Artikelilmiahs
Menampilkan 48.821-48.823 dari 48.823 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 48821 | 52207 | J1B022049 | PENDEKATAN PRODUKSI UJARAN LEVELT PADA GANGGUAN BERBAHASA KILIR LIDAH AKTOR ANWAR SANJAYA (KAJIAN PSIKOLINGUISTIK) | Penelitian kilir lidah ini bertujuan untuk menganalisis jenis-jenis tuturan kilir lidah yang diproduksi dan mengidentifikasi faktor penyebab kilir lidah pada aktor Anwar Sanjaya dalam konten YouTube Trans7 Bikin Seneng. Penelitian ini menggunakan kajian psikolinguistik, yakni bahasa kaitannya dengan proses-proses mental yang dilalui manusia dalam merencanakan suatu ujaran. Metode pengumpulan data menggunakan metode observasi nonpartisipatif dengan teknik simak bebas libat cakap dan metode wawancara. Metode analisis data dilakukan dengan cara metode padan dengan teknis analisis data model Miles and Huberman, yakni reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penyajian hasil analisis data menggunakan metode informal dengan bentuk tabel dan narasi deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat 117 data yang teridentifikasi memiliki kekeliruan kilir lidah seleksi, assembling, dan unit-unit kilir lidah. Hasil penelitian juga menunjukkan faktor penyebab kilir lidah pada Anwar Sanjaya disebabkan oleh faktor internal dan eksternal, yakni situasi komunikasi spontan, kecepatan produksi ujaran, interferensi, bahasa sehari-hari, kecemasan atau tekanan sosial, beban kognitif intrinsik, beban kognitif ekstrinsik, dan beban kognitif germane. | This research slips of the tongue aims to analyze the types of tongue slips produced and identify the factors causing tongue twisters in actor Anwar Sanjaya in Trans7's YouTube content Bikin Seneng. This study uses psycholinguistic analysis, namely language in relation to the mental processes that humans go through in planning speech. The data collection method used nonparticipatory observation with free listening and interview method. Data analysis was conducted using the Miles and Huberman data analysis model, namely data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The presentation of the data analysis results used an informal method in the form of tables and descriptive narratives. The results of this research show that there are 117 data identified as having slips of the tongue. The results of the study also show that the factors causing slips of the tongue in Anwar Sanjaya were internal and external factors, namely spontaneous communication situations, speed of speech production, interference, everyday language, anxiety or social pressure, intrinsic cognitive load, extrinsic cognitive load, and germane cognitive load. | |
| 48822 | 52208 | I1A022046 | GAMBARAN KARAKTERISTIK LINGKUNGAN FISIK PONDOK PESANTREN MODERN DAN TRADISIONAL TERKAIT POTENSI PENULARAN TUBERKULOSIS | Latar Belakang: Tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang besar di Indonesia, khususnya pada populasi yang rentan seperti pondok pesantren. Kondisi bangunan yang kurang memadai, termasuk ventilasi yang tidak cukup, pencahayaan yang kurang, serta kepadatan hunian yang tinggi, dapat meningkatkan risiko penularan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik lingkungan fisik pondok pesantren modern dan tradisional yang berkaitan dengan potensi penularan tuberkulosis. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional deskriptif pada 20 titik pengamatan lingkungan di pondok pesantren, yang terdiri dari 10 titik di Pondok Pesantren Modern Zam-Zam Cilongok dan 10 titik di Pondok Pesantren Tradisional Miftahul Falah Tambak, mewakili asrama santri putra dan putri. Variabel yang diamati meliputi kepadatan hunian, ventilasi, pencahayaan alami, kelembapan, suhu, jenis lantai, jenis dinding, dan kebersihan. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Juli hingga Agustus 2025 menggunakan lembar observasi dan alat ukur terkalibrasi, yaitu meteran untuk mengukur dimensi ruangan, luxmeter untuk mengukur intensitas pencahayaan, serta thermo-hygrometer untuk mengukur suhu dan kelembapan. Hasil: Seluruh titik pengamatan pada pondok pesantren modern maupun tradisional (100%) tidak memenuhi standar kepadatan hunian. Pencahayaan yang memenuhi standar lebih banyak ditemukan pada pondok pesantren modern (60%) dibandingkan pondok pesantren tradisional (40%). Kelembapan yang memenuhi standar ditemukan pada pondok pesantren modern (80%) dan tradisional (60%). Suhu memenuhi standar pada seluruh titik pengamatan (100%). Ventilasi yang memenuhi standar lebih banyak ditemukan pada pondok pesantren modern (70%) dibandingkan pondok pesantren tradisional (20%). Semua jenis lantai memenuhi standar, sedangkan jenis dinding pada pondok pesantren modern memenuhi standar, namun pada pondok pesantren tradisional terdapat 20% yang tidak memenuhi standar. Kesimpulan: Pondok pesantren tradisional memiliki potensi risiko lingkungan yang lebih tinggi terhadap penularan tuberkulosis dibandingkan pondok pesantren modern, terutama ditinjau dari kepadatan hunian, ventilasi, dan pencahayaan. Kata kunci: Deskriptif, Tuberkulosis, Lingkungan fisik, Pondok pesantren | Background: Tuberculosis remains a major public health problem in Indonesia, specially neglect population like Islamic boarding schools. Poor building conditions, including inadequate ventilation, insufficient lighting, high occupancy density, may increase risk of transmission. This study describing physical environmental characteristics of modern and traditional Islamic boarding schools related to potential transmission tuberculosis. Method: This study employed a descriptive observational design at 20 environmental observation points in islamic boarding school, consist in 10 points in Pondok Pesantren Modern Zam-Zam Cilongok and 10 points in Pondok Pesantren Tradisional Miftahul Falah Tambak, representing male and female student dormitories. The variables observed included occupancy density, ventilation, natural lighting, humidity, temperature, floor type, wall type, and cleanliness. Data collection was carried out from July to August 2025 using observation sheets and calibrated measuring instruments, measuring tape assess room dimensions, luxmeter measure lighting intensity, thermo-hygrometer measure temperature & humidity. Results: All observation points both modern and traditional boarding schools (100%) did not meet occupancy density standard. Adequate lighting was more common in modern boarding school (60%) than in traditional one (40%). Adequate humidity was observed in modern (80%) and traditional (60%) boarding school. Temperature met standard for all observation points (100%). Adequate ventilation was more frequent in modern boarding school (70%) than in traditional one (20%). All floor types met the standard, while wall types met standard modern boarding school but 20% in traditional boarding school did not. Conclusion: Traditional Islamic boarding schools higher potential environmental risk for tuberculosis transmission compared to modern Islamic boarding schools, particularly in terms of occupancy density, ventilation, and lighting. Keywords: Descriptive, Tuberculosis, Physical environment, Islamic boarding school | |
| 48823 | 52034 | G1A022062 | Hubungan Kadar LDL dengan Nilai Ankle Brachial Index Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUI Banyubening | Latar belakang: Diabetes melitus tipe 2 merupakan faktor risiko utama terjadinya penyakit arteri perifer akibat proses aterosklerosis. Dislipidemia, khususnya peningkatan kadar low density lipoprotein (LDL), berperan dalam proses aterosklerosis. Akan tetapi, hubungan kadar LDL dengan ankle brachial index (ABI) sebagai indikator penyakit arteri perifer pada pasien diabetes melitus tipe 2 masih menunjukkan hasil yang bervariasi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar LDL dengan nilai ABI pada pasien diabetes melitus tipe 2 di RSUI Banyubening. Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain cross sectional. Subjek penelitian merupakan pasien diabetes melitus tipe 2 berusia 40–70 tahun. Data kadar LDL diperoleh dari pemeriksaan laboratorium metode enzimatik generasi 3, sedangkan nilai ABI diukur menggunakan perbandingan tekanan darah sistol ekstremitas bawah (arteri tibialis posterior) dan atas (arteri brachialis). Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi nonparametik Spearman. Hasil: Subjek penelitian berjumlah 84. Rerata kadar LDL responden sebesar 160,71 mg/dL dan rerata nilai ABI sebesar 1,04 ± 0,17. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat korelasi bermakna antara kadar LDL dan nilai ABI (p = 0,621). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kadar LDL dengan nilai ABI pada pasien diabetes melitus tipe 2 di RSUI Banyubening. Kata kunci: ankle brachial index, diabetes melitus tipe 2, low density lipoprotein, penyakit arteri perifer | Background: Type 2 diabetes mellitus is a major risk factor for peripheral arterial disease related to atherosclerotic processes. Dyslipidemia, particularly elevated low-density lipoprotein (LDL) levels, plays an important role in atherosclerosis; however, the association between LDL levels and ankle brachial index (ABI) as an indicator of peripheral arterial disease in patients with type 2 diabetes mellitus remains inconsistent. Objective: This study aimed to determine the relationship between LDL levels and ABI values in patients with type 2 diabetes mellitus at RSUI Banyubening .Methods: This study used an analytic observational method with a cross-sectional design. The study subjects were patients with type 2 diabetes mellitus aged 40–70 years. LDL levels were obtained from laboratory examinations using a third-generation enzymatic method, while ABI values were measured by comparing systolic blood pressure of the lower extremities (posterior tibial artery) and the upper extremities (brachial artery). Data were analyzed using the nonparametric Spearman correlation test. Results: The mean LDL level is 160.71 mg/dL and the mean ABI value is 1.04. The analysis results showed that there was no significant correlation between LDL levels and ABI values (p = 0.621).Conclusion: There is no statistically significant relationship between LDL levels and ABI values in patients with type 2 diabetes mellitus at RSUI Banyubening. Keywords: ankle brachial index, low density lipoprotein, peripheral arterial disease, type 2 diabetes mellitus |