Artikelilmiahs

Menampilkan 3.081-3.100 dari 48.736 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
308112854A1L011141MEMPERPANJANG KESEGARAN BUNGA POTONG MAWAR (Rosa hybrida) DENGAN PERENDAMAN PADA LARUTAN PULSING GARAM DAPUR DAN GULA PASIRPulsing merupakan proses perendaman tangkai bunga segera setelah panen yang berguna untuk memberi sumber energi untuk respirasi dan melindungi tangkai bunga dari mikroorganisme, mempertahankan kualitas, dan memperpanjang masa kesegaran bunga potong mawar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian konsentrasi garam dapur dan gula pasir dengan lama waktu perendaman larutan pulsing terhadap masa kesegaran bunga potong mawar. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman pada 28 Maret 2015 sampai 7 Mei 2015. Rancangan percobaan yang digunakan adalah RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan 3 ulangan. Faktor pertama yaitu Air 300 ml (kontrol); larutan 1% garam dapur + 5% gula pasir sampai 300 ml; larutan 2% garam dapur + 5% gula pasir sampai 300 ml; larutan 3% garam dapur + 5% gula pasir sampai 300 ml. Faktor kedua yaitu lama waktu perendaman larutan pulsing terdiri dari 3 taraf yaitu: (lama perendaman 3 jam, 6 jam, dan 9 jam). Variabel yang diamati adalah lama kesegaran bunga, persentase kemekaran bunga, persentase bunga layu, total volume larutan yang terserap, saat bunga layu, saat daun layu, warna bunga dan diameter bunga. Hasil penelitian menunjukkan pemberian konsentrasi larutan 1% larutan garam dapur + 5% gula pasir meningkatkan persentase kemekaran bunga sebesar 6,49% dalam memperpanjang kesegaran bunga potong mawar. Lama perendaman larutan garam dapur dan gula pasir 3 jam meningkatkan persentase kemekaran bunga sebesar 6,39% dan total volume larutan terserap sebesar 11.61 ml. Lama perendaman 6 jam dapat meningkatkan warna bunga sebesar 3,71 (agak merah). Lama perendaman 9 jam dapat meningkatkan diameter bunga sebesar 5,97 cm dalam memperpanjang kesegaran bunga potong mawar. Perlakuan konsentrasi larutan garam dapur dan gula pasir tidak memberikan pengaruh dalam memperpanjang kesegaran bunga potong mawar.Pulsing is a process of soaking flower stalks immediately after harvest to provides a source of energy for respiration and protect the flower stalks from microorganisms, maintain quality, and extend the cut rose flowers freshness . This study aimed to determined the effect salt and sugar concentrations with long time pulsing to of cut rose flowers freshness. Research was conducted at the Laboratory of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, University of Jenderal Sudirman on March 28 to May 7, 2015. The experimental design was is CRD (Completely Randomized Design) with three replications. The first factor is water 300 ml (control); 1% solution salt + 5% sugar to 300 ml; 2% solution salt + 5% sugar to 300 ml; 3% solution salt + 5% sugar to 300 ml. The second factor was the length of pulsing solution soaking time consists of 3 levels, namely: (soaking time 3 hours, 6 hours and 9 hours). The variables measured were freshness time length of flowers, the percentage of florescence, the percentage of withered flowers, the total volume of the absorbed solution, flowers wilting time, withered leaves time, flower color and flowers diameter. Results showed that of 1% concentration of salt and 5% sugar to treatments gave effect on the percentage of florescence, which was 6.49%. Soaking solution of salt and sugar treatment for 3 hours gave effect on the percentage of florescence, which was 6.39%, the total volume absorbed solution was 11.61 ml. Soaking solution of salt and sugar treatment for 6 hours gave effect on color flower, which was 3.71 score (reddish) and then 9 hours on the flower diameter, which was 5.97 cm. Combination treatments could not maintained the freshness of rose cut flowers.
308212855A1H011073APLIKASI SISTEM AEROPONIK UNTUK PRODUKSI BENIH KENTANG G1 VARIETAS GRANOLA MELALUI PERBEDAAN EC (ELECTROLITE CONDUCTIVITY) DAN BENIH G0Pembibitan kentang kelas G1 secara aeroponik merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan produksi benih kentang. Kondisi awal benih G0 yang diakarkan dan nilai EC (Electrolite Conductivity) sangat mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan tanaman kentang dalam proses pembibitan kentang G1 melalui sistem aeroponik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan hasil produksi benih kentang G1 sistem aeroponik dari umbi G0 yang diakarkan (bibit dengan umbi dan bibit tanpa umbi), dan mendapatkan EC (Electrolite Conductivity) yang sesuai untuk produksi benih kentang G1 secara aeroponik. Penelitian ini menggunakan benih kentang G0 varietas granola yang diakarkan (bibit dengan umbi dan bibit tanpa umbi) dengan konsentrasi EC 2 mS/cm dan 3 mS/cm. Hasil menunjukan bahwa pertumbuhan vegetatif tanaman terbaik adalah bibit berumbi konsentrasi EC 3 mS/cm dengan tinggi tanaman 20,51 cm dan jumlah daun 105,79 helai. Jumlah umbi tertinggi diperoleh dari bibit berumbi dengan konsentrasi EC 2 mS/cm sebanyak 6,13 umbi pertanaman.G1 grade potato seedlings in aeroponics is one of alternatives to improve the production of potato seed. G0 seed’s initial conditions are rooted and EC (Electrolite Conductivity) value is affecting the development and growth of potato crop in the process of G1 potato breeding through aeroponic system. The purpose of this study is to obtain the production of potato seed from the G1 aeroponic system potatoes from rooted G0 tubers (seed with bulbs and seeds without bulbs), and get suitable EC (Electrolite Conductivity) for the production of G1 aeroponics potato seed. This study uses potato seed variety of rooted granola G0 (seeds with bulbs and seeds without bulbs) with a concentration of EC 2 mS/cm and 3 mS/cm. Result shows that the best vegetative growth of the plants is bulbous seed with EC concentration of 3 mS/cm, the plant height by 20.51 cm and the number of leaves is 105.79 strands. The highest number of tubers obtained from the bulbous seeds with a concentration of EC 2 mS/cm 6.13 tuber crops.
308312856H1F011056PENGARUH TEKTONIK DAN GUNUNG API TERHADAP STRUKTUR GEOLOGI DAN ANALISIS TIPE TENSOR KARAKTERISTIK POLA TEGASAN UTAMA PADA DAERAH GAPURA DAN SEKITARNYA KECAMATAN WATUKUMPUL KABUPATEN PEMALANG
JAWA TENGAH
Serayu Utara khususnya di daerah penelitian yang merupakan ujung kaki Gunung Slamet memiliki struktur geologi yang khas karena memiliki pola struktur yang dihasilkan dari kegiatan tektonik dan pola struktur yang dihasilkan dari kegiatan vulkanisme. Untuk mengetahui pola yang merupakan hasil dari tektonik dan vulkanik, maka dilakukan analisis tipe tensor tegasan yang kemudian dilakukan inversi tegasan menggunakan perangkat lunak “Win Tensor 4.0.4.” Data yang digunakan dalam inversi tegasan berupa data shear fracture. Hasil inversi tegasan menunjukkan 3 urutan tegasan dalam 2 peristiwa deformasi tektonik dan vulkanik, yaitu Fase I arah tegasan maksimum NNE-SSW (N13oE) rezim tegasan pure compressinoal, Fase II arah tegasan maksimum NE-SW (N50oE) rezim tegasan pure strike-slip, Fase III merupakan fase yang terakhir memiliki arah tegasan maksimum W-E (N90oE) rezim tegasan pure strike-slip. Fase I merupakan tegasan hasil akibat tektonik kala Pliosen. Fase II merupakan tegasan hasil kegiatan vulkanisme Gunung Slamet berupa inflasi, deflasi, dan tektonik gravitasi. Fase III merupakan hasil total tegasan dari tektonik gravitasi yang disebabkan oleh kegiatan vulkanisme Gunung Slamet berupa inflasi dan deflasi yang telah terjadi sebelumnya.North Serayu in particular research areas which is toe of mountain Slamet has a unique structural geology because it has structure pattern resulted by tectonic and volcanism activity. Analysis of the type stress tensor used for to know result pattern by tectonic and volcanism, which then do by stress inversion with software “Win Tensor 4.0.4”. Data used in stress inversion is shear fracture data. Result of stress inversion indicated three sequence stress in two deformation events tectonic and volcanism, phase I stress horizontal maximum NNE-SSW (N13oE) regime pure compressional, phase II stress horizontal maximum NE-SW (N50oE) regime strike-slip, Phase III is the last phase stress horizontal maximum W-E (N90oE) regime pure strike-slip. Phase I is due to the stress result Pliocene epoch tectonic.Phase II is due to the stress result Slamet mountain activity such as inflation, deflation, and gravity tectonic. Phase III is due to the all of stress from gravity tectonic which is caused by Slamet mountain volcanism activity such as inflation and deflation that has occurred.
308412857F1A011068Mahasiswa Kost dan Seks Bebas (Studi Mengenai Perilaku Pacaran dan Seks Bebas Mahasiswa di Lingkungan Kost Tanpa Induk Semang di Kecamatan Purwokerto Utara)Penelitian dengan judul Mahasiswa Kost dan Seks Bebas (Studi Mengenai Perilaku Pacaran Mahasiswa di Lingkungan Kost Tanpa Induk Semang di Kecamatan Purwokerto Utara) merupakan penelitian yang menggunakan metode penelitian kualitatif.Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap suatu fenomena secara mendalam serta menembah pengetahuan mengenai keberadaan kost-kostan bebas di Kecamatan Purwokerto Utara yang tak jarang disalahgunakan oleh mahasiswa sebagai tempat untuk melakukan kegiatan seks bebas bersama pasangannya.
Berdasarkan informasi maupun penemuan-penemuan yang telah didapatkan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jenis kost-kostan yang lingkungannya bebas di Kecamatan Purwokerto Utara sangat mudah dijumpai keberadaannya. Kontrol sosial yang lemah di sekitar lingkungan kost-kostan menjadi salah satu penyebab munculnya keberadaan kost-kostan bebas tersebut. Seperti contoh, tidak adanya peraturan-peraturan yang berlaku di lingkungan kost serta minimnya pengawasan dari pemilik maupun pengelola kost-kostan. Sebagian besar pemilik atau pengelola kost tak jarang merupakan orang-orang yang tempat tinggalnya cukup jauh dari lokasi kost-kostan dan bahkan adapula dari mereka yang bertempat tinggal di daerah maupun kota lain. Jenis kost-kostan yang lingkungannya bebas ini sering disalahgunakan mahasiswa pengguna jasa kost sebagai tempat untuk melakukan kegiatan pacaran dan seks bebas bersama pasangannya. Bentuk-bentuk perilaku pacaran dan seks bebas mahasiswa di lingkungan kost sendiri sangat beragam jenisnya. Mulai dari tingkah laku berkencan seperti mengajak pasangannya ke dalam kamar kost (menginap atau bermalam), hingga sampai kepada bentuk penyimpangan seks bebas yang melanggar norma sosial maupun norma agama seperti berhubungan intim.
This research that titled ‘University Student, Boarding House and Free Sex’ using qualitative descriptive method, wich is a model research that yields writing or words to uncover a social phenomena in depth.The purpose of this research is to gain knowledge about the existence of boarding house wich free environment in the north Sub-district of North Purwokerto, as well as other forms of courtship behaviour and free sex committed students in boarding house environment.
Based on the information and findings that have been obtained, the result of this study proves that there is type of boarding house which free environment in the Sub-district of North Purwokerto. Less social control around the neighborhood boarding is one of the causes of the existence of this free boarding house. In example, there is absence of regulations that apply in a boarding environment and the lack of supervision of the owners and managers of boarding. Most of the owner or manager of the boarding is the one who lived quite far from the location of boarding and even those of them who live in the area and other cities. Type boarding are free environment is often misused student boarding service users as a place to conduct dating and casual sex with a partner. There are various forms of courtship behavior and promiscuity students in the boarding house. Start of behavior dating like to invite partner to the boarding room (overnight stay), until the form of free sexual perversion that violate social norms.
308512858G1A011026HUBUNGAN FREKUENSI KEJANG DEMAM DENGAN MEMORI JANGKA PENDEK PADA ANAK USIA 6-9 TAHUN DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJOABSTRAK
Latar Belakang : Kejadian kejang demam merupakan kasus gangguan neurologis pada anak yang paling sering di Indonesia. Prevalensinya sendiri mencapai 2-4% pada tahun 2005-2006 di Indonesia. Beberapa dampak negatif yang bisa tertinggal setelah kejang demam adalah gangguan kognitif yang salah satunya mencakup gangguan fungsi memori. Banyaknya frekuensi kejang demam yang dialami anak diduga berperan dalam mempengaruhi fungsi memori anak di usianya yang lebih lanjut. Oleh sebab itu, fungsi memori jangka pendek yang berperan dalam membentuk ingatan primer penting untuk diperiksa pada anak dengan riwayat penyakit kejang demam serta perlu juga dianalisis keterkaitan antara frekuensi kejang demam yang dialami anak dengan memori jangka pendeknya.
Tujuan : Tujuan pengeelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan frekuensi kejang demam dengan memori jangka pendek pada anak usia 6-9 tahun di RSUD
Prof. Dr. Margono Soekarjo.
Metode : Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian merupakan anak-anak usia 6-9 tahun yang memiliki riwayat kejang demam di di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo dari tahun 2008-2012. Pengukuran memori jangka pendek dari subjek penelitian diukur dengan digit span test dan digit symbol coding yang dilakukan oleh psikolog yang sudah ditentukan. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan besar sampel minimal adalah 26 responden. Jumlah keseluruhan sampel yang berhasil mengikuti penelitian adalah 29 anak. Analisis Bivariat dilakukan dengan menggunakan uji korelasi Spearman.
Hasil : Penelitian ini mendapatkan tidak adanya korelasi bermakna antara frekuensi kejang demam dengan memori jangka pendek yang dikur dengan digit span test (r = -0,249; p = 0,193) dan digit symbol coding (r = -0,269; p = 0,193).
Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan antara frekuensi kejang demam dengan memori jangka pendek pada anak usia 6-9 tahun di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo.
ABSTRACT
Background : Febrile seizure is the most common neurological problems among children in Indonesia. The prevalence of this cases reached 2-4% between year 2005-2006. One of the negative outcome that could remain after febrile seizure attack is cognitives impairment which one of them is memory impairment. The huge frequency of febrile seizure is susggested to be a predictor for memory impaiment in children. Because of that, the function of short-term memory which is essential for creating primary memory should be checked in children with a history of febrile seizures and also it is necessarry to analyze the association between the frequency of febrile seizure and short-term memory in children.
Objective : The aim of this study was to investigate the correlation between the frequency of febrile seizure and short-term memory in children ages 5-6 years in RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo.
Methods : This study was an analytical observational with cross-sectional approach. The samples were children ages 6-9 years who has a history of febrile seizure between years 2008-2012 in RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. The data of short-term memory from those children was tested by psychologist using digit span test and digit symbol coding. Sampling method of this study was purposive sampling with minimun amount of sample consisted of 26 respondent. The whole samples that can be collected throughout this study were 29 children. Bivariat anlaysis in this study was done by using Spearman correlation test.
Results : There is no significant correlation between the frequency of febrile seizure and short-term memory which is measured by digit span test (r = -0,249;p = 0,193) and digit symbol coding (r = -0,269; p = 0,158).
Conclusion : This study suggest that there is no correlation between the frequency of febrile seizure and short-term memory in children ages 6-9 years in RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo.
308612863D1F013016PENINGKATAN KECERNAAN NITROGEN DAN NERACA NITROGEN PADA SAPI BALI JANTAN YANG DIBERI RANSUM BERBASIS JERAMI PADI AMONIASI YANG DISUPLEMENTASI DENGAN TEPUNG DAUN WARU (Hibiscus tiliaceus) Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan tepung daun waru (Hibiscus tiliaceus) dalam ransum Sapi Bali berbasis jerami padi amoniasi terhadap kecernaan nitrogen dan neraca nitrogen. Penelitian dilaksanakan mulai tanggal 8 Oktober 2014 sampai dengan 16 November 2014 di Peternakan Sapi Potong di Desa Datar Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas. Materi penelitian menggunakan tepung daun waru (Hibiscus tiliaceus) pada konsentrasi masing-masing 0 %, 0,24%, dan 0,48% dari bahan kering (BK) konsentrat, sapi Bali jantan 18 ekor umur + 2 tahun, kandang individual, pakan jerami padi amoniasi (JPA) dan konsentrat dengan imbangan bahan kering (BK) JPA : konsentrat (30:70%) dan kebutuhan BK 3,5 % dari bobot hidup, feses dan urin sapi Bali. Metode penelitian adalah secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan terdiri atas P0, P1, dan P2. Data dianalisis menggunakan analisis variansi dan dilanjutkan dengan Uji Orthogonal Polynomial. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan berpengaruh nyata terhadap kecernaan nitrogen maupun neraca nitrogen (P<0,05). Berdasarkan Uji Orthogonal Polynomial, penambahan tepung daun waru (Hibiscus tiliaceus) menyebabkan peningkatan kecernaan nitrogen dan neraca nitrogen secara kuadrater (P<0,05) mengikuti persamaan garis masing-masing adalah Y = 59,687 + 154,309 X – 212,543 X2 (R2=0,361 ; P<0,05) dan Y= 0,288 + 0,608X – 0,622X2 (R2=0,348;P<0,05). Kecernaan nitrogen tertinggi dengan level penambahan tepung daun waru (Hibiscus tiliaceus) 0,36%, sedangkan neraca nitrogen dengan level penambahan tepung daun waru (Hibiscus tiliaceus) 0,49%. Kesimpulan dari penelitian menyatakan bahwa Penambahan 0,36% dan 0,49% tepung daun waru (Hibiscus tiliaceus) dalam ransum Sapi Bali berbasis jerami padi amoniasi efektif meningkatkan kecernaan dan neraca nitrogen.The research aimed to determine the effect of Waru leaf (Hibiscus tiliaceus) supplementation to ammoniated rice straw based rations of Bali beef cattle on nitrogen digestibility and nitrogen balance and to obtain the optimum level of Waru leaf (Hibiscus tiliaceus). The experiment was conducted from October 8th 2014 to November 16th in Datar village, Sumbang subdistrict, Banyumas regency. The materials of the research were Waru Leaf Meal (Hibiscus tiliaceus) at the concentrations of 0 %, 0.24 %, and 0.48 % of Dry Matter ( DM ) basis concentrates, eighteen Bali bulls + 2 years with average early body weight of + 200 kg, individual cage, a DM balance ratio 30 % : 70 % for ammoniated rice straw and concentrates, feces and urine of bulls. The method of the research was an experimental, using completely randomized design (CRD). The treatments that were tested consisted of P0, P1, and P2. Collected data were analyzed by using analysis of variance and followed by Orthogonal Polinomial Test. The results showed that the treatment gave very l effect on nitrogen digestibility and nitrogen balance (P<0.05). Based on the Orthogonal Polinomial Test, The Waru Leaf Meal (Hibiscus tiliaceus) supplementation increased nitrogen digestibility and nitrogen balance quadratically with the regression equation Y = 59.687 + 154.309 X - 212.543 X2 (R2=0.361 ; P<0.05) and Y= 0.288 + 0.608X – 0.622X2 (R2=0.348;P<0.05). The optimum level of digestibility and nitrogen balance were 0.36% and 0.49% of a Waru Leaf Meal (Hibiscus tiliaceus). The addition of waru leaf meal as much as 0.36% and 0,49% in the ammoniated rice straw based diet of Bali bulls effectively increased nitrogen digestibility and nitrogen balance.
308712875F1B011031PENGARUH PELAKSANAAN PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU SECARA ONLINE TINGKAT SEKOLAH MENENGAH ATAS TERHADAP KEPUASAN PENGGUNA DI KABUPATEN BANYUMASPenerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) rintisan online merupakan salah satu bagaian dari e-government atau biasa disebut sebagai pelayanan pemerintah yang berbasis elektronik, maksud diselenggarakan PPDB Sistem online adalah untuk menjamin terlaksananya Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru secara tertib, terarah, transparan, berkeadilan, jujur akuntabel dan berkualitas. Sasaran penelitian yaitu peserta didik yang masuk melalui jalur penerimaan peserta didik baru online, Metode yang digunakan kuantitatif asosiatif dengan pendekatan survey. Teknik sampel menggunakan proporsional random sampling, metode analisis menggunakan korelasi Kendall Tau-b, konkordansi Kendall W, dan regresi ordinal. penelitian ini dalam mengukur pelaksanaan penerimaan peserta didik baru secara online menggunakan teori variabel prediktor dalam model D&M Information Sistem Success yaitu Variabel Kualitas Sistem, Kualitas Informasi dan Kualitas Pelayanan. Berdasarkan hasil analisis secara kuantitatif dalam penelitian ini dapat dijelaskan terdapat pengaruh yang positif dan signifikan secara sendiri-sendiri dan bersama-sama antara Kualitas Sistem, Kualitas Informasi dan Kualitas Pelayanan terhadap Kepuasan Pengguna penerimaan peserta didik secara online. Oleh karena itu, semakin baik Kualitas Sistem, Kualitas Informasi, dan Kualitas Pelayanan pada pelaksanaan penerimaan peserta didik baru secara online akan memberikan kepuasan yang tinggi bagi pengguna begitu sebaliknya.The New Acceptance Students (PPDB) online stub is one of part e-government program or usual referred to as government services electronic based, mean held for PPDB online system purposed is for implement guarantee participants system of new students in ordered, directed, transparant, fairnes , honest quality and accountable Target research that is students in through the revenue participants new students online, associative quantitative methods used by approach survey. Sample technique use proportionate random sampling, the method of analysis using by Kendall Tau-b correlation, concordance Kendall W, and ordinal regression. This research are measuring the implementation of admission of new students online using theory of predictor variables in the model D & M Information System Success is the variable system quality, the quality of information and services. Based on the results of the analysis quantitatively in this research can be explained is the positive and significant singly and together between Quality System, The Quality of Information And Quality of Service for Users Satisfaction the school tuition online. Thus, the better the Quality of System, The Quality of Information, and Quality of Services on the implementation of the participants new students online will giving satisfaction high for users and so on the other hand.
308812859F1B010108EVALUASI IMPLEMENTASI PROGRAM BANTUAN SOSIAL BADAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PEREMPUAN DAN KELUARGA BERENCANA DI KABUPATEN BANYUMASPenelitian ini berjudul “Evaluasi Implementasi Program Bantuan Sosial Badan Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Keluarga Berencana di Kabupaten Banyumas.” Latarbelakang dari penelitian ini yaitu adanya tanggungjawab pemerintah dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial yaitu dengan memberikan bantuan sosial kepada masyarakat yang tidak mampu sebagai stimulant untuk mengadapi resiko sosial. Bapermas-PKB memberikan bantuan sosial bagi masyarakat yang belum memiliki rumah layak huni. Bantuan sosial yang diberikan berupa uang sebesar Rp2.500.000,00 - Rp4.000.000,00. Terdapat beberapa permasalahan dalam program bantuan sosial yang meliputi masih rendahnya masyarakat yang mengajukan bantuan sosial, ketepatan sasaran, penyalahgunaan bantuan sosial, dan lemah dalam tata laksana.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah perbedaan implementasi program bantuan sosial Bapermas-PKB sebelum dengan sesudah diimplementasikan di Kabupaten Banyumas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif dengan menggunakan pendekatan survey. Jenis evaluasi yang digunakan dalam penelitian adalah evaluasi single program before after dimana peneliti ingin membandingkan keadaan kelompok sasaran sebelum dengan sesudah menerima bantuan sosial. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah multi stage random sampling. Untuk teknik pengumpulan data, peneliti menggunakan kuesioner, observasi, wawancara, dan dokumentasi sedangkan teknik analisis yang digunakan adalah pengolahan data, distribusi frekuensi, interprestasi data, dan Wilcoxon match pairs test.
Hasil penelitian yang dapat disimpulkan adalah proses implementasi program bantuan sosial (bansos) Bapermas-PKB di Kabupaten Banyumas, terjadinya perbedaan yang signifikan antara sebelum dengan sesudah program berjalan dimana masyarakat memberikan respon yang kurang baik setelah program berjalan seperti pada dimensi kebijakan ideal, kelompok sasaran, dan lingkungan sedangkan yang mendapatkan respon baik setelah program berjalan yaitu pada dimensi organisasi pelaksana. Hal ini dilihat dari masih lemahnya pengawasan yang dilakukan, belum terpenuhnya kebutuhan masyarakat akan tempat tinggal yang layak huni meskipun telah mendapatkan bantuan, tidak adanya usaha dari masyarakat untuk melanjutkan renovasi rumah setelah mendapatkan bantuan, kurang antusiasnya masyarakat untuk mengajukan bantuan dikarenakan proses yang panjang dan rumit, dan pelaksana kurang aktif untuk mendorong masyarakat berpartisipasi dalam program bantuan sosial.
This research entitled “Evaluation of Social Aid Program Implementation by Social Empowerment Board and Women and Family Planning In Banyumas." The background of this research is the government's responsibility in the implementation of social welfare by providing social aid to destitute society as a stimulant to face social risks. Bapermas-PKB provides social aid for society who do not have appropriate house. The given social assistance is in the form of money for Rp2,500,000.00 - Rp4.000.000,00. There are some problems in the social aid program which are the low level of people who apply for the social aid, accuracy of the target, social aid abuse, and weak in the term of implementation.
This research is aimed to know is there any difference in implementation process of social aid program managed Bapermas-PKB before with after implementation in Banyumas. The method used in this research is quantitative descriptive within survey approach. The type of evaluation used in the research is the single program before after evaluation which the researcher wants to compare the condition before and after the targeted group receiving social aid. The sampling technique used is multi-stage random sampling. For data collection techniques, researcher uses questionnaires, observation, interviews, and documentation, and data processing, distribution frequency, data interpretation, and Wilcoxon match pairs test are used as the analytical techniques.
The result of the research can be concluded that the implementation process of social aid program (Bantuan Sosial) Bapermas-PKB in Banyumas got the significant difference between before and after the program running where people response is low in line with ideal policy dimension, the targeted group, and the environment while the dimensions of the implementing organization gets a good response. It is seen from the supervision that still in low level, unfulfilled yet the needs of the community about livable placealthough have got the aid, no effort from the society to continue the renovation of the house, less enthusiastic of the society to apply for aid because of a long and complicated process, and less active of the implementerin encouragingsociety to participate in social aid programs.
308912861H1A011006FORMULASI SABUN ANTIOKSIDAN DARI MINYAK BIJI NYAMPLUNG (Calophyllum inophyllum L.) DENGAN PENAMBAHAN EKSTRAK KULIT MANGGIS (Garcinia mangostana L.)Sabun saat ini memiliki fungsi tambahan selain pembersih tubuh manusia, salah satu fungsi lainnya yaitu sebagai sabun kesehatan. Manggis (Garcinia mangostana L) merupakan salah satu buah yang memiliki kandungan antioksidan tinggi pada kulit buahnya. Oleh karena itu, dilakukan penelitian mensintesis sabun antioksidan yang berasal dari minyak nyamplung dan ekstrak metanol kulit manggis. Sabun antioksidan yang dibuat dikarakterisasi berdasarkan SNI 06-3532-1994 yang meliputi kadar air, asam lemak total, asam lemak bebas / alkali bebas, lemak tak tersabunkan dan aktivitas antioksidannya sehingga didapatkan sabun dengan formulasi terbaik. Aktivitas sabun antioksidan diuji dengan metode DPPH. Penentuan formulasi sabun antioksidan terbaik dilakukan berdasarkan metode indeks efektivitas. Untuk mengetahui tingkat kesukaan responden terhadap sabun antioksidan formulasi terbaik dilakukan berdasarkan warna, tekstur, aroma, busa, saat pemakaian dan setelah pemakaian. Hasil penelitian menunjukkan sabun antioksidan formulasi terbaik berdasarkan SNI 06-3532-1994 dan aktivitas antioksidan didapatkan sabun antioksidan dengan penambahan ekstrak metanol kulit manggis sebesar 5% (SA5) dengan kadar air sebesar 20,04%, asam lemak total sebesar 69,48%, asam lemak bebas sebesar 1,44%, lemak tak tersabunkan sebesar 1,38%, dan nilai inhibisi sebesar 30,31%. Hasil analisis rancangan lengkap non faktorial yang menunjukkan perbedaan nyata maka akan dilanjutkan dengan uji DMRT (Duncan’s Multiple Range Test) dengan tingkat kepercayaan 95% (α=0,05). Sabun antioksidan SA5, berdasarkan tingkat kesukaan menunjukkan responden menyukai produk sabun antioksidan SA5 yaitu sebesar 3,2 (skor maksimal 5).Soap currently has additional functions was to cleaned the human body, other function was as a health soap. Mangosteen (Garcinia mangostana L) was one of the fruits that had high content of antioxidants in the peel. Therefore, research synthesize antioxidant soap derived from tamanu oil and methanol extract of mangosteen peel. Characterized antioxidant soap by SNI 06-3532-1994 which includes of water content, total fatty acids, free fatty acid / alkali-free, saponified fats and antioxidant activity until the best soap formulations. Activity of antioxidant soap was tested by DPPH method. Determination of the best antioxidant soap formulation was based on the effectiveness of the index method. For determine the level of respondents' favorite of best formulations antioxidant soap by color, texture, aroma, foam, while use and after use. The results showed antioxidant soap formulations based on SNI 06-3532-1994 best and antioxidant activity of antioxidants soap obtained by the addition of methanol extract of mangosteen peel at 5% (SA5) soap with water content of 20,04%, the amount of 69,48% fatty acids, free fatty acids at 1,44%, fat saponified by 1,38% and amounted to 30,31% inhibition value. Results of a completed design non factorial analysis showed the real difference was followed by DMRT (Duncan's Multiple Range Test) with a 95% confidence level (α = 0,05). Antioxidant soap SA5, based preference level indicates respondents antioxidants liked soap products SA5 was equal to 3,2 (maximum score 5).
309012862H1A011041PENURUNAN KADAR LOGAM Cd, Fe, DAN Pb PADA LIMBAH CAIR BATIK MENGGUNAKAN MEMBRAN SELULOSA ASETAT DARI NATA DE BANANA SKINPada penelitian ini telah dilakukan aplikasi membran selulosa asetat dari kulit pisang (nata de banana skin) untuk menurunkan kadar logam kadmium (Cd), besi (Fe), dan timbal (Pb) pada limbah cair batik. Selulosa asetat diperoleh dari proses asetilasi nata de banana skin. Karakterisasi selulosa asetat dilakukan dengan menganalisis gugus fungsi, menentukan berat molekul relatif, dan menentukan kadar asetil. Hasil analisis gugus fungsi dengan menggunakan FTIR menunjukkan adanya serapan khas gugus karbonil (C=O) pada 1738,39 cm-1 dan serapan gugus asetil (C–O) pada 1228,39 cm-1 dengan berat molekul relatif sebesar 6,871x104 g/mol dan kadar asetil sebesar 38,75%. Membran selulosa asetat dibuat dengan teknik inversi fasa. Membran selulosa asetat yang dihasilkan dikarakterisasi dengan mengukur nilai fluks air dan sampel (limbah cair batik) serta diaplikasikan untuk penurunan kadar Cd, Fe, dan Pb. Hasil pengukuran diperoleh nilai fluks air sebesar 6,09 L/(m2.jam) dan fluks limbah sebesar 0,97 L/(m2.jam). Persentase penurunan kadar Cd, Fe, dan Pb dalam limbah cair batik diperoleh masing-masing sebesar 99,46 %, 98,90 %, dan 97,39 %.In this research, cellulose acetate membrane was made from banana peels(nata de banana skin) and then applicated for lowering the level of cadmium (Cd), iron (Fe), and lead (Pb) in the wastewater of batik. Cellulose acetate was obtained by acetylation process of nata de banana skin. Characterization of cellulose acetate is conducted by analyzing the functional groups, determining the molecular weight, and the levels of acetyl. Results of the analysis of functional groups using FTIR showed the absorption of carbonyl group (C = O) in 1738.39 cm-1 and acetyl group (C-O) in 1228.39 cm-1 with a molecular weight of 6.871x104 g/mol and the content of acetyl 38.75%. It was made using phase inversion method. Cellulose acetate membrane also been characterized by measuring the water flux values and sample (wastewater of batik), and it’s application to decreased Cd, Fe, and Pb content in wastewater of batik. The results for water flux value was 6.09 L/(m2.h) and waste flux at 0.97 L/(m2.h). The percentage decrease 99.46 % of Cd content, 98.90 % Fe content, and 97.39 % Pb content in wastewater of batik.
309112864H1F011007STUDI KUALITAS BATULEMPUNG BERDASARKAN ANALISIS PETROLOGI, PETROGRAFI DAN GEOKIMIA
UNTUK BAHAN BAKU SEMEN DI DAERAH PASIRGADUNG
KECAMATAN CITEREUP KABUPATEN BOGOR
PROVINISI JAWA BARAT
Pemetaan persebaran kualitas batulempung di daerah pasirgadung kecamatan citereup kabupaten bogor provinsi jawa barat merupakan salah satu cara dalam mengetahui kualitas batulempung untuk bahan baku semen yang memperhatikan kandungan perbandingan SiO2 dan Al2O3 untuk menghasilkan standar indeks alumina.
Hasil analisis petrologi, petrografi maupun geokimia melalui pendekatan hubungan besar butir terhadap indeks alumina dan memperhatikan aspek kenampakan fisik seperti, kekompakan batuan, struktur batuan maupun tipe sedimentasi perlu ditingkatkan sebagai acuan pembuatan peta persebaran kualitas batulempung untuk dasar eksploitasi
Daerah penelitian dengan lokasi studi khusus pada koordinat 710500 mE-711500 mE dan 927500 mN-927600 mN terbagi atas tigas satuan litostratigrafi meliputi batupasir-batulempung, satuan batulempung-batupasir, satuan endapan koluvial dan terbagi atas dua satuan geomorfologi yaitu, satuan perbukitan struktual (S3) dan satuan punggungan denudasional (V11). Dari perbandingan uji analisis geokimia berupa X-Ray Flourance yang menghasilkan indeks alumina terhadap perbandingan material pasir dan mud mendapatkan rasio dengan nilai error 0,986 merupakan hasil yang baik untuk mencari kualitas batulempung pada kondisi high alumina.
Mapping the distribution of quality claystone pasirgadung and the surrounding area citereup sub district bogor regency west java province is one way to determine the quality of claystone to produce cement that takes into account the content of SiO2 and Al2O3 ratio to produce alumina index standards.
Results of petrological analysis, petrographic and geochemical through a relationship approach to the index alumina grain size and the aspect of physical appearance, compactness rocks, rock structures and types of sediment needs to be improved as a reference distribution map-making quality claystone to basic exploitation
The study area with the location of special studies at coordinates 710500 mE -711 500 mE and 927500-927600 mN divided into litho from evaluating unit includes sandstone-mudstone, sandstone-claystone unit, coluvial deposition unit and is divided into two units, namely geomorphology, a structural unit of the hills (S3 ) and the ridge denudasional unit (V11). Geochemical analysis of the comparative test in the form of X-Ray Flourance which produces the index of the comparative material alumina sand and mud gain ratio with a value of 0.986 error is a good result for the search for high-quality claystone on condition of alumina.

309212873H1A011004Aktivitas Antidiabetes terhadap Mencit dari Ekstrak Metanol Daun Mangga (Mangifera indica L.) dan Identifikasi Golongan Senyawa Bioaktifnya Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu gangguan metabolik yang menyebabkan kadar glukosa darah melebihi batas normal. Pengobatan menggunakan obat-obat diabetes relatif mahal, selain itu dapat menimbulkan efek samping bahkan komplikasi penyakit. Senyawa bahan alam dari ekstrak tanaman dapat dimanfaatkan sebagai pengobatan alternatif, salah satunya yaitu ekstrak daun mangga (Mangifera indica L.). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antidiabetes ekstrak metanol daun mangga terhadap mencit yang telah diinduksi aloksan, dan mengidentifikasi golongan senyawa bioaktif dari ekstrak tersebut.
Penelitian ini menggunakan 25 ekor mencit jantan berumur 1-2 bulan yang mempunyai berat badan 25-40 gram. Mencit dibagi menjadi dua kelompok kontrol dan tiga kelompok uji, yaitu kontrol negatif, kontrol positif, kelompok uji dengan ekstrak metanol daun mangga dosis rendah 125 mg/kgbb, dosis sedang 250 mg/kgbb, dan dosis tinggi 500 mg/kgbb. Mencit diaklimatisasi selama 7 hari, kemudian mencit diberi aloksan 168 mg/kgbb secara oral agar mengalami diabetes. Mencit yang telah diabetes diberi aquades untuk kontrol negatif, glibenklamid untuk kontrol positif, dan ekstrak metanol daun mangga untuk tiga kelompok uji setiap hari selama 9 hari, kemudian dilakukan pengukuran kadar glukosa darah pada hari ke 3, ke 6, dan ke 9. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis 125, 250 dan 500 mg/kgbb memiliki efek yang sama dalam menurunkan kadar glukosa darah. Pada uji ANOVA menunjukkan adanya perbedaan bermakna antara setiap dosis dengan kontrol negatif (p≤0,05), sedangkan dosis 250 mg/kgbb tidak terdapat perbedaan bermakna dengan kontrol positif pada hari ke-9 (p≥0,05). Selain itu, dosis 250 mg/kgbb juga memiliki persentase penurunan kadar glukosa darah paling tinggi dibandingkan dosis lain yaitu sebesar 20,23% pada hari ke 3; 28,72% pada hari ke 6; dan 47,59% pada hari ke 9.
Diabetes Mellitus (DM) is a metabolic disorder that causes blood glucose level to exceed the normal level. Medication through normal diabetes medicines is very expensive and not to mention the possibility of side effects or even disease complications. Natural compounds from plant extracts can be used as an alternative medicine, especially mango (Mangifera indica L.) leaves extracts. This research is conducted to examine the antidiabetic activity of methanol extracts from the mango leaves to the mice that have been induced with alloxan and identify the class of the bioactive compound from the extracts.
This research uses 25 male mice with ages ranging from one to two months and weights ranging from 25 to 40 gram. The mice are divided into two control groups, the negative control and the positive control, and three test groups with an extract methanol leaves mango, low doses 125 mg/kgbw, average doses 250 mg/kgbw, and high doses 500 mg/kgbw. Mice were acclimatized for 7 days, then the mice were given alloxan 168 mg/kgbw orally in order to have diabetes. Mice who had diabetes were given distilled water for negative control, glibenclamide for the positive control, and the methanol extract of mango leaves for three test groups daily for nine days, followed by blood glucose tests in the third, sixth, and ninth day. The result shows that 125, 250, and 500 mg/kgbw have the same effect in reducing the blood glucose level. The ANOVA test shows a significant differences between every doses with negative control (p≤0.05), whereas with 250 mg/kgbw dose, there is no significant difference with the positive control in the ninth day (p≥0.05). Additionally, 250 mg/kgbw dose also has the highest rate of blood glucose level reduction compared to the others. The reduction rate is 20.23% in the third day, 28.72% in the sixth day, and 47.59% in the ninth day.
309312867H1A010021KARAKTERISASI DAN VARIASI WAKTU ASETILASI-HIDROLISIS
PADA PEMBUATAN SELULOSA ASETAT DARI NATA DE CASSAVA
Selulosa asetat dari nata de cassava adalah salah satu polimer alam yang diproduksi melalui empat tahap yaitu aktivasi, asetilasi, hidrolisis, dan pemurnian. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh waktu asetilasi dan hidrolisis pada pembuatan selulosa asetat dari nata de cassava terhadap hasil karakterisasi gugus fungsi, kadar asetil, dan massa molekul relatif. selulosa asetat dibuat dengan variasi waktu 15 jam asetilasi : 15 jam hidrolisis (W1), 15 jam asetilasi : 20 jam hidrolisis (W2) dan 20 jam asetilasi : 15 jam hidrolisis (W3). Hasil analisis data FTIR membuktikan terbentuknya selulosa asetat dengan pita serapan khas yaitu adanya gugus karbonil (C=O) pada bilangan gelombang 1733.33 cm-1 untuk W1, 1732.73 cm-1 untuk W2, dan 1733.90 cm-1 untuk W3. Hasil analisis bobot molekul relatif menunjukan 12.3469 x 104 g/mol untuk W1, 1.7969 × 104 g/mol untuk W2, dan 3.0269 × 104 g/mol untuk W3. Hasil analisis kadar asetil menunjukan 35.875% dari W1, 41.615% dari W2, dan 44.485% dari W3.Cellulose acetate from nata de cassava is one of the natural polymer which is produced through the four steps. The steps are activation, acetylation, hydrolysis, and purification. The research purpose is know influence time acetylation and hydrolysis at making cellulose acetate from nata de cassava toward yield the characterization are fungtion group analysis, acetyle degree, and relative molecular weight. Cellulose acetate making with variation of acetylation-hydrolysis time. The variations are 15 : 15 hour (W1); 15 : 20 hour (W2); 20 : 15 hour (W3). The result of FTIR data showed existence of cellulose acetate which was indicated by typical absorbance band such as carbonyl group (C=O) at wave number 1733.33 cm-1 from W1, 1732.73 cm-1 from W2, and 1733.90 cm-1 from W3. The result relative molecular weight indicate 12.3469 x 104 g/mol for W1, 1.7969 × 104 g/mol for W2, and 3.0269 × 104 g/mol for W3. The result degree of acetyle indicate 35.875% from W1, 41.615% from W2, and 44.485% from W3.
309412868F1A009016MOTIVASI NON-EKONOMI PENGEMIS DI ALUN-ALUN KOTA PURWOKERTOABSTRAK
Permasalahan mengenai pengemis sering kali menjadi bahan pembicaraan yang hingga saat ini seperti belum mendapat penanganan serius. Pasalnya disudut maupun ditengah kota, keberadaan mereka setiap tahun semakin bertambah. Pemerintah pada dasarnya sudah mencoba untuk mengambil tindakan tegas terhadap keberadaan mereka. Namun akhirnya mereka kembali menjadi pengemis, dan dikarenakan penghasilan dari mengemis dinilai oleh banyak orang malas sangat menguntungkan, maka mengemis dijadikan sebagai sebuah pekerjaan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor non-ekonomi yang menjadi beberapa kunci tentang eksistensi pengemis khususnya di wilayah alun-alun Purwokerto. Peneliti menemukan adanya faktor budaya, sosial dan agama yang menjaga eksistensi mereka. Jenis penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, sedangkan teknik pengambilan data dengan purposive sampling. Dengan pendekatan secara alami dan mengambil sampel terhadap informan yang dinilai lebih tahu tentang fokus penelitian, maka peneliti mampu mendapat informasi yang diinginkan. Faktor non-ekonomi seperti faktor budaya, yang menjadikan mental mengemis dari masyarakat yang memang berasal dari ekonomi bawah semakin besar. Faktor agama, mengemis dijadikan sebagai suatu investasi kebajikan dalam arti lain apabila memberi pengemis dipastikan mendapat pahala. Faktor sosial, lingkungan tempat tinggal dan keluarga menjadi salah satu penyebab utama dari eksistensi mereka.
Kata kunci: Faktor non-ekonomi, budaya, agama, sosial


Motivasi Non-ekonomi Pengemis di Alun-alun Purwokerto”
“Non-economic motivations Beggars in the Square Purwokerto”
Wahyuni Zetasari, FX. Wardiyono, Rahmad Santosa
Email: zetasari.wahyuni@gmail.com
ABSTRACT
Problems concerning beggars often be the talk which until now has not received such serious treatment. Because the corner or the middle of the city, their presence is increasing every year. The Government basically has tried to take firm action against their existence. But eventually they become beggars, and because income from begging rated by many lazy people are very profitable, then begging serve as a job. The purpose of this study to determine non-economic factors into some of the key on the existence of beggars, especially in the area of the square Purwokerto. Researchers discovered the existence of cultural, social and religious who take care of their existence. This research uses qualitative descriptive method, while data retrieval technique with purposive sampling. With the approach naturally and take samples of the informants who assessed more you know about the focus of research, the researchers were able to obtain the desired information. Non-economic factors such as cultural factors, which makes mental begging from people who are coming from the bottom of the larger economy. Religious factors, begging serve as an investment virtue in another sense when giving beggars certainly be rewarded. Social factors, living environment and the family became one of the main causes of their existence.
Keywords: non-economic factors, cultural, religious, social









ABS
309512869A1M011047PENGARUH PENGGUNAAN TEPUNG KOMPOSIT KEDELAI-SORGUM-TAPIOKA TERHADAP SIFAT KIMIA DAN SENSORI NUGGET TEMPETempe merupakan salah satu produk fermentasi kedelai yang bergizi tinggi. Namun, tempe mempunyai daya simpan terbatas. Oleh karena itu, diperlukan adanya inovasi yang dapat memperpanjang umur simpan dan menganekaragamkan produk olahan tempe. Salah satunya yaitu dengan mengolah tempe menjadi nugget. Nugget berbahan baku tempe diduga akan memiliki karakteristik yang berbeda dari nugget pada umumnya. Penggunaan tepung komposit (tepung kedelai-tepung sorgum-tapioka) diharapkan mampu memperbaiki karakteristik nugget tempe. Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan: 1) Penambahan optimal tepung komposit terhadap tempe sebagai bahan dasar; 2) Proporsi tepung komposit (tepung kedelai-tepung sorgum-tapioka) yang optimal; 3) Unit kombinasi perlakuan yang menghasilkan nugget tempe dengan sifat kimia dan sensori terbaik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan yang menghasilkan nugget tempe dengan sifat kimia dan sensori terbaik yaitu T3P4 (nugget tempe dengan penambahan tepung komposit sebanyak 40% dari berat tempe dengan proporsi tepung komposit kedelai : tepung sorgum : tapioka 30:30:40). Produk tersebut memiliki kadar air 41,91%, kadar abu 0,56% bb (0,97% bk), kadar total asam tertitrasi 0,12% bb (0,21% bk), kadar protein total 14,68% bb (25,27% bk), kadar lemak 15,87% bb (27,31% bk), kadar karbohidrat by difference 26,98% bb (46,45% bk), dengan rasa (khas tempe) agak terasa (2,71), bau (khas tempe) agak terasa (2,96), tekstur kenyal (2,67), flavor (cita rasa) enak (2,98) dan tingkat kesukaan “suka” (2,96).Tempe is a fermented soy product which is high in nutrients. However, tempe has a limited shelf life. Therefore, it is necessary for innovation that it can extend its shelf life and diversify the processed tempe products. One of them is by processing tempe into nugget. Tempe nugget is expected to have different characteristics than commonly nuggets. The use of composite flour (soy flour-sorghum flour-tapioca) is expected to improve the characteristics of tempe nugget. This research was aimed to determine: 1) The optimum addition of composite flour to produce tempe nugget; 2) The optimum proportion of composite flour (soy flour-sorghum flour-tapioca) to produce tempe nugget; 3) The treatment combination unit that produce tempe nugget with the best chemical and sensory properties. The results showed that the best treatment combination based on chemical and sensory properties was T3P4 (tempe nugget with addition of composite flour as much as 40% of the weight of tempe with soy flour : sorghum flour : tapioca 30:30:40). The product had water content of 41.91%, 0.56% wb (0.97% db) ash content, 0.12% wb (0.21% db) titrated acid total content, 14.68% wb (25.27% db) total protein content, 15.87% wb (27.31% db) fat content, 26.98% wb (46.45% db) carbohydrates by difference content, slightly specific taste of tempe (2.71), slightly specific aroma of tempe (2.96), chewy texture (2.67), tasty flavor (2.98) and the level of preference of tempe nugget was “liked” (2.96).
309612874E1A009064TUGAS DAN KEWENANGAN MAHKAMAH KONSTITUSI DALAM PENYELESAIAN SENGKETA HASIL PEMILUKADA (STUDI KASUS PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI TENTANG PEMILIHAN KEPALA DAERAH SUMATRA SELATAN PERKARA NOMOR 79/PHPU.D-XI/2013)Penelitian ini mengkaji dan menjawab permasalahan mengenai bagaimana pelaksanaan penyelesaian sengketa hasil pemilukada di Mahkamah Konstitusi dan bagaimana tugas dan wewenang Mahkamah Konstitusi dalam penyelesaian sengketa hasil pemilukada.
Penelitian ini merupakan jenis penelitian normatif yang bersifat deskriptif. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yang meliputi bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi dokumen dengan teknik analisis isi (content analysis).
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah penulis paparkan pada Bab III yang mengacu pada rumusan masalah, maka penulis menyimpulkan sebagai berikut:
Dalam sengketa Pemilukada Sumatera Selatan (Sumsel) Mahkamah Konstitusi memutuskan untuk mengabulkan permohonan Bupati Ogan Komering Ulu Timur, Herman Deru, dan Maphilinda Boer.MK dalam kasus ini membatalkan hasil rekapitulasi KPU Provinsi Sumsel dan memerintahkan pemungutan suara ulang di empat Kabupaten/Kota dan satu Kecamatan."Dalam eksepsi, menolak eksepsi Termohon (KPU Provinsi).Dalam pokok perkara mengabulkan permohonon Pemohon untuk sebagian, membatalkan Keputusan Komisi Pemilihan Umum Provinsi Sumatera Selatan no 33/Kpts/KPU.Prov-006/VI/2013 tentang penetapan hasil rekapitulasi penghitungan suara pemilihan umum gubernur dan wakil gubernur Sumatera Selatan tahun 2013, bertanggal 13 Juni 2013.
Mahkamah Konstitusi membatalkan keputusan KPU Provinsi Sumsel nomor 34/Kpts/KPU.Prov-006/VI/2013 tentang penetapan pasangan calon terpilih Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Selatan periode 2013-2018, pasangan Alex Noerdin-Ishak Mekki". Untuk melaksanakan pemungutan suara ulang ada seluruh TPS di Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, seluruh TPS di Kabupaten Ogan Komering Ulu, seluruh TPS di Kota Palembang, seluruh TPS di Kota Prabumulih, dan seluruh TPS di Kecamatan Warkuk Ranau Selatan di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan.
Mahkamah Konstitusi memerintahkan KPU, Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Provinsi Sumsel dan Bawaslu untuk mengawasi pelaksanaan pemunngutan suara ulang tersebut dengan kewenangannya serta memerintahkan semua instansi itu untuk melaporkan kepada Mahkamah pelaksanaan amar putusan ini dalam waktu paling lambat  90 hari sejak putusan ini diucapkan.
Berdasarkan ketentuan Pasal 24C ayat (1) UUD 1945 dan Pasal 10 ayat (1) huruf d Undang-Undang Nomor 24 tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi juncto, Pasal 29 ayat (1) huruf d Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, dan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, salah satu kewenangan konstitusional dari Mahkamah Konstitusi adalah memutus Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Kepala Daerah.
Mahkamah Konstitusi sebagai suatu lembaga peradilan khusus yang disebutkan dalam UUD ini mempunyai karakter khusus. Kekhususan tersebut terletak pada putusan Mahkamah Konstitusi yang bersifat final dan mengikat. Dalam permasalahan ini Mahkamah Konstitusi telah melakukan kewajibanya dengan baik dan sesuai dengan hukum yang ada, namun dalam putusanya Mahkamah Konstitusi tetap memberikan celah bagi gubernur Incumbent untuk dapat memenangkan Pemilukada dengan tetap mengikut sertakan gubernur Incumbent.
This research aims to study and to answer the problem about how the implementation of dispute resolution of local generation result is in Constitution Court and how the implication of task and authority of Constitution Court in resolving the dispute on local general election result.

This research belongs to type of a normative research that have the quality of descriptive. The type of data used is secondary data including primary, secondary and tertiary law materials. Technique of collecting data used is documentation study using content analysis.

Considering the result of research and discussion the writer has explained in Chapter III referring to the problem statement, the writer concluded that are:

Election disputes in South Sumatra (South Sumatra) The Constitutional Court decided to grant the request Regent East Ulu Ogan Ogan, Herman roar, and Maphilinda Boer.MK in this case annulled the KPU recapitulation of South Sumatra province and ordered a re-voting in four Regency / City and the District of . "In the exception, rejected the exception of the Respondent (KPU Province) .In the principal case permohonon grant Applicant for the most part, annul the Decision of the General Election Commission of South Sumatra Province No. 33 / Kpts / KPU.Prov-006 / VI / 2013 concerning the determination of the results of vote count recapitulation elections for governor and deputy governor of South Sumatra in 2013, dated June 13, 2013.
The Constitutional Court canceled the decision of the Provincial Election Commission Sumsel number 34 / Kpts / KPU.Prov-006 / VI / 2013 concerning the determination of the candidate elected Governor and Deputy Governor of South Sumatra period 2013-2018, the pair Alex Noerdin-Ishak Mekki ". To carry out the re-voting there are all polling stations in East Ulu Ogan Ogan, all polling stations in Ulu Ogan Ogan, all polling stations in the city of Palembang, all polling stations in Prabumulih, and all polling stations in the district of South Ranau Warkuk in Ogan Ogan Ulu.
The Constitutional Court ordered the Election Commission, the Election Supervisory Body (Bawaslu) and South Sumatra Provincial Election Supervisory Body to oversee the implementation of the re-pemunngutan voice with authority and ordered all agencies to report to the implementation of the ruling of this Court no later than 90 days after the verdict is pronounced.
Under the provisions of Article 24C paragraph (1) of the 1945 Constitution and Article 10 paragraph (1) letter d of Law Number 24 of 2003 on the Constitutional Court in conjunction with Article 29 paragraph (1) letter d of Law Number 48 Year 2009 regarding Judicial Power, and Law Number 12 Year 2008 regarding the Second Amendment to Law Number 32 Year 2004 on Regional Government, one of the constitutional authorities of the Constitutional Court is to decide Dispute Election Results Regional Head.
The Constitutional Court as a judicial institution specifically mentioned in the Constitution has a special character. The specificity lies in the decision of the Constitutional Court are final and binding. In this issue of the Constitutional Court has made its obligations properly and in accordance with the existing law, but the Constitutional Court putusanya still provide the opportunity for the incumbent governor to win the General Election with a fixed to involve incumbent governor.
309712877F1A010049Representasi Homoseksualitas dalam Film MilkPenelitian ini berangkat dari ketertarikan penulis akan tema yang diusung oleh film Milk yaitu homoseksual dan politik. Ketika notabene tokoh politik rentan akan isu sensitif seperti negative campaign dan black campaignnamun dalam proses untuk berjuang mengambil simpati dan mengemban amanat masyarakat justru mengusung identitas yang sudah sarat akan mitos negatif di masyarakat yaitu homoseksual. Disisi lain berbagai media juga ikut membangun stigma negatif untuk kemudian menjadi mitos mengenai homoseksual. Maka pembedahaan akan homoseksualitas dalam media menjadi menarik apalagi film ini seakan seperti mendobrak mitos yang ada mengenai homoseksual.Berdasarkan pengamatan perihal tersebut maka perumusan masalah yang diangkat oleh peneliti adalah bagaimana homoseksualitas direpresentasikan dalam film Milk. Tujuannya adalah untuk semakin membuka pandangan dan wawasan masyarakat terkait dengan isu seksualitas melalui perepresentasian di media seperti Film. Penelitian ini menggunakan Semiotik Roland Barthes untuk mengungkap makna yang terkandung dalam tanda-tanda terkait homoseksualitas dalm film Milk. Hasil penelitian ini adalah bahwa perepresentasian keseluruhan mengenai homoseksual menjadi positif dengan memperlihatkan berbagai sisi kehidupan mereka dan menaruh posisi mereka sebagai kelompok minoritas yang ingin berjuang agar dapat hidup dalam taraf yang sama seperti lainnya bebas dari diskriminasi sekitar.ABSTRACT
This study start from the interest of authors about the theme carried by the film Milk, there are homosexuals and political. When in fact the political figure is vulnerable to sensitive issues such as the negative campaign and black campaign but in the process to take the sympathy and assumes trustee of the community is carried identity already full of negative myth in society that is homosexual. On the other hand various media also build a negative stigma in order to be a myth concerning homosexual. Then talks toward homosexuality in the media would be interesting especially this film seemed like a break down myths that exist about homosexuals. Based on observations of the subject, the formulation of the issues raised by the researchers is how homosexuality is represented in the film Milk. The aim is to more open society views and insights related to issues of sexuality through the representation in the media such as film. This study use Semiotic Roland Barthes to uncover the meaning contained in the signs related to homosexuality in film Milk. The results of this study are the represented about homosexual become positive with portraying various aspects of their life and put their position as a minority who want to fight in order to live in the same level of other such as free from discrimination.
309812876A1G012023KAJIAN FINANSIAL DAN FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP USAHATANI PADI AROMATIK
DI KECAMATAN PATOKBEUSI KABUPATEN SUBANG
Pengembangan agribisnis beras dan stabilitas ketersediaan beras di Indonesia merupakan perhatian Pemerintah melalui kebijakan peningkatan produksi, produktivitas, peningkatan kualitas beras. Padi atau beras aromatik merupakan padi yang memiliki karakteristik beraroma wangi mulai dikembangkan di Kecamatan Patokbeusi Kabupaten Subang. Pengembangan padi aromatik memiliki peluang yang besar dalam meningkatkan pendapatan petani seiring dengan meningkatnya permintaan beras yang berkualitas.Tujuan penelitian adalah untuk menghitung biaya dan pendapatan usahatani padi aromatik dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keuntungan usahatani padi aromatik di Kecamatan Patokbeusi Kabupaten Subang. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Patokbeusi Kabupaten Subang pada 3 April 2015 sampai dengan 2 Mei 2015.Lokasi penelitian ini dipilih secara sengaja (purposive).Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan metode pengambilan sampel adalah metode sensus , dengan ketentuan pemilihan obyek desa responden adalah desa Ciberes, desa Jatiragas Hilir, desa Rancamulya, desa Tambakjati, desa Tanjungrasa dan desa Tanjungrasa Kaler karena di lokasi tersebut terdapat petani yang membudidayakan padi aromatik. Metode analisis yang digunakan adalah analisis biaya dan pendapatan serta fungsi keuntungan Cobb Douglas. Hasil penelitian penerimaan rata-rata per hektar petani padi aromatik yaitu Rp 32.400.043,65 dan biaya produksi rata-rata per hektar sebesar Rp. 20.159.057,69 sehingga pendapatan yang diterima sebesar Rp 12.240.985,95. Faktor produksi lahan, benih, pupuk dan tenaga kerja, berpengaruh nyata terhadap keuntungan usahatani padi aromatik, sedangkan faktor pestisida, dan biaya pasca panen berpengaruh tidak nyata terhadap keuntungan usahatani padi aromatik.
The Development of agribusiness and stability of the avaikability of rice in Indonesia is the government attention through the increased production of policy, productivity, improvement quality of rice. Aromatic rice is having fragrant scent which developed in subdistric Patokbeusi , District Subang. The development of aromatic rice have opportunity to to increased the farmer revenue along with high demand for quality rice.The aims of this research to calculated the cost and the income of farmer aromatic rice and to analyze the factors which is influence the profit of rice aromatic farmer in subdistric Patokbeusi , District Subang.This research did in subdistric Patokbeusi , District Subang on 3 April 2015 until 2 May 2015. This location choosed based on purposive. The research method which used are survey and sensuss method. The object of research are Ciberes Village, Jatiragas Hilir Village, Rancamulya Village, Tambakjati Village, Tanjungrasa Village, and Tanjungrasa Kaler Village because in that location there the farmers cultivate aromatic rice. The analysis method which used are analysis costs and income also the function of revenue Cobb Douglas. The result showed average of revenue per hectare Rp 32,400,043.65 and the average of production costs per hectare Rp. 20,159,057.69. The revenue was accepted Rp. 12,240,985.95. The factor land productions, the seeds, the fertilizer, the labour influenced to the rice crop aromatic. The pesticides factor and costs of after harvest uninfluenced revenue to the the rice crop aromatic.
309912871H1L008012RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI PENGOLAHAN NILAI RAPORT MENGGUNAKAN YII FRAMEWORK ( STUDI KASUS PADA SMK WIWOROTOMO PURWOKERTO )SMK Wiworotomo Purwokerto merupakan salah satu Sekolah Menengah Kejuruan yang sudah memiliki fasilitas cukup lengkap. Beberapa fasilitas yang dimiliki SMK Wiworotomo adalah komputer dan beberapa alat dan bahan praktikum. Namun, pemanfaatan komputer masih belum optimal sehingga SMK Wiworotomo masih memiliki kelemahan yang cukup kompleks dalam pengolahan data, khususnya pengolahan data nilai siswa. Proses pengolahan data nilai siswa dan laporan hasil belajar siswa pada SMK Wiworotomo telah menggunakan komputer berupa file aplikasi microsoft excel, yang belum terpusat dalam satu aplikasi, setiap guru mata pelajaran memiliki satu file aplikasi tersebut dan bila guru mata pelajaran telah mengisi nilai pada file excel tersebut, guru mata pelajaran menyerahkan file tersebut kepada guru wali kelas untuk di rekap kedalam file aplikasi excel lainnya. Dan kemudian pada saat pembagian raport guru wali kelas mencetak nilai raport siswa dan menyerahkan kepada orang tua atau wali siswa. Sistem seperti ini dapat menimbulkan kesalahan dan hilangnya data nilai siswa karena tidak terdokumentasi dengan baik. Oleh sebab itu, perlu dibangun sebuah sistem informasi pengolahan nilai raport siswa yang terpusat dalam satu sistem informasi yang dapat membantu SMK Wiworotomo dalam proses pengolahan nilai siswa dan pencarian nilai siswa secara efisien.SMK Wiworotomo Purwokerto is one of vocational high schools which already has complete facilities. Some of the facilities of SMK Wiworotomo are a computer, tools and some lab materials. However, the use of computer is still not optimum, so that SMK Wiworotomo still has complex weaknes in the data processing, particularly data processing of student grades. The data processing in SMK Wiworotomo Purwokerto is still conducted manually. Data processing student grades in SMK Wiworotomo used computer files such as Microsoft Excel files which has not been centralized in a single file, each subject teacher has a file of the Microsoft Excel and when the subject teachers have filled in the excel file, subject teachers hand over the file to the homeroom teacher for a recap into a file in another excel file. And then at the time of the distribution of report cards, homeroom teacher print the student grades and give to parents. Such a system can cause errors and data loss because students grades are not well documented. Therefore, it is necessary to build a management information system of student grades in a centralized, student information system that can help SMK Wiworotomo in the processing of student scores and grades of students to efficiently.
310012870H1A010041PENURUNAN KADAR FENOL LIMBAH CAIR BATIK MENGGUNAKAN METODE PROSES OKSIDASI LANJUT DALAM SISTEM H2O2/UVFenol merupakan salah satu senyawa organik dari buangan industri yang sulit didegradasi. Fenol dalam limbah cair industri batik banyak terkandung dalam lilin yang digunakan selama proses pembatikan. Proses oksidasi lanjut (AOPs) merupakan salah satu teknologi yang dapat digunakan untuk menurunkan kadar fenol dalam limbah cair. AOPs merupakan sistem yang didasarkan pada pembentukan radikal hidroksil (•OH). Radikal hidroksil ini mampu menguraikan senyawa-senyawa berbahaya yang bersifat nonbiodegradable dalam limbah melalui proses oksidasi. Pada penelitian ini digunakan metode AOPs dengan sistem radiasi UV, H2O2, dan H2O2/UV. Hasil penelitian menunjukkan bahwa reaksi AOPs menghasilkan waktu kontak optimum 8 jam dan konsentrasi optimum H2O2 sebesar 50 ppm. Kondisi pH terbaik yang diperoleh adalah pH 3 dengan penurunan kadar fenol mencapai 76,577 dan 83,451 %. Sistem dengan pengaruh radiasi UV menghasilkan penurunan kadar fenol yang lebih tinggi dibandingkan sistem tanpa pengaruh radiasi UV. Berdasarkan hasil uji-T, pada kondisi optimum sistem H2O2 tanpa radiasi UV dan dengan radiasi UV tidak berbeda nyata.Phenol is one of nonbiodegradable organic compound from industrial waste. Phenol in liquid waste of batik industry produced by wax during production process. Advanced Oxidation Processes (AOPs) is one technology that can be use for phenol removal in liquid waste. AOPs is a system based on hydroxil radicals (•OH) production. This hydroxil radicals can degrades recalcitrant compounds in wastewater trough oxidative degradation process. In this study, used AOPs technology with UV radiation, H2O2 and H2O2/UV system. The reaction of AOPs for phenol removal was optimum at 8 hours and 50 ppm of H2O2 concentration. The best condition of pH was 3 with phenol removal 76.577 and 83.451 %. Systems with UV radiation yield phenol removal better than systems without UV radiation. Based on T-test, system without UV radiation and with UV radiation at optimum condition were not significantly different.