Artikelilmiahs

Menampilkan 51.161-51.180 dari 51.229 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
5116154572F2C024018PENGARUH KOMUNIKASI PEMASARAN, KUALITAS PELAYANAN, DAN KEPERCAYAAN PASIEN TERHADAP PEMBENTUKAN LOYALITAS PASIEN PADA LAYANAN RUMAH SAKIT JIH PURWOKERTOPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh komunikasi pemasaran, kualitas pelayanan, dan kepercayaan pasien terhadap pembentukan loyalitas pasien di Rumah Sakit JIH Purwokerto. Persaingan yang ketat dalam industri jasa kesehatan menuntut rumah sakit untuk tidak hanya berfokus pada strategi promosi, melainkan juga membangun hubungan jangka panjang melalui peningkatan mutu layanan dan kepercayaan demi mempertahankan eksistensi organisasi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif dan kausal. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner kepada pasien Rumah Sakit JIH Purwokerto. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode Structural Equation Modeling (SEM) berbasis Partial Least Squares (PLS) untuk menguji hubungan antarvariabel. Hasil penelitian diharapkan dapat menunjukkan sejauh mana peran strategi komunikasi pemasaran yang dijalankan oleh Hubungan Masyarakat (Humas) dalam mengomunikasikan keunggulan rumah sakit. Selain itu, penelitian ini menguji bagaimana dimensi kualitas pelayanan (service quality) dan tingkat kepercayaan pasien secara simultan maupun parsial berkontribusi signifikan dalam membentuk komitmen serta loyalitas pasien. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan evaluasi dan rekomendasi strategis bagi manajemen Rumah Sakit JIH Purwokerto dalam menyusun kebijakan operasional, khususnya bagi divisi Humas dan layanan pelanggan, guna mempertahankan hubungan pelanggan (customer relations) yang harmonis serta meningkatkan profitabilitas rumah sakit yang berkelanjutan.This study aims to analyze the influence of marketing communication, service quality, and patient trust on the formation of patient loyalty at JIH Purwokerto Hospital. Intense competition in the healthcare industry requires hospitals to look beyond conventional promotional campaigns and establish sustainable, long-term customer relations by improving service delivery and cultivating trust. This research utilizes a quantitative method with descriptive and causal approaches. Data collection was carried out by distributing questionnaires to patients at JIH Purwokerto Hospital. Structural Equation Modeling (SEM) based on Partial Least Squares (PLS) was employed to analyze data and evaluate the relationships between variables. The results are expected to reveal the strategic role of public relations in managing effective marketing communication to convey hospital expertise. Furthermore, this study examines how service quality dimensions and patient trust significantly contribute, both simultaneously and partially, to cultivating patient commitment and loyalty. Practically, the findings serve as an evaluation and strategic reference for the management of JIH Purwokerto Hospital in formulating operational policies, particularly for public relations and customer service divisions, to maintain harmonious customer relations and optimize sustainable corporate profitability.
5116254573I1A022075FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP KELUHAN SUBJEKTIF DERMATITIS KONTAK PADA PETANI TANAMAN PANGAN DI KECAMATAN BANJARMANGU KABUPATEN BANJARNEGARALatar Belakang: Data Profil Ketenagakerjaan Umum Indonesia (2025) menunjukkan per bulan Februari terdapat sebanyak 28,54% masyarakat Indonesia bekerja di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dan menjadikannya sebagai pekerjaan dengan persentase tertinggi pada masyarakat Indonesia. Menurut WHO (2020), prevalensi dermatitis kontak mencapai 300 juta kasus setiap tahun di seluruh dunia. Studi pendahuluan pada 15 petani didapatkan hasil 100% petani mengalami keluhan subjektif dermatitis kontak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keluhan subjektif dermatitis kontak pada petani tanaman pangan di Kecamatan Banjarmangu Kabupaten Banjarnegara.

Metodologi: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh petani tanaman pangan di Kecamatan Banjarmangu dengan jumlah sampel sebanyak 222 orang yang ditentukan secara acak menggunakan cluster random sampling. Pengambilan data menggunakan kuesioner dan sling hygrometer, serta analisis data menggunakan uji chi-square dan uji regresi logistik ganda.

Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan (OR = 4,245) merupakan variabel yang paling berpengaruh, serta variabel usia (OR = 3,995), jenis kelamin (OR = 0,244), personal hygiene (OR = 2,965), dan kelembapan (OR = 3,747) merupakan variabel yang berpengaruh terhadap keluhan subjektif dermatitis kontak. Petani dengan pengetahuan yang kurang berpeluang 4,245 kali lebih tinggi mengalami keluhan subjektif dermatitis kontak dibandingkan petani dengan pengetahuan yang baik.

Kesimpulan: Variabel usia, jenis kelamin, pengetahuan, personal hygiene, dan kelembapan berpengaruh terhadap keluhan subjektif dermatitis kontak, serta pengetahuan menjadi variabel yang paling berpengaruh terhadap keluhan subjektif dermatitis kontak pada petani tanaman pangan di Kecamatan Banjarmangu Kabupaten Banjarenagara.

Kata Kunci: Dermatitis Kontak, Jenis Kelamin, Kelembapan, Pengetahuan, Petani
Background: The Indonesian General Employment Profile Data (2025) shows that as of February, 28.54% of Indonesia's population worked in the agriculture, forestry, and fisheries sector, making it the occupation with the highest percentage among Indonesians. According to WHO (2020), the prevalence of contact dermatitis reaches 300 million cases annually worldwide. A preliminary study on 15 farmers found that 100% experienced subjective complaints of contact dermatitis. This study aims to determine the factors influencing subjective complaints of contact dermatitis among food crop farmers in Banjarmangu Subdistrict, Banjarnegara Regency.

Method: This is a quantitative study using a cross-sectional approach. The population consisted of all food crop farmers in Banjarmangu Subdistrict, with a sample of 222 people selected randomly using cluster random sampling. Data were collected using questionnaires and a sling hygrometer, and analyzed using chi-square tests and multiple logistic regression tests.

Results: The results showed that knowledge (OR = 4.245) was the most influential factor associated with subjective complaints of contact dermatitis. Other significant factors included age (OR = 3.995), sex (OR = 0.244), personal hygiene (OR = 2.965), and humidity (OR = 3.747). Farmers with poor knowledge were 4.245 times more likely to experience subjective complaints of contact dermatitis than those with good knowledge.

Conclusion: Age, sex, knowledge, personal hygiene, and humidity were significantly associated with subjective complaints of contact dermatitis. Knowledge was identified as the most influential factor affecting subjective complaints of contact dermatitis among food crop farmers in Banjarmangu District, Banjarnegara Regency.

Keywords: Contact Dermatitis, Farmers, Gender, Humidity, Knowledge
5116354555I1A022094ANALISIS FAKTOR RISIKO YANG BERPENGARUH TERHADAP KEJADIAN TUBERKULOSIS PADA ANAK USIA 1-14 TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PURWOKERTO SELATAN Latar Belakang: Tuberkulosis anak berdampak pada pertumbuhan, perkembangan, risiko komplikasi, dan kematian. Purwokerto Selatan merupakan wilayah dengan kasus tertinggi (37,4%) tahun 2024. Penelitian bertujuan menganalisis faktor risiko kejadian tuberkulosis anak usia 1-14 tahun
Metode: Penelitian ini menggunakan desain case control melibatkan anak 1–14 tahun (66 kasus terdiagnosis dan 66 kontrol tidak menderita tuberkulosis, perbandingan 1:1, total 132 responden). Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Variabel meliputi jenis kelamin, cuci tangan pakai sabun, etika batuk keluarga, kebiasaan membuka ventilasi-jendela, vaksin BCG, paparan asap rokok, riwayat kontak, dan status gizi. Data kuesioner dikumpulkan dengan wawancara pada Juni 2026. Analisis menggunakan univariat, bivariat (Chi-Square), dan multivariat (regresi logistik berganda).
Hasil Penelitian: Bivariat menunjukkan perilaku cuci tangan pakai sabun (OR=2,938), etika batuk keluarga (OR=4,286), paparan asap rokok (OR=2,750), dan riwayat kontak (OR=4,395) berhubungan dengan TB anak. Multivariat menunjukkan cuci tangan kurang baik (OR=3,215), etika batuk kurang baik (OR=5,066), dan riwayat kontak (OR=4,395) adalah faktor risiko, sedangkan gizi buruk (OR=0,077) protektif. Etika batuk keluarga merupakan faktor paling dominan (OR=5,066).
Kesimpulan: Perilaku cuci tangan pakai sabun, etika batuk keluarga, dan riwayat kontak merupakan faktor risiko, sedangkan status gizi adalah faktor protektif. Hasil mengimplikasikan perlunya penguatan pencegahan TB anak melalui edukasi etika batuk benar dan cuci tangan pakai sabun, peningkatan investigasi kontak anak berriwayat kontak penderita, serta pemantauan gizi berkala.
Kata Kunci: tuberkulosis anak, faktor risiko, kasus kontrol, etika batuk, cuci tangan pakai sabun.
Background: Child tuberculosis affects physical growth, development, and increases the risk of complications and mortality. Purwokerto Selatan had the highest proportion of cases (37.4%) in 2024. This study aimed to analyze risk factors affecting tuberculosis incidence among children aged 1–14 years.
Methods: This study used a case–control design involving children aged 1–14 years (66 diagnosed cases and 66 non-tuberculosis controls, 1:1 ratio, total 132 respondents). Purposive sampling was used to select samples. Variables included gender, handwashing with soap, family coughing etiquette, window and ventilation opening habits, BCG vaccination, secondhand smoke exposure, contact history, and nutritional status. Questionnaire data were collected via interviews in June 2026. Data were analyzed using univariate, bivariate (Chi-Square), and multivariate (multiple logistic regression) analysis.
Result: Bivariate analysis showed that handwashing with soap (OR = 2.938), family coughing etiquette (OR = 4.286), secondhand smoke exposure (OR = 2.750), and contact history (OR = 4.395) were associated with child TB. Multivariate analysis revealed poor handwashing (OR = 3.215), poor family coughing etiquette (OR = 5.066), and contact history (OR = 4.395) as risk factors, whereas poor nutritional status (OR = 0.077) was protective. Family coughing etiquette was the most dominant factor (OR = 5.066).
Conclusion: Handwashing with soap, family coughing etiquette, and contact history are risk factors, while nutritional status is a protective factor. The findings imply the need to strengthen child TB prevention through education on proper coughing etiquette and handwashing with soap, enhanced contact investigation for children exposed to patients, and routine nutritional monitoring.
Keywords: child tuberculosis, risk factors, case control, coughing etiquette, handwashing with soap.
5116454574J1B022004Ngapak Sebagai Identitas Digital: Strategi Personal Branding Kreator TikTok melalui
Campur Kode pada Akun @raflychaniag0
ABSTRAK
Perkembangan media sosial telah mengubah cara masyarakat menggunakan bahasa dalam
berkomunikasi. Salah satu fenomena yang banyak ditemukan adalah penggunaan campur kode oleh
kreator konten sebagai strategi membangun identitas digital. Penelitian ini bertujuan
mendeskripsikan bentuk, jenis, dan faktor penyebab campur kode sekaligus menjelaskan peran
penggunaan bahasa Jawa Ngapak sebagai strategi personal branding kreator TikTok
@raflychaniag0. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan kajian
sosiolinguistik. Data berupa tuturan kreator yang diperoleh dari empat video TikTok, yaitu Rating
Kegiatan Anaknya Gua Wadon Due Lanang, Rating Matan-Mantane Gue, Rating Kuku Kimcil, dan
Rating Alis Kimcil. Data dikumpulkan menggunakan metode simak dengan teknik Simak Bebas
Libat Cakap (SBLC) dan teknik catat, kemudian dianalisis menggunakan metode padan
ekstralingual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk campur kode yang ditemukan meliputi
kata, frasa, baster, perulangan kata, idiom, dan klausa, dengan bentuk kata sebagai bentuk yang
paling dominan. Berdasarkan jenisnya, campur kode ke dalam (inner code-mixing) mendominasi
penggunaan bahasa dibandingkan campur kode ke luar (outer code-mixing) dan campur kode
campuran (hybrid code-mixing). Faktor yang melatarbelakangi penggunaan campur kode meliputi
faktor penutur, penggunaan istilah yang lebih populer, tujuan komunikatif, ragam bahasa, serta
penciptaan humor. Temuan penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Jawa Ngapak secara
konsisten tidak hanya berfungsi sebagai variasi bahasa, tetapi juga menjadi strategi personal
branding yang membentuk identitas digital kreator, memperkuat kedekatan dengan audiens, serta
membedakan karakter kreator dari konten sejenis di media sosial.
ABSTRACT
The rapid growth of social media has transformed the way people use language in digital
communication. One prominent phenomenon is the use of code-mixing by content creators as a
strategy to establish their digital identity. This study aims to describe the forms, types, and factors
of code-mixing while explaining the role of the Banyumas Ngapak dialect as a personal branding
strategy employed by the TikTok creator @raflychaniag0. This research applies a qualitative
descriptive approach within a sociolinguistic framework. The data consist of the creator's
utterances collected from four TikTok videos entitled Rating Kegiatan Anaknya Gua Wadon Due Lanang, Rating Matan-Mantane Gue, Rating Kuku Kimcil, and Rating Alis Kimcil. Data were
collected using the observation method with the non-participatory observation technique and note-
taking, and analyzed using the extralingual equivalent method. The findings reveal six forms of
code-mixing, namely words, phrases, basters, reduplications, idioms, and clauses, with word-level
code-mixing being the most dominant. Based on its type, inner code-mixing occurs more frequently
than outer and hybrid code-mixing. The factors influencing code-mixing include speaker-related
factors, the use of popular terms, communicative purposes, language variety, and humorous
expression. Furthermore, the study demonstrates that the consistent use of the Ngapak dialect
functions not only as linguistic variation but also as a personal branding strategy that constructs
the creator's digital identity, strengthens audience engagement, and distinguishes the creator from
other content creators on social media.
5116554575F1F022034ANALISIS POLA PERDAGANGAN CRUDE PALM OIL (CPO) INDONESIA-TIONGKOK DALAM KERANGKA ASEAN-CHINA FREE TRADE AREA (ACFTA) TAHUN 2020-2024Perdagangan minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) antara Indonesia dan Tiongkok mengalami perkembangan yang signifikan dalam kerangka ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA). Sebagai eksportirCPO terbesar di dunia, Indonesia menjadikan Tiongkok sebagai salah satu pasar ekspor utama, sementara Tiongkok bergantung pada pasokan CPO Indonesia
untuk memenuhi kebutuhan industri dan konsumsi domestiknya. Meskipun demikian, perdagangan CPO selama periode 2020-2024 dihadapkan pada berbagai dinamika, seperti pandemi COVID-19, fluktuasi harga CPO dunia, perubahan kebijakan perdagangan, serta persaingan dengan negara produsen lain. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola perdagangan CPO Indonesia-Tiongkok dalam kerangka ACFTA selama periode 2020-2024 menggunakan perspektif interdependensi asimetris yang dikemukakan oleh Keohane & Nye (2011), khususnya konsep sensitivitas dan kerentanan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan data penelitian yang diperoleh dari laporan pemerintah, artikel jurnal, serta berbagai dokumen pendukung lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ACFTA menyediakan kerangka kelembagaan yang mendukung perdagangan CPO Indonesia-Tiongkok melalui preferensi tarif, kepastian aturan, dan akses pasar yang lebih terbuka. Analisis menunjukkan bahwa hubungan perdagangan kedua negara memiliki tingkat sensitivitas yang moderat terhadap perubahan tersebut dan mencerminkan interdependensi yang bersifat asimetris.
The trade of Crude Palm Oil (CPO) between Indonesia and China has experienced significant development within the framework of the ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA). As the world's largest CPO exporter, Indonesia regards China as one of its primary export markets, while China relies on Indonesian CPO supplies to meet its industrial and domestic consumption
needs. Nevertheless, CPO trade during the 2020-2024 period was influenced by various dynamics, including the COVID-19 pandemic, fluctuations in global CPO prices, changes in trade policies, and competition from other producing countries. This study aims to analyze the trade pattern of Indonesian CPO exports to China within the ACFTA framework during the 2020-2024 period by employing the perspective of asymmetrical interdependence proposed by Keohane and Nye (2011), with particular emphasis on the concepts of sensitivity and vulnerability. This research adopts a qualitative research method, utilizing data collected from government reports, academic journal articles, and other relevant supporting documents. The findings indicate that ACFTA provides an institutional framework that facilitates Indonesia-China CPO trade through tariff preferences, greater regulatory certainty, and more open market access. The analysis further demonstrates that the trade relationship between the two countries exhibits a moderate degree of sensitivity to these changes and reflects an asymmetrical interdependence.
5116654577F1C022099PERAN SCRIPTWRITER DALAM PEMBUATAN KARYA FILM DOKUMENTER “ASA WASTRA BANYUMASAN: MENJAGA WARISAN, MENCANTING HARAPAN”Batik Banyumasan merupakan bagian dari warisan budaya masyarakat Banyumas yang tidak hanya memiliki ciri khas pada motif dan proses pembuatannya, tetapi juga menyimpan nilai sejarah dan filosofi yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat setempat. Di tengah perkembangan zaman, keberadaan Batik Banyumasan menghadapi berbagai persoalan, mulai dari persaingan dengan kain printing bermotif batik hingga berkurangnya minat generasi muda untuk mengenal dan meneruskan keterampilan membatik. Kondisi tersebut menjadi dasar penciptaan film dokumenter “Asa Wastra Banyumasan: Menjaga Warisan, Mencanting Harapan” yang berupaya mengangkat keberadaan Batik Banyumasan sekaligus melihat bagaimana budaya tersebut bertahan di tengah perubahan zaman. Film dokumenter ini membahas sejarah dan asal-usul Batik Banyumasan, karakteristik dan filosofi motif, kondisi yang dihadapi para perajin, serta berbagai langkah pelestarian dan inovasi yang dilakukan untuk menjaga keberlangsungannya. Penciptaan karya dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui observasi, wawancara, dan studi literatur. Informasi yang diperoleh kemudian disusun ke dalam alur dokumenter dengan menghadirkan sudut pandang budayawan, perajin, pengelola usaha batik, dan pemerintah daerah. Hasil karya memperlihatkan bahwa keberlangsungan Batik Banyumasan tidak hanya bergantung pada kemampuan perajin dalam mempertahankan tradisi, tetapi juga pada keterbukaan terhadap inovasi dan keterlibatan generasi muda. Melalui penyajian fakta, pengalaman para narasumber, serta visual kehidupan dan aktivitas membatik di Banyumas, film ini diharapkan dapat menjadi media untuk mengenalkan kembali Batik Banyumasan sekaligus mendorong masyarakat, terutama generasi muda, agar lebih mengenal, menghargai, dan ikut menjaga keberadaannya sebagai bagian dari identitas budaya lokal.Banyumasan Batik is part of the cultural heritage of the Banyumas community, characterized not only by its distinctive motifs and traditional production process but also by historical and philosophical values closely connected to the lives of the local community. Amid changing times, the existence of Banyumasan Batik faces several challenges, ranging from competition with printed fabrics featuring batik patterns to the declining interest among younger generations in learning about and continuing the tradition of batik making. This condition became the basis for the creation of the documentary film “Asa Wastra Banyumasan: Menjaga Warisan, Mencanting Harapan,” which seeks to explore the existence of Banyumasan Batik and examine how this cultural heritage continues to survive amid social and cultural changes. The documentary explores the history and origins of Banyumasan Batik, the characteristics and philosophies behind its motifs, the challenges faced by artisans, as well as various preservation efforts and innovations undertaken to sustain its continuity. The creative process employed a qualitative approach through observation, interviews, and literature studies. The information obtained was then developed into a documentary narrative by presenting perspectives from cultural figures, artisans, batik business managers, and local government representatives. The resulting work demonstrates that the sustainability of Banyumasan Batik depends not only on the ability of artisans to preserve traditional practices but also on openness to innovation and the involvement of younger generations. Through the presentation of factual information, the experiences of the interviewees, and visuals depicting local life and batik-making activities in Banyumas, this film is expected to serve as a medium for reintroducing Banyumasan Batik while encouraging the public, particularly younger generations, to recognize, appreciate, and participate in preserving it as part of the local cultural identity.
5116754578B1B022003Phytobenthic Structure Community Based on Substrate Characteristics Along The Banjaran River Fitobenthos dalam ekosistem air tawar berfungsi sebagai produsen primer yang hidup menempel pada substrat yang terendam. Struktur komunitas fitobenthos sangat dipengaruhi oleh jenis substrat dan karakteristik habitat lainnya. Substrat memiliki peran penting sebagai permukaan penempelan, menentukan stabilitas habitat, dan memberikan perlindungan terhadap gangguan arus, sehingga memengaruhi proses kolonisasi dan pembentukan komunitas fitobenthos. Perbedaan jenis substrat dapat memengaruhi komposisi taksonomi, kelimpahan, keanekaragaman, dan dominansi komunitas fitobenthos. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan membandingkan struktur komunitas fitobenthos pada berbagai jenis substrat di sepanjang Sungai Banjaran.
Penelitian ini dilakukan dengan metode survei menggunakan pengambilan sampel purposif di tiga stasiun pengamatan yang mewakili karakteristik habitat berbeda di sepanjang Sungai Banjaran. Pengambilan sampel dilakukan empat kali dengan selang waktu satu minggu. Sampel fitobenthos dikumpulkan dari empat jenis substrat, yaitu puing kayu, kerikil besar, kerikil kecil, dan pasir, dalam kuadran berukuran 0,5 × 0,5 m, kemudian diidentifikasi di bawah mikroskop cahaya dengan perbesaran 200×. Kelimpahan dihitung menggunakan metode Sedgwick–Rafter Counting Chamber, sedangkan parameter kualitas air diukur sesuai dengan prosedur APHA. Analisis struktur komunitas mencakup komposisi spesies, kelimpahan, kepadatan relatif, indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H'), indeks dominansi Simpson (C), serta analisis kemiripan komunitas menggunakan indeks Analisis Kluster Bray-Curtis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas fitobenthos di Sungai Banjaran terdiri dari 42 spesies yang tergolong dalam divisi Cyanophyta, Bacillariophyta, Chlorophyta, dan Charophyta. Substrat kerikil memiliki kekayaan spesies tertinggi (38 spesies) dan kelimpahan total tertinggi sebesar 23.893 ind/cm², namun menunjukkan indeks keanekaragaman yang relatif rendah (H' = 1,654) serta dominansi yang lebih tinggi (C = 0,294) akibat dominasi beberapa spesies diatom, yaitu Nitzschia palea dan Navicula sp. Sebaliknya, substrat berpasir memiliki kelimpahan total terendah (961 ind/cm²), namun menunjukkan nilai keanekaragaman tertinggi (H' = 2,554) dan dominansi terendah (C = 0,103). Analisis kluster Bray-Curtis menunjukkan bahwa komunitas fitobentos pada substrat kerikil dan puing kayu memiliki kemiripan komunitas fitobentos tertinggi sebesar 79,09%, sedangkan substrat berpasir berbeda dari substrat lainnya, dengan tingkat kemiripan kurang dari 26%.
Phytobenthos in freshwater ecosystems function as primary producers that live attached to submerged substrates. The structure of phytobenthos communities is strongly influenced by substrate type and others habitat characteristics. Substrate has an essential role as an attachment surface, determines habitat stability, and provides protection against flow disturbance, thereby influencing colonization processes and the formation of phytobenthic communities. Differences in substrate type can influence the species composition, abundance, diversity, and dominance of phytobenthos communities. This study aims to identify and compare the structure of phytobenthos communities on various substrate types along the Banjaran River.
The study was conducted using a survey method with purposive sampling at three observation stations representing different habitat characteristics along the Banjaran River. Sampling was conducted four times at one-week intervals. Phytobenthos samples were collected from four substrate types, woody debris, cobble, pebble, and sand, within 0.5 × 0.5 m quadrants and then identified under a light microscope at 200× magnification. Abundance was calculated using the Sedgwick–Rafter method, while water quality parameters were measured according to APHA procedures. Community structure analysis included species composition, abundance, relative density, the Shannon-Wiener diversity index (H'), the Simpson dominance index (C), and community similarity analysis using the Bray-Curtis Cluster Analysis index.
The results of the research showed that the phytobenthos community in the Banjaran River consisted of 42 species classified under the divisions Cyanophyta, Bacillariophyta, Chlorophyta, and Charophyta. The cobble substrate had the highest taxa richness (38 species) and the highest total abundance of 23,893 ind/cm², but exhibited a relatively low diversity index (H' = 1.654) and higher dominance (C = 0.294) due to the dominance of several diatom species, Nitzschia palea and Navicula sp. In contrast, the sandy substrate had the lowest total abundance (961 ind/cm²), but exhibited the highest diversity value (H' = 2.554) and the lowest dominance (C = 0.103). Bray-Curtis cluster analysis showed that the phytobenthos communities on the pebble and woody debris substrates had the highest phytobenthos community similarity at 79.09%, while the sandy substrate was distinct from the other substrates, with a similarity level of less than 26%.
5116854579L1A022027STRUKTUR KOMUNITAS MAKROZOOBENTHOS SEBAGAI BIOINDIKATOR KUALITAS PERAIRAN DI HULU SUNGAI PEMALI KABUPATEN BREBES JAWA TENGAHHulu Sungai Pemali, Kabupaten Brebes, menghadapi tekanan antropogenik seperti pasar, pabrik kayu, pemukiman, dan lahan pertanian. Penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik fisik-kimia perairan, struktur komunitas makrozoobenthos (keanekaragaman, keseragaman, dominansi), dan status kualitas perairan menggunakan Family Biotic Index (FBI). Pengambilan sampel dilakukan di tiga stasiun dengan purposive sampling sebanyak tiga kali interval dua minggu. Parameter fisika-kimia meliputi suhu, arus, kecerahan, kedalaman, pH, dan DO BOD diukur dengan titrasi di Laboratorium FPIK, sedangkan total nitrogen dianalisis di BB Lab. Kesehatan Masyarakat Yogyakarta. Sampel makrozoobenthos diambil menggunakan Surber Net (30×40 cm) dan diidentifikasi hingga genus. Data dianalisis menggunakan indeks Shannon-Wiener (H'), keseragaman (E), dominansi Simpson (C), FBI, PCA, dan One-Way ANOVA. Ditemukan 768 individu dari 3 kelas, 17 famili, dan 22 spesies. Nilai H' 2,03–2,48 (sedang), E 0,82–0,92 (tinggi), dan C 0,10–0,18 (rendah). Nilai FBI 4,51–4,77 (kategori "Baik"), dengan interpretasi semakin rendah FBI semakin baik kualitas perairan. PCA menunjukkan Stasiun 1 berasosiasi dengan DO, arus, dan kecerahan; Stasiun 2 dengan BOD; Stasiun 3 dengan suhu, pH, dan kedalaman. Uji One-Way ANOVA menunjukkan hanya suhu yang berbeda signifikan antar stasiun (p=0,049). Berdasarkan seluruh indeks, Stasiun 3 memiliki kualitas perairan terbaik (FBI terendah, H' tertinggi, C terendah, E tinggi).
Kata kunci: Bioindikator, Family Biotic Index, Kualitas Air, Makrozoobenthos, Sungai Pemali

The upstream of Pemali River, Brebes Regency, faces anthropogenic pressures such as markets, wood factories, settlements, and agricultural land. This study aims to analyze the physicochemical characteristics of the water, macrozoobenthos community structure (diversity, evenness, dominance), and water quality status using the Family Biotic Index (FBI). Sampling was conducted at three stations using purposive sampling, repeated three times at two-week intervals. Physicochemical parameters included temperature, current, clarity, depth, pH, and DO; BOD was measured by titration at the FPIK Laboratory, while total nitrogen was analyzed at the Yogyakarta Public Health Laboratory. Macrozoobenthos samples were collected using a Surber Net (30×40 cm) and identified to genus level. Data were analyzed using Shannon-Wiener (H'), evenness (E), Simpson dominance (C), FBI, PCA, and One-Way ANOVA. A total of 768 individuals from 3 classes, 17 families, and 22 species were found. H' ranged from 2.03 to 2.48 (moderate), E ranged from 0.82 to 0.92 (high), and C ranged from 0.10 to 0.18 (low). FBI values ranged from 4.51 to 4.77, categorizing water as "Good", where lower scores indicate better quality. PCA showed Station 1 associated with DO, current, and clarity; Station 2 with BOD; and Station 3 with temperature, pH, and depth. One-Way ANOVA showed only temperature differed significantly (p=0.049). Based on all indices, Station 3 had the best quality (lowest FBI, highest H', lowest C, high E).
5116954576F1D022050PERSEKUSI PERS DAN KEMUNDURAN DEMOKRASI DI FILIPINA PADA TAHUN 2001–2010Penelitian ini membahas persekusi pers dan kemunduran demokrasi di Filipina selama masa kepemimpinan Presiden Gloria Macapagal Arroyo (2001–2010). Dalam beberapa studi, banyak yang mengatakan bahwa pers adalah pilar keempat demokrasi, di luar tiga cabang utamanya yaitu eksekutif, legislatif, dan yudikatif, peran mereka merupakan watchdog dari ketiga pilar tersebut. Kebebasan pers, merupakan bagian dari dimensi kebebasan sipil dalam demokrasi, mengalami kemunduran signifikan pada periode ini, ditandai penurunan status Filipina dari free menjadi partly free menurut Freedom House sejak 2004, serta meningkatnya angka pembunuhan jurnalis akibat pekerjaanya, dengan puncaknya pada pembantaian Maguindanao 2009. Kondisi tersebut diperparah oleh lemahnya penegakan hukum yang menciptakan budaya impunitas bagi pelaku kekerasan. Dengan menggunakan teori democratic backsliding (Bermeo) serta media capture (Stiglitz). Penelitian ini menemukan bahwa pembiaran negara terhadap kekerasan pers menjadi salah satu bentuk pelemahan checks yang berlangsung secara bertahap dan sistematis. Sekaligus menunjukkan bagaimana “penguasaan media” oleh elite politik dan oligarki lokal tidak selamanya memiliki arti kepemilikan sebuah perusahaan, tapi bisa juga untuk menyebarkan rasa takut, intimidasi dan kekerasan untuk membungkam pers yang dianggap mengancam kepentingan mereka.This study examines the persecution of the press and the decline of democracy in the Philippines during the presidency of Gloria Macapagal Arroyo (2001–2010). Many studies have described the press as the fourth pillar of democracy, distinct from the three main branches—the executive, legislative, and judicial—and its role as a watchdog over these three pillars. Press freedom, a component of civil liberties in a democracy, experienced a significant decline during this period, marked by the Philippines’ downgrade from “free” to “partly free” by Freedom House starting in 2004, as well as a rise in the number of journalists killed in the line of duty, culminating in the 2009 Maguindanao massacre. This situation has been exacerbated by weak law enforcement, which has fostered a culture of impunity for perpetrators of violence. Drawing on the theories of “democratic backsliding” (Bermeo) and “media capture” (Stiglitz), This study finds that the state’s tolerance of violence against the press constitutes a form of gradual and systematic erosion of checks and balances. It also demonstrates how “media capture” by political elites and local oligarchs does not necessarily mean ownership of a media company, but can also involve the use of fear, intimidation, and violence to silence the press deemed a threat to their interests.
5117054580J1E022031THE EFFECTIVENESS OF USING WORDWALL AS A GAMIFICATION-BASED LEARNING MEDIUM IN IMPROVING STUDENTS’ VOCABULARY (A Quasi-Experimental Research at 8th Grade of SMPN 4 Kalibagor in the Academic Year of 2025/2026)ABSTRAK

Suci, Feby Permata, 2026. The Effectiveness of Using Wordwall as a Gamification-Based Learning Medium in Improving Students’ Vocabulary (A Quasi-Experimental Research at the Eighth Grade of SMP Negeri 4 Kalibagor in the Academic Year of 2025/2026). Pembimbing I: Laxmi Mustika Cakrawati, S.Pd., M.Pd., Pembimbing II: Dian Adiarti, S.Pd., M.Hum., Penguji: Weksa Fradita Asriyama, S.Pd., M.Pd., Moderator: Novita Pri Andini, S.Pd., M.Pd. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Universitas Jenderal Soedirman, Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Pendidikan Bahasa, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Purwokerto.

Penguasaan kosakata merupakan salah satu aspek penting dalam pembelajaran bahasa Inggris. Wordwall merupakan media pembelajaran berbasis gamifikasi yang menyediakan berbagai aktivitas interaktif untuk mendukung pembelajaran kosakata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan Wordwall sebagai media pembelajaran berbasis gamifikasi dalam meningkatkan penguasaan kosakata siswa serta mengidentifikasi respons siswa terhadap penggunaannya dalam pembelajaran kosakata. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian kuasi eksperimen yang melibatkan 40 siswa kelas VIII SMPN 4 Kalibagor Tahun Ajaran 2025/2026. Instrumen penelitian yang digunakan meliputi tes penguasaan kosakata, dan angket. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji Independent Sample t-test, dan uji Normalized Gain (N-Gain) dengan bantuan IBM SPSS Statistics 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai kelompok eksperimen meningkat dari 65,20 menjadi 78,45, sedangkan rata-rata nilai kelompok kontrol meningkat dari 66,65 menjadi 72,55. Nilai signifikansi uji Independent Sample t-test sebesar 0,013 (p < 0,05). Selain itu, kelompok eksperimen memperoleh skor N-Gain sebesar 0,38 (kategori sedang), sedangkan kelompok kontrol memperoleh skor 0.18 (kategori rendah). Hasil angket juga menunjukkan bahwa siswa secara umum memberikan respons positif terhadap penggunaan Wordwall. Temuan penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Wordwall berkaitan dengan peningkatan penguasaan kosakata yang lebih tinggi dibandingkan pembelajaran konvensional.

Kata kunci: gamifikasi, penguasaan kosakata, Wordwall.
ABSTRACT

Suci, Feby Permata, 2026. The Effectiveness of Using Wordwall as a Gamification-Based Learning Medium in Improving Students’ Vocabulary (A Quasi-Experimental Research at the Eighth Grade of SMP Negeri 4 Kalibagor in the Academic Year of 2025/2026). Thesis Supervisor 1: Laxmi Mustika Cakrawati, S.Pd., M.Pd., Thesis Supervisor 2: Dian Adiarti, S.Pd., M.Hum., External Examiner: Weksa Fradita Asriyama, S.Pd., M.Pd., Moderator: Novita Pri Andini, S.Pd., M.Pd. Ministry of Higher Education, Science, and Technology, Jenderal Soedirman University, Faculty of Humanities, Language Education Department, English Education Study Program, Purwokerto.

Vocabulary mastery is an essential aspect of English language learning. Wordwall is a gamification-based learning medium that provides interactive activities to support vocabulary learning. This research aimed to determine the effectiveness of using Wordwall as a gamification-based learning medium in improving students’ vocabulary mastery and to identify students’ responses toward its use in vocabulary learning. This research employed a quantitative approach using a quasi-experimental research design involving 40 eighth-grade students of SMP Negeri 4 Kalibagor in the academic year of 2025/2026. The research instruments were vocabulary tests, and questionnaires. The data were analyzed using descriptive statistics, the Independent Sample t-test, and the Normalized Gain (N-Gain) test with the assistance of IBM SPSS Statistics 25. The findings showed that the experimental group mean score increased from 65.20 to 78.45, while the control group mean score increased from 66.65 to 72.55. The significance value of the Independent Sample t-test was 0.013 (p < 0.05). In addition, the experimental group obtained an N-Gain score of 0.38 (moderate category), whereas the control group obtained 0.18 (low category). The questionnaire results also indicated that students generally gave positive responses toward the use of Wordwall. These findings indicated that the use of Wordwall was associated with higher vocabulary improvement than conventional instruction.

Keywords: gamification, vocabulary mastery, Wordwall.
5117154581K1A022004Uji Aktivitas Antijamur Sediaan Nanoemulgel Ekstrak Etanol Rimpang Kunyit Hitam (Curcuma caesia Roxb.) Terhadap Jamur Malassezia furfurMalassezia furfur merupakan jamur penyebab panu (Pityriasis versicolor) yang banyak ditemukan di daerah tropis. Pengobatan penyakit ini umumnya menggunakan antijamur golongan azol, namun meningkatnya resistensi terhadap beberapa obat azol mendorong pengembangan alternatif terapi berbasis bahan alam. Rimpang kunyit hitam (Curcuma caesia Roxb.) diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antijamur dan diformulasikan dalam bentuk nanoemulgel untuk meningkatkan efektivitas penghantaran zat aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antijamur nanoemulgel ekstrak rimpang kunyit hitam terhadap M. furfur. Penelitian dilakukan melalui preparasi sampel, maserasi menggunakan pelarut etanol, skrining fitokimia denagn penambahan reagen, formulasi nanoemulgel, evaluasi fisik, uji stabilitas, karakterisasi nanoemulgel, dan uji aktivitas antijamur dengan difusi sumuran. Hasil skrining fitokimia mengkonfirmasi adanya kandungan alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan terpenoid pada ekstrak. Nanoemulgel yang terbentuk terdiri dari F0, F1, F2, dan F3. Secara fisik, nanoemulgel memiliki karakteristik organoleptis yang baik dan homogen, dengan nilai pH berada pada rentang 5,80–6,37 dan daya sebar berada pada rentang 4,73–6,37 cm. Uji sentrifugasi dan freeze and thaw menunjukkan stabilitas fisik sediaan yang baik, sementara % transmitan seluruh formula menunjukkan nilai >98%, yang mengindikasikan tingkat kejernihan sediaan yang baik. Berdasarkan metode De Garmo, formula F3 memiliki nilai produk tertinggi sebesar 0,67 sehingga ditetapkan sebagai formula terbaik dan dikarakterisasi menggunakan Particle Size Analyzer (PSA), dengan hasil ukuran partikel 250 nm, indeks polidispersitas (IP) 0,1231, dan zeta potensial 9,2 mV. Diameter zona hambat F0, F1, F2, dan F3 yang terbentuk pada uji aktivitas antijamur berturut-turut sebesar 2,845; 3,828; 4,754; dan 5,112 mm, dengan aktivitas tertinggi ditunjukkan oleh formula F3.Malassezia furfur is a fungal pathogen that causes pityriasis versicolor (commonly known as tinea versicolor), a skin condition frequently found in tropical regions. Treatment for this disease generally relies on azole-group antifungal agents; however, increasing resistance to several azole drugs has encouraged the development of alternative therapies based on natural ingredients. Black turmeric rhizome (Curcuma caesia Roxb.) is known to contain secondary metabolite compounds with potential antifungal activity and was formulated into a nanoemulgel to enhance the delivery efficacy of its active compounds. This study aimed to determine the antifungal activity of black turmeric rhizome extract nanoemulgel against M. furfur. The research was conducted through sample preparation, maceration using ethanol as the solvent, phytochemical screening through the addition of reagents, nanoemulgel formulation, physical evaluation, stability testing, nanoemulgel characterization, and antifungal activity testing using the well diffusion method. The phytochemical screening results confirmed the presence of alkaloids, flavonoids, tannins, saponins, and terpenoids in the extract. The nanoemulgels formed consisted of F0, F1, F2, and F3. Physically, the nanoemulgels exhibited good organoleptic characteristics and homogeneity, with pH values ranging from 5.80–6.37 and spreadability values ranging from 4.73–6.37 cm. Centrifugation and freeze-thaw tests showed good physical stability of the preparations, while the percentage transmittance of all formulas showed values >98%, indicating a good level of clarity. Based on the De Garmo method, formula F3 had the highest product value of 0.67, and was therefore established as the best formula and characterized using a Particle Size Analyzer (PSA), yielding a particle size of 250 nm, a polydispersity index (PDI) of 0.1231, and a zeta potential of 9.2 mV. The inhibition zone diameters of F0, F1, F2, and F3 formed in the antifungal activity test were 2.845; 3.828; 4.754; and 5.112 mm, respectively, with the highest activity shown by formula F3.
5117254582J0B023025PENERJEMAHAN DOKUMEN PROFIL PERUSAHAAN KE DALAM BAHASA MANDARIN DI DEPARTEMEN MARKETING PT PUNDARIKA ATMA SEMESTA JAKARTA PUSATPenelitian ini bertujuan menganalisis strategi penerjemahan istilah teknis dan restrukturisasi gramatikal dalam dokumen profil perusahaan PT Pundarika Atma Semesta dari bahasa Indonesia ke bahasa Mandarin. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan data berupa kosakata teknis, istilah industri pemadam kebakaran, serta kalimat-kalimat dalam dokumen profil perusahaan. Analisis dilakukan berdasarkan metode penerjemahan komunikatif dan teknik deskripsi untuk mengidentifikasi bentuk kesepadanan leksikal dan penyesuaian struktur sintaksis dalam bahasa sasaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa istilah yang memiliki padanan langsung, seperti perusahaan–公司, produk–产品, dan mobil pemadam kebakaran–消防车, diterjemahkan melalui kesepadanan leksikal langsung. Sementara itu, istilah yang tidak memiliki padanan langsung, seperti tipe kupu-kupu, ABS, dan EBD, diterjemahkan menggunakan teknik deskripsi dengan menjelaskan fungsi dan karakteristik istilah tersebut. Selain itu, ditemukan adanya restrukturisasi gramatikal pada penerjemahan alamat, tanggal, dan frasa legalitas perusahaan untuk menyesuaikan kaidah sintaksis bahasa Mandarin. Temuan penelitian menunjukkan bahwa metode penerjemahan komunikatif yang dipadukan dengan teknik deskripsi mampu menghasilkan terjemahan yang akurat, berterima, dan mudah dipahami oleh pembaca bahasa Mandarin. Penelitian ini memberikan kontribusi pada kajian linguistik penerjemahan, khususnya mengenai penerjemahan istilah teknis dan penyesuaian struktur gramatikal dalam komunikasi bisnis lintas bahasa.This study aims to analyze the translation strategies of technical terms and grammatical restructuring in the company profile document of PT Pundarika Atma Semesta translated from Indonesian into Mandarin. This research employed a descriptive qualitative approach using technical vocabulary, firefighting industry terminology, and sentences contained in the company profile document as the research data. The analysis was conducted based on the communicative translation method and the description technique to identify lexical equivalence and syntactic adjustments in the target language. The findings indicate that terms with direct equivalents, such as perusahaan–公司 (company), produk–产品 (product), and mobil pemadam kebakaran–消防车 (fire truck), were translated through direct lexical equivalence. Meanwhile, terms without direct equivalents, such as tipe kupu-kupu, ABS, and EBD, were translated using the description technique by explaining their functions and characteristics. In addition, grammatical restructuring was identified in the translation of addresses, dates, and company legal statements to conform to Mandarin syntactic conventions. The study concludes that the communicative translation method combined with the description technique is effective in producing translations that are accurate, acceptable, and easily understood by Mandarin-speaking readers. This research contributes to translation studies, particularly in the translation of technical terminology and grammatical restructuring in cross-linguistic business communication.
5117354583H1D019045ANALISIS USABILITY DAN LEARNABILITY PADA GAME SAILOR PIECE (ROBLOX) MENGGUNAKAN METODE SYSTEM USABILITY SCALE (SUS)Pesatnya pertumbuhan platform Roblox menciptakan ekosistem User-Generated Virtual Worlds (UGVW) yang masif, di mana retensi pemain sangat dipengaruhi oleh kemudahan memahami mekanisme permainan (learnability). Sailor Piece merupakan salah satu game bergenre role-playing game (RPG) populer dengan mekanik kompleks yang berisiko menimbulkan hambatan kognitif bagi pemain baru apabila tidak didukung oleh antarmuka yang intuitif. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur dan menganalisis tingkat usability serta learnability pada game Sailor Piece menggunakan metode System Usability Scale (SUS) guna merumuskan rekomendasi perbaikan desain antarmuka bagi pengembang, Shadowrise Devs. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan data dikumpulkan melalui kuesioner SUS berbasis skala Likert terhadap 32 responden pemain aktif, yang selanjutnya diolah menjadi skor terstandardisasi (0–100) dan diinterpretasikan menggunakan Adjective Rating. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sailor Piece memperoleh skor rata-rata SUS sebesar 56,17 yang tergolong kategori Awful dan berada di bawah standar kelayakan usabilitas umum (≥ 68–70). Masalah utama terletak pada dimensi learnability dan tingginya ketergantungan pemain baru terhadap panduan eksternal seperti Wiki/YouTube (butir Q4, Q7, Q10), sementara navigasi menu dasar dan kepercayaan diri pemain dalam menjalankan misi dinilai cukup baik setelah melewati fase awal (butir Q8, Q9). Berdasarkan temuan tersebut, direkomendasikan pengembangan guided tutorial interaktif di Sea 1 serta integrasi fitur In-Game Guidebook/Codex untuk meningkatkan retensi dan kenyamanan pemain.The rapid growth of the Roblox platform has produced a massive User-Generated Virtual Worlds (UGVW) ecosystem, in which player retention is strongly influenced by how easily players understand the game mechanics (learnability). Sailor Piece is a popular role-playing game (RPG) with complex mechanics that risk creating cognitive barriers for new players when not supported by an intuitive interface. This study aims to measure and analyze the usability and learnability of Sailor Piece using the System Usability Scale (SUS) method to formulate interface-design recommendations for the developer, Shadowrise Devs. A descriptive quantitative approach was used, with data collected through a Likert-scale SUS questionnaire distributed to 32 active player respondents, processed into standardized scores (0–100), and interpreted using Adjective Ratings. The results show that Sailor Piece obtained an average SUS score of 56.17, categorized as “Awful” and below the acceptable usability benchmark. The main issue lies in the learnability dimension and heavy reliance on external guides such as Wiki/YouTube (items Q4, Q7, Q10), while basic menu navigation and player confidence in performing missions were rated favorably after the initial phase (items Q8, Q9). Based on these findings, an interactive guided tutorial in Sea 1 and an in-game Guidebook/Codex feature are recommended to improve player retention and satisfaction.
Keywords: Learnability, Roblox, Sailor Piece, System Usability Scale (SUS), Usability.
5117454594F1A022067LabellingTerhadap Mantan Pecandu Narkoba Di Desa Slarang Kecamatan Kesugihan Kabupaten CilacapPelabelan sosial terhadap mantan pecandu narkoba menjadi salah satu hambatan utama dalam proses reintegrasi sosial setelah menjalani rehabilitasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis proses pembentukan pelabelan sosial, memahami pemaknaan masyarakat terhadap mantan pecandu narkoba, serta mengidentifikasi bentuk-bentuk pelabelan yang diberikan kepada mantan pecandu narkoba di Desa Slarang, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik penentuan informan secara purposive sampling. Data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, dan dokumentasi terhadap mantan pecandu narkoba, tokoh masyarakat, ketua RT, anggota Intervensi Berbasis Masyarakat (IBM), serta warga sekitar. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman dengan landasan Teori Labeling Howard S. Becker. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelabelan terbentuk melalui dua jalur, yaitu jalur formal melalui proses pendataan dan pemantauan dalam program IBM serta jalur informal melalui interaksi sosial, gosip, dan penyebaran informasi di lingkungan masyarakat. Masyarakat memaknai mantan pecandu narkoba secara kondisional, di mana penerimaan dipengaruhi oleh perubahan perilaku, keterlibatan dalam kegiatan sosial, dukungan keluarga, dan nilai-nilai keagamaan. Bentuk pelabelan yang muncul meliputi pemberian julukan negatif, pengawasan sosial yang berlebihan, pembatasan partisipasi sosial, serta ketidakpercayaan terhadap mantan pecandu narkoba. Temuan ini menunjukkan bahwa pelabelan tidak hanya memengaruhi identitas sosial individu, tetapi juga menghambat proses penerimaan dan reintegrasi sosial di masyarakat.Social labeling of former drug addicts remains a major obstacle to social reintegration after rehabilitation. This study analyzes how social labeling is formed, how the community interprets former drug addicts, and the forms of labeling directed at them in Slarang Village, Kesugihan District, Cilacap Regency. Using a qualitative descriptive approach with purposive sampling, data were collected through semi-structured interviews, observation, and documentation involving former drug addicts, community leaders, RT heads, IBM program members, and local residents. Data were analyzed using Miles and Huberman's interactive model, guided by Howard S. Becker's Labeling Theory. Findings show that social labeling forms through two pathways: a formal pathway via identification and monitoring in the IBM program, and an informal pathway through everyday interaction, gossip, and information circulation. Community acceptance is conditional, shaped by behavioral change, participation in social activities, family support, and religious values. Identified forms of labeling include negative nicknames, excessive social surveillance, restricted social participation, and persistent distrust. These findings indicate that social labeling shapes individuals' social identity while hindering their acceptance and successful reintegration into the community.
5117554483L1B022033Pemberian Pakan Kombinasi Pelet dan Azolla microphylla Terhadap Profil Darah Ikan Nila (Oreochromis niloticus)Azolla microphylla merupakan tanaman air yang berpotensi sebagai bahan pakan alternatif ikan nila karena kandungan proteinnya yang tinggi, namun pengaruhnya terhadap profil darah ikan nila dalam bentuk segar masih belum banyak diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan kombinasi pelet dan A. microphylla segar dengan proporsi berbeda terhadap profil darah ikan nila (Oreochromis niloticus). Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan, yaitu P1 (100% pelet), P2 (75% pelet + 25% A. microphylla), P3 (50% pelet + 50% A. microphylla), dan P4 (25% pelet + 75% A. microphylla), masing-masing diulang empat kali, selama masa pemeliharaan 30 hari. Parameter yang diamati meliputi total eritrosit, kadar hemoglobin, hematokrit, dan glukosa darah, sedangkan kualitas air dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kombinasi A. microphylla segar dan pelet tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah eritrosit, tetapi berpengaruh nyata terhadap kadar hemoglobin, hematokrit, dan glukosa darah. Selama pemeliharaan, kualitas air berada pada kisaran suhu 25-27°C, pH 7,1-8,5, oksigen terlarut 3-5,6 mg/L, nitrat 0 mg/L, nitrit 0-0,25 mg/L, dan amonia 2-4 mg/L. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa A. microphylla segar dapat digunakan sebagai bahan pakan alternatif dengan kombinasi pelet hingga proporsi 75%, masih mendukung kondisi profil darah selama masa pemeliharaan.Azolla microphylla is an aquatic plant with strong potential as an alternative feed ingredient for Nile tilapia due to its high protein content, yet its effect on the blood profile of Nile tilapia when fed fresh remains understudied. This study aimed to determine the effect of feeding a combination of pellet and fresh A. microphylla in different proportions on the blood profile of Nile tilapia (Oreochromis niloticus). The research method used a Completely Randomized Design (CRD) with four treatments—P1 (100% pellet), P2 (75% pellet + 25% A. microphylla), P3 (50% pellet + 50% A. microphylla), and P4 (25% pellet + 75% A. microphylla)—each replicated four times over a 30-day rearing period. The parameters observed included total erythrocyte count, hemoglobin level, hematocrit, and blood glucose, while water quality was analyzed descriptively. The results showed that feeding fresh A. microphylla had no significant effect on erythrocyte count, but significantly affected hemoglobin level, hematocrit, and blood glucose. During the rearing period, water quality parameters ranged from 25–27°C for temperature, 7.1–8.5 for pH, 3–5.6 mg/L for dissolved oxygen, 0 mg/L for nitrate, 0–0.25 mg/L for nitrite, and 2–4 mg/L for ammonia. Based on these results, it can be concluded that fresh A. microphylla can be used as an alternative feed ingredient in combination with pellets at a proportion of up to 75%, while still supporting healthy blood profiles during the rearing period.
5117654586A1A022056Tingkat Kesejahteraan Petani Kopi Dengan Pendekatan Nilai Tukar Petani (NTP) Dan Faktor Yang Memengaruhinya Di Desa Kemawi Kecamatan SomagedePenelitian ini dilatarbelakangi oleh peningkatan tren konsumsi kopi di dalam negeri maupun luar negeri. Peningkatan tersebut ditandai dengan peningkatan volume ekspor kopi Indonesia, namun masih kerap menghadapi fluktuasi produksi dan fluktuasi harga. Desa Kemawi yang terletak di Kecamatan Somagede merupakan salah satu sentra produksi kopi di Kabupaten Banyumas, dengan kopi robusta yang paling banyak dibudidayakan. Meningkatnya permintaan kopi, tidak secara langsung meningkatkan pendapatan petani kopi di Desa Kemawi. Fluktuasi harga dan fluktuasi produksi masih menjadi permasalahan yang harus dihadapi oleh petani. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana tingkat kesejahteraan petani dari usahatani kopi dengan serta menentukan faktor-faktor yang memengaruhinya.
Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan metode survei. Penentuan lokasi dilakukan secara purposive atau sengaja di Desa Kemawi karena merupakan sentra produksi kopi di Kecamatan Somagede sekaligus di Kabupaten Banyumas. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan simple random sampling dengan melibatkan sebanyak 54 petani kopi sebagai responden dan subjek penelitian. Data yang digunakan terdiri dari data primer dan data sekunder yang diperoleh melalui observasi, wawancara, kuesioner, studi literatur, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis Nilai Tukar Petani (NTP) untuk menentukan tingkat kesejahteraan petani kopi, dan analisis regresi linier berganda untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi NTP.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan petani kopi dari dengan analisis NTP menunjukkan nilai sebesar 72,08% sehingga berdasarkan skala pengukuran NTP maka dapat diartikan bahwa petani kopi di Desa Kemawi masih berada pada taraf belum sejahtera karena nilainya kurang dari 100%. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa pendapatan yang diperoleh petani melalui usahatani kopi tersebut hanya dapat memenuhi kebutuhan petani sebesar 72,08%. Tinggi rendahnya NTP tentunya dipengaruhi oleh banyak faktor. Pada penelitian ini dilakukan pula analisis faktor menggunakan analisis regresi linier berganda dengan melibatkan variabel NTP sebagai variabel dependen, dan luas lahan, jumlah produksi, jumlah anggota keluarga, lahan campuran, lahan sewa, serta jumlah pengeluaran rumah tangga sebagai variabel independen. Hasil analisis regresi linier berganda menunjukkan bahwa variabel luas lahan, jumlah produksi, jumlah anggota keluarga, lahan campuran, lahan sewa, dan jumlah pengeluaran rumah tangga secara simultan berpengaruh terhadap NTP. Sedangkan secara parsial, variabel luas lahan, jumlah produksi, lahan campuran, dan jumlah pengeluaran rumah tangga menjadi variabel yang berpengaruh signifikan terhadap NTP, dengan variabel lahan campuran menjadi variabel dengan nilai signifikansi tertinggi.
This research is motivated by the rising trend in coffee consumption both domestically and internationally. While this trend is reflected in increased Indonesian coffee export volumes, the sector continues to face fluctuations in both production and prices. Kemawi Village, located in Somagede District, is a key coffee production hub in Banyumas Regency, with Robusta being the most widely cultivated variety. However, the rising demand for coffee has not directly translated into increased income for coffee farmers in Kemawi Village; price and production fluctuations remain persistent challenges. The objective of this study is to analyze the welfare level of coffee farmers derived from their farming activities and to identify the factors influencing it.
This study employs a quantitative descriptive approach using a survey method. The research location was purposively selected specifically Kemawi Village due to its status as a major coffee production center in both Somagede District and Banyumas Regency. A simple random sampling technique was used to select 54 coffee farmers as respondents and research subjects. The study utilizes both primary and secondary data, gathered through observation, interviews, questionnaires, literature reviews, and documentation. Data analysis involved calculating the Farmers' Terms of Trade (NTP) to assess the farmers' welfare level and using multiple linear regression analysis to examine the factors influencing the NTP.
The results indicate an NTP value of 72.08% for the coffee farmers. Based on the NTP measurement scale, this signifies that the coffee farmers in Kemawi Village have not yet reached a state of prosperity, as the value falls below 100%. Consequently, the income generated from coffee farming covers only 72.08% of the farmers' needs. The NTP level is influenced by various factors; therefore, this study also conducted a factor analysis using multiple linear regression, with NTP as the dependent variable and land area, production volume, family size, mixed cropping land, rented land, and household expenditure as independent variables. The results of the multiple linear regression analysis indicate that land area, production volume, number of family members, mixed cropping land, rented land, and household expenditure simultaneously influence the Farmers' Terms of Trade (NTP). Individually, land area, production volume, mixed cropping land, and household expenditure were found to have a significant effect on the NTP, with mixed cropping land exhibiting the highest level of significance.
5117754587I1E022023Pengaruh Latuhan Resistance Band Dan Plyometric Terhadap Kecepatan Tendangan Lurus Atlet Pencak Silat PSHT Purwareja KlampokLatar Belakang: Kecepatan tendangan lurus memengaruhi efektivitas serangan pada olahraga pencak silat. Hasil observasi awal menunjukkan rata-rata waktu tendangan lurus atlet pencak silat PSHT Purwareja Klampok mencapai 0,67 detik, termasuk kategori kurang sekali. Latihan Resistance Band dan latihan Plyometric merupakan dua metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan kecepatan tendangan lurus. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh latihan Resistance Band, pengaruh latihan Plyometric, serta perbedaan pengaruh kedua metode latihan terhadap kecepatan tendangan lurus atlet.
Metode: Penelitian menggunakan metode eksperimen kuasi desain two group pretest-posttest design. Sampel penelitian berjumlah 20 atlet pencak silat PSHT Purwareja Klampok yang dibagi menjadi dua kelompok melalui teknik ordinal pairing, yaitu kelompok Resistance Band (Banded Front Kick) dan kelompok Plyometric (Knee Tuck Jump), masing-masing berjumlah 10 atlet. Program latihan dilaksanakan selama 4 minggu dengan frekuensi 4 kali per minggu. Pengukuran kecepatan tendangan lurus menggunakan aplikasi Kinovea. Analisis data menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk, uji homogenitas, paired sample t-test, dan independent sample t-test berbantuan program SPSS.
Hasil: Data pretest dan posttest kedua kelompok berdistribusi normal dan homogen (Sig. > 0,05). Hasil paired sample t-test kelompok Resistance Band menunjukkan nilai signifikansi <0,001 dengan rata-rata waktu tendangan menurun dari 0,6640 detik menjadi 0,5720 detik. Hasil paired sample t-test kelompok Plyometric menunjukkan nilai signifikansi <0,001 dengan rata-rata waktu tendangan menurun dari 0,6990 detik menjadi 0,5890 detik. Hasil independent sample t-test memperoleh nilai signifikansi 0,324 (Sig. > 0,05), yang berarti tidak terdapat perbedaan pengaruh signifikan antara kedua metode latihan.
Kesimpulan: Latihan Resistance Band dan latihan Plyometric masing-masing berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kecepatan tendangan lurus atlet pencak silat PSHT Purwareja Klampok, dan kedua metode latihan tersebut tidak menunjukkan perbedaan pengaruh yang signifikan.
Background: Straight kick speed affects the effectiveness of attacks in pencak silat. Preliminary observation showed that the average straight kick time of PSHT Purwareja Klampok pencak silat athletes reached 0.67 seconds, categorized as very poor. Resistance band and plyometric training are two methods that can be used to improve straight kick speed. This study aimed to determine the effect of resistance band training, the effect of plyometric training, and the difference between the effects of both training methods on athletes' straight kick speed.
Method: This study used a quasi-experimental method with a two-group pretest-posttest design. The sample consisted of 20 pencak silat athletes from PSHT Purwareja Klampok, divided into two groups using the ordinal pairing technique: the Resistance Band group (Banded Front Kick) and the Plyometric group (Knee Tuck Jump), each consisting of 10 athletes. The training program was carried out for 4 weeks with a frequency of 4 sessions per week. Straight kick speed was measured using the Kinovea application. Data were analyzed using the Shapiro-Wilk normality test, homogeneity test, paired samples t-test, and independent samples t-test with SPSS.
Results: The pretest and posttest data of both groups were normally distributed and homogeneous (Sig. > 0.05). The paired samples t-test for the Resistance Band group showed a significance value of <0.001, with the mean kick time decreasing from 0.6640 seconds to 0.5720 seconds. The paired samples t-test for the Plyometric group showed a significance value of <0.001, with the mean kick time decreasing from 0.6990 seconds to 0.5890 seconds. The independent samples t-test produced a significance value of 0.324 (Sig. > 0.05), indicating no significant difference between the effects of the two training methods.
Conclusion: Resistance band training and plyometric training each significantly improved the straight kick speed of PSHT Purwareja Klampok pencak silat athletes, and no significant difference was found between the effects of the two methods.
5117854588I1A022029FAKTOR RISIKO PERILAKU BULLYING PADA REMAJA DI KECAMATAN PURWOKERTO SELATANABSTRAK

FAKTOR RISIKO PERILAKU BULLYING PADA REMAJA DI KECAMATAN PURWOKERTO SELATAN
Maulisa Audina Salsabila, Lu’lu Nafisah, Qoni Oktanti

Latar Belakang: Bullying merupakan masalah kesehatan masyarakat yang berdampak pada kesejahteraan fisik, psikologis, dan sosial remaja. Penelitian di Indonesia masih banyak berfokus pada lingkungan sekolah dan korban, sedangkan kajian mengenai pelaku dan faktor komunitas masih terbatas. Pendekatan berbasis komunitas diperlukan untuk menjangkau interaksi remaja dalam keluarga, teman sebaya, lingkungan tempat tinggal, dan media sosial. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor risiko yang berhubungan dengan perilaku bullying pada remaja di Kecamatan Purwokerto Selatan.

Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional dilakukan pada 103 remaja usia 13–17 tahun menggunakan cluster random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Chi-square serta regresi logistik berganda.

Hasil: Pengetahuan remaja (p = 0,001), pengaruh teman sebaya (p = 0,001), dan penggunaan TikTok (p = 0,011) berhubungan dengan perilaku bullying. Komunikasi asertif (p = 0,133), pola asuh orang tua (p = 0,370) dan partisipasi komunitas (p = 1,000) tidak berhubungan dengan perilaku bullying, Hasil analisis multivariat pengaruh teman sebaya merupakan faktor paling berpengaruh terhadap perilaku bullying setelah dikontrol oleh variabel pola asuh orang tua (OR = 6,967; 95% CI: 2,334–20,795).

Kesimpulan: Perilaku bullying berhubungan dengan pengetahuan, pengaruh teman sebaya, dan penggunaan TikTok, dengan pengaruh teman sebaya sebagai faktor paling dominan. Pencegahan perlu diarahkan pada penguatan edukasi remaja, lingkungan teman sebaya yang positif, serta literasi digital dan penggunaan media sosial yang sehat.

Kata kunci: Perilaku Bullying, Pengetahuan Pengaruh Teman Sebaya, TikTok
ABSTRACT

RISK FACTORS OF BULLYING BEHAVIOR AMONG ADOLESCENTS IN SOUTH PURWOKERTO DISTRICT
Maulisa Audina Salsabila, Lu’lu Nafisah, Qoni Oktanti

Background: Bullying is a public health problem that affects the physical, psychological, and social well-being of teenagers. Research in Indonesia has mostly focused on school environments and victims, while studies on perpetrators and community factors are still limited. A community-based approach is needed to reach teenagers' interactions within their families, peers, neighborhoods, and social media. This study aims to analyze the risk factors associated with bullying behavior among teenagers in the South Purwokerto District.

Methods: This study employed a quantitative research with a cross-sectional design was conducted on 103 teenagers aged 13–17 using cluster random sampling. Data was collected through questionnaires and analyzed using Chi-square tests and multiple logistic regression.

Result: Adolescent knowledge (p = 0.001), peer influence (p = 0.001), and TikTok usage (p = 0.011) are related to bullying behavior. Assertive communication (p = 0.133), parental parenting style (p = 0.370), and community participation (p = 1.000) are not related to bullying behavior. Multivariate analysis results show that peer influence is the most influential factor on bullying behavior after controlling for parental parenting style (OR = 6.967; 95% CI: 2.334–20.795).

Conclusion: Bullying behavior is related to knowledge, peer influence, and TikTok usage, with peer influence being the most dominant factor. Prevention should focus on strengthening teen education, fostering a positive peer environment, and promoting digital literacy and healthy social media use.

Keywords: Bullying Behavior, Knowledge, Peer Influence, TikTok
5117954589L1C022105STRUKTUR KOMUNITAS BIVALVIA PADA KAWASAN MANGROVE MUARA ANGKE, JAKARTA UTARAPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur komunitas Bivalvia di kawasan mangrove Muara Angke, Jakarta Utara, hubungan dengan parameter lingkungan, perubahan kondisi lingkungan ekosistem mangrove dan alih fungsi hutan mangrove serta meningkatnya aktivitas antropogenik, dapat mempengaruhi kondisi struktur komunitas bivalvia yang hidup dan berasosiasi dengan ekosistem tersebut. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan metode purposive sampling di empat stasiun pengamatan dengan dilakukan tiga kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan adanya 6 spesies Bivalvia dengan total 204 individu, yang didominasi oleh Perna viridis dan Mytilopsis leucophaeata. Rata-rata nilai kelimpahan Bivalvia berkisar antara 4,00–34,67 ind/m², dengan kelimpahan tertinggi di Stasiun III dan terendah di Stasiun IV. Analisis indeks ekologi menunjukkan keanekaragaman jenis yang rendah (H'=0,0-0,66), keseragaman populasi yang rendah (E=0,00-0,37), serta tingkat dominansi spesies yang tinggi (C=0,29-1,00). Kelimpahan Bivalvia memiliki korelasi negatif yang kuat dengan salinitas (r=-0,747) dan korelasi positif dengan oksigen terlarut (DO) (r=0,66). Sementara itu, analisis substrat menunjukkan hubungan negatif pada seluruh fraksi sedimen, dengan fraksi kerikil menunjukkan pengaruh negatif paling kuat (r=-0,11), diikuti lempung (r=-0,07) dan kerikil (r=-0,05). Kesimpulannya, komunitas Bivalvia di Muara Angke berada dalam kondisi tertekan akibat fluktuasi salinitas, ketersediaan oksigen terlarut, serta tingginya dominansi pasir pada substrat perairan. This study aimed to analyze the community structure of Bivalvia in the Muara Angke mangrove area, North Jakarta, and its relationship with environmental parameters, environmental conditions of mangrove ecosystems, the conversion of mangrove forests, and increased anthropogenic activity can affect the structure of bivalve communities that inhabit and are associated with these ecosystems. Sampling was conducted using purposive sampling at four observation stations with three repetitions. The results showed that Muara Angke had 6 Bivalvia species with a total of 204 individuals, which were dominated by Perna viridis and Mytilopsis leucophaeata. The average abundance of Bivalvia ranged between 4,00 to 34,67 ind/m², when the highest abundance in Station III and lowest at Station IV. The Ecological index analysis showed low species diversity (H'=0,00-0,66), low population uniformity (E=0,00-0,37), and high species dominance (C=0,29-1,00). Bivalve abundance had a strong negative correlation with salinity (r=-0,747) and a positive correlation with dissolved oxygen (DO) (r=0,665). Furthermore, substrate analysis showed negative correlations across all sediment fractions, with gravel exerting the strongest negative impact (r=-0,11), followed by clay (r=-0,07) and sand (r=-0,05). In conclusion, the Bivalvia community in Muara Angke is ecologically stressed due to salinity fluctuations, dissolved oxygen levels, and sand dominance in the substrate.
5118054590F1D022039Perjuangan Masyarakat Hukum Adat Jalawastu untuk Memperoleh Pengakuan Kampung Budaya di Kabupaten BrebesPenelitian ini bertujuan menganalisis perjuangan Masyarakat Hukum Adat Jalawastu dalam memperoleh pengakuan sebagai Kampung Budaya di Kabupaten Brebes. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan paradigma konstruktivisme dan pendekatan fenomenologi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara tematik menggunakan teori gerakan sosial baru Alberto Melucci sebagai pisau analisis utama, dengan didukung pemikiran Iris Marion Young dan Charles Taylor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perjuangan Masyarakat Hukum Adat Jalawastu tidak dilakukan melalui mobilisasi massa atau aksi konfrontatif, melainkan melalui pelestarian identitas budaya, penguatan kelembagaan adat, penyelenggaraan Ritual Ngasa secara konsisten, pembangunan jaringan komunikasi dengan pemerintah, serta advokasi hukum hingga memperoleh pengakuan sebagai Kampung Budaya pada tahun 2019. Analisis menunjukkan bahwa Ritual Ngasa menjadi titik transisi gerakan dari dimensi laten menuju dimensi kasatmata yang membuka ruang dialog dengan pemerintah yang menghasilkan pengakuan Ritual Ngasa sebagai Warisan Budaya Takbenda, pengakuan hutan adat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa identitas budaya menjadi pondasi utama gerakan kolektif Masyarakat Hukum Adat Jalawastu dalam membangun pengakuan sekaligus memperkuat keberlanjutan komunitas adat.This study aims to analyze the struggle of the Jalawastu Customary Law Community to gain recognition as a Cultural Village in Brebes Regency. It employs a qualitative method grounded in a constructivist paradigm and a phenomenological approach. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation, and subsequently analyzed thematically using Alberto Melucci’s theory of new social movements as the primary analytical framework, supported by the ideas of Iris Marion Young and Charles Taylor. The findings reveal that the community's struggle was not waged through mass mobilization or confrontational actions; instead, it was pursued through the preservation of cultural identity, the strengthening of customary institutions, the consistent observance of the *Ngasa* Ritual, the establishment of communication networks with the government, and legal advocacy, ultimately leading to recognition as a Cultural Village in 2019. The analysis indicates that the *Ngasa* Ritual served as a transitional point for the movement, shifting it from a latent dimension to a visible one; this opened a space for dialogue with the government, resulting in the recognition of the *Ngasa* Ritual as Intangible Cultural Heritage and the acknowledgment of their customary forest. The study concludes that cultural identity serves as the fundamental basis for the Jalawastu Customary Law Community's collective movement in securing recognition and reinforcing the sustainability of the indigenous community.