Artikelilmiahs

Menampilkan 42.361-42.380 dari 48.839 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4236145732E1A020043Upaya Penal Dalam Penanganan Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga Oleh Suami Terhadap Istri (Studi Putusan Nomor 21/Pid.Sus/2023/PN Wsb)Kekerasan dalam rumah tangga bukanlah hal yang baru dalam masyarakat, mayoritas
kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi di Indonesia dialami oleh perempuan sebagai
makhluk yang dianggap lebih lemah secara fisik. Bentuk perhatian Negara dalam menyikapi
kasus tersebut yaitu dengan menerbitkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang
Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga atau dapat disebut dengan UU PKDRT,
Undang-Undang tersebut juga merupakan bentuk perlindungan hukum bagi korban dengan
memberikan sanksi pidana kepada pelaku sekaligus sebagai terobosan baru dalam hukum
positif di Indonesia. Meskipun Undang-Undang tersebut lebih spesifik membahas tentang
kekerasan dalam rumah tangga, namun dalam beberapa kasus masih terdapat putusan yang
masih menggunakan KUHP sebagai acuan penjatuhan pidana bagi pelaku kekerasan dalam
rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis upaya penal dalam penanganan
kasus kekerasan dalam rumah tangga oleh suami terhadap istri. Metode penelitian yang
digunakan adalah yuridis normatif dengan spesifikasi penelitian preskriptif analitis.
Berdasarkan hasil penelitian Putusan Nomor 21/Pid.Sus/2023/PN Wsb, dapat diambil
kesimpulan bahwa putusan Majelis Hakim didasarkan pada fakta hukum, alat bukti,
kesalahan Terdakwa, serta faktor yang meringankan dan memberatkan, sehingga pelaku
kekerasan dalam rumah tangga pada perkara tersebut dianggap memenuhi unsur-unsur Pasal
44 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam
Rumah Tangga dan dijatuhi hukuman pidana penjara 2 tahun dan 6 bulan.
The overwhelming majority of domestic violence that occurs in Indonesia is experienced by
women as beings who are considered physically weaker. The form of the State's attention in
addressing these cases is by issuing Law Number 23 of 2004 concerning the Elimination of
Domestic Violence or can be referred to as the PKDRT Law, the Law is also a form of legal
protection for victims by providing criminal sanctions to perpetrators as well as a new
breakthrough in positive law in Indonesia. Although the Law is more specific about domestic
violence, in some cases there are still decisions that still use the Criminal Code. as a
reference for the imposition of punishment for perpetrators of domestic violence. This
research aims to analyze penal efforts in handling cases of domestic violence by husbands
against wives. The research method used is normative juridical with prescriptive analytical
research specifications. Based on the research results of Decision Number
21/Pid.Sus/2023/PN Wsb, it can be concluded that the decision of the Panel of Judges was
based on legal facts, evidence, the guilt of the Defendant, as well as mitigating and
aggravating factors, so that the perpetrator of domestic violence in the case was deemed to
have fulfilled the elements of Article 44 paragraph (1) of Law Number 23 of 2004 concerning
the Elimination of Domestic Violence and was sentenced to 2 years and 6 months
imprisonment.
4236245734J1E019009STUDENTS’ PERCEPTIONS OF THE USE OF TWITTER (X) AS AN INFORMAL LEARNING MEDIA TO LEARNING ENGLISH VOCABULARY
(A Descriptive Study On The Followers Of Twitter (X) Auto-Base Account, @Englishfess_ Of English Department Study Program From Three Big Universities In Purwokerto)
Penelitian ini didasari oleh rasa ingin tahu tentang persepsi mahasiswa terhadap penggunaan auto-base di Twitter (X) bernama @englishfess_ dalam kegiatan pembelajaran kosakata bahasa Inggris informal serta faktor-faktor mengapa mahasiswa menggunakan media tersebut dan juga masalah apa yang dihadapi mahasiswa. Penelitian ini adalah penelitian Kualitatif Deskriptif dengan menggunakan kuesioner dan wawancara sebagai metode pengumpulan data. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling untuk pengisian kuesioner dan random sampling untuk kebutuhan wawancara yang mencakup tiga mahasiswa. Untuk memvalidasi data, triangulasi metodologis digunakan dengan menggunakan metode pengumpulan data yang berbeda. Kemudian, untuk menganalisis data, peneliti menggunakan analisis tematik oleh Braun & Clarke di Caulfield. Penelitian ini mencakup 21 mahasiswa dari tiga universitas besar (UNSOED, UMP, UINSAIZU) jurusan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris yang secara aktif mengikuti akun auto-base. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi mahasiswa semuanya positif. Dari kuesioner, diketahui bahwa tingkat persepsi siswa terhadap penggunaan auto-base @englishfess_ untuk belajar kosa kata mencapai 81% yang dianggap sangat baik. Respon menunjukkan sebagian besar dari mereka memilih @englishfess_ untuk belajar kosa kata karena mudah diakses (57,1%) sebagai faktor kontekstual mereka dan memilih pernyataan @englishfess_ karena merupakan platform yang cocok untuk pelajar dewasa muda (66,7%) sebagai faktor demografis mereka. Gangguan dari konten lain di Twitter (X) menunjukkan sebagai hasil terbesar dari kesulitan yang dihadapi siswa (67%). Dari wawancara, peneliti menemukan hasil yang sangat bervariasi tentang bagaimana siswa mempersepsikan media dan penjelasan lebih lanjut tentang apa saja faktor mereka dalam menggunakan media dan juga kesulitan yang mereka hadapi selama penggunaan media. Ketiga siswa yang diwawancarai menyatakan pendapat mereka tentang pembelajaran kosa kata menggunakan @englishfess_ dengan respons yang sangat positif. Siswa juga menyatakan kemudahan dan kesesuaian media dalam hal kegiatan belajar informal. Dua dari tiga siswa menyatakan bahwa mereka memang biasanya terganggu oleh konten lain sebagai masalah utama mereka selama penggunaan media.This research was motivated by the curiosity of the students’ perceptions toward the use of an auto-base on Twitter (X) named @englishfess_ in informal English vocabulary learning activity as well as the factors why the students use the media and also what problems the students faced. This research was a Descriptive Qualitative Method using a questionnaire and interview as the data collection method. The sampling method used was total sampling for filling out the questionnaire and random sampling for the interview needs that included three students. To validate the data, methodological triangulation was used by using different data collection methods. Then, to analyze the data, the researcher used thematic analysis by Braun & Clarke in Caulfield. This research includes 21 university students from three big universities (UNSOED, UMP, UINSAIZU) majoring in English Education Study Program that actively follow the auto-base account. The results show that the students’ perceptions came out all positive. From the questionnaire, it was known that the students’ perceptions level toward the use of auto-base @englishfess_ to learn vocabulary reached 81% which was considered very good. The responses showed most of them chose @englishfess_ to learn vocabulary because it was easy to access (57,1%) as their contextual factor and chose the statement @englishfess_ because it was a suitable platform for young adult learners (66,7%) as their demographic factor. The distraction from other contents on Twitter (X) showed as the biggest result of the difficulty the students faced (67%). From the interview, the researcher found widely varying results about how the students perceived the media and further explanations about what were their factors in using the media and also the difficulties they faced during the use of the media. All three students that were interviewed expressed their opinion about learning vocabulary using @englishfess_ with very positive responses. The students also expressed the easiness and the suitability of the media in terms of informal learning activity. Two of three students expressed that they indeed usually got distracted by other contents as their main problems during the use of the media.
4236345682H1D020087Implementasi Vision Transformer dalam Klasifikasi Warna Kulit Wajah dengan Graphical User Interface Berbasis WebsiteKulit merupakan organ terbesar yang ada pada tubuh manusia. Kulit merupakan lapisan terluar tubuh yang memiliki 3 lapisan dan lapisan lemak yang mempunyai fungsi perlindungan pertama tubuh dasi benda-benda di luar tubuh. Selain fungsi perlindungan, kulit juga memiliki peran dalam menunjang penampilan fisik seseorang dikarenakan ada beberapa tingkatan warna kulit yang dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terbagi menjadi 2, yaitu faktor internal seperti ras dan genetik, serta faktor eksternal seperti kebiasaan hidup seseorang, serting atau tidaknya kulit terpapar sinar UV, merokok, konsumsi obat-obatan tertentu, dan perawatan yang dilakukan. Maka dari itu, diperlukan klasifikasi warna kulit yang akurat agar penampilan kita semakin terlihat bagus. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memudahkan pengguna untuk mengetahui warna kulit berdasarkan tingkatan kecerahan warna kulit melalui website sederhana. Untuk klasifikasi warna kulit ini menggunakan model Vision Transformer dengan jumlah 134 data wajah close up yang diperoleh dari 45 responden dan dikembangkan dengan teknik augmentasi data dengan hasil 1072 data. Hasil akurasi menunjukkan angka 0.7317 atau 73,17%, dimana model dapat memprediksi 30 data dengan benar dari total 41 data uji yang digunakan, dengan rincian 6 data pada kelas cerah, 11 data pada kelas kuning_langsat, dan 13 data pada kelas sawo_matang. Dengan demikian, model Vision Transformer dinilai baik jika diimplementasikan dalam klasifikasi warna kulit wajah.Skin is the largest organ in the human body. Skin is the outermost layer of the body which has 3 layers and a layer of fat which has the function of first protecting the body from the objects outside the body. Apart from its protective function, skin also has a role in supporting a person’s physical appearance because there are several levels of skin color which are influenced by several factors which are divided into 2, namely internal factors such as race and genetics, and external factor such as a person’s living habits, whether or not the skin is frequently exposed. UV rays, smoking, consumption of certain drugs, and the treatment carried out. Therefore, accurate sin color classification is needed so that our appearance looks better. The aim of this research is to make it easier for users to find out skin color based on the brightness level or skin color through a simple website. For skin color classification, the Vision Transformer model was user with a total of 134 close up facial data obtained from 45 respondents and developed using data augmentation techniques with the result of 1072 data. The accuracy results show 0.7317, or 73.17% where the model can predict 30 data correctly from a total of 41 test data used, with details of 6 data in the bright class, 11 data in the kuning_langsat class, and 13 data in the sawo_matang class. Thus, the Vision Transformer model is considered good if implemented in facial skin color classification.
4236445735A1A020033Preferensi Konsumen dalam Membeli Buah Pepaya California (_Carica papaya L._) di Purwokerto Kabupaten BanyumasSalah satu buah yang banyak diminati oleh konsumen adalah pepaya California. Sebelum membeli buah pepaya, konsumen cenderung mempertimbangkan atribut yang terkait dengan produk tersebut. Konsumen akan memilih pepaya California yang sesuai dengan preferensinya. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui preferensi konsumen dalam pengambilan keputusan untuk melakukan pembelian buah pepaya California. Tujuan dari penelitiani ini adalah: (1) Mengetahui atribut yang paling dipertimbangkan oleh konsumen dalam keputusan pembelian buah pepaya California di Purwokerto Kabupaten Banyumas dan (2) Mengetahui atribut yang menjadi kesukaan atau preferensi dalam keputusan pembelian buah pepaya California di Purwokerto Kabupaten Banyumas. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan yang ada di Kota Purwokerto Kabupaten Banyumas yaitu Purwokerto Timur, Purwokerto Utara, Purwokerto Barat, dan Purwokerto Selatan pada bulan Februari 2024 hingga Maret 2024. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik accidental sampling, dengan jumlah responden 100 orang. Analisis data yang digunakan yaitu uji cochran dan uji conjoint. Hasil analisis cochran menunjukkan bahwa atribut yang perlu dipertimbangkan saat membeli buah pepaya California meliputi rasa, warna kulit, ukuran, dan tingkat kematangan. Hasil yang diperoleh dari analisis conjoint menghasilkan preferensi konsumen terhadap atribut dan sub atribut pepaya California yaitu konsumen menyukai pepaya California dengan rasa yang manis, ukuran yang sedang atau 800 – 1500 gram/buah, warna kulit yang kuning kejinggaan, dan tingkat kematangan yang matang.California papaya fruit is one of the fruits that consumers are interested in. Before buying papaya fruit, consumers tend to consider the attributes attached to the product. Consumers will choose california papaya in accordance with their preferences. Therefore, it is necessary to conduct research to determine consumer preferences in making decisions to purchase california papaya fruit. This study aims to: (1) Knowing the attributes most considered by consumers in purchasing decisions for california papaya fruit in Purwokerto, Banyumas Regency and (2) Knowing the attributes that are favorites or preferences in purchasing decisions for california papaya fruit in Purwokerto, Banyumas Regency. This research was conducted in the sub-districts in Purwokerto City, Banyumas Regency, namely East Purwokerto, North Purwokerto, West Purwokerto, and South Purwokerto from February 2024 to March 2024. Sampling was done using accidental sampling technique, with a total of 100 respondents. The data analysis used is the cochran test and conjoint test. The results of the cochran analysis show that the attributes considered in purchasing california papaya are the attributes of taste, skin color, size, and maturity level. The results of conjoint analysis provide the results of consumer preferences for the attributes and sub-attributes of california papaya, namely consumers like california papaya with a sweet taste, medium size or 800 - 1500 grams / fruit, yellow skin color, and ripe maturity level.
4236545736A1D020022Karakter Bobot Kering tajuk dan Akar Dengan Aplikasi Pupuk Organik Pada Tanaman LegumTanaman legum mengalami produksi yang relatif rendah jika dibandingkan dengan konsumsi masyarakat per tahun. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya kualitas tanah yang dapat disebabkan oleh penggunaan pupuk sintetik. Oleh karena itu diperlukan upaya dan inovasi untuk mengurangi penggunaan pupuk sintetik. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan pupuk organik yang terbuat dari campuran beberapa bahan-bahan organik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk organik terhadap karakter bobot kering tajuk dan akar pada tanaman kacang hijau, kacang merah, dan kedelai. Penelitian dilaksanakan di Screenhouse Fakultas Pertanian UNSOED, Laboratorium Agronomi dan Hortikultura serta Laboratoium Tanah dan Sumberdaya Lahan Fakultas Pertanian UNSOED. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok 2 faktorial. Faktor pertama adalah jenis tanaman legum yaitu kacang hijau,kacang merah, dan kacang kedelai. Faktor kedua yakni dosis pupuk organik yang terdiri dari 0 t/ha,10 t/ha, dan 20 t/ha. Variabel yang diamati pada penelitian kali ini adalah bobot kering tajuk akhir vegetatif dan bobot kering akar vegetatif akhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi pupuk organik 20 t/ha menghasilkan bobot kering tajuk vegetatif akhir tertinggi pada kedelai, kombinasi pupuk organik 10 t/ha dan kacang kedelai menunjukkan hasil bobot kering akar tertinggi.
Kata Kunci : Bobot kering tajuk, bobot kering akar, pupuk organik, legum
Legume plants experience relatively low production compared to annual public consumption. One of the causes is low soil quality which can be caused by the use of synthetic fertilizers. Therefore, efforts and innovation are needed to reduce the use of synthetic fertilizers. One effort that can be made is to use organic fertilizer made from a mixture of several organic ingredients. The aim of this research was to determine the effect of applying organic fertilizer on the dry weight characteristics of shoots and roots in mung bean, red bean and soybean plants. Research was carried out at the Screenhouse of the UNSOED Faculty of Agriculture, the Agronomy and Horticulture Laboratory and the Soil and Land Resources Laboratory of the UNSOED Faculty of Agriculture. The experimental design used was a 2 factorial randomized block design. The first factor is the type of legume plant, namely mung beans, red beans and soybeans. The second factor is the dose of organic fertilizer consisting of 0 t/ha, 10 t/ha, and 20 t/ha. The variables observed in this study were final vegetative shoot dry weight and final vegetative root dry weight. The results of the research showed that the application of 20 t/ha organic fertilizer was able to produce the highest results on the observation variable of final vegetative shoot dry weight in soybeans, the combination of 10 t/ha organic fertilizer and soybeans showed the highest root dry weight results
Keywords: Shoot dry weight, root dry weight, organic fertilizer, legumes.
4236645737J1A020015Subtitling Strategies Of Slang Words And Their Accuracy In Spiderman: Far From Home MoviePenelitian ini bertujuan untuk menganalisis jenis-jenis kata gaul, strategi penerjemahan, dan keakuratan dalam Spiderman: Far From Home. Penelitian dilakukan dengan menggunakan teori penerjemahan kata gaul oleh sumarsono and partana (2007), teori strategi penerjemahan oleh Gottlieb (1992) dan teori keakuratan terjemahan yang dikemukakan oleh Nababan, et al. (2012). Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Selain itu, penelitian ini menggunakan kuesioner untuk menganalisis terjemahannya dengan masukan dari para rater. Data dari penelitian ini yaitu berupa ucapan-ucapan yang mengandung kata gaul yang diperoleh dari Spiderman: Far From Home. Hasilnya memperlihatkan bahwa creativity (21) adalah jenis yang paling sering muncul selanjutnya using existing word (12), metaphor (8), acronym (5), dan apocope (4). Kemudian, penerjemah menggunakan 8 dari 11 strategi penerjemahan. Strategi subtitel yang paling banyak digunakan adalah transfer (19), diikuti oleh paraphrase (15), taming (5), deletion (3), expansion (3), transcription (3), condensation (1), and resignation (1). Selanjutnya, tingkat akurasi subtitle akurat pada 43 data dan kurang akurat pada 7 data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menerjemahkan bahasa gaul merupakan tugas yang kompleks dan presisi. Keakuratan penerjemahan bahasa gaul bergantung pada keterampilan, konteks, dan tujuan penerjemah. Namun, dengan strategi yang tepat, seorang penerjemah dapat menghasilkan terjemahan yang akurat dengan tetap mempertahankan nuansa asli bahasa gaul dari bahasa sumber.

. This study aims to analyze the types of slang words, subtitling strategies, and accuracy in Spiderman: Far from Home. The research is conducted using the theory of slang word translation by Sumarsono and Partana (2007), theory of subtitling strategies by Gottlieb (1992) and theory of translation accuracy proposed by Nababan, et al. (2012). This study uses a qualitative descriptive approach. In addition, this study uses a questionnaire to analyze the translation with input from the raters. The data of this study are utterances containing slang words obtained from Spiderman: Far from Home. The results show that the most frequent type is creativity (21), followed by using existing words (12), metaphor (8), acronym (5), and apocope (4). Then, the translators used 8 out of 11 subtitling strategies. The subtitle strategies that are most used are transfer (19) followed by paraphrase (15), taming (5), deletion (3), expansion (3), transcription (3), condensation (1), and resignation (1). Furthermore, the accuracy level of the subtitle is accurate in 43 data and less accurate in 7 data. The results show that translating slang is a complex and precise task. The accuracy of slang translation depends on the translator’s skill, context, and purpose. However, with the right strategy, a translator can produce an accurate translation while maintaining the original nuances of the slang from the source language.
4236745744A1F020045OPTIMASI KONSENTRASI DAN JENIS TEH KECOMBRANG PADA PEMBUATAN YOGHURT BUBUK MENGGUNAKAN METODE RESPONSE SURFACE METHODOLOGYPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh mandiri konsentrasi teh dan jenis teh kecombrang terhadap aktivitas antioksidan yoghurt bubuk, mengetahui kombinasi perlakuan konsentrasi dan jenis teh yang optimal, serta mengetahui karakteristik fisikokimia dan sensori yoghurt bubuk perlakuan terbaik. Metode penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan metode optimasi Response Surface Methodology menggunakan software Design Expert versi 13. Faktor yang diteliti yaitu konsentrasi teh pada batas bawah 5% dan batas atas 10%, dan jenis teh kecombrang yang terdiri dari teh kecombrang original, teh kecombrang sereh, dan teh kecombrang lemon. Variabel optimasi yang diamati yaitu aktivitas antioksidan. Variabel karakterisasi yang diamati yaitu kadar air, rendemen, rehidrasi, pH, viskositas, total asam tertitrasi, total BAL, serta pengujian sifat sensori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh konsentrasi dan jenis teh terhadap aktivitas antioksidan yoghurt bubuk. Formulasi yoghurt bubuk yang optimal adalah perlakuan penambahan 10% konsentrasi teh kecombrang sereh yang memiliki aktivitas antioksidan 62,29±9,88% dengan kadar air 3,87±0,06%, rendemen 32,62±0,40%, waktu rehidrasi 44,93±1,8 detik, pH 3,35±0,03; viskositas 65,75±0,35 cP, total asam tertitrasi 0,74±0,03%, dan total BAL 3,7×107±0,92 cfu/g. Karakteristik sensori yoghurt bubuk yaitu berwarna kuning, aroma agak khas yoghurt, tekstur agak kental, rasa khas yoghurt, dan secara keseluruhan agak disukai.This study aims to determine the independent effect of tea concentration and torch ginger tea type on the antioxidant activity of powdered yoghurt, to determine the optimal combination of concentration and tea type treatments, and to determine its physicochemical and sensory characteristics. This study used a Completely Randomized Design (CRD) Response Surface Methodology method with Optimal Custom Design design using Design Expert software version 13. The factors studied were tea concentration at the lower limit of 5% and the upper limit of 10%, and the type of torch ginger tea consisting of original torch ginger tea, lemongrass torch ginger tea, and lemon torch ginger tea. The optimization variables observed were antioxidant activity. Characterization variables included water content, yield, rehydration, pH, viscosity, total titrated acid, total LAB, and sensory testing. The results of the study concluded that the optimal formulation of powdered yoghurt was the addition of 10% concentration of lemongrass torch ginger tea with antioxidant activity of 62.29±9.88%, water content of 3.87±0.06%, yield of 32.62±0.40%, rehydration time of 44.93±1.8 seconds, pH 3.35±0.03; viscosity of 65.75±0.35 cP, total titratable acid of 0.74±0.03%, and total LAB of 3.7×107±0.92 cfu/ml. The sensory characteristics of powdered yoghurt were yellow in color, slightly distinctive yoghurt aroma, slightly thick texture, distinctive yoghurt taste, and overall quite preferred.
4236845738F1B017050Implementasi Kebijakan Dana Desa dalam Menurunkan Angka Stunting di Desa Sokawera Kecamatan Cilongok Kabupaten BanyumasTingginya angka prevalensi stunting di Indonesia membuat pemerintah mengeluarkan berbagai macam kebijakan melalui lima pilar pengentasan stunting salah satunya kebijakan dana desa dalam menurunkan angka stunting. Desa Sokawera merupakan desa yang mengupayakan penurunan stunting melalui dana desa sesuai aturan yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses implementasi kebijakan dana desa dalam menurunkan angka stunting di Desa Sokawera dengan menggunakan teori Compliance dan What’s Happening milik Ripley dan Franklin. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi kebijakan dana desa dalam menurunkan angka stunting di Desa Sokawera berdasarkan teori milik Ripley dan Franklin belum berjalan secara optimal. Berikut merupakan hasil penelitian : Untuk tingkat kepatuhan dari pemerintah desa dan petugas TPPS desa sudah tinggi terhadap aturan di atasnya. Dari aspek aktor yang terlibat terdapat pihak yang perannya belum optimal. Untuk aspek tujuan kebijakan dalam menurunkan angka stunting belum tercapai secara maksimal. Aspek perkembangan dan kerumitan tercermin dari komunikasi dan koordinasi yang sudah baik. Dari aspek partisipasi masyarakat sudah sangat tinggi. Aspek faktor yang mempengaruhi berasal dari pola asuh dan lingkungan masyarakat.The high prevalence of stunting in Indonesia has made the government issue various policies through five pillars of stunting alleviation, one of which is the village fund policy in reducing stunting rates. Sokawera Village is a village that seeks to reduce stunting through village funds according to existing rules. This study aims to determine the process of implementing village fund policies in reducing stunting rates in Sokawera Village using Ripley and Franklin's Compliance and What's Happening theories. This study uses a qualitative descriptive method. The results of this study show that the implementation of the village fund policy in reducing the stunting rate in Sokawera Village based on Ripley and Franklin's theory has not been running optimally. The following are the results of the study: The level of compliance from the village government and village TPPS officers is high for the rules above. From the aspect of the actors involved, there are parties whose roles are not optimal. For the aspect of policy goals in reducing stunting rates, it has not been achieved optimally. The developmental aspects and complexity are reflected in good communication and coordination. From the aspect of community participation, it has been very high. Aspects of influencing factors come from parenting and the community environment.
4236945739D1A020059EVALUASI PEMBERIAN PAKAN SAPI PERAH BANGSA FRIESIAN HOLSTEIN DI WAHEI FARM, BETSUKAI, HOKKAIDO, JEPANGPeternakan memiliki peran penting dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani untuk masyarakat, termasuk kebutuhan susu. Peningkatan kebutuhan susu olahan yang terus meningkat tidak diikuti dengan pertumbuhan peternakan lokal menjadikan usaha peternakan sapi perah memiliki prospek besar untuk memenuhi kebutuhan protein bagi masyarakat. Upaya pembenahan disektor peternakan sapi perah antara lain dengan mengirimkan sumber daya manusia (SDM) ke negara maju seperti jepang. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh di Jepang dapat diimplementasikan secara efektif disesuaikan dengan kondisi di Indonesia. Untuk mencapai produksi susu sapi agar optimal dapat dilakukan dengan meningkatkan kemampuan produksi induk produktif melalui manajemen reproduksi, kesehatan dan manajemen pemberian pakan yang baik dan disesuaikan dengan kebutuhan ternak. Manajemen pemberian pakan yang baik adalah pemberian pakan yang memperhatikan jenis pakan yang diberikan, pemberian pakan yang sesuai kebutuhan, hijauan dan konsentrat seimbang. Penelitian dilakukan di Wahei Farm ysng berlokasi di Betsukai, Perfektur Hokkaido, Jepang menggunakan metode haphazard sampling atau sampling incidental. Sampel diambil sepuluh ekor Induk laktasi dengan bobot rata-rata 559,98 kg dan produksi rata-rata susu 27,28 liter/ekor/hari dengan lemak susu 3,8%. Data yang dianalisis meliputi produksi susu, pemberian pakan (bahan kering), sisa pakan (bahan kering) dan konsumsi bahan kering (BK), protein kasar (PK) dan Total Digestible Nutrient (TDN). Hasil evaluasi kecukupan nutrient bahan kering (BK) mengalami kelebihan sebesar 2,978, Protein Kasar (PK) sebesar 1,427 kg dan Total Digestible Nutrient (TDN) sebesar 1,596 kg. Pakan sapi laktasi di Wahei Farm diberi pakan melebihi kebutuhan. Pemberian pakan yang optimal sesuai kebutuhan sapi dapat meningkatkan produksi, tetapi jika berlebih justru akan mengurangi produksi sapi.Livestock has an important role in meeting society's animal protein needs, including milk needs. The increasing demand for processed milk is not accompanied by the growth of local livestock, making dairy farming a big prospect for meeting the protein needs of the community. Efforts to improve the dairy farming sector include sending human resources (HR) to developed countries such as Japan. Knowledge and skills acquired in Japan can be implemented effectively and adapted to conditions in Indonesia. To achieve optimal cow's milk production, this can be done by increasing the production capacity of productive heifers through reproductive management, health and good feeding management that is adapted to the needs of the livestock. Good feeding management is feeding that pays attention to the type of feed given, feeding according to needs, balanced forage and concentrate. The research was conducted at Wahei Farm which is located in Betsukai, Hokkaido Prefecture, Japan using the hazard sampling or incidental sampling method. Samples were taken from ten lactating mothers with an average weight of 559.98 kg and an average milk production of 27.28 liters/head/day with milk fat of 3.8%. The data analyzed includes milk production, feeding (dry matter), remaining feed (dry matter) and dry matter consumption (DW), crude protein (PK) and Total Digestible Nutrient (TDN). The results of the evaluation of nutrient adequacy of dry matter (DM) were an excess of 2,978, Crude Protein (PK) of 1,427 kg and Total Digestible Nutrient (TDN) of 1,596 kg. Lactating cows at Wahei Farm are fed more than they need. Providing optimal feed according to the cow's needs can increase production, but if it is excessive it will actually reduce cow production.
4237045740E1A017288TINDAK PIDANA SENGAJA MENGEDARKAN SEDIAAN FARMASI YANG TIDAK MEMENUHI STANDAR DAN ATAU PERSYARATAN KEAMANAN, KHASIAT DAN ATAU KEMANFAATAN DAN MUTU
(Studi Kasus Terhadap Putusan Pengadilan Negeri Purwokerto
Nomor 132/Pid.Sus/2020/PN. Pwt)
Salah satu unsur penting dalam pelayanan kesehatan adalah obat, sehingga masyarakat perlu untuk memiliki pengetahuan tentang penggunaan obat yang tepat. Undang-Undang Kesehatan menyebutkan bahwa distribusi obat wajib memiliki izin, dan menyebutkan juga tentang larangan distribusi obat bagi siapa saja seseorang yang tidak memiliki keahlian dan kewenangan tentang obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan unsur-unsur tindak pidana sengaja mengedarkan sediaan farmasi yang tidak memenuhi standar atau persyaratan keamanan, khasiat, kemanfaatan dan mutu dan untuk mengetahui mengetahui dasar pertimbangan hukum Hakim Pengadilan Negeri Purwokerto dalam menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dalam Putusan Pengadilan Negeri Purwokerto Nomor 132/Pid.Sus/2020/PN. Pwt. Metode pendekatan yuridis normatif. Spesifikasi deskriptif analisis, Sumber data sekunder Putusan Pengadilan Negeri Purwokerto Nomor 132/Pid.Sus/2020/PN. Pwt. Pengumpulan data studi kepustakaan, disajikan dalam bentuk uraian dan dianalisis dengan metode normatif kualitatif. Pertimbangan Hakim dalam penerapan unsur-unsur tindak pidana sengaja mengedarkan sediaan farmasi yang tidak memenuhi standar atau persyaratan keamanan, khasiat, kemanfaatan dan mutu telah sesuai dengan Pasal 196 UU No. 36 Tahun 2009. Perbuatan terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan memenuhi unsur-unsur pasal yang didakwakan, unsur-unsur dimaksud sebagai berikut: Setiap orang; Tidak memiliki keahlian dan kewenangan; Mengadakan, menyimpan, mengolah, mempromosikan, dan mengedarkan; Obat dan bahan berkhasiat obat.Pertimbangan Hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap tindak pidana sengaja mengedarkan sediaan farmasi yang tidak memenuhi standar atau persyaratan keamanan, khasiat, kemanfaatan dan mutu dalam Putusan Pengadilan Negeri Purwokerto Nomor 132/Pid.Sus/2020/PN. Pwt. Pertama, Hakim menggunakan pandangan hukum pada Pasal 196 UU No. 36 Tahun 2009 yang unsur-unsurnya telah terpenuhi, Kedua Hakim menggunakan kelengkapan alat bukti berupa keterangan para saksi, surat dan keterangan Terdakwa, hal yang meringankan dan yang memberatkan Terdakwa serta fakta yang terungkap dalam persidangan, ketiga, adalah subjektivitas hakim itu sendiri. Hakim menilai bahwa terdakwa menghendaki sendiri perbuatannya.
One important element in health services is medicine, so people need to have knowledge about the appropriate use of medicine. The Health Law states that distribution of drugs must have a permit, and also states that it is prohibited to distribute drugs to anyone who does not have expertise and authority regarding drugs. This research aims to determine the application of the elements of the criminal act of deliberately distributing pharmaceutical preparations that do not meet the standards or requirements for safety, efficacy, usefulness and quality and to find out the basis of the legal considerations of the Purwokerto District Court Judge in imposing a crime on the defendant in the Purwokerto District Court Decision Number 132/Pid.Sus/2020/PN. Pwt. Normative juridical approach method. Descriptive analysis specifications, Secondary data source Purwokerto District Court Decision Number 132/Pid.Sus/2020/PN. Pwt.. Collection of literature study data, presented in the form of descriptions and analyzed using qualitative normative methods. The judge's considerations in applying the elements of the criminal act of deliberately distributing pharmaceutical preparations that do not meet the standards or requirements for safety, efficacy, usefulness and quality are in accordance with Article 196 of Law no. 36 of 2009. The defendant's actions have been legally and convincingly proven to fulfill the elements of the article charged, the elements are as follows: Every person; Lacks expertise and authority; Providing, storing, processing, promoting and distributing; Medicines and substances with medicinal properties. Judge's considerations in imposing a crime on the criminal act of deliberately distributing pharmaceutical preparations that do not meet the standards or requirements for safety, efficacy, usefulness and quality in Purwokerto District Court Decision Number 132/Pid.Sus/2020/PN. Pwt. First, the judge used the legal perspective in Article 196 of Law no. 36 of 2009, the elements of which have been fulfilled, both Judges used complete evidence in the form of statements from witnesses, letters and statements from the Defendant, mitigating and aggravating matters to the Defendant as well as facts revealed in the trial. Third, it was the judge's own subjectivity. The judge considered that the defendant intended his own actions.
4237145741A1A017058Hubungan Tingkat Pengetahuan Petani Tentang Kartu Tani dengan Efektivitas Pelaksanaan Program Kartu Tani Di Desa Sidomukti Kecamatan Adimulyo Kabupaten Kebumen

The Relationship between Farmers' Knowledge Level about Farmer Cards and the Effectiveness of the Implementation of the Farmer Card Program in Sidomukti Village, Adimulyo Subdistrict, Kebumen Regency
Penelitian ini dilatar belakangi kebijakan pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam mengatasi permasalahan penyaluran pupuk bersubsidi melalaui program kartu tani, yang dalam pelaksanaannya masih ditemui kendala. Penelitian ini bertujuan untuk 1) menggambarkan pelaksanaan program kartu tani dan profil petani penerima kartu tani di Desa Sidomukti, dan 2) menjelaskan hubungan tingkat pengetahuan petani tentang kartu tani dengan efektivitas program kartu tani. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2024 di Desa Sidomukti. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode simple random sampling (acak sederhana). Jenis data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Uji instrumen pada penelitian ini menggunakan uji validitas dan uji realibilitas. Analisis data dilakukan melalui Rank Spearman dengan alat bantu SPSS. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan petani terhadap program kartu tani termasuk dalam kategori kurang tahu, sementara tingkat efektivitas pelaksanaan program kartu tani termasuk dalam kategori efektif. Pelaksanaan program kartu tani di tingkat petani berjalan efektif dikarenakan adanya peran kelompok tani dalam pelaksanaan program dengan dibantu penyuluh dan instiansi terkait. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan petani dengan efektivitas pelaksanaan program kartu tani, dengan koefisien korelasi sebesar 0,645.This research is motivated by the Central Java Provincial government's policy in overcoming the problem of subsidized fertilizer distribution through the farmer card program, which in its implementation still encounters obstacles. This study aims to 1) describe the implementation of the farmer card program and the profile of farmers receiving farmer cards in Sidomukti Village, and 2) explain the relationship between farmers' knowledge level about farmer cards and the effectiveness of the farmer card program. This research was conducted in February 2024 in Sidomukti Village. Sampling was conducted using simple random sampling method. The types of data used are primary and secondary data. Instrument tests in this study used validity tests and reliability tests. Data analysis was conducted through Rank Spearman with SPSS tools. The results showed that the level of farmers' knowledge of the farmer card program was in the category of not knowing, while the level of effectiveness of the implementation of the farmer card program was in the effective category. The implementation of the farmer card program at the farmer level is effective due to the role of farmer groups in the implementation of the program with the assistance of extension workers and related institutions. There is a significant relationship between the level of knowledge of farmers and the effectiveness of the implementation of the farmer card program, with a correlation coefficient of 0.645.
4237245742A2A022002Respon Agronomi dan Serapan Fosfat Tanaman Jagung Manis (Zea mays L.) terhadap Pemberian Kasgot dan Bakteri Pelarut Fosfat pada Tanah UltisolJagung merupakan salah satu komoditas penting di Indonesia yang menghadapi tantangan peningkatan produktivitas, terutama pada lahan-lahan suboptimal seperti tanah ultisol yang memiliki sifat fisik dan kimia yang kurang mendukung pertumbuhan tanaman optimal. Ultisol, dengan karakteristik pH rendah, kejenuhan alumunium tinggi, dan kapasitas tukar kation rendah, memerlukan adanya pembenah tanah untuk meningkatkan produktivitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respon agronomi dan serapan fosfat pada tanaman jagung manis (Zea mays L.) terhadap aplikasi kasgot (bekas maggot) dan bakteri pelarut fosfat (BPF) di tanah ultisol. Aplikasi bahan organik seperti kasgot, hasil biokonversi limbah oleh larva BSF, diketahui dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Penelitian dilaksanakan di lahan pertanian Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman. Metode penelitian yaitu secara eksperimental dengan rancangan acak kelompok faktorial (RAK) yang terdiri dari 9 kombinasi perlakuan, tiga ulangan, sehingga didapatkan 27 unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi kasgot dan BPF belum mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis. Namun, perlakuan kasgot sendiri dapat meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, LAB, bobot tongkol berkelobot, bobot tongkol tanpa kelobot, dan serapan P tanaman lebih baik dibandingkan dengan kontrol. Pemberian BPF sendiri belum mampu untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman jagung secara nyata.Corn is one of the important commodities in Indonesia which faces the challenge of increasing productivity, especially on suboptimal land such as ultisol soil which has physical and chemical properties that do not support optimal plant growth. Ultisol, with its characteristics of low pH, high aluminum saturation, and low cation exchange capacity, requires soil amendments to increase its productivity. This research aims to evaluate the agronomic response and phosphate uptake of sweet corn (Zea mays L.) by applying maggot and phosphate solubilizing bacteria (BPF) in ultisol soil. The application of organic materials such as cassava, the result of bioconversion of waste by BSF larvae, is known to improve the physical, chemical, and biological properties of soil. The research was conducted on agricultural land at the Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University. The research method was experimental with a factorial randomized block design (RAK) consisting of 9 treatment combinations, and three replications, so 27 experimental units were obtained. The research results showed that the combination of cassava and Phosphate Solubilizing Bacteria was not able to increase the growth and yield of sweet corn plants. However, cassava treatment itself can increase plant height, number of leaves, leaf area, net assimilation rate, weight of cobs with husks, weight of cobs without husks, and better plant P uptake compared to the control. Providing Phosphate Solubilizing Bacteria alone has not been able to significantly increase the growth and yield of corn plants.
4237345743A1D020007Kualitas Fisik Beras Galur GSR (Green Super Rice) Unsoed dan Varietas Ciherang pada Beberapa Kadar Air Gabah Kering GilingKadar air gabah merupakan faktor penting yang menentukan kualitas beras yang dihasilkan dari proses penggilingan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui respons kualitas fisik beras genotipe GSR Unsoed dan Ciherang akibat perlakukan kadar gabah yang berbeda, mengetahui kadar air gabah kering giling yang optimal untuk mempertahankan kualitas fisik beras sesuai SNI pada genotipe GSR Unsoed dan Ciherang, dan mengetahui hubungan antar variabel kualitas fisik beras. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok. Faktor yang dikaji adalah kadar air gabah yang terdiri dari 3 tingkat: 1) K1= kadar air 15%, 2) K2= kadar air 14%, 3) K3= kadar air 13%, dan jenis varietas/galur yang digunakan, terdiri dari 2 tingkat, yaitu 1) V1= galur GSR Unsoed, 2) V2= varietas Ciherang. Hal ini menghasilkan 6 kombinasi perlakuan yang diulang sebanyak 3 kali, yaitu: K1V1, K1V2, K2V1, K2V2, K3V1, dan K3V2. Komponen kualitas yang diamati meliputi beras kepala, beras patah, menir, beras kuning, beras kapur, gabah, rendemen giling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan kadar air gabah berpengaruh signifikan terhadap kualitas beras GSR Unsoed terutama beras kepala dan beras menir. Sementara itu, varietas Ciherang menunjukkan bahwa berbagai kadar air gabah mempengaruhi kualitas beras, terutama beras kepala, beras patah, dan menir pada kadar air 13%.The moisture content of grain is an important factor that determines the quality of rice produced from milling. The objective of this study is to understand the response of the physical quality of GSR Unsoed and Ciherang genotypes due to different grain moisture content, to determine the optimal moisture content of grain to maintain the physical quality of rice according to SNI for GSR Unsoed and Ciherang genotypes, and to understand the relationship between various physical quality variables of rice.. This research used a Randomized Block Design. The factor studied is the moisture content of grain, which consists of 3 levels: 1) K1= 15% moisture content, 2) K2= 14% moisture content, 3) K3= 13% moisture content, and the types of varieties/lines used, consisting of 2 levels, namely 1) V1= GSR Unsoed line, 2) V2= Ciherang variety. This results in 6 treatment combinations and repeat 3 times, which are: K1V1, K1V2, K2V1, K2V2, K3V1, and K3V2. The components of quality observed included head rice, broken rice, brewers rice, yellow rice, chalky rice, grains, milled rice yield. The results of the study showed that various moisture contents of grain did not significantly affect the rice quality of GSR Unsoed. Meanwhile, Ciherang variety showed that various moisture contents of grain affected the rice quality, especially head rice, broken rice, and brewers rice at moisture content of 13%.
4237445747L1A020061Hubungan Panjang Berat dan Beberapa Aspek Reproduksi Ikan Louhan (Amphilophus trimaculatus Günther, 1867) di Waduk Panglima Besar Soedirman, BanjarnegaraWaduk Panglima Besar Soedirman dihuni oleh berbagai jenis ikan, baik spesies asli maupun introduksi. Salah satu ikan introduksi yang dominan adalah ikan louhan (Amphilophus trimaculatus Günther, 1867) yang keberadaannya mengancam populasi ikan asli. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aspek pertumbuhan dan reproduksi ikan louhan di Waduk P.B. Soedirman. Aspek pertumbuhan dianalisis melalui hubungan panjang berat dan faktor kondisi, sedangkan aspek reproduksi dianalisis melalui tingkat kematangan gonad, indeks gonadosomatik, rasio kelamin, fekunditas, dan diameter telur. Penelitian ini dilakukan dengan metode purposive random sampling. Hasil analisis menunjukkan bahwa ikan louhan selama penelitian memiliki pola pertumbuhan isometrik. Faktor kondisi ikan menunjukkan ikan dalam kondisi baik. Rasio kelamin ikan menunjukkan dalam kondisi tidak seimbang (ikan betina lebih dominan). Terdapat variasi tingkat kematangan gonad dari tahap awal hingga matang gonad dengan indeks gonadosomatik yang menunjukkan kesiapan ikan untuk pemijahan. Fekunditas ikan louhan berkisar 579-4.756 butir dan diameter telur berkisar 0,60-2,75 mm. The Panglima Besar Soedirman Reservoir is inhabited by various types of fish, including both native and introduced species. One of the dominant introduced fish species is the flowerhorn fish (Amphilophus trimaculatus Günther, 1867), which poses a threat to the native fish populations. This study aims to examine the growth and reproductive aspects of flowerhorn fish in the P.B. Soedirman Reservoir. The growth aspect was analyzed through the length-weight relationship and condition factor, while the reproductive aspect was analyzed through gonad maturity stages, gonadosomatic index, sex ratio, fecundity, and egg diameter. The study was conducted using a purposive random sampling method. The analysis results showed that the flowerhorn fish exhibited an isometric growth pattern during the study. The condition factor indicated that the fish were in good condition. The sex ratio was found to be unbalanced (with a dominance of female fish). There was a variation in the gonad maturity stages, ranging from I to IV, with the gonadosomatic index indicating the fish's readiness for spawning. The fecundity of flowerhorn fish ranged from 579 to 4,756 eggs, and the egg diameter ranged from 0.60 to 2.75 mm.
4237545748L1A020066Aspek Reproduksi Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Di Waduk
Panglima Besar Soedirman, Kabupaten Banjarnegar
Waduk Panglima Besar Soedirman di Banjarnegara merupakan Bendungan PLTA yang ada di Kabupaten Banjarnegara. Fungsi lain dari Waduk P.B. Soedirman untuk perikanan budidaya dan perikanan tangkap. Ikan nila merupakan jenis ikan air tawar yang memiliki nilai ekonomis tinggi, tingkat pertumbuhan yang cepat, dan tahan terhadap perubahan lingkungan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aspek reproduksi ikan nila meliputi rasio kelamin, tingkat kematangan gonad, indeks gonadosomatik, fekunditas, dan diameter telur. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus dan September 2023. Sampel ikan nila yang diperoleh selama penelitian berjumlah 70 ekor ikan nila, yang terdiri dari 32 ekor ikan jantan dan 38 ekor ikan betina. Metode pengambilan sampel menggunakan Purposive sampling. Rasio kelamin ikan nila secara keseluruhan adalah 1:1,17 atau rasio kelamin ikan pada kondisi seimbang. Tingkat kematangan testis ikan nila didominasi oleh TKG I sedangkan ovarium ikan nila oleh TKG I dan II. Nilai IGS secara keseluruhan yang didapatkan < 20% yang menandakan bahwa ikan nila yang berada di Waduk P.B. Soedirman merupakan ikan yang dapat memijah lebih dari satu kali pada setiap tahunnya. Fekunditas ikan nila selama penelitian memiliki kisaran 175-1382 butir telur. Ukuran diameter telur berkisar antara 0,230-1,864 mm dan ikan nila di Waduk P.B. Soedirman diduga memijah secara partial spawning.Panglima Besar Soedirman Reservoir in Banjarnegara is a hydropower dam in Banjarnegara Regency. Another function of the P.B. Soedirman Reservoir is for aquaculture and capture fisheries. Tilapia is a type of freshwater fish that has high economic value, fast growth rate, and is resistant to environmental changes. The purpose of this study was to determine the reproductive aspects of tilapia including sex ratio, gonad maturity level, gonadosomatic index, fecundity, and egg diameter. This research was conducted in August and September 2023. Tilapia samples obtained during the study amounted to 70 tilapia fish, consisting of 32 male fish and 38 female fish. Purposive sampling method was used. The overall sex ratio of tilapia is 1:1.17 or the sex ratio of fish in a balanced condition. The maturity level of tilapia testes is dominated by TKG I while tilapia ovaries by TKG I and II. The overall IGS value obtained was < 20% which indicates that tilapia in the P.B. Soedirman Reservoir are fish that can spawn more than once each year. Tilapia fecundity during the study had a range of 175-1382 eggs. Egg diameter size ranged from 0.230-1.864 mm and tilapia in P.B. Soedirman Reservoir is suspected of partial spawning.
4237645745A1D019038Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Sesayuran pada Jenis Larutan Nutrisi dalam Sistem Hidroponik (Nutrient Film Technique) NftNutrisi pada budidaya hidroponik NFT menjadi sangat krusial karena sistem hidroponik NFT adalah metode menanam tanaman di mana akar tanaman tumbuh di lapisan nutrisi yang dangkal dan bersirkulasi, menyediakan air, nutrisi, dan oksigen bagi tanaman. Nutrisi yang sering digunakan pada budidaya hidroponi adalah AB mix. Pupuk majemuk memiliki kandungan nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman, tapi sampai saat ini pupuk tersebut tidak dijadikan larutan untuk budidaya hidroponik. Dilihat dari segi ekonomi mungkin pupuk majemuk tersebut lebih murah daripada menggunakan pupuk ab mix. Penelitian ini bertujuan untuk menunjukan pengaruh berbagai jenis larutan nutrisi terhadap hasil dan pertumbuhan tanaman sayuran pada sistem hidroponik NFT. Rancangan yang digunakan adalah rancangan split plot. Petak utama (main plot) adalah jenis formulasi yang digunakan dalam hidroponik sistem NFT (P) yaitu Pupuk AB mix (P1), Pupuk NPK 15:15:15 (P2) , dan pupuk Hyponex (P3). Petak anakan merupakan tanaman yang digunakan dalam budidaya hidroponik sistem NFT (V) yaitu Tanaman kangkung (V1), Tanaman selada (V2), dan tanaman pakcoy (V3). Implementasi dari penelitian ini adalah pupuk majemuk bisa digunakan sebagai alternatif jenis larutan untuk budidaya pada hidroponik NFT. Nutrition in NFT hydroponic cultivation is very crucial because the NFT hydroponic system is a method of growing plants in which plant roots grow in a shallow and circulating nutrient layer, providing water, nutrients, and oxygen for plants. Nutrients that are often used in hydroponic cultivation are AB mix. Compound fertilizers contain nutrients needed by plants, but until now these fertilizers have not been used as solutions for hydroponic cultivation. In terms of economy, compound fertilizers may be cheaper than using ab mix fertilizers. This study aims to show the effect of various types of nutrient solutions on the yield and growth of vegetable plants in the NFT hydroponic system. The design used is a split plot design. The main plot is the type of formulation used in the NFT hydroponic system (P), namely AB mix fertilizer (P1), NPK 15:15:15 fertilizer (P2), and Hyponex fertilizer (P3). The seedling plots are plants used in hydroponic cultivation of the NFT system (V), namely kale plants (V1), lettuce plants (V2), and pakcoy plants (V3). The implementation of this study is that compound fertilizers can be used as an alternative type of solution for cultivation in NFT hydroponics.
4237745746E1B020035LEGAL REVIEW OF THE DISPUTE ON TORTIOUS ACTS IN LAND TENURE WITHOUT RIGHTS (Case Study of Case Number 3/Pdt.G/2023/PN Ban)Hak atas tanah adalah hak yang memberi kewenangan kepada seseorang yang
mempunyai hak untuk mempergunakan atau mengambil manfaat atas tanah tersebut. Hak atas
tanah sendiri dapat berpindah atau dimiliki melalui proses peralihan, tetapi dalam proses
peralihan tersebut, seringkali terdapat kecurangan ataupun perbuatan yang dilakukan secara
melawan hukum. Berdasarkan uraian tersebut, Penulis tertarik melakukan penelitian yang
bertujuan untuk menganalisis pertimbangan hukum Hakim dalam mengkualifisir kriteria
perbuatan melawan hukum dalam peralihan kepemilikan hak atas tanah serta pertimbangannya
dalam mengabulkan gugatan ganti kerugian karena perbuatan melawan hukum pada Putusan
Pengadilan Negeri Bantaeng Nomor 3/Pdt.G/2023/PN Ban.
Penelitian ini merupakan penelitian yuridis normatif dengan metode pendekatan
perundang-undangan, pendekatan konseptual dan pendekatan kasus. Spesifikasi penelitian
preskriptif analitis, sumber data yang digunakan adalah bahan hukum primer, sekunder dan
tersier yang dilakukan dengan studi kepustakaan. Data disajikan dalam bentuk teks naratif
kemudian dianalisis secara normatif kualitatif.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, Majelis Hakim dalam pertimbangannya
menyatakan bahwa tindakan Para Tergugat dan Turut Tergugat adalah perbuatan melawan
hukum, tetapi Hakim tidak secara jelas mengkualifisir kriteria-kriteria serta syarat/unsur
perbuatan melawan hukum yang dilakukan Tergugat yang menjadi dasar dalam dikabulkannya
gugatan ganti kerugian Penggugat. Menurut Penulis, para Tergugat telah melakukan perbuatan
melawan hukum yang masuk pada kriteria melanggar hak orang lain berupa hak subyektif atas
harta kekayaan (hak milik) dan melanggar kriteria melanggar kewajiban hukumnya sendiri
dalam pasal 20 UUPA begitupun para Turut Tergugat yang termasuk dalam kriteria melanggar
hak subyektif atas harta kekayaan (hak milik) dan kewajiban hukumnya sendiri sebagaimana
yang diatur dalam Pasal 6 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 51 Tahun
1960 tentang Larangan Pemakaian Tanah Tanpa Izin Yang Berhak Atau Kuasanya 1960.
Majelis Hakim dalam pertimbangannya hanya mengabulkan tuntutan ganti kerugian Penggugat
dalam bentuk lain bukan uang berupa natura dan penyerahan kembali objek sengketa dalam
keadaan semula ke tangan Penggugat yang dianggap lebih menguntungkan tanpa menjelaskan
satu-persatu syarat/unsur sebagaimana yang diatur dalam Pasal 1365 KUHPerdata. Menurut
Penulis, pertimbangan Hakim dalam mengabulkan tuntutan ganti kerugian dalam bentuk natura
sudah tepat dan adil bagi kedua pihak.
Land rights are rights that authorize a person who has the right to use or benefit from
the land. Land rights themselves can be transferred or owned through the transfer process, but
in the transfer process, there is often fraud or acts committed against the law. Based on this
description, the author is interested in conducting research aimed at analyzing the Judge's legal
considerations in qualifying the criteria for tortious acts in the transfer of ownership of land
rights and his considerations in granting compensation claims due to tortious acts in Bantaeng
District Court Decision Number 3/Pdt.G/2023/PN Ban.
This research is a normative juridical research with statutory approach, conceptual
approach and case approach. Analytical prescriptive research specifications, data sources used
are primary, secondary and tertiary legal materials conducted by literature study. The data is
presented in the form of narrative text and then analyzed normatively qualitatively.
Based on the results of research and discussion, the Panel of Judges in their
consideration stated that the actions of the Defendants and Co-Defendants were unlawful, but
the Judges did not clearly qualify the criteria and conditions/elements of tortious acts
committed by the Defendants which were the basis for the granting of the Plaintiff's
compensation claim. According to the author, the Defendants have committed tortious acts that
fall under the criteria of violating the rights of others in the form of subjective rights to property
(property rights) and violating the criteria for violating their own legal obligations in Article
20 of the UUPA as well as the Co-Defendants who fall under the criteria of violating subjective
rights to property (property rights) and their own legal obligations as stipulated in Article 6 of
Government Regulation in Lieu of Law Number 51 of 1960 concerning Prohibition of Use of
Land Without the Permission of the Rightful Owner or his Proxy 1960. The Panel of Judges in
their consideration only granted the Plaintiff's compensation claim in the form of other than
money in the form of in-kind and the return of the disputed object to the hands of the Plaintiff
which was considered more favorable without explaining the conditions/elements as regulated
in Article 1365 of the Civil Code. According to the author, the judge's consideration in granting
compensation in the form of non-money is appropriate and fair for both parties.
4237845749A1D020001PERTUMBUHAN TIGA VARIETAS PAKCOY DAN MEDIA TANAM PADA SISTEM HIDROPONIK DFTPenelitian ini dilaksanakan di Greenhouse Dusun Gupakan, Desa Srowot, Kecamatan
Kalibagor, Kabupaten Banyumas dan analisis tanaman di laboratorium agronomi dan
holikultura Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Karangwangkal, Purwokerto
Utara yang memiliki ketinggian tempat yaitu 210–245 mdpl. Penelitian ini dilaksanakan bulan
November sampai dengan Januari 2024. Rancangan yang digunakan yaitu Rancangan Acak
Kelompok yang tersusun secara split plot dengan dua faktor. Faktor pertama adalah media
tanam yang terdiri dari 3 macam yaitu, M1 = Rockwool, M2 = Spons dam M3 = Arang sekam.
Faktor kedua adalah varietas yang terdiri dari 3 macam yaitu V1= Varietas Green, V2= Varietas White dan V3 = Varietas Nauli F1. Faktor- faktor tersebut dikombinasikan dan didapatkan 9 perlakuan. Setiap perlakuan dilakukan dengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan varietas memberikan pertumbuhan dan hasil yang berbeda-beda. Varietas Green tidak terdapat perbedaan yang nyata, namun perbedaan tersebut relatif masih kecil sehingga secara analisa ragam menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata. Varietas White memberikan perbedaan yang nyata pada jumlah daun. Varietas Nauli F1 memberikan rerata tinggi tanaman, jumlah daun, volume akar, bobot batang segar, bobot akar segar, bobot daun kering, bobot batang kering, dan bobot akar kering. Media tanam spons merupakan media tanam terbaik pada tinggi tanaman, jumlah daun, lebih tinggi dibandingkan media tanam rockwool dan arang sekam. Terdapat interaksi media tanam dan varietas menunjukan hasil yang nyata terhadap tinggi tanaman 7 HST, 14 HST dan 21 HST, jumlah daun 7 HST, panjang akar, bobot daun segar, bobot daun kering, bobot batang kering.
This research was carried out in the Greenhouse of Gurakan Hamlet, Srowot Village, Kalibagor District, Banyumas Regency and plant analysis at the agronomy and horiculture laboratory of the Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, Karangwangkal, North Purwokerto which has an altitude of 210-245 meters above sea level. This research will be conducted from November to January 2024. The design used is the Group Random Design which is arranged in a split plot with two factors. The first factor is the planting media which
consists of 3 types, namely, M1 = Rockwool, M2 = Sponge and M3 = Husk charcoal. The
second factor is varieties consisting of 3 types, namely V1 = Green Variety, V2 = White Variety
and V3 = Nauli F1 Variety. These factors were combined and 9 treatments were obtained. The
results of the study showed that different varieties gave different growth and yields. There is no real difference in the Green variety, but the difference is still relatively small so that the variety analysis shows that there is no real difference. The White variety makes a noticeable difference in the number of leaves. The Nauli F1 variety gives the average plant height, number of leaves, root volume, fresh stem weight, fresh root weight, dry leaf weight, dry stem weight, and dry root weight. Sponge planting medium is the best planting medium in plant height, number of leaves, higher than rockwool and husk charcoal planting media. There was an interaction of planting media and varieties showing real results on plant height of 7 HST, 14 HST and 21 HST, number of leaves 7 HST, root length, fresh leaf weight, dry leaf weight, dry stem weight.
4237945750E1A020017IMPLEMENTASI PEMENUHAN HAK RESTITUSI TERHADAP ANAK KORBAN KEKERASAN SEKSUAL (Studi Pada Pengadilan Negeri Bandung)Kasus kekerasan seksual terhadap anak mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, terlebih pada 2021 terdapat 13 (tiga belas) santri suatu pesantren di Bandung menjadi korban kekerasan seksual. Terkait hal tersebut, anak yang telah menjadi korban memerlukan perlindungan hukum represif sebagaimana diatur dalam UU No. 35 Tahun 2014 yaitu mendapatkan hak restitusi. Penelitian ini hendak mengungkap pertimbangan hukum hakim dalam mengabulkan permohonan restitusi serta faktor yang menjadi penghambat bagi hakim dalam memutus permohonan restitusi pada Pengadilan Negeri Bandung. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis sosiologis dengan spesifikasi penelitian deskriptif. Lokasi Penelitian yaitu di Pengadilan Negeri Bandung. Metode penentuan informan menggunakan teknik Purposive Sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertimbangan hakim dalam mengabulkan permohonan restitusi didasarkan tiga komponen perhitungan yaitu kehilangan harta kekayaan/harta benda, adanya penderitaan yang timbul, adanya kerugian medis dan psikologis. Faktor penghambat bagi hakim dalam memutus permohonan restitusi terdapat tiga faktor, faktor struktur hukum di mana penyidik dan penuntut umum kurang mengetahui dan memahami pemenuhan hak restitusi, belum adanya persamaan perspektif dalam pembebanan restitusi, sedangkan faktor substantif hukum yakni belum adanya ketentuan yang mengatur kewajiban Aparat Penegak Hukum untuk memberitahu hak restitusi pada korban, tidak adanya ketentuan yang mengatur pembebanan restitusi jika terdakwa dipidana mati atau seumur hidup dan pidana kurungan pengganti restitusi, disharmonisasi pengaturan pembebanan restitusi, belum ada ketentuan lanjutan mengenai sita eksekusi restitusi dan dana bantuan bagi anak korban kekerasan seksual, faktor kultur hukum yakni adanya kecenderungan masyarakat tidak mengajukan restitusi karena menilai anak korban tidak dapat dinilai dengan uang serta kecenderungan Aparat Penegak Hukum yang masih berorientasi pada pembuktian perbuatan pelaku.Cases of sexual violence against children have increased in recent years, moreover in 2021 there were 13 (thirteen) students at one boarding school in Bandung who were victims of sexual violence. Related to this, children who have become victims need repressive legal protection as regulated in Law No. 35 of 2014, namely getting the right to restitution. This research aims to reveal the legal considerations of judges in granting restitution requests and the factors that become obstacles for judges in deciding restitution requests at the Bandung District Court. The approach method used in this research is juridical sociological with descriptive research specifications. The research location is Bandung District Court. The method of determining informants using purposive sampling technique. The results showed that the judge's consideration in granting the request for restitution was based on three components of calculation, namely loss of property / property, the existence of suffering that arises, the existence of medical and psychological losses. The inhibiting factors for judges in deciding restitution requests are three factors, legal structure factors where investigators and public prosecutors lack knowledge and understanding of the fulfilment of restitution rights, there is no similarity of perspective in the imposition of restitution, while substantive legal factors are the absence of provisions governing the obligation of Law Enforcement Officials to inform victims of restitution rights, the absence of provisions governing the imposition of restitution if the defendant is sentenced to death or life imprisonment and imprisonment in lieu of restitution, disharmonisation of restitution imposition arrangements, there are no further provisions regarding confiscation of restitution execution and assistance funds for child victims of sexual violence, legal culture factors, namely the tendency of the community not to apply for restitution because they consider child victims cannot be valued in money and the tendency of Law Enforcement Officials who are still oriented towards proving the actions of the perpetrator.
4238045755F1F020015Analisis Strategi Pemilihan Private Military Companies oleh Amerika Serikat dalam Misi Kontra-Terorisme di Afganistan era Donald TrumpPenelitian ini mengeksplorasi alasan di balik pemilihan private military
companies oleh Amerika Serikat dalam menjalankan misi kontra-terorisme di
Afghanistan. Studi ini bertujuan untuk memahami mengapa Amerika Serikat,
terutama selama era pemerintahan Presiden Trump, memutuskan untuk melibatkan
PMC dalam konflik di Afghanistan. PMC di Afghanistan memainkan peran penting
dalam mengisi berbagai kekosongan operasional dan kebutuhan strategis.
Penelitian ini mengkaji kepentingan nasional AS di Afghanistan melalui tiga
indikator utama: ekonomi, keamanan, dan budaya. Analisis ini kemudian
dipadukan dengan pendekatan teori pilihan rasional untuk menjelaskan motif dan
keputusan di balik keterlibatan PMC oleh AS, yang pada akhirnya membantu
menyimpulkan faktor-faktor yang mempengaruhi strategi militer dan kebijakan luar
negeri AS di kawasan tersebut.
This research explores the rationale behind the United States' selection of
private military companies to carry out counter-terrorism missions in Afghanistan.
This study aims to understand why the United States, especially during the Trump
administration, decided to involve PMCs in the conflict in Afghanistan. PMCs in
Afghanistan play an important role in filling various operational voids and
strategic needs. This research examines US national interests in Afghanistan
through three main indicators: economic, security and cultural. This analysis is
then combined with a rational choice theory approach to explain the motives and
decisions behind the US involvement in PMCs, which ultimately helps to conclude the factors that influence US military strategy and foreign policy in the region