Artikelilmiahs

Menampilkan 3.021-3.040 dari 48.733 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
302112779P2CC11059PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL, KOMUNIKASI ORGANISASI DAN KOMITMEN AFEKTIF TERHADAP KINERJA DEWAN PIMPINAN CABANG HANURA KABUPATEN CILACAPYudi Agus Setiawan. Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional, Komunikasi Organisasi Dan Komitmen Affective Terhadap Kinerja Dewan Pimpinan Cabang Hanura Kabupaten Cilacap. Komisi Pembimbing: Dr. Haryadi, M.Sc, anggota: Sri Murni Setyawati, MM, Ph.D.
Penelitian bertujuan menganalisis pengaruh kepemimpinan transformasional, komunikasi dan affective commitment terhadap kinerja Dewan Pimpinan Cabang Hanura Kabupaten Cilacap.
Dalam penelitian objek yang akan diteliti ini adalah anggota Dewan Pimpinan Cabang Partai Hanura Kabupaten Cilacap yang berjumlah 50 orang. Alat analisis yang digunakan adalah regresi linier berganda.
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa kepemimpinan transformasional, komunikasi dan affective commitmen secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja anggota Dewan Pimpinan Cabang Hanura Kabupaten Cilacap.
Saran dari penelitian bahwa peningkatan kinerja anggota dewan dapat dilakukan apabila pimpinan mampu mengarahkan para anggota kearah kemajuan yang jelas sesuai dengan tujuan organisasi. Selain itu, pentingnya komunikasi antar anggota maupun dengan pimpinan merupakan cara yang sangat baik dalam penyampaian informasi khususnya tentang perkembangan partai politik sehingga pimpinan menentukan alternatif yang bisa digunakan untuk bersaing dalam perkembangan parti politik yang sedang berkembang. Kinerja anggota Dewan Pimpinan Cabang Hanura Kabupaten Cilacap juga dapat ditingkatkan jika anggota dewan memiliki komitmen yang tinggi terhadap organisasi. Anggota dewan merasa jadi bagian dalam organisasi, selalu merasa bangga terhadap organisasi sehingga berupaya memberikan seluruh kemampuannya untuk kemajuan organisasinya.
Yudi Agus Setiawan. Effect of Transformational Leadership Style, Organisational Communication and Affective Commitment To Performance Branch Council Hanura Cilacap district. Supervisor: Dr. Haryadi, M.Sc, co- supervisor: Sri Murni Setyawati, MM, Ph.D.
The study aims to analyze the influence of transformational leadership, communication and affective commitment to performance Branch Council Hanura Cilacap district.
In a study object to be examined is a member of Branch Council Hanura Cilacap District totaling 50 people. The analysis tool used is multiple linear regression.
The research concludes that transformational leadership, communication and affective commitmen partially positive and significant effect on the performance of members of Branch Council Hanura Cilacap district.
Suggestions of research that improved performance can be board members if the leadership is able to direct the members towards the obvious progress in accordance with the vision and mission organisais. In addition, the importance of communication between members and with the leadership of an excellent way in the delivery of information, especially on the development of political parties so that leaders determine alternatives that can be used to compete in the development of the emerging political party. Performance Branch Council members Hanura Cilacap district can also be improved if the board members have a strong commitment to the organization. Board members feel a part of the organization, always feel proud of the organization that seeks to give the whole its ability to progress the organization.
302212812G1F011044FORMULASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI GEL EKSTRAK ETANOLIK BATANG BROTOWALI
(Tinospora crispa (L.)) DENGAN BASIS HPMC
TERHADAP Staphylococcus epidermidis
Batang brotowali (Tinospora crispa) mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, dan terpenoid yang memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari HPMC terhadap sifat fisik dan stabilitas sediaan gel ekstrak etanolik batang brotowali serta persentase inhibisi formula terbaik terhadap S. epidermidis.
Ekstraksi simplisia dilakukan dengan menggunakan larutan penyari etanol 70%. Sediaan Gel diformulasikan dengan variasi konsentrasi HPMC 3%, 5%, 8%, dan 10%. Sediaan gel diuji sifat fisik dan stabilitasnya. Formula terbaik diuji aktivitas antibakterinya dengan metode difusi sumuran. Hasil pengamatan organoleptis, pH, dan homogenitas disajikan secara deskriptif. Hasil pengamatan viskositas, daya lekat, daya sebar dianalisis dengan Anova one way,α 95% dengan uji lanjut LSD untuk daya sebar, Dunnett T3 untuk viskositas, dan daya lekat. Persentase inhibisi formula terbaik dibandingkan dengan kontrol positif klindamisin gel menggunakan uji T independen.
Hasil penelitian menunjukan bahwa peningkatan konsentrasi HPMC berpengaruh secara signifikan meningkatkan viskositas, dan daya lekat, tetapi menurunkan daya sebar. Formula 2 (HPMC 5%) merupakan formula terbaik dengan nilai vikositas 27.800–38.700 cps, daya sebar 5,0–6,1 cm, daya lekat 3,95-7,27 detik, dan memiliki daya hambat kuat terhadap S. epidermidis dengan persen inhibisi 52,23%.
Brotowali stems (Tinospora crispa) contained some antibacterial compounds such as alkaloid, flavonoid, and terpenoid. This study aims were investigated the influence of HPMC concentration towards gel physical properties and stability, and also inhibition percentation the best formulation against S. epidermidis.
Maceration method using ethanol 70% was performed for simplisia extraction. Gel was formulated using various concentration of HPMC as gelling agents (3%, 5%, 8%, dan 10%). Gel’s physical properties and stability was evaluated. The best formulation’s antibacterial activiy was evaluated using well difusion method. Organoleptics, pH and gel’s homogenity were analyzed descriptively. Viscosity, spreadability, adhesion were analyzed using ANOVA α 95%, analysis continued using LSD for spreadability, Dunnett T3 for viscosity, adhesion. The best formulation’s inhibition percentation was compared to clindamycin gel using T independent Analysis.
The result of this study showed increasing HPMC concentration has significant influence toward higher viscosity and adhesion, but lower spreadability. HPMC 5% as gelling agents showed the best result in final formulation, viscosity range between 27.800–38.700 cps, spredability 5,0–6,1 cm, adhesion 3,95-7,27 second, and showed strong inhibition against S. epidermidis with % inhibition 52,23%.
302312815G1F010068Analisis Tenaga Kesehatan Terhadap Peran Apoteker di Puskesmas Kabupaten BanyumasPelayanan kefarmasian yang berkualitas sangat bergantung pada profesional kesehatan khususnya apoteker. Penerimaan tenaga kesehatan lain terhadap peran apoteker tergantung pada penilaian tenaga kesehatan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kepuasan tenaga kesehatan terhadap peran apoteker di Puskesmas di Kabupaten Banyumas.
Metode yang digunakan adalah cross sectional menggunakan angket. Sampel diambil secara accidental sampling dari 7 Puskesmas yang memiliki apoteker di Puskesmas wilayah Kabupaten Banyumas.Analisis univariat yang digunakan adalah gap untuk kepuasan dan Wilcoxon untuk uji beda.
Hasil uji validitas dan reliabilitas angket menyatakan bahwa angket valid dan reliabel. Hasil penelitian dari 120 responden menunjukkan bahwa karakteristik tenaga kesehatan dalam penelitian kebanyakan umur 18 - 40 tahun (79,2%) perempuan (79,2%), berprofesi bidan (40,8%) dan telah bekerja selama 1- 10 tahun (71,7%). Nilai rata-rata pengalaman 2,93 termasuk klasifikasi sedang dan nilai rata-rata harapan 3,26 termasuk klasifikasi tinggi. Hasil gap yang diperoleh menunjukkan bahwa tenaga kesehatan masuk dalama klasifikasi sedang (-0,33) terhadap peran apoteker di Puskesmas. Analisis uji beda menggunakan Wilcoxon sign test menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara pengalaman dengan harapan, tenaga kesehatan memiliki harapan yang tinggi terhadap peran apoteker di Puskesmas.
.
Pharmaceutical services are very dependent on the quality of health professionals, especially pharmacists. Acceptance of other health professionals to the pharmacist's role depends on the assessment of the health workers. The purpose of this study was to determine the satisfaction of health professionals on the role of pharmacists in health centers in the district of Banyumas.
The method was cross sectional using questionnaires. Samples were taken by accidental sampling of 7 health centers that have a pharmacist at the district health center Banyumas. Analysis univariate used were gap for satisfaction and Wilcoxon for different test.
Results validity and reliability of the questionnaire stated that valid and reliable questionnaire. The results of the 120 respondents indicated that the characteristics of the health workers in the study mostly aged 18-40 years (79.2%) of the women (79.2%), professional midwives (40.8%) and have been working for 1 to 10 years (71,7%). The average value of 2.93 was classified as moderate experience and expectations of the average value of 3.26 was classified as high. Gap results obtained showed that health workers enter dalama classification was (-0.33) on the role of pharmacists in health centers. Different test analysis using the Wilcoxon sign test showed a significant difference between the experience with hope, health workers have high expectations of the role of pharmacists in health centers.

302412801G1D008027PERBANDINGAN LAMA KALA I ANTARA PERSALINAN KONVENSIONAL
DENGAN PERSALINAN WATER BIRTH DI KOTA CILACAP
PERBANDINGAN LAMA KALA I ANTARA PERSALINAN KONVENSIONAL
DENGAN PERSALINAN WATER BIRTH DI KOTA CILACAP
Novi Purwaningsih1), Wahyu Ikka2), Winarti3)
ABSTRAK
Latar Belakang: Kala satu persalinan adalah permulaan kontraksi ditandai perubahan
serviks yang progresif dan diakhiri dengan pembukaan lengkap (10 cm). Saat ini telah
dikembangkan tehnik persalinan yang dapat mengurangi rasa sakit secara non
farmakologis sekaligus memberikan kenyamanan dan mempercepat proses persalinan.
Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui perbedaan lama kala I antara persalinan water
birth dengan persalinan konvensional pada persalinan normal di RB Rinjani Cilacap.
Metodologi: Penelitian yang digunakan adalah penelitian komparatif, dengan
menggunakan desain kasus-kontrol. Jumlah sampel penelitian terdiri dari kelompok
persalinan water birth dan persalinan konvensional yang masing-masing diambil 25
orang. Sampel diambil dengan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan
uji statistik t test independent.
Hasil Penelitian: Umur ibu bersalin pada persalinan konvensional sebagian besar
berumur antara 20 – 35 tahun sebanyak 19 orang (76,0%), dan pada persalinan water
birth yaitu 23 orang (92,0%). Paritas ibu bersalin pada persalinan konvensional paling
banyak primipara sebanyak 15 orang (60,0%), sedangkan pada persalinan water birth
adalah multipara yaitu 17 orang (68,0%). Lama kala I pada persalinan konvensional
paling lama adalah 480 menit dan paling cepat 120 menit. Pada persalinan water birth
paling lama 240 menit dan paling cepat 60 menit. Rata-rata lama kala I pada persalinan
konvensional yaitu 244,28 menit dengan standart deviasi 98,52 menit dan pada
persalinan water birth yaitu 146,16 menit dengan standart deviasi 63,85 menit.
Kesimpulan: Terdapat perbedaan lama kala I antara persalinan water birth dengan
persalinan konvensional di RB Rinjani Cilacap Tahun 2015 (p = 0,00).
Kata Kunci : Lama kala I, persalinan water birth, persalinan konvensional
COMPARISON OF DURATION OF STAGE 1 BETWEEN CONVENTIONAL
BIRTH AND WATER BIRTH IN CILACAP
Novi Purwaningsih1), Wahyu Ikka2), Winarti3)
ABSTRACT
Background: Labour contractions are started at stage 1 of labour which are followed
by complete cervical dilatation (10 cm). Some developed the non-pharmachological
technique – wather birth, which can faster the delivery process and give comfortable
feeling on mothers as of accelerating the duration of labour.
Objective: To find out the difference of duration of first stage of labour between
conventional birth and water birth in RB Rinjani Cilacap.
Methods: Comparative research with case control design. The respondents were 25
maternity at RB Rinjani Cilacap who underwent conventional birth and water birth
respectively. Sampling was carried out by purposive sampling technique. Data analysis
used t test independent test.
Results: Maternity age around 20-35 years old commonly 19 mothers (76.0%) in
conventional birth and 23 mothers (92.0%) in water birth. Primiparous are dominant in
conventional birth as muny as 15 maternity (60%) while there are 17 multiparous
(68.0%) in water birth. The longest duration of first stage of labour in conventional
birth is 480 minutes and 240 minutes in water birth whilst the fastest duration in
conventional birth is 120 minutes and 60 minutes in water birth. The average of the
duration of stage 1 is 244,28 minutes and 146,16 minutes in conventional birth and
water birth respectively with 98,52 minutes and 63,85 minutes respectively for the
deviation standard value.
Conclusions: There is a difference of the first stage duration between water birth and
conventional birth at RB Rinjani Cilacap in 2015 with p value 0,00.
Keywords: Duration of first stage labour, water birth, conventional birth.
302512804G1F011075FORMULASI TABLET LEPAS LAMBAT ASPIRIN MENGGUNAKAN MATRIKS CARBOPOL 934PBanyak metode yang digunakan untuk membuat sediaan lepas lambat. Salah satunya adalah dengan menggunakan sistem matriks. Carbopol 934P merupakan salah satu matriks hidrofilik dengan kinetika pelepasan mendekati orde nol. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karakteristik fisik, kadar, dan pelepasan tablet lepas lambat aspirin menggunakan matriks carbopol 934P.
Sediaan tablet lepas lambat dibuat dengan metode granulasi kering menggunakan lima formula dengan variasi konsentrasi carbopol 934P, yaitu 5%; 7,5%; 10%; 12,5%; dan 15%. Evaluasi tablet yang dilakukan yaitu penampilan fisik, keseragaman ukuran, keseragaman bobot, kekerasan, friabilitas, penetapan kadar, dan pelepasan obat. Penetapan kadar ditentukan dengan metode spektrofotometri UV pada panjang gelombang maksimum 265 nm menggunakan pelarut dapar fosfat. Pelepasan aspirin ditentukan melalui uji disolusi dengan alat tipe 2 dalam medium dapar fosfat pH 7,4 sebanyak 900 mL, dengan kecepatan 60 rpm pada suhu 37oC. Pengambilan sampel dilakukan pada menit ke-15, 30, 45, 60, 120, 180, dan 240. Sampel diukur serapannya dengan spektrofotometer UV pada panjang gelombang 265 nm. Hasil evaluasi tablet dianalisis menggunakan analisis statistik ANOVA satu arah dengan taraf kepercayaan 95%, bila terdapat perbedaan dilanjutkan dengan uji HSD Tukey atau Dunnet’s T3.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Carbopol 934P sebagai matriks dalam tablet lepas lambat aspirin dapat memberikan karakteristik fisik yang memenuhi persyaratan umum tablet, yaitu penampilan fisik, keseragaman ukuran, keseragaman bobot, kekerasan, dan friabilitas, tetapi tidak memenuhi syarat keseragaman kadar dikarenakan ketidaktelitian dalam penimbangan. Profil pelepasan tablet lepas lambat aspirin menggunakan matriks carbopol 934P ini menunjukkan bahwa matriks carbopol 934P dengan kadar 7,5% mampu menjaga pelepasan aspirin dan kinetika pelepasannya mengikuti kinetika orde nol.
Many methods are used to make a sustained-release dossage. One way is using a matrix system. Carbopol 934P is one of the hydrophilic matrix with release kinetic approach zero order. The purpose of this research is to know physical characteristics, assay, and dissolution of aspirin sustained release tablet using carbopol 934P matrix.
Aspirin sustained release tablet was made by dry granulation method using five formulas with different concentrations of Carbopol 934P are 5%; 7,5%; 10%; 12,5%; and 15%. Tablet evaluation of physical appearance, uniformity of size, uniformity of weight, hardness, friability, assay and dissolution of the drug. The assay was determined by UV spectrophotometry method at wavelength of 265 nm using buffer phosphate solution. The release of Aspirin was determined by dissolution test using dissolution apparatus type 2 in the medium of 900 mL buffer phosphate pH 7,4, with a speed of 60 rpm at temperature 37oC. Samples were taken at minute 15, 30, 45, 60, 120, 180, and 240. Absorbance sample were measured using UV spectrophotometer at wavelength of 265 nm. The results of tablet evaluation were analyzed using one-way ANOVA statistical analysis with a confidence level of 95%, if there was a difference followed by HSD Tukey atau Dunnet’s T3 test.
The results of this study showed that Carbopol 934P as the matrix in aspirin sustained release tablet could provide good physical characteristics including physical appearance, uniformity of size, uniformity of weight, hardness, and friability, but don’t qualify assay due to inaccuracy in the weighing. Profile of aspirin release from carbopol 934P matrix showed that carbopol 934P matrix with concentration 7,5% able to keep the release of aspirin and followed zero order kinetics.
302612806P2EA13006TANGGUNG JAWAB HUKUM RUMAH SAKIT TERHADAP KELALAIAN TENAGA FISIOTERAPIS
(Studi Implementasi Pasal 46 Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit di Rumah Sakit Umum Banjar Jawa Barat)
Oleh:
RINGKASAN



ADANG PERMANA, Program Studi Ilmu Hukum KonsentrasiHukum Kesehatan, Program Pascasarjana, Universitas Jenderal Soedirman,
Tanggung Jawab Hukum Rumah Sakit Terhadap Kelalaian Tenaga Fisioterapis (Studi Implementasi Pasal 46 Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit di Rumah Sakit Umum Banjar Jawa Barat),Ketua : Dr. Arief Suryono, S.H.,M.H, Anggota : Dr. H. Setya Wahyudi, S.H.,M.H
Fisioterapi sebagai salah satu profesi kesehatan dituntut untuk melaksanakan tugas dan fungsinya secara profesional, efektif dan efisien. tanggung jawab hukum rumah sakit terhadap kelalaian tenaga Fisioterapis sebagai tenaga kesehatan dalam pemberian jasa pelayanan kesehatan, mengandung permasalahan yang sangat kompleks dan menarik untuk diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasitanggung jawab hukum Rumah Sakit terhadap kelalaian tenaga Fisioterapis terhadap ketentuan Pasal 46 Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 di Rumah Sakit Umum Banjar Jawa Barat. Selain itu ditujukan pula untukmenggambarkan faktor-faktor yang menghambat tanggung jawab hukum Rumah Sakit terhadap kelalain tenaga Fisioterapis di Rumah Sakit Umum Banjar Jawa Barat. . Untuk mencapai tujuan tersebut penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif, dengan sumber data sekunder, tipe penelitian deskriptif dengan analisis kualitatif.
Hasil penelitian menunjukan bahwa, implementasi ketentuan Pasal 46 Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 dalam pelayanan di rumah sakit dapat dijabarkan bahwa, Rumah Sakit bertanggung jawab secara hukum terhadap semua kerugian yang ditimbulkan atas kelalaian yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di Rumah Sakit. Faktor-faktor penghambat tanggung jawab hukum Rumah Sakit terhadap kelalaian tenaga Fisioterapis di Rumah Sakit Umum Banjar Jawa Barat antara lain faktor hukum/ undang-undang yaitu undang-undang yang kurang jelas mengakibatkan ketidak jelasan pelaksanaan tanggung jawab hukum rumah sakit terhadap kelalaian tenaga Fisioterapis di Rumah Sakit Umum Banjar Jawa Barat, faktor penegak hukum yaitu Badan Pengawas Rumah Sakit Provinsi yang menurut Pasal 60 Undang-Undang 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit bersifat pasif, serta faktor kebudayaan yaitu egoism para pihak baik pasien maupun rumah sakit.




SUMMARY



Adang Permana, Science Program Concentration Law Health Law, Graduate Program, University of General Soedirman. Liability Hospital Physiotherapist Against Power Failure (Study on Implementation of Article 46 of Law No. 44 of 2009 on the Hospital General Hospital in BanjarJawa Barat), Chairman: Dr. AriefSuryono, S.H.,M.H, Members: Dr. H. SetyaWahyudi, S.H.,M.H.
Physiotherapy as one of the health professions are required to perform the tasks and functions of professional, effective and efficient. legal liability for the negligence of hospital staff physiotherapist as health personnel in the delivery of healthcare services, containing issues are very complex and interesting to study. This study aims to determine the implementation of legal liability against negligence Hospital Physiotherapist power to the provisions of Article 46 of Law Number 44 Year 2009 on General Hospital Banjar, West Java. In addition it also aimed to describe the factors that hinder the legal responsibility of the kelalain Hospital workers at the General Hospital Physiotherapist Banjar, West Java. , To achieve these objectives of this study using normative juridical approach, with a secondary data source, the type of descriptive study with qualitative analysis.
The results showed that, the implementation of the provisions of Article 46 of Law Number 44 Year 2009 on hospital services can be described that, Hospitals are legally responsible for all the losses incurred on omissions by health workers in hospitals. Factors inhibiting legal responsibility for omissions Hospital workers at the General Hospital Physiotherapist Banjar West Java, among others, the factors of law / laws are laws that are less obvious result obscurity implementation of legal liability against the negligence of hospital staff physiotherapist at Home General Hospital Banjar West Java, namely law enforcement factors Agency Provincial Hospital which according to Article 60 of Law 44 of 2009 on passive Hospital, as well as cultural factors that egoism of the parties both patients and hospitals.


302713114F1B011018Analisis Tingkat Pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Pendidikan
Sekolah Dasar di Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas
Standar Sarana dan Prasana Pendidikan serta Pendidik dan Tenaga Kependidikan merupakan standar nasional yang dijadikan acuan dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM) Pendidikan Dasar, sebagai salah satu kebijakan publik yang menyangkut kualitas dan kuantitas pelayanan publik yang disediakan pemerintah demi tercapainya kesejahteraan masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat pemenuhan standar pelayanan minimal (SPM) pendidikan sekolah dasar di Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif deskriptif, dengan teknik pemilihan responden purposive sampling dan sampel jenuh atau sensus. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dan wawancara. Metode analisis yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif. Uji validitas yang digunakan adalah Spearman Rank dan reliabilitas yang digunakan adalah Alpha Cronbach. Hasil penelitian ini sebagai berikut, tingkat pemenuhan standar pelayanan minimal untuk standar sarana dan prasarana pendidikan sekolah dasar di kecamatan Purwokerto Utara cukup terpenuhi dengan kondisi baik. Kemudian tingkat pemenuhan standar pendidik dan tenaga kependidikan sekolah dasar di kecamatan Purwokerto Utara terpenuhi dengan kondisi baik. Implikasi yang disampaikan yaitu meningkatkan kerjasama antara dinas pendidikan terkait dan sekolah-sekolah yang bersangkutan untuk menyediakan hal-hal yang dibutuhkan dalam pencapaian standar yang ditetapkan dan mencapai kualitas yang lebih baik.Standard education facilities and infrastructure and educator and teaching staff is a national standard be used as reference in minimum standards of service (MSS) basic education, as one of public policy on the quality and quantity of public services provided by the government to achieve public welfare. The purpose of this research is to analyze the level of fulfillment of minimum standard of service education primary school in North Purwokerto, Banyumas Country. The methodology used is descriptive quantitative methods, in any election respondents are purposive sampling and those saturated or census. Data collection is done through the questionnaire and interview. The method of analysis used analytics descriptive statistics. The validity used is Spearman Rank and the reliability used is Alpha Cronbach. The results of the study is as follows, the level of fulfillment of minimum standard of service for standard education facilities and infrastructure primary school in North Purwokerto is enough met and with good condition. Then the level of fulfillment standard educators and teaching staff primary school in North Purwokerto is met with good condition. The implication of this research is increase cooperation among related education department and the schools concerned to provide something that needed in attainment of standards established and achieved better quality.
302812807P2EA13053EFEKTIVITAS PENANGANAN PERKARA TINDAK PIDANA KORUPSI ANTARA PENYIDIK POLRI DAN PENYIDIK KEJAKSAAN BERDASARKAN ASAS CEPAT, SEDERHANA DAN BIAYA RINGAN
(STUDI KASUS DI WILAYAH HUKUM KOTA BANJAR)
RINGKASAN
R. Mohamad Taufik, Program Pascasarjana Magister Ilmu Hukum, Universitas Jenderal Soedirman, “Efektivitas Penanganan Perkara Tindak Pidana Korupsi Antara Penyidik Polri Dan Penyidik Kejaksaan Sesuai Asas Cepat, Sederhana Dan Biaya Murah (Studi Kasus Di Wilayah Hukum Kota Banjar), Komisi Pembimbing : Dr. H. Kuat Puji Prayitno, S.H., M.Hum., anggota : Prof. Dr. Hibnu Nugroho, S.H.. M.Hum.
Penelitian ini mengangkat perumusan permasalahan : Apakah proses penanganan perkara tindak pidana korupsi yang dilakukan Penyidik Polres Banjar dan Penyidik Kejaksaan Negeri Banjar telah efektif berdasarkan asas peradilan cepat, sederhana dan biaya ringan dan Faktor-faktor apa saja yang menjadi kendala dalam melaksanakan penyidikan tindak pidana korupsi oleh Penyidik Polres Banjar dan Penyidik Kejaksanaan Negeri Banjar agar efektif berdasarkan asas peradilan cepat, sederhana dan biaya ringan.
Tujuan penelitian ini untuk Untuk menganalisa proses penanganan perkara tindak pidana korupsi yang dihadapi oleh Penyidik Polres Banjar dan Penyidik Kejaksaan Negeri Banjar agar efektif berdasarkan asas peradilan cepat, sederhana dan biaya ringan serta untuk menganalisa faktor-faktor yang menjadi kendala dalam melaksanakan penyidikan tindak pidana korupsi oleh Penyidik Polres Banjar dan Penyidik Kejaksaan Negeri Banjar agar efektif berdasarkan asas peradilan cepat, sederhana dan biaya ringan.
Metode pendekatan dalam penelitian ini menggunakan metode yuridis sosiologis, spesifikasi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini bersifat deskriptif-kualitatif, sumber data meliputi Data primer diperoleh secara langsung dari lokasi penelitian dengan menggunakan metode wawancara dan observasi, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier yang diperoleh dari studi pustaka yaitu pengumpulkan bahan-bahan kepustakaan yang berupa peraturan perundang-undangan,buku-buku literatur dan dokumen-dokumen yang terkait dengan objek dan materi penelitian.
Hasil penelitian dan pembahasan, bahwa dalam penanganan perkara tindak pidana korupsi yang dilakukan Penyidik Polres Banjar dan Penyidik Kejaksaan Negeri Banjar belum efektif berdasarkan asas peradilan cepat, sederhana dan biaya ringan, dikarenakan penanganan yang dilakukan kedua lembaga tersebut belum sesuai dengan Standar Operasional Pekerjaan (SOP) yang ada. Kendala yang dihadapi dalam melaksanakan penyidikan tindak pidana korupsi oleh Penyidik Polres Banjar dan Penyidik Kejaksanaan Negeri Banjar sehingga dirasakan kurang efektif berdasarkan asas peradilan cepat, sederhana dan biaya ringan dipengaruhi beberapa faktor antara lain faktor Penegak Hukum dan faktor sarana dan prasarana serta faktor budaya.
Dalam melaksanakan pemberantasan tindak pidana korupsi agar efektif berdasarkan asas cepat, sederhana dan biaya murah ada beberapa hal yang perlu dilakukan antara lain perlu adanya monitoring dan supervisi serta pengawasan yang dilakukan secara berjenjang agar tidak terjadi penanganan perkara yang berlarut-larut. Terpenuhinya sarana dan prasarana sesuai dengan kinerja yang dibutuhkan oleh para penyidik antara lain Penempatan personil yang baik mulai dari yang paling bawah sampai kepada Pimpinan baik di Kejaksaan Negeri Banjar dan Polres Kota Banjar serta anggaran yang sesuai dengan kebutuhan.
SUMMARY

R. Mohamad Taufik, Magister Program of Law Science, Jenderal Soedirman University, “The Handling Effectiveness of Case of the Corruption Criminal Act between the Polri Investigator and Public Attorney Investigator Base on the Fast Principle, Simple and Cheap Cost (Case Study at Law Area of Banjar City), Counselor Commission: Dr. H. Kuat Puji Prayitno, S.H., M.Hum., Co-Counselor Commission: Prof. Dr. Hibnu Nugroho,S.H. M.Hum.
This research reveals the problem formulation: is the handling process of case of the corruption criminal act that is conducted by the Polres Banjar Investigator and Public Attorney Investigator Banjar have being effective based on the justice principles such as fast, simple and cheap cost and what factors that become the problem in ding the investigation of the corruption criminal act by the Polres Banjar Investigator and Public Attorney Investigator Banjar in order to be effective based on the justice principle such as fast, simple and cheap cost.
The purpose of this research is to analyze the handling process of case of the corruption criminal act that faced by the Polres Banjar Investigator and Public Attorney Investigator Banjar in order to be effective bases on the principles such as fast, simple and cheap cost and to analyze the factors that become the problem in doing the investigation of corruption criminal act by the Polres Banjar Investigator and Public Attorney Investigator Banjar in order to be effective bases on the justice principles such as fast, simple and cheap cost.
Approach method in this research uses the method of sociological juridical, research specification in this research has the descriptive qualitative, data source involves primary data that has been obtained directly from the research location by using the method of interview and observation, secondary law material, and tertiary law material that has been obtained from the literature study that is by collecting the literature material such as the ordinance regulations, literature books and connected documents with the object and research material.
The result of research and discussion, in the handling case of the corruption criminal act that conducted by the Polres Banjar Investigator and Public Attorney Investigator Banjar have not being effective yet based on the justice principle such as fast simple, and cost cheap it is caused the handling that has been conducted by both institutions have not being in accordance with the Work Operational Standard (SOP). The problems that are faced in doing the investigation of the corruption criminal act by the Polres Banjar Investigator and Public Attorney Investigator Banjar so it seem not being effective yet based on the justice such as Law Enforcer and infrastructure and cultural factors.
In conducting the eradicating of corruption criminal act in order to be effective based on the principles of fast, simple and cheap cost so there are some of the things that must be conducted such as monitoring and supervising and controlling that are conducted gradually in order to avoid the handling case to be long draw out. The fulfillment of infrastructures that are based on the performance that are needed by investigators such as the Placement of the good personnel that is started from the lowest personnel to the highest personnel whether in the Public Attorney Banjar and Polres Banjar and the budgets are based on their necessity.
302912865G1A011044HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG JAMINAN KESEHATAN NASIONAL DENGAN SIKAP DAN PERILAKU PEMANFAATAN JAMINAN KESEHATAN NASIONAL PADA MASYARAKAT DI KECAMATAN PURWOKERTO UTARA
TAHUN 2015
Latar belakang : Kesehatan merupakan kebutuhan dasar bagi setiap manusia yang harus terpenuhi agar manusia dapat mempertahankan hidupnya. Jaminan kesehatan nasional merupakan salah satu program pelayanan yang diberikan oleh pemerintah untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Pengetahuan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi sikap dan perilaku pemanfaatan Jaminan kesehatan nasional.
Tujuan : Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan tentang jaminan kesehatan nasional dengan sikap dan perilaku pemanfaatan jaminan kesehatan nasional pada masyarakat di kecamatan Purwokerto Utara tahun 2015.
Metode : penelitian ini menggunakan studi analitik observational dengan pendekatan potong lintang. Responden penelitian ini adalah peserta jaminan kesehatan nasional PBI dan NON PBI, berusia 18-60 tahun. Kriteria esklusi dalam penelitian ini adalah petugas atau tenaga kesehatan, mengalami gangguan jiwa berat, alamat tidak sesuai data. Analisis bivariabel menggunakan uji korelasi pearson.
Hasil : Keseluruhan responden yang mengikuti penelitian ini berjumlah 117 responden. Hasil menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dengan sikap terhadap jaminnan kesehatan nasional (r = 0,668 dan p = 0,001) serta terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dengan perilaku pemanfaatan jaminan kesehatan nasional dengan (r = 0,635 dan p = 0,001)
Kesimpulan : Terdapat hubungan yang bermakna dengan korelasi kuat antara tingkat pengetahuan tentang jaminan kesehatan nasional dengan sikap dan perilaku pemanfaatan jaminan kesehatan nasional pada masyarakat di kecamatan purwokerto utara tahun 2015.
Background: Health is a basic need for every human being which must be fulfilled in order to be able to sustain human life. National Health Insurance program is one of the services provided by the government that is created to fulfill that need . Knowledge is one of the factors that can influence the attitudes and behavior of the utilization of national health insurance.
Objective: To determine the the correlation between the knowledge of the National Health Insurance with the attitude and behavior of the utilization of national health insurance in the community in the district of North Purwokerto 2015.
Methods: This study was an analytical-observational study with cross-sectional approach. The participants of this study are national health insurance participants not supporting fund receiver and supporting fund receiver, aged 18-60 years. Exclusion criteria of this study are officers or health workers, experienced a severe mental disorder, the address does not match the data. Bivariable analysis using Pearson correlation test.
Results: In total, there were 117 participants in this study. The results shows there is a significant correlation between the level of knowledge with the attitude of the utilization of the national health insurance ( r = 0.668 and p = 0.001) There is also a significant correlation between the level of knowledge with the behavior of the utilization of the national health insurance (r = 0.635 and p = 0.001).
Conclusion: There is a significantly strong correlation between the level of knowledge concerning the national health insurance with the attitude and behavior of the utilization of National health insurance in North Purwokerto Districts in 2015.
303012800P2EA13030PERAN BAGIAN HUKUM DALAM MEWUJUDKAN HARMONISASI DAN SINKRONISASI PRODUK HUKUM DAERAH BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 12 TAHUN 2011TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
(Studi di Kabupaten Cilacap)
ELY SUNINGSIH, Program Pascasarjana Magister Ilmu Hukum, Universitas Jenderal Soedirman, “Peran Bagian Hukum Dalam Mewujudkan Harmonisasi dan Sinkronisasi Produk Hukum Daerah Berdasarkan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Studi di Kabupaten Cilacap)” Komisi Pembimbing : Prof. Dr. H. Muhammad Fauzan, S.H., M.Hum., Anggota : Dr. Riris Ardhanariswari, S.H., M.H.
Penelitian ini dengan perumusan permasalahan, Bagaimanakah peran Bagian Hukum Setda Kabupaten Cilacap dalam mewujudkan harmonisasi dan sinkronisasi produk hukum daerah berdasarkan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dan Kendala yuridis yang dihadapi Bagian Hukum Setda Kabupaten Cilacap melakukan harmonisasi dan sinkronisasi produk hukum daerah di Kabupaten Cilacap.
Metode penelitian dengan metode pendekatan perundang-undangan, Tipe penelitian yang digunakan adalah penelitian yuridis normatif, lokasi penelitian di Kabupaten Cilacap, Sumber data dari penelitian ini adalah Data Sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, Metode pengumpulan data adalah teknik atau cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data, data yang diolah akan disajikan dalam bentuk teks naratif yaitu suatu uraian dan penjabaran yang tersusun secara logis, konsisten, rasional dan sistematis yang diawali dengan penyajian data-data yang berkaitan penelitian ini.
Hasil penelitian dan pembahasan, Peran Bagian Hukum Setda Kabupaten Cilacap dalam mewujudkan harmonisasi dan sinkronisasi produk hukum daerah berdasarkan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, meliputi : Bagian Hukum mempunyai tugas pokok menyelenggarakan perumusan bahan kebijakan umum dan koordinasi, fasilitas, pelaporan serta evaluasi di bidang penyusunan peraturan perundang-undangan daerah, penyebarluasan produk hukum daerah dan pelaksanaan sosialisasi produk hukum daerah khususnya peraturan daerah, dalam menyelenggarakan tugas pokok bagian Hukum Setda Kabupaten Cilacap bahwa Bagian Hukum mempunyai tugas pokok menyusun perencanaan dan kebijakan yang berhubungan dengan program serta kegiatan penyelenggaraan sistem dan politik hukum nasional yang meliputi subtansi hukum, struktur hukum dan budaya hukum, Bagian Hukum menyelenggarakan fungsi : a) Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis bidang hukum yang meliputi perundang-undangan, dokumentasi, pengkajian dan penelaahan hukum, b) Penyiapan bahan pengoordinasian pelaksanaan kebijakan bidang hukum yang meliputi perundang-undangan, dokumentasi, pengkajian dan penelaahan hukum, c) Penyiapan bahan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan bidang hukum yang meliputi perundang-undangan, dokumentasi, pengkajian dan penelaahan hukum, d) Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh atasan sesuai dengan bidang tugasnya.
Peran bagian hukum Setda Kabupaten Cilacap dalam mewujudkan harmonisasi hukum dalam pembentukan produk hukum daerah, yang di konstruksikan terhadap pengaturan, tolak ukur, tahapan/prosedur, dan subjek pengharmonisasian produk hukum daerah di Kabupaten Cilacap.
Kendala yuridis yang dihadapi Bagian Hukum Setda Kabupaten Cilacap dalam melakukan harmonisasi dan sinkronisasi produk hukum daerah di Kabupaten Cilacap, meliputi kendala ekternal dan internal. Kendala Ekternal meliputi Adanya regulasi pusat yang tumpang tindah antar Undang-undang, sehingga menyulitkan pelaksanaan di daerah, regulasi pusat merupakan payung hukum atau sebagai dasar hukum guna penyusunan rancangan produk hukum daerah dimaksud, Kurangnya sosialisasi dari Pemerintah Pusat terhadap produk hukum baru, yang telah dikeluarkan, hal ini menyebabkan banyak regulasi-regulasi di daerah yang bertentangan dengan produk hukum baru tersebut. Hal ini, mestinya tidak terjadi, apabila produk hukum daerah dimaksud sebelum diundangkan dilakukan publik hearing terlebih dahulu dengan pihak terkait termasuk di dalamnya pemerintah daerah.
Adapun Kendala internal meliputi Penetapan Program Pembentukan Peraturan Daerah Kabupaten Cilacap belum optimal, Terbatasnya jumlah personil yang mempunyai keahlian di bidang teknik penyusunan peraturan perundang-undangan, Kurangnya sosialisasi kepada masyarakat terhadap lahirnya suatu produk hukum daerah berupa Peraturan daerah.

Penelitian ini dengan perumusan permasalahan, Bagaimanakah peran Bagian Hukum Setda Kabupaten Cilacap dalam mewujudkan harmonisasi dan sinkronisasi produk hukum daerah berdasarkan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dan Kendala yuridis yang dihadapi Bagian Hukum Setda Kabupaten Cilacap melakukan harmonisasi dan sinkronisasi produk hukum daerah di Kabupaten Cilacap.
ELY Suningsih , Graduate School Master of Law, University Jenderal Soerdirman, "The Role of Legal In Achieving Harmonization and Synchronization Regional Legal Products Based on Law No. 12 of 2011 on the Establishment of legislation (Studies in Cilacap District)" Advisory Committee : Prof. Dr. H. Muhammad Fauzan, S.H., M.Hum. , Members : Dr. Riris Ardhanariswari, S.H., M.H.
This study with the formulation of the problem, How is the role of the Legal Division Secretariat of Cilacap in achieving harmonization and synchronization of local regulations based on Law Number 12 Year 2011 on the Establishment of legislation and constraints faced Section Cilacap Legal Secretariat to harmonize and synchronize legal products areas in Cilacap.
Research methods to approach legislation, type of research is a normative juridical research, research sites in Cilacap, the data source of this research is secondary data consisting of primary legal materials and secondary legal materials, method of data collection is a technique or way how that can be used by researchers to collect data, processed data will be presented in the form of a narrative text is a translation of the description and logically structured, consistent, rational and systematic that begins with the presentation of data related to this study.
Results of research and discussion, Role of Legal Secretariat of Cilacap in achieving harmonization and synchronization of local regulations based on the Law No. 12 Year 2011 on the Establishment of legislation, covering: Legal Department has the principal task of organizing the formulation of public policy and coordination of materials, facilities , reporting and evaluation in the field of drafting local legislation, dissemination of local regulations and laws socialization local regulation in particular areas, the principal task of organizing part of Cilacap Legal Secretariat that the Legal Department has the main task planning and policies associated with the program as well as organizing activities of national legal and political system that includes the substance of the law, the legal structure and legal culture, the Legal Division the following functions: a) Preparation of materials policy formulation of technical areas of law which includes legislation, documentation, assessment and review of the law, b) Preparation of materials coordinating the implementation of policy areas of law which includes legislation, documentation, assessment and review of the law, c) Preparation of materials monitoring and evaluating the implementation of legal policies that include legislation, documentation, assessment and review of the law, d) Implementation of other duties assigned by superiors in their respective sectors. The role of the legal department Secretariat of Cilacap in realizing the harmonization of laws in the formation of local regulations, which in the construct of the settings, benchmarks, stages/procedures, and subjec harmonization local regulations in Cilacap.
Constraints yuridis faced by Section Legal Secretariat of Cilacap in doing the harmonization and synchronization of local regulations in Cilacap, including external and internal constraints. External constraints include the presence of the central regulatory overlaps between laws, making it difficult for implementation in the region, the central regulation is a legal framework or as the legal basis for the drafting of a legal product areas concerned, lack of socialization of the central government against the new laws, which have been issued, this led to a lot of regulations in the area as opposed to the new legislation. This, it should not happen, if the local laws before promulgation is made public hearing prior to the relevant parties including local authorities.
The internal constraints include the stipulation Formation Program Cilacap District Regulation is not optimal, limited number of personnel who have expertise in engineering drafting legislation, lack of dissemination to the public of the birth of a legal product areas such as regional regulation.
303112860H1A010016PENURUNAN KADAR SIANIDA PADA LIMBAH CAIR INDUSTRI TAPIOKA MENGGUNAKAN FOTOKATALIS TiO2-Cu DENGAN BANTUAN LAMPU TUNGSTENSianida merupakan salah satu senyawa organik yang terkandung dalam limbah cair tapioka dan bersifat toksik bagi makhluk hidup. Kandungan sianida yang terdapat dalam limbah cair industri tapioka di Desa Pancasan Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas sebesar 3,8 mg/L sedangkan kadar maksimum sianida yang diperbolehkan dalam baku mutu air limbah industri tapioka adalah 0,3 mg/L. Oleh sebab itu, diperlukan suatu metode untuk penurunan kadar sianida pada limbah cair tapioka. Salah satu metode yang dapat digunakan yaitu dengan fotodegradasi menggunakan fotokatalis TiO2 yang didoping logam tembaga (Cu) dengan bantuan lampu tungsten sebagai sumber foton. Pendopingan dilakukan dengan metode fotodeposisi dengan perbandingan rasio mol TiO2 dan Cu sebesar (99:1), (98:2), (97:3), (96:4) dan (95:5). Fotokatalis lapis tipis TiO2-Cu yang memberikan aktivitas terbesar yaitu TiO2-Cu dengan perbandingan (96:4). Persen penurunan sianida selama waktu kontak optimum 6 jam dan pada pH medium 9 dengan fotokatalis TiO2-Cu (96:4) adalah sebesar 47,31 %.Cyanide is one of the organic compounds contained in waste water of tapioca and are toxic to living organisms. The content of cyanide contained in the liquid waste of tapioca industry in the District Ajibarang Pancasan village, Banyumas of 3.8 mg/L cyanide while the maximum levels allowed in industrial waste water quality standards tapioca is 0.3 mg/L. Therefore, need a method to decrease the levels of cyanide in liquid waste tapioca. One method that can be used is by using photocatalyst TiO2 photodegradation metal doped copper (Cu) with the help of a visible light as a source of photons. The doping conducted using photos deposition the mole ratio of TiO2 and Cu at (99:1), (98:2), (97:3), (96:4) and (95:5). Photocatalyst thin layer of TiO2-Cu which provides the largest activity that TiO2-Cu with a ratio of (96:4). Percent reduction in cyanide for optimum contact time of 6 hours and the medium pH 9 with photocatalyst TiO2-Cu (96:4) is amounted to 47.31%.
303212866A1H011088PENGARUH JENIS KEMASAN DAN SUHU PENYIMPANAN TERHADAP MUTU DAN UMUR SIMPAN KEJU LUNAK SUSU SAPISusu merupakan bahan dasar dalam pembuatan keju lunak. Keju lunak memiliki tekstur yang lembut dan lunak, yang disebabkan oleh kadar air yang tinggi. Seiring dengan tuntutan gaya hidup dan aspek kesehatan yang semakin meningkat, formulasi keju lunak mulai dikembangkan. Keju merupakan hasil dari olahan susu, yang memiliki karakteristik mudah rusak di lingkungan Indonesia yang temperatur dan kelembabannya tinggi, sehingga akan mempercepat proses kerusakan. Untuk menjaga mutu keju agar tidak mudah rusak, maka diperlukan penanganan yang baik dan tepat dengan dikemas dan disimpan pada kemasan dan suhu yang tepat.Tujuan dari penelitian ini, untuk mengetahui pengaruh berbagai jenis kemasan, suhu penyimpanan dan perubahan mutu keju lunak selama penyimpanan. Kemasan yang digunakan adalah plastik polipropilen, poliethilen, dan aluminium foil dengan suhu penyimpanannya yaitu suhu refrigerator (50C) dan suhu ruang (270C). Metode untuk menentukan umur simpan digunakan metode Accelerated Shelf Life Testing (ASLT) dengan persamaan Arrhenius. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemasan terbaik untuk menyimpan produk keju lunak adalah kemasan polypropylen yang disimpan pada suhu penyimpanan refrigerator (50C) dengan umur simpan selama 39 hari.Milk is abasic substancein the manufacture ofsoft cheeses. Soft cheesehas a soft textureandmild, which iscaused by ahigh water content. With the demands oflifestyleandhealthaspects ofthe growing, soft cheeseformulationswere developed. Cheese is the produce of the dairy, which has the characteristics of perishable in Indonesian environmental temperature and high humidity, which will accelerate the process of destruction.To maintain thequality of cheesethat are not easilydamaged, it needs good handlingandprecisewithpackagedandstored atthe right temperature.The purpose of this study, to determine the effect of various types of packaging, storage temperature and changes in the quality of soft cheeses during storage. Packaging used is plastic polypropylene, poliethilen, and aluminum foil with a storage temperature ie refrigerator temperature (50C) and room temperature (270C). The method for determining the shelf life used Accelerated Shelf Life Testing methods (ASLT) with the Arrhenius equation. The results showed that the best packaging for storing soft cheese product is packaged using polypropylen and stored in the refrigerator storage temperature (50C) with a shelf life is 39 days.
303312808P2EA13056KEDUDUKAN JAKSA DALAM PEMBAHARUAN SISTEM PERADILAN PIDANA DI INDONESIA
(Studi Terhadap Sistem Adversarial dalam RUU KUHAP 2012)
TRIMO, Program Studi Ilmu Hukum KonsentrasiSistem Peradilan Pidana, Program Pascasarjana, Universitas Jenderal Soedirman,
KEDUDUKAN JAKSA DALAM PEMBAHARUAN SISTEM PERADILAN PIDANA DI INDONESIA (Studi Terhadap Sistem Adversarial Dalam RUU KUHAP 2012), Ketua : Dr. SetyaWahyudi, S.H., M.H.Anggota :Dr. HibnuNugroho, S.H., M.H.
Naskah Akademis RUU KUHAP 2012 menyatakan bahwa prosedur persidangan dalam RUU KUHAP mengarah ke adversarial yang lebihmenghargaitersangka, danterdakwadalam proses peradilan. Konsep adversarial system, konsepinimengetengahkan ide keseimbangan, sehingga proses-proses upayapaksajugaharusdiseimbangkanmelaluiporosyaitu hakim pemeriksapendahuluan. Penelitian ini ditujukan untuk menganalisiskedudukan jaksa dalam konsep adversarial sistem dalam RUU KUHAP 2012. Selain itu juga untuk mengkajikesesuaian pembaharuan hukum pidana dengan konsep adversarial sistem dalam RUU KUHAP 2012 terhadap kinerja jaksa dan sesuai budaya hukum di Indonesia. Untuk mencapai tujuan tersebut penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif, dengan sumber data sekunder, tipe penelitian deskriptif dengan analisis kualitatif.
Hasil penelitian menyatakan bahwa, kedudukan jaksa dalam konsep adversarial sistem dalam RUU KUHAP 2012 yaitu kedudukanJaksamenjadiseimbangdenganpengacara. PosisiJaksadenganPengacaramenjadiseimbang, haltersebutmemperlihatkanbahwa, prosedurpidanaakanterlihatsamasepertiprosedurperdata. Jaksamewakilikepentingan korban melakukanpenuntutan, sedangkanJaksamewakilikepentinganterdakwa yang di tuntut di mukapengadilan.Sistem pemeriksaan yang bersifat adversarial di bidang pengadilanmemaksa penuntut umum dan penyidik bekerjasama erat. Pihak penuntut umum dan terdakwa/penasihat hukum dapat menambah alat bukti (saksi) baru di sidang pengadilan. Penuntut umum benar-benar menguasai hukum acara dan hukum pidana materil di samping sikap, wibawa, suara dan taktik yang mantap. Pembaharuan hukum pidana dengan konsep adversarial sistem dalam RUU KUHAP 2012 menghambat kinerja Jaksa, karena pembaharuan hukum pidana dengan konsep adversarial sistem dalam RUU KUHAP 2012 menghambat kinerja Jaksa karena hak-hak penahanan yang dimiliki Jaksa menjadi terbatas. Adanya adversarial di bidang pengadilanmemaksa penyidik dan penuntut umum untuk berhati-hati, sehingga penanganan kasus menjadi lambat. Budaya Hukum Di Indonesia yang masih didominasi angka kriminalitas, dan kurangnya kesadaran hukum masyarakat, sehingga dengan adanya adversarial di bidang pengadilan akan mengganggu kewenangan Jaksa dalam menjamin stabilitas nasional.
TRIMO, Legal Studies Program Concentration Criminal Justice System, Graduate School, University General Soedirman,
POSITION OFTHE PROSECUTORINCRIMINALJUSTICESYSTEMRENEWALININDONESIA(Study AgainstAdversarialSysteminthe Criminal Procedure CodeBill2012), Chairman: Dr. SetyaWahyudi, S.H., M.H., member : Dr. HibnuNugroho, S.H., M.H.
Academic Code of Criminal Procedure Bill 2012 states that trial procedures in the Draft Criminal Procedure Code leads to a more adversarial appreciate suspects and defendants in the judicial process. The concept of the adversarial system, this concept presents the idea of balance, so that the processes of forceful measures must also be balanced through a shaft that preliminary examiner judges. This study aimed to analize prosecutor in the draft Criminal Procedure Code Bill adversarial system in 2012. In addition to the criminal law reform mengkajikesesuaian with the concept of the adversarial system in the draft Criminal Procedure Code in 2012 on the performance of prosecutors and the corresponding legal culture in Indonesia. To achieve these objectives of this study using normative juridical approach, with a secondary data source, the type of descriptive study with qualitative analysis.
The study states that, the position of the prosecutor in the concept of the adversarial system in the Code of Criminal Procedure Bill 2012 In the context of the Code of Criminal Procedure Bill 2012 which became Attorney position by a lawyer. The position of Attorney with the lawyer to be balanced, it shows that, the criminal procedure will look the same as civil procedure. Attorney representing the interests of victims of prosecution, while the attorney representing the interests of the accused are in demand in court. Inspection systems that are adversarial in fource court prosecutors and investigators cooperate closely. The prosecution and the accused / legal adviser may add evidence (witnesses) in the new trial. prosecutors really master criminal procedural law and the law of material in addition to attitude, authority, sound and steady tactics. Updates to the concept of adversarial criminal law system in the Code of Criminal Procedure Bill 2012 hinder the performance of prosecutors, because criminal law reform with the concept of the adversarial system in the Draft Criminal Procedure Code 2012 inhibits the performance of prosecutors because of the rights owned Attorney detention is limited. Their adversarial in fource court investigators and prosecutors to be careful, so that the handling of the case to be slow. Legal culture in Indonesia is still dominated by crime and lack of public awareness, so that with the adversarial in court interfere with the authority of the Prosecutor in ensuring national stability.
303412813G1F011029PENETAPAN KADAR SENYAWA FLAVONOID TOTAL DAN ALKALOID TOTAL FRAKSI TAK LARUT n-HEKSAN EKSTRAK ETANOL BATANG BROTOWALI
(Tinospora crispa L. Miers)
Fraksi tak larut n-heksan batang brotowali telah terbukti memiliki aktivitas antihiperurisemia yang lebih baik dibandingkan fraksi kloroform dan fraksi etil asetat. Fraksi tak larut n-heksan dilaporkan lebih banyak mengandung flavonoid dinbanding alkaloid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil KLT serta menetapkan kadar senyawa alkaloid total dan flavonoid total dalam fraksi tak larut n-heksan ekstrak etanolik batang brotowali.
Penelitian ini merupakan penelitian eksploratif dengan tahapan pengumpulan batang brotowali kemudian dimaserasi dengan etanol 70% selama 3x24jam menghasilkan rendemen ekstrak etanolik sebanyak 78,6% dari 500 gram serbuk batang brotowali, kemudian difraksinasi dengan n-heksan sehingga diperoleh fraksi tak larut n-heksan dengan besar rendemen yang diperoleh sebanyak 80,5% dari 20 gram ekstrak. Fraksi tak larut n-heksan dari ekstrak etanol diuji dengan menggunakan metode KLT dan penetapan kadar senyawa Alkaloid total serta penetapan kadar flavonoid total menggunakan spektrofotometri. Hasil penelitian ini Fraksi tak larut n-heksan dari ekstrak etanol batang brotowali (T. crispa L. Miers) memiliki kandungan flavonoid dan alkaloid berdasarkan hasil uji indentifikasi profil KLT fraksi tak larut n-heksan batang brotowali. Kadar flavonoid total dan alkaloid total masing-masing sebesar 2,94 ± 0,04 % dan 5,76 ± 1,29% serta profil KLT menunjukkan adanya flavonid dan alkaloid.
ABSTRACT
Insoluble fraction of n-hexane on brotowali stem has been shown to have antihiperurisemia activity better than chloroform fraction and ethyl acetate fraction. Insoluble fraction of n-hexane was reported containing more flavonoid than alkaloid. This research aimed to determine TLC profile and to determine the level of total alkaloid compounds and total flavonoids in the insoluble fraction of n-hexane on extract of enthanolic brotowali stem.
This research was an exploratory research with the stages of gathering brotowali stem, and then it was macerated with 70% ethanol for 3x24 hours to produce a yield of ethanolic extract as much as 78.6% of 500 grams of powder brotowali stem. Next, it was fractionated with n-hexane to obtain insoluble fraction of n-hexane with the amount of yield as much as 80.5% of 20 grams of extract. The research result of the insoluble fraction of n-hexane from the ethanol extract was tested with using TLC method and concentration of total alkaloid compound as well as concentration of total flavonoids level with using spectrophotometry. Insoluble fraction of n-hexane from ethanol extract of brotowali stem (T.crispa L. Miers) contained flavonoids and alkaloid based on the test result of the TLC profile identification of insoluble fraction of n-hexane on brotowali stem. The level of total flavonoids and total of alkaloid were 0.01 ± 0.001 % and , respectively. TLC profile indicated flavonoids with Rd of 0.98.
303512816G1F011033EFEK SITOTOKSIK KOMBINASI EKSTRAK KUNYIT (Curcuma longa) DAN KEDELAI (Glycine Max L) SEBAGAI AGEN KO-KEMOTERAPI 5-FLUOROURACIL PADA SEL HeLa
5-florouracil (5-FU) merupakan salah satu agen kemoterapi pada kanker serviks. 5-FU dapat dikombinasikan dengan kunyit dan kedelai untuk meningkatkan efikasi terapi sekaligus menurunkan toksisitas obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengatehui efek kombinasi ekstrak kunyit-kedelai dengan 5-FU terhadap viabilitas sel kanker serviks HeLa.
Ekstrak kunyit dan ekstrak kedelai diperoleh dengan maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Uji sitotoksik ekstrak etanol 96% kunyit, kedelai, kombinasi keduanya, dan 5-FU dilakukan pada sel HeLa dengan metode MTT assay. Viabilitas sel HeLa dianalisis regrasi linier menggunakan Microsoft Excel untuk memperoleh nilai IC50. IC50 kombinasi ekstrak kunyit-kedelai dan IC50 5-FU digunakan sebagai dasar untuk uji ko-kemoterapi. Efek ko-kemoterapi ditetapkan dengan membandingkan viabilitas sel perlakuan tunggal dengan kombinasinya.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi ekstrak kunyit dan kedelai memiliki efek sitotoksik terhadap sel HeLa dengan IC50 sebesar 149 µg/ml. Kombinasi ekstrak dengan 5-FU pada uji ko-kemoterapi mampu menghasilkan efek penurunan viabilitas sel HeLa terendah sebesar 63,94%. Kadar optimal yang dapat digunakan sebagai agen ko-kemoterapi sel kanker serviks HeLa yaitu kombinasi ekstrak kunyit-kedelai konsentrasi 75 µg/ml dengan 5-FU konsentrasi 39 µg/ml.
Kata kunci : ekstrak kunyit, ekstrak kedelai, ko-kemoterapi, 5-FU, sel HeLa.
5-florouracil (5-FU) is one of the chemotherapeutic agent in cervical cancer. 5-FU can be combined with turmeric and soya to improve treatment efficacy while lowering drug toxicity. This study aims to know effects of turmeric-soy extract combination with 5-FU on the viability of HeLa cervical cancer cells.
Turmeric extract and soy extract obtained by maceration using ethanol 96%. Cytotoxic test of 96% ethanol extract of turmeric, soy, a combination of both, and 5-FU performed on HeLa cells with MTT assay method. HeLa cell viability was analyzed using Microsoft Excel linear regression to obtain IC50 values. IC50 combination of turmeric -soy extract and IC50 of 5-FU is used as a basis for co-chemotherapy trials. Effects of chemotherapy set by comparing the cell viability single treatment with the combination.
Results of this study indicate that a combination of turmeric-soy extracts have cytotoxic effects against HeLa cells with IC50 of 149 µg/ml. Extracts combination with 5-FU on co-chemotherapy trials are able to produce the effect of a decrease in HeLa cell viability was lowest at 63.94%. Optimal levels that can be used as a co-agent chemotherapy HeLa cervical cancer cell that is a combination of turmeric extract-soy concentration 75 µg/ml with 5-FU concentration 39 µg/ml.
Keywords: turmeric extract, soy extract, co-chemotherapy, 5-FU, HeLa cells.
303612814G1F011009EFEK SITOTOKSIK KOMBINASI EKSTRAK KUNYIT (Curcuma longa) DAN KEDELAI (Glycine max) SEBAGAI AGEN KO-KEMOTERAPI 5-FLUOROURACIL TERHADAP SEL KANKER KOLON WiDr 5-Fluorouracil (5-FU) merupakan salah satu agen kemoterapi utama yang digunakan dalam pengobatan kanker kolon. 5-FU diketahui memiliki efek samping dan dapat menyebabkan resistensi. Strategi utama untuk meningkatkan efek sitotoksik dan menurunkan efek samping 5-FU dapat digunakan kombinasi ekstrak kunyit (Curcuma longa) dan kedelai (Glycine max.), masing-masing mengandung senyawa aktif kurkumin dan genistein yang diketahui memiliki efek antikanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek sitotoksik kombinasi ekstrak kunyit dan kedelai sebagai agen ko-kemoterapi 5-FU terhadap viabilitas sel kanker kolon WiDr.
Ekstrak kunyit dan kedelai diperoleh dengan maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Pengamatan sitotoksik dilakukan dengan metode MTT assay untuk mengukur besarnya efek penghambatan pertumbuhan sel WiDr oleh adanya perlakuan ekstrak tunggal kunyit, kedelai, kombinasi ekstrak kunyit dan kedelai, serta 5-FU sehingga diperoleh nilai IC50. Nilai IC50 tersebut menjadi dasar untuk dilakukan uji ko-kemoterapi antara perlakuan tunggal ekstrak kunyit dan kedelai, perlakuan tunggal 5-FU, serta kombinasi ekstrak kunyit dan kedelai dengan 5-FU.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kunyit, kedelai, kombinasi ekstrak kunyit dan kedelai, serta 5-Fluorouracil memiliki efek sitotoksik terhadap sel WiDr dengan nilai IC50 berturut-turut sebesar 65, 155, 120, dan 137 μg/mL. Kadar optimal untuk ko-kemoterapi 5-FU pada sel WiDr yaitu ekstrak kunyit-kedelai konsentrasi 60 μg/mL yang dikombinasikan dengan 5-FU konsentrasi 56 μg/mL mampu menghasilkan nilai viabilitas sel sebesar 44,9%.
5-Fluorouracil (5-FU) is one of the main chemotherapy agents which is used in the treatment of colon cancer. 5-FU is known to have side effects and it may cause resistance. The principal strategy to increase cytotoxic effects and decrease side effects is by using the combined extracts of turmeric (Curcuma longa) and soy (Glycine max), each of them contains active compounds of curcumin and geinstein which are known to have anticancer effects. The aim of this research was to find out the cytotoxic effects of turmeric and soy combined extract as 5-FU co-chemotherapy agent towards WiDr colon cancer cell viability.
Turmeric and soy extracts were obtained by maceration using 96% ethanol. The cytotoxic observation was done with MTT assy method to measure the inhibitory effect on WiDr cell growth by the tratment of single extract of turmeric, soy, turmeric-soy combined extract, and 5-FU to derive IC50 values. The values of IC50 were the foundation for co-chemotherapy test between single treatment turmeric extract and soy, a single treatment of 5-FU, and a combination of turmeric extract and soy with 5-FU.
The results showed that the extracts of turmeric, soy, turmeric and soy extract combination, as well as 5-Fluorouracil has a cytotoxic effect on WiDr cells with IC50 values, respectively for 65, 155, 120, and 137 μg/mL. The test results of the analysis resulted that optimal concentration for co-chemotherapy 5-FU on WiDr cells that turmeric-soy extract concentration of 60 μg/mL in combination with 5-FU concentration of 56 μg/mL able to decrease the value of WiDr cell viability was 44,9%.
303712795P2CB14028Pengaruh Destination Brand Experience pada Kepuasan, Intensi Kunjungan Kembali, Intensi Rekomendasi, Nilai, dan Loyalitas dalam Konteks Pariwisata di PurbalinggaSedikitnya penelitian mengenai pengukuran merek destinasi mengindikasikan bagaimana sulitnya mengevaluasi sebuah merek destinasi. Peneliti membahas destination branding dengan sebuah konsep baru, destination brand experience (DBE), yang menyajikan pandangan lebih menyeluruh dan lebih baru tentang merek destinasi.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh destination brand experience terhadap loyalitas dengan kepuasan, intensi kunjungan kembali, intensi rekomendasi dan nilai sebagai pengaruh langsung dan pemediasian. Penelitian ini dilakukan pada empat obyek wisata di Purbalingga dengang total sampel 279 responden. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Partial Least Square (PLS) dengan menggunakan program WarpPLS 5.0.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa destination brand experience berpengaruh positif kepada kepuasan, intensi kunjungan kembali, loyalitas, intensi rekomendasi, nilai. Sementara itu kepuasan memediasi hubungan antara destination brand experience dan loyalitas, intensi kunjungan kembali tidak memediasi hubungan antara destination brand experience dan loyalitas, intensi rekomendasi tidak memediasi hubungan antara destination brand experience dan loyalitas, dan nilai memediasi hubungan antara destination brand experience dan loyalitas.
Lack of research regarding destination brand measurement indicates that conceptualizing how tourists evaluate a destination brand is complex.Researcher examines destination branding via a new conceptualization, destination brand experience (DBE), which provides a more holistic and unified view of the destination brand. This study aimed to analyze the effect of a destination brand experience on loyalty and satisfaction, revisit intention, intention recommend and its value as direct effect and mediating effects.This research conducted in four destination object in Purbalingga with Total amount of sample 279. This research using survey method with quantitative approach. Analysis tool used in this research is Partial Least Square (PLS) with Warp PLS 5.0 Program.Results showed that the destination brand experience has positive influence on satisfaction, revisit intention, loyalty, intention to recommend, and value. Meanwhile satisfaction mediates the relationship between destination brand experience and loyalty, intention to revisit not mediate the relationship between destination brand experience and loyalty, intentions recommend does not mediate the relationship between destination brand experience and loyalty, and value mediates the relationship between destination brand experience and loyalty.
303812819P2CA14013ANALISIS PERMINTAAN IMPOR KEDELAI INDONESIAGALIH SATRIA PERMADI, Program Studi Ilmu Ekonomi – Program
Pascasarjana, Universitas Jenderal Soedirman, Analisis Permintaan Impor Kedelai
Indonesia, Komisi Pembimbing, Ketua: Prof. Dr. H. Kamio, S.E., Anggota: Dr. Ir.
Suyono, M.S.
Penelitian ini berjudul “Analisis Permintaan Impor Kedelai Indonesia”.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang
memengaruhi permintaan impor kedelai Indonesi, menganalisis faktor yang paling
dominan memengaruhi impor kedelai Indonesia, dan memproyeksi impor kedelai
Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. Alat analisis yang digunakan di dalam
penelitian ini yaitu regresi linier berganda, analisis elastisitas, dan analisis tren.
Hasil penelitian menunjukan secara bersama-sama variabel luas panen
kedelai, produktivitas kedelai, harga kedelai domestik, harga jagung domestik,
harga daging ayam domestik, harga telur ayam domestik, jumlah penduduk,
cadangan devisa tahun sebelumnya, nilai tukar, dan PDB per kapita memengaruhi
impor kedelai Indonesia. Secara parsial, Faktor harga kedelai domestik dan nilai
tukar berpengaruh negatif nyata terhadap impor kedelai Indonesia, faktor harga
jagung domestik dan harga daging ayam domestik berpengaruh positif nyata
terhadap impor kedelai Indonesia, sedangkan faktor luas panen kedelai,
produktivitas kedelai, harga telur ayam domestik, jumlah penduduk, cadangan
devisa tahun sebelumnya, dan PDB per kapita tidak berpengaruh nyata terhadap
impor kedelai Indonesia. Dari hasil analisis elastisitas, faktor yang paling dominan
memengaruhi impor kedelai Indonesia adalah jumlah penduduk. Hasil analisis
tren menunjukkan bahwa diramalkan perkembangan impor kedelai Indonesia
terus mengalami peningkatan sebesar 6,81 persen per tahun dari tahun ke tahun
hingga 2023.
Implikasi dari penelitian ini yaitu pemerintah perlu terus menjalankan
Program Stabilitasi Harga Kedelai (Program SHK) dan pasokan komoditas
pangan agar harga kedelai, jagung, dan daging ayam dapat terjaga di tingkat yang
wajar, Program Keluarga Berencana perlu digalakkan untuk menekan
pertumbuhan jumlah penduduk, dan perlu adanya berbagai usaha dari pemerintah
untuk mengurangi ketergantungan akan kedelai impor.
GALIH SATRIA PERMADI, Postgraduate Program, Jenderal Soedirman
University, Demand Analysis of Indonesia Soybean Import, Supervisor: Prof. Dr.
H. Kamio, S.E., Co-Supervisor: Dr. Ir. Suyono, M.S.
This research is titled “Demand Analysis of Indonesia Soybean Import”.
The purpose of this research is to analyze determinants of Indonesia soybean
import demand, analyze the most dominant factor affecting Indonesia soybean
import, and project Indonesia soybean import in the next few years. Analysis tool
used is multiple linear regression, elasticity analysis, and trend analysis.
Research result showed that simultaniously soybean harvest area, soybean
productivity, domestic soybean price, domestik maize price, domestic chicken
meat price, domestic chicken egg price, population, previous year total reserves,
exchange rate, and GDP per capita variables have significant effect to Indonesia
soybean import. Partially, domestic soybean price and exchange rate have
negative significant effect to Indonesia soybean import, domestic maize price and
domestic chicken meat price have positive significant effect to Indonesia soybean
import whereas harvest area, soybean productivity, domestic chicken egg price,
population, previous year total reserves, and GDP per capita don’t have
significant effect to Indonesia soybean import. From elasticity analysis, the most
dominant factor affecting Indonesia soybean import is population. Trend analysis
forcasted that Indonesia soybean import will increase 6,81 percent per year until
2023.
Implication of this research is the goverment needs to run Program
Stabilitasi Harga Kedelai (Program SHK) and food commodity distribution in
order to mantain the soybean price, maize price, and chicken meat price at
reasonable price. Program Keluarga Berencana should be conducted to reduce
the population growth, and the need of various goverments efforts to reduce the
import soybean dependency.
303912821P2CA14028ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KETAHANAN PANGAN RUMAH TANGGA PEMBUDIDAYA IKAN GURAMI DI DESA BEJI KECAMATAN KEDUNGBANTENG KABUPATEN BANYUMASPenelitian ini berjudul “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ketahanan Pangan Rumah Tangga Pembudidaya Ikan Gurami di Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur tingkat ketahanan pangan rumah tangga pembudidaya ikan gurami di Desa Beji berdasarkan Tingkat Kecukupan Energi, serta untuk menganalisis pengaruh variabel pendapatan rumah tangga, umur kepala rumah tangga, pendidikan kepala rumah tangga, pengalaman usaha, akses terhadap kredit, rasio ketergantungan, dan luas lahan budidaya terhadap ketahanan pangan rumah tangga pembudidaya ikan gurami di Desa Beji.
Sampel pada penelitian ini terdiri dari 110 rumah tangga pembudidaya ikan gurami di Desa Beji. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei, sedangkan metode analisis data yang digunakan yaitu analisis regresi logistik biner. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 77 rumah tangga dengan kondisi rawan pangan (TKE < 70%), dan 33 rumah tangga dengan kondisi tahan pangan (TKE ≥ 70%); variabel yang berpengaruh positif dan signifikan terhadap ketahanan pangan rumah tangga pembudidaya ikan gurami adalah pendapatan rumah tangga, pendidikan kepala rumah tangga, akses terhadap kredit, dan luas lahan budidaya, rasio ketergantungan berpengaruh negatif dan signifikan sedangkan varibel yang tidak berpengaruh yaitu usia kepala rumah tangga, dan pengalaman usaha.
Implikasi dari penelitian ini adalah perlu adanya upaya penyadaran dan peningkatan pengetahuan pangan dan gizi secara intensif seperti sosialisasi oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas tentang susunan bahan pangan yang beragam dan bergizi seimbang. Pemerintah juga sebaiknya memberikan perhatian dengan memberikan berbagai pelatihan dan pemantauan terhadap perkembangan budidaya ikan gurami sehingga mampu meningkatkan kinerja para pembudidaya ikan gurami dan berpengaruh terhadap peningkatan produksi, pendapatan serta meningkatkan ketahanan pangan rumah tangga pembudidaya ikan gurami, selain itu perlu adanya bantuan modal dengan kredit lunak.
This research is titled "Analysis of Factors that Affecting Carp Fish Farmers Household Food Security in Beji Village Kedungbanteng District Banyumas Regency". The purpose of this research are to measure the level of food security of carp fish farmers households in Beji Village based on Adequacy Levels of Energy and to analyze the influence of variables such as household income, age of household head, education of household head, business experience, access to credit, dependency ratio, and land cultivation for carp fish farmers household food security in Beji village.
Sample in this research is consisting of 110 carp fish farmers households in Beji Village. This research used a survey method meanwhile the analysis method used binary logistic regression analysis. The results of the research showed that the total of 77 household were in food insecurity (adequacy level of energy <70%), and 33 household were in food security (adequacy level of energy ≥ 70%); the variables that positive affect and significant to carp fish farmers household food security are household income, education of household head, access to credit, as well as cultivated land area, dependency ratio have negative and significant, meanwhile some variables that have no effect to carp fish farmers household food security are age of household head, and business experience.
The implication of this research are: the need for awareness and increase knowledge of food and nutrition intensively, such as dissemination by the Department of Health Regency about food diversity and balanced nutrition. Government also should give attention to provide various training and monitoring to the development of carp cultivation in order to improve the performance of the carp fish farmers and affect the production increase, income and improve household food security of carp fish farmers, in addition, they need capital assistance with soft loans.
304012822P2CA14010Pengaruh Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja, Investasi, dan Jumlah Penduduk Terhadap Pertumbuhan Ekonomi, Pendapatan per Kapita, Kemiskinan, dan Pengangguran Antar Kecamatan di Kabupaten Banyumas Penelitian ini berjudul “Pengaruh Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja, Investasi, dan Jumlah Penduduk Terhadap Pertumbuhan Ekonomi, Pendapatan per Kapita, Kemiskinan, dan Pengangguran Antar Kecamatan di Kabupaten Banyumas”. Tujuan penelitian ini untuk Untuk menganalisis pengaruh variabel Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja berdasarkan jenjang Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah, Pendidikan Tinggi, investasi pemerintah, investasi swasta dan jumlah penduduk terhadap pertumbuhan ekonomi, pendapatan per kapita, kemiskinan dan pengangguran antar kecamatan di Kabupaten Banyumas.
Penelitian ini dilakukan di 27 kecamatan di Kabupaten Banyumas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu uji asumsi klasik dan regresi data panel. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat diperoleh: (1) Variabel Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah, Pendidikan Tinggi, investasi pemerintah, dan investasi swasta memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita di Kabupaten Banyumas dan Pendidikan Menegah merupakan variabel yang memberikan pengaruh paling besar (elastis) terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita setiap kecamatan di Kabupaten Banyumas yaitu sebesar 0,169 persen dan sebesar 0,105 persen serta memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap pengangguran dengan variabel Pendidikan Menengah merupakan variabel yang memberikan pengaruh paling besar (elastis) terhadap penurunan angka pengangguran setiap kecamatan di Kabupaten Banyumas yaitu sebesar 0,715 persen. (2) Variabel investasi pemerintah, investasi swasta memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap kemiskinan serta jumlah penduduk memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan di setiap kecamatan di Kabupaten Banyumas.
Implikasi dari hasil penelitian adalah: (1) Meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya pendidikan khususnya pendidikan keterampilan maka pemerintah dapat memperbanyak pembangunan balai-balai pelatihan keterampilan atau sekolah-sekolan non formal. (2) Angkatan kerja yang memiliki kemampuan atau skill baik dan berpendidikan terakhir pendidikan tinggi sebaiknya tidak hanya bekerja pada perusahaan saja tetapi juga membuka lapangan kerja agar dapat menyerap angkatan kerja dari seluruh jenjang agar dapat meningkatkan pendapatan per kapita masyarakat di setiap kecamatan Kabupaten Banyumas. (3) Pemerintah maupun swasta sebaiknya lebih banyak mengivestasikan dananya dan mendukung program-program yang berasal dari sektor primer mensosialisasikan mengenai Keluarga Berencana (KB). (4) Pihak pemerintah dalam menginvestasikan modalnya tidak hanya yg bersifat padat modal, tetapi lebih kepada padat karya karena dapat memperluas lapangan pekerjaan dan menyerap angakatan kerja dari segala jenis jenjang pendidikan agar dapat mengurangi angka pengangguran.
This study entitled "The Effect of Labor Force Participation Rate, Investment, and Economic Growth Against Population, per Capita Income, Poverty and Unemployment Inter District in Banyumas". For the purpose of this study was to analyze the influence of variables Labor Force Participation Rate is based on the level of Basic Education, Secondary Education, Higher Education, government investment, private investment and the number of population on economic growth, per capita income, poverty and unemployment among districts in Banyumas.
This study was conducted in 27 districts in Banyumas. The method used in this research is the classical assumption test and panel data regression. Based on the research results, it can be obtained: (1) Variable Labor Force Participation Rate Elementary Education, Secondary Education, Higher Education, government investment and private investment has a positive and significant effect on economic growth and per capita income in Banyumas and Medium Education is a variable that gives the greatest influence (elastic) to increase economic growth and per capita income every district in Banyumas in the amount of 0.169 percent and amounted to 0.105 percent and has a negative and significant impact on unemployment with the Secondary Education variables are variables that most influence large (elastic) to decrease unemployment every district in Banyumas in the amount of 0.715 percent. (2) Variable government investment, private investment has a negative and significant impact on poverty and the number of the population has a positive and significant impact on poverty in every district in Banyumas.
The implications of the research are: (1) Raise awareness about the importance of education, especially vocational education, the government may augment the development of skills training centers or non-formal school-sekolan. (2) The labor force that has the ability or skill both past and educated higher education should not only work at the company but also to create jobs in order to absorb the labor force of all levels in order to increase the per capita income in each district Banyumas. (3) The Government and private sector should be more re-invest the funds and support programs home industry from the primary sector and to socialize on Family Planning (FP). (4) The goverment in which to invest their capital not only is capital intensive, but rather labor intensive because it can expand jobs and absorb work of any kind of education in order to reduce unemployment.