Artikelilmiahs
Menampilkan 18.441-18.460 dari 50.060 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 18441 | 21731 | E1A014037 | KEBIJAKAN PEMBATASAN OPERASIONALISASI KENDARAAN ANGKUTAN JALAN DI KOTA TANGERANG SELATAN ( Studi Terhadap Peraturan Walikota Tangerang Selatan Nomor 3 Tahun 2012 Tentang Pengaturan Waktu Operasi Kendaraan Angkutan Barang Di Wilayah Kota Tangerang Selatan) | ABSTRAK KEBIJAKAN PEMBATASAN OPERASIONALISASI KENDARAAN ANGKUTAN JALAN DI KOTA TANGERANG SELATAN ( Studi Terhadap Peraturan Walikota Tangerang Selatan Nomor 3 Tahun 2012 Tentang Pengaturan Waktu Operasi Kendaraan Angkutan Barang Di Wilayah Kota Tangerang Selatan) Oleh: CITRA YULIANITA UTAMI E1A014037 Kebijakan pembatasan operasionalisasi kendaraan angkutan jalan di kota Tangerang Selatan berdasarkan Peraturan Walikota Tangerang Selatan Nomor 3 Tahun 2012 tentang Pengaturan Waktu Operasi Kendaraan Angkutan Barang di Wilayah Kota Tangerang Selatan Pasal 1 ayat (1) Kendaraan angkutan barang yang dilakukan pengaturan adalah kategori mobil barang dengan Muatan Sumbu Terberat (MST) lebih dari 8 Ton, daya angkut maksimal 5.500 kg, lebar maksimal 2100 milimeter dan Jenis Tronton, Kendaraan atau Kereta Tempelan serta Kendaraan atau Kereta Gandengan. Berdasarkan hal tersebut, timbul persoalan yaitu bagaimanakah kebijakan pembatasan operasionalisasi kendaraan angkutan jalan di kota Tangerang Selatan dan implikasi hukum apakah yang timbul terhadap pembatasan operasionalisasi kendaraan angkutan jalan di kota Tangerang Selatan. Metode pendekatan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan analisis. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder sebagai sumber bahan hukum. Hasil penelitian menyimpulkan tujuan dari dikeluarkannya kebijakan tersebut untuk menjamin keselamatan, ketertiban, kelancaran, dan keamanan lalu lintas angkutan jalan serta untuk mengantisipasi terjadinya kerusakan jalan di wilayah Kota Tangerang Selatan. Mengenai implikasi hukum yang timbul terhadap pembatasan operasionalisasi kendaraan angkutan jalan di Kota Tangerang Selatan akan dikenakan tilang bagi pelaku pelanggaran lalu lintas sesuai Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Kata Kunci : Kebijakan, Implikasi Hukum, Pelanggaran Lalu Lintas | ABSTRACT THE POLICY OF LIMITING THE OPERATIONALIZATION OF ROAD TRANSPORT VEHICLES IN TANGERANG SELATAN CITY (Study On South Tangerang Mayor's Regulation Number 3 of 2012 concerning in Arrangement of Operation Time of Goods Vehicle Transportation in South Tangerang City Area) By: CITRA YULIANITA UTAMI E1A014037 The policy of limiting the operationalization of road transport vehicles in Tangerang Selatan city based on South Tangerang Mayor's Regulation Number 3 of 2012 concerning in Arrangement of Operation Time of Goods Vehicle Transportation in South Tangerang City Area article 1 section (1) The goods transport vehicle shall be arranged is the category of goods car with Heaviest Axle-Load Capacity of more than 8 Ton, maximum hauling capacity of 5.500 kilograms, maximum width of 2100 millimeters and Type of Tronton, Vehicle or Outboard Train and Vehicle or Trailer. Based on this policy, the question arises is how the policy of restrictions on the operationalization of road transport vehicles in South Tangerang City and what are the implications for the restrictions on the operationalization of road transport vehicles in South Tangerang City. Approach method in this research is normative juridical with legislation approach and approach of analysis. The data used are primary and secondary data as legal material source. The research concludes the aims of the issuance of the policy to ensure the safety, orderliness, smoothness and traffic safety and to anticipate the occurrence of road damage in the area of South Tangerang City. Regarding the legal implications arising from restrictions on the operationalization of road transport vehicles in South Tangerang City will be charged a ticket for the perpetrators of traffic violations in accordance to Law No. 22 of 2009 on Road Traffic and Transportation. Keywords: Policy, Legal Implications, Traffic Violations | |
| 18442 | 21732 | A1L013099 | PENGARUH PEMUPUKAN DAN PEMANGKASAN CABANG TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN JERUK SIAM (Citrus nobilis sin) | Jeruk siam merupakan salah satu jenis jeruk yang banyak disukai masyarakat. Untuk mencukupi kebutuhan jeruk nasional dibutuhkan teknik pengelolaan tanaman yang baik dan benar, salah satunya adalah melalui pemangkasan dan pemupukan. Penelitian ini bertujuan 1) mengetahui pengaruh dosis pemupukan terhadap pertumbuhan dan hasil pada tanaman jeruk, 2) mengetahui pengaruh tingkat pemangkasan terhadap pertumbuhan dan hasil pada tanaman jeruk, dan 3) mengetahui pengaruh interaksi antara dosis pemupukan dan tingkat pemangkasan terhadap pertumbuhan dan hasil pada tanaman jeruk. Penelitian dilaksanakan di Desa Kembangan, Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga, serta di Laboratorium Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Penelitian dilaksanakan dari Juli hingga Desember 2017. Penelitian menggunakan rancangan percobaan Split Plot dengan rancangan dasar Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 2 faktor yaitu tingkat pemangkasan dan dosis pupuk. Tingkat pemangkasan (0%, 5%, dan 10%) diperlakukan pada petak utama dan dosis pemupukan (0%, 2%, 4%) diperlakukan pada anak petak sehingga terdapat 9 perlakuan dengan 4 kali ulangan. Tanaman jeruk yang digunakan berumur 4 tahun setelah tanam dari bibit okulasi. Variabel yang diamati meliputi jumlah trubus vegetatif, jumlah trubus generatif, jumlah bunga, jumlah buah, kerontokan buah, diameter buah dan jumlah tangkai berbuah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) tingkat pemangkasan 5% lebih baik daripada tingkat pemangkasan 0% dan 10% pada jumlah buah dan jumlah tangkai berbuah, 2) dosis pupuk 4% lebih baik daripada dosis pupuk 5% dan 0% untuk jumlah trubus vegetatif, jumlah trubus generatif, jumlah bunga, jumlah buah, diameter buah dan kerontokan buah, 3) interaksi antara tingkat pemangkasan dan dosis pupuk tidak berpengaruh terhadap semua variabel yang diamati. | Orange Siam is one type of citrus that many people love. To meet the national orange needs, good and proper crop management techniques are required, one of which is through pruning and fertilization. Purpose of this research were 1) to know the effect of fertilization doses on growth and yield of citrus crops, 2) to know the effect of pruning rate on citrus plant growth and yield, 3) to know the effect of interaction between dose of fertilization and the level of pruning on the growth and yield of citrus crop. The research was conducted in Kembangan Village, Bukateja District, Purbalingga Regency, and Agronomy and Horticulture Laboratory, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, Purwokerto. The research was conducted from July to December 2017. The research used Split plot design with basic design of Randomized Completely Block Design (RCBD) with 2 factors that’s level of pruning and dose of fertilization. Pruning level (0%, 5%, and 10%) were treated on the main plot and fertilization dose (0%, 2%, 4%) treated in subplot. So there were 9 treatments and 4 replications. Citrus plants that used was 4 years old after planting from the grafting seeds. The variables observed included number of vegetative shoot, number of generative shoot,number of flowers, number of fruit, fruit drop,fruit diameter and the number of fruity stalk. The results showed that: 1) pruning level 5% was better than 0% and 10% on number of fruit and number of fruity stalk, 2) 4% fertilizer dosage was better than 5% and 0% dose for vegetative shoot, generative shoot, number of flowers, number of fruit, fruit diameter and fruit drop, 3) The interaction between pruning level and fertilizer dosage did not affect all variables. | |
| 18443 | 21733 | H1D013023 | EVALUASI SISTEM DRAINASE DESA BELIK, KECAMATAN BELIK, KABUPATEN PEMALANG | Desa Belik merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Belik Kabupaten Pemalang, yang berbatasan dengan empat desa tetangga, yaitu sebelah utara berbatasan dengan Desa Beluk, sebelah timur berbatasan dengan Desa Mendelem, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Karangreja (Kabupaten Purbalingga), dan sebelah barat berbatasan dengan Desa Gombong. Kondisi topografi Desa Belik berada di dataran tinggi. Relatif lebih tinggi di bandingkan dengan desa lain di wilayah Kecamatan Belik, namun pusat pemerintahan dan pusat perekonomian Desa Belik berada di daerah yang landai. Tata guna lahan di sekitar lokasi tersebut terdapat pemukiman, sawah, dan perkebunan yang pada musim hujan berpeluang terjadi banjir atau genangan akibat sistem drainase yang tidak mampu menampung dan mengalirkan debit yang ada. Penelitian ini dilatar belakangi oleh suatu kondisi dimana setiap tahun pada musim penghujan air meluap dari saluran drainase, sehingga sering terjadi genangan yang mengganggu aktivitas masyarakat. Berdasarkan identifikasi, permasalahan genangan yang terjadi di Desa Belik yang mencapai ±30 cm selama ±2 jam disebabkan oleh intensitas hujan yang tinggi dan saluran drainase yang tidak mampu menampung dan mengalirkan debit yang ada. Oleh karena itu perlu penanganan masalah genangan atau banjir di Desa Belik ini, sehingga aktivitas masyarat pada musim hujan dapat berjalan normal. Peneliti akan menganalisis intensitas hujan dengan metode Mononobe dan debit puncak banjir menggunakan metode Rasional. Debit puncak banjir tersebut digunakan untuk menentukan dimensi saluran drainase yang diperlukan, kemudian dibandingkan dengan dimensi saluran drainase yang sudah ada. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa penyebab terjadinya banjir di daerah penelitian diantaranya adalah : Berkurangnya lahan resapan air yang mengakibatkan limpasan air permukaan meningkat yang berdampak meningkatnya debit puncak banjir dan Tingkat kesadaran masyarakat yang masih rendah terhadap permasalahan yang ada menyebabkan banyak saluran drainase tertutup oleh sedimentasi. Hasil evaluasi sistem drainase Desa Belik berdasarkan perbandingan antara debit banjir rancangan dengan kapasitas saluran eksisting terjadi luapan banjir hampir disemua saluran, kecuali saluran C, D1, I, J, E’, I’, J’, S’, G’. Penanganan banjir genangan di Desa Belik dibagi menjadi 3, yaitu perencanaan ulang pada saluran segmen : A, B, D9, D15, E, F, G, H, K, L, M, N, O, P, Q, R, S, C17, C’, F’, L’, H’, R’, OUTLET. Normalisasi pada saluran segmen : I,J,S’G’. Perawatan saluran pada segmen : C, D1. | Belik Village is one of the villages located in Belik District of Pemalang Regency, which is adjacent to four neighboring villages, Beluk in the north, Mendelem Village in the east, Karangreja (Purbalingga) in the south, and bordering on Gombong Village in the west. The topography condition of Belik Village is in the highlands. Relatively higher in comparison with other villages in the Belik District, but the administrative center and economic center of Belik Village are in a sloping area. Land use around the location there are settlements, rice fields, and plantations that in the rainy season there is a chance of flooding or puddle due to drainage system that can not accommodate and drain the existing discharge. This research is based on a condition where every year during the rainy season the water overflows from the drainage channel, so there are frequent puddles that interfere with community activities. Based on the identification, the problem of inundation that occurred in Belik Village reaching ± 30 cm for ± 2 hours caused by high rainfall intensity and drainage channel that can not accommodate and flow the existing discharge. Therefore it is necessary to handle the problem of puddles or floods in Belik Village, so that the activities of the people in the rainy season can run normally. The researchers will analyze the rain intensity by Mononobe method and flood peak discharge using Rational method. The flood peak discharge is used to determine the required drainage channel dimensions, then compared to the existing drainage channel dimensions. Based on the results of the research, it is found that the causes of flooding in the research area are: Reduced water catchment area resulting in increased surface water runoff which has an impact on increasing the peak flood discharge and the low level of public awareness of the existing problems causing many drainage channels covered by sedimentation. The results of the evaluation of the Belik Village drainage system based on the comparison between the design flood discharge and the existing channel capacity occur overflow flood almost in all channels, except channel C, D1, I, J, E ', I', J ', S', G '. The handling of flood waters in Belik Village is divided into 3, ie re-planning on segment channels: A, B, D9, D15, E, F, G, H, K, L, M, N, O, P, Q, R, S , C17, C ', F', L ', H', R ', OUTLET. Normalization on segment channels: I, J, S'G '. Treatment of channels on segments: C, D1. | |
| 18444 | 21734 | A1H012059 | KARAKTERISASI MODUL TERMOELEKTRIK GENERATOR (TEG-1848 27145) DALAM MENGKONVERSI PANAS MENJADI ENERGI LISTRIK | Energi panas banyak dihasilkan dan dapat dengan mudah dijumpai pada setiap aktifitas. Energi panas tersebut masih belum dimanfaatkan, oleh karena itu perlu adanya upaya pemanfaatan melalui konversi energi. Salah satu alternatif untuk konversi energi panas adalah menggunakan modul termoelektrik generator (TEG). Modul TEG adalah salah satu piranti yang dapat mengkonversi energi panas menjadi energi listrik yang bekerja berdasarkan azas peltier. Penelitian ditujukan untuk: 1) Membuat prototipe untuk memanfaatkan panas buang menggunakan modul TEG. 2) Mengetahui pengaruh jumlah modul TEG terhadap arus, tegangan dan daya listrik yang dihasilkan. 3) Mengujicoba pengaruh jenis rangkaian seri dan paralel terhadap arus, tegangan dan daya listrik yang dihasilkan. 4) Mengetahui pengaruh beda suhu sisi-sisi modul TEG terhadap arus, tegangan dan daya listrik yang dihasilkan. Penelitian ini dilaksanakan dengan metode eksperimental pada bulan September 2017 sampai dengan Desember 2017. Pengujian modul TEG dilakukan pada 1 TEG, 2 TEG dan 3 TEG. Panas buang disimulasikan dengan membuat suhu lingkungan yang lebih tinggi dari suhu normal lingkungan sebesar (40 °C, 50 °C, 60 °C, dan 70 °C) dengan menggunakan 3 buah lampu pijar 18 Watt. Untuk keperluan pengukuran arus dan daya listrik yang dihasilkan maka digunakan beban lampu LED dengan variasi warna LED merah, kuning dan putih serta beban Resistor dengan hambatan 5 Ω, 9 Ω dan 13 Ω. Data yang diperoleh dianalisis dengan metode grafik dan regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luaran (arus, tegangan dan daya listrik) modul TEG berbanding lurus dengan jumlah modul TEG dan beda suhu sisi modul TEG. Nilai arus tertinggi sebesar 0,121 A diperoleh pada penggunaan tiga modul TEG dengan beban resistor 5 Ω. Tegangan tertinggi sebesar 3,07 V diperoleh pada penggunaan tiga modul TEG dengan beban LED merah. Daya listrik tertinggi sebesar 0,214 W diperoleh pada penggunaan tiga modul TEG dengan beban LED merah. | Heat energy is generated and can be easily found in every activity. The heat energy is still not utilized, therefore there is a need for energy utilization through energy conversion. One alternative to the conversion of heat energy is to use thermoelectric generator module (TEG). The TEG module is one device that can convert heat energy into electrical energy that works based on peltier principles. The research is aimed at: 1) Creating a prototype to utilize waste heat using TEG module. 2) Knowing the influence of number of TEG module to current, voltage and power generated. 3) Test the effect of series and parallel series of current, voltage and power generated. 4) Knowing the effect of temperature difference side-side of TEG module to current, voltage and electric power generated. This study was conducted by experimental method in September 2017 until December 2017. TEG module testing was performed on 1 TEG, 2 TEG and 3 TEG. The exhaust heat is simulated by making the ambient temperature higher than the normal ambient temperature (40 ° C, 50 ° C, 60 ° C, and 70 ° C) using 3 18 Watt incandescent lamps. For the purposes of measuring the current and electric power generated then used LED light load with red, yellow and white LED color variations and load resistors with 5 Ω, 9 Ω and 13 hamb resistance. The data obtained were analyzed by graph and regression method. The results show that the output (current, voltage and power) of the TEG module is directly proportional to the number of TEG modules and the temperature difference side of the TEG module. The highest current value of 0.121 A was obtained on the use of three TEG modules with a resistor load of 5 Ω. The highest voltage of 3.07 V is obtained on the use of three TEG modules with a red LED load. The highest electrical power of 0.214 W is obtained on the use of three TEG modules with a red LED load. | |
| 18445 | 21994 | P2PA14006 | PENGARUH PERUBAHAN IKLIM, PERILAKU PETANI, DAN STRATEGI ADAPTASI TERHADAP PRODUKTIVITAS TANAMAN HIAS: STUDI KASUS DI KABUPATEN BANYUMAS | Perubahan iklim menjadi isu lingkungan yang menjadi perhatian serius karena merupakan salah satu ancaman yang sangat serius terhadap sektor pertanian dan potensial mendatangkan masalah baru bagi keberlanjutan produksi dan sistem produksi pertanian pada, sejak dahulu petani memiliki pengetahuan tentang iklim yang dimanfaatkan dalam praktek pertanian. Namun dengan adanya permasalahan perubahan iklim petani kini dihadapkan pada ketidakpastian musim, yang akan berdampak pada kualitas maupun kuantitas produktivitas tanaman hias. Perilaku petani tentang perubahan iklim menjadi penentu petani dalam beradaptasi budidaya tanaman hias. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh masing-masing dari perubahan iklim terhadap produktivitas tanaman, perilaku petani, dan strategi adaptasi budidaya tanaman hias; mengetahui pengaruh masing-masing dari perilaku petani terhadap produktivitas dan strategi adaptasi; mengetahui pengaruh strategi adaptasi terhadap produktivitas tanaman hias; serta mengetahui pengaruh bersama antara perubahan iklim, perilaku petani tanaman hias, strategi adaptasi terhadap produktivitas tanaman hias. Jumlah responden adalah 90 petani tanaman hias di Kabupaten Banyumas, 3 lokasi sebagai stasiun pengamatan yaitu Desa Pandak, Kecamatan Baturaden, Desa Ciberem Kecamatan Sumbang, dan Desa Dawuhan Wetan, Kecamatan Kedung Banteng. Penentuan lokasi penelitian menggunakan metode purposive sampling. Jumlah tanaman yang diamati adalah 270 tanaman terdiri dari tiga jenis tanaman pada setiap Desa yaitu Pucuk merah (Syzygium), Zodia (Euodia s.), dan Melati hias (Tabernaemontana sp.), kemudian diambil dengan cara Insidental di setiap Desa. Penelitian menggunakan metode survei. Analisis pada penelitian ini menggunakan regresi berganda. Hasil penelitian menunjukan pengaruh iklim terhadap produktivitas, terlihat dari pengaruh signifikan terhadap jumlah cabang tanaman Brokoli hias, semakin rendah suhu semakin banyak jumlah cabang, sedangkan semakin tinggi kelembaban maka semakin banyak jumlah cabang pada tanaman Brokoli hias. Pengaruh iklim terhadap perilaku petani tidak signifikan, namun umumnya petani merasakan perubahan iklim dengan merasakan kondisi perbedaan musim (92%), temperatur udara (89%), dan angin (86%). Pengaruh iklim terhadap strategi adaptasi tidak signifikan, namun 67,63% petani menyatakan strategi adaptasi perlu dilakukan, 41,69% petani menyatakan strategi yang telah dilaksanakan. Hal ini menunjukan petani tanaman hias di Kabupaten Banyumas menyatakan perlu adanya strategi adaptasi, namun tidak sepenuhnya melakukan strategi tersebut. Perilaku petani mempengaruhi produktivitas tanaman hias secara signifikan. Hasil analisis menunjukan semakin baik perilaku petani maka semakin baik produktivitas tinggi tanaman dan jumlah cabang pada tanaman Melati Hias. Perilaku yang diketahui dari pengetahuan, sikap, dan tindakan petani tanaman hias, berpengaruh secara signifikan terhadap strategi adaptasi petani dalam menghadapi perubahan iklim. Pengaruh yang diberikan terhadap strategi adaptasi adalah 41%. Pengaruh produktivitas tanaman hias oleh strategi adaptasi tidak signifikan. Teknis dalam melakukan adaptasi 88,00% petani menyatakan masih perlu dukungan perbaikan teknologi. Pengaruh bersama perubahan iklim, perilaku petani tanaman hias, strategi adaptasi terhadap produktivitas tanaman hias ditunjukan dari hasil analisis Nilai R2 terhadap tinggi tanaman Melati hias adalah 12%, jumlah cabang adalah 10%, dan jumlah daun 5%. Nilai R2 terhadap tinggi tanaman Pucuk merah adalah 7%, jumlah cabang adalah 8%, dan jumlah daun 2%. Nilai R2 terhadap tinggi tanaman Brokoli hias adalah 16%, jumlah cabang adalah 21%, dan jumlah daun 11%. Hal ini menjelaskan lebih dari 50% produktivitas tanaman hias dipengaruhi oleh faktor lain. | Perubahan iklim menjadi isu lingkungan yang menjadi perhatian serius karena merupakan salah satu ancaman yang sangat serius terhadap sektor pertanian dan potensial mendatangkan masalah baru bagi keberlanjutan produksi dan sistem produksi pertanian pada, sejak dahulu petani memiliki pengetahuan tentang iklim yang dimanfaatkan dalam praktek pertanian. Namun dengan adanya permasalahan perubahan iklim petani kini dihadapkan pada ketidakpastian musim, yang akan berdampak pada kualitas maupun kuantitas produktivitas tanaman hias. Perilaku petani tentang perubahan iklim menjadi penentu petani dalam beradaptasi budidaya tanaman hias. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh masing-masing dari perubahan iklim terhadap produktivitas tanaman, perilaku petani, dan strategi adaptasi budidaya tanaman hias; mengetahui pengaruh masing-masing dari perilaku petani terhadap produktivitas dan strategi adaptasi; mengetahui pengaruh strategi adaptasi terhadap produktivitas tanaman hias; serta mengetahui pengaruh bersama antara perubahan iklim, perilaku petani tanaman hias, strategi adaptasi terhadap produktivitas tanaman hias. Jumlah responden adalah 90 petani tanaman hias di Kabupaten Banyumas, 3 lokasi sebagai stasiun pengamatan yaitu Desa Pandak, Kecamatan Baturaden, Desa Ciberem Kecamatan Sumbang, dan Desa Dawuhan Wetan, Kecamatan Kedung Banteng. Penentuan lokasi penelitian menggunakan metode purposive sampling. Jumlah tanaman yang diamati adalah 270 tanaman terdiri dari tiga jenis tanaman pada setiap Desa yaitu Pucuk merah (Syzygium), Zodia (Euodia s.), dan Melati hias (Tabernaemontana sp.), kemudian diambil dengan cara Insidental di setiap Desa. Penelitian menggunakan metode survei. Analisis pada penelitian ini menggunakan regresi berganda. Hasil penelitian menunjukan pengaruh iklim terhadap produktivitas, terlihat dari pengaruh signifikan terhadap jumlah cabang tanaman Brokoli hias, semakin rendah suhu semakin banyak jumlah cabang, sedangkan semakin tinggi kelembaban maka semakin banyak jumlah cabang pada tanaman Brokoli hias. Pengaruh iklim terhadap perilaku petani tidak signifikan, namun umumnya petani merasakan perubahan iklim dengan merasakan kondisi perbedaan musim (92%), temperatur udara (89%), dan angin (86%). Pengaruh iklim terhadap strategi adaptasi tidak signifikan, namun 67,63% petani menyatakan strategi adaptasi perlu dilakukan, 41,69% petani menyatakan strategi yang telah dilaksanakan. Hal ini menunjukan petani tanaman hias di Kabupaten Banyumas menyatakan perlu adanya strategi adaptasi, namun tidak sepenuhnya melakukan strategi tersebut. Perilaku petani mempengaruhi produktivitas tanaman hias secara signifikan. Hasil analisis menunjukan semakin baik perilaku petani maka semakin baik produktivitas tinggi tanaman dan jumlah cabang pada tanaman Melati Hias. Perilaku yang diketahui dari pengetahuan, sikap, dan tindakan petani tanaman hias, berpengaruh secara signifikan terhadap strategi adaptasi petani dalam menghadapi perubahan iklim. Pengaruh yang diberikan terhadap strategi adaptasi adalah 41%. Pengaruh produktivitas tanaman hias oleh strategi adaptasi tidak signifikan. Teknis dalam melakukan adaptasi 88,00% petani menyatakan masih perlu dukungan perbaikan teknologi. Pengaruh bersama perubahan iklim, perilaku petani tanaman hias, strategi adaptasi terhadap produktivitas tanaman hias ditunjukan dari hasil analisis Nilai R2 terhadap tinggi tanaman Melati hias adalah 12%, jumlah cabang adalah 10%, dan jumlah daun 5%. Nilai R2 terhadap tinggi tanaman Pucuk merah adalah 7%, jumlah cabang adalah 8%, dan jumlah daun 2%. Nilai R2 terhadap tinggi tanaman Brokoli hias adalah 16%, jumlah cabang adalah 21%, dan jumlah daun 11%. Hal ini menjelaskan lebih dari 50% produktivitas tanaman hias dipengaruhi oleh faktor lain. | |
| 18446 | 21736 | A1H011025 | PERTUMBUHAN DAN HASIL BENIH KENTANG AEROPONIK DI DATARAN RENDAH PADA PERBEDAAN PENGGUNAAN BIBIT AWAL | Kentang merupakan salah satu komoditas sayuran yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Namun, produksi kentang cenderung menurun dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini disebabkan masih terbatasnya ketersediaan benih kentang yang berkualitas. Budidaya tanaman kentang banyak dilakukan di dataran tinggi, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tanaman kentang di dataran rendah (110 m dpl). Pada penelitian ini, sistem aeroponik digunakan untuk produksi benih kentang. Aeroponik adalah cara bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai media tanam dan nutrisi diberikan dengan cara disemprotkan langsung ke daerah perakaran (tanaman menggantung di udara). Bibit kentang yang digunakan adalah varietas Granola dengan perbedaan stek. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pengaruh bibit stek yang berbeda terhadap pertumbuhan dan hasil benih kentang pada sistem aeroponik di dataran rendah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi. Variabel yang diamati meliputi iklim mikro (suhu lingkungan, kelembaban lingkungan, suhu daun, radiasi yang diterima oleh daun), data pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah dan berat benih). Data yang diperoleh dianalisis dengan cara menghitung nilai rata-rata, dan selanjutnya dibuat grafik. Data hasil benih kentang kemudian ditabulasikan menggunakan anova untuk melihat apakah perbedaan stek berpengaruh terhadap jumlah benih yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukan tidak ada perbedaan pertumbuhan dan jumlah benih kentang yang dihasilkan secara signifikan antara stek 1 dan stek 2. Jumlah benih pada stek 1 sebanyak 778 buah, sedangkan stek 2 sebanyak 741. | Potato is one of the vegetable commodities that have high economic value. However, potato production has tended to decline in recent years. This is due to the limited availability of quality potato seeds. Cultivation of potato plants is mostly done in the highlands, therefore it is necessary to study potato plants in the lowlands (110 m asl). In this study, aeroponic systems are used for the production of seed potatoes. Aeroponics is a way of farming without using soil as a planting medium and nutrients are given by spraying directly into the root area. Plants hung on a place with roots left open and hanging, nutrients are given by sprayed and for plants to grow maximum then the air humidity where cultivated plants should be maintained. Potato seeds used are varieties Granola with different cuttings. The aim of this research is to get the effect of different cuttings on growth and yield of potato seeds in lowland aeroponic system. The method used in this study is the method of observation. Observed variables include microclimate (ambient temperature, environmental humidity, leaf temperature, leaf radiatio), plant growth data (plant height, number of leaves, number and weight of seed). The data obtained were analyzed by calculating the average value and then graph. The seed potato data was then tabulated using anova to see if the difference of cuttings affected the number of seeds produced. The results showed no difference in growth and the number of seed potatoes produced significantly between cuttings 1 and cuttings 2. The number of seeds in cuttings 1 as much as 778 pieces, while the 2 cuttings as much as 741. | |
| 18447 | 21737 | F1C013022 | KOMUNIKASI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PROGRAM “KOTAKU” DI KELURAHAN SEMARANG KABUPATEN BANJARNEGARA | Banyaknya lingkungan kumuh dan minimnya kesadaran masyarakat untuk hidup sehat dan berkualitas dalam artian bersih membuat pemerintah mencetuskan program kotaku, program kotaku adalah program pemberdayaan masyarakat dalam bidang pengetasan lingkungan kumuh dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat serta mengubah pola pikir masyarakat untuk hidup sehat dan bersih. dari hal inilah peneliti ingin mengetahui dan meneliti bagaimana komunikasi yang dilakukan oleh fasilitator ataupun berbagai pihak yang berperan untuk menyampaikan dan mensukseskan program tersebut di Kelurahan Semarang Kabupaten Banjarnegara. Adapun tujuan penelitian ini sebenarnya ingin mengetahui dan menganalisis bagaimana komunikasi yang dilakukan oleh fasilitator dan juga pihak-pihak yang dibebani untuk bertanggung jawab di dalamnya. Dalam proses penelitian peneliti menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan wawancara sebagai sumber data primer dan observasi dan dokumentasi sebagai data sekunder dan pendukung. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dan didapat yaitu bahwa proses komunikasi yang terjadi antara komunikator dalam hal ini pemerintah daerah, fasilitator dan segenap pihak yang bertanggung jawab sudah dilakukan untuk disampaikan kepada komunikan dalam hal ini masyarakat. Bentuk komunikasi yang terjadi didalamnya yaitu sosialisasi, diskusi, rapat antar warga serta musyawarah, sehingga setiap masalah ataupun kegiatan bisa dievaluasi atau direncanakan di kedepan harinya. Tidak ada program yang berjalan secara lancar begitupun program kotaku ini, masyarakat sebagai sasaran banyak yang kontrak meskipun tidak sedikit yang pro, mereka yang menolak biasanya dengan adanya program pemberdayaan ini di masyarakat bisa merugikan dirinya, baik materil maupun waktu, masyarakat yang seperti ini mungkin karna kurangnya pengetahuan informasi dan komunikasi sehingga terjadi seperti itu. | The number of slum neighborhoods and the lack of public awareness to live healthy and quality in a clean sense of making city municipal program, municipal program is a community empowerment program in the field of hatching slums and improve the quality of life and change people's mindset to live healthy and clean. from this case the researcher wanted to know and see how the communication done by the facilitator and various parties that play the role to deliver and succeed the program in Semarang urban Banjarnegara District. As the purpose of this research is actually want to know and analyze how the communication made by the facilitator and also the parties who are burdened to be responsible in it. In the research process use qualitative method by using primary data and observation as secondary data and supporter. From the results of research that has been done and obtained is the communication process that occurs between the communicator in this case the local government, facilitators and all responsible parties have been awakened to terbersit in communicant in this community. The forms of communication that occur in it are socialization, discussion, meeting between citizens and deliberations, so that any problems or activities can be evaluated or planned in the future. There are no programs that run smoothly as well as this city program, the community as the target of many that no one is pro, those who refuse usually with this empowerment program in society can harm themselves, both material and time, such a community may be because of science and such communication takes place. Communications community empowerment is a form of a combination of various elements in which they can not stand alone and walk alone, with mutual assistance and good communication process things that can be minimized cons to succeed the community empowerment program is the city program. | |
| 18448 | 21738 | E1A012304 | Tinjauan Yuridis Tanggung Jawab PO. Sindoro Satriamas Travel Sebagai Pengangkut Terhadap Penumpang yang Mengalami Kecelakaan Berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. | Pengangkutan merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Dikatakan sangat penting karena pengangkutan memiliki peranan strategis dalam kehidupan masyarakat dan maju mundurnya perekonomian suatu negara sangat dipengaruhi oleh pengangkutan. Berdasarkan jenis fasilitas pengangkutannya, pengangkutan muncul dalam bentuk pengangkutan darat, laut dan udara. Mengenai bidang pengangkutan darat, pemerintah telah mengundangkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pengangkutan dilandasi oleh suatu perjanjian pengangkutan, Perjanjian pengangkutan adalah Persetujuan dengan mana pengangkut mengikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan barang atau penumpang dari suatu tempat ke tempat tujuan tertentu dengan selamat dan pengirim atau penumpang mengikatkan diri untuk membayar biaya pengangkutan. Pasal 234 ayat (1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan menyebutkan bahwa Pengemudi, pemilik Kendaraan Bermotor, dan/atau Perusahaan Angkutan Umum bertanggungjawab atas kerugian yang diderita oleh penumpang dan/atau pemilik barang dan/atau pihak ketiga karena kelalaian pengemudi. Tanggung Jawab pengusaha angkutan PO. Sindoro Satriamas Travel sebagai pelaku usaha angkutan darat untuk memberikan ganti rugi kepada penumpang yang mengalami kerugian akibat dari suatu peristiwa kecelakaan berdasarkan Pasal 234 ayat (1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dan merupakan hak bagi penumpang untuk mendapatkan ganti rugi berupa bantuan biaya perawatan maupun berupa santunan. | Transportation is a very important part of people's lives. It is said to be very important because transportation has a strategic role in people's lives and the advancement of the economy of a country is greatly influenced by transportation. Based on the type of transport facilities, the transportation appears in the form of land, sea and air transport. Regarding the field of land transportation, the government has enacted Law Number 22 Year 2009 on Traffic and Road Transportation. The transport is based on a transport agreement, the transport Agreement is the Agreement by which the carrier binds itself to carry the carriage of goods or passengers from a certain place to a certain destination safely and the sender or passenger binds to pay for the freight. Article 234 paragraph (1) of Law Number 22 Year 2009 on Traffic and Road Transport states that the Driver, Owner of Motor Vehicle, and / or Public Transport Company shall be liable for loss suffered by passenger and / or owner of goods and / or third party due to driver negligence. Responsibility of PO carrier. Sindoro Satriamas Travel as a land transportation business entity to provide compensation to passengers experiencing losses resulting from an accident event under Article 234 paragraph (1) of Law Number 22 Year 2009 on Road Traffic and Transportation and it is a right for passengers to get a change loss in the form of assistance or the cost of care compensation. | |
| 18449 | 21739 | C1C014103 | PENGARUH PARTISIPASI ANGGARAN, KEJELASAN SASARAN ANGGARAN, DAN KOMITMEN ORGANISASI TERHADAP KINERJA MANAJERIAL (Studi Empiris pada PD BPR BKK Purwokerto) | Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh partisipasi anggaran, kejelasan sasaran anggaran, dan komitmen organisasi terhadap kinerja manajerial dengan studi empiris pada PD BPR BKK Purwokerto. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan survei kuesioner dengan pemilihan sampel menggunakan metode purposive sampling. Kuesioner dibagikan kepada 33 manajer atau kepala setingkat manajer PD BPR BKK Purwokerto. Data dianalisis menggunakan teknik analisis regresi linear berganda dengan software SPSS. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa partisipasi anggaran dan kejelasan sasaran anggaran berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja manajerial. Sedangkan omitmen organisasi tidak berpengaruh terhadap kinerja manajerial. | This study aims to examine the effect of budgetary participation, budget target clarity and organizational commitment on managerial performanceon empirical study in PD BPR BKK Purwokerto. To collect data of this study, survey questionnaire with sample selection using purposive sampling method are used. Questionnaires given to 33 managers or managers-equaled level in PD BPR BKK Purwokerto. Their responses are analyzed using multiple linear regression analysis technique through SPSS software. These analysis results reveal that budgetary participation and budget target clarity has significant positive effects to managerial performance. However, organizational commitment does not affect to managerial performance. | |
| 18450 | 21741 | G1A014065 | Pengaruh Warna Latar Tulisan Terhadap Performa Memori Jangka Pendek Pada Mahasiswa FK Unsoed | Warna merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, warna dapat membantu dalam proses komunikasi, pemasaran, bahkan dalam kegiatan pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, warna dapat membantu dalam proses mengingat suatu informasi. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti adakah pengaruh warna latar tulisan terhadap kemampuan menghafal mahasiswa FK Unsoed dalam kata-kata Indonesia maupun Latin. Besar sampel yang didapat dari penelitian ini sebesar 99 yang dibagi menjadi tiga kelompok: Warna Hangat (WH)/ Merah, Warna Dingin (WD)/ Biru, dan Warna Netral (WN)/ Hitam. Berdasarkan uji one-way ANOVA, didapatkan hasil untuk perbandingan antar kelompok pada skor tes Indonesia didapatkan hasil p=0.945 (p>0.05). Sedangkan pada perbandingan antar kelompok pada skor tes Latin didapatkan hasil sebesar p=0.469 (p>0.05). Kesimpulan penelitian ini adalah tidak terdapat perbedaan kemampuan menghafal yang bermakna antara kelompok dengan warna hangat, warna dingin, dan warna netral pada tes bahasa Indonesia maupun Latin. | Color is very important thing in human life. In everyday life, color can help in the process of communication, marketing, even in learning activities. In the learning process, color can help in the process of remembering an information. This study aims to examine whether any effect of background color of the writing on the FK Unsoed student’s ability to memorize in both Indonesian and Latin words. The samples obtained from this study amounted to 99 divided into three groups: Warm color (WH) / Red, Cold color (WD) / Blue, and Neutral color (WN) / Black. Based on the one-way ANOVA test, the results obtained for comparison between groups on the Indonesian test score obtained results p = 0.945 (p> 0.05). While the comparison between groups on the Latin test score obtained results of p = 0.469 (p> 0.05). The conclusions of this study were no significant differences between the groups with warm color, cool color, and neutral color on Indonesian and Latin test. | |
| 18451 | 21742 | E1A114105 | Analisis Yuridis Protokol Untuk Mencegah, Menindak dan Menghukum Perdagangan Orang, Terutama Perempuan dan Anak-Anak 2000 (Protocol to Prevent, Suppress and Punish Trafficking in Persons, Especially Women and Children 2000) (Studi Kasus Perdagangan Orang Terhadap Warga Negara Asing di Indonesia) | Protocol to Prevent, Suppress and Punish Trafficking in Persons, Especially Women and Children 2000 merupakan sebuah protokol dari United Nations Convention Against Transnational Organized Crime yang memberikan pengaturan tentang perdagangan orang dan perlindungannya terhadap korban perdagangan orang tersebut. Protokol ini tidak memiliki pengaturan secara khusus tentang perdagangan perempuan, hanya mengatur secara umum tentang perdagangan orang dan perdagangan anak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaturan perdagangan perempuan menurutProtocol to Prevent, Suppress and Punish Trafficking in Persons, Especially Women and Children 2000 dan tindakanpemerintah Indonesia dalam melindungi korban perdagangan orang terhadap warga Negara asing. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif,dengan data sekunder, yang terdiri dari bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Protokol ini tidak hanya mengatur tentang perlindungan korban tetapi juga upaya pemulangan korban perdagangan orang dan tindakan-tindakan pencegahan agar perdagangan orang tidak terjadi lagi. Upaya Indonesia dalam melindungi korban perdagangan orang adalah dengan mendirikan Gugus Tugas Tindak Pidana Perdagangan Orang serta memfasilitasi rehabilitasi kesehatan, rehabilitasi sosial, pemulangan dan reintegrasi sosial. Rumah Detensi Imigrasi disediakan bagi korban perdagangan orang dan penyelundupan manusia. Proses pemulangan korban perdagangan orang terhadap warga Negara asing dibebankan kepada perwakilan Negara asalnya di Indonesia melalui bantuan pejabat imigrasi dan Menteri Luar Negeri RI. | Protocol to Prevent, Suppress and Punish Trafficking in Persons, Especially Women and Children 2000 is a Protocol of the United Nations Convention Against Transnational Organized Crime which provides the regulation about human trafficking and its protection toward the victims of human trafficking. This Protocol does not have a specific regulation about women trafficking, only generally regulate about human trafficking and children trafficking. The purpose of this research is to know the regulation about women trafficking based on Protocol to Prevent, Suppress and Punish Trafficking in Persons, Especially Women and Children 2000 and the action of the Indonesian government in protecting the victims of human trafficking toward foreign nationals. This research used normative juridical approach method with secondary data, which consists of primary legal material and secondary legal material. The result of this research showed that this Protocol is not only regulate about the victim protection but also the effort of repatriation of victims and the preventive actions so that human trafficking does not happen anymore. The effort of Indonesia in protecting the victim of human trafficking is by establish a Task Force of Human Trafficking and facilitate a health rehabilitation, social rehabilitation, repatriation, and social reintegration. House Detention Imigration is provided for the victims of human trafficking and human smuggling. The repatriation process of the victim of human trafficking toward foreign nationals charged to the representative of the origin country in Indonesia through the help of immigration officials and Minister of Foreign Affairs. | |
| 18452 | 21747 | F1G014004 | MOBILITAS SOSIAL PADA NOVEL AIR MATA TERAKHIR BUNDA KARYA KIRANA KEJORA | Penelitian yang berjudul “Mobilitas Sosial pada Novel Air Mata Terakhir Bunda Karya Kirana Kejora” pada dasarnya membahas dan menganalisis novel Air Mata Terakhir Bunda karya Kirana Kejora dengan pendekatan Sosiologi Sastra dan menggunakan teori Mobilitas Sosial. Manfaat penelitian ini adalah memberikan gambaran dan pemahaman kepada pembaca mengenai mobilitas sosial yang terdapat pada novel Air Mata Terakhir Bunda karya Kirana Kejora. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta atau unsur-unsur intrinsik yang terdapat pada novel Air Mata Terakhir Bunda karya Kirana Kejora kemudian disusul dengan analisis mobilitas sosial. Fokus penelitian ini adalah membahas mobilitas sosial tokoh utama Delta Santoso pada novel Air Mata Terakhir Bunda karya Kirana Kejora. Sumber data yang digunakan adalah sumber data primer dan sumber data sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan ialah membaca keseluruhan isi novel secara intens, menginventarisasi data dalam novel yang berhubungan dengan objek kajian, mengklasifikasi data penelitian berdasarkan rumusan masalah. Hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut. Unsur intrinsik yang dianalisis meliputi alur, latar, tokoh dan penokohan, di susul dengan pembahasan mobilitas sosial yang dialami tokoh utama Delta Santoso. Adapun hasil pembahasan mobilitas sosial tersebut adalah tokoh Delta yang semula hanya berada di kelas pekerja, mengalami penurunan kedudukan sosial menjadi seorang pencuri. Setelah menjadi pencuri, kedudukannya mengalami kenaikan menjadi penjaga kios dan guru les, kemudian dilanjutkan menjadi karyawan, dan pada akhirnya mengalami puncak kenaikan kedudukan sosial ke tingkat yang lebih tinggi yaitu sebagai seorang pengusaha. | The research entitled “Mobilitas Sosial pada Novel Air Mata Terakhir Bunda Karya Kirana Kejora” basically discusses and analyzes the novel Air Mata Terakhir Bunda by Kirana Kejora with Sociology Literature approach and uses Social Mobility theory. The benefit of this research is to give the reader an overview and understanding of social mobility contained in the novel Air Mata Mata Bunda by Kirana Kejora. This research uses descriptive analytic method by describing facts or intrinsic elements contained in the novel Air Mata Mata Bunda by Kirana Kejora then followed by social mobility analysis. The focus of this research is to discuss the social mobility of the main character of Delta Santoso in the novel Air Mata Mata Bunda by Kirana Kejora. The data sources used is primary data source and secondary data source. The data collection technique used is to read the whole novel content intensely, to inventory the data in the novel related to the object of study, to classify the research data based on the problem formulation. The results of this study are as follows. The intrinsic elements analyzed include plot, background, character and characterization, followed by a discussion of social mobility experienced by Delta Santoso as the main character. The results of the discussion of social mobility is the Delta figure who originally only in the working class, decreased the social position of being a thief. After becoming a thief, his position has risen to become a stall keeper and private tutor, then continuing to become an employee, and ultimately experiencing a peak rise in social standing to a higher level that is as an entrepreneur. | |
| 18453 | 21735 | E1A013203 | TANGGUNG JAWAB NEW GARUDA BAN SEBAGAI PELAKU USAHA TERHADAP KONSUMEN ATAS KERUGIAN YANG DIDERITANYA BERDASARKAN UNDANG -UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 (KAJIAN TERHADAP KEPUTUSAN BPSK KOTA CIREBON NOMOR 002/KPT/BPSK/II/2017) | Undang – Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen telah mengatur tentang kewajiban yang harus dilakukan oleh pelaku usaha dalam Pasal 7 dan tanggung jawab yang harus dilakukan oleh pelaku usaha pada Pasal 19 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen namun tetap saja ada pelaku usaha yang tidak melaksanakan kewajibannya dan tidak mau bertanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh konsumennya. Seperti pada kasus yang terjadi antara E. Tri Surya dan New Garuda Ban yang terdapat dalam Keputusan BPSK Kota Cirebon No.002/KPT/BPSK/II/2017. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana tanggung jawab New Garuda Ban sebagai Pelaku Usaha jasa perbaikan setel roda / Spooring terhadap kerugian yang diderita oleh Konsumen dalam Keputusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Kota Cirebon No.002/KPT/BPSK/II/2017 berdasarkan Undang – Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Metode pendekatan yang digunakan adalah metode pendekatan yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan analisis. Data yang digunakan adalah data sekunder yang berupa peraturan perundang-undangan, dan buku literatur. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, dimana menjelaskan uraian-uraian fakta hukum kemudian dikaitkan dengan hasil penelitian yang ada. Hasil penelitian menyatakan Proses mediasi di Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Kota Cirebon berakhir dengan kesepakatan bahwa New Garuda Ban harus membayar uang sejumlah Rp 425.000,- kepada E. Tri Surya sebagai bentuk tanggung jawab pelaku usaha kepada konsumennya karena telah melanggar hak konsumen tepatnya hak pada Pasal 4 huruf a dan h dan juga karena pelaku usaha tidak memenuhi kewajibannya baik kewajiban yang telah diatur pada pasal 7 Undang – Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen maupun kewajiban yang disepakati di dalam perjanjian yang telah dibuat sehingga pelaku usaha diwajibkan melakukan tanggung jawab kepada konsumennya seperti yang telah diatur pada Pasal 19 Undang – Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. | Constitution Number 8 Year 1999 about Consumer Protection has regulated the obligations that business actors must perform in Article 7 and the responsibilities to be taken by business actors in Article 19 of Constitution Number 8 Year 1999 about Consumer Protection but still there are business actors who do not carry out their obligations and do not want to be responsible for the losses suffered by their consumers. As in the case that occurred between E. Tri Surya and New Garuda Ban contained in Decision BPSK Kota Cirebon No.002 / KPT / BPSK / II / 2017 to be investigated. This research aims to find out how the responsibility of New Garuda Tires as Business Service actors repair wheel set / Spooring against losses suffered by Consumers in Decision of Consumer Dispute Settlement Board of Cirebon City No.002 / KPT / BPSK / II / 2017 based on Law Number 8 of 1999 on Consumer Protection. Approach method used is method of juridical normative approach with approach of legislation and approach of analysis. The data used are secondary data in the form of legislation, literature book, and internet sites. Data analysis used is descriptive analysis, which explains the description of legal facts and then associated with the results of existing research. The results stated that the Mediation Process at the Consumer Dispute Settlement Board of Cirebon City ended with the agreement that New Garuda Ban must pay Rp 425.000, - to E. Tri Surya as a form of business actor responsibility to the consumer for violating the right of the consumer to be exact the right in Article 4 letters a and h of Law Number 8 Year 1999 about Consumer Protection and also because business actors do not fulfill their obligations either obligations set forth in Article 7 of Law Number 8 Year 1999 about Consumer Protection as well as obligations agreed in the agreement which has been made so that business actors are obliged to carry out the responsibility to their customers as set forth in Article 19 paragraph (1) and (2) of Law No. 8 of 1999 on Consumer Protection. | |
| 18454 | 22041 | F1A013080 | INTERAKSI SOSIAL DALAM BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA DI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN | Penelitian ini bertujuan sebagai berikut : Pertama, mengetahui dan menjelaskan interaksi sosial di Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEM-U). Awalnya interaksi sosial dibangun dari tiap-tiap individu yang tergabung dengan latar belakang keilmuan berbeda-beda. Kedua, untuk mengetahui dan menjelaskan BEM-U dalam menyikapi konflik yang ada di masyarakat. Dalam menyikapi konflik BEM-U lebih condong terhadap isu-isu di masyarakat daripada konflik internal di dalam organisasinya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskripsitf dengan pendekatan penelitian fenomenologi. Pendekatan fenomenologi adalah pendekatan yang berupaya untuk meninjau sebuah fenomena dan keterkaitan antara relasi para aktor yang ada dalam interaksi sosial suatu fenomena tersebut. Dalam konteks ini, pendekatan ini digunakan untuk melihat atau memotret pertukaran sosial yang dilakukan oleh BEM-U dalam menciptakan interaksi sosial. Interaksi sosial diciptakan antar mahasiswa dalam berorganisasi baik kepada pengurus dan anggotanya itu sendiri ataupun kepada mahasiswa lain yang belum tergabung untuk berorganisasi. Kemudian temuan di lapangan ditulis dalam bentuk deskripsi yang padat. Hasil Penelitian ini menjelaskan interaksi sosial BEM-U dan merespon isu-isu yang ada di masyarakat serta konflik internal organisasi. Interaksi sosial di BEM-U dibentuk dari pertukaran sosial antara individu dengan kelompok. Setiap individu di dalamnya memiliki motif berbeda dan berharap mendapat manfaat dari organisasi secara ekstrinsik ataupun immateriil. Hal itu yang membuat interaksi sosial di BEM-U Kementerian Roller Coaster lebih dinamis intrinsik era-era sebelumnya. Adanya timbal-balik yang menguntungkan di balik program kerja semacam itu. Namun jarang ada konflik internal yang berkepanjangan di BEM-U itu sendiri, atau konflik dengan UKM lainnya. Semua masalah diselesaikan dengan segera namun masih butuh evaluasi secara komprehensif penyebab terjadinya konflik internal dan antar UKM. BEM-U lebih memilih untuk berkonflik secara runcing dengan pihak struktur dan institusi di atasnya, yaitu; pemerintah pusat, pemerintah daerah, korporasi besar, rektor universitas, dan kepolisian. Ini memiliki dampak besar dengan dipanggilnya presiden BEM -U oleh kepolisian dan terjadi pengurangan jumlah dana kegiatan mereka. Jarang sekali BEM tingkat universitas seperti BEM Unsoed ini yang masih konsisten dan semangat mengkritik kebijakan pemerintah dan birokrasi kampus, di tengah himpitan mahal Uang Kuliah Tunggal dan masa kuliah semakin diperpendek tetap. Meski harus dibayar dengan represi polisi dan intimidasi birokrasi kampus. | This research aims to: First, know and explain social interaction in Student Executive Board of University (BEM-U). Social interaction firstly built from each individual who is associated in different scientific backgrounds. Second, to know and explain BEM-U in address problems in society. In addressing conflict, BEM-U is more inclined to the society issues than internal organization problems. This research used descriptive qualitative research method and phenomenology research approach. The phenomenology approach is an approach that attempts to examine a phenomenon and interrelations between actors in the social interactions on its phenomenon. In this context, this approach is used to observe or describe social exchanges conducted by BEM-U in making social interaction between students in organizing, either to the board and its members, or to other students who do not want yet to join organization. Then the findings in the field are written in a solid description form. The results of this research explains BEM-U social interaction and action to respond society issues and also internal organizational conflict. Social interaction at BEM-U is formed by the social exchange between individual and organization. Each individual in it has different motive among each other and hopes to reciprocally benefit from the organization both extrinsic and instrinsic. That is what makes social interaction within the BEM-U Roller Coaster Ministry more dynamic than previous eras, because there is a beneficial reciprocity behind such of work program. However, there is rarely prolonged internal conflict in BEM-U itself, or conflict with other UKM. All issues are resolved immediately but still need comprehensive evaluation of the causes in internal conflicts and inter-UKM conflicts. BEM-U prefers to have a pointy conflict with the above structures and  institutions, those are; central government, local government, large corporations, university rectors, and police. It had a major impact with the calling of the BEM-U presidents by the police, and also a reduction of funding amount for their activities. It is rare for BEM in university level which is in the midst of the high cost of UKT and the shortened study period, but still consistent with the spirit of criticizing government policies and campus bureaucracy like what BEM Unsoed did, although it must be paid with police repression and also intimidation from campus bureaucracy. | |
| 18455 | 21753 | D1E011228 | PENGARUH MACAM BAHAN PENGASAP TERHADAP WARNA PUTIH TELUR DAN TINGKAT KESUKAAN KONSUMEN TELUR ASIN ASAP | M. DWIYONO NUR AZIZI. Penelitian berjudul Pengaruh Macam Bahan Pengasap Terhadap Warna Putih Telur dan Kesukaan Konsumen Telur Asin Asap, telah dilaksanakan dari tanggal 25 September sampai 14 Oktober 2017 di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Peternakan, dan Laboratorium Teknologi Ilmu Pangan, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Tujuan penelitian untuk mengkaji pengaruh macam bahan pengasap terhadap warna putih telur dan kesukaan konsumen telur asin asap. 380 telur itik segar digunakan dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan Design Rancangan Acak Lengkap untuk menilai warna putih telur, sedangkan untuk menilai konsumen digunakan analisa deskriptif. Sebagai perlakuan adalah macam bahan pengasap yaitu P0 = tanpa pengasapan, P1 = Telur asin diasapi dengan bahan sabut kelapa, P2 = Telur asin diasapi dengan bahan tempurung kelapa dan P3 = Telur asin diasapi dengan bahan sekam padi. Setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa macam bahan pengasap berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap warna putih telur dan kesukaan konsumen. Kesimpulan dari penelitian bahwa macam bahan pengasap menghasilkan warna putih telur dan kesukaan konsumen yang sama. | M. DWIYONO NUR AZIZI. The research entitled “The Influence Of Kind of Smoking Materials on the Albumen Color And Consumers Preference of Smoking Salted Egg”, has been conducted from September 25 rd until October 14 nd , 2017 at Animal Product Technology Laboratory, Animal Science Faculty and Laboratory of Food Science Technology, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, Purwokerto. The aim of the research was to investigate the effect of Smoking Materials on the albumen color and consumer’s preference of Smoked Salted Eggs. Three hundred and eighty of fresh duck eggs were used in this research. This research used an experimental method with the design Randomized Completely Design to assess albumen color, while Descriptive Analysis to assess consumer’s preference. As the treatment was smoking material namely P0 = without smoking, P1 = smoking of salted eggs using coconut husk, P2 = smoking of salted eggs using coconut shells and P3 = smoking of salted eggs using rice husk. Each treatment has five replicates. The result of the research showed that smoking materials had no significant (P>0,05) effect on albumen color consumer’s preference. The conclusion of the research that smoking materials produces smoked salted eggs with egg white and the same consumer’s preferences. | |
| 18456 | 21787 | A1L013057 | PENGARUH JENIS ZEOLIT ALAM PADA BERBAGAI KOMPOSISI N-ZEOLIT DAN TINGGI GENANGAN AIR TERHADAP PENGUAPAN GAS AMONIA DAN HASIL PADI SAWAH (Oryza sativa L.) | ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh jenis zeolit alam pada berbagai komposisi N-Zeolit dan tinggi genangan air terhadap penguapan gas NH3 dan hasil padi sawah; (2) interaksi jenis zeolit alam pada berbagai komposisi N-Zeolit dan tinggi genangan air terhadap penguapan gas NH3 dan hasil padi sawah dan (3) komposisi N-Zeolit yang paling optimal pada perbedaan jenis zeolit alam dan tinggi genangan air terhadap penguapan gas NH3. Penelitian dilaksanakan Laboratorium Ilmu Tanah dan di Screen house Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman pada bulan Agustus 2017 sampai dengan Januari 2018. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 3 ulangan. Faktor yang dicoba meliputi tinggi genangan air yang terdiri atas 2 aras : G0 (genangan air 0-0,5 cm) dan G1 (genangan air 3-4 cm), jenis zeolit alam yang terdiri atas 2 aras : Z (zeolit alam tanpa modifikasi) dan Zm (zeolit alam termodifikasi) dan komposisi N-Zeolit terdiri atas 5 aras : K1 (10:1), K2 (20:1), K3 (30:1), K4 (40:1), dan K5 (50:1). Variabel yang diamati adalah bobot akar basah, bobot tajuk basah, bobot gabah basah, bobot tanaman basah, bobot akar kering, bobot tajuk kering, bobot gabah kering, bobot tanaman kering, volatilisasi NH3 kumulatif pada fase vegetatif dan volatilisasi NH3 kumulatif pada fase generatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian jenis zeolit alam pada berbagai komposisi N-Zeolit dan tinggi genangan air berpengaruh nyata terhadap penguapan gas NH3 dan hasil padi sawah. Terdapat interaksi antara tinggi genangan air dan jenis zeolit alam terhadap bobot gabah basah (12,14 g/rumpun), bobot gabah kering (11,50 g/rumpun) dan volatilisasi gas NH3 kumulatif pada fase vegetatif (94,76 mg N/pot). Komposisi N-zeolit yang paling optimal terhadap penguapan gas NH3 yaitu pada K5 (96,20 mg N/pot). | ABSTRACT The purposes of this research is to know: 1) the effect of natural zeolite types in various N-Zeolite composition and high water logging on amonia volatilization and rice yield, 2) interaction natural zeolite types in various N-Zeolite composition and high water logging on amonia volatilization and rice yield 3) determining the most optimal composition of N-Zeolite in different types of natural zeolite and high water logging on amonia volatilization. This research was conducted at Soil Laboratory and at Screen house of Agriculture Faculty of Jenderal Soedirman University on August 2017 to January 2018. This research was using Randomized Completely Block Design (RCBD) with 3 replication. The experimental factors is the high water logging consist of 2 levels: G0 (water logging 0-0,5 cm) and G1 (water logging 3-4 cm), type of natural zeolite consist of 2 levels: Z (natural zeolite without modifications) and Zm (modified natural zeolite), and N-Zeolite composition consist of 5 levels: K1 (10:1), K2 (20:1), K3 (30:1), K4 (40:1), and K5 (50:1). The variables observed is wet root weight, wet crown weight, wet grain weight, wet plant weight, dry root weight, dry crown weight, dry grain weight, dry plant weight, volatilization of NH3 accumulated in vegetative phase and volatilization of NH3 accumulated in generative phase. The result of this research showed that giving of natural zeolite types in various N-Zeolite composition and high water logging had significant on amonia volatilization and rice yield. There was had interaction between high water logging and type of natural zeolit to wet grain weight (12,14 g/clumps), dry grain weight (11,50 g/clumps) and volatilization of NH3 accumulated in vegetative phase (94,7 mg N/pot). The most optimal composition of N-Zeolite on amonia volatilization that is K5 (96,20 mg N/pot) | |
| 18457 | 21744 | E1A013166 | TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PEMBATALAN DESAIN INDUSTRI ROTAN DI CIREBON BERDASARKAN PASAL 2 UNDANG-UNDANG NOOR 31 TAHUN 2000 TENTANG DESAIN INDUSTRI DALAM PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 52 K/ Pdt.Sus-HKI/2015 | Desain Industri adalah suatu kreasi tentang bentuk, konfigurasi, atau komposisi garis atau warna, atau gabungan daripadanya yang berbentuk tiga dimensi atau dua dimensi yang memberikan kesan estetis dan dapat diwujudkan dalam pola tiga dimensi atau dua dimensi serta dapat dipakai untuk menghasilkan suatu produk, barang, komoditas industri, atau kerajinan tangan. Desain Industri mendapatkan perlindungan hukum apabila telah didaftarkan di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual dan mengandung unsur kebaruan. Tanpa adanya kebaruan pada suatu Desain Industri dapat menimbulkan terjadinya sengketa pembatalan pendaftaran Desain Industri.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kasus pembatalan Desain Industri rotan yang diajukan oleh CV.Sinsil Rattan kepada Kim Soo Chang dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 52 K / Pdt.Sus-HKI/ 2015. Metode pendekatan yang digunakan adalah metode pendekatan yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan analisis. Data yang digunakan adalah data sekunder yang berupa peraturan perundang-undangan, buku literatur, dan situs-situs internet. Analisis data yang digunakan adalah analisis normatif kualitatif, dimana menjelaskan uraian-uraian fakta hukum kemudian dikaitkan dengan hasil penelitian yang ada. Berdasarkan hasil penelitian terhadap Putusan Nomor 52 K/Pdt.Sus-HKI/2015 menunjukan bahwa Kim Soo Chang sebagai Tergugat telah mendaftarkan Desain Indsutri Nampan dengan itikad buruk yang tidak sesuai dengan ketentuan Pasal 4 Undang – Undang Nomor 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri, serta tidak mempunyai unsur kebaruan (novelty), seperti yang diungkapkan oleh Hakim bahwa kriteria kebaruan yaitu, dapat dilihat secara kasat mata sebagai model Desain Industri, tidak adanya kesamaan serta signifikan dan bukan merupakan milik umum (pubic domain). Pelanggaran yang telah dilakukan oleh Kim Soo Chang mengakibatkan pembatalan Desain Industri Nampan yang telah diterbitkan oleh Direktorat Jenderal HKI dan Kim Soo Chang tidak lagi memiliki Hak atas Desain Industri tersebut. | Industrial Design is a creation of the form, configuration, or composition of lines or colors, or a combination thereof in the form of three-dimensional or two-dimensional that gives the impression of aesthetic and can be realized in a three-dimensional or two-dimensional pattern and can be used to produce a product, industrial commodities, or handicrafts. Industrial Design obtains legal protection when it has been registered with the Directorate General of Intellectual Property Rights and contains elements of novelty. Without a novelty in an Industrial Design may result in a dispute over the registration of Industrial Design registration.This research aims to analyze the case of cancellation of Rattan Industrial Design proposed by CV.Sinsil Rattan to Kim Soo Chang in Supreme Court Decision Number 52 K / Pdt.Sus-HKI / 2015. The approach method used is the normative juridical approach with the legislative approach. invitations and analytical approaches. The data used are secondary data in the form of legislation, literature book, and internet sites. Data analysis used is qualitative normative analysis, which explains the description of legal facts and then associated with the results of existing research. Based on the result of the research of Decision Number 52 K / Pdt.Sus-HKI / 2015, it is clear that Kim Soo Chang as the Defendant has registered the Design Industry of Trays with bad faith which is not in accordance with the provisions of Article 4 of Law Number 31 Year 2000 regarding Industrial Design, does not have novelty, as the Judge reveals that the novelty criterion is, it can be seen in plain view as the Model of Industrial Design, the absence of similarity and significance and not the public domain. The violation by Kim Soo Chang has resulted in the cancellation of Industrial Design Tray which has been issued by the Directorate General of HKI and Kim Soo Chang no longer has the Right to the Industrial Design. | |
| 18458 | 21746 | F1G014036 | CRITICAL ELEVEN KARYA IKA NATASSA EKRANISASI DARI NOVEL KE FILM | Skripsi ini berjudul Critical Eleven karya Ika Natassa Ekranisasi dari Novel ke Film; yang meneliti tentang perubahan bentuk dari sebuah novel menjadi film. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan proses ekranisasi alur dalam kategorisasi aspek penciutan, penambahan, dan perubahan bervariasi pada ekranisasi novel ke bentuk film Critical Eleven. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data pada penelitian ini adalah novel Critical Eleven karya Ika Natassa dan film Critical Eleven yang disutradarai oleh Monty Tiwa dan Robert Rony. Fokus penelitian berupa proses ekranisasi alur. Data diperoleh melalui teknik membaca, menyimak, menginventarisasi data, dan mengklasifikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada novel dan film Critical Eleven terdapat 37 data yang terbagi menjadi 11 penciutan, 16 penambahan, dan 10 perubahan bervariasi. Data tersebut merupakan hasil proses ekranisasi dari ekranisasi novel ke filmnya. Kesimpulan dari penelitian ini adalah proses ekranisasi dari novel ke bentuk film terjadi karena adanya berbagai perubahan. Perubahan tersebut tergambarkan pada aspek penciutan, penambahan, dan perubahan bervariasi. Kata Kunci: Ekranisasi, novel, film. | This thesis is entitled Critical Eleven karya Ika Natassa Ekranisasi dari Novel ke Film; who examines the transformation of a novel into a film. The purpose of this study is to describe the process of flowing ecranization in the categorization of aspects of shrinkage, addition, and varied changes in the novel eccrange into the form of Critical Eleven film. This research uses descriptive qualitative analyze method. Sources of data in this analysis are novel Critical Eleven by Ika Natassa and Critical Eleven film directed by Monty Tiwa and Robert Rony. The focus of this analyze is the process of plot ecranize. Data obtained through the techniques of reading, listening, inventory data, and classify. The results of this analysis indicate that in the novel and film Critical Eleven there are 37 data that is divided into 11 shrinkage, 16 additions, and 10 varied changes. Data is the result of the process of plot ecranize transformation from novel to the film. The conclusion of this analysis is process of transformation from novel to film form occurs because of various changes. These changes are depicted in aspect of shrinkage, addition, and varied changes. Keywords: Ecranization, novel, film. | |
| 18459 | 22043 | C1C014077 | PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA DESA/LURAH, SOSIALISASI PERPAJAKAN, SANKSI PERPAJAKAN, DAN PENGETAHUAN PERATURAN PERPAJAKAN TERHADAP KEPATUHAN WAJIB PAJAK DALAM MEMBAYAR PAJAK BUMI DAN BANGUNAN SEKTOR PERDESAAN DAN PERKOTAAN (PBB-P2) (Studi Pada Wajib Pajak di Kabupaten Brebes) | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh variabel gaya kepemimpinan Kepala Desa/Lurah, sosialisasi perpajakan, sanksi perpajakan, dan pengetahuan peraturan perpajakan terhadap kepatuhan Wajib Pajak dalam membayar Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) di Kabupaten Brebes. Sampel dalam penelitian ini 100 responden yang merupakan Wajib Pajak PBB-P2 di 5 Kecamatan di Kabupaten Brebes. Metode purposive sampling digunakan dalam penentuan sampel penelitian ini. Data di analisis menggunakan SPSS versi 22. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa gaya kepemimpinan Kepala Desa/Lurah tidak berpengaruh terhadap kepatuhan WP PBB-P2. Sedangkan sosialisasi perpajakan, sanksi perpajakan, dan pengetahuan peraturan perpajakan berpengaruh positif terhadap kepatuhan WP PBB-P2 secara parsial. Hasil lainnya ditemukan bahwa gaya kepemimpinan Kepala Desa/Lurah, sosialisasi perpajakan, sanksi perpajakan, dan pengetahuan peraturan perpajakan berpengaruh secara simultan terhadap kepatuhan Wajib Pajak dalam membayar PBB-P2 di Kabupaten Brebes .. | The purpose of this study is to identify and analyze the effect of leadership style of headman, tax socialization, tax sanction, and tax knowledge on compliance of the land and building urban and rural tax. The sample in this study is 100 respondents taxes of the land and building urban and rural tax taxpayers in Brebes. Purposive sampling method is used in the determination of the sample. Data was analyzed by using SPSS 22 version. The result indicates that leadership style of headman has no effect on compliance of the land and building urban and rural tax. While, tax socialization, tax sanction, tax knowledge positivelly affect on compliance of the land and building urban and rural tax partially. However, leadership style of headman, tax socialization, tax sanction, and tax knowledge affect on compliance of the land and building urban and rural tax simultaneously. | |
| 18460 | 21995 | C1A011079 | PENDAPATAN DAN KONSUMSI KELOMPOK PEKERJA TAMBANG EMAS TRADISIONAL DI DESA PANINGKABAN KECAMATAN GUMELAR KABUPATEN BANYUMAS | RINGKASAN Penelitian ini berjudul “Pendapatan dan Konsumsi Kelompok Pekerja Tambang Emas di Desa Paningkaban Kecamatan Gumelar Kabupaten Banyumas”. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pendapatan pekerja pertambangan emas di Desa Paningkaban, Kecamatan Gumelar dapat memenuhi standar kebutuhan hidup layak (KHL) Kabupaten banyumas dan untuk mengetahui besaran kebutuhan konsumsi keluarga. Penelitian dilakukan di Desa Paningkaban Kecamatan Gumelar Kabupaten Banyumas. Analisis yang digunakan adalah analisis pendapatan, untuk mengetahui konsumsi digunakan analisis APC, dan KHL Hasil dari penelitian ini adalah berdasarkan perhitungan APC sudah cukup untuk memenuhi konsumsi keluarga. Sedangkan pendapatan perkapita keluarga pekerja tambang emas menurut pendapatan bersih dan pendapatan keluarga hanya ada enam pekerja yang sudah memenuhi standar KHL Kabupaten Banyumas dan tidak memenuhi standar KHL sebanyak tujuh puluh empat pekerja tambang emas. Kesimpulan dari penelitian ini adalah berdasarkan hasil perhitungan APC dapat diketahui bahwa besarnya pendapatan rumah tangga pekerja tambang emas di Desa Paningkaban, dapat memenuhi konsumsi rumah tangga. Berdasarkan hasil pendapatan rumah tangga pekerja tambang emas dengan cara membandingkan dengan Standar Kebutuhan Layak Kabupaten Banyumas, dan ada enam pekerja tambang emas yang berada diatas standar (KHL) Kabupaten Banyumas tahun 2016. Implikasi dari hasil penelitian ini diharapkan pekerja tambang emas untuk menambah jam kerja. Perlu perhatian khusus dari pemerintah khususnya bagi Dinas Perindustrian, dengan memperbaiki sarana dan prasarana yang meliputi pembenahan data dan penataan lubang galian tambang. Kata Kunci : Pendapatan dan Konsumsi, Pekerja Tambang Emas. | SUMMARY The study was entitled "Income and Consumption of Gold Mining Workers' Working Group in Paningkaban Village, Gumelar Sub-district, Banyumas District". The purpose of this study is to determine the income of gold mining workers in Paningkaban Village, Gumelar Sub-district has been able to meet the standard of living needs (KHL) in Banyumas regency and to know the amount of family consumption needs that can be met from the income of gold mining workers in Paningkaban Village. This research was conducted in Paningkaban Village, Gumelar Sub-district, Banyumas Regency. The number of respondents are 80 miners. The analysis that used is income analysis, to know consumption used APC analysis (Average Propensity to Consume), Standard of Living Needs (KHL) is used KHL standard of Banyumas Regency. The result of this research is based on APC calculation result that gold worker income is enough to fulfill family consumption. While per-capita income of gold mining worker family according to net income and family income there are only six workers who have fulfilled KHL standard of Banyumas Regency whereas those that do not meet KHL standard are seventy four gold mining workers. The conclusion of this study is based on APC calculation results can be seen that the amount of household income gold mining workers in Paningkaban Village, Gumelar District can meet household consumption. Income consists of income of wife, children, and or other family members who still live one roof. Based on the income of gold mining workers' households by comparing with the Standard of Decent Needs of Banyumas Regency, and there are six gold mining workers who are above the standard of living needs (KHL) in Banyumas Regency. The implication of this research is that gold mining workers are expected to increase working hours. It needs special attention from the government especially for Industry, Trade and Cooperative Agency and Village Cooperative association to rearrange the existing data collection in Paningkaban Village Cooperative, by improving the facilities and infrastructures which covering the repairing of data and arrangement of mining pits. |