Artikelilmiahs

Menampilkan 42.341-42.360 dari 48.844 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4234145713L1C020029AKTIVITAS ANTIBAKTERI HIDROLISAT PROTEIN IKAN GELODOK (Boleophthalmus boddarti) TERHADAP BAKTERI PATOGEN Vibrio parahaemolyticusIkan gelodok (Boleophthalmus boddarti) merupakan ikan yang sangat mudah dijumpai di wilayah hutan mangrove dan mengandung protein tinggi. Proses peningkatan kadar protein ikan gelodok dapat dilakukan dengan perendaman natrium bikarbonat (NaHCO3) pada saat sebelum pengolahan tepung ikan gelodok. Kemudian dilanjutkan hidrolisis secara enzimatis untuk menghasilkan peptida aktif yang berpotensi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar protein, persentase derajat hidrolisis, serta aktivitas antibakteri dari hidrolisat protein ikan gelodok dengan dan tanpa perendaman NaHCO3 serta pengaruh perbedaan konsentrasi terhadap bakteri Vibrio parahaemolyticus. Penelitian ini dilakukan metode eksperimental laboratorium melalui tiga tahapan, yaitu 1) preparasi sampel, 2) hidrolisis protein, pengukuran derajat hidrolisis dan kadar protein, 3) uji aktivitas antibakteri dengan konsentrasi yang berbeda (100, 150, 200, dan 250 mg/mL). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar protein perlakuan perendaman NaHCO3 lebih tinggi dibandingkan tanpa perendaman NaHCO3 dengan nilai masing-masing sebesar 83,65±0,09% dan 80,48±0,30. Hasil yang sama juga diperoleh pada derajat hidrolisis perlakuan perendaman NaHCO3 lebih tinggi dibandingkan tanpa perendaman NaHCO3 dengan nilai masing-masing sebesar 81,58±3,64% dan 17,83±1,32%. Hasil aktivitas antibakteri hidrolisat dari kedua perlakuan relatif lemah yakni hanya berkisar antara 0,74±0,17 mm hingga 1,61±0,02 mm, namun perbedaan konsentrasi ekstrak hidrolisat protein menunjukkan pengaruh terhadap luas zona hambat bakteri.
The mudskipper (Boleophthalmus boddarti) is a fish commonly found in mangrove area and it has high protein content. The protein content of mudskipper fish can be enhanced through soaking in sodium bicarbonate (NaHCO₃) before processing it into fish flour. This is followed by enzymatic hydrolysis to produce active peptides with potential antibacterial properties. This study aims to determine the protein content, degree of hydrolysis, and antibacterial activity of mudskipper protein hydrolysates with and without NaHCO₃ soaking, as well as the effect of different concentrations on Vibrio parahaemolyticus. The study was conducted using a laboratory experimental method through three stages: 1) sample preparation, 2) protein hydrolysis, measurement of the degree of hydrolysis and protein content, and 3) antibacterial activity testing with different concentrations (100, 150, 200, and 250 mg/mL). The results showed that the protein content of the NaHCO₃ soaked treatment was higher than that of the treatment without NaHCO₃ soaking, with respective values of 83.65±0.09% and 80.48±0.30%. Similarly, the degree of hydrolysis was higher in the NaHCO₃ soaked treatment compared to the treatment without NaHCO₃ soaking, with respective values of 81.58±3.64% and 17.83±1.32%. The results showed that the antibacterial activity of the hydrolysates from both treatments was relatively weak, ranging only from 0.74±0.17 mm to 1.61±0.02 mm, the difference in hydrolysate protein extract concentration showed an effect on the size of the bacterial inhibition zone.
4234245714E1A017248PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP MEREK STRONG BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2016 TENTANG MEREK DAN INDIKASI GEOGRAFIS DALAM PUTUSAN NOMOR 22 PK/Pdt.Sus-HKI/2022Perlindungan hukum merek merupakan hal yang penting, merek menjadi daya pembeda suatu barang atau jasa terhadap barang atau jasa lainnya baik untuk yang sejenis maupun tidak sejenis. Barang atau jasa yang berkualitas baik akan lebih dikenal oleh orang karena memiliki citra yang baik juga. Maka dari itu merek selain menjadi daya pembeda menjamin kualitas serta originalitas produk dan dapat mencegah terjadinya persaingan usaha tidak sehat. Tujuan penelitian ini adalah perlindungan hukum merek berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 Tentang Merek dan Indikasi Geografis dan akibat hukum Putusan Nomor 22 PK/Pdt.Sus-HKI/2022.
Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif dengan spesifikasi penelitian deskriptif analisis. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder dengan metode pengumpulan data yang dilakukan dengan studi kepustakaaan. Data yang digunakan adalah metode normatif kualitatif.
Berdasarkan penelitian dan pembahasan menunjukan bahwa PT Unilever Indonesia, Tbk. tidak terbukti melakukan pelanggaran merek berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 Tentang Merek dan Indikasi Geografis. Dalam amar Putusan Nomor 22 PK/Pdt.Sus-HKI/2022 hakim menolak permohonan peninjauan kembali HARWOOD PRIVATE LIMITED. Hal tersebut berakibat hukum berlakunya Putusan Nomor 332 K/Pdt.Sus-HKI/2021 yang memutus pembatalan Putusan Nomor 30/Pdt.Sus-Merek/2020/PN.Niaga.Jkt.Pst.
Trademark legal protection is important, the trademark becomes the distinguishing power of a good or service against other goods or services both for similar and not similar. Good quality goods or services will be better known by people because it has a good image as well. Therefore, the trademark in addition to being a distinguishing force guarantees the quality and originality of the product and can prevent unfair business competition. The purpose of this study is the legal protection of trademarks based on Law Number 20 of 2016 concerning Trademarks and Geographical Indications and the legal consequences of Decision Number 22 PK/Pdt.Sus-HKI/2022.
This research uses a normative juridical approach method with descriptive analysis research specifications. The data source used is secondary data with data collection methods carried out by library studies. The data used is qualitative normative method.
Based on research and discussion, it shows that PT Unilever Indonesia, Tbk. is not proven to have committed trademark infringement based on Law Number 20 of 2016 concerning Trademarks and Geographical Indications. In the verdict Number 22 PK/Pdt.Sus-HKI/2022, the judge rejected HARWOOD PRIVATE LIMITED's request for reconsideration. This has legal consequences for the validity of Decision Number 332 K/Pdt.Sus-HKI/2021 which decided the cancellation of Decision Number 30/Pdt.Sus-Merek/2020/PN.Niaga.Jkt.Pst.
4234345715F1F019032PERAN ASEAN DALAM PENANGANAN PERDAGANGAN
MANUSIA DI ASIA TENGGARA: ANALISIS EFEKTIVITAS ACTIP
Perdagangan manusia merupakan salah satu bentuk kejahatan transnasional
terorganisir yang mengancam banyak aspek bagi masyarakat. Asia Tenggara
menjadi fokus penelitian karena kawasan ini adalah sumber, transit, dan tujuan bagi
korban perdagangan manusia. Penelitian ini mengkaji peran ASEAN dalam
menangani perdagangan manusia di Asia Tenggara melalui pelaksanaan ASEAN
Convention Against Trafficking in Persons (ACTIP). Dengan menggunakan
kerangka teori Neoliberalisme Institusionalisme, penelitian ini menilai efektivitas
ACTIP dalam mengurangi perdagangan manusia di kawasan ini. Meskipun semua
negara anggota ASEAN telah meratifikasi ACTIP, implementasinya di tingkat
nasional masih kurang efektif, terlihat dari rendahnya tingkat kepatuhan terhadap
ketentuan ACTIP. Beberapa faktor utama yang menyebabkan ketidakefektifan ini
termasuk adanya peraturan domestik yang tidak diselaraskan dengan ACTIP,
minimnya inisiatif untuk melaporkan kinerja implementasi, dan kurangnya
mekanisme pengawasan kepatuhan. Penelitian ini menyarankan ASEAN untuk
mengintegrasikan standar mekanisme kepatuhan yang lebih jelas dan mengikat,
guna meningkatkan efektivitas ACTIP dalam memerangi perdagangan manusia di
Asia Tenggara.
Human trafficking is a form of organized transnational crime that threatens many
aspects of society. Southeast Asia is the focus of this research because the region
serves as a source, transit, and destination for human trafficking victims. This study
examines ASEAN's role in combating human trafficking in Southeast Asia through
the implementation of the ASEAN Convention Against Trafficking in Persons
(ACTIP). Utilizing the framework of Neoliberal Institutionalism, this research
assesses the effectiveness of ACTIP in reducing human trafficking in the region.
Although all ASEAN member states have ratified ACTIP, its implementation at the
national level remains ineffective, as evidenced by the low compliance with ACTIP
Compliance. Several key factors contributing to this ineffectiveness include the lack
of alignment between domestic regulations and ACTIP, insufficient initiatives to
report implementation performance, and inadequate compliance monitoring
mechanisms. This study suggests that ASEAN should integrate clearer and more
binding compliance mechanisms to enhance the effectiveness of ACTIP in
combating human trafficking in Southeast Asia.
4234445716A1D020110Pertumbuhan dan Hasil Melon (Cucumis melo L.) Hidroponik Varietas Golden Aroma dan Rangipo Sistem Fertigasi Tetes Pada Tiga Jenis SubstratPenelitian ini dilakukan untuk mengetahui media substrat mana yang berpengaruh paling baik untuk pertumbuhan dan hasil tanaman melon pada sistem fertigasi tetes dengan membandingkan tiga macam substrat yaitu cocopeat, arang sekam, maupun campuran antara cocopeat dan arang sekam. Penelitian dilaksanakan di Screenhouse yang terletak di Desa Pasir Kulon, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas pada bulan November 2023-April 2024. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dua faktor berupa perbandingan varietas Golden Aroma (V1) dan varietas Rangipo (V2) serta perbandingan media substrat yaitu cocopeat 100% (M1), cocopeat 50%:arang sekam 50% (M2), dan arang sekam 100% (M3). Data hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan analisis sidik ragam untuk mengetahui pengaruh perlakuan dan apabila berbeda nyata (F hitung > F tabel) maka untuk dilakukan uji lanjut dengan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test) pada taraf kesalahan 5%. Hasil ANOVA menunjukan varietas Golden Aroma memberikan respon yang lebih baik dibandingkan varietas Rangipo pada variebel hasil yang meliputi diameter buah (15,32 cm), bobot buah (1.6661 g), dan total padatan terlarut (14,68 obrix). Sedangkan varietas Rangipo memberikan respon yang lebih baik dibandingkan varietas Golden Aroma pada variabel pertumbuhan yang meliputi tinggi tanaman 2 minggu setelah pindah tanam/MSPT (51,47 cm), nilai kehijauan daun 3 MSPT (44,99), umur berbunga jantan (14,61 HST), umur berbunga betina (19,71 HST), bobot segar akar (65 g), bobot kering akar (5,58 g), dan volume akar (69,16 mL). Jenis substrat yang memberikan respon paling baik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman melon yaitu substrat campuran antara cocopeat 50% dan arang sekam 50% yang meliputi variabel nilai kehijauan daun 9 MSPT (76,93), panjang akar (44,48 g), bobot segar akar (55,20 g), bobot kering akar (4,60 g), volume akar (63,75 g), dan total padatan terlarut (15,11 obrix). Varietas Golden Aroma yang berinteraksi dengan substrat campuran antara cocopeat 50% dan arang sekam 50% menunjukan kombinasi terbaik pada variabel nilai total padatan terlarut sebesar 15,73 obrix. This research was conducted to determine which substrate medium most effectively supports the growth and yield of melon plants in a drip fertigation system by comparing three types of substrates like cocopeat, rice husk charcoal, and a mix of cocopeat and rice husk charcoal. The research was carried out in a Screenhouse located in Pasir Kulon Village, Karanglewas District, Banyumas Regency, from November 2023 to April 2024. The experimental design used was a Randomized Block Design (RBD) with two factors: the comparison of Golden Aroma (V1) and Rangipo (V2) varieties and the comparison of substrate media, namely cocopeat 100% (M1), cocopeat 50%: rice husk charcoal 50% (M2), and rice husk charcoal 100% (M3). The observation data were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) to determine the effect of the treatments, and if there were significant differences (F calculated > F table), further tests were conducted using the DMRT (Duncan Multiple Range Test) at a 5% error level. The ANOVA results showed that the Golden Aroma variety responded better than the Rangipo variety in terms of yield variables, including fruit diameter (15.32 cm), fruit weight (1,666.1 g), and total soluble solids (14.68 °Brix). Meanwhile, the Rangipo variety responded better than the Golden Aroma variety in growth variables, including plant height at 2 WAP (51.47 cm), leaf greenness at 3 WAP (44.99), male flowering age (14.61 DAP), female flowering age (19.71 DAP), fresh root weight (65 g), dry root weight (5.58 g), and root volume (69.16 mL). The substrate type that gave the best response to the growth and yield of melon plants was the mixture of 50% cocopeat and 50% rice husk charcoal, including the variables of leaf greenness at 9 WAP (76.93), root length (44.48 g), fresh root weight (55.20 g), dry root weight (4.60 g), root volume (63.75 g), and total soluble solids (15.11 °Brix). The Golden Aroma variety, when combined with the substrate mixture of 50% cocopeat and 50% rice husk charcoal, showed the best combination in the variable of total soluble solids, amounting to 15.73 °Brix.
4234545717E1A017098PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP MEREK “TRICO” BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2016 TENTANG MEREK DAN INDIKASI GEOGOGRAFIS DALAM PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 905 K/PDT.SUS-HKI/2023Perlindungan dapat diperoleh dengan mendaftarkan merek barang atau jasanya. Pendaftaran merek di Indonesia menganut sistem pendaftaran konstitutif atau prinsip first to file. Merek yang telah didaftarkan, terdapat ketentuan-ketentuan yang dapat mengakibatkan suatu merek ditolak pendaftarannya. Merek yang sudah terdaftar di Daftar Umum Merek juga dapat dimintai penghapusan pendaftaran merek oleh pihak ketiga yang berkepentingan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana perlindungan hukum terhadap Merek TRICO dan akibat hukumnya berdasarkan Undang-Undang Merek Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis dalam Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 905 K/Pdt.Sus-HKI/2023.
Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif dengan spesifikasi penelitian deskriptif analisis. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder dengan metode pengumpulan data dengan studi kepustakaan. Kemudian dianalisis menggunakan metode normatif kualitatif dan disajikan dalam bentuk teks naratif.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan menujukan bahwa Penggugat mengajukan gugatan ke tingkat kasasi atas ditolaknya permohonan penghapusan Merek TRICO milik Penggugat. Majelis Kasasi menolak permohonan Penghapusan Merek Tergugat karena seharusnya Penggugat mengajukan gugatan atas ditolaknya permohonan pendaftaran merek oleh Komisi Banding Merek dalam Putusan Mahkamah Agung Republik Nomor 905 K/Pdt.Sus-HKI/2023 sesuai dengan ketentuan Pasal 30 ayat (3) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis. Akibat hukum yang ditimbulkan adalah merek milik Penggugat masih belum mendapatkan perlindungan hukum. Sedangkan Merek TRICO milik Tergugat masih memperoleh perlindungan hukum.
Protection can be obtained by registering the trademark of goods or services. Trademark registration in Indonesia adheres to the constitutive registration system or the first to file principle. Trademarks that have been registered, there are provisions that can result in a trademark refused registration. Trademarks that have been registered in the General Register of Trademarks can also be requested for removal of trademark registration by interested third parties. The purpose of this research is to find out how the legal protection of the TRICO Trademark and its legal consequences based on the 2016 Trademark Law on Trademarks and Geographical Indications in the Decision of the Supreme Court of the Republic of Indonesia Number 905 K/Pdt.Sus-HKI/2023.
This research uses a normative juridical approach method with descriptive analysis research specifications. The data source used is secondary data with data collection methods by literature study. Then analyzed using qualitative normative methods and presented in the form of narrative text.
Based on the results of research and discussion indicate that the Plaintiff filed a lawsuit to the cassation level for the denial of the application for the removal of the Plaintiff's TRICO Trademark. The Cassation Council rejected the application for the removal of the Defendant's Trademark because the Plaintiff should have filed a lawsuit for the denial of the application for registration of the trademark by the Trademark Appeal Commission in the Decision of the Supreme Court of the Republic Number 905 K/Pdt.Sus-HKI/2023 in accordance with the provisions of Article 30 paragraph (3) of Law Number 20 Year 2016 concerning Trademarks and Geographical Indications. The legal effect is that the Plaintiff's trademark still does not get legal protection. While the Defendant's TRICO Trademark still obtained legal protection.
4234645820H1C017055Geologi Daerah Rungkang dan Sekitarnya, Kecamatan Gandrungmangu, Kabupaten Cilacap, Jawa TengahPemetaan geologi merupakan suatu kegiatan untuk mengetahui kondisi geologi suatu lapangan yang dapat dilakukan dengan metode pemetaan langsung ke lapangan maupun melalui pemetaan geologi melalui citra satelit atau foto udara. Dapat dilakukan pemetaan kondisi geologi suatu daerah sebagai acuan pemetaan lanjutan. Desa Rungkang dan sekitarnya memiliki sejarah geologi yang menarik untuk diamati dan diteliti lebih lanjut. Lokasi ini berada di Kecamatan Gandrungmangu. Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah dengan morfologi perbukitan yang terdiri atas singkapan batuan sedimen yang cukup merekam sejarah masa lampau yang berguna sebagai media pembelajaran bagi bidang keilmuan geologi. Metodologi penelitian yang peneliti gunakan berupa pemetaan geologi permukaan serta melakukan analisis petrografi. Kondisi Geomorfologi daerah penelitian terbagi menjadi empat, yaitu: Satuan Punggungan Aliran Piroklastik Rungkang, Satuan Punggungan Antiklin Gunungtelu, Satuan Punggungan Sinklin Gunungtelu, dan Satuan Lembah Sinklin Rungkang. Urutan stratigrafi daerah penelitian terbagi menjadi lima satuan dari tua ke muda yaitu: Satuan Batulempung, Satuan Breksi Piroklastik yg terendapkan secara menjemari dengan Satuan Batulempung, Satuan Batupasir, dan Endapan Aluvial.Geological mapping is an activity to determine the geological conditions of a field that can be done by direct mapping methods to the field or through geological mapping through satellite imagery or aerial photographs. Mapping the geological condition of an area can be done as a reference for further mapping. Rungkang Village and its surroundings have an interesting geological history to be observed and researched further. This location is in Gandrungmangu District. It is located in Gandrungmangu Sub-district, Cilacap Regency, Central Java Province with a hilly morphology consisting of sedimentary rock outcrops that adequately record the past history that is useful as a learning medium for geology. The research methodology that researchers use is surface geological mapping and petrographic analysis. Geomorphological conditions of the study area are divided into four, namely: Rungkang Pyroclastic Flow Ridge Unit, Gunungtelu Anticline Ridge Unit, Gunungtelu Syncline Ridge Unit, and Rungkang Syncline Valley Unit. The stratigraphic sequence of the study area is divided into five units from old to young, namely: Claystone Unit, Pyroclastic Breccia Unit which is deposited interbedded with Claystone Unit, Sandstone Unit, and Alluvial Deposits.
4234745718E1A017293Gugatan Wanprestasi Dalam Perjanjian Sharing Margin Antara MG Dengan PT. MV Dalam Perjanjian Tidak Tertulis (Studi Kasus Putusan Nomor 561/Pdt.G/2020/PN JKT.SEL)Wanprestasi sering menjadi salah satu permasalahan dalam suatu perjanjian. Wanprestasi dapat terjadi apabila salah satu pihak di dalam perjanjian tersebut tidak melaksanakan kewajiban sesuai dengan apa yang diperjanjikan. Apabila debitur melakukan wanprestasi, maka pihak kreditur dapat menuntut ganti rugi atas kerugian yang di alaminya, seperti kasus yang terjadi pada Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Nomor 561/Pdt.G/2020/PN JKT.SEL.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hakim mengkualifisir Tergugat melakukan wanprestasi pada perjanjian sharing margin dan menganalisis akibat hukum atas wanprestasi yang dilakukan oleh Tergugat pada perjanjian sharing margin dalam perjanjian tidak tertulis pada Putusan Nomor 561/Pdt.G/2020/PN JKT.SEL. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif dengan spesifikasi penelitian analisis preskriptif. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan studi kepustakaan yang kemudia disajikan dalam bentuk uraian yang disusun dalam bentuk teks naratif dengan analisis secara normatif kualitatif.
Berdasarkan penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa Hakim menyatakan PT. MV (Tergugat) melakukan wanprestasi. Hakim mengkualifisir Tergugat melakukan wanprestasi pada perjanjian sharing margin berdasarkan bukti-bukti berupa pengakuan kesepakatan perjanjian sharing margin dan saksi- saksi yang diajukan MG (Penggugat), tanpa menjelaskan unsur-unsur wanprestasi yang terpenuhi. Kemudian akibat hukum atas wanprestasi yang dilakukan Tergugat yaitu membayar ganti rugi kepada Penggugat sebesar kerugian atas biaya (kosten) yang secara nyata dikeluarkan oleh Tergugat dan merupakan akibat langsung dari wanprestasi. Hal ini sesuai dengan peraturan yang ada pada Pasal 1243 KUH Perdata.
Default is often one of the problems in an agreement. Default can occur if one of the parties to the agreement does not carry out its obligations in accordance with what was promised. If the debtor defaults, the creditor can claim compensation for the losses he has suffered, such as the case that occurred in the South Jakarta District Court Decision Number 561/Pdt.G/2020/PN JKT.SEL.
This study aims to analyze the judge qualifying the Defendant to default on the margin sharing agreement and analyze the legal consequences of default committed by the Defendant on the sharing margin agreement in an unwritten agreement in Decision Number 561/Pdt.G/2020/PN JKT.SEL. This research uses a normative juridical approach method with prescriptive analysis research specifications. The data collection method in this research was carried out by literature study which was then presented in the form of descriptions arranged in the form of narrative text with qualitative normative analysis.
Based on this research, it is concluded that the Judge declared PT MV (Defendant) in default. The judge qualified the Defendant to default on the margin sharing agreement based on evidence in the form of recognition of the sharing margin agreement and witnesses submitted by MG (Plaintiff), without explaining the elements of default that were fulfilled. Then the legal consequences of the default committed by the Defendant are to pay compensation to the Plaintiff in the amount of losses for costs (cost) that were actually incurred by the Defendant and were a direct result of the default. This is in accordance with the regulations in Article 1243 of the Civil Code.
4234845720L1C020023Identifikasi Molekuler dan Analisis Senyawa Bioaktif Rumput Laut Hijau (Chlorophyta) dari Pantai Sepanjang Kabupaten GunungkidulSebanyak 250.000 kejadian infeksi terjadi di Amerika setiap tahunnya, dimana 40% disebabkan oleh bakteri Gram positif dan 60% disebabkan oleh bakteri Gram negatif, sehingga meningkatkan risiko kematian hingga 20 kali. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional akan memicu resistensi. Pencarian senyawa antibakteri baru menjadi salah satu upaya dalam menangani resistensi. Rumput laut hijau (Chlorophyta) dilaporkan memiliki senyawa antibakteri. Namun, setiap Chlorophyta memiliki variasi jenis senyawa antibakteri. Identifikasi Chlorophyta umumnya dilakukan secara morfologi, tetapi proses ini sering menimbulkan kesalahan. Identifikasi berbasis molekuler menjadi salah satu upaya dalam menangani kesalahan identifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui spesies, senyawa bioaktif, dan potensi antibakteri dari Chlorophyta. Pengetahuan mengenai spesies Chlorophyta diperoleh melalui pengamatan morfologi dan anatomi serta gen melalui DNA barcoding, sedangkan pengetahuan mengenai kandungan senyawa bioaktif diperoleh melalui instrumen LC-HRMS. Sementara itu, potensi antibakteri dari Chlorophyta diketahui melalui metode Kirby-Bauer. Hasil identifikasi dari Chlorophyta meliputi: Cladophora sp., Ulva lactuca, Halicystis sp., dan Chaetomorpha sp. Senyawa bioaktif yang dihasilkan oleh Chlorophyta dilaporkan memiliki fungsi antibakteri. Zona hambat yang terbentuk dari setiap ekstrak Chlorophyta dikategorikan lemah dengan sifat bakteriostatik terhadap bakteri B. megaterium DSM 32, M. luteus ATCC 4698, dan E. coli K12. Senyawa bioaktif yang berperan belum diketahui secara pasti, sehingga diperlukan purifikasi.As many as 250,000 infections occur in the United States every year, of which 40% were caused by Gram-positive bacteria and 60% were caused by Gram-negative bacteria, increasing the risk of death by up to 20 times. Irrational use of antibiotics will trigger resistance. The search for new antibacterial compounds is one of the efforts to deal with resistance. Green seaweed (Chlorophyta) was reported to have antibacterial compounds. However, each Chlorophyta has a variety of types of antibacterial compounds. Chlorophyta identification is generally done morphologically, but this process often leads to errors. Molecular-based identification is one of the efforts to deal with misidentification. This study aims to determine the species, bioactive compounds, and antibacterial potential of Chlorophyta. Knowledge about Chlorophyta species was obtained through morphological and anatomical observations as well as genes through DNA barcoding, while knowledge about the content of bioactive compounds was obtained through LC-HRMS instruments. Meanwhile, the antibacterial potential of Chlorophyta was known through the Kirby-Bauer method. The identification results of Chlorophyta were included: Cladophora sp., Ulva lactuca, Halicystis sp., and Chaetomorpha sp. The bioactive compounds produced by Chlorophyta were reported to have antibacterial functions. The inhibitory zone formed from each Chlorophyta extract was categorized as resistant with bacteriostatic properties against B. megaterium DSM 32, M. luteus ATCC 4698, and E. coli K12 bacteria. The bioactive compounds that play a role were not known for sure, so purification was recommended.
4234945726K1A020065Inovasi Spektrofotometer Sederhana Sebagai Alternatif untuk Analisis Kadar Glukosa Menggunakan Metode AnthronePeralatan laboratorium yang mudah diakses dan hemat biaya sangat penting untuk memajukan penelitian ilmiah dalam keterbatasan sumber daya. Penelitian ini memperkenalkan spektrofotometer sederhana berbiaya rendah yang dirancang dengan mikrokontroler Arduino Uno, LED 625nm sebagai sumber cahaya dan sensor cahaya VEML7700 untuk mengukur konsentrasi glukosa menggunakan metode Anthrone. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui potensi dari spektrofotometer sederhana menggunakan sensor cahaya VEML7700 untuk uji glukosa dan menguji validasi metodenya. Hasil penelitian menunjukkan spektrofotometer sederhana dapat dibuat dengan sensor cahaya, LED 625nm serta mikrokontroler Arduino Uno dan didapatkan nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,9986 dengan persamaan garis regresi y = 0,005x + 0,0417 pada rentang 20 – 200 ppm; LOD sebesar 7,537 ppm; LOQ sebesar 25,122 ppm; nilai batas bawah (LOQ) sebesar 25,122 ppm dan batas atas sebesar 151,66 ppm; presisi diperoleh dengan nilai HORRAT 0,078 menggunakan sampel 100 ppm; presisi antara ditunjukan HORRAT sebesar 0,209; dan akurasi menunjukkan perolehan kembali sebesar 103,67% dengan sampel 20 ppm. Spektrofotometer sederhana yang digunakan dinyatakan valid karena sudah memenuhi parameter validasi metode analisis dan dapat digunakan untuk penetapan kadar glukosa pada sampel darah ayam. Kadar rata-rata glukosa dalam sampel darah ayam sebesar 131,40 ppm, kadar tersebut sesuai dengan kadar glukosa dalam darah ayam normal.Accessible and cost-effective laboratory equipment was essential for advancing scientific research in resource-limitations settings. This research introduced a simple, low-cost spectrophotometer designed with an Arduino Uno microcontroller, a 625nm LED as a light source, and a VEML7700 light sensor to measure glucose concentration using the Anthrone method. Therefore, this study aimed at determining the potential of simple spectrophotometer using VEML7700 light sensor for glucose testing and to validate its method. The results showed that the simple spectrophotometer could be constructed using the light sensor, 625nm LED, and Arduino Uno microcontroller, with regression equation y = 0.005x + 0.0417 and was obtained a correlation coefficient (r) value of 0.9986 in the range of 20 – 200 ppm; LOD of 7.537 ppm; LOQ of 25.122 ppm; lower limit (LOQ) of 25.122 ppm and upper limit of 151.66 ppm; precision obtained with a HORRAT value of 0.078 using a 100 ppm sample; intermediate precision shown by a HORRAT of 0.209; and accuracy showing a recovery of 103.67% with a 20 ppm sample. The simple spectrophotometer used was declared valid as it met the analytical method validation parameters and could be used to determine glucose levels in chicken blood samples. The average glucose level in the chicken blood samples was 131.40 ppm, which was consistent with the normal glucose levels in chicken blood.
4235045728A1D020063Aplikasi Pupuk N-ZEO-SR PLUS terhadap Dinamika Logam Berat Kadmium (Cd) pada Tanaman Stroberi (Faragaria sp.)Penggunaan pupuk dan pestisida kimia secara terus menerus dan berlebihan dalam budidaya stroberi dapat meningkatkan kadar kadmium. N-ZEO-SR PLUS berpotensi dalam mengendalikan cemaran logam kadmium. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh berbagai variasi Cd dan pemupukan N-ZEO-SR PLUS terhadap pertumbuhan, hasil tanaman stroberi, kandungan Cd dalam buah dan tanah serta interaksi keduanya. Penelitian dilaksanakan di Screenhouse dan Laboratorium Ilmu Tanah Unsoed, Purwokerto bulan Desember 2023 sampai Juni 2024. Penelitian berupa Rancangan Acak Kelompok (RAK) terdiri 2 faktor dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah dosis Pupuk N-ZEO-SR PLUS dengan 4 taraf yaitu 0 kg/ha (D0), 150 kg/ha (D1), 300 kg/ha (D2), dan 450 kg/ha (D3). Faktor kedua adalah konsentrasi kadmium yang terdiri dari 3 taraf yaitu 0 ppm (K0), 2 ppm (K1) dan 4 ppm (K2). Data dianalisis dengan uji analisis ragam apabila beda nyata, dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada tingkat kepercayaan 95%. Pengaplikasian Cd 4 ppm menurunkan bobot buah segar 24% dan meningkatkan kandungan Cd tanah 47% dibandingkan tanpa aplikasi logam Cd. Pengaplikasian pupuk N-ZEO-SR PLUS 450 kg/ha meningkatkan tinggi tanaman 6 MST 12%, jumlah daun 8 MST 16%, jumlah buah 70%, bobot buah segar 58%, dan menekan kandungan logam berat Cd tanah 20% dibandingkan tanpa pemupukan. Terdapat interaksi perlakuan N-ZEO-SR PLUS dan aplikasi Cd terhadap kandungan Cd tanah dengan hasil terbaik yaitu 0,18 ppm pada dosis N-ZEO-SR PLUS 450 kg/ha dan Cd 0 ppm serta presentase penurunan Cd tanah terbesar yaitu 95% pada dosis N-ZEO-SR PLUS 450 kg/ha dan Cd 4 ppm.Continuous and excessive use of chemical fertilizers and pesticides in strawberry cultivation can increase cadmium levels. N-ZEO-SR PLUS has the potential to control cadmium metal contamination. This research was conducted to determine the effects of various Cd variations and N-ZEO-SR PLUS fertilization on strawberry plant growth, yield, Cd content in fruit and soil, and their interactions. The study was carried out in a Screenhouse and Soil Science Laboratory at Unsoed, Purwokerto from December 2023 to June 2024. The research design used was a Randomized Block Design (RBD) consisting of 2 factors with 3 replications. The first factor was the dosage of N-ZEO-SR PLUS fertilizer with 4 levels: 0 kg/ha (D0), 150 kg/ha (D1), 300 kg/ha (D2), and 450 kg/ha (D3). The second factor was the cadmium concentration with 3 levels: 0 ppm (K0), 2 ppm (K1), and 4 ppm (K2). Data were analyzed using variance analysis, and if significant differences were found, followed by Duncan's Multiple Range Test (DMRT) at a 95% confidence level. Application of Cd at 4 ppm reduced fresh fruit weight by 24% and increased soil Cd content by 47% compared to no Cd metal application. Application of N-ZEO-SR PLUS fertilizer at 450 kg/ha increased plant height by 12% at 6 weeks after transplanting (WAT), the number of leaves by 16% at 8 WAT, the number of fruits by 70%, fresh fruit weight by 58%, and reduced soil heavy metal Cd content by 20% compared to no fertilization. There was an interaction between N-ZEO-SR PLUS treatment and Cd application on soil Cd content, with the best results being 0.18 ppm at a dose of N-ZEO-SR PLUS 450 kg/ha and Cd 0 ppm, and the largest reduction in soil Cd content, which was 95%, at a dose of N-ZEO-SR PLUS 450 kg/ha and Cd 4 ppm.
4235145721A1A019092Risiko Usahatani Kubis di Kecamatan Karangreja Kabupaten PurbalinggaKubis (Brassica oleracea var. capitata) merupakan tanaman sayuran krop yang memiliki banyak kandungan vitamin dan mineral yang dibutuhkan untuk tubuh. Kubis umunya dibudidayakan di daerah dataran tinggi salah satunya adalah Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. Usahatani kubis memiliki berbagai hambatan pada proses produksinya yang berasal dari berbagai sumber seperti produksi, pasar, harga, dan sebagainya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui biaya, penerimaan, dan pendapatan usahatani kubis, untuk mengetahui tingkat risiko produksi, harga, dan pendapatan usahatani kubis, dan untuk mengetahui sumber-sumber risiko usahatani kubis. Penelitian ini dilaksanakan dengan metode survey di Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga dari bulan November hingga Desember 2023. Responden diambil dengan metode cluster sampling dengan jumlah sampel sebanyak 50 petani kubis. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis kuantitatif. Hasil penelitian ini yaitu 1) rata-rata biaya usahatani dengan luas lahan 0,17 ha yang dikeluarkan oleh petani kubis sebesar Rp3.810.504., rata-rata penerimaan usahatani kubis sebesar Rp10.471.296, dan rata-rata pendapatan usahatani kubis sebesar Rp6.660.792, 2) tingkat risiko produksi usahatani kubis memiliki nilai CV sebesar 0,078, risiko harga memiliki nilai CV sebesar 0,057, dan risiko pendapatan memiliki nilai CV sebesar 0,178. Petani kubis di Kecamatan Karangreja akan mendapatkan keuntungan atau mengalami impas, dan 3) sumber-sumber risiko usahatani kubis di Kecamatan Karangreja di antaranya adalah perubahan iklim dan cuaca, gangguan organisme pengganggu tanaman, harga kubis yang fluktuatif, kurangnya gapoktan dalam membantu ketersediaan sarana dan prasarana produksi, berkurangnya tenaga kerja dalam produksi, dan modal usahatani yang terbatas.Cabbage (Brassica oleracea var. capitata) is a crop vegetable plant that contains a lot of vitamins and minerals essential for the body. Cabbage is commonly cultivated in highland areas like the Karangreja district in Purbalingga Regency. Cabbage farming faces numerous challenges in the production process, come from various sources such as production, markets, and prices. This research aimed to determine the costs, revenue, and income of cabbage farming, identify the levels of risk in production, price, income, and pinpoint the sources of these risks. The research was conducted using a survey method in the Karangreja district, Purbalingga Regency, from November to December 2023. A total of 50 cabbage farmers were selected as respondents through cluster sampling method. The analysis methods used were both descriptive and quantitative. The results of this research are 1) the average cost of farming with a land area of 0.17 ha incurred by cabbage farmers is Rp3.810.504, the average revenue from cabbage farming is Rp10.471.296, and the average income from cabbage farming is Rp6.660.792, 2) the production risk level of cabbage farming has a CV value of 0.078, the price risk has a CV value of 0.057, and the income risk has a CV value of 0.178. Cabbage farmers in Karangreja District will benefit or break even, and 3) sources of risk of cabbage farming in Karangreja District include climate and weather changes, disturbances by plant pests, fluctuating cabbage price, lack of gapoktan to help with the availability of production facilities and infrastructure, the reduction of labor in production,, and limited farming capital.
4235245719A1A020086FAKTOR YANG MEMENGARUHI TINGKAT PARTISIPASI PETANI DALAM PROGRAM TEKNOLOGI CLIMATE SMART AGRICULTURE (CSA) DI KECAMATAN KUTOWINANGUN, KABUPATEN KEBUMEN Partisipasi petani dalam program teknologi Climate Smart Agriculture (CSA) dianggap penting karena merupakan kunci keberhasilan dalam sebuah program. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat partisipasi petani dan faktor-faktor yang memengaruhi tingkat partisipasi petani dalam program CSA. Tingkat partisipasi petani dihitung berdasarkan empat tahap partisipasi, yaitu partisipasi dalam perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan hasil, dan evaluasi. Penelitian ini melibatkan 50 petani yang mengikuti program CSA, yang berfokus pada Desa Ungaran, Kutowinangun, dan Tunjungseto, Kecamatan Kutowinangun, Kabupaten Kebumen. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kualitatif menggunakan skor persentase untuk menghitung tingkat partisipasi. Pendekatan kuantitatif menggunakan analisis regresi linear berganda. Hasil dari penelitian ini menunjukkan tingkat partisipasi petani dalam program CSA termasuk dalam kategori sedang dengan persentase sebesar 56,75%. Faktor-faktor yang memengaruhi partisipasi petani dalam program CSA antara lain luas lahan, tingkat pendidikan formal, pendapatan, dan frekuensi mengikuti penyuluhan. Farmer participation in the Climate Smart Agriculture (CSA) technology program is considered important because is the key to success in a program. Therefore, this research aims to determine the level of farmer participation and the factors that influence the level of farmer participation in the CSA program. The level of farmer participation is calculated based on four stages of participation, namely participation in planning, implementation, utilization of results, and evaluation. This research involved 50 farmers who took part in the CSA program, which focused on Ungaran, Kutowinangun, and Tunjungseto villages, Kutowinangun District, kebumen Regency. This research was conducted using a qualitative and quantitative approach. The qualitative approach uses percentage scores to calculate participation rates. The quantitative approach uses multiple linear regression analysis. The results of this research show that the level of farmer participation in the CSA program is in the medium category with a percentage of 56,75%. Factors that influence farmer participation in the CSA program include, land area, level of formal education, income, and frecuency of attending extension services.
4235345723A1D020112Uji Formulasi Biopestisida Bacillus spp. untuk Mengendalikan Penyakit Bulai JagungPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas formula biopestisida Bacillus sp. BKR 9, B. subtilis BKR 5, B. amyloliquefaciens BBR 3 dalam mengendalikan penyakit bulai dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman jagung. Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca dan Laboratorium Perlindungan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman selama 4 bulan dari September hingga Desember 2023. Perlakuan yang diuji adalah kemampuan isolat Bacillus sp. BKR 9, B. subtilis BKR 5, B. amyloliquefaciens BBR 3 dengan formula kaldu keong dan kombinasi kaldu keong+air kelapa dalam mengendalikan penyakit bulai. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 17 perlakuan 3 ulangan. Variabel yang diamati meliputi masa inkubasi, intensitas penyakit, efektivitas pengendalian, laju infeksi, AUDPC, kandungan saponin, tanin, dan glikosida, tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar, bobot segar, dan bobot kering tanaman jagung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biopestisida Bacillus sp. BKR 9 formula keong + air kelapa dan konsorsium Bacillus sp. BKR 9 + B. subtilis BKR 5 + B. amyloliquefaciens BBR 3 formula keong merupakan perlakuan terbaik mampu menunda masa inkubasi sebesar 22,5 dan 21,8 hsi dan menekan intensitas penyakit bulai sebesar 71,4%. Perlakuan Bacillus sp. BKR 9 formula keong + air kelapa merupakan perlakuan terbaik dalam meningkatkan komponen pertumbuhan seperti tinggi tanaman sebesar 55,9%, jumlah daun sebesar 30,9%, panjang akar 52,2%, bobot segar sebesar 69,2% dan bobot kering sebesar 78,1%.This study aims to determine the effectiveness of the biopesticide formulas Bacillus sp. BKR 9, B. subtilis BKR 5, and B. amyloliquefaciens BBR 3 in controlling downy mildew disease and their impact on the growth of corn plants. The research was conducted in the greenhouse and Plant Protection Laboratory of the Faculty of Agriculture, Universitas Jenderal Soedirman, for four months from September to December 2023. The treatments tested were the ability of Bacillus sp. BKR 9, B. subtilis BKR 5, and B. amyloliquefaciens BBR 3 isolates with snail broth formulas and a combination of snail broth and coconut water in controlling downy mildew disease. This study used a Randomized Block Design (RBD) with 17 treatments and 3 replications. The observed variables included incubation period, disease intensity, control effectiveness, infection rate, AUDPC, saponin, tannin, and glycoside content, plant height, number of leaves, root length, fresh weight, and dry weight of corn plants. The results showed that the biopesticide Bacillus sp. BKR 9 with snail broth and coconut water formula and the consortium of Bacillus sp. BKR 9 + B. subtilis BKR 5 + B. amyloliquefaciens BBR 3 with snail broth formula were the best treatments, able to delay the incubation period by 22.5 and 21.8 days, and suppress downy mildew disease intensity by 71.4%. The Bacillus sp. BKR 9 with snail broth and coconut water formula was the best treatment in improving growth components such as plant height by 55.9%, number of leaves by 30.9%, root length by 52.2%, fresh weight by 69.2%, and dry weight by 78.1%
4235445724C2C020010Penerapan Lean Manajemen pada Waktu Tunggu Pelayanan Obat
(Studi Empiris pada pasien rawat jalan di RSU Ananda Purwokerto)
Penelitian ini meneliti penerapan Lean Manajemen di Instalasi Farmasi Rawat
Jalan RSU Ananda Purwokerto dengan fokus utama mengurangi waktu tunggu
pelayanan obat bagi pasien rawat jalan. Lean Manajemen dipilih karena
kemampuannya dalam mengidentifikasi dan menghilangkan pemborosan (waste)
dalam proses pelayanan. Penelitian menggunakan pendekatan tindakan dengan Kaizen
metode PDCA (Plan-Do-Check-Act) dan 5S untuk meningkatkan efisiensi alur kerja
dan tata ruang.
Faktor-faktor yang menyebabkan waktu tunggu lama diidentifikasi, termasuk
proses manual penulisan resep, kendala ketersediaan stok obat, dan ruang kerja yang
sempit yang menghambat pergerakan staf. Melalui implementasi Lean Manajemen,
penelitian ini berhasil mengurangi waktu tunggu secara signifikan, yang berdampak
positif pada kepuasan pasien dan staf.
Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan Lean Manajemen dapat menjadi
strategi efektif untuk meningkatkan efisiensi pelayanan di sektor kesehatan, terutama
dalam mengurangi waktu tunggu dan meningkatkan kualitas layanan farmasi.
Implikasi praktis dari penelitian ini adalah bahwa rumah sakit lain dapat menerapkan
konsep serupa untuk mengatasi masalah pemborosan dan meningkatkan kepuasan
pasien. Selain itu, hasil penelitian ini juga menekankan pentingnya pelatihan dan
pengembangan staf dalam memahami dan mengimplementasikan prinsip Lean secara
berkelanjutan untuk memastikan perbaikan terus-menerus dalam proses pelayanan.
This study explores the application of Lean Management in the Outpatient
Pharmacy Department of RSU Ananda Purwokerto, with the primary objective of
reducing the waiting time for outpatient medication services. Lean Management was
chosen for its ability to identify and eliminate waste within the service process. The
research utilized an action research approach, implementing the PDCA (Plan-DoCheck-Act) cycle and the 5S method to improve workflow efficiency and workspace
organization.
The study identified key factors contributing to long waiting times, including
manual prescription processes, stock availability issues, and limited workspace that
restricted staff movement. Through the implementation of Lean Management, the
research successfully reduced waiting times significantly, leading to improved patient
satisfaction.
This research demonstrates that the application of Lean Management can be
an effective strategy to enhance service efficiency in the healthcare sector,
particularly in reducing waiting times and improving the quality of pharmacy services.
The practical implication of this research is that other hospitals can adopt similar
concepts to address issues of waste and enhance patient satisfaction. Furthermore, the
findings highlight the importance of continuous staff training and development in
understanding and implementing Lean principles to ensure ongoing process
improvements in service delivery
4235545725L1A019030Perbedaan Kepadatan dan Tutupan Warna Ikan Guppy (Poecilia reticulata) Strain Albino Full RedIkan Guppy (Poecilia reticulata) merupakan ikan hias yang banyak diminati oleh
seluruh lapisan masyarakat. Ikan Guppy dipelihara untuk dinikmati keindahan
warna, bentuk sirip maupun ekornya. Ikan Guppy yang berwarna merah adalah Ikan
Guppy strain AFR (Albino Full Red). Perbedaan lokasi Ikan Guppy memungkinkan
untuk memiliki kualitas warna yang berbeda. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan
untuk mengetahui perbedaan lokasi terhadap kepadatan dan tutupan warna RGB
(red green blue) pada Ikan Guppy strain AFR yang berasal dari Depok dan
Dukuhwaluh Purwokerto. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan Agustus 2023.
Pemeliharaan dan pengambilan sampel warna ikan dilakukan di laboratorium
Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan Universitas Jenderal Soedirman. Uji Chi
square (X²) kepadatan dan tutupan warna RGB Ikan Guppy strain AFR diperoleh
hasil X² hitung sebesar 3,034, X² tabel sebesar 1,635 dan X² hitung 40,534, X² tabel
1,635. Nilai X² hitung > X² tabel. Dengan demikian terdapat perbedaan kepadatan
dan tutupan RGB Ikan Guppy strain AFR yang berasal dari Depok dan Dukuhwaluh
Purwokerto.
Guppy fish (Poecilia reticulata) is an ornamental fish that is in great demand by
all levels of society. Guppy fish are kept to enjoy the beauty of their color, fin shape and
tail. The red Guppy Fish is the AFR (Albino Full Red) strain of Guppy Fish. The different
locations of Guppy Fish make it possible to have different color qualities. This study was
conducted with the aim of finding out the difference in location to the density and color
cover of RGB (red, green, blue) in Guppy Fish strain AFR from Depok and Dukuhwaluh
Purwokerto. Sampling was carried out in August 2023. The maintenance and sampling
of fish color was carried out in the laboratory of the Faculty of Fisheries and Marine
Sciences, Jenderal Soedirman University. Chi square (X²) test of density and RGB color
coverage of AFR strain Guppy Fish obtained the results of X² count of 3.034, X² table of
1.635 and X² count of 40.534, X² table 1.635. The value of X² count > X² table. Thus,
there is a difference in density and RGB coverage of AFR strain Guppy Fish originating
from Depok and Dukuhwaluh Purwokerto
4235645727A1D020062Aplikasi Pupuk N-ZEO-SR Plus terhadap Dinamika Logam Berat Timbal (Pb) pada Tanaman Kedelai (Glycine max L)Cemaran logam timbal (Pb) pada tanaman kedelai dapat menghambat pertumbuhan,
hasil, serta mencemari rantai makanan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh
pemberian dosis pupuk N-ZEO SR Plus dan logam berat Pb terhadap pertumbuhan, hasil
kacang kedelai, serta kandungan logam berat Pb di tanah dan biji kedelai serta interaksi
keduanya. Penelitian dilakukan pada Desember 2023 sampai Juni 2024 di screen house
dan Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman.
Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan dua faktor. Faktor
pertama dosis pupuk N-ZEO-SR Plus terdiri dari 0, 50, 100, dan 150 kg/ha serta faktor
kedua konsentrasi Pb terdiri dari 0, 50, dan 100 ppm. Variabel pengamatan meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, kandungan klorofil, kandungan prolin, bobot kering
tanaman, jumlah polong isi, bobot 100 biji, bobot biji pertanaman, kandungan logam Pb
di tanah dan biji kedelai, serta persentase penurunan Pb. Berdasarkan hasil penelitian
pemberian pupuk N-ZEO-SR Plus secara tunggal pada dosis 150 kg/ha (D3) dapat
meningkatkan jumlah daun 6 MST sebesar 9%, kandungan klorofil sebesar 32%, bobot
biji pertanaman sebesar 23%, dan menekan kandungan Pb di tanah sebesar 11%
dibandingkan tanpa pemupukan. Pemberian konsentrasi Pb 100 ppm (K2) secara tunggal
dapat meningkatkan kandungan Pb di tanah sebesar 40% dibandingkan tanpa pemberian
logam Pb. Terdapat interaksi pupuk N-ZEO-SR Plus dengan logam Pb pada variabel
jumlah polong isi, kandungan klorofil, kandungan Pb di tanah, dan persentase penurunan
Pb di tanah.
Lead (Pb) contamination in soybean plants can inhibit growth, yield, and
contaminate the food chain. This study aims to determine the effect of different doses of
N-ZEO-SR Plus fertilizer and heavy metal Pb on the growth and yield of soybeans, as
well as Pb content in the soil and soybean seeds, and the interaction between them. The
research was conducted from December 2023 to June 2024 in a screen house and the
Soil Science Laboratory at the Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University.
This study used a randomized block design (RBD) with two factors. The first factor was
the dose of N-ZEO-SR Plus fertilizer, consisting of 0, 50, 100, and 150 kg/ha, and the
second factor was the concentration of Pb, consisting of 0, 5, and 100 ppm. Observed variables included plant height, number of leaves, leaf area, chlorophyll content, proline
content, dry plant weight, number of filled pods, 100-seed weight, seed weight per plant,
Pb content in the soil and soybean seeds, and the percentage reduction of Pb. Based on
the research results, applying N-ZEO-SR Plus fertilizer alone at a dose of 150 kg/ha (D3)
can increase the number of leaves at 6 MST by 9%, chlorophyll content by 32%, seed
weight per plant by 23%, and reduce Pb content in the soil by 11% compared to no
fertilization. Applying a Pb concentration of 100 ppm (K2) alone can increase Pb content
in the soil by 40% compared to no Pb application. There is an interaction between N-
ZEO-SR Plus fertilizer and Pb metal on the variable of number of filled pods, chlorophyll
content, Pb content in the soil, and the percentage reduction of Pb in the soil.
4235745729B1A020087PENGARUH CEKAMAN CADMIUM (CdSO₄) TERHADAP KARAKTER ANATOMI DAUN DAN RESPON FISIOLOGIS TANAMAN TOMAT (Solanum lycopersicum L. var. gammara)
Aktivitas sektor industri di Indonesia meningkatkan pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat dan menjadi salah satu unsur penting dalam pembangunan di Indonesia. Disisi lain, adanya kegiatan industri tersebut dapat menghasilkan limbah industri yaitu logam berat yang dapat mencemari air, udara, tanah dan persawahan. Salah satu jenis logam berat yang dapat mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan tanaman adalah kadmium (CdSO₄). Tomat yang terkena cekaman kadmium tentunya akan mengalami dampak atau kerusakan pada tanaman sehingga mempengaruhi tingkat produktivitas dan penurunan pertumbuhan tanaman tomat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana karakter anatomi dan respon fisiologis pada tanaman tomat (Solanum lycopersicum L. var. gammara) yang terkena cekaman kadmium.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan variabel bebas berupa empat taraf konsentrasi kadmium yaitu 0; 25; 50 dan 100 ppm masing-masing perlakuan diulang sebanyak 5 kali. Metode pembuatan preparat anatomi menggunakan metode parafin (embedding). Parameter yang diamati adalah tebal kutikula, epidermis, mesofil, ukuran stomata (panjang dan lebar), jumlah stomata per mm2 luas daun serta tinggi tanaman dan kandungan klorofil. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan Analisis Ragam (Anova), atau Uji F dengan tingkat kesalahan 5% dan 1%., dilanjutkan dengan uji lanjut BNT dengan taraf signifikan 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tanaman tomat (Solanum lycopersicum L. var. gammara) yang tercekam kadmium (CdSO₄) mengalami perubahan karakter anatomi daun dan respon fisiologis dan konsentrasi kadmium 25 ppm dapat ditoleransi pada tanaman tomat.

Industrial sector activities in Indonesia are known as pillars to increase economic growth for society and has become an important element of development in Indonesia. On the other side, these industrial activities also produce industrial waste, such as heavy metals, which can pollute water, air, soil, and rice fields. One type of heavy metal that can affect plant development and growth is cadmium (CdSO.). Tomatoes that are exposed to cadmium stress will certainly experience impacts or damage to the plant, thereby affecting the level of productivity and decreasing the growth of tomato plants. Therefore, this research aims to examine the anatomical characteristics and physiological responses of tomatoes (Solanum lycopersicum L. var. gammara) that were exposed to cadmium stress.
A Completely Randomized Design (CRD) experimental method was used with independent variables in the form of four levels of cadmium concentration, namely 0; 25; 50 and 100 ppm, with each treatment being repeated five times. The method that is used for making anatomical preparations is the paraffin (embedding) method. The parameters that were observed are cuticle thickness, epidermis, mesophyll, stomata size (length and width), number of stomata per mm2 of leaf area, as well as plant height and chlorophyll content. Observation data were analyzed using Analysis of Variance (Anova), or F test with 5% and 1% error rate, followed by BNT further test with 5% significant level.
The results showed that tomato plants (Solanum lycopersicum L. var. gammara) affected by cadmium (CdSO₄) experienced changes in leaf anatomical characters and physiological responses and cadmium concentration of 25 ppm can be tolerated in tomato plants.
4235845730B1A018082Dekolorisasi Limbah Batik menggunakan Aspergillus sp.3 yang Terimobilisasi Bagasse TebuIndonesia memiliki berbagai sektor industri yang mengalami perkembangan yang sangat pesat. Salah satu industri yang sedang berkembang adalah industri batik. Hal tersebut memberikan dampak positif terhadap peningkatan perekonomian masyarakat. Namun, industri batik juga dapat memberikan dampak negatif seperti kerusakan lingkungan oleh limbah cair yang dihasilkan. Beberapa upaya yang dikembangkan untuk mengatasi masalah tersebut antara lain secara fisika, kimia dan biologi. Jamur Aspergillus menjadi salah satu agen biologis yang mampu mendekolorisasi limbah tersebut. Salah satu metode yang dapat digunakan yaitu dengan mengimobilisasikan jamur pada suatu substrat yang salah satunya adalah bagasse tebu. Kelebihan dari metode imobilisasi antara lain dapat melindungi jamur, meningkatkan aktivitas, serta memungkinkan jamur untuk digunakan secara terus-menerus. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan yaitu variasi berat bagasse tebu dengan volume limbah. Pengujian diawali dengan menyiapkan inokulum jamur yang digunakan untuk imobilisasi pada bagasse tebu. Bagasse tebu yang sudah terimobilisasi jamur kemudian digunakan untuk mendekolorisasi limbah batik. Pengujian dilakukan dengan mengukur persentase dekolorisasi. Tahap selanjutnya adalah uji penggunaan berulang bagasse terimobilisasi jamur untuk mengetahui jumlah siklus yang dapat dilakukan oleh bagasse terimobilisasi jamur dalam mendegradasi limbah batik. Data hasil yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan Analisis Ragam (Anova), kemudian dilanjutkan dengan uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan Aspergillus sp.3 terimobilisasi bagasse tebu dapat mendekolorisasi limbah batik dengan berbagai perlakuan berat bagasse tebu yang berbeda. Berat bagasse tebu yang paling optimal untuk mendekolorisasi limbah batik yaitu berat 20 g persentase dekolorisasi 74,29%. Hasil tersebut didukung dengan hasil pengukuran kadar DO, nilai pH, kadar TDS dan nilai suhu serta kemampuan Reusebility.Indonesia has various industrial sectors that are experiencing very rapid development. One of the growing industries is the batik industry. This certainly has a positive impact, one of which is on improving the community's economy. However, the batik industry can also have a negative impact such as environmental damage by the liquid waste produced. Liquid waste usually comes from the fabric processing and coloring processes in the batik making process. Several efforts have been developed to overcome this problem, including physics, chemistry and biology. Aspergillus fungus is one of the biological agents that can degrade the waste. One method that can be used is by immobilizing the fungus on a substrate, one of which is sugarcane bagasse. The advantages of the immobilization method include protecting the fungus, increasing activity, and allowing the fungus to be used continuously.
The research method used is experimental Completely Randomized Design (CRD) with treatment, namely variations in sugarcane bagasse weight with waste volume. The test begins with preparing the fungal inoculum used for immobilization on sugarcane bagasse. Bagasse cane that has been immobilized by fungi is then used to degrade batik waste. Tests were carried out by measuring percentage of decolorization. The next stage is the repeated use test of fungus-immobilized bagasse to determine the number of cycles that can be carried out by fungus-immobilized bagasse in degrading batik waste. The data obtained were then analyzed using Analysis of Variance (Anova), then continued with the Tukey test.
The results showed that the treatment of Aspergillus sp.3 immobilized sugarcane bagasse can decolorize batik waste with a variety of different sugarcane bagasse weight treatments. The most optimal weight of bagasse cane to decolorize batik waste is 20 g with a decolorization percentage of 74.29%. These results are supported by the results of measuring DO levels, pH values, TDS levels and temperature values and reusability.
4235945731A1A020011Partisipasi Anggota Kelompok Wanita Tani dalam Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) di Kecamatan Kemranjen Kabupaten BanyumasPartisipasi anggota kelompok wanita tani merupakan faktor penting dalam pelaksanaan program Pekarangan Pangan Lestari. Tingkat partisipasi anggota kelompok sangat memengaruhi keberhasilan program. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat partisipasi anggota kelompok wanita tani di Kecamatan Kemranjen dalam program tersebut serta mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi di daerah ini. Penelitian ini dilakukan dengan teknik purposive sampling, menggunakan data primer dan sekunder. Temuan penelitian menunjukkan bahwa tingkat partisipasi anggota kelompok wanita tani dalam program ini berada pada kategori sedang dengan nilai 72,1%. Partisipasi tinggi terlihat pada indikator pelaksanaan dan pemanfaatan hasil, sedangkan pada indikator perencanaan dan evaluasi/pengawasan berada pada kategori sedang. Faktor pendidikan, status keanggotaan dalam kelompok, dan frekuensi mengikuti penyuluhan mempengaruhi partisipasi anggota kelompok wanita tani, sementara faktor usia, tanggungan keluarga, dan luas lahan pekarangan tidak berpengaruh terhadap partisipasi anggota dalam program.The participation of women farmer group members is an important factor in implementing the Sustainable Food Yard program. The level of participation of group members greatly influences the success of the program. This research aims to determine the level of participation of women farmer group members in Kemranjen District in the program and to determine the factors that influence participation in this area. This research was conducted using a purposive sampling technique, using primary and secondary data. Research findings show that the level of participation of women farmer group members in this program is in the medium category with a value of 72.1%. High participation is seen in the implementation and utilization of results indicators, while the planning and evaluation/supervision indicators are in the medium category. Educational factors, membership status in the group, and frequency of attending extension services influence the participation of women farmer group members, while factors such as age, family responsibilities, and size of yard land do not influence members' participation in the program.
4236045733L1C020070Hubungan Kelimpahan dan Keanekaragaman Ikan koralivora dengan Tutupan Karang di Perairan Desa Tulamben dan Amed, Kabupaten Karangasem, BaliPerairan Desa Tulamben dan Amed merupakan perairan yang memiliki potensi terumbu karang dan ikan karang yang tinggi. Ikan koralivora merupakan jenis ikan karang yang dapat ditemui di perairan ini. Terumbu karang dapat memengaruhi keanekaragaman dan kelimpahan ikan koralivora. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kelimpahan dan keanekaragaman ikan koralivora, kondisi tutupan terumbu karang, dan hubungan kelimpahan dan keanekaragaman ikan koralivora dengan tutupan karang di Perairan Desa Tulamben dan Amed. Penelitian ini menggunakan metode survei dan sampel diambil dengan metode purposive sampling pada 3 stasiun, yaitu Coral Garden, Seraya, dan Amed. Jumlah ikan koralivora diambil dengan metode Underwater Visual Census (UVC) dan dianalisis dengan perangkat lunak Microsoft excell untuk mengetahui kelimpahan dan keanekaragaman ikan koralivora. Kondisi tutupan karang diamati dengan metode Underwater Photo Transect (UPT) dan dianalisis dengan perangkat lunak Count Point with Excell Extension (CPCe). Hubungan antara ikan koralivora dengan kondisi terumbu karang dianalisis dengan korelasi pearson. Kelimpahan ikan koralivora pada Perairan Desa Tulamben dan Amed kategorinya banyak dan keanekaragaman ikan koralivoranya rendah hingga sedang. Ikan koralivora berdampak pada kondisi karang yang buruk. Hubungan antara kelimpahan ikan koralivora dengan tutupan karang adalah positif sedangkan hubungan antara keanekaragaman ikan koralivora dengan tutupan karang adalah negatif. Pemantauan terhadap kondisi tutupan karang serta kelimpahan dan keanekaragaman ikan koralivora penting untuk dilakukan sebagai upaya pelestarian ekosistem terumbu karang agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.The waters of Tulamben and Amed Village were recognized for their significant coral reef potential and the presence of diverse reef fish. Coralivorous fish, a type of reef fish, were commonly found in these waters and were influenced by the condition of the coral reefs. This study aimed to evaluate the abundance and diversity of coralivorous fish, assess the status of coral cover, and explore the relationship between the abundance and diversity of these fish with coral cover in Tulamben Village and Amed. The research was conducted using a survey method, with samples collected through purposive sampling at three stations: Coral Garden, Seraya, and Amed. The abundance and diversity of coralivorous fish were measured using the Underwater Visual Census (UVC) method and analyzed with Microsoft Excel. Coral cover conditions were assessed through the Underwater Photo Transect (UPT) method and examined using CPCe software. Pearson correlation was used to determine the relationship between fish abundance/diversity and coral cover. The results revealed that the abundance of coralivorous fish in these waters was many, while the diversity was low to moderate. Coralivorous fish were found to impact degraded coral conditions. A positive correlation was observed between fish abundance and coral cover, while a negative correlation was found between fish diversity and coral cover. Regular monitoring of coral reef health and coralivorous fish abundance and diversity was emphasized as essential for the sustainable conservation of these ecosystems.