Artikelilmiahs
Menampilkan 3.061-3.080 dari 48.733 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 3061 | 12818 | F1C008056 | Fenomena Peralihan Orientasi Seksual (StudiInteraksionisme Simbolik terhadap Pergeseran Orientasi Seksual dari Heteroseksual menjadi Lesbian yang dilakukan oleh Remaja Perempuan di Purwokerto) | Penelitian ini berjudul Fenomena Peralihan Orientasi Seksual (Studi Interaksionisme Simbolik terhadap Pergeseran Orientasi Seksual dari Heteroseksual menjadi Lesbian yang dilakukan oleh Remaja Perempuan di Purwokerto).Penelitian dilakukan di Purwoketo, Jawa Tengah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hal-hal yang melatarbelakangi remaja perempuan heteroseksual melakukan pergeseran orientasi menjadi lesbian di Purwokerto. Adapun teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling.Informan yang menjadi subjek penelitian adalah remaja heteroseksual yang mengubah orientasi seksualnya menjadi lesbian berusia 11-24 tahun, serta mau dan mampu menguraikan pengalaman masa lalu dan sekarang.Sedangkan, metode pengumpulan data menggunakan pengamatan dan observasi serta wawancara mendalam. Dalam penelitian ini, analisisi data menggunakan studi interaksionisme simbolik dan teori dramaturgi sebagai pendukungnya.Dari penelitian ini diambil kesimpulan bahwa 3 dari 4 remaja heteroseksual yang mengubah orientasi seksualnya cenderung berkonsep diri negatif. Remaja mengenal lesbian melalui teman sebaya, kemudian ia mengimitasi significant other, menentukan secara sadar (bertindak), dan kemudian membagi peran yang berbeda (dramaturgi) agar dapat diterima diclingkungan pergaulan dan keluarga. Kata kunci: Interaksionisme simbolik, remaja, perubahan orientasi, lesbian | Penelitian ini berjudul Fenomena Peralihan Orientasi Seksual (Studi Interaksionisme Simbolik terhadap Pergeseran Orientasi Seksual dari Heteroseksual menjadi Lesbian yang dilakukan oleh Remaja Perempuan di Purwokerto).Penelitian dilakukan di Purwoketo, Jawa Tengah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hal-hal yang melatarbelakangi remaja perempuan heteroseksual melakukan pergeseran orientasi menjadi lesbian di Purwokerto. Adapun teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling.Informan yang menjadi subjek penelitian adalah remaja heteroseksual yang mengubah orientasi seksualnya menjadi lesbian berusia 11-24 tahun, serta mau dan mampu menguraikan pengalaman masa lalu dan sekarang.Sedangkan, metode pengumpulan data menggunakan pengamatan dan observasi serta wawancara mendalam. Dalam penelitian ini, analisisi data menggunakan studi interaksionisme simbolik dan teori dramaturgi sebagai pendukungnya.Dari penelitian ini diambil kesimpulan bahwa 3 dari 4 remaja heteroseksual yang mengubah orientasi seksualnya cenderung berkonsep diri negatif. Remaja mengenal lesbian melalui teman sebaya, kemudian ia mengimitasi significant other, menentukan secara sadar (bertindak), dan kemudian membagi peran yang berbeda (dramaturgi) agar dapat diterima diclingkungan pergaulan dan keluarga. Kata kunci: Interaksionisme simbolik, remaja, perubahan orientasi, lesbian | |
| 3062 | 12659 | F1C011043 | Peran Public Relation Pada Implementasi Corporate Social Responsibility “Aksi Jumat Bersih” Hotel Horison Ultima Purwokerto dalam Mengangkat Citra Perusahaan | Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan program yang diwajibkan oleh pemerintah. Setiap perusahaan dituntut untuk peduli terhadap lingkungan. Pada umumnya program CSR menjadi tugas Public Relation (PR). PR bertugas untuk menjalin komunikasi kepada stakeholders dalam menjalankan program CSR. Hal tersebut disebabkan program CSR saat ini dapat menjalin jembatan untuk mengangkat citra perusahaan. Hotel Horison Ultima Purwokerto merupakan salah satu perusahaan di Purwokerto yang menjalankan kegiatan CSR. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Subjek pada penelitian ini adalah Hotel Horison Ultima Purwokerto. Pemilihan informan dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik purposive sampling yaitu para pegawai Hotel Horison Ultima Purwokerto dan warga yang mengikuti kegiatan CSR “Aksi Jumat Bersih”. Metode pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan cara wawancara, observasi, dan studi pustaka. Analisis data dilakukan dengan model analisis interaktif melalui pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Validitas data pada penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber. Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa PR Hotel Horison Ultima Purwokerto berperan secara taktis dalam program CSR “Aksi Jumat Bersih” dan PR hotel tersebut memiliki peran lebih banyak ke media massa. Selain itu, Hotel Horison Ultima Purwokerto berhasil mengangkat citra di mata masyarakat melalui program CSR | Corporate Social Responsibility (CSR) is a programme that claimed by Government. Each company required able to care about environment. Commonly, CSR programme is being a job for Public Relations (PR). PR has duty to create communication to the stakeholders in order to conduct CSR programme. It’s caused CSR programme nowdays, able to be a bridge for increasing company’s image. Hotel Horison Ultima Purwokerto is one of the companies in Purwokerto that conduct CSR activity. This research was developed by using descriptive qualitative research method. This research subject’s is Hotel Horison Ultima Purwokerto. Choosing the source of this research was conducted by purposive sampling technique, Employees of Hotel Horison Ultima Purwokerto and public that followed CSR “Aksi Jumat Bersih” Programme. This research used interviewing, observation and the study of library to collect the data. Analyzing the data used interactive analyzing model, data collecting, data reduction, data serving and the result of conclusion. Validating the data used triangulation source technique. The result of this research is by knowing thar PR Hotel Horison Ultima Purwokerto had tactical role in CSR “ Aksi Jumat Bersih “ Programme and PR had more role to connect with mass media. Hotel Horison Ultima Purwokerto successful on raising image in public by CSR programme. | |
| 3063 | 12839 | F1C010006 | Komunikasi Organisasi antara atasan dan bawahan dalam upaya mempertahankan produktivitas kerja karyawan PT Varia Usaha Beton Purwokerto | Penelitian ini berjudul, “Komunikasi Organisasi antara atasan dan bawahan dalam upaya mempertahankan produktivitas kerja karyawan PT Varia Usaha Beton Purwokerto”. Komunikasi organisasi adalah suatu sistem terbuka yang kompleks yang dipengaruhi oleh lingkungannya sendiri baik internal maupun eksternal yang meliputi pesan dan arusnya, tujuan, arah, media, orang dan sikapnya, perasaan, hubungannya dan keterampilan/skilnya. PT Varia Usaha Beton Purwokerto merupakan anak perusahaan PT Semen Indonesia yang bergerak dibidang jasa dan produksi beton yang sudah tersebar hampir seluruh wilayah di Indonesia termasuk di Purwokerto. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana komunikasi organisasi antara atasan dan bawahan dalam upaya mempertahankan produktivitas kerja karyawan. Subjek dalam penelitian adalah Ka. Plant, Ka. Regu dan staf karyawan PT Varia Usaha Beton Purwokerto. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif melalui wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi, sedangkan teknik penentuan informan yang digunakan dalam penelitian adalah purposive sampling. Teknik yang disimpulkan guna mendapatkan validitas data yaitu menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi antara atasan dan bawahan PT Varia Usaha Beton Purwokerto menggunakan jaringan komunikasi organisasi dalam mempertahankan produktivitas kerja. Komunikasi organisasi yang digunakan yaitu jaringan komunikasi formal yang meliputi komunikasi ke bawah, komunikasi ke atas dan komunikasi horizontal. Peran setiap karyawan di dalam organisasi PT Varia Usaha Beton Purwokerto sangat diperlukan untuk membangun kerja sama dalam mempertahankan produktivitas kerja. Komunikasi yang efektif yang dilakukan atasan kepada bawahan yaitu pimpinan yang mengerti keadaan bawahannya. Dalam upaya mempertahankan produktivitas kerja karyawan PT Varia Usaha Beton Purwokerto diperlukan reward terhadap karyawan yang memiliki prestasi pada bidang pekerjaannya. | This study titled, "Organizational Communication Between Superiors And Subordinates In Order To Maintain Employee Productivity PT Varia Usaha Beton Purwokerto". Organizational communication is a complex open system that is influenced by their own environment, both internal and external including the message and its flows, purpose, direction, media, people and attitudes, feelings, relationship and skills. PT Varia Usaha Beton Purwokerto is a subsidiary company of PT Semen Indonesia engaged in service and concrete production that has spread to almost regions in Indonesia, including in Purwokerto. This study aims to determine how the organizational communication between superiors and subordinates in order to maintain employee productivity. Ka. Plant, Ka. Team and staff employees of PT Varia Usaha Beton Purwokerto are part of the subjects in this study. The method used in this study is qualitative in-depth interviews, observation and documentation, while the informants were determined by purposive sampling. In order to obtain the validity of the data it was concluded with source triangulation. The results showed that the communication between superiors and subordinates in PT Varia Usaha Beton Purwokerto were using organizational communication network to maintain work productivity. Organizational communication that were used is a formal communication network that includes downward communication, upward communication and horizontal communication. The role of each employee in the organization of PT Varia Usaha Beton Purwokerto is necessary to establish cooperation in maintaining the productivity of labor. Superiors did an effective communication by understanding the circumstances of their own subordinates. In an effort to maintain employee productivity in PT Varia Usaha Beton Purwokerto, it is necessary to give rewards for employees who have excellent performace in the field of work. | |
| 3064 | 12840 | F1C008097 | Analisis Wacana terhadap Rangkaian Iklan Susu Formula SGM Produk Presinutri | Susu formula SGM sudah tidak asing dalam jajaran susu formula di Indonesia. Produk ini sudah puluhan tahun ada dan tetap eksis. Tampilnya beberapa iklan susu formula SGM dalam iklan televisi menambah eksis produk ini, agar selalu dilirik oleh pelanggannya. Dapat dikatakan iklan yang dimaksud tetap memelihara ingatan tentang susu formula SGM dalam masyarakat. Memang pengaruh iklan tidak diragukan dalam banyak hal. Mulai dari pemasaran produk sampai mempengaruhi perilaku seseorang. Namun, dalam iklan tersembunyi pesan yang tidak tampak. Tanpa sadari kita terpengaruh dengan apa yang dikatakan iklan. Guna membantu menganalisis hal ini dapat menggunakan analisis wacana untuk mengungkap pesan tersembunyi dalam iklan. Menggunakan pendekatan Teun A. Van Dijk, dalam sebuah struktur wacana mulai dari makro, suprastruktur dan mikro. Yang akan menentukan bagaimana kognisi sosial terbentuk dari wacana tentang iklan susu formula SGM. Wacana yang timbul dari analisis susu formula SGM menghasilkan anggapan bahwa susu formula SGM menghasilkan anak yang berprestasi dalam gambaran iklan. Membangun persepsi dari keluarga yang digambarkan dalam iklan. Meyakinkan dengan penggunaan istilah ilmiah tentang zat gizi yang berguna untuk mempengaruhi prestasi balita. Serta penambahan lembaga penelitian luar negeri yang selalu di tekankan dalam setiap iklan menambah daya yakin dari pelanggan. Iklan mencoba menciptakan mitos. Karena disampaikan berulangkali tampak menjadi kenyataan. Anak balita yang digunakan dalam iklan bisa dikatakan kurang dari 2 tahun, dengan adegan selalu meminum susu formula SGM. Balita menjadi objek ekploitasi tanpa dia sadari, karena secara nalar belum sepenuhnya utuh. | Formula milk is not foreign in the SGM formula milk in Indonesia. This product has been dozen of years there and still exist. The days of some advertising SGM formula milk add television advertising in these products exist, to be eye by its customers. Advertising can be said thah referred to still keep the memories of SGM formula milk in society. The influence of advertising is no doubt in many respects. From marketing products to influence behavior of sameone. But, in a massage hidden there is ni advertising. Without even realizing we are affected by what is said to be advertising. To help analyze this discourse can use the analysii to uncover hidden messages in advertising. Using the approach of Teun A. Van Djik, in a macro starting trom the structure or discourse,superstructure and micro. That will determine how social cognition formed from discourse about advertising SGM formula milk. Discourse arising from an analysis of SGM formula milk produce the assumption that SGM formula milk produce little who performed well advertising picture. Build perception of the family described in advertising. Convince with the use of scientific terms about the nutrients useful to affect achievement under 5 years old. As well as the additional of research institutes of foreign affairs are always on cannot emphasise anough in any advertising adding power sure of costomers. Advertising trying to create a myth. Because delivered repeadly looke into reality. Toddlers use in advertising can be classified as less than 2 years, with scenes of always drink SGM formula milk. Toddlers become the object the exploitation without him aware of, by being of reason not fully intact. | |
| 3065 | 12802 | P2EA13032 | POLITIK HUKUM OTONOMI DESA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA | Siti Fauziyah, Magister Ilmu Hukum Program Pascasarjana Fakultas Hukum, Universitas Jenderal Soedirman, Politik Hukum Otonomi Desa Berdasarkan Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, Komisi Pembimbing : Prof. Dr. H. Muhammad Fauzan, S.H., M.Hum., Anggota Dr. Riris Ardhanariswari, S.H., M.H. Penelitian ini dengan mengangkat perumusan permasalahan : Bagaimanakah politik hukum otonomi desa berdasarkan Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Bagaimanakah pengelolaan keuangan pemerintahan desa dalam mewujudkan otonomi desa berdasarkan Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Metode pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini yuridis normatif, Tipe penelitian yang digunakan adalah penelitian yuridis normatif atau penelitian yang difokuskan untuk mengkaji penerapan kaidah-kaidah atau norma-norma dalam hukum positif, Sumber data yang digunakan adalah menggunkan data primer dan data sekunder, Dalam rencana penelitian ini, digunakan metode pengumpulan data, berupa : kepustakaan dan dokumenter, Data yang diolah akan disajikan dalam bentuk teks naratif yaitu suatu uraian dan penjabaran yang tersusun secara logis, konsisten, rasional dan sistematis yang diawali dengan penyajian data-data yang berkaitan dengan politik hukum otonomi desa menurut Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Politik hukum otonomi desa dalam Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, otonomi desa untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Politik hukum otonomi desa berdasarkan Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa bahwa di dalam terkandung Landasan Filosofis, Yuridis dan Sosiologis Politik Hukum Pemerintahan Desa. Desa memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal-usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati. Jadi yang dimaksud penyelenggaraan urusan pemerintahan adalah “untuk mengatur”, untuk mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat. Konsekuensi dari pertambahan kewenangan dalam Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa tersebut memungkinkan desa dapat mengembangkan otonomi yang dimiliki bagi kepentingan masyarakat setempat. Pengelolaan keuangan pemerintahan desa dalam mewujudkan otonomi desa berdasarkan Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, menjadi muara guna perwujudan kemandirian atau otonomi pemerintahannya. Otonomi yang bukan asal otonomi, namun harus membuahkan demokrasi yang bersifat partisipatif dalam pembangunan ekonomi desa secara menyeluruh. Pemerintah mengalokasikan dana desa dalam APBN setiap tahun anggaran yang diperuntukkan bagi desa yang ditransfer melalui anggaran pendapatan dan belanja daerah kabupaten/kota. Selain itu, pemerintah kabupaten/kota mengalokasikan dalam APBD kabupaten/kota ADD setiap tahun anggaran, paling sedikit 10 % (sepuluh persen) dari dana perimbangan yang diterima kabupaten/kota dalam APBD setelah dikurangi Dana Alokasi Khusus (DAK). | Siti Fauziyah, Master of Law Graduate Program Faculty of Law, University of General Sudirman, Politics Village Autonomy Law Under Act No. 6 of 2014 on the village, the Advisory Committee: Prof. Dr. H. Muhammad Fauzan, SH, M. Hum., Member Dr. Riris Ardhanariswari, SH, M.H. This research by lifting the formulation of the problem How do politics village autonomy law by Act No. 6 of 2014 on the village. How is the financial management of village government in realizing the village autonomy under Law No. 6 of 2014 on the village. The approach used in this study normative, type of research is a normative juridical research or research that focused on reviewing the application of the rules or norms of the positive law, Sources of data used is using the primary data and secondary data, in plan this study used data collection methods, such as : literature and documentaries, which processed data will be presented in the form of a narrative text is a translation of the description and logically structured, consistent, rational and systematic that begins with the presentation of data relating to legal politics village autonomy according to Law No. 6 of 2014 on the village. Political village autonomy law in Act No. 6 of 2014 on the village, village autonomy to organize and manage their own affairs and interests of local communities in accordance with the legislation. Political village autonomy law by Act No. 6 of 2014 concerning the village that is contained in the Platform Philosophical, Juridical and Political Sociological Village Government Law. The village has the authority to regulate and administer governmental affairs, the interests of the local community by community initiatives, the right of the origin, and / or traditional rights are recognized and respected. So that meant the implementation of government affairs is "to set", to take care of the affairs of government, the interests of local communities. The consequences of the increase in the authority of Act No. 6 of 2014 on the village allow the village to develop autonomy held for the benefit of local communities. Financial management of the village administration in realizing the village autonomy under Law No. 6 of 2014 on the village, into the estuary to the embodiment of independence or autonomy government. Autonomy is not the origin of autonomy, but should produce participatory democracy in rural economic development as a whole. The government allocated funds in the state budget every year village budget earmarked for the village to be transferred through the budget revenues and expenditures of the district/city. In addition, the district / city governments allocate in the budget district / city ADD each budget year, at least 10% (ten percent) of the balance funds received by the district / city in the budget after deducting the Special Allocation Fund (DAK). | |
| 3066 | 12842 | G1G010044 | PERBEDAAN PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL DAUN SIRIH HIJAU (Piper betle) DAN EKSTRAK ETANOL DAUN SIRIH MERAH (Piper crocatum) TERHADAP DAYA ADHESI BAKTERI Porphyromonas gingivalis | Periodontitis merupakan peradangan pada jaringan pendukung gigi. Bakteri yang dominan ditemukan pada penderita periodontitis adalah Porphyromonas gingivalis. P. gingivalis memiliki faktor virulensi yang berperan penting dalam proses adhesi bakteri terhadap permukaan host. Daun sirih hijau dan daun sirih merah memiliki senyawa kimia yang diketahui berfungsi sebagai antibakteri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan pemberian ekstrak etanol daun sirih hijau dan ekstrak etanol daun sirih merah terhadap daya adhesi bakteri P.gingivalis. Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratorium dengan metode post test control group design. Terdapat 8 kelompok yang berisi 2 sampel ekstrak dengan masing-masing konsentrasi 10%, 12%, 14%, kelompok kontrol positif (Chlorhexidine 0,12%) dan kelompok kontrol negatif (akuades steril). P. gingivalis yang digunakan adalah biakan murni sebesar 108 CFU/ml. Daya adhesi diukur dengan melihat densitas optik (DO) menggunakan spektrofotometer dengan panjang gelombang 540 nm. Persentase adhesi didapatkan dari nilai DO bakteri yang melekat : DO jumlah seluruh bakteri x 100%. Hasil uji One Way ANOVA menunjukkan adanya perbedaan signifikan antar tiap kelompok (p<0,05). Hasil uji Independent t test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara pemberian ekstrak etanol daun sirih hijau dan ekstrak etanol daun sirih merah (p<0,05). Ekstrak etanol daun sirih hijau memiliki persentase adhesi lebih rendah dibanding ekstrak etanol daun sirih merah dan konsentrasi 14% adalah konsentrasi terbaik dalam menurunkan daya adhesi bakteri P. gingivalis. | Periodontitis is an inflammation of the supporting tissues of the teeth. The dominant bacteria found on people with periodontitis are Porphyromonas gingivalis. P. gingivalis has a virulence factor that has important role in the process of adhesion of bacteria on surface of the host. The green betle leaf and red betle leaf have a chemical compound which purpose to effect as an antibacterial. The aim of this study was to determine the difference between ethanol extract of green betle leaf and ethanol extract of red betle leaf to against the bacteria adhesion of P. gingivalis. The research was an experimental laboratory with posttest control group design method. There were 8 groups contains of two sample extracts with concentrations 10%, 12% 14%, positive control group (Chlorhexidine 0,12%) and negative control group (steril aquadest). P. gingivalis was a pure culture of 108 CFU/ml. The adhesion measured by measuring the optical density (OD) by using a spectrophotometer with 540 nm. The percentage adhesion of bacteria obtained by the OD of adhered cells : OD of total cells x 100%. The result of one way ANOVA test showed a significant difference between treatment groups (p<0,05). The result of Independent t test showed a significant difference between ethanol extract of green betle leaf and ethanol extract of red betle leaf (p<0,05). The ethanol extract of green betle leaf has a lower adhesion percentage that the ethanol extract of red betle leaf and the concentration of 14% is the best concentration to reduced the adhesion of P.gingivalis. | |
| 3067 | 12837 | F1B010017 | Implementasi Program Pos Pembinaan Terpadu di Kelurahan Berkoh Kecamatan Purwokerto Selatan dan Desa Karanglo Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas | Program Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) terlaksana karena semakin tinggi angka kematian akibat penyakit tidak menular. Penelitian tentang program Pos Pembinaan Terpadu di Kelurahan Berkoh sebagai model percontohan daerah perkotaan dan Desa Karanglo sebagai model percontohan daerah pedesaan di Kabupaten Banyumas. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pemilihan informan yaitu teknik purposive sampling dan snowball sampling. Sasaran utama penelitian ini yaitu masyarakat Kelurahan Berkoh dan Desa Karanglo serta pengelola Posbindu diantaranya kader dan bidan desa. Penelitian ini difokuskan kepada faktor-faktor implementasi Smith yang menggunakan empat aspek yaitu idealized policy, kelompok sasaran, organisasi pelaksana, dan faktor lingkungan. Hasil dari penelitian menggunakan aspek-aspek tersebut menunjukkan adanya perbedaan pelaksanaan di Kelurahan Berkoh dan Desa Karanglo. Pelaksaan program Posbindu di Desa Karanglo sudah sangat baik dan semakin berkembang, karena banyaknya partisipasi masyarakat yang ikut dalam kegiatan posbindu. Lain halnya dengan pelaksaan Posbindu di Kelurahan Berkoh yang sampai saat ini peserta Posbindu masih sedikit dan jauh dari target karena kurang kesadaran masyarakat untuk ikut dalam pemeriksaan Posbindu. Pelayanan dalam kegiatan Posbindu selalu bekerjasama dengan pihak Puskesmas setempat dalam proses rujukan untuk peserta Posbindu yang butuh penanganan khusus. | Pos Integrated Development Program (Posbindu) implemented because the higher the number of deaths from non-communicable diseases. Research on post program Integrated Development in Sub Berkoh as a pilot model of urban and rural areas as a pilot model Karanglo rural areas in Banyumas. The study was conducted using qualitative descriptive approach with the informant selection techniques that purposive sampling and snowball sampling. The main target of this research is society Berkoh Village and Village Karanglo and managers Posbindu among cadres and midwives. This study focused on factors Smith implementation that uses four aspects, namely idealized policy, target groups, implementing organizations, and environmental factors. Results of studies using these aspects indicate differences in implementation in the Village and Village Berkoh Karanglo. Posbindu program implementation in Desa Karanglo been very good and growing, due to the large participation of people who participate in the activities posbindu. As with the implementation Posbindu in Sub Berkoh hitherto Posbindu participants are still few and far from target due to lack of awareness of the public to participate in the examination Posbindu. Service activities Posbindu always work with the local health center in the referral process for participants Posbindu that need special handling. | |
| 3068 | 12707 | F1F009078 | FASHION CONSUMPTION PORTRAYED IN SOPHIE KINSELLA’S SHOPAHOLIC ABROAD | Andi. 2015. Fashion Consumption Portrayed in Sophie Kinsella’s Shopaholic Abroad. Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris.Jurusan Sastra Inggris. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto .Pembimbing I: Tribuana Sari, M.Si.,Pembimbing II: Lynda Susana W.A.F., M.Hum., Penguji: Mia Fitria A., M.A. Kata kunci: Konsumsi Fashion, Chick lit, Kecanduan. Penelitian yang berjudul “Fashion Consumption Portrayed in Sophie Kinsella’s Shopaholic Abroad” bertujuan untuk menemukan permasalahan mengenai konsumsi fashion dalam novel tersebut. Fashion berhubungan erat dengan kehidupan manusia karena setiap hari setiap orang pasti mengenakan pakaian. Sumber data utama penelitian ini adalah chick lit berjudul Shopaholic Abroad karya Sophie Kinsella yang dianalisis menggunakan teori kecanduan untuk menemukan bagaimana konsumsi fashion digambarkan dan hal-hal yang menyebabkan kecanduan tokoh utama pada fashion. Analisis penelitian ini disajikan menggunakan metode deskriptif kualitatif yang berfokus pada narasi dan dialog di novel tersebut. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik studi pustaka yang mana buku, esai, artikel, dan laman internet menjadi sumber data yang mendukung penelitian ini. Kemudian, data yang berhubungan dengan konsumsi fashion dan hal-hal yang menyebabkan kecanduan tokoh utamapada fashion ditampilkan.Data tersebut lalu dianalisis menggunakan teori kecanduan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada tiga tokoh yang berkaitan dengan penelitian ini, yaitu tokoh utama, Rebecca Bloomwood, dan dua tokoh pendukung, Luke Brandon dan Susan Cleath-Stuart. Rebecca Bloomwood menggambarkan konsumsi fashion melalui pakaian yang ia kenakan dan beli. Sedangkan Luke Brandon dan Susan Cleath-Stuart menggambarkan konsumsi fashion melalui pakaian yang mereka kenakan.Selanjutnya, menurut teori kecanduan, ada dua alasan yang menyebabkan kecanduan tokoh utama pada fashion, yaitu pelarian dan kurangnya kepercayaan diri. Kecanduan dan kurangnya rasa percaya diri mendorong tokoh utama untuk berbelanja. | Andi. 2015. Fashion Consumption Portrayed in Sophie Kinsella’s Shopaholic Abroad. English Language and Literature Study Program. English Literature Department. Humanities Faculty. Jenderal Soedirman University .Purwokerto. First Supervisor: Tribuana Sari, M.Si., Second Supervisor: Lynda Susana W.A.F., M.Hum., Examiner: Mia Fitria A., M.A. Key words: Fashion Consumption, Chick lit, Addiction. The research entitled “Fashion Consumption Portrayed in Sophie Kinsella’s Shopaholic Abroad” is aimed to find out fashion consumption issue that occur in the novel since fashion is closely related to human’s life. People wear clothes every day. The main data source is a chick lit entitled Shopaholic Abroad by Sophie Kinsella which is analysed through addiction theory to find out how fashion consumption is portrayed and the causes of the main character’s addiction towards fashion. The analysis is presented by using descriptive qualitative method that focuses on the narrations and dialogues in Sophie Kinsella’s Shopaholic Abroad. The research applied library research to collect the data which allows the collection of the data from books, essays, articles, and internet websites as the data sources to support the research. Next, the important data related to fashion consumption and the causes of the main character’s addiction towards fashion were listed. And finally, the data were analysed by addiction theory. As for the results, there are three significant characters that portrayed fashion consumption, i.e. the main character, Rebecca Bloomwood, and two supporting characters, Luke Brandon and Susan Cleath-Stuart. Rebecca Bloomwood portrayed fashion consumption through the clothes that she wore and bought. Whereas Luke Brandon and Susan Cleath-Stuart portrayed fashion consumption through the clothes they wore. Moreover, according to addiction theory, there are two main causes of the main character’s addiction towards fashion, i.e. avoidance and insecurity. Avoidance and insecurity push the main character to shop. | |
| 3069 | 12844 | P2BA12022 | KORELASI KOMUNITAS IKAN SAMANDAR ( Siganus spp ) DAN EKOSISTEM PADANG LAMUN PADA DAERAH KONSERVASI TRADISIONAL ”SASISYEN” DI PULAU NUMFOR KABUPATEN BIAK NUMFOR | KRISTHOPOLUS KOLOMBUS RUMBIAK, Program Studi Ilmu Biologi-Program Pasca sarjana, Universitas Jenderal Soedirman, Korelasi komunitas ikan samandar (Siganus spp) dan ekosistem padang lamun pada daerah konservasi tradisional ”sasisyen” di Pulau Numfor Kabupaten Biak Numfor. Komisi Pembimbing, Ketua: Romanus Edy Prabowo, S.Si., M.Sc., Ph.D., Anggota: Dr. Agus Nuryanto, S.Si., M.Si. Padang lamun merupakan habitat potensial bagi sumber daya hayati ikan yaitu sebagai daerah asuhan, daerah pemijahan, tempat berlindung dan mencari makan. Jenis ikan yang senantiasa didapatkan pada daerah padang lamun dalam jumlah melimpah yaitu ikan Samandar (Siganus canaliculatus dan Siganus lineatus). Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan konservasi tradisional “Sasisyen” terhadap ikan Samandar dan ekosistem padang lamun yang dilaksanakan di Kampung Pakreki Pulau Numfor. Metode penelitian yang digunakan adalah VES (Visual Ecounter Survei), VES adalah metode yang mengunakan transek garis. Lokasi dibagi menjadi 2 area dengan jumlah transek pengamatan 6 yaitu 3 transek di daerah sasisyen dan 3 transek di daerah nonsasiyen, panjang transek pengamatan ikan dan lamun 100 m dan jarak antara transek I, II, dan III masing-masing berjarak 200 m. Pengamatan dan perhitungan kerapatan lamun dilakukan dalam plot kuadrat 50x50 cm2, yang terbagi dalam grind berukuran 10 cm, dengan interval plot berjarak 20 m, sepanjang garis transek. Pengambilan data pH, DO, kecerahan dan kecepatan arus dilakukan bersamaan dengan pengamatan ikan dan lamun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa padang lamun dengan keragaman dan kerapatan vegetasi yang tinggi mendukung tingginya kelimpahan individu ikan Siganus canaliculatus 341,3 individu dan Siganus lineatus 338,3 individu, serta kerapatan lamun dari tiap transek memiliki jumlah jenis kerapatan yang meningkat yaitu, terdapat 7 jenis lamun Thalassia hemprichii 432,3 individu/m2, Cymodocea rotundata 426,7 individu/m2, Halodule uninervis 425,7 individu/m2, Halodule ovalis 95,7 individu/m2, Halodule pinivolia 252,3 individu/m2, Enhalus acoroides 282,0 individu/m2, dan Syrigodium isoetifolium 226,0 individu/m2. Kelimpahan ikan Samandar sangat di pengaruhi oleh kerapatan lamun. Kelimpahan ikan Samandar dengan populasi yang meningkat menunjukkan bahwa ekosistem padang lamun di perairan Pulau Numfor Kampung Pakreki berfungsi sebagai tempat asuhan dan mencari makan bagi ikan Samandar. Upaya konservasi tradisional “Sasisyen” pada perairan Pulau Numfor Kampung Pakreki sangat bermanfaat untuk mendukung keberlanjutan fungsi ekosistem ini bagi sumberdaya ikan khususnya ikan samandar. Kata kunci: Sasisyen, Siganus spp, padang lamun. | KRISTHOPOLUS KOLOMBUS RUMBIAK, Master Program in Biology, College of Postgraduate Program, Jenderal Soedirman University, Correlation between Community of Samandar Fish (Siganus spp) and Seagrass Ecosystem in the "Sasisyen" A Traditional Conservationon Area in the Island of Numfor, Biak Numfor Regency. Supervisor: Romanus Edy Prabowo, S.Si., M.Sc., Ph.D., Co-supervisor: Dr. Agus Nuryanto, S.Si., M.Sc. Seagrass bed is a potential habitat for fish as a biological resources, a ground for breeding, spawning, feeding and sheltering. Fish species that always exist in abundace in the seagrass bed is Samandar fish (Siganus canaliculatus and Siganus lineatus). This study aims to examine the impact of the implementation of Sasisyen traditional conservation system by evaluating the relationship of Samandar fishes community and seagrass ecosystem in the Kampung Pakreki Numfor. The VES (Visual Ecounter Survey) method using line transect were implemented in this study. The study area divided into two observation areas; a sasisyen and a non sasisyem implemented areas. Three 100m long transect lines were employed in each area to observe both Samandar fish and seagrass, distance of each transect is 200m. A 50x50cm2 squared plot with 10cm grids were used to measure seagrass density. Six plots were spreaded along the transect line with 20 m intervals. Several environmental parameter data were measured including pH, DO, light intensity and surface current speed. The results of this study indicate that the seagrass diversity and density are highly support the abundance of Samandar fishes; Siganus canaliculatus and Siganus lineatus were found 341 and 338 individuals respectively. Seagrass diversity was found consist of 7 species and its density are presented as follow; Thalassia hemprichii 432 individuals/m2, Cymodocea rotundata 427 individuals/m2, Halodule uninervis 426 individuals/m2, Halodule ovalis 96 individuals/m2, Halodule pinivolia 252 individuals/m2, Enhalus acoroides 282 individuals/m2, and Syrigodium isoetifolium 226 individuals m2. Samandar fishes abundance were found higher in sasisyen traditional conservation area, it suggest seagrass ecosystems Pakreki Numfor village coasteal waters provide a natural undisturbed living place for Samandar fishes. Sasisyen as a traditional conservation efforts in Kampung Pakreki Numfor is very useful to support the sustainable traditional fishery. Key words: Sasisyen, Siganus spp, seagrass beds. | |
| 3070 | 12845 | P2BA13007 | Efek Paparan Timbal (Pb) Terhadap Fungsi Ginjal Pada Petugas Lapangan Dinas Perrhubungan Kota Purwokerto | Lead (Pb) exposure effect is an environmental issue of the public healthy problem. The field officers in the Department of Transportation in Purwokerto city are a group of people has been frequent duties activity with risk of Pb exposed. Renal as filtration organ is potentially disturbed by the toxic effects of Pb. This research use an observation analytical design, with cross-sectional approach. The aims of the present research are to know and evaluated how the Pb exposure effects on renal function to field officers in the Departement of Transportation in Purwokerto with some parameters which of them are serum creatinine, serum urea, and estimated glomerular filtration rate (eGFR). Participants involved in this research were taken using purporsive sampling techniques with 30 people the participants. The results show that average blood lead level to participants are 14.1±9.3 µg/dL (range 3.6 to 39.9 mg/dL). The average serum creatinine level participants are 1.22±0.08 mg/dL (range 1.07 to 1.48 mg/dL). The average serum urea level of participants are 20.83±7.9 mg/dL (range 12 to 56 mg/dL). The average eGFR value of participants are 71.4±8.7 mL/min/1.73m2 (range 51 to 89 mL/min/1,73m2). Lead exposure wasn’t significant to increase the serum kreatinin and serum urea level (P>0,05). Despite that, lead exposure effect in nomal nor high level, it is can be decrease the eGFR level to 30 field officers in The Departement of Transportation in Purwokerto (P<0,01). | Lead (Pb) exposure effect is an environmental issue of the public healthy problem. The field officers in the Department of Transportation in Purwokerto city are a group of people has been frequent duties activity with risk of Pb exposed. Renal as filtration organ is potentially disturbed by the toxic effects of Pb. This research use an observation analytical design, with cross-sectional approach. The aims of the present research are to know and evaluated how the Pb exposure effects on renal function to field officers in the Departement of Transportation in Purwokerto with some parameters which of them are serum creatinine, serum urea, and estimated glomerular filtration rate (eGFR). Participants involved in this research were taken using purporsive sampling techniques with 30 people the participants. The results show that average blood lead level to participants are 14.1±9.3 µg/dL (range 3.6 to 39.9 mg/dL). The average serum creatinine level participants are 1.22±0.08 mg/dL (range 1.07 to 1.48 mg/dL). The average serum urea level of participants are 20.83±7.9 mg/dL (range 12 to 56 mg/dL). The average eGFR value of participants are 71.4±8.7 mL/min/1.73m2 (range 51 to 89 mL/min/1,73m2). Lead exposure wasn’t significant to increase the serum kreatinin and serum urea level (P>0,05). Despite that, lead exposure effect in nomal nor high level, it is can be decrease the eGFR level to 30 field officers in The Departement of Transportation in Purwokerto (P<0,01). | |
| 3071 | 12316 | H1H011010 | PERTUMBUHAN BENIH IKAN BANDENG (Chanos-chanos Forskäl) YANG DIBERI PAKAN MIKROKAPSUL DENGAN BAHAN INKLUSI Spirulina platensis DAN BAHAN MATRIKS BERBEDA | Penggunaan Pakan mikrokapsul adalah suatu upaya dalam memenuhi ketersedian pakan dan kebutuhan nutrisi benih ikan bandeng. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup benih ikan Bandeng yang diberi pakan mikrokapsul dengan bahan inklusi Spirulina platensis. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode experimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 5 kali ulangan P1 : benih ikan bandeng yang diberi pakan mikrokapsul dengan bahan inklusi Spirulina platensis berdinding gelatin dan minyak ikan; P2 : benih ikan bandeng yang diberi pakan mikrokapsul dengan bahan inklusi Spirulina platensis berdinding telur ayam, gelatin, dan minyak ikan; kontrol : benih ikan bandeng yang diberi pakan komersial. Hasil penelitian menunjukan bahwa pertumbuhan ikan Bandeng semua perlakuan menunjukan tidak berbeda nyata (P>0,05). Pertumbuhan pada perlakuan P1, P2 dan kontrol secara berturut-turut untuk pertumbuhan mutlak ( 0,084 ±0,052 g; 0,105± 0,034 g dan 0,106±0,074g) dan laju pertumbuhan spesifik (2,078± 0,977 %; 2,872± 1,000 % dan 2,303± 1,557%). Tingkat kelangsungan hidup tertinggi yaitu pada perlakuan P2 sebesar 84,6 ± 8,443%. Kualitas air pemeliharaan terdiri beberapa parameter yaitu suhu, pH, oksigen terlarut, salinitas, total ammonia nitrogen, dan nitrit sesuai dengan standar baku budidaya untuk ikan bandeng. | Feed use of microcapsules is an attempt to meet the availability of food and nutritional needs of milkfish seed. The purpose of this study was to determine the growth and survival rate of fish seed milkfish fed microcapsules with inclusion materials Spirulina platensis. The method used in this study is the experimental method by using a completely randomized design (CRD) with 3 treatments and 5 replications P1: seed fish fed with material inclusions microcapsules Spirulina platensis walled gelatin and fish oil; P2: seed fish fed with material inclusions microcapsules Spirulina platensis walled chicken eggs, gelatin, and fish oil; Control: seed fish were fed commercial research. The results showed that the growth of fish milkfish all treatments showed no significant difference (P> 0.05). Growth in treatment P1, P2 and control respectively for absolute growth ( 0,084 ±0,052 g; 0,105± 0,034 g dan 0,106±0,074g) and specific growth rate (2,078± 0,977 %; 2,872± 1,000 % dan 2,303± 1,557%). The highest survival rate in treatment P2 of 84.6 ± 8.443%. Maintenance of water quality consists of several parameters such as temperature, pH, dissolved oxygen, salinity, total ammonia nitrogen, and nitrite in accordance with the basic standards for fish farming. | |
| 3072 | 12846 | P2BA12029 | Pertumbuhan dan Komposisi Tubuh Belut Sawah (Monopterus alba Zuiew) Setelah Tiga Bulan Diberi Pakan Alami dan Pakan Buatan Pellet | Karim Amrulloh, NIM P2BA12029, Program Studi S2 Biologi Universitas Jenderal Soedirman. Judul Tesis: PERTUMBUHAN, KOMPOSISI TUBUH DAN JENIS KELAMIN BELUT SAWAH (Monopterus albus Zuiew) YANG DIBERI PAKAN ALAMI DAN PAKAN BUATAN. Pembimbing: Dra. Hj. Yulia Sistina, M.Sc.Stud.Ph.D dan Ir. H. Purnama Sukardi, Ph.D. Penelitian ini bertujuan untuk menilai pertumbuhan, komposisi tubuh, kandungan gizi dan jenis kelamin belut sawah setelah perlakuan pemberian empat jenis pakan alami dan pakan buatan (pellet). Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret – Mei 2014 di Laboratorium Biologi SMA Karya Bakti Jatilawang. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan pola percobaan rancangan acak lengkap 5 perlakuan dengan 5 ulangan. Perlakuan yaitu pakan pellet (sebagai control), pakan alami keong mas, maggot, kecebong dan cacing tanah. Data kuantitatif berupa pertumbuhan panjang mutlak, pertumbuhan berat mutlak, laju pertumbuhan spesifik, sintasan dan komposisi tubuh belut dianalisis dengan Analisis of Variance (ANOVA) menggunakan software SPSS Versi 20. Jenis kelamin belut dievaluasi menggunakan metode Acetokarmin dan Paraffin dengan pewarnaan Haematoxylin-Eosin (HE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakan alami dan pakan buatan (pellet) tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap pertumbuhan panjang mutlak, tetapi berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap pertumbuhan berat mutlak, laju pertumbuhan spesifik (SGR), sintasan (SR) dan komposisi tubuh belut sawah perlakuan. Nilai pertambahan panjang mutlak berkisar antara 11,50 - 12 cm. Nilai pertambahan berat mutlak berkisar antara 93,94 - 142,48 gram. Perlakuan maggot dan kecebong lebih baik dari pada pellet (kontrol) dan cacing tanah jauh lebih baik daripada pellet, dan pellet lebih baik daripada keong mas dalam menghasilkan pertumbuhan berat mutlak belut sawah. Nilai SGR berkisar antara 0,69 - 0,93 %. Perlakuan cacing tanah lebih baik daripada pellet (kontrol), perlakuan maggot dan kecebong sama baiknya dengan pellet, sedangkan keong mas lebih buruk daripada pellet dalam menghasilkan laju pertumbuhan spesifik belut sawah. Nilai sintasan belut sawah berkisar antara 78,67 % - 100%. Perlakuan maggot, kecebong dan cacing tanah jauh lebih baik daripada pellet (kontrol), sedangkan kelompok perlakuan keong mas sama baiknya dengan kontrol (pellet) dalam menghasilkan sintasan belut sawah. Kandungan komposisi tubuh untuk kadar protein berkisar antara 59,53% - 67,08%. Perlakuan keong mas lebih baik daripada pellet, maggot, kecebong dan cacing tanah dalam menghasilkan protein kasar dalam komposisi tubuh belut sawah. Hasil pengamatan histologi membuktikan bahwa belut hasil perlakuan berukuran 20-30 cm berkelamin betina, dan belut alami berukuran kurang dari 20 cm, antara 20 – 30 cm, berkelamin betina dan juga yang berukuran >30cm, hasil dari ukuran 37-37,5 cm kelaminnya intersek dan ukuran panjang >40 cm jantan. Pertumbuhan berat mutlak dan SGR dari perlakuan cacing tanah merupakan perlakuan yang terbaik dalam menghasilkan pertumbuhan berat mutlak dan SGR. Hasil perlakuan maggot dan kecebong sebagai perlakuan terbaik dalam menghasilkan sintasan belut sawah. Perlakuan pakan buatan dan alami juga berpengaruh sangat nyata (P<0.01) menghasilkan komposisi protein kasar, lemak kasar, dan BETN tubuh belut sawah perlakuan. Perlakuan pemberian pakan buatan dan alami juga tidak mempengaruhi proses perubahan struktur organ reproduksi utama belut sawah yang bersifat hermaprodit. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah (1) pemberian pakan alami dan pakan buatan (pellet) menentukan pertumbuhan berat mutlak, laju pertmbuhan spesifik (SGR), dan kelangsungan hidup (SR) belut sawah perlakuan; (2) Pemberian pakan alami atau pakan buatan selama 3 bulan, menghasilkan kandungan gizi daging belut yang baik; dan (3) Hasil pengamatan histologi belut perlakuan membuktikan bahwa belut berukuran 20-30 cm berkelamin betina. Penelitian ini penting diteruskan dengan penambahan parameter kadar hormon, dan kadar lemak tubuh untuk melengkapi data memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif terhadap pertumbuhan dan kelamin belut sawah perlakuan pakan. | Effort to culture rice field eel is urgently needed since people now cathed them from nature. Food is one important part of fish culture. Five different kind of food, four natural food : worm, maggot, snail, tadpole, and artificial pellet were fed for three months period of rice farm eel (Monopterus albus Zuiew) culture. This study report on how natural food of snail, maggot, tadpole, or worm as compared to artificial one (pellet FF-999) fed for three months in size and meat composition of rice field eel culture. Result shown that growth of rice field eel was highly significant (P<0.01) different among treatments. Natural food of worm was highly significant (P<0.01) than pellet, natural food of snail, tadpole and/or maggot were significantly (P<0.05) better for eel growth than pellet food. Furthermore, the growth was positive allomatric growth, which proven also that culture condition was good. Value of specific growth rate (SGR) was also highly significant (P<0.01) different among treatments. Worm was the highest SGR value (averages 0.01 g/day or 0.9 g/3months) which was highly significant (P<0.01) to snail group and significantly (P<0.05) than pellet group. Survival of the treated ricefield eel was also higly sigificant (P<0.01) much better with natural food of worm, tadpole or maggot than pellet or snail. Results of eel meat composition shown that snail treated group highly significant has the highest protein (67%) contents; pellet group highly significant resulted in the highest (6,75%) crude fat contents was from pellet; and all treatments resulted in similar crude fiber contents. In conclusion, natural food gave better growth and protein content of eel meat compared to pellet food. Overal study proven that natural food were better than pellet for growth and eel survival and that eel size did not correlate with its sex. | |
| 3073 | 12847 | P2BA12023 | Karakteristik Habitat dalam Kaitannya dengan Struktur Komunitas Kepiting Bakau Scylla spp. di Kawasan Hutan Mangrove Kabupaten Manokwari | Kawasan hutan mangrove Desa Andai yang terletak di Distrik Manokwari Selatan dalam perkembangannya beberapa tahun terakhir telah mengalami penurunan kualitas lingkungan. Hal ini terjadi karena aktivitas pembangunan di kawasan tersebut yang tidak ramah lingkungan. Kondisi ini mengakibatkan karakteristik habitat di wilayah tersebut menjadi bervariasi. Perbedaan karakteristik habitat secara langsung mempengaruhi kekayaan, kelimpahan, dan pola distribusi biota seperti kepiting bakau (Scylla spp.) yang hidup di wilayah tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik habitat, mengetahui struktur komunitas kepiting bakau, serta menganalisis hubungan antara karakteristik habitat dan struktur komunitas kepiting bakau. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Lokasi dibagi menjadi tiga stasiun dengan jumlah plot masing-masing stasiun sebanyak 5 plot. Pengambilan data kerapatan pohon, anakan, dan semai dilakukan dalam plot 10 x 10 m2, 5 x 5 m2, dan 1 x 1 m2; pengambilan data kualitas air dan substrat dilakukan bersamaan dengan pengambilan sampel kepiting bakau pada plot ukuran 10 x 10 m2. Hasil penelitian menunjukan bahwa karakteristik habitat kawasan hutan mangrove Desa Andai Manokwari relatif sama antara stasiun I dan II, tetapi berbeda pada stasiun III. Kerapatan tumbuhan mangrove kategori anakan dan semai serta kualitas air dan substratnya pada stasiun I relatif lebih baik dalam mendukung kelangsungan hidup kepiting bakau dibandingkan dengan stasiun II, dan sebaliknya pada stasiun III. Kelimpahan kepiting bakau lebih tinggi di stasiun I dibandingkan stasiun II, sedangkan pada stasiun III tidak ditemukan kepiting bakau. Secara umum, kerapatan tumbuhan mangrove kategori anakan dan semai serta kualitas air dan substratnya memiliki korelasi dengan kelimpahan kepiting bakau. | Mangrove forest village in South Manokwari District has encountered decreasing environmental quality in its development in the last few years. This is as a result of construction activity which is environmentally unfriendly. This condition develops habitat characteristic variety in the region. This variety has affected directly on the richness, abundance, and distribution patterns of biota such as mangrove crabs. The aims of this study is to discover habitat characteristics such as density of mangrove habitat, water quality and substrate as well as its texture: to stipulate community structure of mangrove crabs, and to analyze the relationship between habitat characteristics with community structure of mangrove crabs. The used method in this study is a survey method with purposive sampling technique. The site is divided into three stations with 5 plots of each station. Trees density, sapling, and seedling data done in plats 10x10m2, 5x5m2, and 1x1 m2: whereas data of water quality and substrate coincides with the sampling of mangrove crab on plat size 10x10 m2. The results show that habitat characteristics of mangrove forest in Andai village of Manokwari is relatively similar between station I and II, only station III is different. The density of mangrove saplings and seedlings as well as the categories of water quality and its substrate at the station I was relatively better in supporting the survival of mangrove crab compared to the second station, and vice versa at the third station. Mangrove crab abundance is higher in station I than II station, while the third station is not found mud crab. In general, the density of mangrove saplings and seedlings as well as the categories of water quality and its substrate has a correlation with the abundance of mangrove crabs. | |
| 3074 | 12848 | A1H011020 | RANCANG BANGUN PROTOTIPE MESIN TANAM BIJI KACANG HIJAU TIPE TUGAL DENGAN MEKANISME ENGKOL PELUNCUR | Kacang hijau (Vigna radiata L.) merupakan tanaman kacang-kacangan yang memiliki kelebihan tahan terhadap kekeringan, dan dapat dipanen pada umur 55-60 hari. Namun, budidaya komoditas ini, khususnya pada kegiatan penanaman, belum didukung oleh upaya mekanisasi yang memadai, sehingga pengerjaannya masih memerlukan waktu lama dan biaya cukup mahal. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengembangkan desain mesin penanam biji-bijian dengan modifikasi bagian pelubang dan penabur biji, 2) Membuat prototipe mesin tanam kacang hijau dengan mekanisme engkol peluncur untuk optimalisasi kapasitas penanaman, serta 3) Menguji kapasitas kerja prototipe mesin tersebut dibandingkan dengan sistem penanaman konvensional. Penelitian ini dilaksanakan dalam beberapa tahapan yaitu: tahap perancangan, manufaktur, pengujian dan evaluasi hasil pengujian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain dan prototipe mesin tanam biji tipe tugal dengan mekanisme engkol peluncur yang berhasil dikembangkan memiliki dimensi 142 cm x 70 cm x 95 cm (panjang x lebar x tinggi total) dengan jarak antar poros roda 82 cm, dan terdiri atas 2 unit pelubang dan penabur biji. Uji fungsional mesin dengan 2 level throttle menghasilkan kecepatan maju teoritis tertinggi sebesar 19,65 cm/s pada putaran 3340,02 rpm (level 2). Jarak tanam teoritis adalah 28 cm x 15,67 cm (jarak antar baris x jarak dalam baris) dengan kapasitas keluaran biji pada kecepatan penabur 849,66 mm/s sebesar 8 butir/lubang (biji kering) dan 2 butir/lubang (biji basah). Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa prototipe mesin yang dikembangkan (0,0198 ha/jam) memiliki kapasitas kerja teoritis 2,5 kali lebih tinggi dibanding penananaman konvensional dengan alat tanam tugal (0,0078 ha/jam). | Mung bean (Vigna radita L.) is a nuts plant that has durability to dryness and can be harvested at 55 – 60 days after sowing. However, cultivating the commodity, especially sowing activity hasn’t supported by suitable mechanization effort yet. So that the process is still require a long time and the cost is quite expensive. This research was aimed: 1) To develop a design of seeder with the modification of seed-opening/pit and -sower unit, 2) To construct the prototype of mung bean seeder with crank slider mechanism for optimizing sowing capacity, 3) To examine the performace capacity of the designed seeder prototype with crank slider mechanism compared to the conventional sowing system. This research was conducted in several stages: designing, manufacturing, testing and evaluating test results. The result showed that the developed design and prototype of the dibble-type seeder with crank slider mechanism had dimension 142 cm x 70 cm x 95 cm (total lenght x width x heigh) with wheel axis distance of 82 cm, and consisted of 2 seed-opening/pit and -sower unit. The functional performance test with 2 throttle levels obtained the maximum theoritical-onward velocity was 19.65 cm/s at rotation of 3340.02 rpm (level 2). Theoritical planting distance is 28 cm x 15.67 cm (row space x seed-points distance within the row) with seed-output capacity at sowing-speed of 849.66 mm/s was 8 grain/hole (dry seed) and and 2 grain/hole (original/wet seed). According to the above data, it could be concluded that the developed seeder prototype (0.0198 ha/hour) had theoretical performance capacity 2.5 times higher than the conventional dibble-sowing system (0.0078 ha/hour). | |
| 3075 | 12849 | P2DA14005 | NILAI KECERNAAN PAKAN DAN TOTAL PADATAN SUSU KAMBING YANG PAKANNYA DISUPLEMENTASI TEPUNG KULIT BAWANG PUTIH DAN MINERAL ORGANIK | Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh suplementasi tepung kulit bawang putih dan mineral organik dalam pakan kambing perah terhadap kecernaan pakan meliputi kecernaan serat kasar, acid detergent fiber (ADF), neutral detergent fiber (NDF) dan energi, total padatan serta efisiensi energi susu kambing. Penelitian ini menggunakan 15 ekor induk bunting kambing Jawarandu, masa laktasi ke - 2 dengan bobot badan 37,70 ± 5,38 kg yang diberi pakan dengan imbangan bahan kering (BK) hijauan dan konsentrat yaitu 70% : 30%. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan yaitu R0, R1 dan R2 yang diulang sebanyak lima kali. Perlakuan R0 adalah pakan basal yang tersusun atas dedak, onggok, pollard, bungkil kelapa, garam, kapur dan mineral dengan nutrien (PK 11,8%, SK 25,20% dan TDN 56,60%), R1 yaitu R0 + 30 ppm tepung kulit bawang putih, R2 : R1 + 41,8 ppm mineral organik (Chromium, Selenium dan Zink Lysinat). Data dianalisis menggunakan analisis variansi, apabila terdapat perbedaan diuji dengan uji beda nyata jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan memberikan pengaruh yang tidak nyata (P>0,05) terhadap kecernaan dari serat kasar, NDF, ADF dan energi, total padatan serta efisiensi energi susu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa suplementasi tepung kulit bawang putih dan mineral organik (Chromium, Selenium dan Zink Lysinat) pada pakan kambing perah belum direkomendasikan untuk digunakan. | The aim of this study was to examine the effects of supplementation with garlic husk powder and organic minerals in dairy goat feed on digestibilities of feed such as crude fiber, acid detergent fiber (NDF), acid detergent fiber (ADF) and energy, total solid and energy efficiency in goat’s milk. The materials of the research were 15 pregnant Jawarandu goats of second lactation, body weight between 37.70 ± 5.38 kg with the diet of dry matter ration were forage and concentrate 70% : 30%. The research method was experiment by in-vivo using Completely Randomized Design (CRD) with three treatments are R0, R1 and R2 each of which was repeated five times. The R0 treatment was basal diet consisted of (bran, cassava, pollard, coconut flour, salt, lime and minerals) with 11.8% CP, 25.20% CF and 56.60% TDN, R1: R0 + 30 ppm garlic husk powder, R2: R1 + 41.8 ppm organic minerals (Chromium, Selenium and Zink Lysinat). The data were analyzed using analysis of variance, if there were differences, it was tested with honestly significance difference (HSD). The results showed that supplementation of garlic husk powder did not affect (P> 0.05) on digestibility of crude fiber, NDF, ADF and energy, total solids and energy efficiency of milk. The study concluded that supplementation of garlic husk powder and organic minerals (Chromium, Selenium and Zink-Lysinat) to dairy goats is not recommended for use. | |
| 3076 | 12850 | F1B010100 | EVALUASI DAMPAK PROGRAM PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS PERDESAAN TERHADAP KESEJAHTERAAN MASYARAKAT DI DESA BABAKAN KECAMATAN KARANGLEWAS KABUPATEN BANYUMAS | Penelitian ini berjudul Evaluasi Dampak Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan terhadap Kesejahteraan Masyarakat di Desa Babakan Kecamatan Karanglewas Kabupaten Banyumas. Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan dilatarbelakangi oleh adanya upaya pemerintah dalam menanggulangi kemiskinan di perdesaan yang berbasis pertanian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi dampak program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat di Desa Babakan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode evaluasi comparative after only. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik proporsionate stratified random sampling untuk kelompok sasaran sejumlah 55 orang dan kelompok kontrol sejumlah 62 orang. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner, observasi, dokumentasi, dan wawancara. Metode analisis data menggunakan analisis distribusi frekuensi, Kendall Tau, Regresi Ordinal dan Uji Mann Whitney U-Test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa program pengembangan usaha agribisnis perdesaan yang dilaksanakan di Desa Babakan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara signifikan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa program pengembangan usaha agribinis perdesaan berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat di Desa Babakan. | This study titled Impact Evaluation of Rural Agribusiness Development Program in Babakan Village of Karanglewas district Banyumas Regency. Rural Agribusiness Development Program motivated by the government's efforts in tackling poverty in rural-based agriculture. The purpose of this study was to evaluate the impact of the Rural Agribusiness Development program through the development of agribusiness to increase the public welfare in the village Babakan. In this research approach used is a quantitative approach to the comparative evaluation method after only. The sampling technique using proporsionate stratified random sampling for the target group number of 55 people and a control group of 62 people. Methods of data collection using questionnaires, observation, documentation, and interviews. Methods of data analysis using frequency distribution analysis, Kendall Tau, Ordinal Regression and Mann Whitney U-Test. The results of this study indicate that agribusiness development programs implemented through the Rural Agribusiness Development Program through Babakan Village community is able to significantly increase the welfare of the community. It is expected that the program can be run more effectively, community need to be encouraged to conduct empowerment in order to improve the welfare of his life. | |
| 3077 | 12851 | F1B010032 | Tingkat Pencapaian Millenium Development Goals (MDGs) Bidang Kesehatan di Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara | Pembangunan kesehatan merupakan salah satu kunci keberhasilan pembangunan nasional. Pentingnya kontribusi pembangunan kesehatan dalam pembangunan nasional terbukti dari besarnya porsi bidang kesehatan dalam Millenium Development Goals (MDGs). MDGs merupakan target kuantitatif pembangunan global sampai dengan tahun 2015. Meskipun perhatian yang diberikan pemerintah terhadap pembangunan kesehatan cukup besar, masalah kesehatan yang ada di Indonesia khususnya Kabupaten Banjarnegara tergolong masih tinggi. Banjarnegara termasuk dalam salah satu kabupaten dengan angka kematian bayi dan balita tertinggi se Jawa Tengah. Mandiraja merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Banjarnegara dengan permasalahan kesehatan yang cukup banyak. Berbagai permasalahan kesehatan yang ada berkaitan dengan pencapaian target MDGs bidang kesehatan, yang sampai saat ini beberapa target tersebut belum bisa tercapai. Tujuan penelitian adalah untuk mengukur dan mengetahui tingkat pencapaian MDGs bidang kesehatan di Kecamatan Mandiraja. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan metode survey. Teknik pengambilan sampel menggunakan Multi Stage Random Sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pencapaian MDGs bidang kesehatan di Kecamatan Mandiraja berada pada kategori cukup. Masyarakat yang menerima pelayanan kesehatan merespon cukup baik, akan tetapi belum semuanya sempurna karena masih ada beberapa indikator yang tidak terespon baik atau masih belum terlaksana dengan baik. Pengetahuan, informasi, kepedulian dan partisipasi masyarakat dalam menjaga kesehatan masih rendah. | Health development is one of the key of national development achievement. Healthy community will able to support a program to be successful and push productivity. The importance of health development contribution in national development is proven by its portion in health section of Millenium Development Goals (MDGs). MDGs is a quantitative global development target up to 2015. Eventhough the attention which government give to health development sector is quite high, but the health problems in Indonesia especially in Banjarnegara Regency also still high. Banjarnegara is also included in one of highest infant and toddler mortality rates in Central Java Province. Lots of health problems occurs in Mandiraja District which made it as one of the highest health problems in Banjarnegara Regency. Various health problems occured in Mandiraja District are related to health MDGs target achievement, which until now some of targets are yet to achieved. The purposes of this research are to measure and determine the level of achievement of health section of MDGs in Mandiraja District. This research is a descriptive quantitative survey method. Sampling technique use Multi Stage Random Sampling. The results showed that the level of achievement of health section of Millennium Development Goals (MDGs) in Mandiraja District of Banjarnegara Regency is in medium category. Community who received health services responds quite well,but not everything is perfect because there are some indicators which responds are not good or still has not done well. Knowledge, information, awareness, and community participation in maintaining health is still low. | |
| 3078 | 12614 | F1C008043 | Pergeseran Makna Kesenian Tari Daeng Kanding Sebagai Media Komunikasi Tradisional Di Desa Kanding Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas | Penelitian ini berjudul “Pergeseran Makna Kesenian Tari Daeng Kanding Sebagai Media Komunikasi Tradisional Di Desa Kanding Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas”. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana pergeseran makna yang terjadi pada kesenian tari Daeng Kanding, sedangkan tujuannya untuk menganalisis seperti apa pergeseran makna yang terjadi dalam kesenian tari Daeng Kanding serta untuk mengetahui upaya apa yang dilakukan para pelaku kesenian tari Daeng Kanding dalam mempertahankan kelestarian kesenian tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan interaksionisme simbolik. Dalam menetapkan informan, peneliti menggunakan teknik purposive sampling. Peneliti membagi informan menjadi empat bagian berdasarkan kedudukan: ketua sekaligus pelaku kesenian tari Daeng Kanding, pelaku kesenian tari Daeng Kanding, masyarakat Desa Kanding dan tokoh masyarakat Desa Kanding. Analisis interaktif digunakan peneliti untuk menganalisis data, sedangkan untuk menguji keabsahan data digunakan teknik triangulasi sumber. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada pergeseran makna yang terjadi di dalam pementasan kesenian tari Daeng Kanding. Saat ini kesenian tari Daeng Kanding lebih dimaknai sebagai kesenian tradisional yang mengedepankan sisi hiburan dan mulai meninggalkan nafas religinya. Tidak ada upaya berarti yang dilakukan para pelaku kesenian tari Daeng Kanding saat ini untuk melestarikan kesenian tari Daeng Kanding. Sistem regenerasi kurang maksimal dari sisi perekrutan dan kontinyuitasnya. Modifikasi yang dilakukan selama ini justru menyebabkan kesenian tari Daeng Kanding makin bergeser dari esensi awalnya. | This study, entitled “Shifting Meaning of Dance Art Daeng Kanding for Traditional Media Communication In the Village Kanding Somagede District of Banyumas”. The formulation of this research is how the shift in meaning that occurs in the art of dance Daeng Kanding, whereas the aim to analyze what happens in a shift in the meaning of art dance Daeng Kanding and also to know what efforts the actors dance art Daeng Kanding in maintaining the sustainability of the arts. This study used qualitative methods to approach symbolic interactionism. In setting the informant, the reseacher used purposive sampling technique. Researchers divided the informants into four sections based on positions: chairman and dance arts Daeng Kanding actors, actor dance art Daeng Kanding, villagers of Kanding and community leaders Kanding village. Interactive analysis used by researchers to analyze the data, while the data used to test the validity of the source triangulation techniques. The results showed that there was a shift in meaning that occurs in the dance arts performances Daeng Kanding. Currently dance art Daeng Kanding is sensed as a traditional art which emphasizes on entertainment and began to leave the breath of religion. There’s no significant efforts undertaken actors dance art Daeng kanding today to preserve the art of dance Daeng Kanding. Less than the maximum regeneration system in terms of recruitment and continuity. Modifications made during this causes dance art Daeng Kanding increasingly shifted from the essence of the beginning. | |
| 3079 | 12852 | H1B011023 | MODEL DINAMIK DISKRIT PRODUKSI SEL DARAH MERAH | Model produksi sel darah merah yang telah diperkenalkan oleh Keshet digambarkan sebagai suatu sistem dinamik diskrit berupa sistem persamaan beda linier homogen. Penelitian ini bertujuan memodifikasi model tersebut dengan menambahkan parameter baru yang menunjukkan persentase jumlah sel darah merah yang mengalami kematian di sumsum tulang dan mengkaji perilaku model saat kondisi normal dan abnormal. Daya produksi sel darah merah kurang dari satu menunjukkan kondisi anemia. Daya produksi sel darah merah lebih dari satu menunjukkan kondisi polisitemia. Daya produksi sel darah merah sama dengan satu menunjukkan kondisi normal dan abnormal bergantung pada persentase jumlah sel darah merah yang dihancurkan oleh limpa dan persentase jumlah sel darah merah yang mengalami kematian di sumsum tulang. Apabila persentase sel darah merah yang dihancurkan oleh limpa berada di atas batas normal, maka terjadi anemia dan apabila persentase sel darah merah yang dihancurkan oleh limpa di bawah batas normal, maka terjadi polisitemia. Terapi pada penderita anemia berat adalah transfusi. Semakin besar daya produksi sel darah merah menunjukkan semakin banyak jumlah sel darah merah yang ditransfusi tetapi semakin pendek batas waktu transfusinya. Sementara itu, terapi pada penderita polisitemia adalah flebotomi. Semakin kecil daya produksi sel darah merah menunjukkan semakin banyak jumlah sel darah merah yang dibuang dari tubuh tetapi semakin pendek batas waktu proses flebotomi. | The production model of red blood cells that have been introduced by Keshet is described as a discrete dynamical system in homogeneous system of linear difference equations. This research is aimed to modify the model by adding a new parameter that shows the percentage of red blood cells which dead in the bone marrow and to examine the behavior of the current models of normal and abnormal conditions. The red blood cells production capability which is less than one shows the condition of anemia. The red blood cells production capability which is more than one show polycythemia conditions. The red blood cells production capability which equal to one show either normal or abnormal conditions depend on the percentage of red blood cells destroyed by the spleen and the percentage of red blood cells dead in the bone marrow. If the percentage of red blood cells destroyed by the spleen were above normal limits, then it is anemia but when the percentage of red blood cells destroyed by the spleen below normal limits, then it is polycythemia. Therapy for patients with severe anemia is transfusion. The greater red blood cells production capability, the greater number of red blood cells transfused, but the shorter time limitation of its transfusion. Meanwhile, the therapy for patients with polycythemia is phlebotomy. The smaller red blood cells production capability, the smaller number of red blood cells removed from the body, but the shorter time limitation for phlebotomy process. | |
| 3080 | 12853 | F1B011071 | Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Implementasi Perda Nomor 4 Tahun 2011 tentang Penataan dan Pemberdayaan PKL di Banyumas (Studi Jalan HR Bunyamin Purwokerto Utara) | Penelitian ini mengambil tema tentang implementasi kebijakan khususnya pada implementasi Perda Nomor 4 Tahun 2011 Kabupaten Banyumas tentang Penataan dan pemberdayaan PKL. Keberadaan PKL dirasakan sebagai masalah publik ketika PKL mengambil ruang-ruang milik publik. Penelitian ini berlangsung di sepanjang Jalan HR. Bunyamin Purwokerto. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara faktor komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi terhadap implementasi Perda Nomor 4 Tahun 2011 Kabupaten Banyumas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kuantitatif asosiatif dengan menggunakan metode survey. Teknik analisis yang digunakan yaitu korelasi Product Moment dan Regresi Sederhana. Berdasarkan hasil analisis menunjukan bahwa setelah dikontrol antara responden implementor dan responden kelompok sasaran hasilnya Model Edward III hanya berlaku jika diuji pada responden implementor, karena keempat variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen. Namun, ketika diuji bersama ke seluruh jenis responden, hasilnya model tersebut tidak berlaku karena ada tiga variabel yang tidak berpengaruh dan hanya variabel sumber daya yang memiliki pengaruh. | This research themed about implementing policy especially in regional regulation number 4 year 2011 the district of Banyumas about street vendors structuring and empowerment. The existence of street vendors as a public issue when street vendors take the spaces property of public. This research took place at the HR. Bunyamin Street Subdistrict of Purwokerto. The purpose of this research is to know the effect between communication, resources, disposition, and bureaucratic structure concerning the implementation policy of regional regulation number 4 year 2011 in Banyumas District. Technique of analysis that was used namely correlation product moment and doubled regression. Based on the results of the analysis showed after controlled between implementor respondents and target group respondents, the result is Edward III Models only apply if tested among implementor respondents, because the four independent variables are influence on the dependent variable. But, if tested jointly to all kinds of respondents, the result is that model does not apply because there were three variables does not affect and only the resources variable that have influence. |