Artikelilmiahs

Menampilkan 8.481-8.500 dari 48.905 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
84818959D1E009061¬KADAR LEMAK DAN TINGKAT KEMASIRAN TELUR ASIN DENGAN PERBEDAAN SISTEM PEMELIHARAAN ITIK DAN FREKUENSI PENGGUNAAN MEDIA PENGASINPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh perbedaan sistem pemeliharaan itik dan frekuensi penggunaan media pengasin terhadap kadar lemak dan tingkat kemasiran telur asin. Pengambilan data dilaksanakan tanggal 5 sampai dengan 26 September 2013 di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Materi penelitian yang digunakan adalah 72 butir telur itik (ekstensif 36 butir dan intensif 36 butir), garam 2160 g, serbuk batu bata merah 4320 g dan air secukupnya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode quasi eksperimental pola faktorial 2 x 3 dengan 4 ulangan untuk kadar lemak menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan tingkat kemasiran menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Perlakuan terdiri atas 2 faktor, faktor a1 (sistem pemeliharaan secara ekstensif), a2 (sistem pemeliharaan secara intensif); dan faktor b1 (frekuensi penggunaan media pengasin 1 kali), b2 (frekuensi penggunaan media pengasin 2 kali), b3 (frekuensi penggunaan media pengasin 3 kali). Data yang diperoleh dianalisis variansi dan bila terdapat perbedaan antar perlakuan dilakukan uji lanjut menggunakan orthogonal polynomial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pemeliharaan (ekstensif dan intensif) dan frekuensi penggunaan media pengasin berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap kadar lemak telur asin itik dengan rataan kadar lemak 16,28%. Sistem pemeliharaan (ekstensif dan intensif) berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap tingkat kemasiran telur asin itik dengan rata-rata tingkat kemasiran dari sistem pemeliharaan ekstensif 4,26 (masir – sangat masir) dan sistem pemeliharaan intensif 3 (agak masir), sedangkan frekuensi penggunaan media pengasin berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap tingkat kemasiran telur asin itik. Disimpulkan sistem pemeliharaan ekstensif dan intensif dengan penggunaan media pengasin pertama, kedua dan ketiga menghasilkan kadar lemak yang relatif sama. Telur asin dari sistem pemeliharaan ekstensif memiliki tingkat kemasiran yang lebih masir dibandingkan dengan telur asin dari sistem pemeliharaan intensif.The study was aimed to evaluate the effect of difference duck maintenance system and frequency of media usage between fat and granular content of salted eggs. Data collections were held on September 5th until 26th 2013 in the Laboratory of Animal Products Technology, Animal Science Faculty of Jenderal Soedirman University Purwokerto. The material used in this study was 72 duck eggs (36 extensive eggs and 36 intensive eggs), salt 2160gr, 4320gr brick powder and water. The method used in this study is a quasi-experimental method with factorial 2 x 3 by 4 replications for fat content using completely randomized design (CRD) and for granular content using group randomized design (GRD). The treatment consists of two factors, factor a1 (extensive system maintenance), a2 (intensive system maintenance), and factor b1 (1st salting frequency of media usage), b2 (2nd salting frequency of media usage), b3 (3rd salting frequency of media usage). Data were analyzed by variance analyses and if there is a difference between treatments, there is further tests using orthogonal polynomial. The results showed that the maintenance system (extensive and intensive) and frequency of media usage does not significantly affect (P>0.05) the fat content of duck salted eggs with average fat content 16,28%. Maintenance systems (extensive and intensive) very significantly affect (P<0,01) on the granular content with average granular content from extensive maintenance system 4,26 (granular ¬– very granular) and intensive maintenance system 3 (about granular), whereas the frequency of media usage does not significantly affect (P<0,05) on the granular content of duck salted eggs. Can be conclude that on extensive and intensive maintenance systems with the first, second, and third frequency of media usage relatively produce the same fat content. Salted egg from extensive maintenance system has better granular content than intensive maintenance system.
84828960C1B010044Analisis Pengaruh Hubungan Green Marketing dan Green Consumer Behavior terhadap Motivasi Konsumen untuk Melakukan Keputusan Pembelian Produk Organik di TasikmalayaTujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh pemasaran hijau, perilaku konsumen hijau terhadap motivasi konsumen untuk melakukan keputusan pembelian produk organik. Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen yang membeli produk organik di Tasikmalaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling untuk memilih 120 responden dan analisis data penelitian yang digunakan adalah regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemasaran hijau berpengaruh positif terhadap motivasi konsumen, perilaku konsumen hijau berpengaruh positif terhadap motivasi konsumen, motivasi konsumen berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap keputusan pembelian, pemasaran hijau berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian, dan perilaku konsumen hijau memiliki positif pengaruh terhadap keputusan pembelian.
Implikasi dari penelitian ini adalah kedua promosi dan penyebaran informasi tentang produk organik dapat ditingkatkan; pemasar dapat melakukan kegiatan pemasaran yang melibatkan lingkup persahabatan, komunitas, dan aktivitas lingkungan untuk menyebarkan pesan-pesan positif tentang keunggulan produk organik, dan pemasar dapat menambahkan berbagai produk organik di pasar, sehingga memberikan pilihan yang lebih besar dan area distribusi yang luas untuk konsumen.
The purpose of this study is to analyze the influence of green marketing, green consumer behavior toward consumer motivation to perform purchasing decision of organic product. The population in this study are consumer who buy organic product in Tasikmalaya. The method used in this research is purposive sampling to choose 120 respondents and analysis of research data used is multiple linear regression. The results show that green marketing has positive influence on consumer motivation, green consumer behavior has positive influence on consumer motivation, consumer motivation has positive influence but not significant on purchasing decision, green marketing has positive influence on purchasing decision, and green consumer behavior has positive influence on purchasing decision.
The implication of this study is both promotion and dissemination of information about organic products can be improved; marketers can conduct marketing activities involving the scope of friendship, community, and environmentalists activity to spread positive messages about the advantages of organic products;and marketers can add a variety of organic products in the market, thus providing greater choice and a wide distribution area for consumers.
848311278F1F008048AN ANALYSIS OF NOUN ADDRESS TERMS USED BY FOUR MAIN
CHARACTERS IN PIRATES OF CARIBBEAN: THE CURSE OF THE BLACK
PEARL MOVIE
Judul penelitian ini adalah “Analisis Penggunaan Istilah Sapaan dalam Film
Pirates of the Caribbean: The Curse of the Black Pearl”. Penelitian ini bertujuan
untuk menemukan tipe- tipe istilah sapaan, menggambarkan proses realisasi, dan
mengetahui proses perubahan istilah sapaan di film Pirates of the Caribbean: The
Curse of the Black Pearl. Peneliti menerapkan metode penelitian deskriptif kualitat if .
Sampel data dalam penelitian berasal dari dialog yang diucapkan oleh 4 karakter
utama pada film ini. Untuk teori, peneliti menggunakan teori- teori dari Braun (1998)
dan Eggins (2004). Kedua teori tersebut membahas istilah sapaan dan analisis tenor
pada ilmu wacana.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tujuh tipe istilah sapaan dalam
film ini. Tipe- tipe tersebut adalah panggilan nama, panggilan kekerabatan, gelar
khusus, panggilan yang berkaitan dengan profesi, panggilan untuk menunjukkan
suatu hubungan, panggilan sayang dan teknonyme. Dari ketujuh tipe, gelar khusus
paling banyak digunakan oleh keempat pemeran utama, sementara yang paling
sedikit adalah panggilan untuk menunjukkan suatu hubungan dan teknonyme.
Realisasi dari setiap tipe memiliki pola (dimensi tenor) yang berbeda karena pola
tersebut mengacu pada konteks situasi pada saat itu. Konteks yang berbeda
menyebabkan terjadinya perubahan penggunaan istilah sapaan. Peneliti menemukan
13 proses perubahanan istilah sapaan. Faktor- faktor yang menyebabkan terjadinya
perubahan penggunaan istilah sapaan adalah dominasi dari salah satu tipikal dimensi
(tenor) yang dipengaruhi oleh situasi film dan sifat/ karakteristik dari pembicara.
The title of this research is “An Analysis of Noun Address Terms Usage in
Pirates of the Caribbean: the Curse of the Black Pearl movie”. This research is
aimed at finding out the types, describing the realization and knowing the process of
noun address ter m changes in Pirates of the Caribbean: the Curse of the Black Pearl
movie. The researcher applies the qualitative research methodology. The sample of
data comes from the dialogues which are uttered by the four main characters in this
movie. For the theories, the researcher uses the theories from Braun (1998) and
Eggins (2004). Both theories discuss over noun address term and tenor analysis in
discourse study.
The result of research shows that there are seven types of noun address terms
in this movie. The ty pes are name term, kinship term, particular title, occupational
term, terms of endearment and teknonyme. From the seven types, Particular title is
mostly used by the four main characters, while the least is words for certain types of
relationship and tekno nyme. The realization of each type has divergent patterns in
tenor dimensions because the patterns of tenor dimensions refer to the context of the
situation at the time. The divergent contexts cause the change of noun address terms
usage. The researcher has found thirteen processes of noun address terms change. The
factors led to the change of noun address terms usage are the domination of one
typical of tenor dimension that is influenced by the context of the movie, and the
characteristics of the speaker.
84848965H1K009018KERENTANAN WILAYAH PESISIR BERDASARKAN KOMPOSISI SEDIMEN DI PERAIRAN SEMARANGSkripsi ini berjudul “Kerentanan Wilayah Pesisir Berdasarkan Komposisi Sedimen Di Perairan Semarang”. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kerentanan wilayah Pesisir Semarang terhadap permasalahan lingkungan dari kondisi fisik (dengan sudut pandang faktor alam dan aktivitas manusia), serta menginterpretasikan tingkat kerentanan sedimentasi di wilayah Pesisir Semarang berdasarkan komposisi dan mineral sedimennya. Pengambilan sampel dilakukan di Perairan Semarang dan dianalisis di Laboratorium Geologi Laut P2O-LIPI, Jakarta selama bulan November-Desember 2013. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei, dan pengambilan sampel sedimen menggunakan metode purposive sampling. Analisis sampel sedimen dari 3 stasiun mengacu skala Wentworth dan Diagram Ternary untuk mengetahui tipe dan ukuran butir sedimen. Komposisi sedimen secara visual dan analisis X-Ray Diffraction digunakan untuk mengidentifikasi jenis mineral dan non mineral. Hasil penelitian menunjukkan Aktivitas manusia dalam penggunaan dan konversi lahan berkontribusi terhadap kerentanan wilayah Pesisir Semarang terutama faktor sedimentasi. Interpretasi tingkat kerentanan sedimentasi di wilayah Pesisir Semarang, yaitu: tingkat kerentanan rendah sampai dengan sedang berlokasi di transisi Banjir Kanal Barat; tingkat kerentanan sedang sampai dengan tinggi berlokasi di transisi Banjir Kanal Timur; tingkat kerentanan tinggi berada di Perairan Utara Semarang. Adapun tingkat kerentanan sedimentasi tersebut berdasarkan jenis ukuran butir, komposisi sedimen, dan penggunaan lahan.This research entitled "The Vulnerability of the Coastal Area Based on the Sediment Bed Composition In Semarang Waters". The aims of this research were to identify the vulnerability of Semarang coastal area against to the environmental problems based on physical condition view (natural factors and human activities), and to interpretate the vulnerability level of sedimentation in Semarang coastal area based on the sediment composition and mineral. Sample of sediment were taken in the Semarang Waters and were analyzed in the Marine Geology P2O-LIPI Jakarta laboratory during November-December 2013. Survey method was used in this research and sediment sampling were using purposive sampling method. The analysis of sediment which collected from 3 different stations were done using Wentworth Scale and Ternary Diagram, in order to investigate sediment type and grain size. Visual sediment composition and X-Ray Diffraction analysis were used to identify the type of sediment mineral and non-mineral. The results showed that the human activities such as the land used and land conversion contributed to Semarang coastal area vulnerability, mainly on sedimentation factors. Interpretation of Semarang coastal area vulnerability levels showed that: low to moderate vulnerability level was found in Banjir Kanal Barat transition; moderate to high vulnerability level was found in Banjir Kanal Timur transition; and the high vulnerability level was found in the northern Semarang Waters. The vulnerability levels based on the type of sediment grain size, composition, and land use.
84858961H1E010033IDENTIFIKASI STRUKTUR PATAHAN SEKITAR WADUK PENJALIN BERDASARKAN ANALISA DERIVATIVE DATA SEKUNDER MEDAN GAYA BERATIdentifikasi struktur patahan telah dilakukan di sekitar waduk Penjalin Brebes. Identifikasi struktur patahan daerah sekitar waduk Penjalin penting untuk diketahui, karena dengan mengetahui struktur patahan dapat meminimalisir dampak bencana dari aktivitas geologi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur patahan di sekitar waduk penjalin berdasarkan data anomali medan gaya berat.
Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder medan gaya berat yang diperoleh dari Scripps Institution of Oceanography, University of California San Diego. Pengolahan data dimulai dengan melakukan koreksi bouger dan koreksi medan untuk memperoleh anomali bouger lengkap. Analisa spektrum dilakukan untuk memperkirakan kedalaman sumber anomali residual, kemudian untuk memisahkan anomali regional dan residual dengan metode moving average. Analisa Horizontal Gradient (HG) dan analisa second verticl derivative (SVD) dilakukan untuk menentukan posisi patahan, analisa SVD juga dilakukan untuk mengetahui karakteristk patahan. Pemodelan bawah permukaan dilakukan menggunakan metode Talwani 2½D dalam progam grav2DC.
Analisa HG dan SVD memperlihatkan terdapat patahan naik (thrust fault) sepanjang 7,5 Km dari koordinat 278297 mT dan 9184787 mS sampai kordinat 284354 mT dan 9189242 mS. Hasil pemodelan menunjukan patahan terletak pada kontak formasi Halang dengan formasi Rambatan. Formasi Halang memiliki densitas 2,37 g/cm3 dengan batuan penyusunnya adalah: batu pasir, tufan, dan napal. Formasi Rambatan memiliki densitas yang bervariasi yaitu: 2,91 g/cm3, 2,67 g/cm3, dan 2,57 g/cm3. Formasi Rambatan terdiri atas serpih, batu pasir gampingan, dan napal. Nilai sudut kemiringan patahan bervariasi antara 26-40, nilai sudut terendah terletak di bagian tengah patahan. Lokasi keberadaan patahan berada pada lembah antiklin formasi Rambatan. Formasi Rambatan muncul kepermukaan terjadi akibat adanya tekanan dengan arah horizontal yang mendorongnya sampai terbentuk lipatan dan bergeser pada bidang patahannya.
Identification of fault structure was conducted in Waduk Penjalin, Brebes. Identification of the structural faults area was important to known, because by knowing the structure of the fault can minimize the impact of disasters geological activity. The aim of the research determined the structure of fault in waduk penjalin based on the gravity field anomalies.
The data that used in this research was a secondary data obtained from Scripps Institution of Oceanography, University of California San Diego. Data processing begins with bouger and terrain correction to obtain a complete bouger anomalies. Spectral analysis method was used to estimate the depth of residual anomaly sources, and moving average method was used to separate regional and residual anomaly. The analysis of HG and SVD were performed to determine the position of fault. SVD was also performed to determine the fault characteristics. Subsurface modeling was performed using 2 ½ D Talwani method in grav2DC program.
HG and SVD analysis show that a thrust fault along 7.5 km of the coordinates 278297 mE and 9184787 mS to the coordinates 284354 mE and 9189242 mS. Modeling shows the fault lies in contact Rambatan formation with Halang formation. Halang formation has a density of 2.37 g/cm3. The constituent rocks are: sandstone, tuffaceous, and marl. Rambatan Formation has density which varies as follows: 2.91 g/cm3, 2.67 g/cm3, and 2.65 g/cm3. Rambatan formation consists of shale, calcareous sandstone, and marl. Dip value of faults varies between 26-40. The lowest dip was located in the middle of the fault. The fault was located in the valley anticline formation Rambatan. The evident of Rambatan formations in the surface was caused by pressure that pushed the horizontal direction until it becomes folds and shifts in the field of fault.
848610566D1E009149PENGGUNAAN MINYAK IKAN LEMURU SEBAGAI SUMBER OMEGA-3 DALAM RANSUM AYAM KAMPUNG TERHADAP DAYA IKAT AIR DAN KEEMPUKAN DAGING AYAM KAMPUNGPenelitan bertujuan untuk mengetahui penggunaan minyak ikan lemuru sebagai sumber omega-3 dalam ransum terhadap daya ikat air (DIA) dan keempukan daging ayam kampung. Materi yang digunakan adalah ayam kampung betina berumur 9 minggu sebanyak 48 ekor. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode eksperimental in vivo dan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan lima perlakuan dan empat ulangan dan setiap ulangan terdiri dari 4 ekor ayam kampung. Perlakuan yang diuji adalah penggunaan ransum yang mengandung minyak ikan lemuru dengan R0 (tanpa minyak ikan lemuru), R1 (pemberian minyak ikan lemuru 1,5%), R2 ( pemberian minyak ikan lemuru 3,0%), R3 (pemberian minyak ikan lemuru 4,5%). Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa pemberian minyak ikan lemuru pada ransum ayam kampung berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap daya ikat air (DIA) dan keempukan daging ayam kampung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan daya ikat air (DIA) 22,598 – 25,632% pada bagian dada dan 20,100 – 26,934% pada bagian paha dan untuk rataan keempukan 0,2552 – 0,2832 mm/gr/dt pada bagian dada dan 0,2832 – 0,2808 mm/g/dt pada bagian paha. Kesimpulan dari penelitian menunjukkan bahwa daya ikat air (DIA) dan keempukan daging ayam kampung relatif sama dengan penambahan minyak ikan lemuru sampai level pemberian 4,5% pada ransum ayam kampung.

Kata kunci : minyak ikan lemuru, omega-3, daya ikat air (DIA), keempukan daging, ayam kampung.
ABSTRACT
This research aims to determine the effect of the use of menhaden oil as a source omega-3 that contained in the ration of chicken feed against water holding capacity (WHC) and the tenderness of chicken meat. The materian used is 9-week- old female chicken totally 48 chicken. Research conducted by using experimental methods in vivo and using completely randomized design (CRD) with five treatments and four replications and each replication consisted of 4 chicken. The treatment being tested is the use of feed that containing menhaden oil with R0 (without menhaden oil), R1 (menhaden oil 1.5%), R2 (menhaden oil 3.0%), R3 (menhaden oil 4.5%). The results of analysis of variance showed that the giving of menhaden oil in the chicken feed is not significant (P> 0.05) to the water holding capacity (WHC) and the tenderness of chicken meat. The results showed that the average water holding capacity (WHC) 22,598 – 25,632% on the chest, 20,100 – 26,934% on the thigh and for tenderness averaging 0,2552 – 0,2832 mm/gr/dt on the chest, from 0,2832 – 0,2808 mm/g/dt in the thighs. The conclusion of the research showed that the water holding capacity (WHC) and the tenderness of chicken meat is relatively the same with the addition of menhaden oil up to 4.5% in chicken feed.

Keywords : menhaden oil, omega-3, water holding capacity (WHC), chicken meat tenderness.
84878962A1C010051ANALISIS KAPABILITAS PETANI DAN PENGARUHNYA TERHADAP PRODUK DAN PENDAPATAN USAHATANI BAWANG DAUN
DI DESA BATURSARI KECAMATAN PULOSARI
KABUPATEN PEMALANG
Desa Batursari merupakan salah satu sentra produksi bawang daun di Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang. Desa ini terletak pada ketinggian 1600 m dpl dan suhu harian mencapai 200C. Tujuan penelitian ini adalah : (1) menganalisis tingkat kapabilitas petani bawang daun, (2) menganalisis pendapatan usahatani bawang daun, (3) menganalisis perbedaan pencapaian produk serta pendapatan usahatani bawang daun pada berbagai tingkat kapabilitas dan pengaruh tingkat kapabilitas terhadap besarnya produk dan pendapatan usahatani bawang daun. Metode penelitian menggunakan studi kasus dengan rancangan pengambilan sampel yaitu simple random sampling, kepada 48 petani responden. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan studi pustaka. Metode analisis data menggunakan uji validitas dan reliabilitas kuesioner, likert’s summated rating, analisis pendapatan, dan analysis of variance (Anova).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Tingkat kapabilitas petani bawang daun Desa Batursari berada pada kategori rendah. (2) Rata-rata pendapatan usahatani bawang daun pada kapabilitas tinggi, cukup, rendah dan sangat rendah sebesar Rp7.935.146,00, Rp4.445.684,00, Rp3.032.444,00, dan Rp1.685.062,00. (3) Terdapat perbedaan pencapaian produk pada berbagai tingkat kapabilitas dan dapat diprediksikan bahwa kapabilitas berpengaruh terhadap besarnya produk usahatani. Terdapat perbedaan pendapatan pada berbagai tingkat kapabilitas dan dapat diprediksikan bahwa tingkat kapabilitas petani berpengaruh terhadap pendapatan usahatani bawang daun.
Batursari Village is one of bunching onion production center in Pulosari District Pemalang Regency. The village is located at height 1600 mdpl and daily temperature reach 20oC. The research was aimed to: (1) analyze the level of bunching onion farmer’s capability, (2) analyze the income of bunching onion farming, (3) analyze the difference of obtain product and income of bunching onion farming on various capability level and the influences of capability toward product and income of bunching onion. The methodology in this research is case study method with sampling simple random simple to 48 respondent farmers. The technique of collecting data through observation, interview, dan literature. Data were analyzed using validity and reliability test of questionnaire, likert’s summated rating, income analysis and analysis of variance (Anova).
Research results showed that (1) Capability level of farmer bunching onion on Batursari village in low category. (2) The average income of bunching onion farming in high, sufficient, low and very low is Rp7.935.146,00, Rp4.445.684,00, Rp3.032.444,00, and Rp1.685.062,00. (3) There are differences obtain product on various capability level and could be predicted that farmer’s capability is influenced to farm product. There are differences income on various capability and could be predicted that farmer’s capability is influence to income of bunching onion.
84888963E1A009186PERAN PERS SEBAGAI LEMBAGA EKONOMI BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 1999Pers merupakan salah satu komunikasi massa yang dapat menghubungkan tidak hanya sebatas antar rakyat saja tetapi juga antara rakyat dengan pemerintah. Pers saat ini memiliki fungsi yang semakin luas, tidak hanya sebagai media komunikasi; informasi; pendidikan dan kontrol sosial, pers juga berfungsi sebagai lembaga ekonomi. Lembaga ekonomi sendiri dijelaskan sebagai bagaimana pers harus mampu mengusahakan kekuatan keuangannya melalui prinsip ekonomi saja tetapi pers juga harus meningkatkan kualitas sajiannya, menjami kesejahteraan wartawan dan karyawannya, pers juga tidak boleh meninggalkan tanggung jawabnya sebagai pers yang sesungguhnya yaitu menyebarkan berita.
Iklan dalam hal ini bisa dikatakan sebagai lembaga ekonomi di dalam tubuh pers. Iklan dinilai mempunyai peran penting dan memberikan efek yang cukup besar terhadap sehat dan tidaknya, hidup dan matinya pers itu sendiri. Karena biaya yang dikenakan oleh perusahaan pers terhadap pemasangan iklan lebih besar dibandingkan dengan keuntungan yang diterima dari hasil penjualan produk persnya.
Dengan kehadiran iklan pers dapat menjalankan kegiatan usahanya sesuai dengan prinsip ekonomi, yaitu memberikan pengorbanan tertentu untuk memperoleh hasil maksimal. Hasil maksimal yang dimaksud ialah keuntungan besar yang dapat menutupi kerugian akibat tidak lakunya produk pers seluruhnya, keuntungan tersebut juga dapat dijadikan sebagai modal untuk meningkatkan kualitas fisik pers juga memberikan tunjangan-tunjangan lain di luar gaji pokok untuk wartawan dan karyawannya.
Satelit Pos sebagai salah satu produk pers yang terbit di Karesidenan Banyumas, Pemalang, Kebumen dan Bumiayu, menjalankan usaha persnya sesuai dengan fungsi dan peran pers yang berlaku di Indonesia. Walaupun tergolong pendatang baru sebagai produk pers, Satelit Pos berusaha memberikan yang terbaik dari segi kualitas bagi pembaca dan kesejahteraan bagi wartawan dan karyawannya tanpa meninggalkan kewajiban sosialnya. Satelit pos tetap juga mencoba mencari keuntungan dan pemasukan biaya dari iklan yang dimuat setiap edisinya agar kegiatan usahanya tetap berjalan.
Press is one of the mass communication that can connect not only between the peoples but also people and government. Nowdays press has wider function, not only as communication media; information; education and social control, press also has a function as economic institution. Economic institutions themselves described as how the press should be able to seek financial strength through economic principles, but should also improve the quality course press, ensure the welfare of journalists and employees, the press also should not leave that responsibilities as the real news maker which is to spread the news.
Ads in this case can be regarded as an economic institution in the body of the press. Advertising assessed as having an important role and provide substantial effect on health and sick, life and death of the press itself. Because of the fees charged by the company to the press ads is greater than the profit received from the sale of the press product itself.
With the presence of ads, the press can run its operations in accordance with economic principles, namely to provide certain sacrifices to obtain maximum results. Maximum results are meant huge profits that can cover losses due not entirely the press products are sold, profits can also be used as capital to improve the physical quality of the press also provide other benefits beyond basic salary for journalists and employees.
Satelit Pos as one of the news product, published in the residency of Banyumas, Pemalang, Kebumen and Bumiayu, running the business of press in accordance with the function and role of the press in force in Indonesia. Although classified as newcomer as a press product, Satelit Pos trying to provide the best in terms of quality for the reader and for the welfare of journalists and employees without leaving their social obligations. Satelit pos are also trying to keep heading for profit and revenue costs from ads are loaded each edition to keep its operations running.
84898964F1F007136OPPRESSION TOWARD WOMEN IN VICTORIAN ERA AS REFLECTED IN GEORGE ELIOT’S THE MILLS ON THE FLOSSPenelitian ini berjudul " Oppression toward Women in Victorian Era as Reflected in George Eliot’s The Mills On The Floss", yang menganalisis tentang penindasan yang dihadapi oleh perempuan di jaman Victoria, terutama yang dialami oleh Maggie. Penelitian ini mengkaji tentang sistem patriarki di Inggris jaman Victoria yang menyebabkan penindasan terhadap perempuan dalam kehidupan sosial seperti tercermin dalam George Eliot The Mills On The Floss. Pendekatan radikal feminisme diterapkan dalam menganalisa penindasan terhadap perempuan sebagai pengaruh sistem patriarki jaman Victoria.
Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang menggambarkan fenomena perempuan penindasan di Era Victoria karena pengaruh dari sistem patriarki Inggris, terutama yang dialami oleh Maggie Tulliver sebagai character utama. Data primer diambil dari novel George Eliot The Mills On The Floss, sedangkan data sekunder diambil dari sumber daya eksternal berkaitan dengan teori radikal feminisme dan wanita Inggris di jaman Victoria.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa wanita penindasan di jaman Victoria yang dialami oleh Maggie Tulliver dibagi menjadi dua bagian, penindasan dalam pendidikan dan penindasan dalam kehidupan sosial. Pertama, Maggie Tulliver tertindas dalam pendidikan dia untuk yang tidak dijinkan untuk mendapatkan pendidikan tambahan, terutama oleh ayahnya dan Tom. Sistem sosial patriarki di jaman Victoria menyebabkan laki-laki untuk mendapatkan lebih banyak kesempatan dalam pendidikan daripada perempuan. Meskipun Tom kurang rajin dari Maggie tampaknya, Mr Tulliver memutuskan untuk membayar Tom memiliki pendidikan tambahan daripada memiliki dia mengambil alih pabrik. Kedua, Maggie Tulliver juga tertindas oleh Tom dan ayahnya berhubungan dengan kehidupan sosialnya. Keputusan hidup Maggie selalu dikendalikan oleh Tom dan ayahnya.
This research is entitled “Oppression toward Women in Victorian Era as Reflected in George Eliot’s The Mills On The Floss”, which analyzes the oppression suffered by Maggie. This research studies about the patriarchy system in Victorian England that caused the oppression toward women. The radical feminist approach is applied in analyzing the oppression toward women as the influence of patriarchy system. The method of this research is descriptive qualitative that describes the phenomenon of women oppression in Victorian Era because of the influence of England patriarchy system. The result of this research shows that women oppression in Victorian era experience by Maggie Tulliver is divided into two parts. First, Maggie Tulliver is oppressed in her education for being disallowed to get additional education, especially by her father and Tom. Patriarchal social system causes men get more opportunity in education rather than women. Although Tom was not diligent like Maggie, Mr. Tulliver decides to provide additional education to Tom than have him take over the factory. Second, Maggie Tulliver is also oppressed by Tom and her father related to her social life. The decisions of Maggie's life is always controlled by Tom and her father.
849010567A1L010219APLIKASI BIO P60 DALAM MENGENDALIKAN JAMUR AKAR PUTIH (Rigidoporus lignosus, Klotzsch) PADA TANAMAN KARET
Applications Bio P60 in Controlling White Root Fungi (Rigidoporus lignosus, Klotzsch) on Hevea brasiliensis
Penelitian ini bertujuan mengkaji peranan Bio P60 dalam menekan penyakit akar putih (Rigidoporus lignosus), dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman karet. Penelitian dilaksanakan di lahan kebun karet Afdeling Krumput, Banyumas milik PTP Nusantara IX (Persero) pada ketinggian 175-250 m di atas permukaan laut, dan Laboratorium Perlindungan Tanaman, Fakultas Pertanian, Unsoed, pada bulan Juni sampai September 2014. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan 12 kombinasi perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang dicoba meliputi Bio P60 dengan dosis yaitu, kontrol; pemberian Bio P60 dengan dosis 50, 100, dan 150 mL, dengan waktu aplikasi yakni, 1, 2, dan 3 kali. Peubah yang diamati meliputi diameter koloni R. lignosus, bobot miselium R. lignosus, lingkar batang tanaman, dan intensitas serangan. Hasil penelitian di laboratorium menunjukkan, Bio P60 dapat menekan perkembangan diameter koloni R. lignosus sebesar 38,68% dan bobot miselium 40,24%, sedangkan uji lapang menunjukkan bahwa aplikasi Bio P60 belum mampu menekan perkembangan penyakit jamur akar putih dan meningkatkan pertumbuhan tanaman. This research aimed at examining the role of Bio P60 in suppressing the white root disease, and the effect of the application suppres on the growth of rubber plant. This research was conducted the rubber plantation of Afdeling Krumput, Banyumas PTP Nusantara IX (Persero) at an altitude of 175-250 m above sea level, and the Laboratory of Plant Protection, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, from June until September 2014. Randomized block design was used in the field test an in in vivo test with 12 treatments combinations and 3 replicates. In the in invitro test, the treatment tested was only P. Fluorescens P60. The treatments tested included Bio P60 liqiud formulation at dose of 0, 50, 100, and 150 ml plant-1 withe the application time of, 1, 2 and 3 times. The observed parameters were colony diameter and mycelia dry weight of R. Lignosus, growth of the plants, and the disease intensity. Results of research in laboratory showed that Bio P60 could suppress the pathogen colony diameter of 38.68% and mycelia dry weight of R. lignosus as 40.24%. In the field test, application of Bio P60 was not that increase the plant growth and tended to reduce the disease.
849110568F1F009010HIP-HOP AS BLACK TEENAGER’S LIFESAVER FROM GANG LIFE AND VIOLENCE IN AMERICAPenelitian ini berjudul Hip-Hop as Black Teenagers’ Lifesaver from Gang Life and Violence in America (Hip- Hop Sebagai Penyelamat Remaja Amerika Kulit Hitam dari Kehidupan Gangster dan Kekerasan di Amerika). Alasan dipilihnya judul ini adalah karena adanya asumsi bahwa remaja kulit hitam tidak dapat dipisahkan kaitannya dengan kehidupan gangster. Penelitian ini dilakukan untuk menjelaskan tentang langkah- langkah Hip-Hop menjadi penyelamat bagi remaja Amerika kulit hitam dari bahaya kehidupan gangster di Amerika.
Untuk mendapatkan jawabannya, metode kualitatif digunakan dalam penelitian. Selain itu penelitian ini difokuskan pada penggunaan salah satu elemen dari circuit of culture yang merupakan bagian dari cultural studies, yakni consumption. Teori consumption yang digunakan untuk menganalisa penelitian adalah tentang cara aktif dan kreatif seseorang untuk memahami identitas mereka.
Terdapat tiga bentuk dari consumption yang ditemukan dalam analisis. Pertama adalah dengan menciptakan panutan, supaya remaja kulit hitam dapat mengumpulkan nilai-nilai yang dibutuhkan dengan menyaringnya dari sosok panutan terpilih. Kemudian dengan membangun komunitas, di sini remaja kulit hitam membangun keberanian mereka untuk mencurahkan kreatifitas mereka. Terakhir adalah dengan memotivasi remaja kulit hitam melalui lirik musik; karena banyak pesan- pesan yang kuat dalam lirik music, remaja kulit hitam dapat membangkitkan semangat mereka dengan memahami pesan- pesan dari lirik music.
This research is entitled Hip-Hop as Black Teenagers’ Lifesaver from Gang Life and Violence in America. The reason why the title is choosen is due to the assumption that black teenagers cannot be separated from gangsters’ life. This research was conducted to explain the process of Hip-Hop become the lifesaver for black American teenagers from the danger of gang life in America.
In order to find out the answer, the qualitative method is used. Moreover the research mainly focused on the use of a part of circuit of culture of cultural studies theory, which is consumption. The theory of consumption which used to analyze the research is about a creative and active way on a person to understand their own identity.
There are three forms of consumption which are found in analysis. The first is by creating role model, so black teenagers can gather the needed values by filtering it from the figure of the chosen model. Next is by building a community, here black teenagers build their courage to express their creativity. The last is by motivating black teenagers through music lyrics; since there are many powerful messages within music lyrics, black teenagers can evoke their passion by understanding the messages of music lyrics.
84928966A1G011019STUDI KOMPARATIF USAHATANI CABAI MERAH (Capsicum Annuum L.) PROGRAM BNI 46 DAN NON PROGRAM DI DESA KUTABAWA KECAMATAN KARANGREJA KABUPATEN PURBALINGGACabai merah merupakan salah satu komoditas hortikultura yang kebutuhannya semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan erekonomian nasional. Akan tetapi, bila dilihat dari aspek usahataninya, maka usahatani cabai merah ini masih mengalami kendala baik yang bersifat internal maupun eksternal. Salah satu masalah internal yang paling dominan adalah ermodalan, sedangkan masalah eksternal yang paling utama adalah fluktuasi harga. Cara mengatasi permasalahan tersebut salah satunya adalah dengan mengikuti program. Petani di Desa Kutabawa ada yang mengikuti program BNI 46 dan ada yang tidak mengikuti program. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui pendapatan dan perbedaan antara usahatani cabai merah program BNI 46 dan non program di Desa Kutabawa Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga. (2) Mengetahui efisiensi antara usahatani cabai merah program BNI 46 dan non program di Desa Kutabawa Kecamatan Karangreja Kabupaten urbalingga. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kutabawa Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga pada tanggal 20 November sampai 20 Febuari 2014. Metode Penelitian yang digunakan adalah survei dan penentuan responden dilakukan dengan sensus. Sampel penelitian ini adalah petani cabai merah arietas Fantastik yang mengikuti program BNI 46 dan non program. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis biaya, penerimaan, dan
pendapatan, efisiensi usahatani (R/C Ratio), dan uji beda (uji t). Hasil penelitian
menunjukan bahwa usahatani cabai merah non program di Desa Kutabawa lebih
menguntungkan dari usahatani cabai merah program BNI 46. Berdasarkan hasil
perhitungan dapat diketahui bahwa biaya produksi rata-rata per hektar yang dikeluarkan oleh petani cabai merah program BNI 46 sebesar Rp63.087.765,00
dan petani cabai merah non program sebesar Rp65.342.821,00. Harga jual cabai
merah petani peserta program BNI 46 sebesar Rp12.333,00 per kilogram dan non
program sebesar Rp14.333,00 per kilogram. Berdasarkan hasil perhitungan dapat
diketahui bahwa penerimaan rata-rata per hektar yang diperoleh petani cabai merah program BNI 46 adalah sebesar Rp107.297.100,00 dan petani cabai merah
non program Rp114.664.000,00. Nilai R/C Ratio usahatani cabai merah petani program BNI 46 dan non program di Desa Kutabawa menunjukan > 1. Nilai R/C
Ratio usahatani cabai merah program BNI 46 sebesar 1,70 berarti setiap pengeluaran biaya sebesar Rp100.000,00 maka akan diperoleh nilai penjualan
sebesar Rp170.000,00 dan untuk non program sebesar 1,75 berarti setiap
pengeluaran biaya sebesar Rp100.000,00 maka akan diperoleh nilai penjualan
sebesar Rp175.000,00. Hasil uji t menggunakan program SPSS 16 dengan tingkat
kesalahan (α) = 0,05, menunjukkan thitung sebesar 0,043 dan ttabel (t0,025) sebesar 2,718, sehingga thitung lebih kecil dari ttabel berarti H0 diterima, artinya pada usahatani cabai merah program BNI 46 dan non program tidak terdapat perbedaan pendapatan.
Red chili was one of commodities horticulture so the need is increasing along with population growth and the national economy. But when, viewed from the aspect of usahataninya, then usahatani red chili is still had difficulty good that is both internally and externally. One of the problems is internal capital, the most dominant while the problem of external preëminently is of price fluctuation.
Overcoming the problem one of them is to follow the programme. Farmers in the
village of Kutabawa there who joined the program bni 46 and there are who do
not follow the programme. This research aimed at: (1) Knows the difference
between usahatani income red chili programme BNI 46 and non programme in
the Village of Kutabawa Karangreja Sub-district District Purbalingga. (2) Comparing efficiency red chili programme BNI 46 and non programme in the
Village of Kutabawa Karangreja Sub-district District Purbalingga. This research
was carried out in the Village of Kutabawa Sub-district of Purbalingga Karangreja on 20 November until 20 February 2014. Research used are a survey and the determination of the respondents conducted by the census. The sample of this research is the Fantastic varieties of red pepper farmers who participate in programme BNI 46 and non programme. Analysis of the method used is descriptive analysis, cost analysis, acceptance, and income, efficiency of farming
(R/C Ratio), and different test (t test). Results of a study showed that non-farm red
pepper in the Village programme is more profitable than farming Kutabawa red
chili programme BNI 46. Based on the calculations can be seen that the average
cost of production per ha in curred by farmers red chili programme BNI 46
Rp63.087.765,00 red chili and non-program farmers for Rp65.342.821,00. The
selling price of red peppers farmer programme participants of BNI 46 Rp12.333,00 per kilogram and non-programme at Rp14.333,00 per kilogram. Based on calculations it can be seen that the average revenues per ha obtained
red chili farmers BNI programme amounted Rp107.297.100,00 and red chili
farmers non Rp114.664.000,00 programme. The value of R/C Ratio of farming
red chili farmers programme BNI 46 and non programme in the village of
Kutabawa showed greater than 1. Value of the R/C Ratio which in dicates the
value of the R/C Ratio of red chili farming program BNI 46 of 1.70 means any
expenses of Rp100.000,00 it will obtain the value of sales of Rp170.000,00 and for
non-programme expenditures of 1.75 means any fee of Rp100,000,00 it will obtain
the value of sales of Rp175.000,00. Results test t using programme SPSS 16 with
error rate (α) = 0.05, indicating thitung of 0,043 and ttabel (t0,025) of 2,718, so that thitung is less than ttabel mean H0 is accepted, it means red chili farming programme on the BNI 46 and non course not there are differences income.
849310569C1L007015THE EFFECT OF CORPORATE GOVERNANCE ON EARNINGS MANAGEMENT
(Study On Banking Companies Listed In Indonesia Stock Exchange)
This research entitled The Effect Of Corporate Governance On Earnings Management (Study On Banking Companies Listed In Indonesia Stock Exchange. The aims of this research are to obtain empirical evidence about the influence of institutional ownership on earning management, the influence of board of commissioner on earning management, the influence of proportion of independent commissioner on earning management, the influence of size of public accountant office on earning management and the influence of company size on earning management.
The populations in this study are all banking companies listed in Indonesia Stock Exchange (IDX). Company data in this study were obtained by using purposive sampling method. Data Analysis Techniques used Multiple linear regression equation. The conclusions are :
1. The negative effect of institutional ownership on earnings management is not evident, which means that institutional ownership has no effect in reducing earnings management practices.
2. The board size has positive effect on earnings management is not evident, which means that the board size does not affect to earnings management.
3. The proportion of independent commissioners negatively affect earnings management is evident, which means that the proportion of independent commissioners effect in reducing management practices profit .
4. The size of the firm negatively affect earnings management is not evident, which means that the firm size has no effect on earnings management.
5. The negative effect of firm size on earnings management is evident, which means that the effect of firm size on earnings management.
Based on the limitations of this study, it is for further study presented several improvement suggestions, adding the observation period, the population, and the sample to obtain more concrete results on the application of corporate governance. For further research needs to add another variable that is not used in this research.
This research entitled The Effect Of Corporate Governance On Earnings Management (Study On Banking Companies Listed In Indonesia Stock Exchange. The aims of this research are to obtain empirical evidence about the influence of institutional ownership on earning management, the influence of board of commissioner on earning management, the influence of proportion of independent commissioner on earning management, the influence of size of public accountant office on earning management and the influence of company size on earning management.
The populations in this study are all banking companies listed in Indonesia Stock Exchange (IDX). Company data in this study were obtained by using purposive sampling method. Data Analysis Techniques used Multiple linear regression equation. The conclusions are :
1. The negative effect of institutional ownership on earnings management is not evident, which means that institutional ownership has no effect in reducing earnings management practices.
2. The board size has positive effect on earnings management is not evident, which means that the board size does not affect to earnings management.
3. The proportion of independent commissioners negatively affect earnings management is evident, which means that the proportion of independent commissioners effect in reducing management practices profit .
4. The size of the firm negatively affect earnings management is not evident, which means that the firm size has no effect on earnings management.
5. The negative effect of firm size on earnings management is evident, which means that the effect of firm size on earnings management.
Based on the limitations of this study, it is for further study presented several improvement suggestions, adding the observation period, the population, and the sample to obtain more concrete results on the application of corporate governance. For further research needs to add another variable that is not used in this research.
849410572A1L010025KEMEMPANAN EKSTRAK DAUN PEPAYA (Carica papaya L.) DALAM MENGENDALIKAN ULAT KROP KUBIS (Crocidolomia pavonana F.)Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemempanan ekstrak daun pepaya terhadap mortalitas, peletakkan telur, penetasan telur, penghambatan makan dan pertumbuhan Crocidolomia pavonana. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto dari bulan Maret sampai Oktober 2014. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap, 11 perlakuan dengan 3 kali ulangan. Perlakuan yang diuji terdiri atas kontrol dan 10 taraf konsentrasi ekstrak daun pepaya, yaitu 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90% dan 100%. Variabel yang diamati adalah mortalitas larva C. pavonana, jumlah telur yang diletakkan, jumlah telur yang menetas, penghambatan aktivitas makan, lama stadia larva, jumlah pupa yang terbentuk dan jumlah imago yang muncul. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji F taraf kesalahan 5% dan apabila berbeda nyata dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf ketelitian 95%. Nilai LC50 diperoleh dengan analisis probit.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai LC50 ekstrak daun pepaya pada C. pavonana adalah 39,70%, ekstrak daun pepaya efektif untuk mengendalikan C. pavonana pada konsentrasi 90% menimbulkan mortalitas sebesar 83,3% larva uji, mampu menekan peletakkan telur sebanyak 79,10% pada konsentrasi 50%, menekan penetasan telur sebanyak 81,94% pada konsentrasi 90%, dapat menekan aktivitas penghambatan makan 80,83% pada konsentrasi 60%. Ekstrak daun pepaya dapat menekan jumlah pupa yang terbentuk sebesar 90,00% pada konsentrasi 80% dan jumlah imago yang muncul hanya 30,00% pada konsentrasi 50%. Akan tetapi, ekstrak daun pepaya tidak berpengaruh nyata terhadap lama stadia larva.

This research aims were to know efficacy of extract of papaya leaves to the larval mortality, eggs laying, eggs hatching, antifeedant activities and the growth of Crocidolomia pavonana. This research was conducted at the Laboratory of Plants Protection Faculty of Agriculture of Jenderal Soedirman University Purwokerto from March to October 2014. The design used completely randomized with 11 treatments and 3 replications. The treatments were control and 10 different concentrations of extract of papaya leaves, there were 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90% and 100%. The observed variables were the mortality of Crocidolomia pavonana larvae, the amount of eggs laying, the amount of hatching eggs, the antifeedant activity,the length of larvae stadium, the number of its cocoon, and the number of imago. Data were analyzed by using ANOVA of variance with 95% degrees of reliability and continued by LSD on 95% degrees reliability. The LC50 value was counted by using probit test.
The results showed that LC50 value of extract of papaya leaves on C.pavonana was 39,70%. The extract was effective in controlling C.pavonana on 90% concentration level and caused 83,3% mortality of larvae test. It also suppressed the egg laying by 79,10% on 50% concentration and also suppreessed the egg hatching by 81,94% on 90% concentration. The antifeedant activity was 80,83% on 60% concentration. The cocoon were also suppressed by 90,00% on 80% concentration. The amount of the imago was only 30.00 % on 50% concentration. However, the extract it self did not affect the length of stadia of the larvae.
849511279D1E010196PENGARUH SUPLEMENTASI DAUN KATUK DALAM RANSUM TERHADAP PERTAMBAHAN BOBOT BADAN INDUK DAN MORTALITAS ANAK KELINCIPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan daun katuk terhadap pertambahan bobot badan induk dan mortalitas anak kelinci. Penelitian dilaksanakan pada bulan agustus sampai September 2014. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kelinci rex 18 ekor. Pakan basal tersusun dari rumput alam 11%, jagung giling 14%, dedak 16%, bungkil kelapa 27%, pollard 29%, molases 2,6%, dan mineral mix 0,4%. Metode penelitian yang digunakan yaitu eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 3 perlakuan dan ulangan 6 kali. Perlakuan yaitu R1 : pakan basal tanpa penambahan daun katuk, R2 : pakan basal dengan suplementasi daun katuk 5%, R3 : pakan basal dengan suplementasi daun katuk 10%. Data di analisis menggunakan analisis kovariansi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi tepung daun katuk tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap pertambahan bobot badan induk dan mortalitas anak kelinci. Rataan hasil pertambahan bobot badan induk dan mortalitas anak kelinci yaitu 1,722 - 2,414 gram dan 19,59 – 29,81 %. Kesimpulan dari penelitian ini adalah suplementasi daun katuk dalam ransum menghasilkan pertambahan bobot badan induk dan mortalitas anak kelinci yang relatif sama.The study, entitled the effect of supplementation with Sauropus androgynus L. Merr leaves in feed on growth of rabbit and kid mortality that was carried out from August to September 2014. The materials used in this study were 18 rex rabbits, basal feed of the Sauropus androgynus L. Merr leaves. The basal feed was composed of 11% natural grass, 14% corn flour, 16% bran, 27% coconut meal, 29% pollard, 2.6% molasses, and 0.4% mineral mix. The research methode was experimental, Completely Randomized Design (CRD) with 3 treatments, each treatment was repeated 6 times, so there was 18 experimental units. The treatments were R1: basal feed without the addition of Sauropus androgynus L. Merr leaves, R2: basal feed supplemented with 5% Sauropus androgynus L. Merr leaves, R3: basal feed supplemented with 10% Sauropus androgynus L. Merr leaves. The variables were analyzed using analysis of covariansi. The results of the study showed that the growths of rabbits were between 1.722 to 2.414 grams, with an average of 1.865 grams and the amount of kid mortality were from 19.59 to 29.81%, with an average of 23.92%. The results showed that Sauropus androgynus (L.) Merr leaves meal had no significant (P> 0.05) effect on the growth of rabbit and kid mortality. Feed consumption on average research 2744.71 grams, whereas feed consumption is crucial in increasing body weight. The conclusion of this study is katuk leaves supplementation in the diet resulted in relatively similar growth of rabbit and kid mortality.
849611280A1L011018Adaptabilitas 20 Galur Padi Gogo Terhadap Cekaman Kekeringan dan Ketersediaan Unsur HaraPenelitian ini bertujuan untuk : 1) Mengetahui adaptabilitas 20 galur padi gogo terhadap kondisi cekaman kekeringan, 2) Mengetahui adaptabilitas 20 galur padi gogo pada kondisi kekurangan unsur hara, 3) Mengetahui galur padi gogo yang toleran terhadap kondisi cekaman kekeringan dan efisien unsur hara. Penelitian dilakukan menggunakan kultur hara yoshida dengan box kayu di Rumah Plastik Fakultas Pertanian UNSOED pada Oktober sampai November 2014. Rancangan Percobaan yang digunakan adalah Rancangan Petak terbagi dengan 3 ulangan. Sebagai petak utama cekaman kekeringan dan ketersediaan unsur hara dengan 4 taraf : tanpa cekaman kekeringan dan hara optimal (K0H1), tanpa cekaman kekeringan dan hara kurang (K0H2), cekaman kekerigan dan hara optimum (K1H1) serta cekaman kekeringan dan hara kurang (K1H2). Sebagai anak petak galur padi gogo dengan taraf 20 galur dan 2 varietas padi (G). Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman, panjang akar, jumlah daun, bobot basah akar, bobot kering akar, bobot basah tajuk dan bobot kering tajuk. Data dianalisis menggunakan SAS 9.1 pada uji F, dilanjutkan dengan uji Duncan (ɑ = 5 %), pada petak utama dilakukan uji kontras ortogonal (ɑ = 5 %) untuk mengetahui perbedaan antara perlakuan cekaman kekeringan dan ketersediaan unsur hara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) Tinggi tanaman, bobot akar kering dan bobot tajuk kering padi gogo menurun, sedangkan panjang akar meningkat pada kondisi kekeringan, 2) bobot kering brangkasan total menurun sebagai upaya adaptasi tanaman terhadap kekurangan unsur hara, 3) galur padi gogo yang terpilih adalah G2 (SET-1-20), G4 (SET-2-19), G9 (SET-2-PM-11-7), G10 (SET-1-1-15), G11 (SET-2-SM-36-6), G14 (SET-Z-12-2).This research aims to : 1) know the adaptability of 20 lines of upland rice in drought stress conditions, 2) know the adaptability of 20 lines of upland rice in nutrients deficient conditions, 3) know the line of upland rice that tolerance of drought and efficient of nutrients. This research was carried out using yoshida culture solution with wooden box measuring 40 cm x 130 cm x 10 cm in Screen House at the Faculty of Agriculture, UNSOED. This research started in Oktober until November 2014. The desgin used was Split Plot Design with three replications. As Main plot is drought stress and availability of nutrients with four levels ie without drought stress and optimum nutrient (K0H1), without drought stress and nutrient deficiencies (K0H2), drought stress and optimum nutrient (K1H1) and drought stress and nutrient deficiencies (K1H2). As sub plot were lines of upland rice with 20 levels and 2 varieties of rice (G). The observed variables were plant height, root lenght, sum of leaves, roots wet weight, roots dry weight, canopy wet weight and canopy dry weight. Data were analyzed with SAS version 9.1 using F test and followed by Duncan test (ɑ = 5 %) and the main plot were analyed using orthogonal contrast test (ɑ = 5 %) to know the difference between drought stress and the availability of nutrient treatment. The result showed that : 1) plant height, root dry weight and canopy dry weight of upland rice decrease, and root height is increase in dry stress condition, 2) total dry weight decreased in nutrient deficiencies condition, 2) total dry weight decreased as the adaption of plants to nutrient deficiencies, 3) the lines of upland rice that tolerance of drought and efficient of nutrients are G2 (SET-1-20), G4 (SET-2-19), G9 (SET-2-PM-11-7), G10 (SET-1-1-15), G11 (SET-2-SM-36-6), G14 (SET-Z-12-2).
84978967E1A010147TINJAUAN YURIDIS SOSIOLOGIS PENGARUH PARTISIPASI POLITIK TERHADAP EFEKTIVITAS PENGGUNAAN HAK PILIH MASYARAKAT DALAM PEMILIHAN UMUM BUPATI DAN WAKIL BUPATI TAHUN 2013 DI KABUPATEN BANYUMASPemilihan umum Bupati dan Wakil Bupati Banyumas secara langsung telah dilaksanakan dua kali yaitu Tahun 2008 dan Tahun 2013. Pada Tahun 2008 jumlah pemilih tetap yang terdaftar sebanyak 1.245.896 orang. Jumlah pemilih yang hadir ke TPS dan menggunakan hak suaranya sebanyak 909.062 orang atau sekitar 72,96%, sedangkan jumlah pemilih yang tidak hadir ke TPS dan tidak menggunakan hak suaranya sebanyak 335.834 orang atau sekitar 27,04%. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi penurunan penggunaan hak pilih pada Pilkada adalah partisipasi politik. Oleh karena itu, penulis ingin mengadakan studi penelitian berkaitan dengan masalah tersebut pada beberapa kecamatan yang tingkat penggunaan hak pilihnya rendah di wilayah hukum Kabupaten Banyumas.
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas penggunaan hak pilih masyarakat dalam pemilihan Bupati dan Wakil Bupati tahun 2013 di Kabupaten Banyumas,dan untuk mengetahui pengaruh partisipasi politik terhadap efektivitas penggunaan hak pilih masyarakat dalam pemilihan Bupati dan Wakil Bupati tahun 2013 di Kabupaten Banyumas. Motede pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif memusatkan perhatian kepada gejala-gejala yang mempunyai karakteristik tertentu dalam kehidupan manusia yang dinamakan variabel. Pendekatan tersebut ditujukan untuk menunjukan hubungan antar variabel yang dianalisis dengan bantuan statistik atau angka-angka.
Dari hasil analisis secara kuantitatif dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Penggunaan hak pilih masyarakat dalam pemilihan Bupati dan Wakil Bupati tahun 2013 di Kabupaten Banyumas telah efektif artinya telah tercapai sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Indikator pendataan pemilih sebagai faktor penerap/pelaksana hukum serta indikator pengetahuan pemilih sebagai faktor pemegang peran cenderung mempengaruhi secara positif terhadap efektivitas penggunaan pemilih masyarakat dalam pemilihan umum. Semakin tinggi pengaruh partisipasi politik akan menentukan pada tingkat efektivitas penggunaan hak pilih masyarakat dalam pemilihan umum Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Banyumas. Meskipun kegiatan komunikasi politik dan kampanye pemilihan umum Bupati dan Wakil Bupati Banyumas telah menunjukkan tingkat yang tinggi, namun secara keseluruhan dalam kenyataannya belum dapat dilaksanakan secara maksimal.
The Regent and Vice Regent election in Banyumas directly have been implemented in twice, they are in 2008 and 2013. In 2008 the number of registered voters that have been registered are 1,245,896 people. The number of voters who present to the polls and use their rights are 909 062 people, or approximately 72.96%, and the number of voters who did not present to the polls and use their rights are 335 834 people, or approximately 27.04%. One of the factors that can affect the decline in the use of the right to vote in the regional elections they are as political participation. Therefore, the authors would like to conduct research studies related to the problem in some districts the low level of use of their voting rights in the jurisdiction in Banyumas
The aim of this study was to determine the effectiveness of the use of the public right to vote in the Regent and Vice Regent election in 2013 in Banyumas, and to determine the effect of political participation on the effectiveness of the use of the public right to vote the Regent and Vice Regent election in 2013 in Banyumas. Method approach that is used in this study is a quantitative approach. Quantitative approaches focus on the symptoms that have certain characteristics in human life, they are called variables. The approach is intended to show the relationship between variables were analyzed with the help of statistics or figures.
From the results of the quantitative analysis in this study it can be concluded that the use of the public right to vote in the Regent and Vice Regent election in 2013 in Banyumas have effective means to achieve the goals or objectives that have been set previously. Indicator data collection of voter as a factor of implementers/law enforcement as well as factor of role holder that they are tend to affect positively to the effectiveness of usage for voter in Regent and Vice Regenct Election in Banyumas. Although the activities of political communication and election campaigns of Regent and Vice Regent in Banyumas have demonstrated a high level, but in reality as a whole can not be fully implemented.
84988968C1A010045FAKTOR SOSIAL EKONOMI YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN
BERUSAHA TANI SALAK DI DESA DAWUHAN KECAMATAN MADUKARA
KABUPATEN BANJARNEGARA
Penelitian ini merupakan penelitian survei pada petani padi dan petani salak yang
berada di Desa Dawuhan Kecamatan Madukara Kabupaten Banjarnegara. Penelitian
ini mengambil judul: “Faktor Sosial Ekonomi Yang Mempengaruhi Keputusan
Petani Untuk Berusaha Tani Salak Di Desa Dawuhan Kecamatan Madukara
Kabupaten Banjarnegara”. Tujuan penelitian ini adalah untuk Mengetahui pengaruh
jumlah anggota keluarga, tingkat pendidikan, pengalaman bertani, perolehan kredit
dan usia petani terhadap keputusan bertani salak di Desa Dawuhan. Penelitian ini juga
bertujuan untuk mengetahui perbedaan pendapatan petani yang memperoleh kredit
usaha dari bank dan yang tidak memperoleh kredit kemudian penelitian ini meneliti
apakah pendapatan petani di Desa Dawuhan baik petani salak maupun padi sudah
memenuhi standar kebutuhan hidup layak atau belum. Jumlah responden yang
diambil dalam penelitian ini adalah 59 responden menggunakan teknik simple
sampling random method digunakan dalam penentuan responden.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data dengan menggunakan Biner Logit
menunjukkan bahwa: Faktor faktor yang mempengaruhi keputusan petani untuk berusaha
tani salak di Desa Dawuhan adalah variabel tingkat tingkat pendidikan, perolehan kredit
dan usia. Sedangkan untuk variabel anggota keluarga dan pengalaman bertani tidak
berpengaruh terhadap keputusan petani untuk bertani salak. Selanjutnya untuk
perbedaan pendapatan petani yang memeperoleh kredit usaha dari bank dan yang
tidak memperoleh kredit, hasil pengujian menunjukan bahwa tidak ada perbedaan
signifikan pendapatan antara petani yang memperoleh kredit dan petani yang tidak
memperoleh kredit kemudian di lihat dari hasil rata-rata pendapatan perbulan yang
diperoleh petani padi dan salak di Desa Dawuhan. Menunjukan bahwa rata-rata
pendapatan petani padi belum memenuhi standar kebutuhan hidup layak (KHL)
Kabupaten Banjarnegara sedangkan untuk petani salak rata-rata pendapatannya
sudah memenuhi standar kebutuhan hidup layak (KHL) Kabupaten Banjarnegara.
This study is a survey of rice farmers and salak farmers that are in Village
Dawuhan Districts Madukara Banjarnegara District . This study takes the title : "
Socio-Economic Factors Affecting Farmers Decision To Pursue In the Village
Dawuhan salak Farm " . The purpose of this study was to find out the influences of
family size , education level , farming experience , and age of acquisition credit to
the decisions of farmers to farm in the Village of salak Dawuhan . This study also
aimed to determine the differences in the income of farmers who obtain business
loans from banks and non- credit then this study examined whether the income of
farmers in the Village Dawuhan both salak farmers not rice has met the needs of
decent living standards or not . The number of respondents who were taken in this
study was 59 respondents using random sampling method Simple techniques used in
the determination of the respondent .
Based on the research and analysis of the data by using a binary logit shows
that : Factors influencing farmers' decision to try to farm in the Village of salak
Dawuhan is a variable level of education level , and age of acquisition credit . As for
the variables of family members and farming experience had no effect on the
decision of farmers to farm salak . Furthermore, differences in the income of farmers
to obtain a business loan from the bank and the non- credit , test results showed that
there was no significant difference between the income of farmers who obtained
credit and non credit farmers then in view of the results of the average monthly
income earned and rice farmers salak Village Dawuhan . Shows that the average
income of rice farmers have not met the needs of decent living standard ( KHL )
Banjarnegara District while salak farmers on average earnings has met the needs of
decent living standard ( KHL ) Banjarnegara District .
849911282C1C009049EVALUASI TARGET LABA MELALUI ANALISIS BIAYA PRODUKSI
STANDAR DALAM PENENTUAN HARGA JUAL RUMAH PADA
PERUMAHAN PURI KOTA DAMAI BANJARNEGARA
Penelitian ini memiliki beberapa tujuan. Pertama, bertujuan untuk
mengetahui perbedaan antara biaya produksi standar dengan biaya produksi
realisasi pembangunan rumah perumahan Puri Kota Damai Banjarnegara.
Kedua, mengetahui perbedaan antara harga jual standar dengan harga jual
realisasi perumahan Puri Kota Damai Banjarnegara. Ketiga, memberikan
bukti empiris mengenai pengaruh antara biaya produksi standar dan harga
jual standar terhadap target laba perusahaan.
Penelitian dilaksanakan pada perumahan Puri Kota Damai
Banjarnegara yang terletak di Kabupaten Banjarnegara. Data yang diperoleh
dianalisis dengan menggunakan uji t beda dua rata-rata dan analisis regresi
linear berganda.
Penelitian ini menemukan bahwa biaya produksi standar dan harga
jual standar berpengaruh signifikan terhadap target laba pada Perumahan
Puri Kota Damai Banjarnegara. Namun, penelitian ini tidak berhasil
membuktikan adanya perbedaaan yang signifikan antara biaya produksi
standar dan biaya produksi realisasi pada Perumahan Puri Kota Damai
Banjarnegara dan perbedaan yang signifikan antara harga jual standar dan
harga jual realisasi pada Perumahan Puri Kota Damai Banjarnegara.
This research were aimed. At first, knowing the difference between
standard of production cost and realization of production cost for build at Puri
Kota Damai Banjarnegara residence. Second, knowing difference standard of
selling price and realization of selling price at Puri Kota Damai Banjarnegara
residence. The last, giving of empiricial evidence to standard of production cost
and standard of selling price to profit target’s company.
The research was done at Puri Kota Damai Banjarnegara residence in
Banjarnegara. In analysing data, the researcher used Paired Sample T-Test and
multiple linear regression analysis.
The result of the research showed that standard of production cost and
standard of selling price was influenced significantly to profit target at Puri Kota
Damai Banjarnegara residence. However, this research did not find the difference
standard of production cost and realization of production cost significantly at
Puri Kota Damai Banjarnegara residence and the difference standard of selling
price and realization of selling price at Puri Kota Damai Banjarnegara residence.
85008969H1E010048INTERPRETASI STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN DENGAN METODE INDUCED POLARIZATION (IP) DI DAERAH JOKOTUO, KECAMATAN BAYAT, KABUPATEN KLATEN
Telah dilakukan penelitian Geofisika dengan metode Induced Polarization (IP) di daerah Jokotuo, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten-Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan struktur patahan dan mineralisasi logam daerah tersebut. Setelah dilakukan pengolahan data yang meliputi penghitungan resistivitas dan chargeabilitas serta pemodelan maka diperoleh penampang 2D nilai resistivitas dan chargeabilitas daerah penelitian. Pemodelan dilakukan menggunakan software Res2Dinv. Berdasarkan sebaran nilai resistivitas dan chargeabilitas pada penampang 2D menunjukan bahwa pada semua line terindikasi adanya keberadaan struktur patahan. Keberadaan struktur patahan ditandai dengan adanya nilai resistivitas rendah yang berada diantara nilai resistivitas tinggi. Batuan dengan nilai resistivitas rendah merupakan bidang patahan. Berdasarkan dip pada bidang patahan, daerah di sebelah Timur Laut bidang patahan adalah hanging wall dan di sebelah Barat Daya adalah foot wall. Posisi hanging wall yang lebih tinggi dari pada foot wall menunjukan bahwa patahan yang terjadi merupakan jenis sesar naik. Pada penampang yang diperoleh tidak teridentifikasi adanya keberadaan mineralisasi logam.Geophysical studies have been carried out with the Induced Polarization (IP) method in the area Jokotuo, District Bayat, Klaten-Central Java. This study aims to identify the presence of a fault structure and metal mineralization of the area. After processing data which include the calculation of resistivity, chargeability, and modeling, the obtained 2D cross-section of values of resistivity and chargeability study area. Modeling was performed using the software Res2Dinv. Based on the distribution of resistivity and chargeability values in the 2D cross-section shows that in all the line indicated the existence of a fault structure. The existence of the fault structure characterized by low resistivity values that are among the high resistivity values. Rocks with low resistivity values is the fault plane. Based dip on the fault plane, the area north-east of the fault plane is the hanging wall and in the southwest is foot wall. The position of the hanging wall higher than the footwall indicates that the fault that occurred is a type of reverse faulting. In cross-section obtained the existence of unidentified metal mineralization.