Artikelilmiahs

Menampilkan 39.261-39.280 dari 48.927 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
3926141759F1B017033PENGARUH KEJELASAN KOMUNIKASI DAN SIKAP PELAKSANA TERHADAP KINERJA PELAKSANA IMPLEMENTASI KEBIJAKAN BANTUAN LANGSUNG TUNAI DANA DESA (BLT DANA DESA) DI DESA PETIR KECAMATAN KALIBAGOR KABUPATEN BANYUMAS
Kebijakan publik merupakan suatu tindakan yang bertujuan tertentu yang dilakukan oleh pemerintah untuk memecahkan suatu masalah. Pada era pandemi Covid-19 dibuat kebijakan publik pemberian Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-Dana Desa) untuk membantu masyarakat terdampak covid-19. Pada penelitian ini, peneliti ingin mengetahui pengaruh antara kejelasan komunikasi sebagai variabel bebas (X1) dan sikap pelaksana sebagai variabel bebas (X2) terhadap kinerja pelaksana sebagai variabel terikat (Y). Peneliti menggunakan metode penelitian kuantitatif asosiatif dan melakukan pengambilan data menggunakan metode survei. Untuk mengetahui tingkat signifikansi pengaruhnya, teknik analisis yang digunakan adalah teknik korelasi Kendall tau, korelasi konkordansi kendall W dan regresi ordinal. sampel yang diambil yaitu sebanyak 63 orang dari penerima bantuan.
Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa kejelasan komunikasi dan sikap pelaksana memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kinerja pelaksana. Hasil analisis data menggunakan korelasi Konkordansi Kendall W menunjukan nilai signifikan 0,001 yang berarti terdapat hubungan yang signifikan dan positif antara kejelasan komunikasi dan sikap pelaksana terhadap kinerja pelaksana. Pada uji regresi ordinal, nilai signifikansinya yaitu sebesar 0,003 yang berarti bahwa kejelasan komunikasi dan sikap pelaksana mempengaruhi kinerja pelaksana. Kesimpulannya adalah untuk mencapai keberhasilan pelaksanaan kebijakan perlu adanya faktor-faktor yang mendukung.
Public policy is a certain purposeful action taken by the government to solve a problem. During the Covid-19 pandemic, a public policy was made to provide Village Fund Cash Assistance (BLT-Dana Desa) to help people affected by Covid-19. In this study, researchers wanted to know the effect between communication clarity as an independent variable (X1) and the attitude of the implementer as an independent variable (X2) on the performance of the implementer as the dependent variable (Y). Researchers used associative quantitative research methods and collected data using survey methods. To determine the significance level of the effect, the analysis techniques used are the kendall tau correlation technique, Kendall W concordance correlation and ordinal regression. the sample taken was 63 people from the beneficiaries.
The results of this study reveal that communication clarity and implementer attitudes have a positive and significant effect on implementer performance. The results of data analysis using the Kendall W concordance correlation show a significant value of 0.001 which means that there is a significant and positive relationship between communication clarity and implementer attitude towards implementer performance. In the ordinal regression test, the significance value is 0.035, which means that the clarity of communication and the attitude of the implementer affect the performance of the implementer. The conclusion is that to achieve successful policy implementation, there needs to be supporting factors.
3926240527E1A018268PERLINDUNGAN HAK KESEHATAN REPRODUKSI PEREMPUAN DALAM PELAYANAN KESEHATAN DI KABUPATEN BANYUMAS Kesehatan reproduksi perlu mendapat perhatian khusus karena rendahnya pemenuhan hak kesehatan reproduksi berdampak pada meningkatnya angka kematian ibu dan angka kematian anak. Kabupaten Banyumas merupakan kabupaten yang sempat mengalami peningkatan angka kematian ibu dan anak. Oleh karena itu, penelitian dilakukan di Kabupaten Banyumas dengan tujuan untuk mengetahui perlindungan hak kesehatan reproduksi dalam pelayanan kesehatan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan yuridis empiris. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder dengan metode pengumpulan data wawancara, studi kepustakaan dan studi dokumenter. Data yang telah terkumpul diolah dengan metode reduksi data, display data dan kategorisasi data kemudian disajikan dalam bentuk teks naratif dan matriks kualitatif. Perlindungan hak kesehatan reproduksi dalam pelayanan kesehatan di Kabupaten Banyumas dilaksanakan melalui pelayanan kesehatan reproduksi yang meliputi pemberian pelayanan kesehatan ibu, pemberian pelayanan aborsi atas indikasi kedaruratan medis, dan pemberian pelayanan reproduksi dengan bantuan atau kehamilan di luar cara alamiah. Faktor pendukung perlindungan hak kesehatan reproduksi adalah faktor hukum, faktor penegak hukum, faktor sarana atau fasilitas, dan faktor kebudayaan. Sedangkan faktor penghambat adalah faktor penegak hukum, faktor sarana atau fasilitas, faktor masyarakat dan faktor kebudayaan.Reproductive health needs special attention because the low fulfillment of reproductive health rights has an impact on increasing maternal mortality and child mortality rates. Banyumas Regency is a regency that has experienced an increase in maternal and child mortality rates. Therefore, the research was conducted in Banyumas Regency with the aim of knowing the protection of reproductive health rights in health services and the factors that influence it. The research method used in this research is empirical juridical. The types of data used in this research are primary data and secondary data with data collection methods of interviews, literature studies and documentary studies. The data that has been collected is processed by the method of data reduction, data display and data categorisation and then presented in the form of narrative text and qualitative matrix. The protection of reproductive health rights in health services in Banyumas Regency is implemented through reproductive health services that include the provision of maternal health services, the provision of abortion services for indications of medical emergencies, and the provision of assisted reproductive services or pregnancy outside the natural way. The supporting factors for the protection of reproductive health rights are legal factors, law enforcement factors, facility factors, and cultural factors. While, the inhibiting factors are law enforcement factors, facility factors, community factors, and cultural factors.
3926341760G1A019097Uji Toksisitas Akut Oral Ekstrak Ciplukan terhadap Gambaran Histopatologi Paru Tikus Sprague DawleyLatar Belakang: Ciplukan memiliki banyak senyawa fitokimia yang memiliki banyak manfaat dan sering digunakan sebagai obat tradisional sejak lama di Indonesia. Ciplukan adalah salah satu tanaman yang dikembangkan sebagai fitofarmaka sehingga perlu dilakukan uji toksisitas untuk mengetahui tingkat keamanannya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efek pemberian ekstrak ciplukan terhadap gambaran histpatologi paru tikus Sprague Dawley melalui uji toksisitas akut oral. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain post-test only with control group yang dikelompokkan menggunakan simple random sampling. Sebanyak 25 hewan coba dikelompokkan menjadi lima kelompok dengan kelompok A merupakan kelompok kontrol, kelompok B, C, D, dan E kelompok perlakuan dosis ekstrak ciplukan 100 mg/kgBB, 400 mg/kgBB, 800 mg/kgBB, 1200 mg/kgBB single dose dan diobservasi selama 14 hari kemudian diterminasi pada hari 15 untuk diambil organnya dan diamati secara histopatologi. Hasil: Uji Kruskal-Wallis menunjukkan hasil terdapat perbedaan gambaran histopatologi paru yang bermakna antarkelompok dosis dengan nilai p=0,003. Uji Mann Whitney terdapat perbedaan signifikan antara gambaran histopatologi paru kelompok A dan D (nilai p=0,003), kelompok A dan E (nilai p=0,004), kelompok B dan D (nilai p=0,014), kelompok B dan E (nilai p=0,015). Kesimpulan: Pemberian ekstrak ciplukan pada tikus Sprague Dawley menunjukkan perbedaan signifikan gambar histopatologi paru antarkelompok dosis. Dosis yang direkomendasikan adalah 100 mg/kgBB.Background: Ciplukan (Physalis angulata) contains numerous phytochemical compounds that offer various benefits and have been used as traditional medicine in Indonesia for a long time. Ciplukan is one of the plants that has been developed as a phytopharmaceutical, necessitating toxicity testing to determine its safety level. This study aimed to investigate the effects of administering ciplukan extract on the histopathological profile of the lungs of Sprague Dawley rats through acute oral toxicity testing. Methods: This research employed an experimental design with a post-test only control group, categorized using simple random sampling. A total of 25 experimental animals were divided into five groups: Group A as the control, Groups B, C, D, and E as treatment groups with ciplukan extract doses of 100 mg/kgBW, 400 mg/kgBW, 800 mg/kgBW, and a single dose of 1200 mg/kgBW, respectively. The animals were observed for 14 days and then terminated on the 15th day to extract their organs for histopathological examination. Results: The Kruskal-Wallis test revealed a significant difference in the histopathological lung profile among the dose groups, with a p-value of 0.003. Mann Whitney tests indicated significant differences in the histopathological lung profile between Group A and D (p-value = 0.003), Group A and E (p-value = 0.004), Group B and D (p-value = 0.014), and Group B and E (p-value = 0.015). Conclusion: Administration of ciplukan extract to Sprague Dawley rats resulted in significant differences in lung histopathological characteristics among the dose groups. The recommended dose is 100 mg/kgBW.
3926441761E1B018053THE EFFECTIVENESS OF LEGAL PROTECTION FOR PRISONERS IN ACCOMMODATION AND HEALTH IN BEKASI PRISONSKesehatan merupakan hal yang penting bagi setiap manusia, mulai dari konsentrasi dalam bekerja maupun beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Pembangunan kesehatan menyangkut seluruh aspek kehidupan masyarakat dan berlangsung pada setiap individu, termasuk mereka yang sedang menjalani hukuman (napi) di Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk perlindungan hukum bagi narapidana di bidang akomodasi dan kesehatan di Lapas Kelas II A Bekasi dan efektifitas pelaksanaan perlindungan hukum di bidang akomodasi dan kesehatan di Lapas Kelas II A Bekasi. Pendekatan yuridis sosiologis, bersifat deskriptif, Lokasi Penelitian di Lapas Kelas IIA Bekasi. Pengumpulan data primer dengan wawancara, dan data sekunder studi kepustakaan. Data disajikan dalam bentuk deskripsi dan dianalisis secara kualitatif.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut: Bentuk-bentuk perlindungan hukum bagi narapidana di bidang pemondokan dan kesehatan di Lapas Kelas II A Bekasi yang dilakukan dengan memberikan pelayanan: Akomodasi berupa kamar tidur berkapasitas 682 orang, terdiri dari 96 kamar hunian yang tersebar di 4 blok A, B, C, dan D, di setiap blok terdiri dari 24 kamar dilengkapi dengan perlengkapan tidur berupa bantal dan tikar serta kamar mandi/ W. Kesehatan, berupa beberapa fasilitas kesehatan yang ada seperti poliklinik rawat jalan dan observasi, UGD, laboratorium skrining Tuberkulosis (TBC) dan Human Immunodeficiency Virus (HIV), pelayanan kesehatan rujukan khusus, dan pelayanan kesehatan gigi (tentatif) serta obat. Penerapan perlindungan hukum di bidang pemondokan dan kesehatan di Lapas Kelas II A Bekasi belum efektif, karena masih terdapat beberapa kendala terutama di bidang pelayanan kesehatan yaitu: Keterbatasan jenis obat terutama untuk penyakit degeneratif seperti seperti diabetes dan hipertensi. Terbatasnya alat penunjang pemeriksaan dan peralatan darurat untuk kasus-kasus tertentu. Kendala administrasi, khususnya bagi narapidana yang akan dirujuk rawat inap, tidak ada jaminan dari keluarga dan keluarga yang mendampingi Keluarga Pemasyarakatan. terutama untuk penyakit degeneratif seperti diabetes dan hipertensi. Terbatasnya alat penunjang pemeriksaan dan peralatan darurat untuk kasus-kasus tertentu. Kendala administrasi, khususnya bagi narapidana yang akan dirujuk rawat inap, tidak ada jaminan dari keluarga dan keluarga yang mendampingi Keluarga Pemasyarakatan. terutama untuk penyakit degeneratif seperti diabetes dan hipertensi. Terbatasnya alat penunjang pemeriksaan dan peralatan darurat untuk kasus-kasus tertentu. Kendala administrasi, khususnya bagi narapidana yang akan dirujuk rawat inap, tidak ada jaminan dari keluarga dan keluarga yang mendampingi Keluarga Pemasyarakatan.
Health is important for every human being, starting from concentration in work and activities in daily life. Health development concerns all aspects of people's lives and takes place in every individual, including those who are serving sentences (inmates) in Correctional Institutions (LAPAS).
This study aims to determine the form of legal protection for convicts in the accommodation and health sector in Class II A Bekasi prisons and the effectiveness of implementing legal protection in the accommodation and health sector in Class II A Bekasi prisons. Sociological juridical approach, descriptive in nature, Research Location in Class IIA Correctional Institution Bekasi. Primary data collection by interviews, and secondary data literature study. The data is presented in the form of descriptions and analyzed qualitatively.
Based on the results of the research and discussion, it can be concluded as follows: Forms of legal protection for convicts in the areas of accommodation and health in Class II A Bekasi Correctional Institutions, which are carried out by providing services: Accommodation in the form of bedrooms with a capacity of 682 people, consisting of 96 residential rooms spread over 4 blocks A, B, C, and D, in each block consisting of 24 rooms equipped with bedding in the form of pillows and mats as well as a bathroom/W. Health, in the form of several existing health facilities such as outpatient and observation clinics, emergency rooms, screening laboratories for Tuberculosis (BC) and Human Immunodeficiency Virus (HIV), special referral health services, and dental health services (tentative) as well as medicines. The application of legal protection in the areas of accommodation and health in Class II A Bekasi prisons has not been effective, because there are still several obstacles, especially in the field of health services, namely: Limited variety of medicines, especially for degenerative diseases such as diabetes and hypertension. Limited supporting examination tools and emergency equipment for certain cases. Administrative constraints, especially for convicts who will be referred to as hospitalization, there are no guarantees from the family and families who accompany the Correctional Families. especially for degenerative diseases such as diabetes and hypertension. Limited supporting examination tools and emergency equipment for certain cases. Administrative constraints, especially for convicts who will be referred to as hospitalization, there are no guarantees from the family and families who accompany the Correctional Families. especially for degenerative diseases such as diabetes and hypertension. Limited supporting examination tools and emergency equipment for certain cases. Administrative constraints, especially for convicts who will be referred to as hospitalization, there are no guarantees from the family and families who accompany the Correctional Families.
3926544454G1A019020EFEK PEMBERIAN BAWANG HITAM TERHADAP KADAR
SUPEROKSIDA DISMUTASE (SOD) PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) MODEL HIPERURISEMIA
EFEK PEMBERIAN BAWANG HITAM TERHADAP KADAR
SUPEROKSIDA DISMUTASE (SOD) PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) MODEL HIPERURISEMIA
Indah Helria Ulfah1, Viva Ratih Bening Ati 2, Hajid Rahmadianto3, Alfi Muntafiah4, Wahyudin5
1Fakultas Kedokteran, Universitas Jenderal Soedirman
2Departemen Farmakologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Jenderal Soedirman
3Departemen Urologi, Rumah Sakit Margono Soekarjo
4Departemen Biokimia, Fakultas Kedokteran, Universitas Jenderal Soedirman 5Departemen Biomedis, Fakultas Kedokteran, Universitas Jenderal Soedirman
E-mail: indah.ulfah@mhs.unsoed.ac.id

ABSTRAK

Hiperurisemia merupakan masalah kesehatan yang angka kejadiannya semakin meningkat dari tahun ke tahun. Asam urat dapat berfungsi sebagai antioksidan, tetapi ketika ditransport ke dalam sel akan berubah menjadi prooksidan yang akan meningkatkan produksi radikal bebas dan menyebabkan stres oksidatif. Superoksida dismutase (SOD) adalah enzim antioksidan yang berfungsi untuk melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas. Bawang hitam memiliki kandungan flavonoid yang dapat bersinergi dan meningkatkan aktivitas antioksidan melalui enzim antioksidan seluler, seperti SOD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek larutan bawang hitam terhadap peningkatan kadar SOD pada tikus putih (Rattus norvegicus) model hiperurisemia. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental menggunakan metode post test only with control group design. Sebanyak 30 ekor tikus putih dibagi ke dalam 5 kelompok, yaitu kelompok A (kontrol sakit), kelompok B (allopurinol), kelompok C, D, dan E (larutan bawang hitam dengan dosis 240 mg, 480 mg, dan 960 mg per hari). Kadar SOD diukur menggunakan serum darah dengan metode ELISA. Hasil rerata kadar SOD (U/ml) kelompok A=36,26±2,97; B=58,81±5,52; C=42,61±4,32; D=50,42±3,93; E=55,17±3,42. Hasil uji One Way ANOVA menunjukkan p=0,00 (p<0,05) yang berarti terdapat perbedaan bermakna antar kelompok. Kesimpulan penelitian ini adalah pemberian larutan bawang hitam dapat meningkatkan kadar SOD pada tikus putih (Rattus norvegicus) model hiperurisemia.
EFFECT OF BLACK GARLIC ON SUPEROKSIDA DISMUTASE (SOD) LEVELS IN WHITE RATS (Rattus norvegicus)
HYPERURICEMIA MODEL

Indah Helria Ulfah1, Viva Ratih Bening Ati 2, Hajid Rahmadianto3, Alfi Muntafiah4, Wahyudin5
1Faculty of Medicine, Jenderal Soedirman University 2Department of Pharmacology, Faculty of Medicine, Jenderal Soedirman University
3Department of Urology, Margono Soekarjo Hospital
4Department of biochemistry, Faculty of Medicine, Jenderal Soedirman University
5Department of Biomedicine, Faculty of Medicine, Jenderal Soedirman University
E-mail: indah.ulfah@mhs.unsoed.ac.id

ABSTRACT

Hyperuricemia is a health problem whose incidence is increasing from year to year. Uric acid can function as an antioxidant, but when it is transported into cells it will turn into a prooxidant which will increase the production of free radicals and cause oxidative stress. Superoxide dismutase (SOD) is an antioxidant enzyme that functions to protect cells from damage caused by free radicals. Black garlic contains flavonoids which can synergize and increase antioxidant activity through cellular antioxidant enzymes, such as SOD. This study aims to determine the effect of black garlic solution on increasing SOD levels in white rats (Rattus norvegicus) with a model of hyperuricemia. This research was a experimental study using a post-test only with a control group design. Thirty white rats were divided into five groups : group A (sick control), group B (allopurinol), groups C, D, and E (black garlic solution with doses of 240 mg, 480 mg, and 960 mg per day, respectively). SOD levels were measured using blood serum with the ELISA method. The results of average SOD level (U/ml) in group A=36,26±2,97; B=58,81±5,52; C=42,61±4,32; D=50,42±3,93; and E=55,17±3,42. The results of the One Way ANOVA test show p=0.00 (p<0.05), which means that there are differences that had an impact between groups. The conclusion of this study is giving black garlic solution can increase SOD levels in white rats (Rattus norvegicus) hyperuricemia models.
3926641763J1D019042PETA KOMPTENSI KEMAMPUAN MENULIS KREATIF SISWA KELAS VII DAN VIII SMP NEGERI 7 PURWOKERTOPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peta kompetensi menulis kreatif pada siswa kelas VII dan VIII. Masalah yang menjadi latar belakang dalam penelitian ini adalah dibutuhkan penentuan strategi yang tepat untuk pembelajaran menulis kreatif. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian survei dengan teknik pengukuran kemampuan untuk menentukan peta kompetensi menulis kreatif. Teknik pengumpulan data yaitu menggunakan unjuk kerja (menulis puisi rakyat, puisi, dan cerita pendek) dan rubrik penilaian.
Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut : (1) kompetensi menulis kreatif siswa kelas VII dan VIII yang terdiri atas puisi rakyat, puisi, dan cerita pendek. Puisi rakyat mendapatkan rata-rata skor keseluruhan sebesar (65,4) dan median (42,5), kelas VII mendapatkan rata-rata skor (66,1) dan kelas VIII mendapatkan rata-rata skor (64,5). Puisi mendapatkan rata-rata skor keseluruhan sebesar (63,3) dan median (42,5), kelas VII mendapatkan rata-rata skor (63,1) dan kelas VIII mendapatkan rata-rata skor (63,6). Cerita pendek mendapatkan rata-rata skor keseluruhan sebesar (65,6) dan median (42,5), kelas VII mendapatkan rata-rata skor (65,8) dan kelas VIII mendapatkan rata-rata skor (65,5). (2) sebaran kemampuan siswa dalam menulis puisi rakyat dalam kategori cukup, kemampuan siswa dalam menulis puisi dalam kategori kurang, dan kemampuan siswa dalam menulis cerita pendek dalam kategori cukup.
This study aims to describe the map of creative writing competence in class VII and VIII students. The problem that becomes the background in this research is the need to determine the right strategy for learning creative writing. This study uses a type of survey research with ability measurement techniques to determine creative writing competency maps. Data collection techniques are using performance (writing folk poetry, poetry, and short stories) and an assessment rubric.
The results of this study are as follows: (1) the creative writing competence of class VII and VIII students consisting of folk poetry, poetry and short stories. Folk poetry gets an average overall score of (65.4) and a median (42.5), class VII gets an average score (66.1) and class VIII gets an average score (64.5). Poetry got an average overall score of (63.3) and a median (42.5), class VII got an average score of (63.1) and class VIII got an average score (63.6). Short stories get an average overall score of (65.6) and a median (42.5), class VII gets an average score (65.8) and class VIII gets an average score (65.5). (2) the distribution of students' abilities in writing folk poetry is in the sufficient category, the students' ability in writing poetry is in the less category, and the students' ability in writing short stories is in the sufficient category.
3926741723F1B019021Pengaruh Partisipasi dalam Program Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU) Terhadap Motivasi Belajar Mahasiswa Penerima KJMU Universitas Jenderal SoedirmanPemerintah Provinsi DKI Jakarta yang bekerja sama dengan Dinas Pendidikan membuat program bernama Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU). Program KJMU ini bertujuan diantaranya untuk meningkatkan akses dan kesempatan belajar di PTN/PTS bagi calon Mahasiswa yang tidak mampu secara ekonomi dan menumbuhkan motivasi bagi Mahasiswa untuk meningkatkan prestasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah pengaruh yang positif dan signifikan antara Partisipasi dalam program Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU) terhadap motivasi belajar mahasiswa penerima KJMU Unsoed. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pemilihan responden yakni total sampling. Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan sekunder dengan metode pengumpulan data menggunakan kuesioner, dokumentasi, dan observasi. Pada penelitian ini diperoleh sejumlah 75 responden yang dihitung menggunakan rumus slovin. Uji validitas data menggunakan teknik product moment , dan uji reliabilitas menggunakan alpha cronbach. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik korelasi kendall tau-c, regresi ordinal, dan elaborasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara partisipasi dalam program KJMU terhadap motivasi belajar mahasiswa penerima KJMU Unsoed. (2) Berdasarkan hasil elaborasi, pengaruh partisipasi dalam program KJMU terhadap motivasi belajar dikontrol oleh variabel karakteristik responden seperti jenis kelamin, tahun angkatan, fakultas, dan penghasilan orang tua. Namun, responden dengan karakteristik fakultas yaitu FIB, FAPET, dan FIKES tidak berpengaruh.The Provincial Government of DKI Jakarta, in collaboration with the Education Office, created a program called the Jakarta Excellent Student Card (KJMU). The KJMU program aims, among other things, to increase access and study opportunities at PTN/PTS for prospective students who are economically disadvantaged and to foster motivation for students to improve their achievementsThis study aims to determine whether there is a positive and significant influence between participation in the Jakarta Excellent Student Card (KJMU) program on the learning motivation of students receiving KJMU Unsoed. This study used a quantitative method with the technique of selecting respondents, namely total sampling. The data collected includes primary and secondary data with data collection methods using questionnaires, documentation, and observation. In this study, a total of 75 respondents were obtained which were calculated using the slovin formula. Test the validity of the data using the product moment technique, and test the reliability using Alpha Cronbach. Data analysis in this study used the Kendall Tau-C correlation technique, ordinal regression, and elaboration. The results of this study indicate that: (1) There is a positive and significant influence between participation in the KJMU program on the learning motivation of KJMU Unsoed recipient students. (2) Based on the results of the elaboration, the effect of participation in the KJMU program on learning motivation is controlled by the variable characteristics of the respondents such as gender, year of class, faculty, and parents' income. However, respondents with faculty characteristics, namely FIB, FAPET, and FIKES, had no effect.
3926841764J1E016042CODE MIXING USED BY BEKASI TEENAGERS ON WHATSAPP GROUP (A Case Study of Jaksel Language Trend)Campur kode merupakan fenomena pencampuran bahasa dari satu bahasa ke bahasa lain atau sebaliknya dan menjadi fenomena yang masif di seluruh dunia, baik dalam kehidupan nyata maupun di media sosial. Saat ini, campur kode lebih dikenal dengan sebutan bahasa Jaksel di kalangan remaja Indonesia. Penelitian deskriptif kualitatif ini menyelidiki jenis-jenis campur kode yang digunakan oleh remaja Bekasi dan mengeksplorasi alasan mereka menggunakan campur kode di WhatsApp Group. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi pada Group Chat WhatsApp English House Bekasi pada tanggal 13 Mei 2023 hingga 13 Juni 2023. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis dokumentasi, dimana digunakan triangulasi data untuk memeriksa keabsahan. data. Data dianalisis dengan menggunakan teori tipe campur kode dari Hoffman. Alasan penggunaan campur kode dianalisis dengan menggunakan teori Marasigan. Hasil penelitian menunjukkan ada tiga jenis campur kode yang ditemukan di Grup WhatsApp Rumah Bahasa Inggris Bekasi yang digunakan oleh remaja Bekasi, yaitu campur kode intra-sentensial, campur kode intra-leksikal, dan melibatkan perubahan pengucapan. Campur kode dalam bentuk intra-sentensial terjadi dalam batas-batas suatu frasa, klausa, atau kalimat. Sedangkan bentuk campur kode intraleksikal terjadi dalam batas kata. Melibatkan perubahan pengucapan campur kode terjadi ketika remaja mengadaptasi suatu istilah bahasa Inggris agar sesuai dengan struktur fonologis bahasa Indonesia. Ditemukan tujuh alasan yang melatarbelakangi penggunaan campur kode oleh remaja Bekasi di WhatsApp Group. Alasan-alasan tersebut adalah kutipan, spesifikasi penerima, pengulangan, kata seru, kualifikasi pesan, personalisasi dan objektivisasi, serta fasilitas ekspresi.Code mixing is the phenomenon of mixing language from one into another or vice versa and it becomes massive phenomenon around the world, both in real life and in social media. These days, code mixing mostly is known as Jaksel language among Indonesian teenagers. This descriptive qualitative research investigated the types of code-mixing used by Bekasi teenagers and explored their reasons for using code-mixing on WhatsApp Group. The data for this study were collected through interview, observation, and documentation on English House Bekasi WhatsApp Group Chat from May 13th 2023 until June 13th 2023. The method used in this study was documentation analysis in which data triangulation was employed to check the validation of the data. The data were analyzed by using Hoffman’s theory of types of code-mixing. The reasons for using code mixing were analyzed by using Marasigan's theory. The findings showed three types of code mixing found in English House Bekasi WhatsApp Group that was used by Bekasi teenagers, namely intra-sentential code mixing, intra-lexical code mixing, and involving a change of pronunciation. Code-mixing in the form of intra-sentential takes place within the boundaries of a phrase, clause, or sentence. Meanwhile, the form of intra-lexical code mixing takes place within a word boundary. Involving a change of pronunciation code mixing takes place when the teenagers adapt an English term to fit Indonesian phonological structure. Seven reasons that motivated the use of code-mixing by Bekasi teenagers on WhatsApp Group were found. Those reasons were quotation, addressee specification, repetition, interjection, message qualification, personalization and objectivization, and facility of expression.
3926941765J1A016043AN ANALYSIS OF SLANG WORDS USED IN THE SONG LYRICS IN THE ALBUM ENTITLED “THE RASMUS”ABSTRAK
Aji Muhammad Kahfi, J1A016043 : An Analysis of Slang Words Used in the Song Lyrics in the Album Entitled “the Rasmus”. Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto 2023.
Tulisan ini membahas tentang penelitian terhadap penggunaan bahasa Inggris slang pada lirik-lirik lagu dalam sebuah album yang berjudul the Rasmus. Lebih lanjut, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kata-kata slang pada lirik lagu tersebut, menganalisnya, beserta menyajikannya dalam sebuah tulisan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Adapun data penelitian diperoleh dari sebuah album lagu yang berjudul the Rasmus tadi. Penulis menemukan beberapa kosakata slang. Penggunaan slang ini kemudian dianalisis untuk mengidentifikasi fungsi dari slang itu sendiri pada setiap lirik lagu. Peneliti berkesimpulan bahwa penggunaan slang pada album tersebut erat kaitannya dengan target pasar dari lagu tersebut yang menyasar anak-anak muda.
Kata kunci : analisis, kata-kata slang, the Rasmus.

ABSTRACT
Aji Muhammad Kahfi. J1A016043 : An Analysis of Slang Words Used in the Song Lyrics in the Album Entitled “the Rasmus”. Faculty of Humanities, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto 2023.
This research deals with the slang word analysis in the Rasmus song lyrics in their second album entitled “the Rasmus”. This study aims to identify the types of slang words in the song lyrics in the album in question as well as to analyze the slang words in them. This study applies a descriptive qualitative research as a method of analysis. The research data were taken from the album entitled “the Rasmus”. The data were analyzed by identifying the songs into four types of process, classifying the word in each type of slang, analyzing the data into the slang word. It was found that there were a number of slang words in the album. The slangs come in several forms like words or phrases. The researcher realized that the words were slang which were found in the song lyrics of the Rasmus album by reading all the lyrics in detail and analyzing the word by trying to find the correct word or the real meaning, then the researcher can decide the word was called as slang word.
Keywords : Analysis, Slang word, The Rasmus, song lyrics
3927041766I1D019044HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KECUKUPAN ENERGI, PROTEIN DAN FREKUENSI KONSUMSI JAJANAN DENGAN KEJADIAN KURANG ENERGI KRONIK (KEK) PADA REMAJA PUTRI (Studi di Kecamatan Sampang Kabupaten Cilacap) Latar Belakang: Kejadian kurang energi kronik (KEK) dapat dideteksi dini dengan
pengukuran LILA dan didapatkan hasil LILA <23,5 cm (55%). Konsumsi energi dan protein sesuai kebutuhan diharapkan bisa mencegah KEK. Bagi remaja putri KEK
berdampak pada masa sekarang dan masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat kecukupan energi, protein dan frekuensi konsumsi jajanan dengan
kejadian KEK pada remaja putri di Kecamatan Sampang, Kabupaten Cilacap. Metode:
Penelitian ini merupakan penelitian observational dengan desain cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 110 remaja putri (15-17 tahun). Menggunakan proporsional stratified random sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner FFQ untuk frekuensi konsumsi jajanan, dan SQ-FFQ untuk asupan energi dan protein. Analisis bivariat menggunakan uji Chi-square. Hasil Penelitian: Tingkat kecukupan energi dan protein sebagian besar dalam kategori lebih dengan frekuensi 59,1% dan 70%. Berdasarkan kejadian KEK sebagian besar tidak berisiko KEK sebanyak 53,6%. Analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak ada
hubungan antara tingkat kecukupan energi (p=0,318), protein (p=0,617) dan frekuensi konsumsi jajanan (p=0,181) dengan kejadian KEK. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara tingkat kecukupan energi, protein dan frekuensi konsumsi jajanan dengan KEK.
Background: Chronic energy deficiency (CED) events are detected early by measuring
LILA and LILA results are <23.5 cm (55%). It was hoped that consuming energy and
protein as needed can prevent CED. For adolescent women, KEK has an impact on the
present and future. The study aims to determine the relationship between the level of adequacy of energy, protein, and frequency of consumption of snacks with the incidence of
CED in young women in Sampang District, Cilacap Regency. Method: This research was an observational study with a cross-sectional design. The research sample was 110 adolescent women (15-17 years). Used proportional stratified random sampling. The research instrument was the FFQ questionnaire for snack consumption and SQ-FFQ for
energy and protein intake. Bivariate analysis used the Chi-square test. Result: The level of adequacy of energy and protein is mostly higher with the percentage of 59.1% and 70%. Most of them are not at risk of KEK as much as 53.6%. The Chi-square test showed that there was no relationship between the level of energy sufficiency (p=0.318), protein (p=0.617), and frequency of snack consumption (p=0.181) with the incidence of CED.
Conclusion: There was no relationship between the level of adequacy of energy, protein,
and frequency of consumption of snacks with CED
3927141768I1D019069Pengaruh Tele-Nutrition Education terhadap Perubahan Konsumsi Pangan dan Kualitas Diet pada Dewasa dengan Kelebihan Berat BadanLatar Belakang : Kelebihan berat badan disebabkan oleh asupan energi berlebih atau pemakaian energi yang kurang. Tele-nutrition merupakan metode untuk memberikan pelayanan gizi secara jarak jauh dengan menggunakan teknologi informasi dan telekomunikasi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh tele-nutrition education terhadap perubahan konsumsi pangan dan kualitas diet pada dewasa dengan kelebihan berat badan.

Metode : Jenis penelitian quasi experimental dengan rancangan pre-test post-test group control design. Sebanyak 52 responden dewasa berusia 19-49 tahun diambil dengan menggunakan purposive sampling. Data konsumsi pangan dan kualitas diet diambil melalui recall 2x24 jam, pemberian materi edukasi menggunakan media leaflet, poster, power point, dan video. Analisis data menggunakan paired sample T-test dan wilcoxon.

Hasil : Terdapat pengaruh tele-nutrition education terhadap perubahan konsumsi pangan yaitu, asupan energi (p=0,000;0,000), asupan protein (p=0,001;p=0,025), asupan lemak (p=0,006;p=0,004), asupan karbohidrat (p=0,000;0,001), dan asupan serat (p=0,006). Tidak terdapat pengaruh tele-nutrition education terhadap perubahan asupan serat pada kelompok kontrol (p=0,169). Terdapat pengaruh tele-nutrition education terhadap perubahan kualitas diet (p=0,001;0,001).

Kesimpulan : Terdapat pengaruh tele-nutrition education terhadap perubahan asupan energi, protein, lemak, karbohidrat, serat, dan kualitas diet pada kedua kelompok tetapi tidak terdapat pengaruh asupan serat pada kelompok kontrol.
Background: Overweight/obesity is caused of excess energy intake or insufficient energy consumption. Tele-nutrition is a method for providing nutritional services remotely using information technology and tele-communications. The aim of this study was to determine the effect of tele-nutrition education on changes in food consumption and diet quality in overweight adults.

Methods: This type of research is quasi-experimental with a pre-test post-test group control design. A total of 52 adult respondents aged 19-49 years were taken using purposive sampling. Data on food consumption and diet quality were take through 2x24 hour recalls, providing educational materials using the media of leaflets, posters, power points, and videos. Data analysis used paired sample T-test and Wilcoxon.

Results: There is an effect of tele-nutrition education on changes in food consumption, that is energy intake (p=0.000;0.000), protein intake (p=0.001;p=0.025), fat intake (p=0.006;p=0.004), carbohydrate intake (p =0.000;0.001), and fiber intake (p=0.006). There was no effect of tele-nutrition education on changes in fiber intake in the control group (p=0.169). There is an effect of tele-nutrition education on changes in diet quality (p=0.001; 0.001).

Conclusion: There is an effect of tele-nutrition education on changes in energy intake, protein, fat, carbohydrates, fiber, and quality of diet in both groups but there is no effect of fiber intake after nutrition education in the control group.
3927241769F1D018047Strategi Politik PDIP Meningkatkan Elektabilitas Ganjar Pranowo Dalam Menghadapi Pemilu Presiden 2024 di BanyumasSalah satu aspek terpenting dalam dunia politik adalah adanya strategi politik. Dengan strategi yang matang dari partai politik terhadap citra dan popularitas partai politik itu sendiri dan calon legislatif yang akan dicalonkan akan menumbuhkan hasil elektabilitas yang dapat mengukur atas keberhasilan dalam mengarahkan masyarakat kearah kepentingan yang ingin dicapai oleh suatu kelompok. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data wawancara melalui purposive sampling. Hasil penulisan ini pertama, PDIP Banyumas telah menjalankan strategi politiknya untuk meningkatkan elektabilitas Ganjar Pranowo melalui baliho, pembentukan relawan, dan melalui media sosial pribadi milik Ganjar Pranowo. Kedua, dalam menjalankan strategi pemasaran politiknya, PDIP beserta strukturnya sedang membentuk citra yang baik di dalam masyarakat Banyumas melalui penyaluran bantuan pemberian kursi roda dan alat belajar bagi pelajar agar mempermudah proses peningkatan elektabilitas Ganjar di Banyumas.One of the most important aspects in the world of politics is the presence of political strategy. With a well-crafted strategy from political parties regarding the image and popularity of the political party itself, and the legislative candidates to be nominated, it will foster electability results that can measure the success in directing the community towards the interests desired by a group. The research method used is qualitative with data collection techniques through purposive sampling interviews. The results of this writing are as follows: firstly, the PDIP (Indonesian Democratic Party of Struggle) in Banyumas has executed its political strategy to enhance the electability of Ganjar Pranowo through billboards, volunteer formation, and through Ganjar Pranowo's personal social media. Secondly, in executing its political marketing strategy, PDIP along with its structure is shaping a positive image within the Banyumas community through the distribution of aid in the form of wheelchairs and learning tools for students to facilitate the process of increasing Ganjar's electability in Banyumas.
3927345475A1H022005APLIKASI ZAT PENGATUR TUMBUH ASAM GIBERELAT (GA3) DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERTUMBUHAN SERTA HASIL PADI (Oryza sativa L.) VARIETAS SINTANURPadi merupakan salah satu tanaman pangan utama untuk memenuhi kebutuhan. pangan masyarakat Indonesia. Upaya produktivitas padi dapat ditingkatkan dengan menggunakan varietas unggul dan pemberian zat pengatur tumbuh (ZPT). Giberelat termasuk zat pengatur tumbuh yang berguna bagi tanaman, dalam konsentrasi rendah dapat merangsang pembelahan dan pemanjangan sel (Lingga, 1998). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) mengetahui pengaruh aplikasi ZPT giberalat (GA3) dengan berbagai konsentrasi terhadap pertumbuhan tanaman padi, (2) mengetahui konsentrasi giberalat (GA3) yang efektif untuk meningkatkan hasil padi, (3) mengetahui pertumbuhan dan hasil produksi padi. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) terdiri dari satu faktor yaitu konsentrasi GA3 dengan lima perlakuan konsentrasi yang berbeda, masing-masing terdiri dari 0.500 ppm (A), 0.375 ppm (B), 0.250 ppm (C), 0.125 ppm (D), dan 0 ppm (E) yang diulang sebanyak lima kali. Data yang diperoleh dari hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis ragam, dilanjutkan dengan uji DMRT pada taraf kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi GA3 sangat nyata berpengaruh terhadap tinggi tanaman, jumlah anakan tanaman, jumlah anakan produktif, jumlah malai hasil per rumpun dan hasil per petak serta berpengaruh nyata terhadap jumlah daun, jumlah gabah per rumpun, bobot 1000 bulir. Konsentrasi yang paling baik adalah 0,375 ppm.
Rice is one of the main food crops to meet the food needs of the Indonesian people. Rice productivity efforts can be increased by using superior varieties and providing growth regulators (ZPT). Gibberellate is a growth regulator that is useful for plants, in low concentrations it can stimulate cell division and elongation (Lingga, 1998). This research aims to determine: (1) determine the effect of application of ZPT gibberalate (GA3) with various concentrations on the growth of rice plants, (2) determine the effective concentration of gibberalate (GA3) for increasing rice yields, (3) determine the growth and yield of rice production This research used a Randomized Block Design (RAK) consisting of one factor, namely GA3 concentration with five different concentration treatments, each consisting of 0.500 ppm (A), 0.375 ppm (B), 0.250 ppm (C), 0.125 ppm (D), and 0 ppm (E) which was repeated five times. Data obtained from the research. results were analyzed using analysis of variance, followed by the DMRT test at an error level of 5%. The results of the research showed that the application of GA3 had a very significant effect on plant height, number of plant tillers, number of productive tillers, number of panicles per hill and yield per plot and had a significant effect on the number of leaves, number of grains per hill, weight of 1000 grains. The best concentration is 0.375 ppm.

3927441767I1D019068Hubungan Keteraturan Makan, Pola Konsumsi Gorengan, dan Tingkat Stres Terhadap Sindrom Dispepsia Fungsional Pada Mahasiswa Universitas Jenderal SoedirmanLatar Belakang: Dispepsia fungsional merupakan gejala umum yang banyak terjadi pada mahasiswa, seperti nyeri perut, mual, muntah, kembung, dan mudah kenyang, yang penyebabnya belum jelas. Faktor risikonya meliputi makanan dan minuman iritatif, ketidakteraturan pola makan, serta tingkat stres. Tujuan penelitian ini mengetahui hubungan antara keteraturan makan, pola konsumsi gorengan,
tingkat stres terhadap sindrom dispepsia fungsional pada mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman.
Metodologi: Desain penelitian ini adalah analitik observasional melalui pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 110 mahasiswa aktif Universitas Jenderal Soedirman angkatan 2019 dan 2020 yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan yaitu kuesioner kriteria Rome IV untuk dispepsia fungsional, kuesioner keteraturan makan, kuesioner FFQ untuk pola konsumsi gorengan, dan kuesioner PSS untuk tingkat stres. Data dianalisis menggunakan uji chi square dan Kolmogorov-Smirnov.
Hasil Penelitian: Terdapat hubungan yang signifikan antara keteraturan makan (p=0,024) terhadap dispepsia fungsional. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pola konsumsi gorengan (p=0,983) dan tingkat stres (p=0,835) terhadap dispepsia fungsional.
Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara keteraturan makan terhadap dispepsia fungsional serta tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pola konsumsi gorengan dan tingkat stres terhadap dispepsia fungsional pada Mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman.

Kata kunci: dispepsia fungsional, gorengan, keteraturan makan, tingkat stres.
Background: Functional dyspepsia is a common gastrointestinal symptom experienced by students, characterized by symptoms such as abdominal pain, nausea, vomiting, bloating, and early satiety, with unclear causes. Risk factors for functional dyspepsia include irritating foods and beverages, irregular eating patterns, and stress levels. The aim of this study was to investigate the relationship between eating regularity, fried food consumption pattern, and stress levels with functional dyspepsia syndrome among students of Jenderal Soedirman University.
Methodology: This study employed an analytical observational design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 110 active students from Jenderal Soedirman University, batches 2019 and 2020, selected through purposive sampling technique. The instruments used were the Rome IV criteria questionnaire for functional dyspepsia, eating regularity questionnaire, FFQ for fried food consumption pattern, and PSS for stress level assessment. Data were analyzed using chi-square test and Kolmogorov-Smirnov test.
Research Findings: There was a significant relationship between eating regularity (p=0.024) and functional dyspepsia. However, no significant relationship was found between fried food consumption pattern (p=0.983) and stress levels (p=0.835) with functional dyspepsia.
Conclusion: Eating regularity is significantly associated with functional dyspepsia, while there is no significant relationship between fried food consumption pattern and stress levels with functional dyspepsia on students of Jenderal Soedirman University.

Keywords: functional dyspepsia, fried food, eating regularity, stress level
3927541772F2A019012Collaborative Governance Dalam Pengembangan Kawasan Situs Semedo Desa Semedo Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten TegalIndustri pariwisata telah berkembang dengan pesat, serta melibatkan banyak aktor dalam usaha pengelolaan maupun pengembangannya. Kawasan Situs Semedo adalah salah satu situs purbakala yang terakhir ditemukan di Pulau Jawa. Keunikan dari situs ini adalah salah satu temuannya yang hanya ada satu satunya di Indonesia yaitu gajah kerdil stegodon. Adanya situs purbakala semedo di Desa Semedo merupakan modal atraksi bagi Desa Semedo untuk menjadi desa wisata. Oleh sebab itu masyarakat Desa Semedo dan Pemerintah Desa Semedo melakukan upaya untuk pengembangan kawasan Situs Semedo. tujuan dari penelitian ini adalah menggambarkan Collaborative governance dalam penguatan kelembagaan pengembangan kawasan Situs Semedo Desa Semedo Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Tegal sebagai modal Desa Semedo menuju desa wisata.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang dilaksanakan di Desa Semedo Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Tegal. Informan penelitian ini adalah Pejabat Pemerintah Desa Semedo, aktivis Komunitas Peduli Situs Semedo, aktivis Kelompok Sadar Wisata Purba Desa Semedo, Pegawai Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata dan Pegawai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal serta Pengelola Museum Semedo. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Fokus penelitian pada sub aspek face to face dialogue, proses negosiasi, komitmen aktor dan proses konsensus.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa collaborative governance dalam pengembangan kawasan Situs Semedo dengan menggunakan pendekatan kolaborasi model Ansell dan Gash dengan sub aspek face to face dialogue, proses negosiasi, komitmen para aktor, dan proses konsensus. Pada proses face to face dialogue bahwa dalam usaha pengembangan kawasan Situs Semedo telah terjadi proses tatap muka, namun proses tersebut hanya melibatkan aktor lokal, sedangkan komunikasi dengan aktor vertikal belum terjadi. Pada proses negosiasi terbentuk jaringan yang bersifat self-governance yang mana masing masing aktor memanajemen mereka sendiri namun terlibat aktif dalam kolaborasi. Pada proses komitmen para aktor berkomitmen mendukung upaya pengembangan kawasan Situs Semedo namun hanya dalam hal pemenuhan tugas semata. Dan pada proses konsensus telah tercapai konsensus dalam pengembangan kawasan Situs Semedo namun muncul aktor dominan didalamnya. Faktor pendukung dalam usaha pengembangan kawasan Situs Semedo adalah antusiasme masyarakat yang tinggi serta adanya komunitas yang kreatif. Sedangkan untuk faktor penghambatnya adalah keterbatasan anggaran, komunikasi antar aktor yang tidak berjalan dengan baik, serta belum adanya regulasi tentang rintisan desa wisata.
Kata kunci: collaborative governance, desa wisata, Situs Semedo
The tourism industry has developed rapidly, and involves many actors in its management and development efforts. The Semedo Site area is one of the last ancient sites discovered on the island of Java. The uniqueness of this site is one of the findings that there is only one in Indonesia, namely the stegodon pygmy elephant. The existence of the Semedo archaeological site in Semedo Village is an attraction capital for Semedo Village to become a tourist village. Therefore the Semedo Village community and the Semedo Village Government are making efforts to develop the Semedo Site area. The purpose of this study is to describe Collaborative governance in strengthening institutional development of the Semedo Site area, Semedo Village, Kedungbanteng District, Tegal Regency as the capital of Semedo Village towards a tourism village.
This study used a qualitative method which was carried out in Semedo Village, Kedungbanteng District, Tegal Regency. The informants of this study were Semedo Village Government Officials, Semedo Site Care Community activists, Ancient Tourism Awareness Group activists in Semedo Village, Employees of the Youth Sports and Tourism Office and Employees of the Tegal Regency Education and Culture Office and the Semedo Museum Manager. Data collection is done by interviews, observation and documentation. The focus of research on sub-aspects of face to face dialogueue, negotiation processes, actor commitment and consensus processes.
The results of the study show that collaborative governance in the development of the Semedo Site area uses the collaborative approach of the Ansell and Gash models with the sub-aspects of face to face dialogueue, negotiation processes, commitment of actors, and consensus processes. In the face to face dialogueue process that in the effort to develop the Semedo Site area there has been a face to face process, but this process only involved local actors, while communication with vertical actors has not taken place. In the negotiation process a self-governance network is formed in which each actor manages their own but is actively involved in collaboration. In the commitment process, the actors are committed to supporting efforts to develop the Semedo Site area, but only in terms of fulfilling their duties. And in the consensus process a consensus was reached in the development of the Semedo Site area but a dominant actor appeared in it. Supporting factors in the effort to develop the Semedo Site area are the high enthusiasm of the community and the existence of a creative community. As for the inhibiting factors, there are limited budgets, communication between actors that is not going well, and the absence of regulations regarding pilot tourism villages.
Keywords: collaborative governance, tourism village, Semedo Site
3927644455I1C020066EFEK PEMBERIAN GEL EKSTRAK ETANOL SAMBILOTO (Andrographis paniculata) DAN KOMBINASINYA DENGAN DAUN LIDAH BUAYA (Aloe vera) TERHADAP LUKA BAKAR PADA TIKUS SECARA HISTOPATOLOGI Sambiloto (Andrographis paniculata) dan lidah buaya memiliki senyawa yang dapat membantu mempercepat proses penyembuhan luka bakar dengan meningkatkan pembentukan pembuluh darah baru, pembentukan sel fibroblas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh gel ekstrak etanol sambiloto (Andrographis paniculata) dan kombinasinya dengan daging daun lidah buaya terhadap penyembuhan luka bakar pada tikus berdasarkan jumlah sel fibroblast dan jumlah pembuluh darah. Penelitian eksperimental menggunakan hewan uji berupa tikus yang dibagi menjadi delapan kelompok perlakuan, meliputi kelompok kontrol positif, kontrol negatif, kelompok perlakuan. Aktivitas penyembuhan luka bakar dilakukan secara mikroskopik dengan menghitung jumlah sel fibroblas dan pembuluh darah baru per lima lapang pandang pada hari ke-14. Hasilnya diolah menggunakan software imageJ dan uji statistik dilakukan dengan menggunakan One-Way ANOVA. Hasil uji one-way ANOVA menunjukkan hasil adanya perbedaan yang signifikan terhadap jumlah sel fibroblas (p < 0,005) antara semua kelompok perlakuan. Namun, tidak memiliki perbedaan yang signifikan (p>0,005) pada peningkatan jumlah pembuluh darah baru. Gel kombinasi ektrak etanol sambiloto (5%) dan lidah buaya 15% memiliki aktivitas penyembuhan terhadap luka bakar paling baik berdasarkan jumlah sel fibroblas dan jumlah pembuluh darah baru. Sambiloto (Andrographis paniculata) and aloe vera contain compound can help speed up the healing process of burn wounds by increasing the formation of new blood vessels and the formation of fibroblast cells. This study aimed to determine the effect of bitter ethanol extract gel (Andrographis paniculata) and its combination with aloe vera leaf flesh on the healing of burn wounds in mice based on the number of fibroblast cells and blood vessels. The experiment design is experimental research used test animals in the form of rats which were divided into eight treatment groups. Burn wound healing activity was carried out microscopically by counting the number of fibroblast cells and new blood vessels field of view on the 14th day. The results were processed using ImageJ software and statistical tests were carried out using One-Way ANOVA. The one-way ANOVA test results showed significant differences in the number of fibroblast cells (p < 0.005) between all treatment groups. However, there was no significant difference (p>0.005) in the increased number of new blood vessels. gel combination of 5% Andrographis ethanol extract and 15% aloe vera has the best healing effectiveness for burns based on the number of fibroblast cells and new blood vessels.
3927744457F1F017001FAKTOR KEBERHASILAN ADVOKASI OLEH ORGANISASI PETANI TRANSNASIONAL LA VIA CAMPESINA DALAM DEKLARASI PBB TENTANG HAK PETANI DAN MASYARAKAT YANG BEKERJA DI PEDESAAN (HAP PBB)

Penelitian yang berjudul “Faktor Keberhasilan Advokasi oleh Organisasi Petani Transnasional La Via Campesina dalam Deklarasi PBB tentang Hak Petani dan Masyarakat yang Bekerja di Pedesaan (HAP PBB)” ini dianalisis menggunakan teori gerakan sosial dan mekanisme dalam teori gerakan sosial. Fokus penelitian ini adalah mengalanisis apa saja faktor keberhasilan advokasi oleh organisasi petani transnasional La Via Campesina dalam menginisiasi dan meloloskan Deklarasi PBB tentang Hak Petani dan Masyarakat yang Bekerja di Pedesaan (HAP PBB). Berdasarkan data-data yang diperoleh, struktur kesempatan politik, struktur mobilisasi, dan framing berperan penting dalam proses advokasi hingga La Via campesina mencapai tujuannya yakni meloloskan instrumen tersebut.

The research entitled " Success Factors in Advocacy by the Transnational Farmers Organization La Via Campesina in the United Nations Declaration on the Rights of Peasant and Other People Working in Rural Areas" analyzes using social movement theory and mechanisms within that theory. It focuses on identifying the successful advocacy factors by La Via Campesina in initiating and passing the UN Declaration on the Rights of Peasants and Other People Working in Rural Areas. The research finds that political opportunity structures, mobilization structures, and framing are crucial in the advocacy process, leading to the successful adoption of the declaration.
3927841774I1D019042Hubungan Tingkat Kecukupan Zat Besi dan Magnesium, serta Aktivitas Fisik dengan Kejadian Dismenorea Primer pada Mahasiswi Universitas Jenderal SoedirmanLatar Belakang: Remaja akhir merupakan salah satu kelompok yang sering mengalami dismenorea
primer. Prevalensi dismenorea primer di Indonesia diketahui sebesar 72,89%. Penyebab dismenorea
primer belum diketahui secara pasti, namun beberapa penelitian menyebutkan asupan zat besi dan
magnesium, serta aktivitas fisik menjadi faktor penyebab dismenorea primer. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui hubungan antara tingkat kecukupan zat besi dan magnesium, serta aktivitas fisik
dengan kejadian dismenorea primer pada mahasiswi Universitas Jenderal Soedirman.

Metodologi : Penelitian menggunakan desain cross sectional terhadap 105 responden berusia 18-23
tahun dengan teknik cluster sampling. Instrumen yang digunakan yaitu IPAQ-SF untuk aktivitas fisik
dan Numeric Rating Scale (NRS) untuk dismenorea primer. Konsumsi zat besi dan magnesium diperoleh
melalui SQ-FFQ berisi makanan sumber zat besi dan magnesium. Analisis data statistik menggunakan
Uji Likelihood.

Hasil Penelitian : Tingkat kecukupan zat besi defisit (86,7%) dan normal (13,3%). Tingkat kecukupan
magnesium defisit (97,1%) dan normal (2,9%). Aktivitas fisik rendah (34,3%), sedang (59%), dan tinggi
(6,7%). Dismenorea primer dengan nyeri berat (19%), nyeri sedang (49,5%), nyeri ringan (21%), dan
tidak nyeri (10,5%). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kecukupan zat besi
(p=0,346) dan magnesium (p=0,732) dengan kejadian dismenorea primer. Terdapat hubungan yang
signifikan antara aktivitas fisik (p=0,029) dengan kejadian dismenorea primer.

Kesimpulan : Terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan kejadian dismenorea primer pada
mahasiswi Universitas Jenderal Soedirman.

Kata Kunci : aktivitas fisik, dismenorea primer, magnesium, zat besi
Background : Late adolescents are one of the groups that often experience primary dysmenorrhea. The
prevalence of primary dysmenorrhea in Indonesia is known to be 72,89%. The etiology of primary
dysmenorrhea isn’t known with certainty, but several studies have stated that iron and magnesium intake,
and physical activity are factors that cause primary dysmenorrhea. This study aims to analyze the
correlation between the level of adequacy of iron and magnesium, and physical activity with the
incidence of primary dysmenorrhea in female students at Jenderal Soedirman University.

Methods : This research used a cross sectional design of 105 respondents aged 18-23 years with a cluster
sampling method. The instruments used were the IPAQ-SF for physical activity and the Numeric Rating
Scale (NRS) for primary dysmenorrhea. Iron and magnesium intake was obtained using SQ-FFQ
containing food sources of iron and magnesium. Statistical data analysis using the Likelihood test.

Results : Deficit (86,7%) and normal (13,3%) levels of iron adequacy. Deficit (97,1%) and normal
(2,9%) levels of magnesium adequacy. Low (34,3%), moderate (59%), and high (6,7%) physical activity.
Primary dysmenorrhea with severe pain (19%), moderate pain (49,5%), mild pain (21%), and no pain
(10,5%). There was no correlation between iron (p=0,346) and magnesium adequacy levels (p=0,732)
with primary dysmenorrhea. There was a significant correlation between physical activity (p=0,029)
with primary dysmenorrhea.

Conclusion : There was a correlation between physical activity with primary dysmenorrhea in female
students at Jenderal Soedirman University.
3927941775D1A016128PERFORMA PRODUKSI AYAM BROILER KANDANG CLOSE HOUSE PADA POSISI LANTAI YANG BERBEDAKarya ilmiah ini berjudul “Performa Produksi Ayam Broiler Kandang Close House Pada Posisi Lantai Yang Berbeda”. Keberhasilan dalam pemeliharaan ayam pedaging dapat dilihat dari beberapa faktor yaitu letak kandang, suhu, kelembapan, kualitas pakan, ketinggian wilayah pemeliharaan, dan manajemen pemeliharaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh perbedaan posisi lantai kandang berdasarkan performa produksi ayam broiler di PT. Cemerlang Unggas Lestari Kebumen menggunakan metode survei dan observasi (pengamatan). Sampel penelitian diambil secara langsung pada saat observasi di tiga lantai kandang closed house dengan posisi lantai kandang atas, tengah dan bawah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks performa lantai kandang atas memperoleh nilai IP tertingi yaitu pada lantai atas sebesar 405 dan pada IP tertinggi kedua terdapat pada lantai bawah sebesar 381 kemudian yang terendah terdapat pada lantai tengah dengan IP sebesar 359.This scientific paper is entitled "Production Performance of Close House Cage Broiler Chickens in Different Floor Positions". Success in broiler rearing can be seen from several factors, namely the location of the cage, temperature, humidity, feed quality, height of the maintenance area, and maintenance management. This study aims to examine the effect of different cage floor positions based on broiler chicken production performance at PT. Cemerlang Unggas Lestari Kebumen uses survey and observation methods. The study sample was taken directly at the time of observation on three floors of closed house cages with the position of the upper, middle and lower cage floors. The results showed that the upper cage floor performance index obtained the highest IP value, namely on the upper floor of 405 and the second highest IP was on the lower floor of 381 then the lowest was on the middle floor with IP of 359.
3928041776I1D019043HUBUNGAN RIWAYAT IMD, ASI, DAN WASTING DENGAN PENYAKIT INFEKSI PADA BAYI (USIA 7-24 BULAN)Latar Belakang: Penyebab kematian pada bayi didominasi oleh penyakit ISPA (9,4%) dan diare (10,6%) karena bayi belum memiliki kekebalan yang cukup untuk melindungi dirinya sehingga bayi masih rentan terhadap virus dan bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara riwayat inisiasi menyusui dini, riwayat pemberian ASI, dan wasting dengan kejadian penyakit infeksi pada bayi (usia 7-24 bulan) di wilayah kerja Puskesmas Kembaran I Kabupaten Banyumas.
Metodologi: Penelitian ini bersifat kuantitatif observasional dengan pendekatan cross sectional. Sebanyak 33 sampel diambil dengan metode proportionate random sampling dari seluruh bayi usia 7-24 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Kembaran I. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara selama posyandu dengan instrument kuesioner. Analisis data menggunakan fisher exact.
Hasil Penelitian: Tidak ada hubungan yang signifikan antara riwayat IMD (p= 1,000) dan riwayat pemberian ASI (p= 0,643) dengan kejadian penyakit infeksi. Ada hubungan antara wasting dengan kejadian penyakit infeksi (p= 0,035).
Kesimpulan: Riwayat IMD dan riwayat pemberian ASI tidak memiliki hubungan dengan kejadian penyakit infeksi, sedangkan wasting memiliki hubungan dengan kejadian penyakit infeksi di Wilayah Kerja Puskesmas Kembaran I.
Background: Infants mortality are dominated by acute respiratory infections (ARI) (9,4%) and diarrhea (10,6%) because infants do not have sufficient immunity to protect themselves from viruses and bacteria. This study aims to determine the relationship between early breastfeeding initiation, breastfeeding, and wasting with infectious disease among infants (7-24 months).
Methodology: This research is a quantitative observational study with a cross sectional approach. Total 33 samples were taken using proportional random sampling from all infants aged 7-24 months in the working area Kembaran I Public Health Center, Banyumas Regency. The data were collected during posyandu by interviewing with questionnaire. Fisher Exact used to determine if there is significant association between the variable.
Research Findings: There was no significant association between early breastfeeding (p = 1.000) and breastfeeding (p = 0.643) with infectious diseases. There is an association between wasting and infectious diseases (p = 0.035).
Conclusion: There was no significant association between IMD and breastfeeding with infectious diseases. There is an association between wasting and infectious diseases in in the working area Kembaran I Public Health Center.