Artikelilmiahs
Menampilkan 39.221-39.240 dari 48.933 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 39221 | 44448 | L1A020042 | Keragaan Perikanan Tangkap Di Waduk Kedung Ombo Kabupaten Sragen | Perairan waduk Kedung Ombo Kabupaten Sragen memiliki potensi yang besar di bidang perikanan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui keragaan perikanan tangkap serta potensi pengembangan perikanan tangkap di waduk Kedung Ombo. Metode penelitian ini yaitu menggunakan wawancara, data sekunder dan pengamatan langsung. Keragaan perikanan tangkap di waduk Kedung Ombo meliputi rumah tangga perikanan, alat tangkap, armada penangkapan, volume produksi penangkapan, nilai produksi perikanan, jenis dan hasil tangkapan ikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumah tangga perikanan tertinggi pada tahun 2014 sejumlah 621. Jumlah armada penangkapan tertinggi pada tahun 2022 sebanyak 634 dengan alat tangkap dominan berupa gill net. Nelayan waduk Kedung Ombo Kabupaten Sragen termasuk kedalam kategori nelayan kecil karena nelayan menggunakan jenis perahu <5GT dan melakukan penangkapan harian.Volume produksi tertinggi pada 2019 sebesar 2.137.387 kg dengan nilai produksi sebesar Rp. 41.452.428.000. Produksi pada tahun 2020 mengalami penurunan diakibatkan karena pandemi Covid-19. Jenis tangkapan nelayan terdiri dari 11 kategori dengan tangkapan dominan yaitu ikan nila. Ikan spesies asli produksi nya tidak dominan dibandingkan dengan nila sehingga perlu dilakukan restocking spesies asli. | The waters of the Kedung Ombo reservoir, Sragen Regency, have great potential in the fisheries sector. The aim of this research is to determine the performance of capture fisheries and the potential for development of capture fisheries in the Kedung Ombo reservoir. This research method uses interviews, secondary data and direct observation. Capture fisheries performance in the Kedung Ombo reservoir includes fishing households, fishing gear, fishing fleet, fishing production volume, fishery production value, types and results of fish catches. The research results show that the highest number of fishing households in 2014 was 621. The highest number of fishing fleets in 2022 was 634 with the dominant fishing gear being gill nets. Fishermen from the Kedung Ombo Reservoir, Sragen Regency are included in the small fishermen category because the fishermen use boats <5GT and carry out daily fishing. The highest production volume in 2019 was 2,137,387 kg with a production value of Rp. 41,452,428,000. Production in 2020 experienced a decline due to the Covid-19 pandemic. The types of fishermen's catches consist of 11 categories with the dominant catch being tilapia. The production of native species of fish is not dominant compared to tilapia, so it is necessary to restock native species. | |
| 39222 | 44760 | F1C020018 | Setrategi Personal Selling Bank Jateng Kantor Cabang Purwokerto dalam Mensosialisasikan Layanan M-Banking kepada Nasabah Pensiunan | Adanya layanan berbasis mobile dalam perbankan (m-banking) telah menawarkan berbagai kemudahan. Namun, pada kenyataannya masih terdapat nasabah Bank Jateng Kantor Cabang Purwokerto yang belum menggunakannya, khususnya nasabah pensiunan. Minat nasabah pesniunan untuk menggunakan layanan m-banking menjadi urgensi yang perlu ditangani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi personal selling, tahapan strategi personal selling, serta kelebihan dan kekurangan dari strategi personal selling yang dilakukan Bank Jateng Kantor Cabang Purwokerto dalam mensosialisasikan layanan m- banking kepada nasabah pensiunan. Informan dalam penelitian ini merupakan kepala bidang dan dua staff pemasaran, serta satu teller Bank Jateng Kantor Cabang Purwokerto. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Peneliti menggunakan Model SMCR dari Berlo (1960) dalam mengkaji penelitian ini. Hasil penelitian ini adalah Bank Jateng Kantor Cabang Purwokerto menggunakan strategi personal selling dalam bentuk field dan retail selling dengan tujuh tahapan yaitu prospecting, preapproach, approach, presentation, handling objection, closing, dan follow-up. Selain itu, terdapat kelebihan dari strategi personal selling yang digunakan yaitu personalisasi dan interaksi secara langusng, pendekatan emosional, promosi menarik, fokus pada kepuasan nasabah, dan kemampuan melakukan cross-selling, serta kekurangannya berupa kurangnya spesifikasi data dan keterbatasan kompatibilitas gadget. | The existence of mobile-based services in banking (m-banking) has offered various conveniences. However, in reality, there are still Bank Jateng customers at the Purwokerto Branch Office who haven’t used it, especially retired customers. The interest of retired customers in using m-banking services is an urgency that needs to be addressed. This research aims to determine the personal selling strategy, the stages of the personal selling strategy, as well as the advantages and disadvantages of the personal selling strategy carried out by Bank Jateng at the Purwokerto Branch Office in socializing m-banking services to retired customers. The informants in this research were the head of the department and two marketing staff, as well as one teller at the Bank Jateng Purwokerto Branch Office. The method used in this research is qualitative with a case study approach. The data collection methods used were observation, interviews, and documentation. Researchers used the SMCR Model by Berlo (1960) in reviewing this research. The results of this research show that Bank Jateng Purwokerto Branch Office uses a personal selling strategy in the form of field and retail selling with seven stages, namely prospecting, preapproach, approach, presentation, handling objections, closing, and follow-up. Apart from that, there are advantages to the personal selling strategy used, that is personalization and direct interaction, emotional approach, attractive promotions, focus on customer satisfaction, and the ability to do cross-selling, as well as disadvantages in the form of a lack of data specifications and limited gadget compatibility. | |
| 39223 | 44877 | C1L019006 | Pengaruh Metode Resitasi Dan Kemandirian Belajar Terhadap Hasil Belajar Kognitif Kelas XI SMA 1 Karangreja | Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menggunakan metode penelitian eksperimen, jenis atau model penelitian yang digunakan yaitu quasi experimental design atau eksperimen semu dengan bentuk the nonequivalent control group design. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh penggunaan metode pembelajaran resitasi dan kemandirian belajar siswa terhadap hasil belajar kognitif pada mata pelajaran ekonomi di kelas XI SMA N 1 Karangreja. Pelaksanaan penelitian pada semester ganjil tahun ajaran 2023/2024. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya hasil belajar serta kemandirian belajar khususnya siswa kelas IX pada mata pelajaran ekonomi. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data menunjukan bahwa: (1) terdapat perbedaan hasil belajar kognitif peserta didik yang menggunakan metode pembelajaran resitasi dengan peserta didik yang menggunakan etode pembelajaran konvensional; (2) Metode pembelajaran resitasi berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar kognitif; (3) Kemandirian belajar siswa berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar kognitif. | This research is quantitative research that uses experimental research methods, the type or research model used is quasi experimental design or quasi-experiment in the form of the nonequivalent control group design. The aim of this research is to analyze the influence of the use of recitation learning methods and student learning independence on cognitive learning outcomes in economics subjects in class XI SMA N 1 Karangreja. Carrying out research in the odd semester of the 2023/2024 academic year. This research was motivated by low learning outcomes and learning independence, especially for class IX students in economics subjects. Based on the results of research and data analysis, it shows that: (1) there are differences in the cognitive learning outcomes of students who use the recitation learning method and students who use conventional learning methods; (2) The recitation learning method has a significant effect on cognitive learning outcomes; (3) Student learning independence has a significant effect on cognitive learning outcomes. | |
| 39224 | 41716 | F1B018102 | PENGARUH INOVASI PELAYANAN PUBLIK TERHADAP KEPUASAN MASYARAKAT PENGGUNA LAPAK ADUAN BANYUMAS | Citra pelayanan publik di Indonesia sempat buruk oleh masyarakat. Hal tersebut dikarenakan banyak masyarakat yang mengalami kesulitan dalam urusan administrasi negara. Banyaknya proses administrasi yang berbelit, tidak efisien, memakan banyak waktu dan biaya, serta tidak adanya transparansi dari pelayan publik membuat kepuasan masyarakat menurun. Pentingnya kepercayaan publik pada pelayanan yang diberikan oleh pemerintah sangat berpengaruh terhadap jalannya pemerintahan. Kepuasan masyarakat juga memengaruhi partisipasi dari masyarakat, begitu juga sebaliknya. Apabila masyarakat berpartisipasi aktif terhadap birokrasi, maka kepuasan masyarakat dapat ditingkatkan. Saat ini, pemerintah juga mendorong partisipasi aktif dari masyarakat dalam urusan pembangunan. Lapak Aduan Banyumas merupakan sebuah platform digital yang didalamnya menampung aduan, keluhan, informasi, pertanyaan, dan saran yang disampaikan oleh masyarakat terhadap berbagai pelayanan di lingkungan Kabupaten Banyumas. maka tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengukur tingkat kepuasan masyarakat yang dipengaruhi oleh Inovasi Pelayanan pada layanan Lapak Aduan Banyumas. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan format eksplanasi survei. Teknik analisis data dilakukan dengan SPSS yitu uji regresi linear sedehana, uji koefisien korelasi, uji koefisien determinasi dan Uji Hipotesis uji t. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa nilai koefisien korelasi berganda (R) antara Inovasi Pelayanan Publik Terhadap Kepuasan Masyarakat adalah sebesar 0,790 dalam rentang 0,600 – 0,799. Data ini menunjukkan terdapat hubungan yang kuat antara Inovasi Pelayanan Publik Terhadap Kepuasan Masyarakat Pengguna Lapak Aduan Banyumas. Hasil perhitungan menggunakan SPSS dengan uji kooefisien determinasi diketahui bahwa Uji Determinasi (R2) menunjukan nilai koefesien determinasi (R square) sebesar 0,624 dimana mengartikan bahwa pengaruh variabel Inovasi Pelayanan Publik (X) Kepuasan Masyarakat (Y) adalah sebesar 62,4% sedangkan sisanya yaitu 37,6% dipengaruhi oleh variable lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. | The image of public services in Indonesia was once bad by the community. This is because many people experience difficulties in state administration affairs. Many administrative processes are convoluted, inefficient, time-consuming and costly, and there is no transparency on the part of the administration, which decreases public satisfaction. The importance of public trust in the services provided by the government is very influential on government appeals. Community satisfaction also affects community participation, and vice versa. If the community actively participates in the bureaucracy, then community satisfaction can be increased. Currently, the government is also encouraging the active participation of the community in development affairs. The Banyumas Complaints Stall is a digital platform which accommodates complaints, complaints, information, questions, and suggestions submitted by the community for various services in the Banyumas Regency environment. So the purpose of this study is to measure the level of community satisfaction that is influenced by Service Innovation in the Banyumas Complaint Stalls service. This study uses a quantitative research method with a survey explanation format. The data analysis technique was carried out using SPSS, namely simple linear regression test, correlation coefficient test, coefficient of determination test and hypothesis test t test. The results of the study reveal that the value of the multiple correlation coefficient (R) between Public Service Innovation on Community Satisfaction is 0.790 in the range 0.600 – 0.799. This data shows that there is a strong relationship between Public Service Innovation and Community Satisfaction with Banyumas Complaint Stall Users. The results of calculations using SPSS with the coefficient of determination test show that the Determination Test (R2) shows the value of the Determination Service coefficient (R square) of 0.624 which means that the influence of the Public Innovation variable (X) Community Satisfaction (Y) is 62.4% while the remaining 37.6% is influenced by other variables not examined in this study. | |
| 39225 | 41717 | A1D016082 | PENGARUH APLIKASI ZPT BAP (Benzylaminopurin) TERHADAP PERKECAMBAHAN BENIH PADI INPARI UNSOED 79 AGRITAN PADA BERBAGAI LAMA PERENDAMAN | Penelitian bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi aplikasi BAP yang tepat untuk perkecambahan benih padi dan mengetahui pengaruh lama perendaman terbaik bagi perkecambahan benih padi. Penelitian dilaksanakan pada Juli sampai Agustus 2023 di Laboratorium Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Penelitian ini merupakan percobaan lapangan dengan RAL (Rancangan Acak Lengkap). Faktor pertama yaitu konsentrasi ZPT BAP yang terdiri dari 4 taraf kontrol (0 ppm), konsentrasi 25 ppm, konsentrasi 50 ppm, dan konsentrasi 75 ppm. Faktor kedua yang diuji adalah lama perendaman yang terdiri dari 3 taraf lama perendaman 6 jam, lama perendaman 12 jam, dan lama perendaman 24 jam. Data dianalisis menggunakan uji F, apabila terdapat keragaman dilanjutkan Uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi ZPT BAP dengan konsentrasi BAP 75 ppm memberikan pengaruh nyata terhadap variabel jumlah daun yaitu 2,14 helai, variabel luas daun terbaik yaitu 2,97 cm2. Pengaruh sangat nyata terhadap variabel panjang perkecambahan dengan konsentrasi BAP 50 ppm menghasilkan panjang perkecambahan terbaik yaitu 11,50 cm, kemudian pada variabel panjang akar terbaik yaitu sebesar 55,54 mm, dan bobot basah kecambah terbaik yaitu sebesar 1,05 g. Perlakuan lama perendaman hanya memberikan pengaruh nyata terhadap variabel panjang perkecambahan dengan lama perendaman 24 jam menghasilkan panjang perkecambahan terbaik yaitu 9,74 cm. Interaksi perlakuan konsentrasi ZPT BAP dan lama perendaman memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah daun dengan Perlakuan kombinasi konsentrasi BAP 75 ppm dan lama perendaman 12 jam memberikan jumlah daun terbaik yaitu 2,30 helai. | The research aims to determine the appropriate concentration of BAP application for rice seed germination and to identify the best soaking duration for rice seed germination. The study was conducted from July to August 2023 at the Agronomy and Horticulture Laboratory, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, North Purwokerto District, Banyumas Regency, Central Java. This research was a field experiment using a Completely Randomized Design (CRD). The first factor was the concentration of BAP ZPT, consisting of 4 level: control (0 ppm), concentration of 25 ppm, concentration of 50 ppm, and concentration of 75 ppm. The second factor tested was the soaking duration, consisting of 3 level: soaking for 6 hours, soaking for 12 hours, and soaking for 24 hours. The data were analyzed using F-test, and if there was variation, Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) was conducted at a significance level of 5%. The research results indicated that the treatment involving the concentration of the PGR BAP at 75 ppm significantly influenced the leaf count variable with an average of 2.14 leaves. The treatment also had a significant effect on the best leaf area, which was 2.97 cm². A highly significant impact was observed on the variable of shoot length, where the concentration of BAP at 50 ppm yielded the best shoot length of 11.50 cm. However, the treatment resulted in the best root length of 55.54 mm and the best wet weight of seedlings at 1.05 g. As for the soaking duration treatment, it only had a significant impact on the shoot length variable. Soaking the seeds for 24 hours resulted in the best shoot length of 9.74 cm. The interaction between the concentration of the PGR BAP and soaking duration also demonstrated significant effects. The combination of a BAP concentration of 75 ppm and a soaking duration of 12 hours yielded the best leaf count with an average of 2.30 leaves. | |
| 39226 | 41718 | A1A018074 | PENGARUH MODAL SOSIAL TERHADAP KINERJA PETANI STROBERI DI DESA SERANG, KECAMATAN KARANGREJA, KABUPATEN PURBALINGGA | Desa Serang merupakan sentra komoditas stroberi di Kabupaten Purbalingga. Luas panen yang berfluktuatif disertai produksi stroberi yang cendurung menurun tiap tahunnya menyebabkan produktifitas stroberi turut berfluktuatif, untuk itu diperlukan peningkatan modal sosial untuk meningkatkan kinerja petani stroberi. Penelitian ini bertujuan untuk: 1). Mengetahui karakteristik modal sosial petani stroberi di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga . 2). Mengetahui pengaruh partisipasi, jaringan, kepercayaan dan norma sosial terhadap kinerja petani stroberi di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode survei. Penelitian dilaksanakan di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga pada bulan Oktober - November 2022 dengan objek penelitian yaitu modal sosial dan kinerja petani stroberi di Desa Serang. Sampel yang digunakan pada penelitian ini sebayak 49 responden menggunakan teknik pengambilan sampel purposive sampling dengan kriteria responden yaitu petani stroberi yang sudah memiliki pengalaman berusahatani minimal 5 tahun. Jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Teknik pengambilan data pada peneitian ini adalah wawancara, observasi dan studi pustaka. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif untuk menjelaskan profil dan karakteristik modal sosial petani stroberi dan analisis Structural Equation Modelling (SEM) untuk mengetahui pengaruh partisipasi, jaringan, kepercayaan dan norma sosial terhadap kinerja petani stroberi. Hasil penelitian menunjukkan: 1). Karakteristik modal sosial petani stroberi di Desa Serang pada umumnnya berada pada kategori sedang. 2). Variabel norma sosial memiliki pengaruh positif dan signifikan secara parsial terhadap kinerja petani stroberi, sedangkan variabel partisipasi, jaringan dan kepercayaan secara parsial tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja petani stroberi. | Serang Village is a center for strawberry commodities in Purbalingga Regency. The fluctuating harvested area accompanied by a decrease in strawberry production every year causes strawberry productivity to also fluctuate, so that an increase in social capital is needed to improve the performance of strawberry farmers. This research aims to: 1). Knowing the social capital features of strawberry farmers in Serang Village, Karangreja District, Purbalingga Regency. 2). Knowing the effect of participation, network, trust and social norms on the performance of strawberry farmers in Serang Village, Karangreja District, Purbalingga Regency. The research method used in this study was the suvey method. The research was carried out in Serang Village, Karangreja District, Purbalingga Regency in October - November 2022 with the research object being social capital and the performance of strawberry farmers in Serang Village. The sample used in this research was 49 respondents using a purposive sampling technique with the respondent criteria being strawberry farmers who already had at least 5 years farming experience. The types of data used in this research are primary data and secondary data. Data collection techniques in this research were interviews, observation and literature study. Data analysis was performed using decriptive analysis to explainthe profile and characteristics of social capital of strawberry farmers and Structural Equation Modeling (SEM) analysis to determine the effect of social capital on the performance of strawberry farmers. The research results show: 1). The social capital characteristics of strawberry farmers in Serang Village are generally in the moderate category. 2). Social norm variables have a positive and significant effect partially on the performance of trawberry farmers, while the variables of participation,network and trust partially do not have a significant effect on the performance of strawberry farmers. | |
| 39227 | 41719 | F1B019073 | Pengaruh Efektivitas Program Magang Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Terhadap Kompetensi Nonteknis (Soft skill) Pada Alumni Universitas Jenderal Soedirman | Penelitian ini berjudul Pengaruh Efektivitas Program Magang MBKM Terhadap Kompetensi Nonteknis (Soft Skill) Pada Alumni Universitas Jenderal Soedirman. Dilihat dari tracer study yang dilakukan di Unsoed, sebanyak 516 lulusan yang mengisi survei rata-rata mereka telah memiliki bekal kompetensi nonteknis yaitu kemampuan komunikasi dan kerja sama tapi mereka tetap menyetujui bahwa mempunyai bekal berkomunikasi yaitu dengan persentase 88,3% dan mempunyai bekal kerja sama tim dengan persentase 90,5% diperlukan di dunia kerja. Hal ini menunjukan walaupun lulusan sudah memiliki kompetensi nonteknis yang baik tapi tetap membutuhkan untuk terus diasah dikarenakan kompetensi nonteknis diperlukan di dunia kerja. Salah satu wadah untuk mengasah melalui magang. Namun, pada hasil tracer study di Unsoed menunjukan Unsoed belum sepenuhnya ditekankan kepada mahasiswa Unsoed. Dilihat juga dari 5054 lulusan yang pernah mengikuti magang ada 513 orang. Dari pendapat dan hasil penelitian menyampaikan bahwa magang bermanfaat bagi para lulusan. Agar memudahkan pencapaian tujuan dibutuhkan pelaksanaan yang efektif. Tujuan dari penelitian ini adalah apakah terdapat pengaruh efektivitas Program Magang MBKM terhadap kompetensi nonteknis pada alumni Universitas Jenderal Soedirman. Metode penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif dengan pendekatan survei. Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder dengan metode pengumpulan melalui kuesioner. Analisis data dilakukan menggunakan analisis regresi linear sederhana. Hasil penelitian ini menunjukkan koefisien regresi bernlai positif sebesar 0,923, artinya semakin tinggi efektivitas program, maka semakin tinggi kompetensi nonteknis dan begitu sebaliknya. Uji pengaruh melalui hasil Uji-t dimana nilai t hitung 6,003 > nilai t-tabel 1,661 dengan nilai Sig. 0,00 < 0,05, artinya hipotesis tersebut menyatakan bahwa efektivitas program magang mbkm mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kompetensi nonteknis pada alumni dapat diterima. | This study entitled The Effect of the Effectiveness of the MBKM Internship Program on Non-Technical Competencies (Soft Skills) of Jenderal Soedirman University Alumni. Judging from the tracer study conducted at Unsoed, as many as 516 graduates who filled out the survey on average they already had non-technical competencies, namely communication and cooperation skills, but they still agreed that they had communication skills, namely with a percentage of 88.3% and had cooperation skills. a team with a percentage of 90.5% is needed in the world of work. This shows that even though graduates already have good non-technical competencies, they still need to continue to hone them because non-technical competencies are needed in the world of work. One of the places to hone through apprenticeship. However, the results of a tracer study at Unsoed show that Unsoed has not fully emphasized Unsoed students. Also seen from the 5054 graduates who had attended internships there were 513 people. From the opinions and research results, it is conveyed that internships are beneficial for graduates. In order to facilitate the achievement of objectives required effective implementation. The purpose of this study is whether there is an effect of the effectiveness of the MBKM Internship Program on non-technical competencies of the alumni of Jenderal Soedirman University. The research method used is quantitative with a survey approach. The data collected includes primary data and secondary data with a collection method through a questionnaire. Data analysis was performed using simple linear regression analysis. The results of this study indicate a positive regression coefficient of 0.923, meaning that the higher the effectiveness of the program, the higher the non-technical competence and vice versa. Influence test through the results of the t-test where the t-count value is 6.003 > the t-table value is 1.661 with a Sig value. 0.00 <0.05, meaning that the hypothesis states that the effectiveness of the mbkm apprenticeship program has a positive and significant influence on non-technical competencies in alumni is acceptable. | |
| 39228 | 41722 | J1B019017 | Toponimi Penamaan Dukuh di Desa Ampelsari dan Desa Tlagawera Kecamatan Banjarnegara Kabupaten Banjarnegara (Kajian Semantik) | Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk, makna, dan latar belakang toponimi penamaan dukuh yang ada di Desa Ampelsari dan Desa Tlagawera Kecamatan Banjarnegara Kabupaten Banjarnegara dengan menggunakan teori semantik. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini berupa nama-nama dukuh yang ada di Desa Ampelsari dan Desa Tlagawera yang berjumlah 26 data. Sementara itu, metode yang digunakan adalah metode cakap dengan teknik dasar pancing dan teknik lanjutan berupa teknik cakap bertemu muka. Metode tersebut digunakan untuk mengumpulkan data dengan cara bercakap-cakap langsung atau melakukan wawancara dengan narasumber terkait. Berdasarkan hasil analisis data, diketahui bahwa terdapat empat bentuk penamaan dukuh di Desa Ampelsari dan Desa Tlagawera yaitu bentuk kata tunggal, kata kompleks, kata majemuk, dan frasa endosentrik atributif. Selanjutnya, terdapat enam jenis-jenis makna yang ditemukan, meliputi makna leksikal, makna gramatikal, makna referensial, makna nonreferensial, makna kiasan, dan makna konseptual. Ditemukan enam sebab-sebab yang menjadi latar belakang penamaan dukuh di kedua desa tersebut meliputi penyebutan bagian, penyebutan sifat khas, penemu dan pembuat, tempat asal, keserupaan, dan pemendekan. Sementara itu, toponimi yang ditemukan dapat dikategorikan menjadi tiga aspek yaitu aspek perwujudan, aspek kemasyarakatan, dan aspek kebudayaan. Kata kunci: toponimi, penamaan, semantik, dukuh | This study aims to describe the form, meaning, and toponymic background of the naming of hamlets in Ampelsari Village and Tlagawera Village, Banjarnegara District, Banjarnegara District by using semantic theory. This research is a qualitative descriptive study. The data in this study were the names of hamlets in Ampelsari Village and Tlagawera Village, which totaled 26 data. Meanwhile, the method used is a speaking method with basic fishing techniques and advanced techniques in the form of face-to-face techniques. This method is used to collect data by having direct conversations or conducting interviews with relevant sources. Based on the results of data analysis, it is known that there are four forms of dukuh names in Ampelsari Village and Tlagawera Village, namely single word forms, complex words, compound words, and attributive endocentric phrases. Furthermore, there are six types of meaning found, including lexical meaning, grammatical meaning, referential meaning, nonreferential meaning, figurative meaning, and conceptual meaning. Six reasons were found that became the background for the naming of the hamlets in the two villages including the mention of parts, mention of special characteristics, inventor and maker, place of origin, similarity, and shortening. Meanwhile, the toponyms found can be categorized into three aspects, namely the embodiment aspect, the social aspect, and the cultural aspect. Keywords: toponymy, naming, semantics, hamlets | |
| 39229 | 41713 | H1A019092 | Rancang Bangun Aplikasi Penggalangan Dana Berbasis Blockchain | Blockchain merupakan kumpulan dari block yang berisi data transaksi yang dikaitkan atau dihubungkan (chain) dan diurutkan satu sama lain. Akan tetapi berbeda dengan buku besar tradisional blockchain yang dianalogikan sebagai buku besar terdistribusi mengambil semua informasi untuk disimpan secara daring dan kemudian mendistribusikan salinan informasi tersebut secara identik kepada semua komputer yang tergabung di dalam sistem. Sehingga salinan identik dari informasi tersebut berada di banyak tempat. Hal ini dilakukan agar informasi ini nantinya bisa divalidasi oleh setiap pihak yang tergabung di dalam sistem. Konsep teknologi blockchain ini dapat diterapkan pada berbagai bidang, salah satunya yaitu pada pengembangan suatu aplikasi crowdfunding. Crowdfunding adalah tanggapan terhadap open call di mana anggota masyarakat umum secara sukarela memilih untuk mendanai suatu project atau kegiatan secara langsung. Dari pengertian ini, tentu ada beberapa hal yang menjadi dasar pertimbangan masyarakat untuk memutuskan menggunakan crowdfunding yang merupakan layanan transaksi secara online, salah satunya adalah dari persepsi transparansi dan akuntabilitas transaksi. Dua hal ini tidak dapat tercapai secara maksimal apabila penerapan dari sistem crowdfunding masih dilakukan secara konvensional yaitu tersentralisasi (centralized). Artinya, otoritas dari sistem hanya dipegang oleh pihak tertentu saja. Pendekatan ini membentuk dasar pembuatan aplikasi crowdfunding berbasis blockchain dengan menggunakan React, Hardhat, dan Thirdweb. Melalui smart contract, proyek crowdfunding dapat dikelola secara terdesentralisasi dan transparan di jaringan Ethereum. Jaringan uji Goerli dan Sepolia dari Ethereum memainkan peran penting dalam pengembangan ini, memastikan rekam jejak yang jelas dan terverifikasi untuk setiap transaksi di blockchain. | Blockchain is a collection of blocks that contain transaction data that are associated or linked (chain) and sequenced with each other. All transactions are logged, accessible and transparent. This is because in principle, blockchain technology can be analogous to a ledger. However, it is different from the traditional blockchain ledger which is analogous to a distributed ledger taking all the information to be stored online and then distributing copies of that information identically to all computers that are members of the system. So identical copies of that information exist in multiple places. This is done so that this information can later be validated by each party that is part of the system. The concept of blockchain technology can be applied to various fields, one of which is the development of a crowdfunding application. Crowdfunding is a response to an open call in which members of the general public voluntarily choose to fund a project or activity directly. From this understanding, of course there are several things that become the basis for public consideration in deciding to use crowdfunding, which is an online transaction service, one of which is the perception of transaction transparency and accountability. These two things cannot be achieved optimally if the implementation of the crowdfunding system is still carried out conventionally, namely centralized. That is, the authority of the system is only held by certain parties. This approach forms the foundation of creating a blockchain-based crowdfunding application using React, Hardhat, and Thirdweb. Through smart contracts, crowdfunding projects can be managed in a decentralized and transparent manner on the Ethereum network. The Goerli and Sepolia test networks of Ethereum play a significant role in this development, ensuring clear and verified records for every transaction on the blockchain. | |
| 39230 | 41720 | A1D016083 | ANALISIS VEGETASI GULMA PADA TANAH ULTISOL DAN INCEPTISOL PADA PERKEBUNAN KOPI (Coffea sp) | Tanaman kopi (Coffea sp.) juga tidak luput dari serangan gulma. Gulma merupakan tumbuhan yang pengganggu pertumbuhan tanaman budidaya dan dapat merugikan bagi petani sehingga petani berusaha mengendalikannya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah menganalisis vegetasi gulma untuk mengetahui cara pengendalian gulma pada perkebunan kopi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Tanah Ultisol Terhadap pertumbuhan gulma, pengaruh Tanah Inceptisol terhadap pertumbuhan gulma, dan kombinasi Tanah Ultsiol dan Inceptisol terhadap dominansi gulma. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu metode kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatf yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan mengidentifikasi gulma yang ditemukan pada pertanaman kopi. Metode kuantitatif yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menghitung dan menganalisis vegetasi gulma yang dominan serta keanekaragamannya pada lahan budidaya kopi. Variabel yang diamati jumlah dan bobot kering gulma, kerapatan nisbi, frekuensi nisbi, dominanis nisbi, standar dominansi rasio, pH tanah, kelembaban tanah dan suhu. Hasil penelitian yang didapatkan yaitu ditemukan 15 jenis gulma dan 9 famili, dengan gulma dominan yaitu Oplismenus burmanii dan Drymaria cordata. Nilai SDR kedua gulma dominan secara berturut-turut adalah 40,13 % dan 27 ,59 %. pH tanah dari kedua lahan yaitu 5,25 dan 5,85 dan termasuk tanah masam Kelembaban tanah dari kedua lahan adalah 46,75 % dan 60,35 %, dan suhu pada kedua lahan tersebut adalah 29 oC dan 26 oC. | Coffee plants (Coffea sp.) are also not immune from weed attacks. Weeds are plants that interfere with the growth of cultivated plants and can be detrimental to farmers so that farmers try to control them. One effort that can be done is to analyze weed vegetation to find out how to control weeds in coffee plantations. This study aims to determine the effect of Ultisol soil on weed growth, the effect of Inceptisol soil on weed growth, and the combination of Ultsiol and Inceptisol soil on weed dominance. The research design used is qualitative and quantitative methods. The qualitative method used in this study was to identify weeds found in coffee plantations. The quantitative method used in this research is to calculate and analyze the dominant weed vegetation and its diversity on coffee cultivation land. The variables observed were the number and dry weight of weeds, relative density, relative frequency, relative dominance, standard dominance ratio, soil pH, soil moisture and temperature. The research results obtained were found 15 species of weeds and 9 families, with the dominant weeds namely Oplismenus burmanii and Drymaria cordata. The SDR values of the two dominant weeds were 40.13 % and 27.59 % respectively. The soil pH of the two fields is 5.25 and 5.85 and includes acid soil. Soil moisture in the two fields is 46.75 % and 60.35 %, and the temperature in the two fields is 29 oC and 26 oC. | |
| 39231 | 41721 | J1C019014 | Penggunaan Ayamari Hyogen dalam Drama Tokyo MER | Penelitian ini membahas tentang penggunaan ungkapan permohonan maaf dalam bahasa Jepang (ayamari hyougen). Tujuan penelitian ini yaitu mendeskripsikan variasi bentuk ungkapan permohonan maaf apa saja yang muncul dan bagaimana faktor sosial mempengaruhi penggunaan ungkapan permohonan maaf dalam bahasa Jepang. Jenis penelitian ini berupa deskriptif kualitatif yang datanya diambil dari sumber drama televisi Jepang dengan judul Tokyo MER: Hashiru Kinkyuukyuumeishitsu. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah simak catat dan datanya di analisis menggunakan metode analisis domain. Berdasarkan analisis dari 33 data yang diperoleh terdapat 10 jenis variasi ungkapan permohonan maaf yang terdiri dari moushiwake gozaimasen/ moushiwanai/ moushiwake arimasen, sumimasen/ suman/ suimasen, gomen/ gomennasai, warui, dan shitsureisimasu. Faktor sosial yang melatar belakangi variasi ungkapan permohonan maaf yang digunakan meliputi jarak sosial, status sosial, dan skala formalitas. Kesimpulannya masing-masing variasi ungkapan permohonan maaf yang digunakan dalam sebuah tuturan sangat dipengaruhi oleh faktor sosial masyarakat, tingkat kesalahan yang diperbuat, konteks, dan situasi saat berlangsungnya tuturan, sehingga penggunaanya harus diseuaikan dengan aspek- aspek tersebut. Kata kunci: ayamari hyougen, faktor sosial, sosiolinguistik, variasi bahasa | This study discusses the use of apology expressions in Japanese language. The purpose of this study is to describe the variations of apology expressions that appear and how social factors affect the use of apology expressions in Japanese. This type of study is descriptive qualitative whose data is taken from the source of Japanese television drama with the title Tokyo MER: Hashiru Kinkyuukyuumeishitsu. The data collection method used in this research is simak catat and the data is analyzed using the domain analysis method. Based on the analysis of 33 data obtained, there are 10 types of variations of apology expressions consisting of moushiwake gozaimasen/ moushiwanai/ moushiwake arimasen, sumimasen/ suman/ suimasen, gomen/ gomennasai, warui, and shitsureisimasu. The social factors behind the variety of apology expressions used include social distance, social status, and formality scale. In conclusion, each variation of apology expressions used in an utterance is strongly influenced by social factors, the level of mistakes made, the context, and the situation in which the utterance takes place, so that its use must be adjusted to these aspects. Keywords: ayamari hyougen, language variation, social factors, sociolinguistics | |
| 39232 | 44451 | F1F017079 | IMPLEMENTASI INTERNATIONAL CONVENTION ON ELIMINATION OF ALL FORM OF RACIAL DISCRIMINATION (ICERD) DALAM KEBIJAKAN PEMBATASAN HAK MILIK TANAH BAGI WARGA NEGERA INDONESIA ETNIS TIONGHOA DI YOGYAKARTA | Penelitian yang berjudul “Implementasi International Convention on Elimination of All Form of Racial Discrimination (ICERD) Dalam Kebijakan Pembatasan Hak Milik Tanah Bagi Warga Negara Indonesia Etnis Tionghoa di Yogyakarta” ini dianalisis melalui konsep Perjanjian Internasional dan pendekatan Dualisme dalam Teori Hukum Internasional. Penelitian ini berfokus menganalisis bagaimana implementasi ICERD di Indonesia, khususnya dalam pemberlakuan kebijakan pembatasan hak milik tanah bagi WNI etnis Tionghoa di wilayah Yogyakarta. Berdasarkan data yang diperoleh, penelitian ini mengungkapkan bahwa keberadaan kebijakan DIY yang disahkan melalui Instruksi Wakil Kepala Daerah DIY PA. VIII/No.K.898/I/A 1975 tersebut memiliki nilai-nilai dan prinsip yang bertentangan dengan ICERD karena memiliki regulasi yang bersifat diskriminatif secara rasial. ICERD sendiri telah diratifikasi dan diadopsi oleh Indonesia ke dalam sistem perundang-undangan nasionalnya melalui UU No. 39 Tahun 1999. Keberadaan UU tersebut sebenarnya menjelaskan bahwa Indonesia menggunakan pendekatan dualisme dalam memposisikan ICERD sebagai salah satu instrumen Hukum Internasional. Namun dalam pelaksanaannya, faktor sejarah dan kurangnya sistem hukum yang secara rinci mampu mengatur kedudukan atara Hukum Internasional, Hukum Domestik, dan Kebijakan Daerah Istimewa yang secara hukum berada di luar ranah legal sistem perundang-undangan nasional, menyebabkan Indonesia mengalami ketidakmampuan yang mebuatnya tidak bisa secara utuh mematuhi Hukum Internasional yang seharusnya bersifat legaly binding (mengikat secara formal) karena sudah diratifikasi dan ditransformasi. | The research titled "Implementation of the International Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination (ICERD) in the Policy of Land Ownership Restrictions for Indonesian Citizens of Chinese Ethnicity in Yogyakarta" is analyzed through the concept of International Agreements and the Dualism approach in International Law Theory. This study focuses on analyzing how ICERD is implemented in Indonesia, particularly in the enforcement of land ownership restrictions for Indonesian citizens of Chinese ethnicity in the Yogyakarta region. Based on the data obtained, this research reveals that the existence of the DIY policy enacted through the Instruction of the Deputy Head of the DIY Regional Government PA. VIII/No.K.898/I/A 1975 contradicts the values and principles of ICERD as it has regulations that are racially discriminatory. ICERD itself has been ratified and adopted by Indonesia into its national legal system through Law No. 39 of 1999. The existence of this law actually explains that Indonesia employs a dualism approach in positioning ICERD as one of the instruments of International Law. However, in its implementation, historical factors and the lack of a detailed legal system capable of regulating the relationship between International Law, Domestic Law, and Special Regional Policies, which legally exist outside the scope of the national legislative system, have caused Indonesia to experience incapacity, making it unable to fully comply with International Law, which should be legally binding because it has been ratified and transformed. | |
| 39233 | 41726 | I1D018025 | HUBUNGAN FREKUENSI PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KECUKUPAN ENERGI PADA REMAJA AKHIR GIZI LEBIH DI KECAMATAN PEDURUNGAN KOTA SEMARANG | Latar Belakang: Kecamatan Pedurungan memiliki prevalensi status gizi lebih sebesar 19,7% dimana angka ini tergolong tinggi. Remaja dengan status gizi gemuk berisiko mengalami berbagai macam penyakit. Dampak negatif kemudahan akses mengakibatkan pengakses media sosial merasa dimanjakan sehingga menjadi malas dalam beraktivitas. Instagram merupakan salah satu media sosial yang sering diakses. Jika aktivitas fisik cenderung kurang dan tidak diimbangi dengan pola makan yang baik dan asupan gizi yang sesuai kebutuhan maka akan mengalami masalah gizi lebih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan frekuensi penggunaan media sosial dan aktivitas fisik dengan kecukupan energi pada remaja akhir gizi lebih di wilayah Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah studi observasional dengan desain studi cross-sectional. Sampel pada penelitian ini adalah sebagian remaja akhir gizi lebih di wilayah Kecamatan Pedurungan menggunakan teknik quota sampling. Data kecukupan energi diukur dengan food recall 2x24 jam, aktivitas fisik diperoleh dengan menggunakan kuesioner IPAQ, dan frekuensi penggunaan Instagram menggunakan kuesioner SONTUS. Analisis bivariat menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil Penelitian: Sebagian besar responden memiliki kecukupan energi yang kurang (72,1%), frekuensi penggunaan media sosial tinggi (57,4%), dan tingkat ativitas fisik rendah (52,5%). Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara frekuensi penggunaan media sosial dengan kecukupan makan responden p = 0,576 (p>0,05). Tidak terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan kecukupan makan responden p = 0,842 (p>0,05). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara frekuensi penggunaan media sosial dengan kecukupan makan responden. Tidak terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan kecukupan makan responden. | Background: Pedurungan sub-district has a prevalence of overweight status of 19.7%, which is high. Adolescents with obese nutritional status are at risk of various diseases. The negative impact of easy access results in social media accessers feeling spoiled so that they become lazy in their activities. Instagram is one of the social media that is often accessed. If physical activity tends to be lacking and is not balanced with a good diet and nutritional intake according to needs, it will experience problems of overnutrition. This study aims to determine the relationship between frequency of social media use and physical activity with energy intake in overnourished late adolescents in Pedurungan District, Semarang City. Methods: The type of research used was observational study with cross-sectional study design. Samples in this study were some overnourished late adolescents in Pedurungan Subdistrict using quota sampling technique. Energy adequacy data was measured by 2x24 hour food recall, physical activity was obtained using IPAQ questionnaire, and frequency of Instagram use using SONTUS questionnaire. Bivariate analysis used Spearman correlation test. Results: Most of the respondents had insufficient energy (72.1%), high frequency of social media use (57.4%), and low level of physical activity (52.5%). The results of statistical analysis showed that there was no relationship between the frequency of social media use and the adequacy of respondents' diet p = 0.576 (p>0.05). There is no relationship between physical activity and respondents' dietary adequacy p = 0.842 (p>0.05). Conclusion: There is no relationship between frequency of social media use and respondents' dietary adequacy. There is no relationship between physical activity and respondents' dietary adequacy. | |
| 39234 | 41727 | A1D016156 | PENGARUH UKURAN UMBI BIBIT DAN BULBIL TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL DUA AKSESI TANAMAN PORANG | Nilai ekonomi porang tergolong tinggi. Pendapatan usaha tani porang bisa mencapai nilai Rp 60 juta/ha per tahun. Usaha tani porang dipengaruhi ketersediaan benih yang mencukupi dan mutu fisiologis yang baik, ukuran benih penting karena mempengaruhi jumlah cadangan makanan yang dikandungnya. Tujuan penelitian: 1) mendapatkan bahan tanam berupa bulbil dan 3 ukuran umbi bibit tanaman porang aksesi Banyumas dan Madiun, 2) mendapatkan pengaruh bahan tanam bulbil dan 3 ukuran umbi bibit terhadap pertumbuhan tanaman porang kedua aksesi, 3) mendapatkan pengaruh bahan tanam bulbil dan 3 ukuran umbi bibit terhadap hasil umbi tanaman porang kedua aksesi, 4) mendapatkan jenis bahan tanam terbaik antara bulbil dan 3 ukuran umbi bibit untuk pertumbuhan dan hasil umbi masing-masing aksesi. Penelitian dilaksanakan pada September 2022 - Maret 2023 di Bobosan, Purwokerto Utara, Banyumas. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap non faktorial, terdiri dari satu faktor yaitu ukuran umbi bibit dan bulbil porang dengan dua aksesi. Perlakuan : penggunaan bulbil dan tiga ukuran umbi bibit (kecil, sedang dan besar) sebagai bahan tanam dengan dua aksesi porang, berjumlah 8 perlakuan, perlakuan diulang 3 kali, total unit percobaan adalah 8 × 3 = 24. Sampel menggunakan 4 tanaman dalam 1 unit percobaan. Hasil : penggunaan bahan tanam tiga ukuran umbi bibit dan bulbil sebagai bahan tanam tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman dan jumlah anakan kedua aksesi, perlakuan berpengaruh terhadap bobot, diameter, lingkar dan tinggi umbi hasil kedua aksesi, pertumbuhan dan hasil umbi porang tertinggi dihasilkan umbi bibit ukuran besar aksesi Banyumas. | The economic value of porang is high. Porang farming business income can reach a value of IDR 60 million/ha per year. The size of the seeds is important because it affects the amount of food reserves they contain. The aims of the research were: 1) to obtain planting material in the form of bulbils and 3 tuber sizes of porang seeds of Banyumas and Madiun accessions, 2) to obtain the effect of bulbil planting materials and 3 sizes of seed tubers on the growth of porang plants in both accessions, 3) to obtain the effect of bulbil planting materials and 3) seed tuber size on tuber yield of porang plants of both accessions, 4) obtaining the best type of planting material between bulbils and 3 seed tuber sizes for growth and tuber yield of each accession. The research was conducted in September 2022 - March 2023 in Bobosan, North Purwokerto, Banyumas. The experimental design used a non-factorial completely randomized block design, consisting of one factor, namely the size of the seed tubers and porang bulbils with two accessions. Treatment: using bulbils and three sizes of seed tubers (small, medium and large) as planting material with two porang accessions, totaling 8 treatments, treatment was repeated 3 times, total experimental units were 8 × 3 = 24. Samples used 4 plants in 1 unit test. Results: the use of planting materials of three sizes of seed tubers and bulbils as planting materials did not affect plant height and number of tillers of both accessions, plantations affected weight, diameter, girth and tuber height. large seed tubers (0.6 - 0.9 kg) Banyumas accession. | |
| 39235 | 44338 | K1A020008 | DISTRIBUSI MAKRONUTRIEN (NITRAT, FOSFAT, DAN SILIKAT) DI PESISIR UTARA PEKALONGAN: IMPLIKASI TERHADAP KUALITAS PERAIRAN | Distribusi nutrien sebagai aspek penting pada indikator kualias perairan dalam mempengaruhi keseimbangan ekosistem dan kehidupan biota air. Perairan Pesisir Utara Pekalongan dihadapkan dengan permasalahan rob, dimana rob ini mengakibatkan adanya perubahan tatanan lahan dan kerusakan mangrove yang dapat menyebabkan perubahan komposisi nutrien di dalam perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi makronutrien (nitrat, fosfat, dan silikat) di Pesisir Utara Pekalongan yang dipengaruhi oleh berbagai sumber serta status dan implikasi dari kualitas perairan di Pesisir Utara Pekalongan berdasarkan metode CCME-Water Quality Index. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode simple random sampling. Penelitian dilakukan pada bulan Januari 2023. Analisis data yang digunakan adalah analisis menggunakan spektrofotometer UV- Vis untuk memperoleh kadar makronutrien, analisis PCA untuk mengetahui keterkaitan antar parameter, dan analisis status kualitas perairan menggunakan metode CCME-Water Quality Index. Hasil penelitian diperoleh kadar nitrat, fosfat, dan silikat secara berturut-turut di Sungai Mrican berkisar 0,3894-1,4162 mg/L; 0,0137-2,5485 mg/L; dan 0,2493-2,5485 mg/L; di Sungai Pencongan berkisar 0,2358-0,5792 mg/L; 0,0154-0,077 mg/L; dan 0,2884-1,7081 mg/L; serta di Pantai Wonokerto berkisar 0,9799-1,3431 mg/L; 0,45-0,8319 mg/L; dan 1,3792-2,0325 mg/L. Nilai kualitas perairan di Sungai Mrican sebesar 50,6382 berstatus kurang; Sungai Pencongan sebesar 59,3916 berstatus kurang; dan Pantai Wonokerto sebesar 18,8386 berstatus buruk. Kondisi ini disebabkan karena tingginya masukan dari aktivitas di sekitar pesisir, sehingga dapat berimplikasi terhadap pencemaran perairan. | Nutrient distribution is an important aspect of water quality indicators in influencing the balance of ecosystems and aquatic biota. The waters of Pekalongan's North Shore are faced with the problem of tidal flooding, which results in changes in land use and mangrove damage that can cause changes in nutrient composition in the waters. This study aims to determine the distribution of macronutrients (nitrate, phosphate, and silicate) in the North Coast of Pekalongan influenced by various sources as well as the status and implications of water quality in the North Coast of Pekalongan based on the CCME-Water Quality Index method. Sampling was conducted using simple random sampling method. The research was conducted in January 2023. The data analysis used was analysis using a UV-Vis spectrophotometer to obtain macronutrient levels, PCA analysis to determine the relationship between parameters, and analysis of water quality status using the CCME-Water Quality Index method. The results obtained nitrate, phosphate, and silicate levels in Mrican River each ranged from 0.3894-1.4162 mg/L; 0.0137- 2.5485 mg/L; and 0.2493-2.5485 mg/L; in the Pencongan River each ranged from 0.2358-0.5792 mg/L; 0.0154-0.077 mg/L; and 0.2884-1.7081 mg/L; and in Wonokerto Beach ranged from 0.9799-1.3431 mg/L; 0.45-0.8319 mg/L; and 1.3792-2.0325 mg/L. The water quality value in Mrican River is 50.6382 with poor status; Pencongan River is 59.3916 with poor status; and Wonokerto Beach is 18.8386 with poor status. This condition is caused by high input from activities around the coast, so that it can have implications for water pollution. | |
| 39236 | 41728 | A1F016078 | Pola Konsumsi dan Kepedulian Terhadap Keamanan Pangan Minuman Es di Kabupaten Purbalingga | Minuman es merupakan pangan jajanan yang mudah tercemar mikroba apabila penyiapan dan penanganan kurang baik. Tingkat risiko bahaya bergantung dari paparan yang ditentukan oleh prevalensi dan konsentrasi mikroba serta takaran konsumsi individu. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Mengetahui jumlah konsumsi pangan minuman es di Kabupaten Purbalingga dalam berbagai golongan komunitas, 2) Mengetahui tingkat pengetahuan responden mengenai titik kritis pengolahan minuman es di Kabupaten Purbalingga, 3) Mengetahui tingkat kepedulian responden sebagai konsumen minuman es terhadap kebersihan jajanan yang mereka konsumsi sebagai salah satu faktor penentu keamanan pangan, menggunakan metode semi quantitative food frequency questionnaire (SQ-FFQ). Lokasi survei konsumen dilakukan secara sengaja (purposive) di Kabupaten Purbalingga dengan responden yang mengonsumsi minuman es. Survei dilakukan terhadap 300 responden laki-laki dan perempuan pada tiga golongan usia dengan tiga strata penghasilan dan tingkat pendidikan akhir. Penelitian dilakukan dengan beberapa tahap. Adapun tahapannya dimulai dengan menentukan jumlah responden berdasarkan usia, jenis kelamin, pendapatan, dan pendidikan akhir, wawancara dan penyebaran kuesioner kepada responden konsumen minuman es di sekitar lingkungan sekolah dan keramaian umum lain, kemudian analisis data menggunakan program komputer IBM SPSS Statistics 20 dengan uji compare means dan chi-square. Hasil penelitian menunjukkan responden paling banyak (52%) mengonsumsi minuman es dengan kategori minuman es berperisa dibandingkan dengan minuman es lainnya dengan rerata konsumsi 182 ml/hari/orang. Analisis compare means menunjukkan jumlah konsumsi minuman es tidak dipengaruhi oleh usia dan jenis kelamin, tetapi dipengaruhi oleh besarnya pendapatan. Tingkat pengetahuan dan kepedulian konsumen minuman es di Kabupaten Purbalingga terhadap keamanan pangan sudah baik (>80%). Berdasarkan analisis Chi-Square, tingkat pengetahuan dan kepedulian tidak dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, maupun pendidikan akhir. Namun, jika dilihat dari pesentase jawaban benar, faktor utama dari tingkat pengetahuan dan kepedulian adalah pendidikan akhir. Kesimpulan dari hasil penelitian adalah jumlah konsumsi minuman estidak dipengaruhi oleh usia dan jenis kelamin, tetapi dipengaruhi oleh besarnya pendapatan, dengan rerata konsumsi minuman es masyarakat di Kabupaten Purbalingga adalah 135 ml/orang/hari. Tingkat pengetahuan dan kepedulian konsumen minuman es di Kabupaten Purbalingga terhadap keamanan pangan sudah baik (>80%). | Ice drinks are snacks that are easily contaminated with microbes if the preparation and handling are not good. The level of risk of harm depends on exposure, which is determined by the prevalence and concentration of microbes and individual consumption rates. The aims of this study were: 1) To find out the amount of food consumption of iced drinks in Purbalingga Regency in various community groups, 2) To find out the level of knowledge of respondents about the critical point of processing iced drinks in Purbalingga Regency, 3) To know the level of concern of respondents as consumers of iced drinks for cleanliness the snacks they consume as one of the determining factors for food safety, using the semi quantitative food frequency questionnaire (SQ-FFQ) method. The location of the consumer survey was carried out purposively in Purbalingga Regency with respondents consuming iced drinks. The survey was conducted on 300 male and female respondents in three age groups with three income strata and final education level. The research was conducted in several stages. The stages begin with determining the number of respondents based on age, gender, income, and final education, interviewing and distributing questionnaires to respondents who consume iced drinks around the school environment and other public crowds, then analyze the data using the IBM SPSS Statistics 20 computer program with a compare test. means and chi-square. The results showed that the most respondents (52%) consumed iced drinks in the flavored iced drinks category compared to other iced drinks with an average consumption of 182 mL/day/person. The compare means analysis shows that the amount of ice drink consumption is not affected by age and gender, but is influenced by the amount of income. The level of knowledge and concern of ice drink consumers in Purbalingga Regency towards food safety is good (> 80%). Based on the ChiSquare analysis, the level of knowledge and concern is not affected by age, gender or final education. However, when viewed from the percentage of correct answers, the main factor for the level of knowledge and concern is final education. The conclusion from the research results is that the amount of ice drink consumption is not affected by age and gender, but is influenced by the amount of income, with the average consumption of iced drinks in Purbalingga Regency being 135 mL/person/day. The level of knowledge and concern of ice drink consumers in Purbalingga Regency towards food safety is good (> 80%). Ice drinks are snacks that are easily contaminated with microbes if the preparation and handling are not good. The level of risk of harm depends on exposure, which is determined by the prevalence and concentration of microbes and individual consumption rates. The aims of this study were: 1) To find out the amount of food consumption of iced drinks in Purbalingga Regency in various community groups, 2) To find out the level of knowledge of respondents about the critical point of processing iced drinks in Purbalingga Regency, 3) To know the level of concern of respondents as consumers of iced drinks for cleanliness the snacks they consume as one of the determining factors for food safety, using the semi quantitative food frequency questionnaire (SQ-FFQ) method. The location of the consumer survey was carried out purposively in Purbalingga Regency with respondents consuming iced drinks. The survey was conducted on 300 male and female respondents in three age groups with three income strata and final education level. The research was conducted in several stages. The stages begin with determining the number of respondents based on age, gender, income, and final education, interviewing and distributing questionnaires to respondents who consume iced drinks around the school environment and other public crowds, then analyze the data using the IBM SPSS Statistics 20 computer program with a compare test. means and chi-square. The results showed that the most respondents (52%) consumed iced drinks in the flavored iced drinks category compared to other iced drinks with an average consumption of 182 mL/day/person. The compare means analysis shows that the amount of ice drink consumption is not affected by age and gender, but is influenced by the amount of income. The level of knowledge and concern of ice drink consumers in Purbalingga Regency towards food safety is good (> 80%). Based on the ChiSquare analysis, the level of knowledge and concern is not affected by age, gender or final education. However, when viewed from the percentage of correct answers, the main factor for the level of knowledge and concern is final education. The conclusion from the research results is that the amount of ice drink consumption is not affected by age and gender, but is influenced by the amount of income, with the average consumption of iced drinks in Purbalingga Regency being 135 mL/person/day. The level of knowledge and concern of ice drink consumers in Purbalingga Regency towards food safety is good (> 80%). | |
| 39237 | 41729 | H1A019056 | Pengujian dan Analisis Operasi Inverter On-Grid untuk PLTS Rooftop | Inovasi pengembangan PLTS semakin ditingkatkan untuk menunjang pengurangan penggunaan energi listrik dari pembangkit listrik konvensional. Dalam sistem PLTS, salah satu komponen yang penting yaitu inveter yang berperan untuk mengubah listrik DC menjadi listrik AC. Pemilihan inverter merupakan salah satu faktor penting yang harus diperhatikan untuk menjamin kualitas daya yang dihasilkan pada sistem tenaga listrik. Munculnya nilai harmonisa yang dihasilkan inverter menjadi salah satu faktor yang mengakibatkan buruknya kualitas daya. Oleh karena itu, dilakukan penelitian mengenai pengujian dan analisis operasi inverter on-grid untuk PLTS rooftop. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik arus dan tegangan masukan, arus dan tegangan keluaran, faktor daya, spektrum harmonisa, dan efisiensi pada operasi inverter on-grid untuk PLTS rooftop. Metode penelitian dilakukan dengan cara melakukakan pengujian menggunakan software PSIM dan pengujian menggunakan alat fisik. Penelitian ini dilakukan menggunakan dua buah inveter yang berbeda baik pada pengujian menggunakan software PSIM maupun pada pengujian menggunakan alat fisik. Dari pengujian yang dilakukan, diketahui bahwa pada pengujian efisiensi daya, diketahui bahwa pada pengujian menggunakan software PSIM dari kedua jenis inverter mampu mencapai nilai efisiensi yang optimal yaitu pada rentang 60 – 90 %, sedangakan pada pengujian menggunakan alat fisik dari kedua jenis inverter tidak mampu mencapai nilai efisiensi yang optimal yaitu dibawah 60 %. | Solar development innovation is increasingly being improved to support reducing the use of electrical energy from conventional power plants. In the PLTS system, one of the important components is the inverter which plays a role in converting DC electricity into AC electricity. Inverter selection is one of the important factors that must be considered to ensure the quality of the power generated in the electric power system. The emergence of harmonics produced by the inverter is one of the factors that results in poor power quality. Therefore, research was carried out on testing and analyzing the operation of on-grid inverters for rooftop solar power plants. This study aims to determine the characteristics of input current and voltage, output current and voltage, power factor, harmonic spectrum, and efficiency of on-grid inverter operation for rooftop solar power plants. Research method was carried out by testing using PSIM software and testing using physical devices. This research was conducted using two different inverters both in testing using PSIM software and in testing using physical devices. From the tests carried out, it is known that in testing power efficiency, it is known that in testing using the PSIM software, the two types of inverters are able to achieve optimal efficiency values, namely in the range of 60 – 90%, while in testing using physical devices, the two types of inverters are unable to achieve optimal efficiency values, namely below 60 %. | |
| 39238 | 41730 | H1A019067 | ANALISIS PERBANDINGAN SENSOR LDR, PHOTODIODA, DAN PHOTOTRANSISTOR BERDASARKAN KUAT PENERANGAN (ILUMINASI) YANG DIIMPLEMENTASIKAN PADA LAMPU PJU | Penerangan Jalan Umum (PJU) merupakan insfrastruktur lampu yang digunakan untuk penerangan jalan di malam hari dan mempermudah pengguna jalan melihat dengan lebih jelas jalan yang akan dilalui pada malam hari, sehingga dapat meningkatkan keamanan dan keselamatan lalu lintas. Pengendalian lampu PJU secara konvensional dengan saklar tidak efektif dalam konsumsi energi listrik, sumber daya manusia dan kesulitan pengoperasian (menyalakan dan mematikan). Oleh karena itu, dibutuhkan piranti berbasis sensor yang memungkinkan lampu menyala dan mati secara otomatis. Sehingga, tidak perlu ada petugas khusus yang menyalakan dan mematikan lampu di malam dan pagi hari serta dapat menghemat konsumsi energinya. Dalam penelitian ini, dilakukan perancangan model percobaan sistem dengan membandingkan sensor cahaya LDR, Photodioda dan Phototransistor untuk mengetahui sensor paling baik digunakan pada lampu penerangan jalan umum (PJU) dengan output berupa lampu yang berfungsi mengeluarkan cahaya ketika sistem tersebut bekerja dengan parameter-parameter akurasi pengukuran, linieritas, sensitivitas, dan klasifikasi atau jenis jalan sesuai gelap terang lampu PJU. Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa sensor LDR yang memiliki rata-rata error paling kecil sebesar 1,01% sehingga memiliki akurasi pengukuran paling baik yaitu sebesar 98,99% dan linieritas paling baik yaitu sebesar 93,79%, sedangkan sensor Phototransistor memiliki sensitivitas paling baik dibandingkan dengan sensor LDR dan sensor Photodioda yaitu sebesar 1,55395 mΩ/cm,lux. Oleh karena itu, sensor yang paling baik untuk lampu PJU yaitu sensor LDR karena memiliki akurasi pengukuran dan linieritas paling baik dibandingkan sensor Photodioda dan sensor Phototransistor. | Public Street Lighting (PJU) is a light infrastructure that is used for street lighting at night and makes it easier for road users to see more clearly the road to be traversed at night, so as to improve traffic safety and security. Conventional control of PJU lights with switches is not effective in terms of electricity consumption, human resources and operating difficulties (turning on and off). Therefore, a sensor-based device is needed that allows the lights to turn on and off automatically. Thus, there is no need for a special officer to turn on and turn off the lights at night and in the morning and can save energy consumption. In this research, a system experimental model was designed by comparing LDR light sensors, photodiodes and phototransistors to find out which sensor is best used for public street lighting (PJU) with an output in the form of a lamp that functions to emit light when the system is working with parameters of measurement accuracy, linearity, sensitivity, and classification or type of road according to the dark and light of the PJU lights. Based on the research that has been done, it can be concluded that the LDR sensor has the smallest average error of 1,01% so it has the best measurement accuracy of 98,99% and the best linearity of 93,79%, while the Phototransistor sensor has the best sensitivity compared to the LDR sensor and the Photodiode sensor which is equal to 1,55395 mΩ/cm,lux. Therefore, the best sensor for PJU lamps is the LDR sensor because it has the best measurement accuracy and linearity compared to photodiode sensors and phototransistor sensors. | |
| 39239 | 41731 | F1D019054 | Pengaruh Tingkat Pendidikan terhadap Tingkat Partisipasi Politik dalam Pemilihan Kepala Daerah di Kecamatan Cibinong Kabupaten Bogor Tahun 2018 | Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh tingkat pendidikan terhadap tingkat partisipasi politik masyarakat Kabupaten bogor yang tingkat pendidikannya tergolong rendah, namun tingkat partisipasi dalam pilkada kabupaten bogor terbilang tinggi. umumnya, tingkat partisipasi yang tinggi dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang tinggi, begitupun sebaliknya. Sasaran dalam penelitian ini yaitu masyarakat di Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif. Jumlah populasi dalam penelitian ini sebanyak 253.089 orang. Kemudian ditentukan sampel dengan menggunakan rumus slovin yang kemudian didapatkan hasil sebanyak 100 responden dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan teknik Proportionate Stratified Random Sampling. Untuk menguji keabsahan data dalam penelitian ini digunakan uji validitas dan realibilitas. Kemudian dilanjut dengan melakukan analisis korelasi rank spearman untuk menguji hubungan antar variabel. Dilanjut dengan analisis regresi linier sederhana yang sebelumnya di dahului dengan uji normalitas dan dilanjut uji parsial atau uji t untuk menguji pengaruh antar variabel. Tulisan ini secara keseluruhan menunjukkan hasil bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara tingkat pendidikan terhadap tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilihan kepala daerah tahun 2018 dibuktikan dengan hasil uji hipotesis yang menghasilkan nilai t hitung < t tabel yaitu 0,369 < 1,664 dengan nilai Sig > 0,05 yaitu 0,713. | This article aims to explain the effect of education level on the political participation rate of Bogor Regency people whose education level is low, but the participation rate in Bogor regency election is quite high. Generally, high levels of participation are influenced by high levels of education, and vice versa. The target in this study is the community in Cibinong District, Bogor Regency. The method used is a quantitative research method. The study's population was 253,089 people. The sample was then determined using the Slovin formula, which was then obtained by 100 respondents in this study. This study used the Proportionate Stratified Random Sampling technique. To test the validity of the data in this study, validity and reality tests were used. Then it is followed by conducting rank spearman correlation analysis to test the relationship between variables. It is followed by a simple linear regression analysis that was previously preceded by normality tests and a partial test or test to test the influence between variables is followed. The overall result shows that no significant influence between education levels on the level of community participation in the 2018 regional head election was demonstrated by the hypothesis test resulting in a t t table count of 0.369 ± 1.664 with a Sig value of 0 0.05 which is 0.713. | |
| 39240 | 40211 | K1A019061 | FORMULASI DAN KARAKTERISASI NANOEMULSI MINYAK ATSIRI BUAH PALA (Myristica fragrans Houtt) SERTA UJI AKTIVITAS TABIR SURYA | Paparan sinar ultraviolet memiliki dampak negatif pada kulit. Dampak negatif pada kulit dapat diminimalisir dengan penggunaan tabir surya. Minyak atsiri buah pala (Myristica fragrans Houtt) merupakan bahan alam yang berpotensi sebagai tabir surya. Penelitan ini bertujuan untuk membuat sediaan nanoemulsi dari minyak atsiri buah pala, karakterisasi, dan menguji aktivitas tabir surya dalam bentuk sediaan minyak atsiri dan nanoemulsinya. Formula nanoemulsi dibuat dengan 5 variasi konsentrasi minyak atsiri yaitu F0 (0% kontrol), F1 (1%), F2 (2%), F3 (4%) dan F4 (6%). Minyak atsiri buah pala tanpa dibuat sediaan nanoemulsi dibuat dengan konsentrasi yang sama sebagai pembanding pada saat uji aktivitas tabir surya. Karakterisasi nanoemulsi yang dilakukan meliputi uji organoleptis, uji pH, uji viskositas, uji persen transmitan, uji tipe nanoemulsi, uji PSA, uji freez-thaw cycle dan uji sentrifugasi. Pengujian potensi tabir surya dilakukan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada rentang panjang gelombang 290-400 nm dengan etanol sebagai blanko. Hasil karakterisasi organoleptis menunjukkan penampakan jernih dan stabil tanpa adanya pemisahan fase. Hasil uji pH, viskositas, tipe nanoemulsi, persen transmitan, sentrifugasi, freez-thaw cycle, dan uji ukuran partikel sediaan nanoemulsi menunjukan hasil yang baik dan sesuai dengan parameter. Sediaan nanoemulsi selalu memiliki nilai yang lebih baik dari segi nilai SPF, %Te dan %Tp dibanding sediaan minyak atsirinya. Sediaan nanoemulsi yang memiliki aktivitas tabir surya terbaik pada penlitian ini adalah F4 (6%) dengan nilai SPF sebesar 1,538; nilai %Te sebesar 37,375%; dan nilai %Tp sebesar 80,732%. Sediaan nanoemulsi memiliki aktivitas yang rendah sebagai tabir surya. | Exposure to ultraviolet light has a negative impact on the skin. Negative impact on the skin can be minimized by using sunscreen. Nutmeg essential oil (Myristica fragrans Houtt) is a natural ingredient that has potential as a sunscreen. This research aims to make nanoemulsion preparations from nutmeg essential oil, characterize them, and test sunscreen activity in essential oil and nanoemulsion dosage forms. The nanoemulsion formula was made with 5 variations of essential oil concentrations namely F0 (0% control), F1 (1%), F2 (2%), F3 (4%) and F4 (6%). Nutmeg essential oil without nanoemulsion preparation was made at the same concentration as a comparison during the sunscreen activity test. The nanoemulsion characterization includes organoleptic test, pH test, viscosity test, percent transmittance test, nanoemulsion type test, PSA test, freeze-thaw cycle test and centrifugation test. Testing the potential of sunscreen was carried out using a UV-Vis spectrophotometer at a wavelength range of 290-400 nm with ethanol as a blank. The organoleptic characterization results showed a clear and stable appearance without any phase separation. The test results for pH, viscosity, type of nanoemulsion, percent transmittance, centrifugation, freeze-thaw cycle, and particle size test for nanoemulsion showed good results and were in accordance with the parameters. Nanoemulsion preparations always have better values in terms of SPF, %Te and %Tp values compared to essential oil preparations. Nanoemulsion preparations that had the best sunscreen activity in this study were F4 (6%) with an SPF value of 1.538; %Te value of 37.375%; and %Tp value of 80.732%. Nanoemulsion preparations have low activity as a sunscreen. |