Artikelilmiahs

Menampilkan 2.141-2.160 dari 48.726 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
214111823D1E011042HUBUNGAN PARTISIPASI PETERNAK DENGAN EFEKTIVITAS ADOPSI TEKNOLOGI INTAB DI KABUPATEN PURBALINGGAPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat partisipasi peternak dengan efektivitas adopsi teknologi intensifikasi ternak ayam buras INTAB di Kabupaten Purbalingga serta untuk mengetahui hubungan partisipasi peternak dan efektivitas adopsi teknologi intensifikasi ternak ayam buras INTAB. Penelitian dilakukan dengan metode survey dalam pengumpulan data, sedangkan pengambilan sampel peternak menggunakan metode Stratified Random Sampling, yaitu sebanyak 65 orang sebagai responden dan penetapan sampel wilayah menggunakan metode Purposive Sampling. Penelitian ini dianalisis dengan menggunakan uji korelasi rank spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi peternak pada perencanaan dan pelaksanaan tinggi, evaluasi sedang dan pada adopsi teknologi intensifikasi sedang. Ada korelasi yang cukup signifikan antara partisipasi peternak dengan adopsi teknologi intensifikasi ternak ayam buras INTAB. Hubungan pada tingkat perencanaan dengan adopsi teknologi sistem pemeliharaan, adopsi teknologi bibit dan tingkat pelaksanaan dengan adopsi teknologi perkandangan, pencegahan serta pengendalian penyakit signifikan, sedangkan pada tingkat evaluasi tidak signifikan.This study aims to determine The level of Farmer Participation with Effectiveness INTAB Technology Adoption in Purbalingga and to determine the relationship of farmer participation with livestock intensification technology adoption effectiveness range chicken INTAB. The study was conducted by survey method in collecting data, while sampling farmers using stratified random sampling method, as many as 65 people as respondent and the determination of the area sampled using purposive sampling method. This research were analyzed using the Spearman rank correlation test. The results showed the farmer participation on prevention and implementation high, evaluation medium and technology adoption intensification average that there was a significant correlation between the participation of farmers with livestock intensification technology adoption-range chicken (INTAB). Relation to the planning level with the adoption of the technology system maintenance, seed technology adoption and implementation of the technology adoption rate of housing, prevention and control of diseases significance, whereas there is evaluation of the level of no significance.
214211858A1C010099NILAI TAMBAH DAN STRATEGI PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI VIRGIN COCONUT OIL (VCO) DI KABUPATEN KEBUMENVirgin Coconut Oil (VCO) merupakan salah satu produk hilir dari buah kelapa yang banyak diminati karena nilai ekonomisnya tinggi dan dapat meningkatkan nilai tambah kelapa. Tujuan penelitian ini untuk: (1) menghitung besarnya nilai tambah kelapa setelah diolah menjadi VCO, (2) mengidentifikasi faktor internal dan eksternal serta implikasinya terhadap kekuatan, kelemahan, peluang dan ancamannya, (3) merumuskan strategi pengembangan yang tepat untuk mengembangkan agroindustri VCO. Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Februari sampai Maret 2015. Sasaran penelitian yaitu pelaku agroindustri VCO binaan Unit Pengolahan Kelapa Terpadu (UPKT) Sun Coco di Kabupaten Kebumen. Analisis data menggunakan analisis nilai tambah, IFAS (Internal Strategic Factor Analisis Summary), EFAS (External Strategic Factor Analisis Summary), Internal-Eksternal (IE), SWOT (Strength, Weakness, Opportunities, Threats) dan QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) nilai tambah yang diperoleh dari pengolahan VCO yang dijual ke UPKT Sun Coco sebesar Rp292,84 per butir kelapa dan yang dijual keluar UPKT Sun Coco sebesar Rp3.318,93 per butir kelapa, (2) Kekuatan: pengrajin sudah berpengalaman, lokasi merupakan sentra kelapa, proses pengolahan sederhana dan mudah, produk mempunyai pasar tetap, harga produk relatif stabil, kontinuitas hasil produksi dan tidak terdapat pesaing di wilayah Kebumen. Kelemahan: modal terbatas, bahan baku terbatas, kemampuan pengajin terbatas, produk tidak dalam bentuk kemasan, kapasitas produksi, teknologi sederhana dan kualitas produk. Peluang: jumlah permintaan VCO, potensi pasar ekspor, pelatihan dan pembinaan dari UPKT Sun Coco, dukungan pemerintah, perkembangan terknologi dan ketersediaan akses kredit. Ancaman: fluktuasi harga bahan baku, produk sejenis dari daerah lain, alokasi anggaran pemerintah, kemampuan adopsi teknologi dan tingkat daya beli masyarakat umum. (3) Prioritas strategi utama adalah memanfaatkan dukungan teknis dan keuangan dari berbagai pihak terkait untuk menambah permodalan, meningkatkan kemampuan produksi dan memperluas pemasaran.Virgin Coconut Oil (VCO) is one of the downstream products are much in demand because of high economic value and the value added. This research was aimed to: (1) determine the value added of coconut during processed into virgin coconut oil, (2) identify the internal and external factors that influence the development of VCO agroindustries and the implications on the strengths, weaknesses, opportunities and threats (3) formulate the appropriate development strategy of virgin coconut oil agroindustry in Kebumen Regency. Research was conducted in Kebumen Regency in February 2015 until March 2015, research object is all of VCO entrepreneurs who assistance by UPKT Sun Coco. Data analysis method used is added values, IFAS (Internal Strategic Factor Analisis Summary) analysis, EFAS (External Strategic Factor Analisis Summary) analysis, Internal-External analysis, SWOT (Strength, Weakness, Opportunities, Threats) analysis, and QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix) analysis. The result of this research showed that: (1) the value added of coconut during processed into VCO is Rp292,84 per unit of coconut and Rp3.318,93 per unit of coconut. (2) Strength: experienced entrepreneurs, central of coconut, production process of virgin coconut oil, having fixed market, stability price of VCO, continuity of production, and no competitor in Kebumen. Weakness: limited of financial capital, limited of raw materials, ability of labor, packaging of product, limited of production capacity, technology, and poor product quality. Opportunities: high demand of virgin coconut oil, potential export markets, training and coaching of UPKT Sun Coco, the government support, the development of technology, and availability of credit access. Threat: price fluctuation of raw materials, similar product from other regions, limited government budget allocation, adoption of technology, and low purchasing power of VCO. (3) The main strategy priority is using the technical and financial support from stakeholder to increase financial capital, improve production ability and expand markets.
214311887G1A011042Perbedaan Tingkat Kecemasan antara Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unsoed yang Menjalankan Kurikulum 2005 dan 2014Latar Belakang : Angka kejadian cemas pada mahasiswa kedokteran sangat tinggi di dunia. Amerika Serikat, Kanada dan Lithuania 43%, Saudi Arabia 29%, Mesir 33,6%, Pakistan 43,7%, dan di Indonesia sendiri sebanyak 45%. Faktor yang menyebabkan terjadinya cemas pada mahasiswa kedokteran adalah sistem dan peraturan akademik yang berlaku. Desain kurikulum, padatnya jadwal perkuliahan, praktikum, keterampilan klinis (skillab), Problem Base Learnig (PBL), dan ujian, serta sistem penilaian akhir, cenderung menginduksi cemas kepada mahasiswa kedokteran.
Tujuan : Untuk Mengetahui apakah terdapat perbedaan kecemasan antara mahasiswa kedokteran Unsoed yang menjalankan kurikulum 2005 dan 2014.
Metode : Desain Penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampling adalah total sampling dengan populasi angkatan 2013 dan 2014. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuisioner Lie Minnesota Multiphasic personality Inventory (L-MMPI) dan kuisioner Taylor Manifest Anxiety Scale (TMAS). Analisis data yaitu dengan menggunakan uji t tidak berpasangan.
Hasil : Responden dari angkatan 2013 adalah sebanyak 46 mahasiswa dan 2014 sebanyak 41 mahasiswa. didapatkan hasil bahwa angkatan 2014 yang menjalankan kurikulum 2014 lebih cemas dibandingkan angkatan 2013 yang menjalankan kurikulum 2005 dengan nilai kemaknaan (p=0,001)
Kesimpulan : Peneliti menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan kecemasan yang bermakna antara mahasiswa kedokteran Unsoed yang menjalankan kurikulum 2005 dan 2014.
Background :The Prevalance of anxiety among medical students have the high rate in the world. USA, Canada and Lithuania 43%, Saudi Arabia 29%, Egypt 33,6%, Pakistan 43,7%, and Indonesia 45%. The factors that cause anxiety happened in medical student were the system and the academic roles that was applied. the curriculum design, thight schedules, practicum, clinical skill, group discussion, sumative test, and the final score of the sumative test system, are the caused of anxiety toword medical student.
Objective : This research aims was to reveal the difference of anxiety between medical student of Unsoed that perform curriculum of 2005 and 2014.
Method : This research is an observational study using cross-sectional approach. The subjects were medical student class of 2013 and 2014. The research instrument used was the Lie Minnesota Multiphasic Personality Inventory (L-MMPI) questionare and Taylor Manifest Anxiety Scale (TMAS) questionare. Statistical analysis was using independent t test.
Result : They were 46 students from the class of 2013 and 41 students from the class of 2014. The result shows that respondents from class of 2014 that perform curriculum of 2014 have higher level of anxiety compared to those who at the class of 2013 that perform curriculum of 2005 with (p=0,001).
Conclusion : In conclusion, there is a difference of anxiety between medical student of Unsoed that perform curriculum of 2005 and 2014.
214411860A1H011031PEMANFAATAN CAHAYA TERDIFRAKSI OLEH CD DAN DVD UNTUK IDENTIFIKASI KARAKTERISTIK OPTIK BUAH PEPAYA CALIFORNIA (Carica papaya L.)Karakteristik optik dari komoditas hortikultura diyakini memiliki korelasi yang tinggi terhadap parameter mutu. Oleh karena itu, penelitian ini dilaksanakan untuk menguji karakteristik optik pada pepaya California menggunakan cahaya terdifraksi yang dihasilkan oleh CD dan DVD. Tujuan penelitian ini yaitu: (1) mempelajari karakteristik optik buah pepaya dengan menggunakan cahaya yang diperoleh dari difraksi cahaya oleh CD dan DVD dan (2) menentukan hubungan matematis antara karakteristik optik pepaya dan parameter mutunya. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknik Pengolahan Pangan dan Hasil Pertanian Universitas Jenderal Soedirman. Karakteristik optik pepaya diamati dengan menggunakan prototipe instrumen yang dibuat untuk tujuan itu. Untuk menyediakan pepaya dengan berbagai tingkat kualitas, sampel disimpan pada suhu ruang selama 7 hari. Dalam pengukuran, parameter karakteristik optik adalah cahaya yang dipantulkan oleh pepaya. Pengukuran dilakukan untuk mengamati intensitas cahaya yang dipantulkan oleh pepaya pada berbagai tingkat mutu. Parameter mutu pepaya mencakup warna, kekerasan, dan total padatan terlarut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cahaya terdifraksi yang dihasilkan oleh CD dan DVD dapat dimanfaatkan untuk mengetahui karakteristik optik buah pepaya. Di samping itu, terdapat indikasi yang kuat bahwa karakteristik optik dari pepaya mempunyai korelasi yang kuat dengan tingkat kualitasnya. Optical characteristics of horticultural commodity are believed to have a high correlation with its quality parameters. Therefore, this research was carried out to examine optical characteristics of papaya California using diffracted light produced by the CD and DVD. Objectives of this research were to (1) study optical characteristic of papaya using diffracted light produced by CD and DVD and (2) determine mathematical relationship between the optical characteristic of the papaya and its quality parameters. This research was conducted in Laboratory of Food Processing and Agricultural Products at Jenderal Soedirman University. Optical characteristic of the papaya was observed using an instrument prototype for that purpose. For providing papaya with various quality level, samples were stored in room temperature for 7 days. In measurement, parameter of optical characteristic was light reflected by the papaya. Measurements were made to observe intensity of light reflected by the papaya at various quality level. Quality parameters of the papaya included color, firmness, and total soluble solids. The research results indicated that diffracted light produced CD and DVD can be used to determine optical characteristics of the papaya. In addition, it was also strongly indicated that characteristics of optical the papaya has strong correlation with its quality level.
214511861B1J010063STRUKTUR KOMUNITAS MIKROFITA DI SUNGAI PELUS KABUPATEN BANYUMAS KAITANNYA DENGANKANDUNGAN NUTRIEN (NITRAT, ORTHOFOSFAT DAN SILIKA)
Sungai Pelus merupakan salah satu sungai di Kabupaten Banyumas. Penggunaan lahan di sepanjang Sungai Pelus berupa areal hutan, pertanian, pemukiman, pemukiman padat. Meningkatnya kandungan nutrient (nitrat (NO3), ortofosfat, (PO4), dan silika (Si) di perairan akan mempengaruhi kehidupan organisme akuatik. Mikrofita adalah tumbuhan perairan yang berukuran mikroskopis dapat sebagai planktonik dan bentik, berperan sebagai produser primer yang dapat menyediakan bahan organik sebagai sumber energi untuk komponen ekosistem lainnya (konsumer). Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengkaji berapa kandungan NO3, PO4, Si, mengkaji struktur komunitas mikrofita planktonik dan bentik, dan mengkaji hubungan konsentrasi NO3, PO4, Si dengan kelimpahan mikrofita bentik di Sungai Pelus. Metode penelitian ini metode survei dengan mengambil 5 lokasi pengambilan sampel. Penelitian ini dilakukan tiga kali ulangan dalam interval waktu dua minggu dengan menghitung jenis dan jumlah jenis mikrofita, mengukur konsentrasi NO3, PO4, Si sebagai parameter utama. Parameter pendukung yaitu suhu, kecepatan arus, konsentrasi oksigen terlarut dan pH. Data pengukuran dianalisis secara deskriptif membandingkan dengan PP nomor 82 tahun 2001 dan histogram untuk melihat perbedaan konsentrasi NO3, PO4, Si setiap stasiun. Struktur komunitas mikrofita dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dengan cara mendeskripsikan divisi, jenis dan jumlah jenis individu mikrofita planktonik dan bentik yang diperoleh menggunakan tabel, sedangkan analisis kuantitatif dengan indeks. Hubungan antara konsentrasi nitrat, ortofosfat dan silika dianalisis dengan regresi kolerasi berganda. Kualitas air sungai berdasarkan nitrat, ortofosfat, silika dan parameter pendukung lainnya masih baik karena masih dibawah baku mutu PP no. 82 tahun 2001. Tingkat komunitas mikrofita bentik Sungai Pelus keanekaragamannya sedang, dan tidak ada jenis mikrofita bentik yang mendominasi, individu antar jenis tidak tersebar secara merata di setiap stasiun. Hubungan antara konsentrasi Nitrat, Ortofosfat dan Silika dengan kelimpahan mikrofita bentik memiliki hubungan sangat erat dan r = 0,999. Koefisien determinasi sebesar R2 = 0,998 yang menunjukan bahwa kelimpahan mikrofita bentik dapat dijelaskan oleh konsentrasi nutrien 99,8% dan sisanya 2% dipengaruhi oleh faktor lain misalnya kecepatan arus dan penetrasi cahaya. Persamaan regresi hubungan antara kelimpahan mikrofita bentik dengan konsentrasi nitrat, ortofosfat dan silica. Kelimpahan= -53,5 + 16,3 (nitrat) – 108 (ortofosfat) + 0,5 (silika). Hasil uji Fhit = 499 > Ftabel =216. Sehingga, kelimpahan mikrofita bentik dipengaruhi oleh konsentrasi nitrat, ortofosfat dan silika dengan sangat nyata. Pelus River is one of the rivers in Banyumas Regency. Land usage along Pelus River includes forest area, agriculture, settlement, dense settlement. The increase of nutrient concentrations (nitrate (NO3), orthophosphate (PO4), and silica (Si) in aquatic bodies will affect aquatic organism’s life. Microphytes is a microscopic sized aquatic plant that is also planktonic and bentic, functions as primary producer that can provides organic matter as energy source for other ecosystem component (consumer). The aim of this research is to study the amount of NO3, PO4, Si contents, to study community structure of planktonic and bentic microphytes, and to study the relation between NO3, PO4, Si concentration with bentic microphytes density in Pelus River. River water quality based on nitrate, orthophosphate, silica and other supporting parameters was considered good because it is still under the quality standard of PP no. 82 year 2001. Biodiversity level of bentic microphytes communities in Pelus River was moderate, and there were no bentic microphytes species that dominates, individuals between species are not distributed evenly in each stations. Relation between Nitrate, Orthophosphate and Silica concentration with bentic microphytes density had a very close relationship and r = 0,999. Determination coefficient was R2 = 0,998 which showed that bentic microphytes density can be explained by nutrient concentration for 99,8% and the remaining 2% was influenced by other factors such as current speed and light penetration. Relationship regression equation between bentic microphytes density with nitrate, orthophosphate and silica concentrations was Density = -53,5 + 16,3 (nitrate) – 108 (orthophosphate) + 0,5 (silica). Result of Fhit test = 499 > Ftabel = 216. In conclusion, bentic microphytes density was affected very significantly by nitrat, orthophosphate and silica concentration.
214611863A1C010024Motivasi Anggota Kelompok Tani Dalam Melaksanakan Program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP)
(Studi Kasus Gapoktan Tani Alam Lestari di Desa Karangsalam Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas)
Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) merupakan program kementerian pertanian bagi petani di pedesaan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup, kemandirian, dan kesejahteraan dengan memberikan fasilitas bantuan modal usaha untuk petani pemilik, petani penggarap, buruh tani maupun rumah tangga tani. Motivasi anggota Gapoktan di Desa Karangsalam Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas mengikuti program PUAP adalah untuk mendapatkan modal dalam upaya meningkatkan produktivitas dan pendapatan sehingga dapat memenuhi kebutuhan fisiologis pokok, kebutuhan rasa aman karena jaminan akan tidak kekurangan modal dalam usaha agribisnis dan kebutuhan sosial dalam menjalin hubungan sosial antar anggota Gapoktan. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mengetahui motivasi yang mendorong anggota Gapoktan dalam melaksanakan PUAP. (2) mengetahui tingkat motivasi dalam melaksanakan program PUAP di Desa Karangsalam Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas.
Penelitian ini dilaksanakan dengan metode studi kasus di Desa Karangsalam Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas. Penelitian dilaksanakan dari bulan Januari 2015 – Februari 2015. Sasaran penelitian adalah petani yang merupakan anggota Gapoktan dan aktif dalam melaksanakan program PUAP pada tahun 2014 yaitu sebanyak 32 anggota. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan Likert’s Summated Rating dan Metode Successive Interval (MSI).
Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) motivasi fisiologis anggota belum terpenuhi seluruhnya, motivasi keamanan yang terpenuhi adalah kemudahan penyaluran dana PUAP ke anggota dan PUAP sebagai sarana peminjaman modal yang lebih baik, motivasi sosial yang terpenuhi adalah keinginan untuk medapatkan relasi (2) tingkat motivasi tertinggi yang mendorong perilaku petani anggota dalam melaksanakan program PUAP di Desa Karangsalam Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas adalah motivasi kebutuhan keamanan.
PUAP is a program of the Ministry of Agriculture for farmers in rural areas in order to improve the quality of life, independence and well-being by providing capital assistance for facility owner farmers, tenant farmers, farm workers and farm households. Motivation Gapoktan members in Karangsalam Village, Baturraden Sub-District, Banyumas Regency implementing PUAP program are to raise capital by increasing productivity and income in order to fulfill physiological needs, safety needs because lack of of capital guarantee in agribusiness and social needs in the social relationship between Gapoktan members. The aim of this study were: (1) knowing the motivation of farmer groups members in implementing PUAP. (2 determine the level of motivation in implementing the PUAP program at Karangsalam Village, Baturraden Sub-district, Banyumas Regency.
The research was carried out by case study method in Karangsalam Village, Baturraden Sub-district, Banyumas Regency. The research was done from January 2015 – February 2015. The research targets are farmers in Gapoktan members and active in implementing Gapoktan PUAP program in 2014 as many as 32 members. Methods of data analysis using descriptive analysis, Likert's Summated Rating and Successive Interval Method (MSI).
The result of this research showed that: (1) motivation physiological member is not yet fulfilled entirely, motivation security is the ease of distribution of funds PUAP to members , how to get it and PUAP as a means of better capital borrowing, social motivation fulfilled is a desire to obtain a relation (2) the highest level of motivation that drives the behavior of the farmer members in implementing the PUAP program at Karangsalam Village, Baturraden Sub-district, Banyumas Regency is motivation security needs.
214711868G1G010010PENGARUH APLIKASI GEL PROTEIN SERISIN KOKON Bombyx mori TERHADAP KEPADATAN SERABUT KOLAGEN DALAM PROSES PENYEMBUHAN LUKA PASCA PENCABUTAN GIGIPencabutan gigi merupakan tindakan yang dilakukan dokter gigi apabila kondisi gigi tidak dapat dipertahankan. Soket pasca pencabutan gigi terkadang dapat menimbulkan komplikasi dan membuat pasien sakit. Protein serisin merupakan bahan yang dapat mempercepat penyembuhan luka sehingga apabila diaplikasikan pada soket pasca pencabutan gigi dapat mempercepat penutupan soket dan mengurangi resiko terjadinya komplikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian gel protein serisin kokon Bombyx mori terhadap kepadatan serabut kolagen pada penyembuhan luka pasca pencabutan gigi. Sampel penelitian yang digunakan adalah 45 ekor tikus putih Rattus norvegicus galur Wistar, penelitian secara eksperimental laboratoris dengan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas 2 kelompok. Kelompok I adalah kelompok yang dibagi berdasarkan konsentrasi menjadi 5 perlakuan, yaitu K1 (sebagai kontrol negatif), K2 (sebagai kontrol positif), G1 (konsentrasi 6%), G2 (konsentrasi 8%), G3 (konsentrasi 10%). Kelompok II adalah kelompok yang dibagi berdasarkan lama waktu aplikasi menjadi 3 perlakuan, yaitu W1 (3 hari), W2 (5 hari), dan W3 (7 hari). Penilaian kepadatan serabut kolagen menggunakan metode skor yang dilakukan dengan cara menghitung pada 10 lapang pandang preparat histologis. Hasil yang diperoleh ditabulasikan, kemudian diuji dengan uji Kruskal-Wallis dilanjutkan dengan uji Post-Hoc Mann-Whitney. Gel protein serisin kokon Bombyx mori 10% dengan lama aplikasi 7 hari memiliki kepadatan serabut kolagen tertinggi dan dibandingkan dengan kelompok povidone iodine 10%, gel protein serisin kokon Bombyx mori 10% memiliki kepadatan serabut kolagen yang lebih tinggi. Di antara jenis konsentrasi yang diujikan, gel protein serisin kokon Bombyx mori 10% dapat dijadikan alternatif terbaik. Hasil menunjukkan povidone iodine 10% tidak dapat menandingi keunggulan gel protein serisin kokon Bombyx mori 10% dalam kecepatan penyembuhan luka, tetapi dapat dijadikan obat penyembuh luka yang ideal karena ketersediaan di pasaran dan mudah didapat.Tooth extraction is an treatment by dentist if dental conditions can not be maintained. After tooth extraction, soc¬ket can sometimes cause complications and make the patient uncomfortable. Protein serisin is a material that can accelerate wound healing so that when applied to the post-tooth extraction socket can accelerate closing the socket and reduce the risk of complications. This study was aimed to determine the effect of protein gel cocoons of Bombyx mori serisin to the density of collagen fibers in wound healing post extraction. This study was carried on total 45 rats Rattus norvegicus Wistar, research in experimental laboratory with randomized group design consisting of two groups. Group I divided based on the concentrations of treatment then subdivided into five treatment, namely K1 (negative control), K2 (as a positive control), G1 (concentration 6%), G2 (concentration 8%), G3 (10% concentration) . Group II divided based on length of time the application then divided into three treatment, namely W1 (3 days), W2 (5 days), and W3 (7 days). Assessment density of collagen fibers using score method is done by looking at the 10 field of view of histological preparations. The results was tabulated then tested with Kruskal-Wallis test followed by post-hoc Mann-Whitney test. Protein gel Bombyx mori cocoon serisin 10% at 7 days application has the highest density of collagen fibers. When compared with the positive control group is 10% povidone iodine, protein gel cocoons of Bombyx mori serisin 10% has a density of collagen fibers was higher than the 10% povidone iodine. Among the types of concentrations tested, protein gel Bombyx mori cocoon serisin 10% can be used as the best alternative. Results showing povidone iodine 10% can’t match advantage of protein gel Bombyx mori cocoon serisin 10%, but it can be used as an ideal wound healing drug because of easy availability in the market.
214811885C1K010049the effect burnout toward organizational commitment , intention to leave, and job satisfaction with social support as moderator Pengaruh burnout terhadap komitment organisasi, intensitas untuk keluar, dan kepuasan kerja dengan dukungan sosial sebagai moderasi the effect burnout toward organizational commitment , intention to leave, and job satisfaction with social support as moderator
214911866G1A011106KORELASI RASIO LINGKAR PINGGANG DAN PANGGUL DENGAN TEKANAN DARAH PADA PASIEN HIPERTENSI PESERTA PROGRAM PENGELOLAAN PENYAKIT KRONIS DI PURWOKERTO
ABSTRAK

Hipertensi merupakan salah satu penyakit metabolik yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah secara kronis. Banyak faktor yang menyebabkan hipertensi, sehingga untuk terhindar dari penyakit ini perlu dikaji apa saja faktor risiko penyebab hipertensi. Dari banyak faktor penyebab hipertensi, salah satu yang dominan adalah obesitas sentral. Penentuan obesitas sentral dapat dilakukan dengan pengukuran lingkar pinggang dan rasio linggar pinggang dan panggul. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis korelasi rasio lingkar pinggang dan panggul dengan tekanan darah pada pasien hipertensi peserta program pengelolaan penyakit kronis (PROLANIS) di Purwokerto. Desain Penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross sectional dengan besar sampel 52 responden. Analisis bivariabel dilakukan dengan uji korelasi Spearman. Penelitian ini telah disetujui oleh Komisi Etik Penelitian Kedokteran FKIK Unsoed. Terdapat korelasi signifikan (p<0,05) antara rasio lingkar pinggang-panggul terhadap tekanan darah sistolik dengan arah positif dan kekuatan korelasi lemah (r = 0,350). Namun, antara rasio lingkar pinggang-panggul terhadap tekanan darah diastolik tidak didapatkan korelasi yang bermakna (p>0,05). Dapat disimpulkan, semakin besar rasio lingkar pinggang dan panggul memberikan dampak lemah pada peningkatan tekanan darah sistolik pada pasien hipertensi peserta program pengelolaan penyakit kronis (PROLANIS) di Purwokerto, dan berlaku sebaliknya.
ABSTRACT

Hypertension is one of metabolic disease that signed with increase blood pressure chronically. Hypertension influenced by many factors, so to prevent this disease must know caused factors of hypertension. One of the caused dominant factor is central obesity. Determination of central obesity can be measurment by measured waist to hip ratio. The aim of this study was to analyze correlation of waist to hip ratio in hypertension patient chronic disease management program in Purwokerto. This was a observational analytic with cross sectional study with 52 subjects. Bivariable analysis was done by using Spearman correlation. This study was approved by the Research Ethics Committee of FK Unsoed. There was a significant correlation of waist to hip ratio with sistole blood pressure (p<0,05) with positive direction and weak correlation (r = 0,350). There was no significant correlation of waist to hip ratio with diastole blood pressure (p>0,05). It was conclude that bigger waist to hip ratio will weakly impact on the increase of sistole blood pressure in hypertension patient chronic disease management program in Purwokerto, and vice-versa.
215011867G1G010014KARAKTERISTIK NANOKOMPOSIT METAKAOLIN-ZIRKONIA-KARBONATAPATIT HASIL SINTESIS YANG DIPERKUAT COTTON FIBER DENGAN COUPLING AGENT KITOSAN BERVARISI KONSENTRASI SEBAGAI MATERIAL FIBER REINFORCED COMPOSITE (FRC)Fiber Reinforced Composite (FRC) merupakan bahan yang terdiri dari matriks berupa nanokomposit, coupling agent sebagai bahan pengikat dan serat sebagai bahan penguat. Fiber reinforced composite dalam bidang kedokteran gigi memiliki manfaat yang salah satunya digunakan untuk gigi tiruan cekat (GTC), seperti resin bonded prosthesis. Bahan alam yang dapat dimanfaatkan untuk dijadikan sebagai material pembentuk FRC antara lain metakaolin, zirkonia, dan karbonatapatit yang dapat dibuat menjadi nanokomposit, kitosan yang dapat dijadikan coupling agent, dan cotton fiber sebagai material penguat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan membandingkan karakteristik morfologi dan karakteristik mekanik berdasarkan kekerasan, tegangan lentur, dan modulus elastisitas FRC. Metode penelitian menggunakan metode eksperimental laboratoris murni dengan pembagian kelompok sempel menjadi tiga kelompok, yaitu sampel A (FRC dengan kitosan 2 %), sampel B (FRC dengan kitosan 4 %), dan sampel C (FRC dengan kitosan 6 %). Hasil SEM menunjukkan morfologi sampel C memiliki mikrostruktur yang paling baik dibandingkan sampel A atau pun sampel B. Hasil uji kekerasan sampel A, B, dan C berturut-turut adalah 14,4 VHN; 16,4 VHN; dan 16,9 VHN. Berdasarkan three point bending test, tegangan tekuk sampel A, B, dan C berturut-turut adalah 9,9389 MPa; 7,4644 MPa; dan 7.9372 MPa. Sedangkan modulus elastisitas sampel A, B, dan C berturut-turut adalah 3314,18 MPa; 2007,45 MPa; dan 2947,70 MPa. Dapat disimpulkan bahwa FRC yang lebih keras bersifat lebih kaku sehingga kekuatan lenturnya lebih rendah.Fiber Reinforced Composite (FRC) consists of three primary materials: nanocomposite as matrix, coupling agent as adhesive, and fiber as reinforcement. Fiber reinforced compositeis widely used in dentistry as fixed prosthesis, such as resin bonded prosthesis. There are many materials that can be used to synthesize FRC, such as metakaolin, zirconia, and carbonateapatite for nanocomposite, chitosan as coupling agent, and cotton fiber for the reinforcement.This study was aimed to describe morphology of each FRC made and to describe mechanical properties in the manner of hardness, flexural stress, and young’s modulus. This study was done under laboratory experimental method, consisted of three group of sample: specimen A (FRC with chitosan 2 %), specimen B (FRC with chitosan 4 %), and specimen C (FRC with chitosan 6 %). SEM result showed that specimen C had better microstructure than specimen A or specimen B. The result of hardness test of specimen A, B, and C were 14,4VHN; 16,4 VHN; and 16,9 VHN. The three point bending test of specimen A, B, and C resulted 9,9389 MPa; 7,4644 MPa; and 7.9372 Mpa and Young’s modulus of specimen A, B, dan C were 3314,18 MPa; 2007,45 MPa; dan 2947,70 MPa. It was concluded that the harder FRC is, the more rigid it is, the lower its flexural strength.
215111870A1M011048PENGARUH PENAMBAHAN EKSTRAK KAPULAGA, KUNYIT PUTIH, DAN MAHKOTA DEWA TERHADAP AROMA EKSTRAK DAN RASA EKSTRAK
PADA GULA KELAPA KRISTAL HERBAL
Gula kelapa kristal herbal merupakan suatu produk diversifikasi gula kelapa kristal dengan penambahan ekstrak herbal seperti ekstrak kapulaga, kunyit putih dan mahkota dewa. Penambahan ekstrak herbal selain diharapkan dapat menghasilkan suatu produk gula kelapa kristal herbal dengan karakteristik mutu yang tinggi, juga diharapkan mempunyai sifat sensoris yang baik sehingga dapat diterima oleh konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui pengaruh jenis ekstrak kapulaga, kunyit putih dan mahkota dewa terhadap aroma ekstrak dan rasa ekstrak pada gula kelapa kristal herbal; 2) Mengetahui pengaruh konsentrasi ekstrak kapulaga, kunyit putih dan mahkota dewa terhadap aroma ekstrak dan rasa ekstrak pada gula kelapa kristal herbal; 3) Menentukan kombinasi perlakuan yang menghasilkan aroma ekstrak dan rasa ekstrak paling kuat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kunyit putih yang ditambahkan dalam pembuatan gula kelapa kristal herbal menghasilkan aroma ekstrak yang lebih kuat dibandingkan dengan ekstrak kapulaga dan mahkota dewa, sedangkan ekstrak kunyit putih dan mahkota dewa menghasilkan rasa ekstrak yang lebih kuat dibandingkan dengan ekstrak kapulaga. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang ditambahkan maka aroma ekstrak dan rasa esktrak pada gula kelapa kristal herbal semakin kuat. Kombinasi perlakuan yang menghasilkan aroma ekstrak paling kuat yaitu kombinasi perlakuan ekstrak kunyit putih 15%, sedangkan kombinasi perlakuan yang menghasilkan rasa ekstrak paling kuat yaitu kombinasi perlakuan ekstrak mahkota dewa 15%. Herbal crystal coconut sugar is a diversified product of crystal coconut sugar with additional herbal extracts, such as cardamom, white turmeric and mahkota dewa extracts. The addition of herbal extract expected to produce a herbal product of crystal coconut sugar with high quality characteristics and also good sensory characteristics that can be accepted by consumers. This research attempt to: 1) Determine the influence of the type of cardamom, white turmeric and mahkota dewa extract towards the aroma and the taste of extractc of herbal crystal coconut sugar; 2) Determine the influence of the concentration of cardamom, white turmeric and mahkota dewa extract towards the aroma and the taste of herbal crystal coconut sugar; 3)Determine the treatment combination which produce the strongest aroma and taste of extracts. The results show that white turmeric extract added in the making of herbal crystals coconut sugar produces stronger aroma than cardamom and mahkota dewa extracts, while the white turmeric and mahkota dewa extracts produce stronger taste compared to the cardamom extracts. The higher the concentration of the extract added, the stronger the aroma and the taste of extract of herbal crystals coconut sugar. The treatment combination which produce the strongest aroma of extract is white turmeric extract with 15% of concentration, and the treatment combination which produce the strongest taste of extract is mahkota dewa extract with 15% of concentration.
215211871A1M011043KAJIAN WAKTU FERMENTASI DAN FORMULA ADONAN ROTI TAWAR MENGGUNAKAN TERIGU, TEPUNG AMPAS KELAPA, DAN TEPUNG JAGUNG TERHADAP KUALITAS ROTI TAWARRoti tawar merupakan roti yang dibuat dari terigu protein tinggi, air, yeast, gula, lemak dan garam yang difermentasi dengan menggunakan ragi roti dan dipanggang. Roti tawar memerlukan pengembangan volume yang besar supaya dihasilkan roti yang bagus. Secara umum lama waktu fermentasi dan penggunaan tepung non terigu mempengaruhi pengembangan karena ditentukan adanya gluten. Tepung ampas kelapa diketahui memiliki kadar serat tinggi dan tidak mengandung gluten. Tepung jagung memiliki protein yang cukup tinggi. Produk roti tawar ini menjadi salah satu produk pangan yang memiliki nilai fungsional yang bermanfaat bagi tubuh. Tujuan dari penelitian adalah menentukan lama waktu fermentasi untuk membuat roti tawar dengan kualitas terbaik. Menentukan proporsi terbaik dari tepung ampas kelapa dan tepung jagung untuk membuat roti tawar dengan kualitas terbaik. Menentukan interaksi lama waktu fermentasi dan proporsi tepung ampas kelapa dan tepung jagung terhadap sifat kimia dan organoleptik roti tawar. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun secara faktorial dengan 9 kombinasi perlakuan dan diulang 3 kali sehingga diperoleh 27 unit percobaan. Perlakuan yang dicoba terdiri atas 2 faktor, yakni lama waktu fermentasi (F) dengan taraf 2 jam (F1) : 4 jam (F2) : 6 jam (F3), serta formulasi tepung (terigu: tepung ampas kelapa: tepung jagung) (T) yang terdiri atas 80: 10: 10 (T1); 75: 12.5: 12.5 (T2); dan 70: 15: 15 (T3). Hasil penelitian menunjukkan kombinasi perlakuan roti tawar dengan karakteristik sensori, kimia, dan fisik terbaik adalah F2T2 (lama waktu fermentasi 4 jam dan formulasi terigu:tepung ampas kelapa:tepung jagung sebesar 75:12.5:12.5). Roti tawar F2T2 memiliki warna kuning keputihan (2.645), tekstur agak empuk (3.111), flavor kelapa terasa (2.645), flavor jagung agak terasa (3.134), dan panelis paling menyukai kombinasi perlakuan ini (3.689). Roti tawar ini memiliki kadar air 21.347%, kadar abu 0.537%, derajat pengembangan 294.523%, tekstur 0.138 kg grafitasi/mol, kadar protein terlarut 0.332%, dan kadar serat kasar 2.107%.White bread is bread type made from high protein wheat flour, water, yeast, sugar, fat, and salt; which is fermented by yeast and baked. White bread needs a large volume to produce the best bread product. When using non wheat flour, it will affect to less volume development; therefore it’s important to study the proper fermentation time. Coconut flour is a flour from coconut that dried and milled. This research was prepared using composite flour from wheat flour, coconut flour, and corn flour. White bread in this research expected to have a functional value that benefit for health. This research was aimed to 1) Determine the time of fermentation to produce white bread with the best chemical, physical and sensory properties 2) Determine ratio of wheat flour : coconut flour: : corn flour that was suitable to produce white bread with the best chemical, physical and sensory properties 3) Determine the combinations unit which produced white bread with the best results. This is an experimental research using Randomized Block Design (RBD) arranged in two factors namely fermentation time (F) and flour formulation (T). Fermentation time consisting of 2 hours (F1), 4 hours (F2), and 6 hours (F3). The ratio of formulation flour (wheat flour : coconut flour: corn flour) (T) consisting of 80: 10: 10 (T1), 75: 12.5: 12.5 (T2), 70: 15: 15 (T3). The research was conducted in triplicates, therefore obtained 27 experiment units. Results of the research showed that best treatment combination based on the chemical, physical and sensory properties are fermentation time 4 hours and ratio of formulation wheat flour : coconut flour : corn flour ; 75:12.5:12.5. The product has a light yellow in color (scale of 2.444), slightly soft in texture (scale of 3.111), pungent aroma of coconut (scale of 2.645), slightly aroma of corn (scale of 3.134), and the preference level was liked (scale of 3.689). Also has moisture content 21.347% wb, ash content 0.537% (wb), degree of development 294.523%, texture 0.138 kg grafitasi/mol, protein soluble 0.332%, and crude fibre 2.107%.
215311872C1A010001PENGARUH UPAH MINIMUM PROVINSI TERHADAP PARAMETER KETENAGAKERJAAN DI PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTAUpah Minimum Provinsi (UMP) atau yang biasa disebut dengan Upah Minimum Regional menjadi salah satu indikator bagi kesejahteraan penduduk. Seperti halnya provinsi lain, untuk menjamin kesejahteraan para pekerja formal, Pemerintah Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta juga menetapkan upah minimum yang setiap tahun meningkat. UMP DI Yogyakarta di Pulau Jawa tahun 2014 tergolong terkecil kedua setelah UMP Jawa Tengah, sedangkan UMP terbesar terdapat di DKI Jakarta, kemudian Banten. Berdasarkan Survey Upah yang dilakukan BPS, pada triwulan 4 tahun 2014 tercatat 42,86% perusahaan di DI Yogyakarta yang membayar upah masih di bawah UMP, sementara secara nasional 29,54% perusahaan yang masih membayar upah di bawah UMP.
Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh UMP terhadap parameter ketenagakerjaan, penelitian ini difokuskan untuk mengetahui hubungan antara UMP terhadap beberapa parameter ketenagakerjaan yaitu Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK), Tenaga Kerja Sektor Formal, Tenaga Kerja Sektor Informal, dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Alat analisis yang digunakan adalah Korelasi yaitu untuk mengetahui hubungan antara UMP dengan variabel ketenagakerjaan, kemudian dilakukan Uji Statistik T untuk mengetahui seberapa nyata koefisien korelasi tersebut berbeda dari nol.
Hasil korelasi menunjukkan bahwa UMP dan TPAK DI Yogyakarta tidak mempunyai hubungan dikarenakan kenaikan UMP setiap tahunnya tidak berpengaruh terhadap perubahan TPAK. Kemudian untuk hubungan UMP dan tenaga kerja di sektor formal mempunyai hubungan linear positif yang kuat dengan koefisien determinasi sebesar 75,92%, kenaikan UMP akan mengakibatkan kenaikan tenaga kerja sektor formal. Di sisi lain hubungan UMP dan tenaga kerja sektor informal mempunyai hubungan linear negatif yang kuat dengan koefisien determinasi sebesar 75,92%, kenaikan UMP mengakibatkan penurunan tenaga kerja sektor informal. Hal yang sama, hubungan UMP dengan tingkat pengangguran terbuka juga mempunyai hubugan linear negatif yang kuat dengan koefisien determinasi sebesar 73,09%, kenaikan UMP mengurangi pengangguran, yang berarti juga meningkatkan kesempatan kerja.
Provincial Minimum Wage (UMP) or commonly called the Minimum Wage is one indicator for the welfare of the population. As well as other provinces, to ensure the welfare of formal workers, the Government of the Special Region (DI) Yogyakarta also set a minimum wage increase each year. UMP DI Yogyakarta in Java in 2014 classified as the second smallest after the UMP Central Java, while the largest UMP contained in Jakarta, and Banten. Wages Survey conducted based on BPS, in Q4 2014 the company recorded 42.86% in DI Yogyakarta who pay wages still below the UMP, while 29.54% are national companies that still pay wages below the minimum wage.
To find out how much influence the UMP against the parameters of employment, research is focused to determine the relationship between the UMP on several parameters, namely employment Labor Force Participation Rate (TPAK), Employment Formal Sector, Informal Sector Employment and Unemployment Rate (TPT). The analysis tool used is a correlation that is to know the relationship between the UMP with employment variables, then do test statistics T to find out how real the correlation coefficient is different from zero.
Correlation results showed that the UMP and the TPAK DI Yogyakarta does not have a relationship due to the increase in minimum wage each year does not affect the TPAK change. Then for the UMP and labor relations in the formal sector has a strong positive linear relationship with a determination coefficient of 75.92%, an increase in minimum wage will lead to increase in formal sector employment. On the other hand UMP relations and informal sector workers have a strong negative linear relationship with a determination coefficient of 75.92%, the increase UMP resulted in a decrease in the informal sector workforce. The same, UMP relationship with the open unemployment rate also has a strong negative linear ties with determination coefficient of 73.09%, the increase UMP reduce unemployment, which means also increase employment opportunities.
215411875H1A008049Analisis Quantitative Structure-Property Relationship(QSPR) Nilai Critical Micelle Concentration (CMC) Surfaktan AnionikPenelitian ini dilakukan dengan tujuan menyusun persamaan matematika untuk menghitung CMC teoritis surfaktan anionik. Penelitian ini dilakukan dengan penggambaran setiap surfaktan anionik ke model senyawa tiga dimensi, dilanjutkan dengan mengoptimasi model struktur surfaktan anionik dengan metode perhitungan AM1. Selanjutnya, perhitungan deskriptor (metode QSPR) untuk dianalisis statistik Multiple linear Regression (MLR). Hasil perhitungan statistik menunjukkan bahwa untuk menghitung CMC teoritis surfaktan anionik dapat menggunakan persamaan QSPR berikut:
Log CMC = 4,157 + 0,118qC1 + 7,698qC2 + 0,425α – 0,01µ - 0,129RD – 0,138Log P + 0,021BM + 0Vvdw – 0,034Avdw
dengan n = 100 r = 0,927 r2 = 0,860 SE = 0,352523 F = 30,8889743 PRESS = 23,50614139.
This research determine the mathematical equation which calculate the CMC theoretical anionic surfactant. The research was conducted by the depiction of each surfactant anionic three-dimensional compound models, followed by optimizing the model structure anionic surfactant by using AM1 calculation method. Furthermore , the calculation of descriptors ( QSPR method), then it was analyzed statistically using Multiple Linear Regression (MLR). The results of statistical calculations showed that to calculate the theoretical CMC anionic surfactant can use the QSPR equation:
Log CMC = 4.157 + 0.118qC1 + 7.698qC2 + 0.425α – 0.01µ - 0.129RD – 0.138Log P + 0.021BM + 0Vvdw – 0.034Avdw
With n = 100 r = 0.927 r2 = 0.860 SE = 0.352523 F = 30.8889743 PRESS = 23.50614139
215511876D1E011076JUMLAH PELUMURAN JAHE (Zingiber officinale) TERHADAP TOTAL BAKTERI DAN TINGKAT KESUKAAN KONSUMEN DAGING DADA AYAM PETELUR AFKIRPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah pelumuran jahe yang berbeda terhadap total bakteri dan tingkat kesukaan konsumen (rasa dan keempukan) daging dada ayam petelur afkir. Materi penelitian yang digunakan adalah daging dada ayam petelur afkir, NA (Nutrient Agar), NaCl fisiologis, aquadest dan jahe dengan jumlah 0%, 4%, 8%, dan 12%. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) untuk total bakteri dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan dan Rancangan Acak Kelompok (RAK) untuk tingkat kesukaan konsumen dengan 25 panelis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan total bakteri (cfu/cm2) daging dada ayam petelur afkir yaitu P0: 3,75x104, P1: 1,61x104, P2: 0,91x104 dan P3: 1,55x104; rasa yaitu P0: agak enak, P1: agak enak, P2: agak enak dan P3: tidak enak; dan keempukan yaitu P0: tidak empuk, P1: tidak empuk, P2: agak empuk dan P3: tidak empuk. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa jumlah pelumuran jahe yang berbeda pada daging dada ayam petelur afkir berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap total bakteri dan tingkat kesukaan konsumen. Kesimpulan hasil penelitian menunjukkan jumlah pelumuran jahe yang berbeda 0%, 4%, 8% dan 12% terhadap daging dada ayam petelur afkir selama satu jam maka memberikan hasil nilai total bakteri dan tingkat kesukaan konsumen (rasa dan keempukan) relatif sama.This research was aimed to determine the effect of amount of various smeared ginger on total bacteria and the level of consumer preferences (taste and tenderness) of breast meat of culled laying hens. The materials used were breast meat of culled laying hens, NA (Nutrient Agar), physiological saline, distilled water and shredded fresh ginger with various quantity, which were 0%, 4%, 8%, and 12%. This research was conducted experimentally using completely randomized design for total bacteria with 4 treatments and 5 replicates and randomized block design for the level of consumer preferences with 25 panelists. The research showed that average values of total bacteria (cfu/cm2) in the breast meat of culled laying hens were P0: 3.75x104, P1: 1.61x104, P2: 0.91x104 and P3: 1.55x104; the taste values were P0: rather tasty, P1: rather tasty, P2: rather tasty and P3: not tasty; and the tenderness values were P0: not tender, P1: not tender, P2: rather tender and P3: not tender. Analysis of variance results showed that the effect of different amounts of shredded fresh ginger on breast meat of culled laying hens was not significant (P>0.05) on total bacteria and the level of consumer preferences. The conclusions of this research are, the amount of various smeared ginger at 0%, 4%, 8%, and 12% on total bacteria and the level of consumer preferences (taste and tenderness) of breast meat of culled laying hens for one hour resulting the similar meat’s total bacteria and the level of consumer preferences (taste and tenderness).
215611878H1F010060GEOLOGI DAN STUDI KUALITAS BATUGAMPING
SEBAGAI CAMPURAN BAHAN BAKU SEMEN
DAERAH KUTA DAN SEKITARNYA, KECAMATAN BANTARBOLANG,
KABUPATEN PEMALANG, JAWA TENGAH
Semakin naiknya permintaan semen, membuat peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang bahan baku semen. Dalam hal ini adalah batugamping. Secara administrasi lokasi penelitian terletak di Daerah Pemalang, yaitu di Desa Kuta dan sekitarnya, Kecamatan Bantarbolang dengan luas daerah telitian 25 km2. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi geologi daerah penelitian dan mengetahui kualitas dari batugamping sebagai bahan campuran pembuatan semen.
Berdasarkan klasifikasi Bentuk Muka Bumi (Brahmantyo dan Bandono, 2006), satuan geomorfologi daerah penelitian dibagi menjadi 4 satuan yaitu Satuan Dataran Denudasional Kaliwadas, Satuan Perbukitan Zona Sesar Banjarmulya, Satuan Perbukitan Karst Sipanjang dan Satuan Bukit Intrusi Gunung Cilik. Sedangkan stratigrafi daerah penelitian dibagi menjadi 5 satuan batuan tidak resmi dari tua ke muda yaitu satuan batupasir, satuan batugamping, satuan intrusi andesit, satuan batulempung dan satuan endapan undak. Di daerah penelitian, dijumpai 2 struktur geologi yaitu berupa sesar geser mengiri turun Kuta (Normal Left Slip Fault ) dan sesar geser mengiri turun Banjarmulya (Normal Left Slip Fault ).
Penentuan kualitas batugamping menggunakan analisis kimia yaitu metode XRF yang hasilnya disebandingkan dengan SNI 15-2049-2004. Batugamping daerah penelitian menghasilkan nilai kandungan CaO 52-53%, MgO 1,21-2,28%, Fe2O3 0,09 – 0,43 %, Al2O3 0,32-0,70 % dan K2O 0,05-0,27%. Hasil metode XRF menunjukkan bahwa batugamping daerah penelitian memiliki kualitas yang baik untuk dijadikan sebagai bahan pembuatan semen yang mengacu pada SNI 15-2049-2004. Perhitungan sumberdaya batugamping menghasilkan tonase sebesar 461.563.877,6 ton.
Increasing demind of cement, making researcher interested to research about the raw material of cement. In this case is limestone. In the administration, study area is located in the Region of Pemalang, namely in the village of Kuta and the surrounding areas, Bantarbolang district, with landmass area 25 km2. The purpose of this study is to determine about geology in research area and to find out the quality of the limestone as raw mixture materials for cement.
Based on “Landform Classification for Geomorphological Mapping Scale 1:25:000 and the Application for Structuring of Spatial” (Brahmantyo and Bandono, 2006), geomorphology in study area was divided into 4 units. Kaliwadas Plain Denudasional, Banjarmulya Hills Fault Zone, Sipanjang Karst Hills and Gunung Cilik Hill Intrusion. Stratigraphy in study area is divided into 5 units, sandstone, limestone, andesite intrusion, mudstone and terrace deposite. In the study area, found two geological structures, Kuta Normal Left Slip Fault and Banjarmulya Normal Left Slip Fault.
Determination of the quality of limestone use the chemical method, it is XRF method (X-Ray Flourocence) that the result be compared to SNI 15-2049-2004. Limestone has 52-53% CaO content, 1.21 to 2.28% MgO, Fe2O3 0.09 to 0.43%, from 0.32 to 0.70% Al2O3 and K2O 0.05 -0.27%. Based on XRF methods, the limestone in research area has a good quality to be used as material for cement which refers to the SNI 15-2049-2004. The result of limestone resource calculation is 461.563.877,6 tons.
215711879B1J011173KOMPOSISI SPESIES DAN DISTRIBUSI PLANKTON AREA LAGUNA DI KAWASAN PENGELOLAAN RAWA BARAT SEGARA ANAKAN CILACAPArea Laguna di Kawasan Pengelolaan Rawa Barat Segara Anakan Cilacap memiliki potensi perikanan yang sangat baik. Ikan yang ada berperan sebagai konsumen komunitas plankton, namun area tersebut telah mengalami sedimentasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas air; mengetahui komposisi spesies dan distribusi plankton; serta menganalisis hubungan antara kualitas air, komposisi spesies, dan distribusi plankton Area laguna Segara Anakan.
Metode penelitian yang digunakan yaitu metode survai dengan teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling. Parameter penelitian ini adalah suhu, penetrasi cahaya, kecepatan arus, salinitas, pH, DO, CO2 bebas, komposisi spesies, dan distribusi plankton. Kualitas air dianalisis secara deskriptif berdasarkan PP R.I. No. 82 Tahun 2001. Komposisi spesies dan distribusi plankton dianalisis baik secara kualitatif maupun kuantitatif menggunakan rumus persentase, kelimpahan relatif, dan distribusi. Hubungan antara kualitas air, komposisi spesies, dan distribusi plankton dianalisis menggunakan Spearman’s Rank Correlation pada software SPSS 15.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas air masih baik dan memenuhi baku mutu air bagi organisme perairan berdasarkan P.P. RI Nomor 82 Tahun 2001, terutama suhu air, DO, dan CO2 bebas. Komposisi spesies tertinggi terdapat pada stasiun I (21 spesies) diikuti oleh stasiun IV (20 spesies), III (20 spesies), dan II (11 spesies), sedangkan pola distribusinya seragam. Secara umum, kualitas air berhubungan dengan komposisi spesies dan distribusi plankton. Komposisi spesies cenderung semakin tinggi seiring dengan meningkatnya suhu air (p>0,05; r=0,333), DO (p>0,05; r=0,291), dan CO2 bebas (p>0,05; r=0,255), sedangkan komposisi spesies cenderung semakin rendah dengan meningkatnya salinitas (p>0,05; r=-0,141).
Lagoon Area of Segara Anakan West Swamp Managed Area Cilacap has a good fishery potential. The fishes are consument of plankton community, but the area has been sedimented. This research aims are to determine water quality; to determine species composition and distribution of plankton; and to analyze correlation between water quality, species composition, and distribution of plankton in Segara Anakan lagoon Area.
Survey method and purposive sampling technique are used in this research. The parameters are temperature, light penetration, current speed, salinity, pH, DO, free CO2, species composition, and distribution of plankton. Water quality analyzed descriptively based on PP R.I. No. 82 Tahun 2001 as water quality standard. Species composition and distribution of plankton analyzed both qualitatively and quantitavely using percentage, abundance relativity, and distribution formula. Correlation between water quality, species composition, and distribution of plankton analyzed by Spearman’s Rank Correlation in SPSS 15 software.
The result of this research shows that water quality is still good and eligible for water quality standard for living organism based on PP R.I. Nomor 82 Tahun 2001, especially water temperature, DO, and free CO2. Station with the highest species composition is I (21 species) followed by IV (20 species), III (20 species), and II (11 species), whereas the distribution pattern is uniform. Generally, water quality is correlated with species composition and distribution of plankton. Species composition tends to increase as the increasing of water temperature (p>0,05; r=0,333), DO (p>0,05; r=0,291), and free CO2 (p>0,05; r=0,255), whereas species composition tends to decrease as the increasing of salinity (p>0,05; r=-0,141).
215811880G1A010115STUDI KUALITATIF FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN TERAPI DI KLINIK PROGRAM TERAPI RUMATAN METADON RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJOABSTRAK

Latar Belakang. Penyalahgunaan narkotika menjadi masalah yang kompleks karena menyebabkan sesorang akan ketergantungan baik secara fisik maupun psikis untuk menggunakan narkotika dalam dosis yang terus meningkat. Pemerintah melalui Permenkes Nomor 57 Tahun 2013 mengeluarkan pedoman penyelenggaraan Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM) yang tujuannya sebagai bentuk spesikifasi perawatan kepada Penasun (Pengguna Narkoba Suntik) untuk mengurangi dampak buruk dan resiko dari penasun.
Tujuan. Mendeskripsikan dan memahami faktor – faktor yang mempengaruhi keberhasilan terapi di klinik program terapi rumatan metadon (PTRM) RSUD Prof. Margono Soekarjo.
Metodologi Penelitian. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif dengan metode wawancara mendalam. Informan merupakan salah satu pasien yang mengikuti terapi di Klinik PTRM RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo
Hasil dan Pembahasan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa klinik PTRM sudah memberikan layanan sesuai standar yang ada. Faktor individu yang ditemukan adalah kurangnya pengetahuan pasien tentang efek penggunaan narkotika, adanya keinginan untuk sembuh dari pasien, kepatuhan pasien dalam mengikuti terapi, adanya traumatic event, dan riwayat penggunaan narkotika sebelumnya. Sementara faktor lingkungan sendiri terdiri dari pengaruh lingkungan sekitar tempat tinggal, dan dukungan dari pihak keluarga selama mengikuti terapi.
Kesimpulan. Penelitian ini mengidentifikasi kurangnya pengetahuan pasien tentang efek narkotika, ketidakpatuhan pasien dalam mengikuti terapi di klinik PTRM, traumatic event, dan riwayat penggunaan narkotika sebelumnya kurang mendukung keberhasilan terapi. Sedangkan pelayanan klinik PTRM yang sesuai standar, lingkungan yang aman dari peredaran narkotika, dan dukungan keluarga menjadi faktor yang mendukung keberhasilan terapi di klinik PTRM.
ABSTRACT

Background. Drug abuse is a complex problem. It causes a person both physically and psychologically depends on the use of narcotics in the increasing doses. The Government issued the guidelines of the implementation of Methadone Maintenance Therapy Program (MMT) through the Ministry of Health Regulation No. 57 Year 2013 whose purpose as a form of treatment specifications to IDUs (Injecting Drug Users) to reduce the harm and risks of IDUs.
Method. This study used a qualitative research design with in-depth interviews. The informants is one of the patients in therapy at the Methadone Maintenance Treatment Program (MMT) Clinic in Prof. dr. Margono Soekarjo Hospital.
Results and Discussion. The results showed that the MMT Clinics already provides service according to the existing standards. Individual factors found are as follows the lack of the patient knowledge about the effects of drug uses, the desire to recover from the patient, the patient compliance in following the therapy, the traumatic event, and the history of the previous drug users. While the environmental factors consist of the environmental influences around the residence, and the support of the family during therapy.
Conclusion. This study identifies the lack of the patient knowledge about the effects of narcotics, non-compliance of the patients in following therapy at the MMT Clinic, the traumatic events, and the history of the previous drug user have been a factor which less support success of therapy. While the MMT Clinic services standard, the secure environment of the narcotics, and the family support become factors contributing to the success of the therapy in the MMT Clinic.
215911881D1E011125Motilitas dan Abnormalitas Spermatozoa Berbagai Ayam SentulPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase motilitas dan abnormalitas spermatozoa berbagai ayam sentul. Materi yang digunakan dalam penelitian adalah ayam sentul jantan umur 34 minggu berjumlah 25 ekor yang masing-masing terdiri dari 5 ekor yaitu ayam sentul abu (S1), ayam sentul batu (S2), ayam sentul debu (S3), ayam sentul emas (S4), dan ayam sentul geni (S5). Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 5 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan yang diuji adalah jenis ayam Sentul yang terdiri atas sentul abu, sentul batu, sentul debu, dentul emas dan sentul geni. Peubah yang diamati adalah persentase motilitas dan abnormalitas berbagai ayam sentul. Data dianalisis menggunakan analisis variansi. Hasil rataan persentase motilitas spermatozoa setiap perlakuan yaitu ayam sentul abu = 73,50 ± 4,04%, sentul batu = 75,80 ± 5,45%, sentul debu = 74,00 ± 4,90%, sentul emas = 76,00 ± 2,00% dan sentul geni = 80,60 ± 2,51%. Rataan persentase abnormalitas spermatozoa yaitu sentul abu = 6,67 ± 1,67%, sentul batu = 6,11 ± 0,89%, sentul debu = 6,11 ± 1,14%, sentul emas = 8,30 ± 2,37%, sentul geni = 5,77 ± 1,39%. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa berbagai jenis ayam sentul berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap motilitas dan abnormalitas spermatozoa. Kesimpulan dari penelitian ini adalah berbagai jenis ayam sentul menghasilkan motilitas dan abnormalitas yang relatif sama.The aimed of the research was to determine the percentage of sperm motility and abnormalities of various sentul chicken. The subject of this research was 25 heads of male sentul chicken, 34 week old each of which consisted of 5 animals, namely sentul abu chicken (S1), sentul batu chicken (S2), sentul debu chicken (S3), sentul emas chicken (S4), sentul geni chicken (S5). The methode of this research was experiment, using completely randomized design with 5 treatments and 5 replication. The treatments tested were the kinds of Sentul chicken consisted of Sentul Abu, Sentul Batu, Sentul Debu, Sentul Emas and Sentul Geni. The variables observed were percentage motility and sperm abnormalities of various sentul chicken. The data were analyzed used analysis of variance. Respectively the average percentages of sperm motility of each treatment were sentul abu = 73.50 ± 4.04%, sentul batu = 75.80 ± 5.54%, sentul debu = 74.0 ± 4.90%, sentul emas = 76.00 ± 2.00% dan sentul geni = 80.60 ± 2.51%. Respectively the average percentages of sperm abnormalities of each treatment were sentul abu = 6.67 ± 1.67%, sentul batu = 6.11 ± 0.89%, sentul debu = 6.11 ± 1.14%, sentul emas = 8.30 ± 2.37%, sentul geni = 5.77 ± 1.39%. The results of analysis of variance showed that various type of Sentul chicken had no significant effect (P>0.05) on motility and sperm abnormalities. The conclusion of this research is various types of sentul chicken produce similar sperm motility and abnormalities.
216011882A1M011031PENGARUH PENAMBAHAN BUBUK KECOMBRANG TERHADAP SIFAT KIMIAWI DAN MIKROBIAWI NUGGET TEMPE SELAMA PENYIMPANANNugget tempe tinggi zat gizi terutama protein dan lemak dapat memicu pertumbuhan mikroba. Tumbuhnya mikroba pada produk pangan dapat menyebabkan kerusakan produk tersebut. Salah satu upaya pengawetan adalah dengan menambahkan zat pengawet alami. Kecombrang merupakan salah satu tanaman yang berpotensi sebagai pengawet alami. Kecombrang mengandung senyawa-senyawa antimikroba. Bagian-bagian tanaman seperti batang, bunga dan buah masing-masing memiliki potensi yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan: (1) bagian tanaman kecombrang yang optimal; (2) konsentrasi bubuk kecombrang yang optimal; (3) kombinasi perlakuan terbaik antara bagian tanaman kecombrang dan konsentrasi bubuk kecombrang agar menghasilkan nugget tempe terbaik terhadap sifat kimiawi dan mikrobiawi nugget tempe selama penyimpanan. Penelitian ini dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga kali ulangan. Faktor pertama adalah bagian tanaman kecombrang yaitu batang bagian dalam (B1), bunga (B2) dan buah kecombrang (B3); faktor kedua adalah konsentrasi bubuk kecombrang terdiri dari 1% (K1), 2% (K2), dan 3% (K3); dan faktor ketiga adalah lama penyimpanan terdiri dari 0 minggu (L1), 1 minggu (L2) dan 2 minggu (L3). Variabel yang diamati adalah kadar air, kadar total asam tertitrasi, total bakteri, total kapang/khamir dan total mikroba nugget tempe selama penyimpanan dalam refrigerator. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan terbaik dari aspek kimiawi dan mikrobiawi adalah nugget tempe B1K3L1 (batang bagian dalam tanaman kecombrang, konsentrasi 3%, dengan lama penyimpanan 6 hari) yang mempunyai kadar air 50,477%; kadar total asam tertitrasi 0,001469%bk (0,000727%bb); total bakteri, total kapang/khamir dan total mikroba berturut-turut 2,02x106; 3,27x106; dan 1,03x106 cfu/g.Tempe nugget which rich in nutrients especially proteins and fats can cause the growth of microorganisms. The growth of microorganisms can damage the dietary product. One of efforts to prevent this damage is by adding natural preservatives substance. Kecombrang is one of plants that potentially can be used as a natural preservatives substance. Kecombrang contains antimicrobial substances. Its inner stem, flowers and also fruits have their own potentials which are different one and other. The aims of this study were to determine: 1) the best part of kecombrang plant for producing tempe nugget with good chemical and microbial characteristics during the storage time, 2) the optimum concentration of kecombrang powder which produced tempe nugget with good chemical and microbial characteristics during the storage time, and 3) the best combination of treatments to make tempe nugget with the best chemicals and microbial characteristics during the storage time. This study used experimental method with Randomized Block Design (RBD). Factors studied were the part of kecombrang plants (B) consisted of inner stem of kecombrang plant (B1), kecombrang’s flower (B2), and kecombrang’s fruit (B3); concentration of kecombrang powder (K) consisted of 1% (K1), 2% (K2) and 3% (K3); and storage time (L) consisted of 0 week (L1), 1 week (L2) and 2 weeks (L3). From these three factors obtained 27 combination of treatments with 3 replicates therefore obtained 81 experiment units. The result showed that combination unit of tempe nugget which had best chemical and microbial characteristics was B1K3L1 (tempe nugget with 3% kecombrang’s inner stems in 6 days storage time). This B1K3L1 tempe nugget had water content of 50.477%; total titrated acid content of 0.001469% db (0.000727% wb); total bacteria of 2.02 x106 cfu/g; total mold of 3.27x106cfu/g; and total microbe of 1.03x106 cfu/g.