Home
Login.
Artikelilmiahs
54574
Update
NOOR RAMADHANI NEVITASARI
NIM
Judul Artikel
Ngapak Sebagai Identitas Digital: Strategi Personal Branding Kreator TikTok melalui Campur Kode pada Akun @raflychaniag0
Abstrak (Bhs. Indonesia)
ABSTRAK Perkembangan media sosial telah mengubah cara masyarakat menggunakan bahasa dalam berkomunikasi. Salah satu fenomena yang banyak ditemukan adalah penggunaan campur kode oleh kreator konten sebagai strategi membangun identitas digital. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk, jenis, dan faktor penyebab campur kode sekaligus menjelaskan peran penggunaan bahasa Jawa Ngapak sebagai strategi personal branding kreator TikTok @raflychaniag0. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan kajian sosiolinguistik. Data berupa tuturan kreator yang diperoleh dari empat video TikTok, yaitu Rating Kegiatan Anaknya Gua Wadon Due Lanang, Rating Matan-Mantane Gue, Rating Kuku Kimcil, dan Rating Alis Kimcil. Data dikumpulkan menggunakan metode simak dengan teknik Simak Bebas Libat Cakap (SBLC) dan teknik catat, kemudian dianalisis menggunakan metode padan ekstralingual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk campur kode yang ditemukan meliputi kata, frasa, baster, perulangan kata, idiom, dan klausa, dengan bentuk kata sebagai bentuk yang paling dominan. Berdasarkan jenisnya, campur kode ke dalam (inner code-mixing) mendominasi penggunaan bahasa dibandingkan campur kode ke luar (outer code-mixing) dan campur kode campuran (hybrid code-mixing). Faktor yang melatarbelakangi penggunaan campur kode meliputi faktor penutur, penggunaan istilah yang lebih populer, tujuan komunikatif, ragam bahasa, serta penciptaan humor. Temuan penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Jawa Ngapak secara konsisten tidak hanya berfungsi sebagai variasi bahasa, tetapi juga menjadi strategi personal branding yang membentuk identitas digital kreator, memperkuat kedekatan dengan audiens, serta membedakan karakter kreator dari konten sejenis di media sosial.
Abtrak (Bhs. Inggris)
ABSTRACT The rapid growth of social media has transformed the way people use language in digital communication. One prominent phenomenon is the use of code-mixing by content creators as a strategy to establish their digital identity. This study aims to describe the forms, types, and factors of code-mixing while explaining the role of the Banyumas Ngapak dialect as a personal branding strategy employed by the TikTok creator @raflychaniag0. This research applies a qualitative descriptive approach within a sociolinguistic framework. The data consist of the creator's utterances collected from four TikTok videos entitled Rating Kegiatan Anaknya Gua Wadon Due Lanang, Rating Matan-Mantane Gue, Rating Kuku Kimcil, and Rating Alis Kimcil. Data were collected using the observation method with the non-participatory observation technique and note- taking, and analyzed using the extralingual equivalent method. The findings reveal six forms of code-mixing, namely words, phrases, basters, reduplications, idioms, and clauses, with word-level code-mixing being the most dominant. Based on its type, inner code-mixing occurs more frequently than outer and hybrid code-mixing. The factors influencing code-mixing include speaker-related factors, the use of popular terms, communicative purposes, language variety, and humorous expression. Furthermore, the study demonstrates that the consistent use of the Ngapak dialect functions not only as linguistic variation but also as a personal branding strategy that constructs the creator's digital identity, strengthens audience engagement, and distinguishes the creator from other content creators on social media.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save