Artikelilmiahs

Menampilkan 46.141-46.160 dari 48.741 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4614149503H1D021040IMPLEMENTASI WEBSITE TINDAK LANJUT AUDIT PADA SISTEM
INFORMASI JENDERAL SOEDIRMAN INTERNAL QUALITY
ASSURANCE (JELITA) DI LEMBAGA PUSAT PENJAMINAN MUTU
DAN PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN (LPMPP) UNSOED
Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) merupakan kewajiban setiap
perguruan tinggi di Indonesia. Di Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED),
sistem informasi JELITA dikembangkan untuk mendukung Audit Mutu Akademik
Internal (AMAI). Namun, proses Rapat Tinjauan Manajemen (RTM) dan
Permintaan Tindakan Koreksi (PTK) masih dilakukan secara manual, sehingga
kurang terdokumentasi dan tidak terstandar. Penelitian ini bertujuan merancang dan
mengimplementasikan modul tindak lanjut audit berbasis web pada JELITA, serta
membandingkan performa Laravel Blade dan Laravel Livewire menggunakan
Laravel Dusk.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa Laravel Livewire unggul dalam fitur
interaktif seperti pencarian, edit, delete, akses halaman, serta filter dan hitung
temuan. Sebaliknya, Laravel Blade lebih unggul pada fitur create, paginasi, dan
upload file. Secara keseluruhan, Livewire lebih cocok untuk interaksi dinamis,
sementara Blade efektif untuk operasi berbasis full page load. Modul yang
dikembangkan berhasil meningkatkan transparansi, akurasi, dan standarisasi proses
mutu akademik di LPMPP UNSOED.
The Internal Quality Assurance System (SPMI) is a mandatory requirement
for all higher education institutions in Indonesia. At Universitas Jenderal
Soedirman (UNSOED), the JELITA information system was developed by the
Institute for Quality Assurance and Learning Development (LPMPP) to support the
Internal Academic Quality Audit (AMAI). However, the implementation of
Management Review Meetings (RTM) and Corrective Action Requests (PTK) is still
carried out manually, resulting in poor documentation and lack of standardization.
This study aims to design and implement a web-based audit follow-up module in
JELITA, and to compare the performance of Laravel Blade and Laravel Livewire
using Laravel Dusk.
The test results show that Laravel Livewire performs better in interactive
features such as search, edit, delete, page access, and filtering with counting. On
the other hand, Laravel Blade shows better performance in create, pagination, and
file upload features. Overall, Livewire is more suitable for dynamic interactions,
while Blade remains effective for full page load operations. The implementation of
the new module successfully enhances transparency, accuracy, and standardization
in the academic quality assurance process at LPMPP UNSOED.
4614249504I1A019118Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kondisi Kadar HbA1c pada Penderita Diabetes Melitus Peserta Prolanis di Puskesmas Purwokerto Barat Kabupaten BanyumasProlanis merupakan program pemantauan berkelanjutan bagi individu dengan diabetes melitus (DM), dengan menggunakan kadar HbA1c sebagai indikator utama dalam mengontrol kadar glukosa darah. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain potong lintang (cross-sectional) yang dilakukan di Puskesmas Purwokerto Barat. Populasi penelitian terdiri dari 62 peserta yang menjalani pemeriksaan HbA1c pada bulan Oktober 2024, dengan pengambilan sampel menggunakan metode total sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner yang telah divalidasi dan reliabel serta rekam medis. Analisis data dilakukan dengan metode univariat, bivariat (uji chi-square), dan multivariat (regresi logistik). Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia ≥ 45 tahun (p-value = 0,023) dan kebiasaan merokok (p-value = 0,026) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kadar HbA1c. Faktor-faktor seperti jenis kelamin, tingkat pendidikan, pengetahuan, pekerjaan, riwayat DM, aktivitas fisik, pola makan, lama menderita DM, dan frekuensi kunjungan Prolanis tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kadar HbA1c.Prolanis is a continuous monitoring program for individuals with diabetes mellitus (DM), using HbA1c levels as the primary indicator of blood glucose control. This study is a quantitative research with a cross-sectional design conducted at the Purwokerto Barat Public Health Center. The study population consisted of 62 participants who underwent HbA1c measurement in October 2024, with samples obtained using a total sampling method. Data were collected through validated and reliable questionnaires as well as medical records, and analyzed using univariate, bivariate (chi-square test), and multivariate (logistic regression) methods. The results showed that age ≥ 45 years (p-value = 0.023) and smoking habits (p-value = 0.026) had a significant effect on HbA1c levels. Factors such as gender, education, knowledge, occupation, history of DM, physical activity, dietary patterns, duration of having DM, and frequency of Prolanis visits did not significantly affect HbA1c levels.
4614349506E1A021091PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PEMEGANG HAK MEREK “LEBELAGE”
BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2016 TENTANG
MEREK DAN INDIKASI GEOGRAFIS
(Studi Putusan Nomor 63/Pdt.Sus-HKI/Merek/2024/PN.Niaga.Jkt.Pst)
Merek sebagai salah satu bentuk Hak Kekayaan Intelektual berfungsi secara
signifikan dalam membedakan suatu produk dengan produk lainnya serta menjamin mutu dari barang maupun jasa yang ditawarkan. Sebuah merek dapat disebut sebagai merek terkenal apabila telah dikenal luas oleh Masyarakat, digunakan secara meluas, dan telah memperoleh pendaftaran di sejumlah negara. Tujuan dariperlindungan hukum terhadap merek terkenal adalah untuk menghindaripelanggaran hak atas merek tersebut, serta memastikan kepastian hukum bagi pemiliknya dan memberikan rasa aman bagi konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana bentuk perlindungan hukum yang diberikan kepada pemegang hak atas merek “LEBELAGE” serta menelaah dampak hukum yang timbul dari Putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat Nomor 63/Pdt-Sus-HKI/Merek/2024/PN.Niaga.Jkt.Pst.
Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan deskriptif analitis. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang
diperoleh melalui studi kepustakaan dan dianalisis secara kualitatif dalam bentuk
teks naratif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa merek “LEBELAGE” milik Penggugat diberikan perlindungan hukum sebagaimana diatur dalam Pasal 21 ayat
(1) huruf b dan Pasal 21 ayat (3) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang
Merek dan Indikasi Geografis. Majelis hakim menyatakan bahwa pendaftaran
merek oleh Tergugat dilakukan dengan itikad tidak baik dan memiliki persamaan
pada pokoknya dengan merek milik Penggugat. Akibat hukum bagi merek
“LEBELAGE” milik Tergugat dibatalkan dan dicoret dari Daftar Umum Merek
yang diumumkan dalam Berita Resmi oleh Direktorat Jenderal Kekayaan
Intelektual.
A brand as a form of Intellectual Property Rights plays a significant role in
differentiating a product from other products and guaranteeing the quality of
the goods or services offered. A brand can be called a well-known brand if it is
widely known by the public, widely used, and has obtained registration in a
number of countries. The purpose of legal protection for well-known brands is
to avoid violations of rights to the brand, as well as to ensure legal certainty for
its owners and provide a sense of security for consumers. This study aims to
examine the form of legal protection provided to the holder of the trademark
"LEBELAGE" and examine the legal impact arising from the Decision of the
Central Jakarta Commercial Court Number 63/Pdt-Sus-
HKI/Merek/2024/PN.Niaga.Jkt.Pst..
The research method used is normative juridical with a descriptive-
analytical approach. The data used is secondary data obtained through
literature study and analyzed qualitatively in narrative legal text form.
The results of the study show that the acceptance of the lawsuit to cancel
the “LEBELAGE” trademark is a form of legal protection as stipulated in
Article 21 paragraph (1) letter b and Article 21 paragraph (3) of Law Number
20 of 2016 concerning Trademarks and Geographical Indications. The panel of
judges declared that the registration of the trademark by the Defendant was
carried out in bad faith and bore substantial similarity to the Plaintiff’s
trademark. The legal consequence for the Defendant’s “LEBELAGE”
trademark was its cancellation and deletion from the General Register of
Trademarks, which was announced in the Official Gazette by the Directorate
General of Intellectual Property.
4614449507H1B018040EVALUASI KAPASITAS SALURAN DRAINASE JALAN GATAK KECAMATAN KASIHAN KABUPATEN BANTUL Jalan Gatak, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul merupakan jalur penting yang kerap mengalami genangan air saat hujan deras. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kapasitas saluran drainase sepanjang 300 meter di kawasan tersebut. Metode yang digunakan adalah kuantitatif, meliputi analisis hidrologi dan hidraulika dengan data curah hujan maksimum dari BMKG tahun 2013–2022. Analisis frekuensi dilakukan menggunakan empat metode distribusi (Normal, Gumbel, Log Normal, dan Log Pearson Type III), dengan hasil uji kesesuaian Chi-Kuadrat dan Smirnov-Kolmogorov menunjukkan bahwa distribusi Log Pearson Type III paling sesuai untuk digunakan. Debit rencana dihitung menggunakan metode rasional modifikasi, sedangkan kapasitas drainase eksisting dianalisis menggunakan parameter penampang saluran dan kecepatan aliran. Hasil analisis menunjukkan bahwa debit banjir rencana di saluran 1 sebesar 1,6693 m³/detik dan di saluran 2 sebesar 1,0697 m³/detik. Kapasitas drainase eksisting sebesar 2,0383 m³/detik di saluran 1, dan 1,1878 m³/detik di saluran 2, yang secara teknis mampu menampung debit rencana. Namun, kecepatan aliran melebihi batas aman (1,9599 m/detik dan 1,6968 m/detik), sehingga diperlukan pematah arus. Di lapangan, genangan tetap terjadi akibat sedimentasi, tumpukan sampah, dan saluran yang tidak terintegrasi dengan baik dengan saluran disekitar. Oleh karena itu, diperlukan normalisasi saluran, kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan, dan sinkronisasi antara saluran drainase di Jalan Gatak dengan saluran di sekitarnya, agar sistem pengaliran air berjalan secara optimal dan tidak menimbulkan genangan.Gatak Road, Kasihan Subdistrict, Bantul Regency is an important route that often experiences flooding during heavy rain. This study aims to evaluate the drainage channel capacity along a 300-meter section in the area. The method used is quantitative, involving hydrological and hydraulic analysis with maximum rainfall data from BMKG between 2013 and 2022. Frequency analysis was conducted using four distribution methods (Normal, Gumbel, Log Normal, and Log Pearson Type III), with Chi-Square and Kolmogorov-Smirnov goodness-of-fit tests indicating that the Log Pearson Type III distribution is the most appropriate to use. The design discharge was calculated using the modified rational method, while the existing drainage capacity was analyzed based on channel cross-section parameters and flow velocity. The analysis results show that the design flood discharge in channel 1 is 1.6693 m³/s and in channel 2 is 1.0697 m³/s. The existing drainage capacity is 2.0383 m³/s for channel 1 and 1.1878 m³/s for channel 2, which is technically sufficient to accommodate the design discharge. However, the flow velocity exceeds the safe limits (1.9599 m/s and 1.6968 m/s), indicating the need for flow breakers. In the field, flooding still occurs due to sedimentation, garbage accumulation, and poor integration of the channel with surrounding drainage systems. Therefore, channel normalization, community awareness to prevent littering, and synchronization between the drainage channels on Gatak Road and surrounding channels are required to ensure optimal water flow and prevent flooding.
4614549508H1A018073ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA LAYANAN CLOUD PLATFORM “IMAGE RECOGNITION” STUDI KASUS AWS REKOGNITION DAN GCP VISION AIMachine learning telah banyak diterapkan dalam berbagai bidang yang salah satunya adalah klasifikasi visual karena algoritma dapat menyamai atau bahkan melampaui kemampuan manusia dalam bidang ini. Penyedia layanan berbasis cloud seperti Amazon, Google, Microsoft, dan lainnya telah mengembangkan “ML-as-a-service” sehingga pengguna dapat mendapat manfaat penerapan ML tanpa harus membuat model mereka sendiri karena untuk mengembangkan model sendiri dibutuhkan waktu, keahlian, dan sumber daya yang cukup besar. Sering kali membutuhkan waktu berbulan bulan dan juga dapat membutuhkan ribuan gambar yang harus diberi label secara manual agar data yang disediakan cukup untuk model dapat berjalan dengan akurat. Oleh karena itu dalam penelitian ini penulis ingin membahas tentang pengenalan citra yang diotomatisasi dengan AI yang disediakan oleh penyedia layanan cloud . Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan performa layanan pengenalan citra berbasis cloud antara AWS Rekognition dan GCP Vision AI. Perbandingan dilakukan terhadap berbagai aspek seperti akurasi (precision dan recall), kecepatan pelatihan model, kemudahan penggunaan, serta efisiensi biaya. Dataset yang digunakan mencakup berbagai kategori seperti tumor
otak, penyakit mata, kualitas telur, hingga citra X-ray dan kanker kulit. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa AWS Rekognition memiliki keunggulan dalam hal kemudahan penggunaan dan pelabelan
dataset secara otomatis, serta performa model yang secara umum lebih tinggi dibandingkan GCP Vision
AI. Sementara itu, GCP Vision AI menunjukkan kecepatan pelatihan model yang lebih baik. Dengan
demikian, AWS Rekognition lebih direkomendasikan untuk pengguna pemula maupun skenario yang
memprioritaskan efisiensi pelabelan dan hasil akurasi tinggi.
Machine learning has been widely applied in various fields, one of which is visual classification because algorithms can match or even surpass human abilities in this field. Cloud-based service providers such as Amazon, Google, Microsoft, and others have developed ML-as-a-service so that users can benefit from the application of ML without having to create their own models because developing your own models requires considerable time, expertise, and resources. It often takes months and can also require thousands of images to be manually labeled in order to provide enough data for the model to run accurately. Therefore, in this study, the author wants to discuss automated image recognition with AI provided by cloud service providers. This study aims to compare the performance
of AWS Rekognition and GCP Vision AI in cloud-based image recognition tasks. The comparison focuses on aspects such as precision, recall, model training speed, ease of use, and cost efficiency. Various datasets were used in the experiments, including brain tumor images, eye diseases, egg quality, chest X-rays, and skin cancer. The results indicate that AWS Rekognition offers better overall performance in terms of ease of use, automatic labeling, and higher model accuracy. On the other hand,
GCP Vision AI demonstrates faster model training times. Therefore, AWS Rekognition is more suitable
for beginners and use cases that prioritize labeling efficiency and high precision.
4614649509I1D021063Perbedaan Kronotipe, Asupan Kafein,Status Gizi pada Mahasiswa Indekos dan Tidak Indekos Universitas Jenderal SoedirmanLatar Belakang: Mahasiswa umumnya berada pada tahap perkembangan remaja akhir, yaitu fase transisi penting menuju kedewasaan yang ditandai dengan berbagai perubahan krusial. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi kebiasaan hidup mahasiswa adalah tempat tinggal. Mahasiswa indekos dapat lebih bebas dalam memilih makanan dan pola hidup, sementara mahasiswa tidak indekos lebih memiliki pola konsumsi yang teratur. Kondisi ini dapat mempengaruhi kronotipe, asupan kafein, dan status gizi mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kronotipe, asupan kafein, dan status gizi antara mahasiswa indekos dan tidak indekos di Universitas Jenderal Soedirman.
Metodologi: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional melibatkan 161 responden, terdiri dari 80 mahasiswa indekos dan 81 mahasiswa tidak indekos. Pengumpulan data menggunakan SQ-FFQ untuk mengukur asupan kafein, morningness-eveningness questionnaire (MEQ) untuk menentukan kronotipe, serta pengukuran berat badan dan tinggi badan untuk menilai status gizi. Data berdistribusi normal diuji menggunakan uji t-test independent dan data tidak berdistribusi normal diuji menggunakan mann-whitney.
Hasil Penelitian: Mahasiswa tidak indekos memiliki nilai mean kronotipe lebih tinggi (59,0 ± 7,5) dibandingkan mahasiswa indekos (57,2 ± 9,2). Median asupan kafein lebih tinggi pada mahasiswa tidak indekos (59,0 mg/hari) dibandingkan indekos (55,8 mg/hari). Median IMT mahasiswa tidak indekos (21,6 kg/m²) lebih tinggi dibandingkan mahasiswa indekos (21,3 kg/m²). Namun, tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara mahasiswa indekos dan tidak indekos dalam hal kronotipe (p= 0,174), asupan kafein (p=0,599), dan status gizi (p= 0,420).
Kesimpulan: Tempat tinggal tidak terbukti secara signifikan memengaruhi perbedaan kronotipe, asupan kafein, dan status gizi mahasiswa.
Kata kunci: asupan kafein, kronotipe, mahasiswa, status gizi, tempat tinggal
Background: University students are generally in the late adolescence stage, a crucial transitional phase toward adulthood marked by significant physical, psychological, and social changes. One factor that may influence students lifestyle habits is their type of residence. Boarding students tend to have more freedom in choosing their food and lifestyle patterns, whereas non-boarding students often have more structured eating habits. These conditions may affect chronotype, caffeine intake, and nutritional status. This study aims to examine the differences in chronotype, caffeine intake, and nutritional status between boarding and non-boarding students at Jenderal Soedirman University
Methods: This quantitative study employed a cross-sectional design with a total of 161 respondents, consisting of 80 boarding students and 81 non-boarding students. Data were collected using the Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ) to measure caffeine intake, the Morningness-Eveningness Questionnaire (MEQ) to determine chronotype, and anthropometric measurements (body weight and height) to assess nutritional status. Normally distributed data were analyzed using the independent t-test, while non-normally distributed data were analyzed using the Mann-Whitney U test.
Results: Non-boarding students had a higher mean chronotype score (59.0 ± 7.5) compared to boarding students (57.2 ± 9.2). The median caffeine intake was also higher among non-boarding students (59.0 mg/day) than boarding students (55.8 mg/day). Additionally, the median BMI of non-boarding students (21.6 kg/m²) was higher than that of boarding students (21.3 kg/m²). However, there were no significant differences between boarding and non-boarding students in terms of chronotype (p = 0.174), caffeine intake (p = 0.599), and nutritional status (p = 0.420).
Conclusion: Living arrangements were not found to significantly affect differences in chronotype, caffeine intake, or nutritional status among students.
Keywords: caffeine intake, chronotype, university students, nutritional status, residence
4614749515L1C021068LIFEFORM DAN TUTUPAN KARANG PADA KEDALAMAN
BERBEDA DI PULAU PAHAWANG BANDAR LAMPUNG
Kondisi terumbu karang di Pulau Pahawang rentan dipengaruhi oleh aktivitas antropogenik. Penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis persentase tutupan karang, jenis lifeform yang ada, serta pengaruh kondisi fisika-
kimia air terhadap tutupan karang di Pulau Pahawang. Metode yang digunakan adalah metode survei. Analisis
data tutupan terumbu karang menggunakan software CPCe 4.1 dan analisis regresi berganda menggunakan
RStudio untuk mengukur pengaruh fisika-kimia terhadap tutupan karang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
tutupan karang pada kedalaman 4 dan 8 meter bervariasi dari kategori buruk hingga sangat baik. Jenis lifeform
yang ditemukan terdiri dari tujuh bentuk pertumbuhan, yaitu Acropora branching, Acropora digitate, coral branching, coral encrusting, coral foliose, coral massive, dan coral mushroom. Secara umum, kualitas air laut di
Pulau Pahawang dapat mendukung pertumbuhan terumbu karang. Pengaruh parameter fisika-kimia air seperti
suhu (R² = 0,258) termasuk dalam kategori lemah, sedangkan salinitas (R² = 0,31) termasuk dalam kategori
sedang. Parameter pH tidak menunjukkan pengaruh terhadap tutupan karang karena tidak terdapat variasi nilai.
Sementara itu, pengaruh kecerahan (R² = 0,038) dan kedalaman (ρ = 0,098) tergolong sangat lemah terhadap
tutupan karang.
The condition of coral reefs in Pahawang Island is vulnerable to the impacts of anthropogenic activities. This study aims to analyze the percentage of coral cover, the types of lifeforms present, and the influence of the physicochemical conditions of water on coral cover in Pahawang Island. The method used is a survey method. Coral cover data analysis was conducted using CPCe 4.1 software, and multiple regression analysis was performed using RStudio to measure the influence of physicochemical conditions on coral cover. The results of the study show that coral cover at depths of 4 and 8 meters varies from poor to very good categories. The types of lifeforms found consist of seven growth forms, namely Acropora branching, Acropora digitate, coral branching, coral encrusting, coral foliose, coral massive, and coral mushroom. In general, the water quality in Pahawang Island supports coral reef growth. The physicochemical parameters such as temperature (r = -0.508) and salinity (r = -0.557) show strong correlations, pH was not included in the analysis due to the absence of observable variation, and light intensity (r = 0.195) and depth (r = 0.0976) show weak correlations.
4614849510L1B021016Pengaruh Pakan Dengan Substitusi Tepung Daun Ubi Jalar Terfermentasi Terhadap Pertumbuhan Ikan Nilem (Osteochilus Sp.) Tepung ikan merupakan sumber protein utama dalam pakan, namun harga yang relatif tinggi menjadi kendala. Daun ubi jalar (Ipomoea batatas) menjadi alternatif murah dengan kandungan protein dan senyawa bioaktif (flavonoid dan polifenol), meski memiliki zat antinutrisi (sianida dan tanin) dan serat kasar yang tinggi. Fermentasi dilakukan untuk menguranginya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung daun ubi jalar (Ipomoea batatas) terfermentasi dalam pakan terhadap pertumbuhan, rasio konversi pakan (RKP), dan efisiensi pakan ikan Nilem (Osteochilus sp.). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan, (P1: 100% tepung ikan, 0% tepung daun ubi jalar terfermentasi, P2: 75% tepung ikan, 25% tepung daun ubi jalar terfermentasi, P3: 50% tepung ikan, 50% tepung daun ubi jalar terfermentasi, dan P4: 25% tepung ikan, 75% tepung daun ubi jalar terfermentasi). Pertumbuhan mutlak dan efisiensi pakan dianalisis mengunakan ANOVA, efisiensi pakan dilanjutkan uji Tukey (sig 5%). Laju pertumbuhan spesifik dan rasio konversi pakan dianalisis menggunakan uji non-parametrik Kruskal-Wallis. Hasil menunjukkan bahwa penambahan tepung daun ubi jalar terfermentasi tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan dan RKP, namun berpengaruh nyata terhadap efisiensi pakan.Fishmeal is the main source of protein in feed, but its relatively high price is an obstacle. Sweet potato (Ipomoea batatas) leaves are a cheap alternative with protein content and bioactive compounds (flavonoids and polyphenols), although they have antinutrients (cyanide and tannins) and high crude fiber. Fermentation is done to reduce them. This study aims to determine the effect of the addition of fermented sweet potato (Ipomoea batatas) leaf meal in feed on growth, feed conversion ratio (CTR), and feed efficiency of Nilem fish (Osteochilus sp.). This study used a completely randomized design (CRD) with four treatments and three replications, (P1: 100% fishmeal, 0% fermented sweet potato leaf meal, P2: 75% fishmeal, 25% fermented sweet potato leaf meal, P3: 50% fishmeal, 50% fermented sweet potato leaf meal, and P4: 25% fish meal, 75% fermented sweet potato leaf meal). Absolute growth and feed efficiency were analyzed using ANOVA, feed efficiency followed by Tukey test (5% sig). Specific growth rate and feed conversion ratio were analyzed using Kruskal-Wallis non-parametric test. The results showed that the addition of fermented sweet potato leaf meal had no significant effect on growth and RKP, but had a significant effect on feed efficiency.
4614949511I1D021037MODIFIKASI FORMULA ENTERAL BLENDERIZED
DENGAN TEMPE DAN BUAH NAGA MERAH UNTUK
PENDERITA DIABETES MELLITUS
Latar Belakang: Prevalensi DM di Indonesia tinggi, terutama pada kelompok usia lanjut yang rentan mengalami gangguan mengunyah dan menelan. Penelitian ini bertujuan memberikan alternatif formula enteral berbahan lokal, yaitu tempe dan buah naga merah, dengan memodifikasi
resep formula enteral DM RSUD Banyumas.
Metodologi: Penelitian true experimental ini Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial (1 faktor) dengan faktor yang digunakan adalah modifikasi proporsi substitusi tempe:buah naga dengan
3 taraf perlakuan. Data nilai viskositas dianalisis menggunakan uji Welch ANOVA, jika ditemukan perbedaan signifikan, dilakukan Uji lanjut Games-Howell taraf 5%. Data nilai organoleptik dianalisis menggunakan uji Friedman. Jika ditemukan pengaruh signifikan, perlu dilakukan uji post-hoc Wilcoxon tahap 5%.
Hasil Penelitian: Modifikasi proporsi tempe dan buah naga merah berpengaruh nyata (p<0,05) pada seluruh parameter uji organoleptik (hedonik dan mutu hedonik dan berpengaruh nyata pada nilai viskositas yang diuji dengan viscometer dan uji alir menggunakan selang NGT Fr 18.
Kesimpulan: Modifikasi proporsi tempe dan buah naga merah berpengaruh nyata pada nilai organoleptik, nilai viskositas yang diuji dengan viscometer dan uji alir menggunakan selang NGT
Fr 18. Formula terbaik adalah sampel F3 dengan nilai viskositas dalam kategori honey-like (401,5 cP) menurut National Dysphagia Diet, dapat dikonsumsi secara oral dan melalui tube, memiliki
kandungan energi 1,2 kkal/ml, protein 15%, lemak 32,25%, karbohidrat 51,76%, dan serat 1,06%.
Takaran saji sebesar 250ml, dengan jumlah pemberian berkisar antara 3-7 kali tergantung pada kebutuhan energi pasien.
Background: Diabetes mellitus is highly prevalent in Indonesia, especially among the elderly with
chewing and swallowing difficulties. This study offers an alternative enteral formula using local
ingredients, tempeh and red dragon fruit, by modifying the DM formula used at RSUD Banyumas.
Methods: A true experimental design was conducted using a Completely Randomized Design (CRD)
with one factor: the proportion of tempe and red dragon fruit, tested in three formulation ratios.
Viscosity was analyzed using Welch ANOVA, followed by Games-Howell for significant results.
Organoleptic data were tested with Friedman, and significant outcomes were followed by Wilcoxon
tests.
Results: The formulation proportion of tempeh and red dragon fruit had a significant effect on all
organoleptic parameters and also has a significant effect on viscosity that measured using a
viscometer and feeding tube (NGT Fr 18).
Conclusions: The best formula is sample F3, with a viscosity of 401.5 cP, classified as honey-like
according to the National Dysphagia Diet, and can be used for oral (ONS) or tube feeding. This
formula provides 1.2 kcal/ml of energy, with 15% protein, 32.25% fat, 51.76% carbohydrates, and
1.06% fiber. One serving size is 250 ml, with a recommended frequency of 3–7 times per day
depending on the patient.
Keywords: Diabetes Mellitus, Enteral Formula, Red Dragon Fruit, Tempe
4615049512I1D021047Hubungan Pola Konsumsi Lemak, Tingkat Aktivitas Fisik, dan Pengetahuan Gizi terhadap Kadar Kolesterol Total (Studi Pada Penjamah Makanan Kantin Universitas Jenderal Soedirman)Hiperkolesterolemia merupakan salah satu penyebab kematian terbesar didunia dengan prevalensi hingga 7,6% pada penduduk indonesia. Faktor risiko hiperkolesterolemia antara lain; genetik, usia, jenis kelamin, status gizi, aktivitas fisik, pola konsumsi, serta faktor stres. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola konsumsi lemak, tingkat aktivitas fisik, dan pengetahuan gizi terhadap kadar kolesterol total pada penjamah makanan kantin di Universitas Jenderal Soedirman.Metodologi Desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel adalah penjamah makanan di 12 kantin Universitas Jenderal Soedirman sebanyak 60 responden sesuai kriteriapenelitian. Data didapatkan dengan wawancara menggunakan SQ-FFQ untuk mengetahui pola konsumsi lemak, kuesioner GPAQ untuk mengetahui tingkat aktivitas fisik, kuesioner pengetahuan untuk mengetahui nilai pengetahuan gizi, dan hasil pemeriksaan kadar kolesterol total dengan metodehand prick. Hasil dianalisis menggunakan ujifisher exactdengansignifikansi 0,05.Hasil Penelitian: Mayoritas responden memiliki pola konsumsi lemak yang tinggi (11,7%),memiliki tingkat aktivitas fisik ringan (13,3%), memiliki pengetahuan gizi yang kurang (56,7%)dan memiliki hiperkolesterolemia (20,0%). Tidak terdapat hubungan pola konsumsi lemak(p=0,619), tingkat aktivitas fisik (p=0,655), dan pengetahuan gizi (p=0,262) dengan kadar kolesterol total. Kesimpulan Tidak terdapat hubungan pola konsumsi lemak, tingkat aktivitas fisik, dan pengetahuan gizi dengan kadar kolesterol total.Background: Hypercholesterolemia is one of non-communicable diseases that is currently becoming a lead cause of death with prevalence of 7.6% among Indonesians. Hypercholesterolemia can be triggered by genetics, age, sex, nutritional status, physical activity, consumption patterns, and stress factors. This study aims to determine the relationship between fat consumption patterns, physical activity level, and nutritional knowledge with total cholesterol level among food handlers in the canteen of Jenderal Soedirman University, who are responsible for preparing and serving foods on a daily basis.

Methodology: Quantitative observational design with a cross-sectional approach. With a total sample of 99 food handlers based on inclusion and exclusion criteria. Data were obtained by interview using the SQ-FFQ for fat consumption patterns, GPAQ for physical activity level, Nutrition Knowledge Questionnaire for nutritional knowledge, and total cholesterol level measured using hand prick method. The results were analyzed using fisher exact test with significance of (0.05).

Results: The majority of respondents had a healthy fat consumption pattern (88.3%), engaged in high levels of physical activity (51.7%), had poor nutrition knowledge (56.7%), and had normal total cholesterol levels (56.7%). There was no significant relationship between fat consumption pattern (p=0.619) physical activity level (p=0.655), and nutritional knowledge (p=0.219) with total cholesterol levels.
Conclusion: There was no significant relationship between fat consumption pattern, physical activity level, and nutritional knowledge with total cholesterol levels.
4615149513L1C021007Percampuran Turbulen Vertikal Massa Air di Perairan Dewakang pada Bulan November 2014Perairan Dewakang merupakan salah satu area lintasan Arlindo, dimana dalam lintasannya banyak terjadi fenomena fisis, seperti perubahan karakteristik massa air dan percampuran turbulen vertikal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi profil hidrografi dan nilai ketidakstabilan kolom perairan serta estimasi nilai percampuran vertikal turbulen massa air di Perairan Dewakang. Penelitian ini menggunakan metode analisis Brunt Vaisala dan Thopre. Data hasil observasi Conductivity, Temperature, Depth (CTD) melalui Ekspedisi Widya Nusantara (EWIN 2014) pada pelayaran menggunakan Kapal Baruna Jaya VII pada bulan November 2014. Stratifikasi Perairan Dewakang menunjukkan nilai yang berbeda di setiap kedalaman dan parameter suhu sebagai penentu kolom lapisan. Teridentifikasi 4 massa air yaitu, Massa Air Lokal, Java Sea Water (JSW) dengan nilai 33,95-34,36 PSU, North Pacific Subtropical Water (NPSW) dengan ciri SMax antara 34,72-34,63 PSU dan North Pacific Intermediate Water (NPIW) dengan ciri SMin antara 34,47-34,52 PSU yang berasal dari massa air Pasifik Utara dibawa oleh Arlindo. Intensitas nilai turbulensi dan percampuran tertinggi ditemukan berada pada lapisan permukaan masing-masing mencapai nilai 10-7 W/kg dan 10-3 m²/s, hal ini terjadi karena terdapat interaksi topografi dan arus sehingga memicu terjadinya percampuran turbulen vertikal.Dewakang Waters is one of the transit areas of the Indonesian Throughflow (Arlindo), where many physical phenomena occur along its path, such as changes in water mass characteristics and vertical turbulent mixing. This study aims to identify the hydrographic profile and the water column instability values, as well as to estimate the vertical turbulent mixing values of the water masses in Dewakang Waters. The research uses Brunt Vaisala and Thorpe analysis methods. The data were obtained from Conductivity, Temperature, and Depth (CTD) observations during the Widya Nusantara Expedition (EWIN 2014), conducted using the Baruna Jaya VII research vessel in November 2014.Stratification in Dewakang Waters shows different values at each depth, with temperature acting as the main factor defining the water column layers. Four water masses were identified: Local Water, Java Sea Water (JSW) with salinity values of 33.95-34.36 PSU, North Pacific Subtropical Water (NPSW) characterized by a salinity maximum (SMax) of 34.63-34.72 PSU, and North Pacific Intermediate Water (NPIW) with a salinity minimum (SMin) of 34.47-34.52 PSU, all originating from North Pacific water carried by Arlindo. The highest turbulence intensity and mixing values were found in the surface layer, reaching 10-7 W/kg and 10-3 m²/s respectively, caused by topographic interactions and currents that triggered turbulent mixing.
4615249514K1A021068Aplikasi Senyawa C-4-Hidroksi-3-Metoksifenilkaliks[4]Pirogalolarena sebagai Adsorben Zat Warna Metilen BiruMetilen biru merupakan salah satu zat warna sintetis yang banyak digunakan dalam industri tekstil dan diketahui bersifat toksik, karsinogenik, serta mutagenik, sehingga memerlukan penanganan khusus sebelum dibuang ke lingkungan perairan. Adsorpsi merupakan metode yang sederhana dan cukup efektif untuk menghilangkan metilen biru dari limbah cair. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kemampuan dan kondisi optimum adsorpsi senyawa C-4-hidroksi-3metoksifenilkaliks[4]pirogalolarena (CHMFKP), yaitu turunan kaliksarena yang disintesis melalui reaksi kondensasi antara vanilin dan pirogalol dengan katalis asam menggunakan metode refluks. Senyawa CHMFKP diperoleh dalam bentuk padatan berwarna merah muda dengan rendemen 92,3% dan dikarakterisasi menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT), spektroskopi Fourier-transform infrared (FTIR), dan spektroskopi proton nuclear magnetic resonance (1H-NMR). Adsorpsi metilen biru oleh CHMFKP menunjukkan kondisi optimum pada pH 9 dengan waktu kontak selama 60 menit serta mengikuti model kinetika pseudo orde kedua. Model isoterm adsorpsi yang paling sesuai adalah isoterm Langmuir dengan kapasitas adsorpsi maksimum (qmaks) sebesar 26,976 mg/g dan energi adsorpsi sebesar 21,574 kJ/mol. Hasil ini menunjukkan bahwa CHMFKP berpotensi sebagai adsorben yang efektif untuk menghilangkan metilen biru dari larutan air. Methylene blue is a widely used synthetic dye in the textile industry and is known to be toxic, carcinogenic, and mutagenic, thus requiring proper treatment before disposal into aquatic environments. Adsorption is a simple and effective method for removing methylene blue from wastewater. This study investigates the adsorption capability and optimal conditions of C-4-hydroxy-3-methoxyphenyl calix[4]pyrogallolarene (CHMFKP), a calixarene derivative synthesized via a condensation reaction between vanillin and pyrogallol under acidic catalysis using the reflux method. The compound was obtained as a pink solid with a yield of 92.3% and characterized using thin-layer chromatography (TLC), Fourier-transform infrared (FTIR) spectroscopy, and proton nuclear magnetic resonance (1H-NMR) spectroscopy. Adsorption of methylene blue by CHMFKP was found to be optimal at pH 9 with a contact time of 60 minutes, and followed a pseudo-second-order kinetic model. The adsorption isotherm fitted the Langmuir model with a maximum adsorption capacity (qmax) of 26.976 mg/g and the energy adsorption is 21.574 kJ/mol. These results suggest that CHMFKP is a promising adsorbent for the removal of methylene blue from aqueous solutions.
4615349517A1D021206Analisis Genetik Kandungan Amilosa Berbasis Marka Fungsional pada Plasma Nutfah Padi IndonesiaPadi (Oryza sativa) merupakan tanaman pangan utama di Indonesia. Kandungan nutrisi tertinggi pada padi berupa karbohidrat, yang sebagian besar disusun oleh pati. Pati terdiri dari dua polisakarida yaitu amilosa dan amilopektin. Kandungan amilosa berpengaruh terhadap mutu tanak dan rasa nasi setelah dimasak, dan dikendalikan oleh gen Waxy (Wx) yang mengkode enzim GBSSI (granule-bound starch synthase I). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah primer W1W2 dan Wx-Ex6 dapat digunakan sebagai alat untuk mendeteksi gen Wx terkait kandungan amilosa pada 20 genotipe padi Indonesia. Metode penelitian yang digunakan meliputi ekstraksi DNA dari daun padi, amplifikasi marka W1W2 dan Wx-Ex6 dengan PCR pada 20 genotipe padi yang diuji. Variabel yang diamati meliputi keberadaan, jumlah, dan ukuran pita DNA, serta data phenotyping kandungan amilosa padi. Analisis data dilakukan berdasarkan kemunculan dan kesamaan ukuran pita DNA dengan referensi yaitu 741 bp (primer W1W2) dan 198/217 bp (primer Wx-Ex6). Selanjutnya dilakukan analisis keterkaitan antara data genotyping dan data phenotyping sehingga diketahui hubungan gen target yang mengkodekan sifat amilosa pada genotipe padi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa primer W1W2 tidak mampu membedakan kandungan amilosa karena seluruh genotipe menghasilkan pita DNA berukuran 741 bp. Sedangkan primer Wx-Ex6 dapat mendeteksi alel Ex6C (amilosa sedang) melalui pita DNA berukuran 198 bp, namun tidak dapat membedakan amilosa rendah dan tinggi karena keduanya menghasilkan pita DNA berukuran 217 bp.Rice (Oryza sativa) is the main food crop in Indonesia. The highest nutrient content in rice is carbohydrates, which are mostly composed of starch. Starch consists of two polysaccharides, namely amylose and amylopectin. The amylose content affects the quality of the tanak and the taste of rice after cooking, and is controlled by the Waxy (Wx) gene which encodes the GBSSI (granule-bound starch synthase I) enzyme. This study aims to find out whether W1W2 and Wx-Ex6 primers can be used as a tool to detect Wx genes related to amylose content in 20 Indonesian rice genotypes. The research methods used included DNA extraction from rice leaves, amplification of W1W2 and Wx-Ex6 markers with PCR on 20 rice genotypes tested. The observed variables included the presence, number, and size of DNA bands, as well as phenotyping data on the amylose content of rice. Data analysis was carried out based on the occurrence and similarity of DNA band size with references, namely 741 bp (W1W2 primary) and 198/217 bp (Wx-Ex6 primary). Furthermore, an analysis of the relationship between genotyping data and phenotyping data was carried out so that the relationship between the target gene that encodes the properties of amylose in the rice genotype was known. The results showed that the W1W2 primer was not able to differentiate the amylose content because the entire genotype produced a DNA band measuring 741 bp. While the Wx-Ex6 primer can detect the Ex6C allele (intermediate amylose) through a 198 bp DNA band, but it cannot distinguish between low and high amylose because both produce a 217 bp DNA band.
4615449521J0A022006Improving A Bilingual E-Booklet of Monumen Yogya Kembali Museum CollectionsLaporan tugas akhir yang berjudul “Improving A Bilingual E-Booklet of Monumen Yogya Kembali Museum Collections” membahas tentang kegiatan pelaksanaan kerja dan proses penyempurnaan e-booklet bilingual di Monumen Yogya Kembali (Monjali). E-booklet dua bahasa ini dibuat untuk menyempurnakan e-booklet yang sudah tersedia di website resmi Monumen Yogya Kembali. Tujuan utama dari e-booklet ini adalah untuk menyediakan cara yang mudah diakses bagi pengunjung museum untuk memahami deskripsi setiap koleksi dan untuk meningkatkan rasa nasionalisme mereka. Ditulis dalam dua bahasa, wisatawan mancanegara dapat mengakses e-booklet dengan memindai kode QR yang tersedia di resepsionis atau pintu masuk museum.

Proses pembuatan e-booklet dua bahasa ini terdiri dari beberapa langkah. Langkah pertama adalah pra-produksi yang meliputi empat metode yaitu observasi, wawancara, dokumentasi, dan pembuatan desain. Langkah kedua adalah produksi, yang meliputi proses hasil dari metode-metode tersebut dan pembuatan desain e-booklet. Langkah selanjutnya adalah revisi dan pasca produksi yang meliputi bimbingan untuk memperbaiki desain dan penerjemahan. Terakhir, e-booklet siap untuk dipublikasikan dan diimplementasikan.

Selama proses pembuatan e-booklet ini, penulis menghadapi beberapa kendala, seperti terbatasnya ketersediaan foto-foto koleksi museum dalam arsip Monjali, menerjemahkan teks sejarah ke dalam bahasa Inggris dengan tetap mempertahankan esensi, terbatasnya pengalaman dalam desain grafis, dan kurangnya motivasi. Oleh karena itu, penulis mengumpulkan dokumentasi yang tidak tersedia di arsip Monjali, berkonsultasi dengan dosen pembimbing untuk keakuratan penerjemahan, dan belajar desain grafis melalui kesempatan yang diberikan.
The job training report entitled “Improving A Bilingual E-Booklet of Monumen Yogya Kembali Museum Collections” discussed about job implementation activities and the process of improving a bilingual e-booklet at Monumen Yogya Kembali (Monjali). This bilingual e-booklet was created to improve the e-booklet that has been available on the official website of Monumen Yogya Kembali. The main purpose of this e-booklet was to provide an accessible way for museum visitors to understand the description of each collection and to increase their sense of nationalism. Written in bilingual format, foreign tourists can access the e-booklet by scanning the QR code available at the front desk or the entrance of the museum.

The process of making this bilingual e-booklet consisted of several steps. The first step was pre-production which included four methods such as observation, interviews, documentation, and design making. The second step was production, which included processing the results of the methods and making e-booklet designs. The next step was revision and post-production which included supervised guidance to improve the design and translation. Lastly, the e-booklet was ready to be published and implemented.

During the process of making this e-booklet, the author faced several obstacles, such as the limited availability of pictures of museum collections in Monjali archives, translating historical texts into English while maintaining the essence, limited experience in graphic design, and lack of motivation. Due to these obstacles, the author collected documentation that was not available in the Monjali archive, consulted with the supervisors for translation accuracy, and learned graphic design through the opportunities given.
4615549522L1C021008Percampuran Turbulen Vertikal Massa Air di Perairan Teluk Lasolo, Sulawesi Tenggara Pada Bulan Juli Tahun 2011Teluk Lasolo merupakan laut semi tertutup yang terhubung dengan Laut Banda dan Laut Seram, yang keduanya merupakan bagian dari Arus Lintas Indonesia (Arlindo). Penelitian ini bertujuan mengkaji profil hidrografi dan menguantifikasi percampuran massa air di Teluk Lasolo. Data diperoleh dari observasi langsung Conductivity, Temperature, and Depth (CTD) pada Ekspedisi Widya Nusantara (Juli 2011) menggunakan KR. Baruna Jaya VIII serta data arus model HYCOM. Analisis dilakukan dengan pembagian lapisan kolom perairan sesuai stratifikasi, identifikasistruktur massa air melalui Diagram TS dan divalidasi dengan profil arus, serta estimasi percampuran massa air berdasarkan nilai laju disipasi energi kinetik turbulen (𝜀) dan difusivitas eddy vertikal (𝐾ρ). Hasil menunjukkan pola stratifikasi terdiri dari lapisan tercampur, termoklin, dan dalam. Lapisan termoklin memiliki intensitas percampuran tertinggi (𝜀 ~10⁻⁸ W/kg; 𝐾ρ ~10⁻⁴ m²/s) dan teridentifikasi massa air North Pacific Subtropical Water (SMax 34,64 PSU). Lapisan dalam memiliki percampuran rendah (𝜀 ~10⁻⁹ W/kg; 𝐾ρ ~10⁻⁵ m²/s) dengan massa air North Pacific Intermediate Water (SMin 34,52 PSU). Nilai salinitas menunjukkan transformasi akibat percampuran massa air yang masuk ke Teluk Lasolo.Lasolo Bay is a semi-enclosed sea connected to the Banda and Seram Seas, both part of the Indonesian Throughflow (Arlindo). This study investigates the hydrographic profile and quantifies vertical water mass mixing in Lasolo Bay. Data were obtained from Conductivity, Temperature, and Depth (CTD) observations during the Widya Nusantara Expedition (July 2011) aboard R/V Baruna Jaya VIII and current data from the HYCOM model. Analysis included stratification-based layer division, water mass identification using the TS Diagram validated by current profiles, and estimation of mixing from turbulent kinetic energy dissipation rate (𝜀) and vertical eddy diffusivity (𝐾ρ). The water column consists of mixed, thermocline, and deep layers. The thermocline shows the highest mixing (𝜀 ~10⁻⁸ W/kg; 𝐾ρ ~10⁻⁴ m²/s) with North Pacific Subtropical Water (SMax 34.64 PSU), while the deep layer has low mixing (𝜀 ~10⁻⁹ W/kg; 𝐾ρ ~10⁻⁵ m²/s) with North Pacific Intermediate Water (SMin 34.52 PSU). Salinity indicates transformation due to incoming water mass mixing.
4615649523H1D021074KLASIFIKASI KUALITAS BERAS PADA WILAYAH KABUPATEN BANYUMAS BERDASARKAN PARAMETER FISIK MENGGUNAKAN METODE DECISION TREEPenelitian ini bertujuan untuk mengklasifikasikan kualitas beras di wilayah Kabupaten Banyumas berdasarkan parameter fisik seperti warna, ukuran, keutuhan, dan kebersihan menggunakan metode Decision Tree. Metode ini dipilih karena kemampuannya dalam menyederhanakan proses klasifikasi dan memberikan hasil yang cepat dan akurat. Data dikumpulkan dari 12 kecamatan terpilih melalui teknik stratified dan purposive sampling, dengan total 180 sampel beras yang terdiri dari tiga kategori yaitu Pandan Wangi (Premium), IR (Medium), dan beras kelas rendah. Penilaian parameter dilakukan secara visual dan diberi bobot sesuai tingkat kepentingannya. Data kemudian diproses dan dibagi menjadi data latih dan data uji dengan rasio 80:20. Hasil klasifikasi menunjukkan bahwa model Decision Tree mampu mencapai akurasi model sebesar 88,89%, dengan nilai precision sebesar 0,90, recall 0,89, dan F1-score 0,89. Sistem klasifikasi dikembangkan dalam bentuk aplikasi berbasis web menggunakan Streamlit. Berdasarkan evaluasi System Usability Scale (SUS), diperoleh rata-rata skor sebesar 75,0 yang termasuk kategori Grade B, menandakan bahwa sistem memiliki tingkat kegunaan yang baik. Penelitian ini menunjukkan bahwa metode Decision Tree efektif dalam melakukan klasifikasi kualitas beras dan sistem yang dibangun memiliki potensi untuk diterapkan sebagai alat bantu informatif bagi konsumen dalam menentukan kualitas beras secara cepat dan tanpa memerlukan alat pengujian khusus. Sistem ini berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut guna mendeteksi homogenitas kualitas beras, sehingga memungkinkan identifikasi beras oplosan secara lebih akurat dan mendukung upaya peningkatan keamanan pangan.This study aims to classify the quality of rice in the Banyumas Regency based on physical parameters such as color, size, integrity, and cleanliness using the Decision Tree method. This method was chosen for its ability to simplify the classification process and provide fast and accurate results. Data was collected from 12 selected sub-districts using stratified and purposive sampling techniques, with a total of 180 rice samples divided into three categories: Pandan Wangi (Premium), IR (Medium), and low-grade rice. Parameter assessments were conducted visually and weighted according to their level of importance. The data was then processed and divided into training and testing data with a ratio of 80:20. The classification results showed that the Decision Tree model achieved an accuracy of 88,89%, with a precision value of 0.90, recall of 0.89, and F1-score of 0.89. The classification system was developed in the form of a web-based application using Streamlit. Based on the System Usability Scale (SUS) evaluation, an average score of 75.0 was obtained, which falls into the Grade B category, indicating that the system has a good level of usability. This study demonstrates that the Decision Tree method is effective in classifying rice quality, and the developed system has the potential to be applied as an informative tool for consumers to quickly determine rice quality without requiring specialized testing equipment. This system has the potential to be further developed to detect the homogeneity of rice quality, thereby enabling more accurate identification of adulterated rice and supporting efforts to improve food safety.
4615749524C1C021036PENGARUH KOMPLEKSITAS OPERASI, KEY AUDIT MATTERS, FINANCIAL DISTRESS, DAN SUBSEQUENT EVENT TERHADAP AUDIT DELAYPenelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis pengaruh kompleksitas operasi, key audit matters, financial distress, dan subsequent event terhadap audit delay pada perusahaan sektor property dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2022-2023. Penelitian ini juga menggunakan teori keagenan dan teori kepatuhan sebagai landasan teori. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder berupa laporan keuangan dan laporan auditor independen. Populasi pada penelitian ini adalah 92 perusahaan dan sampel penelitian sebanyak 106 perusahaan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan menggunakan SPSS 26 berupa statistik deskriptif, analisis regresi logistik, uji keseluruhan model, uji goodness of fit, koefisien determinasi, dan uji wald. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Kompleksitas operasi tidak berpengaruh terhadap audit delay, 2) Key audit matters berpengaruh negatif dan signifikan terhadap audit delay, 3) Financial distress berpengaruh negatif dan signifikan terhadap audit delay, 4) Subsequent event tidak berpengaruh terhadap audit delay.This research aims to examine and analyze the effect of operating complexity, key audit matters, financial distress, and subsequent event on audit delay in property and real estate companies listed on the Indonesian Stock Exchange in 2022-2023. This research also uses agency theory and compliance theory as theoretical basis. The type of data used is secondary data in the form of financial reports and independent auditor reports. The population of this research consistsed of 92 companies, and the research sample includes 106 companies selected using purposive sampling techinque. Data analysis is conducted using SPSS 26 in the form of descriptive statistic, logistic regression analysis, overall model fit, godness of fit test, coefficient of determination, and Wald test. The results of this research indicate that: 1) Operating complecity has no effect on audit delay. 2) Key audit matters have a negative and significant effect on audit delay. 3) Financial distress have a negative and significant effect on audit delay. 4) Subsequent event has no effect on audit delay.
4615849526A1C021031PENGARUH KEMIRINGAN PADA HIDROPONIK NUTRIENT FILM TECHNIQUE (NFT) TERHADAP KADAR OKSIGEN TERLARUT DALAM TALANG SERTA PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN BUNGA KOL DI DATARAN RENDAHBunga kol (Brassica oleracea var. botrytis L.) adalah sayuran dari famili Cruciferae yang menghasilkan bunga. Di Indonesia, produksinya masih terbatas karena umumnya dibudidayakan di dataran tinggi. Namun, berkat pengembangan kultivar yang toleran terhadap suhu tinggi seperti PM 3000 F1, Larisa F1, PM 126 F1, dan Diamond 40, budidaya di dataran rendah kini memungkinkan. Budidaya di lahan terbuka sangat bergantung pada iklim, seperti suhu, kelembapan, cahaya, dan curah hujan, yang sering menyebabkan hasil tidak optimal. Sistem hidroponik Nutrient Film Technique (NFT) menjadi salah satu solusi untuk mengatasi kondisi tersebut, karena mampu menyediakan nutrisi, oksigen, dan air secara kontinu ke akar tanaman. Meski demikian, penelitian yang membahas secara spesifik hubungan antara kemiringan talang NFT dengan kadar oksigen terlarut serta dampaknya terhadap pertumbuhan dan hasil bunga kol masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kemiringan talang berbeda terhadap kadar oksigen, pertumbuhan, dan hasil bunga kol di dataran rendah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor yaitu kemiringan talang (4%, 7%, 10%) dan varietas bunga kol (PM 3000 F1, Larisa F1, PM 126 F1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas Larisa F1 dan kemiringan 7% memberikan hasil terbaik pada pertumbuhan bunga kol, sehingga direkomendasikan untuk sistem NFT di dataran rendah.Cauliflower (Brassica oleracea var. botrytis L.) is a vegetable from the Cruciferae family that produces edible flowers. In Indonesia, its production remains limited as it is generally cultivated in highland areas. However, with the development of high-temperature-tolerant cultivars such as PM 3000 F1, Larisa F1, PM 126 F1, and Diamond 40, cultivation in lowland areas is now possible. Open-field cultivation is highly dependent on climatic factors such as temperature, humidity, light intensity, and rainfall, which often result in suboptimal yields. The Nutrient Film Technique (NFT) hydroponic system offers a promising solution to these challenges by continuously supplying nutrients, oxygen, and water directly to the plant roots. Nevertheless, research specifically examining the relationship between NFT channel slope and dissolved oxygen levels, and its impact on the growth and yield of cauliflower, remains limited. This study aims to evaluate the effect of different NFT channel slopes on dissolved oxygen, growth, and yield of cauliflower cultivated in lowland conditions. The experiment was arranged in a Completely Randomized Design (CRD) with two factors: channel slope (4%, 7%, and 10%) and cauliflower varieties (PM 3000 F1, Larisa F1, and PM 126 F1). Results showed that Larisa F1 combined with a 7% slope yielded the best cauliflower growth making it the recommended combination for lowland NFT cultivation.
4615949525K1B021044PEMODELAN PREMI ASURANSI KEMATIAN TERNAK SAPI
DENGAN FAKTOR FATAL SHOCK
Usaha ternak sapi di Indonesia merupakan komoditas utama dalam subsektor peternakan. Namun, peternak masih dihadapkan risiko kerugian akibat penyakit menular yang menyebabkan kematian ternak. Untuk memitigasi risiko tersebut, diperlukan model premi asuransi ternak yang akurat. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan premi asuransi kematian ternak dengan faktor fatal shock. Model berupa distribusi gabungan variabel acak sisa masa hidup sapi (distribusi binomial) dan pengaruh fatal shock (distribusi degenerasi) akibat penyakit menular, dengan parameter yang diestimasi secara maksimum. Fungsi massa peluang dari distribusi banyaknya ternak yang mati pada periode tertentu dimodifikasi menggunakan polis asuransi yaitu deductible, maximum covered loss, limit polis, dan koasuransi. Perhitungan premi dilakukan menggunakan metode premi murni. Hasil menunjukkan bahwa harga premi dipengaruhi oleh ekspetasi kerugian, persentase konstan dari LAE, biaya tetap, standar deviasi kerugian dan keuntungan operasional perusahaan dari harga premi. Cattle farming in Indonesia is a major commodity in the livestock subsector. However, breeders still face the risk of losses due to contagious diseases that cause livestock deaths. To mitigate this risk, an accurate insurance premium model for livestock is needed. This research aims to model the insurance premium for livestock mortality with a fatal shock factor. The model is a compound distribution of the random variable for cattle's remaining lifespan (binomial distribution) and the effect of fatal shock (degenerate distribution) due to contagious diseases, with parameters estimated using maximum likelihood. The probability mass function of the number of livestock deaths in a certain period is modified using insurance policies, namely deductible, maximum covered loss, policy limit, and coinsurance. The premium calculation is performed using the pure premium method. The results show that the premium price is influenced by the expected loss, a constant percentage of LAE, fixed costs, loss standard deviation, and the company's operational profit from the premium price.
4616049527C1G020029ANALYSIS OF THE INFLUENCE OF HUMAN DEVELOPMENT INDEX, ECONOMIC GROWTH,
AND CORRUPTION ON POVERTY RATES IN 5 LOWER MIDDLE INCOME COUNTRIES IN
ASEAN IN 2018-2023
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Indeks Pembangunan Manusia (IPM),
pertumbuhan ekonomi, dan tingkat korupsi terhadap kemiskinan di lima negara ASEAN
dengan penghasilan menengah ke bawah, yaitu Indonesia, Vietnam, Filipina, Kamboja, dan
Laos, antara tahun 2018 hingga 2023. Dengan menggunakan analisis regresi data panel,
penelitian ini mengidentifikasi hubungan signifikan antara faktor-faktor tersebut dan
kemiskinan. Data sekunder dari Transparency International, Bank Dunia, dan UNDP digunakan
dalam analisis ini, yang melibatkan uji Chow, Hausman, dan Lagrange Multiplier untuk memilih
model yang paling sesuai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa IPM memiliki pengaruh negatif
terhadap kemiskinan, menunjukkan pentingnya peningkatan standar hidup, kesehatan, dan
pendidikan. Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi terbukti memiliki dampak negatif signifikan
terhadap kemiskinan, sementara tingkat korupsi berpengaruh positif terhadap kemiskinan.
Berdasarkan temuan ini, disarankan agar negara-negara tersebut memprioritaskan
pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, pengembangan manusia, serta kebijakan anti
korupsi yang lebih tegas guna mengurangi kemiskinan secara inklusif.
This study aims to analyze the impact of the Human Development Index (HDI), economic
growth, and corruption on poverty in five lower-middle-income ASEAN countries: Indonesia,
Vietnam, the Philippines, Cambodia, and Laos, between 2018 and 2023. Using panel data
regression analysis, this research identifies significant relationships between these factors and
poverty. Secondary data from Transparency International, the World Bank, and UNDP were
used in this analysis, which involved Chow, Hausman, and Lagrange Multiplier tests to
determine the most appropriate model. The findings reveal that HDI negatively affects poverty,
emphasizing the importance of improving living standards, health, and education. On the other
hand, economic growth has a significant negative impact on poverty, while corruption levels
have a positive impact on poverty. Based on these findings, it is recommended that these
countries prioritize sustainable economic growth, human development, and stricter anti
corruption policies to ensure inclusive poverty reduction.