Artikelilmiahs
Menampilkan 7.461-7.480 dari 48.891 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 7461 | 13707 | B1J011048 | KELIMPAHAN DAN VARIASI MORFOMETRIK Trichodina sp. PADA BENIH IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy Lac.) DI KOLAM BUDIDAYA DESA BEJI KECAMATAN KEDUNGBANTENG BANYUMAS | Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas merupakan salah satu sentra pembenihan ikan gurami. Trichodina sp. merupakan salah satu parasit yang menginfeksi benih ikan gurami. Trichodina sp. ditemukan hampir di seluruh wilayah sentra benih ikan gurami dengan tingkat patogenisitas mencapai 80%. Benih pendederan I merupakan komponen yang rawan, karena rentan terinfeksi Trichodina sp. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kelimpahan dan morfometrik parasit Trichodina sp. yang menginfeksi benih ikan gurami pendederan I di Kolam Budidaya Desa Beji. Penelitian dilakukan dengan metode survei dengan teknik pengambilan sampel random sampling. Sampel benih ikan gurami diambil dari kolam budidaya benih ikan gurami pendederan I milik petani yang ada di Desa Beji. Sampling dilakukan sebanyak empat kali. Setiap sampling diambil 25 ekor sehingga total sampel sebanyak 100 ekor. Variabel penelitian adalah kelimpahan Trichodina sp. dengan parameter jumlah Trichodina sp. serta variabel morfometrik dengan parameter diameter tubuh, diameter cincin dentikel, diameter disc perekat, jumlah dentikel dan lebar membran Trichodina sp. Kelimpahan diperoleh dengan menghitung rataan jumlah individu Trichodina sp. dengan jumlah benih ikan yang terinfeksi. Karakteristik morfometrik Trichodina sp. dilakukan dengan teknik sampling dari setiap benih ikan terinfeksi. Data variasi morfometrik Trichodina sp. dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa seluruh benih ikan gurami yang diperiksa terinfeksi Trichodina sp. Jumlah Trichodina sp. yang ditemukan sebanyak 5794 individu dari benih ikan yang terinfeksi. Kelimpahan total Trichodina sp. pada benih ikan gurami sebesar 60,35 individu/ekor dan tergolong tinggi. Hasil pengukuran karakter morfologi Trichodina sp. menunjukkan adanya variasi morfometrik dengan diameter tubuh berkisar 60-102,5 µm; diameter cincin dentikel 22,5-52,5 µm; diameter disk perekat 40-62,5 µm; jumlah dentikel 20-26; lebar membran 2,5-7,5 µm. | The center one of Gurami fish hatchery is located on Kedungbanteng, Banyumas district, specially on Beji village. Trichodina sp. is a parasites that infecting the seed of gurami fish. The gurami hatchery I is vulnerable component, because it is infecting easily by Trichodina sp. The study purposes is for determine Trichodina sp. abundance and morphometric that is infecting the gurami hatchery I at pond cultivated in Beji village. This research method is using survey by random sampling. Reseach variable is Trichodina sp. abundance with number and morphometric parameter. That are body, denticle ring, and adhesive disc diameter, also number of denticle and width of Trichodina sp. membrane. Result of this reseach showed that all of gurami seed are infected by Trichodina sp. All of Trichodina sp. are found as many as 5794 individual from the gurami seed infected. The total abundance of Trichodina sp. from gurami seed for about 60,35 individual and it’s relative highly. Number of Trichodina sp. morphometric measurement show the morphometric variation in body diameter in range 60-102,5 μm; 22,5-52,5 μm denticle ring diameter, 40,62-62,5 μm adhesive disc diameter, 20-26 denticle calculating, 2,5-7,5 μm membran width. | |
| 7462 | 8390 | G1D010067 | ANALISIS KESIAPAN PERAWAT MENJADI ROLE MODEL DALAM KEGIATAN EARLY CLINICAL EXPOSURE DI RSUD AJIBARANG | Latar Belakang : Tugas pendidik klinik salah satunya adalah sebagai role model bagi mahasiswa maupun teman sejawat. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kesiapan perawat menjadi role model dalam kegiatan Early Clinical Exposure di RSUD Ajibarang. Metode : Sampel penelitian terdiri dari 53 perawat yang dilakukan dengan menggunakan teknik total sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner yang terdiri dari 38 item pertanyaan. Analisis data dilakukan dengan analisis Chi-Square. Hasil : Berdasarkan analisis data diperoleh hasil terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan perawat, pengalaman kerja perawat dan sarana prasarana rumah sakit terhadap kesiapan perawat menjadi role model dalam kegiatan Early Clinical Exposure di RSUD Ajibarang. Kesimpulan : Kesiapan perawat menjadi role model dalam kegiatan Early Clinical Exposure berkaitan dengan beberapa faktor, yakni pengetahuan perawat, pengalaman kerja perawat dan sarana prasarana rumah sakit. Kata kunci: Early Clinical Exposure, Pendidik Klinik, Role Model. | Background: The one of clinic educator tasks is as a role model for the students or colleague. Goal: This research is aimed for analyzing factors which are related to nurse readiness to be a role model in early clinical exposure activity in Ajibarang public hospital. Method: The research sample consisted of 53 nurses who carried out using total sampling technique. Research instrument used questionnaire which consists of 38 question items. The data analysis was done by Chi-Square analysis. Result: Based on the data analysis, there are significant relations between nursing knowledge, nursing work experience, and the hospital infrastructures to nurse readiness to be a role model in the early clinical exposure activity in Ajibarang public hospital. Conclusion: Nurse readiness to be a role model in the early clinical exposure activity was related to some factors, those are nursing knowledge, nursing work experience, and the hospital infrastructures. Keywords: Clinical Educator, Early Clinical Exposure, Role Model. | |
| 7463 | 8416 | G1F010039 | EFEK KOMBINASI EKSTRAK TEMULAWAK DAN JAHE TERHADAP KADAR ALT, AST DAN GAMBARAN HISTOPATOLOGI HATI TIKUS YANG DIINDUKSI DOKSORUBISIN | Doksorubisin merupakan salah satu agen kemoterapi yang efektif dengan efek samping hepatotoksisitas. Temulawak dan jahe masing-masing memiliki kandungan xanthorrhizol dan gingerol yang telah terbukti sebagai antioksidan yang dapat mencegah terjadinya efek hepatotoksik tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari kombinasi ekstrak temulawak dan jahe dalam menurunkan nilai AST dan ALT serta memperbaiki histopatologi hati tikus yang diinduksi doksorubisin. Penelitian ini termasuk eksperimental dengan rancangan acak lengkap. Tikus jantan galur Wistar sebanyak 35 ekor dibagi menjadi lima kelompok. Kelompok 1 diberi Na-CMC 1,5%; kelompok 2 diberi doksorubisin 2,5 mg/kg BB (i.p) setiap tiga hari sekali; kelompok 3 diberi doksorubisin + ekstrak temulawak dan jahe 250 mg/kgBB/hari (p.o); kelompok 4 diberi doksorubisin + ekstrak temulawak dan jahe 500 mg/kgBB/hari (p.o); dan kelompok 5 diberi doksorubisin + ekstrak temulawak dan jahe 750 mg/kgBB/hari (p.o) dengan perlakuan selama 16 hari. Pada hari ke-17 semua hewan diambil darahnya dan dikorbankan untuk diambil organ hati. Nilai ALT dan AST dievaluasi untuk melihat kerusakan sel hati yang akan diamati secara histopatologi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi ekstrak temulawak dan jahe dapat menurunkan nilai AST dan ALT namun tidak berbeda signifikan dengan kelompok yang diberi doksorubisin. Gambaran histopatologi dengan pewarnaan H&E menunjukkan bahwa organ hati mengalami kongesti berat pada pemberian doksorubisin saja dan terdapat perbaikan kerusakan organ hati berupa kongesti ringan dan hepatosit balloning pada kelompok yang diberikan kombinasi ekstrak temulawak dan jahe. Kombinasi ekstrak temulawak dan jahe tidak mampu mempertahankan nilai ALT dan AST pada tikus yang diinduksi doksorubisin. | Doksorubisin is an antibiotics of the anthracyclines which effective as chemotherapeutic agents. The side effects of using doksorubisin is hepatotoxicity. Temulawak and Jahe has a possible potent to prevent hepatotoxic as a result of used doxorubicin. This study aimed to observe the potential antioxidant effect of temulawak and jahe combination against doxorubicin–induced hepatotoxicity in rats based on ALT, AST, and histopathology of liver. 35 Wistar male rats were divided into five groups. Group 1 was given Na-CMC 1,5%; group 2 was given doxorubicin 2.5 mg/kg intraperitoneally once every three days; group 3 was given doxorubicin + combination of temulawak and jahe (Teja) 250 mg/kg/day orally; group 4 was given doxorubicin + Teja extract 500 mg/kg/day orally; and groups 5 was given doxorubicin + Teja extract 750 mg/kg/day orally. The treatment was given for 16 days. All the animals were sacrificed to take the liver organs and the blood on 17th day. The value of AST and ALT are evaluated to see the liver cells damage. The result of this study shows that doxorubicin caused elevation in serum ALT and AST enzymes and teja extracts can reduce the levels of AST and ALT. Histological examination indicates liver damage on doxorubicin administration only andthe lower liver damage on teja extract administration. This study confirmed that the combination of temulawak and jahe has not a protective effect in rats against liver damage induced by doxorubicin with indicated a decrease in the value of AST and ALT and in the liver damage. | |
| 7464 | 8415 | F1B008017 | EFEKTIVITAS PROGRAM DESA MANDIRI PANGAN TERHADAP PENINGKATAN PENDAPATAN MASYARAKAT DI DESA KARANGGINTUNG KECAMATAN KEMRANJEN KABUPATEN BANYUMAS | Program Desa Mandiri Pangan bertujuan untuk menanggulangi kerawanan pangan di wilayah yang berpotensi mengalami kerawanan pangan, salah satunya desa yang memiliki keluarga miskin diatas 30 persen. Program ini dilakukan dengan cara memandirikan masyarakat kurang mampu melalui pemberdayaan dengan memberikan bantuan berupa dana bergulir, sehingga dengan program tersebut masyarakat mampu membuka kegiatan usaha ekonomi produktif dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang dimiliki desa. Melalui kegiatan ekonomi tersebut masyarakat mampu menghasilkan pendapatan yang akhirnya dapat membantu mereka dalam mengakses pangan. Dalam proses pelaksanaannya, perlu adanya pengukuran tingkat efektivitas program sehinga dapat dilihat sejauh mana program tersebut dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Selain efektivitas program yang ingin diketahui, penelitian ini pun ingin mengetahui sejauh mana pengaruh yang diberikan dari efektivitas Program Demapan terhadap tingkat pendapatan masyarakat. Dalam penelitian ini yang menjadi dimensi tercapainya efektivitas program untuk mempengaruhi tingkat pendapatan masyarakat yaitu pencapaian tujuan, integrasi dan adaptasi. Kata kunci: efektivitas, karanggintung, peningkatan pendapatan , dan program desa mandiri pangan | Independent village food program aims to prevent the food unsafe in the area with that potential, one of them is a village where poor families are more than 30 percents. This program is done by making them stand alone and by giving donation regularly so they can do a productive business with the resources they have in the village. Through the business, they can earn money which helps them access the food. The effectiveness parameter is needed when running this program so they can observe how good it achieves the goal. Besides that, the research is to find out how the effectiveness program influences the society income level which its dimensions are the achievement of the goal, integration, and adaptation. Keywords: effectiveness, independendent village food programmer and, income risin, karanggintung | |
| 7465 | 8417 | B1J007139 | Studi Kekerabatan Fenetik Kepiting yang Tertangkap di Hutan Mangrove Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat | Kabupaten Bekasi terletak di tepi Pantai Utara Laut Jawa dan memiliki panjang pantai 37,829 km. Wilayah pesisir di Kapupaten Bekasi meliputi tiga kecamatan, yang meliputi kecamatan Muara Gembong dengan luas 122,90 km2 (12.290 Ha) atau 9,65% dari seluruh kabupaten, kecamatan Tarumajaya dengan luas 54,63 km2 atau 4,29% dari luas seluruh kabupaten dan kecamatan Babelan dengan luas 63,61 km2 (6.361 Ha) atau 4,99% dari seluruh luas kabupaten Bekasi. Salah satu sumberdaya hayati yang hidup di di kawasan pesisir Kabupaten Bekasi adalah kepiting. Selama ini informasi tentang kekayaan spesies dan kekerabatan kepiting pada lokasi tersebut belum banyak diinformasikan. Oleh karena itu telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui jenis kepiting yang tertangkap di hutan mangrove Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat dan mengetahui kekerabatan fenetiknya. Studi Kekerabatan dalam sistematik hewan dapat diartikan sebagai pola hubungan atau total kesamaan antara kelompok hewan berdasarkan sifat atau ciri tertentu dari masing-masing kelompok hewan tersebut. Metode yang digunakan adalah survei dan pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Group Random Sampling. Daerah sampling dibagi menjadi tiga lokasi dan pengambilan sampel dilakukan sebanyak 3 kali dengan selang waktu 1 minggu pada masing-masing lokasi penelitian. Data yang diperoleh dianalisis dengan program NTSys versi 2.02i untuk memperoleh fenogram kekerabatan. Hasil kepiting yang tertangkap di hutan mangrove Muara Gembong Kabupaten Bekasi, Jawa Barat berjumlah 11 individu dari 95 kepiting yang tertangkap di semua titik pengambilan sampel yang tergolong dalam sectio Brachyura, 4 famili, dan 7 genus. Kekerabatan fenetik terdekat antara S. serrata, S. paramamosain, S. olivaceae, dan S. transquebarica dengan nilai koefisien asosiasi sebesar 0,997, sedangkan kekerabatan fenetik terjauh adalah antara Perisesarma semperi-semperi (I) dan Parathelphusa convexa (K) dengan nilai koefisien asosiasi 0,44. | Indonesia is known as a country with high biodiversity which includes mangrove forests. There are 3 districts which are coastal areas in Bekasi, is detailed Muara Gembong, Tarumajaya and Babelan. One of the biological resources that live in the mangrove forest is the crab. The purpose of this study was conducted to determine the type of crab that was caught in the mangrove estuary, Bekasi, West Java and to know the fenethic of kinship on it. The method used was a survey and sampling was done by using Group Random Sampling, is divided into three locations. Sampling was done 3 times with an interval of one week at each study site. Data were analyzed with NTSYS program version 2.02i to obtain fenogram kinship. Crabs are caught in the area of mangrove forests in Muara Kingpin Bekasi, West Java, a total of 11 of 95 crabs were caught at all locations belonging to the Brachyura sectio, 4 families and 7 genera. Fenetik closest kinship between S. serrata, S. paramamosain, S. olivaceae, and S. transquebarica the association coefficient of 0.997, while the furthest fenetik kinship between the most distant is Perisesarma semperi-semperi with Parathelphusa convexa the association coefficient is 0.44. | |
| 7466 | 10342 | B1J009090 | IDENTIFIKASI JABON PUTIH [Neolamarckia cadamba (Roxb) Bosser] DAN JABON MERAH [Neolamarckia macrophyllus (Roxb) Bosser] MENGGUNAKAN PENANDA RAPD (Random Amplified Polymorphic DNA) | ABSTRACT Jabon (Neolamarckia sp.) consists of two species, namely White Jabon (Neolamarckia cadamba) and Red Jabon (Neolamarckia macrophylla). The purpose of this study was to determine primers that could be used in the analysis of jabon genetic diversity using RAPD, find jabon specific allele, determine the genetic diversity within and between Red and White Jabon populations. Leaf samples were taken from population of Red Jabon and population of White Jabon. Analysis of genetic diversity used 8 primers OPA 1, OPA 4, OPA 12, OPA 14, OPA 16, OPQ 14, OPQ 15 , and OPQ 16. Observed variables were the pattern and number of specific DNA fragments resulted from PCR amplification. Determination of selected primers was conducted descriptively based on the presence or absence of DNA bands in the agarose gel. The POPGENE 1.32. The results showed that of the 8 primers used to generate the RAPD profiles, there were three specific alleles in White Jabon and seven in Red Jabon. Population genetic diversity value of White Jabon was 0,21 and that of Red Jabon was 0,15. Genetic distance between White and Red Jabon was 0,49. | IDENTIFIKASI JABON PUTIH (Neolamarckia cadamba) DAN JABON MERAH (Neolamarckia macrophyllus) PENANDA RAPD MENGGUNAKAN (Random Amplified Polymorphic DNA) Sukenda, Alice Yuniaty, Pudji Widodo, ILG. Nurtjahjaningsih Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto Email : enda_aniz@yahoo.co.id ABSTRACT Jabon (Neolamarckia sp.) consists of two species, namely White Jabon (Neolamarckia cadamba) and Red Jabon (Neolamarckia macrophylla). The purpose of this study was to determine primers that could be used in the analysis of jabon genetic diversity using RAPD, find jabon specific allele, determine the genetic diversity within and between Red and White Jabon populations. Leaf samples were taken from population of Red Jabon and population of White Jabon. Analysis of genetic diversity used 8 primers OPA 1, OPA 4, OPA 12, OPA 14, OPA 16, OPQ 14, OPQ 15 , and OPQ 16. Observed variables were the pattern and number of specific DNA fragments resulted from PCR amplification. Determination of selected primers was conducted descriptively based on the presence or absence of DNA bands in the agarose gel. The POPGENE 1.32. The results showed that of the 8 primers used to generate the RAPD profiles, there were three specific alleles in White Jabon and seven in Red Jabon. Population genetic diversity value of White Jabon was 0,21 and that of Red Jabon was 0,15. Genetic distance between White and Red Jabon was 0,49. Keywords: Neolamarckia sp., specific allel, genetic diversity, RAPD markers, polymorphic. PENDAHULUAN Jabon (Neolamarckia sp.) termasuk famili Rubiaceae. Persebaran Jabon di Indonesia meliputi Sumatera, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Kalimantan Sealatan, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi, Maluku dan Papua (Soerianegara and Lemmens, 1994). Rosalia (2008) menyatakan bahwa pemanfaatan dan penebangan Jabon secara terus menerus akan menurunkan potensi Jabon dan habitatnya. Penurunan ini tidak hanya berpengaruh pada produktifitas Jabon saja, tetapi juga dapat mempengaruhi sumber genetiknya. Penurunan potensi sumber genetik Jabon memerlukan upaya pemuliaan guna menjaga dan memepertahankan sumber genetik yang masih tersisa. Lande dan Shannon (1996) dalam Rimbawanto et al. (2005) mengatakan bahwa besarnya keragaman genetik mencerminkan sumber genetik yang diperlukan untuk adaptasi ekologi dalam jangka pendek dan evolusi dalam jangka panjang. Analisis keragaman genetik, hubungan kekerabatan dan seleksi pada suatu populasi tanaman dapat dilakukan menggunakan penanda morfologi dengan menelaah langsung fenotipe. Penanda morfologi didasarkan pada pengamatan fenotipe yang mudah diamati. Penanda ini memiliki kelemahan antara lain penurunan sifat yang dominan atau resesif dipengaruhi oleh lingkungan dan mempunyai tingkat keragaman rendah (Transkley et al. 1989 cit. Kaidah dan Suprapto, 2003). Alternatif lain yang dikembangkan para ahli sejalan dengan kemajuan bidang molekuler, yaitu menggunakan penanda DNA. Penanda DNA RFLP, RAPD, AFLP, dan SSR (Kaidah dan Suprapto, 2003). Penelitian ini menggunakan Penanda RAPD. Penanda RAPD merupakan salah satu metode penanda genetik yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan penelitian pada tingkat molekuler. Analisis RAPD mempunyai banyak kelebihan dibandingkan dengan RFLP, antara lain lebih murah, regenerasi lebih cepat, membutuhkan DNA lebih sedikit, dan untuk analisa tidak perlu keahlian khusus. Namun demikian RAPD juga memiliki kekurangan yaitu, reproducsitibilitasnya rendah (Bustamam dan Moeljopawiro, 1993). Berdasarkan uraian diatas, permasalahan yang muncul adalah : Primer apa saja yang menghasilkan penanda RAPD dan memberikan pita polimorfik, alel apa saja yang spesifik, bagaimanakah keragaman genetik dalam dan antar populasi serta jarak genetik untuk populasi Jabon Putih dan Jabon Merah. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk : Menentukan primer RAPD yang cocok dan dapat digunakan untuk mempelajari keragaman, mendapatkan informasi tentang alel spesifik, mendapatkan informasi tentang keragaman genetik dalam dan antar jenis serta jarak genetik untuk populasi Jabon Putih dan Jabon Merah. Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai rekomendasi penggunaan primer yang cocok serta memberi informasi mengenai tingkat keragaman genetik dalam dan antar populasi, hubungan kekerabatan Jabon Putih dan Jabon Merah, serta dapat menjadi kajian bagi penelitian selanjutnya. METODE Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Genetika Molekuler, Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPBPTH), Purwobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan dari bulan April hingga Juni 2013. Sampel berupa daun Jabon Putih N. cadamba berasal dari kebun koleksi yang di tanam di Magelang, sedangkan Jabon Merah N. macrophyllus berasal dari kebun koleksi di persemaian (BBPBPTH). Aksesi jabon yang digunakan dalam penelitian ini adalah 9 sampel Jabon Putih dan 20 sampel Jabon Merah. Koleksi materi Jabon Putih berasal dari Sumatera Selatan sementara sampel Jabon Merah berasal dari Sulawesi Utara. Tahapan kerja yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi ekstraksi DNA, purifikasi DNA menggunakan Gene Clean III Kit (Q-bio), kuantifikasi DNA menggunakan Nano Vuo, amplifikasi DNA melalui PCR-RAPD menggunakan Applied Gene Amp PCR system 9700 dengan tahapan pre-heating selama 3 detik pada suhu 940C, lalu inkubasi selama 60 detik pada suhu 950C, kemudian diikuti dengan 45 siklus denaturasi selama 30 detik pada suhu 940C, annealing selama 30 detik pada suhu370C, dan extension selama 90 detik pada suhu 720C. Final extension dilakukan selama 5 menit pada suhu 720C, dan storage pada suhu 40C, hasil PCR dielektrophoresis menggunakan media agarose 1,2% pada tegangan 120 volt selama ± 3 jam. Hasil elektophoresis divisualisasi menggunakan UV (BIO-RADGel DocTM EQ). Ekstraksi DNA dilakukan berdasarkan metode CTAB menurut Doyle and Doyle (1990) yang kemudian dimodifikasi oleh Shiraishi and Watanabe (1995). Amplifikasi DNA dilakukan menggunakan primer RAPD (OPA1, OPA4, OPA12, OPA14, OPA16, OPQ14, OPQ15, dan OPQ16). Pita-pita hasil amplifikasi DNA diubah menjadi data biner berupa nilai, yaitu 1 apabila muncul pita dan 0 apabila tidak muncul pita. Ukuran molekul fragmen DNA ditentukan dengan DNA ladder 100 bp. Data dianalisis menggunakan program POPGENE 1. 32 (Yeh et al. 1999). Untuk menghitung nilai keragaman genetik dan jarak genetik. HASIL DAN PEMBAHASAN Isolasi DNA Metode ekstraksi DNA yang digunakan pada sampel Jabon Putih dan Jabon Merah adalah metode CTAB. Prinsip dasar metode ini adalah sifat kationik dari CTAB. komponen penyusun buffer, CTAB berfungsi untuk melarutkan membran sel tanaman sehingga terbentuk suatu komplek endapan dengan DNA. EDTA berfungsi mencegah aktivasi reaksi logam yang terkandung dalam materi sumber DNA. β-mercaptoetanolberfungsi menghambat kerja enzim polifenol oksidase, chloroform yang berfungsi untuk memisahkan kontaminan, isopropanol dan asetat untuk mengikat DNA (Milligan, 1992 ; Mathius et al. 1996 cit. Kaidah dan Suprapto, 2003). Konsentrasi DNA yang dihasilkan dari proses ekstraksi berkisar antara 4,2-49 ng/µl. lihat pada Tabel 4.1. Tabel 4.1. Hasil ekstraksi, purifikasi, dan dilusi sampel Jabon Putih dan Jabon Merah. Jenis tanaman dan populasi Hasil Crude DNA Hasil purifikasi Volume awal (µl) + dd H2O (µl) Konsentrasi (ng/ µl) Rasio (A260/A280) (µl) Jp4 sumbawa 4.9 2,513 53 250,88 Jp17 sumbawa 7.6 2,492 51 304,04 Jp16 sumbawa 9 2,338 55 343 Jp8 dompu 5.8 2,447 55 272,6 Jp18 dompu 6.2 2,431 55 281,4 Jp14 dompu 10.7 2,048 55 380,4 Jp12 sumsel 13.4 2,171 55 439,8 Jp14 semsel 4.2 2,306 55 273,4 Jp15-1 sumsel 21 2,029 55 607 Jp15-2 sumsel 17.5 2,201 55 530 Jp16 sumsel 25.5 1,954 55 706 Jp17 sumsel 34 1,478 53 867,8 Jp18-1 sumsel 29.5 1,821 55 794 Jp18-2 sumsel 22.5 1,875 55 640 Jp24 sumsel 46 1,769 55 1057 Jp33 sumsel 49 1,719 55 1223 Jm2 sulut 23.5 2,146 55 662 Jm3 sulut 11.9 1,927 53 399,28 Jm4 sulut 7 2,373 53 295,4 Jm6-1 sulut 7.7 2,250 53 310,24 Jm6-2 sulut 10.6 2,554 53 371,72 Jm7-1 sulut 18.5 2,372 53 539,2 Jm7-2 sulut 18 2,338 55 541 Jm8-1 sulut 6.5 2,481 53 284,8 Jm8-2 sulut 14.1 2,422 55 455,2 Jm9-1 sulut 11.3 2,506 51 379,54 Jm9-2 sulut 19 2,550 55 563 Jm10-1 sulut 17 2,237 55 519 Jm10-2 sulut 10.2 2,147 53 363,24 Jm12-1 sulut 20.5 2,228 55 596 Jm12-2 sulut 16.3 2,203 55 503,6 Jm13-1 sulut 17 2,112 55 519 Jm13-2 sulut 12.8 2,438 55 426,6 Jm14-1 sulut 8.2 1,755 53 320,84 Jm14-2 sulut 17.5 2,518 55 530 Jm15-1 sulut 11.4 1,932 53 388,68 Jm15-2 sulut 29 2,417 55 783 Jm17-1 sulut 11.1 1,873 53 382,32 Jm17-2 sulut 8.1 2,282 55 323,2 Jm20 sulut 8.8 1,902 53 333,56 Keterangan : Jp4 : nomor sampel Jabon Putih Jm17-2 : sulaman nomor sampel Jabon Merah SumSel : Sumatera Selatan SulUt : Sulawesi Utara Semua sampel diencerkan (dilusi) menjadi 2,5 ng/µl Purifikasi dilakukan dengan Gene Clean III Kit (Q-bio). Bahan yang digunakan untuk purifikasi adalah NaI, silica, dan etanol (New Wash). Senyawa NaI berfungsi memisahkan DNA dari kontaminan, sedangkan silica berfungsi untuk mengikat DNA dari larutan. . Kualitas DNA dapat ditentukan dengan cara menghitung rasio antara nilai À260 dan À280 pada sampel DNA. DNA dinyatakan murni jika memiliki nilai rasio À260/À280 berkisar antara 1,8–2,0 (Muladno, 2002). Devereux dan Wilkinson (2004) menyatakan bahwa rasio À260/À280 < 1,8 menunjukkan adanya kontaminasi fenol atau protein pada hasil ekstraksi. Khosravinia et al. (2007) juga menjelaskan bahwa DNA dikatakan terkontaminasi RNA jika memiliki rasio À260/À280 > 2,0. DNA hasil purifikasi pada rasio berkisar antara 1, 478-2,554. Hal ini menunjukkan bahwa ada beberapa DNA sampel yang masih terkontaminasi oleh fenol, protein, dan RNA. Seleksi Primer Primer yang digunakan untuk analisis RAPD pada tanaman jabon sebanyak 8 buah. Kriteria primer yang dapat digunakan untuk analisis RAPD adalah primer yang menghasilkan pita-pita polimorfik dan jelas; memiliki reproduksibilitas baik; menghasilkan amplifikasi pita DNA relatif stabil dan mudah dibaca. (Williams et al. 1990). Dari 16 primer yang diskrin, dihasilkan 8 primer yang memenuhi kriteria dan dapat digunakan untuk analisis RAPD (Tabel 4.2.). Tabel 4.2. Daftar primer yang digunakan untuk analisis RAPD No. Primer Sekuens 5’-3’ Kandungan G+C Lokus (bp) 1. OPA1 CAGGCCCTTC 70% 400, 450, 500, 600, 630 2. OPA4 AATCGGGCTG 60% 400, 450, 500, 550, 600,700 3. OPA12 TCGGCGATAG 60% 230, 250, 350, 390, 420, 450, 500, 690, 710, 850, 900 4. OPA14 TCTGTGCTGG 60% 350, 390, 400, 420, 500 5. OPA16 AGCCAGCGAA 60% 350, 390, 450, 490, 510, 620, 700, 800, 990 6. OPQ14 GTTGCGATCC 60% 360, 400, 490, 600, 700, 800, 890, 990 7. OPQ15 GGACGCTTCA 60% 500, 580, 640, 720 8. OPQ16 GGGTAACGTG 60% 200, 300, 350, 420, 500, 630, 760 Keterangan : bp : base pair Primer yang menghasilkan jumlah pita terbanyak adalah OPA12. Ketidakmunculan pita amplifikasi pada beberapa primer dikarenakan urutan basa nukleotida dari primer-primer tersebut bukan merupakan komplemen dari basa nukleotida pada cetakan DNA. Keragaman genetik antar Populasi Jabon Putih dan Jabon Merah Hasil analisis POPGENE menunjukkan bahwa jarak genetik antar populasi Jabon Putih dan Jabon Merah adalah 0,49 dan nilai kemiripan genetik antara keduanya adalah 0,61. Hal ini sejalan dengan pengamatan morfologi yang dilaporkan oleh Halawane et al. (2011) dimana hanya terdapat sedikit perbedaan antara kedua jenis Jabon tersebut. Analisis RAPD menunjukkan adanya keragaman genetik pada Jabon Putih dan Jabon Merah. Primer yang menunjukkan adanya keragaman genetik antara kedua jenis Jabon tersebut adalah OPA1, OPA4, OPA14, OPA16, OPQ15, dan OPQ16. Profil RAPD Jabon Putih dan Jabon Merah yang diamplifikasi dengan menggunakan primer OPA 1 dan OPA 12 dapat dilihat pada gambar 4.1. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat alel spesifik baik pada Jabon Putih maupun Jabon Merah. Jabon Putih menunjukkan 3 alel spesifik, sedangkan pada Jabon Merah ditemukan 7 alel spesifik seperti terlihat pada Tabel 4.3. Muladno (2002) menyatakan bahwa adanya alel-alel spesifik menunjukkan bahwa kultivar tersebut mempunyai fenotip khas, karena penanda molekuler sering berada didekat gen. Tabel 4.3. Hasil skoring pita-pita RAPD pada populasi Jabon Putih dan Jabon Merah menggunakan 8 primer hasil skrining Primer Length (bp) Jabon Putih Jabon Merah OPA1 400 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 450 0 0 0 1 1 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 500 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 OPA1 600 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 630 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 OPA4 400 0 0 0 0 0 0 . 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 450 0 0 0 0 0 0 . 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 500 1 1 1 1 1 1 . 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 550 0 0 0 0 0 0 . 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 600 0 0 0 1 1 0 . 0 1 1 0 1 1 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 700 1 1 1 1 1 1 . 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 1 1 0 0 0 0 1 1 OPA12 230 0 0 1 1 1 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 250 0 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 350 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 390 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 420 1 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 450 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 500 1 0 0 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 690 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 710 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 850 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 900 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 OPA14 350 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 390 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 400 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 420 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 500 1 1 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 OPA16 350 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 390 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 450 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 0 490 0 1 0 0 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 OPA16 510 1 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 620 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 700 0 0 1 1 1 1 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 800 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 990 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 OPQ14 360 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 1 0 1 1 1 1 1 0 0 400 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 490 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 600 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 700 0 0 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 800 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 890 0 0 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 990 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 OPQ15 500 0 0 . 0 0 0 . 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 580 1 1 . 1 1 1 . 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 640 0 0 . 0 0 0 . 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 720 0 0 . 1 1 1 . 0 0 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 OPQ16 200 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 300 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 350 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 420 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 500 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 630 1 0 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 760 1 0 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Keterangan : warna hijau adalah tanda bahwa jenis tersebut merupakan alel spesifik. Keragaman Genetik dalam Populasi Jabon Putih Hasil analisis keragaman genetik menurut Nei (1972) dalam populasi Jabon Putih adalah sebesar 0,21. Hasil analisis RAPD populasi Jabon Putih dengan menggunakan 8 primer menghasilkan 36 pita polimorfik (65,5%) dari 55 pita yang diamati. Pita yang dihasilkan dari setiap primer berkisar 4-11 pita DNA. Pemilihan primer pada analisis RAPD berpengaruh terhadap polimorfisme pita yang dihasilkan, karena setiap primer mempunyai situs penempelan tersendiri. Akibatnya pita DNA polimorfik yang dihasilkan setiap primer menjadi berbeda, baik dalam ukuran maupun jumlah pita (Tabel 4.4). Tabel 4.4. Persentase Jumlah Pita DNA Polimorfik Jabon Putih No. Primer Jumlah pita polimorfik Jumlah pita monomorfik Total 1. OPA1 2 3 5 2. OPA4 4 2 6 3. OPA12 11 0 11 4. OPA14 3 2 5 5. OPA16 5 4 9 6. OPQ14 4 4 9 7. OPQ15 2 2 4 8. OPQ16 5 2 7 Total 36 19 55 Persentase 65, 5% 34,5% 100% Profil RAPD Jabon Putih yang diamplifikasi dengan menggunakan primer OPA 16 dapat dilihat pada gambar 4.2. Keragaman genetik dalam populasi Jabon Merah Nilai keragaman genetik menurut Nei (1972) dalam populasi Jabon Merah adalah sebesar 0,15. Hasil pengamatan profil RAPD menunjukkan bahwa dari 55 pita yang diamati, 24 (43,6%) diantaranya polimorfik. lihat pada Tabel 4. 5. Tabel 4.5. Persentase Jumlah Pita DNA Polimorfik Jabon Merah No. Primer Jumlah pita polimorfik Jumlah pita monomorfik Total 1. OPA1 1 4 5 2. OPA4 4 2 6 3. OPA12 0 11 11 4. OPA14 1 4 5 5. OPA16 7 2 9 6. OPQ14 7 1 8 7. OPQ15 2 2 4 8. OPQ16 2 5 7 Total 24 31 55 Persentase 43,6% 56,4% 100% Profil RAPD Jabon Merah yang diamplifikasi dengan menggunakan primer OPA 4 dapat dilihat pada gambar 4.3. SIMPULAN Penelitian ini menghasilkan beberapa temuan yaitu : 1. Primer yang dapat digunakan untuk analisis RAPD Jabon Merah dan Jabon Putih adalah OPA 1, OPA 4, OPA 12, OPA 14, OPA 16, OPQ 14, OPQ 15, dan OPQ 16. 2. Jabon Putih memiliki 3 buah alel spesifik, sedangkan Jabon Merah memiliki 7 alel spesifik. 3. Nilai jarak genetik antara Jabon Putih dan Jabon Merah adalah 0,49. Nilai keragaman genetik dalam populasi Jabon Putih adalah 0,21 dan dalam UCAPAN TERIMAKASIH Penulis menyampaikan terima kasih kepada Dr. ILG. Nurtjahjaningsih, S.Si, M.Sc, Ph.D. sebagai pembimbing lapangan dan rekan-rakan selama penelitian di Laboratorium Genetika Molekuler BBPBPTH Yogyakarta DAFTAR PUSTAKA Bustamam, M., dan S. Moeljopawiro. 1993. RFLP-RAPD dan Aplikasinya dalam Bidang Pertanian. Pelatihan Kursus Biologi Molekuler. Pasuruan. Devereux, R. & S.S. Wilkinson. 2004. Amplification of Ribosomal RNA Sequences. Kluwer Academic Publisher, Netherlands. Halawane, J.E., Hidayah, H.N. dan Kinho J. 2011. Prospek Pengembangan Jabon Merah Anthocephalus macrophyllus (roxb.) Havil Solusi Kebutuhan Kayu Masa Depan. Balai Penelitian Kehutanan Manado Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Kementrian Kehutanan, Manado. Kaidah, S., dan Suprapto. 2003. Penentuan Metode Isolasi DNA Tanaman Salak Komersial. Bulletin Penelitian 7 : 55-56. Khosravinia, H., H.N.N. Murthy, D.T. Parasad, & N. Pirany. 2007. Optimizing Factors Influencing DNA Extraction from Fresh Whole Avian Blood. African Journal of Biotechnology. 6 (4) : 481-486. Muladno. 2002. Seputar Teknologi Rekayasa Genetika. Pustaka Wirausaha Muda. Bogor. Rimbawanto, A dan Suharyanto. 2005. Keragaman Genetik Populasi Shorea leprosula Miq. dan Implikasinya untuk program konservasi genetik. Dalam : Hardiyanto E.B (ed). Prosiding Seminar Nasional Peningkatan Produktivitas Hutan-Peran Konservasi Sumber Daya Genetik, Pemuliaan dan Silvikultur dalam Mendukung Rehabilitasi Hutan. Fakultas Kehutanan UGM dan Internasional Tropical Timber Organization. Yogyakarta. Rosalia, N. 2008. Penyebaran dan Karakteristik Tempat Tumbuh Pohon Tembesu (Fragraea fragrans Roxb.) : Studi Kasus di Kawasan Taman Nasional Danau Sentarum Kapuas Hulu Kalimantan Barat. Skripsi Institut Pertanian Bogor. Bogor. Soerianegara and R. H. M. J. Lemmens. 1994. Plant Resources of South-East Asia (PROSEA). Timber trees : Major Commercial Timbers 5 (1) 102-108. Bogor. Williams, J. G. K., A. R. Kubelik, K. J. Livak, J. A. Ravalski, and S. V. Tingey. 1990. DNA Polymorphisms amplified by arbitrary primer are useful as genetic markers. Nucleic Acids Research 18 (22): 6531-6535. | |
| 7467 | 10966 | G1D011001 | HUBUNGAN PERAN ORANG TUA DALAM PERAWATAN GIGI DENGAN KEJADIAN KARIES GIGI PADA ANAK USIA PRASEKOLAH DI TK AISYIYAH BANYUMAS | Latar Belakang: Anak usia prasekolah dinilai paling rawan terhadap penyakit atau kerusakan gigi, salah satunya adalah karies gigi. Orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung perawatan gigi pada anak. Peran orang tua dalam kesehatan gigi anak-anaknya adalah sebagai motivator, edukator dan fasilitator. Pelibatan keluarga dalam perawatan gigi untuk anak berdasarkan kajian teori dirasakan sangat penting dan termasuk dalam konsep Family Centered Care (FCC) pada prinsip asuhan keperawatan anak. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan peran orang tua dalam perawatan gigi dengan kejadian karies gigi pada anak prasekolah di TK Aisyiyah Banyumas. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling. Besarnya sampel adalah 66 responden yang memenuhi kriteria. Analisis data menggunakan uji statistik chi-square. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara peran orang tua dengan kejadian karies gigi pada anak usia prasekolah (p value: 0,014). Kesimpulan: Peran orang tua penting dalam perawatan gigi anak. Oleh karena itu, orang tua diharapkan dapat meningkatkan perannya sebagai motivator, edukator, dan fasilitator, sehingga kejadian karies gigi pada anak dapat diminimalkan. | Background: Preschoolers considered most vulnerable to disease or tooth decay, one of which is dental caries. Parents have a very important role in supporting dental care in children. The role of parents in their children's dental health is as a motivator, educator and facilitator. Involving families in dental care for children based on the study of the theory has been very important and are included in the concept of Family Centered Care (FCC) in pediatric care nursing concept. Objective: This study aimed to determine the relationship of the parent's role in dental care to the incidence of dental caries in preschool children in kindergarten Aisyiyah Banyumas. Methods: A cross-sectional design and total sampling were used in this study.The amount of sample were 66 respondents who meet the criteria. Chi square test was used in this study. Results: The results showed a significant relationship between the role of parents with the incidence of dental caries in preschool children (p value: 0.014). Conclusion: The role of parents is important in the care of children's teeth. Therefore, parents are expected to enhance its role as a motivator, educator and facilitator, so that the incidence of dental caries in children can be minimized. | |
| 7468 | 11247 | C1A011055 | DAMPAK REVITALISASI PASAR TRADISIONAL TERHADAP PERSEPSI DAN KUNJUNGAN KONSUMEN (Studi Kasus Pada Pasar Tradisional Cilongok Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas Tahun 2015) | Penelitian ini berjudul “Dampak Revitalisasi Pasar Tradisional Terhadap Persepsi dan Kunjungan Konsumen (Studi kasus pada pasar tradisional Cilongok Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas Tahun 2015)”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan penilaian konsumen terhadap tingkat kebersihan, keamanan, keteraturan, dan penerangan pasar tradisional Cilongok Kabupaten Banyumas sebelum dan sesudah revitalisasi dan mengetahui perbandingan tingkat kesukaan dan frekuensi kunjungan konsumen ke pasar tradisional Cilongok Kabupaten Banyumas sebelum dan sesudah revitalisasi. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei, sedangkan metode pengambilan sampel menggunakan metode accidental sampling dengan sampel berjumlah 100 responden. Metode analisis data yang digunakan adalah metode analisis uji beda dua rata-rata (paired sample t-test). Hasil penelitian menunjukkan, penilaian konsumen terhadap tingkat kebersihan, keamanan, keteraturan, dan penerangan pasar tradisional Cilongok Kabupaten Banyumas sebelum dan sesudah revitalisasi mengalami peningkatan. Dengan adanya program revitalisasi pasar tradisional efektif terhadap peningkatan penilaian konsumen tersebut. Tingkat kesukaan dan frekuensi kunjungan konsumen ke pasar tradisional Cilongok sebelum dan sesudah revitalisasi mengalami peningkatan. Hasil tersebut menunjukkan dengan adanya program revitalisasi pasar tradisional efektif terhadap peningkatan tingkat kesukaan dan frekuensi kunjungan konsumen ke pasar tradisonal Cilongok Kabupaten Banyumas. Implikasi dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan mutu pasar tradisional di Kabupaten Banyumas perlu mempertahankan bahkan meningkatkan program revitalisasi pasar tradisional agar lebih merata dan lebih berdaya saing. Guna mendorong daya saing dan eksistensi pasar tradisional, diperlukan perhatian untuk menjaga dan merawat sarana dan prasarana pasar tradisional yang telah tersedia agar dapat dimanfaatkan dengan semestinya. Untuk dapat meningkatkan tingkat kesukaan dan frekuensi kunjungan konsumen perlu meningkatkan dan menjaga tingkat kebersihan, keamanan, keteraturan, dan penerangan pasar tradisional Cilongok. Berdasarkan perilaku konsumen pasar tradisional Cilongok tersebut dapat menjadi tolok ukur untuk memberikan kenyamanan dalam berbelanja di pasar tradisional. | This research entitled “The Effects of Traditional Market Revitalization Toward Perception and Consumer Attendance (A case study in Cilongok traditional market in Cilongok subdistrict, Banyumas Regency 2015)”. The aim of this research is determining comparison consumer assessment toward the level of clean, safety, discipline, and lighting; determining the level of fondness and frequency of consumer attendance to Cilongok traditional market before and after revitalization. The method that is used in this research is survey method, and sampling method uses accidental sampling with 100 respondents. The analysis data method using paired sample t-test. The result shows consumer assessment toward level of clean, safety, discipline, and lighting of Cilongok traditional market before and after revitalization improved. The revitalization of traditional market is effective toward its consumer assessment. The level of likeness and frequency of consumer attendance to Cilongok traditional market before and after revitalization is increasing. This result is showed by effective traditional market revitalization toward the improvement level of likeness and the frequency of consumer attendance to Cilongok traditional market Banyumas regency. Implication from this research is improving the quality of traditional market in Banyumas regency need to keep even to improve traditional market revitalization, so it can more equal and competitive. Furthermore, for supporting competitive quality and the existence of traditional market, it needs attention to keep and take a care of traditional market infrastructure that available properly. For improving the level of likeness and frequency of consumer attendance need to increasing and keeping the level of clean, safety, discipline, and lighting of Cilongok traditional market. Based on Cilongok traditional market consumer habit can be measure for giving safety for shopping in traditional market. | |
| 7469 | 8420 | G1D010022 | PENGARUH HIPNOTERAPI TERHADAP KECEMASAN ANGGOTA KELUARGA PASIEN DI RUANG INTENSIVE CARE UNIT (ICU) RS EMANUEL KLAMPOK | PENGARUH HIPNOTERAPI TERHADAP PENURUNAN KECEMASAN ANGGOTA KELUARGA PASIEN DI RUANG INTENSIVE CARE UNIT (ICU) RS EMANUEL KLAMPOK Mega Rizki Wijayanti1 Iwan Purnawan2 Sobihin3 1Mahasiswa Jurusan Keperawatan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman 2Departemen Keperawatan Gawat Darurat, Jurusan Keperawatan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman 3Perawat Puskesmas Jatilawang ABSTRAK Latar Belakang: Intensive care unit (ICU) merupakan salah satu pelayanan di rumah sakit dengan kategori pelayanan kritis. Prosedur yang rumit dan kadang memaksa, banyaknya alat-alat terpasang di tubuh pasien baik infasive maupun non infasive, serta ancaman keamanan anggota keluarga sering menjadi pemicu kecemasan. Kecemasan di dalam keluarga dapat mempengaruhi proses penyembuhan pasien. Oleh karena itu perlu ditangani segera dengan menggunakan teknik terapi non farmakologi hipnoterapi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh hipnoterapi terhadap penurunan kecemasan anggota keluarga pasien di ruang ICU. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pre eksperimental. Pengambilan sampel menggunakan accidental sampling dengan jumlah sampel sebanyak 33 responden. Responden penelitian mengisi lembar pre test kemudian responden yang memenuhi kriteria inklusi dilakukan hipnoterapi satu kali selama 20 menit kemudian responden mengisi lembar post test. Analisa data yang digunakan adalah uji statistik T-test. Hasil: Nilai rata-rata (mean) pengaruh hipnoterapi terhadap kecemasan anggota keluarga yang menunggu pasien di ruang ICU sebesar 15,273±5,608, t hitung 15,643 dan p value 0,000 (p < α = 0,05). Dengan demikian Ho ditolak. Hasil penelitian menunjukan ada pengaruh hipnoterapi terhadap penurunan kecemasan anggota keluarga pasien di ruang intensive care unit (ICU). Kesimpulan: Ada pengaruh pemberian hipnoterapi terhadap penurunan kecemasan anggota keluarga pasien di ruang intensive care unit (ICU). Kata kunci: hipnoterapi, Intensive Care Unit (ICU), kecemasan | HYPNOTHERAPY EFFECT OF ANXIETY REDUCTION IN THE FAMILLY MEMBERS OF PATIENTS INTENSIVE CARE UNIT (ICU) EMANUEL HOSPITAL KLAMPOK Mega Rizki Wijayanti1 Iwan Purnawan2 Sobihin3 1Student of Nursing Program, Faculty of Medical and Health Sciences, Jenderal Soedirman University 2Emergency in Nursing Department, Nursing Program, Faculty of Medical and Health Sciences, Jenderal Soedirman University 3Nursing, Health Care Center of Jatilawang ABSTRACT Background: Intensive care unit (ICU) is one of hospital services with critical care category. The complicated procedure and sometimes its force, many equipments plugged in the patient's body either infasive or non infasive, also safety threat of family members often became trigger anxiety. Anxiety in the family can affect the healing process of the patient. Therefore, it needs to be handled immediately by using non-pharmacological technique, one of them is hypnotherapy. Purpose: The aim of this study was to determine the effect of hypnotherapy on anxiety reduction in family members of patients at ICU. Method: This research used pre-experimental design. Samples were taken by accidental sampling with 33 respondents. The respondent fill out the pre-test, then the respondent who suits of inclusion criteria do hypnotherapy one time for 20 minutes and then the respondent fill in the post sheet. Data was analyzed using T –test. Result: The mean value results of hypnotheraphy effect on anxiety of family members who waiting in the ICU is 15.273 ± 5.608 , 15.643 t and p value 0.000 ( p < α = 0.05 ) . Thus Ho was rejected . The results showed that there was effect of hypnotherapy on anxiety reduction in family members of patients at intensive care unit ( ICU ). Conclusion: There was effect of hypnotheraphy on anxiety reduction of family members of patients in the intensive care unit ( ICU ) Keywords: Hypnotherapy, Anxiety, Intensive Care Unit (ICU) | |
| 7470 | 8418 | G1A010093 | ANALISA KUALITATIF TENTANG KUALITAS HIDUP PASIEN ANAK THALASSAEMIA MAYOR KELOMPOK USIA 6-11 TAHUN DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BANYUMAS | Latar Belakang: Indonesia merupakan negara di Asia Tenggara dengan penduduk paling banyak yang menderita thalassaemia. Thalassaemia mayor merupakan penyakit genetik yang menyebabkan keluhan utama berupa anemia berat, sehingga membutuhkan transfusi darah rutin. Umumnya, manifestasi klinis mulai dirasakan sejak individu berusia 6 hingga 12 bulan. Individu yang terdiagnosis thalassaemia mayor akan tumbuh dan berkembang menjadi seorang anak. Pasien anak usia 6-11 tahun memasuki masa sekolah yang mana fungsi fisik, emosi, kognitif, dan sosial dapat dinilai. Thalassaemia mayor adalah penyakit kronik pada anak, maka penilaian terhadap kualitas hidup anak perlu dilakukan. Tujuan: Mendeskripsikan permasalahan kualitas hidup pasien anak thalassaemia mayor kelompok usia 6-11 tahun di RSUD Banyumas. Metode: Rancangan penelitian kualitatif dengan metode wawancara mendalam dan semi terstruktur. Informan adalah anak penderita thalassaemia mayor serta ibu kandung dari masing-masing anak. Jumlah informan sebanyak 6 orang. Hasil: Terdapat banyak permasalahan kualitas hidup pada pasien anak thalassaemia mayor kelompok usia 6-11 tahun di RSUD Banyumas. Permasalahan yang terjadi meliputi fungsi fisik, emosi, sosial, dan sekolah anak. Kesimpulan: Banyaknya permasalahan kualitas hidup pasien anak thalassaemia mayor disebabkan oleh thalassaemia yang diderita anak serta latar belakang sosial ekonomi keluarga. Kata kunci: thalassaemia mayor, kualitas hidup | Background: Indonesia is a country in Southeast Asia where most of population suffer thalassemia. Major thalassaemia is a genetic disease that causes severe anemia, so it needs regular blood transfusions. Generally, the clinical manifestation had been felt since individuals aged 6 to 12 months. Individuals with major thalassaemia will grow and develop into a child. Pediatric patients aged 6-11 years entering school which physical function, emotional, cognitive, and social can be assessed. Major thalassaemia is a chronic disease in children, so quality of life’s assessment needs to be done. Objective: To describe the quality of life’s problems in major thalassaemia pediatric patients group ages 6-11 years in Banyumas Regional Hospital. Method: Qualitative research designed with semi-structured and in-depth interviews methods. Informants were children with major thalassemia and mother of each child. The number of informants were 6 people Result: There are many quality of life’s problems in major thalassaemia pediatric patients ages group 6-11 years in hospitals Banyumas. The problems are physical function, emotional, social, and school children. Conclusion: The problems of life quality in pediatric patients group ages 6-11 years caused by major thalassemia itself and socio-economic background of family. Key word: major thalassemia, quality of life | |
| 7471 | 8421 | F1B008078 | EFEKTIVITAS IMPLEMENTASI PROGRAM PUSAT LAYANAN INTERNET KECAMATAN DI KECAMATAN SUMBANG KABUPATEN BANYUMAS | Penelitian ini berjudul “Efektivitas Implementasi Program Pusat Layanan Internet Kecamatan di Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas implementasi Program Pusat Layanan Internet Kecamatan di Kecamatan Sumbang. Tujuan program ini adalah membuka akses informasi masyarakat perdesaan sebagai sarana memperkenalkan komputer serta internet dalam pemanfaat teknologi informasi dan komunikasi. Berdasarkan hasil analisis faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan program adalah dengan berdasarkan teori Grindle yaitu Isi Kebijakan yang meliputi pelaksana program dan sumberdaya yang dilibatkan, dan konteks implementasi meliputi kekuasaan kepentingan dan strategi aktor yang terlibat. Hasil penelitian menunjukan bahwa dari tingkat efektivitas dalam output program semuanya berjalan tidak efektif, sedangkan dari pencapaian outcome program semuanya juga tidak berjalan efektif, maka dapat disimpulkan Program PLIK dalam memberikan akses informasi dengan media internet kepada masyarakat dengan konten-konten yang edukatif, bermanfaat, dan mampu mendukung perekonomian di kecamatan dirasa tidak memberikan dampak dan pengaruh terhadap perkembangan kesejahteraan masyarakat dalam hal ilmu pengetahuan teknologi, informasi dan komunikasi khususnya melalui internet. Dalam hal ini dibutuhkan kesadaraan, dan komunikasi yang saling berkesinambungan antar para pelaku kebijakan dengan pihak yang mendukung serta masyarakat sebagai sasaran kebijakan dalam pelaksanaan program agar manfaat dan tujuan program dapat memberikan manfaat yang maksimal. | This research entitled “Effectiveness of Program Implementation Internet Service Center in the district of Sumbang Banyumas Regency”. This research aims to find out how the factors that influence the effectiveness of Program implementation the Internet Service Center in Su'mbang District. The purpose of this programme is the rural community information open access as a means of introducing computers and internet in information and communication technology users. Based on the results of the analysis of the factors affecting the success of program implementation is based on the contents of Policies Grindle's theory that includes implementing the programme and the resources involved, and the context of the implementation of the strategy include power interests and actors involved. Research results show that the level of effectiveness in the output program everything works ineffective, whereas the achievement of the learning outcomes of the program are also not run effectively, then it can be inferred the Program PLIK in providing access information with internet media to the community with the educational content, usable, and able to support the economy in the town felt did not provide the impact and influence on the development of social welfare in terms of science technologyinformation and communication, particularly via the internet. In this case it takes a kesadaraan, and mutually sustaining communication between policy makers and those who support and Community policy objectives in the implementation of the program to the benefits and goals of the program are able to provide the maximum benefit. | |
| 7472 | 10343 | G1A011066 | Hubungan antara Kadar Hemoglobin dengan Tingkat Kesanggupan Kardiovaskular pada Mahasiswa Laki-Laki Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman | Latar Belakang Aktivitas fisik yang kurang merupakan permasalahan utama kesehatan publik global di abad ke-21 ini dan dapat menimbulkan penyakit hipokinetik. Aktivitas fisik dengan berolahraga rutin memiliki banyak manfaat. Di sistem kardiorespirasi, aktivitas fisik akan meningkatkan kesanggupan kardiovaskular dan di sistem peredaran darah aktivitas fisik akan mempengaruhi kadar hemoglobin. Dalam melakukan aktivitas, otot dan sel tubuh membutuhkan pasokan oksigen yang adekuat agar tidak cepat mengalami kelelahan. Oleh karena itu dibutuhkan jumlah hemoglobin yang cukup dalam mengangkut oksigen dan kesanggupan kardiovaskular yang baik untuk memasok kebutuhan oksigen tersebut. Kesanggupan kardiovaskular yang tinggi meningkatkan produktivitas seseorang. Tujuan Mengetahui hubungan antara kadar hemoglobin dengan tingkat kesanggupan kardiovaskular. Metode Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah cross sectional. Sebanyak 24 subjek dipilih dengan metode consecutive sampling. Sampel darah diambil melalui vena mediana cubiti untuk diukur kadar hemoglobinnya dengan metode cyanmethemoglobin setelah itu diukur tingkat kesanggupan kardiovaskularnya dengan metode Kasch Step Test. Uji statistik yang digunakan adalah Uji Spearman. Protokol penelitian ini telah mendapat persetujuan etik dari komisi etik penelitian Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman. Hasil Terdapat hubungan yang bermakna antara kadar hemoglobin terhadap tingkat kesanggupan kardiovaskular (p = 0,000; p<0,05) dengan kekuatan korelasi kuat (nilai r=0,741; r: 0,60-0,799) dan arah korelasi + (positif) artinya semakin besar nilai kadar hemoglobin maka tingkat kesanggupan kardiovaskularnya semakin meningkat. Kesimpulan Terdapat hubungan antara kadar hemoglobin terhadap tingkat kesanggupan kardiovaskular | Background Physical inactivity was a major global public health problem in the 21st century and caused hypokinetic diseases. Physical activity with regular exercise had many benefits. In the cardiorespiratory system, it increased cardiovascular fitness and in circulatory system, it affected hemoglobin levels. In conducting the activity, muscle and cells of the body needs an adequate supply of oxygen in order not easily fatigue. Therefore it took considerable amount of hemoglobin in transporting oxygen and good cardiovascular fitness to supply oxygen. High cardiovascular fitness increased a person’s level of productivity. Purpose To determine the relationship between hemoglobin level and cardiovascular fitness. Method. This study used cross-sectional. A total of 24 subjects were selected by consecutive sampling method. Blood samples were taken through a mediana cubiti vein to measure hemoglobin level by cyanmethemoglobin method and then cardiovascular fitness was measured by Kasch Step Test method. The statistical test used was Spearman test. This research protocol has received ethical approval from The Research Ethics Committee of Medical Faculty and Health Sciences Jenderal Soedirman University. Results There was a significant corellation between hemoglobin level and cardiovascular fitness (p = 0,000; p<0,05) with strong corellation (r: 0,741; r: 0,60-0,799) and the direction of correlation was + (positive) value means that the greater hemoglobin level, the greater cardiovascular fitness. Conclusion There was a significant corellation between hemoglobin level and cardiovascular fitness. | |
| 7473 | 3573 | A1M008053 | FORMULASI DAN KARAKTERISASI SIFAT KIMIA DAN SENSORI PRODUK OLES DARI MINYAK SAWIT MERAH DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG KEDELAI | Produk oles merupakan produk yang dapat digunakan sebagai bahan pengisi pada produk roti-rotian seperti roti tawar. Penelitian ini menggunakan minyak sawit merah dan tepung kedelai. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengkaji pengaruh proporsi minyak sawit merah dan tepung kedelai terhadap sifat kimia dan sensori produk oles; 2) Menetapkan kombinasi perlakuan yang menghasilkan produk dengan homogenitas dan daya oles tinggi. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Faktor yang dicoba yaitu 1) Proporsi minyak sawit merah (M), terdiri atas 5% (M1); 10% (M2); dan 15% (M3); 2) Proporsi tepung kedelai (K), terdiri atas 10% (K1); 12,5% (K2); dan 15% (K3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada proporsi minyak sawit merah 15% menghasilkan produk oles dengan total karotenoid yang tinggi 1,67mg/g, namun homogenitas menurun (skor 3,11= agak homogen) dan tingkat kesukaannya menurun (skor 2,51= agak suka); sedangkan pada proporsi tepung kedelai 15% menghasilkan produk oles dengan protein terlarut yang tinggi yaitu 16,23%, namun daya oles menurun (skor 3,76= mudah dioles) dan tingkat kesukaannya menurun (skor 2,67= agak suka). Kombinasi perlakuan terbaik adalah produk dengan proporsi minyak sawit merah 5% dan tepung kedelai 12,5% memiliki homogenitas tertinggi (skor 4,20=homogen) dan daya oles (skor 4,33= mudah dioles). Karakteristik produk tersebut adalah total karotenoid 0,73mg/g, protein terlarut 16,96%, kadar air 69,71%, serta memiliki warna (1,57 = kuning muda), dan kesukaan (2,97= agak suka). | Spread product is a product that could be used as a filler in bakery products such as white bread. The researchused red palm oil that containing and soy flour. This research aimed to: 1) Assessing the impact of the proportion of red palm oil and soy flour to the chemical and sensory properties of topical products, 2) Establish a combination of treatments that produce products with high homogeneity and spreadability. This research used an experimental methods with Completely Randomized (RAK). Tested factors are 1) proportion of red palm oil (M) that consists of 5% (M1); 10% (M2); and 15% (M3); 2) proportion of soy flour that consist of 10% (K1); 12.5% (K2); and 15% (K3). The result showed that the proportion of 15% red palm oil produce high total carotenoid topical producst 1.67mg/g but low homogeneity (score 3.11= rather homogeny) and the acceptability level was decreased (score 2.51= rather like), while the proportion of 15% soy flour produce high soluble protein but low spreadability (score 3.76= easy for spread) and the acceptability level was decreased (score 2.67= rather like). The best combination treatment is product with the proportion of 5% red palm oil and 12.5% soy flour with the highest score of 4.20 homogeneity (homogeneous) and 4.33 of spreadability (easily spreaded). Characteristics of products that is mentioned 0.73 mg/g total carotenoid;16.96% soluble protein content; and 69.71% water conten; with score 1.57 colour (yellowish); and 2.97 likeness (slightly like). | |
| 7474 | 8422 | G1A010085 | DESKRIPSI PERMASALAHAN PSIKOSOSIAL YANG TERJADI PADA ORANG TUA ANAK YANG MENDERITA THALASSEMIA MAYOR DI RSUD BANYUMAS | ABSTRAK Latar Belakang. Thalassaemia merupakan penyakit yang keberadaannya masih jarang di masyarakat. Penyakit keturunan ini menyebabkan kegagalan dalam pembuatan rantai globin penyusun hemoglobin. Thalassaemia mayor merupakan jenis thalassaemia yang disebabkan dari ayah dan ibu pembawa thalassaemia dan memiliki gejala klinis yang nyata seperti pucat, tidak nafsu makan, dan lemas, sehingga anak membutuhkan transfusi darah dan obat yang rutin seumur hidup. Transfusi darah dapat mempertahankan kehidupan sampai usia 10-20 tahun. Thalassaemia memberikan permasalahan psikososial pada orang tua anak karena thalassaemia dapat menurunkan kualitas hidup anak. Tujuan. Mendeskripsikan dan memahami permasalahan psikososial yang terjadi pada orang tua anak penderita thalassaemia mayor. Metodologi Penelitian. Kualitatif deskriptif dengan metode wawancara mendalam semi terstruktur. Informan merupakan orang tua kandung baik ayah atau ibu dari anak yang menderita thalassaemia mayor berusia 5-11 tahun. Hasil dan Pembahasan. Permasalahan psikososial yang terjadi adalah gangguan cemas, permasalahan ekonomi, berkurangnya aktivitas sosial, konflik dengan pasangan, perbedaan pola asuh/penjagaan yang berlebihan, pemahaman yang tidak tepat karena kurangnya pengetahuan mengenai thalassaemia dan adanya pelayanan kesehatan thalassaemia yang belum maksimal. Kesimpulan. Penelitian ini menemukan dan mendeskripsikan tujuh permasalahan psikososial yang terjadi pada orang tua anak penderita thalassaemia mayor. Kata Kunci: Thalassaemia, orang tua, permasalahan psikososial, kualitatif | ABSTRACT Background. Thalassaemia is a disease whose existence is still rare in the community . This hereditary disease causes failure in making the constituent globin chains of hemoglobin. Thalassaemia major is a type of thalassaemia resulting from thalassaemia carrier father and mother and have a real clinical symptoms such as pallor, loss of appetite, and weakness, so that the child needed a blood transfusion and medication routine for life. Blood transfusions can sustain life until the age of 10-20 years. Thalassaemia provide psychosocial problems in children of parents as thalassaemia can degrade the quality of life of children. Purpose. Describe and understand the psychosocial problems that occur in parents of children with thalassaemia major. Research Methodology. Descriptive qualitative method of in-depth semi-structured interviewed. The informants were biological parent either father or mother of a child suffering from thalassaemia major aged 5-11 years. Results and Discussion. Psychosocial problems that occur were anxiety disorders, economic problems, reduced social activities, conflict with partner, differences in the pattern of care/maintenance of excessive, improper understanding due to lack of knowledge about the existence of thalassemia and thalassemia health services weren’t maximized. Conclusion. This study discovered and described seven psychosocial problems that occur in parents of children with thalassaemia major. Keywords: Thalassaemia, parents, psychological problems, qualitative | |
| 7475 | 8423 | G1F010049 | EFEK KOMBINASI EKSTRAK TEMULAWAK DAN JAHE TERHADAP JUMLAH LEUKOSIT, ERITROSIT, HEMOGLOBIN, PLATELET DAN BOBOT LIMPA TIKUS YANG DIINDUKSI DOKSORUBISIN | Doksorubisin merupakan agen antikanker yang biasa digunakan namun, memiliki efek samping berupa mielosupesif. Tanaman temulawak (Curcuma xanthoriza) dan jahe (Zingiber officinale) mempunyai potensi untuk mencegah terjadinya efek mielosupresif yang disebabkan oleh penggunaan doksorubisin dengan mekanisme antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi ekstrak rimpang temulawak (Curcuma xanthoriza) dan jahe (Zingiber officinale) pada tikus yang diinduksi doksorubisin dalam mempertahankan jumlah leukosit, eritrosit, hemobglobin, platelet dan bobot limpa. Penelitian ini merupakan eksperimen laboratorium yaitu dilakukan pada 35 hewan uji tikus jantan galur Wistar yang diinduksi doksorubisin dengan pemberian kombinasi ekstrak etanol 96% tanaman temulawak dan jahe merah selama 35 hari. Hewan uji dibagi menjadi lima kelompok. Kelompok 1 diberi Na-CMC 1,5%, Kelompok 2 diberi doksorubisin 2,5 mg/kg BB i.p pada hari 1,4,7,10,13,16 kelompok 3 diberi doksorubisin 2,5 mg/kg BB i.p + ekstrak 250 mg/kgBB/hari p.o, kelompok 4 diberi doksorubisin 2,5 mg/kg BB i.p + ekstrak 500 mg/kgBB/hari p.o dan kelompok 5 diberi doksorubisin 2,5 mg/kg BB i.p + ekstrak 750 mg/kgBB/hari p.o. Sampel darah seluruh hewan uji diambil pada hari ke 16 dan dikorbankan untuk pengambilan organ limpa. Jumlah leukosit, eritrosit, hemoglobin, platelet dan bobot limpa dievaluasi sebagai parameter mielosupresif. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan one way ANOVA dan Tukey HSD untuk membandingkan penurunan/peningkatan parameter antarkelompok penelitian dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan jumlah leukosit, eritrosit, hemoglobin, platelet dan bobot limpa menurun dalam kelompok yang diberi doksorubisin. Kombinasi ekstrak mampu meningkatkan parameter-parameter darah dan bobot limpa. Hasil ini menunjukkan bahwa kombinasi ekstrak temulawak dan jahe tidak memiliki penngaruh dalam mempertahankan parameter hematologi karena tidak terdapat perbedaan secara statistik antara kelompok perlakuan dan kelompok doksorubisin. Kata kunci : Doksorubisin, temulawak, jahe, hematologi, limpa. | Doxorubicin is widely used anticancer drug but its active used hampered but serious adverse effect including myelosupresive or bone marrow toxicity. Temulawak dan jahe merah is known as some of herbs which has a possible potent to prevent myelosupresive as a result of used doxorubicin. Aim of this study is to investigate the possible myeloprotective role of the natural antioxidant Temulawak dan jahe merah in rats induced by doxorubicin. 35 Wistar male rats were divided into five groups and treated with (1) 1.5% NaCMC as control group, (2) doxorubicin 2.5 mg/kg intraperitoneally 6 times in 17 days (days 1, 4, 7, 10,13,16); (3) doxorubicin + extract 250 mg/kg/day orally for 17 days; (4) doxorubicin + extract of 500 mg/kg/day orally for 17 days; (5) doxorubicin + extract of 500 mg/kg/day orally for 17 days . Blood samples of rats were taken at day 17th and sacrificed for harvesting spleen organ. WBC, RBC, hemoglobin, platelet and spleen weights were evaluated as the markers of myelosuppresive effect. The result of this study is analysed by one way ANOVA and tukey HSD to compare increase or decrease parameters in each groups The result of this study is blood parameters and spleen weights were reduced in the doxorubicin treated groups. Whereas in group treated by the extract 750 mg + doxorubicin blood parameters and spleen weights showed better result than other groups in increasing blood parameters and spleen weight. These results indicated that the combination extract of temulawak and jahe merah has no myeloprotective activity although all treatment groups show increase in all blood parameters but there is no different significant between treatments and control (doxorubicin). Key words : Doxorubicin, temulawak, jahe, hematology, spleen. | |
| 7476 | 8424 | G1F010080 | SKRINING AKTIVITAS IMUNOMODULATOR EKSTRAK TEMULAWAK, KUNYIT, JAHE MERAH DAN KOMBINASINYA TERHADAP PROLIFERASI SEL RAW 264,7 | Upaya peningkatan sistem imun dalam tubuh dapat dilakukan dengan senyawa yang berasal dari tanaman yang berkhasiat sebagai imunomodulator. Aktivitas imunomodulator dari bahan alam dapat dilakukan dengan melihat aktivitas sel makrofag dan proliferasinya. Temulawak (C. xanthorrhiza), kunyit (C. longa) dan jahe merah (Z. officinale cv. rubrum) merupakan tanaman yang berpotensi sebagai imunomodulator. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efek ekstrak temulawak, kunyit, jahe merah dan kombinasinya terhadap proliferasi sel RAW 264,7. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium. Ekstrak diperoleh dengan cara maserasi selama 3 x 24 jam dengan etanol 96%. Ekstrak tunggal dan kombinasi 1:1:1 dari temulawak, kunyit dan jahe merah diuji pada sel RAW 264,7. Pengujian dilakukan pada mikrokultur 96 well dengan konsentrasi ekstrak sebesar 500; 250; 125; 62,5 dan 31,25 µg/mL dengan metode MTT assay pengamatan pada 24 dan 48 jam untuk mengamati proliferasi sel. Analisis data dilakukan dengan mengkonversi absorbansi sel yang diperoleh dari MTT assay kedalam persen viabilitas sel kemudian diinterpretasikan dalam bentuk grafik batang untuk mengetahui proliferasi sel pada setiap konsentrasi. Hasil menunjukkan ekstrak temulawak, kunyit, jahe merah serta kombinasinya meningkatkan proliferasi sel RAW 264,7. Peningkatan konsentrasi ekstrak tidak sejalan dengan peningkatan proliferasi sel. | Efforts to improve the body's immune system can be derived from plant compounds are efficacious as an immunomodulator . Immunomodulator activities of natural materials can be done by looking at the activity of macrophages and proliferation of cells. Curcuma (C. xanthorrhiza), turmeric (C. longa) and red ginger (Z. officinale cv . Rubrum) is a plant that has the potential as an immunomodulator . This study aimed to examine the effects of ginger, turmeric, red ginger and combination extracts on proliferation activity of RAW 264.7 cells. This study is an experimental research laboratory . The extract obtained by maceration for 3 x 24 hours with 96 % ethanol. Singel extract and 1:1:1 combination of ginger, turmeric and red ginger tested on RAW 264.7 cells. Tests carried out on 96 well microcultures by MTT assay method of observation at 24 and 48 hours to observe cell proliferation . Data analysis was done by converting the absorbance of cells obtained from MTT cell viability assay into a percent and then interpreted in the form of a bar graph to determine cell proliferation at any concentration. The results show extracts of ginger, turmeric, red ginger and their combination increases proliferation of RAW 264.7 cells. Increasing the concentration of the extract is not in line with the increase in cell proliferation. | |
| 7477 | 8425 | F1A009056 | EKSISTENSI PENGRAJIN PERHIASAN EMAS DAN PERAK DI DESA BUNGKANEL KABUPATEN PURBALINGGA | Abstrak Keberadaan pengrajin perhiasan emas dan perak di desa Bungkanel Kabupaten Purbalingga tidak begitu dibanyak dikenal oleh masyrakat pemerhati perhiasan emas dan perak di Indonesia. Namun, para pengrajin perhiasan yang mulai berdiri pada tahun 1998 ketika krisis moneter besar-besaran terjadi di Indonesia mulai meningkatkan eksistensinya dengan menunjukkan jati diri hasil produksi yang menjadi ciri khas perhiasan emas desa Bungkanel. Meskipun demikian, manajemen keuangan dan promosi serta khususnya adalah kurangnya tenaga ahli merupakan beberapa masalah yang masih belum bisa diselesaikan oleh para pengrajin. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memperoleh gambaran mengenai eksistensi pengrajin perhiasan emas dan perak dalam menjaga relasi dengan konsumennya. Penelitian ini mengkaji strategi pengrajin dalam menjaga kelestarian kemampuan para pengrajin dalam membuat emas sesuai dengan permintaan dan model perhiasan yang setiap saat terus berubah. Hasil penelitian mengenai eksistensi kerajinan perhiasan emas dan perak ini kemudian menunjukkan tiga hal. Pertama adalah pengrajin memasarkan sendiri hasil produknya dan dibantu oleh salesyang lebih banyak ditawarkan ke toko-toko emas di daerah Purwokerto, Purbalingga, Pemalang dan Tegal. Kedua, permasalahan pokok yang terjadi adalah kurangnya tenaga ahli tidak diimbangi dengan tingginya permintaan terhadap hasil produksi perhiasan emas dan perak. Terakhir, penerapan unsur tradisional dalam model desain perhiasan yang coba mereka pertahankan saat ini dipadu dengan desain modern yang tiap saat berubah mengikuti model yang sedang trend. Kata kunci : Pengrajin perhiasan emas dan perak desa Bungkanel, eksistensi, strategi | Abstracs The existence of the gold and silver jewelry craftmen in Bungkanel Village of Purbalingga Residence were not so familiar by the watching society of gold and silver jewelry in Indonesia. However, The jewelry craftmen which was build in 1998 when the moneter crisis happened in Indonesia was start to increasing their existence with showing their true identity with their own products which had become Bungkanel characteristic of gold and silver jewelry products. Even that, the financial management and promotion were less of expert employees, and it’s became some troubles which could not resolve by the craftmen. Research method which used in this research was qualitative descriptive method. The goals of this research is to determine and obtain an overview about the existence of jewelry craftmento keep in touch with their costumers. This research also analyzing how the the craftmen’s strategies to keep their abilities on the track for making jewelry compactible with the demands and jewelry models which always changing everytime. Research’s result of the existence of jewelry craftmen and then shows three points. The first is craftmen marketing their products by themselves, which was helped by sales in offering the crafmen’s product in every gold shop in Purwokerto, Purbalingga, Pemalang, and also Tegal. Second, the craftmen’s main trouble is lack of employees which not has an equal with the demand for the craftmen’s gold and silver jewelry products. Third, the apllied of the traditional element in the jewelry desain model which they try to defend at this time must be mixed with the modern desain that always change following with the trend. Keywords : the craftmen of gold and silver jewelry, existence, strategy | |
| 7478 | 8426 | P2CC09055 | PENGARUH KEPRIBADIAN, PENGEMBANGAN KARIR DAN KOMPENSASI TERHADAP PARTISIPASI PEKERJA DALAM CONTINUOUS IMPROVEMENT PROGRAM DI PERTAMINA REFINERY UNIT IV CILACAP | Penelitian ini berjudul “Pengaruh Kepribadian, Pengembangan Karir Dan Kompensasi Terhadap Partisipasi Pekerja Dalam Continuous Improvement Program Di Pertamina Refinery Unit IV Cilacap”. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: (1) Pengaruh kepribadian terhadap partisipasi pekerja dalam program CIP di Pertamina RU IV Cilacap, (2) Pengaruh kompensasi terhadap partisipasi pekerja dalam program CIP di Pertamina RU IV Cilacap, dan (3) Pengaruh kompensasi terhadap partisipasi pekerja dalam program CIP di Pertamina RU IV Cilacap. Penelitian ini merupakan penelitian survei dengan populasi pekerja tetap Pertamina RU IV Cilacap sebanyak 1450 orang. Sampel penelitian sebanyak 314 orang diambil dengan teknik proportional random sampling. Analisis data menggunakan uji regresi linier berganda. Hasil penelitian diperoleh kesimpulan: (1) Kepribadian neuroticism berpengaruh positif terhadap partisipasi pekerja dalam program CIP di Pertamina RU IV Cilacap. (2) Kepribadian extraversion berpengaruh positif terhadap partisipasi pekerja dalam program CIP di Pertamina RU IV Cilacap (3) Kepribadian openness to experience berpengaruh positif terhadap partisipasi pekerja dalam program CIP di Pertamina RU IV Cilacap. (4) Kepribadian agreeableness berpengaruh positif terhadap partisipasi pekerja dalam program CIP di Pertamina RU IV Cilacap. (5) Kepribadian conscientiousness berpengaruh positif terhadap partisipasi pekerja dalam program CIP di Pertamina RU IV Cilacap. (6) Pengembangan karir berpengaruh positif terhadap partisipasi pekerja dalam program CIP di Pertamina RU IV Cilacap. (7) Kompensasi berpengaruh positif terhadap partisipasi pekerja dalam program CIP di Pertamina RU IV Cilacap. Implikasi dari hasil kesimpulan penelitian yaitu: (1) Pimpinan perlu mempelajari kepribadian pekerja agar dapat mendorong dan memotivasi pekerja untuk berpartisipasi dalam program CIP. Pimpinan dapat memanfaatkan waktu meeting untuk mengamati perilaku bawahan. Selain itu, pimpinan juga dapat memanfaatkan tenaga ahli psikolog untuk melakukan tes kepribadian. (2) Penilaian kerja oleh atasan dapat dilakukan secara objektif, sehingga setiap pekerja dapat memiliki kesempatan yang sama untuk dipromosikan. (3) Hasil karya pekerja dalam program CIP yang dapat diaplikasikan dalam meningkatkan mutu pekerjaan, hendaknya diberikan hak cipta dan dipublikasikan dalam jurnal | The title of this research is “The Effects of Personality, Career Development and Compensation towards Worker Participation In Continuous Improvement Program at Pertamina Refinery Unit IV Cilacap” . The aims of this research were to analyze: (1) The effect of personality towards worker participation in the CIP Program at Pertamina RU IV Cilacap, (2) The effect of career development towards worker participation in the CIP Program at Pertamina RU IV Cilacap, and (3) The effect of compensation towards worker participation in CIP Program at Pertamina RU IV Cilacap. This research was survey in nature with the total population of Pertamina RU IV Cilacap employees 1450 persons. The samples of this research were 314 which were taken by using proportional random sampling. To analyze the data, Double Linear Regression was used. The conclusions of this research were: (1) Neuroticism personality positively effected the worker participation in CIP program at Pertamina RU IV Cilacap, (2) Extraversion personality gave positive effect to worker participation in CIP program at Pertamina RU IV Cilacap, (3) Openness personality had positive effect towards the worker participation in CIP program at Pertamina RU IV Cilacap, (4) Agreeableness personality had positive effect towards the worker participation in CIP program at Pertamina RU IV Cilacap, (5) Conscientiousness personality also positively gave a positive effect to the worker participation in CIP program at Pertamina RU IV Cilacap, (6) Career development had positive effect towards the worker participation in the CIP program at Pertamina RU IV Cilacap, (7) Compensation also gave a positive effect to the worker participation in the CIP program at Pertamina RU IV Cilacap. The implications of this research were: (1) The chairperson needs to know the workers personality to encourage and motivate them to participate in CIP program. The chairperson can make use of a meeting time to observe the employees’ behavior. Furthermore, the chairperson may also hire the psychologist to hold personality test. (2) The working evaluation can be done objectively so that every worker will have the same opportunity for the promotion. (3) The product of the worker in the CIP program which can be applied for the sake of the development of working quality is supposed to have license and be published in journal. | |
| 7479 | 12755 | F1B008069 | DAMPAK KEBIJAKAN TEMPAT PEMROSESAN AKHIR SAMPAH TERHADAP KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DESA BANJARAN KECAMATAN BOJONGSARI KABUPATEN PURBALINGGA | Berkembangnya suatu kota yang diikuti laju pertumbuhan penduduk yang pesat dan perubahan perilaku, maka akan berakibat pula meningkatnya volume sampah secara periodik yang akan menambah beban bagi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah. Hal yang sama juga dialami masyarakat Purbalingga, TPA Banjaran dengan segala aktivitasnya apabila dikelola kurang baik dikhawatirkan akan menimbulkan pencemaran dan membentuk lingkungan yang tidak menyenangkan bagi masyarakat sekitar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan bagaimana dampak kebijakan TPA sampah terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat Desa Banjaran Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dan menggunakan purposive sampling sebagai penentuan sampel. Fokus dalam penelitian ini tertuju pada dampak yang diinginkan dan dampak yang tidak diinginkan akibat kebijakan tersebut. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa kebijakan TPA sampah lebih banyak menimbulkan perpektif negatif bagi masyarakat, yaitu pencemaran dan penyakit yang ditimbulkan akibat kegiatan di TPA Banjaran. | Development of a city that followed the rapid rate of population growth and changes in behavior, it will also result in increasing the volume of waste that will periodically add burden the landfill. The same thing is also experienced by people Purbalingga, Banjaran landfill with all its activities if managed poorly feared would cause pollution and establish an environment that is not pleasant for the people around. This study aims to identify and describe how the impact of landfill policy towards the socio-economic condition of the villagers of Banjaran District of Bojongsari Purbalingga. The method used was qualitative method and using purposive sampling as sampling. The focus in this study focused on the effect desired and undesired effects due to the Banjaran landfill policy. Based on the research, it can be concluded that the landfill policy causes more negative perspective for society, namely pollution and disease caused by activities at the landfill Banjaran. | |
| 7480 | 8427 | F1G009018 | PESAN MORAL DALAM DONGENG MAJALAH BOBO EDISI SEPTEMBER-OKTOBER 2013 | ABSTRAK Penelitian yang berjudul “Pesan Moral pada Beberapa Dongeng Majalah Bobo” bertujuan untuk mengetahui pesan moral yang terdapat dalam dongeng majalah Bobo edisi September-Oktober 2013. Serta mengetahui keterjalinan unsur intrinsik. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif, fokus penelitian ini adalah pesan moral yang terdapat pada beberapa dongeng majalah Bobo edisi September-Oktober 2013. Beberapa dongeng dalam majalah Bobo edisi September sampai Oktober 2013, yaitu “Topi Kera yang Terbang”, “Ponsel Idaman”, “Ah...”, “Tiga Pangeran dan Keinginannya”, ”Tempat yang Indah”, “Chemmy si Ayam Cemani”, “Keinginan Mimo”, dan “Tikus yang Melompat-lompat” Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keterjalinan bagian struktur meliputi alur, tokoh, latar,, dan tema, serta mendeskripsikan pesan moral pada beberapa dongeng majalah Bobo edisi September sampai Oktober 2013. Metode ini menggunakan pendekatan strukturalisme, yaitu hubungan antar unsur yang ada pada penelitian ini, kemudian mengkaitkan unsur intrinsik dengan pesan moral. Seperti hubungan alur dengan pesan moral dan sebagainya. Pengumpulan data dilakukan dengan cara membaca keseluruhan dongeng pada majalah Bobo edisi September-Oktober 2013, kemudian memilih beberapa dongeng untuk dianalisis, bagian struktur yang dianalisis meliputi, alur, tokoh, latar, dan tema. Tahap analisis data dilakukan dengan cara menganalisis bagian struktur dongeng, mendeskripsikan pesan moral yang terkandung, lalu menyimpulkan hasil analisis. Beberapa analisis data, pesan moral pada beberapa dongeng dalam majalah Bobo mengandung ajaran yang baik apabila diterapkan pada kehidupan sehari-hari pesan moral yang terkandung dalam beberapa dongeng majalah Bobo edisi September-Oktober 2013 diantaranya yaitu: “Tolong Menolong”, “Tidak boleh berprasangka buruk”, “Tidak boleh memiliki sikap tidak peduli dengan orang lain”, “Balas budi”, “Mau mengakui kesalahan”, “Jangan berbohong”, “Jangan memiliki sifat iri”, “Berusaha”, “Kebersamaan”, “Saling berbagi”, “Memberikan semangat,” “Menghibur teman” “Membantu teman,”, “Kerja sama”, “Jangan egois”, “Jangan malas,”, “Bersyukur”, “Keberanian,”, “Mau mencoba”, dan “Rasa ingin tahu,” | This research, entitled “Pesan Moral dalam Dongeng Majalah Bobo Edisi September-Oktober 2013” has a purpose to figure out moral messages short-stories in Bobo magazine from September until October 2013. Another purpose of this research is to find out how intinsic elements are tied each other. The reaserch is descriptive research, and the focus of this research is the moral message founded in some fairy tale Bobo magazine September until October 2013.Here are some short-stories in Bobo magazine September-October 2013 edition, “Topi Kera yang Melayang”, “Ponsel Idaman”, “Ah...”, “Tiga Pangeran dan Keinginannya”, ”Tempat yang Indah”, “Chemmy si Ayam Cemani”, “Keinginan Mimo”, dan “Tikus yang Melompat-lompat” The reasearch’s goal is to describe how intrinsic elemens, namely, plot, character , setting , and theme, are tied in, and to describe moral messages in short stories in Bobo magazine from September until October 2013. The approach us in this research is structuralism approach conducted by finding the interrelation of the intrinsic elements and then figuring out how these intrinsic elements perfume moral messages, for exemple, the interrelation between plot and moral messages. The data are collected through reading all short-stories in Bobo edition magazine September-October , 2013. Then, several short-stories are chosen to be analyzed. The structures of the chosen short-stories which are analyzed are plots, characters , setting , and theme. Finally, the is conducted by analyzing the intrinsic elements, describing, the moral messages, and councluding the result. . The result of the discussion show that several short-stories in Bobo magazine which are published from September until October 2013 contain some good moral messages to be applied in the daily life. Those short-stories are : (1) "help each other" , (2) " Do not be prejudiced " , (3) " There should not be indifference to others " , (4) " Reply favor " , (5) " Want to admit mistakes " , (6) " Do not lie " ,(7) " Do not have jealousy " ,(8) " Trying " ,(9) " togetherness " , (10) " sharing " , (11) " Giving spirit",(12)" Entertaining friends ", (13) " Helping a friend , " ,(14) " cooperation " , (15)" Do not be selfish " ,(16) " Do not be lazy , " ,(17)“ be grateful” ,(18) " Courage " ,(19) " want to try " , and (20) " Curiosity , |