Artikelilmiahs
Menampilkan 18.521-18.540 dari 50.060 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 18521 | 22071 | H1A014045 | VALIDASI METODE PENENTUAN SENYAWA KIRAL KETOKONAZOL PADA SEDIAAN KRIM MENGGUNAKAN EKSTRAKSI FASE PADAT DAN KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI | Pemisahan senyawa kiral dilakukan untuk mendapatkan salah satu enantiomer dari suatu stereoisomer yang bersifat aktif sebagai obat. Salah satu aplikasinya yaitu pada sintesis antijamur. Pada penelitian ini digunakan metode kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) dalam pemisahan enantiomer dari ketokonazol sediaan krim yang dipreparasi menggunakan teknik ekstraksi fase padat atau solid phase exstraction (SPE). Optimasi KCKT pada pemisahan enantiomer ketokonazol menggunakan kolom Astec CYCLOBOND (I 2000 HP-RSP, 5 µm) ukuran 25 cm x 4,6 mm) dengan komposisi fase gerak asetonitril:air (0,2 % HCOOH) 20:80; laju alir 0,1 mL/menit; dan volume injeksi 1 µL yang dianalisis pada panjang gelombang 220 nm diperoleh nilai resolusi maksimum sebesar 1,66. Hasil validasi metode KCKT diperoleh linieritas dengan nilai korelasi (r) 0,9996 dan 0,9997; batas deteksi (LOD) sebesar 3,12 ppm dan 2,84 ppm; batas kuantifikasi (LOQ) sebesar 10,39 ppm dan 9,72 ppm; simpangan baku relatif (RSD) 0,396 % dan 0,234 %; HORRAT sebesar 0,037 dan 0,022; % recovery 102,52 % dan 101,68 %; serta selektivitas (α) sebesar 1,29. | Chiral separation is performed to obtain one of enantiomers of an active stereoisomer as a drug. One application that is on antifungal synthesis. In this study, the high performance liquid chromatography (HPLC) method was used in the enantioseparation from ketoconazole cream sample, which has been prepared using solid phase extraction (SPE) technique. Optimization of HPLC on the separation of ketoconazole enantiomers using an Astec CYCLOBOND (I 2000 HP-RSP, 5 μm) 25 cm x 4,6 mm) column with mobile phase composition of acetonitrile:water (0,2%HCOOH) 20:80; 0,1 mL/min flow rate; and 1 μL injection volume analyzed at 220 nm wavelength obtained a maximum resolution is 1,66. The result of KCKT method validation is obtained linearity with correlation value (r) were 0,9996 and 0,9997; LOD were 3,12 ppm and 2,84 ppm; LOQ were 10,39 ppm and 9,72 ppm; CV were 0,39 % and 0,23 %; HORRAT were 0,04 and 0,02; % recovery were 102,52 % and 101,68 %; and selectivity (α) was 1,29. | |
| 18522 | 21793 | A1C113015 | KAJIAN FINANSIAL DAN NILAI TAMBAH KERIPIK SALAK PADA CV MULTI AGRO LESTARI DI DESA KUTABANJAR KECAMATAN BANJARNEGRA KABUPATEN BANJARNEGARA | Keripik salak adalah salah satu jenis makanan ringan yang menggunakan bahan baku buah salak tanpa ada penambahan bahan apapun dalam proses produksinya. Kabupaten Banjarnegara telah lama dikenal sebagai daerah penghasil salak di Jawa Tengah. Salak di Kabupaten Banjarnegara dari tahun ke tahun selalu mengalami perubahan jumlah produksi. Melimpahnya salak yang melebihi daya tampung pasar dan umur simpan salak yang relatif pendek akan mengakibatkan penurunan harga salak. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi permasalahan tersebut perlu diupayakan inovasi dalam pengolahan salak, salah satunya diolah menjadi keripik salak menggunakan penggorengan vakum. Penelitian ini bertujuan mengetahui besarnya biaya produksi, penerimaan, keuntungan, rentabilitas ekonomi, payback period dan nilai tambah keripik salak. Pengambilan data dilaksanakan pada bulan November 2017 pada CV. Multi Agro Lestari di Desa Kutabanjar, Kecamatan Banjarnegara Kabupaten Banjarnegara. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive), dengan pertimbangan CV. Multi Agro Lestari manajemen finansialnya belum tertata rapih. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus di CV. Multi Agro Lestari. Metode analisis yang dilakukan meliputi: analisis biaya, pendapatan, rentabilitas ekonomi, payback period, dan analisis nilai tambah. Hasil penelitian sebagai berikut: total biaya produksi pada bulan November 2017 sebesar Rp20.610.044,33, penerimaan sebesar Rp23.787.000,00, dan keuntungan sebesar Rp3.176.955,67. Nilai rentabilitas ekonomi sebesar 15,41 persen, nilai payback period sebesar 6,49 bulan dan nilai tambah sebesar Rp4.969,45 per kilogram bahan baku. | Salak Chips is one of snack that use the original salak fruit without any addition. Banjarnegara Regency has known as a salak producing region in Central Java. Salak in Banjarnegara Regency from year to year always experience changes in the amount of production. The abundance of salak that exceeds the market capacity and the relatively short life of salak effect in the price of salak. Therefore, to solve these problems need to be innovated in the processing of salak by using vacum frying to create salak chips. This research aims to: know the cost of production, income, economic profitability, payback period and value added salak chips. Collecting data was conducted in November 2017 at CV. Multi Agro Lestari in Kutabanjar Village, Banjarnegara District, Banjarnegara Regency. Location selection has been selected by purposive selection by the weakness financial management of CV Multi Agro Lestari. Analytical methods performed include: cost analysis, income, economic profitability, payback period, and value-added analysis. The results of the research were as follows: total cost of production in November 2017 amounting to Rp20,610,044.33, receipts of Rp23,787,000.00, and income amounting to Rp3,176,955.67. The value of economic rentability was 15,41 percen, payback period value was 6,49 month and the added value was Rp4,969.45 per kg raw material. | |
| 18523 | 21795 | A1L013199 | SKRINING BAKTERI PERAKARAN PADI (Oryza sativa L.) TOLERAN PESTISIDA KIMIA SINTETIK BERBAHAN AKTIF BUPROFEZIN PADA LAHAN MARGINAL KABUPATEN BANYUMAS | Peran mikroorganisme indigenous dalam mendegradasi senyawa pestisida Buprofezin sangat penting sebagai upaya untuk memulihkan lingkungan yang tercemar. Penelitian ini bertujuan untuk menseleksi bakteri indigenous perakaran padi pada lahan marginal serta mengetahui pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman. Bakteri indigenous diisolasi dari perakaran padi pada lima titik wilayah kabupaten Banyumas. Parameter yang diuji dalam percobaan ini adalah karakterisasi morfologi bakteri, pengujian pertumbuhan dan waktu generasi, pengujian ketahanan pada konsentrasi 0, 5, 10, dan 15 mg/l pestisida Buprofezin, dan pengujian perkecambahan benih padi. Hasil pengamatan ditemukan dua isolat bakteri perakaran padi yaitu, isolat SR-1 dan GT-2 yang memiliki pertumbuhan dan waktu generasi yang relatif cepat. Kedua isolat tersebut juga telah dikarakterisasi morfologinya secara makroskopis maupun mikroskopis. Hasil pengujian dua isolat bakteri terhadap perlakuan konsentrasi pestisida Buprofezin menunjukan bahwa isolat SR-1 mampu berkembang dalam konsentrasi 10 mg/l dan isolat GT-2 mampu berkembang dalam konsentrasi 5 mg/l pestisida Buprofezin. Pemberian jenis isolat SR-1 dan GT-2 belum memberikan pengaruh terhadap daya kecambah benih, panjang tajuk, dan panjang akar tanaman padi pada umur 8 hari setelah tanam. | The contribution of indigenous microorganism for degrading Buprofezin compounds is important to restore an environmental pollution. This research aims to select an indigenous rhizobacteria of paddy on marginal land and to know its effect on plant growth. Indigenous bacteria were isolated from paddy roots from five areas of Banyumas Regency. The tested parameters were characterization of bacteria morphologies, growth and generation periods, resistance at 0, 5, 10, and 15 mg/l pesticides Buprofezin concentration tests, and paddy seed germination tests. The observation was found two bacterial isolate from paddy roots that were, SR-1 and GT-2 isolates which have growth relatively fast in generation period. These two isolates also has morphology characterized based on macroscopic and microscopic. The result of two bacterial isolate with pesticide Buprofezin concentration treatment tests showed that SR-1 isolates was able to throve on 10 mg/l and GT-2 isolates was able to throve on 5 mg/l pesticide Buprofezin concentration. SR-1 and GT-2 isolates were not gave an effect with germination capacity, plant length, and root length on 8 days after planting of paddy. | |
| 18524 | 21796 | A1L113039 | KAJIAN STATUS UNSUR HARA KALIUM DI LAHAN KERING YANG DIGUNAKAN UNTUK BUDIDAYA CABAI (Capsicum annuum L.) DI KECAMATAN SUMBANG, KABUPATEN BANYUMAS | Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui status unsur hara K dan agihannya (distribusinya) di lahan kering yang digunakan untuk budidaya cabai (Capsicum annuum L.) di Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas dan (2) menentukan rekomendasi pemupukan K untuk budidaya cabai (Capsicum annuum L.) di Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas. Penelitian ini dilaksanakan melalui survei tanah pada lahan kering di Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas yang dilanjutkan dengan analisis tanah di Laboratorium Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta. Metode yang digunakan adalah purposive random sampling dan pengambilan sampel dilakukan secara komposit. Pembuatan peta Satuan Lahan homogen (SLH) digunakan untuk menentukan lokasi pengamatan. Variabel yang diamati yaitu pH H2O, pH KCl, Daya Hantar Listrik (DHL) dan K-tersedia tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status unsur hara K di lokasi penelitian termasuk kedalam harkat rendah sampai tinggi, yaitu pada SLH 1 harkat rendah, SLH 2 harkat sedang, SLH 3 harkat sedang, SLH 4 harkat sedang dan SLH 5 harkat sangat rendah. Dosis pemupukan yang direkomendasikan untuk meningkatkan K-tersedia tanah di lokasi penelitian, yaitu pada SLH 2, SLH 3 dan SLH 4 tidak perlu pemberian pupuk K, sedangkan pada SLH 1 dan SLH 5 perlu pemberian pupuk K sebanyak 328,96 dan 343,19 kg K2O/ha atau setara dengan 548,27 dan 571,98 kg KCl/ha. | The research aims to: (1) know the nutrient status of K and its distribution in dry land used for the cultivation of chili (Capsicum annuum L.) in Sumbang Subdistrict, Banyumas Regency and (2) determine recommendation of K fertilization for chili cultivation (Capsicum annuum L.) in Sumbang Subdistrict, Banyumas Regency. This research was conducted through soil surveys on dry land in Sumbang Subdistrict, Banyumas Regency followed by soil analysis at Soil Science Laboratory, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University and Agricultural Technology Research Center of Yogyakarta. The method used is purposive random sampling and sampling is done by composite. A homogeneous Land Unit (LU) map was used to determine the location of the observation. The variables observed were pH H2O, pH KCl, Electric Conductivity (EC) and Kavailable of soil. The results showed that the nutrient status of K in the study site was included in low to high values, that is SLH 1 low harkat, SLH 2 medium pruning, SLH 3 medium pruning, SLH 4 medium and SLH 5 very low. The recommended fertilizer dosage to increase K-available soil in the study sites, ie at SLH 2, SLH 3 and SLH 4 did not need K fertilizer, whereas in SLH 1 and SLH 5 need to apply K fertilizer as much as 328.96 and 343.19 kg K2O / ha or equivalent to 548.27 and 571.98 kg KCl / ha. | |
| 18525 | 22006 | C2C015033 | ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR (OCB) PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN (PTK) HONOR DAERAH (HONDA) SEKOLAH DASAR (SD) DI BANYUMAS | Penelitian ini dilatarbelakangi adanya perilaku kerja ekstra PTK Honda yang mengarah ke bentuk-bentuk OCB dan tetap bertahan dalam pekerjaannya dengan gaji yang diterima di bawah upah minimum regional (UMR). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bentuk-bentuk, faktor penyebab dan dampak OCB bagi PTK Honda SD di Banyumas. Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara. Pemilihan informan menggunakan purposive sampling (sampel bertujuan) dipilih informan sebanyak 12 (dua belas). Data yang terkumpul di analisis melalui tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan, sedangkan uji keabsahan menggunakan metode triangulasi sumber. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk-bentuk OCB pada PTK Honda yaitu altruism, conscientiousness, sportsmanship, courtesy, civic virtue dan dua yang dominan adalah alturism (membantu pekerjaan dengan sukarela) dan conscientiousness (kehadiran tepat waktu). Selanjutnya faktor yang mempengaruhi OCB pada PTK Honda yaitu kepuasan kerja, komitmen organisasi, kepribadian, moral dan motivasi secara internal sedangkan secara eksternal gaya kepemimpinan kepala sekolah dan budaya kerja. Sementara untuk faktor penyebab dominan secara internal adalah kepuasan kerja dan komitmen organisasi, sedangkan faktor eksternal adalah gaya kepemimpinan. Adapun dampak dari perilaku OCB tersebut adalah meningkatnya produktivitas kerja, menghemat sumber daya manusia dan menciptakan suatu kedekatan emosional antar karyawan. | This research is motivated by the existence of PTK Honda's extra working more than supposed to be leading to OCB forms and persists in its work with salary received under regional minimum wage (UMR). The purpose of this research is to know the forms, causal factors and impact of OCB for PTK Honda SD in Banyumas. This research used qualitative method. Data collection techniques of this research used observation, documentation, and interviews. Selection of samples done by using purposive sampling (purposive sampling) 12 (twelve) selected samples. The collected data analysed through three stages of data reduction, data presentation and conclusion, while for the validity test, using source triangulation method. The results of this study indicated that OCB forms in PTK Honda such as: altruism, conscientiousness, sportsmanship, courtesy, civic virtue and two dominant results were altruism (voluntary work) and conscientiousness (timely presence). Furthermore, factors affecting OCB on PTK Honda were job satisfaction, organizational commitment, personality, morale and motivation internally while externally leadership style of head master and work culture. While for internal dominant factor was job satisfaction and organizational commitment, while external factor was leadership style. The impact of OCB behavior was the increase of work productivity, saving human resources and creating an emotional closeness among employees. | |
| 18526 | 21794 | C1B014067 | ANALISIS PENGARUH KEBIJAKAN DIVIDEN, PROFITABILITAS, STRUKTUR ASET, DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP KEBIJAKAN HUTANG DAN PENGARUH KEBIJAKAN HUTANG TERHADAP NILAI PERUSAHAAN | Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh variabel kebijakan dividen (DPR), profitabilitas (NPM dan ROA), struktur asset (STV), dan ukuran perusahaan (SIZE) terhadap kebijakan hutang (DAR) dan pengaruh variabel kebijakan hutang (DAR) terhadap nilai perusahaan (PBV). Sampel dalam penelitian ini adalah 15 perusahaan yang terdaftar dalam indeks LQ-45 di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2016. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling untuk menentukan sampel. Data dianalisis menggunakan analisis regresi data panel. Hasil analisis data menunjukkan bahwa kebijakan dividen dan net profit margin secara parsial tidak berpengaruh terhadap kebijakan hutang. (2) Return on assets memiliki pengaruh negatif terhadap kebijakan hutang. (3) Struktur aset berpengaruh negatif terhadap kebijakan hutang. (4) Ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap kebijakan hutang. (5) Kebijakan hutang memiliki pengaruh negatif pada nilai perusahaan. Hasil analisis menunjukkan bahwa kemampuan pediktif dari lima variabel independen (kebijakan dividen (DPR), profitabilitas (NPM dan ROA), struktur aset (STV), dan ukuran perusahaan (SIZE) terhadap kebijakan hutang (DAR)) adalah 88,67% dan itu ditunjukkan oleh nilai R2 yang disesuaikan, sedangkan sisanya 11,33% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti. Sedangkan untuk variabel dependen nilai perusahaan, nilai adjusted R2 sebesar 8,33% dan itu berarti variasi nilai perusahaan dapat ditunjukkan oleh kebijakan hutang sebesar 8,33% dan sisanya 91,67% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti. | The purpose of this study is to identify and analyze the effect of variables dividend policy (DPR), profitability (NPM and ROA), assets structure (STV), and firm size (SIZE) toward debt policy (DAR) and the effect of variable debt policy (DAR) toward the firm value (PBV). The sample in this study is 15 company who are listed in LQ-45 indexs on Indonesia Stock Exchange 2012-2016 period. This research used purposive sampling method to determine the samples. Data was analyze using panel regression analysis. The result of data analysis showed that dividend policy and net profit margin partially have no effect on debt policy. (2) Return on assets has negative effect on debt policy. (3) Assets structure has negative effect on debt policy. (4) firm size has a positif effect on debt policy. (5) Debt policy has a negative effect on firm value. The result of analysis show that pedictive ability of five independent variables (dividend policy (DPR), profitability (NPM and ROA), assets structure (STV), and firm size (SIZE) toward debt policy (DAR)) is 88,67% and it shown by adjusted R2 value, while the remaining 11,33% is explained by other variables not examined. Meanwhile, for the dependen variable price to book value, adjusted R2 is 8,33% and it means that the variation of variable price to book value can shown by leverage is 8,33% and the rest 91,67% influenced by other variables outside the model. | |
| 18527 | 21791 | E1A114073 | KEDUDUKAN DOKUMEN EVALUASI LINGKUNGAN HIDUP DALAM KONTEKS BERLAKUNYA PASAL 109 UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2009 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP (TINJAUAN YURIDIS PENGEMBANGAN PELABUHAN MANOKWARI OLEH PT. PELINDO IV [PERSERO]). | Setiap pembangunan yang dilaksanakan tentunya akan memiliki dampak terhadap lingkungan, maka untuk meminimalisir dampak terhadap lingkungan setiap kegiatan dan/atau usaha harus memiliki dasar perencanaan dan perizinan yang baik. Dalam hal ini, PT. Pelindo IV Cabang Manokwari akan melakukan suatu perluaan kawasan. Namun setelah diperiksa oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, PT. Pelindo IV Cabang Manokwari tidak memiliki izin lingkungan. Terkait kepemilikan perizinan tersebut, maka PT. Pelindo IV Cabang Manokwari diharuskan untuk membuat Dokumen Evaluasi Lingkungan Hidup. Peraturan mengenai pengenaan sanksi administrasi terhadap kepemilikan izin lingkungan diatur dalam pasal 76 ayat (2) UUPPLH No. 32 tahun 2009 dan terkait sanksi pidananya terdapat dalam pasal 109 UUPPLH No. 32 tahun 2009. Kemudian dikeluarkanlah peraturan kebijakan berupa Surat Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor S.541/MENLHK/SETJEN/PLA.4/12/2016 dan Surat Edaran Menteri Lingkungan Hidup, Kehutanan Nomor SE.07/MENLHK/SETJEN/PLA.4/12/2016 dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 102//MENLHK/SETJEN/PLA.4/12/2016 tentang Pedoman Penyusunan Dokumen Lingkungan bagi Usaha dan/atau Kegiatan yang Telah Berjalan Tetapi Belum Memiliki Dokumen Lingkungan. Metode penelitian yang digunakan yaitu yuridis sosiologis dengan spesifikasi penelitian deskriptif analitis. Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh melalui hasil wawancara dari pihak kementerian lingkungan hidup dan kehutanan dan data sekunder yang diperoleh melalui studi kepustakaan. Hasil penelitian terkait eksistensi pasal 109 UUPPLH No. 32 tahun 2009 setelah belakunya Surat Edaran Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SE.07/MENLHK/SETJEN/PLA.4/12/2016, masih tetap berlaku eksistensi. Dikarenakan, keberadaan Surat Edaran Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SE.07/MENLHK/SETJEN/PLA.4/12/2016 bukan menggantikan ketentuan pasal 109 UUPPLH No. 32 tahun 2009, melainkan hanya sebagai panduan dalam penerapan sanksi dalam UUPPLH No. 32 tahun 2009. Kemudian tindakan hukum yang dapat dikenakan pada PT. Pelindo IV Cabang Manokwari, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, memilih hanya mengenakan sanksi administrasi. Kata Kunci : Izin Lingkungan, Diskresi, DELH, Penegakan Hukum. | Every infrastructure development will establish impact toward environment, in order to minimalize its impact toward environment every activity and/or enterprise, is obligatory to have fundamental well plan and permissions. Regard to this, PT. Pelabuhan Indonesia IV branch of Manokwari would do a regional expansion. However, since the inspection had been done by The Minister of Environment and Forestry, PT. Pelabuhan Indonesia IV branch of Manokwari didn’t have any environmental permission. Regarding the ownership of permission, then PT. Pelabuhan Indonesia IV branch of Manokwari was obligated to establish Environmental Evaluation Document (EED). The regulation about administrative sanctions toward ownership of environmental permission is regulated in Article 76 passage 2 Act Number 32 Year 2009 on Protection and Management of Environment (UUPPLH) and related to the punishment can be found in Article 109 UUPPLH Number 32 Year 2009. Followed by the establishment of Ministerial Letter of Environment and Forestry Number S.541/MENLHK/SETJEN/PLA.4/12/2016, Circular Ministerial Letter Number SE.07/MENLHK/SETJEN/PLA.4/12/2016 and Regulation of the Minister of Environment and Forestry No. 102 // MENLHK / SETJEN / PLA.4 / 12/2016 regarding Guidelines for the Preparation of Environmental Documents for Business and / or Activities that Have Been Running but Not Have Environmental Documents. Research method which was used is juridical-sociologist specifically descriptive-analytical research. This research used primary data which was obtained through interview from minister of environment and forestry people and also secondary data which is obtained through literatures study. The result of the research related to the existence of Article 109 UUPPLH Number 32 Year 2009 after the issuance of Circular Ministerial Letter Number SE.07/MENLHK/SETJEN/PLA.4/12/2016, still exixt existence. Due to the existence of Circular Letter of the Minister of Environment and Forestry Number SE.07 / MENLHK / SETJEN / PLA.4 / 12/2016 not replace the provisions of article 109 UUPPLH No. 32 Year 2009, but only as a guide in the application of sanctions in UUPPLH No. 32 Year 2009. Then legal action that can be imposed on PT. Pelabuhan Indonesia IV branch of Manokwari, Minister of Environment and Forestry, chose only to impose administrative. Keywords : Environmental Permision, Discretion, DELH, Law Enforcement. | |
| 18528 | 21797 | H1B012055 | ESTIMASI HARGA SAHAM PERTANIAN BERDASARKAN NILAI TUKAR MATA UASNG ASING TERHADAP RUPIAH MENGGUNAKAN ESTIMATOR NADARAYA-WATSON DENGAN FUNGSI KERNEL UNIFORM | ABSTRAK. Pada makalah ini ditentukan model estimasi untuk harga saham pertanian PT. BISI Internasional dan PT. Sawit Sumbermas Sarana dengan nilai tukar USD, EUR, JPY, dan GBP terhadap rupiah. Model estimasi diperoleh menggunakan estimator Nadaraya-Watson dengan fungsi kernel uniform. Model menggunakan nilai bandwidth optimal yang diperoleh dengan rule-of-thumb bandwidth, yaitu 86,52 untuk PT. BISI Internasional dan 64,66 untuk PT. Sawit Sumbermas Sarana. Berdasarkan nilai MAPE, diperoleh bahwa model estimasi terbaik adalah harga saham pertanian PT. BISI Internasional untuk nilai tukar EUR terhadap rupiah. | ABSTRACT. In this paper, we determine the estimation models for agricultural stock prices of PT. BISI International and PT. Sawit Sumbermas Sarana with exchange rate of USD, EUR, JPY, and GBP to rupiah. The models Nadaraya-Watson estimator with uniform kernel function. The model were found by using used the optimal bandwidth value obtained by the rule-of-thumb bandwidth of 86,52 for PT.BISI International and 64,66 for PT. Sawit Sumbermas Sarana. Based on the value of MAPE, it is obtained that the best estimator model is given by the model of PT.BISI International stock prices for EUR exchange rate to rupiah. | |
| 18529 | 21800 | D1E013027 | Studi Komparasi Pendapatan Anggota Kelompok dan Non Kelompok Usaha Kambing di Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendapatan anggota kelompok dan non kelompok usaha kambing di Kecamatan Kedungbanteng, mengetahui perbandingan pendapatan anggota kelompok dan non kelompok usaha kambing di Kecamatan Kedungbanteng. Penelitian dilakukan denganmetode survey, dengan sasaran peternak kambing kelompok dan non kelompok di Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas. Teknik pengambilan sampel wilayah yang digunakan yaitu purposive sampling. Penetapan sampel responden dilakukan dengan metode random sampling sebanyak 30 peternak terdiri dari 15 peternak kelompok dan 15 peternak non kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan peternak kelompok sebesar Rp.489.082,00 sedangkan pendapatan peternak non kelompok sebesar Rp.387.316,00. Hasil analisis komparasi pendapatan kelompok dan non kelompok tidak terdapat perbedaan (p = 0,153). | This study is aimed to determine the income of group and non group member of goat farmers in Kedungbanteng then compare this income. The research is conducted by survey method and purposive sampling as the technique is purposive sampling. Determination of respondent is done by random sampling method, 30 farmers consisted of 15 members and 15 non members. The result showed that average of group members income is Rp.489.082,00, while non group income is Rp.387.316,00. The result of comparative analysis of group and non group members income is not different (p = 0,153). | |
| 18530 | 21798 | A1L013002 | EVALUASI STATUS UNSUR HARA FOSFOR DI LAHAN KERING YANG DIGUNAKAN UNTUK BUDIDAYA TANAMAN CABAI (Capsium annuum L.) DI KECAMATAN SUMBANG, KABUPATEN BANYUMAS | Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui status unsur hara P dan agihannya (distribusinya) di lahan kering yang digunakan untuk budidaya tanaman cabai (Capsicum annuum L.) dan (2) menentukan rekomendasi pemupukan P untuk budidaya cabai di Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas. Penelitian ini dilaksanakan melalui survei tanah pada lahan kering di Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas yang dilanjutkan dengan analisis tanah di Laboratorium Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta. Metode yang digunakan adalah purposive random sampling dan pengambilan sampel dilakukan secara komposit. Pembuatan Peta Satuan Lahan Homogen (SLH) digunakan untuk menentukan lokasi pengamatan. Variabel yang diamati yaitu pH H2O, pH KCl, Daya Hantar Listrik (DHL), dan P-tersedia tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan P-tersedia tanah di SLH 1 sampai SLH 4 memiliki harkat yang sangat tinggi dengan nilai 22,3 sampai 103,0 ppm P2O5, sedangkan SLH 5 memiliki harkat yang sangat rendah dengan nilai 3 ppm P2O5. Dosis pemupukan yang direkomendasikan untuk meningkatkan P-tersedia tanah di lokasi penelitian, yaitu pada SLH 1, SLH 2, SLH 3 dan SLH 4 tidak perlu pemberian pupuk P di lokasi penelitian. SLH 5 perlu pemberian pupuk P sebanyak 36 kg P2O5/ha atau setara dengan 100 kg SP-36/ha. | The research aimed to (1) determine the nutrient status of P and its distribution in dry land used for chilli (Capsicum annuum L.) cultivation and (2) to determine recommendation of P for chilli cultivation in Sumbang Subdistrict, Banyumas Regency. This research was conducted through land surveys on dry land in Sumbang Subdistrict, Banyumas Regency which continued with soil analysis at Soil Science Laboratory, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University and Agricultural Technology Research Center of Yogyakarta. The method used was purposive random sampling and sampling was undertaken composite. Homogenous Land Unit Map (HLU) was used to determine location of the observations. The variables observed were pH H2O, pH KCl, Electric Conductivity (EC), and P-availability in soil. The results showed that the P-availability in soil content at HLU 1 to HLU 4 showed very high value with a value of 22.3 to 103.0 ppm P2O5, whereas in HLU 5 showed very low value with a value of 3 ppm P2O5. The recommended fertilizer dosage to increase P-available soil in the study sites were at HLU 1, HLU 2, HLU 3 and HLU 4 need no fertilizer application P. At SLH 5 it is necessary to apply P as much as 36 kg P2O5/ha or equivalent to 100 kg SP-36/ha. | |
| 18531 | 21799 | H1C014037 | PERANCANGAN SISTEM PENYORTIR BARANG PADA KONVEYOR BERDASARKAN KODE PRODUK BERBASIS RFID MENGGUNAKAN PLC HMI | Perkembangan teknologi industri semakin mengarah kepada sistem otomasi. Salah satu penggunaan teknologi otomasi yang digunakan sebuah industri adalah penggunaan konveyor yang bertujuan untuk memindahkan barang yang diproduksi dari suatu tempat ke tempat yang lain serta penggunaan konveyor untuk proses penyortiran. Penyortiran barang pada konveyor banyak dikembangkan dengan tujuan mengelompokkan barang berdasarkan kriteria tertentu . Sebelumnya teknologi barcode sudah digunakan sebagai media pengidentifikasian barang. Meskipun teknologi barcode cukup memudahkan dalam mengidentifikasikan barang, tetap saja memiliki kelemahan, seperti tag pada barcode harus melakukan kontak langsung dengan reader-nya Saat sekarang ini, teknologi barcode mulai diganti dengan teknologi RFID (Radio Frequency Identification), RFID adalah teknologi yang menggunakan frekuensi radio dalam mengirim informasi antara RFID tag dan RFID reader. RFID tidak perlu kontak langsung antar reader dan tagnya.Oleh karena itu pada penelitian ini dilakukan perancangan sistem penyortir barang yang menggunakan RFID reader sebagai pendeteksi RFID tag, perangkat PLC menggunakan Mitsubishi FX2N-32MR untuk mengendalikan sistem konveyor, dan HMI menggunakan Vijeo Citect SCADA. RFID reader digunakan untuk mengenali objek yang dibedakan berdasarkan kode produk pada RFID tag. Objek yang terdeteksi oleh RFID reader akan dikirimkan datanya ke Arduino Mega. Selanjutnya data tersebut akan diubah menjadi sinyal input ke PLC melalui modul relay.PLC akan melakukan penyortiran berdasarkan pembacaan pada RFID reader.Kode produk pada RFID dikelompokkan menjadi 3 kategori. Kategori pertama, PLC akan mengarahkan barang ke jalur distribusi 1, kategori kedua, barang diarahkan ke jalur distribusi 2 dan kategori ketiga, barang diarahkan ke jalur pembuangan. PLC akan menggerakkan output tertentu guna dapat memenuhi suatu kondisi. Setelah di lakukan pengujian terhadap sistem, didapatkan hasil RFID reader dapat mendeteksi RFID tag dengan baik, pengenalan dan pemisahan objek dapat berjalan dengan sempurna. PLC dapat dengan tepat melakukan suatu kondisi sesuai dengan objek yang terdeteksi. Semua proses yang sedang terjadi pada mesin dapat dimonitoring dan dikendalikan melalui HMI sehingga dapat dikatakan pengujian 100 % berhasil. | The development of industrial technology increasingly leads to the automation system. One use of automation technology used by an industry is the use of conveyors that aim to move goods produced from one place to another and the use of conveyors for the sorting process. The sorting of goods on the conveyor is widely developed with the aim of classifying goods based on certain criteria. Previously barcode technology has been used as a medium for identifying goods. Although barcode technology makes it easy to identify items, it still has weaknesses, such as the barcode tags must be in direct contact with the reader. Currently, barcode technology is being replaced with RFID (Radio Frequency Identification) technology, RFID is a radio frequency in sending information between RFID tag and RFID reader. RFID does not need direct contact between the reader and tagnya.Oleh in this research is designed goods sorter system that uses RFID reader as a RFID tag detector, PLC devices using Mitsubishi FX2N-32MR to control the conveyor system, and HMI using Vijeo Citect SCADA. RFID reader is used to recognize objects that are differentiated by product code on RFID tags. Objects detected by RFID reader will be sent data to Arduino Mega. Furthermore the data will be converted into input signal to PLC through relay module. PLC will do sorting based on reading on RFID reader. Product code on RFID are grouped into 3 categories. The first category, the PLC will direct the goods to the distribution line 1, the second category, the goods are directed to the distribution line 2 and the third category, the goods are directed to the disposal line. PLC will drive a certain output in order to meet a condition. After testing the system, RFID reader can detect the RFID tag well, the introduction and separation of the object can run perfectly. The PLC can precisely perform a condition according to the detected object. All the processes that are happening on the machine can be monitored and controlled through HMI so that it can be said 100% test succeeded. | |
| 18532 | 21801 | A1L113095 | POTENSI EKTRAK TIGA JENIS GULMA SEBAGAI PENGENDALI GULMA, PENINGKATAN PERTUMBUHAN DAN HASIL KEDELAI SAYUR EDAMAME | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekstrak tiga jenis gulma sebagai pengendali gulma, peningkatan pertumbuhan, hasil kedelai sayur edamame, dan mendapatkan ekstrak jenis gulma terbaik. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) Desa Grendeng Kecamatan Purwokerto Utara Kabupaten Banyumas pada ketinggian 123,22 meter di atas permukaan laut (m dpl) pada bulan September-Januari 2017. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 10 perlakuan: B0: tanpa ekstrak gulma, B1: ekstrak babandotan 10 ml/l, B2: ekstrak babandotan 20ml/l, B3: ekstrak bababndotan 30ml/l, B4: ekstrak kirinyuh 10 ml/l, B5: ekstrak kirinyuh 20 ml/l, B6: ekstrak kirinyuh 30 ml/l, B7: ekstrak teki 10 ml/l, B8: 20 ekstrak teki ml/l, dan B9: ekstrak teki 30 ml/l, diulang sebanyak tiga kali sehingga didapatkan tigapuluh petak percobaan. Variabel yang diamati antara lain variabel pertumbuhan (tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot tajuk segar, bobot tajuk kering, bobot akar segar, bobot akar kering, dan jumlah bintil akar), variabel hasil (jumlah polong per tanaman, bobot polong per petak, dan bobot polong per tanaman), dan variabel gulma yang meliputi jumlah spesies gulma, kerapatan gulma (Kerapatan Mutlak, Kerapatan Nisbi, Frekuensi Mutlak, Frekuensi Nisbi, Dominansi Mutlak, Dominansi Nisbi, dan Summed Dominance Ratio). Data pengamatan dianalisis dengan uji F dan uji lanjut dengan Duncan’s Multiple Range Test pada taraf kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukan bahwa 1) Pemberian ekstrak tiga jenis gulma belum mampu menekan dominansi gulma, 2) Pemberian ekstrak gulma teki dengan konsentrasi 20 ml/l mampu meningkatkan pertumbuhan kedelai sayur edamame dilihat dari variabel bobot tajuk segar dengan hasil terbaik, dan bobot tajuk kering tanaman menunjukan hasil yang maksimal, 3) Pemberian ektrak gulma kirinyuh dengan konsentrasi 20 ml/l mampu meningkatkan hasil kedelai sayur edamame dilihat dari variabel bobot polong per tanaman yang menunjukan hasil terbaik. | This research intended to know the potency of three kind of weeds extract as weed control, growth enhancement, crop yield of edamame soybean, and achieve the best weed extract among them. This study was conducted at Experimental Farm of the Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, Karangwangkal Village, sub-district Purwokerto Utara, district Banyumas at an altitude of 123,22 meters above sea level (masl) on Septermber – Januari 2017. This research using Randomized Complete Block Design using 10 treatments: B0: without weed extract, B1: babandotan extract 10ml/l, B2: babandotan extract 20ml/l, B3: babandotan extract 30ml/l, B4: kirinyuh extract 10ml/l, B5: kirinyuh extract 20ml/l, B6: kirinyuh extract 30ml/l, B7: teki extract 10ml/l, B8: teki extract 20ml/l, B9: teki extract 30ml/l, repeated three times resulting in 30 plots experiment. Variable observed were growth variable (plant height, leaves quantity, leaf area, fresh crown weight, dry crown weight, fresh root weight, dry root weight, root nodule quantity), crop yield of edamame soybean variables (pods per plant quantity, pods weight per plot of land, and pods weight per plant), and weed growth variable which include number of weeds species, the density of weeds (absolute density, relative density, absolute frequencies, relative frequencies, absolute dominance, relative dominance, important value, Summed Dominance Ratio). Observation data were analyzed using F-test and Post Hoc analysis using Duncan’s Multiple Range Test at 5% degree of error. 1) Application of extract three kind of weeds have not able to depress weed dominance, 2) Application of Teki weed extract with 20 ml/l concentration able to increase growth of edamame soybean as seen from the best fresh crown weight variable, and dry crown weight showed highest result , 3) Application of kirinyuh weed extract with 20 ml/l concentration able to enhance crop yield of edamame soybean as seen from pods weight per plant which shows highest value. | |
| 18533 | 21806 | A1H014022 | Analisis Pengeringan Limbah Padat Tapioka Menggunakan Alat Pengering Energi Surya Tipe Kabinet | Proses pembuatan tepung tapioka dihasilkan limbah berupa limbah padat (onggok) dan limbah cair. Onggok merupakan ampas hasil pengolahan tepung tapioka yang dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak. Cara pengelolaan limbah diantaranya adalah dengan mengeringkannya agar tidak terjadi proses pembusukan. Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan pengeringan limbah padat tapioka dengan dua metode pengeringan yaitu menggunakan alat pengering energi surya tipe kabinet dan menggunakan sinar matahari secara langsung, serta membandingkan mutu limbah padat tapioka setelah dikeringkan. Penelitian dilakukan di Laboratorium Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian ini dimulai dari bulan Oktober 2017 sampai Januari 2018.. Variabel yang diukur antara lain iradiasi surya, suhu ruang pengering, suhu lingkungan, suhu outlet ruang pengering, suhu inlet ruang pengering, suhu kolektor surya, suhu bahan, kadar air, susut bobot, laju pengeringan, kadar air kesetimbangan, konstanta pengeringan dan mutu bahan. Hasil dari penelitian diperoleh rata – rata kadar air awal bahan sebesar 83,4 %bb, kadar air akhir bahan 5,35 %bb dan 5,65 %bk. Rata - rata susut bobot pengeringan dengan alat pengering surya sebesar 82,49 % dan 82,43 % dengan pengeringan matahari langsung. Rata – rata laju pengeringan dengan alat pengering surya sebesar 31,06 %bk/jam dan 31,03 %bk/jam dengan pengeringan matahari langsung. Rata – rata kadar air kesetimbangan dengan alat pengering surya sebesar 4,85 % dan 5,03 % dengan pengeringan matahari langsung, serta rata – rata konstanta pengeringan dengan alat pengering surya sebesar 0,448 dan 0,420 dengan pengeringan matahari langsung. Hasil mutu pengeringan dengan menggunakan alat pengering surya dan matahari langsung menunjukkan warna tidak jauh berbeda yaitu putih kekuningan. Perbedaan terletak pada higeinitas bahan. Pengeringan dengan alat pengering surya, bahan lebih bersih, tidak ada kotoran maupun debu. | In the making of tapioca flour produced solid waste (onggok) and liquid waste. Onggok is the dregs of tapioca flour processing which can be utilized animal feed. Waste management methods include by drying it to avoid the process of decomposition. The purpose of this research was to compare drying of tapioca solid waste with two methods of drying using a solar dryer and using sun drying, and comparing the quality of tapioca solid waste after being dried. The research was conducted at the Laboratory of Agricultural Technology Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University. This research began from October 2017 to January 2018. Measurable variables include solar irradiation, drying room temperature, ambient temperature, dryer outlet temperature, dryer inlet temperature, solar collector temperature, material temperature, moisture content, weight loss, drying rate, equilibrium moisture content, drying constant and material quality . The results of the study were obtained on average baseline water content of 83.4 %wb and final water content 5.35 %wb and 5,65 %db. The mean value of drying weight loss by solar dryer is 82,49% and 82,43% with sun drying. The average rate of drying rate with the solar dryer was 31.06 %db/hr and 31.03 %db/h with sun drying. The average value of equilibrium moisture content with a solar dryer is 4.85% and 5.03% by sun drying. The average value of the drying constant with a solar dryer is 0.448 and 0.420 with sun drying. The result of drying quality using solar dryers and sun drying shows the color is yellowish white. The difference lies in the hygiene of the material. Drying with a solar dryer, cleaner material, no dirt or dust. | |
| 18534 | 21802 | E1A114007 | KEDUDUKAN PEMERINTAH INDONESIA DALAM KONTRAK KARYA PT. FREEPORT INDONESIA DITINJAU DARI HUKUM INTERNASIONAL | Pengelolaan sumberdaya di Indonesia menjadi polemik yang belum sepenuhnya teratasi sampai saat ini, khususnya di bidang pertambangan. Perusahaan yang melakukan kegiatan eksplorasi di bidang pertambangan salah satunya adalah PT. Freeport Indonesia. Perusahaan asal Amerika Serikat ini menjadi perusahaan asing pertama dan terbesar yang mengelola pertambangan di Indonesia. Hubungan bisnis antara Indonesia dengan PT. Freeport Indonesia dituangkan ke dalam sebuah kontrak karya yang sifatnya privat. Seiring berjalannya waktu banyak ketidaksesuaian antara isi kontrak karya PT. Freeport Indonesia dengan peraturan perundang-undangan maupun peraturan pemerintah yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui posisi kontrak karya PT. Freeport Indonesia dengan Indonesia berdasarkan hukum perjanjian internasional dan untuk mengetahui kedudukan pemerintah Indonesia dalam kontrak karya dengan PT. Freeport Indonesia. Metode penelitian pada skripsi ini adalah yuridis-sosiologis. Data yang diperoleh dari penelitian adalah data primer berdasarkan wawancara dan data sekunder berupa peraturan-peraturan, lalu data yang diperoleh disajikan dalam bentuk teks naratif, uraian-uraian yang disusun secara sistematis, logis, dan rasional. Bahan-bahan hukum yang diperoleh dianalisis secara kualitatif, yaitu analisis yang dilakukan dengan memahami dan merangkai data yang telah dikumpulkan dan disusun secara sistematis, kemudian ditarik kesimpulan. Hasil dari penelitan ini yaitu dibutuhkannya code of conduct on transnational corporation dalam perjanjian kontrak karya antara pemerintah Indonesia dengan PT. Freeport Indonesia, untuk menyelesaikan permasalahan mengenai posisi kontrak karya tidak melakukan penyelarasan dan tidak mematuhi perundang-undangan yang dikeluarkan pemerintah Indonesia. Code of conduct memiliki urgensi yang sangat penting untuk Indonesia untuk mengkukuhkan kedudukan Indonesia sebagai sebuah negara yang memiliki kewenangan lebih tinggi dibanding PT. Freeport Indonesia sebagai perusahaan transnasional khususnya dalam dampak-dampak yang bersifat publik yang tidak diatur di dalam kontrak karya atau disebut unexpected impacts. | Pengelolaan sumberdaya di Indonesia menjadi polemik yang belum sepenuhnya teratasi sampai saat ini, khususnya di bidang pertambangan. Perusahaan yang melakukan kegiatan eksplorasi di bidang pertambangan salah satunya adalah PT. Freeport Indonesia. Perusahaan asal Amerika Serikat ini menjadi perusahaan asing pertama dan terbesar yang mengelola pertambangan di Indonesia. Hubungan bisnis antara Indonesia dengan PT. Freeport Indonesia dituangkan ke dalam sebuah kontrak karya yang sifatnya privat. Seiring berjalannya waktu banyak ketidaksesuaian antara isi kontrak karya PT. Freeport Indonesia dengan peraturan perundang-undangan maupun peraturan pemerintah yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui posisi kontrak karya PT. Freeport Indonesia dengan Indonesia berdasarkan hukum perjanjian internasional dan untuk mengetahui kedudukan pemerintah Indonesia dalam kontrak karya dengan PT. Freeport Indonesia. Metode penelitian pada skripsi ini adalah yuridis-sosiologis. Data yang diperoleh dari penelitian adalah data primer berdasarkan wawancara dan data sekunder berupa peraturan-peraturan, lalu data yang diperoleh disajikan dalam bentuk teks naratif, uraian-uraian yang disusun secara sistematis, logis, dan rasional. Bahan-bahan hukum yang diperoleh dianalisis secara kualitatif, yaitu analisis yang dilakukan dengan memahami dan merangkai data yang telah dikumpulkan dan disusun secara sistematis, kemudian ditarik kesimpulan. Hasil dari penelitan ini yaitu dibutuhkannya code of conduct on transnational corporation dalam perjanjian kontrak karya antara pemerintah Indonesia dengan PT. Freeport Indonesia, untuk menyelesaikan permasalahan mengenai posisi kontrak karya tidak melakukan penyelarasan dan tidak mematuhi perundang-undangan yang dikeluarkan pemerintah Indonesia. Code of conduct memiliki urgensi yang sangat penting untuk Indonesia untuk mengkukuhkan kedudukan Indonesia sebagai sebuah negara yang memiliki kewenangan lebih tinggi dibanding PT. Freeport Indonesia sebagai perusahaan transnasional khususnya dalam dampak-dampak yang bersifat publik yang tidak diatur di dalam kontrak karya atau disebut unexpected impacts. Kata Kunci: PT. Freeport Indonesia, kedudukan, code of conduct. | |
| 18535 | 22048 | C1A012097 | IDENTIFIKASI TANAMAN PANGAN SEBAGAI PRODUK UNGGULAN SETIAP KECAMATAN DI KABUPATEN BANYUMAS | Penelitian ini berjudul “Identifikasi Tanaman Pangan Sebagai Produk Unggulan Setiap Kecamatan di Kabupaten Banyumas”. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi komoditas tanaman pangan manakah yang memiliki pertumbuhan cepat, berdaya saing serta berpotensi untuk dikembangkan di setiap kecamatan di Kabupaten Banyumas. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan menggunakan data sekunder. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari literature atau publikasi ilmiah yang berkaitan dengan rumusan masalah penelitian serta dari instansi terkait seperti Badan Pusat Statistik, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, dan Dinas Perdagangan , Industri dan Koperasi. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Model Rasio Pertumbuhan (MRP), Shift-Share Esteban Marquillas, dan Overlay. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak semua jenis komoditas tanaman pangan yang memenuhi kriteria potensial unggulan terdapat di semua kecamatan. Komoditas tanaman pangan yang potensial dikembangkan yaitu komoditas padi sawah potensial dikembangkan pada kecamatan Kebasen, Ajibarang, Karanglewas dan Kembaran, komoditas padi ladang di kecamatan Kebasen, Kemranjen, Sumpiuh, Karanglewas, Kedungbanteng, Baturaden, Kembaran, Purwokerto Barat, Purwokerto Timur dan Purwokerto Utara, Komoditas jagung di Wangon, Pekuncen, Sokaraja, Purwokerto Selatan, Purwokerto Timur dan Purwokerto Utara, komoditas ketela pohon di kecamatan Lumbir, Wangon, Rawalo, Kedungbanteng, Kembaran, Purwokerto Selatan, Purwokerto Barat dan Purwokerto Utara, komoditas ubi jalar di kecamatan Lumbir, Wangon, Banyumas, Cilongok, Karanglewas, Baturaden, Sumbang, Purwokerto Selatan, Purwokerto Barat dan Purwokerto Utara, komoditas kacang tanah di kecamatan Rawalo, Ajibarang, Cilongok, Kedungbanteng, Kembaran, Sokaraja, Purwokerto Selatan, Purwokerto Barat dan Purwokerto Utara, komoditas kedelai di kecamatan Tambak, Kalibagor, Patikraja, Ajibarang, Pekuncen, Cilongok, Karanglewas, Kedungbanteng, Baturaden, Kembaran dan Purwokerto Barat, serta komoditas kacang hijau di kecamatan Rawalo, Kebasen, Tambak, Patikraja, Purwojati dan Sokaraja. Komoditas tersebut dapat dikembangkan di kecamatan-kecamatan tersebut agar menjadi lebih baik produksinya di masa yang akan datang. Implikasi untuk penelitian ini yaitu perlu adanya upaya sebagaimana mestinya dalam meningkatan produktivitas usaha pertanian, salah satunya melalui peningkatan penggunaan bibit unggul, pemeliharaan dan optimasi pemanfaatan infrastruktur irigasi dan jalan desa serta penentuan harga untuk komoditas tanaman pangan. Komoditas unggulan sektor pangan kecamatan di Kabupaten Banyumas cukup beragam, dengan memprioritaskan komoditas unggulan pangan dalam berbagai hal misalnya dalam pengembangan teknologi, strategi pemasaran dan peningkatan ketrampilan pekerja komoditas tersebut. Ketika salah satu komoditas semakin berkembang, maka komoditas terkait dengan komoditas tersebut akan semakin berkembang juga. | The study entitled “Identification of Food Crops as Featured Products of Each Subdistrict in Banyumas Regency”. It purposed to identify which food crops that had been fast growth, competitive, and also potential to be developed in each subdistrict of Banyumas Regency. Furthermore, the method was literature study by using secondary data. Data came from literatures and scientific journals related research problem formulation and institutions such as Indonesian Central Bureau of Statistics, Department of Agriculture and Food Security, and Department of Commerce, Industry, and Cooperatives. Analysis tools were Growth Ratio Model (MRP), Shift-Share Esteban Marquillas, and Overlay. Result showed that not all type of food crop commodities compete featured potency criterias in each subdistrict. Commodity of paddy rice could potentially be developed in Kebasen, Ajibarang, Karanglewas and Kembaran Subdistricts. The commodity of field rice could potentially be developed in Kebasen, Kemranjen, Sumpiuh, Karanglewas, Kedungbanteng, Baturaden, Kembaran, West Purwokerto, East Purwokerto and North Purwokerto Subdistricts. The commodity of potential corns could potentially be developed in Wangon, Pekuncen, Sokaraja, South Purwokerto, East Purwokerto and North Purwokerto Subdistricts. The commodity of cassavas could potentially be developed in Lumbir, Wangon, Rawalo, Kedungbanteng, Kembaran, South Purwokerto, West Purwokerto and North Purwokert Subdistricts. The commodity of sweet potatos could potentially be developed in Lumbir, Wangon, Banyumas, Cilongok, Karanglewas, Baturaden, Sumbang, South Purwokerto, West Purwokerto and North Purwokerto Subdistrict. The commodity peanuts could potentially be developed in Rawalo, Ajibarang, Cilongok, Kedungbanteng, Kembaran, Sokaraja, South Purwokerto, West Purwokerto and North Purwokerto Subdistricts. The commodity of soybeans could potentially be developed in Tambak, Kalibagor, Patikraja, Ajibarang, Pekuncen, Cilongok, Karanglewas, Kedungbanteng, Baturaden, Kembaran and West Purwokerto Subdistricts. Then, The commodity of green beans could potentially be developed in Rawalo, Kebasen, Tambak, Patikraja, Purwojati and Sokaraja Subdistricts. The commodities could be developed in those subdistricts for the better production in the future. The implications for this research are the need of special efforts to increase the food crops production and productivity. one of them is through increasing the use of superior seeds, maintenance and optimization of irrigation infrastructure utilization and village road and pricing for food crop commodities. The main commodities of the sub-district's food sector in Banyumas Regency are quite diverse, prioritizing food commodities in various matters such as technology development, marketing strategy and skills improvement of commodity workers. When one commodity grows, commodities related to that commodity will grow as well. | |
| 18536 | 21805 | A1C013062 | Faktor-Faktor yang Dipertimbangkan Konsumen Terhadap Keputusan Pembelian Sayuran Organik di Pasar Modern Kota Jakarta Pusat | Konsumen dalam membeli suatu produk akan mempertimbangkan beberapa faktor terhadap keputusan pembeliannya. Sama halnya ketika konsumen ingin membeli sayuran organik, akan mempertimbangkan beberapa faktor dalam keputusan pembelian sayuran organik. Penelitian ini bertujuan ; (1) menganalisis faktor-faktor yang dipertimbangkan konsumen terhadap keputusan pembelian sayuran organik di pasar modern kota Jakarta Pusat; (2) menganalisis prioritas alternatif pilihan konsumen terhadap keputusan pembelian sayuran organik di pasar modern kota Jakarta Pusat. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Tempat penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) yaitu di beberapa Pasar Modern di Kota Jakarta Pusat. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 6 November 2017 sampai dengan tanggal 8 Desember 2017. Sasaran penelitian ini adalah konsumen sayuran organik di beberapa Pasar Modern di Kota Jakarta Pusat. Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dari wawancara dengan konsumen menggunakan kuesioner dan data sekunder yang diperoleh dengan mencatat literatur dan dokumen lainnya yang berkaitan dengan penelitian. Data dianalisis dengan menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP), serta diolah menggunakan program Expert Choice 2011. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di tingkat kriteria faktor yang dipertimbangkan terhadap keputusan pembelian sayuran organik adalah kriteria manfaat produk memiliki bobot sebesar 0,597, kriteria tempat pembelian memiliki bobot sebesar 0,299, dan kriteria kualitas produk memiliki bobot sebesar 0,105. Hasil penelitian di tingkat sub kriteria faktor yang dipertimbangkan terhadap keputusan pembelian sayuran organik adalah pada kriteria manfaat produk dengan sub kriteria kaya akan rasa memiliki bobot sebesar 0,842 dan menyehatkan memiliki bobot sebesar 0,158, pada kriteria tempat pembelian dengan sub kriteria kemudahan mendapatkan produk memiliki bobot sebesar 0,583, kenyamanan tempat pembelian memiliki bobot sebesar 0,256, dan kebersihan tempat pembelian memiliki bobot sebesar 0,122, pada kriteria kualitas produk dengan sub kriteria harga sayuran memiliki bobot sebesar 0,343, sub kriteria kemasan sayuran memiliki bobot sebesar 0,265, sub kriteria warna sayuran memiliki bobot sebesar 0,162, sub kriteria label organik memiliki bobot sebesar 0,112, sub kriteria keberagaman sayuran memiliki bobot sebesar 0,078 dan sub kriteria kesegaran sayuran memiliki bobot sebesar 0,04. Hasil analisis di tingkat prioritas alternatif pilihan dijelaskan bahwa yaitu, sub kriteria manfaat produk yaitu menyehatkan sebesar 0,896 dan kaya akan rasa sebesar 0,724, sub kriteria tempat pembelian yaitu kebersihan tempat pembelian sebesar 0,878, kenyamanan tempat pembelian sebesar 0,874, dan kemudahan mendapatkan produk sebesar 0,803, sub kriteria kualitas produk yaitu kesegaran sayuran sebesar 0,898, label organik sebesar 0,892, kemasan sayuran sebesar 0,864, dan warna sayuran sebesar 0,733. | Consumer buy a product will considered many factors of purchase decision. The same thing happened when consumer wants to buy organik vegetables, consumer will consider many factors of purchase decision of organik vegetables. This research was aimed to: (1) Analyze the factors that consumer considered of the purchase decision of organik vegetables in modern market of Centre Jakarta City , (2) Analyze the alternative priority consumer choice of purchase decision of organik vegetables in modern market of Centre Jakarta City. The research method used is survey method. The location of the research was chosen purposively in many supermarkets in Centre Jakarta City. The research was held on November 6th 2017 until December 8th 2017. The target of this research is directed tto consumer of organik vegetables in many supermarkets in Centre of Jakarta City. Samples of respondents were taken by using Purposive Sampling. The technique of collecting data was primary data obtained from interviews for consumers used quetionaire, while secondary data taken by noting literature and other documents related to the research. Data was analyzed by Analytical Hierarchy Process (AHP) and then processed by Expert Choice 2011. This research results showed that on the criteria level that factors considered on the purchase decision of organic vegetables are product benefit criteria has 0,597 score, place of purchase criteria has the 0,299 score, and quality product criteria has 0,105 score. The result on sub-criteria level that factors considered on the purchase decision of organic vegetables are product benefit criteria with tasty sub-criteria has 0,842 score and healthy sub-criteria has 0,158 score, place of purchase criteria with easiness of getting the product sub-criteria has 0,583 score, the convenience of the place of purchase has the 0,296 score, and the cleanliness of the place of purchase has 0,122 score, product quality criteria with vegetable price sub criteria has 0,343 score, vegetable packaging sub criteria has 0,265 score, vegetable color sub criteria has 0,162 score, organic label sub criteria has 0,112 score, vegetable diversity sub criteria has 0,078 score and vegetable freshness sub criteria has 0,04 score. The results of the analysis at the alternative is; product benefit sub criteria has 0,896 score and product benefit tasty has 0,724 score, the place of purchase sub criteria is cleanliness of the place of purchase has 0,878 score, the convenience of the place of purchase sub criteria has 0,874 score and easiness of getting product sub criteria has 0,803, product quality criteria is vegetable price sub criteria has 0.898 score, organic label sub criteria has 0.892, vegetable packaging sub criteria has 0.864 score and vegetable color has 0.733 score. | |
| 18537 | 21807 | A1H014019 | ANALISIS PENGERINGAN AMPAS KECAP MENGGUNAKAN ALAT PENGERING ENERGI SURYA TIPE KABINET | Ampas kecap sebagai limbah agro-industri mengandung protein cukup tinggi yang berpotensi sebagai bahan pakan ikan dan ternak. Ampas kecap memiliki karakteristik kadar air tinggi sehingga menyebabkan kerusakan oleh aktivitas mikroorganisme. Supaya umur simpan ampas kecap lebih lama dan dapat dimanfaatkan lebih lanjut, kadar airnya harus diturunkan hingga di bawah 10% bb. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan karakteristik pengeringan ampas kecap menggunakan dua metode pengeringan yaitu pengeringan dengan sinar matahari langsung dan menggunakan alat pengering energi surya tipe kabinet. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental dan deskriptif. Variabel yang diamati meliputi iradiasi surya, suhu, kelembaban udara, kadar air, susut bobot, laju pengeringan, kadar air kesetimbangan, konstanta pengeringan, dan perubahan mutu. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik ampas kecap rata–rata dari 3 ulangan yang diperoleh adalah ampas kecap memiliki kadar air awal sebesar 72% bb; kadar air akhir pada pengeringan solar dryer sebesar 5,3% bb dan pada pengeringan matahari langsung sebesar 5,9% bb; nilai susut bobot pada pengeringan solar dryer sebesar 70,25% dan pada pengeringan matahari langsung sebesar 70,08%; nilai laju pengeringan pada pengeringan solar dryer sebesar 16,64% bk/jam dan pada pengeringan matahari langsung sebesar 16,60% bk/jam; nilai kadar air kesetimbangan pada pengeringan solar dryer sebesar 5,14% bk dan pada pengeringan matahari langsung sebesar 5,44% bk; nilai konstanta pengeringan pada pengeringan solar dryer sebesar 0,3970 dan pada pengeringan matahari langsung sebesar 0,3717. Hasil mutu pengeringan ampas kecap dengan solar dryer memiliki warna hitam dan bebas dari benda asing, sedangkan ampas kecap yang dikeringkan dengan matahari langsung memiliki warna hitam kecokelatan karena pengaruh debu dan terdapat benda asing seperti semut. | Soy sauce dregs as an agro-industrial waste contain a lot of protein that good for fish feed and livestock. The soy sauce dregs have the characteristic of high moisture content causing the damage by microorganism activity. In order to make soy sauce dregs shelf life longer and can be utilized further, the water content should be lowered to below 10% w.b. This research aims to compare the characteristics of drying soy sauce dregs using a solar dryer type cabinet and sun drying. The method used in this research is experimental and descriptive. The observed variables include solar irradiation, temperature, relative humidity, moisture content, weight loss, drying rate, equilibrium moisture content, drying constant, and product quality. The results of this research indicate the characteristics of the average soy sauce dregs from 3 replications obtained are soy sauce dregs has an initial moisture content of 72% w.b; the final moisture content in the drying of the solar dryer is 5.3% w.b and in sun drying is 5.9% w.b; the value of weight loss in the drying of the solar dryer is 70.25% and in sun drying is 70.08%; the drying rate in the drying of the solar dryer is 16.64% d.b/h and in sun drying is 16.60% d.b/h; the value of equilibrium moisture content in the drying of the solar dryer is 5.14% d.b and in sun drying is 5.44% d.b; the drying constants value in the drying of the solar dryer is 0.3970 and in sun drying is 0.3717. The result of drying quality of soy sauce dregs that dried with a solar dryer has black color and free from foreign objects, while the soy sauce dregs that dried with sun drying has a brownish black color due to the influence of dust and there are foreign objects such as ants. | |
| 18538 | 21809 | B1J014005 | RESPON ANATOMI DAN FISIOLOGI TANAMAN KEDELAI (Glycine max (L.) Merr.) KULTIVAR MAHAMERU TERHADAP CEKAMAN SALINITAS DI PESISIR PANTAI SODONG CILACAP | Kedelai (Glycine max (L.) Merr.) merupakan komoditas tanaman pangan penting setelah padi dan jagung di Indonesia. Tanaman ini dikenal juga sebagai sumber protein nabati terpenting yang relatif murah, sehingga dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Salinitas menjadi salah satu ancaman bagi sistem produksi bahan pangan, termasuk kedelai. Salah satu strategi untuk mengatasi dan mengeliminasi penurunan produksi kedelai akibat meluasnya salinitas adalah merakit kultivar toleran salinitas. Keberhasilan perakitan kultivar kedelai toleran salinitas ditentukan oleh tersedianya sumber gen toleran, yang dapat diperoleh melalui identifikasi terhadap koleksi plasma nutfah kedelai. Beberapa karakter anatomi dan fisiologi potensial digunakan sebagai dasar penentu toleransi kedelai terhadap salinitas. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karakter anatomi dan kandungan klorofil daun kedelai kultivar Mahameru akibat cekaman salinitas di Pesisir Pantai Sodong Cilacap. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode eksperimental. Metode pembuatan preparat anatomi daun dengan menggunakan metode parafin, pewarnaan dengan safranin 1% dalam alkohol 70 % dan preparat segar. Perlakuan yang dicobakan yaitu kadar salinitas 0 mM dan 70 mM. Variabel bebas yang digunakan adalah kadar salinitas. Variabel tergantungnya adalah karakter anatomi dan kandungan klorofil daun kedelai. Parameter yang diamati adalah tebal kutikula, epidermis, mesofil, rasio palisade, ukuran stomata (lebar dan panjang), jumlah stomata, jumlah trikomata per 1mm2 luas daun, dan kandungan klorofil. Data hasil penelitian dianalisis dengan uji t dengan tingkat kesalahan 5%. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kultivar Mahameru yang ditanam pada kadar salinitas 70 mM memiliki tebal kutikula, epidermis, rasio palisade, jumlah trikomata lebih tinggi, serta tebal mesofil, ukuran stomata (panjang dan lebar), jumlah stomata lebih rendah dibandingkan dengan kultivar Mahameru yang ditanam pada kadar salinitas 0 mM. Kultivar Mahameru yang ditanam pada kadar salinitas 70 mM memiliki kandungan klorofil a, b, dan kandungan klorofil ab (total) lebih tinggi dibandingkan dengan kultivar Mahameru yang ditanam pada kadar salinitas 0 mM. | Soybean (Glycine max (L.) Merr.) is an important food crop commodity after rice and corn in Indonesia. This plant is also known as the most important source of vegetable protein and the price is relatively cheap. Therefore, it can be reached by all levels of society. Salinity has become a threat to food production systems, including soybeans. A strategy to overcome and eliminate the decrease in soybean production due to widespread salinity is to arrange salinity tolerant cultivars. The successful arrangement of salinity tolerant soy cultivars is determined by the availability of sources of tolerant genes, which can be obtained through identification of soybean germplasm collections. Some potential anatomical and physiological characters are used as a basis for determining the tolerance of soy to salinity. The purpose of this research was to know the character of anatomy and chlorophyll content of soybean leaf of Mahameru cultivar due to salinity stress at the Coast of Sodong Beach Cilacap. The method used in this research was experimental method. The method of preparing anatomical preparations of leaves used paraffin method, staining in safranin 1% in 70% alcohol and fresh preparations. The experimental treatments were on the land with salinity of 0 mM and 70 mM. The free variable used is the salinity. Dependent variables are anatomical characters and chlorophyll content of soybean leaf. The parameters observed were the thickness of the cuticle, epidermis, mesophyll, palisade ratio, stomata size (width and length), number of stomata, number of trichomata per 1 mm2 leaf area, and chlorophyll content. The data of the research were analyzed by t test with error rate 5%. The results showed that the Mahameru cultivar studies grown at a salinity level of 70 mM has a thick cuticle, epidermis, palisade ratio, high trichomata amount, and mesophyll thickness, stomata size (length and width), low stomata number compared to Mahameru cultivars grown at 0 mM salinity. Mahameru cultivar grown at 70 mM salinity has significantly high chlorophyll a, b, and ab (total chlorophyll content) than the Mahameru cultivars grown at 0 mM salinity. | |
| 18539 | 21810 | D1E014040 | INDEKS PUTIH DAN INDEKS KUNING TELUR AYAM NIAGA PETELUR YANG DIRENDAM PADA BERBAGAI KONSENTRASI LARUTAN DAUN JATI (Tectona grandis) | Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji indeks putih dan indeks kuning telur ayam niaga petelur yang direndam dalam berbagai konsentrasi larutan daun jati selama 30 menit dan disimpan selama 35 hari. Materi yang digunakan adalah telur ayam niaga petelur umur satu hari dengan bobot 58 ± 2 gram sebanyak 60 butir dan daun jati sebanyak 2,4 kg. Metode penelitian dilakukan secara eksperimen. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan yang diuji yaitu telur ayam niaga petelur yang direndam pada berbagai konsentrasi larutan daun jati yaitu kontrol (P_0), 15% (P_1), 30% (P_2), dan 45% (P_3) selama 30 menit dan disimpan selama 35 hari pada suhu ruang. Variabel yang diamati dalam penelitian adalah indeks putih dan indeks kuning telur. Hasil analisis variansi menunjukan bahwa telur ayam niaga petelur yang direndam dengan menggunakan konsentrasi larutan daun jati yang berbeda selama 30 menit dan disimpan selama 35 pada suhu ruang hari tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap indeks putih dan indeks kuning telur. Hasil penelitian rataan indeks putih telur yaitu P_0:〖0,170,P〗_(1 ):0,166,〖 P〗_(2 ):0,162〖,P〗_3:0,168 dan rataan indeks kuning telur yaitu〖 P〗_0:0,158, P_1:0,154,P_2: 0,152,P_3: 0,156. Kesimpulan hasil penelitian bahwa telur ayam niaga petelur yang direndam selama 30 menit pada berbagai konsentrasi larutan daun jati yang berbeda dan disimpan selama 35 hari menghasilkan nilai indeks putih dan indeks kuning telur yang relatif sama. | This research is aim for albumen and yolk index commercial chicken layer which is soaked at various concentration of teak leaf solution for 30 minutes based on and saved for 35 days. The material used are 60 pcs layer’s egg age 1 day with the weight 58 ± 2 gram and 2,4 kg teak leaf. Methods taken by experiment. The design used complete randomized design (RAL) by treatment of comercial chicken layer eggs is soaked at various concentration of teak leaf solution, that were control (P_0), 15% (P_1), 30% (P_2), and 45% (P_3) by 30 minutes in storage and 35 days in room temperature. The result of analyzed of varians show that layer’s egg which is soaked at various concentration of teak leaf solution for 30 minutes and by storage for 35 days has not real effect (P>0,05) for albumen and yolk index. The result of research an average of albumen index that are P_0 〖:0,0170,P〗_(1 ): 0,0166,〖 P〗_(2 ): 0,0162〖,P〗_3: 0,0168 and average of yolk index that are 〖 P〗_0:0,158, P_1:0,154,P_2:0,152,P_3:0,156. Concluded that the commercial chicken layer egg is soaked at various concentration of teak leaf solution for 30 minutes based on and by storage for 35 days of albumen index and yolk indeks relatively the same. | |
| 18540 | 22007 | A1L014009 | KAJIAN PEMBERIAN PUPUK MAJEMUK NP-HUM ZEO GRANUL TERHADAP KETERSEDIAAN P DAN PERTUMBUHAN BAWANG MERAH PADA TANAH ULTISOL | Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui pengaruh komposisi pupuk majemuk NP-Hum Zeo Granul dan varietas bawang merah serta interaksinya terhadap P tersedia tanah dan pertumbuhan bawang merah pada Ultisol dan (2) menentukan komposisi pupuk NP-Hum Zeo Granul yang terbaik pengaruhnya terhadap ketersediaan P dan pertumbuhan bawang merah pada Ultisol. Penelitian ini dilaksanakan di Screen House Fakultas Pertanian dan analisis pupuk, tanah, dan jaringan tanaman dilakukan di Laboratorium Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Waktu pelaksanaanya pada November 2017 sampai Maret 2018. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan dua faktor dan tiga kali ulangan, faktor pertama adalah varietas bawang merah yang terdiri atas dua aras (level) : varietas Bima dan Bauji, faktor kedua adalah komposisi pupuk majemuk NP-Hum Zeo granul yang terdiri atas lima aras : G1 (4,43% : 0%), G2 (3,45% : 6,12%) , G3 (3,11% : 10,36%), G4 (3,03% : 15,11% ), G5 (2,89% : 19,95%) dan G0 (tanpa pemupukan) sebagai kontrol. Variabel yang diamati adalah sifat kimia tanah, pertumbuhan bawang merah dan P-tersedia tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi NP-Hum Zeo granul berpengaruh terhadap pH KCL, DHL, P-tersedia tanah. Tidak adanya interaksi antara komposisi pupuk NP-Hum Zeo granul dengan varietas bawang merah terhadap semua variabel pengamatan. Grade pupuk G4 (3,03% : 11,51%), memberikan pengaruh yang paling baik terhadap P tersedia tanah. | This research aims to: 1) to know the effect of compound fertilizer NP-Hum Zeo Granule and red onion varieties and their interaction with P available and onion’s growth on Ultisol and 2) to Determine the composition of NP-Hum Zeo Granule fertilizer that best effects on P availability and onion’s growth on Ultisol. The research was conducted at Screen House of Faculty of Agriculture and analysis of fertilizer, soil, and plant tissue was done at Soil Science Laboratory, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, Purwokerto. Its implementation time from November 2017 to March 2018. This study used a Complitely Randomize Design (CRD), with two factors and three replications, the first factor is the onion varieties consisting of two level: varieties of Bima and Bauji the second factor is composition of NPHum-Zeo Granule fertilizer of five levels: G1 (4,43%:0%), G2 (3,45%:6,12%) , G3 (3,11%:10,36%), G4 (3,03% : 15,11% ), G5 (2,89%:19,95%) and G0 (without fertilization) as control. The observed variables were soil chemical properties, onion growth and P available soil. The results showed that the composition of NP-Hum Zeo Granule influenced the pH of KCL, DHL, and P available in soil. The absence of interaction between NP-Hum Zeo granul fertilizer composition with onion varieties on all observation variables.Grade of G4 (3,03% : 11,51%), gives the best effect to P available. |