Artikelilmiahs

Menampilkan 3.121-3.140 dari 48.736 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
312112899C1C011041Analisis Persepsi Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Mengenai Etika Penyusunan Laporan KeuanganTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi mahasiswa S1 jurusan akuntansi, Siswa S1 jurusan non akuntansi dan mahasiswa akuntansi program diploma 3 tentang etika laporan keuangan di fakultas ekonomi dan bisnis Universitas Jenderal Soedirman. Variabel dalam penelitian ini adalah manajemen laba, salah mengutarakan, pengungkapan, biaya dan manfaat, tanggung jawab, pengakuan elemen laporan keuangan, dan kualitas pelaporan keuangan. Penelitian ini merupakan penelitian komparatif kuantitatif. Jenis data dalam penelitian ini adalah data primer. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji sampel T independen. Hasil penelitian ini adalah ada perbedaan persepsi antara mahasiswa S1 jurusan akuntansi dan mahasiswa S1 jurusan non akuntansi tentang etika laporan keuangan, tidak ada perbedaan persepsi antara mahasiswa S1 jurusan akuntansi dan mahasiswa akuntansi program diploma 3 tentang etika pelaporan keuangan, dan ada perbedaan persepsi antara mahasiswa akuntansi program diploma 3 dan mahasiswa S1 jurusan non akuntansi tentang etika laporan keuangan.The purpose of this research is to find out the perception of S1 students majoring in accounting, S1 Students majoring in non accounting and students accounting diploma 3 program about the ethics of financial statements at the faculty of economic and business University of Jenderal Soedirman. Variable in this research are earnings management, misstate, disclosure, cost and benefit, responsibilities, recognition of elements of financial statements, and the quality of financial reporting. This research is a quantitative comparative research. Type of data in this research is primary data. Examination hypothesis in this research is using independent sample T test. The result of this research are there is a difference perception between S1 Students majoring in accounting and S1 students majoring in non accounting about the ethics of financial statements, there is no difference perception between S1 students majoring in accounting and students accounting diploma 3 program about the ethics of financial reporting, and there is a difference perception between students accounting diploma 3 program and S1 students majoring in non accounting about the ethics of financial statements.
312212900H1E011057Metode Common Reflection Surface (CRS) untuk Meningkatkan Signal to Noise Ratio pada Data Seismik 2D Multichannel di Perairan Laut Seram-Papua BaratMetode konvensional seperti Common Depth Point (CDP) Stack merupakan metode standar yang sering dilakukan dalam pengolahan data seismik 2D multichannel yang dapat meningkatkan rasio sinyal terhadap noise (S/N ratio) sehingga mempermudah dalam pengolahan selanjutnya. Namun metode konvensional yang selama ini dipakai tidak lepas dari model kecepatan, sehingga sering terjadi ambiguitas dalam pengambilan model kecepatan dan hanya mampu diaplikasikan pada struktur bawah permukan yang homogen. Perairan Laut Seram merupakan daerah yang mempunyai tatanan tektonik yang sangat kompleks, dimana daerah ini merupakan pertemuan antara tiga lempeng besar yaitu Eurasia, Indo-australia dan Pasifik-Filipina, sehingga metode konvensional tidak cocok untuk diaplikasikan pada data akuisisi ini. Metode Common Reflection Surface (CRS) bebas dari model kecepatan dan hanya menggunakan kecepatan permukaan, sehingga cocok untuk diaplikasikan pada data yang mempunyai struktur bawah permukaan yang kompleks. Proses stacking pada metode ini mampu mengkoreksi ketidakakuratan model kecepatan yang disebabkan oleh terbatasnya frekuensi sinyal seismik dalam mengiluminasi satu titik target bawah permukaan yang kenyataannya informasi yang didapat tidak hanya satu titik saja melainkan titik-titik sekitarnya seluas Zona Fresnel. Atribut CRS terdiri dari α, RN dan RNIP, dimana α merupakan emergence angle dari ray zero offset, RN dan RNIP merupakan parameter yang berasosiasi dengan dua radius kelengkungan gelombang yaitu gelombang Normal dan Normal Incident Point (NIP). Ketiga atribut tersebut dioptimalkan untuk mendapat hasil stacking yang tepat pada setiap sampel zero offset. Agar menghasilkan penampang CRS yang optimal, maka dilakukan analisis dalam pemilihan parameter dip aperture (dip search aperture) dan operator CRS (aperture for CRS operator). Dip aperture yang terbaik menggunakan 250 m dan aperture CRS operator (1000 ms – 83 m, 3000 ms – 63 m, 5000 ms – 50 m, 7000 ms – 42 m). Hasil stack metode CRS mampu memberikan tampilan bawah permukaan yang baik, hal ini membuktikan bahwa metode CRS mampu meningkatkan rasio sinyal terhadap noise (S/N ratio) yang jauh lebih baik dari metode konvensional. Metode Post-Stack Time Migration (POSTM) diaplikasikan pada metode CRS ini untuk menghilangkan efek difraksi dan menampilkan kemenerusan reflektor yang lebih baik.

Conventional method such as Common Depth Point (CDP) Stack is the standard method of 2D multichannel seismic data processing which can improve the signal to noise ratio (S/N ratio) thus simplifying for next steps. In the other hand, the conventional method commonly used can’t be separated from the velocity model, so frequent ambiguity in decision of velocity model and just applied to the homogenous subsurface. Seram Sea is an area that has a very complex tectonic structure , where the area is a meeting between the three large plates the Eurasian , Indo - Australian and Pacific - Philippines , so that conventional methods are not suitable to be applied to this data acquisition. The Common Reflection Surface (CRS) free of velocity model, but only uses model of surface velocity and this method is suitable to be applied to the complex subsurface structure like Seram Sea area. This method is able to correct inaccuracies velocity model for stacking process which is caused by the limited frequency of seismic signals in illuminating the target point below the surface, in fact, the information obtained not only one point but also points surroundings area of Fresnel Zone. CRS attribute consists of α ,RN and RNIP , when α is the emergence angle from ray zero offset, RN and RNIP are parameter which association with two radius of curvature waves, Normal wave and Normal Incident Point wave. These attributes are optimized to get the right result of stacking on each zero offset sample. In order to produce an optimal section of CRS, it must be analyzed in the parameter of dip aperture (dip search aperture) and aperture CRS operator (aperture for CRS operator) selection. The best dip aperture selected is 250 m and aperture CRS operator are (1000 ms – 83 m, 3000 ms – 63 m, 5000 ms – 50 m, 7000 ms – 42 m). The result stacking appearance of CRS method can be provided. CRS method proven can improve the signal to noise ratio (S/N ratio) is better than conventional method. In this method, the Post-Stack Time Migration (POSTM) method was applied to eliminate diffraction effect and displayed the continuity of reflectors better.
312312902H1A011024VARIASI SUHU DAN RASIO MOLAR MINYAK METANOL DALAM PEMBUATAN BIODIESEL DARI MINYAK BIJI KAPUK (Ceiba pentandra L.) MENGGUNAKAN KATALIS
Mg/Al HIDROTALSIT
Telah dilakukan penelitian tentang sintesis biodiesel dari minyak biji kapuk menggunakan katalis Mg/Al hidrotalsit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh rasio molar minyak : metanol dan suhu reaksi dalam reaksi transesterifikasi minyak biji kapuk menjadi biodiesel. Mg/Al hidrotalsit disintesis melalui metode pengendapan menggunakan campuran larutan AlCl3 dan MgCl2.6H2O yang dimasukan kedalam larutan Na2CO3. Katalis Mg/Al hidrotalsit yang diperoleh dikarakterisasi dengan X-Ray Diffraction (XRD) dan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). Pada penelitian ini Mg/Al hidrotalsit telah terbentuk yang dicirikan dengan adanya puncak tertinggi pada harga d= 7,88; 3,93; dan 2,62 dari grafik XRD dan adanya gugus fungsi Mg-O, Al-O, O-H dan CO32- pada grafik FTIR. Telah dilakukan rasio molar minyak : metanol pada 1:03, 1:06, 1:09, dan 1:12 yang berlangsung pada suhu 60 oC, konsentrasi katalis 2% dan waktu reaksi 150 menit. Pengaruh suhu dikaji dengan variasi 30, 40, 50, 60 dan 70 oC dengan konsentrasi katalis 2%, waktu reaksi 150 menit dan rasio molar minyak : metanol 1:06. Pengujjian terbentuknya biodiesel ditentukan menggunakan spektrometer FTIR yang ditandai dengan terbentuknya gugus CH3O pada bilangan gelombang 1031 cm-1 sedangkan sifat fisik ditentukan dengan standar SNI. Hasil penelitian menunjukan biodiesel yang diperoleh tidak memenuhi standar SNI. Variasi rasio molar minyak : metanol dan suhu reaksi yang menghasilkan nilai sifat fisik terendah dalam penelitian ini terdapat pada perbandingan 1:06 dengan suhu 60 oC. Has done research on the synthesis of biodiesel from cotton seed oil using catalysts Mg / Al hydrotalcite. This study aims to determine the effect of molar ratio of oil : methanol and the reaction temperature in the transesterification reaction cotton seed oil into biodiesel. Mg/Al hydrotalcite synthesized through solution deposition method using a mixture of AlCl3 and MgCl2.6H2O inserted into Na2CO3 solution. Catalysts Mg/Al hydrotalcite was characterized by X-Ray Diffraction (XRD) and Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). In this study, Mg/Al hydrotalcite has been formed which is characterized by the highest peak in the price of d = 7.88; 3.93; and 2.62 Å of the XRD charts and the functional group Mg-O, Al-O, OH and CO32- on the graph FTIR. Has done a molar ratio of oil: methanol at 1:03, 1:06, 1:09, and 1:12 which takes place at a temperature of 60 ° C, the catalyst concentration of 2% and a reaction time of 150 minutes. Studied the effect of temperature variation of 30, 40, 50, 60 and 70 ° C with a catalyst concentration of 2%, the reaction time of 150 minutes and a molar ratio of oil: methanol 1:06. Testing formation of biodiesel is determined using FTIR spectrometer characterized by the formation of clusters CH3O at wave number 1031 cm-1 while the physical properties are determined by the SNI standard. The results showed that biodiesel obtained do not meet SNI standards. Variations molar ratio of oil : methanol and the reaction temperature that produces the lowest values of physical properties in this study contained at a ratio 1:06 with a temperature of 60 oC.
312412903A1L010268Faktor yang Mempengaruhi Alih Fungsi Lahan Sawah Beririgasi ke Non Pertanian dan Pengaruhnya Terhadap Produksi Padi dan Ketahanan Pangan Beras di Kabupaten BanyumasPenelitian ini bertujuan untuk: untuk mengetahui besarnya tingkat alih fungsi lahan sawah beririgasi ke non pertanian yang terjadi di Kabupaten Banyumas, dan mengetahui faktor-faktor teknis yang dapat mempengaruhi alih fungsi lahan sawah menjadi lahan untuk kepentingan non pertanian di Kabupaten Banyumas. Penelitian dilaksanakan di 27 Kecamatan yang ada di Kabupaten Banyumas. Metode penelitian dilakukan dengan cara mengumpulkan data primer berupa wawancara dengan petani pemilik lahan teralih fungsikan dan data sekunder berupa informasi mengenai kasus alih fungsi lahan pertanian di 27 Kecamatan di Kabupaten Banyumas. Data dianalisis dengan cara membandingkan data dari lapangan mengenai karakteristik dan tingkat produktifitas lahan sawah dengan faktor yang mempengaruhi terjadinya alih fungsi lahan sawah beririgasi ke non pertanian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan-lahan sawah yang dialih fungsikan memiliki karakteristik, kemampuan dan kesesuaian lahan yang mendukung untuk produksi padi sawah.
Faktor yang telah mempengaruhi alih fungsi lahan digolongkan menjadi dua yaitu faktor internal berupa kondisi sosial dan ekonomi keluarga petani pemilik lahan sawah serta berkurangnya regenerasi potensi tani. Faktor eksternal adalah pertambahan penduduk, perkembangan perekonomian, serta kebijakan pemerintah yang mengatur alih fungsi lahan pertanian. Faktor-faktor baik faktor internal dan eksternal yang mendorong terjadinya alih fungsi lahan sawah tidak memperhatikan tingkat kemampuan dan kesesuaian lahan sebagai lahan pertanian padi. Tidak ada alasan teknis mengenai kesesuaian lahan dan agronomi yang telah mendorong alih fungsi lahan sawah beririgasi ke non pertanian. Sehingga lahan-lahan padi sawah produktif yang berlokasi strategis berpotensi dan sebagian besar telah teralih fungsikan untuk kepentigan non pertanian.
The purpose of this research was to: determine the level of conversion of wetland into non-agricultural which was happened in Banyumas District, and know the technical factors that were affected the conversion of wetland into land for non-agricultural interests, so that how the impact to the availability of rice area and food security. The research was conducted in 27 sub-district in Banyumas. The research method was done by collecting primary data in the form of interviews to farmers and landowners diverted enable secondary data such as information on the case of agricultural land conversion in 27 Districts in Banyumas. Data were analyzed by comparing the data from the field on the characteristics and level of wetland productivity by a factor affecting the conversion of irrigated land to non-agricultural. The results showed that the rice lands have transformed to enable the characteristics, abilities and suitability of land for rice production support.
Factors that have influenced land use is classified into two: internal factors such as social and economic conditions of family farmers who own paddy fields and reduced regeneration potential of the peasantry. External factors are population growth, economic development, as well as government policies that govern the conversion of agricultural land. Factors both internal and external factors that encourage the conversion of paddy fields do not pay attention to the level of ability and suitability of land for farming rice. There is no technical reason regarding the suitability of land and agronomy who have encouraged conversion of irrigated land to non-agricultural. So, the paddy rice fields which are strategically located were productive potential and functioned largely been diverted for non-agricultural interests.
312512904A1C011032HUBUNGAN KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI PETANI DENGAN TINGKAT ADOPSI PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU (PTT) PADI SAWAH DI KECAMATAN SUMBANG KABUPATEN BANYUMASPengelolaan Tanaman Terpadu merupakan suatu usaha untuk meningkatkan hasil dan efisiensi input produksi dengan memperhatikan penggunaan sumberdaya alam secara bijak. Kecamatan Sumbang merupakan salah satu kecamatan yang telah mengadakan kegiatan SLPTT dari tahun 2008 sampai tahun 2013. Tingkat penerapan komponen PTT padi sawah antara petani yang satu dengan petani yang lainnya berbeda-beda. Kondisi ini tidak terlepas dari latar belakang petani yang berkaitan dengan keadaan karakteristik sosial ekonomi. Tujuan penelitian ini yaitu (1) menganalisis tingkat adopsi petani terhadap pengelolaan tanaman terpadu padi sawah, dan (2) menganalisis hubungan karakteristik sosial ekonomi petani dengan tingkat adopsi pengelolaan tanaman terpadu padi sawah di Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas dari tanggal 27 Maret 2015 sampai dengan 17 April 2015. Sasaran penelitian adalah petani padi sawah di Kecamatan Sumbang. Penelitian dilakukan dengan metode survai, dengan teknik pengambilan sampel two stage cluster sampling dan diperoleh sampel sebanyak 27 responden. Pengambilan data primer dilakukan dengan cara wawancara dan observasi langsung, sedangkan data sekunder diperoleh dari internet dan berbagai pustaka mengenai informasi yang mendukung topik penelitian. Data dianalisis menggunakan analisis korelasi rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Tingkat adopsi petani terhadap pengelolaan tanaman terpadu di Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas dikategorikan dalam katagori sedang (20,44), (2) Hubungan karakteristik sosial ekonomi petani secara keseluruhan dengan tingkat adopsi pengelolaan tanaman terpadu padi sawah di Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas yaitu cukup kuat (0,424) dan signifikan. Secara parsial, terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan tingkat adopsi pengelolaan tanaman terpadu padi sawah. Umur, luas lahan, pendapatan, dan pengalaman berusahatani mempunyai hubungan yang tidak signifikan terhadap tingkat adopsi pengelolaan tanaman terpadu padi sawah.Integrated Crop Management is an effort to increase the output and efficiency of production input by paying attention on how wise the utilization of natural resources. Sumbang District is one of districts which has conducted the SLPTT activity from 2008 until 2013. The level of ICM component application on paddy rice among one farmer to another farmers is diverse. This condition can not be separated from the farmers’ background relating to the state of socio-economic characteristics. The purpose of this research, i.e (1) analyze the level of farmers' adoption of the Integrated Crop Management on paddy rice, and (2) analyze the relationship of farmers’ socio-economic characteristics with the adoption level of Integrated Crop Management on paddy rice in Sumbang District, Banyumas Regency in 27 Marct 2015 to 17 April 2015. The research target is rice farmers in the Sumbang District. The study was conducted by survey method, with sampling technique two stage cluster sampling and obtained a sample of 27 respondents. Primary data were collected by interviews and direct observation, while secondary data obtained from the internet and various literature regarding information in support of the research topic. Data were analyzed using Spearman rank correlation analysis. The research result shows that (1) the level of farmers’ adoption on Integrated Crop Management in Sumbang District, Banyumas Regency is categorized as moderate category (20.44), (2) the overall relationship of farmers’ socio-economic characteristics with adoption level of Integrated Crop Management on paddy rice in Sumbang District, Banyumas Regency is strong enough (0.424) and significant. Partially, there is a significant relationship between the level of education with adoption level of Integrated Crop Management on paddy rice. Age, land area, income, and experience to farm does not have a significant relationship to the adoption level of Integrated Crop Management paddy rice.
312612905A1L010196KETAHANAN EMPAT KULTIVAR CABAI RAWIT TERHADAP PENYAKIT ANTRAKNOSAPenelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui serangan patogen penyebab penyakit antraknosa pada empat kultivar cabai rawit, dan 2) mengetahui ketahanan masing-masing kultivar cabai rawit yang diuji terhadap serangan patogen Colletotrichum capsici. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus sampai Desember 2014 di lahan kering berlokasi di Perumahan Mersi Baru, Purwokerto. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 4 perlakuan dan 10 ulangan. Perlakuan terdiri atas empat kultivar cabai rawit yaitu kultivar Kencana, Kathur, Sonar, dan Taruna. Variabel pengamatan meliputi pertumbuhan produksi buah, jenis penyakit yang muncul dan kemunculan penyakit antraknosa, tingkat serangan penyakit antraknosa, dan analisis senyawa fenol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa patogen Colletotrichum capsici menyerang semua kultivar tanaman cabai rawit dengan intensitas serangan rendah (0,60 - 0,89%). Ada variasi ketahanan kultivar tanaman cabai terhadap penyakit antraknosa. Kultivar yang paling tahan adalah Kencana.The goals of research were 1) to know pathogen infect that causing anthracnose disease intensity on four cultivar of chili, and 2) to know resistance four cultivar of chili against anthracnose. This research was conducted at Mersi village Purwokerto Timur, Banyumas on August until December 2014. The experiment used randomized completely block design with four cultivar as treatment and 8 replications. The variety consisted of Kencana, Sonar, Kathur and Taruna. Observation variables consisted of growth of fruit production, kind of diseases that infected chilli pepper and the appearance of anthracnose, intensity of anthracnose disease, and analysis of phenol compounds. The results showed that Colletotrichum capsici infected all cultivar of chili. Disease intensity ranges 0.60 – 0.89%. There was variation in resistance in chili cultivar against anthracnose. The most resistante was Kencana.
312712906D1E011237TINGKAT INFEKSI PARASIT CACING ( Fasciola hepatica dan Oesophagostomum Sp) PADA SAPI PERANAKAN ONGOLE BETINA BERDASARKAN UMUR FISIOLOGIS DI KABUPATEN KEBUMEN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat infeksi parasit cacing Fasciola hepatica dan Oesophagostomum Sp pada ternak sapi PO betina berdasarkan umur fisiologis. Mengetahui jumlah parasit cacing Fasciola hepatica dan Oesophagostomum Sp pada sapi PO betina berdasarkan umur fisiologis. Materi penelitian menggunakan 5% dari total sapi PO Betina berdasarkan pada tiap kelompok umur ternak. Jenis sapi yang digunakan pada penelitian adalah sapi PO. Jenis kelamin yang digunakan adalah betina. Metode penelitian adalah Survey menggunakan simple random sampling. Variabel yang diamati adalah jumlah telur cacing Fasciola hepatica dan Oeshophagostomum Sp. Metode pemeriksaan menggunakan Centrifuge, MC Master, dan Parfitt and Banks. Berdasarkan hasil perhitungan yang menggunakan uji Chi Square, tingkat prevalensi Parasit cacing Fasciola hepatica pada sapi po betina berdasarkan umur fisiologis berbeda sebanyak 42, 31 % pada pedet, 61 , 54 % pada sapi muda betina , 96,65 % pada sapi betina dewasa. Tingkat prevalensi parasit cacing Fasciola hepatica yang terberat adalah pada sapi PO betina dewasa. Prevalensi parasit cacing Oeshophagostomum Sp sebanyak 46,15 % pada pedet, 19,23 % pada sapi muda betina , 33,04 % pada sapi betina dewasa. Tingkat prevalensi parasit cacing Oeshophagostomum Sp yang terberat adalah pada sapi PO betina pedet.This research aims to investigate the level of infection and the number of Fasciola hepatica and Oesophagostomum sp parasitic worm in PO cows based on their physiological age. The research uses 5 percent of the total PO cows based on the age grouping of the cattle. The resarch method is Simple Random Sampling survey. The observed variables are the number of eggs of fasciola hepatica and oesophagostomum sp worms. Based on the calculation using the Chi Square, the prevalence of Fasciola hepatica parasitic worms that is based on different physiological age is 42.31 % in the calves, 61.54 % in the heifers , 96.65 % in the cows. The prevalence of parasitic worms Fasciola hepatica is on the cows. The heaviest prevalence of Oesophagostomum Sp parasitic worms is 46.15 sp % in the calves, 19.23 % in the heifers, and 33.04 % in the cows. The heaviest prevalence of Oeshophagostomum Sp parasitic worms is in the PO cows.
312812907D1E011122HUBUNGAN ANTARA UKURAN TUBUH DENGAN BOBOT KARKAS DAN BOBOT KOMPONEN KARKAS PADA SAPI BRAHMAN CROSSTujuan untuk mengetahui mengetahui hubungan antara ukuran tubuh dengan bobot karkas dan bobot komponen karkas pada sapi Brahman cross. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dan percobaan lapang dengan menggunakan sampel 35 ekor sapi Brahman cross. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran tubuh sapi Brahman cross normal dan mempunyai korelasi yang positif dengan bobot karkas dan bobot komponen karkas. Semakin tinggi ukuran tubuh sapi Brahman cross maka semakin tinggi bobot karkas dan bobot komponen karkas.The purpose of this research is to determine the relationship between the body sizes with the weights of carcasses and carcass components of Brahman cross cattle. By applying survey and field trial method, this research utilizes 35 Brahman cross cattle as the sample. The results of this experiment show that the body size of Brahman cross cattle is normal and has a positive correlation with the weights of their carcass and carcass components. This experiment concludes that the higher the cattle’s body size, the heavier their carcasses and carcass components.
312912957G1A011027KORELASI UREA REDUCTION RATE DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISIS REGULER DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO
Latar Belakang. Penyakit Ginjal Kronik (PGK) adalah stadium akhir dari gangguan fungsi ginjal yang bersifat permanen, ditandai dengan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG) ≤ 60 mL/min/1,73 m2 selama 3 bulan atau lebih. Pasien harus menjalani hemodialisis karena ginjal tidak dapat mengeluarkan sisa-sisa metabolisme. Urea Reduction Rate (URR) merupakan salah satu alat ukur yang direkomendasikan untuk mengukur adekuasi hemodialisis. Adekuasi hemodialisis yang lebih baik akan lebih meningkatkan kualitas hidup dengan kaitan lebih sedikit komplikasi uremia pada berbagai organ tubuh dan menurunkan mortalitas pasien.
Tujuan. Mengetahui korelasi URR dengan kualitas hidup pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis reguler di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto.
Metode. Desain penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional dengan besar sampel 42 subyek penelitian. Penelitian ini menggunakan analisis bivariat uji korelasi Spearman.
Hasil. Terdapat korelasi bermakna antara URR dengan kualitas hidup (p<0,05; r= 0,371).
Kesimpulan. URR mempengaruhi kualitas hidup pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis reguler di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto.
Background. Chronic kidney disease is a permanent end-stage renal disorder, marked with a glomerular filtration rate (GFR) ≤ 60 mL/min/1,73 m2 for 3 months or more. Patients have to undergo hemodialysis because the kidney can not remove metabolism remnants. Urea Reduction Rate (URR) is one of measurement that is recommended to measure the adequacy of hemodialysis. Better hemodialysis adequacy will further improve the quality of life with fewer complications of uremia in various organs of the body and lower patient mortality.
Objective. To know the correlation between URR and quality of life in chronic kidney disease patients undergoing regular hemodialysis in RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto.
Design. The study design was observational analytic with cross-sectional approach and participated by 42 subjects. This study used bivariate analysis Spearman correlation test.
Results. There was significant correlation between URR and quality of life (p<0,05; r= 0,371).
Conclusion. URR affect quality of life in chronic kidney disease patients undergoing regular hemodialysis in RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto.
313012908D1F013011STUDI KUALITAS DEDAK PADI DI DAERAH PURWOKERTO DAN SEKITARNYA DITINJAU DARKARAKTERISTIK FISIK BERDASARKAN PHLOROGLUCINOL TEST DAN DAYA AMBANG Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kualitas dedak padi di Rice Mill, dan Poultry Shop di wilayah Purwokerto dan sekitarnya berdasarkan phloroglucinol test dan daya ambang. Materi penelitian yang digunakan adalah dedak padi sebanyak 40 kg yang diperoleh dari Rice Mill dan Poultry Shop, larutan pholoroglucinol 1 %. Penelitian dilakukan dengan metode sensus yaitu dengan memilih Poultry Shop dan Rice Mill yang ada di wilayah Purwokerto dan sekitarnya yaitu 10 Poultry Shop dan 10 Rice Mill. Peubah yang diukur yaitu tingkat perubahan warna dedak padi yang ditunjukan dengan phloroglucinol test dan daya ambang dedak padi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan nilai pholoroglucinol test dedak padi Rice Mill adalah 2,40 ± 0,17 dan Poultry Shop
adalah 3,25 ± 0,26. Rataan nilai daya ambang dedak padi Rice Mill 0,62 ± 0,18 m/detik dan Poultry Shop 0,97 ± 0,07 m/detik. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa nilai pholoroglucinol test dedak padi dan nilai daya ambang dedak padi terdapat perbedaan yang sangat nyata atau signifikan (P<0,01) antara dedak padi Rice Mill dan Poultry Shop. Berdasarkan karakteristik fisik pholoroglucinol test dan daya ambang dedak padi di Purwokerto dan sekitarnya dapat disimpulkan bahwa dedak padi Rice Mill lebih baik dibandingkan dedak padi Poultry Shop.
This study aimed to assess the quality of rice bran at Rice Mills and Poultry Shops in
Purwokerto region, based on phloroglucinol test and threshold’s power. This research used 40 kgs of rice bran from Rice Mill and Poultry Shop for the materials. The method was census design by taking 10 Rice Mills and 10 Poultry Shops in Purwokerto region. The parameter was a discoloration of the rice bran, which was measured by phloroglucinol test and threshold’s power. The results showed that the mean value of phloroglucinol test of rice bran was 2.40 ± 0.17 for Rice Mill, and 3.25 ± 0.26 for Poultry Shop. The mean value of threshold’s power of rice bran from Rice Mill was 0.62 ± 0.18 m/sec, while that from highly Poultry Shop was 0.97 ± 0.07 m/sec. The variant analysis
results showed that there were significant different scores (P<0,01) between phloroglucinol test and threshold’s power of the rice bran from Rice Mill and Poultry Shop. This study concludes that the rice bran of Rice Mill is better than of Poultry Shop in Purwokerto region, based on the physical quality and characteristics which were measured by phloroglucinol test and threshold’s power.
313112916A1C011028EFISIENSI SALURAN PEMASARAN PETAI DI KECAMATAN SOMAGEDE KABUPATEN BANYUMAS
(Studi Kasus di Desa Kemawi, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah)
Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi pengahasil petai terbesar di Indonesia dan Kabupaten Banyumas adalah salah satu daerah yang cocok untuk tumbuhnya petai. Desa Kemawi Kecamatan Somagede merupakan daerah penghasil petai di Banyumas. Namun kendala selama pemasaran petai Desa Kemawi salah satunya adalah adanya variasi saluran pemasaran. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Menghitung nilai marjin pemasaran petai di Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas (2) Menghitung bagian yang diterima petani (farmer’s share) pada pemasaran petai di Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas. (3) Menghitung besarnya bagian keuntungan dan biaya yang diterima dan dikeluarkan oleh masing-masing lembaga pemasaran berdasarkan pola saluran pemasaran yang terbentuk. (4) Menganalisis tingkat efisiensi ekonomis dan teknis masing-masing saluran pemasaran petai berdasarkan pola pemasaran yang terbentuk. Penelitian dilakukan dengan metode survei dengan rancangan pengambilan sampel Simple Random Sampling untuk petani petai dan Snowball Sampling untuk pedagang. Diperoleh 35 responden petani serta 15 responden pedagang. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif, marjin pemasaran, farmer’s share, keuntungan dan biaya pemasaran, dan analisa efisiensi teknis dan ekonomis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Terdapat tiga saluran pemasaran petai di Desa Kemawi Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas. Marjin pemasaran paling besar terdapat pada saluran I sebesar Rp1600,00/polong. (2) Farmer’s share terbesar terdapat pada saluran III sebesar 51,11 persen. (3) Persentase biaya pemasaran terkecil terdapat pada saluran III sebesar 13,66persen. Persentase keuntungan terbesar pada saluran pemasaran III sebesar 86,34persen. (4) Saluran pemasaran paling efisien secara teknis dan ekonomis yaitu saluran pemasaran III.

Central Java is one of the largest producers of petai in Indonesia, and Banyumas Regency is one of the areas that are suitable to grow for petai. Kemawi District of Somagede is producing areas of petai in Banyumas . However constraint for petai marketings in Kemawi village one of which is the variation of marketing channels. This research aims to (1) Evaluate the marketing margin of petai in the Village Kemawi District Somagede; (2) Evaluate the farmer’s share marketing channel of petai in the Village Kemawi District Somagede; (3) Evaluate the percentage of profits and costs of each seller in each marketing channel based marketing channel pattern that formed; (4) Analyzing the technical efficiency and economic efficiency of petai marketing channels in the Village Kemawi District Somagede. This research employed survey method in which used simple random sampling for petai producers, and snowball sampling for the sellers. The total numbers of petai producers are 35, and for the sellers are 15 respondents. Data analysis used descriptive analysis, margin analysis, the farmer’s share, profits and costs, the technical and economical efficiency. The result shows that (1) There are three kind marketing channels of petai Village Kemawi District Somagede. The most marketing margin founded in the I channel of Rp1.600,00 per pod (2) The farmer’s share is in channel III that is 51,11% (3) The lowest percentage of marketing price is channel III that is 13,66%, the highest profit percentage is channel III that is 86,34%; (4) The most efficient marketing channel in technically and economically contained in the marketing channel III.
Keywords: marketing efficiency, petai, Kemawi Village.
313212941H1D009050ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN KECELAKAAN PADA SEPEDA MOTOR
(Studi Kasus di Wilayah Purbalingga)
Sepeda motor adalah kendaraan roda dua yang digerakan oleh mesin. Tingginya angka kepemilikan sepeda motor di Kabupaten Purbalingga juga membuat angka kecelakaan yang melibatkan kendaraan sepeda motor di Kabupaten Purbalingga sangat tinggi. Pada kecelakaan yang melibatkan kendaraan sepeda motor memiliki faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kecelakaan sepeda motor yaitu faktor manusia, faktor kendaraan, faktor jalan dan faktor lingkungan.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan analisis regresi linear berganda metode analisis langkah-demi-langkah atau yang dikenal dengan metode step-wise. Dalam proses ini terdapat dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas diperoleh hasil wawancara terhadap korban kecelakaan lalu lintas yang melibatkan kendaraan sepeda motor, sedangkan variabel terikat merupakan faktor-faktor kecelakaan lalu lintas yang melibatkan kendaraan sepeda motor.
Model faktor-faktor kecelakaan terhadap sepeda motor terbaik berdasarkan metode step-wise tipe -1 adalah Y = 1,766 + 0,238X1 + 0,424X5 dengan R2 = 0,542 dengan X1 = Kurang konsentrasi dan X5 = kecepatan tinggi . Model faktor-faktor kecelakaan terhadap sepeda motor berdasarkan metode step-wise tipe -2 adalah Y = 1,290 + 0,269X1 + 0,181X3 + 0,418X¬5 dengan R2 = 0,622 dengan X1 = Kurang konsentrasi, X3 = tidak tertib dan X¬5 = kecepatan tinggi.
Pada penelitian ini upaya keselamatan jalan yang disesuaikan melalui hasil analisis regresi linier metode stepwise yang didapatkan yaitu dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat, menambah rambu-rambu lalu lintas dijalan raya, dan memberi pita kejut di ruas jalan.
Motorcycle are two wheeled vehicle which is driven by the engine. The high number of motorcycle ownership in Purbalingga also made number of accindents involving motorcycle in Purbalingga very high. In the accidents involving motorcycles have factors that cause motorcycle accidents in the human factor, vehicle factor, the road factor and environmental factors.
This research was conducted by using multiple linier regression analysis method of step by step, known as a step-wise method. In this process there are two variables are independents variables and the dependent variable. The independent variable obtained results of interviews with victim of traffic accidents involving motorcycles, while the dependent variable is the factor of traffic accidents involving motorcycles.
Model factors with the best motorcycle accident based on a step-wise method tye-1 is Y = 1,766 + 0,238X1 + 0,424X5 with R2 = 0,542 with X1 = less concentration and X5 = high speed. Model factors for motorcycle accidents based method of step-wise type of – 2 is Y = 1,290 + 0,269X1 + 0,181X3 + 0,418X5 with R2 = 0,622 with X1 = less concentration, X3 = disoderly and X5 = High speed.
In this research effort adapted road safety through a linear regression analysis results obtained stepwise method is to educate more people, adding to the traffic signs on the highway, and giving ribbon shock on roads.
313312909H1E011002PENERAPAN METODE TRANSFORMASI RADON DAN FILTER
F-K UNTUK ATENUASI MULTIPEL PADA DATA SEISMIK 2D MULTICHANNEL DI PERAIRAN LAUT SERAM, PAPUA BARAT
Multipel merupakan noise pada data seismik yang terjadi akibat perulangan sinyal refleksi yang terjebak diantara lapisan air laut maupun lapisan batuan lunak. Data seismik yang baik hanya mengandung refleksi primer dan memiliki signal to noise rasio yang tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengatenuasi multipel sehingga sinyal reflektor akan lebih jelas dan struktur penampang bawah permukaan laut menjadi baik. Metode untuk menghilangkan multipel yang digunakan yaitu transformasi Radon dan filter F-K. Metode transformasi Radon dilakukan dengan cara merubah data seismik dari domain waktu – offset (t - x) ke dalam domain intercept time – parameter sinar moveout (tau – p). Sedangkan metode filter F-K dilakukan dengan cara merubah data seismik dari domain waktu – offset (t - x) ke dalam domain frekuensi dan bilangan gelombang (F-K). Hasil yang diperoleh menunjukkan metode transformasi Radon mengakibatkan reflektor multipel melemah dan berkurang setelah dilakukan muting dalam domain Radon (tau – p) terhadap area yang mengandung multipel. Sedangkan metode filter F-K menunjukkan sinyal reflektor primer menjadi lebih jelas tetapi filter F-K kurang maksimal untuk mengatenuasi multipel.
Multiple is noise on seismic data that happened because the looping reflections signal was trapped between layers of sea water and soft rock layer. A good seismic data is just containing reflection primer and have a high signal to noise ratio. The purpose of this study is attenuate multiple so reflectors signals will be clearly and the structure of the cross section below sub surface to be better. It used Radon transform and F-K Filter. Radon transform method changes the seismic data from time-offset domain (t - x) into intercept time – moveout ray parameter domain (τ – p). While F-K method changes the seismic data from time-offset domain (t - x) into Frequency - wave number domain (F-K). The result shows the Radon transform method cause the reflectors of multiple was weakened and reduced after the muting in the domain of Radon (τ – p) to an area which containing multiple. While the F-K filter method shows the primer reflector become more clearly but F-K filter insufficient to attenuate multiple.
313412910G1A011086HUBUNGAN ANTARA FREKUENSI KEJADIAN DIARE AKUT DENGAN PERTUMBUHAN BALITA USIA 2 – 3 TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS RAWALOLatar Belakang : Diare akut adalah keadaan seseorang mengalami defekasi dengan konsistensi lembek hingga cair dan/atau frekuensi lebih dari 3 kali sehari. Sebanyak 1.7 milyar orang di dunia menderita diare akut pertahunnya. Diare dapat menyebabkan gangguan penyerapan nutrisi, yang merupakan faktor penting pertumbuhan. Dapat pula menyebabkan penurunan nafsu makan dan gangguan pencernaan, sehingga menurunkan penyerapan nutrisi.
Tujuan : Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan frekuensi kejadian diare akut dengan pertumbuhan balita usia 2-3 tahun di wilayah kerja Puskesmas Rawalo.
Metodologi : Desain studi yang digunakan yaitu observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel yang digunakan adalah balita usia 2 – 3 tahun yang tinggal di wilayah kerja Puskesmas Rawalo. Metode sampling yang digunakan yaitu consecutive sampling.
Hasil : Hasil analisis dengan menggunakan uji korelasi Spearman dan Pearson didapatkan adanya hubungan yang signifikan antara frekuensi kejadian diare akut dengan pertumbuhan anak (p < 0.05), dengan korelasi sangat kuat pada z-score BB/TB (r = -0.876) dan BB/U (r = -0.821) namun lemah pada TB/U (r = -0.317). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tinggi badan ibu dan berat badan lahir anak dengan pertumbuhan anak (p > 0.05).
Kesimpulan : Diambil kesimpulan bahwa terdapat hubungan antara frekuensi kejadian diare akut dengan pertumbuhan anak, dan tidak terdapat hubungan antara tinggi badan ibu dan berat badan lahir anak dengan pertumbuhan anak.
Background : Acute diarrhea is condition of a person experiencing defecation with soft to liquid consistency, and/or frequency of more than 3 times per day. About 1.7 billion people in the world suffer from acute diarrhea annually. Diarrhea can cause impaired absorption of nutrients, which is an important factor of growth. Diarrhea can also cause decreased appetite and indigestion, thus decreasing the absorption of nutrients.
Objective : The purpose of this study was to determine relationship between frequency of occurrence acute diarrhea with growth in 2-3 year children.
Methods : This study design is observational analytic with cross sectional approach. The samples used were of 2-3 year children who lived in Puskesmas Rawalo working area. The sampling method used is consecutive sampling.
Results : Results of analysis using Spearman and Pearson corelasion test, found a significant association between frequency of acute diarrhea occurrence with growth in children (p < 0.05), with a very strong correlation to the z-score W/H (r = -0.876) and BB/U (r = -0.821) but weak on H/A (r = -0.317). There was no significant association between mother’s height and birth weight with growth of children (p > 0.05).
Conclusion : Conclude that there is a relationship between frequency of acute diarrhea occurrence with child growth, and there is no relationship between maternal height and birth weight with growth.
313512911F1B008089EVALUASI IMPLEMENTASI PROGRAM JAMINAN PERSALINAN DI PUSKESMAS I SOKARAJA KECAMATAN SOKARAJA KABUPATEN BANYUMASAdanya ketidakselarasan antara jumlah tenaga medis dan fasilitas kesehatan dalam mempengaruhi jumlah kematian bayi di Kecamatan Sokaraja serta dengan tingginya angka kematian bayi yang terjadi di Puskesmas Sokaraja I dibandingkan Puskesmas II Sokaraja. Melihat kondisi tersebut, maka penelitian ini mengkaji tentang evaluasi implementasi program jaminan persalinan di puskesmas I Sokaraja Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas dilihat dari aspek kepastian, kepuasan dan survivalitas. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan menggunakan model analisis interaktif. Teknik pemilihan informan menggunakan purposive sampling. Hasil penilitian ini dibagi menjadi tiga aspek umum yaitu kepastian, kepuasan, dan survivalitas. Aspek kepastian pelaksana dalam memberikan pelayanan yang maksimal dirasa sudah cukup baik dalam masyarakat. Ditunjang dengan komtimen pihak pelaksana yang sadar akan tujuan dari program Jampersal tersebut. Sedangkan dari aspek kepuasan terdapat beberapa faktor ketidakpuasan yang terjadi yaitu, pencairan dana klaim yang lamban, aturan kepesertaan yang kurang jelas, pemilihan alat kontrasepsi yang hanya menggunakan metode kontrasepsi jangka panjang serta adanya pelayanan teknis pemasangan alat kontrasepsi yang belum maksimal. Sementara dari segi survivalitas program Jampersal tidak bisa bertahan dikarenakan program tersebut memang didisain sebagai program percepatan untuk menekan tingkat perkembangan AKI dan AKB. Hal yang diharapkan setelah program Jampersal tersebut sudah tidak diberlakukan kembali yaitu adanya kesadaran masyarakat tentang pentingnya KB dengan menggunakan MKJP sudah berpengaruh terhadap kelompok ibu hamil dan nifas. Adanya peningkatan penggunaan alat kontrasepsi IUD dan Implan setelah program Jampersal tersebut sudah menunjukan bahwa urgensi dari program Jampersal sudah berdampak di masyarakat khususnya kelompok ibu hamil dan nifas.The existence of unconformity between the number of medical workers and health facilities in influencing infant mortality in Sub Sokaraja as well as the high number of infant deaths that occurred in Puskesmas Sokaraja 1 compared with Puskesmas II Sokaraja. Seeing these conditions, this study examines the evaluation of policy implementation guarantees deliveries in health centers Sokaraja 1 Sokaraja District of Banyumas seen from the aspect of certainty, satisfaction and survivality. This study uses descriptive qualitative research method using an interactive model. Selection techniques informants using purposive sampling. Results of this research are divided into three general aspects, namely certainty, satisfaction, and survivalitas. Implementing certain aspects in delivering superior service thats good enough in the community. Supported by implementing the commitments are aware of the purpose of the Jampersal policy. While aspects of satisfaction, there are several factors that occur are discontent, disbursement claim sluggish, the membership rules are not clear, the election of contraceptives that only long-term contraceptive methods as well as the technical service installation of contraceptives is not maximized. While in terms of policy survivalitas Jampersal can not survive because the policy was designed as an acceleration policy to suppress the level of development of mother mortality rate and infant mortality rate. It is expected after the Jampersal policy has not reintroduced, namely the existence of public awareness about the importance of family planning by using Long term contraception method has an effect on pregnant women and postpartum group. There is an increasing use of IUDs and contraceptive implants after the Jampersal policy has shown that the urgency of Jampersal policy has an impact on the community, especially the group of pregnant women and childbirth.
313612917A1L011165PERANAN LARUTAN PULSING UNTUK MEMPERPANJANG MASA KESEGARAN BUNGA POTONG GERBERA (Gerbera jamessonii) Pertumbuhan penduduk dan perekonomian dalam negeri memunculkan kebutuhan bunga potong dalam negeri semakin meningkat. Salah satu jenis bunga potong yang banyak diminta pasar adalah gerbera. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh germisida dan asam sitrat yang optimal terhadap kesegaran bunga potong gerbera dan mengetahui pengaruh konsentrasi sukrosa yang optimal terhadap masa kesegaran bunga potong gerbera.
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Agronomi Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman pada bulan Maret sampai April 2015. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 ulangan. Faktor pertama adalah konsentrasi germisida aluminium sulfat yaitu akuades (tanpa penambahan bahan kimia); Akuades + Aluminium sulfat 50 ppm + Asam sitrat 100 ppm; Akuades + Aluminium sulfat 100 ppm + Asam sitrat 100 ppm; dan Akuades + Aluminium sulfat 150 ppm + Asam sitrat 100 ppm. Faktor kedua adalah konsentrasi gula yaitu konsentrasi gula 0% (kontrol), 10%, 20%, dan 30%. Variabel yang diamati adalah saat bunga layu, masa kesegaran, diameter mahkota, diameter tangkai, volume holding terserap, dan volume pulsing terserap.
Hasil penelitian menunjukkan perlakuan pemberian germisida aluminium sulfat 50 ppm dan asam sitrat 100 ppm memberikan pengaruh yang nyata dalam menyerap larutan holding hingga 9,54 ml sehingga bunga lebih lama mekar 9,31 hari. Perlakuan pemberian konsentrasi gula 0% memberikan pengaruh yang sangat nyata sehingga mampu bertahan hingga layu sampai 9,38 hari, masa kesegaran bunga mampu bertahan sampai 11,36 hari, dan pemberian konsentrasi gula 20% memberikan pengaruh yang nyata mampu menyerap larutan pulsing hingga 1,73 ml sehingga mampu bertahan hingga layu sampai 6,5 hari; masa kesegaran bunga mampu bertahan sampai 7,69 hari.
Population growth and the domestic economy led to an increased need for domestic cut flower. One of many types of cut flowers that requested market is gerbera. This study aims to determine the effect of germicides and the optimal sucrose concentration, and determine the effect of interaction composition preservative solutions to the freshness period of Gerbera cut flowers.
Research conducted at the Agronomy Laboratory, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University from March to April 2015. The research using completely randomized design (CRD) with four replications. The first factor is the concentration of aluminum sulfate germicides such as control (without addition of chemicals); distilled water + aluminium sulfate 50 ppm + citric acid 100 ppm; distilled water + aluminium sulfate 100 ppm + citric acid 100 ppm; and distilled water + 150 ppm aluminium sulphate + citric acid 100 ppm. The second factor is sugar concentration such as control (without addition sugar), 10%, 20%, and 30%.The variables observed were flowers began to wilt, the period of freshness of flowers, crown diameter, stem diameter, total of holding absorbed, and total pulsing abosrbed.
The results showed germicides treatment of aluminum sulfate 50 ppm and 100 ppm citric acid gives significant effect in adsorbsing holding solution up to 9,54 ml so flowers bloom longer up to 9,31 days. Treatment of sugar concentration 0% gives very significant effect that can survive until wilted to 9,38 days and the period of freshness of flowers can last up to 11,36 days. Treatment of sugar concentration 20% gives significant effect in adsorbsing pulsing solution up to 1,73 ml so can survive until wilted up to 6,5 days and the period of freshness of flowers can last up to 7,69 days.
313712912H1L011050IMPLEMENTASI WEB SEMANTIK PADA PENCARIAN INFORMASI PARIWISATA KABUPATEN BANYUMASPerkembangan teknologi informasi yang sangat pesat dalam berbagai bidang menuntut semua industri yang ada di Indonesia untuk dapat mengikutinya, tidak terkecuali pada bidang pariwisata yang ada di Kabupaten Banyumas. Pariwisata berbasis teknologi informasi dikenal sebagai e-tourism. Permasalahan perkembangan pariwisata di Kabupaten Banyumas adalah belum optimalnya informasi yang diberikan pada wisatawan.
Penelitian ini menkaji pengembangan pariwisata berbasis teknologi informasi di Kabupaten Banyumas dan bagaimana pemanfaatan web semantik untuk membantu memecahkan permasalahan yang ada. Teknologi web semantik pada pengembangan pariwisata Kabupaten Banyumas dapat menjadi solusi masalah pada pengembangan pariwisata Kabupaten Banyumas. Dengan langkah awal membuat suatu ontologi pariwisata, sebagai dasar dari sistem informasi yang akan dikembangkan. Kemudian agar dimengerti oleh sistem maupun user diperlukan OWL (Ontolgy Web Language) agar informasi dapat terintegrasi dengan baik. Web Semantik Pencarian Informasi Pariwisata Kabupaten Banyumas dibuat menggunakan bahasa pemrograman PHP Hypertext Preprocessor (PHP) dan menggunakan rap librabry untuk menghubungkan ontologi dengan sistem yang dibuat.
The development of information technology is a very rapidly in many fields demanding all industries in Indonesia to be able to follow it, is no exception in the field of tourism, Banyumas Regency. Tourism information-based technology known as e-tourism. Problems of the development of tourism in Banyumas Regency are not yet optimal information provided on tourists.
These studies examine information technology-based tourism development in the District of Banyumas and how utilization of semantic web to help solve the existing problems. Semantic web technologies on the development of tourism can be a solution Banyumas Regency problems on developing tourism County of Banyumas. With the initial steps to create a tourism ontology, as the basis of the information system will be developed. Then in order to be understood by the user as well as the necessary system OWL (Ontolgy Web Language) so that the information can be integrated with either. Semantic Web Search Banyumas Regency tourism information created using the programming language PHP Hypertext Preprocessor (PHP) and using Ontology to attribute the librabry of rap with the system are made.
313812913H1L011017SISTEM PAKAR IDENTIFIKASI
JENIS TANAH DAN KESESUAIAN LAHANNYA
DENGAN METODE FORWARD CHAINING
BERBASIS WEBSITE
Dalam bidang pertanian, tanah diartikan sebagai media tumbuhnya tanaman. Tanah memiliki karakteristik yang berbeda-beda di setiap tempatnya, hal tersebut tentunya dapat mempengaruhi ekosistem disekitarnya, khususnya untuk menentukan jenis tanaman yang cocok untuk ditanam. Saat ini penetuan jenis tanaman yang sesuai ditanam pada suatu lahan masih dilakukan secara manual, yaitu membandingkan data-data yang ada dilapangan dengan kriteria kesesuaian lahan tanaman tertentu, tentunya hal ini membutuhkan waktu, tenaga yang lama dan biaya yang cukup besar. Selain itu kurangnya pengetahuan serta pemahaman tentang kondisi lahan atau tanah yang akan diolah dapat mengakibatkan terjadi gagal panen dikemudian hari.
Dengan mengandalkan kemajuan di bidang teknologi dan informasi, kiranya perlu adanya pembuatan sebuah “Sistem Pakar Identifikasi Jenis Tanah dan Kesesuaian Lahannya dengan Metode Forward Chaining Berbasis Website” yang dapat digunakan oleh para pelaksana pertanian dalam mengidentifikasi kesesuaian lahan untuk tanaman tertentu yang sebaiknya dibudidayakan pada saat masa tanam. Sistem pakar ini menggunakan 20 parameter untuk menentukan keseuaian lahan, termasuk parameter fisik dan kimia, serta faktor alam. Perancangan sistem pakar ini menggunakan kaidah produksi sebagai metode representasi pengetahuan serta metode infrensi forward chaining yang memulai pencarian dari data menuju pada konklusi, drngan mencocokan ciri-ciri lahan di lapangan. Luaran yang diharapkan adalah suatu aplikasi sistem pakar yang dapat memberikan informasi jenis tanaman tertentu berdasarkan kesesuaian lahannya, serta memberikan informasi cara tanam yang baik. Sistem Pakar Identifikasi Jenis Tanah dan Kesesuaian Lahannya dengan Metode Forward Chaining Berbasis Website dibuat menggunakan bahasa pemrograman PHP Hypertext Preprocessor (PHP) dan MySQL sebagai tempat penyimpanan basisdata.
In the field of agriculture, the growing media is defined as land plants. The ground has different characteristics in each place, it certainly can affect surrounding ecosystems, in particular to determine the types of plants that are suitable for planted. In this moment determining of the types of plant is still manually, that is comparing existing data in field of land suitability criteria of certain crops, of course this is need a long time, effort, and to much cost. In addition to the minus knowladge and understanding about the condition of the land will be result in a failed harvest occurs in the future.
By relying on advances in technology and information, may the need for the creation of an “Expert System Identification of The Type Soil and Compatibility For Land Based on Forward Chaining Method” that can be used by implementing the argiculture in indentifying the suitability of land for spesific plant should be cultivation at the time of planting. This expert system using 20 parameters to determine the compatibility of land, including the physical and chemical parameters, as well as natural factors. The design of the expert system uses method of production rule as a method of knowledge representation and forward chaining method that start the search of the data led to the conclusion, by matching the characteristic of land use in the field. Expected outcomes is an expert system application that can give a certain type of plant information based on the compatibility of the land, as well as providing information on how a good cropping. Expert system of identification of type soil and compatibility for soil based on forward chaining method created using the programming language PHP Hyertext Preprocessor (PHP) and MySQL as database storage.
313912914D1E011143PENGARUH FLUSHING TERHADAP PBBH, LINGKAR DADA, PANJANG BADAN, DAN TINGGI BADAN PADA KAMBING LOKALTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh flushing terhadap pertambahan bobot badan harian, panjang badan, tinggi badan dan lingkar dada pada kambing lokal. Delapan belas ekor kambing Jawarandu dengan bobot badan awal ± 25 kg di acak dalam kandang dengan 3 perlakuan yaitu non flushing energi 1,02 Mkal/kgME, flushing energi 1,97 Mkal/kgME, dan flushing energi 2,09 Mkal/kgME, dengan 6 ulangan pada setiap perlakuan. Peubah yang diamati adalah pertambahan bobot badan harian (PBBH), panjang badan, tinggi badan dan lingkar dada.Data yang diperoleh dianalisis dengan rancangan acak lengkap.Hasil analsis menunjukan bahwa flushing berpengaruh terhadap pertambahan bobot badan harian (PBBH) dan lingkar dada (P<0.05).Namun tidak berpengaruh nyata pada panjang badan dan tinggi badan (P>0.05). Nilai rata rata tertinggi pertambahan bobot badan harian terdapat pada kelompok flushingenergi 2,09 Mkal/kgME, begitu pula lingkar dada tertinggi pada kelompok flushing energi 2,09 Mkal/KgME.Dapat disimpulkan bahwa flushing pada kambing jawarandu dapat meningkatkan pertambahan bobot badan harian dan lingkar dada..The purpose of this research is to determine the flushing effects on the daily gain of weight, length, height and girth of local goats. Eighteen Jawarandu goats, each of which initially weighed ± 25 kg, have been randomly sheltered and treated with three different procedures, which are non flushing energy of 1,02 Mkal/kgME, flushing energy of 1,97 Mkal/kgME, and flushing energy of 2,09 Mkal/KgME, with 6 replications on each procedur. The daily gain of body weight (PBBH), length, height, and girth are the variables being measured. Data were analyzed with the Completely Randomized Design. The results of the analysis show that the flushing has had a significant effect (P<0.05) on the daily gain of their weight and girth, however, not on their body length and height. The highest average of the daily gain of weight and girth is in the group treated with energy flushing 2.09Mkal / KgME. This research, therefore, concludes that flushing on Jawarandu goats can increase their daily gain of weight and girth.
314012915D1E011179PENGARUH FLUSHING TERHADAP KONSENTRASI HORMON ESTROGEN DAN PROGESTERON SELAMA BERAHI PADA KAMBING LOKALTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh flushing terhadap konsentrasi estrogen dan progesteron saat birahi. Materi yang digunakan adalah 18 ekor kambing Jawarandu dengan kriteria sudah beranak satu kali dengan siklus birahi normal. Kambing Jawarandu dengan bobot badan awal ± 25 kg di acak dalam kandang dengan 3 perlakuan yaitu non flushing energi 1,02 Mkal/kgME, flushing energi 1,97 Mkal/kgME, dan flushing energi 2,09 Mkal/kgME, dengan 6 ulangan. Seluruh kambing disinkronisasikan dengan menggunakan larutan PGF2α. Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah kosentrasi hormon estrogen dan progesteron pada saat ternak menunjukkan berahi. Data dianalisis secara deskriptif. Koleksi serum darah untuk pemeriksaan kadar estrogen dan progesteron diambil pada saat birahi. Analisis hormon menggunakan metode Enzyme Linked Immunoabsorbant Assay (ELISA). Hasil analisis estrogen dan progesteron pada saat birahi pada masing-masing perlakuan adalah 12,67 ± 0,50; 19,15 ± 0,24; 19,41 ± 1,14 pg/ml dan 0,32 ± 0,04; 0,46 ± 0,027; 0,49 ± 0,02.The purpose of this research is to determine the effect of flushing feeding on Estrogen and Progesterone Concentration during their estrus. The materials used for this research are 18 Jawarandu female goats that have given birth once and clinically in good condition. They, each of which initially weighed ± 25 kg, have been randomly sheltered based 3 diferent treatments, which are non flushing energy 1,02 Mkal/kgME, flushing energy 1,97 Mkal/kgME, and flushing energy 2,09 Mkal/KgME, with 6 replications. The parameter measured is the Concentration of Estrogen and Progesterone during estrus. The goat have been synchronized by utilizing the PGF2α hormone. Data have been analyzed descriptively. The Collection of serum indicating the levels of estrogen and progesterone are taken at the time of estrus. The hormone analysis use Enzyme Linked Immunoabsorbant Assay (ELISA) method. The results of the analysis of estrogen and progesterone during estrus in each treatment are 12,67 ± 0,50; 19,15 ± 0,24; 19,41 ± 1,14 pg/ml dan 0,32 ± 0,04; 0,46 ± 0,027; 0,49 ± 0,02.