Artikelilmiahs
Menampilkan 42.281-42.300 dari 48.844 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 42281 | 45644 | A1A020017 | Peran Penyuluh Pertanian terhadap Keberdayaan Kelompok Tani di Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas | Undang-undang Nomor 19 Tahun 2013 menyebutkan bahwa penyediaan penyuluh paling sedikit 1 (satu) orang penyuluh dalam 1 (satu) desa. Kondisi di Kecamatan Kembaran menunjukkan bahwa satu orang penyuluh memegang wilayah binaan sebanyak 3 (tiga) desa. Hal tersebut tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang menyebabkan kegiatan penyuluhan menjadi kurang optimal. Tujuan dari penelitian ini yaitu: (a) Mengetahui peranan penyuluh pertanian, motivasi, dan keberdayaan kelompok tani; (b) Menganalisis pengaruh peran penyuluh pertanian terhadap keberdayaan kelompok tani; (c) Menganalisis pengaruh peran penyuluh pertanian terhadap keberdayaan kelompok tani melalui motivasi di Kecamatan Kembaran Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas. Teknik pengumpulan data menggunakan cluster sampling dengan jumlah sampel yaitu 70 responden yang kemudian dilanjutkan menggunakan proposional random sampling untuk menentukan sampel di masing-masing desa. Analisis yang digunakan pada penelitian ini yaitu analisis deskriptif, analisis skoring skala likert’s serta analisis Structural Equation Modeling Partial Least Square (SEM-PLS). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peran penyuluh di Kecamatan Kembaran dikategorikan berperan, motivasi anggota kelompok tani di Kecamatan Kembaran dikategorikan tinggi, keberdayaan kelompok tani di Kecamatan Kembaran dikategorikan cukup berdaya. Peran penyuluh dan Keberdayaan kelompok tani berpengaruh secara langsung dan signifikan dengan path coefficient sebesar 0,518, p-value (0,014 < 0,05), dan t-statistic (3,851 > 1,96). Selain itu, peran penyuluh juga berpengaruh terhadap keberdayaan kelompok tani melalui motivasi sebagai mediasi dengan path coefficient sebesar 0,331, t-statistic (2,455 > 1,96), dan p-value (0,014 < 0,05). | The Law No. 19 of 2013 mandates that there should be at least one agricultural extension worker in each village. However, in Kembaran district, one extension worker is responsible for covering three villages, which does not comply with the legal requirements and leads to suboptimal extension activities. The objectives of this research are: (a) To understand the role of agricultural extension worker, the motivation of farmer group members, and the empowerment of farmer groups; (b) To analyze the influence of the role of agricultural extension workers on the empowerment of farmer groups; (c) To analyze the influence of the role of agricultural extension worker on the empowerment of farmer groups through motivation. This research was conducted in Kembaran district, Banyumas Regency. Data collection techniques used cluster sampling with a sample size of 70 respondents, followed by proportional random sampling to determine the sample in each village. The analyses employed in this study include descriptive analysis, Likert scale scoring analysis, and Structural Equation Modeling Partial Least Square (SEM- PLS). The results of this research indicate that the role of agricultural extension workers in the Kembaran district is categorized as effective. The motivation of farmer group members in the Kembaran district is categorized as high. The empowerment of farmer groups in the Kembaran district is categorized as moderately empowered. The role of agricultural extension workers and the empowerment of farmer groups have a direct and significant impact, with a path coefficient of 0.518, a p-value of (0.014<0.05), and a t-statistic of (3.851>1.96). Additionally, the role of agricultural extension workers also influences the empowerment of farmer groups through motivation as a mediating factor, with a path coefficient of 0.331, a t-statistic of (2.455>1.96), and a p-value of (0.014 <0.05). | |
| 42282 | 45645 | G1A017050 | FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PRAKTIK PEMBERIAN TERAPI PROBIOTIK OLEH DOKTER UMUM DI KABUPATEN BANYUMAS | Probiotik adalah zat yang berisi mikroba hidup yang dikonsumsi makhluk hidup diharapkan dapat memberikan manfaat dan memperbaiki disbiosis usus. Probiotik memiliki manfaat yang beragam dalam pencegahan dan penanganan penyakit. Dokter umum dalam melakukan pemberian terapi probiotik memiliki banyak pertimbangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan praktik pemberian terapi probiotik oleh dokter umum di Kabupaten Banyumas. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian adalah dokter umum yang berpraktik di Kabupaten Banyumas. Pengambilan sampel menggunakan teknik Non-Probability Sampling. Pengumpulan sampel dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang disebarkan secara online. Analisis bivariat menggunakan uji korelasi fisher’s exact. Analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik ordinal. Hasil analisis bivariat dan multivariat menunjukkan terdapat hubungan persepsi pengetahuan dan persepsi ketersediaan dengan praktik terapi probiotik serta tidak terdapat hubungan persepsi nilai-nilai pasien dan persepsi panduan praktik klinik probiotik dengan praktik terapi probiotik. Faktor yang paling berhubungan dengan praktik terapi probiotik adalah persepsi pengetahuan dan persepsi ketersediaan probiotik. | Probiotics are substances containing live microorganisms consumed by living organisms that are essential for providing benefits and improving gut dysbiosis. Probiotics have various benefits in preventing and treating diseases. General practitioners have many considerations when providing probiotic therapy. This study aims to determine the factors associated with the practice of probiotic therapy by general practitioners in the Banyumas Regency. This research is an observational analytical study with a cross-sectional approach. The research subjects are general practitioners practicing in the Banyumas Regency. The sampling technique used is Non-Probability Sampling. Data collection is performed using a questionnaire test distributed online. Bivariate analysis used Fisher’s exact correlation test. Multivariate analysis used ordinal logistic regression. The results of bivariate and multivariate analysis show a correlation between the perception of knowledge and the perception of availability with the practice of probiotic therapy and there is no correlation between the perception of patient values and the perception of clinical practice guidelines for probiotics with the practice of probiotic therapy. The most associated factor with the practice of probiotic therapy is the perception of knowledge and the perception probiotic availability. | |
| 42283 | 45651 | I1D020018 | GAMBARAN PERILAKU MAKAN BERDASARKAN POLIMORFISME GEN FTO RS9939609 PADA KARYAWAN OBESITAS DI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN | Latar Belakang: Obesitas merupakan salah satu masalah kesehatan yang dialami oleh karyawan di lingkungan Universitas Jenderal Soedirman. Gen FTO merupakan gen yang berhubungan erat dengan obesitas dan perilaku makan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku makan berdasarkan polimorfisme gen FTO rs9939609 pada karyawan dengan status gizi obesitas. Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Pengambilan data dilakukan melalui in-depth interview pada 6 karyawan Universitas Jenderal Soedirman sebagai informan utama dan 6 orang rekan kerja/keluarga informan utama. Hasil Penelitian: Berdasarkan polimorfisme gen, sebanyak 4 informan memiliki alel heterozigot AT, 1 informan alel homozigot AA, dan 1 informan alel homozigot TT. Perilaku makan dari karyawan dengan obesitas di Universitas Jenderal Soedirman sebagian besar cenderung mengonsumsi makanan/minuman tinggi energi, pernah mengonsumsi makanan di saat tidak lapar, dan terjadi emotional eating pada beberapa informan. Seluruh informan memiliki niat untuk mengubah pola makan, sikap yang positif terhadap perilaku makan yang baik, norma subjektif yang mendukung perubahan perilaku menjadi lebih baik, namun memiliki persepsi bahwa terdapat hambatan dalam perubahan perilaku seperti karena pekerjaan dan ketersediaan makanan. Kesimpulan: Berdasarkan polimorfisme gen FTO rs9939609, sebagian besar informan berisiko mengalami obesitas. Perilaku makan informan cenderung mengonsumsi makanan/minuman tinggi energi. Terdapat faktor-faktor dari perilaku makan yaitu niat, sikap, norma subjektif, dan persepsi pengendalian diri. | Background: Obesity is one of the health problems that occurs among employees at Jenderal Soedirman University. The FTO gene is a close related gene to obesity and eating behavior. This study aims to determine description of eating behavior based on the FTO rs9939609 gene polymorphism in employees with obesity. Method: The type of research used is qualitative descriptive. The data was collected through in-depth interviews with 6 employees of Jenderal Soedirman University as the main informants and 6 co-workers/family of the main informants. Results: The gene polymorphisms found were AT (4 informants), AA (1 informant), and TT (1 informant). The eating behavior of informants are mostly tends to consume high-energy foods/drinks, often ate when they were not hungry, and some experienced emotional eating. All informants have the intention to change their eating patterns, positive attitude towards good eating behavior, subjective norms that support changing behavior for the better, but have the perception that there are obstacles such as work and food availability. Conclusion: Based on the FTO gene polymorphism rs9939609, most informants are at risk of obesity. The informants' eating behavior tends to consume foods/drinks high in energy. There are factors of eating behavior, namely intentions, attitudes, subjective norms, and self-control perceptions. | |
| 42284 | 45646 | G1A017047 | HUBUNGAN GRADING HISTOLOGI DENGAN INVASI LIMFOVASKULAR KANKER PAYUDARA SUBTIPE TRIPLE NEGATIVE DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PERIODE 2019-2021 | Grading histologi dan invasi limfovaskular pada Triple Negative Breast Cancer (TNBC) merupakan beberapa faktor penentu prognosis dan kelangsungan hidup penderitanya. Penyakit ini memiliki perjalanan klinis yang lebih agresif daripada subtipe molekuler kanker payudara lainnya. Terapi target belum dapat meningkatkan kelangsungan hidup pada pasien TNBC. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan derajat diferensiasi dengan ILV pada TNBC. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah sampel penelitian sebanyak 32 pasien TNBC di RSUD. Prof. Dr. Margono Soekarjo tahun 2019–2021. Data dianalisis menggunakan uji Chi Square. Penelitian ini didapatkan rentang usia pasien terbanyak diatas 60 tahun (37,5%), mayoritas grading histologi yang ditemukan adalah grade III (53,1%), Invasi limfovaskular dengan kategori positif (81,3%), dan tidak terdapat hubungan signifikan (p=0,544) antara grading histologi dengan invasi limfovaskular pada TNBC. Pada penelitian ini disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara derajat diferensiasi dengan invasi limfovaskular pada TNBC. | The histological grading and the lymphovascular infiltration in Triple Negative Breast Cancer (TNBC) are several determinants of the prognosis and survival of sufferers. This disease has a more aggressive clinical course than other breast cancer molecular subtype. Targeted therapy has not been able to improve survival in TNBC patients. This study aims to determine the relationship between the histological grade and ILV in TNBC. This is an observational analytic study with a cross sectional approach. The number of study samples was 32 TNBC patients at the RSUD. Prof. Dr. Margono Soekarjo in 2019 – 2021. Data were analyzed by the Chi Square test. In this study, the most with the most age range of patients over 60 years (37,5%), the majority of the histologic grade in TNBC found were grade III (53,1%), lymphovascular invasion positive category (81,8%), and there was not significant relationship (p= 0,554) between the histological grade and lymphovascular invasion in TNBC. In this study, it was concluded that there was not relationship between the histological grade and lymphovascular invasion in TNBC. | |
| 42285 | 45647 | I1D020065 | HUBUNGAN ANTARA KUALITAS TIDUR, ASUPAN ENERGI SARAPAN, DAN STATUS GIZI DENGAN SIKLUS MENSTRUASI | Latar Belakang: Mahasiswi aktif organisasi seringkali dihadapkan dengan berbagai tugas dan tanggung jawab. Hal ini dapat menimbulnya gangguan pada kualitas tidur, asupan energi sarapan, dan status gizi. Ketiga hal tersebut berpotensi menyebabkan perubahan siklus menstruasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kualitas tidur, asupan energi sarapan, dan status gizi dengan siklus menstruasi mahasiswi aktif organisasi di tingkat Universitas Jenderal Soedirman. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional terhadap 51 mahasiswi aktif organisasi tingkat Universitas Jenderal Soedirman berusia 19-22 tahun dengan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan yaitu kuesioner siklus menstruasi untuk mengukur siklus menstruasi, Pittsburgh Quality Sleep Index (PSQI) untuk mengukur kualitas tidur, food recall 2x24 jam untuk mengukur asupan energi sarapan, serta microtoise dan timbangan digital untuk pengukuran antropometri. Analisis data menggunakan uji Chi-square dan Fisher’s exact. Hasil: Sebanyak 80% responden memiliki kualitas tidur yang buruk, 86% responden memiliki asupan energi sarapan yang tidak cukup, 43% responden memiliki status gizi normal, serta 57% responden memiliki siklus menstruasi yang normal. Terdapat hubungan antara kulitas tidur dengan siklus menstruasi mahasisiwi aktif organisasi tingkat universitas (p=0,030<α=0,05). Tidak terdapat hubungan antara asupan energi sarapan (p=0,124>α=0,05) dan status gizi (p=0,780>α= 0,05) dengan siklus menstruasi mahasisiwi aktif organisasi tingkat universitas. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara kualitas tidur dengan siklus menstruasi. Tidak terdapat hubungan antara asupan energi sarapan dan status gizi dengan siklus menstruasi. | Background: Female students who are active in organizations are faced with various duties and responsibilities. These can appear disturbance for sleep quality, breakfast energy intake, and nutritional status. The three things have the potential to cause changes in the menstrual cycle. This study aims to determine the relationship between sleep quality, breakfast energy intake, and nutritional status with the menstrual cycle of for female active students in organizations at the Jenderal Soedirman University level. Method: This research used a cross sectional design on 51 students active in organizations at Jenderal Soedirman University aged 19-22 years using a purposive sampling technique. The instruments used were a menstrual cycle questionnaire to measure the menstrual cycle, the Pittsburgh Quality Sleep Index (PSQI) to measure sleep quality, a 2x24 hour food recall to measure breakfast energy intake, and a microtoise and digital scales for anthropometric measurements. Data analysis used Chi square and Fisher's exact tests. Research Results: As many as 80% of respondents had poor sleep quality, 86% of respondents had insufficient breakfast energy intake, 43% of respondents had normal nutritional status, and 57% of respondents had normal menstrual cycles. There is a relationship between sleep quality and the menstrual cycle of female for active students of organizations in university level (p=0,030< α= 0,05). There was no relationship between breakfast energy intake (p=0,124 > α= 0,05) and nutritional status (p=0,780 > α= 0,05) with the menstrual cycle the female active students of organizations in university level. Conclusion: There is a relationship between sleep quality and the menstrual cycle. There was no relationship between breakfast energy intake and nutritional status with the menstrual cycle. | |
| 42286 | 45648 | A1F020040 | Optimasi Konsentrasi Ekstrak Bunga Kecombrang dan Maltodekstrin pada Pembuatan Kefir Bubuk Menggunakan Metode Simplex Lattice Design | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh masing-masing faktor konsentrasi ekstrak bunga kecombrang dan maltodekstrin terhadap aktivitas antioksidan kefir bubuk, mengetahui formula optimum dalam pembuatan kefir bubuk, serta mengetahui karakteristik fisikokimia dan sensori kefir bubuk dari formula optimum yang diperoleh. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan metode optimasi perlakuan Simplex Lattice Design (SLD) pada software Design Expert v.13. Faktor yang diteliti yaitu konsentrasi ekstrak bunga kecombrang (2,5-7,5%) dan konsentrasi maltodekstrin (15-20%). Sedangkan, respons yang diukur adalah aktivitas antioksidan serta variabel karakterisasi meliputi rendemen, kadar air, waktu rehidrasi, nilai pH, viskositas, total asam tertitrasi, total bakteri asam laktat, dan mutu sensori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masing-masing faktor ekstrak bunga kecombrang dan maltodekstrin berpengaruh terhadap aktivitas antioksidan kefir bubuk. Formula optimum yang direkomendasikan Design Expert v.13 adalah konsentrasi ekstrak bunga kecombrang 7,5% dan maltodekstrin 15% dengan desirability 0,967 yang menghasilkan aktivitas antioksidan sebesar 72,14%. | This research aims to determine the effect of each concentration factor of kecombrang flower extract and maltodextrin on the antioxidant activity of powdered kefir, determine the optimum formula for making powdered kefir, and determine the physicochemical and sensory characteristics of powdered kefir from the optimum formula obtained. This research used a Completely Randomized Design (CRD) with the Simplex Lattice Design (SLD) treatment optimization method in the Design Expert v.13 software. The factors studied were the concentration of kecombrang flower extract (2.5-7.5%) and the concentration of maltodextrin (15-20%). Meanwhile, the response measured was antioxidant activity and characterization variables including yield, water content, rehydration time, pH value, viscosity, total titrated acid, total lactic acid bacteria, and sensory quality. The research results showed that each factor of kecombrang flower extract and maltodextrin had an effect on the antioxidant activity of kefir powder. The optimum formula recommended by Design Expert v.13 is a concentration of 7.5% kecombrang flower extract and 15% maltodextrin with a desirability of 0.967 which produces an antioxidant activity of 72.14%. | |
| 42287 | 45652 | E1A020231 | Efektivitas Balai Pemasyarakatan (Bapas) Dalam Perlindungan Hukum Pelaku Tindak Pidana Anak (Studi Lapangan Di Balai Pemasyarakatan Kelas I Yogyakarta) | Balai Pemasyarakatan adalah unit pelaksana teknis pemasyarakatan yang melaksanakan tugas dan fungsi penelitian kemasyarakatan, pembimbingan, pengawasan, dan pendampingan yang dilaksanakan oleh Pembimbing Kemasyarakatan. Pelaku tindak pidana anak memiliki hak-hak yang perlu diberikan sesuai dengan undang-udang yang mengatur. Balai Pemasyarakatan sebagai teknis pemasyarakatan berkewajiban memberikan perlindungan hukum pada saat dilaksanakannya pembimbingan, pengawasan, dan pendampingan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Efektivitas Balai Pemasyarakatan (BAPAS) dalam Perlindungan Hukum Pelaku Tindak Pidana Anak di Balai Pemasyarakatan Kelas I Yogyakarta dan kendala yang dihadapi Balai Pemasyarakatan (BAPAS) dalam Perlindungan Hukum pelaku Tindak Pidana Anak di Balai Pemasyarakatan Kelas I Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis sosiologis. Sumber data yang digunakan adalah data primer berupa wawancara dengan narasumber dari Pembimbing Kemasyakatan dan pelaku tindak pidana anak di Balai Pemasyarakatan Kelas I Yogyakarta dan data sekunder berupa studi kepustakaan yang relevan dengan penelitian ini. Hasil penelitian menunjukan bahwa Efektivitas Balai Pemasyarakatan Kelas I Yogyakarta dalam Perlindungan Hukum Pelaku Tindak Pidana Anak dilakukan dengan pembimbingan, pengawasan, dan pendampingan dari pra ajudikasi, ajudikasi, hingga post ajudikasi belum efektif karena terdapat pelaku tindak pidana anak yang belum menerima hak-hak yang dimiliki. Kendala Balai Pemasyarakatan Kelas I Yogyakarta yaitu adanya kendala dari sarana prasarana yang kurang mendukung dan lingkungan anak dan keluarga serta budaya hukum aparat penegak hukum. | The Correctional Center is a correctional technical implementation unit that carries out the duties and functions of social research, guidance, supervision and mentoring carried out by Community Counselors. Child criminals have rights that need to be granted in accordance with the governing law. The Correctional Center as a correctional facility is obliged to provide legal protection when providing guidance, supervision and assistance. The results of the research show that the effectiveness of the Correctional Center (BAPAS) in the Legal Protection of Child Criminal Offenders at the Yogyakarta Class I Correctional Center and the obstacles faced by the Correctional Center (BAPAS) in the Legal Protection of Child Criminal Offenders at the Yogyakarta Class I Correctional Center. This research uses a sociological juridical approach. The data sources used are primary data in the form of interviews with resource persons from Community Counselors and perpetrators of juvenile crimes at the Yogyakarta Class I Correctional Center and secondary data in the form of literature studies that are relevant to this research. The results of the research show that the effectiveness of the Yogyakarta Class I Correctional Center in legal protection for juvenile criminals is carried out through guidance, supervision and assistance from pre-adjudication, adjudication, to post-adjudication, has not been effective, because there are juvenile criminals who have not received the rights they have. The obstacles to the Yogyakarta Class I Correctional Center are the constraints of inadequate infrastructure and the environment for children and families as well as the legal culture of law enforcement officers. | |
| 42288 | 45654 | J1C020011 | ANALISIS KONSEP IKIGAI PADA PROFESI INFLUENCER PADA DORAMA “KIKAZARU KOI NI WA RIYUU GA ATTE” DENGAN PENDEKATAN TEORI SEMIOTIKA ROLAND BARTHES. | Ikigai adalah istilah dari Bahasa Jepang yang berarti kepuasan dan makna hidup. Secara harfiah, ikigai berasal dari kata “iki” yang berarti hidup dan “gai” yang berarti nilai, sehingga “Ikigai” bisa diartikan sebagai alasan kita hidup dan nilai hidup yang akan dijalani, pada pilar ke empat ikigai menurut Mogi (2018) kebahagiaan bisa didapat melalui hal hal kecil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Ikigai dalam karakter influencer pada dorama Kikazaru Koi Ni Wa Riyuu Ga Atte. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian ini berupa scene dan dialog yang dilakukan oleh tokoh Mashiba Kurumi dorama Kikazaru Koi Ni Wa Riyuu Ga Atte sebagai sumber data. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori semiotika oleh Roland Barthes yang menjabarkan pertanda, petanda dan penanda. Dari hasil penelitian ditemukan 5 tanda kebahagian menurut Ikigai pada pilar keempat dalam karakter influencer yaitu kebahagian melalui alam, membangun kebahagian dengan hubungan sosial, membahagiakan diri sendiri, bahagia bersama dengan orang yang membuatnya nyaman dan menemukan kebahagiaan dari hal baru. | Ikigai is a Japanese term which means satisfaction and meaning in life. Literally, ikigai comes from the words "iki" which means life and "gai" which means value, so that "Ikigai" can be interpreted as the reason we live and the value of the life we will live, in the fourth pillar of ikigai according to Mogi (2018) happiness can be obtained through small things. This research aims to determine Ikigai in the influencer characters in the drama Kikazaru Koi Ni Wa Riyuu Ga Atte. This research is a qualitative descriptive study. The data for this research are scenes and dialogues performed by the character Mashiba Kurumi in the drama Kikazaru Koi Ni Wa Riyuu Ga Atte as the data source. The theory used in this research is the semiotic theory by Roland Barthes which describes signs, signifieds and signifiers. From the research results, 5 signs of happiness according to Ikigai were found in the fourth pillar of the influencer character, namely happiness through nature, building happiness with social relationships, making yourself happy, being happy with people who make you comfortable and finding happiness from new things. | |
| 42289 | 45655 | A1F020046 | PENGARUH KONSENTRASI PUTIH TELUR DAN WHEY PROTEIN POWDER TERHADAP KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA DAN ORGANOLEPTIK SERBUK JAHE MERAH GULA AREN | Jahe merah (Zingiber officinale Rosc. Var. Rubrum) merupakan salah satu tanaman rempah yang memiliki potensi untuk diformulasikan menjadi minuman kesehatan yang memiliki manfaat sebagai antioksidan yang efektif. Alasan utama pembuatan serbuk jahe merah gula aren adalah gaya hidup masyarakat modern menginginkan produk makanan yang tidak hanya memerhatikan aspek gizi, tetapi juga harus praktis, cepat disajikan, memiliki masa simpan panjang, dan tidak memerlukan ruang penyimpanan yang besar. Salah satu teknik pengeringan yang dapat digunakan dalam pembuatan serbuk jahe instan adalah metode foam mat drying menggunakan bahan pembusa putih telur dan bahan pengisi whey protein powder. Penelitian ini bertujuan untuk 1) Mengetahui pengaruh konsentrasi putih telur terhadap karakteristik fisikokimia dan organoleptik serbuk jahe merah gula aren, 2) Mengetahui pengaruh konsentrasi whey protein powder terhadap karakteristik fisikokimia dan organoleptik serbuk jahe merah gula aren, dan 3) Mendapatkan kombinasi perlakuan terbaik konsentrasi putih telur dan whey protein powder terhadap karakteristik fisikokimia dan organoleptik serbuk jahe merah gula aren. Penelitian bersifat eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor, yaitu konsentrasi putih telur (5%, 10%, 15%) dan whey protein powder (10%, 15%, 20%). Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah variabel fisikokimia dan organoleptik. Variabel fisikokimia meliputi kadar air, kadar abu, rendemen, warna, kelarutan, dan pH. Selain itu, akan dilakukan uji total fenol dan aktivitas antioksidan. Uji organoleptik dilakukan terhadap rasa, warna, aroma jahe, aroma amis, dan kesukaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi putih telur berpengaruh nyata terhadap kadar air, kadar abu, rendemen, pH, aktivitas antioksidan, organoleptik aroma jahe, rasa, dan kesukaan pada serbuk jahe merah gula aren. Konsentrasi putih telur 10% memiliki kadar air yang paling rendah dibandingkan konsentrasi lainnya. Konsentrasi whey protein powder berpengaruh nyata terhadap kadar air, kadar abu, rendemen, warna b* (kekuningan), pH, total fenol, aktivitas antioksidan, organoleptik aroma jahe, rasa, dan kesukaan pada serbuk jahe merah gula aren. Konsentrasi whey protein powder 10% memiliki kadar air yang paling rendah dibandingkan konsentrasi lainnya. Berdasarkan indeks efektivitas, kombinasi terbaik serbuk jahe merah gula aren adalah konsentrasi putih telur 10% dan whey protein powder 15% dengan karakteristik fisikokimia memiliki kandungan kadar air 4,71%, kadar abu 4,61%, rendemen 21,76%, tingkat kecerahan (L*) 69,15, warna kemerahan (a*) 5,5, warna kekunigan (b*) 16,75, kelarutan 82,52%, pH 6,61, total fenol 0,41 mg GAE/g, dan aktivitas antioksidan (IC50) 221,85 ppm. Sementara pada karakteristik organoleptik memiliki warna cokelat kekuningan, aroma agak khas jahe, tidak terdapat aroma amis, rasa agak pedas jahe dan agak disukai oleh panelis. | Red ginger (Zingiber officinale Rosc. Var. Rubrum) is a spice plant with potential health benefits, particularly as an effective antioxidant when formulated into a health drink. The primary motivation for producing ginger powder beverages is following the modern lifestyle that demands not only nutritional value but also convenience, quick preparation, long shelf life, and minimal storage space. Foam mat drying is a suitable technique for making instant ginger powder, using egg white as a foaming agent and whey protein powder as a filler. This research aims to (1) Determine the effect of egg white concentration on the physicochemical and organoleptic characteristics of red ginger powder drink with palm sugar, (2) Determine the effect of whey protein powder concentration on the physicochemical and organoleptic characteristics of red ginger powder drink with palm sugar, and (3) Identify the optimal combination of egg white and whey protein powder concentrations for the best physicochemical and organoleptic characteristics of red ginger powder drink with palm sugar. This experimental research used a Completely Randomized Design (CRD) with two factors: egg white concentration (5%, 10%, 15%) and whey protein powder (10%, 15%, 20%). Observed variables included physicochemical properties such as moisture content, ash content, yield, color, solubility, and pH, as well as total phenolic content and antioxidant activity. Organoleptic tests assessed taste, color, ginger aroma, fishy odor, and overall preference. Results indicated that egg white concentration significantly affected moisture content, ash content, yield, pH, antioxidant activity, and organoleptic properties including ginger aroma, taste, and overall preference. Egg white with 10% concentration resulted in the lowest moisture content. Whey protein powder concentration significantly impacted moisture content, ash content, yield, color (b* value), pH, total phenol, antioxidant activity, and organoleptic properties including ginger aroma, taste, and overall preference. Whey protein powder with 10% concentration also resulted in the lowest moisture content. The most optimal combination based on the effectiveness index was 10% egg white and 15% whey protein powder, yielding physicochemical characteristics of 4.71% moisture content, 4.61% ash content, 21.76% yield, 69.15 L* color, 5.5 a* color, 16.75 b* color, 82.52% solubility, 6.61 pH, 0.41 mg GAE/g total phenol, and 221.85 ppm antioxidant activity (IC50). Based on the organoleptic analysis, the product had a yellowish-brown color, a slightly distinctive ginger aroma, no fishy odor, a moderately spicy ginger taste, and was moderately preferred by the panelists. | |
| 42290 | 45656 | A1F020059 | Pengaruh Rasio Putih Telur dan Maltodekstrin serta Suhu Pengeringan Dengan Metode Foam Mat Drying Terhadap Sifat Fisikokimia Tepung Ikan Teri Jengki (Stolephorus Indicus) | Ikan teri jengki (Stolephorus indicus) merupakan jenis ikan pelagis yang bernilai gizi tinggi terutama sebagai sumber protein dan kalsium. Ikan teri tergolong dalam bahan pangan mudah rusak karena memiliki kandungan air yang tinggi. Ikan teri memiliki nilai ekonomi yang tinggi, namun pemanfaatannya masih terbatas pada usaha pengasinan dengan metode pengeringan secara tradisional. Peningkatan nilai tambah ikan teri jengki dapat dilakukan melalui diversifikasi produk dalam bentuk tepung ikan guna menjaga kualitas dan memperpanjang umur simpan. Pembuatan tepung ikan teri jengki menggunakan metode foam mat drying. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan rasio putih telur dan maltodekstrin serta variasi suhu pengeringan terhadap sifat fisikokimia dan organoleptik tepung ikan teri jengki; dan mendapatkan kombinasi perlakuan terbaik. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial. Faktor yang diuji adalah suhu pengeringan (40 dan 50°C) serta rasio putih telur dan maltodekstrin (0:20, 10:10, 15:5 dan 20:0 %). Hasil penelitian menunjukkan variasi suhu pengeringan berpengaruh nyata terhadap daya serap air, tingkat kecerahan, kadar air, abu, protein, lemak dan kadar karbohidrat. Sedangkan perlakuan rasio putih telur dan maltodekstrin berpengaruh nyata terhadap daya serap air, kelarutan, densitas kamba, tingkat kecerahan, kadar abu, protein, lemak dan kadar karbohidrat. Tepung ikan teri jengki dengan kombinasi perlakuan suhu 50 °C dengan rasio putih telur dan maltodekstrin 20:0 % (S2P4) menghasilkan sifat fisikokimia dan organoleptik terbaik. | Anchovy (Stolephorus indicus) is a type of pelagic fish with high nutritional value, especially as a source of protein and calcium. Anchovy is classified as a perishable food because it has a high water content. Anchovy has a high economic value, but its utilization is still limited to salting efforts with traditional drying methods. Increasing the added value of anchovy can be done through product diversification in the form of fishmeal to maintain quality and extend shelf life. Anchovy flour is made using the foam mat drying method. This study aims to determine the effect of the treatment of the ratio of egg white and maltodextrin and variations in drying temperature on the physicochemical and organoleptic properties of anchovy flour; and to obtain the best combination of treatments. This study used a Completely Randomized Design (CRD) Factorial. The factors tested were the drying temperature (40 and 50°C) and the ratio of egg white and maltodextrin (0:20, 10:10, 15:5, and 20:0 %). The results showed that variations in drying temperature significantly affected water absorption, brightness color, water content, ash, protein, fat, and carbohydrate content. The treatment of egg white and maltodextrin ratio significantly affected water absorption, solubility, kamba density, brightness color, ash content, protein, fat and carbohydrate content. Anchovy jengki flour combined with a 50 °C temperature treatment with an egg white and maltodextrin ratio of 20:0 % (S2P4) produced the best physicochemical and organoleptic properties. | |
| 42291 | 45657 | A1F020003 | Pengaruh Penambahan Kacang Lupin dan Pemanis Mengandung Stevia Terhadap Karakteristik Fisikokimia dan Sensori Cookies Sorgum Terfermentasi | Cookies merupakan salah satu produk bakery dengan karakteristik tinggi kandungan gula, dimana sukrosa merupakan pemanis yang umum digunakan. Pada penelitian ini, digunakan pemanis stevia termasuk di dalamnya sorbitol dan eritritol yang rendah kalori dan indeks glikemik, serta tidak menyebabkan kerusakan gigi seperti pada penggunaan sukrosa. Pada penelitian ini juga digunakan tepung sorgum terfermentasi, karena tidak menyebabkan reaksi inflamasi, seperti pada penggunaan terigu. Penambahan kacang lupin pada penelitian ini digunakan untuk meningkatkan kandungan protein terlarut pada cookies sorgum terfermentasi yang dihasilkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dan menentukan kombinasi perlakuan terbaik dari penambahan kacang lupin dan konsentrasi pemanis yang mengandung stevia terhadap karakteristik fisikokimia dan sensoris cookies sorgum terfermentasi. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dasar pengelompokan berdasarkan pembuatan puree kacang lupin dengan empat kali ulangan. Faktor yang diteliti berupa penambahan kacang lupin (L) dalam bentuk puree kacang lupin (L1) dan tepung kacang lupin (L2) dan faktor konsentrasi pemanis mengandung stevia (S) pada konsentrasi 4% (S1); 5% (S2); dan 6% (S3). Pada penelitian ini dilakukan pengamatan fisik berupa analisis warna, baking loss dan spread ratio, serta pengamatan kimia seperti kadar protein total dan kadar air. Sedangkan pada variabel sensori diamati warna, aroma, tekstur, rasa dan tingkat kesukaan. Sampel perlakuan terbaik yang diuji menggunakan indeks efektivitas kemudian dibandingkan dengan cookies kontrol (C) pada analisis proksimat (kadar air, protein total, lemak, abu dan karbohidrat), serat (serat tak larut dan terlarut) dan tekstur (hardness, gumminess, chewiness, adhesiveness dan cohesiveness) serta dibandingkan dengan standar SNI 01-2973-2011. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan kacang lupin dalam bentuk puree kacang lupin menghasilkan nilai redness, yellowness, dan kadar protein terlarut yang lebih rendah, namun memiliki kadar air yang lebih tinggi dibandingkan dengan penambahan tepung kacang lupin. Penambahan pemanis mengandung stevia yang semakin tinggi dapat menyebabkan penurunan nilai yellowness dan baking loss cookies yang dihasilkan. Perlakuan terbaik berdasarkan karakteristik fisikokimia dan sensori cookies didapatkan pada perlakuan yang sama yaitu dengan penambahan tepung kacang lupin dengan konsentrasi pemanis mengandung stevia 4% dengan nilai lightness (L*) cukup terang yaitu 69,42, redness (a*) relatif rendah yaitu 2,98, yellowness (c*) cukup kuat yaitu 43,21, protein terlarut 5,53%, kadar air 10,19%, baking loss 25,79%, spread ratio 6,32 %, berwarna kuning kecoklatan (4,06), aroma tidak khas kacang lupin (2,99), tekstur agak remah (3,63), rasa tidak manis (2,85) dan agak disukai panelis (3,78). | Cookies are one of the bakery products characterized by high sugar content, where sucrose is a commonly used sweetener. In this study, stevia sweeteners including sorbitol and erythritol were used which are low in calories and glycemic index, and do not cause tooth decay as in the use of sucrose. In this study, fermented sorghum flour was also used, as it does not cause inflammatory reactions, as in the use of wheat flour. The addition of lupin beans in this study was used to increase the soluble protein content in the fermented sorghum cookies produced. The purpose of this study was to determine the effect and determine the best treatment combination of the addition of lupin beans and sweetener concentration containing stevia on the physicochemical and sensory characteristics of fermented sorghum cookies. The experimental design used was a Randomized Group Design (RAK) on the basis of grouping based on the preparation of lupin bean puree with four replications. The factors studied were the addition of lupin beans (L) in the form of lupin bean puree (L1) and lupin bean flour (L2) and the sweetener concentration factor containing stevia (S) at a concentration of 4% (S1); 5% (S2); and 6% (S3). In this study, physical observations were made in the form of color analysis, baking loss and spread ratio, as well as chemical observations such as total protein content and moisture content. While the sensory variables were observed for color, aroma, texture, taste and level of liking. The best treatment sample tested using the effectiveness index was then compared with the control cookies (C) on proximate analysis (moisture content, total protein, fat, ash and carbohydrates), fiber (insoluble and soluble fiber) and texture (hardness, gumminess, chewiness, adhesiveness and cohesiveness) and compared with SNI 01-2973-2011 standards. The results showed that the addition of lupin beans in the form of lupin bean puree produced lower redness, yellowness, and soluble protein values, but had a higher water content compared to the addition of lupin bean flour. The higher addition of stevia-containing sweetener can cause a decrease in the yellowness and baking loss values of the cookies produced. The best treatment based on the physicochemical and sensory characteristics of cookies is obtained in the same treatment, namely the addition of lupin nut flour with a sweetener concentration containing 4% stevia with a fairly bright lightness (L*) value of 69.42, redness (a*) is relatively low at 2, 98, yellowness (c*) is quite strong at 43.21, soluble protein is 5.53%, moisture content is 10.19%, baking loss is 25.79%, spread ratio is 6.32%, brownish yellow in color (4.06), aroma is not typical of lupin beans (2.99), texture is slightly crumbly (3,63), taste is not sweet (2,85) and somewhat liked by panelists (3.78). | |
| 42292 | 45658 | L1C017030 | Kandungan Total Nitrat Dan Total Fosfat Pada Habitat Ikan Glodok (Boleophthalmus Sp.) Di Kawasan Ekowisata Hutan Payau, Tritih Kulon, Kabupaten Cilacap | Kawasan Hutan Payau, Cilacap merupakan kawasan ekosistem mangrove yang dimanfaatkan oleh berbagai aktivitas antropogenik sehingga mempengaruhi masuknya konsentrasi total nitrat dan total fosfat pada perairan. Total nitrat dan total fosfat merupakan unsur hara yang penting bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidup organisme. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui kandungan total nitrat dan total fosfat yang selanjutnya dihubungkan dengan kesesuaian habitat ikan glodok pada Kawasan Hutan Payau, Cilacap. Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif. Materi utama penelitian yaitu sampel air dan sedimen dari habitat ikan glodok. Pengukuran kualitas perairan berupa suhu, salinitas, dan DO. Hasil penelitian konsentrasi total nitrat air berkisar 2,35-3,65 mg/L dengan rata-rata 3,12 mg/L, total nitrat sedimen memiliki kisaran konsentrasi 1,02-1,85 mg/kg dengan rata-rata 1,4 mg/kg. Serta Konsentrasi total fosfat air berkisar antara 0,6-0,94 mg/L dengan rata-rata 0,81 mg/L, total fosfat sedimen berkisar antara 0,94 – 1,45 mg/kg dengan rata-rata 1,22 mg/kg. Kata kunci : Fosfat, Ikan Glodok, Kawasan Hutan Payau Cilacap, Kerapatan, Nitrat | Hutan Payau, Cilacap is an area for mangrove ecosystems that is utilized by various anthropogenic activities so that it can affect the entry of total nitrate and total phosphate concentrations in waters. Total nitrate and total phosphate are nutrients that are important for the growth and survival of organisms. The purpose of this study is to determine the total nitrate and total phosphate which is further linked to the suitability of the habitat of glodok fish in Hutan Payau, Cilacap. The method used is the descriptive method.The main research material is water and sediment samples from the Mudskipper fish habitat. Measurement of water quality in the form of temperature, salinity, and DO. The results of the study showed that the total concentration of water nitrate ranged from 2,35-3,65 mg/L with an average of 3,12 mg/L, the total sediment nitrate had a concentration range of 1,02-1,85 mg/kg with an average of 1,4 mg/kg. The total phosphate concentration of water ranged from 0,6-0,94 mg/L with an average of 0,81 mg/L, total phosphate of sediment ranged from 0,94 – 1,45 mg/kg with an average of 1,22 mg/kg. Total nitrate and total phosphate concentrations of Hutan Payau are classified as exceeding the quality standards Keywords: Hutan Payau Cilacap, Mangrove Density, Mudskipper, Nitrate, Phosphate | |
| 42293 | 45668 | L1A020074 | Skrining dan Uji Kemampuan Bakteri dari Perairan Pesisir Balikpapan dalam Mendegradasi Minyak Mentah | ABSTRAK Tumpahan minyak menimbulkan pencemaran pada perairan karena adanya limbah minyak mentah yang mengandung senyawa hidrokarbon bersifat toksik dan karsinogenik. Pencemaran tersebut menjadi masalah yang serius terhadap lingkungan, dan kerugian yang berdampak pada habitat darat maupun perairan. Sedimen diambil dari 6 lokasi stasiun perairan pesisir Balikpapan yaitu Margasari (Stasiun 1), Muara (Stasiun 2), Somber Sari (Stasiun 3), Lemaru (Stasiun 4), Pasar Baru (Stasiun 5), Monpera (Stasiun 6). Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui keberadaan bakteri yang berpotensi mendegradasi minyak mentah dari sedimen perairan pesisir Balikpapan, (2) mengetahui kemampuan bakteri potensial yang diperoleh, dalam mendegradasi minyak mentah. Penelitian ini dilakukan melalui tahapan isolasi dan purifikasi bakteri, skrining bakteri, karakteristik bakteri, peremajaan bakteri, dan uji kemampuan degradasi minyak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan bakteri yang berpotensi mendegradasi minyak mentah pada perairan pesisir Balikpapan dapat teramati sebanyak 54 isolat yang diperoleh 5 isolat bakteri terpilih sebagai isolat terbaik untuk dilakukan uji lanjutan. Selain itu, isolat terbaik yang memiliki potensi dalam mendegradasi minyak mentah yaitu BP-06, BP-26, BP-31, BP-39, dan BP-40 mampu mendegradasi minyak 4,3% hingga 5,89% dalam waktu 28 hari eksperimen. Isolat dengan kemampuan terbaik adalah isolat BP-06. Secara statistik, BP-06, BP-26, BP-39, dan BP-40 memiliki kemampuan degradasi signifikan berbeda dari kontrol. | Oil spills cause pollution to waters due to the presence of crude oil waste containing toxic and carcinogenic hydrocarbon compounds. Such pollution is a serious problem for the environment, and losses affect both terrestrial and aquatic habitats. Sediments were taken from 6 stations of Balikpapan coastal waters namely Margasari (Station 1), Muara (Station 2), Somber Sari (Station 3), Lemaru (Station 4), Pasar Baru (Station 5), Monpera (Station 6). The objectives of this study are (1) to determine the presence of bacteria that have the potential to degrade crude oil from sediments of Balikpapan coastal waters, (2) to determine the ability of potential bacteria obtained, in degrading crude oil. This research was conducted through the stages of bacterial isolation and purification, bacterial screening, bacterial characterization, bacterial rejuvenation, and oil degradation ability test. The results showed that the presence of bacteria that have the potential to degrade crude oil in Balikpapan coastal waters can be observed as many as 54 isolates, of which 5 bacterial isolates were selected as further test isolates. A total of 20.4% of the isolates have the potential to degrade oil. In addition, the selected isolates that have the ability to degrade oil, namely BP-06, BP-26, BP-31, BP-39, BP-40 are able to degrade 4.3% to 5.89% oil within 28 days of experimentation. Isolate with the best ability is isolate BP-06. Statistically, BP-06, BP-26, BP-39, and BP-40 had significantly different degradation ability from the control. | |
| 42294 | 45660 | J0B021033 | PENERJEMAHAN E-BROSUR DARI BAHASA INDONESIA KE DALAM BAHASA MANDARIN DENGAN METODE PENERJEMAHAN KOMUNIKATIF DI WISATA HEHA SKY VIEW YOGYAKARTA | Laporan praktik kerja ini berjudul “Penerjemahan E-Brosur Dari Bahasa Indonesia Ke Dalam Bahasa Mandarin Dengan Metode Penerjemahan Komunikatif Di Wisata HeHa Sky View Yogyakarta”. Kegiatan praktik kerja dilaksanakan di wisata HeHa Sky View, pada tanggal 18 Oktober 2023 sampai dengan 18 April 2024. Latar belakang dilakukannya praktik kerja ini adalah belum adanya e-brosur berbahasa Mandarin, dikarenakan kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM) yang menguasai bahasa Mandarin di wisata HeHa Sky View Yogyakarta. Tujuan dilaksanakannya praktik kerja ini adalah untuk menghasilkan e-brosur wisata HeHa Sky View Yogyakarta berbahasa Mandarin. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu metode wawancara, observasi dan jelajah internet. Pada kegiatan praktik kerja, penulis menggunakan metode penerjemahan komunikatif dalam menerjemahkan e-brosur, karena metode penerjemahan komunikatif dapat menghasilkan terjemahan yang mudah dipahami oleh pembaca sasaran, sebab tata bahasa yang digunakan disesuaikan dengan bahasa sasaran. Hasil dari praktik kerja ini adalah e-brosur berbahasa Mandarin, yang di unggah melalui akun weibo internasional sehingga dapat memberikan kemudahan kepada pengunjung berbahasa Mandarin guna memahami informasi mengenai wisata HeHa Sky View Yogyakarta. | Translation of E-Brochures from Indonesian to Mandarin Using the Communicative Translation Method at HeHa Sky View Tourist Attraction in Yogyakarta.” The internship activities were carried out at the HeHa Sky View tourist attraction from October 18, 2023, to April 18, 2024. The background of this internship is the absence of Mandarin-language e-brochures due to the lack of Human Resources (HR) proficient in Mandarin at HeHa Sky View Yogyakarta. The purpose of this internship is to produce a Mandarin-language e-brochure for the HeHa Sky View Yogyakarta tourist attraction. The data collection methods used include interviews, observations, and internet research. During the internship, the author used the communicative translation method in translating the e-brochure, as this method produces a translation that is easy for the target readers to understand by adapting the grammar to the target language. The result of this internship is a Mandarin-language e-brochure, which has been uploaded through an international Weibo account, thereby facilitating Mandarin-speaking visitors in understanding information about the HeHa Sky View Yogyakarta tourist attraction. | |
| 42295 | 45706 | I1I022004 | Hubungan Asupan Lemak Jenuh, Asupan Kolesterol dan Obesitas Sentral dengan Kejadian Batu Empedu (Studi Pada Pasien Bangsal Bedah Teratai RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto) | Latar Belakang : Batu empedu merupakan endapan yang ditemukan di dalam kandung empedu atau kandung empedu. Diet tinggi lemak jenuh dan kolesterol akan membuat tingginya kolesterol dalam cairan empedu yang dapat memicu terbentuknya batu empedu. Penumpukan lemak tubuh yang berlebih pada obesitas sentral terutama di daerah pinggang dan rongga perut dapat meningkatkan resiko batu empedu. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan asupan lemak jenuh, asupan kolesterol dan obesitas sentral dengan kejadian batu empedu. Metode: Penelitian Cross-sectional dengan jumlah sampel 69 subyek penelitian yang berusia 19 – 69 tahun diambil melalui teknik purposive sampling. Penelitian menggunakan instrumen Semi Quantitative-Food Frequency Quitionnaire untuk mengetahui asupan lemak jenuh dan asupan kolesterol, waist ruller untuk mengukur lingkar pinggang. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil Penelitian: Sebagian besar subyek penelitian memiliki asupan lemak jenuh berlebih (95,7%), asupan kolesterol baik (56,5%), obesitas sentral (53,6%). Hasil analisis uji korelasi menunjukkan tidak terdapat hubungan antara asupan lemak jenuh dengan kejadian batu empedu (p=0,86), ada hubungan antara asupan kolesterol dengan kejadian batu empedu (p= 0,00), ada hubungan antara obesitas sentral dengan kejadian batu empedu (p= 0,00) Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan asupan lemak jenuh dengan kejadian batu empedu. Ada hubungan asupan kolesterol dengan kejadian batu empedu. Ada hubungan obesitas sentral dengan kejadian batu empedu. | Background: Gallstones are deposits found in the gallbladder or gallbladder. A diet high in saturated fat and cholesterol will create high levels of cholesterol in the bile fluid which can lead to gallstones. Excessive body fat accumulation in central obesity, especially in the waist area and abdominal cavity, can increase the risk of gallstones. The purpose of this study was to determine the relationship between saturated fat intake, cholesterol intake and central obesity with the incidence of gallstones. Methods: Cross-sectional study with a total sample of 69 subyek penelitiants aged 19 – 69 years old taken through purposive sampling technique. The study used the Semi Quantitave-Food Frequency Quitionnaire instrument to determine saturated fat intake and cholesterol intake, waist ruller to measure waist circumference. Data analysis using Chi-Square test. Results: Most subyek penelitiants had excessive saturated fat intake (95.7%), good cholesterol intake (56.5%), central obesity (53.6%). The results of the correlation test analysis showed that there was no relationship between saturated fat intake and the incidence of gallstones (p = 0.86), there was a relationship between cholesterol intake and the incidence of gallstones (p = 0.00), there was a relationship between central obesity and the incidence of gallstones (p = 0.00). Conclusion: There is no association of saturated fat intake with gallstone incidence. There is an association of cholesterol intake with the incidence of gallstones. There is an association of central obesity with the incidence of gallstones. | |
| 42296 | 45708 | E1A020190 | Peranan Badan Narkotika Nasional Dalam Pencegahan dan Penanggulangan Tibdak Pidana Narkotika yang Dilakukan oleh Anak (Studi Penelitian di BNN Kabupaten Banyumas) | Berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, Badan Narkotika Nasional diberi kewenangan besar, salah satunya yaitu mencegah dan memberantas penyalahgunaan serta peredaran gelap narkotika. Pada tahun 2023 terdapat kasus tindak pidana narkotika yang dilakukan oleh anak di Kabupaten Banyumas. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui bagaimana peranan dan kendala BNNK Banyumas dalam pencegahan dan penanggulangan tindak pidana narkotika yang dilakukan oleh anak. Penelitian ini menggunakan tipe pendekatan yuridis empiris. Sumber data yang digunakan adalah data primer berupa wawancara dengan narasumber dari BNNK Banyumas dan data sekunder berupa studi kepustakaan. Pengolahan data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan yang disajikan dalam bentuk teks naratif dengan metode pendekatan kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa peranan BNNK Banyumas dalam pencegahan dan penanggulangan tindak pidana narkotika yang dilakukan oleh anak dilakukan dengan dua langkah, yaitu upaya preventif dan represif. BNNK Banyumas dalam menjalankan peranannya memiliki beberapa kendala yaitu tidak adanya personil BNNK Banyumas yang khusus menangani kasus anak dan tidak adanya sarana dan prasarana yang mendukung seperti tempat sel penahanan khusus anak, LPKA, LPKS, dan tempat rehabilitasi medis. | Based on Law Number 35 of 2009 on Narcotics, the National Narcotics Agency (BNN) is granted significant authority, including the prevention and eradication of narcotics abuse and trafficking. In 2023, there was a narcotics crime committed by a minor in Banyumas Regency. This study aims to understand the role and challenges faced by the Banyumas BNN Regional Office (BNNK Banyumas) in the prevention and handling of narcotics crimes committed by minors. This research uses a juridical-empirical approach. The data sources include primary data from interviews with informants from BNNK Banyumas and secondary data from literature studies. Data processing is carried out through data reduction, data presentation, and conclusion drawing, presented in narrative text form using a qualitative approach. The research findings indicate that BNNK Banyumas plays a role in preventing and addressing narcotics crimes committed by minors through two main approaches: preventive and repressive efforts The BNNK Banyumas, in performing its role, faces several challenges, including the lack of personnel specifically handling cases involving children and the absence of supporting facilities such as juvenile detention centers, child correctional institutions, child social service agencies, and medical rehabilitation centers. | |
| 42297 | 45659 | E1B020014 | THE IMPLEMENTATION OF THE HIV/AIDS PREVENTION LAW AMONG ADOLESCENTS IN INCREASING YOUTH RESILIENCE (Study at Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Bekasi City) | Penularan HIV/AIDS cukup tinggi terjadi di Kota Bekasi dimana usia remaja dikatakan rentan terhadap penularan HIV/AIDS sehingga perlu adanya pencegahan. Pencegahan HIV/AIDS dapat dilakukan oleh Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Bekasi sesuai dengan Peraturan Wali Kota Bekasi Nomor 125 Tahun 2021. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi hukum pencegahan HIV/AIDS di kalangan remaja dalam meningkatkan ketahanan remaja oleh Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Bekasi dan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap implementasi hukum tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan yuridis empiris dan spesifikasi deskriptif. Informan penelitian sebanyak 5 (lima) orang ditentukan secara purposive sampling. Jenis dan sumber data meliputi data primer dan data sekunder. Analisis dengan metode analisis isi dan analisis perbandingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi hukum pencegahan HIV/AIDS di kalangan remaja telah terlaksana dengan baik yang diukur dengan 4 (empat) parameter yaitu penetapan sasaran dalam pencegahan HIV/AIDS di kalangan remaja telah dilaksanakan dengan tepat, penyelenggaraan kemitraan dalam pencegahan HIV/AIDS di kalangan remaja telah dilaksanakan dengan baik, pemberian fasilitasi pencegahan HIV/AIDS dengan mitra telah dilaksanakan dengan baik dan penetapan kegiatan pencegahan HIV/AIDS telah dilaksanakan dengan baik. Faktor-faktor yang cenderung memengaruhi implementasi hukum pencegahan HIV/AIDS di kalangan remaja dalam meningkatkan ketahanan remaja terdiri atas faktor pendukung yang sedikitnya berupa pengaturan mengenai pencegahan HIV/AIDS, kesiapan sumber daya manusia dalam melaksanakan kegiatan dan ketersediaan fasilitas yang memadai dan faktor penghambat yang sedikitnya berupa masih sulitnya mitra untuk bekerjasama, layanan konseling psikologis yang hanya tersedia 1 (satu) untuk seluruh remaja di Kota Bekasi dan pendanaan yang belum merata. | HIV/AIDS transmission is relatively high in Bekasi City, where adolescents are said to be vulnerable to HIV/AIDS transmission. Hence, prevention is needed. HIV/AIDS prevention can be carried out by the Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga, Bekasi City, following Bekasi Mayor Regulation Number 125 of 2021. This research aims to determine the implementation of HIV/AIDS prevention laws among adolescents in increasing youth resilience by Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana and the factors that influence the implementation of this law. This research is qualitative research with an empirical juridical approach and descriptive specifications. The 5 (five) research informants were determined using purposive sampling. Types and sources of data include primary data and secondary data. Analysis using content analysis and comparative analysis methods. The results of the research show that the implementation of the law on preventing HIV/AIDS among adolescents has been carried out well as measured by 4 (four) parameters, namely setting targets for preventing HIV/AIDS among adolescents has been implemented appropriately, establishing partnerships in preventing HIV/AIDS among adolescents has been implemented well, facilitating HIV/AIDS prevention with partners has been implemented well and establishing HIV/AIDS prevention activities has been implemented well. Factors that tend to influence the implementation of HIV/AIDS prevention laws among adolescents in increasing youth resilience consist of supporting factors, which at least include regulations regarding HIV/AIDS prevention, the readiness of human resources to carry out activities and the availability of adequate facilities and at least inhibiting factors. In the form of difficulties for partners to collaborate, psychological counselling services are only available for 1 (one) for all teenagers in Bekasi City, and funding is not evenly distributed. | |
| 42298 | 45661 | A1A020002 | PENGARUH FAKTOR INDIVIDU, PSIKOLOGIS DAN ORGANISASI TERHADAP KINERJA KARYAWAN DI PT PACIFIC EASTERN COCONUT UTAMA PANGANDARAN | PT Pacific Eastern Coconut Utama Pangandaran merupakan sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang pengolahan kelapa yang menghasilkan beberapa produk yang dibedakan menjadi produk liquid dan non liquid. PT Pacific Eastern Coconut Utama Pangandaran Memiliki 715 karyawan dimana karyawan tersebut 90 persen merupakan masyarakat asli Pangandaran. Dengan karyawan yang cukup banyak, tidak mudah bagi PT Pacific Eastern Coconut Utama Pangandaran dalam mengatur dan mengelola sumberdaya manusia yang ada oleh karena itu, PT Pacific Eastern Coconut Utama Pangandaran mengatur dan mengelola sumberdaya manusia melalui 12 departemen yang ada di perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: 1). Untuk mengetahui karakteristik karyawan di PT Pacific Eastern Coconut Utama; 2). Untuk mengetahui pengaruh faktor individu, psikologis, dan organisasi secara parsial dan secara simultan terhadap kinerja karyawan di PT Pcific Eastern Coconut Utama; 3). Untuk mengetahui perbedaan faktor individu, psikologis, dan organisasi pada karyawan tetap dan karyawan kontrak terhadap kinerja karyawan di PT Pacific Eastern Coconut Utama. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei. Pengambilan data dilakukan pada bulan Mei 2024. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 101 karyawan yang terdiri dari 26 karyawan kontrak dan 75 karyawan tetap. Analisis yang digunakan yaitu analisis regresi linier berganda dan multivariate analysis of variance. Hasil penelitian menunjukkan: 1). Variabel kemampuan, latar belakang keluarga, persepsi terhadap lingkungan kerja, personality, motivasi, sumberdaya teknologi, pelatihan, kompensasi, kepemimpinan, dan job design Memengaruhi kinerja karyawan secara signifikan; 2). Karyawan tetap yang ada di PT Pacific Eastern Coconut Utama lebih unggul daripada karyawan kontrak. | PT Pacific Eastern Coconut Utama Pangandaran is a company engaged in coconut processing which produces several products which are divided into liquid and non-liquid products. PT Pacific Eastern Coconut Utama Pangandaran has 715 employees, 90 percent of whom are native Pangandaran people. With quite a lot of employees, it is not easy for PT Pacific Eastern Coconut Utama Pangandaran to organize and manage existing human resources. Therefore, PT Pacific Eastern Coconut Utama Pangandaran organizes and manages human resources through 12 departments in the company. This research aims to analyze: 1). To find out the characteristics of employees at PT Pacific Eastern Coconut Utama; 2). To determine the influence of individual, psychological and organizational factors partially and simultaneously on employee performance at PT Pacific Eastern Coconut Utama; 3). To determine the differences in individual, psychological and organizational factors between permanent employees and contract employees on employee performance at PT Pacific Eastern Coconut Utama. The research method used in this research is a survey. Data collection was carried out in May 2024. The sample used in this research was 101 employees consisting of 26 contract employees and 75 permanent employees. The analysis used is multiple linear regression analysis and multivariate analysis of variance. The research results show: 1). The variables of ability, family background, perception of the work environment, personality, motivation, technological resources, training, compensation, leadership, and job design significantly influence employee performance; 2). Permanent employees at PT Pacific Eastern Coconut Utama are superior to contract employees. | |
| 42299 | 45662 | A1F019058 | Penerimaan Konsumen terhadap Dodol Tapai Rasa Jahe Produksi UMKM Cahaya Bulan | UMKM Cahaya Bulan merupakan salah satu industri rumah tangga di Kabupaten Banyumas yang memproduksi dodol berbahan dasar tapai singkong. Saat ini, UMKM Cahaya Bulan sedang mengembangkan dodol varian baru dengan penambahan jahe. Dalam pengembangan produk baru, produsen perlu mengetahui tingkat penerimaan konsumen terhadap produk yang dikembangkan sehingga dapat dipasarkan. Salah satu aspek penting yang menentukan penerimaan konsumen terhadap produk pangan adalah karakteristik sensori. Aspek tersebut juga penting dalam menentukan kualitas suatu produk pangan. Apabila terdapat permasalahan mengenai penerimaan konsumen terhadap atribut sensori produk pangan, perlu dilakukan langkah perbaikan untuk menjaga atau meningkatkan kualitasnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan uji penerimaan konsumen terhadap atribut sensori dodol tapai rasa jahe yang diproduksi oleh UMKM Cahaya Bulan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesukaan konsumen dan penerimaan mutu hedonik dodol tapai rasa jahe produksi UMKM Cahaya Bulan. Selanjutnya, faktor penyebab dari permasalahan mengenai penerimaan dodol tapai rasa jahe diidentifikasi untuk menentukan saran atau solusi perbaikan. Penelitian ini terdiri dari 4 tahapan penelitian, identifikasi penerimaan hedonik dodol tapai rasa jahe, identifikasi penerimaan mutu hedonik dodol tapai rasa jahe, analisis pengaruh karakteristik konsumen terhadap penerimaan dodol tapai rasa jahe, serta penentuan akar permasalahan dan solusi dalam penerimaan dodol tapai rasa jahe. Uji penerimaan hedonik menggunakan metode purposive sampling dan melibatkan 100 responden konsumen yang merupakan masyarakat Purwokerto. Uji penerimaan mutu hedonik dilakukan melalui uji organoleptik dan melibatkan 25 panelis agak terlatih yang merupakan Mahasiswa Teknologi Pangan Universitas Jenderal Soedirman. Variabel yang diamati meliputi atribut sensori dodol tapai rasa jahe, yaitu warna, aroma khas jahe, rasa manis, intensitas rasa pedas jahe, intensitas rasa tapai, tekstur, dan keseluruhan (overall). Karakteristik konsumen yang diamati meliputi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan terakhir, dan pendapatan per bulan. Data penerimaan hedonik dan mutu hedonik dianalisis secara deskriptif kuantitatif, sedangkan pengaruh karakteristik konsumen dianalisis dengan uji chi-square menggunakan IBM SPSS 23. Identifikasi faktor penyebab permasalahan dalam penerimaan dodol tapai rasa jahe menggunakan diagram sebab-akibat atau diagram fishbone. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerimaan hedonik dodol tapai rasa jahe pada atribut warna, aroma khas jahe, rasa manis, dan intensitas rasa tapai disukai oleh konsumen, sedangkan pada intensitas rasa pedas jahe agak disukai dan pada atribut tekstur tidak disukai konsumen. Penerimaan mutu hedonik dodol tapai rasa jahe pada masing-masing atribut sensori, yaitu warna yang cokelat kekuningan, aroma khas jahe yang agak kuat, rasa yang manis, intensitas rasa pedas jahe yang kuat, intensitas rasa tapai yang tidak kuat, dan tekstur yang tidak kenyal. Karakteristik konsumen berdasarkan usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan terakhir, dan pendapatan per bulan tidak berpengaruh terhadap penerimaan dodol tapai rasa jahe. Permasalahan pada penerimaan dodol tapai rasa jahe produksi UMKM Cahaya Bulan yaitu tekstur dodol yang tidak kenyal dan berpasir serta intensitas rasa pedas jahe yang terlalu kuat. Faktor penyebab untuk permasalahan tekstur dodol yang tidak kenyal dan berpasir meliputi faktor bahan baku, yaitu tidak ada penambahan bahan yang memperbaiki tekstur kenyal; faktor metode, yaitu sari jahe ikut masuk, tapai singkong tidak dihaluskan, dan tidak ada timer pengadukan; faktor mesin, yaitu belum memiliki mesin pengaduk; serta faktor manusia, yaitu kelelahan dan kurang disiplin. Solusi yang dapat dilakukan adalah menambahkan tepung beras ketan atau karagenan, menambahkan jahe dalam bentuk ekstrak atau sari jahe, tapai singkong dibuat pure terlebih dahulu, melakukan perhitungan waktu pengadukan yang tepat dengan timer, menggunakan mesin pengaduk, memberikan himbauan kepada pekerja, serta menambah karyawan/pekerja. Sementara itu, faktor penyebab untuk permasalahan intensitas rasa pedas jahe yang terlalu kuat adalah faktor metode, yaitu serat jahe ikut masuk dan formulasi bahan kurang tepat serta faktor bahan baku, yaitu jenis gula yang digunakan. Solusi yang ditawarkan adalah menggunakan jahe berupa ekstrak, bubuk atau sari jahe, reformulasi atau mengubah jumlah dan konsentrasi jahe yang ditambahkan, serta menggunakan kombinasi gula pasir dan gula kelapa sebagai bahan baku. | UMKM Cahaya Bulan is one of the home industries in Banyumas Regency that produces dodol made from cassava tapai. Currently, UMKM Cahaya Bulan is developing a new variant of dodol with the addition of ginger. In developing new products, producers need to know the level of consumer acceptance of the product being developed so that it can be marketed. One important aspect that determines consumer acceptance of food products is sensory characteristics. This aspect is also important in determining the quality of a food product. If there are problems regarding consumer acceptance of the sensory attributes of food products, corrective steps need to be taken to maintain or improve the quality. Therefore, it is necessary to test consumer acceptance of the sensory attributes of ginger flavored tapai dodol produced by UMKM Cahaya Bulan. This research aims to determine the level of consumer preference and acceptance of the hedonic quality of ginger flavored tapai dodol produced by UMKM Cahaya Bulan. Next, the factors that cause problems regarding the acceptance of ginger flavored tapai dodol are identified to determine suggestions or solutions for improvement. This research consisted of 3 research stages, namely the hedonic acceptance test of ginger flavored tapai dodol and the influence of consumer characteristics on the acceptance of ginger flavored tapai dodol, the hedonic quality acceptance test of ginger flavored tapai dodol, as well as determining the factors causing problems and solutions in the acceptance of ginger flavored tapai dodol produced by UMKM Cahaya Bulan. The hedonic acceptance test used a purposive sampling method and involved 100 consumer respondents who were Purwokerto residents. The hedonic quality acceptance test was carried out through organoleptic tests and involved 25 semi-trained panelists who were Food Technology Students at Jenderal Soedirman University. The variables observed included the sensory attributes of ginger flavored tapai dodol, namely color, aroma, sweetness, intensity of spiciness, intensity of tapai taste, texture, and overall. Observed consumer characteristics include age, gender, education level, and monthly income. Data on hedonic acceptance and hedonic quality were analyzed quantitative descriptive, while the influence of consumer characteristics was analyzed using the chi-square test using IBM SPSS 23. Identify factors causing problems in the acceptance of ginger flavored tapai dodol using cause-and-effect diagrams or fishbone diagrams. The results of the research shows that the hedonic acceptance of ginger flavored tapai dodol on the attributes of color, aroma, sweetness, and intensity of tapai taste is liked by consumers, while the intensity of the spiciness is slightly liked and the texture attribute is not liked by consumers. Acceptance of the hedonic quality of ginger flavored tapai dodol for each sensory attribute, namely yellowish brown color, slightly strong aroma of ginger, sweet taste, strong intensity of spiciness, intensity of tapai taste which is not strong, and texture which is not chewy. Consumer characteristics based on age, gender, education level, and monthly income have no effect on acceptance of ginger flavored tapai dodol. The problem with accepting the ginger flavored tapai dodol produced by UMKM Cahaya Bulan is that the texture of the dodol is not chewy and sandy and the intensity of the spiciness is too strong. Factors causing the problem of dodol's texture not being chewy and sandy include the raw material factor, namely the absence of additional ingredients that improve the chewy texture; method factors, namely the ginger fiber is included, the cassava tapai is not mashed, and there is no stirring timer; machine factor, namely not having an automatic mixer machine; as well as human factors, namely fatigue and lack of discipline. Solutions that can be done are adding glutinous rice flour or carrageenan, adding ginger in the form of extract or ginger juice, making cassava tapai into puree form, calculating the correct stirring time with a timer, using an automatic mixing machine, giving advice to workers, and adding employee/worker. Meanwhile, the factors causing the problem of the intensity of the spiciness being too strong are the method factor, namely the ginger fiber being included and the formulation of the ingredients not being right as well as the raw material factor, namely the type of sugar used. The solution offered is to use ginger in the form of ginger extract or juice, reformulate or change the amount and concentration of ginger added, and use a combination of granulated sugar and coconut sugar as raw materials. | |
| 42300 | 45663 | G1A017105 | PREVALENSI DAN KARAKTERISTIK PASIEN SIROSIS HEPATIS DI KLINIK GASTROENTERO HEPATOLOGI RSUD PROF DR. MARGONO SOEKARJO TAHUN 2023 | Sirosis hati merupakan komplikasi dari penyakit hati yang kronis, yaitu didapati perubahan struktur dari parenkim hati sehingga hati tidak bisa berfungsi secara normal. Sirosis hepatis berada di urutan ke-14 sebagai penyebab kematian orang dewasa di seluruh dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan karakteristik pasien sirosis hepatis di Klinik Gastroentero Hepatologi RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo tahun 2023. Jenis penelitian ini adalah observasional deskriptif dengan pengambilan sampel degan teknik total sampling dan disajikan dalam bentuk tabel frekuensi dan persentase. Jumlah sampel yang didapatkan yaitu 201. Prevalensi sirosis hepatis di Klinik Gastroentero Hepatologi RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo tahun 2023 yaitu 11%. Kasus sirosis hepatis terbanyak terjadi pada pasien berumur diatas 60 tahun yaitu 88 orang (45%), berjenis kelamin laki-laki yaitu 123 orang (65%), memiliki faktor risiko unspecified factor berjumlah 100 orang (50%). Untuk hasil laboratorium pasien sirosis hepatis banyak yang memiliki AST yang tinggi yaitu 113 orang (56%), ALT yang normal berjumlah 110 orang (55%), dan mengalami perpanjangan PT sebanyak 110 orang (55%). Derajat keparahan banyak yang tidak dapat dinilai yaitu 137 orang (68%). Komplikasi pasien paling banyak memiliki lebih dari 1 komplikasi berjumlah 81 orang (40%). | Liver cirrhosis is a complication of chronic liver disease, namely changes in the structure of the liver parenchyma so that the liver cannot function normally. Liver cirrhosis is ranked 14th as a cause of death in adults worldwide. This study aims to determine the prevalence and characteristics of liver cirrhosis patients at the Gastroentero Hepatology Clinic on Prof. Dr. Margono Soekarjo Hospital in 2023. This research type is descriptive observational with sampling method using the total sampling technique and presented in the form of frequency and percentage tables. The number of samples obtained was 201. The prevalence of liver cirrhosis at the Gastroentero Hepatology Clinic on Prof. Dr. Margono Soekarjo Hospital in 2023 was 11%. The most cases of liver cirrhosis occurred in patients over 60 years of age, namely 88 people (45%), with male gender mostly at 123 people (65%), having unspecified risk factors with the total of 100 people (50%). For the laboratory results of patients with liver cirrhosis, many had high AST, namely 113 people (56%), normal ALT was 110 people (55%), and experienced PT prolongation as many as 110 people (55%). The degree of severity with child-pugh method could not be assessed, namely 137 people (68%). The most patient complications had more than 1 complication, amounting to 81 people (40%). |