Artikelilmiahs
Menampilkan 48.921-48.935 dari 48.935 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 48921 | 52279 | D1A022007 | HUBUNGAN ANTARA JUMLAH ANGGOTA DAN LAMA BERDIRINYA KELOMPOK DENGAN MODAL SOSIAL PADA KELOMPOK PETERNAK SAPI POTONG DI KABUPATEN BANYUMAS | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rata-rata jumlah anggota dan lama berdirinya kelompok, tingkat modal sosial, serta hubungan antara jumlah anggota dan lama berdirinya kelompok dengan modal sosial. Penelitian dilaksanakan pada 4 Februari-1 Maret 2026 di Kecamatan Kalibagor, Sumbang, dan Kembaran, Kabupaten Banyumas dengan responden sebanyak 105 anggota kelompok peternak sapi potong yang ditentukan secara sensus. Metode penelitian secara survey, data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan uji korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menggambarkan bahwa jumlah anggota kelompok terendah 5 anggota, tertinggi 30 anggota dan lama berdirinya kelompok terendah 1 tahun, tertinggi 13 tahun. Tingkat modal sosial anggota kelompok peternak sapi potong di Kabupaten Banyumas tergolong tinggi (53,33%), modal sosial berdasarkan indikator jaringan kerja sama termasuk kategori tinggi (60%), kepercayaan termasuk kategori sedang (50,48%) sampai tinggi (45,71%), dan norma termasuk kategori tinggi (59,05%). Hasil uji korelasi Rank Spearman menggambarkan adanya hubungan positif dan signifikan dengan tingkat korelasi cukup antara jumlah anggota kelompok dengan modal sosial (ρ = 0,426; p < 0,001) serta hubungan positif dan signifikan dengan tingkat korelasi kuat antara lama berdirinya kelompok dengan modal sosial (ρ = 0,727; p < 0,001). Kesimpulan penelitian ini adalah semakin banyak jumlah anggota dan semakin lama kelompok berdiri akan meningkatkan modal sosial kelompok. Rekomendasi dari penelitian ini adalah kelompok peternak harus tetap dipertahankan secara eksistensi dan fungsi serta menjaga anggota yang sudah bergabung, sehingga peternak akan memiliki modal sosial yang kuat. | This study aims to determine the average number of members and the length of time the group has been established, the level of social capital, and the relationship between the number of members and the length of time the group has been established with social capital. The study was conducted on February 4 - March 1, 2026 in Kalibagor, Sumbang, and Kembaran Districts, Banyumas Regency with 105 members of beef cattle farmer groups determined by census. The research method was a survey, data were collected through interviews and observations, then analyzed using descriptive analysis and Spearman's Rank correlation test. The results of the study illustrate that the lowest number of group members was 5 members and the highest was 30 members and the lowest length of group existence was 1 year and the highest was 13 years. The level of social capital of members of beef cattle farmer groups in Banyumas Regency is classified as high (53.33%), social capital based on the cooperation network indicator is included in the high category (60%), trust is included in the medium category (50.48%) to high (45.71%), and norms are included in the high category (59.05%). The Spearman Rank correlation test results indicate a positive and significant relationship, with a moderate correlation, between the number of group members and social capital (ρ = 0.426; p < 0.001), and a positive and significant relationship, with a strong correlation, between the length of group existence and social capital (ρ = 0.727; p < 0.001). The conclusion of this study is that a greater number of members and a longer period of existence of the group will increase the group's social capital. The recommendation from this study is that livestock groups must be maintained in terms of their existence and function, and that existing members be retained to ensure strong social capital. | |
| 48922 | 52280 | F1B022066 | Penerapan E-Government melalui Sistem Rekapitulasi Berbasis Elektronik pada Pemilihan Umum 2024 di Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Banyumas | Rekapitulasi suara berbasis elektronik pada Pemilihan Umum 2024 di Kabupaten Banyumas menghadapi kompleksitas tinggi. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penerapan e-government melalui sistem rekapitulasi berbasis elektronik pada Pemilihan umum 2024 di Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Banyumas berdasarkan elemen sukses e-government: dukungan, kapasitas, dan nilai. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan dilakukan di Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Banyumas dengan sasaran pihak-pihak yang terlibat dalam rekapitulasi suara berbasis elektronik pada Pemilu 2024, baik dari sisi teknis operasional maupun kebijakan. Informan dipilih melalui purposive sampling. Data primer diperoleh melalui wawancara, sedangkan data sekunder melalui observasi dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana serta diuji melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan telah berjalan melalui komunikasi dan bimbingan teknis, meskipun bimbingan teknis belum sepenuhnya kondusif di tingkat KPPS. Kapasitas relatif memadai dari sisi jaringan, dan perangkat, namun masih terdapat kendala teknis, rekrutmen SDM, serta alokasi anggaran. Pada aspek nilai, transparansi dan efisiensi belum optimal, tetapi monitoring dan akses data real time telah dirasakan. Dapat disimpulkan bahwa penerapan SIREKAP cukup baik, namun belum optimal. | The electronic-based vote recapitulation in the 2024 General Election in Banyumas Regency faced high complexity. This study aims to describe the implementation of e-government through an electronic-based recapitulation system in the 2024 General Election at the Banyumas Regency General Election Commission, based on the key elements of e-government success: support, capacity, and value. This research employs a descriptive qualitative approach and was conducted at the General Election Commission of Banyumas Regency, targeting parties involved in the electronic vote recapitulation process in the 2024 General Election, both in terms of technical operations and policy. Informants were selected through purposive sampling. Primary data were obtained through interviews, while secondary data were collected through observation and documentation. Data were analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldana and validated through source and technique triangulation. The results show that support has been implemented through communication and technical guidance, although the technical guidance has not been fully conducive at the KPPS level. Capacity is relatively adequate in terms of network and equipment; however, technical issues, human resource recruitment, and budget allocation remain challenges. In terms of value, transparency and efficiency are not yet optimal, although monitoring and real-time data access have been achieved. It can be concluded that the implementation of SIREKAP is fairly good, but not yet optimal. | |
| 48923 | 52281 | E1A022197 | KEDUDUKAN HAK IMUNITAS ADVOKAT DALAM PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA ATAS OBSTRUCTION OF JUSTICE TINDAK PIDANA KORUPSI | KEDUDUKAN HAK IMUNITAS ADVOKAT DALAM PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA ATAS OBSTRUCTION OF JUSTICE TINDAK PIDANA KORUPSI Oleh : Selfia Anggita E1A022197 Abstrak Sistem peradilan yang baik mensyaratkan kepada penegak hukum untuk transparan dan berkeadilan. Namun, fenomena hukum yang berkaitan dengan proses penegakan hukum, yakni obstruction of justice menjadi permasalahan yang dapat menciderai proses penegakan hukum. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kedudukan hak imunitas advokat dalam pertanggungjawaban pidana atas obstruction of justice serta keterkaitan antara Pasal 16 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat dan Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, kasus, dan konseptual. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hak imunitas bersifat tidak absolut, tetap dibatasi dengan itikad baik. Hak imunitas advokat hanya berlaku sepanjang advokat menjalankan tugasnya dengan itikad baik, tidak menyimpang kode etik, serta tidak bertentangan dengan ketentuan hukum yang berlaku. Konflik norma antara kedua pasal tersebut diselesaikan melalui Putusan MK No. 26/PUU-XI/2013, Putusan MK No. 7/PUU-XI/2018, dan Putusan MK No. 71/PUU-XXIII/2025 yang menyatakan frasa “secara langsung dan tidak langsung” pada Pasal 21 UU PTPK menimbulkan overcriminalization. Harmonisasi dicapai melalui tiga tolok ukur yakni itikad baik, unsur pertanggungjawaban pidana, dan prinsip equality before the law. Kata Kunci : Hak Imunitas Advokat, Obstruction of Justice, Pertanggungjawaban Pidana, Tindak Pidana Korupsi | THE POTITION OF ADVOCATES’ IMMUNITY RIGHTS IN CRIMINAL LIABILITY FOR OBSTRUCTION OF JUSTICE IN CORRUPTION CRIMES By: Selfia Anggita E1A022197 Abstract A good judicial system requires transparent and fair law enforcement to maintain public trust. However, obstruction of justice remains a critical phenomenon that can undermine the integrity of the law enforcement process. This study analyzes the position of attorney immunity rights in criminal liability for obstruction of justice, particularly the normative relationship between Article 16 of Law Number 18 of 2003 on Advocates and Article 21 of Law Number 31 of 1999 in conjunction with Law Number 20 of 2001 on the Eradication of Corruption. Using a normative juridical method with legislative, case-based, and conceptual approaches, this study finds that immunity rights are not absolute and are bounded by good faith. Advocate immunity applies only when advocates perform their duties in good faith, comply with the code of ethics, and act within applicable legal provisions. The normative conflict between both articles was resolved through Constitutional Court Decisions No. 26/PUU-XI/2013, No. 7/PUU-XI/2018, and No. 71/PUU-XXIII/2025, which found that the phrase "directly and indirectly" in Article 21 of the Corruption Law causes overcriminalization. Harmonization is achieved through three benchmarks: good faith, elements of criminal liability, and equality before the law. Keywords: Advocate Immunity Rights, Obstruction of Justice, Criminal Liability, Corruption. | |
| 48924 | 52282 | H1B021092 | PEMODELAN DAMPAK PERUBAHAN IKLIM TERHADAP DEBIT ALIRAN RENDAH DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) TAJUM MENGGUNAKAN MODEL HIDROLOGI SWAT | Perubahan iklim berpotensi memengaruhi keberlanjutan sistem hidrologi, khususnya pada kondisi debit aliran rendah. Penelitian ini menganalisis dampak perubahan iklim terhadap debit aliran rendah di Daerah Aliran Sungai (DAS) Tajum menggunakan model Soil and Water Assessment Tool (SWAT) yang dikalibrasi pada periode 2010–2012 dan divalidasi pada periode 2013–2014. Hasil kalibrasi menunjukkan nilai koefisien korelasi sebesar 0,717, Nash–Sutcliffe Efficiency (NSE) sebesar 0,26, Kling–Gupta Efficiency (KGE) sebesar 0,65, dan Percent Bias (PBIAS) sebesar +4,6%, sedangkan pada tahap validasi diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 0,887, NSE sebesar 0,18, KGE sebesar 0,55, dan PBIAS sebesar −7,38%, yang menunjukkan bahwa model SWAT mampu merepresentasikan pola debit aliran sungai di DAS Tajum dengan kinerja yang cukup baik. Simulasi debit masa depan dilakukan menggunakan proyeksi iklim IPCC AR6 pada skenario SSP1–2.6, SSP2–4.5, SSP3–7.0, dan SSP5–8.5. Hasil simulasi menunjukkan bahwa debit puncak tertinggi terjadi pada skenario SSP2–4.5 sebesar 420 m³/s, sedangkan debit puncak terendah terjadi pada skenario SSP5–8.5 sebesar 377 m³/s. Analisis debit aliran rendah menggunakan parameter Q95 pada seluruh skenario menunjukkan nilai yang bervariasi, yaitu sebesar 1,21 m³/s pada SSP1–2.6, 0,954 m³/s pada SSP2–4.5, 1,07 m³/s pada SSP3–7.0, dan 1,08 m³/s pada SSP5–8.5. Variasi tersebut menunjukkan bahwa tingkat emisi memengaruhi kondisi debit aliran rendah di DAS Tajum. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan iklim berpotensi memengaruhi ketersediaan air pada periode aliran rendah dan perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan. | Climate change potentially affects the sustainability of hydrological systems, particularly under low-flow conditions. This study analyzes the impacts of climate change on low-flow discharge in the Tajum Watershed using the Soil and Water Assessment Tool (SWAT) model, calibrated for the period 2010–2012 and validated for 2013–2014. The calibration results show a correlation coefficient of 0.717, a Nash–Sutcliffe Efficiency (NSE) of 0.26, a Kling–Gupta Efficiency (KGE) of 0.65, and a Percent Bias (PBIAS) of +4.6%, while the validation results yield a correlation coefficient of 0.887, an NSE of 0.18, a KGE of 0.55, and a PBIAS of −7.38%, indicating that the SWAT model adequately represents streamflow patterns in the Tajum Watershed. Future discharge simulations were conducted using climate projections from the IPCC Sixth Assessment Report (AR6) under the SSP1–2.6, SSP2–4.5, SSP3–7.0, and SSP5–8.5 scenarios. The results indicate that the highest peak discharge occurs under the SSP2–4.5 scenario (420 m³/s), while the lowest peak discharge occurs under the SSP5–8.5 scenario (377 m³/s). Low-flow analysis using the Q95 index across all scenarios shows varying values of 1.21 m³/s (SSP1–2.6), 0.954 m³/s (SSP2–4.5), 1.07 m³/s (SSP3–7.0), and 1.08 m³/s (SSP5–8.5). These variations indicate that emission levels influence low-flow conditions in the Tajum Watershed. The findings highlight that climate change may affect water availability during low-flow periods and should be considered in sustainable water resources management. | |
| 48925 | 52283 | H1D022008 | IMPLEMENTASI CHATBOT DENGAN METODE INDOBERT UNTUK PREDIKSI KODE KBLI 5 DIGIT PADA USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH (UMKM) BERBASIS WEBSITE | Kesulitan dalam menentukan kode Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 5 digit masih menjadi permasalahan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), terutama akibat perbedaan antara istilah formal dalam dokumen KBLI dan bahasa sehari-hari yang digunakan dalam mendeskripsikan usaha. Oleh karena itu, diperlukan suatu sistem yang mampu memahami deskripsi usaha secara alami serta memberikan rekomendasi kode KBLI yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengimplementasikan chatbot berbasis website yang mampu memprediksi kode KBLI 5 digit berdasarkan deskripsi usaha pengguna menggunakan model IndoBERT. Metode pengembangan sistem yang digunakan adalah Waterfall dengan tahapan analisis kebutuhan, perancangan, implementasi, dan pengujian. Perancangan sistem dilakukan menggunakan Unified Modeling Language (UML). Sistem dikembangkan menggunakan framework Flask dan diintegrasikan dengan model IndoBERT-base yang telah melalui proses fine-tuning untuk tugas klasifikasi teks. Selain itu, sistem juga memanfaatkan Large Language Model (LLM) melalui OpenRouter dengan model Gemini Flash Lite untuk menghasilkan respons chatbot yang lebih natural dan mudah dipahami. Hasil pengujian menunjukkan bahwa model memperoleh validation accuracy sebesar 81,73%, F1-score sebesar 81,75%, dan validation loss sebesar 0,491. Evaluasi Top-K Accuracy menunjukkan nilai Top-1 Accuracy sebesar 81,74% dan Top-5 Accuracy sebesar 95,40%, yang menunjukkan kemampuan model dalam memberikan beberapa kandidat kode KBLI yang relevan. Penggunaan IndoBERT berbasis website memungkinkan sistem memahami konteks bahasa alami pengguna sehingga proses klasifikasi menjadi lebih otomatis dan akurat. Dengan demikian, sistem chatbot yang dikembangkan dapat digunakan sebagai alat bantu bagi pelaku UMKM dalam menentukan kode KBLI secara cepat, interaktif, dan tepat. | Difficulties in determining the 5-digit Indonesian Standard Industrial Classification (KBLI) code remain a challenge for Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs), primarily due to the discrepancy between formal terminology in KBLI documents and the everyday language used to describe business activities. Therefore, a system is needed that can understand business descriptions in natural language and provide accurate KBLI code recommendations This study aims to design and implement a web-based chatbot capable of predicting 5-digit KBLI codes based on user-provided business descriptions using the IndoBERT model. The system development method employed is the Waterfall model, which includes requirement analysis, system design, implementation, and testing stages. System design is carried out using Unified Modeling Language (UML). The system is developed using the Flask framework and integrated with a fine-tuned IndoBERT-base model for text classification tasks. In addition, the system utilizes a Large Language Model (LLM) through OpenRouter with the Gemini Flash Lite model to generate more natural and user-friendly chatbot responses. The evaluation results show that the model achieves a validation accuracy of 81.73%, an F1-score of 81.75%, and a validation loss of 0.491. In addition, the Top-K Accuracy evaluation yields a Top-1 Accuracy of 81.74% and a Top-5 Accuracy of 95.40%, indicating the model’s ability to provide several relevant KBLI code candidates The use of IndoBERT in a web-based system enables better understanding of user natural language context, making the classification process more automated and accurate. Therefore, the developed web-based chatbot system can serve as an effective tool to assist MSMEs in determining KBLI codes quickly, interactively, and accurately | |
| 48926 | 52284 | A1G022004 | ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PRODUKSI PEPAYA CALIFORNIA (Carica papaya L. ) DI DESA TAMBAKMULYO KECAMATAN PURING KABUPATEN KEBUMEN | Desa Tambakmulyo merupakan salah satu penghasil pepaya di Kecamatan Puring, Kabupaten Kebumen. Penggunaan faktor-faktor produksi yang dapat memengaruhi produksi pepaya california adalah luas lahan, jumlah pohon, tenaga kerja, pupuk organik, pupuk NPK, pupuk ZA, pupuk KNO3, pupuk KCl, insektisida, fungisida, dan herbisida. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui jumlah biaya, penerimaan dan pendapatan petani pepaya dan faktor-faktor yang memengaruhi produksi pepaya di Desa Tambakmulyo, Kecamatan Puring, Kabupaten Kebumen. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu survei. Pemilihan lokasi tersebut dilakukan secara sengaja (purposive) dan dilaksanakan pada bulan September tahun 2024. Metode pengambilan sampel dengan cara sensus dengan jumlah petani sebanyak 30 petani. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis deskriptif dan analisis fungsi produksi Cobb-Douglas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani pepaya di Desa Tambakmulyo rata-rata berjenis kelamin laki-laki, usia produktif 15-64 tahun, tingkat pendidikan sebagian besar sekolah dasar, pengalaman usahatani 5-10 tahun dan lebih dari 10 tahun, memiliki luas lahan kurang dari 0,5 hektar, dan jumlah tanggungan keluarga rata-rata 3-4 orang. Rata-rata biaya total usahatani pepaya adalah Rp12.361.832,00 per tahun, rata-rata penerimaan sebesar Rp16.081.433,00 per tahun, rata-rata pendapatan atas biaya tunai sebesar Rp9.948.851,00 per tahun, dan rata-rata pendapatan atas seluruh biaya adalah Rp3.719.602,00 per tahun. Hasil analisis faktor yang memengaruhi produksi usahatani pepaya di Desa Tambakmulyo yaitu variabel jumlah pohon (X2), tenaga kerja (X3) dan pupuk organik (X4) berpengaruh signfikan terhadap produksi usahatani pepaya. | Tambakmulyo Village was one of the papaya-producing areas in Puring Subdistrict, Kebumen Regency. The production factors that affected California papaya production included land area, number of trees, labor, organic fertilizer, NPK fertilizer, ZA fertilizer, KNO₃ fertilizer, KCl fertilizer, insecticides, fungicides, and herbicides. This study aimed to determine the costs, revenues, and incomes of papaya farmers and to analyze the factors affecting papaya production in Tambakmulyo Village, Puring Subdistrict, Kebumen Regency. The research method used was a survey. The study location was selected purposively and was conducted in September 2024. The sampling method used was a census, involving 30 papaya farmers. The data were analyzed using descriptive analysis and the Cobb–Douglas production function analysis. The results showed that papaya farmers in Tambakmulyo Village were predominantly male, within the productive age range of 15–64 years, had mostly elementary school education, had 5–10 years and more than 10 years of farming experience, owned land areas of less than 0.25 hectares, and had an average of 3–4 family dependents. The average total cost of papaya farming was Rp12.361.832,00 per year, the average revenue was Rp12.361.832,00 per year, the average income based on cash costs was Rp9.948.851,00 per year, and the average income based on total costs was Rp3.719.602,00 per year. The analysis of production factors indicated that the number of trees (X2), labor (X3), and organic fertilizer (X4) significantly affected papaya production in Tambakmulyo Village. | |
| 48927 | 52213 | H1D022017 | Implementasi Hybrid Weighting System Berbasis Integrasi ROC, Random Forest, dan TOPSIS Pada Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Peserta Magang Terbaik di PT Wesclic Neotech Indonesia | Pemilihan peserta magang terbaik sering kali menghadapi kendala subjektivitas dan pemanfaatan data historis yang kurang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk membangun sistem pendukung keputusan berbasis website di PT Wesclic Neotech Indonesia menggunakan metode hybrid weighting yang mengintegrasikan Rank Order Centroid (ROC) dan random forest. Sistem dikembangkan dengan framework Laravel dan FastAPI untuk menghubungkan pengelolaan data dengan pemrosesan machine learning. Metode ROC digunakan untuk menentukan bobot kriteria awal berdasar prioritas, sementara algoritma random forest mengekstraksi bobot objektif melalui nilai feature importance dengan tingkat akurasi model mencapai 0,944. Bobot final yang dihasilkan kemudian diproses menggunakan metode TOPSIS untuk menentukan perankingan akhir peserta secara presisi. Hasil pengujian black box menunjukkan seluruh fitur fungsional berjalan sesuai spesifikasi. Kesimpulannya, implementasi sistem ini memberikan solusi mutlak bagi divisi HRD dalam menghasilkan rekomendasi pemilihan peserta magang terbaik yang transparan, objektif, dan terukur dengan memanfaatkan polarisasi data aktual. | The selection of the best interns often faces challenges of subjectivity and suboptimal utilization of historical data. This research aims to develop a website-based decision support system at PT Wesclic Neotech Indonesia using a hybrid weighting method that integrates Rank Order Centroid (ROC) and random forest. The system was developed using Laravel and FastAPI frameworks to connect data management with machine learning processing. The ROC method is utilized to determine initial criteria weights based on company priorities, while the random forest algorithm extracts objective weights through feature importance values, achieving a model accuracy rate of 0.944. The generated final weights are subsequently processed using the TOPSIS method to precisely determine the final ranking of the participants. Black-box testing results demonstrate that all functional features operate according to specifications. In conclusion, the implementation of this system provides a definitive solution for the HR department in generating transparent, objective, and measurable recommendations for selecting the best interns by utilizing actual data polarization. | |
| 48928 | 52285 | D1A022191 | HUBUNGAN MOTIVASI DAN ETOS KERJA PETERNAK DENGAN PENDAPATAN USAHA PETERNAKAN SAPI POTONG DI KABUPATEN BANYUMAS | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat motivasi dan etos kerja peternak, menganalisis pendapatan usaha peternakan sapi potong, serta mengkaji hubungan antara motivasi dan etos kerja dengan pendapatan peternak di Kabupaten Banyumas. Penelitian dilaksanakan dengan metode survei terhadap 240 peternak sapi potong yang dipilih secara Proportional sampling dari total populasi sebanyak 601 peternak yang tersebar di sembilan desa pada tiga kecamatan. Selanjutnya, teknik pengambilan responden di lapangan dilakukan dengan metode accidental sampling. Data yang digunakan terdiri atas data primer yang diperoleh melalui wawancara dan kuesioner, serta data sekunder yang bersumber dari instansi terkait. Analisis data meliputi analisis deskriptif untuk menggambarkan tingkat motivasi dan etos kerja peternak, analisis pendapatan menggunakan pendekatan cash flow, serta analisis korelasi Rank Spearman untuk mengetahui hubungan antar variabel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi dan etos kerja peternak berada pada kategori sedang. Rata-rata pendapatan usaha peternakan sapi potong berada pada kategori sedang, yaitu sebesar Rp 12.437.592 per tahun, yang merupakan selisih antara total penerimaan dan total biaya produksi selama satu tahun. Hasil analisis korelasi Rank Spearman menunjukkan bahwa motivasi peternak memiliki hubungan yang sangat lemah dan berarah negatif namun signifikan terhadap pendapatan, sedangkan etos kerja tidak menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap pendapatan peternak. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa motivasi memiliki keterkaitan terhadap pendapatan meskipun dalam tingkat yang rendah, sedangkan etos kerja belum menunjukkan pengaruh yang nyata. Kata kunci : Motivasi, Etos Kerja, Pendapatan, Sapi Potong, Peternak. | This study aims to determine the level of farmers’ motivation and work ethic, analyze the income of beef cattle farming, and examine the relationship between motivation and work ethic with farmers’ income in Banyumas Regency. The research was conducted using a survey method involving 240 beef cattle farmers selected through proportional sampling from a total population of 601 farmers distributed across nine villages in three sub-districts. Furthermore, respondents were selected in the field using an accidental sampling technique. The data used consisted of primary data obtained through interviews and questionnaires, as well as secondary data from related institutions. Data analysis included descriptive analysis to describe the level of motivation and work ethic, income analysis using a cash flow approach, and Spearman Rank correlation analysis to determine the relationship between variables. The results showed that the levels of motivation and work ethic of farmers were in the moderate category. The average income of beef cattle farming was also in the moderate category, amounting to IDR 12,437,592 per year, calculated as the difference between total revenue and total production costs over one year. The Spearman Rank correlation analysis indicated that farmers’ motivation had a very weak and negative but significant relationship with income, while work ethic did not show a significant relationship with farmers’ income. It can be concluded that motivation has a relationship with income, although at a low level, whereas work ethic has not shown a significant effect. Keywords: Motivation, Work Ethic, Income, Beef Cattle, Farmers. | |
| 48929 | 52286 | A1G023005 | Nilai Tambah Kedelai dan Kelayakan Finansial Usaha pada UMKM Keripik Tempe Sagu Tiga Saudara 354 di Kabupaten Bogor | Agroindustri memiliki peranan penting dalam meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian serta memperkuat perekonomian masyarakat, khususnya melalui pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Kedelai merupakan salah satu komoditas pangan strategis yang banyak diolah menjadi berbagai jenis produk, salah satunya adalah tempe. Pengolahan tempe menjadi keripik tempe sagu merupakan bentuk diversifikasi produk yang mampu memperpanjang umur simpan, meningkatkan nilai tambah, serta memperkuat daya saing produk. Namun, ketergantungan terhadap bahan baku kedelai impor dan fluktuasi harga kedelai menjadi tantangan utama yang berpotensi mepengaruhi keberlanjutan usaha agroindustri berbasis kedelai. Kegiatan pengolahan kedelai menjadi keripik tempe sagu yang dilakukan oleh UMKM umumnya belum diketahui secara pasti besarnya nilai tambah yang diperoleh, sehingga harus melalui analisis serta perencanaan yang matang agar UMKM dapat mengurangi risiko kegagalan dan mendapatkan keuntungan, sehingga dapat diketahui apakah usaha yang sedang dijalankan dapat dikatakan layak atau tidak layak. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk menganalisis nilai tambah kedelai, kelayakan finansial usaha, serta tingkat sensitivitas terhadap perubahan harga bahan baku pada UMKM Keripik Tempe Sagu “Tiga Saudara 354” di Kabupaten Bogor. Metode yang digunakan pada penelitian adalah studi kasus dengan pendekatan analisis deskriptif kuantitatif. Analisis pada perhitungan nilai tambah dilakukan dengan menggunakan metode Hayami, sedangkan analisis kelayakan finansial meliputi perhitungan biaya, penerimaan, keuntungan, R/C ratio, dan Break Even Point (BEP). Selain itu, analisis sensitivitas dilakukan untuk mengetahui dampak kenaikan harga kedelai terhadap kelayakan usaha. Waktu pengambilan data dilakukan selama satu bulan yaitu tanggal 7 Juli - 6 Agustus 2025 dengan rata-rata produksi sebanyak 13 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengolahan kedelai menjadi keripik tempe sagu pada UMKM Keripik Tempe Sagu “Tiga Saudara 354” menghasilkan nilai tambah yang positif dan memberikan keuntungan bagi pelaku usaha. Analisis kelayakan finansial menunjukkan bahwa usaha ini layak untuk dijalankan, yang ditunjukkan oleh nilai R/C ratio lebih besar dari satu serta nilai BEP produksi dan penerimaan yang berada di bawah tingkat produksi aktual. Analisis sensitivitas memperlihatkan bahwa usaha masih tetap layak meskipun terjadi kenaikan harga bahan baku kedelai hingga batas tertentu, meskipun tingkat keuntungan mengalami penurunan. Maka, dapat disimpulkan bahwa UMKM Keripik Tempe Sagu “Tiga Saudara 354” memiliki prospek usaha yang baik. Implikasi pada penelitian ini menekankan pentingnya peningkatan efisiensi biaya produksi, pencatatan keuangan yang terstruktur, serta pengendalian risiko harga bahan baku guna mendukung keberlanjutan dan pengembangan usaha dimasa yang akan datang. | Agroindustry plays an important role in increasing the added value of agricultural commodities and strengthening the community's economy, particularly through the development of Micro, Small, and Medium Enterprises (UMKM). Soybeans are one of the strategic food commodities that are widely processed into various types of products, one of which is tempeh. Processing tempeh into sago tempeh chips is a form of product diversification that can extend shelf life, increase added value, and strengthen product competitiveness. However, dependence on imported soybean raw materials and fluctuations in soybean prices are major challenges that have the potential to affect the sustainability of soybean-based agro-industry businesses. The processing of soybeans into tempeh sago chips by UMKM generally does not have a clearly defined added value, so it must undergo careful analysis and planning so that UMKM can reduce the risk of failure and obtain profits, there by determining whether the business being run is feasible or not. This study was conducted to analyze the added value of soybeans, the financial feasibility of the business, and the level of sensitivity to changes in raw material prices at the Tiga Saudara 354 UMKM in Bogor Regency. The research method used was a case study with a quantitative descriptive analysis approach. Value-added analysis was performed using the Hayami method, while financial feasibility analysis included calculations of costs, revenues, profits, R/C ratio, and BEP. Additionally, sensitivity analysis was conducted to determine the impact of soybean price increases on business feasibility. Data collection was conducted over a period of one month, from July 7 to August 6, 2025, with an average production of 13 times. The results of the study indicate that processing soybeans into sago tempe chips at the Tiga Saudara 354 positive added value and provides benefits for business actors. Financial feasibility analysis shows that this business is feasible to run, as indicated by an R/C ratio greater than one and a production and revenue BEP below the actual production level. Sensitivity analysis shows that the business remains feasible even if there is an increase in the price of soybean raw materials up to a certain limit, although the profit level will decrease. Therefore, it can be concluded that the Tiga Saudara 354 has good business prospects. The implications of this study emphasize the importance of improving production cost efficiency, structured financial recording, and controlling raw material price risks to support business sustainability and development in the future. | |
| 48930 | 52287 | G1A022112 | Korelasi Nilai Platelet to Lymphocyte Ratio (PLR) dengan Subtipe Kanker Payudara di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto | Latar belakang: Kanker Payudara (Carcinoma mammae) merupakan kanker dengan insidensi tinggi pada wanita di seluruh dunia. Kanker payudara memiliki karakteristik biologis yang berbeda berdasarkan subtipe molekuler, seperti Luminal A, Luminal B, HER2, dan Triple Negative Breast Cancer (TNBC). Inflamasi sistemik berperan dalam proses karsinogenesis dan progresivitas tumor. Salah satu parameter inflamasi adalah Platelet to Lymphocyte Ratio (PLR) yang mencerminkan keseimbangan antara aktivitas trombosit dan respon imun tubuh oleh limfosit terhadap sel tumor sehingga berpotensi digunakan sebagai penanda tambahan dalam karakterisasi subtipe kanker payudara. Namun, bukti hubungan antara nilai PLR dengan subtipe kanker payudara masih terbatas di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Tujuan: Mengetahui korelasi antara nilai Platelet to Lymphocyte Ratio (PLR) dengan subtipe kanker payudara di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 63 kanker payudara dipilih melalui metode consecutive sampling. Data dikumpulkan dari rekam medis mencakup usia, indeks massa tubuh (IMT), riwayat keluarga, nilai PLR, subtipe kanker payudara dan parameter hematologik untuk perhitungan PLR. Hasil: Mayoritas subjek (58,7%) menunjukkan profil inflamasi sistemik dengan nilai PLR kategori tinggi. Distribusi subtipe carcinoma mammae menunjukkan dominasi Luminal B (36,5%), diikuti TNBC (23,8%), HER2 (22,2%), dan Luminal A (17,5%). Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat korelasi yang signifikan antara nilai PLR dengan subtipe kanker payudara (p = 0,302). Kesimpulan: Nilai PLR tidak menunjukkan korelasi yang signifikan dengan subtipe kanker payudara. | Background: Breast cancer (carcinoma mammae) is a cancer with a high incidence among women worldwide. Breast cancer has distinct biological characteristics based on molecular subtypes, such as Luminal A, Luminal B, HER2, and Triple Negative Breast Cancer (TNBC). Systemic inflammation plays a role in carcinogenesis and tumor progression. One inflammatory parameter is the Platelet to Lymphocyte Ratio (PLR), which reflects the balance between platelet activity and the immune response mediated by lymphocytes against tumor cells thus having potential as an additional marker in characterizing breast cancer subtypes. However, evidence regarding the association between PLR values and breast cancer subtypes is still limited at RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Objective: To determine the correlation between Platelet to Lymphocyte Ratio (PLR) values and breast cancer subtypes at RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Methods: This study was an analytic observational study with a cross-sectional design using medical record data of breast cancer patients. Data collected included age, body mass index (BMI), family history, PLR values, and breast cancer subtypes. Statistical analysis was performed using the Chi-Square test to assess the association between PLR values and breast cancer subtypes. Results: A total of 63 subjects were analyzed. Most patients had high PLR values (58.7%). The most common subtype of carcinoma mammae was Luminal B (36.5%), followed by TNBC (23.8%), HER2 (22.2%), and Luminal A (17.5%). The analysis showed no statistically significant association between PLR values and breast cancer subtypes (p = 0.302). Conclusion: The PLR values did not show a significant association with breast cancer subtypes. | |
| 48931 | 52288 | E1A022087 | PENERAPAN PRINSIP TANGGUNG JAWAB MUTLAK (STRICT LIABILITY) DALAM PENYELESAIAN SENGKETA LINGKUNGAN HIDUP (STUDI KASUS PT. AGRO BUMI SENTOSA) | Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan prinsip tanggung jawab mutlak (strict liability) pada penyelesaian sengketa lingkungan hidup, dengan fokus pada perkara kebakaran hutan dan lahan oleh PT Agro Bumi Sentosa. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya inkonsistensi putusan antara pengadilan tingkat pertama dan tingkat banding, khususnya terkait hubungan antara pertanggungjawaban substantif dan aspek prosedural dalam hukum lingkungan. Prinsip strict liability sebagaimana diatur dalam Pasal 88 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup meniadakan kewajiban pembuktian unsur kesalahan dalam hal kegiatan menimbulkan ancaman serius terhadap lingkungan hidup. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan dan studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengadilan tingkat pertama telah mengimplementasikan prinsip strict liability secara tepat, namun putusan tersebut dibatalkan oleh pengadilan tingkat banding dengan alasan gugatan prematur karena tidak ditempuhnya mekanisme penyelesaian sengketa di luar pengadilan. Hal ini menunjukkan adanya ketegangan antara formalitas prosedural dan keadilan substantif dalam penegakan hukum lingkungan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa inkonsistensi tersebut berpotensi melemahkan kepastian hukum dan efektivitas penerapan prinsip strict liability. Oleh karena itu, diperlukan penguatan konsistensi putusan hakim serta penegasan hubungan antara aspek prosedural dan prinsip tanggung jawab mutlak guna mendukung penegakan hukum lingkungan yang efektif di Indonesia. | This study aims to analyze the application of the strict liability principle in environmental dispute resolution, with a particular focus on the forest and land fire case involving PT Agro Bumi Sentosa. The study is motivated by inconsistencies between first-instance and appellate court decisions, particularly regarding the relationship between substantive liability and procedural aspects in environmental law. The principle of strict liability, as stipulated in Article 88 of Law No. 32 of 2009 on Environmental Protection and Management, eliminates the requirement to prove fault when activities pose a serious threat to the environment. This research employs a normative juridical method, using statutory and case study approaches. The findings indicate that the court of first instance correctly applied the strict liability principle; however, the decision was overturned by the appellate court on the grounds that the claim was premature due to the absence of prior non-litigation dispute resolution mechanisms. This reflects a tension between procedural formalism and substantive justice in environmental law enforcement. The study concludes that such inconsistency may undermine legal certainty and weaken the effectiveness of the strict liability principle. Therefore, strengthening judicial consistency and clarifying the relationship between procedural requirements and strict liability are essential to support effective environmental law enforcement in Indonesia. | |
| 48932 | 52289 | E1A022179 | TANGGUNG JAWAB HUKUM DINAS KESEHATAN TERHADAP PENANGANAN KEJADIAN LUAR BIASA (KLB) PENYAKIT MENULAR DALAM PERSPEKTIF HUKUM ADMINISTRASI NEGARA | ABSTRAK Kejadian Luar Biasa (KLB) merupakan timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan dan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu, dan merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah. Indonesia masih sering menghadapi fenomena KLB. Dinas Kesehatan memiliki peran strategis sebagai perangkat daerah yang menjalankan urusan pemerintahan bidang Kesehatan berdasarkan pasal 352 (1) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, analitis, dan konseptual. Data yang digunakan berupa data sekunder yang diperoleh melalui studi kepustakaan dan dianalisis secara normatif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan tanggung jawab hukum Dinas Kesehatan terhadap penanganan kejadian luar biasa penyakit menular dalam perspektif hukum administrasi negara telah menunjukkan taraf sinkronisasi vertikal dan horizontal. Artinya peraturan yang lebih rendah telah didasarkan pada peraturan yang lebih tinggi. Peraturan-peraturan tersebut tidak saling bertentangan antara satu dengan yang lain. Bentuk tanggung jawab hukum Dinas Kesehatan terhadap penanganan kejadian luar biasa penyakit menular pada struktur peraturan perundang-undangan Indonesia, yaitu: tanggung jawab secara administrasi diatur dalam Pasal 159, Pasal 162, Pasal 169 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1 Tahun 2026 tentang KLB, Wabah, Krisis Kesehatan. | ABSTRACT An Extraordinary Event (KLB) is the emergence or increase in the incidence of morbidity and/or mortality that is epidemiologically significant in a region within a certain period of time, and is a condition that can lead to an epidemic. Indonesia still frequently faces the KLB phenomenon. The Health Service has a strategic role as a regional apparatus that carries out government affairs in the health sector based on Article 352 (1) of Law Number 17 of 2023 concerning Health. The research method used is normative juridical research with a statutory, analytical, and conceptual approach. The data used are secondary data obtained through literature studies and analyzed using qualitative normative methods. The results of the study indicate that the regulation of the Health Service's legal responsibility for handling extraordinary events of infectious diseases from a state administrative law perspective has shown a level of vertical and horizontal synchronization. This means that lower regulations have been based on higher regulations. These regulations do not contradict each other. The form of legal responsibility of the Health Service for handling extraordinary incidents of infectious diseases in the structure of Indonesian legislation, namely: administrative responsibility is regulated in Article 159, Article 162, Article 169 of the Regulation of the Minister of Health Number 1 of 2026 concerning KLB, Epidemics, Health Crises. | |
| 48933 | 52010 | H1B022003 | PENDEKATAN BERBASIS CITERA SATELIT DALAM ESTIMASI ANGKUTAN SEDIMEN DAN PERUBAHAN GARIS PANTAI DI PELABUHAN PLTU ADIPALA CILACAP | Bencana Perubahan garis pantai merupakan fenomena dinamis yang dipengaruhi oleh proses oseanografi, aktivitas manusia, serta keberadaan bangunan pantai seperti breakwater. Penelitian ini bertujuan untuk Mengidentifikasi pergerakan garis pantai di perairan Pelabuhan PLTU Adipala Cilacap, Menentukan laju perubahan garis pantai di Pelabuhan PLTU Adipala Cilacap, Mengestimasi volume angkutan sedimen di Pelabuhan PLTU Adipala Cilacap. Metode pengolahan data pada penelitian ini menggunakan citra satelit berupa Google Earth Engine (GEE), ArcMap, dan Digital Shoreline Analysis System (DSAS). Berdasarkan hasil overlay garis pantai multitemporal dengan mempertimbangkan arah arus dominan dari timur, diketahui bahwa pada sisi barat breakwater terjadi erosi yang berlangsung secara berkelanjutan. Sementara itu, pada sisi timur breakwater juga terjadi erosi, namun dengan intensitas yang lebih kecil dibandingkan sisi barat. Selanjutnya, berdasarkan hasil analisis kuantitatif menggunakan Digital Shoreline Analysis System (DSAS), diperoleh nilai Shoreline Change Envelope (SCE) sebesar 166,432 m, Net Shoreline Movement (NSM) sebesar −36,321 m, End Point Rate (EPR) sebesar −4,325 m/tahun, dan Linear Regression Rate (LRR) sebesar −3,361 m/tahun. Secara keseluruhan, hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa garis pantai pada rentang waktu pengamatan mengalami kecenderungan erosi. Selain itu, berdasarkan perhitungan estimasi angkutan sedimen, diperoleh volume perubahan sedimen total sebesar −82.629,37 m³, yang semakin menguatkan bahwa proses yang dominan terjadi di wilayah penelitian adalah erosi. | Shoreline change is a dynamic phenomenon influenced by oceanographic processes, human activities, and the presence of coastal structures such as breakwaters. This study aims to identify shoreline movement in the waters of the Adipala PLTU Port, Cilacap, to determine the rate of shoreline change, and to estimate the volume of sediment transport in the Adipala PLTU Port, Cilacap. The data processing methods used in this study involve satellite imagery processed using Google Earth Engine (GEE), ArcMap, and the Digital Shoreline Analysis System (DSAS). Based on the results of multitemporal shoreline overlay analysis considering the dominant eastward current direction, continuous erosion was observed on the western side of the breakwater. Meanwhile, the eastern side of the breakwater also experienced erosion, but with a lower intensity compared to the western side. Furthermore, based on quantitative analysis using the Digital Shoreline Analysis System (DSAS), the Shoreline Change Envelope (SCE) value was 166.432 m, the Net Shoreline Movement (NSM) was −36.321 m, the End Point Rate (EPR) was −4.325 m/year, and the Linear Regression Rate (LRR) was −3.361 m/year. Overall, these results indicate that the shoreline during the observation period tended to experience erosion. In addition, based on the estimation of sediment transport, the total sediment volume change was −82,629.37 m³, further confirming that erosion is the dominant process occurring in the study area. | |
| 48934 | 52290 | H1A022047 | ANALISIS PENGARUH GANGGUAN SHORT CIRCUIT PADA FEEDER MILL E TERHADAP OPERASI RELAY BUCHHOLZ PADA TRANSFORMATOR AUXILIARY DI PLTU CIREBON POWER | Penelitian ini membahas kejadian false trip pada relay buchholz di Unit Auxiliary Transformer (UAT) akibat gangguan hubung singkat pada Feeder Mill E di PLTU Cirebon Power pada 1 Mei 2025. Relay buchholz yang seharusnya mendeteksi gangguan internal justru terpicu oleh gangguan eksternal pada feeder, sehingga menyebabkan trip unit pembangkit tanpa adanya kerusakan internal transformator. Analisis dilakukan menggunakan perhitungan manual dan simulasi ETAP, serta divalidasi dengan data aktual. Hasil menunjukkan bahwa gangguan line-to-line menghasilkan arus hubung singkat sebesar 14,5 kA, dengan selisih kurang dari 10% dibandingkan hasil perhitungan dan simulasi. Nilai ini melebihi ambang teoritis 11,95 kA, sehingga menimbulkan gaya elektromagnetik yang memicu fenomena oil surge di dalam transformator. Hal ini menyebabkan relay buchholz langsung mengaktifkan trip dalam waktu sangat singkat (≈0,055 s) tanpa alarm. Evaluasi koordinasi proteksi menunjukkan bahwa relay buchholz bekerja lebih cepat dibandingkan proses isolasi gangguan (≈0,129 s). Pengujian pascagangguan menunjukkan kondisi transformator tetap normal, sehingga dipastikan terjadi false trip akibat efek mekanis arus transien eksternal. Penelitian merekomendasikan optimasi waktu kerja relay feeder dan evaluasi sensitivitas relay buchholz untuk meningkatkan keandalan sistem. | This research discusses a false trip event of the Buchholz relay in the Unit Auxiliary Transformer (UAT) caused by a short circuit fault on Feeder Mill E at PLTU Cirebon Power on May 1, 2025. The Buchholz relay, which is designed to detect internal transformer faults, was instead triggered by an external fault in the feeder, resulting in a unit trip without any internal transformer damage. The analysis was carried out using manual calculations and ETAP simulation, validated with actual field data. The results show that a line-to-line fault produced a shortcircuit current of 14.5 kA, with a deviation of less than 10% compared to the calculated and simulated values. This current exceeded the theoretical threshold of 11.95 kA, generating electromagnetic forces strong enough to trigger an oil surge phenomenon inside the transformer. Consequently, the Buchholz relay activated the trip almost instantaneously (≈0.055 s) without a prior alarm signal. The protection coordination evaluation indicates that the Buchholz relay operated faster than the fault isolation process (≈0.129 s). Post-fault testing confirmed that the transformer remained in normal condition, proving that the event was a false trip caused by the mechanical effects of external transient currents. This study recommends optimizing the feeder relay operating time and evaluating the sensitivity of the Buchholz relay to improve system reliability | |
| 48935 | 52150 | H1A022071 | ANALISIS KINERJA ENERGI GEDUNG REKTORAT UNSOED TAHUN 2025 BERDASARKAM BASELINE ENERGI 2024 DENGAN MENGACU PADA ISO 50001 | Gedung Rektorat Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) merupakan pusat aktivitas administrasi yang memerlukan pasokan energi listrik secara stabil dan berkelanjutan. Dengan meningkatnya biaya energi serta tuntutan terhadap praktik pengelolaan energi yang efisien, analisis kinerja energi menjadi langkah strategis untuk mendukung penerapan Sistem Manajemen Energi (EnMS) sesuai ISO 50001. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja energi Gedung Rektorat Unsoed pada tahun 2025 berdasarkan baseline energi tahun 2024. Baseline ditetapkan melalui pengumpulan dan analisis data konsumsi energi tahun 2024 untuk membentuk model konsumsi energi dasar gedung. Selanjutnya, data konsumsi energi aktual tahun 2025 diukur dan diverifikasi secara sistematis. Proses verifikasi dilakukan dengan membandingkan konsumsi aktual terhadap baseline dengan mempertimbangkan variabel relevan, seperti perubahan jam operasional, tingkat aktivitas pengguna, serta penambahan beban peralatan. Hasil penelitian ini diharapkan mampu menyajikan gambaran kinerja energi gedung secara terukur, menghitung nilai Intensitas Konsumsi Energi (IKE), serta mengidentifikasi potensi penghematan atau peningkatan konsumsi energi. Temuan tersebut dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan manajerial dalam upaya peningkatan efisiensi energi di lingkungan kampus. | The Rectorate Building of Jenderal Soedirman University (Unsoed) serves as the central hub for administrative activities and requires a continuous and reliable supply of electrical energy. With rising energy costs and growing sustainability demands, effective energy management has become increasingly crucial. This study aims to analyze the energy performance of the Unsoed Rectorate Building in 2025 based on the 2024 energy baseline, in accordance with ISO 50001 principles. The baseline was established by collecting and analyzing the building’s 2024 electricity consumption data to form a reference energy model. Subsequently, the actual energy consumption data for 2025 were systematically measured and verified. The verification process was conducted by comparing the 2025 consumption data with the 2024 baseline while considering relevant adjustment factors, such as changes in operating hours, occupancy levels, and additional equipment loads. The results of this study are expected to provide accurate and verified information on the building’s energy consumption patterns, calculate the Energy Use Intensity (EUI), and quantitatively identify the magnitude of energy savings or increases. These findings serve as a strategic reference for managerial decision-making in efforts to improve energy efficiency within the university environment. |