Artikelilmiahs

Menampilkan 51.221-51.233 dari 51.233 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
5122154639F1A022043Membingkai Masa Depan : Konstruksi Sosial Pendidikan Inklusi Melalui Vokasi dalam Membangun Keterampilan Ekonomi Mandiri (Studi di Slbn Purbalingga)Pendidikan memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta memperluas kesempatan individu untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Bagi penyandang disabilitas, pendidikan vokasi di Sekolah Luar Biasa (SLB) menjadi salah satu strategi untuk mengembangkan keterampilan yang mendukung kemandirian. Rendahnya keterlibatan penyandang disabilitas dalam dunia kerja menunjukkan bahwa lulusan SLB masih menghadapi hambatan dalam proses transisi menuju kehidupan ekonomi mandiri. Penelitian ini bertujuan menganalisis konstruksi sosial pendidikan vokasi dalam membentuk keterampilan ekonomi mandiri siswa di SLBN Purbalingga. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara semi-terstruktur, dan studi pustaka. Informan penelitian ditentukan melalui purposive sampling yang melibatkan guru vokasi, guru kehumasan, siswa, dan orang tua. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman serta diuji melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan vokasi di SLBN Purbalingga terbentuk melalui proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi yang melibatkan sekolah, keluarga, siswa, serta mitra dunia usaha dan dunia industri. Program vokasi tidak hanya mengembangkan keterampilan kerja, tetapi juga membangun nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan identitas kerja siswa. Penguatan kemandirian ekonomi dilakukan melalui pembelajaran berbasis produk bernilai jual, pengalaman memperoleh pendapatan, pelaksanaan PKL, serta kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri. Dengan demikian, pendidikan vokasi di SLBN Purbalingga berfungsi sebagai proses konstruksi sosial yang mendukung terbentuknya kompetensi kerja sekaligus kemandirian ekonomi siswa penyandang disabilitas.Education plays a strategic role in improving the quality of human resources and expanding individuals’ opportunities to participate in social and economic life. For persons with disabilities, vocational education in special schools (Sekolah Luar Biasa/SLB) serves as an important strategy for developing skills that support independence. The low participation of persons with disabilities in the workforce indicates that SLB graduates still face barriers in transitioning toward economic independence. This study aims to analyze the social construction of vocational education in shaping students’ economic independence at SLBN Purbalingga. The study employed a descriptive qualitative approach, with data collected through observation, semi-structured interviews, and a literature review. Research informants were selected through purposive sampling and included vocational teachers, public relations teachers, students, and parents. Data were analyzed using the Miles and Huberman interactive model and validated through source triangulation. The findings indicate that vocational education at SLBN Purbalingga is constructed through processes of externalization, objectivation, and internalization involving the school, families, students, and partners from the business and industrial sectors. The vocational program not only develops students’ work skills but also fosters values of discipline, responsibility, and work identity. Economic independence is strengthened through product-based learning involving marketable products, opportunities to earn income, fieldwork practice (PKL), and partnerships with the business and industrial sectors. Thus, vocational education at SLBN Purbalingga functions as a process of social construction that supports the development of work competencies while fostering the economic independence of students with disabilities.
5122254638K1B022012Optimasi Perencanaan Produksi Melalui Pendekatan Multi-Objektif Metode Weighted dan Preemptive Goal Programming (Studi Kasus : UMKM Mino Nopia Sarang Sari)Perencanaan produksi merupakan aspek penting dalam mendukung efektivitas dan efisiensi kegiatan operasional perusahaan, terutama pada UMKM yang menghadapi ketidakpastian permintaan pasar. UMKM Mino Nopia Sarang Sari masih menentukan jumlah produksi berdasarkan perkiraan penjualan sebelumnya sehingga berpotensi menimbulkan ketidakseimbangan antara jumlah produksi, keuntungan, biaya produksi, dan penggunaan bahan baku. Penelitian ini bertujuan menentukan perencanaan produksi yang optimal menggunakan model optimasi multiobjektif Goal Programming dengan membandingkan metode Weighted Goal Programming dan Preemptive Goal Programming. Tujuan yang dioptimalkan meliputi memaksimalkan jumlah produksi dan keuntungan serta meminimalkan biaya produksi dan penggunaan bahan baku. Metode Weighted Goal Programming diterapkan melalui dua skenario pembobotan, sedangkan metode Preemptive Goal Programming diselesaikan berdasarkan tingkat prioritas tujuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode Weighted Goal Programming skenario pertama menghasilkan nilai total pencapaian (Z) terkecil yaitu sebesar Z = 42, sehingga lebih optimal dalam meminimalkan penyimpangan terhadap seluruh tujuan. Namun, berdasarkan keseimbangan kombinasi jumlah produksi setiap produk, metode Weighted Goal Programming skenario kedua dan Preemptive Goal Programming menghasilkan solusi yang lebih proporsional dan realistis. Oleh karena itu, kedua metode tersebut dinilai lebih sesuai diterapkan dalam perencanaan produksi UMKM Mino Nopia Sarang Sari karena mampu menghasilkan kombinasi jumlah produksi yang seimbang dengan tetap mempertimbangkan keuntungan, biaya produksi, dan penggunaan bahan baku secara efisien.Production planning is an essential aspect of improving the effectiveness and efficiency of business operations, particularly for small and medium enterprises facing uncertain market demand. UMKM Mino Nopia Sarang Sari currently determines its production quantity based on previous sales estimates, which may lead to an imbalance among production quantity, profit, production costs, and raw material usage. This study aims to determine the optimal production plan using the multi-objective Goal Programming model by comparing the Weighted Goal Programming and Preemptive Goal Programming methods. The objectives considered include maximizing production quantity and profit while minimizing production costs and raw material usage. The Weighted Goal Programming method was implemented using two weighting scenarios, whereas the Preemptive Goal Programming method was solved based on the priority level of each objective. The results indicate that the first Weighted Goal Programming scenario produced the smallest total achievement value (Z) that is Z = 42, making it the most effective in minimizing deviations from all objectives. However, in terms of achieving a balanced production combination for each product, the second Weighted Goal Programming scenario and the Preemptive Goal Programming method provided more proportional and realistic solutions. Therefore, these two methods are considered more suitable for production planning at UMKM Mino Nopia Sarang Sari, as they generate a more balanced production plan while efficiently considering profit, production costs, and raw material usage.
5122354640F1C022062Pengaruh Komunikasi Internal Terhadap Kinerja Pegawai Pada Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) PurwokertoPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi pegawai terhadap komunikasi
internal pengaruhnya terhadap kinerja pegawai pada Lembaga Penyiaran Publik
Radio Republik Indonesia (LPP RRI) Purwokerto dengan menguji Teori Hubungan
Manusia dari Elton Mayo (1934). Penelitian dilatarbelakangi oleh adanya
kesenjangan antara penilaian kinerja yang secara formal berada dalam kategori baik
dengan temuan di lapangan yang menunjukkan adanya perilaku ketidakdisiplinan
serta permasalahan komunikasi yang terjadi dalam lingkup internal organisasi.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain asosiatif kausal.
Populasi penelitian berjumlah 69 pegawai PNS dan PPPK yang kinerjanya diukur
melalui mekanisme Sasaran Kinerja Pegawai (SKP), selain Kepala LPP RRI
Purwokerto yang tidak termasuk ke dalam populasi penelitian. Dengan menggunakan
sampling jenuh, diperoleh tingkat pengembalian jawaban sebanyak 63 pegawai
(91,3%) dan non response rate sebanyak 6 pegawai (8,7%). Data dikumpulkan melalui
kuesioner dan kemudian dianalisis menggunakan uji statistik deskriptif, uji
normalitas, uji linearitas, serta analisis regresi linear sederhana. Hasil penelitian
menunjukkan persamaan regresi Y = 13,462 + 0,667X, dengan nilai t hitung sebesar
8,334 lebih besar dari t tabel (2,000) dan nilai signifikansi sebesar <0,001 (<0,05),
sehingga H0 ditolak dan Ha diterima. Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,532
menunjukkan bahwa komunikasi internal mampu menjelaskan 53,2% terhadap
kinerja pegawai, sedangkan sisanya 46,8% dipengaruhi oleh faktor lain di luar model
penelitian ini. Dengan demikian, disimpulkan bahwa komunikasi internal
berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja pegawai di LPP RRI Purwokerto.
Temuan ini memperkuat relevansi Teori Hubungan Manusia dalam konteks
organisasi media non komersial milik negara. Selain itu, perbedaan dimensi
komunikasi internal yang mempengaruhi kinerja pada sektor swasta dan negara
ditunjukkan dalam penelitian ini, di mana pada LPP RRI Purwokerto, dimensi
komunikasi internal didominasi oleh komunikasi downward dibanding pada sektor
swasta yang didominasi oleh keterbukaan informasi secara dua arah.
This study aims to determine employee perceptions of internal communication and its
impact on employee performance at the Public Broadcasting Institution of Radio
Republik Indonesia (LPP RRI) Purwokerto by testing Elton Mayo's Human Relations
Theory (1934). The research was motivated by the gap between formal performance
assessments that were in the good category and field findings that indicated indiscipline
and communication problems occurring within the organization. This study used a
quantitative approach with a causal associative design. The study population consisted
of 69 civil servants and PPPK employees whose performance was measured through the
Employee Performance Target (SKP) mechanism, in addition to the Head of LPP RRI
Purwokerto who was not included in the study population. By using saturated sampling,
a response rate of 63 employees (91.3%) and a non-response rate of 6 employees (8.7%)
were obtained. Data were collected through questionnaires and then analyzed using
descriptive statistical tests, normality tests, linearity tests, and simple linear regression
analysis. The results of the study showed a regression equation of Y = 13.462 + 0.667X,
with a calculated t-value of 8.334, greater than the t-table (2.000), and a significance
value of <0.001 (<0.05), thus H0 was rejected and Ha was accepted. The coefficient of
determination (R²) of 0.532 indicates that internal communication can explain 53.2%
of employee performance, while the remaining 46.8% is influenced by other factors
outside this research model. Thus, it is concluded that internal communication
significantly influences employee performance at LPP RRI Purwokerto. This finding
strengthens the relevance of Human Relations Theory in the context of state-owned noncommercial media organizations. Furthermore, this study demonstrates the differences
in the dimensions of internal communication that influence performance in the private
and state sectors. In LPP RRI Purwokerto, the internal communication dimension is
dominated by downward communication, compared to the private sector, which is
dominated by two-way information disclosure.

5122454641I1D022081Minuman Fungsional Antihipertensi Berbasis Serai Disubstitusi dengan Bunga Rosella dan Daun Alpukat (Serospa): Uji Flavonoid, Vitamin C dan Sensori HedonikLatar Belakang: Tingginya aktivitas enzim NADPH oxidase pada individu dengan hipertensi memicu pembentukan Reactive Oxygen Species (ROS) penyebab stres oksidatif, sehingga perlu konsumsi pangan yang tinggi antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh proporsi bunga rosella dan daun alpukat terhadap kadar antioksidan flavonoid, dan vitamin C, serta sensori hedonik, formula terbaik, dan serving size minuman fungsional berbasis serai disubstitusi dengan bunga rosella dan daun alpukat (Serospa).
Metodologi: Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan proporsi bunga rosella dan daun alpukat F1 (15:5), F2 (10:10), F3 (5:15). Produk minuman fungsional Serospa ditentukan kandungan flavonoid (metode kolorimetri), vitamin C (titrasi iodiometri), dan sensori hedonik (skoring).
Hasil Penelitian: Variasi proporsi bunga rosella dan daun alpukat meningkatkan kadar flavonoid (p=0,000) dengan uji Anova One Way, vitamin C (p=0,000) dengan uji Kruskal wallis, dan menurunkan sensori hedonik (warna (p=0,000), rasa (p=0,000), aroma (p=0,000), dan keseluruhan (p=0,000)) dengan uji Friedmann. Formula terbaik terbuat dari proporsi bunga rosella dan daun alpukat (5:15) dengan kandungan flavonoid 7,12 mgQE/g dan kadar vitamin C 1,22 mg/g, serta skor warna 3,04 (cukup suka); rasa 3,11 (cukup suka); aroma 3,24 (cukup suka) dan keseluruhan 3,28 (cukup suka).
Kesimpulan: Proporsi bunga rosella dan daun alpukat (5:15) menghasilkan formula terbaik yang mengandung flavonoid 7,12 mgQE/g, vitamin C 1,22 mg/g, dan skor warna 3,04 (cukup suka); rasa 3,11 (cukup suka); aroma 3,24 (cukup suka) dan keseluruhan 3,28 (cukup suka). Serving size Serospa yang ditentukan sebanyak 42,1 mL dan dapat memenuhi 50% rata-rata asupan harian flavonoid dan 68% kebutuhan vitamin C.
Background: High levels of NADPH oxidase enzyme activity in individuals with hypertension trigger the formation of reactive oxygen species (ROS), which cause oxidative stress; therefore, it is necessary to consume foods high in antioxidants. This study aims to determine the effect of the proportions of rosella flowers and avocado leaves on the levels of flavonoid antioxidants and vitamin C, as well as on hedonic sensory evaluation, the optimal formulation, and the serving size of a functional lemongrass-based beverage substituted with rosella flowers and avocado leaves (Serospa).
Methods: This study used a randomized block design with the following proportions of rosella flowers and F1 avocado leaves (15:5), F2 (10:10), and F3 (5:15). The functional beverage product Serospa was analyzed for flavonoid content (colorimetric method), vitamin C (iodometric titration), and hedonic sensory evaluation (scoring).
Result: Variations in the proportions of rosella flowers and avocado leaves increased flavonoid levels (p=0.000) as determined by a one-way ANOVA, vitamin C levels (p=0.000) as determined by a Kruskal-Wallis test, and reduced hedonic sensory attributes (color (p=0.000), taste (p=0.000), aroma (p=0.000), and overall score (p=0.000)) as determined by the Friedman test. The best formula consists of a 5:15 ratio of rosella flowers to avocado leaves, with a flavonoid content of 7.12 mgQE/g and a vitamin C content of 1.22 mg/g, as well as a color score of 3.04 (like it); taste 3.11 (fairly liked); aroma 3.24 (fairly liked); and overall 3.28 (fairly liked).
Conclusion: A ratio of rosella flowers to avocado leaves of 5:15 yielded the best formula, containing 7.12 mgQE/g of flavonoids, 1.22 mg/g of vitamin C, and scores of 3.04 for color (fairly liked); 3.11 for taste (fairly liked); 3.24 for aroma (fairly liked); and 3.28 for overall rating (fairly liked). The specified serving size of Serospa is 42.1 mL, which meets 50% of the average daily intake of flavonoids and 68% of the daily requirement for vitamin C.
5122554642I1A022106ANALISIS SPASIAL KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU DI KECAMATAN AJIBARANG TAHUN 2023-2025
Latar Belakang: Tuberkulosis paru menjadi masalah kesehatan global. Kabupaten Banyumas menempati posisi pertama TB tertinggi di Jawa Tengah, sedangkan Kecamatan Ajibarang mengalami peningkatan kasus dari 29 kasus (2022), 148 kasus (2024), dan 275 (2025). Distribusi kasus tidak merata perlu dianalisis secara spasial untuk mengidentifikasi wilayah berisiko tinggi dan mendukung pengendalian tuberkulosis tepat sasaran. Penelitian ini bertujuan mengetahui distribusi persebaran kasus tuberkulosis paru berdasarkan analisis spasial di Kecamatan Ajibarang tahun 2023-2025.

Metode: Penelitian kuantitatif deskriptif dengan desain studi ekologi dilaksanakan di 15 desa Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas. Variabel meliputi karakteristik umur dan jenis kelamin, kepadatan penduduk, penerima bantuan sosial, persentase rumah sehat, dan jarak fasilitas kesehatan (spasial). Data diperoleh dari laporan kasus Puskesmas Ajibarang I dan II tahun 2023-2025 serta titik koordinat tempat tinggal responden menggunakan Google Maps. Teknik sampling menggunakan total sampling dengan jumlah sampel 654 kasus. Analisis meliputi analisis univariat dan analisis spasial berupa pemetaan overlay, dan buffering menggunakan QGIS.

Hasil Penelitian: Penderita TB paru didominasi kelompok usia dewasa 18-60 tahun (58,0%) dan laki-laki (61,0%). Desa Darmakradenan konsisten menjadi salah satu wilayah dengan kasus tertinggi. Mayoritas kasus berada pada desa berkepadatan penduduk tinggi, sedangkan distribusi berdasarkan penerima bantuan sosial dan persentase rumah sehat bervariasi. Mayoritas penderita bertempat tinggal pada jarak 1.200-3.000 meter dari fasilitas pelayanan kesehatan.

Kesimpulan: Persebaran kasus TB paru di Kecamatan Ajibarang tahun 2023-2025 menunjukkan pola yang tidak merata. Analisis spasial dapat mengidentifikasi wilayah prioritas tinggi sebagai dasar perencanaan program pengendalian TB yang lebih tepat sasaran.
Background: Pulmonary tuberculosis (TB) remains a global health problem. Banyumas Regency ranks first in Central Java for TB cases, while Ajibarang Subdistrict experienced an increase from 29 cases in 2022 to 148 in 2024 and 275 in 2025. The uneven distribution of cases requires spatial analysis to identify high-risk areas and support targeted TB control. This study aimed to determine the spatial distribution of pulmonary TB cases in Ajibarang Subdistrict from 2023 to 2025.

Methods: A descriptive quantitative study with an ecological design was conducted in 15 villages in Ajibarang Subdistrict, Banyumas Regency. Variables included age, sex, population density, social assistance recipients, healthy home percentage, and distance to health facilities. Data were obtained from TB case reports of Ajibarang I and II Community Health Centers in 2023–2025 and residential coordinates collected using Google Maps. Total sampling was used, with 654 cases. Data were analyzed using univariate and spatial analyses, including mapping, overlay, and buffering in QGIS.

Results: Pulmonary TB patients were predominantly adults aged 18–60 years (58.0%) and males (61.0%). Darmakradenan consistently ranked among the villages with the highest number of cases. Most cases occurred in villages with high population density, while distributions based on social assistance recipients and healthy home percentages varied. Most patients lived 1,200–3,000 meters from health facilities.

Conclusion: Pulmonary TB cases in Ajibarang Subdistrict showed an uneven spatial distribution. Spatial analysis identified priority areas to support more targeted TB control planning.
5122654643I1A022108Pengaruh Faktor Individu dan Unsafe Action Terhadap Kecelakaan Kerja pada Pekerja Kontraktor Mekanik Bagian Maintenance PT. Solusi Bangun Indonesia Tbk Pabrik Cilacap.Latar Belakang: Sektor konstruksi menyumbang persentase terbesar angka kecelakaan kerja di Indonesia. Pekerja kontraktor maintenance memegang peran penting dalam pelaksanaan kegiatan perawatan, pemeliharaan dan perbaikan bangunan dan mesin guna memastikan keberlangsungan proses operasional. Pekerja kontraktor turut memiliki potensi risiko bahaya seperti kecelakan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor individu dan unsafe action terhadap kecelakaan kerja pada pekerja mekanik maintenance PT. Solusi Bangun Indonesia Tbk Pabrik Cilacap.
Metode: Jenis penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Teknik Sampel dalam penelitian ini menggunakan total sampling sebanyak 91 orang (populasi). Pengambilan data dengan wawancara menggunakan lembar kuesioner dan observasi menggunakan lembar checklist. analisis data menggunakan uji chi square dan uji regresi logistik berganda.

Hasil Penelitian: Terdapat pengaruh antara perilaku penggunaan alat pelindung diri (APD) (p = 0,001), dan tidak terdapat pengaruh antara usia (p = 0,291), tingkat pendidikan (p = 0,957), masa kerja (p = 0,105), pengetahuan K3 (p = 0,908), kelelahan kerja (p = 0,243), perilaku penerapan SOP (P =0,487), dan aktivitas berisiko (p = 0,268) terhadap kecelakaan kerja. Variabel yang berpengaruh terhadap kecelakaan kerja adalah perilaku penggunaan alat pelindung diri (APD).

Kesimpulan: Variabel yang berpengaruh terhadap kecelakaan kerja pada pekerja mekanik bagian maintenance PT. Solusi Bangun Indonesia Tbk Pabrik Cilacap adalah perilaku penggunaan alat pelindung diri (APD) dengan OR 6,103. Diharapkan pekerja dapat meningkatkan kesadaran dan kedisiplinan dalam penggunaan APD.

Kata Kunci: Faktor Individu, Kecelakaan Kerja, kontraktor mekanik maintenance, Unsafe Action
Background: The construction sector accounts for the highest proportion of occupational accidents in Indonesia. Maintenance contractor workers play an important role in building and machinery maintenance and repair to ensure operational continuity. However, they are exposed to various workplace hazards that may result in occupational accidents. This study aimed to determine the effects of individual factors and unsafe actions on occupational accidents among mechanical maintenance workers at PT Solusi Bangun Indonesia Tbk Cilacap Plant.

Method: This quantitative study employed a cross-sectional design with total sampling involving 91 mechanical maintenance workers. Data were collected through interviews with questionnaires and observation with checklists. Data were analyzed using the chi-square test and multiple logistic regression.

Result: PPE use behavior significantly affected occupational accidents (p = 0.001). Meanwhile, age (p = 0.291), educational level (p = 0.957), work tenure (p = 0.105), OSH knowledge (p = 0.908), work fatigue (p = 0.243), SOP implementation behavior (p = 0.487), and risky activities (p = 0.268) did not significantly affect occupational accidents. PPE use behavior was the only variable that significantly affected occupational accidents among mechanical maintenance workers.

Conclusion: PPE use behavior was the only variable that significantly affected occupational accidents among mechanical maintenance workers at PT Solusi Bangun Indonesia Tbk Cilacap Plant, with an odds ratio (OR) of 6.103. Workers are encouraged to improve their awareness and discipline in using PPE properly and consistently to prevent occupational accidents.

Keywords: Individual Factors, Mechanical Maintenance Contractors, Unsafe Action, Work Accidents
5122754644F1F022050ANALISIS STRATEGI GEOEKONOMI CHINA DALAM PEMANFAATAN SKEMA SPECIAL AND DIFFERENTIAL TREATMENT (S&DT) DI WORLD TRADE ORGANIZATION (WTO) TAHUN 2019-2024 Perdebatan mengenai status China sebagai negara berkembang dalam World Trade Organization (WTO) meningkat pada periode 2019–2024 seiring menguatnya tuntutan reformasi Special and Differential Treatment (S&DT). Isu ini tidak hanya menyangkut kelayakan China memperoleh perlakuan khusus, tetapi juga terkait ruang kebijakan yang dimilikinya dalam sistem perdagangan global. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi geoekonomi China dalam memanfaatkan skema S&DT di WTO pada periode tersebut. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan konsep geoekonomi Blackwill dan Harris sebagai kerangka analisis. S&DT dipahami sebagai ruang kebijakan dalam WTO, sementara trade policy diposisikan sebagai instrumen geoekonomi yang dijalankan melalui fleksibilitas subsidi (SCM Agreement), tarif (GATT), dan liberalisasi jasa (GATS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa China secara selektif memanfaatkan ketiga fleksibilitas tersebut untuk mempertahankan intervensi negara, memperkuat industri strategis, meningkatkan kapasitas ekonomi-teknologi domestik, dan mengelola ketergantungan eksternal. Strategi ini menghasilkan tiga implikasi utama: penguatan economic leverage dalam rantai pasok global, peningkatan kapasitas agenda setting dalam reformasi WTO, serta penguatan legitimasi di kalangan Global South melalui narasi hak pembangunan dan policy space. Dengan demikian, S&DT tidak berfungsi sebagai instrumen geoekonomi secara langsung, melainkan sebagai ruang institusional yang diinstrumentalisasi melalui kebijakan perdagangan untuk memperkuat posisi strategis China dalam tata kelola perdagangan global.The debate over China’s status as a developing country in the WTO intensified during 2019–2024 alongside increasing demands to reform the Special and Differential Treatment (S&DT) mechanism. This debate is not only about China’s eligibility for special treatment, but also about the extent of policy space available for its trade strategy. This study analyzes China’s geoeconomic strategy in utilizing S&DT within the WTO during 2019–2024 using a descriptive qualitative method and Blackwill and Harris’s geoeconomics framework. S&DT is understood as institutional policy space, while trade policy functions as the geoeconomic instrument through three forms of flexibility: subsidies under the SCM Agreement, tariffs under the GATT, and services liberalization under the GATS. The findings show that China selectively uses these flexibilities to maintain state intervention, strengthen strategic industries, enhance domestic economic and technological capacity, and manage external dependencies. This generates three strategic outcomes: increased economic leverage in global supply chains, stronger agenda-setting power in WTO reform debates, and enhanced legitimacy among the Global South through development-oriented narratives. Thus, S&DT is not a geoeconomic instrument itself, but an institutional space that China strategically utilizes to advance its interests in global trade governance.
5122854645C1C019075Pengaruh Sistem Informasi Akuntansi, Kompetensi Sumber Daya Manusia dan E-Commerce terhadap Kinerja PerusahaanPenelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis pengaruh
penggunaan Sistem Informasi Akuntansi (SIA), Kompetensi Sumber Daya Manusia
(SDM), dan penerapan E-Commerce terhadap Kinerja Perusahaan pada industri
perhotelan di wilayah Purwokerto, Kabupaten Banyumas. Landasan teori yang
digunakan dalam penelitian ini adalah Resource-Based View (RBV) Theory, yang
menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya internal yang berharga, langka,
sulit ditiru, dan tidak tergantikan (VRIN) untuk menciptakan keunggulan bersaing
secara berkelanjutan.
Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan
desain survei. Populasi dalam penelitian ini mencakup seluruh hotel di Purwokerto
yang terdaftar pada Dinporabudpar Kabupaten Banyumas tahun 2025 sebanyak 72
hotel. Teknik pengambilan sampel dilakukan menggunakan purposive sampling
dengan kriteria hotel yang memanfaatkan platform e-commerce, sehingga diperoleh
sampel akhir sebanyak 62 hotel. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran
kuesioner secara online kepada pihak manajemen hotel (pemilik, manajer, dan
HRD) dengan jumlah pengembalian sebanyak 44 kuesioner yang dapat diolah
(response rate 70,97%). Teknik analisis data yang diterapkan meliputi analisis
statistik deskriptif, uji kualitas data (validitas dan reliabilitas), uji asumsi klasik,
analisis regresi linear berganda, uji Goodness of Fit (𝑅2 dan Uji F), serta uji
hipotesis (Uji t) dengan bantuan perangkat lunak SPSS.
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis secara parsial melalui Uji t, diperoleh
temuan bahwa variabel Sistem Informasi Akuntansi (𝑡hitung = 1,721 < 𝑡tabel =
2,019; 𝑝 = 0,093 > 0,05) dan variabel Kompetensi Sumber Daya Manusia
(𝑡hitung = 1,313 < 𝑡tabel = 2,019; 𝑝 = 0,197 > 0,05) tidak memberikan pengaruh
yang signifikan terhadap Kinerja Perusahaan, sehingga hipotesis pertama (𝐻1) dan
hipotesis kedua (𝐻2) ditolak. Sementara itu, variabel E-Commerce terbukti
berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja Perusahaan (𝑡hitung = 3,683 >
𝑡tabel = 2,019; 𝑝 = 0,001 < 0,05), sehingga hipotesis ketiga (𝐻3) diterima.
Hasil uji kelayakan model (Uji F) menghasilkan 𝐹hitung = 38,208 (𝑝 <
0,001), yang menandakan bahwa model regresi terbukti layak (fit). Nilai Koefisien
Determinasi (𝑅2) sebesar 0,741 mengindikasikan bahwa kombinasi variabel SIA,
Kompetensi SDM, dan E-Commerce mampu menjelaskan variasi Kinerja
Perusahaan sebesar 74,1%, sedangkan selisihnya sebesar 25,9% dijelaskan oleh
faktor-faktor lain di luar model penelitian. Implikasi praktis dari penelitian ini
menekankan pentingnya manajemen perhotelan di Purwokerto untuk
memprioritaskan alokasi investasi dan strategi pada pengintegrasian platform e
commerce (Online Travel Agent/OTA dan media sosial) sebagai pendorong utama
peningkatan tingkat penghunian kamar (occupancy rate) dan kinerja keuangan.
This study aims to examine and analyze the effect of Accounting Information
Systems (AIS), Human Resource (HR) Competence, and E-Commerce
implementation on Company Performance in the hotel industry located in
Purwokerto, Banyumas Regency. The theoretical framework underlying this
research is the Resource-Based View (RBV) Theory, which posits that optimizing
internal resources characterized as valuable, rare, inimitable, and non
substitutable (VRIN) enables firms to achieve sustainable competitive advantage.
A quantitative research design utilizing a survey method was employed. The
population comprised all 72 hotels in Purwokerto registered with the Youth, Sports,
Culture, and Tourism Office (Dinporabudpar) of Banyumas Regency in 2025.
Using a purposive sampling method with the criterion of hotels utilizing e
commerce platforms, a sample of 62 target hotels was determined. Primary data
were gathered via online questionnaires distributed to hotel management
representatives (owners, general managers, and HR managers), yielding 44 usable
responses (a response rate of 70.97%). Data were processed using SPSS,
encompassing descriptive statistics, data quality tests (validity and reliability),
classical assumption tests, multiple linear regression analysis, Goodness of Fit
evaluation (𝑅2 and F-test), and hypothesis testing (t-test).
Based on the partial hypothesis testing (t-test), the results indicate that the
Accounting Information System (𝑡statistic = 1.721 < 𝑡table = 2.019; 𝑝 = 0.093 >
0.05) and Human Resource Competence (𝑡statistic = 1.313 < 𝑡table = 2.019; 𝑝 =
0.197 > 0.05) have no significant effect on Company Performance, leading to the
rejection of the first hypothesis (𝐻1) and second hypothesis (𝐻2). Conversely, E
Commerce is proven to have a positive and significant effect on Company
Performance (𝑡statistic = 3.683 > 𝑡table = 2.019; 𝑝 = 0.001 < 0.05), thereby
supporting the third hypothesis (𝐻3).
The model evaluation test (F-test) yielded an F-statistic of 38.208 (𝑝 <
0.001), confirming that the regression model is statistically fit. The Coefficient of
Determination (𝑅2) of 0.741 indicates that 74.1% of the variance in hotel company
performance is explained by AIS, HR Competence, and E-Commerce, while the
remaining 25.9% is influenced by unexamined variables outside the research
model. Practical implications suggest that hotel management in Purwokerto should
prioritize strategic digital investment and market integration through Online Travel
Agents (OTAs) and direct digital marketing to optimize occupancy rates and boost
overall business performance.
5122954595A1D022039Respon Tanaman Melon (Cucumis melo L.) terhadap Aplikasi Bakteri Endofit dan Variasi Dosis Pupuk KNO3 pada Sistem Hidroponik Irigasi Tetes Penelitian bertujuan untuk mengkaji respon tanaman melon terhadap aplikasi bakteri endofit dan variasi dosis pupuk KNO₃ pada sistem hidroponik irigasi tetes. Penelitian dilaksanakan di screenhouse yang berada di Desa Pasir Kulon, Karanglewas, Banyumas, bulan November 2025 hingga Mei 2026. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok faktorial dengan dua faktor, yaitu aplikasi bakteri endofit (B0: tanpa bakteri; B1: Serratia sp.; B2: Enterobacter sp.) dan dosis pupuk KNO₃ (K0: 0 g/L; K1: 2 g/L; K2: 4 g/L). Analisis data dilakukan menggunakan ANOVA pada taraf kesalahan 5% dan diuji lanjut DMRT jika terdapat pengaruh yang nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan bakteri endofit Serratia sp. dan penambahan pupuk KNO₃ mampu meningkatkan pertumbuhan serta hasil buah melon. Aplikasi Serratia sp. meningkatkan luas daun hingga 11.197,49 cm² per tanaman, bobot kering akar 3,52 g, dan lebar bukaan stomata 9,27 µm. Penambahan pupuk KNO₃ dosis 2 g/L menghasilkan berat buah 1,58 kg dengan diameter 14,52 cm, tidak berbeda nyata dengan dosis 4 g/L yang menghasilkan berat buah 1,68 kg dengan diameter 14,78 cm, dan keduanya lebih baik dibandingkan tanpa pupuk (berat 1,35 kg; diameter 13,97 cm). Hal ini menunjukkan bahwa dosis 2 g/L sudah cukup efektif untuk meningkatkan hasil, sekaligus lebih efisien karena ketebalan daging dan total padatan terlarut tidak berbeda jauh dengan dosis 4 g/L.This study aimed to evaluate the response of melon plants to endophytic bacteria application and varying doses of KNO₃ fertilizer under a drip irrigation hydroponic system. The experiment was conducted in a screenhouse located in Pasir Kulon, Karanglewas, Banyumas, from November 2025 to May 2026. A factorial Randomized Block Design was used with two factors: endophytic bacteria (B0: without bacteria; B1: Serratia sp.; B2: Enterobacter sp.) and KNO₃ fertilizer dosage (K0: 0 g/L; K1: 2 g/L; K2: 4 g/L). Data were analyzed using ANOVA at a 5% significance level, followed by DMRT when significant differences were observed. The results showed that the application of endophytic bacteria Serratia sp. combined with KNO₃ fertilizer was able to enhance the growth and yield of melon plants. The application of Serratia sp. increased leaf area up to 11,197.49 cm² per plant, root dry weight of 3.52 g, and stomatal aperture width of 9.27 µm. The addition of KNO₃ fertilizer at a dose of 2 g/L produced fruits weighing 1.58 kg with a diameter of 14.52 cm, which was not significantly different from the 4 g/L dose that yielded fruits weighing 1.68 kg with a diameter of 14.78 cm. Both treatments were superior to the control (fruit weight 1.35 kg; diameter 13.97 cm). These findings indicate that the 2 g/L dose is sufficiently effective to improve yield and can be recommended as a more efficient KNO₃ fertilization practice, since fruit flesh thickness and total soluble solids did not differ markedly from the 4 g/L dose.
5123054646L1C022072Analisis Risiko Lingkungan Pengendapan Sedimen Dasar Laut Jawa: Metode Geokimia Logam BeratSedimen merupakan media utama dalam proses pengendapan dan penyimpanan logam berat yang berasal dari aktivitas alami maupun antropogenik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis variasi jenis dan tingkat pencemaran logam berat pada sedimen vertikal, mengidentifikasi sumber utama sedimen, serta menganalisis proses akumulasi dan transportasi logam berat di perairan Laut Jawa. Metode yang digunakan meliputi uji X-Ray Fluorescence (XRF) untuk menentukan konsentrasi logam, Particle Size Analyzer (PSA) untuk analisis tekstur sedimen, serta perhitungan indeks geokimia seperti Indeks Geoakumulasi (Igeo) dan Enrichment Factor (EF). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi logam berat (Pb, Ni, Cr, dan Zn) bervariasi dengan tren penurunan seiring bertambahnya kedalaman sedimen inti, dengan tingkat pencemaran secara umum tergolong rendah hingga moderat. Analisis rasio geokimia (K/Ti dan Ca/Ti) mengidentifikasi adanya variasi sumber sedimen, mulai dari dominasi material terigen di dekat daratan hingga peningkatan kontribusi karbonat laut di wilayah laut lepas. Proses akumulasi dan transportasi logam berat dipengaruhi oleh dinamika arus. Kecepatan arus yang rendah memengaruhi proses pengendapan fraksi halus (lanau dan lempung) yang memiliki kapasitas adsorpsi logam lebih tinggi dibandingkan wilayah dengan energi arus kuat.Sediment is a primary medium for the deposition and storage of heavy metals originating from both natural and anthropogenic activities. This study aims to analyze the variations in types and pollution levels of heavy metals in vertical sediments, identify the primary sources of sediment, and analyze the accumulation and transport processes of heavy metals in the Java Sea waters. Methods employed include X-Ray Fluorescence (XRF) to determine metal concentrations, Particle Size Analyzer (PSA) for sediment texture analysis, and the calculation of geochemical indices such as the Geoaccumulation Index (Igeo) and Enrichment Factor (EF). The results indicate that heavy metal concentrations (Pb, Ni, Cr, and Zn) vary with a decreasing trend as core sediment depth increases, with pollution levels generally classified as low to moderate. Geochemical ratio analysis (K/Ti and Ca/Ti) identifies variations in sediment sources, ranging from the dominance of terrigenous materials near the mainland to an increased contribution of marine carbonates in offshore areas. The accumulation and transport processes of heavy metals are influenced by current dynamics. Low current velocities affect the deposition of fine fractions (silt and clay), which possess higher metal adsorption capacities compared to areas with high current energy.
5123154647F1D022086Kepemimpinan Kepala Desa Dalam Memajukan SDGS Melalui Program UMKM Tahun 2025 Di Desa Pandak Kabupaten Banyumas
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kepemimpinan Kepala Desa dalam memajukan Sustainable Development Goals (SDGs) melalui program Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Tahun 2025 di Desa Pandak, Kabupaten Banyumas. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus melalui teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap perangkat desa, BPD, pelaku UMKM, serta masyarakat. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman dengan teknik triangulasi sumber untuk menjaga keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kepala Desa memanfaatkan potensi strategis wilayah Baturraden dengan menjalankan peran sebagai perencana, fasilitator, dan motivator melalui pelatihan keterampilan, permodalan, fasilitas produksi, expo produk, serta kemitraan. Program ini terbukti mendukung pencapaian SDGs Desa Goal 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) yang ditandai dengan peningkatan signifikan hingga 90 unit UMKM pada tahun 2025–2026, kenaikan pendapatan warga, penciptaan lapangan kerja, dan penurunan tingkat kemiskinan. Selain aspek ekonomi, kepemimpinan Kepala Desa juga mendorong pembangunan SDM melalui program "Satu Rumah Satu Sarjana" dan infrastruktur dasar. Kendala yang dihadapi berupa keterbatasan modal, manajemen, pemasaran digital, dan persaingan usaha yang diatasi melalui pendampingan serta pemantauan berkala. Secara keseluruhan, kepemimpinan yang responsif dan partisipatif ini sukses mengintegrasikan pengembangan UMKM dan SDM menuju pembangunan desa yang mandiri dan berkelanjutan.This study aims to analyze the leadership of the Village Head in advancing the Sustainable Development Goals (SDGs) through the 2025 Micro, Small, and Medium Enterprises (MSME) program in Pandak Village, Banyumas Regency. The study employs a qualitative approach using a case study method through interviews, observations, and documentation involving village officials, the Village Consultative Body (BPD), MSME actors, and community members. Data analysis was conducted using the Miles and Huberman interactive model with source triangulation to ensure data validity. The results indicate that the Village Head leverages the strategic geographic potential of the Baturraden area by acting as a planner, facilitator, and motivator through skills training, capital assistance, production facilities, product expos, and strategic partnerships. This initiative directly supports the achievement of Village SDGs Goal 8 (Decent Work and Economic Growth), evidenced by a significant growth to 90 MSME units in 2025–2026, increased household income, job creation, and poverty reduction. Beyond the economic domain, the Village Head's leadership fosters human resource development through the flagship "One House, One Graduate" program alongside basic infrastructure improvements. Challenges such as limited capital, business management, digital marketing, and market competition are addressed through ongoing mentoring and periodic monitoring. Overall, this responsive and participatory leadership successfully integrates MSME and human capital development toward a self-reliant and sustainable village economy.
5123254649I1D022019PENGARUH TELE-NUTRITION EDUCATION DAN TELE-EXERCISE TERHADAP KUALITAS DIET DQI-I DAN KEKUATAN OTOT TUNGKAI DEWASA OBESITASLatar Belakang : Obesitas disebabkan karena ketidakseimbangan energi, kualitas diet, dan gaya hidup yang tidak baik. Kualitas diet dapat dipengaruhi oleh pemilihan dan ketersediaan bahan pangan, serta menentukan apakah asupan makanan seseorang sudah sesuai dengan kebutuhan gizi harian. Obesitas membebani kerja otot tungkai sehingga berpotensi menurunkan kekuatannya, sementara itu kekuatan otot merupakan indikator penting kebugaran fisik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Tele-nutrition education dan Tele-exercise terhadap kualitas diet DQI-I dan kekuatan otot tungkai dewasa obesitas

Metode : Penelitian ini menggunakan desain studi quasi eksperimental dengan pre-post test control group design. Sebanyak 36 responden dewasa berusia (19-40 tahun) dipilih dengan metode purposive sampling dibagi menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Data kualitas diet diambil melalui recall 2x24 jam dan kekuatan otot tungkai dengan leg dynamometer. Analisis data menggunakan uji Shapiro-Wilk, Paired T-Test/Wilcoxon, Independent T-Test/Mann Whitney

Hasil : Tidak terdapat perbedaan signifikan kualitas diet DQI-I antara kelompok intervensi dan kontrol (P=0,321), namun variasi protein meningkat signifikan pada kelompok intervensi (P=0,020). Kekuatan otot tungkai meningkat signifikan pada kedua kelompok, namun perbedaan masing-masing kelompok tidak signifikan (P=0,053),

Kesimpulan : Kombinasi Tele-nutrition education dan Tele-exercise efektif meningkatkan kekuatan otot tungkai dan asupan protein, namun belum memberikan perubahan signifikan pada kualitas diet secara menyeluruh, sehingga perlu memperhatikan asupan konsumsi komponen kualitas diet yang lain.

Kata Kunci : kualitas diet DQI-I, kekuatan otot tungkai, obesitas, tele-exercise, tele- nutrition education









Backround : Obesity is caused by an imbalance between energy intake and expenditure, poor diet quality, and unhealthy lifestyle habits. Diet quality is influenced by food choices and food availability, and reflects whether daily nutrient intake meets nutritional requirements. Excess body weight also increases the mechanical load on the lower limbs, which may reduce muscle strength. Therefore, lower limb muscle strength is considered an important indicator of physical fitness. This study aimed to determine the effect of tele-nutrition education and tele-exercise on Diet Quality Index-International (DQI-I) scores and lower limb muscle strength among obese adults.
Methods : This study employed a quasi-experimental design using a pre-test and post-test control group approach. A total of 36 obese adults aged 19–40 years were selected through purposive sampling and divided into intervention and control groups. Diet quality was assessed using two 24-hour dietary recalls and analyzed with the Diet Quality Index-International (DQI-I), while lower limb muscle strength was measured using a leg dynamometer. Data were analyzed using the Shapiro-Wilk test, Paired t-test or Wilcoxon signed-rank test, and Independent t-test or Mann-Whitney test..
Results : There was no significant difference in the total DQI-I score between the intervention and control groups after the intervention (p = 0.371). However, the protein variety subcomponent significantly improved in the intervention group (p = 0.020). Lower limb muscle strength increased significantly within the intervention group (p = 0.020). Nevertheless, the difference in lower limb muscle strength between the intervention and control groups after the intervention was not statistically significant (p = 0.053).
Conlusion : The combination of tele-nutrition education and tele-exercise was effective in improving lower limb muscle strength and dietary protein variety among obese adults. However, it did not significantly improve overall diet quality as measured by the DQI-I. Longer intervention periods and continuous dietary guidance may be needed to achieve meaningful improvements in overall diet quality.
Keywords : Diet Quality Index-International (DQI-I), lower limb muscle strength, obesity, tele-exercise, tele-nutrition education.

5123354650F1D021002Strategi Revitalisasi Kawasan Situ Lengkong Panjalu Dalam Pengembangan Pariwisata di Kabupaten CiamisABSTRAK
Revitalisasi destinasi wisata menjadi salah satu strategi pemerintah daerah
dalam meningkatkan daya saing pariwisata sekaligus memperkuat manfaat
ekonomi bagi masyarakat lokal. Situ Lengkong Panjalu Kabupaten Ciamis
memiliki potensi wisata alam, sejarah, budaya, dan religi, tetapi masih menghadapi
persoalan berupa fluktuasi kunjungan wisatawan, keterbatasan infrastruktur,
pengembangan atraksi yang belum optimal, serta tantangan dalam koordinasi dan
partisipasi pemangku kepentingan. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi
revitalisasi Situ Lengkong Kabupaten Ciamis serta mengidentifikasi faktor
pendukung dan penghambat dalam pelaksanaannya. Penelitian menggunakan
paradigma konstruktivisme dengan pendekatan kualitatif studi kasus. Data
diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap
pemerintah daerah, pemerintah desa, masyarakat, dan pemangku kepentingan
terkait, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan
Saldaña. Analisis strategi menggunakan konsep 5P Mintzberg yang meliputi Plan,
Ploy, Pattern, Position, dan Perspective. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
strategi revitalisasi telah memiliki dasar perencanaan formal melalui RPJMD,
RIPPARDA, master plan, feasibility study, dan Detail Engineering Design (DED).
Dimensi Plan dan Position menjadi aspek yang paling kuat, ditunjukkan melalui
perencanaan yang terstruktur dan penempatan Situ Lengkong sebagai destinasi
unggulan serta magnet tourism. Sementara itu, Pattern dan Perspective masih
memerlukan penguatan dalam konsistensi implementasi, partisipasi masyarakat,
dan penyatuan orientasi ekonomi, sosial, budaya, serta lingkungan. Faktor
pendukung meliputi komitmen pemerintah, potensi destinasi, legitimasi kebijakan,
dan koordinasi antaraktor, sedangkan hambatan mencakup keterbatasan
infrastruktur, inovasi atraksi, fluktuasi kunjungan, dan perbedaan kepentingan
antaraktor. Revitalisasi perlu diarahkan pada strategi yang lebih konsisten,
kolaboratif, adaptif, dan berkelanjutan.
Kata kunci: revitalisasi destinasi; strategi pariwisata; Situ Lengkong; 5P Mintzberg
ABSTRACT
​Destination revitalization serves as a local government strategy to enhance tourism competitiveness while strengthening economic benefits for local communities. Situ Lengkong Panjalu in Ciamis Regency possesses natural, historical, cultural, and religious tourism potential; however, it continues to face challenges such as fluctuating visitor arrivals, limited infrastructure, suboptimal attraction development, and coordination as well as stakeholder participation hurdles. This study aims to analyze the revitalization strategy of Situ Lengkong in Ciamis Regency and identify the supporting and inhibiting factors in its implementation. Employing a constructivist paradigm with a qualitative case study approach, data were gathered through in-depth interviews, observations, and documentation involving the local government, village government, community, and relevant stakeholders. The data were then analyzed using the interactive model by Miles, Huberman, and Saldaña. Strategic analysis was conducted using Mintzberg’s 5P concept, encompassing Plan, Ploy, Pattern, Position, and Perspective. The findings reveal that the revitalization strategy has a formal planning foundation through the Regional Medium-Term Development Plan (RPJMD), Regional Tourism Master Plan (RIPPARDA), master plan, feasibility study, and Detail Engineering Design (DED). The Plan and Position dimensions represent the strongest aspects, demonstrated through structured planning and the positioning of Situ Lengkong as a flagship destination and tourism magnet. Meanwhile, Pattern and Perspective still require reinforcement regarding implementation consistency, community participation, and the alignment of economic, social, cultural, and environmental orientations. Supporting factors include government commitment, destination potential, policy legitimacy, and inter-actor coordination, whereas inhibiting factors comprise infrastructure constraints, attraction innovation, visitor fluctuations, and conflicting interests among actors. Consequently, revitalization needs to be directed toward strategies that are more consistent, collaborative, adaptive, and sustainable.
​Keywords: destination revitalization; tourism strategy; Situ Lengkong; Mintzberg's 5P