Artikelilmiahs

Menampilkan 44.101-44.120 dari 48.761 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4410147488F1B021052EFEKTIVITAS INOVASI “KANCIL NARI” (KANTOR
IMIGRASI CILACAP LAYANAN PRIORITAS) DALAM
PEMENUHAN PELAYANAN PASPOR KELOMPOK RENTAN
DI KANTOR IMIGRASI KELAS I CILACAP
Diskriminasi pelayanan publik yang masih kerap terjadi menghambat
penyelenggaraan pelayanan publik berbasis Ramah Hak Asasi Manusia (HAM)
berperspektif keadilan. Upaya Kantor Imigrasi Kelas I
Cilacap dalam
penyelenggaran pelayanan publik ramah HAM, khususnya pelayanan paspor
melalui penerapan Inovasi “Kancil Nari” (Kantor Imigrasi Cilacap Layanan
Prioritas). Tujuan penelitian untuk mengetahui sejauh mana efektivitas Inovasi
“Kancil Nari” dalam pemenuhan pelayanan paspor bagi kelompok rentan melalui
konsep efektivitas dengan pendekatan sistem menurut Jogiyanto, berdasarkan
aspek: input, proses, dan output. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif
deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan
dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan Inovasi “Kancil Nari” efektif memenuhi
pelayanan paspor kelompok rentan di Kantor Imigrasi Kelas I Cilacap, namun
belum sepenuhnya optimal. Perlu ada peningkatan dan pembenahan pada dasar
hukum layanan, fasilitas, dan waktu penyelesaian layanan.
Discrimination in public services that still often occur hinders the implementation
of public services based on human rights that have a justice perspective. The efforts
by Kantor Imigrasi Kelas I Cilacap in implementing human rights public services
especially passport services through the implementation of the "Kancil Nari"
Innovation (Kantor Imigrasi Cilacap Layanan Prioritas). The purpose of this study
was to determine the extent of the effectiveness of the "Kancil Nari" Innovation in
fulfilling passport services for vulnerable groups through the concept of the
effectiveness of the system approach according to Jogiyanto, based on the aspects:
input, process, and output. This study used a descriptive qualitative method with
data collection techniques through interviews, observations, and documentation.
The results of the study showed that the "Kancil Nari" Innovation was effective in
fulfilling passport services for vulnerable groups at the Kantor Imigrasi Kelas I
Cilacap, but was not yet fully optimal. There needs to be improvement and
improvement in the legal basis of services, facilities, and service completion time.
4410247489C1B021063Pengaruh Penggunaan Fitur Live Streaming dan Kesadaran Merek Terhadap Minat Beli dengan Persepsi Kualitas sebagai Variabel Mediasi pada Merek BarenblissPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran mediasi persepsi kualitas pada penggunaan fitur live streaming dan kesadaran merek dalam memengaruhi minat beli produk Barenbliss. Sampel pada penelitian ini adalah sebanyak 186 responden dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dengan menggunakan analisis Structural Equation Modeling (SEM) yang diolah dengan software SmartPLS 3.0 menunjukkan bahwa : (1) Live streaming berpengaruh positif terhadap persepsi kualitas; (2) Kesadaran merek berpengaruh positif terhadap persepsi kualitas; (3) Persepsi kualitas berpenaruh positif terhadap minat beli; (4) Live streaming berpengaruh positif terhadap niat beli; (5) Kesadaran merek berpengaruh positif terhadap minat beli; (6) Persepsi kualitas memediasi hubungan antara live streaming dan minat beli; dan (7) Persepsi kualitas memediasi hubungan antara kesadaran merek dan minat beliThis study aims to determine the mediating role of perceived quality on using the live streaming feature and brand awareness in influencing the purchase intention of Barenbliss products. The sample in this study was 186 respondents with a sampling technique using purposive sampling. Based on the results of research conducted using Structural Equation Modeling (SEM) analysis processed with SmartPLS 3.0 software shows that: (1) Live Streaming has a positive effect on Perceived Quality; (2) Brand Awareness has a positive effect on Perceived Quality; (3) Perceived Quality has a positive effect on Purchase Intention (4) Live Streaming has a positive effect on Purchase Intention (5) Brand Awareness has a positive effect on Purchase Intention (6) Perceived Quality can mediate Live Streaming and Purchase Intention (7) Perceived Quality can mediate Brand Awareness and Purchase Intention
4410347490F1B021023Efektivitas Penerapan Aplikasi Massive Open Online Course (MOOC) Dalam Pengembangan Kompetensi Pegawai Negeri Sipil Di Kantor Imigrasi Kelas I TPI CilacapSalah satu wujud dari Coorporate University Kemenkumham untuk memenuhi hak pengembangan kompetensi pegawai yakni memanfaatkan sebuah cara seperti aplikasi sesuai dengan kebutuhan instansi tersebut seperti halnya di Kantor Imigrasi Kelas I TPI Cilacap yang merupakan instansi dibawah naungan Kemenkumham yakni dengan aplikasi Massive Open Online Course (MOOC). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan efektivitas penerapan aplikasi Massive Open Online Course (MOOC) dalam pengembangan kompetensi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kantor Imigrasi Kelas I TPI Cilacap. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik purposive sampling untuk memilih PNS yang menjadi subjek penelitian. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan MOOC dalam pengembangan kompetensi PNS di Kantor Imigrasi Cilacap telah berjalan efektif, dengan 56 pegawai mengikuti program ini. Beberapa pegawai juga mengungkapkan bahwa pembelajaran tatap muka lebih efektif untuk pemahaman yang lebih baik dibandingkan dengan hanya melalui metode online. Secara keseluruhan, penerapan aplikasi MOOC sudah dianggap efektif, meskipun perlu perbaikan dalam pengawasan dan pemecahan masalah teknis.One of the manifestations of the Kemenkumham Corporate University to fulfill the right to develop employee competence is to utilize a method such as an application according to the needs of the agency as is the case at the Cilacap Class I TPI Immigration Office which is an agency under the auspices of the Ministry of Law and Human Rights, namely the Massive Open Online Course (MOOC) application. This study aims to describe the effectiveness of the application of Massive Open Online Course (MOOC) in developing the competence of Civil Servants (PNS) at the Immigration Office Class I TPI Cilacap. The method used is descriptive qualitative with purposive sampling technique to select civil servants who become research subjects. Data were collected through interviews, observation, and documentation. The results showed that the application of MOOC in developing civil servant competencies at the Cilacap Immigration Office has been effective, with 56 employees participating in this program. Some employees also revealed that face-to-face learning is more effective for better understanding compared to only through online methods. Overall, the implementation of MOOC application has been considered effective, although it needs improvement in supervision and technical problem solving.
4410447491I1A021004FAKTOR-FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN TERHADAP KEJADIAN HIPERTENSI PADA USIA PRODUKTIF DI KELURAHAN PASIR MUNCANG KECAMATAN PURWOKERTO BARAT TAHUN 2024Latar Belakang : Hipertensi di usia produktif merupakan penyakit tidak menular dengan faktor risiko yang bermacam-macam, penyakit Hipertensi ini merupakan penyakit tidak menular tertinggi di kelurahan Pasir Muncang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor risiko yang berpengaruh terhadap Kejadian Hipertensi pada usia produktif di wilayah Kelurahan Pasir Muncang Kecamatan Purwokerto Barat tahun 2024. Untuk usia produktif yang diteliti ini rentang usianya berusia 15-59 tahun.

Metodologi : Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian observasional analitik secara retrospektif dengan desain kasus kontrol, penelitian dilakukan dari bulan Oktober hingga bulan Desember 2024. Menggunakan rumus lemeshow yang menghasilkan 116 sampel penelitian. Data yang tidak berdistribusi tidak normal lalu dilanjukan analisis univariat dan bivariat menggunakan chi-square.
Hasil Penelitian : Variabel konsumsi rokok (0,000), pola makan (0,005), paparan asap rokok (0,001), kualitas tidur (0,004), aktifitas fisik (0,002), memiliki hubungan yang signikan dengan kejadian hipertensi di Kelurahan Pasir Muncang karena memiliki nilai p-value nya < 0,05.
Kesimpulan: Faktor-faktor risiko yang berkaitan dengan kejadian Hipertensi di Kelurahan Pasir Muncang yaitu konsumsi rokok, pola makan, paparan asap rokok, kualitas tidur, dan aktifitas fisik memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian hipertensi pada usia produktif di Kelurahan Pasir Muncang. Hipertensi mulai merambah ke usia produktif bukan hanya lansia, stakeholder sendiri bisa membantu masyarakat untuk mencegah hipertensi.
Kata Kunci : Hipertensi, Pola Makan, Usia Produktif, Pasir Muncang.

Background : Hypertension in productive age is a non-communicable disease with various risk factors. Hypertension is the highest non-communicable disease in Pasir Muncang sub-district. This study aims to analyze the relationship between risk factors that influence the incidence of hypertension in productive age in the Pasir Muncang subdistrict, Purwokerto Barat subdistrict in 2024. For the productive age group studied, the age range was 15-59 years.
Methods : The research design used in this study was a retrospective analytical observational study with a case control design. The research was conducted in Pasir Muncang Village, Purwokerto Barat subdistrict, Banyumas Regency from October to December 2024. Using the lemeshow formula which resulted in 116 research samples. Data that were not normally distributed were then subjected to univariate and bivariate analysis using chi-square.
Results : The variables cigarette consumption (0.000), diet (0.005), exposure to cigarette smoke (0.001), sleep quality (0.004), physical activity (0.002), have a significant relationship with the incidence of hypertension in Pasir Muncang Village because they have a p-value. < 0.05.
Conclusion : Risk factors related to the incidence of hypertension in Pasir Muncang Subdistrict, namely cigarette consumption, diet, exposure to cigarette smoke, sleep quality, and physical activity have a significant relationship with the incidence of hypertension in productive age in Pasir Muncang Subdistrict. Hypertension is starting to spread to the productive age group, not just the elderly, stakeholders themselves can help the community to prevent hypertension.
Keywords : Hypertension, Diet, Productive Age, Pasir Muncang.
4410547492J1B020053MAKNA KULTURAL DALAM JEMPARINGAN MATARAMAN GAGRAG KERATON YOGYAKARTA (KAJIAN ETNOLINGUISTIK)
Daerah Istimewa Yogyakarta adalah salah satu provinsi yang ada di Indonesia. Yogyakarta terkenal dengan provinsi yang kaya akan budaya dan kesenian. Salah satunya adalah jemparingan mataraman gagrag Keraton Yogyakarta. Sebagai seni bela diri yang bertujuan untuk membangun pendidikan karakter, jemparingan mataraman gagrag Keraton Yogyakarta memiliki makna mendalam yang memuat bagaimana nilai-nilai budaya lokal Yogyakarta khususnya Keraton Yogyakarta dapat termuat dalam sebuah olahraga. Penelitian ini disusun untuk dapat mengetahui apa makna leksikal, makna kultural, dan nilai kebudayaan yang ada pada jemparinngan mataraman gagrag Keraton Yogyakarta. Dalam metodenya pengambilan data pada penelitian ini dilakukan dengan cara menyimak data kebahasaan yang terkait dengan jemparingan mataraman gagrag Keraton Yogyakarta. Kemudian dilanjutkan dengan wawancara secara tidak langsung menggunakan media komunikasi daring untuk wawancara mendalam. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode padan intralingual dan ekstralingual dengan memanfaatkan kamus bahasa sebagai alat padanannya dan pengetahuan lokal untuk membandingkan makna kamus dan makna budayanya. Hasil analisis dari data pada penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat satuan-satuan lingual yang terdiri dari bentuk kata dasar, kata berimbuhan, dan frasa. Dapat disimpulkan juga bahwa jemparingan mataraman gagrag Keraton Yogyakarta memiliki nilai-nilai budaya seperti nilai pendidikan, nilai religius, nilai historis, nilai kebersamaan, dan nilai kebudayaan lokal yang dapat ditemukan pada setiap aspek kegiatannya.The Special Region of Yogyakarta is one of the provinces in Indonesia. Yogyakarta is famous for its rich culture and arts. One of them is jemparingan mataraman gagrag Keraton Yogyakarta. As a an art that aims to build character education, jemparingan mataraman gagrag Keraton Yogyakarta has a deep meaning that contains how the local cultural values of Yogyakarta, especially the Keraton Yogyakarta Palace culture, can be contained in a sport This research was organized to find out what the lexical meaning, cultural meaning, and cultural values are in jemparinngan mataraman gagrag Keraton Yogyakarta. The method of data collection in this study was carried out by listening to the lighting data related to jemparingan mataraman gagrag Keraton Yogyakarta. Then followed by indirect interviews using online communication media for in-depth interviews. The analysis used in this research is the intra-lingual and extralingual method by utilizing the language dictionary as an equivalent tool and local knowledge to compare the dictionary meaning and its cultural meaning. The results of the data analysis in this study show that there are lingual units consisting of basic words, affixed words, and phrases. It can also be concluded that jemparingan mataraman gagrag Keraton Yogyakarta has cultural values such as educational values, religious values, historical values, togetherness values, and local cultural values that can be found in every aspect of its activities.
4410647494A1A021010EFEKTIVITAS GERAKAN NASIONAL PENGENDALIAN INFLASI PANGAN (GNPIP) BANK INDONESIA TERHADAP STABILITAS HARGA PANGAN DI KABUPATEN BANYUMASPangan strategis merupakan komoditas yang posisinya sangat kuat pada pembentukan angka inflasi. Komoditas pangan yang mempengaruhi tingkat inflasi di wilayah Kabupaten Banyumas terdiri dari tiga jenis yaitu cabai rawit, bawang merah, dan beras (Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, 2023). Komitmen pemerintah dalam menjaga kestabilan inflasi diwujudkan dalam Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP), yaitu program yang dipelopori oleh Bank Indonesia yang berkolaborasi dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). GNPIP di Kabupaten Banyumas direalisasikan melalui Gerakan Pangan Murah dan Operasi Pasar oleh Bank Indonesia Purwokerto untuk menjaga stabilitas harga pangan di Kabupaten Banyumas. Ketidakstabilan harga pangan dapat berpengaruh pada lemahnya ketahanan pangan, sehingga mengakibatkan lonjakan angka kemiskinan. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis efektivitas dan mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat efektivitas Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) Bank Indonesia terhadap stabilitas harga pangan di Kabupaten Banyumas.
Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif analisis. Data yang diambil merupakan data primer dan data sekunder. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling dimana informan dalam penelitian berjumlah 40 orang yang meliputi 5 orang key informan dari Bank Indonesia, 5 orang responden dari Tim Pengendalian Inflasi Daerah Kabupaten Banyumas, dan 30 orang responden pedagang komoditas beras, bawang merah dan cabai rawit di Pasar Wage, Pasar Manis dan Pasar Sokaraja. Analisis pada penelitian ini yaitu analisis deskriptif, model evaluasi CIPP (Context, Input, Process, and Product), Uji Kaiser Meyer Olkin dan Bartlett’s Test of Sphericity, analisis Total Variance Explained, serta analisis Rotated Component Matrix.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) Bank Indonesia terhadap stabilitas harga pangan di Kabupaten Banyumas telah berjalan efektif sesuai dengan hasil evaluasi CIPP sebesar 80,89% yang meliputi efektivitas context berjumlah 80,83%, efektivitas input berjumlah 79,33%, efektivitas process berjumlah 77,75%, dan efektivitas product berjumlah 85,5%. Berdasarkan dua belas pernyataan yang diukur, hasil analisis disederhanakan menjadi empat faktor pendukung yang dominan mempengaruhi efektivitas Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) Bank Indonesia terhadap stabilitas harga pangan di Kabupaten Banyumas meliputi pelaksanaan GNPIP yang sesuai rencana, tim operasional yang kompeten, ketersediaan pasokan cabai rawit, bawang merah, dan beras pasca GNPIP, serta peran pedagang komoditas pangan dalam menjaga kestabilan harga. Sementara untuk faktor penghambat yaitu sulitnya mencari pemasok komoditas pangan dari dalam Kabupaten Banyumas ketika terjadi lonjakan harga.
Strategic food is a commodity with a very strong position in the formation of the inflation rate. Food commodities that affect the inflation rate in Banyumas Regency consist of three types, namely cayenne pepper, shallots, and rice (Department of Agriculture and Food Security, 2023). The government's commitment to maintaining stable inflation is manifested in the National Food Inflation Control Movement (GNPIP), a program pioneered by Bank Indonesia in collaboration with the Regional Inflation Control Team (TPID). GNPIP in Banyumas Regency was realized through the Cheap Food Movement and Market Operations by Bank Indonesia Purwokerto to maintain food price stability in Banyumas Regency. Food price instability can affect the weakness of food security, resulting in a spike in the poverty rate. The purpose of this study is to analyze the effectiveness and identify the supporting and inhibiting factors of the effectiveness of Bank Indonesia's National Food Inflation Control Movement (GNPIP) on food price stability in Banyumas Regency.
The method used in this research is descriptive analysis. The data taken are primary data and secondary data. The sampling technique in this study used purposive sampling where the informants in the study amounted to 40 people, including 5 key informants from Bank Indonesia, 5 respondents from the Regional Inflation Control Team of Banyumas Regency, and 30 respondents of rice, shallot and cayenne pepper commodity traders in Pasar Wage, Pasar Manis and Pasar Sokaraja. The analysis in this research is descriptive analysis, CIPP evaluation model (Context, Input, Process, and Product), Kaiser Meyer Olkin Test and Bartlett's Test of Sphericity, Total Variance Explained analysis, and Rotated Component Matrix analysis.
The results showed that Bank Indonesia's National Movement for Food Inflation Control (GNPIP) on food price stability in Banyumas Regency has been running effectively according to the results of the CIPP evaluation of 80.89% which includes context effectiveness totaling 80.83%, input effectiveness totaling 79.33%, process effectiveness totaling 77.75%, and product effectiveness totaling 85.5%. Based on the twelve statement indicators measured, the analysis results are simplified into four supporting factors that dominantly influence the effectiveness of Bank Indonesia's National Movement for Food Inflation Control (GNPIP) on food price stability in Banyumas Regency, including the implementation of GNPIP according to plan, a competent operational team, the availability of supply of cayenne pepper, shallots, and rice after GNPIP, and the role of food commodity traders in maintaining price stability. Meanwhile, the inhibiting factor is the difficulty in finding food commodity suppliers from within Banyumas Regency when price spikes occur.
4410747495I1J021014EFFECTIVENESS AUDIO VISUAL EDUCATION ON THE PAIN SCALE POST SECTIO CAESAREA PATIENTS AT RSUD
PROF. DR. MARGONO SOEKARJO
Latar Belakang Penelitian : Nyeri Post Sectio Caesarea (SC) dapat menghambat mobilisasi dini yaitu penting untuk mencegah berbagai komplikasi. Metode pendidikan konvensional dinilai kurang
efektif dalam membantu pasien memahami cara menangani nyeri pasca SC. Pendidikan audiovisual memiliki
berpotensi untuk meningkatkan pemahaman pasien, tetapi bukti mengenai efektivitasnya untuk pasca-SC pasien masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pendidikan audiovisual dalam mengurangi nyeri pada pasien pasca SC.
Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan desain eksperimen semu
dengan pendekatan pre-test post-test baik untuk kelompok intervensi maupun kontrol. Sampel penelitian terdiri dari 34 pasien pasca SC, dibagi menjadi kelompok intervensi (n=17) dan kelompok kontrol (n=17) menggunakan Pengambilan Sampel Acak Proporsional. Data dikumpulkan dengan menggunakan Numeric Rating Scale (NRS). Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan skor NRS yang signifikan pada intervensi kelompok dibandingkan dengan kelompok kontrol pada semua interval pengukuran, dengan nilai p <0,05. intervensi terbukti efektif dalam mengurangi skor NRS (skala nyeri) pada setiap titik waktu pengujian. Ini
memberikan bukti yang cukup untuk menolak hipotesis nol dan menyimpulkan bahwa terdapat signifikan perbedaan antara kelompok yang dibandingkan.
Kesimpulan: Pemberian edukasi audiovisual dinilai efektif dalam menurunkan nyeri dan meningkatkan kemandirian mobilisasi dini pada pasien pasca-SC. Intervensi ini dapat menjadi sesuatu yang berharga Selain perawatan standar untuk mempercepat kesembuhan pasien.
Research Background: Post Sectio Caesarea (SC) pain can hinder early mobilization, which is crucial for preventing various complications. Conventional educational methods are considered less
effective in helping patients understand how to manage post-SC pain. Audiovisual education has the potential to enhance patient comprehension, but evidence regarding its effectiveness for post-SC
patients remains limited. This research aims to evaluate the effectiveness of audiovisual education in reducing pain in post SC patients.
Methodology: This research is a quantitative descriptive study using a quasi-experimental design with a pre-test post-test approach for both intervention and control groups. The research sample
consists of 34 post-SC patients, divided into an intervention group (n=17) and a control group (n=17) using Proportionate Random Sampling. Data were collected using the Numeric Rating Scale (NRS).
Data analysis was performed using the Wilcoxon Signed Rank Test test.
Results: Results of the research showed a significant reduction in NRS scores in the intervention group compared to the control group at all measurement intervals, with a p-value < 0.05. The intervention was proven effective in reducing NRS (pain scale) scores at each time point tested. This provides sufficient evidence to reject the null hypothesis and conclude that there is a significant difference between the compared groups.
Conclusion: The provision of audiovisual education is considered effective in reducing pain and enhancing early mobilization independence in post-SC patients. This intervention can be a valuable addition to standard care to accelerate patient recovery.
4410847493I1B021078Gambaran Tingkat Pengetahuan Remaja di SMAN 1 Purwokerto tentang Bantuan Hidup Dasar (BHD)Latar belakang: Henti jantung masih menjadi masalah kegawatdaruratan. Kasus henti jantung yang berada di luar rumah sakit (OHCA) masih banyak yang belum teratasi dengan baik. Pemberian edukasi kepada masyarakat awam tentang Bantuan Hidup Dasar (BHD) perlu dilakukan agar kasus kematian akibat OHCA dapat ditekan. Usia remaja SMA dianggap cocok untuk diberikan edukasi BHD karena sudah mendapatkan pengetahuan dasar yang cukup dan memiliki ketertarikan terhadap sesuatu yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan remaja di SMAN 1 Purwokerto tentang Bantuan Hidup Dasar (BHD).
Metodologi: Desain penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif, cross-sectional design dengan pengambilan sampel metode cluster random sampling. Penelitian dilakukan di SMAN 1 Purwokerto kelas 10 pada bulan Januari 2025 yang terdiri dari 88 responden.
Hasil penelitian: Mayoritas responden memiliki umur 15 tahun, berjenis kelamin perempuan, belum mengetahui informasi BHD, dan sumber informasi bagi yang sudah mengetahui berasal dari media sosial. Hasilnya, mayoritas tingkat pengetahuan responden terhadap BHD berada pada kategori cukup (43 siswa atau 48,9%), diikuti kategori kurang (24 siswa atau 27,3%), dan kategori baik (21 siswa atau 23,9%).
Kesimpulan: Tingkat pengetahuan remaja di SMAN 1 Purwokerto tentang Bantuan Hidup Dasar (BHD) berada pada kategori cukup.
Background: Cardiac arrest remains a critical emergency issue. Many cases of out-of-hospital cardiac arrest (OHCA) are still not handled properly. Educating the general public about Basic Life Support (BLS) is necessary to reduce mortality caused by OHCA. High school adolescents are considered suitable for BLS education because they already have a sufficient basic knowledge foundation and a high level of curiosity. This study aims to determine the level of knowledge among adolescents at SMAN 1 Purwokerto regarding Basic Life Support (BLS).
Methodology: This study uses a descriptive quantitative approach with a cross-sectional design and a cluster random sampling method. The research was conducted at SMAN 1 Purwokerto, specifically among 10th-grade students in January 2025, with a total of 88 respondents.
Research Results: The majority of respondents were 15 years old, female, had no prior knowledge of BLS, and for those who were aware, their primary source of information was social media. The results showed that most respondents had a moderate level of knowledge about BLS (43 students or 48.9%), followed by a low level (24 students or 27.3%), and a high level (21 students or 23.9%).
Conclusion: The level of knowledge about Basic Life Support (BLS) among adolescents at SMAN 1 Purwokerto falls into the moderate category
4410947497F1B021028Implementasi Penagihan Piutang Negara Menggunakan Mekanisme Crash Program Berupa Keringanan Utang Pada Kantor Pelayanan Kekayaan Negara Dan Lelang Purwokerto (Analisis Pada Penanggung Utang RSUD Tahun 2024)Perhatian untuk meningkatkan sinergi dan penelitian sebelumnya yang
mengatakan implementasi Crash Program pada KPKNL Purwokerto saat pandemi
kurang efektif, melatarbelakangi penelitian ini. Fokusnya, Implementasi Penagihan
Piutang Negara Menggunakan Mekanisme Crash Program Berupa Keringanan Utang
Pada Kantor Pelayanan Kekayaan Negara Dan Lelang Purwokerto. Kajian pustaka
penelitian ini menggunakan implementasi kebijakan oleh Ripley dan Franklin (1986),
aspek compliance dan what’s happening. Metode penelitian kualitatif dengan
pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Kesimpulan
penelitian ini adalah kebijakan Crash Program berupa keringanan utang pada KPKNL
Purwokerto telah berhasil diimplementasikan ditunjukkan dengan kepatuhan
implementor dan tercapainya tujuan implementasi Crash Program.
Concern for increasing synergy and previous research which stated that the
implementation of the Crash Program at KPKNL Purwokerto during the pandemic was
less effective, is the background for this research. The focus is on implementing state
receivables collection using a Crash Program mechanism in the form of debt relief at
the Purwokerto State Assets and Auction Services Office. This research literature
review uses policy implementation by Ripley and Franklin (1986), aspects of
compliance and what's happening. Qualitative research method with data collection
through interviews, observation and documentation. The conclusion of this research is
that the Crash Program policy in the form of debt relief at KPKNL Purwokerto has
been successfully implemented as demonstrated by implementor compliance and the
achievement of the Crash Program implementation objectives.
4411047498A1A021068ANALISIS FAKTOR – FAKTOR YANG MEMENGARUHI LOYALITAS KONSUMEN JERUK NIPIS PERAS (JERNIP) PADA AGROINDUSTRI JERNIP KENCANA, KABUPATEN KUNINGAN Jeruk nipis dikenal kaya akan antioksidan yang berperan penting dalam melindungi tubuh dari radikal bebas dan dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh. Seiring dengan perkembangan teknologi, agroindustri jeruk nipis peras kini dianggap memiliki prospek yang menjanjikan. Hal ini membuat agroindustri jeruk nipis peras memiliki persaingan yang ketat, namun dari banyaknya agroindustri jeruk nipis peras di Kabupaten Kuningan, Jernip Kencana merupakan pelopor berdirinya agroindustri jeruk nipis peras di Kabupaten Kuningan dengan pangsa pasar yang luas. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengidentifikasi karakteristik konsumen jernip pada Agroindustri Jernip Kencana, 2) menganalisis faktor – faktor yang memengaruhi loyalitas konsumen Agroindustri Jernip Kencana. Penelitian ini dilakukan di Agroindustri Jernip Kencana pada November 2024 hingga Januari 2025 dengan total responden sebanyak 100 responden. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik accidental sampling dengan kriteria yang ditentukan yaitu pernah melakukan pembelian jernip lebih dari tiga kali dan berusia lebih dari 17 tahun. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis regresi linier berganda, dan uji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik konsumen pada Agroindustri Jernip Kencana mayoritas berjenis kelamin perempuan, berumur pada kisaran 26 sampai 45 tahun, tingkat pendidikan akhir SMA atau SLTA, memiliki pekerjaan sebagai ibu rumah tangga, dan pendapatan atau uang saku per bulannya berada dikisaran Rp1.500.001 sampai Rp3.000.000. Mayoritas konsumen mengonsumsi jernip dikarenakan kegemaran mengonsumsi jernip dan mayoritas sudah mengonsumsi lebih dari lima kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel rasa, kualitas produk, persepsi harga, lokasi, promosi, dan kualitas pelayanan berpengaruh secara simultan terhadap loyalitas konsumen Jernip Kencana. Sedangkan variabel yang memengaruhi secara parsial adalah rasa, kualitas produk, persepsi harga, dan promosi. Lime is known to be rich in antioxidants that play an important role in protecting the body from free radicals and can strengthen the immune system. Along with the advancement of technology, the lime juice agroindustry is now considered to have promising prospects. This has led to intense competition in the lime juice agroindustry. However, among the many lime juice agroindustries in Kuningan Regency, Jernip Kencana is a pioneer in establishing the lime juice agroindustry in the region with a wide market share. This study aims to: 1) identify the characteristics of Jernip consumers at the Jernip Kencana Agroindustry, and 2) analyze the factors that influence consumer loyalty at the Jernip Kencana Agroindustry. This research was conducted at the Jernip Kencana Agroindustry from November 2024 to January 2025, with a total of 100 respondents. Sampling was conducted using the accidental sampling technique with specified criteria, namely having purchased Jernip more than three times and being over 17 years old. The analyses used include descriptive analysis, multiple linear regression analysis, and hypothesis testing. The results of the study indicate that the characteristics of consumers at the Jernip Kencana Agroindustry are predominantly female, aged between 26 and 45 years, with a high school or senior high school education, working as housewives, and earning a monthly income or allowance in the range of IDR 1,500,001 to IDR 3,000,000. The majority of consumers consume Jernip because they enjoy it, and most have consumed it more than five times. The results also show that the variables of taste, product quality, price perception, location, promotion, and service quality have a simultaneous effect on consumer loyalty at Jernip Kencana. Meanwhile, the variables that partially influence consumer loyalty are taste, product quality, price perception, and promotion.
4411147499F1D021004Kepentingan Aktor Dalam Pelaksanaan Kebijakan Kartu Tani di Kabupaten Pemalang Berdasarkan dari hasil penelitian, artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara umum politik distribusi yang dilaksanakan melalui kebijakan kartu tani, yang mana secara khusus menyoroti kepentingan aktor dalam pelaksanaan kebijakan tersebut di Kabupaten Pemalang, hingga berkaitan dengan pihak yang diuntungkan maupun dirugikan atas pelaksanaan kebijakan. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif melalui pendekatan fenomenologi. Sehingga, data yang diperoleh dalam penelitian ini berasal dari pengamatan langsung berdasarkan pengalaman informan terhadap pelaksanaan kebijakan kartu tani di Kabupaten Pemalang. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini adalah kepentingan aktor yang turut terlibat dalam pelaksanaan kebijakan kartu tani di Kabupaten Pemalang. Dalam hal ini, aktor kebijakan yang terlibat mencakup para perumus kebijakan atau politisi, serta pelaksana kebijakan seperti pemerintah daerah Kabupaten/Kota, birokrasi hingga masyarakat. Aktor politisi menggunakan kebijakan kartu tani sebagai alat kewenangannya untuk mendapatkan dukungan suara dari golongan petani ketika ajang Pemilihan Umum. Ketika kebijakan kartu tani diimplementasikan di Kabupaten Pemalang, pada kenyataannya tidak sesuai dengan gagasan yang dijanjikan oleh aktor tersebut. Sehingga dalam penelitian ini juga menjelaskan tentang pihak-pihak kebijakan, baik yang diuntungkan maupun dirugikan atas pelaksanaan kebijakan kartu tani. Based on the results of the research, this article aims to describe in general the politics of distribution implemented through the farmer card policy, which specifically highlights the interests of actors in the implementation of the policy in Pemalang Regency, to relate to the parties who benefit and lose from the implementation of the policy. The method used in this research is a qualitative research method through a phenomenological approach. Thus, the data obtained in this study came from direct observation based on the informant's experience of the implementation of the farmer card policy in Pemalang Regency. The results obtained in this study are the interests of actors involved in the implementation of the farmer card policy in Pemalang Regency. In this case, the policy actors involved include policy formulators or politicians, as well as policy implementers such as the Regency / City local government, bureaucracy to the community. Political actors use the farmer card policy as a tool of their authority to gain vote support from the farmer group during the General Election. When the farmer card policy was implemented in Pemalang Regency, in reality it did not match the idea promised by the actor. So that this research also explains the policy parties, both those who benefit and are disadvantaged by the implementation of the farmer card policy.
4411247470F1B021051MANAJEMEN PROGRAM JAKSA MASUK SEKOLAH DALAM MENCEGAH KASUS ANAK BERHADAPAN DENGAN HUKUM DI KEJAKSAAN NEGERI KOTA CIREBONJaksa Masuk Sekolah merupakan program pengenalan hukum bagi pelajar untuk meningkatkan kesadaran hukum sejak dini dan upaya pencegahan kasus anak berhadapan dengan hukum. Penelitian ini menggunakan pendekatan fungsi manajemen menurut William H. Newman. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi, kemudian data dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman dan Saldana. Berdasarkan Hasil Penelitian, bahwa manajemen Program Jaksa Masuk Sekolah yang diselenggarakan oleh Kejaksaan Negeri Kota Cirebon ini masih belum berjalan dengan baik dan perlu diperbaiki. Pada proses perencanaan, Program Jaksa Masuk Sekolah ini sudah sesuai dengan peraturan yang ada. Jika dilihat dari Tahap pengorganisasian, Program Jaksa Masuk Sekolah ini masih belum memiliki struktur resmi tim pelaksana program. pengumpulan sumber daya dimana tempat pelaksanaan program yang kurang memadai serta adanya keterbatasan sumber daya manusia. Pada proses pengarahan, Jaksa Fungsional belum aktif terlibat pada pelaksanaan program serta proses pengendalian bahwa belum efektifnya Program Jaksa Masuk Sekolah dalam pencegahan kasus anak berhadapan dengan hukum. Saran yang diajukan yakni pembentukkan struktur resmi Tim Jaksa Masuk Sekolah, penambahan sumber daya manusia serta melakukan evaluasi dalam meningkatakan pencegahan kasus anak berhadapan dengan hukum di Kota Cirebon.Jaksa Masuk Sekolah is a legal introduction program for students to increase legal awareness from an early age and efforts to prevent cases of children in conflict with the law. This study uses a management function approach according to William H. Newman. This study uses a qualitative method with data collection through interviews, observations and documentation, then the data is analyzed using the interactive model of Miles, Huberman and Saldana. Based on the Research Results, the management of the Jaksa Masuk Sekolah Program organized by the Cirebon City District Prosecutor’s Office is still not running well and needs to be improved. In the planning process, the Jaksa Masuk Sekolah Program is in accordance with existing regulations. When viewed from the organizational stage, the Jaksa Masuk Sekolah Program still does not have an official structure for the program implementation team. Collection of resources where the program implementation location is inadequate and there are no limitations on human resources. In the direction process, Functional Prosecutors have not been actively involved in the implementation of the program and the control process that the Jaksa Masuk Sekolah Program is not yet effective in preventing cases of children in conflict with the law. The suggestions submitted are the formation of an official structure for the Jaksa Masuk Sekolah Team, the addition of human resources and conducting evaluations in improving the prevention of cases of children in conflict with the law in Cirebon City.
4411347500I1B021032Hubungan antara Efikasi Diri dengan Stres Kerja pada Sopir Ambulans Desa di Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumasatar Belakang: Sopir ambulans menghadapi berbagai tantangan dalam pekerjaannya seperti kesiapsiagaan 24 jam, kondisi jalan yang buruk, dan cuaca ekstrem yang dapat memicu stres kerja. Stres kerja yang dialami oleh sopir ambulans tentu saja memerlukan solusi dan strategi yang tepat. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi strategi koping stres adalah efikasi diri. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara efikasi diri dengan stres kerja pada sopir ambulans desa di Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas.
Metodologi: Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif analitik korelasional dengan studi cross-sectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling dengan partisipan penelitian berjumlah 31 orang. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang menggunakan skala likert. Analisis bivariat menggunakan uji Somers’d.
Hasil Penelitian: Karakteristik partisipan mayoritas berusia 18-40 tahun dan keseluruhan berjenis kelamin laki-laki. Mayoritas partisipan memiliki memiliki efikasi diri tinggi yaitu sebanyak 18 (58,1%), efikasi diri sedang yaitu sebanyak 13 (41,9%) serta tidak ada partisipan yang memiliki efikasi diri rendah. Mayoritas partisipan memiliki tingkat stres kerja ringan yaitu sebanyak 20 (64,5%), stres kerja sedang yaitu sebanyak 11 (35,5%) serta tidak ada partisipan yang memiliki tingkat stres kerja yang tinggi. Hasil analisis uji Somers’d diperoleh nilai p=0,000 (p value > 0,05) dan r=-0,736 sehingga Ha diterima.
Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara efikasi diri dengan stres kerja pada sopir ambulans desa dan didapatkan hubungan yang negatif pada kedua variabel.
poor road conditions, and extreme weather that can trigger work stress. The work stress experienced by ambulance drivers of course requires the right solutions and strategies. One of the factors that can affect stress coping strategies is self-efficacy. The purpose of this study is to analyze the relationship between self-efficacy and work stress in village ambulance drivers in Sumbang District, Banyumas Regency.
Methodology: This study uses a quantitative research design of correlational analysis with cross-sectional studies. Sampling used a total sampling technique with 31 research participants. The research instrument is in the form of a questionnaire that uses a Likert scale. Bivariate analysis using the Somers'd test.
Results: The characteristics of the majority of participants were 18-40 years old and all were male. The majority of participants had high self-efficacy, which was 18 (58.1%), medium self-efficacy, as many as 13 (41.9%), and no participant had low self-efficacy. The majority of participants had a mild level of work stress which was 20 (64.5%), moderate work stress which was 11 (35.5%) and no participant had a high level of work stress. The results of the analysis of the Somers'd test obtained a value of p=0.000 (p value > 0.05) and r=-0.736 so that Ha was accepted.
Conclusion: There was a significant relationship between self-efficacy and work stress in village ambulance drivers and a negative relationship was obtained in both variables.
4411447501I1A021096Pola Persebaran Faktor yang Berpengaruh terhadap Obesitas Usia Produktif di Puskesmas Patikraja Tahun 2024Latar Belakang: Obesitas menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia dengan prevalensi yang meningkat pada usia produktif. Penelitian ini memetakan pola persebaran faktor-faktor yang berpengaruh terhadap obesitas di Puskesmas Patikraja, meliputi pola makan, konsumsi fast food, aktivitas fisik, pengetahuan, dan riwayat keluarga.
Metode: Desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional pada 116 responden yang dipilih melalui multistage sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara kuesioner dan dianalisis dengan uji regresi logistik serta Sistem Informasi Geografis (SIG).
Hasil: Pola persebaran obesitas bersifat berkelompok (clustered) dengan indeks NNA 0,362. Faktor yang berpengaruh adalah riwayat keluarga (p=0,024; OR=3,102), pola makan (p=0,021; OR=2,549), dan aktivitas fisik (p=0,026; OR=2,641), sedangkan konsumsi fast food (p=0,094) dan pengetahuan (p=0,696) tidak berpengaruh. Desa Patikraja mencatat kasus tertinggi untuk riwayat keluarga obesitas, pola makan kurang baik, dan aktivitas fisik ringan/sedang.
Kesimpulan: Riwayat keluarga merupakan faktor paling berpengaruh terhadap obesitas. Pola persebaran obesitas bersifat berkelompok, dengan Desa Patikraja sebagai wilayah dengan kasus tertinggi. Disarankan peningkatan pola hidup sehat dan penguatan program pencegahan di Puskesmas.
Background: Obesity is a major health problem in Indonesia with an increasing prevalence in productive age. This study maps the distribution pattern of factors that influence obesity in Patikraja Health Center, including diet, fast food consumption, physical activity, knowledge, and family history.
Methods: Analytic observational design with a cross-sectional approach on 116 respondents selected through multistage sampling. Data were collected through questionnaire interviews and analyzed with logistic regression tests and Geographic Information Systems (GIS).
Results: The distribution pattern of obesity is clustered with an NNA index of 0.362. The influential factors were family history (p=0.024; OR=3.102), diet (p=0.021; OR=2.549), and physical activity (p=0.026; OR=2.641), while fast food consumption (p=0.094) and knowledge (p=0.696) had no effect. Patikraja village recorded the highest cases for family history of obesity, poor diet, and light/moderate physical activity.
Conclusion: Family history is the most influential factor for obesity. The distribution pattern of obesity is clustered, with Patikraja village as the area with the highest cases. It is recommended to improve healthy lifestyles and strengthen prevention programs at Puskesmas.
4411547502I1A021089Analisis Spasial Faktor Risiko Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Lumbir Tahun 2024Hipertensi diperkirakan menyebabkan 7,5 juta kematian atau 12,8% dari total seluruh kematian di dunia. Besaran kasus hipertensi di Kabupaten Banyumas mencapai 172.054 jiwa. Kecamatan Lumbir merupakan urutan ketiga kecamatan di Kabupaten Bnyumas dengan hipertensi tertinggi, yaitu sebanyak 8.487 kasus. Analisis spasial dapat digunakan untuk mengetahui sebaran faktor risiko penyakit yang selanjutnya dimanfaatkan untuk pengambilan keputusan terkait penanggulangan maupun pencegahan hipertensi. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif analitik dengan desain studi kasus kontrol. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah cluster random sampling. Sampel yang diambil pada penelitian ini sebanyak 90 responden dengan 45 kasus dan 45 kontrol. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara. Analisis data menggunakan SPSS dan QGIS dengan analisis univariat, bivariat, multivariat, dan spasial. Terdapat pengaruh riwayat keluarga (p value = 0,001 OR=9,008) dan perilaku merokok (p value = 0,011 OR=6,653) terhadap hipertensi setelah dikontrol variabel tingkat stres di Wilayah Kerja Puskesmas Lumbir. Desa dengan kelompok kasus yang memiliki riwayat keluarga dengan hipertensi terbanyak adalah Desa Parungkamal dan Desa Karanggayam. Sementara itu, desa dengan kelompok kasus yang merupakan perokok berat terbanyak adalah Desa Canduk dan Desa Kedunggede. Riwayat keluarga dan perilaku merokok berpengaruh terhadap hipertensi setelah dikontrol tingkat stres di Wilayah Kerja Puskesmas Lumbir. Analisis spasial dapat menunjukkan desa dengan proporsi terbanyak terkait faktor risiko hipertensi. Puskesmas Lumbir perlu mempertimbangkan untuk pengusulan pengadaan puskesmas baru agar tidak hanya ada satu puskesmas di Kecamatan Lumbir dan memberikan edukasi mengenai hipertensi terutama pada penderita hipertensi supaya keluarganya lebih waspada.Hypertension causes 7.5 million deaths, or 12.8% of global deaths. In Banyumas Regency, there are 172,054 hypertension cases, with Lumbir District reporting 8,487 cases, the third highest in the region. Spatial analysis helps identify disease risk factor distribution, aiding decision-making for hypertension management and prevention. This study is an analytical quantitative research with a case-control design, using cluster random sampling. It involved 90 respondents (45 cases and 45 controls), with data collected through interviews. SPSS were used for multivariate analysis using logistic regression test and QGIS were used for spatial analysis using buffer, overlay and chropleth techniques. Results show that family history (p=0.001, OR=9.008) and smoking behavior (p=0.011, OR=6.653) significantly impact hypertension after controlling for stress levels in the Lumbir Health Center Work Area. Parungkamal and Karanggayam villages had the highest number of cases with a family history of hypertension, while Canduk and Kedunggede villages had the most heavy smokers. Family history and smoking behavior contribute to hypertension. Spatial analysis can show villages with the highest proportion of risk factors for hypertension. Lumbir Health Center needs to consider establishing a new health center and provide education abaout hypertension, especially for hypertension suffers, so that their families are more alert.
4411647503E1A021139IMPLEMENTASI RESTORATIVE JUSTICE DALAM KASUS PENCURIAN (Studi Kasus di Kejaksaan Negeri Depok)Pelaksanaan restorative justice di Kejaksaan Negeri Depok berpedoman pada Peraturan Kejaksaan Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2020 Tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif. Restorative justice merupakan upaya penyelesaian suatu perkara diluar pengadilan yang melibatkan para pihak yang berkepentingan yang bertujuan untuk memulihkan kerugian dengan menekankan pada keadilan. Restorative justice hadir sebagai solusi terhadap proses peradilan pidana yang dinilai tidak lagi bermanfaat, terkesan lambat dan membutuhkan biaya yang cukup banyak, serta over capacity pada lapas maupun rutan. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis sosiologis dengan spesifikasi penelitian deskriptif analitis. Pengumpulan data dilakukan melalui proses wawancara dengan responden Jaksa Kasubsi Tindak Pidana Umum di Kejaksaan Negeri Depok dan studi pustaka. Kemudian dilakukan analisis kualitatif. Hasil dari penelitian menunjukan proses implementasi serta hambatan-hambatan yang terjadi pada pelaksanaan restorative justice dalam kasus pencurian atas nama Sobirin di Kejaksaan Negeri Depok. Meskipun ada hambatan yang dihadapi, pengimplementasian restorative justice oleh Jaksa Penuntut Umum selaku fasilitator tetap dapat berjalan dengan baik sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada.The implementation of restorative justice at the Depok District Attorney's Office is guided by Regulation of the Prosecutor's Office of the Republic of Indonesia Number 15 of 2020 concerning Discontinuation of Prosecution Based on Restorative Justice. Restorative justice is an attempt to resolve a case outside the court involving interested parties that aims to restore harm by emphasising justice. Restorative justice comes as a solution to the criminal justice process which is considered no longer useful, seems slow and requires a lot of money, and over capacity in prisons and detention centres. This research uses a juridical sociological approach with descriptive analytical research specifications. Data collection was carried out through an interview process with the respondent Prosecutor of the General Crime Section at the Depok District Attorney's Office and literature study. Followed by qualitative analysis. The results of the research show the implementation process and obstacles that occur in the implementation of restorative justice in the theft case on behalf of Sobirin at the Depok District Attorney's Office. Despite the obstacles faced, the implementation of restorative justice by the Public Prosecutor as a facilitator can still run well in accordance with existing laws and regulations.
4411747504C1H020002The Effect of Customer Experience on Revisit Intention through Customer Perceived Value As An Intervening VariablePenelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menganalisis pengaruh customer experience terhadap revisit intention melalui customer perceived value sebagai variabel intervening . Pengalaman pengunjung dianggap dapat membentuk nilai yang dirasakan oleh pengunjung, yang kemudian mempengaruhi niat mereka untuk berkunjung kembali. Penelitian ini berfokus pada studi kasus D’Las Purbalingga, sebuah desa wisata yang terdapat di Purbalingga dengan melibatkan 196 pengunjung sebagai responden menggunakan metode purposive sampling. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dengan menggunakan analisis regresi mediasi diolah dengan SPSS dan sobel test menunjukkan bahwa pengalaman pengunjung dan nilai yang dirasakan pengunjung berpengaruh signifikan terhadap niat berkunjung kembali. Nilai yang dirasakan pengunjung juga memediasi variabel pengalaman pengunjung dan niat berkunjung kembali. Penelitian ini menekankan bahwa pentingnya pengalaman yang pengunjung berikan serta nilai yang dirasakan pengunjung untuk membuat pengunjung tersebut ingin berkunjung kembali. Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi hubungan ini dalam konteks industri pariwisata yang berbeda atau meneliti variabel lain yang mempengaruhi dinamika ini. This research is a quantitive study that analyses the effect of customer experience on revisit intention through customer perceived value as an intervening variable. Visitor experience is considered to shape the value perceived by visitors, which then affects their intention to visit again. This research focuses on a case study of D'Las Purbalingga, a tourist village located in Purbalingga by involving 196 visitors as respondents using purposive sampling method. Based on the results of research conducted using mediation regression analysis processed with SPSS and the Sobel test, it is shown that customer experience and visitor perceived value have a significant effect on revisit intention. Customer perceived value also mediates customer experience variables and revisit intentions. This research highlights the importance of visitor experience and visitor perceived value in motivating visitors to return. Future research could explore this relationship in the context of different tourism industries or examine other variables that influence this dynamic.
4411847505A1D021041Pengaruh Fly Ash Bottom Ash (FABA) dan Mineral Wollastonite terhadap Kadar N Daun Tanaman Melon (Cucumis melo L.) dan Sifat Kimia Tanah EntisolsMelon adalah salah satu tanaman hortikultura yang banyak diminati oleh petani karena memiliki nilai ekonomis dan gizi yang tinggi. Mulai tahun 2023 produksi buah melon cenderung mengalami penurunan hingga 8,79%. Hal tersebut disebabkan oleh kesuburan tanah yang rendah, khususnya pada jenis tanah Entisol. Tanah Entisol perlu diperbaiki dengan pemupukan silikon (Si) yang dapat memperbaiki kualitas tanah dan meningkatkan produktivitas melon. Pemupukan Si dapat dilakukan dengan pemberian Fly Ash Bottom Ash (FABA) dan mineral wollastonite. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh FABA, mineral wollastonite, serta interaksi antara keduanya terhadap sifat kimia tanah Entisols, kadar N daun, dan produksi tanaman melon. Penelitian dilaksanakan di screen house dan Laboratorium Tanah dan Sumberdaya Unsoed, Purwokerto pada bulan Mei hingga bulan Desember 2024. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan perlakuan 2 faktor dan 3 kali ulangan. Faktor pertama adalah dosis FABA dengan 4 taraf, yaitu 0 g Si/polybag (F0), 5 g Si/polybag (F1), 10 g Si/polybag (F2), dan 15 g Si/polybag (F3). Faktor kedua adalah dosis mineral wollastonite dengan 4 taraf, yaitu 0 g Si/polybag (W0), 5 g Si/polybag (W1), 10 g Si/polybag (W2), dan 15 g Si/polybag (W3). Pemberian FABA dapat meningkatkan pH H2O dan DHL setelah inkubasi 30 hari, DHL 6 minggu setelah tanam, serta kadar N daun tanaman melon. Pemberian mineral wollastonite dapat meningkatkan pH H2O, DHL, dan Si-tersedia setelah inkubasi 30 hari, serta DHL 4 minggu setelah tanam. Terdapat interaksi antara pemberian FABA dan mineral wollastonite terhadap variabel pH H2O, DHL, KTK, dan Si-tersedia setelah inkubasi 30 hari, serta DHL 2 minggu setelah tanam. Kombinasi perlakuan terbaik untuk pH H2O setelah inkubasi 30 hari adalah F3W3 (15 g Si/polybag FABA dan 15 g Si/polybag mineral wollastonite) dengan nilai pH H2O sebesar 7,76. Kombinasi perlakuan terbaik untuk DHL setelah inkubasi 30 hari dan DHL 2 minggu setelah tanam adalah F3W2 (15 g Si/polybag FABA dan 10 g Si/polybag mineral wollastonite) dengan nilai masing-masing secara berturut-turut sebesar 1167,00 µS/cm dan 1640,33 µS/cm. Kombinasi perlakuan terbaik untuk KTK adalah F2W1 (10 g Si/polybag FABA dan 5 g Si/polybag mineral wollastonite) dengan nilai sebesar 22,50 cmol⁺kg⁻¹. Kombinasi perlakuan terbaik untuk Si-tersedia adalah F2W2 (10 g Si/polybag FABA dan 10 g Si/polybag mineral wollastonite) dengan nilai sebesar 255,66 ppm.Melon is one of the horticultural crops that is in great demand by farmers because it has high economic and nutritional value. Starting in 2023, melon production tends to decrease by 8.79%. This is due to low soil fertility, especially in Entisol soil types. Entisol soil needs to be improved with silicon (Si) fertilization which can improve soil quality and increase melon productivity. Si fertilization can be done by providing Fly Ash Bottom Ash (FABA) and wollastonite minerals. This study aims to determine the effect of FABA, wollastonite minerals, and the interaction between the two on the chemical properties of Entisols soil, leaf N content, and melon plant production. The study was conducted at the screen house and the Unsoed Soil and Resources Laboratory, Purwokerto from May to December 2024. This study used a Randomized Block Design (RBD) with 2 factors and 3 replications. The first factor is the dose of FABA with 4 levels, namely 0 g Si/polybag (F0), 5 g Si/polybag (F1), 10 g Si/polybag (F2), and 15 g Si/polybag (F3). The second factor is the dose of wollastonite minerals with 4 levels, namely 0 g Si/polybag (W0), 5 g Si/polybag (W1), 10 g Si/polybag (W2), and 15 g Si/polybag (W3). The results showed that the application of FABA can increase the pH H2O and DHL after 30 days of incubation, DHL 6 weeks after planting, and the N content of melon plant leaves. The application of wollastonite minerals can increase the pH H2O, DHL, and available Si after 30 days of incubation, DHL 4 weeks after planting. There was an interaction between the application of FABA and wollastonite minerals on the variables of pH H2O after 30 days of incubation, DHL after 30 days of incubation, DHL 2 weeks after planting, CEC, and available Si. The best treatment combination for pH H2O after 30 days incubation was F3W3 (15 g Si/polybag FABA and 15 g Si/polybag wollastonite minerals) with pH H2O value of 7.76. The best treatment combination for DHL after 30 days of incubation and DHL 2 weeks after planting was F3W2 (15 g Si/polybag FABA and 10 g Si/polybag wollastonite minerals) with values of 1167.00 µS/cm and 1640.33 µS/cm, respectively. The best treatment combination for CEC was F2W1 (10 g Si/polybag FABA and 5 g Si/polybag wollastonite minerals) with a value of 22.50 cmol⁺kg⁻¹. The best treatment combination for available Si was F2W2 (10 g Si/polybag FABA and 10 g Si/polybag wollastonite mineral) with a value of 255.66 ppm.
4411947506J1D021028Pengembangan Modul Eksposisi Vokasional Berbasis Web pada Jurusan AKL SMKN Kabupaten PurbalinggaPenelitian bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar sesuai kebutuhan dan karakteristik Jurusan AKL. Latar belakang penelitian mengacu pada kurangnya referensi bahan ajar yang sesuai dengan ciri khas sekolah vokasi. Bentuk penelitian adalah Research and Development (R&D) menggunakan model ADDIE (Analyze, Design, Development, Implementation, dan Evaluation). Data dalam penelitian berupa hasil wawancara, angket, observasi, dan desain pembelajaran. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, angket, observasi, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan mix method (kualitatif dan kuantitatif). Hasil yang diperoleh dari penelitian sebagai berikut: (1) pengembangan modul menggunakan aplikasi Canva dan Google Sites; (2) tingkat validitas Aiken valid dengan rata-rata kumulatif 0,86 dari validasi materi dan 0,83 dari validasi media; dan (3) tanggapan pendidik dan peserta didik terhadap pengembangan modul sangat baik. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa modul eksposisi vokasional berbasis web yang dikembangkan layak digunakan pada kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia kelas X Jurusan AKL. The research aims to develop teaching materials according to the needs and characteristics of the AKL Department. The background of the research refers to the lack of references to teaching materials that are in accordance with the characteristics of vocational schools. The form of research is Research and Development (R&D) using the ADDIE model (Analyze, Design, Development, Implementation, and Evaluation). Data in the study in the form of interviews, questionnaires, observations, and learning designs. Data collection techniques used interviews, questionnaires, observation, and documentation. Data analysis used mix method (qualitative and quantitative). The results obtained from the research are as follows: (1) module development using Canva and Google Sites applications; (2) the Aiken validity level is valid with a cumulative average of 0.86 from material validation and 0.83 from media validation; and (3) the responses of educators and students to module development are very good. Based on this description, it can be concluded that the developed web-based vocational exposition module is feasible to be used in Indonesian language learning activities for class X, AKL Department.
4412047508A1D020107Studi Agihan Unsur Hara Nitrogen dan Serapannya oleh Tanaman Padi Sawah di Sub DAS Serayu Kecamatan Ajibarang Kabupaten BanyumasPertumbuhan dan produktivitas padi sangat dipengaruhi oleh ketersediaan hara tanah, termasuk Nitrogen sebagai unsur hara makro esensial. Nitrogen berperan penting dalam pembentukan organ vegetatif dan sintesis protein, yang mendukung peningkatan kualitas gabah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketersediaan nitrogen, hubungan antara ketersediaan nitrogen, serapan nitrogen, dan hasil tanaman padi, serta memberikan rekomendasi pemupukan N pada lahan sawah di Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode survei dan pemetaan tanah semi detail. Titik pengambilan sampel ditentukan melalui metode transek berdasarkan Peta SLH dengan SLH 1 memiliki jenis tanah Kompleks Mediteran Merah dan Litosol dan kemiringan datar serta SLH 2 memiliki jenis tanah Latosol Coklat Kemerahan dan kemiringan datar. Pengambilan sampel tanah dilakukan secara purposive random sampling pada kedalaman 0-25 cm dan 25-50 cm. Sampel tanaman padi diambil dari bagian daun dan gabah. Variabel yang diamati meliputi pH H2O, pH KCl, DHL, potensial redoks, KTK, KB, N-tersedia, N-total, serapan N, dan hasil tanaman padi. Hasil penelitian menunjukkan pada SLH 1, nilai N-tersedia 71,43 ppm (sangat rendah) dan N-total 0,38% (sedang) serta pada SLH 2, N-tersedia 73,34 ppm (sangat rendah) dan N-total 0,37% (sedang). Analisis regresi menunjukkan serapan nitrogen gabah per rumpun memiliki hubungan terkuat dengan hasil tanaman (R²=0,4353), diikuti oleh N-total tanah (R²=0,4136), dan serapan nitrogen gabah per malai (R²=0,3385). Rekomendasi pemupukan nitrogen pada sawah di Kecamatan Ajibarang 78,3-208,8 kg pupuk N/ha setara 170,22-453,91 kg pupuk urea/ha pada SLH 1 dan 113,1-165,3 kg pupuk N/ha setara 245,87-359,35 kg pupuk urea/ha pada SLH 2.The growth and productivity of rice are significantly influenced by the availability of soil nutrients, including nitrogen as an essential macronutrient. Nitrogen plays a crucial role in the formation of vegetative organs and protein synthesis, which supports the improvement of rice grain quality. This study aims to determine the availability of nitrogen, examine the relationship between nitrogen availability, nitrogen uptake, and rice yield, and establish Nitrogen fertilization recommendations for paddy fields in Ajibarang Sub-district, Banyumas Regency. The research was conducted using a survey method and semi-detailed soil mapping. Sampling points were determined using the transect method based on a Land Suitability Map (SLH) where SLH 1 consists of Complex Red Mediterranean and Litosol soils with a flat slope, while SLH 2 consists of Reddish Brown Latosol soil with a flat slope. Soil samples were collected using purposive random sampling at depths of 0-25 cm and 25-50 cm. Rice plant samples were taken from the leaves and grains. Observed variables included pH H2O, pH KCl, EC, redox potential, CEC, base saturation, available N, total N, nitrogen uptake, and rice yield. The results showed that in SLH 1, available nitrogen was 71.43 ppm (very low), and total nitrogen was 0.38% (moderate), while in SLH 2, available nitrogen was 73.34 ppm (very low), and total nitrogen was 0.37% (moderate). Regression analysis indicated that nitrogen uptake in grains per clump had the strongest relationship with yield (R² = 0.4353), followed by total nitrogen in soil (R² = 0.4136) and nitrogen uptake in grains per panicle (R² = 0.3385). The recommended nitrogen fertilization for paddy fields in Ajibarang District ranges from 78.3–208.8 kg N fertilizer/ha, equivalent to 170.22–453.91 kg urea/ha in SLH 1, and 113.1–165.3 kg N fertilizer/ha, equivalent to 245.87–359.35 kg urea/ha in SLH 2.