Artikelilmiahs

Menampilkan 7.501-7.520 dari 48.891 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
750110347H1D009013Pengaruh Penambahan Pin Terhadap Kuat Lekat Tulangan Bambu Apus Pada Beton Mutu K-175 Beton merupakan bahan bangunan yang banyak digunakan dalam bidang konstruksi karena kekuatannya yang tinggi dalam menahan beban tekan. Namun, beton memiliki kelemahan dalam menahan beban tariknya. Untuk mengantisipasi hal tersebut, pada umumnya digunakan baja tulangan untuk dikompositkan dengan beton. Baja tulangan yang memiliki massa cukup besar membuatnya memberikan kontribusi beban yang cukup besar terhadap konstruksi. Selain itu, bahan tambang yang digunakan untuk pembuatan baja tulanganpun dikhawatirkan akan mengalami kelangkaan apabila pembangunan kedepan semakin berkembang. Akibatnya biaya pembangunan pun akan semakin mahal. Untuk itu digunakanlah bambu sebagai bahan alternatif penganti tulangan baja. Bambu dianggap relatif ringan serta memiliki kekuatan tarik yang dapat disetarakan dengan baja. Berdasarkan penelitian sebelumnya, kekurangan bambu ialah terjadinya kembang dan susut bambu. Hal tersebut dapat menyebabkan hilangnya lekatan apabila dikompositkan dengan beton.
Pada penelitian ini kelemahan bambu diminimalisir dengan penggunaan pin dari kawat baja yang digunakan sebagai penahan lekatan saat terjadinya penyusutan tulangan bambu. Perilaku pin baja diketahui dengan membandingan benda uji yang diberi pin dan benda uji yang tidak diberi pin serta dilakban. Variable yang diteliti ialah diameter tulangan bambu, jumlah pin, dan jarak pin. Pengujian yang dilakukan ialah pengujian pull-out dengan benda uji silinder berdiameter 12 cm. Pendekatan analisis dilakukan sebagai kontrol dengan penyetaraan dimensi bambu dengan diameter tulangan baja 6 mm dan 8 mm, sedangkan jumlah pin yang digunakan ialah variasi pin 0, pin 2, pin 3 dan pin 4.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rasio benda uji pull-out tulangan baja diameter 6 mm dan benda uji pull-out bambu dengan variasi diameter 0,2,3 dan 4 berturut-turut sebesar 0,076; 0,456; 0,637 dan 0,871, sedangkan rasio benda uji pull-out tulangan baja diameter 8 mm dan benda uji pull-out bambu dengan variasi diameter 0,2,3 dan 4 berturut-turut sebesar 0,142; 0,567; 0,986 dan 1,277. Berdasarkan rasio tersebut dapat simpulkan bahwa tulangan bambu setara baja diameter 6 mm (BB1) dan tulangan baja setara diameter 8 mm (BB2) yang menggunakan pin sebanyak 4 buah dapat disetarakan kapasitasnya terhadap baja dengan masing-masing diameter.
Concrete is a building material which mostly used in construction because of its high strength resist compressive loads. However, concrete has a weakness in its load bearing. To anticipate this, the composite of steel reinforcement and concrete is generally used. Steel reinforcement that has a fairly large mass makes it contributes substantially to the burden of construction. In addition, the minerals used to manufacture reinforcing steel was feared could be rare if future development is growing. As a result, the cost of construction would be more expensive. So that bamboo is used as an alternative substitute for steel reinforcement. Bamboo is considered relatively mild and has a tensile strength that can be compared with steel. Based on previous research, a weakness of bamboo is its expand and shrinkage. This can causes the loss of coherency when composited with concrete.
In this research, the weaknesses of bamboo is minimalized by the use of bamboo pins of steel wire which used as a retaining adhesion during the shrinkage of bamboo. Steel pin behavior known by comparing the given pins sample with not given and covering pin sample. The variables that studied were diameter of the bamboo, the number of pins, and a pin. This reaserch is used pull-out test with 12 cm diameters of cylinder as its sample. Analysis was performed as a control to equalize the dimensions of bamboo with a diameter of 6 mm steel and 8 mm, while the number of pins used are variations pin 0, pin 2, pin 3 and pin 4.
The results of this study indicate that the ratio of the pull-out test specimens of steel reinforcement diameter 6 mm and a pull-out test piece of bamboo with variation of 0,2,3 and 4 respectively of 0,076; 0,456; 0,637 and 0,871, while the ratio of the pull-out specimen diameter 8 mm steel reinforcement and a pull-out test piece of bamboo with a diameter variation of 0,2,3 and 4 respectively of 0,142; 0,567; 0,986 and 1,277. Based on this ratio can conclude that the bond strenght on iron reinforcement can be equated with bamboo reinforcement equivalent diameter 6 mm and diameter 8 mm (BB2) of steel reinforcement is 4 pins.
750211946B0A012014TEKNIK PENGOLAHAN IKAN MACKEREL (Scomber japonicus) Di PT. MAYA FOOD INDUSTRIES PEKALONGAN JAWA TENGAHIkan Mackerel (Scomber japonicus) merupakan salah satu ikan konsumsi air laut yang mempunyai cita rasa khas ikan air laut, ikan mackerel terdapat di perairan dengan salinitas yang tinggi. Populasi ikan yang melimpah, akan tetapi nilai ekonomis yang cukup rendah dan harga jual dipasaran akan lebih merosot bila musim migrasi ikan ini tiba. Maka, perlu dilakukan penanganan untuk meningkatkan harga jual dengan cara pengolahan hasil perikanan. Proses pengolahan ikan sangat penting diperhatikan terutama untuk mempertahankan kesegaran dan mutu produk. Tujuan dari pelaksanaan praktek kerja lapangan ini adalah mengetahui gambaran umum perusahaan, sistem kerja dan manajemen perusahaan, serta mengetahui dan mengaplikasikan teknik pengolahan dan pengalengan ikan mackerel (Scomber japonicus) di PT. Maya Food Industries, Jalan Jlamprang Pekalongan, Jawa Tengah. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan praktek kerja lapangan ini adalah metode observasi dan survei dalam teknik pengolahan dan pengalengan ikan serta berpartisipasi secara aktif dalam proses produksi yang dilakukan di PT. Maya Food Industries. Berdasarkan hasil pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan, maka dapat disimpulkan bahwa pengolahan ikan mackerel di PT. Maya Food Industries dengan cara Sterilisasi yang menerapkan prinsip aman dikonsumsi, halal (MUI) dan kualitas mutu yang tersertifikasi oleh HACCP serta ISO 9001:2008.Mackerel fish (scomber japonicus) is one of the fish consumption of sea water has a distinctive taste of saltwater fish, mackerel fish found in waters with high salinity. Abundant fish populations, but low enough economic value and the sale price the market will be more fish migration season slump when it arrives. Thus, treatment needs to be done to increase the selling price by means of the processing of fishery products. Fish processing process is very important to note, especially for maintaining the freshness and quality of the product. The purpose of the implementation of the field work is to know the general picture of the company, employment and enterprise management systems, and to know and apply the techniques of processing and canning fish mackerel (scomber japonicus) in PT. Maya Food Industries, Jlamprang Jalan Pekalongan, Central Java. The method used in the implementation of field work is observation and survey methods in the processing and canning techniques and participate actively in the production process is done in PT. Maya Food Industries. Based on the results of the implementation of the Job Training, it can be concluded that the processing of mackerel in PT. Maya Food Industries in a way that applies the principles Sterilization is safe to eat, halal (MUI) and high quality certified by HACCP and ISO 9001: 2008
75038419F1G010005Implikatur Percakapan Pada Sinetron Komedi Rt Sukowi di ANTVPenelitian ini berjudul “Implikatur Percakapan Pada Sinetron Komedi Rt Sukowi di ANTV" Sinetron komedi RT Sukowi merupakan salah satu komedi yang menciptakan efek humor dan lucu. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis implikatur percakapan dan pelanggran prinsip kerja sama yang terdapat dalam tuturan para tokoh RT Sukowi di ANTV.
Bentuk penelitian ini adalah deskriptif kualitatif berdasarkan data yang berasal dari percakapan para tokoh pemain Sitkom RT Sukowi di ANTV. Metode yang digunakan adalah simak dengan teknik dasar teknik sadap, lalu dengan teknik simak bebas libat dan teknik simak libat cakap dilanjutakan denagn teknik rekam dan teknik catat. Pada tahap analisis data digunakan metode padan dengan dasar teknik pilah unsur penentu dengan menggunakan daya pilah pragmatis dan teknik hubung banding membedakan sebagai teknik lanjutannya.
Berdasarkan penelitian ini penulis menemukan jenis implikatur percakapan, yaitu jenis implikatur percakapan umum dan implikatur percakapan khusus pada Sitkom RT Sukowi. Episode Pocong Juga Pocong adalah episode yang paling banyak dalam jenis implikatur percakapan. Di dalam jenis implikatur percakapan secara keselurahan pada Sitkom RT Sukowi di ANTV paling banyak adalah implikatur percakapan umum. Terdapat empat maksim, yaitu maksim kualitas, maksim kuantitas, maksim hubungan, dan maksim cara. Pelanggaran maksim kerja sama yang paling banyak muncul dalam Sitkom RT Sukowi di ANTV adalah episode Cinta Salah Alamat. Keseluruhan pelanggaran kerja sama pada Sitkom RT Sukowi di ANTV paling banyak adalah pelanggaran maksim hubungan.
This research is entitled “Conversational Implikatur at RT Sukowi Comedy at ANTV” RT Sukowi is one of comedy programs which is so funny and hilarious. Hence, this research has a purpose to describe kinds of implicature and cooperative principle of characters in RT Sukowi in ANTV.
This research is descriptive-qualitative research based on data which are taken from conversation among characters in RT Sukowi in ANTV. Listening attentively method with basic tap technique is used, and then free implicated listening technique, implicated listening technique, recording technique, and noting technique are also used. In data analysis, equal method with equally classifying technique using equally pragmatic capacity and differently comparing relation technique is applied.
Based on this research, the writer finds that there are three kinds of implicature, namely, implicature, common conversational implicature, and specific conversational implicature in RT Sukowi in ANTV. In Pocong juga Pocong episode, the most implicature founded is common conversational implicature. Generally, the most implicature founded in RT Sukowi in ANTV is common conversationally implicature. There are four maxims, such as, maxim of quality, maxim of quantity, maxim of relevance, and maxim of method. Cooperative maxim found in Cinta Salah Alamat episode is the most maxim which is in conflict. For a whole, cooperative maxim which is in conflict the most in RT Sukowi in ANTV is maxim of relevance.
750410346D1F012007PERBEDAAN NON KARKAS DALAM DOMBA EKOR TIPIS BERDASARKAN JENIS KELAMINTujuan penelitian adalah mengetahui bobot potong dan bobot komponen non karkas dalam domba berdasarkan jenis kelamin, dan mempelajari perbedaan bobot non karkas dalam domba berdasarkan jenis kelamin. Ternak yang diteliti yaitu domba ekor tipis (DET) muda (6-12 bulan) jantan 10 ekor dan domba betina 30 ekor. Penelitian dilakukan dengan metode survey terhadap ternak domba milik para jagal dan penjual sate di wilayah Bumiayu, Kabupaten Brebes. Hasil penelitian menunjukan bobot komponen non karkas dalam domba jantan yaitu jantung 210 ± 0,013g, paru-paru 250 ± 0,010g, limpa 60 ± 0,009g, hati 340 ± 0,029g, dan saluran pencernaan 6370 ± 0,174g. Bobot komponen non karkas dalam domba betina yaitu jantung 180 ± 0,015g, paru-paru 230 ± 0,013g, limpa 40 ± 0,008g, hati 300 ± 0,022g, dan saluran pencernaan 5500 ± 0,195g. Hasil uji t menunjukan semua variabel bobot komponen non karkas dalam domba ekor tipis berbeda nyata antara jantan dan betina. Kesimpulan penelitian yaitu bobot non karkas dalam pada domba jantan lebih tinggi daripada domba betina, dapat diartikan bahwa jenis kelamin berpengaruh terhadap bobot non karkas dalam dan bobot potong domba jantan lebih tinggi daripada domba betina, dapat diartikan bahwa jenis kelamin berpengaruh terhadap bobot potong.The purpose of the study was to knowing the slaughter weight and the weight of internal non-carcass components based on sex and studying the differentiation weight of internal non-carcass components based on sex . The animals studied were young thin tail lambs (6-12monts), was 10 head males and 30 females, respectively. The study was conducted by survey method that was about lambs possession butchers and sate seller in Bumiayu District, Brebes Region. The results of this experiment showed that the weight of internal non carcass components of male lambs, heart 210 ± 0,013g, lungs 250 ± 0,010g, spleen 60 ± 0,009g, liver 340 ± 0,029g, and digestive tract 6370 ± 0,174g. The weight of internal non carcass components of female lambs, heart 180 ± 0,015g, lungs 230 ± 0,013g, spleen 40 ± 0,008g, liver 300 ± 0,022g, and digestive tract 5500 ± 0,009g. T test results showed all internal non-carcass variables of the thin tail lambs were significantly different between males and females. Conclusion the weight of internal non-carcass the male higher than female, those can be interpreted that the sex affects into the internal non-carcass weight and the slaughter weight the male higher than female, those can be interpreted that the sex affects into the slaughter weight.
750510970F1D008004Analisis Kesesuaian RPJMDes 2008-2012 dengan Program Kerja Tahun 2009-2010 di Desa Karang Kemiri, Kabupaten BanyumasArtikel ilmiah ini berjudul “Analisis Kesesuaian RPJMDes 2008-2012 dengan Program Kerja Tahun 2009-2010 di Desa Karang Kemiri, Kabupaten Banyumas". Penelitian ini bertujuan untuk memahami dan mendeskripsikan kesesuaian Peraturan Desa nomor 03 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) tahun 2009 dan 2010 di desa Karang Kemiri. Dalam artikel ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara Peraturan Desa nomor 03 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) tahun 2009 dan 2010 di desa Karang Kemiri. Hal ini disebabkan karena pembangunan infrastruktur desa yang lebih banyak dilakukan seperti perbaikan jalan, saluran air serta pembangunan fisik yang lain. Visi misi desa sudah dilaksanakan, meskipun masih sangat minim. Namun, ketidaksesuaian ini tidak sepenuhnya disebabkan karena faktor internal yang disebabkan oleh pembangunan infrastruktur desa. Tetapi juga disebabkan karena faktor persoalan dana yang masih sangat kurang sehingga menyebabkan tidak terwujudnya visi misi desa.The study entitled “Analysis of conformity RPJMDes 2008-2012 with the work program 2009-2010 in Karang Kemiri village, Banyumas regency”. This research aims to learn and described the conformity of “Peraturan Desa Nomor 03 Tahun 2007” on Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) with Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) 2009 and 2010 in the Karang Kemiri Village. In this article showing unrelevant between village regulations “Peraturan Desa Nomor 03 Tahun 2007” with APBDes 2009 and 2010 in Karang Kemiri, Banyumas. This is because of infrastructure development done more of a village like roar repair, oleh pembangunan infrastruktur desa. Tetapi juga disebabkan karena faktor persoalan dana yang masih sangat kurang sehingga menyebabkan tidak terwujudnya visi misi desa.
750611246F1A009075Partisipasi Kader pada Kegiatan Posyandu dalam Upaya Meningkatkan Kesehatan Balita di Desa Limbasari Kecamatan Bobotsari Kabupaten PurbalinggaPosyandu merupakan lembaga kemasyarakatan yang tumbuh dan berkembang sebagai wadah untuk memberikan pelayanan Kesehatan dan sosial dasar masyarakat. Posyandu merupakan tempat bagi balita untuk mendapatkan pelayanan yang baik, seperti penimbangan berat badan, pemberian makanan tambahan, dan pemberian imunisasi. Maka dari itu perlu adanya partisipasi dari kader, karena kader merupakan ujung tombak dari seluruh kegiatan yang dilaksanakan di posyandu. Tujuan penelitian ini membahas tentang bentuk partisipasi kader dan upaya untuk meningkatkan kesehatan balita. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Lokasi Penelitian di Desa Limbasari Kecamatan Bobotsari Kabupaten Purbalingga. sasaran penelitian kader posyandu dan ibu balita.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk partisipasi yang dilakukan oleh kader adalah 1.tenaga bahwa setiap kader memberikan tenaga mereka dalam setiap kegiatan posyandu tanpa mengharapkan imbalan, dan 2.uang atau materi, bentuk partisipasi uang atau materi diberikan guna membeli bahan makanan sebagai makanan tambahan untuk balita. Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor internal seperti 1. Pengetahuan, bahwa pengetahuan mereka tentang posyandu dan pentingnya kesehatan akan mendorong para ibu untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan posyandu, 2. Usia, bahwa usia tidak menghalangi mereka untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan posyandu bahkan dengan usia mereka yang semakin bertambah membuat mereka termotivasi untuk menjadi kader agar bisa membantu ibu balita dalam meningkatkan kesehatan anaknya, 3. Pekerjaan, bahwa pekerjaan tidak menghalangi ibu untuk menjadi kader dan berpartisipasi dalam kegiatan posyandu karena 90% ibu yang menjadi kader adalah ibu rumah tangga dan selebihnya bekerja namun pekerjaannya tidak terlalu terikat dengan waktu sehingga dapat berpartisipasi dalam kegiatan posyandu. Selain faktor internal ada juga faktor eksternal yang mendorong ibu berpartisipasi dalam kegiatan posyandu yaitu 1. Keluarga, adapun bentuk dorongan yang diberikan oleh keluarga seperti mengantarkan ibu kader ke lokasi kegiatan posyandu, 2. Lokasi posyandu bahwa lokasi kegiatan posyandu tidak jauh dari rumah kader sehingga tidak menghalangi kader untuk berpartisipasi dalam kegiatan posyandu. Adapun upaya yang dilakukan kader untuk meningkatkan kesehatan balita dengan cara 1. memberikan makanan tambahan sebagai penambah asupan gizi balita, 2. pemberian vitamin A dan B secara rutin setiap 6 bulan sekali secara gratis kepada balita , 3. memberikan arahan dan penyuluhan mengenai kesehatan dan makanan bergizi untuk balita sehingga ibu balita dapat mengetahui makanan yang sehat dan bergizi untuk anaknya, 4. pemberian hadiah atau apresiasi kepada balita dengan adanya apresiasi tersebut dapat mendorong ibu balita selalu berpartisipasi dalam kegiatan posyandu sehingga balita dapat dipantau kesehatannya.
Posyandu is a viable institutions grow and develop as a container to provide basic social and healt services community. Posyandu is a place for toddlers to get good service, as weighing weight, provision of supplementary food, and giving immunizations. Therefore also needs participation cadres because of cadres is the main of all the activities that were undertaken at the posyandu. The purpose of this research are discuss about the form of participation on cadres at posyandu activities and efforts to improve toddlers health. The research method used in this research is descriptive qualitative. This research located in Limbasari Village, Bobotsari, Purbalingga, the object of research are Posyandu cadres, and toddlers mother.
The results showed that the shape of the volunteer's participation is 1. The power that each cadre give them power in every neighborhood health center activities without expecting anything in return, and 2. money or materials that form of participation given money or materials to purchase materials or food as a food supplement for given to toddlers. It is influenced by internal factors such as 1. Knowledge, that their knowledge of the neighborhood health center and health importance will encourage mothers to participate in the growth monitoring sessions, 2. Age, that age does not prevent them from participating in the neighborhood health center even with their age increasingly make them motivated to become cadres in order to help mothers in improving their health, 3. work, that the work does not preclude the mother to be a volunteer and participate in growth monitoring sessions for 90% of women cadre, is a housewife and the rest of the work yet work is not tied to time so that they can participate in growth monitoring sessions. besides internal factors there are also external factors that encourage mothers to participate in the growth monitoring sessions, namely 1. Family, while the form of encouragement given by the family as mother drove to the location cadres growth monitoring sessions, 2. Location neighborhood health center that growth monitoring sessions location not far from home cadre that does not blocking cadres to participate in growth monitoring sessions. The efforts made to improve infant health cadres in a way 1. provide additional food to supplement nutritional intake, 2. the provision of vitamin A and B on a regular basis every 6 months free of charge to children, 3. provide guidance and counseling on health and food nutritious for children so that mothers can find a healthy and nutritious food for their children, 4. appreciation gifts or toddler with such appreciation can encourage mothers always participate in growth monitoring sessions so that children can be monitored his health.
75078438P2EA12006PENEGAKAN HUKUM TERHADAP TINDAK PIDANA PENELANTARAN ANAK
( Studi di Kota Tasikmalaya)
MAMAY KOMARIAH, Program Studi Ilmu Hukum – Program Pascasarjana Universitas Jenderal Soedirman “Penegakan Hukum Terhadap Tindak Pidana Penelantaran Anak (Studi di Kota Tasikmalaya). Komisi Pembimbing, Ketua : Dr. Angkasa, S.H., M.Hum, Anggota Setya Wahyudi, S.H., M.H.
Penelantaran anak tidak lepas dari aturan hukum, khususnya hukum pidana, karena perbuatan ini dapat dikategorikan sebagai kejahatan yang mengancam nyawa dan jiwa anak. Maka perlu dilakukan penegakan hukum terhadap tindak pidana penelantaran anak. Perumusan masalah dalam penelitian ini yaitu (1) Bagaimana penegakan hukum terhadap Tindak pidana penelantaran anak di Kota Tasikmalaya, (2) Hal-hal apakah yang menjadi penghambat dalam penegakan hukum terhadap tindak pidana penelantaran anak di kota Tasikmalaya.
Metode penelitian ini menggunakan metode pendekatan Yuridis Sosiologis, Spesifikasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah spesifikasi penelitian deskriptif. Lokasi penelitain di Kepolisian Resort Tasikmalaya, Pengadilan Negeri Kota Tasikmalaya dan Kantor Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Tasikmalaya. Sumber data sekunder bahan hukum primer yaitu, terdiri dari perundang-undangan, catatan-catatan resmi dan putusan-putusan hakim, bahan sekunder berupa buku-buku teks, hasil karya ilmiah, artikel-artikel,dari situs internet yang ada keterkaitan dengan penegakan hukum anak terlantar dan bahan hukum tersier yaitu berupa kamus hukum, kamus bahasa Inggris, kamus bahasa Indonesia serta. Metode pengumpulan data primer diperoleh wawancara, data sekunder diperoleh dengan studi pustaka. Penyajian bahan hukum dalam penelitian ini akan menggunakan bentuk teks naratif. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis data normatif kualitatif.
Berdasar hasil penelitian dan pembahasan terhadap pokok permasalahan yang diajukan dalam tesis ini, maka di simpulkan bahwa(1) Penegakan hukum terhadap Tindak pidana penelantaran anak di Kota Tasikmalaya, dengan cara Penegakan hukum dengan melalui tindakan Pencegahan (preventif)dan penindakan (represif) dalam menerapkan ketentuan-ketentuan hukum di Kota Tasikmalaya dalam kasus penelantaran anak oleh Kepolisian Resort Kota, Kejaksaandan Pengadilan Negeri Tasikmalaya. (2) Hal-hal yang menjadi penghambat dalam penegakan hukum terhadap Tindak pidana penelantaran anak di kota Tasikmalaya, yaitu belum adanya peraturan pemerintah daerah yang mengatur secara khusus tentang penelantaran anak, masih banyak kasus penelantaran terhadap anak yang belum tersentuh oleh hukum,sarana atau fasilitas yang belum ada, masyarakat seperti kurang peduli terhadap permasalahan penelantaran, masih menganggap bahwa permasalahan tentang anak masih menjadi permasalah keluarga inti belum menyangkut permasalahan sekitar.
MAMAY KOMARIAH, Legal Study Program – Post Graduate Courses of Jenderal Soedirman University. “Law Enforcement Toward the Crime of Child Neglect (Case Study in Tasikmalaya). Committee of Supervisors, Chief: Dr. Angkasa, S.H., M.Hum, Member: Setya Wahyudi, S.H., M.H.
Child neglects are subject to legal policies, especially criminal law, since these actions can be categorized as crime that threatens child’s life. Therefore, law enforcement toward this crime is needed. The questions of this research are formulated into (1) How is the law enforcement toward the crime of child neglect in Tasikmalaya and (2) what are the obstacles in the efforts of law enforcement towards the crime of child neglect in Tasikmalaya.
This research applied the Socio-Juridical approach specifically using the descriptive research. This research is conducted at the Tasikmalaya Police Department office, the state Court of Tasikmalaya and the office of Social Department of Labor and Transmigration of Tasikmalaya. The secondary source of the data of primary law subject of the research consists of legislations, official records and the verdicts of the judges. The secondary subject consists of text books, research books, and articles from the internet which closely related to the law enforcement toward child neglect. The tertiary law subjects of this research are dictionary of law, English and Indonesian dictionary. The primary data of the research is collected using interview and the secondary data is collected through literary study. The display of the law subjects of the research will be in form of narrative texts while the analysis of the research applied the normative-qualitative data analysis method.
Based on the result of the research and the discussions on the subject matter of this thesis, the researcher concluded that (1) the law enforcement toward child neglect in Tasikmalaya uses two ways; By applying preventive and repressive methods and (2) the obstacles in the law enforcement toward child neglect in Tasikmalaya are: lots of child neglect case that has not been brought to justice, the lack of facilities, the lack of the awareness of the society on child neglect matters who consider that child neglect is still only a family matter.
75087989P2CB11011PENGARUH EXPERIENTAL MARKETING, CUSTOMER SATISFACTION, TERHADAP BEHAVIORAL INTENTION DENGAN TRUST DAN COMMITMENT SEBAGAI VARIABEL MEDIASI PADA DEALER MOTOR YAMAHA AGUNG PEMALANGBehavioral intention/perilaku niat dalam penelitian ini lebih dispesifikan pada niat beli sepeda motor di dealer Yamaha Agung Pemalang sangatlah penting agar tidak terjadi penurunan jumlah pembelian, faktor-faktor yang dianggap berpengaruh terhadap behavioral intention terdiri dari Experiential Marketing, Customer Satisfaction, Trust dan Commitmen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh experiential marketing, customer satisfaction terhadap behavioral intention dengan trust dan commitmen sebagai variable intervening.
Subyek penelitian ini konsumen dealer motor Yamaha Agung Pemalang, metode penelitian yang digunakan adalah metode survey, populasi dalam penelitian ini adalah konsumen Yamaha Agung Pemalang tahun 2011-2012, sampel dalam penelitian ini ditentukan dengan menggunakan metode Random sampling dengan jumlah responden sebanyak 105 orang, teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Analisis data yang dilakukan dengan menggunakan analisis model Structural Equation Modelling (SEM) menggunakan perangkat program AMOS 18,0
Berdasarkan hasil perhitungan secara statistik menunjukkan bahwa experiential marketing berpengaruh positif terhadap behavioral intention, experiential marketing berpengaruh positif terhadap customer satisfaction, customer satisfaction berpengaruh positif terhadap trust, trust berpengaruh positif terhadap behavioral intention, customer satisfaction berpengaruh positif terhadap behavioral intention, customer satisfaction berpengaruh positif terhadap commitmen, commitmen berpengaruh positif terhadap behavioral intention, trust dan commitmen mampu menjadi variable pemediasi pengaruh customer satisfaction terhadap behavioral intention. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa experiential marketing, customer satisfaction berpengaruh positif terhadap behavioral intention dengan trust dan commitmen sebagai variabel intervening.
Behavioral intention in this study is more dispesifikan on purchase intention Yamaha motorcycle dealer Supreme Pemalang is essential in order to avoid a decrease in the amount of the purchase , the factors considered to influence the behavioral intention consists of Experiential Marketing , Customer Satisfaction , Trust and commitmen . The purpose of this study was to analyze the influence of experiential marketing , customer satisfaction on behavioral intention to trust and commitmen as an intervening variable.
The subjects of this study consumers Supreme Pemalang Yamaha dealers, the research method used was a survey method, the population in this study is that consumers Supreme Yamaha Pemalang years 2011-2012, the sample in this study was determined using the random sampling method by the number of respondents were 105 people, techniques Data collection is done by using a questionnaire. Data analysis is performed using Structural Equation Modeling analysis models ( SEM ) using the AMOS 18.0 program.
Based on the results of the statistical calculation shows that experiential marketing positive effect on behavioral intention , experiential marketing has a positive effect on customer satisfaction , customer satisfaction has positive influence on trust, the trust has a positive effect on behavioral intention, customer satisfaction has a positive effect on behavioral intention, positive effect on customer satisfaction commitmen, commitmen positive effect on behavioral intention, trust and commitmen able to be variable mediating effect of customer satisfaction on behavioral intention. Based on these results we can conclude that experiential marketing, customer satisfaction has a positive effect on behavioral intention to trust and commitmen as an intervening variable.
75098439P2CD12017PERBEDAAN RETURN DAN RISIKO SAHAM ANTARA PERBANKAN PERATA LABA DAN BUKAN PERATA LABA SEBELUM DAN SESUDAH KONVERENSI INTERNASIONAL FINANCIAL REPORTING STANDARDS (FRS)Penelitian ini...This studi....
75108440G1A008064PERBANDINGAN PEMBERIAN PENDIDIKAN KESEHATAN BERKELANJUTAN TERHADAP KEJADIAN REINFEKSI SOIL TRANSMITTED HELMINTS (STH) PADA SISWA MI CIBEREM, SUMBANG, BANYUMAS ABSTRAK

Latar Belakang. Infeksi soil transmitted helminths (STH) merupakan masalah kesehatan masyarakat Indonesia. Beberapa agen penyebab infeksi ini terdiri dari: Ascaris lumbricoides (cacing gelang), Trichuris trichiura (cacing cambuk), dan species cacing tambang. Prevalensi infeksi STH di sekolah dasar di beberapa provinsi di Indonesia cukup tinggi yaitu 78,6%. Pemerintah dan masyarakat telah melaksanakan berbagai program pemberantasan infeksi STH.Salah satu upaya yang dapat meringankan beban pemerintah dalam pelayanan kesehatan ialah pendidikan kesehatan berkelanjutan dalam upaya mencegah reinfeksi STH.
Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kejadian reinfeksi STH pada siswa kelas MI Ciberem antara kelompok yang diberi pendidikan kesehatan berkelanjutan dengan yang tidak diberi pendidikan kesehatan berkelanjutan.
Metode. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental dengan consecutive sampling.Subjek penelitian adalah murid-murid MI Ciberem, Sumbang, Banyumas.Materi yang diamati adalah tinja sebanyak 100 sampel.Analisis univariat berupa tabel frekuensi, sedangkan analisis bivariat menggunakan Fisher Exact Test.
Hasil. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi STH sebesar 36%. Jenis telur STH yang ditemukan pada subjek penelitian terdiri dari 21,4% Ascaris lumbricoides, 60,7% Trichuris trichiura, dan 17,9% infeksi campuran. Murid-murid yang terinfeksi STH diobati dengan mebendazole 250 mg dosis tunggal.Tujuh hari kemudian diperiksa ulang dan murid yang dinyatakan sembuh dibagi menjadi dua kelompok secara acak.Kelompok pertama sebanyak 14 orang mendapatkan pendidikan kesehatan berkelanjutan seminggu sekali selama dua bulan.Kelompok kedua sebanyak 14 sebagai kontrol. Angka reinfeksi STH pada kelompok pertama adalah 7,1%, sedangkan kelompok kedua sebesar 21,4%.
Kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis didapatkan tidak terdapat perbedaan efektivitas antara pemberian mebendazole disertai pendidikan kesehatan berkelanjutan dan pemberian mebendazole terhadap infeksi STH (p=0,788).
ABSTRACT

Background. Soil transmitted helminths (STH) infections are health problem in Indonesia which etiologists are roundworms (Ascaris lumbricoides), whipworms (Trichuris trichiura) and hookworms. STH infection at elementery school in Indonesia was quite high with prevalence 78,6%. Goverment and some branch in community had perfomed many STH infection eradications. One of the effort that was considered to helped the goverment was continous health education in order to prevent STH reinfecton.
Objective. This study purposed to know effectiveness continous health education in preventing STH reinfection. The materials were 100 fecal sampels of MI Ciberem, Sumbang.
Methods. The method of this study was experimental,consequtive sampling. Univariate analysis was using table of frequency and bivariate analysis was using Fisher Exact Test.
Results. STH prevalence was 36%. STH eggs were found in research subject consist of 21,4% Ascaris lumbricoides, 60,7% Trichuris trichiura, dan 17,9% mix. Children who were infected by STH were treated with mebendazole 250 mg single dose and rechecked on seven days later. well treated children were divided into 2 groups, each consisting of 14 children. Group I was treated with continous health education and group II was control group. STH reinfection cure rate in group I was 7,1% and 21,4% in group II.
Conclusion. No significance difference between the effect of continous health education to heal STH reinfection (p=0,788).
75118441G1D010044NASKAH PUBLIKASI SKRIPSI KESIAPSIAGAAN KELUARGA DI DESA MELUNG
SEBAGAI DESA RAWAN BENCANA ANGIN TOPAN DI KABUPATEN BANYUMAS
Latar Belakang: Indonesia merupakan negara yang berbagai wilayahnya berada dalam zona rawan bencana, rekapitulasi BNPB tahun 2013 menyebutkan telah terjadi 1.387 kejadian bencana. Kejadian tersebut menyebabkan 821 jiwa meninggal dan hilang, serta 3.557.588 jiwa menderita dan mengungsi. Salah satu angka kejadian bencana yang cukup tinggi di Indonesia adalah bencana angin topan yakni sebanyak 161 titik. Hasil pemetaan rawan bencana angin topan BNPB tahun 2011, Kabupaten Banyumas merupakan ranking 1 nasional, dengan 21 titik rawan bencana. Salah satu desa yang rawan bencana angin topan adalah Desa Melung.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesiapsiagaan keluarga di Desa Melung sebagai desa rawan bencana angin topan di Kabupaten Banyumas.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Penelitian dilakukan pada bulan Januari hingga Maret tahun 2014. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 111 kepala keluarga dengan rentang usia 21-80 tahun. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan kuesioner.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai mean 24,7 rata-rata keluarga kurang siap menghadapi bencana angin topan. Presentasi kesiapsiagaan 45,9% tidak siap, 45% kurang siap dan 9% siap. Usia yang paling dominan kurang siap menghadapi bencana angin topan adalah 16-40 tahun 20,7%, dengan jenis kelamin laki-laki 43,2% dan tingkat pendidikan SD 33,3%. Berdasarkan hasil uji spearman, nilai p = 0,048 pada variabel pendidikan artinya ada hubungan antara pendidikan dengan kesiapsiagaan.
Kesimpulan: Berdasarkan penelitian kesiapsiagaan keluarga di Desa Melung rata-rata kurang siap, dengan presentasi tidak siap 45,9% dan kurang siap 45,0%.
Background: Indonesia is a country which has various areas on the disaster prone zones, recapitulation BNPB in 2013 said there has been a 1,387 disaster. The incident has caused 821 people die and disappear, and also 3,557,588 people are suffering and displaced. One of catastrophic event rates were quite high in Indonesia is a typhoon that as many as 161 points. Results of mapping typhoon prone BNPB in 2011, Banyumas is 1 national ranking, with 21 points prone to disasters. One village that is prone to typhoon is Melung village.
Objective: The aim of this study was to determine the preparedness of families in the Melung village as the typhoon prone village at Banyumas.
Method: This research was descriptive quantitative. The study was conducted in January and March 2014. Number of samples in this study were 111 heads of families with an age range 21-80 years. Measurements were performed using questionnaires.
Result: The results showed that the mean value of 24.7 average family less prepared to deal with typhoon. The presentation was unprepared 45.9%, 45% less prepared and 9% prepared. The most dominant age that less prepared for typhoon was 16-40 years 20.7%, with the male gender 43.2% and 33.3% primary school education level. Based on the results of Spearman test, p = 0.048 it means there was relationship between education and preparedness.
Conclusion: Based on research in Melung Village the family preparedness on average less prepared, the presentation was unprepared 45.9% and 45.0% less prepared.
75128442G1F010054ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN DIABETES MELITUS USIA DEWASA DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTODiabetes Melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang memerlukan terapi jangka panjang sehingga keberhasilan terapinya bergantung pada kepatuhan pasien. Ketidakpatuhan terhadap terapi pengobatan akan berdampak pada tidak terkontrolnya gula darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepatuhan dan faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan minum obat pada pasien DM tipe-2 usia dewasa di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto.
Penelitian dilakukan secara deskriptif analitik dengan rancangan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien DM tipe-2 usia dewasa di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Instrumen pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisis data yang digunakan untuk analisis bivariat menggunakan chi-square untuk mengetahui hubungan antara tiap faktor dengan kepatuhan. Analisis multivariat menggunakan regresi logistik berganda dilakukan untuk mengetahui faktor yang paling mempengaruhi kepatuhan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang sangat patuh sebanyak 15 responden (17,6%), patuh sebanyak 38 responden (44,7%), dan tidak patuh sebanyak 32 responden (37,6%). Hasil uji chi square diketahui terdapat pengaruh yang signifikan antara pendidikan (p = 0,007) dan pengetahuan (p < 0,001) dengan kepatuhan minum obat. Responden dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan lebih tinggi memiliki kecenderungan lebih patuh dalam minum obat antidiabetes. Hasil analisis regresi logistik menunjukkan bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap kepatuhan minum obat pasien DM tipe-2 usia dewasa di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo adalah pengetahuan tentang DM (p = 0,010).
Diabetes mellitus (DM) is a chronic disease that requires long-term therapy so that treatment success depends on patient compliance. Poor adherence to medication therapy will result in uncontrolled blood sugar. This study aims to determine the level of adherence and factors affecting medication adherence in adult patients with DM type-2 in RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto.
The method of this study was analytical descriptive with a cross-sectional design. The population in this study were adult patients with type-2 DM in RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Instruments of data collection using questionnaire. Analysis of the data used for bivariate analysis using chi-square test to determine the relationship between each factor with adherence. Multivariate analysis using logistic regression was conducted to determine factors Doubled which most affect compliance.
The results showed that 15 respondents were very obedient (17.6 %), 38 respondents were adherent (44.7 %), and 32 respondents (37.6 %) not-adherent at taking medication. The results of chi square statistical analysis, the factor known that have influence with medication adherence were education (p = 0,007) and knowledge (p < 0.001). Respondents with higher education and knowledge have a tendency to be more obedient in taking anti diabetic medication. The results of logistic regression analysis showed that the most influential factor on medication adherence in adult patients with type-2 DM in RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto is knowledge of DM (p = 0.010).
751310348H1F010028PEMETAAN GEOLOGI BAWAH PERMUKAAN DAN IDENTIFIKASI FASIES SERTA LINGKUNGAN PENGENDAPAN PADA FORMASI MELIAT CEKUNGAN TARAKAN BERDASARKAN DATA CORE, DATA LOG DAN DATA SEISMIKDaerah Nunukan dan Tana Tidung Provinsi Kalimantan Timur telah lama dikenal sebagai salah satu daerah penghasil migas di Indonesia. Daerah ini secara geologi merupakan suatu cekungan sedimentasi yang berkembang sejak tersier. Cekungan ini terbagi menjadi dua sistem sedimentasi utama secara berurutan yaitu sistem sedimentasi non-deltaik dan sistem sedimentasi deltaik. Daerah ini sangat menarik untuk dijadikan daerah penelitian dikarenakan keberadaan potensi hidrokarbon yang harus dimaksimalkan. Menurunnya angka produksi minyak dan gas yang diakibatkan oleh menurunnya jumlah cadangan minyak dan gas di Indonesia menjadi salah satu alasan utama untuk memaksimalkan potensi geologi ini salah satunya dengan melakukan penelitian tentang geologi bawah permukaan serta analisis fasies khususnya pada formasi Meliat yang merupakan salah satu reservoir di cekungan ini. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini berupa korelasi dan pemetaan geologi bawah permukaan dengan terlebih dahulu menginterpretasi dan menganalisis data-data yang ada seperti interpretasi litologi berdasarkan data log, dan data serbuk bor, interpretasi data seismik serta mereview kembali analisis biostratigrafi daerah penelitian. Formasi Meliat pada daerah penelitia tersusun atas litologi berupa dominasi perselingan batupasir-serpih dimana di beberapa tempat terendapkan batubara dan dolomit. Daerah ini memiliki struktur geologi berupa dua sesar utama berarah NE-SW dan satu antiklin utama yang memanjang dan berarah NW-SE. Analisis fasies menunjukkan keterdapatan fasies seperti distributary channel, distributary mouthbar dan tidal flat serta lingkungan pengendapan berupa tide dominated delta.Nunukan and Tana Tidung Regencies, East Borneo Province has been known as one of oil and gas field in Indonesia. This area geologically is basin that has been developed since tertiary. This basin is divided into two major sedimentation systems which are non-deltaic sedimentation and deltaic sedimentation. This area is very interesting to be a researched area due to the occurrence of hydrocarbon potential that should be maximized. The decrease of oil and gas production number is becoming one of big reasons to maximize geological potency. One of the ways is doing the research about subsurface condition and facies analysis especially toward Meliat Formation that is one of reservoir in this basin. The methods that already done in this researched are correlation and subsurface geological mapping where formerly interpretation and analyze the data such as litologic interpretation based on log data and cutting, data interpretation based on seismic also reviewing biostratigraphy analysis in the research area. Meliat Formation in the research area is consist of lithologies such as alternating sandstone-shale and locally occurred coal and dolomite. This area having geology structure which consist of two major fault with NE-SW direction and one major anticline which elongated toward NW-SE direction. Facies analysis shows the occurrence of facies such as distributary channel, distributary mouthbar and tidal flat and also the paleo-environment is tide dominated delta.
75148443G1A010087Hubungan Antara Kejadian Preeklamsia Dengan Kadar Hemoglobin dan Hematoktrit di RSUD. Prof. DR. Margono Soekarjo Tahun 2013LATAR BELAKANG
Preeklamsia merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas ibu tertinggi di Indonesia mencapai 33% dari keseluruhan kematian ibu. Di negara yang sedang berkembang prevalensi preeklamsia dilaporkan berkisar antara 0,3%-0,7%.
METODE
Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Besar sampel sebesar 60 yaitu ibu hamil berusia 20-35 tahun yang terdiagnosis preeklamsia dan melakukan rawat inap di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo serta terdata lengkap pada rekam medik dari bulan Januari sampai Desember 2013. Jumlah kelompok pembanding pada penelitian ini sebesar 60 kasus ibu hamil yang tidak menderita preeklamsia. Kadar Hb dan Ht dilihat pada rekam medis.
HASIL
Total sampel sebanyak 120 ibu hamil, ibu preeklamsia yang mengalami peningkatan kadar Hb yaitu sebanyak 32 orang (53,33%), sedangkan pada ibu yang tidak preeklamsia didapatkan paling banyak dengan kadar Hb rendah, yaitu 44 orang (73,33%). Pada ibu preeklamsia paling banyak didapatkan juga kadar Ht meningkat sebanyak 55 orang (91,66%), sedangkan pada ibu hamil yang tidak preeklamsia paling banyak didapatkan dengan kadar Ht rendah sebanyak 42 orang (70%). Pada uji Chi Square didapatkan nilai signifikan (p=0.000) menunjukan adanya hubungan yang signifikan antara kejadian preeklamsia dengan peningkatan kadar Ht dan Hb.
KESIMPULAN
Preeklamsia meningkatkan kadar Hb dan Ht pada ibu hamil di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo tahun 2013.
Kata kunci: preeklamsia, kadar Hemoglobin, kadar Hematokrit

BACKGROUND
Preeclampsia is the highest cause of maternal morbidity and mortality in Indonesia which reaches 33% of all maternal death causes. In developing countries, the prevalence of preeclampsia are reported between 0.3% -0.7%.
METHOD
This study used observational analytic with cross sectional approach. 60 samples we collected among 20-35 year-old pregnant women who were diagnosed with preeclampsia and performed patient care in Prof. Dr. Margono Soekarjo Hospital and were completely recorded on medical records from January to December 2013. Comparison group in this study were 60 cases of pregnant women who did not suffer from preeclampsia. Hemoglobin and hematocrit levels were seen from the medical record.
RESULTS
The total sample were 120 pregnant women, mothers with preeclampsia who had elevated hemoglobin level were 32 people (53.33%), whereas 44 (73.33%) women without preeclampsia had obtained low hemoglobin level. In women with preeclampsia hematocrit levels also increased in 55 persons (91.66%), whereas in pregnant women without preeclampsia had obtained low hematocrit levels in 42 persons (70%). Chi Square test found significant value (p = 0.000) which showed a significant relationship between the incidence of preeclampsia with the elevated level of hematocrit and hemoglobin.
CONCLUSION
Preeclampsia increased the level of hemoglobin and hematocrit in pregnant women in Prof. Dr. Margono Soekarjo hospital in 2013.

Keywords: preeclampsia, levels of hemoglobin, hematocrit levels

75158444G1F010046AKTIVITAS EKSTRAK ETANOLIK DAUN SIRSAK (Annona muricata) TERHADAP EKSPRESI PROTEIN p53 PADA SEL PAYUDARA TIKUS YANG DIINDUKSI 7,12-DIMETILBENZ(α)ANTRASENA Sirsak (Annona muricata) merupakan tanaman yang dapat digunakan sebagai antikanker dan terbukti memiliki aktivitas sitotoksik secara in vitro. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas ekstrak etanolik daun sirsak (Annona muricata) dalam menghambat insidensi tumor dan meningkatkan ekspresi protein p53 pada kelenjar payudara tikus yang diinduksi DMBA.
Penelitian ini dilakukan secara in vivo menggunakan tikus Sprague Dawley (n=48) yang dibagi menjadi 7 kelompok. Kelompok I tidak diberikan perlakuan. Kelompok II diberikan DMBA 20 mg/kgBB dua kali seminggu selama 5 minggu. Kelompok III diberikan DMBA dan Tamoxifen 0,18 mg. Kelompok IV-VII diberikan DMBA dan ekstrak daun sirsak masing-masing dosis 200 mg/kgBB, 300 mg/kgBB, 400 mg/kgBB, dan 500 mg/kgBB. Tamoxifen dan ekstrak daun sirsak diberikan setiap hari selama 2 minggu setelah 10 hari pemberian terakhir DMBA. Dilakukan palpasi payudara setiap hari selama 24 hari setelah pemberian DMBA terakhir (minggu ke-5) untuk mengetahui munculnya nodul. Pengamatan sel payudara yang mengekspresikan protein p53 diamati dengan metode imunohistokimia dan dianalisis dengan metode ANOVA satu arah dan dilanjutkan dengan uji LSD.
Pemberian ekstrak etanolik daun sirsak dosis 200 mg/kgBB, 300 mg/kgBB, 400 mg/kgBB, dan 500 mg/kgBB mampu menghambat karsinogenesis dengan insidensi tumor masing-masing sebesar 16,667%, 50%, 0%, dan 25%. Dari pengamatan imunohistokimia, ekstrak 400 mg/kgBB mampu mengekspresikan protein p53 paling banyak dengan rerata jumlah sel yang mengekspresikan protein p53 sebesar 33,02±7,846. Ekstrak daun sirsak dapat memacu apoptosis dengan meningkatkan ekspresi protein p53 sehingga dapat dikembangkan sebagai agen kemoterapi.
Soursop (Annona muricata), a plant has anticancer and cytotoxic activity by in vitro. This study aims to determine the activity of ethanolic extract of soursop leaves (Annona muricata) in inhibiting tumor incidence and increased expression of p53 protein in rats’ mammary gland induced with DMBA.
This study conducted in vivo using Sprague Dawley rats (n=48) which divided into 7 groups. Group I had no treatment. Group II was given DMBA 20 mg/kgBW twice a week for 5 weeks. Group III was given DMBA and tamoxifen 0,18 mg. Group IV-VII were given DMBA and soursop leaves extract with doses of 200 mg/kgBW, 300 mg/kgBW, 400 mg/kgBW, and 500 mg/kgBW. Tamoxifen and soursop leaves extract were given dialy 10 days after the last giving of DMBA for 2 weeks. Breast palpation was done everyday for 24 days after the last giving of DMBA (5th week) to find out the nodule emergence. Breast cells observation that expressing p53 protein were done using immunohistochemistry and analyzed by one-way ANOVA followed by LSD test.
Ethanolic extract of soursop leaves with dose 200 mg/kgBW, 300 mg/kgBW, 400 mg/kgBW, and 500 mg/kgBW can inhibit carcinogenesis with tumor incidence at the amount to 16,667%, 50%, 0%, and 25%. From immunohistochemistry observations, extract with dose 400 mg/kgBW able to express p53 protein at most with the average of expressing cells for about 33,02±7,846. Soursop leaves extract able to trigger apoptosis by increasing the p53 protein expression that can be developed as chemotherapy agent.
75168446G1F010071EFEK KOMBINASI EKSTRAK JAHE DAN TEMULAWAK TERHADAP KADAR UREUM, SERUM KREATININ, DAN GAMBARAN HISTOPATOLOGI GINJAL PADA TIKUS YANG DIINDUKSI DOKSORUBISINDoksorubisin merupakan antibiotik golongan antrasiklin yang digunakan untuk terapi kanker, tetapi memiliki keterbatasan karena efek samping berupa nefrotoksik. Tanaman jahe dan temulawak mempunyai potensi untuk mencegah terjadinya efek toksik yang disebabkan oleh penggunaan doksorubisin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek kombinasi ekstrak jahe dan temulawak terhadap kadar ureum, serum kreatinin, dan gambaran histopatologi ginjal pada tikus yang diinduksi doksorubisin.
Tikus jantan galur Wistar dibagi menjadi lima kelompok masing-masing terdiri dari tujuh tikus. Doksorubisin diberikan pada hari ke 1,4,7,10,23,16. Kombinasi ekstrak jahe dan temulawak diberikan setiap hari selama 16 hari. Kelompok 1 diberi NaCMC 1,5% selama 16 hari, kelompok 2 diberi doksorubisin 2,5 mg/kg BB i.p, kelompok 3 diberi doksorubisin 2,5 mg/kg BB + ekstrak 250 mg/kg/hari p.o, kelompok 4 diberi doksorubisin 2,5 mg/kg i.p + ekstrak 500 mg/kg/hari, dan kelompok 5 diberi doksorubisin 2,5 mg/kg i.p + ekstrak 750 mg/kg/hari p.o. Darah diambil pada hari ke 17 dan diambil organ ginjalnya. Analisis histopatologi ginjal menggunakan pewarnaan H&E.
Kadar ureum yang didapatkan pada lima kelompok perlakuan berturut-turut adalah 21,71 ±7,66, 27,28 ±12,71, 32,62 ±10,11 36,85 ± 8,98, 37,48 ±14,35, sedangkan kadar kreatinin 0,76 ± 0,09, 0,78 ± 0,06, 0,84 ± 0,09, 0,78 ± 0,12, 0,88 ± 0,07. Menurut analisis statistik pemberian doksorubisin tidak menyebabkan penurunan yang signifikan pada kadar ureum dan kreatinin serum. Gambaran histopatologi ginjal menunjukkan perbaikan pada kelompok yang diberikan doksorubisin dengan kombinasi ekstrak jahe dan temulawak 250; 500 dan 750 mg/kg. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi jahe dan temulawak belum dapat memberikan efek proteksi terhadap ginjal pada tikus yang diinduksi doksorubisin.

Doxorubicin is an anthracyclic antibiotic with anti-neoplastic activity, but its effectiveness has been limited by the occurrence of side effect such us nephrotoxicity. Ginger and javanese turmeric have potential effect to prevent the occurrence of toxicity effects that caused by the use of doxorubicin. The nephroprotective effect of combination ginger and javanese turmeric extracts was evaluated against doxorubicin-induced in rats based on the parameters of urea, creatinine serum and renal histopathology.
Wistar male rats were divided into five groups, each consisting of seven rats. Doxorubicin was given on day 1,4,7,10,23,16. The combination of ginger and javanese turmeric extracts administered daily for 16 days. Group 1 was given NaCMC 1.5% for 16 days, group 2 was given doxorubicin 2.5 mg / kg ip, group 3 was given doxorubicin 2.5 mg / kg + 250 mg extract / kg / day po, group 4 were given doxorubicin 2.5 mg / kg ip + extract 500 mg / kg / day, and group 5 were given doxorubicin 2.5 mg / kg ip + extract 750 mg / kg / day po. Blood was taken on day 17 and taken his kidney organs. Analysis of renal histopathology using Hematoksilin-Eosin (H&E) staining.
Urea levels were obtained in five consecutive treatment group was 21.71 ± 7.66, 27.28 ± 12.71, 32.62 ± 10.11 36.85 ± 8.98, 37.48 ± 14.35 , whereas creatinine levels of 0.76 ± 0.09, 0.78 ± 0.06, 0.84 ± 0.09, 0.78 ± 0.12, 0.88 ± 0.07. According to the statistical analysis of doxorubicin administration did not cause a significant reduction in serum urea and creatinine levels. Histopathology renal showed improvement in group given the combination of doxorubicin with ginger and javanese turmeric extracts 250; 500 and 750 mg / kg. The results of this study indicate that the combination of ginger and javanese turmeric have not been able to provide protection renal damaged against induced doxorubicin in rats.

75178447H1D007115PENGARUH SUBSTITUSI ABU BATU PADA AGREGAT HALUS BERUPA PASIR TUFF KARANGREJA TERHADAP KUAT TEKAN DAN DAYA SERAPAN AIR PADA PAVING BLOCKAbu batu dan pasir tuff belum dimanfaatkan secara maksimal. Abu batu biasanya hanya untuk material perkerasan jalan dan pasir tuff untuk material bangunan. Abu batu dan pasir tuff belum digunakan sebagai bahan susun pembuatan paving block. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi abu batu pada agregat halus pasir tuff sebagai bahan susun paving block terhadap kuat tekan dan serapan air pada umur pengujian 28 hari. Variasi substitusi abu batu yang digunakan sebesar 0%, 25%, 50%, 75% dan 100% dari berat pasir tuff dengan perbandingan semen : pasir tuff 1 : 6 dan faktor air semen (fas) 0,4. Benda uji yang digunakan untuk uji serapan air dan kuat tekan dengan ukuran 20 cm x 10 cm x 6 cm. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh positif substitusi abu batu berupa peningkatan kuat tekan dan penurunan serapan air paving block. Komposisi optimal pada substitusi 75% abu batu dan 25 % pasir tuff menghasilkan kuat tekan rata-rata sebesar 308,359 kg/cm² dan serapan air sebesar 13,88 %.Stone dust and tuff sand has not been fully utilized . Stone dust is usually only for road paving materials and tuff sand for building materials . Stone dust and tuff sand flats not been used as paving blocks . This study aims to determine the effect of substitution on the stone dust as fine aggregate tuff sand block paving stacking materials on the compressive strength and water absorption testing at the age of 28 days . Variations of stone dust used substitution of 0% , 25 % , 50 % , 75 % and 100 % of the weight of the tuff sand with cement ratio : 1 : 6 and water-cement ratio ( fas ) 0.4 . Specimens used for testing water absorption and compressive strength with the size of 20 cm x 10 cm x 6 cm . The results showed the positive effect of increased substitution of stone dust and decrease the compressive strength of paving blocks water absorption . Optimal composition of the substitution 75 % stone dust and 25 % tuff sand produce an average compressive strength of 308.359 kg / cm ² and water absorption of 13.88 % .
75188448H1F008068GEOLOGI DAERAH TAMBAKSERANG DAN SEKITARNYA SERTA STUDI LINGKUNGAN PENGENDAPAN FORMASI PEMALI JALUR SUNGAI CIRAJA DESA CIOMAS KECAMATAN BANTARKAWUNG KABUPATEN BREBES JAWA TENGAHSARI
Secara geografis daerah penelitian berada pada 07°13’0”-7°18’0’’LS dan 108°50’0”- 108°55’0”BT yang meliputi Kecamatan Bantarkawung, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Formasi Pemali menarik untuk diteliti karena hasil penelitian terbaru yang dilakukan oleh Lunt dkk. (2008) menunjukkan umur yang jauh lebih muda yaitu Miosen Akhir – Pliosen (sebelumnya adalah Oligosen – Miosen Awal). Para peneliti terdahulu beranggapan bahwa Formasi Pemali yang diyakini sebagai batuan sumber ditinjau dari sistem hidrokarbon di sekitar wilayah Jawa Tengah berumur jauh lebih tua, yaitu Oligosen Akhir – Miosen Awal. Penelitian ini bertujuan untuk mengklarifikasi umur Formasi Pemali yang tersebar di daerah penelitian berdasarkan Peta Geologi Lembar Majenang yang dibuat oleh Kastowo (1975), serta mempelajari lingkungan pengendapan unit batuan ini. Formasi Pemali di daerah penelitian didominasi oleh material sedimen klastik halus yang diendapkan dengan mekanisme arus turbidit pada kipas bawah laut bagian bawah (lower fan). Litologi Formasi Pemali di daerah penelitian terdiri dari litologi napal lempungan dan batupasir kalkarenit. Analisis umur berdasarkan foraminifera planktonik dari Formasi Pemali di daerah penelitian yaitu berumur Miosen Akhir, sesuai dengan Sumarso dan Suparyono (1974) dan Casdira (2007), serta diperkirakan merupakan Formasi Pemali bagian atas. Hasil penentuan umur ini setara dengan penelitian Lunt dkk. (2008) yaitu berumur Miosen Akhir – Pliosen. Hasil penelitian penulis menunjukkan bahwa umur Formasi Pemali yang lebih muda dibandingkan dengan Formasi Halang. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kontak Formasi Pemali dan Formasi Halang dibawahnya adalah berangsur. Lingkungan pengendapan Formasi Pemali berupa bathial Atas (500-100 meter)
ABSTRACT

The study is geographically located on 07°13’0”-7°18’0’’ (Latitude) and 108°50’0”- 108°55’0” (longitude). Study area is inclusively located in Bantarkawung sub-district which belongs to Brebes District, Central Java. Pemali Formation is an interesting rock unit due to the latest of Lunt et al. (2008) that indicate more younger age of Late Miocene – Pliocene (the former age is Oligocene – early Miocene). Many previous authors mentioned that Pemali formation which believe as source rock based on petroleum system of central java has much older ages of late Oligocene – early Miocene. This study furthermore also to clarify the age of Pemali Formation distributed around geologic maps of Majenang, Central Java by Kastowo (1975). And to analyze paleodepositional environment of this rock unit. Pemali Formation distributed around research area dominated by fine clastic sediment deposited by turbidit current in the lower fan. Pemali Formation in this area content of clay marl and calcareous sandstone. Age analysis based on planktonic foraminifers of this rock unit is late Miocene, equivalent to the age analysis result of Sumarso and Suparyono (1974) also Casdira (2007), and estimated as Upper Pemali Formation. The age determination of this study almost correlable with Lunt et al. (2008) that signed late Miocene – Pliocene. Stratigraphic position analysis indicates Pemali Formation is younger Halang Formation. This research also demonstrate gradually contact of Pemali Formation into Halang Under. The Pemali Formation was sedimented in Upper Bathyal (500-1000 m).
751910349F1B010016IMPLEMENTASI PROGRAM ANTAR KERJA ANTAR DAERAH (AKAD)
DI KABUPATEN PURBALINGGA
Antar Kerja Antar Daerah (AKAD) merupakan salah satu program untuk mengatasi masalah pengangguran. Tujuan program ini adalah untuk mempertemukan pencari kerja yang memerlukan pekerjaan dengan perusahaan pemberi kerja yang membutuhkan tenaga kerja. Dengan adanya program ini diharapkan dapat membantu masyarakat Purbalingga untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih layak.
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui dan mendeskripsikan bagaimana proses Implementasi program AKAD di Kabupaten Purbalingga. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif, dengan teknik pemilihan informan purposive sampling dan snowball sampling. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Metode analisis yang digunakan adalah model analisis interaktif menurut Milles dan Huberman dan keabsahan data diuji dengan triangulasi sumber.
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa implementasi program AKAD di Kabupaten Purbalingga dapat dikatakan cukup. Hal ini dapat dilihat dari empat aspek, yaitu yang pertama adalah aspek pembentukan organisasi baru atau staf pelaksana. Untuk pelaksanaan AKAD di Dinsosnakertrans Purbalingga tidak memiliki organisasi khusus atau staf khusus. Hal ini dikarenakan kurangnya SDM dan dirasa masih belum dibutuhkan. Aspek kedua yaitu Penjabaran tujuan ke dalam aturan pelaksana (SOP) menunjukan hampir semua prosedur dilaksanakan dengan baik. Kekurangan pada aspek ini adalah dinas tidak mensosialisasikan program ini secara maksimal, sehingga pendaftar program AKAD hanya sedikit. Aspek ketiga yaitu koordinasi berbagai sumber yang menunjukan bahwa jalinan komunikasi antara pihak dinas dengan pihak perusahaan terjalin cukup baik karena selama ini yang terjadi jarang terjadi kesalahpahaman. Aspek keempat yaitu Pengalokasian sumber-sumber untuk mencapai tujuan. Dari aspek ini menunjukan alokasi SDM dan anggaran untuk program ini sangat terbatas. Faktor yang paling mendukung adalah jalinan komunikasi yang baik antara semua pihak. Sedangkan faktor penghambatnya adalah sedikitnya lowongan pekerjaan yang ditawarkan oleh perusahaan.
Inter-working between regions program (AKAD) is one program to relieve unemployment. The purpose of this program is to unite jobseekers with companies who need workers. With this program expected to help society of Purbalingga to get a more decent job.
The aim of the study is to examine and describe how the process of implementation AKAD program in Purbalingga. The method used is descriptive qualitative method, the informant selection techniques purposive sampling and snowball sampling. Data collection in this study using the technique of in-depth interviews, observation and documentation. The analytical method used is interactive model according to Milles and Huberman and validity of the data was tested by triangulation.
The research concluded that the implementation of the program in Purbalingga AKAD can be said enough. It can be seen from four aspects: the first is the aspect of the formation of a new organization or special staff. For the implementation in Dinsosnakertrans Purbalingga, AKAD not have a special organization or special staff. This is due to the lack of human resources and it is still not necessary. The second aspect is elaboration goals into the implementing rules (SOP) showed that almost all procedures are properly implemented. Deficiencies on this aspect is dinsosnakertrans not to socialize the program to its full potential, so that only a few applicants AKAD. The third aspect is the coordination of a variety of sources that show that lines of communication between the departments with the company quite well established because there has been a misunderstanding that occurs rarely. The fourth aspect, namely allocation of resources to achieve goals. From this aspect shows the allocation of human resources and budget for these programs is very limited. The most supportive factor is the good communication between all parties. While inhibiting factor is the least jobs offered by the company.
752010840F1D008007Praktik Marketing Politik Dalam Pemenangan Pasangan Iing Syam Arifin – Jeje Wiradinata Pada Pemilihan Umum Kepala Daerah Tahun 2013 di Kabupaten CiamisMarketing politik adalah suatu cabang atau ranting ilmu sosial interdisipliner. Dengan adanya sebuah pemilihan kepala daerah dan banyaknya persaingan antar kandidat kepala daerah khususnya di Kabupaten Ciamis, maka masing-masing kandidat akan mencoba bersaing untuk mempengaruhi para pemilih. Semakin berkembangnya aktivitas marketing membuat kandungan informasi yang disampaikan kepada masyarakat juga semakin besar. Melalui praktik marketing politik pemilih dapat merasa yakin bahwa kandidat kepala daerah yang akan dipilih benar-benar berkualitas dan mampu meyuarakan aspirasinya. Tujuan penelitian ini adalah adalah untuk mengetahui dan memahami sejauh mana praktik marketing politik yang dilakukan oleh pasangan Iing Syam Arifin-Jeje Wiradinata pada pemilihan umum kepala daerah tahun 2013 di kabupaten ciamis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus dan teknik pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling dan snowball sampling. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara mendalam dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian ini yaitu Marketing politik yang dilakukan oleh pasangan Iing Syam Arifin- Jeje Wiradinata pada Pemilihan Umum Kepala Daerah tahun 2013 di Kabupaten Ciamis menerapkan 4Ps bauran marketing, yaitu: 1) Produk (product), 2) Promosi (promotion) 3) Harga (Price), 4) Penempatan (place). Guna mendukung pelaksanaan marketing politik, pasangan Iing Syam Arifin- Jeje Wiradinata yang didukung penuh oleh partai-partai politik pengusungnya menerapkan segmentasi dan positioning dengan tepat, dan menggunakan strategi dengan pendekatan bauran trade offf yaitu mobilizing dan chasing. Political marketing is a branch or branches of social science interdisciplinary. With the existence of a number of local elections and competition among candidates for regional head especially in ciamis districts, then each candidate will try to compete to influence voters. The continued development of marketing activities make the content of the information submitted to the community is also getting bigger. Through the practice of political marketing voters can feel confident that the candidate to be elected head of the region actually qualified and capable voting with their aspirations. The purpose of this study is to know and understanding insofar which politics marketing practice that did by Iing Syam Arifin- Jeje Wiradinata spouse on a head region general election Year 2013 at Ciamis Regency. This study used a qualitative method with a case study approach and selection techniques informants using purposive sampling and snowball sampling. Data collection techniques in this study using the technique of in-depth interviews and documentation. Data were analyzed using interactive model Miles and Huberman. The result of this research is politics Marketing that did by Iing Syam Arifin Jeje Wiradinata on a head region general election year 2013 at Ciamis Regency that applies 4Ps marketing hotchpotch, which is: 1) Product, 2) Promotion 3) Price, 4) Place. To advocate marketing politics performing, Iing Syam Arifin Jeje Wiradinata spouse is supported full by political parties that carry them, they apply segmentations and positioning on appropriate, and strategy with hotchpotch trade off approaching which is mobilizing and chasing.