Artikelilmiahs
Menampilkan 7.421-7.440 dari 48.889 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 7421 | 8394 | P2EA12030 | UPAYA BADAN NARKOTIKA NASIONAL DALAM PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYALAHGUNAAN VARIASI TANAMAN DAN ZAT YANG MENGANDUNG EFEK NARKOTIKA (Studi di Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia) | Penelitian ini berjudul “Upaya Badan Narkotika Nasional dalam Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan Variasi Tanaman dan Zat yang Mengandung Efek Narkotika (Studi di Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia)”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya dan kendala-kendala Badan Narkotika Nasional (BNN) Republik Indonesia dalam pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan variasi tanaman dan zat yang mengandung efek narkotika. Metode Penelitian dalam penelitian tesis ini menggunakan pendekatan Yuridis Sosiologis, disamping itu juga dengan pendekatan deskriptif yaitu menggambarkan upaya dan kendala yang dihadapi Badan Narkotika Nasional dalam pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan variasi tanaman dan zat yang mengandung efek narkotika Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan terhadap pokok permasalahan yang diajukan dalam penelitian tesis ini, maka dapat disimpulkan bahwa Upaya Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia dalam pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan variasi tanaman dan zat yang mengandung efek narkotika dapat diwujudkan dalam bentuk: Upaya Pre-emtif, Preventif dan Represif. Upaya Pre-Emtif dilakukan dengan tahapan pencegahan primer yang bersifat moralistik dengan penyuluhan tatap muka, penyuluhan tidak langsung (media cetak dan media elektronik). Upaya preventif dilakukan dengan tahapan pencegahan sekunder dan pencegahan tersier melalui kegiatan konseling, bimbingan sosial, penerangan pendidikan, pengembangan ketrampilan bekerja dan melakukan pengawasan sosial. Represif yaitu upaya dilakukan pada saat telah terjadi tindak pidana atau kejahatan yang tindakannya berupa penegakan hukum. Upaya yang dilakukan yaitu melakukan penyelidikan dan penyidikan tindak pidana. Kendala-kendala yang dihadapi Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia antara lain: Faktor hukumnya yaitu ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai tanaman dan zat baru yang mengandung efek narkotika belum diatur dalam Golongan I, Golongan II dan Golongan III pada Lampiran I Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika maka BNN memiliki kewenangan diskresi melalui tindakan penafsiran atau interpretasi ekstensif dengan melakukan uji laboratorium (21 jenis tanaman dan zat) sehingga menetapkan temuan tersebut ke dalam golongan yang terlampir dalam Undang-Undang tersebut; Faktor dari masyarakat yaitu kurangnya kesadaran dan peran serta masyarakat untuk bersama-sama melakukan upaya pencegahan dan pemberantasan terhadap adanya penyalahgunaan variasi tanaman serta zat yang mengandung efek narkotika; Faktor dari budaya yaitu kuatnya nilai-nilai dan sikap-sikap yang tertanam dalam diri masyarakat yaitu lebih mementingkan kepentingan pribadi (keuntungan pribadi saja) dari pada kepentingan umum. | NINING YURISTA PRAWITASARI, Legal Studies Program, Graduate Program, University of Jenderal Soedirman, Counselors Commission: Chairman of Commission is Dr. Noor Aziz Said S.H.,M.S, Member of Commission is Dr. Setya Wahyudi, S.H., M.H. This research entitled The Effort of The National Narcotics Board in Preventing and Eradicating of Plantation Variety and Substance Abuse which Contain Narcotics Effect (Case Study at The National Narcotics Board Republic Indonesia). This research purposes to know the effort and problems that is faced by The National Narcotics Board Republic Indonesia in preventing and eradicating plantation variety and substance abuse which contain narcotics effect. The Methodology of this research use qualitative method with Social Legal Approach. Research plans are observation and documentation. Research specification is descriptive and Research Location in The National Narcotics Board at Jakarta. Based on the result and discussion of those research questions of this research therefore, it can be concluded that effort of The National Narcotics Board in preventing and eradicating of plantation variety and substance abuse which contain narcotics effect can be embodied into premier, secondary, and tertiary prevention. The Effort of The National Narcotics Board in eradicating of plantation variety and substance abuse which contain narcotics effect can be embodied into investigation of truth report of plantation variety and substance abuse which contain narcotics effect; Interrogating suspect person who is suspected to conduct it; Summoning the person for giving testimony as the witness; Conducting espionage related to substance abuse after the existence of early enough evidence; Conducting urine test, blood test, hair test, DNA test and other part of bodies test; taking finger print and taking a picture of the suspect person; Checking every stuff and other tool which is suspected and related to the substance abuse; Sealing the evidence and conducting laboratory test to the sample and evidence to the substance abuse; Destroying plantation variety and substance abuse which contain narcotics effect like discovering twenty one new various plantation and substance; Conducting coordination with the related institution in medical and social rehabilitation. The problems that are faced by The National Narcotics Board Republic Indonesia in preventing and eradicating the plantation variety and substance abuse which contain narcotics effect such as law factor, society factor and cultural factor. The law factor is clause of regulation which regulate about the existence of plantation and new substance that contains narcotic effect which is not regulate yet in narcotic group I,II,III in the first appendix of the Regulation Number 35/2009 about narcotics. Therefore, The National Narcotics Board uses interpretation of law. The society factor is like lack of awareness and society role to do together the prevention and eradication to the plantation variety and substance abuse which contain narcotics effect; The cultural factor is like strong of values and society behaviors which prefer to personal business than community business | |
| 7422 | 10962 | G1D011028 | PENGARUH TERAPI MUSIK DAN NAFAS DALAM UNTUK MENURUNKAN NYERI ANAK DENGAN KANKER | Latar Belakang: Kanker dapat menyerang semua kelompok usia termasuk pada usia anak. Pasien kanker sebagian besar melaporkan tingkat nyeri pada skala berat sehingga untuk mengatasinya diberikan terapi farmakologi berupa obat analgesik. Disamping pemberian obat analgesik tersebut, diperlukan metode non farmakologi seperti terapi musik dan terapi relaksasi nafas dalam untuk mempercepat penurunan nyeri. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perbedaan skor nyeri anak dengan penyakit kanker pada kelompok terapi musik dan kelompok terapi relaksasi nafas dalam. Metode: Penelitian ini menggunakan quasi eksperimental dengan rancangan two group pretest-posttest design. Pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling dalam periode 30 Oktober 2014-2 Januari 2015 di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo memperoleh 10 anak yang terdiri dari lima anak kelompok terapi musik dan lima anak kelompok terapi relaksasi nafas dalam. Instrumen penelitian ini menggunakan face pain rating scale. Analisa data menggunakan uji statistik t test dependent, Wilcoxon, t test independent. Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan antara skor nyeri sebelum dan setelah diberikan terapi musik dengan nilai p = 0,005 (p < 0,05). Terdapat perbedaan yang signifikan antara skor nyeri sebelum dan setelah diberikan terapi relaksasi nafas dalam dengan nilai p = 0,025 (p < 0,05). Kedua terapi ini berpengaruh dalam menurunkan skor nyeri. Namun, tidak ada perbedaan skor nyeri antara kelompok terapi musik dan kelompok terapi relaksasi nafas dalam dengan nilai p = 0,471 (p > 0,05). Kesimpulan: Terapi musik dan terapi relaksasi nafas dalam mempunyai pengaruh yang sama dalam menurunkan skor nyeri ringan sampai sedang pada anak dengan kanker. | Background: Cancer may attack all range of age including children. Most of cancer patients report pain level at severe pain. Pharmacological therapy of analgesic medicine was given to overcome. Moreover, non pharmacological therapies such as music therapy and deep breathing relaxation therapy also considered to accelerate pain reduction. Objective: The purpose of this research was to identify the differences level of pain of children with cancer in music therapy group and deep breathing relaxation therapy group. Methods: This study is quasi experimental design with two group pretest-posttest design. Sampling method used is consecutive sampling on October 30, 2015 until January 2, 2015 at RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo involving 10 children that consist of five children in music therapy group and the other five children in deep breathng relaxation therapy group. Research instrument used face pain rating scale. Statistical data analysis used are dependent t test, Wilcoxon, independent t test. Results: There are differences between the pain level before and after music therapy with p value = 0.005 (p <0.05). There are differences between the pain level before and after the deep breathing relaxation therapy with p value = 0.025 (p <0.05). Both of these therapeutic effect in lowering the pain level. However, there is no difference in pain level between music therapy group and deep breathing relaxation therapy group with p value = 0.471 (p> 0.05). Conclusion: Both music and deep breathing relaxation therapy are have the similar effect in reducing pain level at mild pain to moderate pain in children with cancer. | |
| 7423 | 8396 | H1F008050 | GEOLOGI DAN STUDI ALTERASI DAERAH MANDIRANCAN DAN SEKITARNYA KECAMATAN PATIKRAJA KABUPATEN BANYUMAS JAWA TENGAH | Daerah penelitian terletak di wilayah Mandirancan dan sekitarnya, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, itu didominasi oleh breksi andesit perselingan lava andesit dan sisipan batupasir, batupasir, dan aluvial.Breksi andesit dan batupasir; telah mengalami altersasi dan mineralisasi .Fisiografi daerah penelitian masuk dalam Pegunungan Serayu Selatan. Berdasarkan kondisi di lapangan batu beberapa sampel yang telah dikumpulkan, umumnya telah mengalami altersai. Zonasi alterasi di daerah penelitian terdiri dari klorit-epidot-kalsit-kuarsa; klorit-montmorillonit-kuarsa-karbonat; kuarsa-halloysit-illite. Berdasarkan mineral-mineral yang terdapat di ketiga zona tersebut didapatkan temperatur50ºc - 300ºc; dengan ph basa-netral. Dapat disimpulkan daerah penelitian mengalami mineralisasi dengan tipe epitermal | The study area is located in Mandirancan and surrounding area, Banyumas Regency, Central Java, it is dominated by andesite breccias interlude lava andesite and insertion sandstone, sandstone, and alluvial. Andesite breccias and sandstone; which have undergone mineralization and hydrothermal alteration. Fisiography of the study area is part of Southern Mountain of Serayu. Based on the field observation of some rock samples which have collected from surface area, the study area generally had undergone alteration and mineralization. Alteration zone in the study area have contains of chlorite-epidote-calcite-quartz; chlorite-montmorillonite-quartz-carbonate;quartz-halloysite-illite. Based on mineral assemblages have occured on third zone of hydrothermal alteration in the study area was occured within temperatures about 50oC - 300oC; with pH neutral to basa. So that the study area have undergone alteration and mineralization more than one time with mineralization type epithermal. | |
| 7424 | 10331 | B1J010011 | EFEK PERBEDAAN LEVEL PEMBERIAN PAKAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN SINTASAN LOBSTER AIR TAWAR (Cherax quadricarinatus) YANG DIPELIHARA DENGAN PAKAN DASAR Tubifex sp. | Pakan merupakan hal yang sangat penting untuk kelangsungan hidup lobster air tawar terutama pada tahap pendederan. Pemberian pakan yang terlalu banyak ataupun sedikit akan mempengaruhi pertumbuhan dan sintasan lobster air tawar. Oleh karena itu, perlu adanya upaya mengetahui level pakan yang sesuai untuk meningkatkan pertumbuhan dan sintasan lobster air tawar. Pakan yang digunakan pada penelitian ini adalah pelet udang D1 dan Tubifex sp. yang digunakan sebagai pakan dasar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan efek pada pertumbuhan dan sintasan lobster air tawar (Cherax quadricarinatus) yang diberi pakan pelet dengan level berbeda dan dipelihara dengan pakan dasar Tubifex sp. dan mengetahui pertumbuhan dan sintasan terbaik serta mendapatkan ukuran benih yang relatif seragam pada lobster air tawar (C. quadricarinatus) yang diberi pakan pelet dengan level berbeda dan dipelihara dengan pakan dasar Tubifex sp. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental. Perlakuan yang dicoba adalah pemberian pakan buatan berupa pelet udang (D1) dengan level berbeda, yaitu 0%, 2%, 4%, dan 6% dari berat tubuh dan pakan alami berupa Tubifex yang diberikan 10% dari berat tubuh sejak awal penelitian hingga selesai. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali sehingga didapat 16 unit percobaan yang disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL). Variabel bebas yang diamati adalah level pemberian pakan. Variabel tergantung yang diamati adalah sintasan dan frekuensi ganti kulit. Parameter utama yang diukur adalah pertumbuhan relatif, laju konsumsi pakan, pertumbuhan panjang mutlak, dan laju pertumbuhan spesifik (SGR). Parameter pendukung yang diamati yaitu temperatur, pH, O2 terlarut, dan CO2 bebas. Data kemudian dianalisis secara statistik menggunakan uji F jika terdapat perbedaa yang nyata dilanjutkan dengan uji BNT untuk mengetahui beda nyata terkecil. Hasil penelitian berdasarkan analisis ragam pemberian pakan dengan berbagai level berpengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan spesifik (SGR), pertumbuhan relatif, frekuensi ganti kulit, dan laju konsumsi pakan, sedangkan pada sintasan dan panjang mutlak tidak berbeda nyata. Pemberian pelet dengan level 4% merupakan jumlah yang baik untuk meningkatkan pertumbuhan lobster air tawar dan level 2% dapat menghasilkan benih yang relatif seragam. | The feed is very important for the survival of freshwater crayfish, especially at nursery stage. Feeding too much or little will affect the growth and survival rate of freshwater crayfish. Therefore, efforts are needed to determine the appropriate level of feed to promote growth and survival rate of freshwater crayfish. Feed used in this study is the shrimp pellets D1 and Tubifex sp. are used as basic feed. The purpose of this study was to determine differences in the effects on growth and survival rate of freshwater crayfish (Cherax quadricarinatus) are fed pellets with different levels and maintained the basic feed Tubifex sp. and determine the best growth and survival as well as get a relatively uniform seed size on freshwater crayfish (C. quadricarinatus) are fed pellets with different levels and maintained the basic feed Tubifex sp. This research was conducted with the experimental method. The treatments tested were made in the form of pellets feeding shrimp (D1) at different levels, that is 0%, 2%, 4%, and 6% of body weight and natural food in the form of Tubifex sp. given 10% of the body weight from baseline to completion . Each treatment was repeated 4 times in order to get 16 experimental units were arranged in a completely randomized design (CRD). The independent variable is the level observed feeding. Dependent variable is the observed survival rate and frequency of molting. The main parameters are measured relative growth, the rate of feed intake, the absolute growth length, and specific growth rate (SGR). Supporting parameters observed that is temperature, pH, dissolved O2, and CO2-free. Data were statistically analyzed using the F test if a significant differences followed by LSD test to determine the least significant difference. The results based on the analysis of variance feeding with various levels significantly affect the specific growth rate (SGR), relative growth, the frequency of molting, and the rate of feed intake, whereas the survival rate and the absolute length were not significantly different. Giving pellets with the level of 4% is a good number to increase the growth of freshwater crayfish and level 2% can produce seeds that are relatively uniform. | |
| 7425 | 10332 | B1J010099 | KEANEKARAGAMAN VEGETASI MANGROVE DAN PERUBAHAN MUKA LAUT HOLOSEN DENGAN BUKTI PALINOMORF DI BAGIAN HILIR SUNGAI BENGAWAN, CILACAP, JAWA TENGAH | Bukti palinomorf berupa polen dan spora tumbuhan, baik yang ada sekarang maupun yang telah mati dan terendapkan dalam sedimen dapat digunakan sebagai sumber data dan bahan untuk merekontruksi vegetasi maupun bentang alam suatu daerah. Polen yang terendapkan merupakan salah satu kunci utama dari informasi perubahan muka laut masa lalu. Beberapa informasi yang dapat diinterpretasi dari studi mikrofosil adalah perubahan muka laut masa lampau yang diketahui dari dinamika bentang alam vegetasinya. Analisis polen dan spora secara vertikal terhadap urutan lapisan sedimen merupakan cara untuk menelusuri sejarah flora dan vegetasi serta perubahan yang terjadi selama proses sedimentasi berlangsung. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui keanekaragaman tumbuhan penyusun hutan mangrove dengan bukti palinomorf di bagian hilir Sungai Bengawan, Cilacap, Jawa Tengah dan mengetahui perubahan muka laut pada masa holosen dengan bukti palinomorf di bagian hilir Sungai Bengawan, Cilacap, Jawa Tengah. Objek yang diteliti adalah sampel fosil polen yang diambil dari lokasi penelitian. Metode yang digunakan yaitu menggunakan metode survei dengan pengambilan sampel secara stratified sampling. Penelitian terdiri dari dua tahapan yaitu tahap penelitian lapangan dan tahap penelitian laboratorium. Penelitian lapangan di bagian hilir Sungai Bengawan Kecamatan Karang Benda Kabupaten Cilacap meliputi, pengambilan sampel sedimen dan pencatatan data-data lingkungan sekitar. Tahapan penelitian laboratorium meliputi preparasi sampel sedimen, identifikasi dan klasifikasi fosil polen serta penghitungan fosil polen yang dituangkan dalam diagram polen dan diagram AP/NAP. Identifikasi polen menggunakan mikroskop binokuler perbesaran 400X. Data yang diperoleh di analisis dengan program Paleontological statistics (PAST ver 9,0) sedangkan untuk penyajian diagram fosil polen menggunakan program Excel dan Sigmaplot ver 11,0 Hasil yang diperoleh yaitu ditemukan (Palinomorf darat) sebanyak 40 taksa, 10 taksa teridentifikasi hingga ke tingkat famili, 21 taksa teridentifikasi hingga ke tingkat genus dan 9 taksa teridentifikasi hingga ke tingkat spesies. Kondisi muka laut saat itu terbagi kedalam 5 zona, zona I muka laut mengalami kenaikan (Transgresi), zona II muka laut mengalami penurunan (regresi) zona III muka laut mengalami kenaikan, zona IV muka laut mengalami penurunan zona V muka laut naik selanjutnya zona VI muka laut mengalami penurunan kembali. | Pollen and spore, the evidence of Palinomorf, whether the extinct or the precipitate one in sediment could be used as the data source and object to reconstruct vegetation or nature in a place. Precipitate pollen was one of the main keys of the past sea level change information. Some of those information which were collected from micro fossil study were the past sea level change that was known from the dynamics of its vegetation. The aim of this study was to know the plant diversity which made of mangrove forest with the evidence of Palinomorf in Bengawan River downstream, Cilacap, Central Java. The observed object was pollen fossil which was taken in the study location. This study used stratified sampling method. There were two phases in doing this study; phase of field study and laboratory study. The field study was conducted in Bengawan River downstream at Karang Benda district of Cilacap Regency which comprises sediment sampling and surrounding environment data recording. Whilst the laboratoty study comprises sediment sampling preparation, identification, and classification of pollen fossil, and its counting also. Those were used in pollen diagram and AP/NAP diagram. The result showed that there were 40 equivocals founded in land Palinomorf, Sea level conditions when it is divided into 5 zones. | |
| 7426 | 10333 | F1F009045 | Exploring English Utterances Used By Pedicab Drivers in Malioboro Street Yogyakarta. (Syntactical Approach) | Peneliti bertujuan untuk memperoleh struktur sintak dari ujaran pengendara becak, kemudian memperoleh arti atau maksud dari ujaran yang digunakan pengendara becak serta mendapatkan karakteristik dari ujaran pengendara becak di jalan malioboro Yogyakarta. Data dari penelitian ini merupakan ujaran dari 20 pengendara becak di jalan Malioboro Yogyakarta yang berperan sebagai responden. Kemudian data init dianalisis menggunakan metode deskriptif kualitatif. Setelah melakukan analisis, peneliti menemukan 91 jumlah data. Data ini terdiri dari 54 kalimat dan klausa, 31 frase dan 6 kata tunggal. Peneliti menemukan 5 makna ujaran yang diidentifikasi dari ujaran pengendara becak. Makna tersebut adalah makna descriptive, makna emotive, makna persuasive, makna directive dan makna interrogative. Peneliti menemukan 6 karakteristik dari ujaran pengendara becak dijalan Malioboro. Disamping itu, peneliti juga menemukan penggunaan ujaran yg tidak sesuai dengan struktur grammar bahasa Inggris berdasarkan teori surface strategy taxonomies dalam ujaran yang digunakan oleh pengendara becak. Jenis tersebut antara lain adalah Omission dan Misformation. | The research is aimed at finding out syntactical structure, meaning of utterances and characteristic of utterances used by pedicab driver in Malioboro Street Yogyakarta. Data of this research are pedicab driver’s utterances which are taken from 20 pedicab drivers as respondents. Then, data are analyzed the data using descriptive qualitative technique method. After conducting the analysis, the researcher found 91 data utterances. Based on syntactical structures, the data consist of 54 sentences or clauses, 31 phrases, and 6 single words. The researcher found out 5 types of meaning which are identified based on pedicab driver’s utterances. The contextual meanings found are descriptive, emotive, persuasive, directive, and interrogative. The researcher also found 6 characteristic of utterances used pedicab drivers in Malioboro Street. In addition, the researcher also found utterances that improper in English structure grammatical based on surface strategy taxonomies theory. They are omission and misformation. Keyword: pedicab drivers, syntactical structures, surface strategy taxonomies, contextual meaning. | |
| 7427 | 10963 | B1J010002 | ANALISIS FENETIK JAMBU SEMARANG [Syzygium samarangense (Blume) Merr. & L. M. Perry] BERDASARKAN KARAKTER ANATOMI DAUN | Penelitian ini berjudul “Analisis Fenetik Jambu Semarang [Syzygium Samarangense (Blume) Merr. & L. M. Perry] Berdasarkan Karakter Anatomi Daun” Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui karakter anatomi daun beberapa jambu semarang dan mengetahui hubungan kemiripan jambu semarang berdasarkan struktur anatomi daunnya. Pengambilan sampel dengan menggunakan metode acak terpilih. Metode pembuatan preparat anatomi daun S. samarangense menggunakan metode parafin, pewarnaan dengan safranin 1%. Parameter yang diukur meliputi tebal epidermis (atas dan bawah), tebal palisade, ukuran palisade (panjang dan lebar), tebal kutikula, jumlah stomata per satuan luas daun, ukuran stomata (panjang dan lebar), tipe dan letak sel stomata. Data karakter anatomi daun S. samarangense dianalisis secara deskriptif, untuk mengetahui hubungan kemiripan S. samarangense digunakan metode UPGMA dengan software MEGA 5.0. Hasil yang diperoleh dari penelitian di daerah Purwokerto dan sekitarnya didapatkan delapan kultivar S. samarangense yaitu S. samarangense ‘Buah Pink’, ‘Hijau Bulat’, ‘Unsoed’, ‘Merah Lebar', ‘Kaget Merah’, ‘Camplong Putih’, ‘Irung Petruk’ dan ‘Lilin Merah’. Kedelapan kultivar S. samarangense ini mempunyai perbedaan karakter anatomi daun pada jumlah dan ukuran yang terdiri dari epidermis, kutikula, palisade, dan memiliki stomata tipe parasitik. Selain itu kedelapan kultivar S. samarangense memiliki kelenjar minyak dan beberapa kultivar memiliki kristal oksalat yang terdapat pada jaringan palisade daun. Hubungan kemiripan fenetik terdekat yaitu antara S. samarangense ‘Camplong Putih’ dan S. samarangense ‘Irung Petruk’ dengan tingkat disimillaritas sebesar 23%. Sedangkan hubungan kemiripan terjauh yaitu antara S. samarangense ‘Unsoed’ dan S. samarangense ‘Irung Petruk’ dengan tingkat disimillaritas sebesar 63%. | A study, entitled “Analysis Fenetik of Jambu Semarang [Syzygium samarangense (Blume) Merr. & LM Perry] Based on Characteristics of Leaf Anatomy”. The purpose of this study were to determine the characteristics of leaf anatomy and to determine the relationship of Syzygium samarangense based on the similarity of leaf anatomical structure. Samples were collected using a purposive random sampling. The method for slide preparation of S. samarangense leaf anatomical characters was a paraffin method, staining with safranin 1%. Observation parameters include the epidermis thickness (top and bottom), the thickness and size (length and width) of palisade, cuticle thickness, number and size (length and width) of stomata, the type and position of stomata cell. Data anatomical characteristics of leaf anatomy from S. samarangense was analyzed descriptively, to determine the similarity relationship of S. samarangense used the UPGMA method with software MEGA 5.0. The results obtained from this study in Purwokerto and the surrounding area show that there were eight cultivars S. samarangense namely S. samarangense ‘Buah Pink’, ‘Hijau Bulat’, ‘Unsoed’, ‘Merah Lebar’, ‘Kaget Merah’, ‘Camplong Putih’, ‘Irung Petruk’ dan ‘Lilin Merah’. Eighth cultivars of S. samarangense has a different leaf anatomical characters on the number and size consisting of the epidermis, cuticle, palisade, and has a stomata type of parasitic. Additionally eight cultivars of S. samarangense have oil glands and some cultivars have oxalate crystals contained in the palisade tissue. The closest of fenetik relationship were between S. samarangense ‘Camplong Putih’ and S. samarangense ‘Irung Petruk’ with the dissimilaritas index of 23%. While the farthest similarities relationship were between S.samarangense ‘Unsoed’ and S. samarangense ‘Irung Petruk’ with the dissimilaritas index of 63%. | |
| 7428 | 8397 | F1D007069 | RESTRUKTURISASI BIROKRASI DALAM PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH TAHUN 2010 (Sebuah Penelitian Deskriptif Kualitatif di Kabupaten Cilacap Provinsi Jawa Tengah) | Penelitian ini membahas tentang “Restrukturisasi Birokrasi Dalam Pelaksanaan Otonomi Daerah Di Kabupaten Cilacap tahun 2010”. Pelaksanaan otonomi yang sudah berjalan, selain menumpahkan berbagai harapan akan tumbuhnya demokratisasi dan meningkatnya kesejahteraan serta mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana tahap awal restrukturisasi birokrasi di Kabupaten Cilacap dan mengetahui faktor-faktor apa saja yang mendukung dan menghambat restrukturisasi birokrasi di Kabupaten Cilacap. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui Bagaimana restrukturisasi birokrasi dalam pelaksanaan otonomi daerah di Kabupaten Cilacap pada tahun 2010 dan mengetahui faktor-faktor apa saja yang mendukung dan menghambat restrukturisasi birokrasi di Kabupaten Cilacap pada tahun 2010. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Tahap awal restrukturisasi di Kabupaten Cilacap dimulai sejak Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah, kemudian muncul Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 menggantikan Peraturan Pemerintahan Nomor 8 tahun. Setelah diterbitkannya Peraturan Pemerintah No.41 tahun 2007 tentang organisasi perangkat daerah Kabupaten Cilacap sudah melakukan restrukturisasi organisasi perangkat daerah sebanyak 2 (dua) kali. Pada tahun 2010 telah diterbitkan 5 Peraturan Daerah tentang SOTK yaitu No.12 tentang organisasi dan tata kerja Sekertariat Daerah dan Sekertariat DPRD, No.13 tentang OTK(Organisasi dan Tata Kerja) Dinas Daerah, No.14 tentang OTK Lembaga Teknis Daerah dan Satpol PP, No.15 tentang OTK Kecamatan dan Kelurahan, dan No.16 tentang OTK Lembaga lain. Dalam restrukturisasi organisasi daerah di Kabupaten Cilacap sudah bisa dikatakan efektif dan efisien, hal ini bisa dilihat dari SOTK baru di jajaran Setda terdiri dari, Sekretaris Daerah, 5 Staf Ahli Bupati dan 3 Asisten, SOTK Dinas Daerah Kabupaten Cilacap, yang semula 15 dinas menjadi 13 dinas, sementara Lembaga Teknis Daerah (Lemtekda) yang semula 15 menjadi 11, lembaga lain 3 lembaga menjadi 2 lembaga Tetapi dalam proses penempatan jabatan masih sangat diragukan karena masih ada terjadi pola pendistribusian dengan sistem kedekatan keluarga atau kekerabatan dan pertimbangan politik. Dalam restrukturisasi organisasi ada beberapa faktor pendukung diantaranya adalah Kemampuan keuangan daerah, Potensi unggulan pemerintah daerah, Letak geografis dan Jumlah penduduk, dan Kemampuan Sumber daya manusia. Faktor penghambat antara lain: masih adanya regulasi Pemerintah Pusat yang bersifat sektoral dan tumpang tindih dengan regulasi lainya dan Terjadinya duplikasi tugas dan fungsi serta tarik menarik kewenangan beberapa unit organisasi sebagai akibat pengembangan terhadap beberapa fungsi perangkat daerah | This study discusses“Restructuring the Bureaucracy In Regional Autonomy in Cilacap district 2010”. Implementation of autonomy isalready running, in addition to shedding the expectations of growing democratization and increased welfare and service closer to the community . This study aims to determine how the initial stages of restructuring the bureaucracy in Cilacap and determine any factors that support and hinder the restructuring of the bureaucracy in Cilacap. This study used a qualitative research method using a case study approach the goal of the research is to know how the restructuring of the bureaucracy in the implementation of regional autonomy in Cilacap Regency in 2010 and find out what are the factors that support and hinder the restructuring of the bureaucracy in Cilacapdistrict in 2010. From this study it can be concluded that the initial phase of restructuring began in Cilacap Act No.32of 2004 on Regional Government, then comes the Government Regulation No.41 of 2007 replaces Government Regulation No. 8 yearsAfter the issuance of Government Regulation No.41 of 2007 concerning the organization of Cilacap area already restructured the organization of area 2 (two) times. In 2010 was published 5 Regulation on SOTK is No.12 on the organization and functioning of the Regional Secretariat and the Secretariat of Parliament, No.13 OTK (Organisasi dan Tata Kerja) Regional Office, No.14 about OTK Technical Institute and municipal police, No.15 of OTK District and Sub-District, and No.16 on OTK other institutions . In the area of organizational restructuring in Cilacap District was able to be effective and efficient, it can be seen in the ranks of the new SOTK Regional Secretariat consists of, Regional Secretary, 5 and 3 Regent Expert Staff Assistant , Office SOTK Cilacap District, the original 15 departments into 13 service, while the Regional Technical Institute ( Lemtekda) which was originally 15 to 11, the other three institutions into two positions, but in the placement process is still very much in doubt because there is still going on with the distribution pattern of family closeness or kinship system and political considerations, In the restructuring of the organization there are several contributing factors including the ability of local finance,local government seed potential, Geographic location and number of inhabitants, and the ability of human resources. Inhibiting factors, among othersthe persistence of the regulation of the Central Government or sectors and overlap with other regulations and the occurrence of duplication of tasks and functions and authority of the pull of some organizational units as a result of the development of the several functions of the device area. | |
| 7429 | 8398 | F1A006029 | PERSEPAI MASYARAKAT KEJAWEN TERHADAP AJARAN ISLAM DI KABUPATEN BANYUMAS (Studi tentang Islam dalam Perspektif Penganut Kejawen di Kabupaten Banyumas | Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk melihat persepsi masyarakat Kejawen terhadap ajaran Islam di Kabupaten Banyumas. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian adalah wilayah Kabupaten Banyumas. Sasaran penelitian yang dituju adalah warga penganut Kejawen. Teknik pemilihan informan yang diterapkan adalah teknik purposive sampling. Ternik analisis data yang digunakan adalah analisis interaktif Miles dan Huberman (1992). Dari hasil penelitian ini dikerucutkan menjadi tiga pokok bahasan utama yaitu; 1) Kejawen dalam pandangan penganut ajarannya, 2) Islam dalam pandangan masyarakat penganut ajaran Kejawen, 3) Survivalitas penganut ajaran Kejawen terhadap penilaian negatif umat agama lain. Dapat diambil kesimpulan bahwa agama atau sistem religi merupakan bagian dari kehidupan sosial-kultural. Kejawen sebagai salah satu ajaran warisan nenek moyang Nusantara adalah sebagai wujud bahwa masyarakat Jawa khususnya di Kabupaten Banyumas telah mengenal sebuah sistem kepercayaan jauh sebelum agama Islam masuk dan berkembang di dalam masyarakat Indonesia. Islam sebagai agama pendatang di Jawa dinilai naïf, karena banyak penganutnya yang tidak paham tentang Islam, dan banyak tindakan yang sesuai dengan ajaranya. Kejawen bertahan dengan adanya tradisi dan budaya yang tetap bertahan di tengah masyarakat khususnya di Kabupaten Banyumas Berdasarkan kesimpulan tersebut dapat disarankan bahwa ajaran nenek moyang merupakan warisan yang sudah sepantasnya dijaga dan dilestarikan. Sudah menjadi kewajiban kita untuk saling menghargai dan menjaga. Siapapun orangnya, dari manapun asalnya, dan apapun ajarannya mereka harus saling menghormati untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang sejahtera. | Abstract Research is aimed to see people Kejawen perception of the teaching of Islam in the county of Banyumas. The research method used is descriptive qualitative. Location of Banyumas Regency are areas of research. The intended research target is a citizen of the Kejawen. Selection of informants technique applied is purposive sampling technique. Technique analysis of data that is used is the interactive analysis, Miles and Huberman (1992). The result of this research pursed into three main subjects of major namely; 1 ) Kejawen in view, an adherent of his teachings 2 ) of Islam in view of society an adherent of the teachings of Kejawen, 3 ) survivalitas an adherent of the teachings of Kejawen against negative opinion people from other religions. Can be taken in the conclusion that the religion or system religious is a part of life sosial-kultural. Kejawen as one of the teachings of the inheritance from fathers Nusantara is as a form of that society Java especially in the county of Banyumas have known a system of beliefs long before the religion of Islam in and develops inside Indonesian society. Islam as religion alien in java is considered naive, because wide following do not understand of Islam, and many actions appropriate with his lesson. Kejawen persist with the tradition and culture that remain at central public especially in thousand Banyumas. Based on the conclusion can be advised that precept ancestors was an inheritance which is appropriately guarded preserved. Has become the responsibility of us for mutual esteem and keeping. The one, anyone anywhere his home and whatever his lesson they must respect each other to create order prosperous society. | |
| 7430 | 8399 | G1F010051 | Evaluasi Penggunaan Albumin pada Pasien Sirosis Hati di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto | Sirosis hati merupakan penyakit protein katabolik yang berhubungan dengan penurunan konsentrasi albumin. Salah satu tatalaksana yang dipakai saat terjadi penurunan kadar albumin adalah transfusi albumin. Evaluasi penggunaan albumin penting dilakukan agar efektifitas klinis bisa diperoleh pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi penggunaan albumin pada pasien sirosis hati di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto berdasarkan kriteria yang dibuat peneliti meliputi indikasi, indikator proses, komplikasi, dan penilaian outcome. Kriteria dibuat berdasarkan literatur ilmiah yang relevan. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif berdasarkan teknik total sampling menggunakan data rekam medik pasien sirosis hati selama bulan Januari-Desember 2013. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan membandingkan antara data dan kriteria yang telah dibuat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 30 pasien sirosis hati yang menggunakan albumin. Kesesuaian indikasi terjadi pada 60,71% pasien. Kecepatan transfusi albumin melebihi kecepatan maksimal untuk semua pasien. Kesesuaian dosis terjadi pada 22,22% pasien. Kontraindikasi penggunaan albumin terjadi pada 23,33% pasien. Monitoring yang dilakukan setelah penggunaan albumin meliputi tekanan darah, nadi dan respiratory rate (80%), suhu (76,67%), prothrombin time dan activated partial prothrombin time (3,33%), hematokrit (43,33%), albumin (73,33%), serta BUN dan SCr (3,33%). Komplikasi yang muncul meliputi penurunan tekanan darah (58,33%), peningkatan nadi (37,5%), peningkatan respiratory rate (29,17%), demam (13,33%), dan sakit kepala (13,33%). Pencapaian nilai outcome terjadi pada 20,83% pasien. | Liver cirrhosis is a catabolic protein disease with associated with a decrease in albumin concentration. Albumin transfusion that used as an option in the treatment of decrease in albumin concentration. Evaluate the use of albumin is important that clinical effectiveness can be obtained by the patient. The purpose of this study to evaluate the use of albumin in liver cirrhosis patients at RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto based on criteria include the indications, process indicators, complications, and outcomes measure. The criteria are based on relevant scientific literature. Data collection was performed retrospectively based on total sampling technique using medical records of liver cirrhosis patients during January-December 2013. Descriptive data were analyzed by comparing between the data and the criteria that have been made . The results showed that there were 30 liver cirrhosis patients using albumin. Indication reability occurs in 60,71% patients. Albumin transfusion speed exceeds the maximum speed for all patients. Dose reability occurred in 22,22% patients. Contraindications occurred in 23,33% patients. Monitoring is carried out after the use of albumin includes blood pressure, pulse and respiratory rate (80%), temperature (76,67%), prothrombin time and activated partial prothrombin time (3,33%), hematocrit (43,33%), albumin (73,33%), as well as BUN and SCr (3,33%). Complications that appear include a decrease in blood pressure (58,33%), increase in pulse rate (37,5%), increase in RR (29,17%), fever (13,33%), and headache (13,33%). Achievement of outcome values occurred in 20,83% patients. | |
| 7431 | 8402 | G1G009010 | PERBANDINGAN KARAKTERISTIK MORFOLOGI DAN SIFAT MEKANIK NANOKOMPOSIT KAOLIN-APATIT-ZIRKONIA DENGAN POLYMETHYL METHACRYLATE (PMMA) PADA VARIASI KONSENTRASI KITOSAN UNTUK APLIKASI PASAK GIGI | Pasak adalah suatu batang yang biasanya terbuat dari logam yang dimasukkan ke dalam saluran akar yang berfungsi sebagai tempat melekatkan mahkota tiruan dan penguat struktur koronal gigi yang telah dilakukan preparasi. Harga pasak di pasaran cukup mahal, salah satunya dengan cara memanfaatkan kekayaan alam Indonesia untuk material Kedokteran Gigi. Material yang dapat dimanfaatkan ialah kaolin, apatit, zirkonia, dan kitosan. Bahan tersebut memiliki sifat yang biokompatibel, bioaktif, sifat mekanik yang cukup baik, tidak beracun, dapat disintesis dan diimplankan kedalam tubuh manusia. Dalam penelitian ini, peneliti mencoba untuk mensintesis material pasak gigi dari bahan kaolin- apatit-zirkonia dengan polymethyl methacrylate (PMMA) pada variasi konsentrasi kitosan 2%, 4%, dan 6% diharapkan mempunyai struktur morfologi yang bagus dan sifat mekanik mendekati struktur gigi, khususnya dentin. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental laboratoris murni dengan membagi kelompok sampel menjadi 3, yaitu kelompok sampel A dengan kitosan 2%, sampel B dengan kitosan 4%, dan sampel C dengan kitosan 6%. Hasil penelitian menunjukkan karakterisasi morfologi memiliki permukaan yang kurang halus, distribusi filler yang tidak merata, dan tidak terdapat interface atau celah. Nilai rata-rata kekerasan sampel A adalah 25,45 VHN, sampel B adalah 18,55 VHN, dan sampel C adalah 18 VHN. Nilai rata-rata modulus elastisitas sampel A adalah 2747,7 Mpa, sampel B adalah 2482,0 Mpa, dan sampel C adalah 2216,6 Mpa. Nilai tersebut belum mencapai nilai kekerasan dan modulus elastisitas dentin, sehingga perlu memodifikasi konsentrasi kitosan yang lebih baik dengan komposisi yang berbeda. | Dental post is a post or pin that usually made from metal and fitted into a prepared root canal that have a function to investing a cast crown and also improving the structure of a prepared coronal section of teeth. Price of dental post on the market is quite expensive. This problem can be solved with using the natural resources of Indonesia for using as a material in dentistry. The natural resources that can use are kaolin, apatite, zirkonia, dan chitosan. Those material have some good characteristic, including biocompatible, bioactive, good mechanical characteristic, have no toxicity, can be synthetized and implaned into a body of human. In this research, researcher was trying to synthesis kaolin-apatite-zirkonia and polymethyl methacrylate (PMMA) with 2%, 4%, dan 6% variances of chitosan consentration. Those variances of chitosan consentration are expected could make this material of dental post have a good morphology structure and a mechanical characteristics that similar with tooth structure, especially dentine. This purely experimental laboratory were having a 3 groups of sample, they’re sample A with 2% of chitosan, sample B with 4% of chitosan, and sample C with 6% of chitosan. The result of this study after morphology characterization were there’re not enough smooth surface of material, unevenly distribution of filler and there’re no interface or spaces. An average hardness value’s of sample A was 25,45 VHN, sample B was 18,55 VHN, and sample C was 18 VHN. An average modulus of elasticity for sample A was 2747,7 Mpa, sample B was 2482,0 Mpa, and sample C was 2216,6 Mpa. Those values not yet reach a hardness and modulus of elasticity of human dentine, so a better consentration of chitosan in this experiment are need to be done by modify them with a different composition. | |
| 7432 | 12392 | F1B011044 | Efektivitas Program Adiwiyata di SMP Negeri 9 Purwokerto | Program Adiwiyata adalah salah satu strategi pemberian pendidikan lingkungan yang dilakukan pemerintah dengan maksud agar tercipta sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan. Pelaksanaan Program Adiwiyata diharapkan dapat menciptakan kondisi yang baik bagi sekolah untuk menjadi tempat pembelajaran dan penyadaran warga sekolah, sehingga di kemudian hari warga sekolah tersebut turut bertanggung jawab dalam upaya-upaya penyelamatan lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan. Penelitian tentang Efektivitas Program Adiwiyata ini bermaksud untuk mengetahui tingkat efektivitas Program Adiwiyata di SMP Negeri 9 Purwokerto ditinjau dari aspek tujuan Program Adiwiyata itu sendiri. Metode penelitian yang dipakai adalah kuantitatif deskriptif. Sasaran pada penelitian ini adalah siswa-siswi di SMP Negeri 9 Purwokerto. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat efektivitas Program Adiwiyata di SMPN 9 Purwokerto secara keseluruhan tergolong sangat efektif dengan indeks rasio efektivitas sebesar 89,6%. Dari keempat dimensi, urutan pertama atau dimensi yang memiliki nilai paling tinggi adalah pengelolaan sarana pendukung ramah lingkungan dengan indeks rasio efektivitas sebesar 92,5%, urutan kedua diperoleh pada dimensi kebijakan berwawasan lingkungan dengan indeks rasio efektivitas sebesar 90,2%, urutan ketiga diperoleh pada dimensi kurikulum berbasis lingkungan dengan indeks rasio efektivitas sebesar 85,8% dan urutan terakhir atau dimensi yang memperoleh nilai paling rendah adalah kegiatan lingkungan berbasis partisipatif dengan indeks rasio efektivitas sebesar 83,9%. | Adiwiyata program is one of the strategies to provide environmental education by the government with the intention to create a school that cares and cultured environment. Adiwiyata expected to create good conditions for schools to be a place of learning and awareness of the school community, so that in the future the school community share the responsibility in the efforts to save the environment and sustainable development. Research on the effectiveness of this Adiwiyata program intended to determine the level of effectiveness of the program in SMP Negeri 9 Purwokerto review of aspects of the destination Adiwiyata program itself. The research method used is descriptive quantitative. The targets in this study were students at SMPN 9 Purwokerto. Data collected through questionnaires, interviews and documentation. The results showed that the level of effectiveness Adiwiyata Program at SMPN 9 Purwokerto overall as very effective with index-effectiveness ratio of 89.6%. From the fourth dimension, or the dimensions of the first order that has the highest value is the management of environmentally friendly means of support to index-effectiveness ratio of 92.5%, the second order is obtained on the dimensions of environmental policy with index-effectiveness ratio amounted to 90.2%, the third order obtained the dimensions of environment-based curriculum with an index-effectiveness ratios of 85.8% and a final order or dimensions to obtain the lowest value is based participatory environmental activities with index-effectiveness ratio amounted to 83.9%. | |
| 7433 | 10334 | F1B009096 | ANALISIS PROSES PENETAPAN UPAH MINIMUM KABUPATEN (UMK) DI KABUPATEN BANYUMAS | Tujuan penelitian ini adalah mengetahui proses penetapan upah minimum yang mampu mewujudkan Kebutuhan Hidup Layak (KHL) di kabupaten Banyumas. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Dewan Pengupahan Kabupaten Banyumas sudah menjalankan fungsinya dengan baik dalam merumuskan kebijakan Upah Minimum Kabupaten (UMK) melalui penetapan nilai Kebutuhan Hidup Layak (KHL) berdasarkan hasil survey harga pasar sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan mekanisme formulasi kebijakan penetapan Upah Minimum Kabupaten (UMK) di Kabupaten Banyumas sudah sesuai dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia No. 13 Tahun 2012 dan penetapan Upah Minimum Kabupaten (UMK) di Kabupaten Banyumas tahun 2013 belum mampu mewujudkan kebutuhan hidup layak, karena besaran UMK belum 100% sama dengan nilai KHL. | The purpose of this study was to determine the minimum wage that is able to realize the Living Needs (KHL) in Banyumas district. The sampling technique used purposive sampling. The results of this study indicate that Banyumas councils already run its function well, in formulating district policies Minimum Wage (UMK), through the determination of the value of Living Needs (KHL), according to the survey market price, in accordance with the legislation in force , the determination of policy formulation mechanism District Minimum Wage (UMK) in Banyumas, are in accordance with the Regulation of the Minister of Manpower and Transmigration of the Republic of Indonesia No. 13 in 2012, and the determination of Minimum Wages District (UMK) in Banyumas in 2013, has not been able to realize the need for decent living, because the amount of MSE is not 100% the same as the value of the KHL. | |
| 7434 | 12654 | F1C008006 | Pornografi dalam Komik (Analisis isi Pornografi dalam Komik Jepang Berjudul Air Gear) | Penelitian yang berjudul “Pornografi dalam Komik (Analisis Isi Pornografi dalam Komik Jepang Berjudul Air Gear)”ini, bertujuan untuk mengetahui berapa gambar yang mengandung unsur pornografi dalam komik Air Gear. Meskipun sudah banyak yang diberi label sesuai kategori usia, namun tak ada undang-undang yang mengatur peredaran dan sensorship komik-komik Jepang yang beredar di Indonesia saat ini. Sistem kontrol masyarakat pun tidak ada, anak-anak SD dapat membelinya atau menyewanya di rental-rental komik dengan bebas. Si penjual, orang tua dan pemerintah tak mau peduli, dan yang paling parah adalah masih adanya anggapan bahwa komik untuk anak-anak. Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Untuk mengumpulkan data digunakan teknik pendokumentasian dan pencatatan. Data penelitian ini adalah tuturan-tuturan tabu bersifat pornografis yang terdapat dalam komik Air Gear volume 1 – 37. Hasil penelitian menunjukkan jenis citraan pornografi yang terdapat dalam komik ini diklasifikasikan dalan enam jenis yaitu: persenggamaan, aktivitas seksual, ketelanjangan, alat kelamin, pornografi anak dan kekerasan seksual. Seperti aksi-aksi dari peran atau tokoh yang terdapat dalam komik tersebut yang masih pelajar SMP tetapi pikiran atau tindak perilakunya itu sudah bukan atau sikap seorang pelajar SMP, melainkan sudah dalam kategori dewasa yang melakukan tindakan yang tidak senonoh. Baik dari tokoh utama maupun tokoh-tokoh tambahan yang berperilaku dewasa tapi belum tepat pada umurnya. | Title of the study is "Pornography in Comics (Content Analysis Pornography in Japanese comics Titled Air Gear)". To determine how many images are pornographic in Air Gear. While much was labeled by category of age, but there is no legislation governing the distribution and censorship Japanese comics that circulated in Indonesia today. Community control system did not exist, elementary school children can buy or rent it at the rental comics freely. The seller, parents and the government did not want to care, and the worst is still the perception that comics are for kids. This study used qualitative research methods. Used to collect data documenting and recording techniques. This research data are contained in Air Gear volume 1-37. The results showed the type of pornographic in this comic classified on six types: sexuality, sexual activity, nudity, genitals, child pornography and sexual violence. Like the actions of a role or a character contained in the comics are still junior high school students but thoughts or acts or behavior that's not the attitude of a junior high school student, but already in the category of adults who commit an indecent act. Both of the main character or characters that behave additional adult but not just in age. | |
| 7435 | 12671 | G1B011019 | PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN SAMPAH BERBASIS MASYARAKAT DI KELURAHAN GRENDENG | Pertumbuhan jumlah penduduk serta pergeseran gaya hidup di kalangan masyarakat modern akan terus meningkatkan mengakibatkan meningkatnya volume sampah yang dihasilkan, sehingga perlu dilakukan pengelolaan sampah untuk mengurangi dampak negatif sampah. Pengelolaan sampah tidak lepas dari dukungan partisipasi masyarakat. Oleh karena itu, perlu untuk melihat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kelurahan Grendeng. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kelurahan Grendeng. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Subyek penelitian diperoleh dengan menggunakan teknik purposive sampling yang terdiri dari 5 orang sebagai informan utama dan 3 orang sebagai informan pendukung. Cara pengumpulan data dengan wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa masyarakat sudah mengetahui mengenai pemilahan sampah, sikap yang mendukung adanya pengelolaan sampah dan memiliki motivasi, untuk melakukan pengelolaan sampah. Dampak yang dirasakan masyarakat Kelurahan Grendeng, meliputi dampak sosial, ekonomi, kesehatan maupun lingkungan, namun tidak ada sarana yang memadai dan pembinaan yang belum merata. Saran bagi Kelurahan Grendeng bekerja sama dengan pengurus dan pihak terkait pembinaan mengenai pengelolaan sampah berbasis masyarakat dan penyediaan sarana serta prasarana yang menunjang terlaksannya pengelolaan sampah berbasis masyarakat. | Population growth and lifestyle changes of modern society will continue to increase the rate of consumption and volumes of waste produced. To reduce the negative impact of the garbage, waste management can be done to provide benefits. Waste management can not be separated from society's participation. Therefore, it is necessary to see society’s participation in community-based waste management in Grendeng village. The purpose of this study is to describe people's participation in community-based waste management in Grendeng Village, in North Purwokerto District. The method used in this study is qualitative descriptive method. Subjects were obtained by using purposive sampling technique as many as 8 people consisted of 5 people as the main informants and 3 people as supporting informants. The data collected by interview, observation and documentation. The result indicates that public already knows about waste segregation, attitudes that support the waste management and motivation, to conduct waste management. The perceived impact Grendeng Village community, including the social, economic, health and the environment, but there is no adequate means and uneven development. It is can be suggested for society of Grendeng Village to cooperate with the board and relevant parties regarding to the development of community-based waste management and provision of facilities and infrastructure that support community-based waste management practices. | |
| 7436 | 8403 | F1D008039 | STRATEGI KOALISI PARTAI POLITIK PENDUKUNG PASANGAN RAHMAT EFFENDI DAN AHMAD SYAIKHU DALAM MEMENANGKAN PEMILIHAN KEPALA DAERAH KOTA BEKASI TAHUN 2012 | Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui tentang strategi koalisi partai politik pendukung pasangan Rahmat Effendi dan Ahmad Syaikhu dalam memenangkan pemilihan Kepala Tahun 2012. Penelitian ini bertujuan untuk : 1) Mengetahui dasar partai politik yang Daerah Kota Bekasi berbeda secara ideologi menjalin koalisi pada pemilukada Kota Bekasi tahun 2012; 2) Bagaimana tahap-tahap terjadinya koalisi antara partai Golkar, PKS, PKB dan Hanura sebagai partai pendukung pasangan calon Rahmat Effendi dan Ahmad Syaikhu pada Pemilukada Kota Bekasi tahun 2012; 3) Bagaimana bentuk-bentuk strategi koalisi partai politik dalam memenangkan pasangan Rahmat Effendi dan Ahmad Syaikhu pada Pemilukada Kota Bekasi tahun 2012. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan fenomenologi sebagai pendekatan penelitian. Dalam penelitian ini, peneliti menemukan bahwa ideologi partai politik tidak lagi menjadi sebuah dasar dalam membentuk koalisi, akan tetapi koalisi partai politik yang terbentuk untuk mendukung pasangan Rahmat Effendi dan Ahmad Syaikhu pada Pemilukada Kota Bekasi tahun 2012 lebih pada besarnya peluang menang dan adanya sebuah deal politik berupa cash money serta pembagian kekuasaan dalam birokrasi pemerintahan, namun di dalam perjalanannya terdapat kekecewaan partai Hanura dan PKB terhadap koalisi sehingga membuat kedua partai tersebut melakukan manuver politik dengan cara mengkritik kebijakan pemerintah layaknya partai oposisi. Dalam koalisi pendukung Rahmat Effendi dan Ahmad Syaikhu, partai Golkar selaku partai yang memiliki calon Incumbent menjadi inisiator dalam membentuk koalisi. Dalam hal ini Golkar pertama kali berusaha menggandeng PKS. Namun dalam perjalanan membentuk koalisi, partai Golkar lebih dulu sepakat berkoalisi dengan Hanura, PKB dan akhirnya PKS yang terakhir masuk dalam koalisi. Strategi koalisi partai politik merupakan salah satu cara guna mencapai target kemenangan dalam Pemilukada Kota Bekasi tahun 2012. Banyak cara yang dilakukan oleh partai koalisi salah satunya adalah dengan membentuk sekretariat bersama serta merangkul komunitas-komunitas yang ada di Kota Bekasi sebagai strategi partai koalisi guna memenangkan Pemilukada Kota Bekasi tahun 2012. Namun dalam prakteknya peneliti menemukan adanya bentuk money politic dan mobilisasi birokrasi dalam strategi pemenangan. Kata Kunci : Koalisi, Partai Politik, Pemilukada | The purpose of the research is to know about strategy coalition political party winning couples Rahmat Effendi And Ahmad Syaikhu in win election head 2012. The research aims to : 1) knowing basic political party regional bekasi city different in ideology pleach coalition election in bekasi city 2012; 2) how stages the coalition between party golkar, pks, pkb and hanura as party candidate couple Rahmat Effendi and Ahmad Syaikhu in bekasi city 2012; the regional head 3) how forms strategy coalition party political in pair won Rahmat Effendi and Ahmad Syaikhu election in bekasi city 2012. Mthods used in this research is method research qualitative with phenomenology as it approaches research. In this research, researchers found that political ideology partyno longer be a base in forming coalition but political party coalition formed to support the Rahmat Effendi and Ahmad Syaikhu regional head bekasi city in 2012 and more in magnitude winning chances of a deal of cash money and political the power sharing goverment, in bureaucracy but in his disappointment party guiler hanura and pkb againts coalition that make both parties is committng political maneuvers by means of opposition parties criticise government policy. In coalition advocates Ramat Effendi and Ahmad Syaikhu, golkar party as having a candidate incumbent be an initiator of in forming coalition. In this golkar first trying to collaborate with pks. But in travel form the coalition, the council first agreed the coalition hanura with pkb and finally pks the latter enters in coalition. Strategy coalition political party is one way to achieve the election victory in bekasi city 2012. Many ways done by party coalition one is by forming secretariat together and embracing communities are in town bekasi as strategy party coalition to win election bekasi city 2012. While in practice researchers find any form money politic and mobilizations and bureaucracy in strategy winning. Keyword : Coalition, Political Party, Local Election | |
| 7437 | 8400 | F1B008057 | PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI DESA (STUDI DI DESA MELUNG KECAMATAN KEDUNGBANTENG KABUPATEN BANYUMAS) | Pemerintah Desa Melung di Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas ikut serta aktif dalam penerpan e-government melalui sistem informasi desa yang saat ini telah dalam proses perkembangan. Hal tersebut seperti yang tertuang dalam Inpres nomor 3 tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan e-governmet. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan bagaimana perkembangan Sistem Informasi Desa Melung. Teori yang digunakan adalah pendekatan metode siklus hidup pengembangan sistem atau System Development Life Cycle (SDLC). Metode penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif. Pemilihan informan adalah key person dengan cara purposive dan dilanjutkan menggunakan snowball. Instrument penelitian yang digunakan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Untuk teknik analisis data menggunakan model analisis interaktif menurut Miles dan Huberman. Perkembangan sistem informasi Desa Melung selama ini sudah berjalan dengan baik karena banyak manfaat yang diperoleh. Sejauh ini pengembangan SID Melung tidak terlepas dari permasalahan antara lain tidak dilibatkannya analis profesional dalam proses analisis sistem, belum optimalnya bantuan dari pemerintah dengan dukungan resmi untuk bekerjasama membangun desa, belum adanya SOP yang jelas untuk menjalankan sistem dan masih minimnya SDM. Harapan yang dikemukakan dari sistem ini pengembangan SID sebaiknya menempatkan SDM yang mampu menganalisis system dan harus dirumuskan dan di informasikan SOP yang permanen sebagai acuan bagi para pengguna. | Village Information System is one of recently growing e-government products as stated in President Institution no. 3, 2003 about National E-government Policy and Strategy Development. Melung village government staff in Kedungbanteng District Banyumas Regency actively take part in applying e-government through VIS which is now in development process. This research aims at knowing and describing how the Melung’s VIS development is. This research uses SDLC approach with qualitative descriptive method. The researcher chooses key person correspondent by purposive sampling continued with snowball. Instruments used in this research are interview, observation, and documentation. In data analyzing, the researcher uses interactive analysis model by Miles and Huberman. Melung’s VIS has been resulting several positive effects which are acquainting people to technology, promoting Melung Village worldwide, and increasing Melung’s economic sistem as the effect of its widening marketing area. While, the negative effects still exist in the Melung’s VIS development. Some of them arre support from the government to carry on the village has not optimized yet and the human resource has not fulfilled the need. So, there are expectances from this VIS: all Melung’s society, especially, can use and take benefit of this sistem, and in the other side they are expected to be in charge in developing this, so that it can optimized the benefits in several fields. | |
| 7438 | 8404 | G1A010100 | Hubungan Dimensi Kualitas Pelayanan Dengan Kepuasan Pasien Klinik Rawat Jalan SMF Kebidanan Dan Kandungan RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto | Latar Belakang. Rumah sakit yang bergerak dalam bidang jasa pelayanan, tidak hanya melayani orang sakit tetapi juga memperhatikan aspek kepuasan bagi pengguna jasanya. Kualitas pelayanan yang dihasilkan oleh sebuah rumah sakit akan membawa citra rumah sakit menjadi baik di mata pasiennya. Tujuan. Menganalisis hubungan dimensi mutu pelayanan yang terdiri atas keandalan, responsivitas, jaminan, empati dan wujud fisik dengan kepuasan pasien di klinik rawat jalan SMF kebidanan dan kandungan RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Metode Penelitian. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan desain cross sectional. Sampel penelitian ini adalah pasien klinik rawat jalan SMF Kebidanan dan Kandungan RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto periode 20 Februari 2014 – 26 Februari 2014 sebanyak 150 orang. Analisis data menggunakan uji korelasi pearson dan regresi linear berganda. Hasil. Ada hubungan kualitas pelayanan pada dimensi keandalan (reliability) (p = 0,002), responsivitas (responsiveness) (p = 0,000), jaminan (assurance) (p = 0,000), empati (empathy) (p = 0,001), wujud fisik (tangibles) (p = 0,001) dengan kepuasan pasien di klinik rawat jalan SMF kebidanan dan kandungan RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Kesimpulan. Daya tanggap merupakan variabel yang paling besar hubungannya dengan kepuasan pasien di klinik rawat jalan SMF kebidanan dan kandungan RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Kata Kunci: kualitas pelayanan, kepuasan pasien, klinik rawat jalan | Background. Hospitals engaged in services, not only serve the sick but also the aspect of user satisfaction for his services. Quality of service is generated by a hospital will bring the hospital into a good image in the patients perspective. Objective. Analyzing the relationship of service quality dimensions consisting of reliability, responsiveness, assurance, empathy and tangibility with patient satisfaction in outpatient clinics SMF of obstetrics and gynecology Professor Dr. Margono Soekarjo Purwokerto hospitals. Methods. This research is an observational analytic with cross-sectional design. The sample were patients in outpatient clinic SMF Obstetrics and Gynecology Prof Dr Margono Soekarjo Purwokerto Hospital period 20 February 2014 – 26 February 2014 as many as 150 people. Data analysis used pearson correlation test and multiple linear regression. Results. There was a corellation of service quality on the dimensions of reliability (p = 0.002), responsiveness (p = 0.000), assurance (p = 0.000), empathy (p = 0.001) , tangibles (p = 0.001 ) with patient satisfaction in outpatient clinics SMF of obstetrics and gynecology Professor Dr. Margono Soekarjo Purwokerto hospital. Conclusion. Responsiveness was the greatest variable relationship with patient satisfaction in outpatient clinics SMF of obstetrics and gynecology Professor Dr. Margono Soekarjo Purwokerto hospital. Keywords: service quality, patient satisfaction, outpatient clinics | |
| 7439 | 8405 | D1E009224 | DERAJAT KEASAMAN (pH) DAN DAYA IKAT AIR KARKAS AYAM PETELUR AFKIR YANG DISIMPAN PADA SUHU KAMAR DENGAN WAKTU BERBEDA SETELAH PERENDAMAN LARUTAN GARAM | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama penyimpanan karkas dengan variasi waktu dalam suhu kamar dan perendaman larutan garam 10% selama 2 menit terhadap pH dan daya ikat air. Penelitian dilaksanakan tanggal 7 sampai dengan 28 Desember 2013 di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Materi penelitian yang digunakan adalah 25 karkas ayam petelur afkir, 5 kg garam (NaCl), 20 ml buffer dan 50 liter air. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 5 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu Kontrol = tanpa perendaman larutan garam 10% , L1 = 3 jam setelah perendaman larutan garam 10% selama 2 menit, L2 = 6 jam setelah perendaman larutan garam 10% selama 2 menit, L3= 9 jam setelah perendaman larutan garam 10% selama 2 menit, L4= 12 jam setelah perendaman larutan garam 10% selama 2 menit. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis variansi kemudian dilanjutkan dengan Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa karkas ayam petelur afkir yang tidak direndam (kontrol) dan direndam larutan garam 10% selama 2 menit dengan lama waktu penyimpanan 3 jam, 6 jam, 9 jam dan 12 jam dalam suhu kamar tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pH dan daya ikat air. Disimpulkan bahwa karkas ayam petelur afkir yang disimpan dengan waktu yang berbeda pada suhu kamar setelah di rendam larutan garam 10% selama 2 menit menghasilkan nilai pH dan daya ikat air karkas daging ayam petelur afkir yang relatif sama. | This study aimed to find out the influences of storage time variations in room temperature and 10% salt solution immersion on pH and water holding capacity of chicken carcass. The experiment was carried out from December 7th to 28th, 2013 the Laboratory of Animal Products Technology, Faculty of Animal Science Jenderal Soedirman University, Purwokerto. The materials used were 25 carcasses of culled laying hens, 5 kg of salt (NaCl), 20 ml of buffer and 50 liters of water. The method used was an experimental method using a Completely Randomized Design (CRD) with 5 treatments and 5 replications. The treatment were Control = without soaking the salt solution 10%, L1 = 3 hours after soaking with 10% for 2 minute salt solution, L2 = 6 hours after soaking with 10% for 2 minute salt solution, L3 = 9 hours after soaking with 10% for 2 minute salt solution, L4 = 12 hours after soaking with 10% for 2 minute salt solution. The data were analyzed by analysis of variance followed by a Hanesty Signifinant (HSD). The results showed that the carcasses of culled laying hens thet were not soaked (control) and soaked in 10% salt solution with long storage time of 3 hours, 6 hours, 9 hours and 12 hours at room temperature gave significant effect on pH and water holding capacity. It was concluded that the carcasses of culled laying hens are kept in a different time at room temperature after soaking in saline solution 10% for 2 minute yield and the pH value of the water holding capacity of meat carcasses laying hens culled relatively the same. | |
| 7440 | 8406 | F1B007038 | IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENATAAN ANGKUTAN KOTA DI KOTA PURWOKERTO | Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pelaksanaan kebijakan penataan angkutan kota di Kota Purwokerto. Penelitian ini menggunakan faktor implementasi kebijakan yang dikemukakan oleh Edward III, yaitu: komunikasi, sumber daya, disposisi, struktur birokrasi untuk mengkaji pelaksanaan kebijakan. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode penelitian kualitatif deskriptif. Teknik pemilihan informan yang digunakan adalah purposive sampling, snowball sampling dan accidental sampling. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara, observasi, dokumentasi dan kuesioner. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisa data kualitatif dengan model analisis interaktif. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa implementasi kebijakan penataan angkutan kota di Kota Purwokerto berdasarkan faktor komunikasi, sumber daya, disposisi dan struktur birokrasi berjalan lancar, karena faktor yang mempengaruhi implementasi kebijakan telah dikelola dengan baik. Komunikasi dilakukan terhadap semua pihak yang memiliki keterlibatan. Sumber daya, baik kemampuan pelaksana sudah mampu melaksanakan dan memiliki pemahaman yang baik, dan dana serta sarana prasarana telah dialokasikan dan disediakan sesuai kemampuan anggaran dan ketersediaan fasilitas yang dimiliki. Pelaksana memiliki komitmen dan konsistensi melaksanakan kebijakan, kemudian diwujudkan dalam upaya dan kegiatan intensif. Struktur birokrasi Dinhubkominfo sudah mendukung pelaksanaan kegiatan. Penulis merekomendasikan dalam pelaksanaan kebijakan, dapat lebih memperhatikan dan mengakomodasi kepentingan pengemudi dan pelayanan yang diterima masyarakat sebagai pengguna jasa dalam setiap upaya dan kegiatan yang dilakukan. | The purpose of this research was to determine the policy implementation of arrangement city transport in Purwokerto City. This research uses factors in the policy implementation as proposed by George C. Edward III: communication, resources, disposition, and bureaucratic structures to assess the policy implementation. The method used in this research is descriptive qualitative research method. Informant selection techniques used purposive sampling, snowball sampling and accidental sampling. Data collection techniques include interviews, observation, documentation and questionnaires. The data analysis technique used in this study is qualitative data analysis with interactive model. The study concluded that the policy implementation of arrangement city transport in Purwokerto city based factors communications, resources, disposition and bureaucratic structure goes smoothly, because the factors that affect the implementation of the policy have been well managed. Communication has been made to all parties that have involvement. Resources, both executive ability have been able to carry out and have a good understanding and funding and infrastructure has been allocated and provided appropriate budgetary capabilities and availability of facilities owned. Implementor has a commitment and consistency to implement the policies, then realized in intensive efforts and activities. Dinhubkominfo bureaucratic structure supports the activities of implementation. The author recommends the policy implementation, to pay more attention and accommodate the interests of drivers and services received by the public as users of services in all efforts and activities undertaken. |