Home
Login.
Artikelilmiahs
41726
Update
RIZKY DEVONTI RACHMATYA
NIM
Judul Artikel
HUBUNGAN FREKUENSI PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KECUKUPAN ENERGI PADA REMAJA AKHIR GIZI LEBIH DI KECAMATAN PEDURUNGAN KOTA SEMARANG
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Latar Belakang: Kecamatan Pedurungan memiliki prevalensi status gizi lebih sebesar 19,7% dimana angka ini tergolong tinggi. Remaja dengan status gizi gemuk berisiko mengalami berbagai macam penyakit. Dampak negatif kemudahan akses mengakibatkan pengakses media sosial merasa dimanjakan sehingga menjadi malas dalam beraktivitas. Instagram merupakan salah satu media sosial yang sering diakses. Jika aktivitas fisik cenderung kurang dan tidak diimbangi dengan pola makan yang baik dan asupan gizi yang sesuai kebutuhan maka akan mengalami masalah gizi lebih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan frekuensi penggunaan media sosial dan aktivitas fisik dengan kecukupan energi pada remaja akhir gizi lebih di wilayah Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah studi observasional dengan desain studi cross-sectional. Sampel pada penelitian ini adalah sebagian remaja akhir gizi lebih di wilayah Kecamatan Pedurungan menggunakan teknik quota sampling. Data kecukupan energi diukur dengan food recall 2x24 jam, aktivitas fisik diperoleh dengan menggunakan kuesioner IPAQ, dan frekuensi penggunaan Instagram menggunakan kuesioner SONTUS. Analisis bivariat menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil Penelitian: Sebagian besar responden memiliki kecukupan energi yang kurang (72,1%), frekuensi penggunaan media sosial tinggi (57,4%), dan tingkat ativitas fisik rendah (52,5%). Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara frekuensi penggunaan media sosial dengan kecukupan makan responden p = 0,576 (p>0,05). Tidak terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan kecukupan makan responden p = 0,842 (p>0,05). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara frekuensi penggunaan media sosial dengan kecukupan makan responden. Tidak terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan kecukupan makan responden.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Background: Pedurungan sub-district has a prevalence of overweight status of 19.7%, which is high. Adolescents with obese nutritional status are at risk of various diseases. The negative impact of easy access results in social media accessers feeling spoiled so that they become lazy in their activities. Instagram is one of the social media that is often accessed. If physical activity tends to be lacking and is not balanced with a good diet and nutritional intake according to needs, it will experience problems of overnutrition. This study aims to determine the relationship between frequency of social media use and physical activity with energy intake in overnourished late adolescents in Pedurungan District, Semarang City. Methods: The type of research used was observational study with cross-sectional study design. Samples in this study were some overnourished late adolescents in Pedurungan Subdistrict using quota sampling technique. Energy adequacy data was measured by 2x24 hour food recall, physical activity was obtained using IPAQ questionnaire, and frequency of Instagram use using SONTUS questionnaire. Bivariate analysis used Spearman correlation test. Results: Most of the respondents had insufficient energy (72.1%), high frequency of social media use (57.4%), and low level of physical activity (52.5%). The results of statistical analysis showed that there was no relationship between the frequency of social media use and the adequacy of respondents' diet p = 0.576 (p>0.05). There is no relationship between physical activity and respondents' dietary adequacy p = 0.842 (p>0.05). Conclusion: There is no relationship between frequency of social media use and respondents' dietary adequacy. There is no relationship between physical activity and respondents' dietary adequacy.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save