Artikelilmiahs

Menampilkan 51.121-51.140 dari 51.143 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
5112154533J1E020050TEACHER PERCEPTION ON STUDENTS’ VOCABULARY MASTERY (A Descriptive-Qualitative Study at Grade VIII of SMP Negeri 3 Banyumas in the Academic Year of 2025/2026)ABSTRAK

Winarto, Adhyagung Nurendra. (2026). “Persepsi guru tentang penguasaan kosakata siswa (studi deskriptif-kualitatif di Kelas VIII SMP Negeri 3 Banyumas tahun ajaran 2025/2026)” Pembimbing Skripsi, 1 : Nisa Roiyasa, S.Pd., M.Ed., TESOL. Pembimbing Skripsi, 2 : Novita Pri Andini, S.Pd., M.Pd. Ketua Penguji Eksternal : Mustasyfa Thabib Kariadi, S.Pd., M.Pd. Penguji Eksternal: Erna Wardani, S.Pd. M.Hum. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Universitas Jenderal Soedirman, Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Pendidikan Bahasa, Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris, Purwokerto.

Kosakata memainkan peran penting dalam pembelajaran bahasa asing karena membentuk dasar untuk mengembangkan keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Dalam konteks pengajaran Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing (EFL) di sekolah menengah Indonesia, guru menghadapi berbagai tantangan pedagogis dalam menyampaikan pengajaran kosakata yang efektif yang selaras dengan tuntutan kurikulum modern. Untuk mengatasi masalah ini, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi persepsi guru Bahasa Inggris mengenai strategi pengajaran kosakata, tantangan yang mereka hadapi, dan solusi yang mereka terapkan di kelas delapan SMP Negeri 3 Banyumas. Dengan menggunakan desain deskriptif-kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi kelas, dan analisis dokumen yang melibatkan seorang guru Bahasa Inggris berpengalaman. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi guru mengenai keterampilan kosakata siswa kelas VIII, mengidentifikasi tantangan pedagogis yang dihadapi, dan mengeksplorasi strategi pengajaran yang diterapkan untuk mengatasi tantangan tersebut di SMP Negeri 3 Banyumas pada tahun ajaran 2025/2026. Dengan pendekatan deskriptifkualitatif, pengumpulan data dilakukan secara sistematis melalui wawancara dengan seorang guru Bahasa Inggris kelas delapan. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan teknik kualitatif Miles, Huberman, dan Saldana (2014), yang meliputi kondensasi data, tampilan data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa: (1) guru melihat adanya tren dalam ukuran kosakata siswa karena siswa masih sangat bergantung pada bahasa ibu mereka (Indonesia) untuk komunikasi sehari-hari, yang membatasi paparan aktif bahasa Inggris, suatu aspek yang konsisten dengan Nation (2013) dan Ellis (2008) mengenai dampak dari masukan bahasa sasaran yang terbatas; (2) hambatan utama dalam pembelajaran kosakata tidak terletak pada keterbatasan kognitif siswa, melainkan pada keterbatasan lingkungan dan frekuensi pertemuan kata yang rendah di luar kelas, yang mendukung pernyataan Schmitt (2010) bahwa pembelajar membutuhkan banyak pertemuan ulang kontekstual untuk mempertahankan kata sasaran secara permanen; dan (3) guru melaporkan menerapkan beberapa strategi untuk meningkatkan daya ingat kata, termasuk bimbingan sebaya (pengajaran berpasangan), penyusunan daftar kosakata secara mandiri, analisis lagu rekreasi, dan pembuatan majalah dinding bahasa Inggris. Studi ini menyimpulkan bahwa metode pengajaran yang paling berdampak untuk memastikan retensi kosakata jangka panjang adalah dengan mengintegrasikan pengenalan kata berbasis teks yang dikontekstualisasikan, memungkinkan siswa untuk secara mandiri menghasilkan dan menerapkan daftar istilah yang ditargetkan langsung ke dalam produksi teks yang konstruktif, yang sangat memperkuat kerangka kerja Nation (2007) tentang pembelajaran bahasa berbasis output.

Kata Kunci: Penguasaan Kosakata, Persepsi Guru, Strategi Pembelajaran Kontekstual, Studi Kualitatif.
ABSTRACT

Winarto, Adhyagung Nurendra. (2026). “Teacher perception on students’ vocabulary mastery (a descriptive-qualitative study at Grade VIII of SMP Negeri 3 Banyumas in the academic year of 2025/2026)” Thesis Advisor 1 : Nisa Roiyasa, S.Pd., M.Ed., TESOL. Thesis Advisor 2 : Novita Pri Andini, S.Pd., M.Pd. Chief External Examiner : Mustasyfa Thabib Kariadi, S.Pd., M.Pd. External Examiner: Erna Wardani, S.Pd. M.Hum. Ministry of Higher Education, Science, and Technology, Jenderal Soedirman University, Faculty of Humanities, Department of Language Education, English Language Education Study Program, Purwokerto.

Vocabulary plays a crucial role in foreign language learning as it forms the foundation for developing listening, speaking, reading, and writing skills. In the context of English as a Foreign Language (EFL) instruction in Indonesian secondary schools, teachers face various pedagogical challenges in delivering effective vocabulary teaching that aligns with modern curriculum demands. To address this issue, this study aimed to explore English teacher’s perceptions regarding vocabulary teaching strategies, the challenges they encounter, and the solutions they implement in eighth-grade classrooms at SMP Negeri 3 Banyumas. Engaging a descriptive-qualitative design, data were collected through semi-structured interviews, classroom observations, and document analysis involving an experienced English teacher. This study aimed to describe teacher’s perceptions regarding grade VIII students' vocabulary skills, identify the pedagogical challenges encountered, and explore the instructional strategies implemented to overcome these challenges at SMP Negeri 3 Banyumas in the academic year of 2025/2026. By a descriptive-qualitative approach, data collection was systematically conducted through interviews with an eighth-grade English teacher. The gathered data were analyzed utilizing Miles, Huberman, and Saldana’s (2014) qualitative technique, which covers data condensation, data display, and conclusion drawing or verification. The research findings revealed that: (1) teachers perceived a trend in students' vocabulary size because students remain heavily reliant on their native language (Indonesian) for daily communication, which limits active English language exposure, an aspect consistent with Nation (2013) and Ellis (2008) regarding the impact of limited target language input; (2) the primary obstacle in vocabulary learning is not fixed in students' cognitive limitations, but rather in environmental limitations and a low frequency of word encounters outside the classroom, supporting Schmitt’s (2010) pronouncement that learners require multiple contextual re-encounters to retain target words permanently; and (3) teachers reported implementing several strategies to enhance word memory, including peer tutoring (pair teaching), autonomous vocabulary list compilation, recreational song analysis, and English wall magazine creation. The study concluded that the most impactful instructional method to secure long-term vocabulary retention is integrating contextualized text-based introduction of words, allowing students to independently generate and apply targeted term lists directly into constructive text production, which strongly reinforces Nation’s (2007) framework on outputbased language learning.

Keywords: Contextual Learning Strategy, Qualitative Study, Teacher Perception, Vocabulary Mastery.
5112254535I1A022104EVALUASI PELAKSANAAN POS PELAYANAN TERPADU (POSYANDU)
INTEGRASI LAYANAN PRIMER (ILP) DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS PURBALINGGA
TAHUN 2026
Latar Belakang: Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Integrasi Layanan Primer (ILP) merupakan bagian dari transformasi pelayanan kesehatan primer yang bertujuan memperluas cakupan pelayanan kesehatan berbasis siklus hidup. Implementasi Posyandu ILP di wilayah kerja Puskesmas Purbalingga masih tergolong baru sehingga perlu dilakukan evaluasi untuk mengetahui kesesuaian pelaksanaan program dengan tujuan yang telah ditetapkan, sekaligus mengidentifikasi faktor pendukung dan kendala dalam pelaksanaannya.
Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Evaluasi dilakukan menggunakan model Context, Input, Process, Product (CIPP). Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Purbalingga pada bulan April - Mei 2026. Informan dipilih secara purposive yang terdiri atas informan kunci, informan utama, dan informan pendukung. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik dengan tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi sumber dan triangulasi metode.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada aspek context, pelaksanaan Posyandu ILP telah sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat berbasis siklus hidup serta didukung oleh kebijakan dan kerja sama lintas sektor, meskipun pemahaman masyarakat mengenai Posyandu ILP masih perlu ditingkatkan. Pada aspek input, ketersediaan sumber daya manusia, pelatihan kader, pendanaan, serta sarana dan prasarana secara umum telah mendukung pelaksanaan program, namun masih terdapat keterbatasan pada jumlah kader dan fasilitas pendukung. Pada aspek process, pelaksanaan Posyandu ILP telah mengikuti tahapan pelayanan sesuai pedoman, didukung koordinasi, monitoring, evaluasi, dan sistem pelaporan, meskipun partisipasi beberapa kelompok sasaran belum optimal. Pada aspek product, program menghasilkan data status gizi dan penyakit tidak menular sebagai dasar pemantauan kesehatan masyarakat, meningkatkan akses dan kepuasan terhadap pelayanan, namun masih menghadapi hambatan berupa rendahnya partisipasi sebagian kelompok sasaran.
Kesimpulan: Pelaksanaan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) di wilayah kerja Puskesmas Purbalingga secara umum telah berjalan dengan baik berdasarkan evaluasi model CIPP. Meskipun demikian, diperlukan peningkatan sosialisasi kepada masyarakat, penguatan kapasitas kader, penyediaan sarana dan prasarana yang lebih memadai, serta pengembangan strategi pelayanan agar partisipasi masyarakat meningkat dan pelaksanaan program menjadi lebih optimal.
Kata kunci: evaluasi program, CIPP, Posyandu Integrasi Layanan Primer, pelayanan kesehatan primer, penelitian kualitatif.
Background: The Integrated Primary Care (ILP) Integrated Health Service Posts (Posyandu) are part of the transformation of primary health care aimed at expanding the coverage of life-cycle-based health services. The implementation of Posyandu ILP in the Purbalingga Community Health Center’s service area is still relatively new; therefore, an evaluation is needed to determine whether the program’s implementation aligns with its established objectives, as well as to identify supporting factors and obstacles in its implementation.
Methods: This study employed a qualitative approach using a case study design. The evaluation was conducted using the Context, Input, Process, Product (CIPP) model. The research was carried out in the service area of the Purbalingga Community Health Center (Puskesmas) from April to Mei 2026. Informants were selected through purposive sampling and consisted of key informants, primary informants, and supporting informants. Data were collected through in-depth interviews, observations, and document reviews, then analyzed using thematic analysis, which involved the stages of data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions. Data validity was ensured through source triangulation and methodological triangulation.
Results: The study findings indicate that, in terms of context, the implementation of the ILP Posyandu has been aligned with the needs of life-cycle-based community health services and supported by policies and cross-sectoral collaboration, although public understanding of the ILP Posyandu still needs to be improved. In terms of inputs, the availability of human resources, volunteer training, funding, and facilities and infrastructure generally supported program implementation; however, there were still limitations regarding the number of volunteers and supporting facilities. In terms of process, the implementation of the ILP Posyandu followed service stages in accordance with guidelines, supported by coordination, monitoring, evaluation, and reporting systems, although participation by some target groups was not yet optimal. In terms of the product, the program generates data on nutritional status and noncommunicable diseases as a basis for public health monitoring and improves access to and satisfaction with services; however, it still faces obstacles in the form of low participation among some target groups.
Conclusion: The implementation of the Integrated Primary Care (ILP) Posyandu in the Purbalingga Community Health Center’s service area has generally proceeded well based on the CIPP model evaluation. Nevertheless, there is a need to increase public outreach, strengthen the capacity of community health workers, provide more adequate facilities and infrastructure, and develop service strategies to increase community participation and optimize program implementation.
Keywords: program evaluation, CIPP, Integrated Primary Care Posyandu, primary health care, qualitative research.
5112354534J1E021030THE EFFECTIVENESS OF USING KAHOOT TO IMPROVE THE STUDENTS’ READING COMPREHENSION IN NARRATIVE TEXTS (A Pre-Experimental Study on Grade VIII B Students at SMPN 4 Purwokerto in the Academic Year of 2025/2026).Nikmah, Nafisha Jazil Lutfiah, 2026. Efektivitas Penggunaan Kahoot untuk Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Membaca Siswa pada Teks Naratif (Studi Pra-Eksperimental pada Siswa Kelas VIII B SMPN 4 Purwokerto Tahun Ajaran 2025/2026). Pembimbing Skripsi 1: Mustasyfa Thabib Kariadi, S.Pd., M.Pd., Pembimbing Skripsi 2: Muhamad Ahsanu, S.Pd., M.Sc., M.Hum., Ph.D., Ketua Penguji Eksternal: Novita Pri Andini, S.Pd., M.Pd., Penguji Eksternal: Erna Wardani S.Pd., M.Hum. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Universitas Jenderal Soedirman, Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Pendidikan Bahasa, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Purwokerto.

Masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam pemahaman membaca, khususnya dalam memahami teks naratif, karena rendahnya motivasi belajar dan terbatasnya interaksi di dalam kelas. Penelitian ini berfokus pada penerapan Kahoot sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan pemahaman membaca siswa pada teks naratif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penerapan Kahoot, menguji signifikansinya, serta mengetahui persepsi siswa terhadap penggunaan Kahoot. Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimental dengan rancangan satu kelompok pretes dan postes. Partisipan penelitian ini adalah 32 siswa kelas VIII B SMPN 4 Purwokerto pada tahun ajaran 2025/2026. Data dikumpulkan melalui observasi, tes, dan kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan SPSS versi 27.
Hasil observasi menunjukkan bahwa siswa menjadi lebih aktif dan lebih percaya diri selama proses pembelajaran. Hasil tes menunjukkan adanya peningkatan kemampuan pemahaman membaca siswa, yang ditunjukkan dengan peningkatan nilai rata-rata dari 75,00 pada pretes menjadi 84,33 pada postes. Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa data berdistribusi normal (pretes = 0,135 dan postes = 0,054). Selanjutnya, hasil uji t sampel berpasangan menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05), yang menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan setelah penerapan Kahoot. Hasil kuesioner juga menunjukkan bahwa siswa memberikan respons positif karena Kahoot membuat pembelajaran lebih menyenangkan, meningkatkan motivasi belajar, dan membantu mereka memahami teks naratif. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa Kahoot efektif dalam meningkatkan kemampuan pemahaman membaca siswa pada teks naratif.
Nikmah, Nafisha Jazil Lutfiah, 2026. The Effectiveness of Using Kahoot to Improve Students’ Reading Comprehension in Narrative Text (A Pre-Experimental Study on Grade VIII B Students at SMPN 4 Purwokerto in the Academic Year of 2025/2026). Thesis Supervisor 1. Mustasyfa Thabib Kariadi, S.Pd., M.Pd., Thesis Supervisor 2. Muhamad Ahsanu, S.Pd., M.Sc., M.Hum., Ph.D., Chief External Examiner: Novita Pri Andini, S.Pd., M.Pd., External Examiner: Erna Wardani S.Pd., M.Hum. Ministry of Higher Education, Science, and Technology, Jenderal Soedirman University, Faculty of Humanities, Department of Language Education, English Education Study Program, Purwokerto.

Many students still experience difficulties in reading comprehension, particularly in understanding narrative texts, due to low learning motivation and limited classroom interaction. This study deals with the implementation of Kahoot as a learning media to improve students’ reading comprehension in narrative texts. It aims to determine the effectiveness of implementing Kahoot, examine its significance, and identify students’ perceptions. This research employed a pre-experimental design with a one-group pre-test and post-test design. The participants were 32 students of class VIII B at SMPN 4 Purwokerto in the academic year of 2025/2026. The data were collected through observation, tests, and questionnaires and analyzed using SPSS version 27.
The observation results show that students became more active and confident during learning process. The test results indicate an improvement in students’ reading comprehension, with the mean score increasing from 75.00 in the pre-test to 84.33 in the post-test. The normality test shows that the data were normally distributed (pre-test 0.135 and post-test 0.054). Furthermore, the paired sample t-test reveal a significance value of 0.000 (p < 0.05), indicating a significant improvement after the implementation of Kahoot. The questionnaire results also reveal that students responded positively, reporting that Kahoot made learning more enjoyable, increased their motivation, and helped them understand narrative texts. These findings indicate that Kahoot was effective in improving students’ reading comprehension of narrative texts.
5112454536H1D019028PENGEMBANGAN WEBSITE KLINIK KHITAN PLUS HIPNOSIS MENGGUNAKAN FRAMEWORK NEXTJS DENGAN METODE SCRUMPerkembangan teknologi informasi mendorong institusi layanan kesehatan memanfaatkan website sebagai media penyampaian informasi yang mudah diakses masyarakat. Website Klinik Khitan Plus Hipnosis Pabuaran yang telah dikembangkan sebelumnya masih memerlukan peningkatan dari aspek fungsionalitas dan kualitas. Penelitian ini bertujuan mengembangkan website klinik menggunakan framework Next.js dengan metode Scrum. Proses pengembangan dilakukan melalui tiga sprint yang mencakup pengembangan fitur, sistem administrasi, serta optimasi kualitas website. Pengujian dilakukan menggunakan Blackbox Testing untuk memverifikasi fungsionalitas sistem dan Lighthouse Testing untuk mengevaluasi performance, accessibility, best practices, dan Search Engine Optimization (SEO). Hasil penelitian menunjukkan seluruh user story berhasil diimplementasikan sesuai product backlog. Website yang dikembangkan menyediakan informasi profil klinik, layanan, testimoni, formulir review, integrasi WhatsApp, serta panel administrasi untuk mengelola layanan dan review. Seluruh skenario Blackbox Testing memperoleh status Pass, sedangkan Lighthouse Testing menghasilkan rata-rata skor 96% untuk Performance, 96,7% untuk Accessibility, serta 100% untuk Best Practices dan SEO. Hasil tersebut menunjukkan bahwa website telah memenuhi kebutuhan fungsional dan memiliki kualitas yang baik sebagai media informasi digital bagi Klinik Khitan Plus Hipnosis Pabuaran. The rapid growth of information technology has encouraged healthcare institutions to utilize websites as an accessible medium for delivering information to the public. The existing website of Klinik Khitan Plus Hipnosis Pabuaran required improvements in functionality and overall quality. This study aims to develop the clinic's website using the Next.js framework and the Scrum methodology. The development process was conducted through three sprints, covering feature development, administration system implementation, and website quality optimization. System evaluation employed Blackbox Testing to verify functional requirements and Lighthouse Testing to assess performance, accessibility, best practices, and Search Engine Optimization (SEO). The results indicate that all user stories in the product backlog were successfully implemented. The developed website provides clinic profile information, service details, testimonials, a review submission form, WhatsApp integration, and an administration panel for managing services and reviews. All Blackbox Testing scenarios achieved Pass status, while Lighthouse Testing produced average scores of 96% for Performance, 96.7% for Accessibility, and 100% for both Best Practices and SEO. These findings demonstrate that the developed website satisfies the functional requirements and provides a high-quality digital information platform for Klinik Khitan Plus Hipnosis Pabuaran.
5112554538I1C022050FORMULASI DAN EVALUASI SEDIAAN BODY SCRUB EKSTRAK ETANOL DAUN RAMBUTAN (Nephelium lappaceum L.) SEBAGAI ANTIOKSIDANPaparan radikal bebas yang berlebihan dapat menyebabkan stres oksidatif dan mempercepat penuaan dini pada kulit. Oleh karena itu, diperlukan sediaan body scrub yang tidak hanya berfungsi mengangkat sel kulit mati, tetapi juga mengandung antioksidan untuk melindungi kulit dari kerusakan akibat radikal bebas. Salah satu bahan alam yang berpotensi sebagai antioksidan adalah daun rambutan (Nephelium lappaceum L.) yang diketahui mengandung senyawa fenolik dan flavonoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisik, kimia, dan stabilitas serta aktivitas antioksidan sediaan body scrub ekstrak etanol daun rambutan menggunakan metode DPPH. Penelitian ini merupakan studi eksperimental laboratorium, di mana daun rambutan diekstraksi menggunakan etanol 70% dengan metode maserasi. Ekstrak yang diperoleh diformulasikan dalam sediaan body scrub dengan konsentrasi 3%, 6%, dan 9%. Sediaan yang dihasilkan dievaluasi sifat fisikokimia meliputi uji organoleptis, homogenitas, tipe emulsi, pH, viskositas, daya sebar, daya lekat dan stabilitas. Aktivitas antioksidan ekstrak dan sediaan body scrub ditentukan menggunakan metode DPPH. Hasil penelitian menunjukkan sediaan body scrub formula 1, formula 2, dan formula 3 memiliki nilai IC50 berturut-turut sebesar 114,44 ppm; 104,60 ppm; 101, 82 ppm yang termasuk kategori antioksidan sedang. Hasil evaluasi fisikokimia menunjukkan bahwa nilai pH, viskositas, daya lekat, dan daya sebar masuk dalam rentang syarat keberterimaan. Formula 3 menunjukkan ketidakstabilan berupa pemisahan fase, sedangkan formula 1 dan formula 2 tetap stabil selama masa penyimpanan. Dengan demikian, Formula dengan konsentrasi ekstrak 3% dan 6% menghasilkan sediaan yang stabil selama penyimpanan dengan aktivitas antioksidan sedang, sedangkan formula 9% menunjukkan aktivitas antioksidan tertinggi namun tidak memenuhi persyaratan stabilitas karena terjadi pemisahan fase.
Excessive free radical exposure can cause oxidative stress and accelerate premature skin aging. Therefore, a body scrub is needed that exfoliates dead skin cells and contains antioxidants to protect the skin from free-radical damage. Rambutan leaves (Nephelium lappaceum L.) are a natural ingredient with antioxidant potential because they contain phenolic compounds and flavonoids. This study aims to determine the physical and chemical properties and the stability of the antioxidant activity of a body scrub formulated from ethanol extract of rambutan leaves using the DPPH method. This experimental laboratory study involved rambutan leaves were extracted using 70% ethanol via the maceration method. The resulting extract was formulated into body scrubs at concentrations of 3%, 6%, and 9%. These formulations were evaluated for their physicochemical properties, including organoleptic testing, homogeneity, emulsion type, pH, viscosity, spreadability, adhesion, and stability. The antioxidant activity of the extract and the body scrub formulations was determined using the DPPH method. The results showed that body scrub formulations 1, 2, and 3 had IC₅₀ values of 114.44 ppm, 104.60 ppm, and 101.82 ppm, respectively, which fall into the moderate antioxidant category. The physicochemical evaluation showed that the pH, viscosity, adhesion, and spreadability values were within the acceptable range. Formula 3 exhibited instability in the form of phase separation, while formulas 1 and 2 remained stable throughout the storage period. In general, formulations with extract concentrations of 3% and 6% produced stable preparations during storage with moderate antioxidant activity. In contrast, the 9% formulation exhibited the highest antioxidant activity but did not meet stability requirements due to phase separation.
5112654540J1E021022The Correlation between Self-Efficacy and Verbal Communication Abilities among First-Year Students (A Correlational Study among First-Year English Education Students of 2025 Batch at Jenderal Soedirman University)Ananda, Tri Aditya Lucky, 2026. The Correlation between Self-Efficacy andVerbal Communication Abilities among First-Year Students (A correlational Study among First-Year English Education Students of 2025 Batch at Jenderal Soedirman University) Pembimbing Skripsi 1: Slamet Riyadi, S.S., M.Pd., Pembimbing Skripsi 2: Weksa Fradita Asriyama, S.Pd., M.Pd., Ketua Penguji Eksternal: Muhamad Ahsanu, S.Pd., M.Sc., M.Hum., Ph.D., Penguji Eksternal: Mustasyfa Thabib Kariadi, S.Pd., M.Pd. Kementrian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Universitas Jenderal Soedirman, Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Pendidikan Bahasa, Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris, Purwokerto. Penguasaan keterampilan komunikasi lisan sangat penting bagi mahasiswa, namun sering kali muncul pertanyaan apakah rasa percaya diri internal mereka secara langsung menentukan performa berbicara mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menguji korelasi antara self-efficacy siswa dan nilai komunikasi lisan mereka pada mahasiswa tahun pertama di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Berdasarkan teori self-efficacy dari Bandura, penelitian ini menganalisis bagaimana keyakinan diri subjektif berkaitan dengan performa berbicara teknis dalam lingkungan akademik. Desain penelitian kuantitatif korelasional digunakan dalam penelitian ini, melibatkan 47 partisipan yang dipilih secara random sampling untuk mengisi kuesioner General Self-Efficacy Scale (GSES) yang telah diadaptasi dan mengikuti penilaian berbicara dalam mata kuliah Daily Conversation. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan uji Korelasi Spearman Rank-Order melalui SPSS 27. Pertama, analisis statistik deskriptif menunjukkan bahwa nilai rata-rata keseluruhan untuk self-efficacy yang dihitung dari seluruh sampel adalah 31,1277 dengan standar deviasi sebesar 3,30755, yang termasuk dalam kategori tinggi. Kedua, nilai rata-rata kumulatif yang dihitung untuk performa berbicara dari seluruh sampel adalah 80,2351 dengan standar deviasi sebesar 2,84817, yang menunjukkan bahwa secara rata-rata, mahasiswa tahun pertama dalam kohort ini mempertahankan performa yang sangat positif dan konsisten sepanjang semester. Ketiga, analisis statistik menunjukkan korelasi yang tidak signifikan antara self-efficacy siswa dan nilai komunikasi lisan mereka (r = -0.035, p > 0.05), sehingga hipotesis nol diterima. Diagram pencar secara visual mengonfirmasi sebaran titik data yang acak, menunjukan adanya ketidakcocokan kognitif-linguistik antara rasa percaya diri subjektif dan kemahiran aktual. Hasil ini terutama disebabkan oleh kriteria rubrik penilaian teknis yang ketat dan keterbatasan statistik berupa pembatasan rentang (restriction of range) dalam sampel. Oleh karena itu, temuan ini menunjukkan bahwa self-efficacy yang tinggi tidak secara otomatis menjamin keakuratan linguistik teknis dalam penilaian berbicara formal.Ananda, Tri Aditya Lucky, 2026. The Correlation between Self-Efficacy and Verbal Communication Abilities among First-Year Students (A correlational Study among First-Year English Education Students of 2025 Batch at Jenderal Soedirman University). Thesis Supervisor 1: Slamet Riyadi, S.S., M.Pd., Thesis Supervisor 2: Weksa Fradita Asriyama, S.Pd., M.Pd., Chief External Examiner: Muhamad Ahsanu, S.Pd., M.Sc., M.Hum., Ph.D., External Examiner: Mustasyfa Thabib Kariadi, S.Pd., M.Pd. Ministry of Higher Education, Science, and Technology, Jenderal Soedirman University, Faculty of Humanities, Department of Language Education, English Language Education Study Program, Purwokerto Mastering oral communication skills is essential for undergraduate students, yet students often question whether their internal confidence directly dictates their actual speaking performance. This study investigated the correlation between students’ self-efficacy and their oral communication scores among first-year undergraduate students in the English Education Study Program. Grounded in Bandura’s self-efficacy theory, the research examined how subjective self-belief relates to technical speaking performance in an academic setting. A quantitative correlational design was employed, involving 47 randomly selected participants who completed the adapted General Self-Efficacy Scale (GSES) questionnaire and undertook a speaking assessment in a Daily Conversation course. Data were analyzed using descriptive statistics and the Spearman Rank-Order Correlation test via SPSS 27. Firstly, descriptive statistical analysis revealed that the comprehensive mean score of self-efficacy calculated for the entire sample was 31.1277 with a standard deviation of 3.30755, which falls squarely within the high category. Secondly, the calculated cumulative mean score for the speaking performance across the entire sample was 80.2351, accompanied by a standard deviation of 2.84817, demonstrating that, on average, the first-year students in this cohort maintained a strongly positive, consistent performance throughout the semester. Thirdly, the statistical analysis revealed a non-significant correlation between students’ self-efficacy and their oral communication grades (r = -0.035, p > 0.05), leading to the retention of the null hypothesis. The scatter plot visually confirmed a random distribution of data points, highlighting a cognitive-linguistic mismatch between subjective confidence and actual proficiency. This outcome was primarily attributed to the strict criteria of the technical grading rubric and a statistical restriction of range within the sample. Consequently, the findings indicated that high self-efficacy does not automatically guarantee technical linguistic accuracy in formal speaking assessments.
5112754542F1B019097Kualitas Pelayanan Transportasi Feeder Berbasis SERVQUAL Bagi Penghuni Rumah Susun Sederhana SewaStandar Pelayanan Minimal (SPM) Transjakarta sebagaimana diatur dalam Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 2 Tahun 2024 menetapkan batas waktu tunggu (headway) maksimal 10 menit pada jam sibuk dan 20 menit pada jam tidak sibuk, sementara observasi awal pada layanan bus feeder rute Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) di Jakarta Timur menunjukkan waktu tunggu aktual mencapai 15–30 menit. Kesenjangan ini melatarbelakangi penelitian mengenai kualitas pelayanan bus feeder tersebut berdasarkan lima dimensi SERVQUAL, yaitu tangible, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy. Penelitian menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan pendekatan survei terhadap 400 responden penghuni tujuh Rusunawa yang dipilih melalui accidental sampling secara proporsional, dengan ukuran sampel dihitung menggunakan rumus Slovin dari populasi sebanyak 889.827 pengguna (2025). Hasil analisis distribusi frekuensi dan kategorisasi persentase skor menunjukkan bahwa 94,3% jawaban responden pada 22 butir pernyataan berada pada kategori Baik, 4,1% Cukup, dan 1,6% Kurang. Dimensi Empathy memperoleh proporsi kategori Baik tertinggi (96,5%) dan Dimensi Reliability terendah (92,2%). Kelengkapan fasilitas titik pemberhentian, waktu tunggu antarbus, dan ketepatan jadwal teridentifikasi sebagai prioritas perbaikan utama. Penelitian menyimpulkan bahwa kualitas pelayanan secara keseluruhan tergolong baik menurut persepsi pengguna, namun perbaikan pada aspek keandalan operasional tetap diperlukan agar layanan sepenuhnya memenuhi SPM yang berlaku.The Transjakarta Minimum Service Standard (Governor Regulation of DKI Jakarta No. 2 of 2024) sets a maximum headway of 10 minutes during peak hours and 20 minutes during off-peak hours, yet preliminary observation of the feeder bus service connecting public rental housing (Rusunawa) in East Jakarta indicated an actual waiting time of 15–30 minutes. This gap motivated a study on the service quality of the feeder route using the five SERVQUAL dimensions: tangible, reliability, responsiveness, assurance, and empathy. A descriptive quantitative method with a survey approach was applied to 400 respondents drawn proportionally through accidental sampling from seven Rusunawa, with the sample size calculated using the Slovin formula from a population of 889,827 users (2025). Frequency-distribution and percentage-based categorization analysis showed that 94.3% of responses across 22 items fell into the Good category, 4.1% Fair, and 1.6% Poor. The Empathy dimension achieved the highest Good-category proportion (96.5%), while Reliability was the lowest (92.2%). Stop-facility completeness, inter-bus
waiting time, and schedule punctuality were identified as the main priorities for improvement. The study concludes that overall service quality is perceived as good by users, although improvements in operational reliability remain necessary to fully meet the applicable minimum service standard.
5112854544F2C024010POLA KOMUNIKASI INTERPERSONAL BIDAN DAN IBU HAMIL DALAM PENDAMPINGAN ANTENATAL CARE (ANC) DI PUSKESMAS KEDUNGBANTENGPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan pola komunikasi interpersonal bidan dan ibu hamil dalam pendampingan Antenatal Care (ANC) di Puskesmas Kedungbanteng serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambatnya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan paradigma konstruktivisme. Data diperoleh melalui wawancara mendalam semi-terstruktur, observasi, dan dokumen pendukung secara terbatas. Informan terdiri atas lima ibu hamil, dua bidan pelaksana, dan satu bidan koordinator. Data dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman melalui reduksi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Keabsahan data diperiksa melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal cenderung membentuk pola dua arah atau dialogis-sirkular yang lebih banyak diarahkan oleh bidan. Bidan lebih sering membuka percakapan, menentukan topik, menggali keluhan, memberikan penjelasan, dan mengarahkan tindak lanjut. Ibu hamil tetap terlibat melalui jawaban, keluhan, pertanyaan, tanggapan singkat, serta respons nonverbal yang ditanggapi kembali oleh bidan. Faktor pendukung meliputi kemampuan komunikasi bidan, keluwesan dan suasana pelayanan, serta dukungan media dan jejaring pelayanan. Faktor penghambat meliputi keterbatasan keterbukaan dan respons ibu hamil, perbedaan pengetahuan yang membutuhkan klarifikasi, serta keterbatasan dukungan dan tindak lanjut setelah pemeriksaan.
This study aimed to describe the interpersonal communication pattern between midwives and pregnant women during antenatal care (ANC) at Kedungbanteng Community Health Center and to identify its supporting and inhibiting factors. A descriptive qualitative approach with a constructivist paradigm was used. Data were collected through semi-structured in-depth interviews, observation, and limited supporting documents. The informants consisted of five pregnant women, two practicing midwives, and one coordinating midwife. Data were analyzed using the Miles and Huberman model through data reduction, data display, and conclusion drawing and verification. Data credibility was examined through source and technique triangulation. The findings show that interpersonal communication tended to form a two-way or dialogic-circular pattern that was more strongly directed by the midwives. Midwives more often opened the conversation, determined the topics, explored complaints, provided explanations, and directed follow-up actions. Pregnant women remained involved through answers, complaints, questions, brief responses, and nonverbal responses that were subsequently addressed by the midwives. Supporting factors included midwives’ communication skills, flexibility and a supportive service atmosphere, and the support of communication media and service networks. Inhibiting factors included limited openness and responses from pregnant women, differences in knowledge requiring clarification, and limited support and follow-up after examinations.
5112954545F1A022047Sintesis Literatur Strategi Bertahan Pedagang Pakaian di Pasar Tradisional Pada Era Digital Penelitian ini mengkaji strategi bertahan pedagang pakaian di pasar tradisional Indonesia yang menghadapi tekanan digital e-commerce. Platform belanja daring seperti Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop menggeser preferensi konsumen dan menurunkan omset pedagang hingga 20-30%. Penelitian bertujuan menganalisis tren strategi bertahan pedagang serta memetakan kerangka teoretis sosiologi yang digunakan dalam penelitian terdahulu. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) mengikuti protokol PRISMA, menganalisis 20 artikel ilmiah terakreditasi dari berbagai wilayah Indonesia (2020-2025) melalui analisis isi dan tematik. Hasil menunjukkan strategi bertahan pedagang terklasifikasi ke dalam tiga tipologi: Strategi Aktif (inovasi usaha dan diversifikasi produk), Strategi Pasif (efisiensi biaya dan pengurangan stok/karyawan), dan Strategi Jaringan (modal sosial). Ditemukan kesenjangan respons digital antara pedagang urban yang lebih adaptif teknokratis-digital dengan pedagang sub-urban dan rural yang bertumpu pada relasi personal. Empat teori dominan yang digunakan adalah Teori Adaptasi Bennett, Modal Sosial Bourdieu, Strategi Bersaing Porter, dan Strategi Bertahan Suharto. Penelitian merekomendasikan Teori Strukturasi Anthony Giddens untuk penelitian selanjutnya, serta regulasi pemerintah guna menciptakan ekosistem ekonomi digital yang lebih adil bagi pedagang lokal.
This study examines the survival strategies of clothing vendors in traditional Indonesian markets facing pressure from digital e-commerce. Online shopping platforms such as Shopee, Tokopedia, and TikTok Shop are shifting consumer preferences and reducing vendors’ sales by as much as 20–30%. The study aims to analyze trends in vendors’ survival strategies and map the sociological theoretical frameworks used in previous research. A qualitative method was employed using a Systematic Literature Review (SLR) approach following the PRISMA protocol, analyzing 20 accredited scientific articles from various regions in Indonesia (2020–2025) through content and thematic analysis. The results show that merchants’ survival strategies are classified into three typologies: Active Strategies (business innovation and product diversification), Passive Strategies (cost efficiency and reduction of inventory/staff), and Network Strategies (social capital). A digital response gap was found between urban merchants, who are more technologically and digitally adaptive, and suburban and rural merchants, who rely on personal relationships. The four dominant theories used were Bennett’s Adaptation Theory, Bourdieu’s Social Capital Theory, Porter’s Competitive Strategy, and Suharto’s Survival Strategy. The study recommends Anthony Giddens’ Structuration Theory for future research, as well as government regulations to create a more equitable digital economic ecosystem for local merchants.
5113054546C1B022036Penerapan Metode Six Sigma pada Pengendalian Kualitas Makanan Program Makan Bergizi Gratis (Studi Pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Banyumas Purwokerto Timur Kranji) Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengendalian kualitas makanan pada Peorgam Makan Bergizi Gratis di SPPG Banyumas Purwokerto Timur Kranji menggunakan metode Six Sigma melalui tahapan DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, dan Control). Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan data primer berupa observasi dan wawancara, serta data sekunder berupa 120 lembar uji organoleptik yang dikumpulkan selama delapan hari pengamatan. Penilaian kualitas dilakukan terhadap empat aspek kualitas, yaitu rasa, warna, aroma, dan tekstur. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 2.520 opportunity dan 228 defect, sehingga diperoleh nilai DPO sebesar 0,090476, DPMO sebesar 90.476, dan level sigma berdasarkan konversi DPMO diperoleh nilai ±2,84. Analisis Pareto menunjukkan bahwa komponen sayur 44,74% dan buah 35,53% merupakan penyumbang defect terbesar dengan persentase kumulatif 80,27%. Analisis Fishbone mengidentifikasi penyebab utama defect berdasarkan faktor 5M+1E, yaitu manusia, metode, material, mesin, pengukuran, dan lingkungan.This study aimed to evaluate food quality control in the Free Nutritious Meal Program at SPPG Banyumas Purwokerto Timur Kranji using the Six Sigma method through the DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, and Control) approach. The study employed a quantitative method using primary data obtained from observations and interviews, as well as secondary data from 120 organoleptic evaluation forms collected over eight days of observation. Food quality was evaluated based on four quality attributes, namely taste, color, aroma, and texture. The results showed 2.520 opportunities and 228 defects, resulting in a Defect per Opportunity of 0,090476, a Defect per Million Opportunities of 90.476, and a sigma level of approximately 2.84 based on DPMO conversion. Pareto analysis indicated that the vegetable component (44.7%) and fruit component (35.53%) were the largest contributors to defects, accounting for a cumulative 80.27% of the total defects. Fishbone analysis identified the root causes of defects based on the 5M + 1E factors, namely man, method, material, machine, measurement, and environment.
5113154547C1B022016PENGARUH EMPLOYER BRANDING DAN PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL INSTAGRAM TERHADAP MINAT MELAMAR KERJA DI BANK BRI DENGAN REPUTASI PERUSAHAAN SEBAGAI VARIABEL MEDIASI (STUDI PADA GENERASI Z)Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh employer branding dan penggunaan media sosial Instagram terhadap minat melamar kerja pada Generasi Z di Indonesia dengan reputasi perusahaan sebagai variabel mediasi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian explanatory research. Data diperoleh melalui penyebaran kuesioner secara daring kepada 170 responden Generasi Z di Indonesia yang memenuhi kriteria penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) dengan bantuan SmartPLS. Evaluasi model dilakukan melalui pengujian outer model untuk mengetahui validitas dan reliabilitas konstruk serta inner model untuk menguji hubungan antarvariabel. Pengujian hipotesis dilakukan menggunakan teknik bootstrapping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa employer branding berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat melamar kerja. Penggunaan media sosial Instagram juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat melamar kerja. Selanjutnya, employer branding berpengaruh positif dan signifikan terhadap reputasi perusahaan, sedangkan penggunaan media sosial Instagram juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap reputasi perusahaan. Reputasi perusahaan terbukti memediasi pengaruh employer branding terhadap minat melamar kerja serta memediasi pengaruh penggunaan media sosial Instagram terhadap minat melamar kerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa employer branding dan penggunaan media sosial Instagram dapat menjadi sinyal positif bagi Generasi Z dalam membentuk persepsi terhadap perusahaan, yang selanjutnya meningkatkan reputasi dan minat melamar kerja di Bank BRI.This study aims to analyze the effect of employer branding and Instagram social media usage on job application intention among Generation Z in Indonesia, with corporate reputation as a mediating variable. This study employed a quantitative approach with an explanatory research design. Data were collected through an online questionnaire from 170 Generation Z respondents in Indonesia who met the research criteria. The data were analyzed using Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) with SmartPLS. The measurement model was evaluated through validity and reliability testing, while the structural model was assessed to examine the relationships among variables. Hypothesis testing was conducted using the bootstrapping technique. The results show that employer branding has a positive and significant effect on job application intention. Instagram social media usage also has a positive and significant effect on job application intention. Furthermore, employer branding has a positive and significant effect on corporate reputation, while Instagram social media usage also positively and significantly affects corporate reputation. Corporate reputation mediates the effect of employer branding on job application intention and also mediates the effect of Instagram social media usage on job application intention. These findings indicate that employer branding and Instagram social media usage can serve as positive signals for Generation Z in forming perceptions of a company, which subsequently strengthen corporate reputation and increase job application intention toward Bank BRI
5113254548F2C024008Konstruksi Identitas Gender dalam Komunitas Gensoed Roblox melalui Perspektif DramaturgiPerkembangan platform permainan daring telah mengubah fungsi game dari sekadar media hiburan menjadi ruang sosial digital tempat individu membangun, menampilkan, dan menegosiasikan identitasnya. Meskipun kajian mengenai gender dalam game daring telah berkembang, sebagian besar penelitian masih berfokus pada stereotip, diskriminasi, atau representasi karakter, sehingga belum banyak menjelaskan bagaimana identitas gender dikonstruksi melalui praktik komunikasi sehari-hari dalam komunitas virtual berbasis mahasiswa. Penelitian ini bertujuan menganalisis konstruksi identitas gender anggota komunitas Gensoed Roblox melalui perspektif dramaturgi Erving Goffman.
Penelitian menggunakan paradigma konstruktivis dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam terhadap anggota aktif komunitas Gensoed Roblox, serta dokumentasi digital. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sedangkan keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber, teknik, dan waktu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi identitas gender berlangsung sebagai praktik dramaturgi digital yang diwujudkan melalui pemilihan avatar, penggunaan atribut visual, gaya komunikasi, serta strategi impression management dalam berbagai konteks interaksi. Avatar berfungsi tidak hanya sebagai representasi visual, tetapi juga sebagai medium komunikasi simbolik untuk membangun persona gender sesuai dengan ekspektasi audiens dan situasi interaksi. Praktik tersebut memperlihatkan adanya dinamika antara front stage dan back stage, di mana anggota komunitas secara fleksibel menyesuaikan representasi gender mereka berdasarkan norma komunitas, budaya platform, dan kebutuhan memperoleh penerimaan sosial. Identitas gender dalam komunitas ini tidak bersifat tetap, melainkan dikonstruksi, dipertunjukkan, dan dinegosiasikan secara berkelanjutan melalui interaksi sosial yang dimediasi teknologi digital.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa komunitas Gensoed Roblox merupakan ruang komunikasi digital yang memungkinkan identitas gender diproduksi melalui proses komunikasi simbolik, pengelolaan kesan, dan negosiasi sosial. Temuan ini memperluas penerapan teori dramaturgi ke dalam konteks komunitas game daring dengan menunjukkan bahwa avatar tidak hanya berfungsi sebagai representasi diri, tetapi juga sebagai instrumen strategis dalam pembentukan identitas gender di ruang virtual.
The rapid development of online gaming platforms has transformed digital games from entertainment media into social spaces where individuals construct, perform, and negotiate their identities. Although gender issues in online gaming have received increasing scholarly attention, previous studies have predominantly focused on gender stereotypes, discrimination, and character representation, offering limited insight into how gender identity is constructed through everyday communication practices within university-based virtual communities. This study aims to examine the construction of gender identity among members of the Gensoed Roblox community through Erving Goffman's dramaturgical perspective.
This research employed a constructivist paradigm with a descriptive qualitative approach. Data were collected through participant observation, in-depth interviews with active members of the Gensoed Roblox community, and digital documentation. The data were analyzed using Miles and Huberman's interactive analysis model, consisting of data reduction, data display, and conclusion drawing, while data trustworthiness was established through source, technique, and time triangulation.
The findings reveal that gender identity is constructed through digital dramaturgical practices manifested in avatar selection, visual attributes, communication styles, and impression management strategies during social interactions. Avatars function not merely as visual representations but also as symbolic communication media through which players construct and project gendered personas in response to audience expectations and interactional contexts. The findings further demonstrate the dynamic interplay between front-stage and back-stage performances, enabling community members to continuously negotiate and reconstruct their gender identities according to community norms, platform culture, and the pursuit of social acceptance. Consequently, gender identity within the Gensoed Roblox community emerges as a fluid and socially negotiated construct rather than a fixed personal attribute.
This study concludes that the Gensoed Roblox community constitutes a digital communication space in which gender identity is produced through symbolic communication, impression management, and ongoing social negotiation. The study contributes to the extension of Goffman's dramaturgical theory into the context of virtual gaming communities by demonstrating that avatars function not only as representations of the self but also as strategic communicative instruments for constructing and maintaining gender identity within technology-mediated social interactions.
5113354549F2E024004PENGARUH KEMUDAHAN AKSES, KECEPATAN RESPONS, DAN TRANSPARANSI PENANGANAN ADUAN TERHADAP KEPUASAN PENGGUNA LAPAK ADUAN DI KABUPATEN BANYUMASPenelitian ini menganalisis pengaruh kemudahan akses, kecepatan respons, dan transparansi penanganan aduan terhadap kepuasan pengguna Lapak Aduan di Kabupaten Banyumas. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif eksplanatori. Populasi penelitian adalah 14.938 aduan masyarakat pada tahun 2025 dan sampel sebanyak 389 responden yang ditentukan dengan random sampling dan rumus Slovin pada tingkat kesalahan 5 persen. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Likert dan dianalisis melalui uji validitas, reliabilitas, asumsi klasik, korelasi Pearson, regresi linear berganda, serta uji elaborasi. Hasil menunjukkan kemudahan akses berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan dengan koefisien 0,144 dan signifikansi 0,000. Kecepatan respons berpengaruh positif dan signifikan dengan koefisien 1,115 dan signifikansi 0,000 serta menjadi faktor paling dominan. Transparansi penanganan aduan berarah positif tetapi tidak signifikan secara parsial, dengan koefisien 0,061 dan signifikansi 0,209. Secara simultan, ketiga variabel berpengaruh signifikan dengan F hitung 640,665 dan R² 0,833. Artinya, 83,3 persen variasi kepuasan pengguna dapat dijelaskan oleh model. Uji elaborasi menunjukkan kecepatan respons relatif konsisten pada karakteristik responden, sedangkan pengaruh kemudahan akses dan transparansi lebih kondisional menurut pekerjaan. Implikasi penelitian menekankan percepatan respons dan tindak lanjut, penyederhanaan akses, serta penguatan informasi status dan hasil penanganan aduan.This research analyzes the effects of ease of access, response speed, and complaint-handling transparency on user satisfaction with Lapak Aduan in Banyumas Regency. Lapak Aduan is a digital public-service innovation developed by the Banyumas Regency Department of Communication and Informatics to facilitate citizens in submitting complaints, aspirations, criticism, and reports.
The research employed a quantitative explanatory approach. The population consisted of 14,938 complaints submitted through Lapak Aduan in 2025. Using random sampling and Slovin's formula with a 5% margin of error, 389 usable respondents were obtained after data screening. Data were collected through a Likert-scale questionnaire and analyzed using validity, reliability, classical assumption, Pearson correlation, and multiple linear regression tests. The analytical framework was based on Mobile Service Quality (MS-QUAL).
The results show that ease of access has a positive and significant effect on user satisfaction (B = 0.144; p < 0.001). Response speed also has a positive and significant effect and is the most dominant factor (B = 1.115; p < 0.001). Complaint-handling transparency has a positive but statistically insignificant partial effect (B = 0.061; p = 0.209). Simultaneously, the three predictors significantly affect satisfaction (F = 640.665; p < 0.001), with R² = 0.833. Thus, the model explains 83.3% of the variation in user satisfaction. The elaboration analysis indicates that response speed is relatively consistent across respondent characteristics, while the effects of ease of access and transparency vary across occupational groups. The findings imply that service improvement should prioritize faster response and follow-up, simpler access and navigation, and clearer information regarding complaint status and outcomes
5113454550F2C024004STRATEGI KOMUNIKASI PROMOSI WAHANA CANDI MELALUI PENGELOLAAN MEDIA SOSIAL DI DESA WISATA KARANGKEMIRI, KECAMATAN KARANGLEWAS, KABUPATEN BANYUMASPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengelolaan media sosial sebagai strategi komunikasi promosi Desa Wisata Wahana Candi, Kabupaten Banyumas. Penelitian dilatarbelakangi oleh pentingnya media sosial sebagai sarana promosi digital dalam pengembangan desa wisata di era digital. Wahana Candi telah memanfaatkan Instagram, Facebook, dan TikTok sebagai media promosi, namun pengelolaannya dinilai belum terstruktur dan belum memaksimalkan karakteristik masing-masing platform. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan paradigma konstruktivisme. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, sedangkan validitas data diuji menggunakan triangulasi sumber dan teknik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan media sosial Wahana Candi telah menunjukkan adanya integrasi saluran komunikasi melalui penggunaan berbagai platform media sosial secara bersamaan dengan pesan promosi yang konsisten. Namun, pengelolaan konten masih dilakukan secara seragam sehingga fungsi komunikasi masing-masing platform belum berjalan optimal. TikTok lebih efektif digunakan untuk meningkatkan awareness melalui konten video interaktif dan mengikuti tren, Instagram berfungsi dalam membangun branding visual destinasi, sedangkan Facebook lebih efektif sebagai media informasi dan komunikasi dengan audiens. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merumuskan strategi diferensiasi fungsi platform sebagai rekomendasi strategi komunikasi promosi digital Desa Wisata Wahana Candi. Strategi tersebut diharapkan mampu mengoptimalkan integrasi saluran komunikasi serta meningkatkan efektivitas promosi digital desa wisata.
This study aims to analyze social media management as a promotional communication strategy for Wahana Candi Tourism Village, Banyumas Regency. The research is motivated by the importance of social media as a digital promotional tool in the development of tourism villages in the digital era. Wahana Candi has utilized Instagram, Facebook, and TikTok as promotional media; however, their management is considered unstructured and has not maximized the characteristics of each platform. This study employed a descriptive qualitative approach with a constructivist paradigm. Data collection techniques included interviews, observations, and documentation, while data validity was tested through source and technique triangulation.
The results show that Wahana Candi’s social media management demonstrates communication channel integration through the simultaneous use of multiple social media platforms with consistent promotional messages. However, content management is still carried out uniformly, resulting in the communication functions of each platform not being optimally utilized. TikTok is more effective for increasing awareness through interactive and trend-based video content, Instagram functions as a platform for building the visual branding of the destination, while Facebook is more effective as an information and audience communication medium. Based on these findings, this study formulates a platform function differentiation strategy as a recommendation for Wahana Candi’s digital promotional communication strategy. This strategy is expected to optimize communication channel integration and improve the effectiveness of digital tourism promotion.
5113554551H1D019034Implementasi Deteksi Objek Secara Real Time Menggunakan Algoritma YOLODeteksi objek merupakan salah satu penerapan kecerdasan buatan yang banyak dimanfaatkan untuk mengenali keberadaan dan lokasi objek di dalam gambar maupun video secara otomatis. Penelitian ini bertujuan mengembangkan sistem deteksi objek real-time menggunakan algoritma YOLOv8 untuk mendeteksi manusia dan objek furnitur, yaitu kursi, meja, sofa, dan lemari. Model dikembangkan melalui proses pelatihan ulang (fine-tuning) YOLOv8 pada dataset kustom yang terdiri atas 770 gambar data latih dan 202 gambar data validasi, dengan proses pelabelan menggunakan Roboflow. Sistem deteksi objek berbasis web dibangun menggunakan metode Waterfall dengan bahasa pemrograman Python, Flask sebagai kerangka kerja backend, serta OpenCV untuk praproses citra dan visualisasi hasil deteksi. Selain menggunakan model berbasis PyTorch, penelitian ini juga mengonversi model hasil pelatihan ke dalam format TensorFlow SavedModel untuk menganalisis pengaruh penggunaan framework TensorFlow terhadap performa deteksi. Pengujian dilakukan terhadap tiga skenario model, yaitu model YOLOv8 bawaan, model kustom berbasis PyTorch, dan model kustom berbasis TensorFlow, menggunakan metrik Precision, Recall, F1-Score, mean Average Precision (mAP@0.5 dan mAP@0.5-0.95), serta kecepatan inferensi. Hasil pengujian menunjukkan bahwa model bawaan memperoleh performa sangat rendah (mAP@0.5 sebesar 0,0025), sedangkan model kustom berbasis PyTorch dan TensorFlow masing-masing memperoleh mAP@0.5 sebesar 0,9117 dan 0,9061, dengan selisih akurasi antar kedua backend kurang dari 1,5%. Dari sisi kecepatan, model berbasis TensorFlow menghasilkan waktu inferensi tercepat, yaitu 62,78 ms per gambar, sekitar 7,7% lebih cepat dibandingkan versi PyTorch. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa proses pelatihan model pada dataset yang spesifik terhadap domain permasalahan sangat menentukan akurasi deteksi objek, sementara pemilihan backend inferensi turut memengaruhi efisiensi komputasi sistem tanpa mengorbankan akurasi secara signifikan.Object detection is a widely applied artificial intelligence technique used to automatically recognize the presence and location of objects within images or videos. This study aims to develop a real-time object detection system using the YOLOv8 algorithm to detect humans and furniture objects, namely chairs, tables, sofas, and cabinets. The model was developed by fine-tuning YOLOv8 on a custom dataset consisting of 770 training images and 202 validation images, labeled using Roboflow. A web-based object detection system was built following the Waterfall methodology using Python, Flask as the backend framework, and OpenCV for image preprocessing and detection visualization. In addition to the PyTorch-based model, the trained model was also converted into TensorFlow SavedModel format to analyze the effect of the TensorFlow framework on detection performance. Three model scenarios were evaluated—the default YOLOv8 model (trained on COCO), the custom PyTorch-based model, and the custom TensorFlow-based model—using Precision, Recall, F1-Score, mean Average Precision (mAP@0.5 and mAP@0.5-0.95), and inference speed as evaluation metrics. The results show that the default model achieved very low performance (mAP@0.5 of 0.0025), while the custom PyTorch and TensorFlow models achieved mAP@0.5 of 0.9117 and 0.9061 respectively, with an accuracy difference of less than 1.5% between the two backends. In terms of speed, the TensorFlow-based model achieved the fastest inference time at 62.78 ms per image, approximately 7.7% faster than the PyTorch version. These findings confirm that training a model on a domain-specific dataset is critical to detection accuracy, while the choice of inference backend can improve computational efficiency without significantly compromising accuracy.
5113654553I1D022069Kandungan Gizi dan Sensori Hedonik Crackers Tepung Ikan Teri Nasi dan Tepung Sukun dengan Presentase Tepung Kelapa: Snack Alternatif Ibu Hamil Berisiko Kurang Energi Kronis
Latar Belakang: Kekurangan energi kronis (KEK) pada ibu hamil masih menjadi masalah gizi di Indonesia dan berisiko meningkatkan gangguan kesehatan ibu maupun janin. Pengembangan pangan padat gizi berbahan lokal diperlukan sebagai alternatif makanan selingan bagi ibu hamil berisiko KEK. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh proporsi tepung ikan teri nasi segar, tepung sukun, dan presentase tepung kelapa terhadap kandungan gizi dan karakteristik sensori hedonik crackers serta menentukan formula terbaik.
Metodologi: Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok faktorial dengan 2 faktor yaitu proporsi tepung ikan teri:tepung sukun:tepung terigu (10:40:50; 20:30:50; 30:20:50) dan presentase tepung kelapa (10% dan 20%). Analisis meliputi kadar protein, lemak, abu, air, karbohidrat by difference, dan uji sensori hedonik.
Hasil Penelitian: Variasi proporsi tepung ikan teri : tepung sukun meningkatkan kadar protein total dan karbohidrat by difference (p=0,000) serta fluktuatif pada penerimaan sensori tekstur, keseluruhan (p=0,000), aroma (p=0,001), dan rasa (p=0,042). Presentase tepung kelapa meningkatkan kadar lemak (p=0,013). Interaksi kedua perlakuan meningkatkan penerimaan sensori warna, tekstur, keseluruhan (p=0,000), aroma (p=0,002), dan rasa (p=0,001). Formula terbaik yaitu perlakuan P3K2 dengan proporsi tepung ikan teri, tepung sukun, dan tepung terigu 30:20:50, serta presentase tepung kelapa 20% mengandung protein, lemak, karbohidrat, dan serat berturut-turut 15,8 g, 28,3 g, 48,1 g dan 13,03/100 g, dan serving size crackers sebanyak 72 g atau sekitar 4 keping (20g per keping) untuk ibu hamil KEK.
Kesimpulan: Crackers tepung ikan teri nasi tepung sukun dengan presentase tepung kelapa berpotensi menjadi snack alternatif ibu hamil beresiko KEK.
Kata Kunci: crackers, tepung ikan teri, tepung kelapa, tepung sukun, proksimat, serat
Background: Chronic energy deficiency (CED) among pregnant women remains a significant nutritional problem in Indonesia and increases the risk of adverse maternal and fetal health outcomes. The development of nutrient-dense snacks based on locally available food ingredients is needed as an alternative supplementary food for pregnant women at risk of CED. This study aimed to analyze the effects of different proportions of fresh anchovy flour, breadfruit flour, and coconut flour percentage on the nutritional composition and hedonic sensory characteristics of crackers, as well as to determine the best formulation.
Methods: This study employed a factorial Randomized Complete Block Design with two factors: the proportion of fresh anchovy flour, breadfruit flour, and wheat flour (10:40:50; 20:30:50; and 30:20:50), and the percentage of coconut flour (10% and 20%). The analyses included protein, fat, ash, moisture, carbohydrate (by difference), and hedonic sensory evaluation.
Results: Variations in the proportion of fresh anchovy flour and breadfruit flour significantly increased protein and carbohydrate (by difference) contents (p=0.000) and significantly affected the sensory acceptance of color, texture, and overall acceptability (p=0.000), aroma (p=0.001), and taste (p=0.042). The percentage of coconut flour significantly increased fat content (p=0.013). A significant interaction between the two factors was observed for sensory acceptance of color, texture, overall acceptability (p=0.000), aroma (p=0.002), and taste (p=0.001). The best formulation was P3K2, consisting of fresh anchovy flour, breadfruit flour, and wheat flour in a ratio of 30:20:50 with 20% coconut flour. This formulation contained 15.8 g protein, 28.3 g fat, 48.1 g carbohydrate, and 13.03 g dietary fiber per 100 g. The recommended serving size for pregnant women at risk of CED was 72 g of crackers, equivalent to approximately four crackers (20 g per cracker).
Conclusion: Crackers made from fresh anchovy flour, breadfruit flour, and coconut flour have the potential to serve as an alternative nutrient-dense snack for pregnant women at risk of chronic energy deficiency.
Keywords: breadfruit flour, crackers, coconut flour, fresh anchovy flour, proximate composition, dietary fiber
5113754552K1C022074STUDI HIDROGEOLOGI AKUIFER REKAHAN BERBASIS DATA MAGNETIK DAN RESISTIVITAS DI DESA SUMBANG KECAMATAN SUMBANG KABUPATEN BANYUMASDesa Sumbang Kecamatan Sumbang berada di kompleks batuan vulkanik Gunungapi Slamet. Keberadaan air tanah dan akuifer di kompleks vulkanik sulit untuk dikarakterisasi, hal tersebut dikarenakan akuifer yang umum ditemukan ialah akuifer rekahan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kondisi hidrologeologi akuifer rekahan daerah penelitian berdasarkan data magnetik dan resistivitas. Penggunaan metode magnetik bertujuan untuk pemetaan awal daerah yang berpotensi memiliki akuifer rekahan. Pengolahan data magnetik menggunakan analisis derivatif dan analisis kelurusan terhadap data anomali lokal tereduksi ke ekuator. Hasil dari pengolahan data magnetik menunjukkan pola kelurusan akuifer rekahan dominan pada arah barat-timur. Selanjutnya dilakukan validasi menggunakan metode geolistrik konfigurasi Wenner, akuisisi dilakukan di tiga lintasan yang memotong kelurusan. Tiga lintasan akuisisi dengan panjang lintasan 150 meter dan 200 meter. Hasil akuisisi dan pengolahan data menunjukkan keragaman nilai resistivitas dan jenis litologi bawah permukaan. Hasil inversi dengan RMS error <10%, pada lintasan A-A’ memiliki nilai resistivitas 14,6 hingga 2.993 Ωm, lintasan B-B’ memiliki nilai 18,4 hingga 1.990 Ωm, serta 26,2 hingga 334 Ωm untuk lintasan C-C’. Penampang dua dimensi menunjukkan keberadaan rekahan yang diasosiasikan dengan zona resistivitas rendah, rekahan tersebut memiliki peranan penting dalam mengontrol sistem hidrogeologi daerah setempat. Dengan demikian, integrasi dari kedua metode ini mampu memberikan informasi terkait hidrogeologi daerah penelitian secara efektif.

Sumbang Village, located in Sumbang District, lies within a volcanic rock complex associated with Mount Slamet. The characterization of groundwater and aquifer systems within volcanic complexes is inherently challenging, as the aquifers commonly encountered in such settings are fracture aquifers. This study was conducted to determine the hydrogeological conditions of the fracture aquifer in the research area based on magnetic and resistivity data. The magnetic method was employed for the preliminary mapping of areas with potential fracture aquifers. Processing of the magnetic data involved derivative analysis and lineament analysis applied to the local anomaly data reduced to the equator. The results of the magnetic data processing revealed a dominant fracture-aquifer lineament pattern trending west–east. Subsequently, validation was carried out using the geoelectrical method with a Wenner array configuration, with data acquisition performed along three survey lines crossing the identified lineaments. The three survey lines had lengths of 150 meters and 200 meters. The acquisition and processing results revealed variation in resistivity values corresponding to different subsurface lithological types. The inversion results, achieving an RMS error of less than 10%, showed resistivity values ranging from 14.6 to 2,993 Ωm along line A-A', from 18.4 to 1,990 Ωm along line B-B', and from 26.2 to 334 Ωm along line C-C'. The two-dimensional cross-sections reveals the presence of fractures associated with low-resistivity zones, and these fractures play an important role in controlling the local hydrogeological system. Thus, the integration of these two methods was able to effectively provide information regarding the hydrogeology of the study area.

Keywords: Magnetic, Resistivity, Fracture, Hydrogeology, Groundwater
5113854554A1F022051Pengaruh Penambahan Spirulina terhadap Sifat Fisik, Kimia, Aktivitas Antioksidan dan Organoleptik Kukis Tepung Tiwul dan Pati GarutKukis merupakan salah satu produk pangan yang digemari masyarakat, namun pada umumnya memiliki kandungan kalori dan indeks glikemik yang tinggi karena penggunaan tepung terigu, gula, serta lemak dalam jumlah besar, sehingga kurang sesuai dikonsumsi oleh kelompok masyarakat tertentu, khususnya penderita diabetes melitus. Tepung tiwul yang berbahan dasar singkong dan pati garut dikenal memiliki kandungan pati resisten sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan substitusi dalam pembuatan kukis rendah kalori sekaligus sebagai upaya diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal. Namun demikian, kukis berbahan dasar tepung tiwul dan pati garut memiliki keterbatasan dari segi kandungan gizi, khususnya protein, serta aktivitas antioksidan yang relatif rendah. Salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan penambahan Spirulina platensis, yaitu mikroalga yang dikenal kaya akan protein, pigmen fikosianin, serta senyawa antioksidan alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan Spirulina terhadap sifat fisik, kimia, sensori, profil gelatinisasi pati dan aktivitas antioksidan kukis tepung tiwul dan pati garut serta mengetahui perlakuan penambahan spirulina terbaik pada kukis.
Penelitian ini dilaksanakan menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas 6 taraf perlakuan konsentrasi penambahan Spirulina, yaitu 0, 2, 4, 6, 8, 10% dari total berat adonan, dengan 3 kali ulangan. Bahan utama yang digunakan meliputi tepung tiwul, pati garut, Spirulina bubuk, serta bahan tambahan lain seperti margarin, telur, dan gula. Proses pembuatan kukis meliputi tahap pencampuran bahan, pencetakan adonan, dan pemanggangan pada suhu 140°C selama 40 menit. Parameter yang diamati meliputi sifat fisik (tekstur, spread ratio, baking loss, dan warna), sifat kimia (kadar air, abu, protein, lemak, karbohidrat, serat kasar, dan kalori), aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH, serta uji organoleptik (warna, aroma, rasa, tekstur, aftertaste dan overall).
Peningkatan konsentrasi Spirulina meningkatkan kadar air, abu, protein serta aktivitas antioksidan. Dari segi sifat fisik, penambahan Spirulina menyebabkan perubahan warna kukis menjadi lebih hijau kegelapan seiring bertambahnya konsentrasi, serta memengaruhi tingkat kekerasan produk. Hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa perlakuan dengan konsentrasi Spirulina sebesar 2% merupakan formulasi yang paling disukai panelis, dengan nilai kesukaan tertinggi pada parameter tekstur. Berdasarkan indeks efektivitas, penambahan Spirulina pada konsentrasi 8% menghasilkan kukis tepung tiwul dan pati garut dengan karakteristik fisik, kimia, dan aktivitas antioksidan terbaik.
5113954555I1A022094ANALISIS FAKTOR RISIKO YANG BERPENGARUH TERHADAP KEJADIAN TUBERKULOSIS PADA ANAK USIA 1-14 TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PURWOKERTO SELATAN ABSTRAK
Latar Belakang: Tuberkulosis pada anak tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat yang dapat berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan fisik, serta meningkatkan risiko komplikasi dan kematian; wilayah kerja Puskesmas Purwokerto Selatan mencatat proporsi kasus TB anak tertinggi di Kabupaten Banyumas (37,4%) pada tahun 2024. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor risiko yang memengaruhi kejadian tuberkulosis pada anak usia 1–14 tahun di wilayah tersebut.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain kasus-kontrol. Kelompok kasus terdiri dari anak usia 1–14 tahun yang didiagnosis menderita tuberkulosis, sedangkan kelompok kontrol terdiri dari anak usia 1–14 tahun tanpa tuberkulosis. Sampel penelitian berjumlah 132 responden 66 kasus dan 66 kontrol sehingga menghasilkan rasio 1:1. Teknik purposive sampling digunakan untuk memilih kelompok kasus maupun kontrol. Variabel yang diteliti meliputi jenis kelamin, perilaku mencuci tangan dengan sabun, etika batuk keluarga, kebiasaan membuka jendela dan ventilasi, riwayat vaksinasi BCG, paparan asap rokok, riwayat kontak, dan riwayat status gizi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara (menggunakan kuesioner) pada bulan Juni 2026 di wilayah kerja Puskesmas Purwokerto Selatan. Analisis data dilakukan menggunakan metode univariat, bivariat (uji Chi-Square), dan multivariat (regresi logistik ganda).
Hasil: Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa perilaku mencuci tangan dengan sabun (OR = 2,938), etika batuk keluarga (OR = 4,286), paparan asap rokok (OR = 2,750), dan riwayat kontak (OR = 4,395) berhubungan dengan kejadian tuberkulosis pada anak. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa praktik mencuci tangan dengan sabun yang kurang baik (OR = 3,215), etika batuk keluarga yang kurang baik (OR = 5,066), dan riwayat kontak (OR = 4,395) merupakan faktor risiko, sedangkan riwayat status gizi kurang (OR = 0,077) berperan sebagai faktor protektif. Etika batuk keluarga merupakan faktor yang paling dominan (OR = 5,066). Kesimpulan: Praktik mencuci tangan dengan sabun, etika batuk keluarga, dan riwayat kontak merupakan faktor risiko, sedangkan status gizi merupakan faktor pelindung terhadap kejadian TB pada anak. Temuan ini mengisyaratkan perlunya memperkuat upaya pencegahan tuberkulosis pada anak melalui edukasi keluarga mengenai etika batuk yang benar dan praktik mencuci tangan dengan sabun, peningkatan pelacakan kontak bagi anak yang memiliki riwayat paparan terhadap individu yang terinfeksi, serta pemantauan rutin terhadap status gizi anak. Upaya-upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan pencegahan penularan tuberkulosis dan mengurangi risiko kejadian tuberkulosis pada anak.
Kata kunci: tuberkulosis anak, faktor risiko, kasus kontrol, etika batuk, mencuci tangan dengan sabun
ABSTRACT
Background: Childhood tuberculosis remains a public health issue that can impact physical growth and development, and even increase the risk of complications and mortality; the working area of the South Purwokerto Community Health Center (Puskesmas) recorded the highest proportion of childhood TB cases in Banyumas Regency (37.4%) in 2024. This study aimed to analyze the risk factors influencing the incidence of tuberculosis among children aged 1–14 years in that area.
Methods: This study employed a case-control design. The case group consisted of children aged 1–14 years diagnosed with tuberculosis, while the control group consisted of children aged 1–14 years without tuberculosis. The sample comprised 132 respondents 66 cases and 66 controls resulting in a 1:1 ratio. Purposive sampling was used to select both the case and control groups. The variables studied included gender, handwashing behavior with soap, family cough etiquette, habits regarding opening windows and ventilation, BCG vaccination history, exposure to cigarette smoke, history of contact, and nutritional status history. Data were collected via interviews (using questionnaires) in June 2026 within the South Purwokerto Community Health Center's working area. Data analysis was conducted using univariate, bivariate (Chi-Square test), and multivariate (multiple logistic regression) methods.
Results: Bivariate results indicated that handwashing behavior with soap (OR = 2.938), family cough etiquette (OR = 4.286), exposure to cigarette smoke (OR = 2.750), and history of contact (OR = 4.395) were associated with the incidence of tuberculosis in children. Multivariate analysis results indicate that poor handwashing practices with soap (OR = 3.215), poor family cough etiquette (OR = 5.066), and a history of contact (OR = 4.395) are risk factors, whereas a history of poor nutritional status (OR = 0.077) plays a protective role. Family cough etiquette is the most dominant factor (OR = 5.066).
Conclusion: Handwashing practices with soap, family cough etiquette, and contact history are risk factors, while nutritional status is a protective factor regarding the incidence of TB in children. These findings imply a need to strengthen tuberculosis prevention efforts for children through family education on proper cough etiquette and handwashing with soap, improved contact investigation for children with a history of exposure to infected individuals, and regular monitoring of children's nutritional status. Such efforts are expected to enhance tuberculosis transmission prevention and reduce the risk of tuberculosis incidence among children.
Keywords: childhood tuberculosis, risk factors, case control, cough etiquette, handwashing with soap
5114054556A1F022011Analisis Preferensi Konsumen Terhadap Donat Signature Premium dalam Upaya Pengembangan Produk di Donuts Thian PurwokertoDonuts Thian merupakan UMKM di Purwokerto yang mengembangkan produk donat premium dengan berbagai varian topping. Penelitian ini bertujuan menganalisis preferensi konsumen, menentukan kombinasi atribut produk yang paling disukai, serta merumuskan strategi pengembangan produk menggunakan analisis konjoin dan metode SCAMPER. Penelitian dilaksanakan pada Desember 2025–April 2026 dengan melibatkan 100 responden yang dipilih menggunakan purposive sampling. Analisis konjoin dilakukan terhadap empat atribut, yaitu topping, ukuran, harga, dan kemasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi produk yang paling disukai adalah topping kategori Signature Delight, ukuran besar, harga Rp6.000, dan kemasan karton. Atribut topping menjadi atribut paling penting dengan nilai kepentingan 45,116%, diikuti harga 19,339%, ukuran 18,065%, dan kemasan 17,481%. Strategi pengembangan produk menggunakan SCAMPER meliputi Substitute melalui penggantian komponen spread dengan bahan alternatif bermutu setara, Combine melalui pengombinasian paket pembelian, bundling, dan kemasan karton berjendela (window box), Modify melalui modifikasi penggunaan dan penyajian topping, serta Put to Another Use melalui pemanfaatan donat sebagai bingkisan atau hadiah. Hasil penelitian dapat menjadi dasar pengembangan produk donat premium yang lebih sesuai dengan preferensi konsumen dan kondisi usaha.Donuts Thian is a micro-enterprise in Purwokerto that develops premium donuts with various topping options. This study aimed to analyze consumer preferences, determine the most preferred combination of product attributes, and formulate product development strategies using conjoint analysis and the SCAMPER method. The study was conducted from December 2025 to April 2026, involving 100 respondents selected through purposive sampling. Conjoint analysis was conducted on four attributes: topping, size, price, and packaging. The results showed that the most preferred product combination was the Signature Delight topping category, large size, IDR 6,000 price, and carton packaging. Topping was the most important attribute, with an importance value of 45.116%, followed by price (19.339%), size (18.065%), and packaging (17.481%). Product development strategies using SCAMPER included Substitute, by replacing the spread component with an alternative ingredient of equivalent quality; Combine, by combining purchase packages, product bundling, and windowed carton packaging; Modify, by modifying the use and presentation of toppings; and Put to Another Use, by utilizing donuts as gifts or hampers. The findings can serve as a basis for developing premium donut products that better align with consumer preferences and business conditions.