Artikelilmiahs
Menampilkan 3.141-3.160 dari 48.733 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 3141 | 12943 | H1D011028 | STUDI SIRKULASI POLA ARUS LAUT DAN SEBARAN SEDIMEN DI PERAIRAN SEGARA ANAKAN KABUPATEN CILACAP | Segara Anakan merupakan wilayah yang unik karena merupakan peralihan (zona transisi) antara lingkungan sungai dengan lingkungan laut. Arus berpengaruh terhadap pergerakan sedimen yang diketahui sebagai akibat terjadinya sedimentasi. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai kondisi arus dan sedimentasi di Segara Anakan serta mengetahui pola sebaran sedimen dasar di wilayah tersebut. Metode yang digunakan untuk analisis hasil penelitian adalah metode deskriptif, sedangkan untuk penentuan titik koordinat lokasi penelitian dengan menggunakan metode sampling purposive. Sedimen grab digunakan untuk pengambilan sampel sedimen dasar. Analisis pola hidrodinamika (arus) digunakan pemodelan dengan perangkat lunak SMS 10.0 (Surface Water Modelling System) dengan menggunakan modul RMA2. Sedangkan analisis sedimen dasar menggunakan Sieve Analysis. Berdasarkan hasil model arus didapat kecepatan arus total tertinggi 0.907 m/d. Distribusi ukuran butir sedimen yang diendapkan tersusun atas jenis sedimen pasir, pasir lanauan, dan lanau pasiran. Sebaran sedimen didominasi oleh jenis sedimen pasir yang tersebar di 13 stasiun dari 21 stasiun, dengan banyaknya jenis sedimen pasir di wilayah Segara Anakan menunjukan bahwa pengaruh arus pasang surut di daerah tersebut sangat kuat. Hubungan antara pola arus dan ukuran butir sedimen pasir terjadi saat menguatnya arus, sedangkan sedimen lanau terjadi saat melemahnya arus. | Segara Anakan is a unique area because it is a transition (transition zone) between the river environment to the marine environment. Flow affect the movement of sediment known as a result of sedimentation. This study was conducted to obtain information on the current condition and sedimentation in Segara Anakan also determine the distribution pattern of sediments in the this area. The method used for the analysis of the results are descriptive method, while for determining the coordinates of the location study using purposive sampling method. Sediment grab used for sampling sediment. Analysis of patterns of hydrodynamics (current) used modeling software with SMS 10.0 (Surface Water Modelling System) using RMA2 module. While the analysis of bed load sediments using Sieve Analysis. Based on the results of the current model obtained the highest total flow speed of 0.907 m/d. Grain size distribution of sediments deposited on the type of sediment composed of sand, silty sand and sandy silt. Distribution of sediment dominated by sand sediment spread across 13 stations of the 21 stations, with many types of sedimentary sand in the area Segara Anakan show that the effect of tidal currents in the this area are very strong. The relationship between flow patterns and sediment grain size of the sand occurs when the strength of the current, while the sediment silt occurs when the weakening current. | |
| 3142 | 12918 | H1D011024 | PERKUATAN TANAH MENGGUNAKAN ANYAMAN KARET BAN BEKAS PENGGANTI GEOGRID DENGAN VARIASI KEDALAMAN PADA TANAH LUNAK DAERAH GUNUNG TUGEL, PURWOKERTO | Penggunaan anyaman karet ban bekas sebagai bahan alternatif pengganti geogrid. Melihat banyaknya ban bekas di Indonesia menjadi salah satu potensi untuk dimanfaatkan secara lebih. Pengujian dilakukan di dalam laboratorium menggunakan pemodelan, diantarannya adalah anyaman karet ban bekas itu sendiri dan kotak pengujian. Kotak pengujian memiliki dimensi 20 cm x 20 cm x 20 cm. Namun, untuk ketinggian tanah pada saat pengujian adalah 17.5 cm. Sedangkan anyaman karet ban bekas memiliki ketebalan 2mm, panjang helai anyaman 20 cm, dan jarak antar helai anyaman 3 cm. Anyaman karet ban bekas diletakan kedalam kotak pengujian kemudian ditimbun tanah. Variasi kedalaman anyaman yaitu 2.5 cm, 5 cm, 7.5 cm, 10 cm, dan 12.5 cm dari permukaan tanah. Pengujian yang dilakukan antara lain pengujian karakteristik tanah atau propertis tanah, kuat tarik karet, standart proctor, dan California Bearing Ratio (CBR). Hasil dari pengujian didapat nilai CBR untuk sampel tanpa menggunakan anyaman karet ban bekas adalah 9.32%. Sedangkan sampel dengan menggunakan anyaman karet ban bekas nilai terkecil 14.95% dan nilai terbesar adalah 22.46%. Terjadi peningkatan daya dukung tanah atau nilai CBR saat menggunakan anyaman karet ban bekas. Kedalaman yang menghasilkan nilai CBR maksimum adalah pada kedalaman 7.5 cm dari permukaan tanah. | Recycle tire whiz purpose as material as geogrid's supplementary alternative. See a lot of ex tire at Indonesian as one of potency for exploited on a more. Examination is done in laboratory utilizes modelling, at its deliverance is recycle tire whiz that alone and examination box. Examination box have dimension 20 cm x 20 cm x 20 cm. But, to a high earth upon examination is 17.5 cm. Meanwhile recycle tire whiz have 2mm's thickness, long helai whiz 20 cm, and distance among helai whiz 3 cm. Recycle tire whiz diletakan into examination box then piled by earth. Whiz depth variation which is 2.5 cm, 5 cm, 7. 5 cm, 10 cm, and 12.5 cm of surface soils. Examination that is done for example soiled characteristic examination or propertis is earth, heavy duty rubber spectacular, standart proctor, and California Bearing Ratio (CBR). Result of examination was gotten to assess CBR to sample without utilize recycle tire whiz is 9.32%. Meanwhile sample by use of appreciative recycle tire whiz most little 14.95% and appreciative greatest are 22.46%. Increasing happening energis CBR'S earth or point advocate while utilize recycle tire whiz.. Depth that results to assess CBR maximum is on depth 7.5 cm of surface soils. | |
| 3143 | 12919 | A1C011048 | KONTRIBUSI PENDAPATAN USAHATANI BAYAM DI GABUNGAN KELOMPOK PETANI KECIL “TRI USAHA” KELURAHAN MERTASINGA KECAMATAN CILACAP UTARA KABUPATEN CILACAP | Pemanfaatan lahan pekarangan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pangan, menghemat pengeluaran, dan menambah pendapatan keluarga, karena kebutuhan pangan dan harga bahan pangan terus meningkat, sementara kebutuhan pangan harus dipenuhi secara berkelanjutan. Hal ini mendorong terbentuknya Gabungan Kelompok Petani Kecil (KPK) “Tri Usaha”. Kelompok ini mengusahakan beberapa tanaman sayuran, salah satunya bayam. Tujuan penelitian adalah mengetahui profil Gabungan KPK Tri Usaha, menganalisis secara finansial usahatani bayam dengan memanfaatkan lahan pekarangan dan mengetahui besarnya kontribusi pendapatan usahatani bayam terhadap pendapatan rumah tangga. Penelitian dilaksanakan di Gabungan KPK “Tri Usaha” Kelurahan Mertasinga Kecamatan Cilacap Utara Kabupaten Cilacap. Pengambilan data dilakukan pada tanggal 1 sampai 28 Februari 2015 dengan wawancara dan observasi. Metode penelitian berupa studi kasus. Wanita tani yang menjadi responden sebanyak 13 orang, ditentukan secara sensus. Metode analisis data berupa analisis biaya, penerimaan, pendapatan, R/C, dan kontribusi pendapatan usahatani bayam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gabungan KPK Tri Usaha terdiri dari 3 KPK dengan 62 anggota, jumlah tanaman sayuran ada 10 jenis, salah satunya bayam, wanita tani rata-rata berumur produktif 84,62 persen, pendidikan SD 38,46 persen, jumlah anggota keluarga 2 hingga 4 orang dan rata-rata luas lahan pekarangan sempit antara 1 hingga 7 m2. Biaya usahatani bayam selama 3 bulan per luas lahan 12,35 m2 Rp238.278,38, penerimaan Rp292.802,31, pendapatan Rp54.523,93 dan R/C 1,39 mengartikan usahatani menguntungkan. Besarnya kontribusi pendapatan usahatani bayam terhadap pendapatan rumah tangga adalah 5,81 persen, memberikan kontribusi kecil terhadap pendapatan rumah tangga dan bukan mata pencaharian utama. | Utilization of yard area aims to meet the needs of food, save money, and increase family income, since food needs continue to increase along with rising food prices, while food needs must be met continuously. It encourages the formation of the Gabungan Kelompok Petani Kecil (KPK) "Tri Usaha". This group cultivate some vegetables, one of which is spinach. The research objective was to determine the profile of Gabungan KPK "Tri Usaha", analyzed financially by utilizing the spinach farm yard area and determine the contribution of spinach farming income on household income members. Research was conducted at Gabungan KPK "Tri Usaha" Sub-District Mertasinga, District Cilacap Utara, Cilacap Regency on February 1 until 28, 2015, through interviews and observation. The research method is a case study. Number of women farmers who were respondents 13 people and determined by the census. Data analysis method used analysis of costs, revenues, income, R/C, and a spinach farm’s income contributes. The results showed that the Gabungan KPK "Tri Usaha" consists of 3 KPK with 62 members, the number of cultivated vegetables there are 10 species, one of which spinach, average of women farmer are old peasant 84.62 percent, primary school education 38.46 percent, the number of family members are 2 until 4 and average land area of 1 to 7 m2 yard. Spinach farming costs for 3 month per land area of 12.35 m2 equal to Rp238.278,38, revenue equal to Rp292.802,31, income equal to Rp54.523,93 and R/C of 1.39 means that spinach farming profitable. The amount of revenue contribution to the spinach farm household income is 5.81 percent, contributing little to the household income, and not the main job. | |
| 3144 | 12921 | A1C011039 | PREFERENSI KONSUMEN TERHADAP PRODUK TEH CELUP (Studi Kasus di Perumahan Teluk, Kecamatan Purwokerto Selatan) | Rata–rata pertumbuhan konsumsi teh celup tahun 2005 – 2012 meningkat sebesar 20,3%. Hal ini menyebabkan produsen teh celup bersaing untuk memenuhi keinginan konsumen. Produsen teh celup dalam menetapkan strategi pemasaran harus memahami kesukaan atau preferensi konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian teh celup. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui karakteristik umum konsumen teh celup; (2) mengindentifikasi peringkat kepentingan atribut teh celup berdasarkan atribut yang menjadi pertimbangan dalam mengonsumsi teh celup dan (3) mengetahui atribut yang menjadi preferensi konsumen terhadap produk teh celup. Penelitian dilaksanakan di Perumahan Teluk, Kecamatan Purwokerto Selatan pada Februari hingga Maret 2015. Metode pengambilan sampel menggunakan simple random sampling dan diperoleh 90 responden.Variabel yang diamati adalah karakteristik konsumen dan atribut teh celup. Analisis yang digunakan adalah Cochran Q Test dan analisis konjoin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik umum konsumen teh celup di Perumahan Teluk adalah jenis kelamin responden 86 persen perempuan, 37 persen responden berusia 36 – 45 tahun, tingkat pendidikan responden 48 persen SMA, jumlah anggota keluarga responden 53 persen 4 – 5 orang, pekerjaan responden 43 persen ibu rumah tangga, dan pendapatan perbulan responden 40 persen Rp3.500.001 – Rp5.000.000. Peringkat kepentingan atribut yang menjadi bahan pertimbangan dalam keputusan pembelian teh celup berturut–turut adalah informasi expired date, merek, rasa seduhan dan aroma seduhan teh celup. Preferensi konsumen terhadap atribut teh celup di Perumahan Teluk adalah informasi expired date yang jelas, merek Tong Tji, rasa seduhan yang pahit sepet sedang dan aroma seduhan yang khas. | The growth average consumption of tea bags in 2005 - 2012 increased by 20.3%. It causes the tea bag manufacturers compete to satisfy consumer desires. Manufactures of teabag in setting marketing strategies have to understand preferences or the preferences of consumers in making purchasing decisions teabag. This study aims to: (1) determine the general characteristics of consumers teabag; (2) identify the rank of attributes interests of teabag by the attributes to be considered in taking teabag and (3) determine attributes into consumer preferences on teabag product. The experiment was conducted in Perumahan Teluk, Purwokerto Selatan District in February until March 2015. The sampling method using simple random sampling and obtained 90 responden.Variabel observed was the consumer characteristics and attributes of a teabag. The analysis is Cochran Q test and conjoint analysis. The results showed that the general characteristics of consumers teabag in Perumahan Teluk are the sex of the respondents 86 percent women, 37 percent of respondents aged 36-45 years, the education level of respondents 48 percent are high school, the number of family members of respondents 53 percent are 4-5 people, occupation 43 percent are housewives, and 40 percent of respondents monthly income are Rp3.500.001 - Rp5,000,000. Rating interests of attributes into consideration in the purchase decision teabag in a row is expired date information, the brand, a sense of steeping and the aroma of steeping tea bags. Consumer preferences for attributes teabag in Perumahan Teluk is a clear expired date information, bitter sepet steeping taste, the brand is Tong Tji and distinctive steeping aroma. | |
| 3145 | 12923 | A1L011059 | PENGARUH KONSENTRASI DAN FREKUENSI APLIKASI PUPUK ORGANIK CAIR BERBASIS URIN KAMBING TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG MERAH | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1). Konsentrasi Pupuk Organik Cair (POC) yang memberikan pertumbuhan dan hasil bawang merah terbaik, 2). Pengaruh frekuensi aplikasi POC yang memberikan pertumbuhan dan hasil bawang merah terbaik, 3). Interaksi perlakuan yang memberikan pertumbuhan dan hasil bawang merah terbaik. Penelitian ini dilakukan di screen house Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan 3 kali ulangan. Faktor yang diuji terdiri atas: (1) Konsentrasi POC (0 %; 5 %; 10 %; 15 %) dan (2) Frekuensi aplikasi POC (1 minggu sekali dan 2 minggu sekali). Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi POC berpengaruh pada variabel jumlah anakan, jumlah umbi dan volume umbi. Perlakuan frekuensi aplikasi POC belum berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah. Dalam penelitian ini tidak ditemukan adanya interaksi antara konsentrasi POC dan frekuensi aplikasi POC terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah. | This research aimed to know: 1). Organic Liquid Fertilizer (OLF) concentration which gives the best growth and yield of shallot, 2). The frequency of OLF applications that provide growth and yield of the best shallot, 3). Interaction of treatment which gives the best growth and yields of shallot. This research was conducted in screen house the Faculty of Agriculture Jenderal Soedirman University. Research using Randomized Block Design (RBD) factorial with three replications. Factors to be tested consists of: (1) Concentration of OLF (0%; 5%; 10%; 15%) and (2) The frequency of OLF applications (once per week and twice per week). The results showed that concentration of OLF affected of tillers’ number, the number and volume of bulbs. The frequency of OLF application has not given effect on the growth and yield of shallot. Interaction treatment between POC concentration and frequency of application of the POC has not provided a real impact on the growth and yield of shallot. | |
| 3146 | 12924 | A1L011012 | PENGARUH DOSIS BOKASHI KANDANG KAMBING DAN KONSENTRASI PUPUK ORGANIK CAIR BERBASIS URIN KAMBING DAN Azolla microphylla TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG MERAH ORGANIK | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) dosis bokashi limbah ternak kambing yang paling baik untuk pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah, 2) konsentrasi pupuk organik cair berbasis urin kambing yang paling baik untuk pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah dan 3) interaksi perlakuan antara dosis bokashi dengan konsentrasi pupuk organik cair yang memberikan pertumbuhan dan hasil paling baik. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial 3x3 dengan 3 kali ulangan. Faktor yang dicoba terdiri atas: (1) dosis pupuk bokashi, yaitu : 10 ton/ha, 20 ton/ha dan 30 ton/ha dan (2) konsentrasi pupuk organik cair yaitu 5%, 10 % dan 15%. Hasil penelitian menunjukkan dosis pupuk bokashi berpengaruh terhadap variabel tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah anakan, jumlah umbi, rasio bobot benih : bobot umbi hasil, bobot segar umbi dan bobot kering umbi. Dosis pupuk bokashi terbaik adalah 30 ton/ha. Konsentrasi POC tidak berpengaruh terhadap semua variabel pengamatan. Tidak ditemukan adanya interaksi antara dosis pupuk bokashi dan konsentrasi POC terhadap semua variabel pengamatan. | This study aimed to determine: 1) the optimal dose of waste goat bokashi for the growth and yield of shallot, 2) the proper concentration of organic liquid fertilizer for the growth and yield of shallot and 3) interaction between doses of bokashi and concentrations organic liquid fertilizer which gives the growth and yield of best shallot. The experimental design used was a randomized complate block design (RCBD) factorial 3x3 with 3 replications. Factors tested were: (1) dose of bokashi (10 ton/ha, 20 ton/ha and 30 ton/ha) and (2) the concentration of liquid organic fertilizer (5%, 10% and 15%). The results showed that dose bokashi fertilizer significantly affected the variables plant height, number of leaves, number of tillers, the number of bulbs, seed weight ratio: yield, tuber fresh weight and dry weight of tubers. The best dose bokashi fertilizer is 30 ton/ha. Concentration of organic liquid fertilizer hasn’t effect on all variables observed. There was no interaction between dose of bokashi and concentration of organic liquid fertilizer for all variables observation. | |
| 3147 | 12926 | H1A011051 | PENURUNAN KADAR LOGAM Cr LIMBAH ELEKTROPLATING SECARA KOAGULASI MENGGUNAKAN FERRAT (FeO42-) | Koagulasi merupakan proses penggumpalan partikel – partikel koloid yang efektif untuk pengolahan limbah industri yang mengandung logam berat. Pada penelitian ini digunakan koagulan ramah lingkungan yaitu ferrat (FeO4)2-. Ferrat dalam pengolahan air dan air limbah berperilaku sebagai oksidan dan koagulan secara bersamaan sehingga tidak menghasikan produk samping yang berbahaya, oleh karena itu dapat dikatakan bahwa ferrat merupakan koagulan yang ramah lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui efektifitas ferrat sebagai koagulan pada penurunan logam Cr dalam limbah elektroplating. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koagulan ferrat bekerja efektif pada pH 8,3 dengan persentase penurunan untuk kadar logam berat kromium total, Cr(VI), Cr(III) masing – masing sebesar 99,973%, 99,972%, 99,976% dengan volume ferrat yang digunakan sebanyak 25 mL. | Coagulation is a process the clumping colloidal particles which are effective for waste processing industry containing heavy metal. To research is used coagulan environmentally friendly namely ferrate (FeO4)2-. Ferrate in water treatment and the waste water behaves as oxidant and coagulant simultaneously so it does not produce a side product which is harmful , therefore it can be said that ferrate an environmentally friendly coagulant .The purpose of this research is to know the effectiveness of ferrate as coagulant to a reduction of metal Cr in electroplating waste .The research results show that coagulant ferrat perform effectively at ph 8.3 with the percentage decline to levels of heavy metals chromium total , Cr(VI), Cr(III) is as much as 99,973 % , 99,972 % , 99,976 % to the volume of ferrate used as many as 25 mL. | |
| 3148 | 12927 | A1L008222 | RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN PADI (Oryza Sativa L) PADA BEBERAPA TEKNIK BUDIDAYA DAN VARIETAS TANAMAN PADI | Tanaman padi merupakan penghasil makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Penggunaan teknik budidaya yang tepat dan efektif memungkinkan untuk memperoleh hasil produktifitas padi yang lebih baik terhadap beberapa varietas padi yang di budidayakan. Munculnya teknik budidaya SRI merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan produksi yang lebih optimal. Penelitian ini bertujuan untuk 1) Mengkaji teknik budidaya yang tepat untuk pertumbuhan dan hasil pada Varietas Cilamaya Muncul, Varietas Situbagendit dan Varietas IR64. 2) Mengetahui perbedaan pengaruh Varietas IR64, Situbagendit dan Cilamaya Muncul pada beberapa teknik budidaya terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi. 3) Mengetahui interaksi antara teknik budidaya dengan jenis varietas. Penelitian dilaksanakan di Desa Pasir Kidul, Kecamatan Purwokerto, Kabupaten Banyumas. Penelitian menggunakan Rancangan Petak Tersarang (Split Plot Design) dengan main plot (Teknik budidaya) dan sub plot (Varietas) pada metode eksperimental. Kombinasi perlakuan antara teknik budidaya konvensional, organik, dan SRI pada varietas (IR64, Situbagendit, Cilamaya Muncul. Variabel yang diamati meliputi komponen pertumbuhan (tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah daun, panjang malai, jumlah anakan produktif, total panjang akar), komponen hasil (bobot 1000 biji, bobot kering gabah, jumlah gabah total per rumpun). Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik budidaya SRI memberikan respon yang lebih baik terhadap semua varietas yang digunakan dengan perlakuan teknik budidaya yang berbeda memberikan perbedaan dalam variabel pertumbuhan dan variabel hasil Varietas padi yang memberikan hasil tertinggi bobot kering gabah pada teknik budidaya SRI, adalah IR64 diikuti Situbagendit dan Cilamaya Muncul dengan. Hasil tertinggi bobot kering gabah pada teknik budidaya organik adalah IR64 diikuti Situbagendit dan Cilamaya Muncul. Hasil tertinggi bobot kering gabah Pada teknik budidaya konvensional adalah IR64 Situbagendit dan Cilamaya Muncul. | Rice is the most important staple for most Indonesias, and the proper and effective cultivation technique might produce better quality rice than other cultivated rice varieties. Thus, the SRI cultivation technique becomes the alternative to increase the optimum production. This Research aimed at 1) analysing the right cultivation technique for the growth and product of Cilamaya Muncul, Situbagendit and IR64 Varieties, 2) finding the influence differences on IR64, Situbagedit, and Cilamaya Muncul Varieties in some cultivation techniques towards the rice growth and product and, 3) finding the interaction between the cultivation technique and the varieties. It was done in Desa Pasir Kidul, Purwokerto District, Banyumas Regency by implementing the Split Plot Design with the Main plot (cultivation technique) and the Sub Plot (varieties) using the experimental method. The combined treatment between the conventional cultivation technique, the organic, and the SRI is on IR64, Situbagendit, and Cilamaya Muncul varieties. The variables are the growth ( the platn height, the shoots, the leaves, the panicle leght, the productive shoots, the roots total leght), the production (the weight of 1000 seeds, the dry grains weight, the grains total number per penicle). The result reveals that the SRI cultivation technique draws better response than all varieties. Then, by the different cultivation technique on the growth and product variables, the rice heaviest weight of the dry grains by the SRI cultivation is the IR64, Situbagendit, and CIlamaya Muncul respectively. On the one hand, the heaviest weight of the dry grains by the organic cultivation is the IR64 Situbagendit, and CIlamaya Muncul respectively. On the other hand, the dry grains heaviest weight by the conventional technique is the IR64 Situbagendit, and CIlamaya Muncul respectively. | |
| 3149 | 13101 | H1D011046 | STUDI MODEL FISIK KEAMANAN BANGUNAN BENDUNG TERHADAP BANJIR LAHAR DINGIN | Bendung menjadi salah satu komponen penting dalam proyek irigasi. Bendung yang dibangun harus memenuhi persyaratan stabilitas yang menjadi salah satu persyaratan penting guna menjamin umur bendung. Stabilitas bendung adalah bentuk gambaran yang mendefinisikan bahwa bendung tersebut dalam keadaan sempurna ditinjau dari ketahanan bendung menerima gaya-gaya internal dan eksternal. Penelitian ini diawali dengan pembuatan model bendung. Model bendung yang dibuat prototip adalah bendung Kedung Wadas, Purwokerto dengan skala 1:30. Bahan prototip terbuat dari beton dengan saluran menggunakan recirculating sediment flume. Data-data pengamatan pada penelitian ini diperoleh dengan membuat variasi debit aliran. Dari variasi debit tersebut dapat dianalisis tekanan hidrostatis yang berpengaruh terhadap stabilitas serta bentuk gerusannya. Hasil permodelan dan analisa perhitungan dari penelitian didapatkan hasil bahwa debit aliran berpengaruh terhadap stabilitas bendung. Semakin besar debit aliran akan berbanding lurus dengan besar tekanan hidrostatis yang terjadi. Stabilitas guling bendung pada kondisi gempa dan non gempa menunjukkan keadaan aman pada debit aliran 0,137 l/detik; 0,319 l/detik; 0,445 l/detik; dan 0,597 l/detik sedangkan tidak aman pada debit aliran 0,777 l/detik. Stabilitas bendung terhadap geser/gelincir pada kondisi gempa dan non gempa menunjukkan bahwa bendung tetap dalam keadaan aman pada semua debit aliran percobaan. Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan semakin besar debit aliran maka akan semakin besar dan panjang gerusan yang terjadi. Sehingga hal lain yang perlu diperhatikan pada keamanan bendung selain stabilitasnya adalah gerusan yang terjadi pada daerah sekitar bendung. | Dam became one of the important components in irrigation projects. Stability is one of the essential requirements to ensure the life of the weir. The stability of the dam defines that the dam is in good condition in terms of durability weir receive internal forces and external. This study begins with the weir modeling. Models prototypes design based of Kedung Wadas Weir, Purwokerto with scale 1:30. Materials prototypes made of concrete and using a recirculating sediment flume as channel. The data of observation in this study was obtained by varying the flow rate. By variations can be analyzed discharge hydrostatic pressure which affects the stability and scours. Modeling and analysis of the calculation showed that the flow rates affect the stability of the dam. The greater the flow rate will be directly proportional to the large hydrostatic pressure that occurs. The overturning stability of the weir on the earthquake and non-earthquake conditions indicate it is safe to discharge the flow of 0.137 l / sec; 0.319 l / sec; 0.445 l / sec; and 0,597 l / sec while unsafe on the flow rate 0.777 l / sec. The stability of the dam to slide / slip on the earthquake and non-earthquake condition shows that the dam remains in a safe condition at all flow experiments. From observations we can conclude the greater the flow, the greater and longer scouring happened. So another thing to note on the security of the dam in addition to stability is scouring that occurs in the area around the dam. | |
| 3150 | 12931 | D1E011144 | PENGARUH FERMENTASI KULIT PISANG DENGAN LEVEL Rhizopus oligosporus DAN LAMA FERMENTASI YANG BERBEDA TERHADAP KECERNAAN SERAT KASAR DAN ENERGI SECARA IN VITRO | Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh interaksi antara perbedaan level R.oligosporus dan lama fermentasi terhadap kecernaan serat kasar dan energi secara in vitro. Penelitian dilakukan secara eksperimental, menggunakan uji in vitro. Peubah yang diukur adalah (1) kecernaan serat kasar dan (2) kecernaan energi. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola Faktorial dengan perlakuan kadar R.oligosporus dan lama fermentasi yang berbeda dan dilakukan ulangan sebanyak 4 kali. Perlakuan terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah konsentrasi R.oligosporus, yaitu R1: Kadar R.oligosporus 7,5 %, R2: Kadar R.oligospurus 10 %, dan R3: Kadar R.oligospurus 12,5 %, sedangkan faktor kedua adalah lama waktu fermentasi, yaitu F1: Lama fermentasi 3 hari (72 jam), dan F2: Lama fermentasi 5 hari (120 jam). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi (P>0,05) antar perlakuan level R.oligosporus dan lama fermentasi terhadap kecernaan serat kasar tetapi terdapat interaksi (P<0,01) terhadap kecernaan energi dengan persamaan regresi Y= 3,44+9,15X-0,61X2. Namun perlakuan level R.oligosporus menunjukkan berpengaruh sangat nyata (P>0,01) terhadap kecernaan serat kasar dengan persamaan regresi Y= 102,50-3,00X dan perlakuan lama fermentasi menunjukkan berpengaruh sangat nyata (P>0,01) terhadap kecernaan serat kasar dengan persamaan regresi Y= 71,31+2,17X. Kesimpulan dari penelitian ini adalah interaksi R.oligosporus dan lama fermentasi tidak mempengaruhi kecernaan serat kasar tetapi mempengaruhi kecernaan energi dan kecernaan energi terbaik diperoleh pada level R.oligosporus 12,5% atau lama fermentasi 3 hari. | The aim of this study is to assess the impacts of the interaction of R.oligosporus levels and fermentation duration in fermenting banana peels on the digestibility of crude fiber and energy by in vitro. The parameters being measured are the digestibility of the two elements. This experimental research is framed within the Completely Randomized Factorial Design with 4 replications. The treatments consist of two factors; the concentration of R.oligosporus, namely R1: R.oligosporus levels of 7.5 %, R2: R.oligosporus of 10 %, R3: R.oligosporus 12.5 %, and the duration of fermentation, namely F1: 3 days long fermentation (72 hours), F2: 5 days long fermentation (120 hours). The results show that there is no interaction (P>0.05) between the concentration and the duration on the digestibility of the crude fiber. However, there is an interaction (P>0.01) on the energy digestibility with the regression equation Y= 3.44+9.15X-0.61X2. The treatment levels of R.oligosporus (P>0.05) on crude fiber digestibility with the regression equation Y= 102.50-3.00X and the treatment of fermentation show a very significant effect (P>0.01) on crude fiber digestibility with the regression equation Y= 71.31+2.17X. This research concludes that the interaction of R.oligosporus and fermentation duration does no affect the digestibility of the crude fiber, but that of energy which is obtained at best at the level of 12.5 % R.oligosporus or 3 days long fermentation. | |
| 3151 | 12932 | D1E011166 | TOTAL MIKROBA DAN SIFAT ORGANOLEPTIK (WARNA) ABON AYAM DENGAN METODE DEEP FAT FRYING DAN SHALLOW FRYING SELAMA MASA PENYIMPANAN | Penelitian ini bertujuan mengkaji interaksi antara metode penggorengan dan lama penyimpanan terhadap total mikroba dan sifat organoleptik (warna) abon ayam. Peubah yang diukur adalah total mikroba dan sifat organoleptik (warna). Pengujian total mikroba menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial 2x4 dengan 8 perlakuan dan 4 ulangan, dan organoleptik menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial 2x4 dengan 24 panelis. Perlakuan yang diuji: A1T1 (Deep fat frying dengan penyimpanan 7 hari), A1T2 (Deep fat frying dengan penyimpanan 14 hari), A1T3 (Deep fat frying dengan penyimpanan 21 hari), A1T4 (Deep fat frying dengan penyimpanan 28 hari), A2T1 (Shallow frying dengan penyimpanan 7 hari), A2T2 (Shallow frying dengan penyimpanan 14 hari), A2T3 (Shallow frying dengan penyimpanan 21 hari), A2T4 (Shallow frying dengan penyimpanan 28 hari). Hasil penelitian menunjukkan pada total mikroba interaksi berpengaruh tidak nyata (P>0,05) sedangkan lama penyimpanan berpengaruh sangat nyata (P<0,01), pada sifat organoleptik (warna) interaksi berpengaruh sangat nyata (P<0,01). Kesimpulan dari penelitian adalah metode deep fat frying dengan penyimpanan 21 hari dan 28 hari warna lebih coklat. Metode deep fat frying lebih disukai oleh panelis. Total mikroba pada penyimpanan 7 hari lebih rendah daripada penyimpanan 14 hari, 21 hari, 28 hari dan penyimpanan 21 hari menghasilkan total mikroba yang paling tinggi. | The purpose of this research is to assess the interaction between frying method and the storing duration on total amount of microbe and organoleptic quality (color) in chicken floss. The parameters measured are the amount of microbe and its color. The examination for the total amount of microbe is set in the frame of the Completely Randomized 2x4 Factorial Design, with 8 treatments and 4 replicates, while that for organoleptic is the Randomized Block 2x4 Factorial Design with 24 panelists. The treatments are: A1T1 (deep fat frying with 7 days storage), A1T2 (deep fat frying with 14 days storage), A1T3 (deep fat frying with 21 days storage), A1T4 (deep fat frying with 28 days storage), A2T1 (Shallow frying with 7 days storage), A2T2 (shallow frying with 14 days storage), A2T3 (shallow frying with 21 days storage), A2T4 (shallow frying with 28 days storage). The results show that, on the total microbe, the interaction has no significant effects (P>0,05), while the storing duration does (P<0.01). Meanwhile, the interaction produces a very significant effect (P<0.01) on the organoleptic (color). This research concludes that the deep fat frying method with 21 and 28 days storage makes the floss have more brown color. Deep fat frying method is preferred by the panelists. Total amount of microbes stored in 7 days is lower than those in 14 days, 21 days, 28 days, and the highest one is that in 21 days. | |
| 3152 | 12933 | F1B011039 | Pengaruh Sistem Remunerasi dan Jenjang Karier Terhadap Kinerja Pegawai di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsi DKI Jakarta | Secara umum kinerja pegawai pemerintahan diidentikan dengan kinerja yang berbelit-belit, struktur yang gemuk serta ketidakdisiplinan dari para pegawai yang diduga kuat menjadi penyebab buruknya kinerja pegawai. Permasalahan yang terjadi di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsi DKI Jakarta yaitu masih adanya pegawai yang kurang disiplin dalam bekerja. Oleh karena itu untuk meningkatkan kinerja pegawai, organisasi menempuh beberapa cara misalnya dengan diberikannya sistem remunerasi yang layak dan kejelasan jenjang karier. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui seberapa besar pengaruh antara sistem remunerasi (X1) terhadap kinerja pegawai (Y), jenjang karier (X2) terhadap kinerja pegawai (Y) serta seberapa besar pengaruh antara sistem remunerasi (X1) dan jenjang karier (X2) terhadap kinerja pegawai (Y). Metode penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif dengan metode survey. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik sampling jenuh (sensus). Hasil dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh antara sistem remunerasi (X1) terhadap kinerja pegawai (Y) sebesar 18,3 persen, terdapat pengaruh antara jenjang karier (X2) terhadap kinerja pegawai (Y) sebesar 19,2 persen serta terdapat pengaruh antara sistem remunerasi (X1) dan jenjang karier (X2) terhadap kinerja pegawai (Y) sebesar 29,0 persen. | In general, the performance of government officials identified with the performance of a convoluted, fat structure and indiscipline of the officials who strongly alleged be the cause of the poor performance of employees. The problems that occurred in Department of Population and Civil Registration Jakarta there are employees who lack of discipline. Therefore, to improve the performance of employees, organizations go through several ways such as give a proper remuneration system and clarity of career level. The aim of this study is to determine how much influence of the remuneration system (X1) on employees performance (Y), career level (X2) on employees performance (Y) as well as how much influence the remuneration system (X1) and career level (X2) on employees performance (Y). This research method used quantitative research method with survey method. The sampling technique used saturated sampling technique (census). The results from this study are, there is influence between the remuneration system (X1) towards employee performance (Y) of 18.3 percent, there is influence between career level (X2) towards employees performance (Y) of 19.2 percent and there is influence between the remuneration system (X1) and career level (X2) towards employees performance (Y) of 29.0 percent. | |
| 3153 | 12934 | B1J011035 | STUDI TINGKAH LAKU SIAMANG (Symphalangus syndactylus) DI PUSAT PRIMATA SCHMUTZER, TAMAN MARGASATWA RAGUNAN, JAKARTA | Siamang (Symphalagus syndactylus) oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature) dikategorikan “endangered” atau terancam punah sejak 2008, dan terdapat dalam Peraturan Perlindungan Binatang Liar 1931. Pemerintah berupaya dalam pengelolaan satwa liar yang dilindungi, diantaranya dengan pengelolaan diluar habitatnya (ex situ), salah satunya kebun binatang. Pusat Primata Schmutzer merupakan salah satu pusat primata terbesar di dunia yang berada di dalam Kebun Binatang Ragunan. Siamang merupakan keluarga gibbon (Hylobatidae). Tingkah laku harian pada gibbon dilakukan mulai dari meninggalkan pohon tempat bermalam sampai kembali lagi ke pohon untuk bermalam. Tingkah laku harian tersebut dapat berupa makan, melakukan perjalanan atau perpindahan, istirahat, bersuara, berkutu-kutuan, bermain, dan istirahat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkah laku Siamang di Pusat Primata Schmutzer, Taman Margasatwa Ragunan. Penelitian dilakukan selama lima bulan. Metode yang digunakan adalah survei dengan teknik Ad Libitum Sampling dan Focal Animal Sampling. Variabel yang diamati adalah tingkah laku harian yaitu gerak berpindah, makan, istirahat, dan tingkah laku sosial yaitu agonistik, grooming, kawin, bermain, dan bersuara. Pengamatan tingkah laku dilakukan pukul 08.00 sampai dengan pukul 16.00 WIB. Data dianalisis secara statistik dengan uji F. Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi dan durasi tingkah laku harian dan sosial individu siamang ditentukan oleh umur dan jenis kelaminnya. Siamang dengan usia remaja (sub adult) memiliki frekuensi tingkah laku harian dan sosial tertinggi dalam berpindah dan bermain. | Gibbon (Symphalagus syndactylus) by IUCN (International Union for Conservation of Nature) categorized as "endangered" since 2008, and contained in Wild Animals Protection Regulations, 1931. Government has tried in management of wildlife, including the management of habitats outside (ex situ), one of the zoo. Schmutzer Primate Center is one of the world's largest primate center in the Ragunan Zoo. Siamang is family Hylobatidae. Daily on gibbon behavior conducted from leaving the tree overnight place to come back to a tree for the night. Daily behavior can include meals, travel or displacement, break, vocalization, lousy-fleas, play, and rest. The purpose of this study were to determine the daily behaviour and the frequency and duration of daily behaviour of gibbon in the recreational area of Schmutzer Primate Center, Ragunan Zoo. Research was carried out in five months. The survey method by using ad libitum sampling and focal animal sampling was used in this research. The frequency and duration of daily behaviour, namely moving, eating, and resting, and social behaviour, namely agonistic, grooming, mating, playing, and vocalization recorded as variables. Behavioral observations made at 08.00 up to 16.00 pm. Data were analyzed statistically by F test. The results showed that the frequency and duration of daily and social behavior gibbon is determined by age and sex. The highest daily and social frequency of the behavior of an is sub adult in moving and playing. | |
| 3154 | 12960 | G1A011105 | HUBUNGAN STADIUM DAN TERAPI DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN KARSINOMA NASOFARING DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO | Karsinoma nasofaring adalah suatu keganasan epitelial dengan kejadian tersering pada traktus aerodigestif bagian atas. Karsinoma nasofaring tergolong lima besar tumor ganas dengan kasus tertinggi di Indonesia. Tempat predileksinya di fossa rosenmuller. Karsinoma nasofaring memiliki 4 stadium yaitu stadium I, II, III, dan IV (IVA, IVB, dan IVC). Peningkatan kualitas hidup merupakan tujuan penting penatalaksanaan penyakit ini. Penatalaksanaan pada karsinoma nasofaring diantaranya adalah kemoterapi dan radioterapi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan stadium, jumlah kemoterapi, dan jumlah radioterapi dengan kualitas hidup pasien karsinoma nasofaring di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Desain penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional dengan besar sampel 30 responden. Analisis bivariat antara stadium dengan kualitas hidup dilakukan dengan uji korelasi Spearman sedangkan variabel terapi dengan kualitas hidup digunakan uji korelasi Pearson dengan uji korelasi Spearman sebagai alternatifnya. Analisis stratifikasi dilakukan berdasarkan stadium dan jenis kelamin responden. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara stadium, jumlah kemoterapi, dan jumlah radioterapi terhadap kualitas hidup (p>0,05). Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara stadium dan terapi dengan kualitas hidup pada pasien karsinoma nasofaring di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. | Nasopharyngeal carcinoma is an epithelial malignancy which usually occurs in upper aerodigestive tract. Nasopharyngeal carcinoma is one of the five malignant tumors with the highest prevalence in Indonesia. Rosenmuller fossa is the predilection of nasopharyngeal carcinoma. Nasopharyngeal carcinoma has four stages, I, II, III, and IV (IVA, IVB, and IVC). Improved quality of life is an important goal of this disease management. Management in nasopharyngeal carcinoma consists of chemotherapy and radiotherapy. The purpose of this study was to analyze the correlation between stage, the amount of chemotherapy and radiotherapy towards the score quality of life in nasopharyngeal carcinoma patients in General Hospital Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. This was observational analytic study with cross-sectional approach involving 30 respondents. Bivariate analysis between the stage with the quality of life was done by using the Spearman correlation test while the variable of therapies with the quality of life was done by using Pearson correlation test with Spearman correlation test as an alternative analysis. Stratification analysis was done based on the stage and sex of the respondent. There was no significant correlation between the stage, the amount of chemotherapy and radiotherapy towards quality of life (p> 0.05). It can be concluded that there was no significant relationship between the stage and therapy towards the quality of life in nasopharyngeal carcinoma patients in General Hospital Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. | |
| 3155 | 12938 | H1D009001 | KAJIAN PERILAKU MEKANIK MORTAR BERDASARKAN GRADASI BUTIRAN PASIR | Mortar merupakan bahan konstruksi yang mutlak digunakan dalam suatu pekerjaan konstruksi, baik itu sebagai konstruksi struktural maupun konstruksi non struktural. Mortar menggunakan tiga material utama yaitu air, agregat halus (pasir) dan semen. Kesalahan dalam pemilihan material, terutama jumlah air dan jenis agregat halus yang akan digunakan akan mengurangi kekuatan mortar. Oleh karena itu dilakukan penelitian untuk dapat memastikan bahwa material yang digunakan dapat menghasilkan mortar dengan kekuatan maksimum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik mekanik mortar (kuat tekan, kuat lentur dan modulus elastisitas) dengan menggunakan faktor air semen dan jenis gradasi agregat halus yang berbeda. Benda uji dalam penelitian ini menggunakan empat jenis gradasi agregat halus dan tiga jenis faktor air-semen untuk diuji kuat tekan dan kuat lenturnya. Pengujian kuat tekan mortar dilakukan pada saat mortar berumur 7,14 dan 28 hari sedangkan pengujian kuat lentur mortar dilakukan pada saat mortar berumur 28 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa benda uji dengan faktor air semen 0,28 serta gradasi agregat halus golongan I menghasilkan kekuatan maksimum. Hal ini dibuktikan pada faktor air semen yang sama, benda uji dengan agregat halus yang kasar (gradasi golongan I) akan memberikan kekuatan tekan dan lentur yang besar dan pada gradasi agregat halus dan komposisi campuran yang sama, benda uji dengan faktor air semen minimum (FAS 0,28) akan memberikan kekuatan tekan dan lentur yang maksimum. | Mortar is an absolute construction materials used in a construction work, either as structural construction or non-structural construction. Mortar using three main material, that is water, fine aggregate (sand) and cement. Errors in the selection of materials, especially quantity of water and type of fine aggregate to be used will be reducing strength of mortar. This research aims to determine the mechanical characteristics of mortar (compressive strength, flexural strength and modulus of elasticity) by using a varied of water-cement ratio and fine aggregate gradation. Test specimen in this study using four types of fine aggregate gradation and three kinds of water-cement ratio to be tested compressive strength and flexural strength. Mortar compressive strength testing is done when mortar aged 7, 14 and 28 days, while the mortar flexural strength testing is done when mortar aged 28 days. Research results show that specimens with water-cement ratio 0.28 and a fine aggregate gradation class I produce maximum strength. This is proved in the same water-cement ratio, specimens with fine aggregate gradation class 1 will provide maximum compressive strength and maximum flexural strength, and with the same fine aggregate gradation and the mixture composition, the specimen with minimum water-cement ratio (0.28) will provide maximum compressive strength and maximum flexural strength. | |
| 3156 | 12936 | G1D008009 | Pengaruh Afirmasi Positif Terhadap Kecemasan Pada Lansia Di Desa Kedungwringin | Latar Belakang: Kecemasan pada lansia, muncul ketika lansia tidak berhasil menemukan jalan keluar dari masalah yang timbul sebagai akibat dari proses menua. Dalam menghadapi proses menua, ada anggapan (self talk) negatif dan positif. Afirmasi positif diperlukan untuk mengendalikan self talk yaitu tentang bagaimana lansia bisa menyadari dan mempersiapkan diri untuk menghadapi usia tua. Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui pengaruh afirmasi positif terhadap kecemasan pada lansia di Desa Kedungwringin khususnya Posyandu Purawaringin I. Metodologi: Jenis penelitian ini adalah pra experiment dengan rancangan pretest-postest one group without control group design. Sampel adalah lansia yang mengalami kecemasan di Desa Kedungwringin khususnya di Posyandu lansia Purawaringin I. Jumlah sampel diambil sebanyak 56 lansia. Teknik pengambilan sampelnya adalah purposive sampling. Hasil Penelitian: Responden pada penelitian ini rata-rata berumur 66,32tahun, berjenis kelamin perempuan (66,1%), memiliki pendidikan terakhir SD (69,6%). Hasil uji Paired T Test menunjukkan pengaruh yang signifikan antara sebelum dan sesudah dilakukan terapi (p value = 0,000 dan t hitung = 29,639 serta t tabel = 1,671 berarti p-value 0,000 < 0,05 dan t hitung > t tabel yaitu 29,639 > 1,671). Kesimpulan: Terdapat pengaruh pada pemberian afirmasi positif terhadap penurunan kecemasan pada lansia di Desa Kedungwringin. | Background: The anxiety in elderly appeared when elderly couldn’t find the way out from the problem as the consequence from aging process. In facing an aging process, there was negative and positive opinion or self talk. Positive affirmation was needed to handle the self talk, it is about how an elderly could aware and prepared themselves in facing an old. Aim of the Research: To find out the affirmation effect toward the anxiety of elderly in Kedungwringin village especially in Purawaringin elderly integrated service centre I. Methodology: The kind of this research was pre-experiment with design pretest-posttest one group without control group design. The sample of research is the elderly who had an anxiety in Kedungwringin village especially in Purawaringin elderly integrated service centre I. The total of samples was 56 elderly. The sampling technique was purposive sampling. Result of the Research: The average age of respondents in this research were 66,32 years old only consisted of females (66,1%), and had last background education on elementary school (69,6%). The result of Paired T-Test showed the significant effect between before and after the treatment was given (p value = 0,000, t-test=29,639 and t-table=1,671, it means p-value 0,000 < 0,05 and t-test > t-table were 29,639 > 1,671). Conclusion: There was an effect in the positive affirmation treatment toward the anxiety reduction of elderly in Kedungwringin village. | |
| 3157 | 12937 | G1A011009 | Hubungan Derajat Merokok Dengan Derajat Penyakit Paru Obstruktif Kronik Pada Pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik Di RSUD Prof Dr Margono Soekarjo | Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyebab kematian ke empat didunia, dan diperkirakan akan menjadi menyebabkan kematian ke tiga pada tahun 2020. Faktor risiko terjadinya PPOK salah satunya terdiri dari kebiasaan merokok, status gizi, status sosial ekonomi, dan status pekerjaan. Selain menjadi penyebab terjadinya PPOK, faktor risiko tersebut dapat mempengaruhi derajat berat PPOK. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan derajat merokok dengan derajat penyakit paru obstruktif kronik pada pasien penyakit paru obstruktif kronik di Rumah Sakit Umum Daerah Prof Dr Margono Soekarjo. Metode yang digunakan adalah analitik observasional dengan pendekatan studi cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Jumlah sampel sebanyak 40 pasien berusia 40 – 70 tahun yang sedang menjalani pengobatan rutin >6 bulan di poli paru RSUD Prof Dr Margono Soekarjo, dan memiliki status PPOK stabil. Data diperoleh dari hasil pengisian kuesioner. Analisis statistik yang digunakan adalah uji chi square untuk analisis bivariat dan uji regresi logistik untuk analisis multivariat. Hasil analisis bivariat dengan menggunakan uji chi square didapatkan adanya hubungan antara derajat merokok (p=0,002), status gizi (p=0,038), status pekerjaan (0,028), status sosial ekonomi (p=0,047) dengan derajat PPOK. Kemudian analisis multivariat uji regresi logistik dengan mengendalikan variabel perancu didapatkan hasil bahwa perokok dengan derajat merokok berat memiliki risiko 12,71 kali menjadi derajat PPOK berat sangat berat dibandingkan dengan perokok ringan sedang, dengan nilai probabilitas mengalami derajat PPOK berat sangat berat adalah 96%. | Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) is the fourth leading cause of death in the world, and is expected to be the third cause of death in 2020. Risk factors for COPD consists of smoking habits, nutritional status, socioeconomic status, and employment status. In addition to being the cause of COPD, these risk factors can affect the severity of COPD. The purpose of this study was to determine the association between degree of smoking and degrees of chronic obstructive pulmonary disease in patients with chronic obstructive pulmonary disease at RSUD Prof Dr Margono Soekarjo. The method used was observational analysis with cross-sectional approach. The sampling technique used purposive sampling method. The total sample were 40 patients aged 40-70 years who were undergoing routine treatment for > 6 months in RSUD Prof Dr Margono Soekarjo pulmonary clinic and had the status of stable COPD. Data obtained from the questionnaires. The statistical analysis used was chi square test for bivariate analysis and logistic regression for multivariate analysis. Results of bivariate analysis using chi square test found an association between degree of smoking (p = 0.002), nutritional status (p = 0.038), employment status (0.028), socioeconomic status (p = 0.047) with the degree of COPD. Multivariate logistic regression analysis to control confounding variables showed that smokers who have heavy smoking degree have a risk of 12,71 times become severe very heavy compared with light to mild smokers, with a probability value experiencing heavy COPD very severe degree was 96%. | |
| 3158 | 12939 | A1H011062 | Kajian Pertumbuhan Selada Keriting Hijau dan Selada Keriting Merah menggunakan Nutrient Film Technique (NFT) dengan Perbedaan Panjang Talang | Selada merupakan sayuran yang mempunyai nilai komersial dan prospek yang cukup baik ditinjau dari aspek klimatologis, aspek teknis, ekonomis dan bisnis. Selada memiliki kelayakan yang baik untuk diusahakan. Peluang pasar selada yang cukup besar, namun ekspor selada mengalami penurunan dari tahun 2007 sampai 2010 yaitu 345,95 US$ menjadi 88,57 US$. Tanaman selada pada umumya ditanam di lahan terbuka, kendalanya adalah hujan lebat, angin, serta terkena hama dan penyakit yang dapat menurunkan kualitas selada. Kondisi lahan yang semakin sempit juga menjadi salah satu hambatan peningkatan produksi selada. Hidroponik sebagai salah satu metode atau teknik budidaya tanaman untuk meningkatan kualitas dan hasil produksi selada. Hidroponik juga dapat diusahakan sepanjang tahun tanpa mengenal musim. Nutrient Film Technique (NFT) merupakan model budidaya hidroponik dimana akar tanaman tumbuh pada lapisan nutrisi yang dangkal dan tersirkulasi, sehingga tanaman memperoleh air, nutrisi dan oksigen sesuai kebutuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pengaruh panjang talang dan mengetahui varietas yang sesuai terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman selada keriting hijau dan selada keriting merah yang ditanam secara hidroponik sistem Nutrient Film Technique (NFT) dengan perbedaan panjang talang. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dan data pertumbuhan dan hasil dianalisis menggunakan uji F. Perlakuan yang digunakan pada penelitian ini adalah menggunakan T1= talang 2 m , T2= talang 4 m, T3 = talang 6 m. dan V1 = selada keriting hijau, V2 = selada keriting merah. Parameter pertumbuhan yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, dan bobot basah tanaman. Iklim mikro di dalam greenhouse meliputi suhu dan radiasi lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa talang 4 m memberikan hasil terbaik dibandingkan talang 6 m dan 2 m dengan rata-rata tinggi tanaman 19,353 cm, jumlah daun 13,833 helai dan bobot basah tanaman 90,818 gram. Selada keriting merah menunjukkan hasil terbaik dengan rata-rata jumlah daun 6,56 helai dan bobot basah 84,262 gram dan tinggi tanaman terbaik diperoleh varietas selada keriting hijau sebesar 7,87 cm. | Lettuce is a vegetable that has commercial value and good prospects in terms of climatological aspects, technical aspects, economical and business. Lettuce has a good eligibility to cultivate. Lettuce market has a good chance, but lettuce exports decreased from 2007 to 2010 is 345.95 US $ to US $ 88.57. Lettuce plants in general are grown in open fields so as to enable affected by pests and diseases that can degrade the quality of the lettuce, in addition to the increasingly cramped conditions area also became one of the obstacles to increase production of lettuce. Hydroponics as one method or technique of cultivation to support the improvement of the quality and production of lettuce. Hydroponics can also be cultivated throughout the year regardless of the season. Nutrient Film Technique (NFT) hydroponic cultivation is a model where the roots of plants grown in shallow layers and circulate nutrients, so plants obtain water, nutrients and oxygen needed by plants. This study aim to obtain gutter length effect and to find out suitable variety for growth and results for curly green lettuce and curly red letuce which planted with in hydrophonics system Nutrient Film Technicue (NFT). This research use a randomized block design (RAK) and data growth and the results were analyzed using the F test treatments used in this study is the use of T1 = 2 m gutters, gutter T2 = 4 m, 6 m T3 = gutters. and V1 = green curly lettuce, V2 = red curly lettuce, with variable plant height, number of leaves, plant fresh weight, temperature, and solar radiation. The best results occur in red curly lettuce with an average of 7.59 cm plant height, leaf number and weight of the wet strands of 6.56 at 84.262. Gutter 2 m showed the best results with an average of 7.77 cm plant height, leaf number and weight of the wet strands of 6.56 best in gutters 4 m of 90.818 grams. | |
| 3159 | 12940 | H1D011037 | STUDI SIRKULASI POLA ARUS LAUT DAN SEBARAN SALINITAS DI PERAIRAN SEGARA ANAKAN KABUPATEN CILACAP | Segara Anakan adalah salah satu contoh estuari. Estuari merupaka wilayah yang unik karena merupakan peralihan (zona transisi) antara lingkungan sungai dengan lingkungan laut.Pasang dan surut yang terjadi di Segara Anakan membuat suatu pola arus yang mempengaruhi sebaran salinitas. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai kondisi arus dan salinitas di Segaran Anakan. Metode yang digunakan untuk analisis hasil penelitian adalah metode deskriptif, sedangkan untuk pengambilan sampel salinitas dilokasi dilakukan dengan time series. FerryBox digunakan untuk pengambilan sampel dan analisis salinitas. Analisis pola hidrodinamika (arus) digunakan pemodelan dengan perangkat lunak SMS 10.0 (Surface Water Modelling System) dengan menggunakan modul RMA2. Berdasarkan hasil model arus didapat kecepatan arus total tertinggi 0.907 m/d. Nilai salinitas pada pasang 25 -35 PSU dan saat surut nilai salinitas 20-25 PSU. Perubahan nilai salinitas di sebabkan arus laut lebih dominan saat pasang dan arus sungai Cintadui yang membawa air payau saat surut pada laguna. Naik turun nya salinitas akan mempengaruhi kondisi biota yang hidup didalamnya. Saat pasang dominan biota air asin, sedangkan saat surut dominan biota air payau. | Segara Anakan is one example of the estuary. Estuary is unique because it is a region of transition (transition zone) between the river environment with laut.Pasang environment and downs that occur in Segara Anakan create a flow pattern that affects the distribution of salinity. This study was conducted to obtain information on the currents and salinity conditions in Segaran Anakan. The method used for the analysis of the results of the research are descriptive method, while the salinity location for sampling carried out by the time series. FerryBox used for sampling and analysis of salinity. Analysis of patterns of hydrodynamics (current) used modeling software with SMS 10.0 (Surface Water Modelling System) using RMA2 module. Based on the results of the current model obtained the highest total flow speed of 0907 m / d. Salinity value at 25 -35 PSU tide and low tide salinity 20-25 PSU value. Changes in salinity values caused more dominant sea currents at high tide and river currents that carry Cintadui brackish water at low tide on the lagoon. Up and down its salinity will affect the condition of biota that live in it. At high tide saltwater dominant biota, while the dominant biota at low tide the brackish water. | |
| 3160 | 12942 | D1E011097 | STUDI KUALITAS DEDAK PADI DI DAERAH PURWOKERTO DAN SEKITARNYA DITINJAU DARI KARAKTERISTIK FISIK BERDASARKAN LUAS PERMUKAAN SPESIFIK DAN BERAT JENIS | Penelitian ini bertujuan mengkaji kualitas fisik dedak padi di daerah Purwokerto dan sekitarnya ditinjau dari karakteristik dedak padi (luas permukaan spesifik dan berat jenis) antara Rice Mill dan Poultry Shop. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei lapang dengan menggunakan sampel 40kg dedak padi yang diambil dari 10 Rice Mill dan 10 Poultry Shop. Variabel yang diukur adalah berat jenis dan luas permukaan spesifik. Pengukuran berat jenis, kadar air dan luas permukaan spesifik dilakukan setiap hari pada pukul 10.00. Hasil perhitungan luas permukaan spesifik dedak padi di Poultry Shop adalah 44.99 g/cm2 sedangkan di Rice Mill 56.29 g/cm2. Hasil penghitungan berat jenis dedak padi di Poultry Shop yaitu 0,298 g/ml sedangkan hasil perhitungan berat jenis dedak padi di Rice Mill yaitu 0,266 g/ml. Berdasarkan hasil uji t berat jenis dan uji t luas permukaan spesifik, kualitas dedak padi di Rice Mill lebih bagus dari poultry shop. | This research aims to assess physical qualities of rice bran, i.e. the characteristic of its specific surface area and density, in Purwokerto and its environs. The method used is a field survey using 40kg of rice bran taken from 10 Rice Mills and 10 Poultry Shops as the research samples. The variables being measured are the density and the specific surface area of the bran. Measurement of density, water content and specific surface area is performed at 10 am everyday. According to the calculation, the specific surface area of the bran in the Poultry Shops is 44.99 g/cm2, while that in the Rice Mills is 56.29 g/cm2, the density of the bran in the Poultry Shops is 0.298 g/ml, while in the Rice Mills is 0.266 g/ml. Based on the t tests of the density and the specific surface area, the quality of rice bran in the Rice Mills is better than that of in Poultry Shops. |