Artikelilmiahs

Menampilkan 51.101-51.120 dari 51.135 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
5110154524K1A022107Transesterifikasi Minyak Biji Ketapang, Formulasi Nanoemulsi, dan Uji Aktivitas Antioksidannya Menggunakan Metode DPPHAntioksidan alami semakin dibutuhkan sebagai alternatif antioksidan sintetis. Minyak biji ketapang diketahui memiliki potensi sebagai antioksidan dengan berbagai kandungan asam lemak yang mampu menetralkan radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antioksidan minyak biji ketapang dan hasil transesterifikasinya dengan metode DPPH serta
mengidentifikasi komponen produk transesterifikasi menggunakan GC-MS. Produk transeseterifikasi dengan aktivitas antioksidan tertinggi diaplikasikan sebagai fasa minyak pada formula emulsi dengan variasi produk 0; 1; 3; 5; dan 7%. Setiap formula emulsi dikarakterisasi berdasarkan organoleptik, pH, viskositas, stabilitas kinetik, freeze thaw cycles, dan tipe emulsi. Formula emulsi dengan karakteristik terbaik dimodifikasi menjadi nanoemulsi dengan cara pengadukan selama 24 jam dengan kecepatan 1000 rpm dan sonikasi. Formula emulsi dan nanoemulsi dilakukan uji aktivitas antioksidan. Ukuran distribusi partikel nanoemulsi diukur menggunakan PSA. Hasil analisa GC-MS menunjukkan asam palmitat sebagai senyawa dominan pada metil; etil; dan butil ester. Hasil uji aktivitas antioksidan minyak biji ketapang dan produk transesterifikasinya menunjukkan etil ester sebagai produk dengan aktivitas antioksidan tertinggi dengan nilai IC50 860,8392 ppm. Formula emulsi terbaik yang diperoleh yaitu FE7 dengan konsenstrasi etil ester sebesar 7%. Aktivitas antioksidan emulsi etil ester diperoleh nilai IC50 sebesar 788,5992 ppm dan nanoemulsi etil ester diperoleh nilai IC50 sebesar 709,3791 ppm, hal ini menunjukkan nanoemulsi etil ester memiliki aktivitas antioksidan yang lebih baik dari emulsi. Hasil pengukuran distribusi partikel nanoemulsi diperoleh ukuran partikel 91,03 nm sebesar 51,21% dengan nilai PI 0,814.
Natural antioxidants are increasingly needed as an alternative to synthetic antioxidants. Terminalia catappa seed oil is known to have potential as an antioxidant with various fatty acid contents that can neutralize free radicals. This study aims to determine antioxidant activity of terminalia catappa seed oil and its transesterification products using the DPPH method and to identify the components of the transesterification products using GC-MS. The transesterification product with the highest antioxidant activity was used as the oil phase in an emulsion formula with product variations of 0, 1, 3, 5, and 7%. Each emulsion formula was characterized based on organoleptic properties, pH, viscosity, kinetic stability, freeze thaw cycles, and emulsion type. The emulsions formula with the best characteristics was modified into a nanoemulsion by stirring for 24 hours at 1000 rpm and sonicating. Both emulsion and nanoemulsion formulas were tested for antioxidant activity. The particle size distribution of the nanoemulsion was measured using PSA. GC-MS analysis results showed palmitic acid as the dominant compound in methyl, ethyl, and butyl esters. The antioxidant activity test of terminalia catappa seed oil and its transesterification products showed that ethyl ester had the highest antioxidant activity with an IC50 value of 860.8392 ppm. The best emulsion formula obtained was FE7 with an ethyl ester concentration of 7%. The antioxidant activity of the ethyl ester emulsion gave an IC50 value of 788.5992 ppm, while the ethyl ester nanoemulsion has an IC50 value of 709,3791 ppm, which shows that the ethyl ester nanoemulsion has better antioxidant activity than the emulsion. Particle size measurement of the nanoemulsion showed a particle size of 91.03 nm at 51.21% with a PI value of 0.814.
5110254511I1A022093Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Perilaku Dripping pada Pengguna Rokok Elektrik di Kalangan Mahasiswa Universitas Jenderal SoedirmanLatar Belakang: Masa remaja merupakan periode yang rentan terhadap munculnya berbagai
perilaku berisiko, salah satunya penggunaan rokok elektrik. Penggunaan rokok elektrik mengalami
peningkatan dalam beberapa tahun terakhir dan menjadi salah satu permasalahan kesehatan
masyarakat. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena penggunaan rokok elektrik dapat
menimbulkan berbagai dampak kesehatan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku dripping pada pengguna rokok
elektrik di kalangan Mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman.
Metodologi: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional.
Populasi adalah seluruh mahasiswa angkatan 2023 sampai 2025 dengan sampel 415 responden
diambil dengan teknik cluster random sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan
kuesioner. Analisis data yang dilakukan yaitu univariat, bivariat dengan chi-square, dan multivariat
dengan regresi logistik.
Hasil Penelitian: Berdasarkan analisis bivariat terdapat hubungan antara sikap (p=0,000), norma
subjektif (p=0,000), kontrol perilaku (p=0,000), dan niat (p=0,000) dengan perilaku dripping pada
pengguna rokok elektrik. Sementara pada analisis multivariat menunjukkan bahwa sikap (p=0,023),
kontrol perilaku(p=0,037), dan niat (p=0,009) berpengaruh terhadap perilaku dripping pada
pengguna rokok elektrik, dengan niat sebagai faktor yang dominan (OR=2.149).
Kesimpulan: Pada penelitian ini niat merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap perilaku
dripping pada pengguna rokok elektrik pada mahasiswa . Oleh karena itu diperlukan upaya promotif
dan preventif melalui edukasi kesehatan, dan penguatan kebijakan kawasan tanpa rokok di
lingkungan kampus.
Kata Kunci: Perilaku Dripping, Rokok Elektrik, Niat, Theory of Planned Behavior
Background: Adolescence is a period of vulnerability to the emergence of various risky behaviors,
one of which is the use of e-cigarettes. E-cigarette use has increased in recent years and has become
a public health issue. This situation is of concern because e-cigarette use can cause various health
effects. Therefore, this study aims to identify the factors influencing “dripping” behavior among e-
cigarette users among students at Jenderal Soedirman University.
Methods: This study employed a quantitative approach with a cross-sectional design. The study
population consisted of all students enrolled from the 2023 to 2025 cohorts, with a sample of 415
respondents selected using cluster random sampling. Data were collected through interviews using
a questionnaire. Data analysis included univariate and bivariate analyses using the chi-square test,
as well as multivariate analysis using logistic regression.
Result: Based on the bivariate analysis, there was an association between attitude (p=0.000),
subjective norms (p=0.000), behavioral control (p=0.000), and intention (p=0.000) and dripping
behavior among e-cigarette users. Meanwhile, the multivariate analysis showed that attitude
(p=0.023), behavioral control (p=0.037), and intention (p=0.009) influence dripping behavior among
e-cigarette users, with intention being the dominant factor (OR=2.149).
Conclusion: In this study, intention was the most influential factor on dripping behavior among
college students who use e-cigarettes. Therefore, promotive and preventive efforts are needed
through health education and the enforcement of smoke-free policies on campus.
Keyword: Dripping Behavior, E-Cigarettes, Intention, Theory of Planned Behavior
5110354512I1A022107PENGALAMAN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA PEREMPUAN PASCA KEJADIAN PERNIKAHAN DINI DI DESA GANDATAPLatar Belakang: Pernikahan dini menjadi masalah kesehatan masyarakat serius, dengan Indonesia
menempati peringkat ke-8 dunia dan ke-2 di ASEAN untuk prevalensi pernikahan anak. Desa
Gandatapa, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas mencatat kasus pernikahan dini tertinggi
(10 kasus periode 2024-September 2025). Data yang tersedia bersifat kuantitatif dan administratif,
sehingga belum menggambarkan literasi kesehatan reproduksi maupun pengalaman psikologis dan
sosial remaja pasca menikah dini.
Metode: Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan fenomenologis. Informan dipilih melalui
purposive sampling teknik criterion sampling, terdiri dari 5 informan utama (remaja perempuan
menikah di bawah usia 19 tahun) dan 3 informan pendukung (2 orang tua dan 1 bidan desa). Data
dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dianalisis secara tematik dengan triangulasi sumber
untuk keabsahan data.
Hasil: Informan utama mampu mengakses, memahami, mengevaluasi, dan menerapkan informasi
kesehatan reproduksi dari tenaga kesehatan, pendidikan formal, media digital, dan keluarga, meski
pemahamannya masih terbatas pada aspek dasar seperti kebersihan organ reproduksi, menstruasi,
dan kontrasepsi. Secara psikologis, informan merasa bahagia saat menikah, tetapi memiliki kesiapan
berbeda menjalani peran istri dan ibu, serta menunjukkan respons emosional beragam selama
kehamilan, persalinan, dan nifas. Secara sosial, informan memiliki hubungan harmonis dengan
pasangan, namun menghadapi dinamika kompleks dengan keluarga (mertua) dan stigma masyarakat,
yang sebagian besar diabaikan. Dukungan suami dan keluarga menjadi faktor penting dalam adaptasi
informan.
Kesimpulan: Remaja perempuan di Desa Gandatapa memiliki literasi kesehatan reproduksi dasar
namun belum komprehensif, serta dinamika psikologis-sosial yang bervariasi tergantung konteks
pernikahan (terencana atau married by accident) dan ketersediaan dukungan sosial.
Background: Early marriage remains a serious public health issue, with Indonesia ranking 8th
globally and 2nd in ASEAN for child marriage prevalence. Gandatapa Village, Sumbang Subdistrict,
Banyumas Regency recorded the highest number of early marriage cases (10 cases, 2024-September
2025). Existing data are largely quantitative and administrative, offering limited insight into
reproductive health literacy and the psychological and social experiences of adolescent girls after
early marriage.
Methods: This qualitative study used a phenomenological approach. Informants were selected
through purposive criterion sampling, comprising 5 main informants (women married before age 19)
and 3 supporting informants (two parents and one village midwife). Data were collected through in-
depth interviews and analyzed thematically, with source triangulation for trustworthiness.
Results: Main informants were able to access, understand, evaluate, and apply reproductive health
information from health workers, formal education, digital media, and family, though limited to
basics such as reproductive hygiene, menstruation, and contraception. Psychologically, informants
felt happy at marriage but showed varying readiness for the roles of wife and mother, with diverse
emotional responses during pregnancy, childbirth, and postpartum. Socially, informants maintained
harmonious relationships with husbands but faced complex dynamics with extended (in-laws) and
community stigma, which most disregarded. Support from husbands and family was an important
factor in their adaptation.
Conclusion: Adolescent girls in Gandatapa Village possess basic but not yet comprehensive
reproductive health literacy, with varied psychological and social dynamics depending on marriage
context (planned or married-by-accident) and availability of social support.
5110454513I1A022064ANALISIS SPASIAL SEBARAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE BERDASARKAN FAKTOR LINGKUNGAN DI WILAYAH PURWOKERTO TAHUN 2024Latar Belakang: Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, dengan karakteristik lingkungan dan populasi yang memengaruhi distribusi spasialnya. Kabupaten Banyumas mengalami peningkatan signifikan dalam kejadian DBD pada tahun 2024, khususnya di wilayah Purwokerto. Analisis spasial diperlukan untuk mengidentifikasi distribusi dan pengelompokan (*clustering*) kasus DBD serta karakteristik lingkungannya.
Metode: Studi deskriptif kuantitatif ini menggunakan pendekatan spasial untuk menganalisis 236 kasus DBD yang tercatat di wilayah Purwokerto pada tahun 2024. Data mengenai usia, jenis kelamin, kepadatan penduduk, penggunaan lahan, indeks bebas jentik, tempat umum, dan jarak ke fasilitas kesehatan dianalisis menggunakan teknik Sistem Informasi Geografis (SIG). Distribusi spasial dianalisis menggunakan metode *overlay* dan *buffering*, sedangkan pengelompokan ruang-waktu (*space-time clustering*) diidentifikasi menggunakan SaTScan.
Hasil: Kasus DBD tersebar di seluruh wilayah Purwokerto, dengan jumlah terbanyak ditemukan di Purwokerto Selatan (92 kasus; 39,0%). Sebagian besar kasus terjadi pada individu berusia 19–59 tahun (41,5%) dan laki-laki (51,3%). Seluruh kasus berlokasi di area dengan kepadatan penduduk tinggi dan penggunaan lahan yang didominasi oleh permukiman. Kasus ditemukan di wilayah dengan nilai indeks bebas jentik ≥95% maupun <95%. Sebanyak 138 kasus (58,5%) berlokasi dalam radius 100 meter dari tempat umum, sementara 143 kasus (60,6%) berada dalam radius 300 meter dari fasilitas kesehatan. Analisis ruang-waktu mengidentifikasi satu klaster utama dan lima klaster sekunder, dengan klaster utama terjadi di Purwokerto Selatan selama periode Februari–Maret 2024 (p=0,037).
Kesimpulan: Kasus DBD di Purwokerto menunjukkan distribusi spasial yang mengelompok dan sebagian besar berlokasi di kawasan permukiman padat penduduk. Analisis spasial dapat mendukung identifikasi wilayah prioritas untuk surveilans DBD dan pengendalian vektor.
Background: Dengue hemorrhagic fever (DHF) remains a public health problem in Indonesia, with environmental and population characteristics influencing its spatial distribution. Banyumas Regency experienced a substantial increase in DHF incidence in 2024, particularly in the Purwokerto area. Spatial analysis is needed to identify the distribution and clustering of DHF cases and their environmental characteristics.
Methods: This quantitative descriptive study used a spatial approach to analyze 236 DHF cases recorded in the Purwokerto area in 2024. Data on age, sex, population density, land use, larval-free index, public places, and distance to health facilities were analyzed using Geographic Information System (GIS) techniques. Spatial distribution was analyzed using overlay and buffering methods, while space-time clustering was identified using SaTScan.
Results: DHF cases were distributed across all areas of Purwokerto, with the highest number found in South Purwokerto (92 cases; 39.0%). Most cases occurred among individuals aged 19–59 years (41.5%) and males (51.3%). All cases were located in areas with high population density and predominantly residential land use. Cases were found in areas with both larval-free index values ≥95% and <95%. A total of 138 cases (58.5%) were located within 100 meters of public places, while 143 cases (60.6%) were within 300 meters of health facilities. Space-time analysis identified one primary cluster and five secondary clusters, with the primary cluster occurring in South Purwokerto during February–March 2024 (p=0.037).
Conclusion: DHF cases in Purwokerto showed a clustered spatial distribution and were predominantly located in densely populated residential areas. Spatial analysis can support the identification of priority areas for DHF surveillance and vector control.
5110554514A1D022231PENGARUH ZPT AUKSIN DAN PUPUK KALIUM TERHADAP HASIL MELON (Cucumis melo L.) PADA SISTEM HIDROPONIK NUTRIENT FILM TECHNIQUE (NFT)Tanaman melon (Cucumis melo L.) merupakan komoditas tanaman semusim yang banyak diminati oleh masyarakat Indonesia karena memiliki kandungan vitamin dan kalori yang penting untuk kesehatan, memiliki rasa yang manis dan tekstur yang renyah, serta warna kulit dan daging buah yang bervariasi tergantung dari varietas dengan aroma yang khas. Peningkatan produksi melon menjadi fokus penting pada sektor pertanian untuk memenuhi permintaan pasar, salah satunya dengan budidaya hidroponik yang lebih efisien yaitu penerapan sistem hidroponik Nutrient Film Technique (NFT). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi ZPT auksin dan pupuk kalium terbaik terhadap hasil melon pada hidroponik NFT. Penelitian dilaksanakan di screenhouse Dusun Dua, Karanglewas, Banyumas, pada November 2025 sampai Februari 2026. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama yaitu konsentrasi ZPT auksin (0 ml/L, 1 ml/L, dan 3 ml/L) sedangkan faktor kedua yaitu konsentrasi pupuk kalium (0 g/L, 4 g/L, 8 g/L, dan 12 g/L). Data hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ZPT auksin memberikan pengaruh pada total padatan terlarut buah. Pupuk kalium memberikan pengaruh nyata pada bobot buah dan berpengaruh sangat nyata pada total padatan terlarut buah. Penelitian ini menunjukkan bahwa pemilihan ZPT auksin dan pupuk kalium dengan konsentrasi yang tepat dapat meningkatkan mutu buah melon pada sistem hidroponik NFT.Melon plants (Cucumis melo L.) are a seasonal crop highly favored by the Indonesian people because they contain vitamins and calories important for health, have a sweet taste and crunchy texture, and their skin and flesh colors vary depending on the variety with a distinctive aroma. Increasing melon production has become an important focus in the agricultural sector to meet market demand, one of which is thru more efficient hydroponic cultivation, specifically the application of the Nutrient Film Technique (NFT) hydroponic system. This research aims to determine the best concentration of auxin plant growth regulator (PGR) and potassium fertilizer on melon yield in NFT hydroponics. The study was conducted in the screenhouse of Dusun Dua, Karanglewas, Banyumas, from November 2025 to February 2026. The research used a factorial Randomized Block Design (RBD) with two factors. The first factor was the concentration of auxin plant growth regulator (0 ml/L, 1 ml/L, and 3 ml/L), while the second factor was the concentration of potassium fertilizer (0 g/L, 4 g/L, 8 g/L, and 12 g/L). The research data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) and followed by Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) at a 5% significance level. The results showed that auxin plant growth regulator had an effect on the total dissolved solids of the fruit. Potassium fertilizer had a significant effect on fruit weight and a very significant effect on the total dissolved solids of the fruit. This study indicates that the selection of auxin plant growth regulator and potassium fertilizer with the appropriate concentrations can improve the quality of melon fruit in the NFT hydroponic system.
5110654515F1B022021PERAN PPID DALAM MENINGKATKAN CITRA KOMISI PEMILIHAN UMUM KABUPATEN BANYUMAS MELALUI KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIKKeterbukaan informasi publik berperan penting dalam membangun citra lembaga penyelenggara pemilu. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peran Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) dalam meningkatkan citra Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Banyumas melalui keterbukaan informasi publik. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap sembilan informan yang dipilih secara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PPID berperan melalui pengelolaan dan pelayanan informasi yang responsif serta pemanfaatan media digital. Peran tersebut berkontribusi dalam membangun citra positif dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap KPU Kabupaten Banyumas, yang didukung oleh predikat Informatif dari Komisi Informasi dan persepsi positif para pemohon informasi.

Public information transparency plays an important role in building the institutional image of election management bodies. This study aims to describe the role of the Information and Documentation Management Officer (PPID) in enhancing the image of the Banyumas Regency General Election Commission (KPU Kabupaten Banyumas) through public information transparency. A descriptive qualitative method was employed using interviews, observations, and documentation involving nine purposively selected informants. The findings show that the PPID enhances the institution's image through responsive information management and services, supported by digital media. These efforts strengthen public trust in KPU Kabupaten Banyumas, as reflected in its Informatif award from the Information Commission and positive perceptions from information applicants.
5110754516F1A022069Eksistensi Tradisi Penghitungan Weton sebagai Penentu Hari Pernikahan di Era Modernitas (Studi di Desa Kebadongan Kecamatan Klirong Kabupaten Kebumen)Era modernitas ditandai dengan perkembangan teknologi, informasi, serta perubahan pola pikir masyarakat yang rasional menimbulkan tantangan tersendiri bagi kelestarian tradisi lokal, seperti tradisi penghitungan weton sebagai penentu hari pernikahan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan strategi dan mekanisme adaptasi tradisi weton dalam mempertahankan eksistensinya di era modernitas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yang berlokasi di Desa Kebadongan, Klirong, Kebumen. Data diperoleh melalui wawancara mendalam bersama tokoh masyarakat, sesepuh, orang tua, pasangan pengantin, serta diperkuat observasi dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif Miles & Huberman (2014), serta validitas dengan triangulasi sumber. Hasil menunjukkan eksistensi tradisi weton sebagai penentu hari pernikahan bertahan melalui empat strategi adaptasi, yaitu: (1) Internalisasi kepercayaan dan kebiasaan sosial, yaitu memelihara keyakinan terhadap weton sebagai ikhtiar memberi keharmonisan rumah tangga nantinya. (2) Pewarisan nilai dalam keluarga dan masyarakat, di mana orang tua membimbing anak, serta dukungan tokoh masyarakat sebagai orang yang memahami secara mendalam. (3) Penyederhanaan dan fleksibilitas proses penghitungan, berupa penyesuaian hitungan tanpa bersikap kaku serta mempertimbangkan kesepakatan calon pengantin. (4) Pemanfaatan teknologi digital, yakni digunakannya aplikasi kalender weton digital oleh tokoh masyarakat guna mempermudah penghitungan tanpa menghilangkan makna filosofisnya. Meskipun modernitas menjadi tantangan, masyarakat optimis tradisi weton terus bertahan melalui reproduksi budaya yang adaptif dan dinamis.The Modernity era marked by technological advancement, information growth, increasingly rational thinking in society, poses challenges to the preservation of local traditions, such as weton calculation as a determinant of wedding dates. This study describes the strategies and mechanisms through which the weton tradition adapts to maintain existence amid modernity. Using a descriptive qualitative method, the research was conducted in Kebadongan Village, Klirong, Kebumen. Data gathered through in-depth interviews with community leaders, elders, parents, and married couples, supported by observation and documentation. Data were analyzed using the interactive model of Miles and Huberman (2014), with validity ensured through source triangulation. Results reveal that the weton tradition persists through four adaptation strategies: (1) internalization of beliefs and social habits, maintaining faith in weton as an effort toward future household harmony. (2) transmission of values within the family and community, where parents guide their children with support from knowledgeable community leaders. (3) simplification and flexibility in the calculation process, adjusting practices without rigidity while considering the couple's agreement. (4) use of digital technology, particularly digital weton calendar applications, to ease calculation without losing its philosophical meaning. Despite modernity's challenges, the community remains optimistic the tradition will endure through adaptive cultural reproduction.
5110854517B1A022053KADAR SOD DAN HISTOPATOLOGI GINJAL TIKUS MODEL HIPERTENSI DENGAN PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL PATIKAN KEBO (Euphorbia hirta L.) SEBAGAI AGEN ANTIHIPERTENSIHipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan prevalensi yang terus meningkat dan dapat menyebabkan kerusakan organ target, terutama ginjal. Peningkatan tekanan darah kronis dapat memicu stres oksidatif melalui peningkatan pembentukan reactive oxygen species (ROS) dan penurunan aktivitas antioksidan endogen seperti superoksida dismutase (SOD). Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai agen antihipertensi dan antioksidan adalah patikan kebo (Euphorbia hirta L.) yang mengandung flavonoid, senyawa fenolik, dan tanin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol patikan kebo terhadap kadar SOD dan gambaran histopatologi ginjal pada tikus putih jantan strain Wistar model hipertensi.
Penelitian dilaksanakan pada bulan April-Juli 2026 menggunakan metode eksperimental dengan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri atas 6 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan meliputi K0 (kontrol normal), K1 (kontrol hipertensi dengan induksi prednison 1,5 mg/kgBB dan NaCl 2%), K2 (hipertensi + captopril 5 mg/kgBB), K3 (hipertensi + ekstrak etanol patikan kebo 250 mg/kgBB), K4 (hipertensi + ekstrak etanol patikan kebo 500 mg/kgBB), dan K5 (hipertensi + ekstrak etanol patikan kebo 750 mg/kgBB). Data kadar SOD dianalisis menggunakan uji One-Way ANOVA dilanjutkan uji Tukey, sedangkan histopatologi ginjal dianalisis secara semikuantitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol patikan kebo berpengaruh nyata terhadap kadar SOD plasma tikus hipertensi (P<0,05). Rerata kadar SOD pada K0 sebesar 48,43 ± 0,99 U/mL, K1 sebesar 35,46 ± 0,73 U/mL, K2 sebesar 51,41 ± 0,45 U/mL, K3 sebesar 43,53 ± 1,15 U/mL, K4 sebesar 52,91 ± 1,11 U/mL, dan K5 sebesar 52,59 ± 0,98 U/mL. Kelompok K4 menunjukkan kadar SOD tertinggi dan mendekati kontrol normal. Pengamatan histopatologi ginjal menunjukkan bahwa kelompok K1 mengalami kerusakan paling berat berupa hipertrofi glomerulus, penyempitan ruang Bowman, dan degenerasi tubulus. Pemberian captopril dan ekstrak etanol patikan kebo menurunkan derajat kerusakan jaringan ginjal dibandingkan kelompok hipertensi, dengan perbaikan jaringan yang paling baik terlihat pada kelompok K2 dan K4.
Berdasarkan hasil analisis One-Way ANOVA, terdapat perbedaan antar kelompok perlakuan. Hasil Tukey menyatakan pemberian ekstrak etanol patikan kebo berpengaruh nyata meningkatkan kadar SOD plasma tikus hipertensi (P<0,05). Secara semikuantitatif, ekstrak etanol daun patikan kebo juga memperbaiki gambaran histopatologi ginjal. Dengan demikian, ekstrak etanol patikan kebo (Euphorbia hirta L.) dengan dosis 500 mg/kgBB berpotensi sebagai agen antihipertensi dan antioksidan yang dapat meningkatkan pertahanan antioksidan endogen serta memberikan efek protektif terhadap kerusakan ginjal pada tikus model hipertensi.

Hypertension is a non-communicable disease with an increasing prevalence and can cause target organ damage, particularly to the kidneys. Chronic elevation of blood pressure can trigger oxidative stress by increasing the formation of reactive oxygen species (ROS) and reducing the activity of endogenous antioxidants such as superoxide dismutase (SOD). Euphorbia hirta L. (locally known as patikan kebo) is a medicinal plant with potential antihypertensive and antioxidant properties due to its flavonoid, phenolic, and tannin contents. This study aimed to determine the effect of administering ethanol extract of Euphorbia hirta L. on SOD levels and renal histopathology in hypertensive male Wistar rats.
The study was conducted from April to June 2026 using an experimental method with a Completely Randomized Design (CRD) consisting of six treatment groups with four replicates each. The groups were: K0 (normal control), K1 (hypertensive control induced by prednisone 1.5 mg/kg BW and 2% NaCl), K2 (hypertension + captopril 5 mg/kg BW), K3 (hypertension + Euphorbia hirta L. ethanol extract 250 mg/kg BW), K4 (hypertension + Euphorbia hirta L. ethanol extract 500 mg/kg BW), and K5 (hypertension + Euphorbia hirta L. ethanol extract 750 mg/kg BW). SOD data were analyzed using One-Way ANOVA followed by Tukey’s multiple range test, while renal histopathology was analyzed semi-quantitatively.
The results showed that administration of Euphorbia hirta L. ethanol extract significantly affected plasma SOD levels in hypertensive rats (p < 0.05). The mean SOD levels were 48.43 ± 0.99 U/mL in K0, 35.46 ± 0.73 U/mL in K1, 51.41 ± 0.45 U/mL in K2, 43.53 ± 1.15 U/mL in K3, 52.91 ± 1.11 U/mL in K4, and 52.59 ± 0.98 U/mL in K5. Group K4 exhibited the highest SOD level, approaching that of the normal control group. Renal histopathological examination revealed that K1 showed the most severe damage, characterized by glomerular hypertrophy, narrowing of Bowman’s space, and tubular degeneration. Administration of captopril and Euphorbia hirta L. ethanol extract reduced the severity of renal tissue damage compared with the hypertensive control group, with the best histological improvement observed in K2 and K4.
In conclusion, administration of Euphorbia hirta L. ethanol extract significantly increased plasma SOD levels and improved renal histopathological features in hypertensive rats (p < 0.05). The 500 mg/kg BW dose showed the most favorable effect, indicating that Euphorbia hirta L. ethanol extract has potential as an antihypertensive and antioxidant agent capable of enhancing endogenous antioxidant defenses and protecting against renal damage in a hypertensive rat model.
5110954518L1C022071Pertumbuhan Kepiting Bakau (Scylla spp.) Berdasarkan Perbedaan Jenis Pakan pada Tambak Silvofishery, Desa ,Ayah, Kabupaten KebumenKepiting bakau (Scylla spp.) merupakan komoditas perikanan bernilai ekonomis tinggi yang banyak dibudidayakan pada sistem silvofishery, namun produktivitasnya dipengaruhi oleh jenis tambak dan jenis pakan yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh jenis pakan (ikan rucah dan pelet komersial) terhadap performa pertumbuhan dan kelangsungan hidup kepiting bakau pada tambak silvofishery di Desa Ayah, Kabupaten Kebumen. Penelitian ini dilaksanakan pada Maret sampai Mei 2026 dengan masa pemeliharaan berlangsung selama 60 hari. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 lokasi tambak silvofishery sebagai blok (Blok 1 dan Blok 2) dan jenis pakan bertindak sebagai perlakuan (ikan rucah dan pelet komersial). Parameter yang diamati meliputi laju pertumbuhan spesifik (SGR), pertambahan mutlak bobot, pertambahan mutlak lebar karapas, dan tingkat kelangsungan hidup (SR). Data pertumbuhan dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis dilanjutkan uji lanjut Mann-Whitney, sedangkan data SR dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pakan berpengaruh signifikan terhadap SGR (H=11,564), pertambahan bobot (H=12,927), dan pertambahan lebar karapas (H=21,357) (P<0,05), dengan pakan pelet pada Blok 2 menghasilkan performa pertumbuhan tertinggi, namun tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat kelangsungan hidup (χ²=4,762; P=0,190). Kombinasi Blok 2 dengan pakan pelet memberikan performa pertumbuhan kepiting bakau terbaik pada sistem silvofishery.

Mud crab (Scylla spp.) is a fishery commodity of high economic value that is widely cultivated in silvofishery systems, however, its productivity is influenced by pond type and feed type. This study aimed to analyze the effect of feed type (trash fish and commercial pellets) on the growth performance and survival rate of mud crabs in a silvofishery pond in Ayah Village, Kebumen Regency. The study was conducted from March to May 2026, with a 60-day rearing period. A Randomized Complete Block Design (RCBD) was used, with two silvofishery pond locations serving as blocks (Block 1 and Block 2) and feed type acting as the treatment (trash fish and commercial pellets). Observed parameters included specific growth rate (SGR), absolute weight gain, absolute carapace width gain, and survival rate (SR). Growth data were analyzed using the Kruskal-Wallis test followed by the Mann-Whitney post-hoc test, while SR data were analyzed using the Chi-Square test. Results showed that feed type had a significant effect on SGR (H=11.564), weight gain (H=12.927), and carapace width gain (H=21.357) (P<0.05), with pellet feed in Block 2 producing the highest growth performance, but had no significant effect on survival rate (χ²=4.762; P=0.190). The combination of Block 2 and pellet feed provided the best mud crab growth performance in this silvofishery system.
5111054519H1D022063INTEGRASI SISTEM e-BPHTB DENGAN WEBGIS GEOMAPS MENGGUNAKAN REST API UNTUK VISUALISASI PETA TEMATIK TRANSAKSI PROPERTI DI KOTA BATAMData transaksi pada sistem e-BPHTB Kota Batam saat ini masih bersifat administratif-tekstual dan belum terintegrasi secara spasial dengan WebGIS Geomaps, sehingga menyulitkan analisis persebaran transaksi properti secara geografis. Penelitian ini bertujuan mengintegrasikan data e-BPHTB dengan WebGIS Geomaps menggunakan GeoServer untuk menghasilkan visualisasi peta tematik transaksi properti yang interaktif. Pengembangan sistem ini menerapkan metode Waterfall. Proses integrasi dilakukan melalui konfigurasi SQL View pada GeoServer untuk menggabungkan skema transaksi e-BPHTB dengan skema data geometri pada basis data Oracle Spatial (EPSG:4326). Data geospasial dipublikasikan menggunakan standar OGC layanan WMS dan WFS, lalu dirender pada antarmuka WebGIS berbasis React.js dan OpenLayers. Pengujian sistem dilakukan melalui tiga tahap kuantitatif: pengujian fungsionalitas (black-box testing), pengukuran response time menggunakan Postman, serta pengujian akurasi spasial menggunakan Root Mean Square Error (RMSE). Hasil pengujian black-box menunjukkan bahwa seluruh 8 skenario fungsi sistem berjalan 100% valid. Pengujian response time menghasilkan nilai rata-rata sebesar 325 ms (durasi eksekusi 47s 166ms), yang berada di bawah ambang batas toleransi 1.000 ms. Pengujian akurasi spasial memperoleh nilai RMSE sebesar 0,00000000^∘ (0,0000 meter), membuktikan tidak terjadi pergeseran posisi geometri. Penelitian ini menghasilkan fitur peta tematik interaktif yang responsif dan presisi guna mendukung transparansi informasi serta analisis pengambilan keputusan spasial bagi Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Batam.Transaction data within the Batam City e-BPHTB system is currently limited to administrative-textual formats and lacks spatial integration with WebGIS Geomaps, hindering the geographical distribution analysis of property transactions. This study aims to integrate e-BPHTB data with WebGIS Geomaps using GeoServer to provide interactive thematic map visualizations of property transactions. The system is developed using the Waterfall methodology. The integration is achieved by configuring SQL Views on GeoServer to merge the e-BPHTB transaction schema with the geometry data schema in the Oracle Spatial database (EPSG:4326). The geospatial data is published using OGC standards through WMS and WFS services, then rendered on a WebGIS interface built with React.js and OpenLayers. System evaluation encompasses three quantitative testing phases: functional validation via black-box testing, response time measurement using Postman, and spatial fidelity assessment using Root Mean Square Error (RMSE). The black-box testing results confirmed that all 8 functional test scenarios performed 100% validly. The response time test achieved an overall average of 325 ms (execution duration 47s 166ms), remaining well below the 1,000 ms threshold. The spatial accuracy test yielded an RMSE value of 〖0.00000000〗^∘ (0.0000 meters), indicating zero geometric displacement. This research delivers a highly responsive and accurate interactive thematic map feature that supports information transparency and spatial decision-making analysis for the Regional Revenue Agency (Bapenda) of Batam City.
5111154521I1A022111ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI KUALITAS INTEGRASI SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PUSKESMAS (SIMPUS) DI KABUPATEN BANYUMASLatar Belakang: Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (SIMPUS) di Kabupaten Banyumas masih menghadapi berbagai kendala, seperti integrasi data antarunit yang belum optimal, gangguan jaringan, dan keterlambatan pelaporan yang berdampak pada efektivitas pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kualitas integrasi SIMPUS menggunakan model Human-Organization-Technology (HOT)-Fit.

Metodologi: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh pengguna SIMPUS di sembilan Puskesmas di Kabupaten Banyumas dengan sampel sebanyak 322 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara terstruktur menggunakan kuesioner. Analisis data dilakukan menggunakan analisis jalur (path analysis).

Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas sistem dan kualitas informasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap penggunaan sistem dan kepuasan pengguna, sedangkan kualitas layanan tidak berpengaruh signifikan. Selain itu, struktur organisasi, lingkungan organisasi, penggunaan sistem, dan kepuasan pengguna terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas integrasi SIMPUS.

Kesimpulan: Faktor-faktor yang memengaruhi kualitas integrasi SIMPUS di Kabupaten Banyumas adalah struktur organisasi, lingkungan organisasi, penggunaan sistem, dan kepuasan pengguna. Pengaruh kualitas sistem dan kualitas informasi terhadap kualitas integrasi terjadi secara tidak langsung melalui penggunaan sistem dan kepuasan pengguna. Oleh karena itu, diperlukan penguatan pada aspek-aspek tersebut untuk mengoptimalkan kualitas integrasi SIMPUS.

Kata Kunci: SIMPUS, Kualitas Integrasi, HOT-Fit, Pengaruh, Analisis Jalur.
Background: The Primary Health Care Management Information System (SIMPUS) in Banyumas Regency continues to face several challenges, including limited data integration across service units, network disruptions, and delays in reporting, which affect the effectiveness of health services. This study aimed to analyze the factors influencing the integration quality of SIMPUS using the Human-Organization-Technology (HOT)-Fit model.

Methods: This study employed a quantitative analytical design with a cross-sectional approach. The study population consisted of SIMPUS users from nine Primary Health Centers in Banyumas Regency, with a total sample of 322 respondents selected using purposive sampling. Data were collected through structured interviews using a questionnaire. Data were analyzed using path analysis.

Results: The results showed that system quality and information quality had positive and significant effects on system use and user satisfaction, while service quality had no significant effect. In addition, organizational structure, organizational environment, system use, and user satisfaction were found to have positive and significant effects on the integration quality of SIMPUS.

Conclusion: The integration quality of SIMPUS in Banyumas Regency is influenced by organizational structure, organizational environment, system use, and user satisfaction. The effects of system quality and information quality on integration quality occur indirectly through system use and user satisfaction. Therefore, strengthening these aspects is necessary to optimize the integration quality of SIMPUS.

Keywords: SIMPUS, Integration Quality, HOT-Fit, Influence, Path Analaysis.
5111254522K1A022091AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN ANTIINFLAMASI HIDROLISAT
PROTEIN IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy) OLEH
FRAKSI PROTEASE Bacillus subtilis B209
Ikan gurami (Osphronemus gouramy) merupakan komoditas perikanan air
tawar yang kaya akan nutrisi dan protein. Protein merupakan salah satu pengahasil
peptida bioaktif yang berpotensi sebagai antioksidan dan antiinflamasi. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas spesifik dari fraksi-fraksi protease
menggunakan kondisi optimum fraksi protease F45, mengetahui pengaruh waktu
hidrolisis, aktivitas antioksidan protein ikan gurami, serta IC50, AAI (Antioxidant
Activity Index), mengetahui aktivitas antiinflamasi, dan tingkat hemolitik dari fraksi
hidrolisat protein dengan aktivitas antioksidan tertinggi. Tahap penelitian diawali
dengan membuat isolat protein ikan gurami serta produksi enzim protease dari
bakteri Bacillus subtilis B209. Ekstrak kasar enzim protease yang diperoleh,
dilakukan fraksinasi bertingkat menggunakan ammonium sulfat dan diukur
aktivitas enzimnya. Fraksi dengan aktivitas spesifik tertinggi ditentukan suhu dan
pH optimumnya. Hidrolisis dilakukan dengan cara menginkubasi isolat protein ikan
gurami dengan variasi waktu 10, 20, 30, 40, 50, dan 60 dengan suhu dan pH
optimum hasil karakterisasi yaitu pada suhu 45°C dan pH 8. Hidrolisat protein
kemudian ditentukan derajat hidrolisis dan diuji aktivitas antioksidan dengan
metode DPPH, diuji antiinflamasi dengan metode denaturasi protein BSA, serta uji
hemolisis pada λ 517 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa F45 memiliki
aktivitas spesifik tertinggi sebesar 0,248 U/mg dengan faktor purifikasi 9,31 kali.
Persentase derajat hidrolisis diperoleh nilai tertinggi pada waktu hidrolisis 60 menit
sebesar 20,1%. Aktivitas antioksidan pada waktu hidrolisis 20 menit diperoleh nilai
IC50 dan AAI sebesar 9183,7 ppm; dan 0,002145. Aktivitas antiinflamasi diperoleh
nilai persentase inhibisi lebih dari 20% pada konsentrasi 0,5 mg/mL dan diperoleh
nilai IC50 sebesar 830 ppm. Persentase hemolisis diperoleh nilai sebesar 5,78%.
Nilai tersebut menunjukkan bahwa hidrolisat protein ikan gurami masuk ke dalam
kategori hemolitik ringan yang berarti sedikit lisis terhadap sel darah merah. Hasil
SDS-PAGE pada hidrolisat protein ikan gurami menunjukkan pita protein yang
kurang jelas yang menandakan adanya proses hidrolisis.
Gourami (Osphronemus gouramy) is a freshwater fishery commodity rich in
nutrients and protein. Protein is a precursor for bioactive peptides, which
potentially act as antioxidants and anti-inflammatory agents. This study aimed to
determine the specific activity of protease fractions under the optimum conditions
of the F45 protease fraction; evaluate the effect of hydrolysis time, antioxidant
activity of gourami protein, including its IC50 and Antioxidant Activity Index (AAI).
Furthermore, this study intended to evaluate the anti-inflammatory activity and
hemolytic rate of the protein hydrolysate fraction exhibiting the highest antioxidant
activity. The research began with the preparation of protein isolates gourami and
the production of protease enzymes from the bacterium Bacillus subtilis B209. The
crude protease enzyme extract was then subjected to ammonium sulfate graded
fractionation. Fraction with the highest specific activity was selected determined
temperature and pH optimum. Hydrolysis was performed by incubating the gourami
protein isolate for various time intervals (10, 20, 30, 40, 50, and 60 minutes) at the
characterized optimum temperature and pH, which were 45°C and pH 8,
respectively. The resulting protein hydrolysate was then evaluated for its degree of
hydrolysis, antioxidant activity using the DPPH method, anti-inflammatory activity
using the protein denaturation BSA method, and hemolysis assay at λ 517 nm. The
results showed that the F45 fraction achieved the highest specific activity at 0.248
U/mg with a purification factor of 9,3. Antioxidant activity at a 20- minute
hydrolysis time yielded an IC50 value of 9183,7 ppm and an AAI of 0,002145.
Regarding the anti-inflammatory activity, an inhibition percentage of over 20% was
obtained at a concentration of0,5 mg/mL, with an IC50 value of 830 ppm. Hemolysis
percentage was recorded at 5,78%, indicating that the gourami fish protein
hydroysate is classified into the midly hemolytic category, which implies slight lysis
of red blood cell. SDS-PAGE result of the hydrolysate showed faint protein bands,
signifying the occurrence of te hydrolysis process.
5111354523E2A024034Green Investment Practices and Challenges in Indonesia’s Investment Legal SysteInvestasi hijau merupakan instrumen penting dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan di tengah krisis iklim global. Sebagai negara yang berkomitmen terhadap agenda pembangunan hijau, Indonesia menunjukkan minat yang semakin besar terhadap investasi ramah lingkungan, khususnya pada sektor energi terbarukan, reboisasi, dan perdagangan karbon. Namun, sistem hukum investasi di Indonesia saat ini masih belum memadai untuk mengakomodasi kompleksitas transformasi menuju ekonomi hijau tersebut.

Artikel ini mengkaji praktik investasi hijau di Indonesia saat ini serta menganalisis berbagai tantangan hukumnya dengan menggunakan pendekatan sosio-legal. Peraturan seperti Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, Undang-Undang Cipta Kerja, serta berbagai peraturan di bidang lingkungan hidup masih belum memberikan kejelasan hukum mengenai definisi "investasi hijau", insentif fiskal dan hukum, maupun koordinasi antar lembaga. Sebagai perbandingan, negara-negara seperti Singapura dan Uni Eropa telah menerapkan kerangka pembiayaan berkelanjutan (sustainable finance framework) dengan taksonomi yang jelas serta mekanisme pengawasan yang ketat untuk mencegah praktik greenwashing.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan implementasi investasi hijau di Indonesia sangat bergantung pada reformasi sistem hukum investasi agar lebih responsif terhadap isu-isu lingkungan dan tujuan pembangunan berkelanjutan. Harmonisasi kebijakan antara regulasi investasi, lingkungan hidup, dan fiskal menjadi kebutuhan yang mendesak guna memperkuat tata kelola investasi hijau yang sistematis, efektif, dan berkeadilan di Indonesia.
Green investment is a vital instrument in achieving sustainable development amidst the global climate crisis. As a country committed to green development agendas, Indonesia has shown increasing interest in environmentally friendly investments, particularly in sectors such as renewable energy, reforestation, and carbon trading. However, the current investment law system in Indonesia remains inadequately equipped to address the complexities of this green transformation. This article examines the current practices of green investment in Indonesia and analyzes its legal challenges using a socio-legal approach. Regulations such as Law No. 25 of 2007 on Investment, the Omnibus Law on Job Creation, and various environmental laws still lack legal clarity on the definition of “green investment,” fiscal and legal incentives, and institutional coordination. In comparison, countries like Singapore and the European Union have adopted sustainable finance frameworks with clear taxonomies and strict oversight mechanisms to prevent greenwashing. The findings of this study highlight that the success of green investment initiatives in Indonesia relies heavily on reforming its investment legal system to be more responsive to environmental concerns and sustainability goals. Policy harmonization between investment, environmental, and fiscal regulations is urgently needed to strengthen systematic and equitable green investment governance in Indonesia.
5111454527C1H022019THE INFLUENCE OF TRANSFORMATIONAL LEADERSHIP ON INNOVATIVE WORK BEHAVIOUR WITH LEADER MEMBER EXCHANGE AND KNOWLEDGE SHARING BEHAVIOUR AS MEDIATING VARIABLES: A STUDY ON BANK BJB TEGALInovasi karyawan telah menjadi faktor penting bagi keberlanjutan dan daya saing organisasi, khususnya di sektor perbankan yang menghadapi tuntutan yang semakin meningkat terhadap kualitas layanan, transformasi digital, dan efisiensi operasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh transformational leadership terhadap innovative work behaviour serta menginvestigasi peran mediasi leader–member exchange dan knowledge sharing behaviour. Berdasarkan Social Exchange Theory, penelitian ini mengajukan bahwa pemimpin transformasional dapat membangun hubungan berkualitas tinggi dengan karyawan dan mendorong praktik berbagi pengetahuan yang selanjutnya meningkatkan innovative work behaviour karyawan. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan metode survei. Data dikumpulkan dari karyawan Bank BJB Cabang Tegal melalui kuesioner terstruktur, kemudian hubungan antarvariabel dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformational leadership berkontribusi terhadap pengembangan innovative work behaviour baik secara langsung maupun tidak langsung melalui leader–member exchange dan knowledge sharing behaviour. Selain itu, mekanisme mediasi tersebut memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai bagaimana praktik kepemimpinan dapat mendorong inovasi karyawan dalam konteks perbankan. Penelitian ini memperluas literatur mengenai kepemimpinan dan inovasi dengan mengintegrasikan perspektif relasional dan perilaku dalam satu kerangka penelitian. Hasil penelitian juga memberikan implikasi praktis bagi organisasi perbankan yang ingin memperkuat inovasi karyawan melalui kepemimpinan yang efektif, hubungan kerja yang suportif, dan budaya berbagi pengetahuan.Employee innovation has become a critical factor for organizational sustainability and competitiveness, particularly in the banking sector, which faces increasing demands for service excellence, digital transformation, and operational efficiency. This study aims to examine the influence of transformational leadership on innovative work behavior and investigate the mediating roles of leader member exchange and knowledge sharing behavior. Drawing upon Social Exchange Theory, the study proposes that transformational leaders foster high-quality relationships with employees and encourage knowledge sharing practices, which subsequently enhance employees’ innovative work behavior. A quantitative research design was employed using a survey method. Data were collected from employees of Bank BJB Tegal Branch through structured questionnaires, and the proposed relationships were analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS SEM). The findings indicate that transformational leadership contributes to the development of innovative work behavior both directly and indirectly through leader-member exchange and knowledge sharing behavior. Furthermore, the mediating mechanisms provide a deeper understanding of how leadership practices stimulate employee innovation within the banking context. This study extends the literature on leadership and innovation by integrating relational and behavioral perspectives into a single framework. The findings also offer practical implications for banking organizations seeking to strengthen employee innovation through effective leadership, supportive workplace relationships, and a culture of knowledge sharing.
5111554481H1C022050ANALISIS POST MORTEM KEGAGALAN SUMUR PEMBORAN DI CEKUNGAN LAUT TIMOR, NUSA TENGGARA TIMURCekungan Laut Timor merupakan salah satu cekungan hidrokarbon prospektif di Indonesia. Namun, beberapa sumur eksplorasi, yaitu Banli-1, Belalang-1, Manta-1, Mina-1, dan Napoleon-1, belum berhasil menemukan akumulasi hidrokarbon yang bernilai ekonomis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem petroleum yang berkembang dan menganalisis penyebab kegagalan sumur pemboran melalui pendekatan analisis post mortem. Metode yang digunakan meliputi analisis geokimia menggunakan data Total Organic Carbon (TOC) dan Rock-Eval Pyrolysis, analisis petrofisika menggunakan data wireline log, interpretasi seismik 2D, dan perhitungan seal capacity. Hasil penelitian menunjukkan bahwa batuan induk terdiri atas Jurassic Wailuli, Triassic Mt. Goodwin, dan Triassic Sahul Group dengan kandungan material organik berkisar 0,61–2,68 wt.% TOC, didominasi oleh kerogen Tipe III dan sebagian Tipe II/III, serta tingkat kematangan termal yang masih didominasi immature hingga immature–mature. Reservoir utama berupa Jurassic Oebaat, Jurassic Plover, dan Triassic Challis memiliki kualitas yang bervariasi. Batuan tudung regional berupa Cretaceous Nakfunu dan Cretaceous Bathurst Island Group (Wangarlu–Echuca Shoals) memiliki Sealing Number >1 sehingga berfungsi sebagai regional seal yang efektif. Jalur migrasi berkembang melalui sesar dan mekanisme updip migration, sedangkan perangkap utama berupa horst-related anticline. Berdasarkan hasil evaluasi, kegagalan sumur pemboran terutama disebabkan oleh keterbatasan hydrocarbon charge akibat batuan induk yang belum matang, kualitas reservoir yang kurang baik pada sebagian besar sumur, serta ketidaktepatan penempatan target pemboran pada Sumur Banli-1 yang berada pada bagian flank struktur sehingga tidak memotong closure perangkap hidrokarbon.The Timor Sea Basin is one of the prospective hydrocarbon basins in Indonesia. However, several exploration wells, namely Banli-1, Belalang-1, Manta-1, Mina-1, and Napoleon-1, have not succeeded in finding economically valuable hydrocarbon accumulations. This study aims to evaluate the petroleum system and analyze the causes of well failures through a post mortem well analysis approach. The methods used include geochemical analysis using Total Organic Carbon (TOC) and Rock-Eval Pyrolysis data, petrophysical analysis using wireline log data, 2D seismic interpretation and seal capacity calculation. The results show that the source rocks consist of the Jurassic Wailuli, Triassic Mt., and Triassic Sahul Group with organic material content ranging from 0.61–2.68 wt.% TOC, dominated by Type III kerogen and some Type II/III, and the thermal maturity level is still dominated by immature to immature–mature. The main reservoirs consist of Jurassic Oebaat, Jurassic Plover, and Triassic Challis, each with varying quality. The regional cap rock, the Cretaceous Nakfunu and the Cretaceous Bathurst Island Group (Wangarlu–Echuca Shoals), has a Sealing Number >1, thus serving as an effective regional seal. The migration pathway develops through faults and updip migration mechanisms, while the main trap is a horst-related anticline. Based on the evaluation results, the failure of drilling wells was mainly caused by limited hydrocarbon charge due to immature source rocks, poor reservoir quality in most wells, and inaccurate drilling target placement in the Banli-1 Well, which is located on the flank of the structure, thus not intersecting the closure of the hydrocarbon trap.
5111654528B1A022152Karakterisasi Spesies Ikan Hiu Yang Didaratkan pada Beberapa TPI Daerah Pantai Selatan Jawa: Status Taksonomi dan KonservasiIkan hiu berperan sebagai predator puncak yang menjaga keseimbangan ekosistem laut, tetapi populasinya semakin tertekan akibat tingginya intensitas penangkapan, termasuk di perairan pesisir selatan Jawa yang termasuk WPPNRI 573. Pencatatan hasil tangkapan hiu di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) pada kawasan ini masih dilakukan secara agregat tanpa identifikasi tingkat spesies, sehingga keragaman, karakter morfologi, dan status konservasi hiu yang didaratkan belum diketahui secara pasti.
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi spesies, karakter morfologi kualitatif dan morfometrik, struktur ukuran dan tahap kehidupan, kelimpahan relatif, serta status konservasi dan validitas taksonomi ikan hiu yang didaratkan di TPI PPS Cilacap, TPI Mina Usaha Jetis, dan TPI Minasari Pangandaran. Penelitian dilaksanakan pada Februari–Juni 2026 menggunakan metode survei deskriptif dengan purposive sampling.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 31 individu ikan hiu yang berhasil dikumpulkan, teridentifikasi 5 spesies dari 2 famili dan 2 ordo, dengan Rhizoprionodon oligolinx (n=23; 74,2%) sebagai spesies paling dominan. Struktur ukuran keseluruhan didominasi individu juvenil (61,3%), termasuk seluruh individu Carcharhinus falciformis yang tertangkap di Cilacap, yang mengindikasikan potensi growth overfishing pada spesies pelagis oseanik tersebut. Komposisi spesies antar lokasi berbeda nyata, dengan Cilacap didominasi spesies pelagis oseanik dan Jetis–Pangandaran didominasi spesies neritik berukuran kecil. Seluruh lima spesies yang teridentifikasi tergolong berisiko pada Daftar Merah IUCN (tiga spesies Vulnerable dan dua spesies Near Threatened) serta seluruhnya kini diatur dalam CITES Apendiks II. Temuan ini menegaskan perlunya sistem pencatatan hasil tangkapan hiu pada tingkat spesies sebagai dasar pengelolaan perikanan hiu berkelanjutan di WPPNRI 573.
Sharks function as apex predators that maintain marine ecosystem balance, yet their populations face increasing pressure from fishing activity, including in the southern coastal waters of Java within WPPNRI 573. Shark catch records at Fish Landing Sites (TPI) in this region are still compiled in aggregate without species-level identification, leaving the diversity, morphological characters, and conservation status of landed sharks poorly documented.
This study aimed to identify the species, qualitative morphological and morphometric characters, size structure and life stages, relative abundance, and conservation status and taxonomic validity of sharks landed at TPI PPS Cilacap, TPI Mina Usaha Jetis, and TPI Minasari Pangandaran. The study was conducted from February to June 2026 using a descriptive survey method with purposive sampling.
Results showed that of 31 shark individuals collected, 5 species belonging to 2 families and 2 orders were identified, with Rhizoprionodon oligolinx (n=23; 74.2%) as the most dominant species. The overall size structure was dominated by juveniles (61.3%), including all Carcharhinus falciformis individuals caught in Cilacap, indicating potential growth overfishing in this large oceanic-pelagic species. Species composition differed markedly between locations, with Cilacap dominated by oceanic-pelagic species and Jetis–Pangandaran dominated by small neritic species. All five identified species were categorized as threatened on the IUCN Red List (three Vulnerable and two Near Threatened species) and are now listed under CITES Appendix II. These findings underscore the need for species-level shark catch recording as a basis for sustainable shark fisheries management in WPPNRI 573.
5111754531C1I019025The Influence of Organizational Learning, Entrepreneurial Orientation, and Management Accounting Practices Toward SMEs PerformancesUsaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sektor Food and Beverage (F&B) di Purwokerto berperan penting dalam ekonomi daerah, namun masih menghadapi kendala seperti rendahnya kemampuan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan bisnis, keterbatasan inovasi, serta belum optimalnya pengelolaan dan pemanfaatan informasi akuntansi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh organizational learning, entrepreneurial orientation, dan management accounting practices terhadap kinerja UMKM. Pendekatan kuantitatif digunakan melalui survei terhadap 40 UMKM sektor F&B di Purwokerto dengan teknik pengambilan sampel aturan 10 kali lipat, dan data dianalisis menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan management accounting practices berpengaruh positif terhadap kinerja UMKM karena meningkatkan efektivitas pengelolaan usaha dan kualitas pengambilan keputusan, sehingga memperkuat perspektif Resource Based View (RBV) Theory. Sebaliknya, organizational learning dan entrepreneurial orientation tidak berpengaruh terhadap kinerja UMKM. Secara praktis, hasil penelitian ini menekankan pentingnya penerapan praktik akuntansi manajemen serta dukungan pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan daya saing UMKM secara berkelanjutan.Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) in the Food and Beverage (F&B) sector in Purwokerto play an important role in the local economy but continue to face challenges, including limited adaptability to changes in the business environment, low levels of innovation, and suboptimal management and utilization of accounting information. This study aims to examine the effects of organizational learning, entrepreneurial orientation, and management accounting practices on MSME performance. A quantitative approach was employed through a survey of 40 F&B MSMEs in Purwokerto using the ten-times rule sampling technique, and the data were analyzed using multiple linear regression. The results indicate that management accounting practices have a positive effect on MSME performance by improving business management effectiveness and decision-making quality, thereby supporting the Resource-Based View (RBV) Theory. In contrast, organizational learning and entrepreneurial orientation have no significant effect on MSME performance. Practically, the findings highlight the importance of implementing management accounting practices, supported by training and mentoring programs, to enhance the sustainable competitiveness of MSMEs.
5111854532I1B022094Hubungan Antara Tingkat Dukungan Suami dengan Citra Tubuh Pada Wanita MenopauseLatar Belakang: Menopause memicu berbagai perubahan fisik dan emosional akibat penurunan hormon estrogen. Perubahan ini sering kali memicu kekhawatiran wanita terhadap penampilan yang pada akhirnya dapat membentuk citra tubuh negatif. Dalam menghadapi fase ini, dukungan suami (meliputi aspek emosional, penghargaan, instrumental, dan informasional) sangat diperlukan untuk membantu istri menerima perubahan tubuhnya serta mempertahankan citra tubuh yang positif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan suami dengan citra tubuh pada wanita menopause.

Metode: Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain deskriptif analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik convenience sampling dengan jumlah 139 responden wanita menopause di Desa Kalikabong. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Dukungan Sosial Suami dan Multidimensional Body-Self Relations Questionnaire (MBSRQ), yang selanjutnya dianalisis secara bivariat menggunakan uji statistik Somers'd.

Hasil: Sebagian besar responden memperoleh tingkat dukungan suami pada kategori tinggi, yaitu 90 orang (60,8%), serta memiliki citra tubuh pada kategori positif, yaitu 134 orang (90,65%). Pada analisis per item, skor tertinggi terdapat pada dukungan penghargaan berupa dorongan suami agar istri mengikuti kegiatan positif dan sosial (mean = 3,36), sedangkan skor terendah terdapat pada pemberian komentar positif terhadap penampilan istri (mean = 2,55). Hasil uji hipotesis Somers'd menunjukkan nilai signifikansi p = 0,001 (p < 0,05) dengan nilai koefisien korelasi (d) sebesar 0,246.

Kesimpulan: Terdapat hubungan bermakna dengan arah positif antara tingkat dukungan suami dengan citra tubuh wanita menopause. Meskipun kekuatan hubungannya tergolong lemah karena adanya pengaruh faktor psikologis lain, temuan ini menegaskan bahwa semakin tinggi dukungan suami, maka citra tubuh wanita menopause cenderung semakin positif.
Background: Menopause triggers various physical and emotional changes due to a decrease in estrogen hormones. These changes often cause women to worry about their appearance, which can ultimately lead to a negative body image. During this phase, a husband's support (including emotional, esteem, instrumental, and informational aspects) is essential to help wives accept their bodily changes and maintain a positive body image. This study aims to determine the relationship between husband support and body image among menopausal women.

Methods: This quantitative study used a correlational analytic descriptive design with a cross-sectional approach. Sampling was conducted using a convenience sampling technique, involving 139 menopausal women respondents in Kalikabong Village. Data were collected using the Husband's Social Support questionnaire and the Multidimensional Body-Self Relations Questionnaire (MBSRQ), which were then analyzed using the Somers'd statistical test.

Results: Most respondents had a high level of husband support (90 respondents; 60.8%) and a positive body image (134 respondents; 90.5%). Item-level analysis showed that the highest score was found in the husband’s appreciation support, particularly in encouraging wives to participate in positive and social activities (mean = 3,36), whereas the lowest score was found in providing positive comments about wife’s appearance (mean =2,55)/ The Somers’ d test showed a statistically significant relationship (p = 0.001; p < 0.05) with correlation (d) of 0.246

Conclusion: There is a significant positive relationship between the level of husband's support and the body image of menopausal women. Although the relationship is relatively weak due to the influence of other psychological factors, this finding confirms that higher husband's support tends to result in a more positive body image in menopausal women.
5111954529B1B022020Effect of Different Temperature Media Culture on Condition Factor, Protease, and Amylase Activity in Gourami (Osphronemus gouramy Lac.) LarvaeIkan gurami (Osphronemus gouramy) merupakan salah satu komoditas ikan air tawar yang memiliki nilai ekonomi penting, tetapi memiliki laju pertumbuhan yang relatif lambat, terutama pada fase larva. Fase tersebut merupakan periode kritis karena fungsi pencernaan larva masih belum berkembang secara optimal. Efisiensi pencernaan sangat dipengaruhi oleh aktivitas enzim protease dan amilase, yang terutama dipengaruhi oleh suhu lingkungan sebagai regulator utama metabolisme pada organisme poikilotermik. Namun, informasi mengenai suhu optimal yang dapat meningkatkan efisiensi aktivitas enzim pada larva gurami masih terbatas, sehingga pertumbuhan dan kelangsungan hidup pada praktik pembenihan belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan suhu terbaik dalam meningkatkan aktivitas enzim dan pertumbuhan somatik larva gurami secara efektif. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan suhu dan lima ulangan. Perlakuan terdiri atas suhu tidak terkontrol yang berfluktuasi antara 24–27 °C, serta suhu terkontrol 27 ± 1 °C, 30 ± 1 °C, dan 33 ± 1 °C. Parameter yang diamati meliputi aktivitas protease, aktivitas amilase, dan faktor kondisi yang diukur pada umur 15, 25, 35, dan 45 hari setelah menetas (HSM). Aktivitas enzim diukur menggunakan spektrofotometer, dengan aktivitas protease ditentukan berdasarkan konsentrasi tirosin, sedangkan aktivitas amilase ditentukan berdasarkan konsentrasi maltosa. Faktor kondisi ditentukan berdasarkan bobot dan panjang total larva. Data dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) yang dilanjutkan dengan Duncan's Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas protease dipengaruhi secara signifikan oleh interaksi antara suhu pemeliharaan dan waktu pengamatan, dengan aktivitas tertinggi pada suhu tidak terkontrol pada umur 45 HSM. Sebaliknya, aktivitas amilase dipengaruhi secara terpisah oleh suhu dan waktu pengamatan, dengan rata-rata aktivitas tertinggi pada suhu 30 °C. Sementara itu, faktor kondisi relatif stabil dan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan pada seluruh perlakuan. Berdasarkan hasil penelitian, enzim pencernaan pada larva gurami memiliki suhu optimum yang berbeda; suhu 30 °C mengoptimalkan aktivitas amilase, sedangkan aktivitas protease mencapai nilai maksimum pada profil suhu yang berbeda. Perbedaan suhu tersebut tidak memberikan dampak negatif terhadap proporsionalitas tubuh larva.The gourami (Osphronemus gouramy) is an economically significant freshwater species noted for its comparatively slow growth rate, especially during the larval stage. This phase signifies a crucial interval during which digestive functions remain inadequately developed. Digestive efficiency is significantly dependent on the activities of proteases and amylases, which are primarily regulated by environmental temperature, the main regulator of metabolism in poikilothermic species. Nevertheless, data concerning the precise thermal optima to enhance enzymatic efficiency in gourami larvae remains scarce, resulting in unsatisfactory growth and survival rates in hatchery practices. This research aimed to identify the best temperature for effectively enhancing enzymatic activity and somatic growth in gourami larvae. The research applied an experimental approach utilizing a Completely Randomized Design (CRD) that featured four temperature treatments with five replicates each. These treatments consisted of an uncontrolled temperature fluctuating between 24 and 27 °C, alongside controlled temperatures of 27 ± 1 °C, 30 ± 1 °C, and 33 ± 1 °C. Measured parameters encompass protease activity, amylase activity, and condition factor, assessed monthly at 15, 25, 35, and 45 days after hatching (DAH). Enzyme activities were quantified using a spectrophotometer; protease activity was assessed by tyrosine concentrations, whilst amylase activity was evaluated through maltose concentrations. Simultaneously, the condition factor was determined by measuring larval weight and total length. Data are examined utilizing Analysis of Variance (ANOVA) succeeded by Duncan's Multiple Range Test. The results demonstrated that protease activity was significantly influenced by the interaction of rearing temperature and observation time, reaching its peak at uncontrolled temperature on 45 DAH. Conversely, amylase activity was independently affected by temperature and time, with the highest mean activity recorded at 30 °C. Meanwhile, the condition factor remained relatively stable and showed no significant differences across all treatments. In conclusion, the digestive enzymes of gourami larvae exhibit distinct thermal optima; while 30 °C optimizes amylase production, a different temperature profile is required to maximize protease activity, all of which do not negatively impact the body proportionality of the larvae.
5112054530H1E022063Perancangan Kursi Ergonomis bagi Pengguna Kidal Menggunakan Metode Quality Function Deployment dan Fuzzy TOPSIS untuk Mengurangi Keluhan Musculoskeletal DisordersKursi kuliah konvensional umumnya dirancang untuk pengguna tangan kanan sehingga menimbulkan ketidaknyamanan dan risiko musculoskeletal disorders (MSDs) bagi pengguna kidal, terutama pada leher, bahu, pergelangan tangan, dan punggung. Penelitian ini bertujuan merancang kursi kuliah ergonomis bagi pengguna kidal dengan mengintegrasikan metode Quality Function Deployment (QFD) dan Fuzzy TOPSIS. Data dikumpulkan melalui kuesioner Voice of Customer terhadap 20 responden awal dan kuesioner tingkat kepentingan terhadap 20 responden kidal, kemudian diuji validitas dan reliabilitasnya. QFD digunakan untuk menerjemahkan 13 atribut kebutuhan pengguna menjadi 7 karakteristik teknis melalui House of Quality, sedangkan Fuzzy TOPSIS digunakan untuk mengevaluasi tiga alternatif desain berdasarkan penilaian dua expert panel. Hasil Technical Matrix menunjukkan luas permukaan dan ruang gerak meja (TR7) sebagai prioritas tertinggi dengan Normalized Raw Weight 19,47%, diikuti sudut kemiringan sandaran (TR2) sebesar 16,02%. Hasil evaluasi Fuzzy TOPSIS menetapkan Konsep B, dengan sudut sandaran 105° dan writing pad berukuran 27×30 cm, sebagai desain terbaik dengan nilai Closeness Coefficient sebesar 0,1116. Integrasi QFD dan Fuzzy TOPSIS terbukti mampu menghasilkan rancangan kursi kuliah ergonomis yang sesuai kebutuhan pengguna kidal secara objektif dan terukur.Conventional lecture chairs are generally designed for right-handed users, causing discomfort and a risk of musculoskeletal disorders (MSDs) for left-handed users, particularly in the neck, shoulders, wrists, and back. This study aims to design an ergonomic lecture chair for left-handed users by integrating Quality Function Deployment (QFD) and Fuzzy TOPSIS. Data were collected through a Voice of Customer questionnaire from 20 initial respondents and an importance-level questionnaire from 20 left-handed respondents, followed by validity and reliability testing. QFD was used to translate 13 user-need attributes into 7 technical characteristics through a House of Quality, while Fuzzy TOPSIS was used to evaluate three design alternatives based on the assessment of two expert panels. The Technical Matrix results show that table surface area and hand clearance (TR7) is the highest priority, with a Normalized Raw Weight of 19.47%, followed by backrest angle (TR2) at 16.02%. The Fuzzy TOPSIS evaluation selected Concept B, with a 105° backrest angle and a 27×30 cm writing pad, as the best design with a Closeness Coefficient of 0.1116. The integration of QFD and Fuzzy TOPSIS proved capable of producing an ergonomic lecture chair design that objectively and measurably meets the needs of left-handed users.