Artikelilmiahs
Menampilkan 2.341-2.360 dari 48.726 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 2341 | 12100 | A1L011034 | PENGUJIAN ASAP CAIR KAYU PINUS, LIMBAH NILAM DAN KOMBINASINYA TERHADAP ULAT KROP KUBIS Crocidolomia pavonana | Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui kemempanan asap cair pinus, limbah nilam dan kombinasinya terhadap mortalitas, pembentukan pupa, berat pupa dan kemunculan imago ulat kubis C.pavonana dan 2) mengetahui sifat repelensi asap cair pinus, limbah nilam dan kombinasinya terhadap imago atau serangga dewasa C.pavonana. Penelitian dilaksanakan dari bulan Januari 2015 sampai Mei 2015 di Laboratorium Perlindungan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yaitu melakukan pengujian dengan uji kontak, uji residu dan uji repelensi. Pada uji kontak dan residu, masing-masing pengujian terdiri dari 8 perlakuan dan 4 kali ulangan, sedangkan pada uji repelensi pengujian terdiri dari 4 pelakuan dengan 7 kali ulangan. Variabel yang diamati adalah mortalitas larva, persentase pembentukan pupa, berat pupa, persentase kemunculan imago dan sifat repelensi. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan yang digunakan tidak berpengaruh nyata terhadap mortalitas larva, pembentukan pupa dan kemunculan imago C.pavonana, sedangkan pada uji repelensi perlakuan menggunakan asap cair kayu pinus, limbah nilam dan kombinasinya dengan konsentrasi 15%, mempunyai kemampuan untuk menolak atau repelen terhadap imago C.pavonana. | This research aimed to: 1) determine potency of pine wood liquid smoke, patchouli waste and their combination to mortality, formed pupae, pupal weight and emergence imago’s C.pavonana cabbage caterpillar and 2) determine the nature of repellency pine wood liquid smoke, patchouli waste and their combination of imago’s C.pavonana. The research was conducted from January 2015 until May 2015 in the Laboratory of Plant Protection, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, Purwokerto. The experimental design used Completely Randomized Design (CRD) and used contact test, residual test and repellency test. On contact and residual test, each test consisted of 8 treatment and 4 replications, while on the repellency test consisted of 4 treatment and 7 replications. The measured variables were larval mortality, the percentage of formed pupae, pupal weight, the percentage of emergence imago’s, and repellency properties. The results showed that the treatment used had no significant effect on larval mortality, formed pupae and emerged of imago’s. While in the repellency test with liquid smoke pine wood, patchouli waste and their combination treatment in 15% concentration, was repellent against imago’s C.pavonana. | |
| 2342 | 12099 | A1C010063 | KAJIAN FINANSIAL USAHATANI KEDELAI LAHAN KERING DALAM PROGRAM PAT (PERLUASAN AREAL TANAM) DI KECAMATAN KALIBAGOR KABUPATEN BANYUMAS | Desa Srowot dan Kalicupak Kidul Kecamatan Kalibagor Kabupaten Banyumas merupakan salah satu daerah yang melaksanakan program PAT kedelai di lahan kering. Sebagian besar petani kedelai belum mengetahui apakah secara finansial usahatani kedelai lahan kering yang dijalankan sudah menguntungkan atau belum dan berapa tingkat keuntungan yang diperoleh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) Karakteristik usahatani kedelai lahan kering program PAT di Kecamatan Kalibagor Kabupaten Banyumas, 2) Biaya yang dikeluarkan dan pendapatan yang diterima, 3) Kelayakan usahatani kedelai lahan kering. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Srowot dan Kalicupak Kidul Kecamatan Kalibagor Kabupaten Banyumas pada bulan Desember 2014 sampai Januari 2015. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode survai. Pengambilan data secara sensus dengan jumlah responden sebanyak 57 petani. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis biaya dan pendapatan dan analisis R/C rasio. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik usahatani kedelai program PAT di Kecamatan Kalibagor yaitu tujuan utama penanaman karena adanya bantuan saprodi dari program PAT, teknologi yang digunakan konvensional, pengelolaan bersifat sederhana, tingkat pendidikan petani rendah, pola tanam monokultur dengan dua atau tiga musim tanam dalam setahun. Namun, keberlangsungan program ini kurang diminati oleh petani karena penerimaan usahatani kedelai lebih kecil dibandingkan dengan penerimaan usahatani tanaman lain. Rata-rata biaya usahatani kedelai perhektar Rp8.634.802,36. Rata-rata produksi 1.327,22 kg/Ha/musim tanam, rata-rata penerimaan Rp9.954.126,09, sehingga rata-rata pendapatan satu kali musim tanam sebesar Rp1.319.323,73. Usahatani kedelai lahan kering di Kecamatan Kalibagor Kabupaten Banyumas sudah layak diteruskan karena nilai R/C Rasio 1,15. | Srowot and Kalicupak Kidul village in Kalibagor District of Banyumas Regency is one of the areas that implement PAT programs in dryland soybean. Most soybean farmers do not know yet whether financially dry land soybean farming already profitable or not and how many profit can be achieved from this farming. This study aims to determine: 1) The characteristics of dry land soybean farming in PAT program in Kalibagor District, Banyumas Regency, 2) The cost and the revenue, 3) The feasibility of dry land soybean farming. This research is conducted in Srowot and Kalicupak Kidul village, Kalibagor District, Banyumas Regency at December 2014 until January 2015. The method used for this research is survey. Data is taken by census method with 57 farmers. The data were analyzed using descriptive analysis, analysis of cost and revenue, and analysis of R/C Ratio. The results showed characteristics of soybean farming in the PAT program Kecamatam Kalibagor are the main purpose of planting because of the saprodi support from PAT program. The technology used conventional, management is simple, farmer education level remains low, and monoculture cropping with two or three planting seasons in a year. However, the sustainability of this program less attractive to farmers because of smaller soybean farm revenue compared to other crops farm revenue. The average cost of soybean farming dry land per hectare for Rp8.634.802,36. Average production of 1327.22 kg/Ha season, the average revenue of Rp9.954.126,0, so that the average income in one season Rp1.319.323,73. Soybean farming dry land in the Kalibagor District Banyumas Regency already qualified to be operated because the value of R/C ratio is 1.15. | |
| 2343 | 12104 | E1A010074 | KEWENANGAN PENEGAKAN HUKUM DISIPLIN MILITER DI LINGKUNGAN TNI ANGKATAN DARAT (Studi Di wilayah Teritorial Korem 071/Wijayakusuma) | Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2014 Tentang Hukum Disiplin Militer berlaku bagi militer dan juga setiap orang yang berdasarkan undang-undang dipersamakan dengan militer dan dibuat untuk mengatur, membina, menegakkan disiplin, dan tata kehidupan yang berlaku di militer. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif. Data yang dikumpulkan menggunakan metode studi kepustakaan dan wawancara. Lokasi penelitian ini dilakukan di Komando Resort Militer (Korem) 071/Wijayakusuma, Detasemen Polisi Militer (Denpom) IV/I Purwokerto, dan UPT Oditurat Militer (OTMIL) II/II Purwokerto. Kewenangan penegakan hukum disiplin militer dapat melibatkan banyak pihak yaitu Atasan yang berhak menghukum (Ankum), Perwira Penyerah Perkara (Papera), Dewan Pertimbangan dan Pengawasan Disiplin Militer (DPPDM), Oditur Militer , Polisi Militer (PM), dan termasuk juga Provos di setiap kesatuan. Kewenangan yang dimiliki dan diperoleh berbeda satu dengan yang lainnya, ada kewenangan yang diperoleh secara atribusi, delegasi, maupun mandat. Dalam penerapan hukum disiplin selain berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2014 Tentang Hukum Disiplin Militer juga berdasarkan Peraturan Panglima TNI dan Peraturan Kepala Staf Angkatan Darat. Peraturan pelaksana dari Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2015 Tentang Hukum Disiplin Militer berupa Peraturan Panglima maupun Peraturan Kepala Staf Angkatan Darat merupakan peraturan pelaksana dari Undang-Undang Hukum Disiplin yang lama yaitu Undang-Undang Nomor 26 Tahun 1997 Tentang Hukum Disiplin Prajurit Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, sehingga perlu di buat peraturan pelaksana yang baru sesuai dengan undang-undang hukum disiplin yang baru (Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2014 Tentang Hukum Disiplin Militer). | Law No. 25 of 2014 on the Law of Military Discipline applied to the military and any person who by law equated with the military and made to organize, nurture, discipline, and procedures that apply in the military life. This research uses normative juridical method. Data were collected using the method of literature study and interviews. Location of this research is done in the Military Resort Command (Korem) 071 / Wijayakusuma, Military Police Detachment IV/I Purwokerto, and Technical Service Unit of Military Prosecutor II/II Purwokerto. Law enforcement authority of military discipline can involve many parties, they are Superiors Entitled to Punish (known as Ankum), Officers Submitters Case (known as Papera), Supervisory Board Consideration and Military Discipline, Military Prosecutors, Military Police (MP), and including Provost at each unit. The authority possessed and obtained is different from one another, there is authority obtained by attribution, delegation, or mandate. The application of discipline law is not only based on Law No. 25 of 2014 on the Law of Military Discipline, but also based on the rules and regulations of Indonesian National Armed Forces Commander and Army Chief of Staff. Implementing regulations of Law No. 25 of 2015 on the Law of Military Discipline formed regulation of Indonesian National Armed Forces Commander and Army Chief of Staff rules are the implementing regulations of the earlier law discipline, namely Law No. 26 of 1997 on the law discipline soldiers of the armed forces of the Republic Indonesia, that need to be made new implementing regulations in accordance with the laws of the new disciplinary law (Law No. 25 of 2014 on the Law of Military Discipline). Keywords: Indonesian National Armed Forces, Authority, Discipline law enforcement. | |
| 2344 | 12105 | A1C011020 | Efisiensi Pemasaran Gula Kelapa Cetak di Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas | Kabupaten Banyumas merupakan daerah sentra tanaman kelapa dan penghasil gula kelapa yang sangat potensial di Jawa Tengah atau bahkan di Indonesia. Kecamatan Cilongok merupakan daerah penghasil gula kelapa terbesar di Kabupaten Banyumas dengan jumlah produksi sebesar 48.963 kilogram per hari. Pembuatan gula kelapa merupakan suatu usaha untuk meningkatkan nilai tambah produk tanaman kelapa. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mengetahui pola saluran pemasaran gula kelapa cetak di Kecamatan Cilongok, (2) Mengevaluasi marjin pemasaran gula kelapa cetak pada setiap saluran pemasaran di Kecamatan Cilongok, (3) Mengevaluasi bagian harga yang diterima oleh produsen (produsen share), persentase biaya dan keuntungan setiap lembaga pemasaran, (4) Mengevaluasi besarnya profit marjin yang diterima oleh masing-masing pedagang pada setiap saluran pemasaran (5) Mengetahui saluran pemasaran gula kelapa cetak di Kecamatan Cilongok yang paling efisien secara teknis dan ekonomis. Penelitian dilakukan dengan metode survey dengan rancangan pengambilan sampel Simple Random Sampling untuk pengrajin gula kelapa dan Snowball Sampling untuk pedagang dan diperoleh 45 responden pegrajin gula serta 22 responden pedagang. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif, marjin pemasaran, produsen share, profit marjin, analisis efisiensi teknis dan ekonomis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Saluran pemasaran gula kelapa cetak di Kecamatan Cilongok meliputi tiga saluran pemasaran: Saluran I yaitu pengrajin gula – pedagang pengumpul – pedagang besar – pedagang pengecer – konsumen, saluran II yaitu pengrajin gula – pedagang pengumpul – pedagang besar – konsumen dan saluran III yaitu pengrajin gula – pedagang pengumpul – pedagang pengecer – konsumen. (2) marjin pemasaran paling besar terdapat pada saluran I sebesar Rp2.512,00/kg (3) Produsen share terbesar terdapat pada saluran II sebesar 86,47 persen. Persentase biaya pemasaran terkecil terdapat pada saluran III sebesar 14,67 persen. Persentase keuntungan terbesar pada saluran pemasaran III sebesar 89,93 persen (4) profit marjin terbesar terdapat pada pedagang pengecer di saluran III, yaitu sebesar 11,63 persen dari total penjualan (5) Saluran pemasaran paling efisien secara teknis dan ekonomis yaitu saluran pemasaran III. | Banyumas regency is the center of trees’ and sugar’s palm which has huge potential in Central Java even in Indonesia. In Banyumas, Cilongok has become the biggest area in producing the palm sugar in which it produces 48.963 kilogram per day. The production of palm sugar aims to increase farmers’ incomes since it will gain more profit rather than only sell the fresh coconut. This study aims to (1) Know the marketing channels of palm sugar in Cilongok; (2) Evaluate the marketing margin of palm sugar’ channels; (3) Evaluate the producer share, the cost and profit percentage of each marketing agent; (4) Evaluate profit margin of each seller in each marketing channel; (5) Find out the most efficient marketing channel of palm sugar in Cilongok based on technical and economic efficiency. This study employed survey method in which used simple random sampling for palm sugar producers, and snowball sampling for the sellers. The total numbers of palm sugar producers are 45, and for the sellers are 22 respondents. Data analysis used descriptive analysis, margin analysis, the producer share, profit margin, and the technical and economical efficiency. The result shows that (1) Cilongok has three marketing of channels : channel I is producer – middleman – wholesalers – reseller –consumers, channel II is the producer – middleman – wholesalers –consumers, channel III is producer –middleman – reseller – consumers; (2) The most marketing margin founded in the I channel of Rp2.512,00 per kilogram; (3) The highest producer share is in channel II that is 86,47%, the lowest percentage of marketing price is channel III that is 14,67%, the highest profit percentage is channel III that is 89,93%; (4) The highest profit margin is in the reseller of channel III that is 11,63% from the total selling; (5) The most efficient marketing channel in technically and economically contained in the marketing channel III. | |
| 2345 | 12107 | A1H011034 | KAJIAN DISTRIBUSI TEMPERATUR LARUTAN NUTRISI TANAMAN BAYAM MERAH (Amaranthus tricolor L.) PADA HIDROPONIK SISTEM NUTRIENT FILM TECHNIQUE (NFT) | Bayam (Amaranthus spp. L.) merupakan sayuran yang dibutuhkan tubuh untuk pemenuhan vitamin dan mineral. Produksi bayam menurun dibandingkan dengan permintaan konsumen yang cenderung meningkat. Konsumsi bayam meningkat dari 3,754 kg/kapita/tahun pada tahun 2009, menjadi 3,963 kg/kapita/tahun pada tahun 2010, namun produksi bayam mengalami penurunan dari 173.750 ton/tahun menjadi 140.980 ton/tahun. Upaya peningkatan produktivitas bayam dapat dilakukan dengan sistem hidroponik di dalam greenhouse. Nutrient Film Technique (NFT) merupakan solusi budidaya hidroponik dengan metode akar tanaman berada dalam aliran larutan nutrisi tipis yang tersirkulasi. Aliran larutan nutrisi pada sistem hidroponik NFT semakin ke hilir semakin banyak menyerap kalor, sehingga panjang talang dapat menyebabkan fluktuasi temperatur larutan nutrisi yang mempengaruhi iklim mikro di sekitar tanaman bayam. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui distribusi temperatur larutan nutrisi tanaman bayam merah sesuai dengan panjang talang dan mengetahui pengaruh radiasi dan temperatur udara terhadap temperatur larutan nutrisi. Penelitian dilakukan dengan menggunakan panjang talang yang berbeda yaitu 4 meter dan 6 meter. Hasil yang diperoleh dari penelitian yaitu distribusi temperatur larutan nutrisi pada talang 4 meter berkisar antara 24-38oC dan talang 6 meter berkisar antara 24,3-39oC. Distribusi temperatur larutan nutrisi pada talang 6 meter lebih tinggi dibandingkan dengan talang 4 meter dengan rata-rata perbedaan nilai temperatur mencapai 0,3oC. Temperatur udara di dalam greenhouse mempengaruhi temperatur larutan nutrisi, rata-rata setiap kenaikan temperatur udara 1⁰C temperatur larutan nutrisi akan naik sebesar 0,5⁰C. | Spinach (Amaranthus spp. L.) is vegetables that the body needs to fulfillment of vitamins and minerals. Spinach production decreased compared to consumer demand who tends to increase. Spinach consumption increased from 3.754 kg/capita/year in 2009, being 3.963 kg/capita/year in 2010, but the production of spinach decreased from 173.750 tonnes/ year to 140.980 tonnes/year. Efforts to increase the productivity of spinach can be done with a hydroponic system in a greenhouse. Nutrient Film Technique (NFT) is a solution of hydroponic cultivation methods of plant roots are in a thin stream of nutrient solution is circulated. The nutrient solution flows at NFT hydroponic systems further downstream to absorb more heat, so the length of gutters can cause fluctuations nutrient solution temperature affects the microclimate around the spinach plant. The purpose of this study was determine the temperature distribution of the red spinach nutrient solution in accordance with the length of gutters and determine the effect of radiation and air temperature to the temperature of the nutrient solution. The study was conducted using a different length gutter is 4 meters and 6 meters. Results obtained from the study that is temperature distribution in the nutrient solution of gutter 4 meters range between 24-38oC and gutter 6 meters range between 24,3-39oC. The temperature distribution of the nutrient solution in the gutter 6 meters higher than the gutter 4 meters with an average difference of the temperature reached 0.3⁰C. The air temperature in the greenhouse affect nutrient solution temperature, any increase in the average air temperature 1⁰C nutrient solution temperature will rise by 0.5⁰C. | |
| 2346 | 12102 | A1C011053 | Persepsi Petani Baby Buncis terhadap Kemitraan dengan PT. Bumi Sari Lestari Kabupaten Temanggung | Buncis merupakan salah satu tanaman hortikultura yang berperan penting karena dapat meningkatkan pendapatan. Potensi nilai ekonomi-sosialnya cukup tinggi bagi peningkatan ekonomi rumah tangga dan negara, penyediaan pangan bergizi bagi penduduk, dan berdaya guna untuk mempertahankan (melestarikan) kesuburan tanah, serta dapat dijadikan komoditas ekspor. Baby buncis merupakan komoditas ekspor dengan permintaan yang tinggi yaitu mencapai 1-2 ton per hari. Permasalahan yang dihadapi oleh petani buncis antara lain fluktasi harga, harga jual hasil produksi, minimnya teknologi dan kesulitan akan akses pasar yang lebih luas dalam menyalurkan hasil panen, sedangkan permasalahan yang dialami oleh perusahaan adalah pemenuhan pasokan yang harus selalu tersedia dengan kualitas dan kuantitas buncis yang baik. Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan menjalin kemitraan antara petani dengan perusahaan. PT. Bumi Sari Lestari merupakan perusahaan eksportir terbesar di Jawa Tengah yang bermitra dengan petani untuk mengusahakan berbagai jenis tanaman hortikultura, salah satunya baby buncis. Kemitraan yang terjalin antara perusahaan dengan petani menimbulkan persepsi yang bermacam-macam dari petani. Tujuan penelitian adalah mengetahui persepsi petani terhadap kemitraan dengan PT. Bumi Sari Lestari, dan mengetahui hubungan faktor yang mempengaruhi persepsi petani terhadap kemitraan dengan PT. Bumi Sari Lestari. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang. Pelaksanaan penelitian dan pengumpulan data dilaksanakan pada tanggal 13 April 2015 sampai 1 Mei 2015. Metode penelitian yang digunakan adalah sensus dengan jumlah petani baby buncis yang menjadi responden dalam penelitian sebesar 35 petani. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara dan studi pustaka. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis persepsi menggunakan metode Likert Summated Ratings (LSR), Korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi petani terhadap kemitraan baby buncis dengan PT. Bumi Sari Lestari berdasarkan pengukuran skala Likert’s dapat dikategorikan sebagai persepsi yang baik, dan terdapat hubungan yang signifikan antara lingkungan ekonomi (X7) dengan persepsi terhadap tujuan kemitraan. Pendidikan formal (X1), umur (X2), pendapatan (X3), lingkungan ekonomi (X7) memiliki hubungan yang signifikan dengan persepsi terhadap pelaksanaan kemitraan dan terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan formal (X1), dan lingkungan ekonomi (X7) dengan persepsi terhadap manfaat kemitraan. | French Bean is one of the horticultural plants that manage to increase the farmer’s income. The socio-economic value of french bean is quite high in improving the country’s and household’s economy, providing a healthy food for citizen, preserving the land fertility, and becoming the export commodity. Baby french bean is the highest demand of export commodity, that is around 1-2 ton every day. However, the farmer and company face some issues regarding to baby French bean, the famer’s issues are the price fluctuation, the crops selling price, the limited of technology, and the difficulty of accessing the larger market in distributing the crops. Meanwhile, the issue that is faced by company is the supply fulfillment which must be available all the time in good quality and quantity condition. These issues could be solved by binding partnership between farmer and company. Bumi Sari Lestari Co. is the largest of exporter company in Central Java, and it binds partnership with farmers to reproduce various kinds of horticultural plants including baby french bean. The tie of partnership which is formed between farmer and company raises various perceptions from the farmer. Therefore, the purposes of this research are to identify the farmer’s perception of binding partnership with Bumi Sari Lestari Co and to describe the factors relationship that influence farmer’s perception of binding partnership with Bumi Sari Lestari Co. This research was conducted on April 13, 2015 until May 1, 2015 at Kaliangkrik District, Magelang, Central Java. The researcher applies the census method to conduct the research, and there were thirty-five baby french bean farmers who are chosen to be the respondents of this research. Furthermore, the technique of collecting data has been done by observing, interviewing, and doing documentation. The data will be analyzed by applying Likert Summated Ratings (LSR) and Rank Spearman Correlation theories. The result of the research shows several things that are farmer’s perception of baby French bean partnership with Bumi Sari Lestari Co. measured on the Likert’s scale can be categorized as good perception, and there is a significant relationship between economic environment (X7) with farmer’s perception towards the purpose of partnership. The formal education (X1), age (X2), and economic environment (X7) have a significant relationship with farmer’s perception of the implementation of partnership, and there is also a significant correlation between formal education (X1), and economic environment (X7) with farmer’s perception of the benefit of partnership. | |
| 2347 | 12108 | A1C010013 | ANALISIS KESEDIAAN MEMBAYAR WILLINGNESS TO PAY (WTP) DALAM UPAYA PENGELOLAAN EKOWISATA TAMAN MANGROVE KAWASAN KONSERVASI HUTAN MANGROVE DI DESA PASAR BANGGI, KECAMATAN REMBANG, KABUPATEN REMBANG | Hutan mangrove merupakan sumber daya alam yang penting di lingkungan pesisir. Tahun 2010 Kementerian Kelautan dan Perikanan menunjukkan bahwa di pesisir pantura Jawa terjadi kerusakan karena abrasi sebesar 91.652 Ha. Kabupaten Rembang mempunyai jalur hijau pantai (±60 km) yang mayoritas ditanami mangrove. Pertengahan tahun 2014 di Desa Pasar Banggi dirintislah Taman Mangrove, Kawasan Konservasi Hutan Mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk : mengidentifikasi kondisi ekowisata Taman Mangrove Kawasan Konservasi Hutan Mangrove dan karakteristik pengunjungnya, mengestimasi besarnya nilai WTP (Wilingness to Pay) terhadap pengunjung ekowisata Taman Mangrove Kawasan Konservasi Hutan Mangrove dan mengetahui hubungan antara nilai WTP (Willingness to Pay) pengunjung dengan faktor sosial ekonomi pengunjung ekowisata Taman Mangrove Kawasan Konservasi Hutan Mangrove. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, Contingent Valuate Method (CVM), dan Uji Chi-square. Hasil analisis menunjukkan Ekowisata Taman Mangrove memiliki potensi yang tinggi dan variasi pengunjung yang beragam. Nilai rata-rata WTP didapatkan sebesar Rp 5.229,- dan nilai total WTP (TWTP) sebesar Rp 25.099.200,-. Pada tingkat WTP Rp 5.000,- (rendah) terdapat hubungan dengan variabel tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan pengunjung, dan dengan variabel jenis pekerjaan dan tingkat pendapatan pengunjung. | Mangrove forest were an important natural resource in the coastal teritory. In 2010 the Ministry of Maritime and Fisheries showed that 91 652 hectares of the north coast of Java coastal had been damaged due to abrasion. Rembang has a greenbelt shore (± 60 km) which mostly filled by mangrove trees. In the midle of 2014, at the Pasar Banggi village, the mangrove ecotourism park of Mangrove Conservation Area were built. This study aimed to: identify the conditions of mangrove ecotourism park of Mangrove Conservation Area and the characteristics of the visitor, estimate the WTP value (wilingness to pay) of mangrove ecotourism park of Mangrove Conservation Area’s visitor and determine the relation between the mangrove ecotourism park of Mangrove Conservation Area visitor’s WTP value (Willingness to Pay) to the visitor’s socio economic factor. The analytical method is a descriptive analytical study, Contingent Valuate Method (CVM), and Chi-square test. The result showed that Ecotourism Mangrove Park has a big potential and many variation of visitor. The average value of WTP was Rp 5.229,- and the total value was WTP (TWTP) Rp 25.099.200,-. At the level of WTP Rp 5.000,- (low category) there are a relation between the education level and income levels variabel of visitors, and between the job and income levels variabel of visitors. | |
| 2348 | 12109 | H1G011039 | PENGARUH LOGAM BERAT MERKURI KLORIDA (HgCl2) TERHADAP EKSPRESI GEN sGnRH PADA IKAN NILEM (Osteochilus hasselti) BETINA | Limbah industri sebagai pencemar antropogenik yang mengandung logam berat. HgCl2 adalah polutan yang sangat beracun dan persisten yang dapat mencemari perairan sungai. Dampak HgCl2 bagi biota perairan menghambat reproduksi terutama ekspresi gen sGnRH. Biota uji yang digunakan yaitu ikan nilem. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh logam berat merkuri klorida (HgCl2) terhadap ekspresi gen sGnRH serta konsentrasi logam berat HgCl2 yang dapat mengganggu ekspresi gen sGnRH pada ikan nilem (Osteochilus hasselti) betina. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental, dengan desain penelitian Rancangan Acak Lengkap (RAL). Penelitian dilakukan dengan 4 tahap, pengambilan hipotalamus, isolasi RNA, DNAse Treatment, Pengukuran konsentrasi RNA dan Real-Time PCR. Sampel diberi 4 perlakuan logam berat berbeda selama 60 hari dengan pengambilan sampel setiap 2 minggu sekali. Data kuantitatif berupa ekspresi gen penghasil GnRH dianalisis dengan one ways Anova dan Uji BNT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh perlakuan logam berat HgCl2 selama 60 hari terhadap nilai konsentrasi ekspresi gen sGnRH memiliki kisaran rata-rata 0,90-42,97. Pengaruh perlakuan logam berat HgCl2 berupa penurunan nilai konsentrasi ekspresi gen sGnRH dan nilai IKG, seiring dengan meningkatnya konsentrasi HgCl2 serta lamanya waktu pemaparan. | Industrial waste as anthropogenic pollutants containing heavy metals. HgCl2 is highly toxic pollutants and persistent that could contaminate the river waters. The Impact of HgCl2 for aquatic organism primarily to lower reproductive such as sGnRH gene expression. Osteochilus hasselti is object for gene expression test. The purpose of this study was to determine the effect of mercury chloride (HgCl2) on gene expression sGnRH and concentrations of (HgCl2) that can interfere with sGnRH gene expression in females Osteochilus hasselti fish. The method used was experimental method, the research design Completely Randomized Design. The study was conducted with 4 stages, making the hypothalamus, RNA isolation, DNAse treatment, RNA concentration measurements and Real-Time PCR. Samples were given four different treatment of heavy metal for 60 days with sampling every 2 weeks. The quantitative data in the form of GnRH-producing gene expression was analyzed by one-ways ANOVA and BNT test. The results showed that the treatment effect of heavy metals HgCl2 for 60 days against the value of the concentration of gene expression sGnRH have an average range of 0.90 to 42.97. HgCl2 treatment effect of heavy metals in the form of a decrease in the concentration of sGnRH gene expression and IKG value, along with the increasing concentration of HgCl2 and the length of time of exposure. | |
| 2349 | 12111 | G1A011041 | PENGALAMAN INDIVIDU MENGGUNAKAN PENGOBATAN TRADISIONAL | Latar Belakang. Pengobatan tradisional sampai saat ini masih digunakan oleh sebagian masyarakat Indonesia. Meskipun akses dan pelayanan kesehatan modern mengalami peningkatan namun hal tersebut tidak mengurangi minat masyarakat dalam memanfaatkan jasa pengobatan tradisional. Minat masyarakat justru cenderung meningkat dengan adanya tren kembali ke alam yang didukung perkembangan fasilitas pengobatan tradisional diberbagai tempat serta maraknya iklan dan tayangan layanan pengobat tradisional di media elektronik. Tujuan. Mendeskripsikan pengalaman individu menggunakan pengobatan tradisional. Metodologi Penelitian. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif fenomenologi dengan wawancara mendalam semi terstruktur sebagai metode pengumpulan data. Subjek penelitian diambil menggunakan teknik purposive sampling yakni masyarakat yang pernah atau sedang menggunakan jasa pengobatan tradisional serta memenuhi kriteria penelitian. Hasil dan Pembahasan. Dalam penelitian ini didapatkan beberapa tema penelitian yakni pengetahuan individu mengenai pengobatan tradisional, perubahan perilaku berobat, alasan individu menggunakan pengobatan tradisional, tenaga kesehatan yang bersikap netral terhadap pengobatan tradisional, pengalaman individu menggunakan pengobatan tradisional, dukungan lingkungan dalam menggunakan pengobatan tradisional, persepsi mengenai battra dan pengobatan tradisional, dan harapan terhadap pengobatan tradisional. Kesimpulan. Informan memilih pengobatan tradisional dengan berbagai alasan setelah menggunakan pengobatan modern. Hal tersebut didorong oleh sikap dan perilaku keluarga dan orang disekitar lingkungan individu atau pasien, tenaga kesehatan, dan pengobat tradisional. Meskipun informan memiliki persepsi yang positif terhadap pengobatan tradisional namun sebagian informan tetap memilih menggunakan pengobatan modern dalam kondisi sakit parah atau gawat darurat. | Background. Traditional medicine is still used by communities in Indonesia. Even though access to modern health care has increased, but it has not decreased the public interest to use traditional medicine and the practice of traditional healers. Public interest has increased due to the “back to nature”trend in society which is also supportedby the development of traditional medicine facilities in various places and commercial advertisements of traditional healers on electronic media. Purpose. To describe experiences in using traditional medicine. Research Methodology. Qualitative phenomenological research using in-depth semi-structured interviews as data collection. Purposively selected, subjects of this research are people who have been using or have used traditional medicine and services of traditional healer in the region of Banyumas. Results and Discussion. A number of themes were obtained from this research, including knowledge about traditional medicine, change of treatment behavior, reasons for using traditional medicine, attitudes of health care workers towards traditional medicine, experience in using traditional medicine, family and environmental support in the use of traditional medicine, perceptions towards traditional healers and traditional medicine, and expectations for traditional medicine in Indonesia. Conclusion. Individuals in this study have chosen to use traditional treatments for various reasons after using modern medicine. The decision had been encouraged by the attitude and behavior of families and people around them, health workers, and traditional healers. Even though the community has a positive perception towards traditional medicine, some still prefer the use of modern medicine in certain conditions such as severe illness or emergency situations. | |
| 2350 | 12200 | F1C010014 | OPINI PUBLIK DI MEDIA CITIZEN JOURNALISM (STUDI ANALISIS WACANA KOMPASIANA DALAM MENYATAKAN OPINI MENGENAI KEPEMIMPINAN BASUKI TJAHAJA PURNAMA SEBAGAI WAKIL GUBERNUR DKI JAKARTA) | Judul “Opini Publik di Media Citizen Journalism (Studi Analisis Wacana Kompasiana dalam Menyatakan Opini Mengenai Kepemimpinan Basuki Tjahaja Purnama sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta)”. Tujuan Menganalisis wacana oleh netizen di Kompasiana dalam menyampaikan berita mengenai kepemimpinan Basuki Tjahaja Purnama sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta, dan untuk mendeskripsikan opini publik mengenai kepemimpinan Basuki Tjahaja Purnama sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta melalui analisis wacana. Metode Analisis wacana yang dikembangkan oleh Teun A. Van Dijk. Subjek penelitian ini adalah media citizen journalism, yaitu Kompasiana. Seperti yang kita ketahui, penelitian yang baik adalah penelitian yang mencantumkan objek di dalamnya. Objek dari penelitian ini adalah mengenai kepemimpinan Basuki sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta yang dimuat dalam laman jurnalisme warga www.kompasiana.com sejak 15 Oktober 2012-19 November 2014. Hasil Kepemimpinan Basuki sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta ketika menangani masalah di Tanah Abang dilakukan dengan berani dan tegas. Basuki dengan tegas menegakkan setiap aturan yang telah ditetapkan, meskipun banyak orang yang memiliki kuasa dan ada pejabat yang memiliki pengaruh besar di Tanah Abang. Selain itu Basuki selalu menggunakan Peraturan Daerah sebagai pedoman dalam bertindak. Meskipun hanya sebagai wakil gubernur, dia memiliki pengaruh dan peranan yang besar dalam menangani PKL di Tanah Abang. | Title of this research is “Public Opinion on Citizen Journalism (Discourse Analysis Studies of Kompasiana on Delivering Opinions about Leadership of Basuki Tjahaja Purnama as Vice Governor of DKI Jakarta)”. Purpose of this study was to analyze discourse of netizen at Kompasiana in delivering opinion through articles about leadership of Basuki Tjahaja Purnama, and to describe public opinion of him through discourse analysis. Method that used in this research is discourse analysis method, especially Teun A. van Dijk. Subject of this research is citizen journalism media, called Kompasiana. Object of this research was about leadership of Basuki Tjahaja Purnama as Vice Governor of DKI Jakarta that posted in www.kompasiana.com website since 15 October 2012-19 November 2014. Result of the research is to shows that leadership of Basuki Tjahaja Purnama as Vice Governor of DKI Jakarta when handle problem of cadger at Tanah Abang with braveness and firm. Basuki fixed uphold any rules that already apply, though many people that have powers and there’s officials that have great influences at Tanah Abang. Beside that, Basuki always uses Local Regulation as a guideline to act. Even only as Vice Governor, he has big influence and role to handle problems there. | |
| 2351 | 12125 | A1L010215 | UJI KEMEMPANAN BEBERAPA AGENSIA HAYATI TERHADAP PENYAKIT LAYU FUSARIUM PADA TANAMAN TOMAT | Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menentukan kemempanan beberapa agensia hayati dalam mengendalikan penyakit layu fusarium, serta (2) Menetapkan agensia hayati terbaik pengendali penyakit layu fusarium pada tanaman tomat. Penelitian dilaksanakan pada bulan April hingga bulan Juli 2014 di lahan percobaan dan Laboratorium Perlindungan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan perlakuan agensia hayati dan 4 kali ulangan. Perlakuan yang dicoba meliputi: Kontrol, Trichoderma TS.1; Trichoderma TS.2; Gliocladium Ts.36; Bacillus B.64; Bacillus B.42; P. flourescense 41; dan Fungisida. Variabel yang diamati meliputi intensitas penyakit, masa inkubasi, tinggi tanaman, berat segar tanaman, berat segar akar, jumlah buah, bobot buah, dan jumlah bunga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi agensia pengendali hayati belum mampu menekan Fusarium oxysporum serta meningkatkan pertumbuhan. | This research aims were to: (1) determine the ability some biological agentto controlling the fusarium wilt diseases, and (2) determine the best biological agent to control fusarium wiltdiseases on tomato. The research was carried out from April toJuly 2014 at Plant ProtectionLaboratory, Faculty of Agriculture University of General Soedirman, Purwokerto. The research used Randomized block design with 7 treatments and 4 reperatreatments. The treatments tested includes: control, Trichoderma TS. 1; Trichoderma TS. 2; Gliocladium Ts. 36; Bacillus b. 64; Bacillus b. 42; Pseudomonas flourescense 41; and fungicides. Variable observed covering the intensity of disease, incubation period, higher plants, freshplant weight, fresh rootweight, the number of fruits, weight of fruit, and the number of flowers. The researchresults shows that the application of biological control agent has not been able to press Fusarium oxysporum and to increase growth. | |
| 2352 | 12112 | D1E011096 | KUALITAS INTERIOR TELUR BERBAGAI AYAM SENTUL | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai Ayam Sentul terhadap kualitas interior telur dan mengetahui kualitas interior telur Ayam Sentul paling baik. Materi yang digunakan adalah Ayam Sentul Abu, Sentul Batu, Sentul Debu, Sentul Emas, dan Sentul Geni umur 23 minggu sebanyak 100 ekor. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang diuji adalah berbagai Ayam Sentul yang terdiri atas Sentul Abu, Sentul Batu, Sentul Debu, Sentul Emas, dan Sentul Geni. Setiap perlakuan terdiri atas 5 ulangan. Peubah yang diamati adalah kualitas interior telur terdiri atas Indeks Putih Telur, Indeks Kuning Telur, Haugh Unit, Bobot Putih, dan Kuning Telur. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Analisis Variansi. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa berbagai Ayam Sentul berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap kualitas interior telur. Rataan Indeks Putih Telur, Indeks Kuning Telur, Haugh Unit, Bobot Putih, dan Kuning Telur secara berturut-turut yaitu 0,092; 0,447; 83,831; 23,68 g; 12,36 g. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa berbagai Ayam Sentul menghasilkan kualitas interior telur yang relatif sama. | The Study aimed to determine the effect of various Sentul Chicken against egg interior quality and know the quality of the interior of the most well Sentul chicken eggs. The material used in this study was Sentul Abu, Sentul Batu, Sentul Debu, Sentul Emas, and Sentul Geni Chickens aged 23 weeks as much as 100 birds. The method used in the study was an experimental method with Completely Randomized Design (CRD). The treatments was various Sentul Chicken consist of Sentul Abu, Sentul Batu, Sentul Debu, Sentul Emas, and Sentul Geni Chickens. Each treatmen consist of 5 repeats. Variables measured were egg interior quality consist of Albumen Index, Yolk Index, Haugh Unit, Albumen, and Yolk Weight Egg. The data were analyzed by analysis of variance. The results of analysis of variance showed that Sentul Chicken various had not affect significantly (P> 0.05) on the egg interior quality. The average Albumen Index, Yolk Index, Haugh Unit, Albumen, and Yolk Weight Egg in a sequence that 0.092; 0.447; 83.831; 23.68 g; 12.36 g. Based on the results of the research concluded that various Sentul Chicken yield egg interior quality were relatively similar. | |
| 2353 | 12122 | A1C010081 | PENDAPATAN DAN NILAI TAMBAH DODOL MANGGA (STUDI KASUS PADA INDUSTRI KECIL HJ. DARMEN NURHASANAH DI KECAMATAN INDRAMAYU KABUPATEN INDRAMAYU) | Buah mangga merupakan salah satu buah yang mendapatkan prioritas untuk dikembangkan sebagai upaya untuk peningkatan nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja. Melimpahnya buah mangga pada saat panen raya membuat harga buah rendah. Oleh karena itu, perlu adanya upaya untuk meningkatkan harga buah tersebut dengan cara melakukan proses pengolahan menjadi produk yang lebih ekonomis. Industri kecil Hj. Darmen Nurhasanah adalah salah satu agroindustri yang mengolah buah mangga menjadi dodol mangga. Diharapkan agar usaha tersebut dapat dikembangkan sebagai salah satu mata pencaharian daerah dan sumber pendapatan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui besanya biaya dan pendapatan yang diperoleh dari pengolahan buah mangga, dan (2) mengetahui besarnya nilai tambah yang terjadi akibat proses pengolahan buah mangga menjadi dodol mangga. Metode penelitian menggunakan studi kasus. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 6 Januari sampai 4 Februari 2015 di industri kecil Hj. Darmen Nurhasanah yang berada di Kelurahan Lemah Mekar Kecamatan Indramayu Kabupaten Indramayu. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis biaya dan pendapatan serta analisis nilai tambah dengan metode Hayami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa besarnya rata – rata biaya yang dikeluarkan dengan penggunaan rata-rata bahan baku utama berupa daging buah mangga segar sebanyak 4 ton untuk setiap bulannya yaitu sebesar Rp62.438.224,29 dengan harga jual dodol mangga sebesar Rp10.000 per pak agroindustri ini mendapatkan rata – rata penerimaan per bulan sebesar Rp73.735.714,29 maka diperoleh rata – rata pendapatan per bulan sebesar Rp11.368.918,57. Besarnya nilai tambah yang diperoleh dari pengolahan mangga menjadi dodol mangga adalah sebesar Rp25.296,27 per kilogram bahan baku dengan rasio nilai tambah sebesar 67,45 persen. Marjin yang diperoleh sebesar Rp31.866,67 yang didistribusikan kepada pendapatan tenaga kerja sebesar 4,71 persen, sumbangan input lain sebesar 20,62 persen, dan keuntungan pengusaha sebesar 74,67 persen. | Mango is one of the fruits that get priority to be developed in an effort to increase value added and employment. An abundance mangoes at harvest time makes the price of fruit is low. Therefore, we need an efforts to increase the price of the fruit by processing into products that are more economic. Small industry of Hj. Darman Nurhasanah is one of the agroindustry that process fresh mango fruit into dodol of mangoes. It is hoped that these efforts can be developed as one of the local livelihood and source of income. Therefore, this study aims to (1) determine the costs and revenues derived from the processing of mango, and (2) determine the value added resulting from the processing of mango fruit into dodol of mangoes. Research method used is case study. This research was conducted on January 6 to February 4, 2015 at small industry Hj. Darmen Nurhasanah located in Lemah Mekar Village Indramayu District Indramayu Regency. Analysis of the data in this study using the analysis of costs and revenues and the analysis of Hayami value added method. The results showed the average cost of 4 tons fresh mangoes as raw material each month Rp62.438.224,29, selling price of dodol of mangoes Rp10.000 per pack so this agroindustry get average revenues per month Rp73,735,714.29, thus average revenue earned per month Rp11.368.918,57. The value added obtained from the processing of fresh mango into dodol of mangoes amounted Rp25.296,27 per kilogram of raw material with value added ratio 67,45 percent. Margin obtained Rp31.866,67 distributed to labor income 4.71 percent, the contribution of other inputs 20.62 percent, and 74.67 percent of employers gain. | |
| 2354 | 12078 | H1H011017 | PERTUMBUHAN DAN FREKUENSI MOLTING LOBSTER AIR TAWAR (Cherax quadricarinatus) YANG DIBERI PELLET DAN KECAMBAH KACANG HIJAU DENGAN PERSENTASE BERBEDA | ABSTRAK Nutrisi pakan yang lengkap dibutuhkan untuk pertumbuhan dan keberhasilan molting Lobster air tawar (Cherax quadricarinatus). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pellet dan kecambah kacang hijau dengan persentase berbeda terhadap pertumbuhan dan frekuensi molting Lobster air tawar. Penelitian dilaksanakan di Mitra Akuarium, Purbalingga pada bulan Mei-juni 2015. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan dan 4 kali ulangan, yaitu perlakuan A (Pellet 100%), B (Pellet 75% + Kecambah Kacang Hijau 25%), C (Pellet 50% + Kecambah Kacang Hijau 50%), D (Pellet 25% + Kecambah kacang Hijau 75%) dan E (Kecambah Kacang Hijau 100%). Benih Lobster air tawar memiliki berat awal 6.38±0.08 g. Pakan diberikan berdasarkan berat kering sebanyak 3% dari berat tubuh satu kali dalam sehari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan pellet dan kecambah dengan persentase berbeda tidak berbeda nyata (P>0.05) terhadap pertumbuhan berat mutlak, laju pertumbuhan spesifik, rasio konversi pakan dan frekuensi molting Lobster air tawar. Pemberian kecambah kacang hijau dengan persentase berbeda dapat mengimbangi pakan buatan, sehingga ada potensi untuk mengurangi persentase penggunaan pakan buatan dengan kecambah kacang hijau. | Complete feed nutrients requires for growth and molting success of freshwater crayfish (Cherax quadricarinatus). This research aims to determine the effect of pellet and mung bean sprouts with different percentage on growth and molting frequency of juveniles red claw crayfish. This research conducted at Mitra’s Akuarium, Purbalingga on May-June 2015. The trials used experimental method with completely randomized designed, that consist of five treatments and four replications : A (pellet 100%), B (pellet 75% + mung bean sprouts 25%), C (pellet 50% + mung bean sprouts 50%), D (pellet 25% + mung bean sprouts 75%) and E (mung bean sprouts 100%). Juveniles red claw crayfish had initial weight 6.38±0.08 g Feed granted by dry weight 3% from body mass once a day. The results showed that feed pellet and mung bean sprouts with a different percentage were not significantly different in absolute weight growth, specific growth rate, feed conversion ratio and molting frequency of red claw crayfish. Mung bean sprouts with a different percentage can equal artificial feed, so there was a potential to reduces percentage use of artificial feed with mung bean sprouts. | |
| 2355 | 12113 | H1G011016 | UJI TOKSISITAS LETAL DAN SUBLETAL LOGAM BERAT MERKURI (Hg) TERHADAP IKAN NILEM (Osteochilus hasselti) | Merkuri (Hg) merupakan logam berat yang dapat mencemari perairan sungai. Dampak Hg bagi biota perairan bersifat kronis. Pengaruh toksik suatu bahan kimia terhadap organisme akuatik dapat diketahui dengan uji toksisitas (letal dan subletal). biota uji yang digunakan yaitu ikan nilem. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi LC50-96 jam Hg serta melihat efek subletal dengan mengamati perubahan jumlah eritrosit dan hematokrit ikan nilem. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental, dengan desain penelitian Rancangan Acak Lengkap (RAL). Penelitian dilakuakn 3 tahap, yaitu uji pendahuluan, uji letal dan uji subletal dengan setiap perlakuan diulang 3 kali. Pengambilan sampel pada uji subletal dilakukan pada waktu pemaparan 96 jam (4 hari) dan 288 jam (12 hari). Data uji letal dianalisis dengan menggunakan analisis probit dan data uji subletal dianalisis menggunakan uji F. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai LC50-96 jam logam berat Hg terhadap ikan nilem adalah 0,3938 mg/L. Pengaruh subletal loam berat Hg berupa penurunan jumlah eritrosit dan nilai hematokrit seiring dengan meningkatnya konsentrasi dan semakin lama waktu pemaparannya. | Mercury (Hg) is a heavy metal can pollute the river. Hg impact on aquatic organism throught their chronic. The influence of a chemical toxic on aquatic organisms can be determined using toxicity test (lethal and sublethal). Osteochilus hasselti is object for toxicity test. The research aimed to find LC50-96 hours concentration and to find the effect of letal and subletal of heavy metal Hg on erythrocyte and hematocryte changes. An experimental method applied Completely Randomized Design. The research is devided into 3 stages, preliminary test, lethal tosisity test (LC50-96 hours) and sublethal toxicity test, being in triplicates. Sampling at sublethal test performed at an exposure time of 96 hours (4 days) and 288 hours (12 days). Lethal toxicity test data were probity analyze and data from sublethal toxicity test were F-tested. The result showed that LC50-96 hours of heavy metal Hg on Osteochilus hasselti was 0,3928 mg/L. The sublethal effect of heavy metal Hg was demonstrated in erythrocyte ad hematocryte decreasing with increasing concentration and the longer time of attached. | |
| 2356 | 12129 | D1E010170 | PENGGUNAAN PREBIOTIK DALAM RANSUM ITIK TEGAL JANTAN TERHADAP BOBOT DAN PERSENTASE ORGAN ASESORI UMUR 2 BULAN | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan prebiotik (fructoologoscaride (FOS), galactooligosacaride (GOS) dan Inulin) dalam pakan terhadap bobot dan persentase organ asesori itik Tegal jantan umur 2 bulan. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 2 Mei 2015 sampai 10 Juni 2015 di Seloarum Farm, Sokaraja. Materi yang digunakan adalah 100 ekor itik Tegal jantan umur 1 bulan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen, dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Sebagai perlakuan adalah Pakan basal (R0), pakan basal + 0,2 % FOS (R1), pakan basal + 0,2% GOS (R2) dan pakan basal + 0,2% Inulin (R3). Data dianalisis dengan menggunakan analisis variansi. Hasil rataan bobot hati masing - masing perlakuan adalah 29,5 g (R0); 32,2 g (R1); 31,0 g (R2); 31,9,0 g (R3), rataan bobot empedu masing – masing perlakuan adalah 2,7 g (R0); 2,6 g (R1); 2,5 g (R2); 3,0 g (R3),rataan bobot pankreas masing – masing perlakuan adalah 4,4 g (R0); 5,0 g (R1); 4,5 g (R2); 4,7 g (R3) dan untuk rataan persentase hati adalah 2,23% (R0); 2,32% (R1); 2,41% (R2); 2,28% (R3), rataan persentase empedu adalah 0,20% (R0); 0,19% (R1); 0,21% (R2); 0,20% (R3), rataan persentase pankreas adalah 0,33% (R0); 0,32% (R1); 0,35% (R2); 0,33% (R3). Hasil analisis variansi menujukkan bahwa perlakuan penggunaan berbagai jenis prebiotik (FOS, GOS dan Inulin) dalam pakan itik Tegal jantan umur 2 bulan berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap bobot dan persentase organ asesori (hati, pankreas dan empedu). Kesimpulan pada penelitian penggunaan berbagai prebiotik dalam ransum itik Tegal jantan umur 2 bulan menghasilkan bobot dan persentase organ asesori (hati, pankreas dan empedu) yang relatif sama. | The aimed to determine the effect of prebiotic (fructoologoscaride (FOS), galactooligosacaride (GOS) dan Inulin) in the diet on accessory organ weight and percentage of male Tegal ducks. The research was conducted from May 2nd until June 10th, 2015 in Seloarum Farm, Sokaraja. The material used were 100 four week old male Tegal ducks .The treatments were basal feed (R 0), basal feed + 0.2% FOS (R 1), basal feed + GOS 0.2% (R 2), basal feed + Inulin 0.2% (R 3). Research used experimental method, was designed using the Completely Randomized Design (CRD). The parameters measured were the weight of the liver, bile and pancreas (g), as well as the percentage of the liver, bile and pancreas (%). The data were analyzed using analysis of variances. The result an average weight of heart for each treatment was 29.5 g (R 0); 32.2 g (R 1); 31.0 g (R 2); 31.9 g (R 3), the average weight of bile each treatment was 2.7 g (R 0); 2.6 g (R 1); 2.5 g (R 2); 3.0 g (R 3), the average weight of the pancreas of each treatment was 4.4 g (R 0); 5.0 g (R 1); 4.5 g (R 2); 4.7 g (R 3) and to the average percentage of the liver was 2.23% (R 0); 2.32% (R 1); 2.41% (R 2); 2.28% (R 3), the average percentage bilewas 0.20% (R 0) 0.19% (R 1); 0.21% (R 2); 0.20% (R 3), the average percentage of the pancreas was 0.33% (R 0) ; 0.32% (R 1); 0.35% (R 2); 0.33% (R 3). The results of analysis of variances showed, the use of prebiotics in the diet did not affect significantly (P> 0.05) on the weight and the percentage of the accessory organ (liver, pancreas and bile). The coclusion of this research is, the additions of prebiotic types of FOS, GOS dan Inulin in the diet produces smiliar weight and percentage of accessory organ (liver, bile and pancreas) of eight week male Tegal ducks. | |
| 2357 | 12131 | A1L011124 | REPELENSI EKSTRAK BEBERAPA JENIS TANAMAN TERPILIH PENGHASIL SENYAWA VOLATIL TERHADAP HAMA BUBUK BERAS Sitophilus oryzae (L) | Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui potensi dari beberapa jenis tanaman penghasil senyawa volatil sebagai repelen terhadap kumbang Sitophilus oryzae, dan 2) mengetahui tingkat konsentrasi yang menunjukkan hasil repelensi terbaik. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto pada bulan Desember 2014 – Mei 2015. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Dual Choice Method (DCM). Percobaan menggunakan Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design) dengan menggunakan dua faktor. Faktor yang pertama sebagai petak utama yaitu jenis tanaman penghasil senyawa volatil: P1=daun pandan wangi, P2=daun salam, P3= daun serai wangi, P4=daun selasih, P5=daun nilam. Faktor kedua sebagai anak petak yaitu tingkat konsentrasi: K1=5%, K2=10%, K3=15%. Total kombinasi perlakuan 15 kombinasi dan 5 kali ulangan. Variabel yang diamati adalah tingkat repelensi ekstrak terhadap serangga dan jumlah serangga yang datang ke arena karung. Data dianalisis dengan cara uji F, apabila berbeda nyata dilanjutkan dengan BNT (Beda Nyata Terkecil) pada taraf kesalahan 5%. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah 1) Semua jenis esktrak tanaman yang di uji mempunyai potensi sebagai repelen terhadap kumbang S. oryzae. Tingkat repelensi ekstrak salam sebesar 82,40 % (kelas 5), ekstrak nilam 72,00 % (kelas 4), ekstrak selasih 70,48 % (kelas 4), ekstrak pandan wangi 68,35 % (kelas 4) dan ekstrak serai wangi 62,14 % (kelas 4), dan 2) Berdasarkan rata-rata nilai persen repelensi, konsentrasi ekstrak yang menunjukkan hasil repelen terbaik adalah pada konsentrasi 10%. | This research purpose were to 1) determine the potential of some species of plants that producing volatile compounds as repellent against rice weevil, and 2) determine the concentration of extracts that giving the best result of repellency. Research was carried out at the Laboratory of Plant Protection, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University Purwokerto in December 2014 - May 2015. This research used Dual Choice Method (DCM). The experiment used Split Plot Design by two factors. The first factor (main plot) was the plants producing volatile compounds: P1 = Pandanus amarillifolyus, P2= Syzygium polyanthum, P3 = Cymbopogon nardus, P4 = Ocimum basillicum, P5 = Pogostemon cablin. The second factor (sub plot) was the level of concentration: K1 = 5%, K2 = 10%, K3 = 15%. Total 15 combinations and 5 replications. Data were analyzed by F test, and continued by LSD at 5% error level. The results 1) All tested species of plants had potential as repellent against S. oryzae. Level repellency of S. polyanthum 82,40 % (class 5), P. cablin 72,00 % (class 4), O. basillicum 70,48 % (class 4), P. amaryllifolius 68,35 % (class 4), and C. nardus 62,14 % (class 4), and 2) and the concentration of extract which showed the best result of repellency was 10%. | |
| 2358 | 12115 | A1H011075 | KEPEKATAN EC LARUTAN NUTRISI PADA BUDIDAYA BABY KAILAN DENGAN SISTEM AEROPONIK | Kailan merupakan salah satu jenis sayuran yang dibudidayakan untuk memenuhi permintaan pasar yang bernilai ekonomis tinggi. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2006, permintaan pasar untuk ekspor kailan cukup besar yakni 72 ton per tahun, namun produksi tanaman kubis-kubisan khususnya kailan mengalami penurunan dari rata-rata produksi 287,30 kw/ha tahun 2005 menjadi 253,70 kw/ha pada tahun 2006. Penurunan tersebut dikarenakan belum adanya penerapan teknik budidaya atau metode yang baik untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Aeroponik merupakan salah satu tipe dari hidroponik dimana air yang berisi larutan hara disemburkan dalam bentuk kabut hingga mengenai akar tanaman, sehingga aeroponik memiliki aerasi yang baik. Konsentrasi larutan nutrisi dalam sistem aeroponik sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman, karena tanaman tumbuh dan berkembang dari suplai nutrisi yang diberikan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan kepekatan Electrical Conductivity (EC) larutan nutrisi yang sesuai untuk budidaya baby kailan (Brassica oleraceae var. albo-glabra) secara aeroponik, dan mendapatkan varietas kailan yang dapat dibudidayakan dengan sistem aeroponik. Konsentrasi EC yang diberikan yaitu konsentrasi EC 1,5 mS/cm, EC 2 mS/cm, dan EC 3 mS/cm dengan tiga varietas kailan dataran rendah Full White, New Veg-Gin, dan Super King. Parameter yang diamati adalah parameter pertumbuhan dan hasil kailan yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, dan bobot tanaman. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian konsentrasi nutrisi yang berbeda berpengaruh terhadap ketiga parameter pertumbuhan baby kailan. Pemberian EC 3 mS/cm memberikan respon terbaik terhadap jumlah daun (7,48 helai). Pemberian EC 3 mS/cm dan 1,5 mS/cm memberikan hasil terbaik pada parameter pertumbuhan tinggi dan bobot tanaman, sedangkan pemberian EC 2 memberikan hasil terendah terhadap tiga parameter tersebut. Hasil terbaik dari ketiga varietas dataran rendah diperoleh dari varietas New Veg-Gin dengan jumlah tinggi tanaman (19,79 cm), jumlah daun (7,80 helai), dan bobot tertinggi (20,89 g). | Kailan is one of the vegetables types cultivated to meet the market demand of high economic value. Based on data Badan Pusat Statistik (BPS) in 2006, market demand for kailan export large enough, namely 72 tonnes per year, however the production of kailan decreased from 287.30 kw / ha in 2005 to 253 . 70 kw / ha in 2006. The decrease is due to insufficient implementation of cultivation techniques or method for kailan to obtain optimal production. Aeroponics is one of hydroponics types in which water containing nutrient solution is sprayed in the form of mist to the roots of plants, thus aeroponics have good aeration. The concentration of the nutrient solution in aeroponic systems greatly affects the growth and yield, because the plant grow and develop depend on the supply of nutrients given. T he research was carried out with the purpose to obtain a suitable concentration of Electrical Conductivity (EC) nutrient solution for the cultivation of baby kailan (Brassica oleraceae var . albo-glabra) aeroponics system, and to have kailan varieties that can be cultivated in aeroponic system. The treatments included three EC concentration namely of EC 1.5 mS / cm, EC 2 mS / cm, and 3 EC mS / cm combined with three varieties kailan namely Full White platns, New Veg-Gin, and Super King. Observed parameters are plant height, leaf number, and weight of plant. The results showed that the different nutrients concentration influenced the three growth parameters of baby kailan. The application of EC 3mS/cm gave the best response to the number of plants leave (7.48 strands). The application of EC 3 mS/cm and 1.5 mS/cm produced the best results in growth parameters plant height and weight, the application of EC 2 lowered these three parameters. The best result of the three lowland was obtained from New Veg-Gin highest of plant(19.79 cm), number of the leaves of (7.80 pieces), and the highest weight of (20.89 g). | |
| 2359 | 12116 | H1H011037 | TINGKAT INFEKSI NEMATODA ANGUILLICOLA PADA SIDAT (Anguilla sp.) DI KABUPATEN KEBUMEN | Nematoda anguillicola merupakan parasit spesifik pada sidat. Keberadaan organisme ini dapat menyebabkan penyakit anguillicolosis yang dapat menyebabkan kerugian pada budidaya sidat di seluruh dunia. Pada tahun 2014 ditemukan indikasi adanya nematoda anguillicola pada sidat tangkapan di perairan selatan Jawa Tengah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat infeksi nematoda anguillicola pada sidat (Anguilla sp.) hasil tangkapan di Kabupaten Kebumen. Sampel sidat ditangkap dari daerah pesisir selatan Jawa Tengah wilayah Kabupaten Kebumen. Tingkat infeksi yang diperoleh meliputi nilai prevalensi dan intensitas. Prevalensi selama penelitian pada bulan Januari sebesar 1,56%, pada bulan Februari 6,00% dan pada bulan Maret 1,50%. Pada bulan April hingga Juni tidak ditemukan nematoda anguillicola. Nilai intensitas selama penelitian pada bulan Januari adalah sebesar 1 parasit/individu, pada bulan Februari 2 parasit/individu dan pada bulan Maret 5 parasit/individu, dengan nilai rata-rata 2 individu parasit dalam satu ekor inang. | Nematode anguillicola is a specific parasite of eels which is caused anguillicolosis. Their present have been decreasing eel culture production around the world. In 2014 present of this organism have been indicated from eel caught on southern coast of Central Java. The purpose of this research is to know the degrees of infection of nematode Anguilicola on eel (Anguilla sp.) caught in Kebumen Residence. The samples catched from Kebumen Residence southern coast of Central Java. The infection rate revealed by prevalence and intensity showed that the prevalence of nematode anguillicola on January to March are (respectively) 1.56% , 6.00% and 1.50%. in contrary there are no nematode anguillicola founded in April to June. The intensity value on January to March are are (respectively) 1 parasit/individu, 2 parasit/individu, and 5 parasit/individu, with average of 2 paractes individues per host. | |
| 2360 | 12117 | A1L011088 | APLIKASI DUA ISOLAT Pseudomonas fluorescens DALAM FORMULA CAIR UNTUK MENGENDALIKAN PENYAKIT LAYU BAKTERI KENTANG | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) pengaruh pemberian dua isolat Pseudomonas fluorescens P8 dan Pseudomonas fluorescens P60 formula cair pada pengimbasan ketahanan tanaman kentang terhadap penyakit layu bakteri, dan 2) pengaruh pemberian dua isolat Pseudomonas fluorescens P8 dan Pseudomonas fluorescens P60 formula cair terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kentang. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan Tanaman Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, dan di lahan Petani Kentang Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, dimulai Maret sampai dengan Juni 2015. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok, 6 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan yang dicoba terdiri atas kontrol, dan penyiraman bakterisida berbahan aktif streptomisin sulfat 20% 1,5 g/L 6 kali, perendaman bibit 15 menit, dan penyiraman Pseudomonas fluorescens P8 dan Pseudomonas fluorescens P60 3, 6, 9, dan 12 kali. Variabel yang diamati yaitu masa inkubasi, intensitas penyakit, kejadian penyakit, laju infeksi, kepadatan akhir antagonis dan patogen, tinggi tanaman, jumlah cabang, bobot segar dan kering tajuk, bobot segar dan kering akar, jumlah umbi, volume umbi terbesar, bobot umbi per tanaman, dan analisis jaringan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan aplikasi antagonis Pseudomonas fluorescens P8 dan Pseudomonas fluorescens P60 dapat mengimbas ketahanan tanaman kentang dengan meningkatkan kandungan senyawa fenol pada tanaman. Perlakuan aplikasi perendaman bibit 15 menit, dan penyiraman antagonis Pseudomonas fluorescens P8 dan Pseudomonas fluorescens P60 12 kali, mampu memperlambat masa inkubasi, menurunkan intensitas penyakit, menurunkan kejadian penyakit masing-masing sebesar 9,23, 75, dan 53,57%, serta meningkatkan pertambahan tinggi tanaman, bobot kering akar, dan bobot umbi masing-masing sebesar 24,86, 37,67, dan 18,39%. | This research aimed at knowing: 1) the effect of two isolates Pseudomonas fluorescens P8 and Pseudomonas fluorescens P60 in liquid formulations on the bacterial wilt, and 2) on growth and yield of potato. This research was carried out at the Laboratory of Plants Protection, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, Purwokerto, and the potato field at Serang Village, Karangreja Sub-District, Purbalingga Regency, started from March to June 2015. Randomized Block Design was used with 6 treatments and 5 replicates. The treatments were control, drencing bactericide (streptomisin sulfat 20% as its active ingredients) 1,5 g/L for 6 times, soaking of seedling for 15 minutes, and drencing antagonistic Pseudomonas fluorescens P8 dan Pseudomonas fluorescens P60 3, 6, 9, and 12 times. Variables observed were incubation period, disease incident, disease intensity, infection rate, late population of antagonistic and bacteria, plant height, number of branches, fresh and dry weight of crop, fresh and dry weight of root, number of tubers, volume of the biggest tubers, weight of tubers, and tissues analysis. Result of the research showed that the application of Pseudomonas fluorescens P8 and Pseudomonas fluorescens P60 could induce resistence of potato plants with increased the content of phenolic compounds in plants. Soaking of seedling for 15 minutes, combined with drencing antagonistic Pseudomonas fluorescens P8 dan Pseudomonas fluorescens P60 for 12 times could delay the incubation period, supress disease intensity, and reduce disease incident as 9,23, 75, and 53,57% respectively, and the increase plant height, dry weight of root, and weight of tubers as 24,86, 37,67, and 18,39% respectively. |