Artikelilmiahs
Menampilkan 44.161-44.180 dari 48.761 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 44161 | 47545 | F1A020075 | Mentalitas Miskin Penerima Bantuan PKH (Studi di Kelurahan Kranji Purwokerto Timur) | Kemiskinan adalah kondisi dimana seseorang, keluarga, atau masyarakat tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka, seperti ketidakmampuannya untuk membeli bahan pokok, pakaian yang layak, dan keterbatasan terhadap tempat tinggal. Upaya yang dilakukan untuk mengurangi angka kemiskinan, pemerintah melaksanakan bantuan sosial pada masyarakat miskin, salah satunya melalui Program Keluarga Harapan (PKH). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola mentalitas miskin yang berubah dari para penerima bantuan PKH. Penelitian ini berjudul Mentalitas Miskin Penerima Bantuan PKH (Studi di Kelurahan Kranji Purwokerto Timur). Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan sasaran penelitiannya adalah Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Kelurahan Kranji, Purwokerto Timur. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa hasil dari kegiatan rutin bimbingan P2K2 memberikan dampak signifikan terdapat pola mentalitas dari para penerima PKH di Kelurahan Kranji. Peran dari pemerintah melalui pendamping PKH, keluarga penerima manfaat PKH, serta anak harus memiliki visi yang sama jauh ke depan. Dengan terjaganya komitmen bersama diharapkan masyarakat miskin dapat diberdayakan dan semakin sejahtera. | Poverty is a condition where a person, family, or community does not have enough resources to fulfil their basic needs, such as the inability to buy basic necessities, proper clothing, and limited housing. In an effort to reduce poverty, the government implements social assistance to the poor, one of which is through the Family Hope Programme (PKH). The purpose of this research is to find out the changing pattern of poor mentality of PKH beneficiaries. This research is entitled Poor Mentality of PKH Beneficiaries (Study in Kranji Village, East Purwokerto). The method that will be used in this research is descriptive qualitative method with the research target is the Beneficiary Family (KPM) in Kranji Village, East Purwokerto. The results of this study found that the results of routine P2K2 guidance activities have a significant impact on the mentality patterns of PKH recipients in Kranji Village. The role of the government through PKH facilitators, PKH beneficiary families, and children must have the same vision far into the future. With the maintenance of joint commitment, it is hoped that the poor can be empowered and more prosperous. Keywords: Beneficiary Mentality, Family Hope Programme, Poverty | |
| 44162 | 47546 | F1D021060 | Politik Implementasi Program Gerakan Pangan Murah untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan di Kabupaten Banyumas | Memperkuat ketahanan pangan dapat dilakukan dengan cara meningkatkan ketersediaan pangan secara mandiri, meningkatkan keterjangkauan pangan, dan mengoptimalkan pemanfaatan pangan. Sebagai implementasi dari Undang-Undang Nomor 18 tahun 2012, Gerakan Pangan Murah menjadi salah satu program yang dapat membantu memperkuat ketahanan pangan karena memiliki tujuan untuk stabilisasi pasokan dan harga pangan. Tujuan penelitian ini untuk (1. memahami bagaimana peran pemerintah Kabupaten Banyumas, yang dalam hal ini merupakan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banyumas, sebagai implementor dalam pelaksanaan program serta mencakup pelaksanaan di lapangan dan pengorganisasiannya (2. Menjelaskan tuntutan dan dukungan yang diberikan oleh masyarakat terhadap program Gerakan Pangan Murah serta bagaimana Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banyumas merespon tuntutan dan dukungan yang diberikan. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan studi kasus, penelitian ini menunjukkan program Gerakan Pangan Murah membantu stabilisasi pasokan dan harga pangan masyarakat sehingga mereka mendukung keberlanjutan program dan pelaksanaannya lebih disebarluaskan. Namun, terdapat tuntutan yang diberikan masyarakat terhadap program terkait penerapan kupon tebus murah yang hanya diberikan kepada masyarakat kurang mampu dan harga pangan yang dijual pada saat pelaksanaan program sebagian masih tinggi. Kemudian ditemukan bahwa sebagai implementor, Dinpertan KP tidak sepenuhnya memenuhi tuntutan tersebut sehingga dapat dikatakan bahwa dinas sebagai pelaksana tidak bisa dipengaruhi oleh masyarakat. | Strengthening food security can be done by increasing food availability independently, increasing food affordability, and optimizing food utilization. As an implementation of Law No. 18/2012, the Cheap Food Movement is one of the programs that can help strengthen food security because it aims to stabilize food supply and prices. The objectives of this study are to (1) understand how the role of the Banyumas Regency government, in this case the Agriculture and Food Security Office of Banyumas Regency, as the implementor in the implementation of the program, including its field implementation and organization (2) explain the demands and support given by the community to the Cheap Food Movement program and how the Agriculture and Food Security Office of Banyumas Regency responds to the demands and support given. Using qualitative methods and a case study approach, this research shows that the Gerakan Pangan Murah program helps stabilize the community's food supply and prices, so they support the continuation of the program and its more widespread implementation. However, there were demands made by the community on the program related to the application of cheap redemption coupons that were only given to the poor and the price of food sold during the implementation of the program was still partially high. Then it was found that as an implementor, Agriculture and Food Security Office of Banyumas Regency did not fully fulfill these demands, so it can be said that the agency as an implementer could not be influenced by the community. | |
| 44163 | 47547 | F1B021086 | COMMUNITY-BASED TOURISM SECARA BERKELANJUTAN DI DESA WISATA KEMUTUG LOR | Pariwisata berkelanjutan merupakan konsep yang berupaya meminimalkan dampak negatif lingkungan dan sosial sekaligus meningkatkan ekonomi lokal. Community-Based Tourism (CBT) menjadi model alternatif pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Desa Wisata Kemutug Lor merupakan contoh penerapan CBT yang dianggap berhasil. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis keberhasilan penerapan CBT secara berkelanjutan di Desa Wisata Kemutug Lor. Penelitian menggunakan metode kuantitatif deskriptif, melibatkan 32 responden dari pengelola pariwisata yang dipilih menggunakan teknik clustering dan quota sampling. Data dikumpulkan melalui survei menggunakan instrumen kuesioner berskala Likert dan dianalisis dengan deskriptif univariat dan uji hipotesis t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CBT telah berhasil diterapkan di Desa Wisata Kemutug Lor secara berkelanjutan dengan kategori tinggi (>72) berdasarkan nilai t-hitung 9,71 > t-tabel 1,699. Keberhasilan CBT di desa ini tercermin dalam lima dimensi utama. Pada dimensi ekonomi, CBT meningkatkan pendapatan dan peluang kerja masyarakat, meskipun tingkat pengangguran masih 19% dan skor SDGs ke-8 serta ke-10 masing-masing hanya 27,63/100 dan 35,89/100. Dimensi sosial menunjukkan peningkatan kualitas hidup dan hubungan sosial, meski skor SDGs ke-3, ke-4, dan ke-5 hanya mencapai 59,20/100, 41,11/100, dan 48,63/100. Dimensi budaya menunjukkan keberhasilan dalam pelestarian budaya lokal. Pada dimensi politik, partisipasi masyarakat meningkat meskipun skor SDGs ke-18 masih 50,97/100. Dimensi lingkungan menunjukkan peningkatan daya dukung lingkungan, dengan skor SDGs ke-6 sebesar 56,65/100. | Sustainable tourism aims to minimize negative environmental and social impacts while enhancing the local economy. Community-Based Tourism (CBT) serves as an alternative model for sustainable tourism by actively involving local communities. Kemutug Lor Tourism Village is considered a successful example of CBT implementation. This study aims to describe and analyze the sustainable implementation of CBT in Kemutug Lor. A quantitative descriptive method was employed, involving 32 tourism management respondents selected using clustering and quota sampling. Data were collected through a Likert-scale questionnaire and analyzed using univariate descriptive statistics and a t-test hypothesis test. The results indicate that CBT has been successfully implemented at a high level (>72), with a t-value of 9.71 exceeding the critical t-table value of 1.699. The success of CBT is reflected in five key dimensions. Economically, CBT has increased income and employment opportunities, although the unemployment rate remains at 19%, and SDG scores for Goals 8 and 10 are 27.63/100 and 35.89/100, respectively. Socially, it has improved quality of life and social relations, though SDG scores for Goals 3, 4, and 5 are 59.20/100, 41.11/100, and 48.63/100. Culturally, it has contributed to preserving local heritage. Politically, community participation has increased, despite an SDG Goal 18 score of 50.97/100. Environmentally, carrying capacity has improved, with an SDG Goal 6 score of 56.65/100. | |
| 44164 | 47548 | H1D021069 | PENGEMBANGAN ALGORITMA SIMILAR CACHE ADAPTIF UNTUK MENANGANI AKSES DATA ANOMALI PADA EDGE NETWORKS | Pengelolaan cache yang efisien pada edge networks merupakan kebutuhan mendesak dalam mendukung peningkatan data dari aplikasi IoT yang terus berkembang dan membutuhkan akses data secara real-time. Algoritma similar cache yang dikembangkan berdasarkan GDSF, menghadapi keterbatasan dalam menangani pola akses data anomali seperti lonjakan permintaan yang mendadak, sehingga secara signifikan menurunkan efisiensi cache. Lebih lanjut kondisi tersebut mengakibatkan peningkatan latency dan cache pollution, yang merupakan permasalahan utama yang harus dihindari dalam pengelolaan jaringan pendukung IoT. Penelitian ini mengusulkan modifikasi adaptif pada algoritma similar cache dengan mengintegrasikan deteksi anomali menggunakan DBSCAN serta switching mechanism untuk meningkatkan penyesuaian prioritas data secara dinamis. Algoritma yang dimodifikasi mampu menangani pola akses data normal dan anomali melalui strategi eviksi berbasis centroid serta fallback berbasis recency. Hasil evaluasi eksperimental menggunakan dataset IRCache menunjukkan peningkatan hit ratio sebesar 1,33% dan latency saving ratio sebesar 1,36%. Temuan ini menunjukkan kemampuan algoritma dalam mengoptimalkan kinerja cache pada skenario jaringan edge yang beragam dan tidak terduga, sehingga mendukung operasi IoT secara lebih efisien. | Efficient cache management in edge networks is a critical requirement to support the increasing data demands of IoT applications, which continue to grow and necessitate real-time data access. The similar cache algorithm, developed based on GDSF, faces limitations in handling anomalous data access patterns, such as sudden surges in demand, significantly reducing cache efficiency. Furthermore, this condition leads to increased latency and cache pollution, which are primary challenges that must be avoided in managing IoT-supporting networks. This study proposes an adaptive modification to the similar cache algorithm by integrating anomaly detection using DBSCAN and a switching mechanism to dynamically adjust data prioritization. The modified algorithm can handle both normal and anomalous data access patterns through a centroid-based eviction strategy and a recency-based fallback mechanism. Experimental evaluations using the IRCache dataset demonstrated a 1.33% improvement in hit ratio and a 1.36% improvement in latency saving ratio. These findings highlight the algorithm’s capability to optimize cache performance in diverse and unpredictable edge network scenarios, thereby enhancing the efficiency of IoT operations. | |
| 44165 | 47549 | B1A020025 | Efektivitas Biopestisida BIO-P60 Berbasis Bakteri Pseudomonas fluorescens P60 sebagai Agen Pengendali Larva Nyamuk Aedes aegypti | Nyamuk Aedes aegypti merupakan vektor bagi mikroorganisme penyebab penyakit menular. Demam berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit yang ditularkan oleh nyamuk ini dan menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Pengendalian nyamuk Ae. aegypti menjadi strategi utama dalam pencegahan penularan penyakit tersebut. Cara alternatif dalam upaya pengendalian vektor nyamuk Ae. aegypti adalah dengan memutus siklus hidup pada tahap larva menggunakan biopestisida. Salah satu biopestisida yang digunakan adalah BIO-P60 berbasis bakteri Pseudomonas fluorescens P60. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh biopestisida BIO-P60 terhadap mortalitas larva Ae. aegypti dan mengetahui konsentrasi biopestisida BIO-P60 yang menyebabkan mortalitas larva Ae. aegypti tertinggi. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Entomologi dan Parasitologi serta Laboratorium Mikrobiologi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 7 perlakuan yaitu kontrol negatif (tanpa biopestisida), kontrol positif (abate), biopestisida BIO-P60 dengan berbagai konsentrasi yang ditentukan dari hasil uji pendahuluan. Variabel yang diamati terdiri atas variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas pada penelitian ini yaitu konsentrasi biopestisida BIO-P60, sedangkan variabel terikat yaitu kemampuan BIO-P60 dalam mematikan Ae. aegypti. Parameter utama yang diamati yaitu mortalitas larva instar III Ae. aegypti, dan parameter pendukung yaitu lama hidup larva sampai menjadi dewasa dan jumlah bakteri pada biopestisida. Data mortalitas dan lama perkembangan diperoleh dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) pada tingkat kesalahan 5%. Selanjutnya hasil yang berbeda nyata dilanjutkan dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada tingkat kesalahan 5%. Serta jumlah bakteri pada biopestisida dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kontrol positif (abate) dengan konsentrasi 10% memiliki efektivitas tertinggi dalam membunuh larva Ae. aegypti sebesar 100%, sedangkan perlakuan BIO-P60 dengan konsentrasi 90% menyebabkan tingkat mortalitas sebesar 60% yang tidak berbeda signifikan dengan konsentrasi 70% dan 80%. Hasil uji TPC menunjukkan sampel BIO-P60 yang diambil sebanyak 1 mL memiliki jumlah koloni sebanyak 1,38 x 105 CFU/mL. Jumlah koloni ini menunjukkan keberadaan bakteri yang aktif dalam produk BIO-P60, sesuai dengan klaim produsen bahwa BIO-P60 mengandung bakteri P. fluorescens P60. Biopestisida BIO-P60 tidak memberikan pengaruh yang signifikan dalam memperlambat perkembangan larva Ae. aegypti, meskipun telah digunakan pada konsentrasi yang lebih tinggi. | The Aedes aegypti mosquito is a vector for microorganisms that cause infectious diseases. Dengue hemorrhagic fever (DHF) is one of the diseases transmitted by this mosquito and a health problem in Indonesia. Control of Ae. aegypti mosquitoes is the main strategy in preventing the transmission of the disease. An alternative way to control the Ae. aegypti mosquito vector is to break the life cycle at the larval stage using biopesticides. One of the biopesticides used is BIO-P60 based on Pseudomonas fluorescens P60 bacteria. The purpose of this study was to determine the effect of BIO-P60 biopesticide on mortality of Ae. aegypti larvae and to determine the concentration of BIO-P60 biopesticide that causes the highest mortality of Ae. aegypti larvae. This research was conducted in the Entomology and Parasitology Laboratory and Microbiology Laboratory. The research method used was an experimental method using a completely randomized design (CRD) with 7 treatments, namely negative control (without biopesticide), positive control (abate), BIO-P60 biopesticide with various concentrations determined from preliminary test results. The observed variables consisted of independent variables and dependent variables. The independent variable in this study is the concentration of BIO-P60 biopesticide, while the dependent variable is the ability of BIO-P60 to kill Ae. aegypti. The main parameter observed was the mortality of instar III larvae of Ae. aegypti, and the supporting parameters were the length of larval life until they became adults and the number of bacteria in the biopesticide. Mortality and developmental time data obtained were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) at an error rate of 5%. Furthermore, significantly different results were followed by Duncan Multiple Range Test (DMRT) at the 5% error level. And the number of bacteria in biopesticides was analyzed descriptively. The results showed that the positive control treatment (abate) with a concentration of 10% had the highest effectiveness in killing Ae. aegypti larvae by 100%, while the BIO-P60 treatment with a concentration of 90% caused a mortality rate of 60% which was not significantly different from the concentrations of 70% and 80%. The TPC test results showed that the BIO-P60 sample taken as much as 1 mL had a colony count of 1.38 x 105 CFU/mL. This number of colonies indicates the presence of active bacteria in BIO-P60 products, in accordance with the manufacturer's claim that BIO-P60 contains P. fluorescens P60 bacteria. BIO-P60 biopesticide did not have a significant effect in slowing down the development of Ae. aegypti larvae, despite being used at higher concentrations. | |
| 44166 | 47550 | I1J021032 | IDENTIFICATION OF GASTRITIS RISK FACTORS FOR THE INCIDENCE OF GASTRITIS IN PROFESSIONAL NURSING STUDENTS AT UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN | Latar belakang: Gastritis merupakan peradangan pada lapisan mukosa lambung yang sering dialami oleh mahasiswa, terutama akibat pola hidup yang tidak sehat, seperti kebiasaan makan yang buruk, tingkat stres yang tinggi, dan kualitas tidur yang rendah. Di kalangan mahasiswa keperawatan, gastritis sering terjadi dan dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko, seperti riwayat keluarga dengan gastritis, pola makan, tingkat stres, dan kualitas tidur. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif korelasional dengan desain cross-sectional. Sebanyak 30 mahasiswa keperawatan Universitas Jenderal Soedirman dipilih sebagai sampel. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan uji statistik chi-square. Hasil: Sebagian besar responden adalah perempuan (93,3%) dengan usia rata-rata 22 tahun. Analisis statistik menunjukkan hubungan yang signifikan antara riwayat gastritis dalam keluarga (p = 0,030), kebiasaan makan (p = 0,002), dan tingkat stres (p = 0,011) dengan kejadian gastritis. Namun, tidak ditemukan hubungan signifikan secara statistik antara kualitas tidur dan kejadian gastritis (p > 0,05). Kesimpulan: Penelitian ini mengidentifikasi riwayat gastritis dalam keluarga, kebiasaan makan yang tidak sehat, dan tingkat stres yang tinggi sebagai faktor risiko yang signifikan terhadap gastritis di kalangan mahasiswa keperawatan. Temuan ini menekankan pentingnya penerapan pola makan yang sehat dan pengelolaan stres yang baik untuk mengurangi risiko gastritis. Walaupun kualitas tidur tidak menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik dengan kejadian gastritis, menjaga kualitas tidur yang baik tetap krusial untuk kesehatan secara keseluruhan, karena dapat mendukung sistem imun dan pengelolaan stres. | Background: Gastritis is an inflammation of the gastric mucosa that is often experienced by university students, especially due to unhealthy lifestyles, such as poor eating habits, high stress levels, and low sleep quality. Among nursing students, gastritis is common and influenced by various risk factors, such as family history of gastritis, diet, stress levels, and sleep quality. Methods: This study used a descriptive correlational approach with a cross-sectional design. A total of 30 nursing students of Jenderal Soedirman University were selected as samples. Data were collected through a structured questionnaire and analyzed using the chi-square statistical test. Results: Most of the respondents were female (93.3%) with an average age of 22 years. Statistical analysis showed a significant association between family history of gastritis (p = 0.030), dietary habits (p = 0.002), and stress level (p = 0.011) with gastritis incidence. However, no statistically significant association was found between sleep quality and gastritis incidence (p > 0.05). Conclusion: This study identified family history of gastritis, unhealthy eating habits, and high stress levels as significant risk factors for gastritis among nursing students. These findings emphasize the importance of adopting a healthy diet and good stress management to reduce the risk of gastritis. Although sleep quality did not show a statistically significant association with the incidence of gastritis, maintaining good sleep quality is still crucial for overall health, as it supports the immune system and stress management. | |
| 44167 | 47551 | E1A020164 | RELEVANSI KETIADAAN UNSUR RENCANA PADA TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN BERENCANA DALAM PUTUSAN NOMOR 38/Pid.B/2020/PN PWT (Studi Putusan Pengadilan Negeri Purwokerto Nomor 38/Pid.B/2020/PN. PWT) | Tindak pidana pembunuhan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) secara umum dibedakan menjadi dua jenis, yaitu pembunuhan sebagaimana diatur dalam Pasal 338 KUHP dan pembunuhan berencana sebagaimana diatur dalam Pasal 340 KUHP. Perbedaan mendasar antara kedua tindak pidana tersebut terletak pada keberadaan unsur perencanaan dalam peristiwa pembunuhan yang terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertimbangan hakim dalam perkara pembunuhan pada Putusan Nomor 38/Pid.B/2020/PN PWT, khususnya mengenai ketiadaan unsur perencanaan dan mengetahui dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa. Penelitian ini memfokuskan pada Putusan Nomor 38/Pid.B/2020/PN PWT, sebuah kasus pembunuhan yang diperdebatkan ada atau tidak adanya unsur rencana. Penelitian ini merupakan hasil penelitian yuridis normatif dengan pendekatan kasus, pendekatan konseptual, dan pendekatan perundang- undangan. Temuan dalam penelitian ini, bahwa Majelis Hakim tidak mempertimbangkan unsur rencana dalam amar putusannya meskipun fakta hukum memperlihatkan Terdakwa mempersiapkan alat dan menunggu kesempatan yang paling memungkinkan untuk melakukan pembunuhan. Temuan lainnya, bahwa Majelis Hakim menetapkan bobot pemenjaraan sesuai dengan ancaman maksimal dalam tindak pidana pembunuhan (Pasal 338 KUHP) meskipun terdapat hal meringankan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat kekeliruan dari Majelis Hakim terhadap pemenuhan unsur rencana dalam pembunuhan karena penilaian adanya kepanikan atau spontanitas dari Terdakwa dalam melakukan pembunuhan. Majelis Hakim dapat dikonstruksikan menggunakan paradigma pembalasan karena menetapkan bobot pemenjaraan maksimal meskipun adanya hal meringankan. Saran yang diajukan dalam penelitian ini adalah seharusnya Majelis Hakim menilai fakta hukum secara komprehensif pada hal-hal yang berkaitan dengan persiapan pembunuhan dan tidak perlu menetapkan bobot pemenjaraan maksimal sepanjang masih dapat ditemukan hal meringankan dari sisi Terdakwa. | The crime of murder, as regulated in the Indonesian Criminal Code (Kitab Undang- Undang Hukum Pidana or KUHP), is generally divided into two types: murder as stipulated in Article 338 and premeditated murder as stipulated in Article 340. The fundamental difference between these two criminal acts lies in the element of planning in the act of murder. This study aims to analyze the judges' considerations in a murder case based on Decision Number 38/Pid.B/2020/PN PWT, particularly concerning the absence of the premeditation element and to understand the rationale behind the judges' decision in sentencing the Defendant. This study focuses on Decision Number 38/Pid.B/2020/PN PWT, a murder case in which the presence or absence of a premeditated element is debated. The study is the result of normative juridical research using a case approach, a conceptual approach, and a statutory approach. The findings in this study indicate that the Panel of Judges did not take the element of premeditation into account in their verdict, despite the legal facts showing that the Defendant had prepared tools and waited for the most opportune moment to commit the murder. Another finding reveals that the Panel of Judges imposed a prison sentence in accordance with the maximum penalty for murder under Article 338, even though mitigating factors were present. The study concludes that there was an error by the Panel of Judges in assessing the fulfillment of the premeditation element in the murder case, due to their interpretation of the Defendant’s actions as being driven by panic or spontaneity. The judges' decision could be construed as employing a retributive paradigm, as they imposed the maximum penalty despite the presence of mitigating factors. The study suggests that the Panel of Judges should comprehensively evaluate the legal facts related to the preparation of the murder and avoid imposing the maximum sentence if mitigating factors in favor of the Defendant are found. | |
| 44168 | 47536 | I1J021027 | Relationship Between Intensity Involvement Student Executive Board Organisations (BEM) University Level and Stress, Anxiety, Depression in Student Universitas Jenderal Soedirman | Angka bunuh diri di Indonesia terus meningkat, dengan mahasiswa sebagai kelompok yang paling terdampak, sehingga menyoroti pentingnya deteksi dini terhadap stres, kecemasan, dan depresi yang dapat mengganggu kesehatan mental. Keterlibatan dalam organisasi, seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), dapat mendukung perkembangan intelektual, sosial, dan spiritual. Namun, bergabung dengan organisasi perlu mempertimbangkan keseimbangan antara tuntutan dan tanggung jawab untuk menjaga kesehatan mental. Penelitian kuantitatif dengan desain korelasional terhadap 151 pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) periode 2024 dengan menggunakan stratified random sampling. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara keterlibatan organisasi dengan tingkat stres (p-value = 0,197), kecemasan (p-value = 0,280), dan depresi (p-value = 0,233), karena nilai p lebih besar dari 0,05. Penelitian ini menunjukkan bahwa intensitas keterlibatan dalam organisasi tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat stres, kecemasan, dan depresi pada mahasiswa. Faktor-faktor lain lebih dominan dalam mempengaruhi kondisi-kondisi tersebut. Respon terhadap stres, kecemasan, dan depresi sangat bergantung pada bagaimana individu memaknai dan merespon stressor yang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. | Suicide rates in Indonesia continue to rise, with university students being the most affected group, highlighting the importance of early detection of stress, anxiety, and depression that can compromise mental health. Involvement in organisations, such as the Student Executive Board (BEM), can support intellectual, social, and spiritual development. However, joining organisations needs to consider the balance between demands and responsibilities in order to maintain mental well-being. Quantitative research with a correlational design on 151 Student Executive Board (BEM) management 2024 administrators using stratified random sampling. There was no significant relationship between organisational involvement and levels of stress (p-value = 0.197), anxiety (p-value = 0.280), and depression (p-value = 0.233), as the p value was greater than 0.05. This study shows that the intensity of organisational involvement does not have a significant impact on the levels of stress, anxiety, and depression in university students. Other factors are more dominant in influencing these conditions. Responses to stress, anxiety, and depression depend largely on how individuals interpret and respond to stressors, which are influenced by internal and external factors. | |
| 44169 | 47552 | A1G022012 | Persepsi Pemuda terhadap Profesi Petani di Desa Panusupan Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas | Desa Panusupan merupakan desa yang memiliki produksi padi sawah tertinggi di Kecamatan Cilongok yaitu sebanyak 38.718,00 kwintal. Desa Panusupan juga memiliki area tanam terluas di Kecamatan Cilongok yaitu 4.505,50 ha. Produksi yang tinggi dan area tanam yang luas tidak sebanding dengan sumberdaya yang ada. Jumlah profesi petani tanaman pangan padi sawah justru mengalami penurunan 12,28 persen. Tidak ada regenerasi petani di Desa Panusupan. Pemuda lebih tertarik bekerja disektor non pertanian. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan 1) Mengetahui persepsi pemuda terhadap profesi petani padi sawah di Desa Panusupan Kacamatan Cilongok Kabupaten Banyumas, 2) Mengetahui hubungan faktor internal dengan persepsi pemuda terhadap profesi petani padi sawah di Desa Panusupan Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas. Metode penelitian yang digunakan yaitu survei melalui wawancara langsung kepada pemuda di Desa Panusupan Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas sebanyak 97 responden yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling.Pengambilan data dilaksanakan pada bulan Juni hingga Juli 2024. Penelitian dilakukan dengan metode wawancara, dokumentasi, dan studi literatur. Analisis penelitian ini menggunakan analisis korelasi rank spearman. Hasil penelitian menunjukan bahwa persepsi pemuda terhadap profesi petani di Desa Panusupan termasuk dalam kategori baik. Faktor internal yang memiliki hubungan dengan persepsi yaitu faktor tingkat pendidikan. Faktor tingkat pendidikan memiliki hubungan yang signifikan dengan persepsi pemuda terhadap profesi petani dengan tingkat keeratan cukup erat. Tingkat pendidikan memiliki koefisien korelasi bernilai positif, sehingga semakin tinggi tingkat pendidikan pemuda, maka persepsi akan semakin baik. Faktor pekerjaan orang tua, status pernikahan dan jenis kelamin tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap persepsi pemuda di Desa Panusupan. | Panusupan Village is a village that has the highest amount of paddy production in Cilongok District, which is 38,718.00 quintals. Panusupan Village also has the largest harvest land in Cilongok District, which is 4,505.50 ha. However, the number of rice field food crop farmers has actually decreased by 12.28 percent. This is because there is no farmer regeneration in Panusupan Village. Young people are more interested in working in the non-agricultural sector. So this study was conducted with the aim of 1) Finding out the perception of young people towards the profession of paddy farmers in Panusupan Village, Cilongok District, Banyumas Regency, 2) Finding out the relationship between internal factors and young people's perceptions towards the profession of paddy farmers in Panusupan Village, Cilongok District, Banyumas Regency. The research method used was a survey through direct interviews with young people in Panusupan Village, Cilongok District, Banyumas Regency, as many as 97 respondents who were selected using the simple random sampling technique. Data collection was carried out in June to July 2024. The research was conducted using interview, documentation, and literature study methods. The analysis of this research used Spearman rank correlation analysis. The results of the study showed that the perception of young people towards the profession of farmers in Panusupan Village was included in the good category. Internal factors that are related to perception are the education level factor. The education level factor has a significant relationship with the perception of young people towards the profession of farmers with a fairly close level of closeness. The level of education has a positive correlation coefficient, so the higher the level of education of young people, the better the perception will be. Meanwhile, the factors of parental occupation, marital status and gender do not have a significant relationship to the perception of young people in Panusupan Village. | |
| 44170 | 47662 | B1A019074 | Aktivitas Amilolitik dan Karakterisasi Isolat Bakteri Asal Pencernaan Kecoak pada Suhu Berbeda | Pemanfaatan enzim dalam berbagai bidang industri telah berkembang pesat. Amilase menjadi salah satu enzim yang pengaplikasiannya sangat luas dalam bidang industri. Amilase dapat diekstraksi dari berbagai jenis sel organisme seperti hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme. Amilase dapat dihasilkan oleh bakteri amilolitik yang berasal dari saluran pencernaan hewan detritivor yang berperan dalam proses penguraian bahan organik. Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman memiliki koleksi bakteri endosimbion yang diisolasi dari bagian pencernaan kecoak Amerika. Berdasarkan pengujian kualitatif enzimatis yang telah dilakukan terhadap isolat bakteri tersebut, sebanyak 10 isolat menunjukkan adanya aktivitas amilolitik, namun, kemampuan hidrolitiknya secara kuantitatif belum diketahui. Aktivitas enzim amilase optimum pada suhu yang bervariasi juga belum diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh isolat bakteri, suhu inkubasi, interaksi antara jenis isolat dan suhu inkubasi terhadap aktivitas amilase, dan mengetahui identitas isolat bakteri amilolitik asal pencernaan kecoak. Penelitian dilaksanakan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama adalah isolat bakteri dan faktor kedua adalah suhu. Faktor pertama terdiri atas empat taraf, yaitu isolat bakteri terpilih 1, isolat bakteri terpilih 2, kontrol positif, dan kontrol negatif. Faktor kedua terdiri atas tiga taraf, yakni variasi suhu 40°C, 45°C, dan 50°C. Kontrol negatif dalam pengujian ini menggunakan supernatan hasil ekstraksi medium Starch Broth tanpa penambahan inokulum bakteri. Kontrol positif dalam pengujian ini menggunakan ekstrak kasar amilase dari Bacillus subtilis. Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali sehingga terdapat 36 unit percobaan. Kemampuan isolat bakteri dari pencernaan kecoak Amerika dalam menghasilkan enzim amilase diskrining pada medium Starch Agar. Isolat bakteri yang mampu menghasilkan zona bening pada tiga suhu pengujian (40°C, 45°C, dan 50°C) diukur aktivitasnya secara kuantitatif dan dikarakterisasi. Aktivitas amilase diukur melalui peneraan absorbansi dengan metode DNS pada variasi suhu berbeda. Karakterisasi isolat bakteri dilakukan dengan metode konvensional. Parameter utama yang diamati berupa unit aktivitas amilase. Parameter pendukung berupa indeks amilolitik, jumlah total bakteri, dan karakteristik bakteri amilolitik asal pencernaan kecoak. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) pada tingkat kepercayaan 95%. Analisis dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) apabila perlakuan berpengaruh nyata. Identifikasi isolat bakteri mengacu pada buku Bergey’s Manual of Determinative Bacteriology Ninth Edition. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak dua isolat bakteri asal pencernaan kecoak dengan kode ACU 16 C dan ACU 25 B menunjukkan kemampuan amilolitik pada tiga suhu pengujian (40, 45, dan 50°C). Secara kualitatif, nilai indeks amilolitik isolat ACU 16 C berkisar antara 20,0-23,8 mm dan isolat ACU 25 B berkisar antara 24,8-26,0 mm. Secara kuantitatif, nilai aktivitas amilolitik isolat ACU 16 C berkisar antara 0,312-0,446 U/mL dan isolat ACU 25 B berkisar antara 0,324-0,434 U/mL. Aktivitas isolat ACU 16 C dan ACU 25 B optimum pada suhu 50°C, dengan nilai aktivitas masing-masing 0,446 U/mL dan 0,434 U/mL. Isolat bakteri amilolitik ACU 16 C teridentifikasi sebagai anggota Genus Bacillus dan isolat bakteri ACU 25 B teridentifikasi sebagai anggota Genus Staphylococcus. | The application of enzymes in various industrial fields has grown rapidly. Amylase is one of the enzymes whose application is very broad in the industrial field. Amylase can be extracted from various types of organism cells such as animals, plants, and microorganisms. Amylase can be produced by amylolytic bacteria from the digestive tract of detritivor animals that have a role in the process of decomposing organic matter. The Microbiology Laboratory of the Faculty of Biology, Jenderal Soedirman University has a collection of endosymbiont bacteria isolated from the digestive tract of American cockroaches. Based on enzymatic qualitative tests that have been carried out on these bacterial isolates, as many as 10 isolates (37.04%) showed amylolytic activity, however, their quantitative degradation ability is not yet known. The optimum amylase enzyme activity at various temperatures is also not yet known. This study aims to determine the effect of bacterial isolates, incubation temperatures, interaction between isolate type and incubation temperature on amylase activity, and determine the identity of amylolytic bacterial isolates from cockroach digestion. The research was conducted experimentally using a completely randomized design (CRD) factorial pattern with two treatment factors. The first factor was bacterial isolates and the second factor was temperature levels. The first factor consisted of four levels, which were selected bacterial isolate 1, selected bacterial isolate 2, a positive control, and a negative control. The second factor consists of three levels, which are temperature variations of 40°C, 45°C, and 50°C. The negative control in this test used the supernatant of Starch Broth medium without the addition of bacterial inoculum. The positive control in this test used amylase crude extract from Bacillus subtilis. Each treatment was repeated 3 times so that there were 36 experimental units. The ability of bacterial isolates from the digestion of American cockroaches to produce amylase enzyme was tested on Starch Agar medium. Bacterial isolates that were able to produce clear zones at three test temperatures at once (40°C, 45°C, and 50°C) were quantitatively measured for their activity and characterized. Amylase activity was measured through absorbance illumination with DNS method at different temperature variations. Characterization of bacterial isolates was carried out by conventional methods. The main parameter observed was amylase activity unit. Supporting parameters were amylolytic index, total number of bacteria, and characteristics of amylolytic bacteria from cockroach digestion. The data obtained were analyzed using ANOVA at the 95% confidence level. Analysis was continued with DMRT if the treatment had a significant effect. Identification of bacterial isolates refers to Bergey's Manual of Determinative Bacteriology Ninth Edition. The research results indicate that a total of two bacterial isolates from cockroach digestion with the code ACU 16 C and ACU 25 B showed amylolytic ability at three test temperatures (40, 45, and 50°C). Qualitatively, the amylolytic index value of isolate ACU 16 C ranged from 20.0-23.8 mm and isolate ACU 25 B ranged from 24.8-26.0 mm. Quantitatively, the amylolytic activity values of isolate ACU 16 C ranged from 0.312-0.446 U/mL and isolate ACU 25 B ranged from 0.324-0.434 U/mL. The activity of isolates ACU 16 C and ACU 25 B was optimum at 50°C, with activity values of 0.446 U/mL and 0.434 U/mL, respectively. Amylolytic bacterial isolate ACU 16 C was identified as a member of the Bacillus Genus and bacterial isolate ACU 25 B was identified as a member of the Staphylococcus Genus. | |
| 44171 | 47553 | A1D020128 | Respon Fisiologi Tanaman Lobak Putih (Raphanus sativus L.) terhadap Pemberian Pupuk Organik Padat Dan Cair Kotoran Kelinci | Produksi lobak putih mengalami fluktuasi beberapa tahun terakhir. Peningkatan produksi tanaman dapat dilakukan dengan menambah bahan organik ke dalam tanah melalui pemberian pupuk organik. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk organik padat dan cair kotoran keinci terhadap fisiologi tanaman lobak putih. Penelitian dilaksanakan di Desa Banjarsari Wetan dengan rancangan percobaan Rancangan Acak Kelompok (RAK) 2 faktor. Faktor pertama, dosis pupuk organik padat ( 0, 10, dan 20 ton/ha ). Faktor kedua, konsentrasi pupuk organik cair ( 0, 200, 400 mL/L). Variabel yang diamati meliputi lebar bukaan stomata, kerapatan stomata, kehijauan daun, kadar klorofil, indeks luas daun, laju pertumbuhan tanaman, laju asimilasi bersih, bobot segar dan kering tanaman, serta bobot segar dan kering umbi. Hasil penelitian menunjukkan pemberian pupuk organik padat berpengaruh nyata pada variabel kerapatan stomata, kehijauan daun, kadar klorofil a, b dan total, indeks luas daun, laju pertumbuhan tanaman, bobot kering tanaman, bobot segar dan kering umbi. Pemberian pupuk organik cair kotoran kelinci berpengaruh nyata terhadap veriabel lebar bukaan stomata, kehijauan daun, kadar klorofil a,b dan total, laju asimilasi bersih, laju pertumbuhan tanaman, bobot segar dan kering tanaman, serta bobot segar dan kering umbi. Interaksi antara kedua perlakuan berpengaruh nyata terhadap variabel laju asimiasi bersih dan laju pertumbuhan tanaman. | White radish production has fluctuated in recent years. Increasing crop production can be done by adding organic matter to the soil through the application of organic fertilizers. The study aimed to determine the effect of solid and liquid organic fertilizer of rabbit manure on the physiology of white radish plants. The research was conducted in Banjarsari Wetan Village with the experimental design of Randomized Group Design (RAK) with 2 factors. The first factor, the dose of solid organic fertilizer (0, 10, and 20 tons/ha). The second factor, concentration of liquid organic fertilizer (0, 200, 400 mL/L). Variables observed included stomatal opening width, stomatal density, leaf greenness, chlorophyll content, leaf area index, plant growth rate, net assimilation rate, plant fresh and dry weights, and tuber fresh and dry weights. The results showed that the application of solid organic fertilizer had a significant effect on the variables of stomatal density, leaf greenness, chlorophyll a, b and total levels, leaf area index, plant growth rate, plant dry weight, fresh and dry weight of tubers. The application of rabbit manure liquid organic fertilizer has a significant effect on the variables of stomatal opening width, leaf greenness, chlorophyll a, b and total levels, net assimilation rate, plant growth rate, plant fresh and dry weights, and fresh and dry weights of tubers. The interaction between the two treatments significantly affected the variables of net assimilation rate and plant growth rate. | |
| 44172 | 47554 | I1A021076 | Faktor yang Berhubungan dengan Kadar Gula Darah Sewaktu Mahasiswa FIKES Universitas Jenderal Soedirman | Latar Belakang : Kadar gula darah tinggi juga dapat berdampak pada masalah kesehatan karena dapat berkembang menjadi penyakit kardiovaskuler, trombosit otak, stroke, gagal ginjal, dan paling identik dengan penyakit Diabetes Melitus. Pentingnya melakukan deteksi dini terkait kadar gula darah terhadap mahasiswa khususnya mahasiswa kesehatan, yang harapannya akan menjadi tenaga kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi gula darah sewaktu dan mengetahui faktor yang berhubungan dengan gula darah sewaktu mahasiswa Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman. Metode : Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain studi analitik dan menggunakan pendekatan cross sectional. Subyek penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman sejumlah 253 orang. Data yang diperoleh yaitu data primer dan sekunder. Analisis univariat dan analisis bivariat dilakukan menggunakan aplikasi SPSS. Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar gula darah sewaktu responden yaitu 110,01 mg/dl dan seluruh kadar gula darah responden normal (<200 mg/dl) dengan rata-rata umur 19,65 tahun, rata-rata berjenis kelamin perempuan (73,9%), mayoritas responden tidak obesitas (87,0%), tidak ada riwayat keluarga Diabetes Melitus (73,5%), tidak merokok (88,9%), melakukan aktivitas sedang (59,4%), pola makan baik (61,7%), tingkat stres normal (91,3), dan kualitas tidurnya buruk (80,6%). Secara statistik hasil Uji chi-square karena kategori kadar gula darah konstan, maka tidak terdapat hubungan antara umur, jenis kelamin, oebsitas, Riwayat DM, merokok, aktivitas fisik, pola makan, tingkat stress, dan kualitas tidur dengan kadar gula darah sewaktu responden Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan antara umur, jenis kelamin, oebsitas, Riwayat DM, merokok, aktivitas fisik, pola makan, tingkat stress, dan kualitas tidur dengan kadar gula darah sewaktu responden Kata Kunci : kadar gula darah, mahasiswa, kesehatan | Background : High blood sugar levels can lead to various health issues, including cardiovascular diseases, cerebral thrombosis, stroke, kidney failure, and most notably, Diabetes Mellitus. Early detection of blood sugar levels in students, particularly health science students, is crucial as they are expected to become healthcare professionals. This study aims to detect random blood sugar levels and identify the factors associated with random blood sugar levels among students of the Faculty of Health Sciences, Jenderal Soedirman University. Methods : This research employed a quantitative with an analytical study design and a cross-sectional method. The subjects were 253 students from the Faculty of Health Sciences, Jenderal Soedirman University. The data collected consisted of primary and secondary data. Univariate and bivariate analyses were conducted using the SPSS application. Results : The study showed that the average random blood sugar level of the respondents was 110.01 mg/dl, and all respondents had normal blood sugar levels (<200 mg/dl). The respondents’ average age was 19.65 years, with the majority being female (73.9%). Most respondents were not obese (87.0%), had no family history of Diabetes Mellitus (73.5%), did not smoke (88.9%), engaged in moderate physical activity (59.4%), had a good dietary pattern (61.7%), experienced normal stress levels (91.3%), and had poor sleep quality (80.6%). Statistically, the chi-square test results showed no significant relationship between age, gender, obesity, history of Diabetes Mellitus, smoking, physical activity, dietary pattern, stress level, and sleep quality with the random blood sugar levels of the respondents. Conclusion : There is no significant relationship between age, gender, obesity, history of Diabetes Mellitus, smoking, physical activity, dietary pattern, stress level, and sleep quality with the random blood sugar levels of the respondents. Keywords: blood sugar levels, students, health | |
| 44173 | 47555 | A1D020042 | PENGARUH KONSENTRASI 2,4 DIMETIL AMINA SEBAGAI ZAT PENGATUR TUMBUH TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN TERONG UNGU (Solanum melongena L.) | Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aplikasi berbegai konsentrasi 2,4 DMA terhadap pertumbuhan dan hasil terong ungu. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan perlakuan yakni A = 3,00 ppm B = 2,25 ppm, C = 1,50 ppm , D = 0,75 ppm 0,50 ml/L, E = 0 ppm sebagai kontrol. Setiap perlakuan diulang sebanyak lima kali. Penyemprotan dilakukan dengan interval 7 hari. Variabel yang diamati yaitu tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, luas daun, hari muncul bunga pertama, umur panen, bobot buah per tanaman, dan bobot buah per petak. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan uji ANOVA pada taraf kesalahan 5%, kemudian diuji lanjut dengan DMRT pada taraf kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukkan aplikasi 2,4 DMA berpengaruh nyata pada tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, luas daun, dan hari muncul bunga pertama. Konsentrasi 2,4 DMA yang optimum konsentrasi 0,75 ppm. | This study aims to examine the application of various concentrations of 2.4 DMA on the growth and yield of purple eggplant. This study used a Complete Randomized Block Design with treatments namely A = 3.00 ppm B = 2.25 ppm, C = 1.50 ppm, D = 0.75 ppm 0.50 ml / L, E = 0 ppm as a control. Each treatment was repeated five times. Spraying was carried out at intervals of 7 days. The variables observed were plant height, stem diameter, number of leaves, leaf area, day of first flower appearance, harvest age, fruit weight per plant, and fruit weight per plot. The observation data were analyzed using the ANOVA test at an error level of 5%, then further tested with DMRT at an error level of 5%. The results showed that the application of 2.4 DMA had a significant effect on plant height, stem diameter, number | |
| 44174 | 47556 | E1A018211 | PROBLEMATIKA MASA TUNGGU BAGI TERPIDANA MATI BERDASARKAN PERUNDANG-UNDANGAN PIDANA DAN KUHP NASIONAL | Pidana mati (doodstraf) merupakan hukuman dengan skala sanksi paling berat untuk seseorang atas kesalahannya. Fenomena masa tunggu eksekusi yang berlarut- larut dan kondisi pemenjaraan yang buruk merupakan bentuk pelanggaran Hak Asasi Manusia bagi terpidana mati. Penelitian ini menganalisis tentang perbedaan ketentuan pelaksanaan pidana mati yang diatur dalam perundang-undangan pidana dan KUHP Nasional, serta relevansi ketentuan pelaksanaan pidana mati yang diatur KUHP Nasional untuk mengurangi potensi berlarutnya masa tunggu. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, mengkaji teori-teori hukum dan praktek pelaksanaan hukum positif yang menyangkut permasalahan yang telah dirumuskan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pelaksanaan pidana mati di Indonesia tidak mengalami perubahan sejak 1964 sampai sekarang, melalui UU Nomor 2 PNPS 1964 metode pelaksanaan pidana mati dilaksanakan dengan cara ditembak. Ketentuan mengenai masa percobaan selama 10 tahun yang disebutkan Pasal 100 Ayat 1 UU Nomor 1 Tahun 2023 telah memberikan kepastian hukum masa tunggu terhadap pidana mati dibandingkan perundang- undangan pidana sebelum KUHP Nasional. Walaupun metode eksekusi pidana mati tidak berubah, namun terdapat ketentuan yang berorientasi pada perlindungan terpidana yaitu tempat pelaksanaan eksekusi dilakukan secara tertutup tanpa pengecualian. Ketentuan mengenai masa percobaan 10 tahun penting diatur dalam hukum tertulis agar kepastian hukum terpidana mati terjamin. Pelaksanaan eksekusi pidana mati harus menjaga martabat terpidana dengan memperhatikan ketentuan yang mengatur. Pengawasan dan pengamatan pada praktek masa percobaan 10 tahun ini harus dilakukan oleh pengadilan melalui hakim agar berjalan dengan tepat. | Death penalty (deodstraf) is a punishment with the most severe scale of sanctions for a person for his or her mistakes. The phenomenon of protracted waiting periods for execution and poor prison conditions is a violation of human rights for death row inmates. This research analyzes the differences in provisions for implementing the death penalty regulated in criminal legislation and the National Criminal Code, as well as the relevance of the provisions for implementing the death penalty regulated by the National Criminal Code to reduce the potential for protracted waiting periods. This research uses a normative juridical method with a legislative approach, examining legal theories and the practice of implementing positive law regarding the problems that have been formulated. The results of the research show that the implementation of the death penalty in Indonesia has not changed since 1964 until now, through Law Number 2 PNPS 1964, the method of implementing the death penalty is carried out by shooting. The provisions regarding the 10 year probationary period stated in Article 100 Paragraph 1 of Law Number 1 of 2023 have provided legal certainty regarding the waiting period for the death penalty compared to criminal legislation before the National Criminal Code. Although the method of executing the death penalty has not changed, there are provisions that are oriented towards protecting the convict, namely that the execution is carried out behind closed doors without exception. It is important that provisions regarding the 10 year probation period be regulated in written law so that legal certainty for death row prisoners is guaranteed. The execution of the death penalty must maintain the dignity of the convict by paying attention to the governing provisions. Supervision and observation of the practice of the 10 year probation period must be carried out by the court through the judge so that it runs properly. | |
| 44175 | 47558 | I1A021006 | Analisis Spasial Kejadian Hipertensi Berdasarkan Hasil Skrining PTM Pada Integrasi Layanan Primer (ILP) Di Wilayah Kerja Puskesmas Karanglewas Tahun 2024 | Latar Belakang : Kejadian hipertensi di Kecamatan Karanglewas Tahun 2024 pada bulan Agustus terdapat 507 kasus dan menduduki peringkat ke 4 di Kabupaten Banyumas. Geographic Information System (GIS) berguna untuk mengetahui persebaran penyakit, sehingga pada bidang kesehatan dimanfaatkan untuk pemetaan distribusi spasial serta cakupan layanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi kejadian hipertensi Kecamatan Karanglewas Tahun 2024. Metode : Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan studi cross sectional bersifat deskriptif. Subyek penelitian ini adalah penderita hipertensi dari hasil skrining PTM di Kecamatan Karanglewas Tahun 2024 sejumlah 490 orang. Data terdiri dari data sekunder dan data primer yang dikumpulkan dengan GPS Test. Analisis univariat dengan aplikasi SPSS 27 dan analisis spasial dilakukan melalui aplikasi ArcGIS 10.2. Hasil Penelitian : Distribusi penderita hipertensi di Kecamatan Karanglewas tersebar di 13 desa, 25,19% kasus berada di Desa Singasari, 83,3% mayoritas penderita berusia produktif (15-59 tahun), 73,9% berjenis kelamin perempuan. Penderita hipertensi yang merokok sebesar 13,1%, beraktivitas fisik kurang sebesar 68,6%, konsumsi sayur dan buah kurang sebesar 68,8%, dan yang memiliki status IMT obesitas sebesar 43,5%. Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa 78% kejadian hipertensi berada di wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi 1250-8000 jiwa/km², 60% berada pada wilayah dengan jumlah penduduk miskin tinggi 307-459 jiwa, dan 48% berada di wilayah buffering jauh 1201-3000 meter dari fasilitas pelayanan kesehatan. Kesimpulan : Mayoritas penderita hipertensi di Kecamatan Karanglewas Tahun 2024 berada di wilayah dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan jumlah penduduk miskin yang tinggi, serta berada jauh dari fasilitas pelayanan kesehatan. Kata Kunci : Spasial, Hipertensi, Skrining PTM | Background : The incidence of hypertension in Karanglewas District in August 2024 was 507 cases and ranked 4th in Banyumas Regency. Geographic Information System (GIS) is useful for knowing the distribution of diseases, so that in the health sector it is used for mapping spatial distribution and coverage of health services. This study aims to determine the distribution of hypertension incidence in Karanglewas District in 2024. Method : This type of research is quantitative with a descriptive cross-sectional study. The subjects of this study were hypertension sufferers from the results of PTM screening in Karanglewas District in 2024 totaling 490 people. The data consists of secondary data and primary data collected using the GPS Test. Univariate analysis with the SPSS 27 application and spatial analysis was carried out using the ArcGIS 10.2 application. Results : The distribution of hypertension sufferers in Karanglewas District is spread across 13 villages, 25.19% of cases are in Singasari Village, 83.3% of the majority of sufferers are of productive age (15-59 years), 73.9% are female. Hypertension sufferers who smoke are 13.1%, less physical activity is 68.6%, less vegetable and fruit consumption is 68.8%, and those with an obese BMI status are 43.5%. The results of spatial analysis show that 78% of hypertension cases are in areas with high population density of 1250-8000 people/km², 60% are in areas with a high number of poor people of 307-459 people, and 48% are in buffering areas 1201-3000 meters away from health service facilities. Conclusion : The majority of hypertension sufferers in Karanglewas District in 2024 are in areas with high population density and a high number of poor people, and are far from health service facilities. Keywords : Spatial, Hypertension, PTM Screening | |
| 44176 | 47557 | G1A021050 | Efek Kombinasi Jus Buah Mengkudu dan Madu terhadap Kadar High Density Lipoprotein (HDL) pada Tikus Model Diabetes Melitus Tipe 2 | Latar Belakang: Prevalensi penderita DM di Indonesia pada tahun 2021 adalah sebanyak 19,4 juta jiwa. Pasien dengan DM memiliki risiko lebih tinggi 2 sampai 4 kali mengalami perubahan pada profil lipid, salah satunya adalah kadar HDL. Buah mengkudu (Morinda citrifolia L.) dan madu berpotensi menjadi pilihan terapi dalam mengontrol profil lipid pada pasien DM tipe 2. Tujuan: Mengetahui efek kombinasi jus buah mengkudu dan madu terhadap kadar HDL pada tikus model DM tipe 2. Metode: Penelitian ini merupakan eksperimen laboratorium dengan desain studi post-test only with control group. Sampel berjumlah 35 ekor tikus yang dibagi menjadi 7 kelompok: KS (kontrol sehat), KD (kontrol diabetes), P1 (diinduksi DMT2 kemudian diberikan 0,72 mL/200g jus buah mengkudu), P2 (diinduksi DMT2 kemudian diberikan 0,2 mL/200g madu), P3 (diinduksi DMT2 kemudian diberikan kombinasi 0,36 mL/200g jus buah mengkudu dan 0,2 mL/200g madu), P4 (diinduksi DMT2 kemudian diberikan kombinasi 0,72 mL/200g jus buah mengkudu dan 0,2 mL/200g madu), P5 (diinduksi DMT2 kemudian diberikan kombinasi 1,44 mL/200g jus buah mengkudu dan 0,2 mL/200g madu). Kadar HDL dianalisis secara enzimatis dengan spektrofotometer menggunakan commercial kit Diasys. Data kadar HDL yang diperoleh kemudian dianalisis secara statistik menggunakan uji One Way ANOVA. Hasil: Rerata kadar HDL kelompok dari yang tertinggi hingga terendah secara berturut-turut, yaitu kelompok KS, kemudian disusul dengan kelompok P5, P4, P1, P3, P2, dan kelompok KD. Hasil analisis uji One Way ANOVA menunjukkan terdapat perbedaan kadar HDL yang signifikan diantara seluruh kelompok perlakuan. Pada uji Post Hoc Tukey’s HSD, kadar HDL antar seluruh kelompok berbeda secara signifikan, kecuali pada kelompok KS dengan P5. Kesimpulan: Semakin tinggi dosis mengkudu pada kombinasi jus buah mengkudu dan madu, semakin tinggi pula peningkatan kadar HDL pada tikus yang diinduksi DM tipe 2, yang mana dosis paling efektif adalah kombinasi 1,44 mL/200g jus buah mengkudu dan 0,2 mL/200g madu. | Background: The prevalence of diabetes mellitus (DM) in Indonesia reached 19.4 million cases in 2021. Patients with DM are 2 to 4 times more likely to experience changes in lipid profiles, including HDL levels. Noni fruit (Morinda citrifolia L.) and honey have the potential to be therapeutic options for managing lipid profiles in type 2 DM patients. Objective: To investigate the effect of noni fruit juice and honey combination on HDL levels in type 2 DM rat models. Research Methods: This laboratory experimental study employed a post-test only with control group design. A total of 35 rats were divided into 7 groups: KS (healthy control), KD (diabetic control), P1 (induced with T2DM and given 0.72 mL/200g noni fruit juice), P2 (induced with T2DM and given 0.2 mL/200g honey), P3 (induced with T2DM and given a combination of 0.36 mL/200g noni fruit juice and 0.2 mL/200g honey), P4 (induced with T2DM and given a combination of 0.72 mL/200g noni fruit juice and 0.2 mL/200g honey), and P5 (induced with T2DM and given a combination of 1.44 mL/200g noni fruit juice and 0.2 mL/200g honey). HDL levels were enzymatically analyzed using a spectrophotometer with a commercial Diasys kit. The obtained HDL level data were then statistically analyzed using One Way ANOVA test. Results: The mean HDL levels from the highest to the lowest were observed in the KS group, followed by P5, P4, P1, P3, P2, and KD. One-Way ANOVA analysis indicated significant differences in HDL levels among all groups. Post Hoc Tukey’s HSD test revealed significant differences between all groups except KS and P5. Conclusion: Higher doses of noni fruit juice in combination with honey resulted in higher HDL levels in type 2 DM-induced rats, with the most effective dose being a combination of 1.44 mL/200g noni fruit juice and 0.2 mL/200g honey. | |
| 44177 | 47424 | I1J021022 | The Relationship Between Parents Communication Patterns and Incidents of Anxiety in Generation Z Middle Adolescent | Remaja tengah generasi Z menghadapi berbagai tantangan emosional dan sosial. Salah satu masalah kesehatan mental yang sering terjadi adalah kecemasan, yang dapat memengaruhi kesejahteraan mereka. Kecemasan ini dimungkinkan dipengaruhi oleh pola komunikasi orang tua, yang melibatkan keterbukaan, empati, dan perilaku positif dalam interaksi sehari-hari. Penelitian ini bersifat analitik dengan metode analisis kolerasi dengan pendekatan cross-sectional. Data diperoleh dari 81 responden yang dipilih menggunakan metode simple random sampling yang dihitung menggunakan rumus slovin. Data dikumpulkan melalui kuesioner, yang kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Nilai sig (2-tailed) sebesar 0,003; karena nilai sig (2-tailed) < 0,01 maka terdapat hubungan yang signifikan antara pola komunikasi orang tua dengan kejadian kecemasan pada remaja tengah Generasi Z. Sebagian besar responden (55,6%) melaporkan pola komunikasi disfungsional, sedangkan 44,4% melaporkan pola komunikasi fungsional. Tingkat kecemasan yang dialami responden adalah 80,2% kecemasan ringan, 17,3% kecemasan sedang, dan 2,5% kecemasan berat. Terdapat hubungan yang signifikan antara hubungan pola komunikasi orang tua dengan kejadian kecemasan pada remaja tengah generasi Z. | The middle adolescents of Generation Z faced a variety of emotional and social challenges. One common mental health issue is anxiety, which can affect their well-being. This anxiety may be influenced by parents' communication patterns, which involve openness, empathy, and positive behavior in daily interactions. This study was analytical with correlation analysis method with approach taken was cross-sectional. Data were obtained from 81 respondents who were selected using the simple random sampling method, calculated using the Slovin formula. Data were collected through questionnaires and then analyzed using the Spearman correlation test. The sig value (2-tailed) is 0.003; because the sig value (2-tailed) <0.01, there was a significant relationship between parents’ communication patterns and incidents of anxiety in Generation Z middle adolescents. The most respondents (55.6%) reported dysfunctional communication patterns, while 44.4% reported functional communication patterns. The level of anxiety experienced by respondents was 80.2% mild anxiety, 17.3% moderate anxiety, and 2.5% severe anxiety. There was a significant relationship between the relationship between parents' communication patterns and incidents of anxiety in generation Z middle adolescents. | |
| 44178 | 47559 | K1C020065 | Simulasi Aliran Darah Pada Stenosis Arteri Karotis Penyebab Stroke Iskemik Dengan Model Fluida Casson Menggunakan Metode Computational Fluid Dynamics (CFD) | Stenosis arteri karotis merupakan kondisi penyempitan lumen arteri yang berpotensi mengganggu aliran darah menuju otak, yang dapat menyebabkan stroke iskemik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis profil kecepatan aliran darah serta perubahan tekanan pada stenosis arteri karotis dengan model Casson menggunakan metode Computational Fluid Dynamics. Fokus penelitian terletak pada pengaruh elastisitas dinding arteri terhadap aliran darah, dengan membandingkan kondisi dinding kaku dan elastis pada tingkat stenosis yang bervariasi 0%, 20%, 40%, 60%, dan 80%. Simulasi dilakukan pada model arteri karotis berbentuk silinder dengan penyempitan konsentris, di mana aliran darah dianggap laminar dan bersifat transien dengan kecepatan awal periodik. Tekanan outlet didefinisikan konstan sebesar 100 mmHg. Hasil simulasi menunjukkan bahwa peningkatan persentase stenosis mengakibatkan peningkatan kecepatan aliran darah di lokasi stenosis. Pada dinding elastis, aliran darah lebih mudah beradaptasi dengan perubahan bentuk, sedangkan pada dinding kaku, aliran menjadi terbatas, sehingga terjadi peningkatan tekanan dengan dengan perbedaan persentase kenaikan tekanan antara dinding arteri elastis dan kaku mencapai 2,97%. Stenosis 60% menyebabkan lonjakan tekanan maksimum pada inlet, dengan tekanan darah mencapai 145,92/81,77 mmHg untuk dinding kaku dan 142,35/80,0012 mmHg untuk dinding elastis. Kondisi ini menghasilkan pressure drop yang signifikan dan meningkatkan risiko kerusakan pembuluh darah, yang dapat memicu terjadinya stroke iskemik. | Carotid artery stenosis is a condition of narrowing of the lumen of the arteries that has the potential to interfere with blood flow to the brain, which can lead to ischemic stroke. This study aims to analyze the blood flow velocity profile and pressure changes in carotid artery stenosis using the Casson model using the Computational Fluid Dynamics method. The focus of the study lies in the effect of arterial wall elasticity on blood flow, by comparing the condition of rigid and elastic walls at varying levels of stenosis of 0%, 20%, 40%, 60%, and 80%. The simulation was carried out on a model of cylindrical carotid arteries with a concentric narrowing, where blood flow is considered laminar and transient with a periodic initial velocity. The outlet pressure is defined as a constant of 100 mmHg. The simulation results showed that an increase in the percentage of stenosis resulted in an increase in the speed of blood flow at the stenosis site. On elastic walls, blood flow is more easily adapted to shape changes, while on rigid walls, flow is limited, resulting in increased pressure. 60% stenosis causes a maximum pressure spike in the inlet, with blood pressure reaching 145,92/8,77 mmHg for rigid walls and 142,35/80,0012 mmHg for elastic walls. This condition results in significant pressure drop and increases the risk of blood vessel damage, which can trigger ischemic stroke. | |
| 44179 | 47560 | A1D020192 | Analisis Vegetasi Gulma pada Perkebunan Kopi (Coffea sp.) di Kecamatan Sumbang dan Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas | Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan yang berkembang di Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah. Keberadaan gulma pada lahan perkebunan kopi menjadi faktor penting yang memengaruhi efisiensi fotosintesis dan akumulasi nutrisi pada tanaman kopi, sehingga pengendalian gulma diperlukan untuk mengurangi dampak negatifnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keragaman jenis gulma dan menentukan gulma yang dominan pada perkebunan kopi di Desa Sikapat, Kecamatan Sumbang, dan Desa Kemawi, Kecamatan Somagede. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan identifikasi spesies gulma melalui plot sampling berukuran 0,5 × 0,5 m² dan kuantitatif menggunakan metode kuadrat untuk menganalisis vegetasi gulma. Hasil penelitian menunjukkan di Desa Sikapat terdapat 11 spesies gulma dengan total sebanyak 372 individu dan Borreria alata sebagai gulma dominan dengan nilai SDR 21,96%. Sementara itu, di Desa Kemawi ditemukan 7 spesies gulma dengan total sebanyak 63 individu dan Imperata cylindrica sebagai gulma dominan dengan nilai SDR 29,27%. | Coffe is one of the growing plantation commodities in Banyumas Regency, Central Java Province. The presence of weeds in coffee plantations is an important factor affecting photosynthetic efficiency and nutrient accumulation in coffee plants, so weed control is needed to reduce their negative impact. This study aims to identify the diversity of weed species and determine the dominant weeds in coffee plantations in Sikapat Village, Sumbang Subdistrict, and Kemawi Village, Somagede Subdistrict. The research method used was qualitative by identifying weed species through sampling plots measuring 0.5 × 0.5 m² and quantitative using the quadrat method to analyze weed vegetation. The results showed that in Sikapat Village there were 11 weed species with a total of 372 individuals and Borreria alata as the dominant weed with an SDR value of 21,96%. Meanwhile, in Kemawi Village there were 7 weed species with a total of 63 individuals and Imperata cylindrica as the dominant weed with an SDR value of 29,27%. | |
| 44180 | 47561 | H1E018035 | PENGUKURAN KINERJA SUPPLY CHAIN MANAGEMENT DENGAN MODEL SUPPLY CHAIN OPERATION REFERENCES (SCOR) MENGGUNAKAN METODE DECISION MAKING TRIAL AND EVALUATION LABORATORY (DEMATEL) - ANALYTICAL NETWORK PROCESS (ANP) | PT Astra Daihatsu Motor (ADM) Indonesia, sebagai perusahaan manufaktur otomotif, berupaya untuk terus berinovasi dalam produksi dan pelayanan. PT ADM memiliki beberapa fasilitas produksi (plant) di Indonesia, termasuk Karawang Engine Plant (KEP) yang bertugas memproduksi dan mengirimkan mesin ke fasilitas perakitan. Penilaian kinerja di PT ADM-KEP saat ini berfokus pada kinerja individu foreman, bukan pada proses secara keseluruhan, sehingga evaluasi manajemen rantai pasok belum optimal. Selain itu, PT ADM-KEP belum memiliki batasan yang jelas untuk setiap indikator kinerja. Oleh karena itu, pengukuran kinerja rantai pasok (Supply Chain Management) menjadi penting untuk mengoptimalkan bisnis. Pengukuran ini berfungsi sebagai umpan balik untuk menilai pencapaian perencanaan dan mengidentifikasi area yang memerlukan penyesuaian dalam perencanaan dan pengendalian. Untuk memastikan keselarasan strategi rantai pasok dengan metrik pengukuran, perlu ditentukan variabel yang akan diukur dan dipantau, mencakup seluruh kegiatan rantai pasokan, mulai dari perencanaan, pengadaan, produksi, pemenuhan permintaan pelanggan, hingga pengembalian. Pengukuran kinerja ini menggunakan metode Supply Chain Operation References (SCOR) dan Decision Making Trial And Evaluation Laboratory - Analytical Network Process (DEMATEL-ANP). Dengan menggunakan metode SCOR, didapatkan 26 KPI dari 29 KPI yang ditentukan untuk digunakan dalam proses selanjutnya menggunakan metode DEMATEL – ANP. Untuk metode DEMATEL – ANP didapatkan 8 rekomendasi perbaikan agar kinerja rantai pasok pada PT. ADM meningkat. | PT Astra Daihatsu Motor (ADM) Indonesia, as an automotive manufacturing company, strives to continuously innovate in production and service. PT ADM has several production facilities (plants) in Indonesia, including Karawang Engine Plant (KEP) which is in charge of producing and delivering engines to assembly facilities. The current performance appraisal at PT ADM-KEP focuses on the performance of individual foreman, rather than the process as a whole, resulting in suboptimal supply chain management evaluation. In addition, PT ADM-KEP does not have clear boundaries for each performance indicator. Therefore, supply chain performance measurement (Supply Chain Management) is important to optimise the business. These measurements serve as feedback to assess planning achievements and identify areas that require adjustments in planning and control. To ensure the alignment of supply chain strategy with measurement metrics, it is necessary to determine the variables to be measured and monitored, covering all supply chain activities, from planning, procurement, production, fulfilment of customer demand, to returns. This performance measurement uses the Supply Chain Operation References (SCOR) method and the Decision Making Trial And Evaluation Laboratory - Analytical Network Process (DEMATEL-ANP). By using the SCOR method, 26 KPIs out of 29 KPIs were determined to be used in the next process using the DEMATEL-ANP method. For the DEMATEL - ANP method, 8 improvement recommendations were obtained so that the supply chain performance at PT. ADM increased |