis berdasarkan teori-teori hukum dan praktik pelaksanaan hukum positif yang menyangkut permasalahan tanpa maksud untuk mengambil kesimpulan-kesimpulan yang berlaku umum.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Berdasarkan Pasal 22 D UUD 1945 bahwa DPD sebagai lembaga perwakilan rakyat dari daerah dalam menyalurkan aspirasi rakyat memiliki 3 (tiga) fungsi yaitu fungsi pengaturan (legislasi), fungsi pengawasan (kontrol), fungsi anggaran.
2. Penguatan kewenangan DPD RI hanya dilakukan melalui Undang-Undang, maka peran DPD RI tetap tidak dapat optimal mengingat kewenangan DPD RI yang hanya sangat terbatas dalam UUD 1945 berbanding terbalik dengan legitimasi yang sangat kuat yang dimilikinya. Oleh karena itu, upaya penguatan Pasal 22 D UUD 1945 antara lain sebagai berikut :
a) Penguatan bidang legislasi dan anggaran
b) Penguatan dalam bidang pengawasan
This study aims to identify and analyze the functions of the Regional Representative Council (DPD) in Indonesian constitutional system and opportunities amendment of Article 22 D 1945 within the framework of strengthening the DPD function in the constitutional system in the future. The approach used is a normative juridical or legal research. Specifications research is descriptive analytic research that describe the state of the object to be studied and then analyzed based on the theories of law and positive law enforcement practice concerning issues without intent to draw conclusions that are commonly used.
Based on the results of research and discussion, it can be concluded that :
1. Pursuant to Section 22 D of the 1945 Constitution that the Council as the representative body of the people of the region to channel people's aspirations have three (3) function is the function settings (legislation), the function of supervision (control), the budget function.
2. Strengthening the authority of the DPD is only done through the Law, then the role of DPD still not optimal given the authority DPD which only very limited in 1945 inversely proportional to the legitimacy of its very strong. Therefore, efforts to strengthen Article 22 D 1945 are as follows :
a) Strengthening the field of legislation and budget
b) Strengthening the monitoring field
85038971H1H010025EFEKTIVITAS EKSTRAK DAUN KAMBOJA
(Plumeria acuminata Ait.) TERHADAP SAPROLEGNIASIS
PADA BENIH GURAMI (Osphronemus gouramy Lac.)
Saprolegnia sp. merupakan jamur yang hidup di perairan tawar dengan kelembaban tinggi dan harus dikendalikan karena dapat menginfeksi jaringan kulit ikan yang luka dan akan menyebar ke jaringan normal disekitar jaringan infeksi, termasuk gurami (Osphronemus gouramy L.). Dalam penelitian ini dilakukan upaya pengendalian Saprolegnia sp. pada benih gurami dengan perendaman ekstrak daun kamboja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun kamboja terhadap tingkat kesembuhan, kelulushidupan, rentang waktu hidup benih sembuh dan konsentrasi ekstrak daun kamboja yang efektif untuk mengobati benih gurami yang terinfeksi Saprolegnia sp. Hasil uji mortalitas perendaman benih gurami selama 24 jam dalam berbagai konsentrasi ekstrak daun kamboja menunjukkan bahwa pada konsentrasi 6 g/L terjadi kematian 50%. Berdasarkan hasil tersebut maka konsentrasi yang digunakan untuk penelitian adalah konsentrasi 0 g/L (kontrol), 3 g/L, 4 g/L, dan 5 g/L. Penelitian dilaksanakan dengan metode experimental berdasarkan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 4 kali ulangan, namun karena data yang diperoleh sangat acak maka analisis dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun kamboja terindikasi dapat menghilangkan Saprolegnia sp., namun bersifat toksik. Konsentrasi ekstrak daun kamboja yang efektif untuk mengobati benih gurami terinfeksi Saprolegnia sp. belum dapat ditentukan.



Saprolegnia sp. is common fungi founded in fresh waters with high humidity. This fungi should be controlled because of their infection in fish tissue wound would be spread to the normal tissue surrounding tissue infections, including gouramy (Osphronemus gouramy L.). In this research, we attempted to control Saprolegnia sp. on gouramy seed by frangipani leaf extract immersion. This study aims to determine the effect of frangipani leaf extracts on cure rates, survival, life span of recovered seeds and the most effective frangipani leaf extract concentration for treating gouramy seed whom infected Saprolegnia sp. The mortality test result showed that concentration of frangipani leaf extract in 6 g/L given 50% mortality of gouramy seed on 24 hours immersion. Based on these results, the concentrations used for this research were 0 g/L (control), 3 g/L, 4 g/L, and 5 g/L. Experimental method was applied based on completely randomized design with 4 treatments and 4 replications. The results showed that frangipani leaf extract indicated can eliminate Saprolegnia sp., but toxic. Effective concentration of frangipani leaf extract for treating infected gouramy seed Saprolegnia sp. could not be determined.



850410570H1D010076PENGARUH VARIASI JUMLAH TULANGAN BAN BEKAS SEBAGAI SUBSTITUSI TULANGAN BAJA TERHADAP KUAT LENTUR BALOK BETONKebutuhan produksi ban di Indonesia tiap tahun semakin meningkat. Kondisi ini berbanding lurus dengan limbah yang dihasilkannya pula. Saat ini pemanfaatan limbah ban bekas terbatas, seperti digunakan sebagai pelindung dermaga (fender), dan kerajinan tangan. Hal ini menjadikan ban bekas menjadi alternatif. Ban bekas memiliki sifat kelenturan yang tinggi, sehingga secara teori layak untuk menggantikan tulangan baja pada beton.
Ban bekas yang digunakan sebagai tulangan memiliki dimensi penampang 10mm x 10mm. Ban bekas diregangkan sebesar 30% sebelum dilakukan pengecoran (pre-tension system). Setelah dilakukan pengecoran, ban bekas pada kedua sisi benda uji diangkur menggunakan clamp sling untuk mengantisipasi tulangan ban bekas mengalami slip pada saat pengujian. Benda uji yang dibuat berjumlah enam buah, yaitu balok dengan tulangan baja (BK) sebagai balok kontrol, balok dengan satu tulangan baja dan dua tulangan ban bekas (BaK2), balok dengan satu tulangan baja dan empat tulangan ban bekas (BaK4), balok dengan satu tulangan baja dan enam tulangan baja (BaK6), balok dengan sembilan tulangan ban bekas (FK9), dan balok dengan sepuluh tulangan baja (FK10).
Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil kuat tarik rata-rata ban bekas sebesar 9,82 MPa, dan modulus elastisitas tarik ban bekas sebesar 0,103 MPa. Kapasitas lentur balok beton pada benda uji BaK2, BaK4, dan BaK6 masing-masing memiliki rasio 0,41, 0,60, dan 0,49 dari benda uji BK. Pada benda uji yang menggunakan tulangan ban bekas seluruhnya (FK9, dan FK10) memiliki rasio 0,35 dan 0,43. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa tulangan ban bekas dengan regangan 30% belum mampu menggantikan tulangan baja. Pola keruntuhan pada semua benda uji dapat dikategorikan pola keruntuhan lentur.
Tire production needs in Indonesia is increasing each year . This condition is generating amount of the waste too. Currently utilization of tires waste is limited, nowadays it only used as a pier protector (fenders) and handicrafts. It makes used tires become an alternative. Used tires have a high elastic properties, so it is theoretically feasible to replace the steel reinforcement in concrete.
Used tires which used as reinforcement has a cross-sectional dimensions of 10mm x 10 mm. Used tires stretched by 30% prior to casting (pre-tension system). After casting, used tires on both sides of the specimen anchored using a clamp sling to anticipate the tire reinforcement slipped while testing. The test specimen total are six pieces, beams with steel reinforcement (BK) as a control beam, beam with a reinforcing steel and two used tires reinforcement (BaK2), beam with a reinforcing steel and four used tires reinforcement (BaK4), beam with the reinforcing steel and six steel reinforcement (BaK6), beam with nine used tires reinforcement (FK9), and beams with ten steel reinforcement (FK10).
The results showed that the average tensile strength of old tires is 9.82 MPa and it's tensile elastic modulus is 0,103 MPa. Flexural capacity of concrete beam on the specimen BaK2, BaK4, and BaK6 each have ratio of 0.41, 0.60, and 0.49 of the control beam, BK. On the test object that uses only tires as the reinforcement (FK9 and FK10) has a ratio of 0.35 and 0.43. Based on these results, we can conclude that the reinforcement of old tires with 30% strain have not been able to replace the steel reinforcement. Collapse pattern on all specimens can be categorized as bending collapse pattern .
850511358H1L011001RANCANG BANGUN
SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN
KELAYAKAN PENERIMA SURAT KETERANGAN TIDAK MAMPU
MENGGUNAKAN METODE SIMPLE ADDITIVE WEIGHTING
( STUDI KASUS KELURAHAN KEMBARAN BANYUMAS )
Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) adalah surat yang diterbitkan oleh Pemerintah Indonesia untuk membantu masyarakat miskin dengan berbagai manfaatnya. Mekanisme distribusi SKTM ini memiliki masalah yaitu keputusan yang dibuat sebagian besar subjektif dan hanya berdasarkan dari perkiraan kriteria saja. Hal ini dapat mengakibatkan distribusi SKTM yang tidak tepat sasaran. Untuk menanggulangi permasalahan tersebut dibutuhkan sebuah Sistem Pendukung Keputusan Kelayakan Penerima Surat Keterangan Tidak Mampu (SPK-SKTM). SPK-SKTM dibangun menggunakan metode Simple Additive Weighting (SAW), karena mampu menyeleksi alternatif terbaik dari sejumlah alternatif. Dalam hal ini alternatif yang dimaksudkan yaitu yang berhak menerima SKTM berdasarkan empat belas kriteria kemiskinan menurut Badan Pusat Statistika (BPS). Dengan di bangunnya SPK-SKTM, maka masalah distribusi SKTM yang tidak tepat sasaran telah teratasi.
Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) is a letter issued by the Indonesia’s government to help the pauper with variety of benefits. The Distribution mechanism of SKTM has a problem which is the decision made largely subjective and based on the estimation of criterias only. This can lead to miss distribution of SKTM target. To overcome this problem this research developed SKTM’s Recipient Eligibility Decision Support System (SPK-SKTM). SPK-SKTM built using Simple Additive Weighting (SAW) method, because of it’s ability to select the best alternative from number of alternatives. The recipient who are entitled to receive SKTM based on fourteen poverty criterias from Central Bureau of Statistics (BPS). With the SPK-SKTM, then the problem of miss distribution of SKTM target has been resolved.
850611357H1F009067GEOLOGI DAN INDIKASI ZONA MINERALISASI BERDASARKAN PENGUKURAN GEOLISTRIK METODE WENNER DAERAH SAWANGAN DAN SEKITARNYA KECAMATAN AJIBARANG KABUPATEN BANYUMAS JAWA TENGAHDaerah penelitian terletak di daerah Sawangan dan sekitarnya, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Penelitian yang dilakukan menggunakan beberapa metode seperti pemetaan geologi, sampling batuan dan analisis laboratorium, serta metode geolistrik dengan konfigurasi Wenner. Pemetaan geologi ditujukan untuk mengetahui persebaran litologi, stratigrafi dan struktur geologi. Analisis petrografi diilakukan untuk mengetahui komposisi mineral penyusun litologi pada daerah penelitian. Data geolistirk digunakan untuk mengetahui persebaran zona mineralisasi daerah penelitian. Secara geomorfologi daerah penelitian terdiri dari 8 satuan, yaitu Satuan Dataran Aluvial Karang Bawang, Satuan Bukit Intrusi Karang Bawang, Satuan Perbukitan Kars Pancasan, Satuan Lembah Sinklin Sawangan, Satuan Lembah Antiklin Sawangan, Satuan Bukit Antiklin Kalibenda, Satuan Perbukitan Zona Sesar Sawangan, dan Satuan Dataran Denudasional Struktur Sesar Sawangan. Pola aliran pada daerah penelitian adalah Rektangular dan Parallel. Stratigrafi daerah penelitian terdiri dari 7 satuan batuan, yaitu Satuan Batupasir, Satuan Intrusi Diorit, Satuan Perselingan Batupasir - Batulempung dan Satuan Batugamping, Satuan Lava Basalt dan Breksi Andesit, dan Satuan Endapan Aluvial – Fluvial. Struktur geologi yang ditemukan di daerah penelitian yaitu, Antiklin Sawangan, Sinklin Sawangan, Sesar Mendatar Kiri Jingkang, Sesar Mendatar kiri Sawangan, dan Sesar Menurun Mendatar Kiri Kali Tajum. Studi khusus yang dilakukan adalah indikasi zona mineralisasi berdasarkan data geolistrik. Terdapat 3 tempat dilakukannya pengukuran geolistrik, dan dari Hasilnya yaitu pada lokasi 1 nilai resistivitas terendah adalah 2.77Ωm, lokasi 2 nilai resistivitas terendah adalah 3.33Ωm, lokasi 3 nilai resistivitas adalah 1.76Ωm. Dengan hasil analisis XRF pada sampel batuan tiap lokasi geolistrik. Bahwa lokasi 1 dan 3 memiliki kandungan Au, Sedangkan pada lokasi 2 tidak keterdapatan kandungan Au.The research area is located in Sawangan and its surrounding, Subdistrict Ajibarang, District Banyumas, Provice of Central Java. The research was did with some methode such as geological mapping, sampling of rocks and laboratory analysis, as well as a method of geoelectrical with Wenner configuration. Geological mapping has purpose to know the distribution of lithology, stratigraphy and geological structures. Petrography has purpose to know mineral composition in lithology in the area of research. Geoelectrical data used to know zone mineralisasi spreads the research area. In the study areas geomorfologi consists of eight a unit of, which is a unit Karang Bawang alluvial plains, unit Karang Bawang intrusion hill, unit Pancasan kars hills, unit the Sawangan sinklin valley, unit Sawangan antiklin valley, unit Kalibenda antiklin hill, unit Sawangan fault hills zone, and a unit of the plains of denudasional sawangan structure of the geological fault. A pattern flow on the research area is rectangular and parallel. Stratigraphical the research area consisting of 7 a unit, which is a unit of sandstones, unit diorite intrusion, unit of combination sandstones – mudstone, and unit limestone, unit lava basalt, unit breccia andesite, and unit alluvial-fluvial plain. Of a geological structure found in the study areas that is, antiklin sawangan, sinklin sawangan, normal left slip foult Jingkang, normal left slip foult Sawangan, and left normal slip foult Tajum River. A special study executed is an indication zone mineralisasi from based on data of geoelectrical. There are three places the measurement of geoelectrical, and from the result that is on the site of 1 resistivity lowest value is 2.77 Ωm, the location 2 resistivity lowest value is 3.33 Ωm, 3 the location of value is 1.76 resistivity Ωm. with the results of the analysis xrf in a rock sample every location geoelectrical. That the location of 1 and 3 has any Au, while on the location 2 does not Au.
85078972H1D010019ANALISIS GERUSAN LOKAL DI SEKITAR PILAR DAN ABUTMENT JEMBATAN DENGAN SOFTWARE HEC-RAS 4.1
( STUDI KASUS JEMBATAN LINGGAMAS )
Secara alamiah, gerusan dihasilkan sebagai bagian dari perubahan morfologi sungai dan hasil bangunan buatan manusia. Jembatan adalah salah satu yang mengakibatkan gerusan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperkirakan kedalaman gerusan lokal disekitar pilar dan abutment Jembatan Linggamas. Penelitian ini menggunakan software HEC-RAS 4.1 untuk memperkirakan kedalaman gerusan. Hasil penelitian menunjukan pada debit banjir rancangan 100 tahun, kedalaman gerusan lokal disekitar abutment kiri sebesar 1,6 m, abutment kanan sebesar 7.03 m dan masing-masing pada kedua pilar sebesar 6,63 m

Scouring occurs naturally as a part of the morphologic changes of river and as the result of man-made structures. The bridge is the one that causes scour. The aim of research is to estimate the local scouring depth around the pillar and abutment of Linggamas’s bridge. This research use HEC-RAS 4.1 to estimate the depth of scour. Using 100-year design flood discharge,the result of research showed that the depth of local scouring around the left abutment is 1,6 m, right abutment is 7,03 and each of two pillars is 6,63 m

85088973F1F007046Andrew Collins' Trauma of War in Charles Coleman's Sergeant Back AgainPenelitian ini berjudul “ Andrew Collins trauma terhadap perang dalam novel Sergeant Back Again karya Charles Coleman”. yang mengkaji tentang proses trauma dari karakter utama pada novel Sergeant Back Again. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk memberikan informasi tentang proses trauma yang dialami oleh Andrew Collins. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yang menjelaskan tentang proses trauma pada Andrew Collins, dilihat dari sudut pandang teori PTSD (Posttraumatic Stress Disorder) oleh APA (American Psychological Association). Proses truma pada Collins tersebut diperoleh dengan meneliti ucapan, kata, frasa, kalimat dan percakapan dengan menggunakan teori PTSD. Setelah melakukan penelitian ini, peneliti menemukan ada tiga fase proses trauma, yaitu normal, kejadian traumatis, dan PTSD. Andrew Collins belum mengalami trauma pada fase normal. Kemudian dia mengalami kejadian traumatic. Pada akhirnya dia menderita trauma. Dalam kasus Andrew Collins, PTSD mempunyai tiga kriteria, yaitu mengalami kembali, penghindaran, and rangsangan. Andrew Collins mengalami kembali kejadian traumatik. Dia mencoba menghindari hal-hal yang bias mengingatkan pada trauma. Reaksi fisik dan rokhani yang disebabkan oleh rangsangan kejadian trauma.The research is entitled “Andrew Collins’ Trauma of War in Charles Coleman’s Sergeant Back Again”. It is about the main character’s process of trauma in Sergeant Back Again’s novel. The purpose of this research is to give more information about the process of trauma experienced by Andrew Collins. This research uses a qualitative descriptive method which describes about the process of Andrew Collins’ trauma seen PTSD theory (Posttraumatic Stress Disorder) by APA (American Psychological Association). Collins’ trauma is obtained by analyzing the utterances, words, phrases, sentences, and dialogue uses PTSD theory. After conducting the research, the researcher finds that there are three phases of the trauma process, namely normal, traumatic events, and PTSD. Collins does not suffer trauma yet in normal phase. Then, he experiences traumatic events. Finally, he suffers PTSD. PTSD found in Andrew Collins’ case has three criteria, namely re-experiencing, avoidance, and arousal. Re-experiencing is a condition which Collins re-experiences traumatic events. Avoidance is Collins’ acts in avoiding traumatic events stimulus. Arousal is physiological and psychological reaction to the trauma.
85098974G1B010007Efektivitas Pendidikan Sebaya terhadap Peningkatan Pengetahuan dan Sikap Suami Siaga tentang Perawatan Kehamilan Istri di Desa Pandansari Kecamatan AjibarangPemberdayaan tokoh masyarakat sebagai pendidik sebaya merupakan salah satu metode pendidikan kesehatan yang diharapkan mampu meningkatkan peran suami dalam perawatan kehamilan dan pencegahan kematian ibu. Pelatihan tokoh masyarakat menjadi pendidik sebaya pernah dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas I Ajibarang dan menunjukkan hasil bahwa Desa Pandansari memiliki tokoh masyarakat yang kooperatif dengan keterampilan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pendidikan sebaya untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap suami siaga tentang perawatan kehamilan istri di Desa Pandansari Kecamatan Ajibarang. Metode yang digunakan adalah quasy experiment dengan rancangan one group pre and post test design. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 852 suami dengan jumlah sampel yang dipilih sebanyak 30 suami menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data yang digunakan adalah uji Wilcoxon untuk variabel pengetahuan dan Paired T Test untuk variabel sikap. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada pengetahuan dan sikap antara sebelum dan sesudah pendidikan sebaya. Hal ini berarti pendidikan sebaya efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap suami tentang perawatan kehamilan istri. Pemberdayaan tokoh masyarakat sebagai pendidik sebaya suami siaga disarankan menjadi program promosi kesehatan yang rutin dilakukan karena memiliki potensi besar untuk menyebarkan informasi tentang suami siaga, perawatan kehamilan dan pencegahan kematian ibu. Empowering community leaders as peer educators is a method of health education which expected to increase the role of husband in prenatal care and prevention of maternal mortality. Community leaders training as peer educator had been held in Ajibarang 1 Primary Health Centre Area and the result of training showed Pandansari Village has cooperative community leaders with the good skill. This research aimed to determine the effectiveness of peer education to increase knowledge and attitude of alert husband about prenatal care in Pandansari Village Ajibarang District. Method used quasy experiment with one group pre and post test design. The number of populations in this research was 852 husbands with the number of samples was 30 husbands selected by purposive sampling technique. Data analysis used Wilcoxon test for knowledge variable and paired t test for attitude variable. The result showed significant differences in knowledge and attitude before and after peer education. It revealed that peer education was effective to increase knowledge and attitude of alert husband about prenatal care. Empowering community leaders as peer educators of alert husband suggested to be routinely health promotion program because it has great potential for spread the informations about alert husband, prenatal care and prevention of maternal mortality.
85108975G1B010059FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP PENCEGAHAN LEPTOSPIROSIS PADA PETANI
DI DESA SELANDAKA KECAMATAN SUMPIUH
KABUPATEN BANYUMAS
Leptospirosis masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia dan merupakan re-emerging disease yang berpotensi menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Data Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas menyebutkan bahwa terdapat 14 kasus Leptospirosis dari tahun 2010 hingga April 2013. Jumlah kasus terbanyak (lima kasus) berasal dari Desa Selandaka, Kecamatan Sumpiuh. Desa Selandaka adalah desa yang sebagian besar(45,74%) pekerjaan penduduknya sebagai petani. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa petani merupakan kelompok yang berisiko untuk terinfeksi Leptospirosis. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pencegahan Leptospirosis pada petani di Desa Selandaka. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional (belah lintang). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petani yang tercatat dalam anggota kelompok tani Umbut, Ngingas dan Nusabaya yang berasal dari Desa Selandaka pada tahun 2013 berjumlah 251 orang.Sampel dalam penelitian ini adalah petani yang tercatat dalam anggota kelompok tani tahun 2013 yang terpilih sejumlah 70 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik simple random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan berpengaruh terhadap pencegahan Leptospirosis pada petani di Desa Selandaka (p = 0,001; POR = 8,414; 95% CI = 2,337-30,293). Faktor yang terbukti tidak berpengaruh terhadap pencegahan Leptospirosis pada petani adalah jenis kelamin, tingkat pendidikan, sikap, sarana dan prasarana, lingkungan rumah dan keterpaparan informasi. Saran dalam penelitian ini adalah peningkatan pengetahuan petani tentang Leptospirosis terutama mengenai cara penularan, perilaku berisiko dan pencegahan Leptospirosis menggunakan alat pelindung diri dengan mengakses sumber informasi mengenai Leptospirosis melalui kegiatan penyuluhan kesehatan maupun kegiatan perkumpulan masyarakat, termasuk perkumpulan RT maupun RW.Leptospirosis was being a health problem in Indonesia and include inre-emerging disease which has outbreak potention. Data on Banyumas Health District shows that there were 14 cases of Leptospirosis during 2010 to April 2013. The highest number of Leptospirosis cases (five cases) come from Selandaka village, Subdistrict Sumpiuh. Selandaka village wasa village with the majority (45.74%) of the population work as farmers. Several previous studies have shown that farmers are group who have risk for Leptospirosis infection. This research purposes was to determine the factors that influence prevention of Leptospirosis on farmers in Selandakavillage. This research was analytic observational with cross sectional design. The population in this study were all registered farmers in farmer group members Umbut, Ngingas and Nusabaya from Selandaka village in 2013 amounted to 251 people. The samples in this study were registered farmers on farmer group members in 2013 who elected amounted to 70 people. Sampling was elected by simple random sampling technique. The results showed that the level of knowledge affect prevention of Leptospirosis on farmers in Selandaka village (p = 0.001; POR = 8.414, 95%CI = 2.337-30.293). Factors which proven not to be affect of prevention of Leptospirosis on farmerswere sex, level of education, attitude, tool and infrastructure, house environment and acceptance of information. Suggestions in this researchareupgrading farmers knowledge about Leptospirosis especially modes of transmission, risk behaviors and prevention of Leptospirosis use personal protective equipmentbyaccess to sources of information about Leptospirosis through health education activities and community activities, including community meeting.
85118976H1K009004Potensi Rumput Laut Merah (Rhodophyceae) Gracilaria verrucosa, Gracilaria salicornia dan Gracilaria gigas sebagai Bahan Baku Pembuatan AgarRumput laut Gracilaria verrucosa, Gracilaria salicornia dan Gracilaria gigas merupakan rumput laut merah yang paling banyak digunakan sebagai bahan baku pembuatan agar di Indonesia. Produk rumput laut merah agarofit yang dihasilkan dari industri skala kecil di Indonesia tidak banyak diketahui kualitas agarnya. Penelitian dengan judul “Potensi Rumput Laut Merah (Rhodophyceae) Gracilaria verrucosa, Gracilaria salicornia dan Gracilaria gigas sebagai Bahan Baku Pembuatan Agar” telah dilaksanakan pada bulan Februari 2014. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rendemen paling tinggi dan kualitas agar rumput laut agarofit Gracilaria verrucosa, Gracilaria salicornia dan Gracilaria gigas sebagai bahan baku dalam pembuatan agar yang meliputi kadar air, kadar abu dan viskositas. Metode pengambilan sampel rumput laut digunakan purposive sampling dan untuk mengetahui kualitas agar digunakan metode Kusuma (2013) yang telah dimodifikasi. Data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel. Hasil penelitian menunjukan bahwa rendemen tertinggi diperoleh pada rumput laut Gracilaria gigas (26.42 ± 1.49%), sedangkan rendemen terendah diperoleh pada rumput laut Gracilaria salicornia (19 ± 1.02%). Jenis rumput laut yang paling baik digunakan sebagai bahan baku pembuatan agar adalah rumput laut Gracilaria gigas karena memiliki rendemen yang tinggi serta kualitas kadar air dan viskositas yang baik.Gracilaria verrucosa, Gracilaria salicornia and Gracilaria gigas are classified as red seaweed (Rhodophyceae) which are the most widely used as a raw material for agar making in Indonesia. The quality of agarophyte seaweed products produced from small scale of agar industries in Indonesia has not investigated. A research entitled “Potential of Red Seaweed (Rhodophyceae) Gracilaria verrucosa, Gracilaria salicornia and Gracilaria gigas as Raw Materials for Agar Making” has been done in February 2014. This study was aimedat determining the highest yield and quality of agar agarofit seaweed Gracilaria verrucosa, Gracilaria salicornia and Gracilaria gigas as raw material for agar making, based on water content, ash water and viscosity. The sampling method was done using purposive sampling and modified agar extraction method by Kusuma (2013) were used to analyse the agar quality. Data were analyzed descriptivey and presented in table form. The results showed that the highest yield was obtained from Gracilaria gigas (26.42 ± 1:49%), while the lowest yield was obtained from Gracilaria salicornia (19 ± 1:02 %). The best agarophyte seaweed which can be used as a raw material is seaweed Gracilaria gigas because it has a highest yield and good quality of water content and viscosity.
851210573G1F011002ANALISIS BIAYA MINIMAL KONVERSI ANTIBIOTIK CIPROFLOXACIN INTRAVENA KE ORALKomponen biaya obat dapat mencapai hingga 30-40% dari total biaya pelayanan kesehatan. Konversi terapi intravena ke oral dapat menghemat biaya pengobatan tanpa mengabaikan efektivitas terapi. Ciprofloxacin adalah obat yang dapat dilakukan konversi terapi karena efektivitas ciprofloxacin intravena tidak berbeda signifikan dengan ciprofloxacin oral.Penelitian ini bertujuan untuk menghitung persentase pasien yang dapat dilakukan konversi dari intravena ke oral dan untuk menghitung potensi penghematan biaya jika dilakukan konversi terapi.
Penelitian ini bersifat deskriptif dengan data diperoleh secara retrospektif dari bagian keuangan dan catatan rekam medik pasien di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo yang mendapatkan ciprofloxacin intravena pada Januari-Desember 2013.Terapi diasumsikan dilakukan konversi jika pasien memenuhi kriteria konversi.Analisis dilakukan dengan membandingkan antara biaya terapi ciprofloxacin non konversi dengan biaya terapi ciprofloxacin jika dilakukan konversi.
Jumlah sampel yang digunakan adalah sebanyak 100 pasien yang menggunakan ciprofloxacin intravena.Sebanyak 93 pasien (93%) dapat dilakukan konversi terapi, sedangkan 7 pasien (7%) tidak dapat dilakukan konversi terapi. Rata-rata biaya penggunaan ciprofloxacin intravena (biaya non konversi) per pasien adalah Rp. 181.500,-(Rp.65.250-Rp.472.500). Sedangkan rata-rata biaya ciprofloxacin jika dilakukan konversi terapi (biaya konversi) adalah Rp.32.857,10,-(Rp.294-Rp.294.426). Persentase penghematan rata-rata yang didapatkan jika dilakukan konversi terapi adalah sebesar 84,23%(27,7%-99,55%). Penghematan biaya yang didapatkan jika dilakukan konversi terapi adalah sebesar Rp.13.561.686,- atau sebesar Rp.148.642,90,- (Rp.28.206–Rp.403.134) per pasien. Konversi terapi menunjukkan biaya yang lebih minimal dibandingkan tanpa konversi terapi.
Drug cost account for an expenditure about 30-40% of the total healthcare cost. Conversion therapy from intravenous to oral can save medical costs without undermining the effectiveness of therapy. Ciprofloxacin is a suitable drug for conversion therapy because the effectiveness of intravenous ciprofloxacindid notsignificantly different from oral ciprofloxacin. This study was aimed to quantify the percentage of patients that can be converted from intravenous to oral therapy and calculate the potential cost savings of conversion therapy.
This was a descriptive study and data was obtained retrospectively from financial and medical record division of patients in Prof. Dr. Margono Soekarjo hospital who get intravenous ciprofloxacin in January-December 2013. Therapy assumed could be converted from intravenous to oral if the patient meetthe conversion criteria. The analysis was conducted by comparing the cost of non converted of ciprofloxacin therapy to the cost of converted of ciprofloxacin therapy.
One hundred medical records of patients who were prescribed ciprofloxacin intravenous during the study period were reviewed. Of these, 93 patients (93%) therapy were being converted and 7 patients (7%) therapy were not. The average intravenous ciprofloxacin cost (non convertedcost) was Rp.181.500,- (Rp.65.250-Rp.472.500). The average cost of convertedtherapy wasRp.32.857,10,-(Rp.294-Rp.294.426). The percentage of cost savings of converted therapy was 84,23% (27,7%-99,55%). The cost savings of converted therapy was Rp.13.561.686,-or Rp.148.642,90,- (Rp.28.206–Rp.403.134) per patient. Conversion therapy showed minimal cost compared to non conversion therapy.
851310574C1B008095PENGARUH SIKAP, NORMA SUBJEKTIF DAN KONTROL PERILAKU
TERHADAP NIAT UNTUK MEMILIH BANK SYARIAH
DENGAN RELIGIUSITAS ISLAM SEBAGAI VARIABEL MODERASI
(Studi Kasus pada Nasabah BRISyariah Purwokerto)
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh sikap terhadap niat untuk memilih bank syariah, untuk menganalisis pengaruh norma subjektif terhadap niat untuk memilih bank syariah.untuk menganalisis pengaruh kontrol perilaku terhadap niat untuk memilih bank syariah, untuk menganalisis pengaruh moderasi religiusitas terhadap hubungan sikap, norma subjektif dan kontrol perilaku terhadap niat untuk memilih bank syariah. Metode penelitian yang digunakan adalah survey dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan ukuran sampel penelitian ini adalah 100 responden.Selanjutnya alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis Regresi Berganda dengan menggunakan software SPSS 16.0.

Berdasarkan penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa sikap tidak berpengaruh terhadap niat memilih Bank BRISyariah. Norma subjektif berpengaruh positif terhadap niat memilih Bank BRISyariah. Kontrol perilaku tidak berpengaruh terhadap niat memilih Bank BRISyariah. Hubungan antara Sikap, Norma Subjektif dan Kontrol Perilaku dengan niat untuk memilih Bank BRISyariah tidak dimoderasi oleh religiusitas.

Berdasarkan kesimpulan tersebut dapat dikatakan bahwa Bank BRISyariah harus meningkatkan pemahaman yang berhubungan dengan norma subjektif untuk dapat menambah jumlah nasabah yang menggunakan jasa Perbankan Syariah. Penelitian selanjutnya disarankan agar dapat menindaklanjuti dan mengembangkan penelitian ini dengan lebih mengeksplorasi variable independen dan dependen lanjutan sebelum dan setelah behavioural intention atau niat untuk mengerjakan tindakan tertentu.
to choose Islamic banks, to analyze the effect of subjective norm on the intention to choose Islamic banks. to analyze the effect of the control behavior of the intention to choose the Islamic banks, to analyze the moderating influence of religiosity on the relationship attitudes, subjective norms and behavioral control of the intention to choose the Islamic banks . The method used is a survey with a sampling technique used purposive sampling with a sample size of this study was 100 respondents . Further analysis tools used in this study is multiple regression analysis using SPSS 16.0 software .

Based on this study it can be concluded that the attitude does not affect to the intention of choose Bank BRISyariah . Subjective norm positive effect on intention choose Bank BRISyariah. Control behavior does not affect to the intention choose Bank BRISyariah. Relationship between Attitudes, Subjective Norms and Behavior Control with the intention to select Bank BRISyariah not moderated by religiosity.

Based on these conclusions can be said that the Bank BRISyariah should improve understanding related to the subjective norm in order to increase the number of customers who use the services of Islamic Banking . Further research is recommended in order to follow up and develop this research to further explore the independent and dependent variables continued before and after behavioral intention or intention to perform a specific action .
85148977A1L010043Serapan N dan Hasil Tiga Varietas Padi Pada Berbagai Taraf Dosis Pupuk Organik Di Tanah InceptisolPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan serapan N dari tiga varietas padi pada berbagai taraf pupuk organik di tanah Inceptisol. Dilaksanakan di screen house Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian dilaksanakan selama 6 bulan. Dari bulan Oktober 2013 sampai dengan April 2014. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan 9 perlakuan 3 ulangan. Faktor yang pertama adalah 3 varietas padi V1 Bawor, V2 Z29.3, dan V3 Ciherang. Faktor yang kedua adalah dosis pupuk organik yaitu 0, 10, 20 setara dengan 0, 50, 100 ton/ha, dengan berat tanah per polybag 10 kg. variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah anakan total, jumlah anakan produktif, panjang malai, bobot gabah malai, bobt gabah rumpun, bobot 1000 biji dan serapan N. Hasil penelitian menunjukkan jumlah anakan produktif yang paling banyak pada varietas Ciherang sebanyak 4 batang, panjang malai tertinggi varietas Bawor 9 sebesar 23,78 cm dan serapan N yang paling besar pada varietas Bawor 9 sebesar 86,48 mg/tanaman. Jumlah anakan total terbanyak yaitu 18 batang dicapai pada dosis pupuk organik 100 gram/tanaman atau setara dengan 20 ton/ha, jumlah daun terbanyak yaitu 75 helai dicapai pada dosis pupuk organik 100 gram/tanaman dan pada serapan N terbesar yaitu 80,70 mg/tanaman dicapai pada dosis pupuk organik 100 gram/tanman atau setara dengan 20 ton/ha. Interaksi varietas dan dosis menunjukkan adanya keterkaitan pada serapan N menujukan V1D2 sebesar 101,97 mg/tanaman sangat tinggi ketimbang yang lain.This study aims to determine the differences in N uptake of three rice varieties at different level of organic fertilizers in the soil Inceptisol. Conducted in a screen house Faculty of Agriculture, University General Sudirman. Research carried out for 6 months. From October 2013 to April 2014 The experimental design used was a complete randomized block design (RAKL) with 9 treatments 3 replications. The first factor is 3 Bawor rice varieties V1, V2 Z29.3, and V3 Ciherang. The second factor is an organic fertilizer that is 0, 10, 20, equivalent to 0, 50, 100 tons / ha, with a weight of 10 kg soil per polybag. observed variables include plant height, leaf number, total number of tillers, number of productive tillers, panicle length, panicle grain weight, grain bobt clumps, weight of 1000 seeds and uptake of N. The results showed that the most number of productive tillers on Ciherang much as 4 rods, the highest panicle length Bawor 9 varieties of 23.78 cm and the greatest N uptake on Bawor 9 varieties of 86.48 mg/plant. Highest total number of tillers which is 18 rods achieved at doses of 100 grams of organic fertilizer / crop or equal to 20 tons/ha, the highest number of leaves of 75 strands is achieved at doses of organic fertilizer 100 grams/plants and the largest N uptake is 80.70 mg/plants achieved at doses of organic fertilizer 100 grams / tanman or equal to 20 tons / ha. Interaction of varieties and doses showed an association in addressing V1D2 N uptake by 101.97 mg/plant was higher than the others.
851511052B1J009168PERTUMBUHAN RUMPUT LAUT Sargassum duplicatum YANG DITANAM MENGGUNAKAN SISTEM WARING DENGAN BOBOT AWAL BERBEDA DI PANTAI NUSAKAMBANGAN TIMUR
CILACAP
Sargassum merupakan rumput laut yang bernilai ekonomis tinggi, bersifat perenial atau setiap musim barat maupun timur dapat dijumpai di berbagai perairan. Rumput laut Sargassum memiliki manfaat sebagai sumber penghasil alginat yang digunakan sebagai bahan pembuat cangkang kapsul, sabun, shampoo dan cat rambut. Penggunaan alginat untuk industri semakin meningkat, oleh karena itu perlu dilakukan budidaya yang intensif di perairan yang cocok untuk pertumbuhan rumput laut S. duplicatum. Pertumbuhan dapat dipengaruhi bobot awal yang digunakan dan sistem penanaman yang diterapkan. Penanaman rumput laut dapat dilakukan dengan sistem waring. Waring dapat dimodifikasi berbentuk rakit dan tabung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan S. duplicatum yang ditanam menggunakan sistem waring dengan bobot awal berbeda sehingga dapat diketahui sistem waring apa dan bobot awal berapa yang menghasilkan pertumbuhan S. duplicatum paling tinggi di Pantai Nusakambangan Timur Cilacap.
Penelitian menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola Faktorial dengan tiga kali ulangan. Adapun Perlakuan-perlakuan yang dicobakan adalah Faktor A yaitu sistem waring terdiri dari Waring Tabung (A1), Waring Rakit (A2), sedangkan Faktor B yaitu bobot awal rumput laut, yaitu 25 gram (B1), 50 gram (B2) dan 75 gram (B3). Parameter yang diamati adalah bobot rumput laut S. duplicatum, sedangkan parameter pendukung yang diukur antara lain salinitas, suhu, derajat keasaman (pH), nitrat, fosfat serta kecerahan air. Data bobot rumput laut S. duplicatum yang diperoleh, dianalisis menggunakan adalah Uji F dengan taraf kepercayaan 95%, apabila hasilnya menunjukkan berbeda nyata maka dilanjutkan Uji BNT (Beda Nyata Terkecil) untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bobot awal dan sistem waring berpengaruh terhadap pertumbuhan rumput laut S. duplicatum yang dibudidaya di Pantai Nusakambangan Timur Cilacap pada umur 7 hst, 14 hst, 21 hst, 28 hst dan 35 hst. Pada hari ke 35 hst perlakuan menggunakan sistem waring rakit dengan bobot 25 gram menghasilkan pertumbuhan tertinggi yaitu 5.238 gram.hari-1.
Sargassum seaweed is valued economically high, are the West each season or a perenial nor East can be found in various waters. Seaweed Sargassum has its benefits as alginat-producing sources were used as material for making shell capsules, soaps, shampoos and hair dye. The use of industrial alginate in creasing, there fore it needs to be done in intensive aquaculture waters that are suitable for the growth of seaweed S. duplicatum. The growth can be affected by the initial weights are used and applied cultivation system. Seaweed cultivation can be done with the system waring. Waring can be modified in the shape of raft and tube. This research aims to know the growth of S. duplicatum planted using the system with different early waring so knowable system waring what initial weights and how that result in growth of S. duplicatum most high on the eastern coast of NusakambanganCilacap.
Research of experimental method using Random Design Group (RAK) Factorial pattern with three replicates. As for the treatment-treatment for customers is A Factor that is a system composed of Waring Tube waring (A1), (A2) Raft Waring, where as Factor B which is the initial weights of seaweed, which is 25 grams (B1) and (B2) 50 g and 75 g (B3). The observed parameters is the weight of seaweed S. duplicatum, while supporting parameters measured, among others, salinity, temperature, the degree of acidity (pH), nitrate, phosphate and water brightness. Data weighting seaweed S. duplicatum obtained, analyzed using the F Test is the extent of confidence 95%, if the results show the real continued then Test different of BNT (the smallest Real Difference) to know the differences between the treatments.
The results showed that use of the weighting system preliminary and waring effect on the growth of seaweed S. duplicatum are cultivated on the Eastern coast of Nusakambangan Cilacap on 7hst, 14 hst, 21 hst, 28 hst and 35 hst. On day 35 hst treatment using the raft waring system weighing 25 grams yields the highest growth is the gram 5.238. day-1.
851610575F1C010061Proses Komunikasi dalam Penyelesaian Konflik Suami Istri di Desa Keniten Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten BanyumasABSTRAKSI

Penelitian ini mengambil judul Proses Komunikasi dalam Penyelesaian Konflik Suami istri di Desa Keniten Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi proses komunikasi di dalam rumah tangga dalam menyelesaikan konfliknya dan menganalisis faktor-faktor apa saja yang menjadi kendala bagi suami atau istri dalam menyelesaikan konflik yang terjadi, sehingga proses komunikasi menjadi tidak maksimal.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Sasaran penelitian ini adalah warga Desa Keniten Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas yang telah menikah dan sedang mengalami konflik atau pernah mengalami konflik yang dapat memicu terjadinya perceraian. Pemilihan informan menggunakan tekhnik snowball sampling. Data dari penelitian ini diperoleh dengan melakukan wawancara mendalam terhadap 4 pasangan dan disertai observasi serta dokumentasi. Pengembangan validitas data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik triangulasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa cara setiap pasangan suami istri dalam menyelesaikan konflik dalam rumah tangganya berbeda-beda yaitu antara lain 1)berbicara langsung, 2)menggunakan media, 3)menggunakan kekerasan, atau 4)justru diam dan menghindari pembicaraan masalah. Faktor yang menjadi kendala bagi pasangan suami istri dalam menyelesaikan masalah antara lain sulitnya mencari waktu luang bersama, perbedaan karakter dan sulitnya mengkontrol emosi.
ABSTRACT

This research takes the title Proses Komunikasi dalam Penyelesaian Konflik Suami istri di Desa Keniten Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas. This research aims to identify the communication process in the household in resolving conflict and analyze what factors which become constraints for a husband or wife in resolving the conflict, so that the communication process to be not optimal.
The method used in this research is a qualitative method. The target of this research is the villagers in Desa Keniten Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas who has been married and are experiencing or have experienced conflict that can lead to divorce. Selection of informants use snowball sampling technique. Data from this study were obtained by conducting in-depth interviews with four couples, observation, and documentation. Development validity of the data in this research was done by using triangulation techniques.
The results showed that the way each couple in resolving conflicts is different. The way among others such as 1)speaking directly, 2)using the media, 3)using the violence, or 4)keep silent and avoid to discuss about conflict. Factors that become constraints for married couples in resolving problems such as difficult to finding spare time together, differences in the character and difficult to control emotions

851711053G1F010017Hubungan Pengetahuan dan Sikap dengan Perilaku Pemilihan Kosmetika Lipstik pada Sales Promotion Girl (SPG) di Pusat Perbelanjaan Moro Purwokerto Lipstik merupakan salah satu jenis kosmetika yang menjadi kebutuhan para wanita. Namun banyak lipstik yang beredar saat ini menjadi kurang layak akibat kasus adanya bahan tambahan dan logam kontaminan yang dapat membahayakan kesehatan. Menurut pengawasan BPOM tahun 2005-2008 ditemukan kosmetik tidak terdaftar yang didalamnya terkandung bahan tambahan dan logam berbahaya. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan pengetahuan, sikap dengan perilaku SPG mengenai kosmetika lipstik. Penelitian ini merupakan observational analytic survey dengan pendekatan cross sectional. Instrumen penelitian menggunakan kuisioner yang tervalidasi. Sampel dalam penelitian ini adalah 70 orang SPG yang bekerja di pusat perbelanjaan MORO Purwokerto dari total populasi 250 SPG. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik accidental sampling. Analisis data menggunakan analisis univariat dengan uji normalitasnya menggunakan kolmogorov smirnov dan analisis bivariat menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden memiliki pengetahuan rendah (58,6%), sikap tidak mendukung (52,85%), jumlah sama antara responden dengan perilaku baik dan tidak baik (50%), dan hubungan linear antara pengetahuan dan sikap dengan perilaku pemilihan kosmetika lipstik pada SPGLipsticks are one of many cosmetics that has become the needs of today’s women. However, many of the currently available lipsticks became less feasible due to manufacturers adding hazardous materials such as Rhodamine B dye and the presence of metal contaminants such as lead which may harm health. According to BPOM supervision in 2005-2008 found unregistered cosmetics, that contains additives and harmful metals. The aim of this study was to determine the relationship of knowledge, attitudes and SPG’s behaviors regarding lipstick. This study was an observational analytic survey by using the cross sectional approach. The instrument of the study was validated questionnaire. The samples used in this study were 70 SPG who work in the shopping centre MORO Purwokerto from total population of 250 SPG. Sampling was carried out by accidental sampling technique. Data analysis was performed using univariate with the normality test using kolmogorov smirnov, and bivariate analysis, using chi square test to determine the relationship between the two variables. The results showed the majority have little knowledge (58,6%), refused attitude (52,85%), same amounts of respondents who well behaved and did not well behaved (50%) and the strong linear relationship between knowledge and attitudes toward selection behavior of cosmetics lipstick in SPG.
851811283C1J011003THE ANALYSIS OF FACTORS AFFECTING INDONESIA CACAO
EXPORT TO ASIA 2002-2012 PERIOD
(Case Study in Malaysia, Singapore, China and Thailand)
Di Indonesia kakao merupakan salah satu sektor perkebunan yang memiliki produksi terbesar keempat setelah minyak sawit, kelapa, dan karet. Ekspor kakao Indonesia ke negara pengimpor yaitu Malaysia, Singapura, Thailand dan China cenderung mengalami peningkatan pada tahun 2002-2011, akan tetapi pada tahun 2011 sempat mengalami penurunan produksi yg mengakibatkan penurunan nilai ekspor kakao.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh harga kakao internasional, harga kakao negara pengimpor, kurs rupiah terhadap dolar Amerika, dan GDP negara pengimpor terhadap nilai ekspor kakao Indonesia ke Malaysia, Singapura, Thailand dan China periode tahun 2002-2012. Data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS), World Bank, International Cacao Organization (ICCO), index mundi, artikel, jurnal dan hasil penelitian terdahulu.
Penelitian ini menggunakan analisis regresi data panel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa harga kakao internasional sebesar 0,1663, harga kakao negara pengimpor sebesar 0,5958, dan GDP negara pengimpor sebesar 0,0957 tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai ekspor kakao Indonesia ke Malaysia, Singapura, Thailand dan China, sedangkan variabel kurs rupiah terhadap dolar Amerika sebesar 0,0440 secara signifikan berpengaruh terhadap nilai ekspor kakao Indonesia ke Malaysia, Singapura, Thailand dan China pada tahun 2002-2012.
Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh implikasi bahwa Pemerintah harus lebih memperketat kebijakan untuk meningkatkan kualitas kakao dan standar nasional Indonesia untuk kakao yang akan diekspor. Pemerintah juga memberikan motivasi dan penyuluhan kepada para petani untuk melakukan fermentasi kakao. Dengan terjaganya kualitas kakao Indonesia seperti melakukan fermentasi pada biji kakao, diharapkan dapat mengurangi berbagai potongan harga yang diberikan terhadap biji kakao Indonesia, sehingga mengurangi kerugian ekspor kakao Indonesia dan meningkatkan nilai jual kakao di pasar internasional menjadi lebih tinggi.
In Indonesia cacao plantation sector is one which has the fourth largest after the production of palm oil, coconut, and rubber. Indonesian cacao exports to the importing countries, namely Malaysia, Singapore, Thailand and China are tends to increase in the years 2002-2011, but in 2011 had decreased production which resulted in a decrease in the value of exports of cacao.
This study aimed to analyze the influence of the international cacao prices, the price of cacao importing countries, the rupiah against the US dollar, and the GDP of the importing country to the value of Indonesian cacao exports to Malaysia, Singapore, Thailand and China-year period 2002-2012. The data used are secondary data obtained from the Central Statistics Agency (BPS), the World Bank, the International Cacao Organization (ICCO), the index mundi, articles, journals and the results of previous research.
This study used panel data regression analysis. The results of this study indicate that the international cacao prices with the value 0,1663, the price of cacao importing countries wtth the value 0,5958, and GDP in the importing country with the value 0,0957 does not significantly affect the value of Indonesian cacao exports to Malaysia, Singapore, Thailand and China, while the variable exchange rate against the US dollar with the value 0,0440 significantly affect the value of Indonesian cacao exports to Malaysia, Singapore, Thailand and China.
Based on the research results, obtained by the implication that the government should tighten policy to improve the quality of Indonesian cacao and national standards for cacao to be exported. The government also provides motivation and counseling to farmers for cacao fermentation. With preservation of the quality of Indonesian cacao as the fermentation of cacao beans, is expected to reduce the discounts given to the Indonesian cacao beans, thus reducing the loss of Indonesian cacao exports and increase the sale value of cacao in the international market to be higher.
85198978H1B010048MODEL SISTEM SUSPENSI PASIF PADA KENDARAANUmumnya kendaraan roda empat dilengkapi dengan sistem suspensi pasif untuk meredam getaran vertikal dari permukaan jalan. Oleh karena itu, pada penelitian ini dikaji model sistem suspensi pasif seperempat kendaraan roda empat yang diturunkan dengan model matematika berupa sistem persamaan diferensial linier non homogen. Hasil penelitian dilakukan dengan menentukan penyelesaian model sistem suspensi pasif seperempat kendaraan roda empat dengan kondisi jalan bergelombang. Selanjutnya simulasi model dilakukan dengan membandingkan kestabilan model pada jalan bergelombang dengan model pada jalan rata, menanjak, dan menurun. Penggunaan model sistem suspensi pasif pada jalan bergelombang belum stabil, artinya getaran vertikal masih terjadi pada kendaraan. Sedangkan penggunaan model pada jalan rata dapat stabil, artinya getaran vertikal tidak terjadi pada kendaraan. Penggunaan model pada jalan menanjak menunjukkan hasil yang kontinu naik sesuai dengan permukaan jalan. Penggunaan model pada jalan menurun menunjukkan hasil yang kontinu turun sesuai dengan permukaan jalan. Generally, four-wheeled vehicles equipped with passive suspension system to dampen the vertical vibrations from the road surface. Therefore, the purpose of this research is to assess the model of quarter of four-wheeled vehicle passive suspension systems derived with a mathematical model of non-homogeneous linear systems of differential equations. The results done by determining the solution of the model of quarter of four-wheeled vehicle passive suspension systems with a bumpy road conditions. Furthermore, the model simulations done by comparing the stability of the model on a bumpy road with the model on a flat, uphill and downhill road. The use of model on bumpy roads has not been stable, the vertical vibrations still happens in the vehicle. While the use of model on a flat road has been stable, the vertical vibrations don’t occur in the vehicle. The use of models on uphill road showed a continuous rise in according with the road surface. The use of models on downhill road showed a continuous down in according with road surface.
852010576G1F011010Optimasi Jahe Merah Pada Kombinasi Ekstrak Temulawak, Kunyit, dan Jahe Merah Sebagai Agen Ko-Kemoterapi Doksorubisin Terhadap Viabilitas Sel Kanker MCF-7.Kombinasi Ekstrak Temulawak, Kunyit, dan Jahe Merah telah terbukti sama-sama memiliki aktivitas sitotoksik seperti masing-masing ekstrak tunggalnya. Jahe merah mengandung senyawa aktif gingerol, shogaol, dan zingeron yang diketahui lebih baik dalam menghambat proliferasi sel kanker payudara MCF-7. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengoptimasi jumlah jahe merah pada kombinasi temulawak, kunyit, dan jahe merah serta mengetahui efektivitas kombinasi terbaik yang dihasilkan sebagai agen ko-kemoterapi doksorubisin terhadap viabilitas sel kanker payudara MCF-7.
Penelitian ini dilakukan secara in vitro menggunakan sel MCF-7. Perbandingan konsentrasi kombinasi ekstrak temulawak, kunyit, dan jahe merah yaitu 1:1:1, 1:1:3, 1:1:5, dan 1:1:7. Uji sitotoksik kombinasi ekstrak dan Doksorubisin terhadap sel MCF-7 dilakukan dengan metode yellow MTT assay. Nilai IC50 kombinasi ekstrak dan IC50 doksorubisin diperoleh dari analisis probit. Berdasarkan nilai IC50 yang diperoleh, dilakukan uji ko-kemoterapi antara kombinasi ekstrak terbaik dengan Doksorubisin terhadap penurunan viabilitas sel kanker payudara MCF-7.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi ekstrak temulawak, kunyit, jahe merah dengan perbandingan 1:1:1, 1:1:3, 1:1:5, 1:1:7 dan doksorubisin memiliki efek sitotoksik dengan nilai IC50 secara berturut-turut sebesar 114 µg/mL, 57 µg/mL, 63 µg/mL, 96 µg/mL, dan 17 µg/mL. Kombinasi ekstrak dengan perbandingan (1:1:3) memiliki aktivitas sitotoksik terbaik ditunjukkan dengan nilai IC50 paling rendah. Hasil uji kombinasi ekstrak temulawak, kunyit, dan jahe merah (1:1:3) dengan doksorubisin terbukti mampu menurunkan viabilitas sel kanker payudara MCF-7 secara signifikan dibandingkan dengan perlakuan secara tunggal (p<0,05). Persentase penurunan viabilitas sel kanker payudara MCF-7 paling rendah sebesar 53,92 % diperoleh pada konsentrasi kombinasi ekstrak temulawak, kunyit, dan jahe merah (1:1:3) 7,13 µg/mL dengan doksorubisin 4,25 µg/mL.
The combination of Curcuma, Turmeric, and Red Ginger are known having same cytotoxic activity with each of extracts. Red Ginger contains active compounds such as gingerol, shogaol, and zingeron better known in inhibiting the proliferation of MCF-7 breast cancer cells. This study aims to optimize and examine the amount of red ginger in the combination of curcuma, turmeric, and red ginger with doxorubicin as co-chemotherapy agents in MCF-7 breast cancer cell viability.
This study was conducted in vitro using MCF-7 cells. Comparison of concentrations combination of curcuma, turmeric, ginger and red is 1:1:1, 1:1:3, 1:1:5, and 1:1:7. Cytotoxic test of extract combination and Doxorubicin to MCF-7 cells using the yellow MTT assay. IC50 of extract combination and Doxorubicin obtained from probit analysis. Based on the IC50 values, co-chemotherapy assay conducted between the best extract combination with Doxorubicin against loss of viability of MCF-7 breast cancer cells.
The results showed that the combination of extracts of curcuma, turmeric, and red ginger (1:1:1, 1:1:3, 1:1:5, 1:1:7) and doxorubicin have cytotoxic effects with IC50 114 µg/mL, 57 µg/mL, 63 µg/mL, 96 µg/mL, and 17 µg/mL. The combination of extracts with a ratio (1:1:3) has the best cytotoxic activity with the lowest IC50 values. The result of a combination of extracts of curcuma, turmeric, and red ginger (1:1:3) with doxorubicin proven to reduce cell viability of MCF-7 breast cancer cells significantly compared with singly treatment (p <0.05). The lowest cells viability in co-chemotherapy is obtained in combination of 7,13 µg/mL curcuma, turmeric, and red ginger (1:1:3) extract combinations and 4,25 µg/mL doxorubicin with 53,92 % cells viability.

Keywords: Optimization, red ginger, co-chemotherapy, doxorubicin, MCF-7 Cells.