Artikelilmiahs

Menampilkan 16.161-16.180 dari 49.951 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
1616119475F1B013001PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA (APBDes) DI DESA PATIKRAJA KECAMATAN PATIKRAJA KABUPATEN BANYUMASIndonesia merupakan salah satu negara berkembang, sehingga perlu adanya perbaikan pembangunan. Dalam prosesnya pembangunan dibagi atas dua tipe strategi yaitu, pertama strategi pembangunan berbasis kerakyatan atau yang berasal dari bawah bottom up dan yang kedua strategi pembangunan yang berasal dari pusat atau top down. Dalam strategi pembangunan yang berbasis bottom up masyarakat mempunyai peranan penting untuk mendukung proses pembangunan melalui partisipasi masyarakat .
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana partisipasi masyarakat dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) dan apakah terdapat pengaruh faktor usia (X1), jenis kelamin (X2), tingkat pendidikan (X3), dan pekerjaan (X4) terhadap partisipasi masyarakat dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) di Desa Patikraja Kecamatan Patikraja Kabupaten Banyumas.
Lokasi penelitian di lakukan di Desa Patikraja Kecamatan Patikraja Kabupaten Banyumas. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif assosiatif dengan pendekatan survey. Teknik pemilihan responden menggunakan accidental sampling, teknik pengumpulan data menggunakan kuisioner, wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Tabulasi Silang, Korelasi Koefisien Kotingensi C, Korelasi Kendall Tau C, Regresi Ordinal dan Regresi Logistik dan Koefisien Konkordansi Kendall W.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa derajat partisipasi masyarakat dalam penyusunan APBDes di Desa Patikraja termasuk dalam kategori tinggi serta terdapat pengaruh yang signifikan antara faktor usia (X1), jenis kelamin (X2), tingkat pendidikan (X3) dan pekerjaan (X4) terhadap Partisipasi Masyarakat dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) di Desa Patikraja Kecamatan Patikraja Kabupaten Banyumas.
Indonesia is one of the developing countries, so there needs to be improvement of development. In the process of development is divided into two types of strategies that is, the first strategy of community-based development or derived from below bottom up And the second development strategy originating from the center or top down. In bottom-up development strategies, communities have an important role to play in supporting the development process through community participation.
This study aims to find out how the community participation in the preparation of Revenue and Expenditure Budget Village (APBDes) And whether there is any influence of age factor (X1), gender (X2), education level (X3), and occupation (X4) on community participation in the preparation of APBDes in Patikraja Village Patikraja Sub-district of Banyumas Regency.
The research location in Patikraja Village, Patikraja District, Banyumas Regency. The research method used is quantitative associative with survey approach. Selection technique of respondents using accidental sampling, data collection techniques using questionnaires, interviews, observation and documentation. The data analysis technique used in this research is cross tabulation, correlation coefficient of censing C, Kendall Tau C correlation, ordinal regression and logistic regression and coefficient of Kendall W.
The results showed that the degree of community participation in the preparation of APBDes in Desa Patikraja included in the high category, and there is a significant influence between the age factor (X1), gender (X2), education level (X3) and employment (X4) on Community Participation in the preparation of Village Revenue and Expenditure Budget (APBDes) in Patikraja Village Patikraja Sub-district of Banyumas Regency.
1616219477F1C010077Konstruksi Makna “tato” Pada Anggota Komunitas “tato” Hore Blakasuta”
Purwokerto, Kabupaten Banyumas
Penelitian ini berjudul “Konstruksi Makna “tato” Pada Anggota Komunitas “tato” Hore Blakasuta” Purwokerto, Kabupaten Banyumas.” Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui konstruksi makna “tato” menurut pandangan anggota komunitas “tato” Hore Blakasuta Purwokerto dan untuk mengetahui bentuk komunikasi antaranggota Komunitas “tato” Hore Blakasuta Purwokerto.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Dalam memilih informan peneliti menggunakan teknik sampling snowball, sementara pengumpulan data diperoleh dengan cara wawancara, observasi serta dokumentasi. Validitas data menggunakan teknik triangulasi model sumber. Teknik analisis data menggunakan analisis model interaktif.
Hasil penelitian menunjukkan pemaknaan tato pada komunitas Tato Hore Blakasuta Purwokerto lebih mengarah pada aspek estetika atau keindahan. Bentuk komunikasi antaranggota komunitas Tato Hore Blakasuta ketika akan memutusakan untuk memakai tato dia akan berinteraksi terlebih dahulu dengan seniman tato dan sesama pengguna tato lainnya untuk menentukan berbagai hal. Proses penyampaian dan penerimaan pesan yang dilakukan keduanya merupakan suatu proses interaktif yang dipengaruhi oleh faktor-faktor dari dalam individu itu sendiri maupun faktor luar.
Implikasi penelitian ini adalah : 1) pengguna tato sebaiknya mempertimbangkan dengan matang sebelum memasang tato di tubuhnya, terutama untuk tato yang permanen, 2) pemasangan tato sebaiknya dilakukan pada praktisi tato yang profesional agar hasilnya memuaskan dan juga mencegah terjadinya gangguan kesehatan akibat peralatan yang kurang steril, 3) masyarakat agar memandang tato secara lebih luas dan positif, tidak lagi cenderung memandang tato dekat dengan kriminalitas atau hal-hal lain yang berkonotasi negatif.
This research entitled : “Construction Meaning "tattoo" On Community Members "tato" Hore Blakasuta "Purwokerto, Banyumas State.” The purpose of this study is to know the construction of the meaning of "tattoo" according to the views of community members "tato" Hore Blakasuta Purwokerto and To know the form of communication between community members "tattoo" Hore Blakasuta Purwokerto.
Research method used qualitative method. Sampling method used Snowball technique, data collecting method used in depth interview, observation and documentation. Data validity used technique of source model triangulation. Data analyzed technique used interactive model analysis.
The results showed the meaning of tattoo on the community Tato Hore Blakasuta Purwokerto more directed to the aesthetic aspect or beauty. Forms of communication between community members Tato Hore Blakasuta when will tamper to wear tattoos he will interact first with tattoo artists and fellow users of other tattoos to determine various things. The process of delivering and receiving messages are both an interactive process that is influenced by factors from within the individual itself as well as outside factors.
Implications of this research are: 1) tattoos users should consider carefully before put tattoo on the body, especially for permanent tattoo, 2) fitting of a tattoo should be done at a professional tattoo practitioners, so the results are satisfactory and also prevent health problems due to the lack of sterile equipment, 3) peoples looked to tattoo more broadly and positively, no more tend to see tattoo near the crime or anything else negative connotation.
1616319484F1G010041ANALISIS STRUKTUR NOVEL RE: KARYA MAMAN SUHERMAN
Penelitian ini berjudul “Analisis Struktur Novel Re: Karya Maman Suherman”. Permasalahan yang akan dikaji pada penelitian adalah bagaimana deskripsi unsur-unsur struktural (tema, tokoh, alur dan latar) dalam novel Re: karya Maman Suherman. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan unsur-unsur struktural (tema, tokoh, alur dan latar) dalam novel Re: karya Maman Suherman. Penelitian ini bermanfaat secara teoritis untuk mengembangkan keilmuan sastra khususnya mengenai teori struktural dan manfaat praktis, menjadi referensi bagi peneliti karya sastra dan membantu pembaca dalam memahami novel Re: karya Maman Suherman. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Fokus penelitian ini adalah unsur intrinsik novel Re: karya Maman Suherman yang meliputi alur, tokoh, latar, dan tema. Data primer untuk penelitian ini berasal dari novel Re: karya Maman Suherman. Data sekunder dalam penelitian ini didapat dari buku-buku teori, dan sumber informasi yang lain seperti internet dan lain-lain. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan membaca dan memahami isi novel Re: secara berulang-ulang, kemudian mencatat data-data penting yang sesuai dan berkaitan dengan fokus penelitian, setelah itu mengklasifikasikan data penelitian yang telah diperoleh sesuai dengan kebutuhan dalam penelitian. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah novel Re: karya Maman Suherman. Data hasil analisis yang diperoleh bahwa, novel Re: terdiri dari: (1) Alur, alur yang terkandung adalah alur campuran. (2) Latar meliputi: latar tempat yaitu Jakarta, hotel, coffee shop, kuburan, diskotek, rumah sakit, warung, dan rumah Mami Lani. Latar waktu, pagi hari, siang hari, malam hari, dan diri hari. Latar sosial, keadaan masyarakat yang individual tinggi. (3) Tokoh, tokoh utama yaitu Re:, tokoh tambahan yaitu Herman dan Mami Lani. (4) Tema utama, perjuangan seorang wanita yang harus memenuhi kebutuhan diri, buah hatinya dan untuk membayar utang kepada seorang mucikari. Tema tambahan, kisah cinta yang terpendam antara tokoh utama dengan seorang mahasiswa yang bekerja sebagai seorang supir. The study is entitled “Analisis Struktur Novel Re: Karya Maman Suherman”. The problem discussed in this research is how the description of structural elements (plot, setting, character, and theme) contained in the novel Re: written by Maman Suherman. This research aims at examining the structural elements (plot, setting, character, and theme) contained in the novel Re: written by Maman Suherman. Theoritically, the significant of this research is to develop the literary knowledge, especially on the structural theory while practically, this research may become a reference for the researchers on literary works and help the readers comprehend the novel Re: written by Maman Suherman. This research employs a descriptive-qualitative research focusing on the intrinsic elements of the novel Re: written by Maman Suherman, which cover plot, character, setting and theme. The primary data of this research are derived from the novel Re: written by Maman Suherman. Meanwhile, the secondary data are obtained from some theoritical books and the other information sources, including internet and else. The data of this research are collected by repeatedly reading and comprehending the novel contents, recording the important data and then classifiying them due to the requirements of this research focus. The research data are those contained within the novel Re: written by Maman Suherman. The result of data analysis show that novel Re: consists of (1) plot, considered as flashback (combination of progressive and regressive) plot; (2) setting, covering location setting: Jakarta, hotel, coffee shop, cementary, discotics, hospital, sundries shop, and Mom Lani’s house; time setting: morning, afternoon, evening, and daybreak; social setting: the people are highly individual; (3) character, the main character is Re, while the supporting characters are Herman and Mom Lani; (4) main theme: a woman’s struggle to fulfill her own and her children’s needs as well as to pay her debs to a pimp. In addition, the supporting theme is a hidden love story between the main character and a university student working as a driver.
1616419480F1D010003GERAKAN POLITIK PAGUYUBAN GERAKAN GURU HONORER KATEGORI II KABUPATEN BANYUMAS DALAM PENGANGKATAN PEGAWAI NEGERI SIPIL TAHUN 2015Permasalahan yang dialami guru honorer kategori II kabupaten Banyumas tidak hanya mengenai gaji yang dibawah upah minimum regional, namun mencakup permasalahan pengangkatan guru honorer kategori II sebagai pegawai negeri sipil tahun 2015 dan kejanggalan-kejanggalan tes CPNS tahun 2013. Permasalahan tersebut menginisiasikan guru honorer KII melakukan gerakan dan membentuk organisasi profesi yakni paguyuban gerakan guru honorer K2. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan permasalahan guru honorer kategori II dan strategi gerakan paguyuban gerakan guru honorer kategori II Kabupaten Banyumas dalam pengangkatan pegawai negeri sipil tahun 2015. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data yang digunakan yaitu data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi, sedangkan teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menemukan permasalahan-permasalahan guru honorer K2 dan strategi-strategi gerakan guru honorer dalam menyelesaikan permasalahan guru honorer. Kesimpulan penelitian ini guru honorer K2 kabupaten Banyumas tergabung dalam paguyuban gerakan guru honorer K2 kabupaten Banyumas melakukan gerakan dengan menggunakan strategi advokasi dan strategi keterlibatan kritis. Strategi advokasi yang dilakukan paguyuban guru honorer k2 kabupaten Banyumas dengan audiensi dan pengajuan uji materi PP no 56 tahun 2012, sedangkan strategi keterlibatan kritis yang dilakukan oleh paguyuban guru honorer k2 kabupaten Banyumas berupa kerjasama paguyuban dengan partai politik dan adanya pengurus guru honorer yang tergabung juga kedalam ranah politik. Saran penelitian ini yakni perlu adanya penguatan jaringan komunikasi dan pengembangan sikap kritis guru honorer K2 yang tergabung dalam paguyuban.The problems experienced by honorary teachers of category II of Banyumas regency are not only about salaries below regional minimum wage, but include issues of hiring honorary teachers of category II as civil servants in 2015 and abuses of CPNS test in 2013. These problems initiate teachers honorary KII Do the movement and form a professional organization that is the movement movement of honorary teacher K2. This study aims to describe the problem of honorary teacher category II and the movement movement strategy of honorary teachers of category II of Banyumas Regency in appointment of civil servants in 2015. This research uses qualitative research method with case study approach. The data used are primary and secondary data. Data collection techniques used in this study are interviews, observation, and documentation, while the sampling technique in this study using purposive sampling technique. The results of the study found the problems of teachers of honorarium K2 and honorary teacher movement strategies in solving the problems of teachers honorary. The conclusion of this research of honorary teachers K2 Banyumas district joined in Community movement of honorary teachers K2 Banyumas district made the movement by using the strategy of advocacy and strategy of critical engagement. The advocacy strategy conducted by the association of teachers of honorarium in Banyumas district with the hearing and submission of the material test of PP no 56 of 2012, while the critical involvement strategy conducted by the association of teachers of honorarium in Banyumas regency in the form of cooperation with political parties and the honorary teachers' Political sphere. Suggestion of this research that is need strengthening of communication network and development of critical attitude of teacher of honor K2 who joined in Community.
1616519479C1F015020PENGARUH BATASAN WAKTU, PENGETAHUAN AKUNTANSI DAN AUDITING, SERTA PENGALAMAN TERHADAP KUALITAS AUDIT
(STUDI KASUS PADA BPKP PERWAKILAN PROVINSI DI YOGYAKARTA)
Judul penelitian ini adalah pengaruh batasan waktu, pengetahuan akuntansi dan auditing serta pengalaman terhadap kualitas audit. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh batasan waktu, pengetahuan akuntansi dan auditing serta pengalaman terhadap kualitas audit pada Perwakilan BPKP Provinsi DI Yogyakarta.
Sampel dalam penelitian ini adalah auditor pada Perwakilan BPKP Provinsi DI Yogyakarta yang berjumlah 53 orang. Metode pengambilan sampel menggunakan sampel acak berstrata proporsional. Data dalam penelitian ini diperoleh dari kuesioner yang diberikan kepada responden. Teknik analisis yang digunakan adalah menggunakan component based- Structural Equation Modelling (CB-SEM) atau yang dikenal sebagai Partial Least Square (PLS)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa batasan waktu berpengaruh secara negatif terhadap kualitas audit, pengetahuan akuntansi dan auditing berpengaruh secara positif terhadap kualitas audit, dan pengalaman berpengaruh secara positif terhadap kualitas audit. Implikasi hasil penelitian ini, instansi BPKP DI Yogyakarta diharapkan memberikan batasan waktu penugasan audit yang cukup, dan memprioritaskan penugasan audit dengan kompleksitas tinggi kepada auditor yang berpengalaman dan memiliki pengetahuan akuntansi dan auditing yang lebih baik sehingga menghasilkan audit yang berkualitas.
The title of this research was the effect of lime limitation, knowledge of accounting and auditing, as well as experience toward audit quality. This research aims to examine the effect of lime limiation, knowledge of accounting and auditing, and experience toward audit quality at BPKP DI Yogyakarta.
The sample in this research were all auditors at BPKP DI Yogyakarta amounting to 53 auditors. The sampling method using a proportionate stratified random sampling. The data in this study were obtained from questionnaires distributed to respondents. The analysis technique used was based-component Structural Equation Modelling (CB-SEM), also known as Partial Least Square (PLS).
The results of the research showed that time limitation negatively affects the audit quality, knowledge of accounting and auditing positively affects the audit quality, and experience positively affects the audit quality. The implications of this research were that BPKP DI Yogyakarta was expected to give sufficient time limitation on audit assignment, and prioritized an audit with high complexity to experienced auditors that posessed better knowledge of accounting and auditing to produce a quality audit.
1616619478C1C012019PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP EFISIENSI BIAYA EKUITASPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah Good Corporate Governance (GCG) berpengaruh terhadap efisiensi biaya ekuitas. Good Corporate Governance diproksikan dengan variabel kepemilikan institusional, kualitas audit, dan komisaris independen. Kepemilikan institusional diukur dengan proporsi kepemilikan institusional dibagi dengan total saham yang beredar. Kualitas audit diukur dengan variabel dummy dimana perusahaan yang diaudit oleh KAP big four diberi nilai 1 sedangkan perusahaan yang diudit oleh KAP non big four diberi nilai 0. Komisaris independen diukur dengan jumlah anggota komisaris independen dibagi dengan total anggota dewan komisaris. Biaya ekuitas diukur dengan menggunakan rumus Capital Aset Pricing Model (CAPM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan institusional, kualitas audit, dan komisaris independen berpengaruh secara simultan dan parsial terhadap efisiensi biaya ekuitas. Sementara itu kualitas audit memiliki pengaruh paling dominan terhadap efisiensi biaya ekuitas.This study is aimed to investigate the influences of Good Corporate Governance (GCG) conducted by a company on its costs of equity efficiency. Good Corporate Governance would be estimated by using the institutional ownership, audit quality, and independent commissionare. Institutional ownership is measured by the proportion of institutional ownership divided by the total shares outstanding. Audit quality is measured by dummy variables in which firms audited by KAP big four are rated 1 whereas firms being audited by KAP non big four are assigned a value of 0. Independent commissioners are measured by the number of independent commissioners divided by the total members of the board of commissioners. The cost of equity is measured using the Capital Asset Pricing Model (CAPM) formula. The results show that institutional ownership, audit quality, and independent commissioners are simultaneously and partially effect on equity cost efficiency. Meanwhile, audit quality has the most dominant influence on equity cost efficiency.
1616719482B1J012170VARIASI MORFOMETRIK IKAN SEPAT (Trichogaster trichopterus Pallas, 1770) DARI SUNGAI KALI PUTIH, KALI MAMPANG DAN WADUK SEMPOR KABUPATEN KEBUMEN
Salah satu spesies dari Familia Anabantidae adalah ikan sepat (Trichogaster trichopterus Pallas, 1770). Ikan sepat merupakan spesies ikan introduksi dari perairan Asia Tenggara meliputi Kamboja, Laos, Thailand dan Vietnam. Sekarang tersebar di beberapa pulau seperti Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Ikan sepat ditemukan di Waduk Sempor dan sungai-sungai di Kabupaten Kebumen, di antaranya Sungai Kali Putih dan Sungai Mampang. Perbedaan karakteristik antara habitat perairan lentik di Waduk Sempor dan perairan lotik di Sungai Kali Putih dan Sungai Mampang diduga dapat mempengaruhi bentuk dan ukuran bagian tertentu tubuh ikan sepat. Perbedaan bentuk dan ukuran tubuh tersebut dapat diduga melalui teknik trus morfometrik. Penelitian yang bertujuan untuk menganalisis perbedaan morfologi ikan sepat dengan teknik trus morfometrik pada dua tipe habitat yang berbeda, yaitu perairan sungai dan waduk, dan mengetahui kondisi sifat fisik kimia air pada kedua tipe perairan yang berbeda tersebut, diharapkan dapat menjadi bahan informasi taksonomik dan dasar upaya pengelolaan sumber daya ikan sepat. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan teknik pengambilan sampel secara purposive random sampling. Pengambilan sampel ikan dilakukan menggunakan jaring tancap dan jala tebar. Parameter yang diukur adalah rasio antara jarak trus morfometrik sebanyak 22 karakter jarak trus di sepanjang tubuh dengan panjang total ikan sepat, pengukuran dilakukan menggunakan jangka sorong. Sifat fisika kimia perairan yang diukur adalah temperatur, kecerahan kedalaman, kecepatan arus, O2, CO2 dan pH. Lokasi pengambilan sampel di perairan lotik dilakukan di Sungai Kali Putih dan Kali Mampang, adapun di perairan lentik dilakukan di Waduk Sempor Kabupaten Kebumen. Ikan sepat yang berhasil didapatkan sebanyak 168 ekor. Hasil uji “t” menunjukkan bahwa terdapat perbedaan karakter morfologi ikan sepat dari lokasi perairan sungai dan waduk. Terdapat 13 jarak trus yang menjadi pembeda antara antara ikan sepat dari perairan sungai dan waduk, yang berada pada bagian kepala, badan dan ekor. Sifat fisika kimia perairan sungai maupun waduk menunjukkan kondisi yang sesuai bagi kehidupan ikan sepat. Perbedaan kondisi lingkungan sungai dan waduk berpengaruh terhadap adaptasi ikan. Ikan sepat diperairan lotik memiliki tinggi tubuh yang lebih pendek dibandingkan dengan ikan sepat yang berada di perairan lentik.One species of Anabantidae Familia is sepat (Trichogaster trichopterus Pallas, 1770). Sepat is introduced species from Southeast Asian covering Camboja, Laos, Thailand and Vietnam. Sepat was spread over several islands such as Java, Sumatra and Kalimantan. Sepat can be founding in Reservoir Sempor and rivers in Kebumen regency, among Kali Putihs River and Mampang. The differences of characteristic between waters in Sempor Reservoir and lotik waters in Kali Putih River and Mampangs River are thought to affect the shape and size of certain parts of fish body. The differences in body shape and size can be expected through morphometric techniques. Purpose of research are to analyze the differences of fish morphology between two habitat types there are river and reservoir with morphometric trus technique, and to know the physical and chemistry condition of water in the two habitat types, is expected to become taxonomic material information and the basis of effort fishery resource management. Method of research is purposive random sampling technique. Fish sampling was done using tipping nets and stocking nets. The parameters measured were the ratio between morphometric trus distance as much as 22 character distance trus along the body with total length of fish, the measurement was done using the sliding term. The physical and chemistry properties of aquatic measured are temperature, brightness depth, flow velocity, O2, CO2 and pH. Sampling location in lotic waters in Kali Putih and Kali Mampang river, while in the lentik waters in Sempor Reservoir in Kebumen District, 168 fishs was founded. The result of "t" test shows that there are difference of morphological characters of sepat fish from river and reservoir. There are 13 distances that distinguish between fish from the waters of rivers and reservoirs, which are on the head, body and tail. The physical and chemical was indicated that counditions of water are suitable for the life of sepat fish. The differences in environmental conditions of rivers and reservoir have an effect for fish adaptation. Sepat body which life in lotik habitat more longer than sepats body which life in lentik habitat.
1616819483B1J013009KAJIAN STRUKTUR ANATOMI TALUS BENTUK DAUN PADA Sargassum polycistum C. Agardh ASAL PANTAI MENGANTI DAN PANTAI KARIMUNJAWA
Sargassum polycystum. merupakan alga coklat (Phaeophyta) yang biasa
dibudidayakan dengan berbagai sistem budidaya di laut. S. polycystum memiliki
bentuk talus yang mirip dengan tumbuhan tetapi masih sangat sederhana, diantaranya
yaitu talus bentuk batang, talus bentuk daun dan talus bentuk vesikel. Talus bentuk
daun biasanya berfungsi untuk fotosintesis. Perbedaan lokasi memungkinkan
temperatur, salinitas dan pH yang berbeda sehingga dengan adanya perbedaan
tersebut memungkinkan adanya perbedaan karakter anatomi seperti tebal epidermis
dan Cryptostomata. Adapun tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan
karakter anatomi dari S. polycystum yang berasal dari dua tempat berbeda yaitu Pantai
Menganti dan Pantai Karimunjawa. Manfaat dari penelitian ini adalah memberikan
informasi mengenai perbedaan karakter anatomi dari S. polycystum yang berasal dari
Pantai Menganti dan Pantai Karimunjawa dimana karakter anatomi dapat
mempengaruhi sifat fisiologis dan kandungan alginat dan fukosantin yang terdapat
pada S. polycystum. Penelitian ini menggunakan metode survai dengan teknik
pengambilan Purposive Random sampling. Pengambilan sampel dilakukan di Pantai
Menganti Kebumen Jawa Tengah dan Pantai Karimunjawa di Jepara Jawa Tengah.
Pembuatan preparat anatomi talus menggunakan metode parafin. Parameter yang
diamati yaitu tebal epidermis, tebal (ukuran) talus dan ada tidaknya cryptostomata.
Data karakter anatomi talus bentuk daun dianalisis secara deskriptif untuk
menginterpretasikan perbedaan karakter anatomi talus di kedua tempat berbeda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa S. polycystum memiliki struktur anatomi
talus bentuk daun pada S. polycystum asal Pantai Menganti dan pantai Karimunjawa
memiliki struktur yang sama tersusun sel-sel parenkim yang homogen dan dikelilingi
oleh epidermis. Perbedaan karakter anatomi talus bentuk daun pada S. polycystum
antara Pantai Menganti dan Pantai Karimunjawa terletak pada ketebalan epidermis,
ketebalan talus dan ada tidaknya cryptostomata. Epidermis dan talus pada S.
polycystum asal Pantai Karimunjawa lebih tebal dibandingkan S. polycystum asal
Pantai Menganti. Cyptostomata tidak ditemukan pada S. polycystum asal pantai
Karimunjawa.
Sargassum polycystum is a brown alga (Phaeophyta) that is used to be cultivated with various kind of sea cultivation system. S. polycystum has thallus shape resembling with plants but still very simple, such as stem-shaped thallus, thallus leaf-shaped , thallus and vesikelshaped. Thallus Leaf-shaped usually is used for photosynthesis. The difference in location
enables temperature, salinity, and pH to be different, so with different temperature enables
different anatomy character like thick epydermis and cryptostomata. The research purpose is
to know the difference anatomycal character of S. polycystum between 2 different places,
which is Menganti Beach and Karimunjawa Beach. The anatomycal character could be
influenced physiological character, alginat and fucosanty content as S. polycystum. This
research method was survey methods with Purposive Random Sampling technique. The
sample was taken from Menganti Beach, Kebumen, Central Java and Karimunjawa Beach,
Jepara, Central Java. The production of thallus anatomy blood smear was using parafin
methods. The observed aspects are epydermis thickness, thallus size, and whether or not it has
cryptostomata. Leaf-shaped thallus anatomy character's data was analized descriptively to
interpret the different of talus anatomy character of two different places.
The result of the research showed that S. polycystum has leaf-shaped thallus anatomy
structure on Menganti Beach and Karimunjawa beach's S. polycystum that has the same
structure with parenchym cells surounded by epydermis. The leaf-shaped thallus anatomy
character difference between those two sample was located in the epydermis thickness, thallus
thickness and whether or not it has cryptostomata. epydermis and thallus in Karimunjawa Beach's sample was thicker than the one from Menganti Beach. Cryptostomata is not found in
Menganti Beach's S. polycystum.
1616919476F1A011046Bertahan untuk Tetap Menanam, Menanam untuk Tetap Bertahan (Studi Deskriptif Kehidupan Masyarakat Petani yang Bertahan Hidup di Sekitar Kampus Unsoed)Artikel penelitian ini membahas tentang kehidupan masyarakat petani yang bertahan hidup di sekitar kampus Universitas Negeri Jenderal Soedirman (Unsoed). Fokus penelitian ini adalah mengenai alasan para petani tetap bercocok tanam di sekitar kampus Unsoed, menggali makna tanah bagi petani di sekitar kampus Unsoed, dan upaya bertahan hidup para petani di sekitar kampus Unsoed. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi Alfred Schultz dan menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Lokasi penelitian terletak di sekitar kampus Unsoed, tepatnya di Kelurahan Grendeng dan Kelurahan Karangwangkal. Alasan para petani di sekitar kampus tetap bercocok tanam beraneka ragam. Sebagian petani memilih hidup sebagai petani karena tidak mampu mengerjakan pekerjaan lainnya. Selain itu, pilihan ‘bertani; merupakan pilihan yang didorong oleh moral ekonomi subsisten ‘dahulukan selamat’. Sebab, dengan bertani, para petani ini dapat menjaga stok pangan mereka di rumah. Dengan terjaganya stok pangan, mereka merasa lebih aman, di tengah ketidakpastian hidup di perkotaan. Makna tanah bagi para petani di sekitar kampus Unsoed beraneka ragam. Bagi petani yang memiliki sumberdaya ekonomi lebih dari warisan orang tuanya, makna tanah menjadi sebatas fungsi ekonomi semata. Sementara bagi petani yang menggantungkan hidupnya dari pertanian, makna tanah menjadi sangat penting secara sosial dan ekonomi. Secara ekonomi, tanah dianggap sebagai satu-satunya penghasilan dan yang memberikan kecukupan stok pangan. Secara sosial, tanah dianggap sebagai penentu status sosial. Ditinjau dari makna budaya dan kesakralan, tanah sebagai pengejawantahan budaya Jawa, yaitu pemberi makan bagi wong cilik yang telah ditakdirkan hidup sebagai petani. Para petani bertahan hidup dengan berbagai macam cara. Secara umum, para petani menggunakan model bertahan hidup IS (informal-subsisten), yaitu menggabungkan pekerjaan informal dan subsisten sekaligus. Bentuk pekerjaan informal paling umum yang dilakukan para petani ini adalah menjual gabah. Terdapat juga bentuk perdagangan lain yang dilakukan oleh petani yang memiliki sumberdaya ekonomi lebih. Bentuk subsistensi yang dilakukan para petani ini adalah menyisihkan sebagian hasil panen untuk konsumsi pribadi. Bentuk subsistensi lainnya adalah mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga sendiri.This research article reveal about the life of peasants that survive around University of Jenderal Soedirman (Unsoed). The focus of this research are understanding the reason of these peasants who keep farming around Unsoed, explore the meaning of land for peasants around Unsoed, and survival strategy of peasants around Unsoed. This research uses the phenomenology approach of Alfred Schultz and descriptive-qualitative method. This research would take place in Grendeng region and Karangwangkal region. The reason of these peasants keep farming is so various. Some peasants choose farming as the main work, because they can’t take another job. The other reason is driven by their subsistence economic-moral “safety first”. Farming activities would keep the peasant’s food-stock guaranteed. When the food-stock is guaranteed, the peasant feels safer in the middle of the urban region. The result of this research shows that there are various meanings of the land for the peasant. For peasants that have more economic resource form their parents, the land only has an economic meaning. Meanwhile, for peasants that depends their life from the land, the land has a social, economic, and cultural meanings. Economically, land is become the only one job that they can do and land gives them an enough food-stock for survive. Socially, land considered as the determinant of the social status. In terms of cultural and sacred sides, land considered as the manifestation of Javanese culture and theology. Land is the food-giver for the poor. These peasants survive with various ways. Generally, they uses IS-type (Informal-Subsistence type) for survive, that combine the informal economic activities and subsistence economic activities. The most general form of informal economic activity is selling the grain. The richer peasant usually does some trading activities for increase their income. The most general form of subsistence economic activity is taking some of their yields for the family. The other form of the subsistence activity is doing their housework all by their self.
1617019486F1B010072KUALITAS PELAYANAN PADA LAYANAN KEDOKTERAN DAN KESEHATAN GIGI DI RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT PENDIDIKAN UNSOEDPelayanan publik yang baik dan berkualitas dibutuhkan masyarakat terutama dalam bidang pendidikan dan kesehatan. Dalam hal pemberian pelayan kesehatan RSGMP UNSOED merupakan Rumah Sakit Gigi dan Mulut di Purwokerto yang berfokus pada pelayanan kesehatan gigi kepada masyarakat dan merupakan Rumah Sakit rujukan untuk kasus gigi dan mulut di JATENG.

Tujuan penelitian ini adalah unuk mengetahui tingkat kualitas pelayanan yang diberikan pada Layanan Kedokteran dan Kesehatan Mulut di RSGMP UNSOED. Pengukuran tingkat kualitas pelayanan menggunakan lima indikator, yaitu tangible, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy.

Dalam penelitian ini metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif yang dilakukan untuk mengetahui nilai variable mandiri yaitu kualitas pelayanan. Teknik pengambilan sample menggunakan accidental sampling. Metode pengumpulan data menggunakan observasi, kuisioner dan dokumentasi. Sasaran dalam penelitian ini adalah pasien RSGMP UNSOED.

Berdasarkan hasil yang diperoleh menggunakan distribusi frekuensi menunjukan bahwa tingkat kualitas pelayanan pada Layanan UPU di RSGMP UNSOED sudah cenderung tinggi. Hal ini ditunjukan dan didukung dengan peneliain pada masing-masing indikator yang semuanya menjukan bahwa kualitas pelayanan cenderung tinggi.
Good public services quality needed by the community especially in the field of education and health. In the case of health care RSGMP UNSOED a Dental Hospital in Purwokerto which focuses on dental health services to the community and is a referral hospital for dental and mouth case in Central Java.
The purpose of this study is to know the level of quality of services provided in the Medical Service and Oral Health at RSGMP UNSOED. Measurement of service quality level using five indicators, namely tangible, reliability, responsiveness, assurance, and empathy.
In this research, the research method used is quantitative descriptive done to know the value of independent variable that is service quality. Sampling technique using accidental sampling. Method of data collection using observation, questionnaire and documentation.
Target in this research is RSGMP UNSOED patient. Based on the results obtained using the frequency distribution shows that the level of service quality in the UPU Service at RSGMP UNSOED has tended to be high. This is shown and supported by assessment on each indicator that all of them insist that the quality of service tends to be high
1617119487F1B010083PENGARUH KOMPETENSI DAN KOMPENSASI TERHADAP KINERJA OPERATOR SEKOLAH DASAR DAN SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DI PURWOKERTOPendidikan merupakan hal yang sangat penting dan strategis dalam pembangunan nasional karena merupakan salah satu penentu kemajuan bagi suatu negara.Terkait dengan hal tersebut, maka pada awal tahun 2006, Biro Perencanaan Setjen Depdiknas membangun sistem pendataan terbaru dimana proses transaksi datanya dilakukan dalam skala mikro secara terpusat, daring (online) dan dalam waktu-nyata (real time) yang disebut dengan sistem Data Pokok Pendidikan (DAPODIK Tujuan pendataan tingkat sekolah adalah untuk memperoleh data secara langsung yang cepat, akurat, valid, lengkap, dapat dipertanggungjawabkan dan termutakhir. Permasalahan yang di angkat penulis adalah pengaruh kompetensi dan kompensasi terhadap kinerja operator DAPODIK sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di purwokerto. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif. Teknik pengambilan sample adalah probability sampling dan simple random sampling. Metode analisis data yang digunakan adalah tabulasi Silang, korelasi Kendall Tau, korelasi parsial Kendall, koefisien korelasi konkordasi Kendall W, regresi Ordinal Bivarate. Hasil penelitian ini bahwa kompetensi dan kompensasi menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap kinerja operator, dan variabel kompensasi menunjukkan kontribusi yang lebih besar atau dominan terhadap kinerja operator. Maka diharapkan pemerintah lebih memperhatikan kompensasi dan kompetensi operator DAPODIK untuk meningkatkan kinerja operator sehingga pendidikan di Indonesia dapat lebih maju.Education is a very important and strategic in national development because it is one of the determinants of progress for a country. Related to that, then in early 2006, the Bureau of Planning of the Ministry of National Education established the latest data collection system where the transaction process is done on a micro scale centrally , Online (in real time) and in real-time data, called the Basic Education Data System (DAPODIK). The objective of school level data collection is to obtain direct, fast, accurate, valid, complete, accountable and up-to-date data. The writer is the influence of competence and compensation on the performance of operators DAPODIK primary school and junior high school in purwokerto.The method used in this research is quantitative Sampling technique is probability sampling and simple random sampling Method of data analysis used is tabulation of cross, correlation I Kendall Tau, Kendall partial correlation, Kendall W concordance correlation coefficient, Ordinal Bivarate regression. The results of this study that competence and compensation show a significant influence on operator performance, and the compensation variable shows greater or more dominant contribution to operator performance. So the government is expected to pay more attention to the compensation and competence of operators DAPODIK to improve operator performance so that education in Indonesia can be more advanced.
1617219427I1F015037hubungan saturasi oksigen dengan level fatigue pada pasien CKD di Instalasi Dialisis RSUD Prof Dr Margono Soekarjo PurwokertoABSTRAK
Latar Belakang: Fatigue adalah kondisi yang paling penting untuk diobservasi pada pasien dengan penyakit ginjal kronik, karena dapat menurunkan kualitas hidup pasien hemodialisis. Kecukupan oksigen sangat diperlukan pada metabolisme sel dalam tubuh, agar tidak terjadi penimbunan asam laktat dalam darah hasil dari glikolisis anaerobic.
Tujuan: untuk mengetahui hubungan saturasi oksigen dengan level fatigue pada pasien Chronik Kidney Disease (CKD)
Metode: Penelitian analitik observasional ini menggunakan rancangan potong lintang. Populasi dalam penelitian ini adalah populasi terjangkau, yaitu semua pasien CKD yang menjalani hemodialisis rutin di Instalasi Dialisis RSUD Prof.DR. Margono Soekarjo Purwokerto sesuai dengan kriteria yang sudah ditentukan. Subyek sebanyak 60 orang diambil secara consecutive sampling. Pengukuran level fatigue dengan menggunakan kuisioner Subjective Self Rating Tes dari Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) Jepang, sedangkan saturasi oksigen dengan alat oksimetri arteri.
Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah responden dengan saturasi oksigen normal adalah 46,7% dan saturasi oksigen tidak normal 53,3%. Sedangkan untuk level fatigue yang dialami responden secara umum berat (41,6%), sedang (30%) dan ringan (28,4%). Hasil analisis diperoleh nilai p = 0,000 (< 0,05). yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara saturasi oksigen dan level fatigue..
Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara saturasi oksigen dengan level fatigue pada pasien CKD yang menjalani hemodialisis
Kata kunci: level fatigue, saturasi oksigen, CKD, hemodialisis
ABSTRACT
Background: Fatigue is the most important condition to be observed in patients with chronic kidney disease, as it can reduce the quality of life of hemodialysis patients. Adequacy of oxygen is necessary for cell metabolism in the body, in order to avoid accumulation of lactic acid in the blood resulting from anaerobic glycolysis.
Objective: To determine the corelation of oxygen saturation with the level of fatigue in patients Chronik Kidney Disease (CKD)
Methode: This observational analytic study used cross sectional design. The population in this study is the affordable population, ie all CKD patients undergoing routine hemodialysis in Dialysis Installation Prof.DR. Margono Soekarjo Hoaspital Purwokerto in accordance with predetermined criteria. 60 subjects were taken by consecutive sampling. Measurement of fatigue level by using Subjective Self Rating Tests from Japanese Industrial Fatigue Research Committee (IFRC), while oxygen saturation with arterial oxymetry tool.
Results: The results showed that the number of respondents with normal oxygen saturation was 46.7% and oxygen saturation was not normal 53.3%. As for the level of fatigue experienced by respondents in general weight (41.6%), moderate (30%) and light (28.4%). The results obtained p value = 0,000 (<0.05). Which means there is a significant corelation between oxygen saturation and fatigue level Conclusion: There is a significant corelation between oxygen saturation and fatigue level in CKD patients undergoing hemodialysis .
Keywords: level of fatigue, oxygen saturation, CKD, hemodialysis
1617319495C1C012026PENGARUH LITERASI KEUANGAN TERHADAP KEBERLANGSUNGAN USAHA PADA USAHA KECIL DAN MENENGAH (UKM) DI KABUPATEN PURBALINGGAUsaha Kecil dan Menengah (UKM) memiliki peran yang signifikan bagi pembangunan ekonomi di Indonesia. Keberadaan UKM dipercaya akan mampu berkontribusi terhadap upaya pengentasan kemiskinan melalui penciptaan lapangan kerja. Namun, keberlangsungan UKM di Indonesia beresiko terancam karena perubahan arus globalisasi dan tingginya persaingan. Hal tersebut membuat UKM harus mampu menghadapi tantangan global dengan meningkatkan literasi keuangan dari pemilik UKM. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh literasi keuangan terhadap keberlangsungan usaha pada UKM di Kabupaten Purbalingga.
Penelitian ini menggunakan teori Bottom of the Pyramid (BOP) dan teori planned of behavior (TPB). Tujuan dari teori BOP adalah untuk mengatasi permasalahan pengentasan kemiskinan, salah satunya dengan cara melakukan pembinaan terhadap UKM agar memiliki literasi keuangan yang baik agar keberlangsungan usaha dari UKM tersebut dapat meningkat. Sementara itu, TPB digunakan untuk mengukur sikap dan perilaku pemilik UKM dalam melakukan pengelolaan keuangan. Selain itu, teori TPB juga dapat digunakan untuk menjelaskan berbagai perilaku dalam kewirausahaan.
Populasi dalam penelitian ini berjumlah 5.846 unit usaha yang terdaftar di Badan Pusat Statistik Kabupaten Purbalingga. Sampel Berjumlah 98 unit usaha kecil dan menengah di bidang dagang, manufaktur dan jasa yang dihitung berdasarkan rumus Slovin. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode simple random sampling. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner yang didistribusikan langsung kepada responden.
Hasil pengujian menunjukan bahwa variabel independen literasi keuangan berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen keberlangsungan usaha pada UKM di Kabupaten Purbalingga.
Small and medium enterprises ( SME’s ) have a significant role for economic development in indonesia. The existence of SME’s believed to be able to contribute to reduce poverty through job creation. But, the sustainability of SME’s in Indonesia have a risk as changes of current globalization and high competition. It makes SME’s must be able to global challenges by increasing financial literacy from the owner . The study aimed to analyze the influence of the financial literacy toward to the business sustainability at small and medium enterprises in Purbalingga Regency.
This research using Theory Bottom of the Pyramid ( BOP ) and Theory of Planned of Behavior ( TPB ). The purpose of the theory BOP is to solve the problem poverty reduction, which one by developing of SME’s and they have a good financial literacy, so business sustainability from SME’s can increase. Theory TPB used to measure the attitudes and behavior the owner to manage financial. In addition, theory TPB also be used to explain the various behavior in entrepreneurship
The population in this study were 5.846 business unit that listed on Central Bureau of Statistics Purbalingga Regency. Sample were 68 business unit small and medium enterpriseses in the field of trade, manufacturing and services.that calculated by Slovin. Simple random sampling technique used in this study. Data collection in this study using a questionnaire that which is distributed directly to respondents.
The result show indicated that independent variable financial literacy have significantly affect on business sustainability at small and medium enterprises in Purbalingga Regency.
1617419491F1B111027IMPLEMENTASI STANDAR PELAYANAN MINIMAL
PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DI KECAMATAN KEMBARAN KABUPATEN BANYUMAS
Pendidikan merupakan kebutuhan dasar bagi kehidupan manusia yang harus dipenuhi. Jenjang pendidikan di Indonesia terdiri atas pendidikan usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Kesadaran akan pentingnya pendidikan anak usia dini sudah diakui oleh dunia international yang tertuang pada Education For All Declaration, pada konferensi UNESCO di Thailand. Kabupaten Banyumas merupakan salah satu Kabupaten yang menyelenggarakan PAUD dengan peningkatan lembaga PAUD yang cukup pesat setiap tahunnya. Namun dalam penyelenggaraannya masi belum berjalan secara optimal.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi Standar Pelayanan Minimal Pendidikan Anak Usia Dini di Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas. Kebijakan Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak usia nol sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Penelitian ini dengan menggunakan teori Ripley, metode penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara dengan narasumber. Sumber data primer adalah wawancara. Sedangkan sumber data sekunder adalah kebijakan, arsip, pemberitaan dan studi kepustakaan. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis interaktif, dimulai dari tahap pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, verifikasi dan penarikan kesimpulan dengan menggunakan teori Ripley.
Implementasi standar pelayanan minimal Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kecamatan Kembaran menurut perspektif complience berjalan sesuai dengan standar pelayanan minimal yang telah dientukan, namun belum spenuhnya semua aspek terpenuhi. Dalam perspektif what’s happening, yang paling mendukung implementasi PAUD di Kecamatan Kembaran adalah variabel disposisi atau sikap. Dalam pelaksanaan pembelajaran PAUD tidak hanya komitmen para pendidik yang dibutuhkan melainkan dilihat juga dari mutu atau kualitas para pendidik tersebut. Lembaga PAUD mendukung hal ini dengan cara membuat rencana program pembelajaran yang mudah diikuti dan diterapkan dalam berbagai kondisi siswa. Serta memberikan pelatihan bagi tenaga pengajarnya.
Education is the basic needs for human life that had to be fulfilled. The level of education in Indonesia consists of education at early childhood education (PAUD), primary education, junior and senior secondary education, and higher education. Awareness of the importance of early childhood education have been acknowledged by the worldwide stated in Education for All Declaration, at the UNESCO conference in Thailand. Banyumas Regency is one of the districts that implements PAUD with a rapid improvement in PAUD institutions every year. However, its implementation does not run optimally.
The aim of this study is to find out the implementation of Minimum Service Standards for Early Childhood Education in Kembaran Subdistrict, Banyumas Regency. Early Childhood Education policy is a development effort addressed to children aged zero up to six years old which is done through the provision of stimuli education to help their growth along with physical and spiritual development so as to have a readiness to enter the next education levels.
This study used the Ripley theory and qualitative research methodology. The technique of collecting the data was done by interviewing the informant of the study. The primary data source was an interview. While the secondary data sources were the policies, archive, preaching and literature study. The technique of data analysis used an interactive analysis technique starting from the stage of data collection, data condensation, data presentation, verification, and the withdrawal of a conclusion by using the Ripley theory.
The implementation of Minimum Service Standards for Early Childhood Education in Kembaran Subdistrict from the complience perspective ran in accordance with the Minimum Service Standards but all aspects have not fully fulfilled. In perspective of what’s happening, the most supportive thing during the implementation of PAUD in Kembaran Subdistrict was the disposition variable or attitude. In the implementation of PAUD learning process not only was the educators’ commitment required but also the educators’ quality as well. PAUD Institutions supported this by planning a learning program which was easy to follow or understand and applied in every student’s conditions, and also giving a training for the educators.
1617519293G1B013086Implementasi Kebijakan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Di Puskesmas Kabupaten BanyumasABSTRAK

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN BADAN LAYANAN UMUM DAERAH (BLUD) DI PUSKESMAS KABUPATEN BANYUMAS

Fadhila Suryantini, Arif Kurniawan, Aris Dwi Susilarto

Latar Belakang : Implementasi kebijakan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) di Puskesmas Kabupaten Banyumas di mulai pada saat 9 Juni 2014 dengan dikeluarkan Surat Keputusan Bupati Banyumas No 900/758/2014 tentang Penerapan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah pada Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas yang terdiri dari 39 puskesmas, 1 laboratorium kesehatan dan 3 balai kesehatan telah ditetapkan statusnya menjadi BLUD bertahap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan bagaimana implementasi kebijakan BLUD di Pukesmas Kabupaten Banyumas.

Metodologi : Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan desain naratif.

Hasil Penelitian : 1) Implementasi kebijakan BLUD di Puskesmas Kabupaten Banyumas telah sesuai dengan Perbup No 89 tahun 2014, namun ada beberapa hal yang belum sesuai dengan Permendagri No 61 tahun 2007. 2) Di Puskesmas Pekuncen masih kekurangan jumlah tenaga perawat berdasarkan rasio jumlah penduduk, sarana dan prasarana dalam implementasi kebijakan BLUD ini menjadi lebih baik. 3) Perencanaan Puskesmas BLUD dengan menyusun RBA, Pengelola BLUD yang lebih memahami kebijakan BLUD, SPI belum berjalan di Puskesmas, Tim penilai BLUD untuk tahun 2014 dengan 2017 berbeda. 4) Capaian SPM tidak berbanding lurus dengan kebijakan BLUD, namun kinerja meningkat, Laporan keuangan pada kebijakan BLUD di Puskesmas ada 2 yaitu SAK dan SAP, Penilaian yang dilakukan oleh tim penilai berdasarkan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor : 900/2759/SJ.

Kesimpulan : Implementasi Kebijakan BLUD di Puskesmas Kabupaten Banyumas masih perlu dilengkapi dengan produk hukum yang lengkap serta relevan dengan keadaan zaman.

ABSTRACT

IMPLEMENTATION OF LOCAL PUBLIC SERVICE AGENCY (BLUD) AT BANYUMAS REGENCY PRIMARY HEALTH SERVICES

Fadhila Suryantini, Arif Kurniawan, Aris Dwi Susilarto

Background : Implementation of Local Public Service Agency (BLUD) in primary health services at Banyumas Regency started on 9th June 2014 with the Degree of the Regional Head No 900/758/2014 about Technical Guides for Financial Management of Local Public Service Agency (BLUD) at Technical Implementation Unit in Banyumas Regency Health Department that consist of 39 primary health services, 1 health laboratory, and 3 health services have been set up status to be Local Public Service Agency (BLUD). This research was purpose to know and describe about the implementation Local Public Sevice Agency (BLUD) in the primary health services at Banyumas Regency.

Method : This research was a qualitative approach, using narrative design

Result : 1) Implementation of BLUD policy in the primary health services at Banyumas Regency has been suitable with Regulation of Regional Head No. 89/2014, but there were some things that have not complied with the Ministry of Domestic Affairs Regulation (Permendagri) No 61/2007. 2) Role of BKD, Section of Legal Section, Health Department and Head Of Primary Health Services according to their basic task and functions. 3) Pekuncen and II Purwokerto Timur Primary Health Services still have human resources that not suitable with the qualifications and in Pekuncen primary health services still lacks number of nurses based on population ratio, the facilities and infrastructure at implementation of BLUD policy is better and the source of funds from capitation and cash payment. 4) Planning of BLUD policy primary health services by preparing RBA, Organization relationship between primary health services and Health Department has been suitable with Regulation of Regional Head No. 89/2014 article 28, BLUD managers who get better understand about BLUD, Remuneration system based on Regulation of Regional Head No 30/2014, Recruitment of non civil servant BLUD based on Regulation of Regional Head No 36/2016, SPI not yet done in primary health services at Banyumas Regency, BLUD assesment team 2014 with 2017 was different. 5) SPM Achievements was not directly with BLUD policy but the performance is increased, There were 2 financial statements on BLUD policy SAK and SAP, Assesment by the assessment team based on circular letter of ministry of Domestic Affairs Regulation (Permendagri) No 900/279/SJ.

Conclusion: The implementation of BLUD at Banyumas Regency in primary health services still need complete regulation and relevant to the conditions of the times.
1617619492F1D010021HEGEMONI MILITER PASCA PERISTIWA G30/S PKI DI INDONESIA: Representasi Heroisme TNI Dalam Pendirian Museum Pengkhianatan PKI di Kompleks Lubang Buaya JakartaArtikel hasil penelitian ini bertujuan untuk antara lain: 1) memahami dan mendeskripsikan hegemoni militer pascaperistiwa G30/S PKI yang merepresentasikan heroisme TNI di Indonesia; 2) mengetahui dan menjelaskan representasi heroisme TNI dalam pendirian museum pengkhianatan PKI di Kompleks Lubang Buaya Jakarta. Penelitian ini dilandasi oleh perspektif pascastrukturalis dan paradigma konstruktivisme, dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dan pendekatan fenomenologi. Data diperoleh dengan menggunakan teknik analisis data Miles dan Huberman yang diperoleh melalui wawancara, observasi, maupun analisa dokumen dan disusun secara sistematis sehingga mudah dipahami. Hasil penelitian ini mengukapkan bahwa pendirian Museum Pengkhianatan PKI merupakan representasi dari hegemoni militer pascaperistiwa G30/S PKI di Lubang Buaya Jakarta. Representasi ini dibuktikan dengan: 1) Indoktrinasi heroisme militer pada konten museum; 2) Eksploitasi berlebihan dan framming stereotip terhadap PKI; 3) Manipulasi produk-produk kebudayaan sebagai media legitimasi kekuasaan militer di Indonesia.The purpose of this research include: 1) Understanding and describing military hegemony after the G30/S PKI which represents TNI heroism in Indonesia; 2) to know and explain the representation of TNI heroism in the establishment of the museum of PKI betrayal at the Lubang Buaya Complex in Jakarta. This research is based on poststructuralist perspective and constructivism paradigm, using qualitative research method and phenomenology approach. Data obtained by using data analysis technique Miles and Huberman obtained through interviews, observation, and document analysis and arranged systematically so easily understood. The results of this research reveals that the establishment of the Museum of PKI Betrayal is a representation of military hegemony after G30/S PKI in Lubang Buaya Jakarta. This representation is evidenced by: 1) Indoctrination of military heroism on museum content; 2) Excessive exploitation and stereotypical framming of the PKI; 3) The manipulation of cultural products as a medium of legitimacy of military power in Indonesia.
1617719493F1B010035IMPLEMENTASI PROGRAM KELUARGA HARAPAN DI KECAMATAN PURWOJATIRendahnya kemampuan ekonomi sebuah keluarga rumah tangga sangat miskin (RTSM) membawa dampak pada buruknya kualitas nutrisi dan gizi serta menyebabkan banyak anak-anak tidak dapat melanjutkan pelajaran di bangku sekolah. Untuk meminimalisir permasalahan kesejahteraan sosial, khususnya kemiskinan yang terus bertambah dari hari ke hari makan pemerintah melalui Kementrian Soaial mengeluarkan Program Keluarga Harapan (PKH). Program ini memberikan bantuan uang tunai kepada Rumah Tangga Sangat miskin (RTSM) dengan catatan mengikuti persyaratan yang diwajibkan.
Penelitian Implementasi Program Keluarga Harapan (PKH) di Kecamatan Purwojati Kabupaten Banyumas bertujuan untuk menggetahui implementasi program keluarga harapan (PKH) yang ada di Kecamatan Purwojati Kabupaten Banyumas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif dan teknik pengambilan informan menggunakan teknik purposive sampling UPPKH Kabupaten, UPPKH Kecamatan, serta ketua kelompok yang menerima bantuan PKH. Metode pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari aspek compliance implementasi program keluarga harapan di Kecamatan Purwojati Kabupaten Banyumas belum berjalan dengan baik. Terdapat masalah pada kepatuhan pendamping PKH, seperti jumlah penerima yang tidak sesuai dengan jumlah pendamping dan tidak terlaksananya kegiatan rapat dan pertemuan kelompok bulanan. Aspek what’s happening yang muncul dari implementasi program keluarga harapan adalah ketidak tepatan jadwal pencairan PKH dan tempat pencairan yang sulit dijelaskan oleh penerima dan pendamping.
The low economic capacity of a very poor households (RTSM) has an impact on poor nutrient and nutritional quality as well as a lack education for their children because they unable to pay the school tuition fee. To minimize the problem of social welfare, especially the increasing poverty from day to day to, the government through the Ministry of Social issued “Program Keluarga Harapan” (literally means Family Hope Program) (PKH). The program provides cash assistance to the Very Poor Households (RTSM) with a note of two required conditions.
This research entitled “Implementation of Program Keluarga Harapan (PKH) in Purwojati District of Banyumas Regency” is aimed to find out the implementation of Family Hope Program (PKH) in Purwojati District of Banyumas Regency. The method used in this study is descriptive qualitative research methods and sampling technique of determine the informants was using purposive sampling techniques which the chosen informants were UPPKH District, UPPKH District, and the head of the group who received cash assistance from PKH. Data were collected using in-depth interviews, observation, and documentation.
The results of this research indicated that the compliance aspect of the implementation of PKH in Purwojati District of Banyumas Regency has not run well. There are problems with the compliance of PKH's companions, such as the number of beneficiaries who are inconsistent with the number of companions; and neither discussion nor monthly group meetings has ever done. In the what's happening aspect which arises from the implementation of the PKH is the inaccuracy of the disbursement schedule of PKH and both recipient and PKH companion have difficulty to explain about disbursement place.
1617819494A1C013031ANALISIS PERMINTAAN TAHU PADA RUMAH TANGGA DI DAERAH PERKOTAAN KABUPATEN KUNINGANDaerah perkotaan Kabupaten Kuningan merupakan daerah yang banyak memproduksi tahu di Kabupaten Kuningan. Konsumsi tahu rata-rata per kapita masyarakat Kabupaten Kuningan pada tahun 2013 sebesar 0,14 kg per kapita sedangkan tahun 2014 mengalami peningkatan sebesar 0,16 kg per kapita, maka perlu dianalisis permintaan tahu di daerah perkotaan Kabupaten Kuningan sehingga dapat memprediksi kebutuhan konsumen akan tahu dan mengetahui dampak apabila terjadi perubahan harga dan pendapatan terhadap tingkat konsumsi dan permintaan tahu. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui karakteristik konsumen tahu di daerah perkotaan Kabupaten Kuningan; 2) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan tahu di daerah perkotaan Kabupaten Kuningan; 3) Menghitung elastisitas permintaan tahu di daerah perkotaan Kabupaten Kuningan. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan teknik multistage cluster sampling terhadap 80 konsumen di Kecamatan Kuningan (Kelurahan Kuningan, Kelurahan Winduhaji, dan Desa Karangtawang). Data penelitian berupa data primer dan data sekunder diperoleh melalui wawancara, kuesioner dan studi pustaka. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari 2017 dengan sasaran penelitian adalah konsumen rumah tangga tahu. Analisis yang dilakukan adalah analisis deskriptif, analisis regresi linear berganda, dan elastisitas permintaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik konsumen tahu di Kuningan mayoritas berprofesi sebagai ibu rumah tangga, berjenis kelamin perempuan, kisaran usia antara 41 sampai dengan 50 tahun, telah menyelesaikan pendidikan akhir tamat SMA/SMK, memiliki jumlah pendapatan rumah tangga lebih dari sama dengan Rp5.000.000,00 per bulan, memiliki jumlah anggota keluarga dalam rumah tangga sebesar 4 orang, melakukan pembelian dengan frekuensi 12 kali per bulan, dan tempat pembelian tahu konsumen adalah pasar tradisional. Faktor-faktor yang secara nyata mempengaruhi permintaan tahu di daerah perkotaan Kabupaten Kuningan adalah harga tahu itu sendiri, harga telur, dan jumlah anggota keluarga. Elastisitas permintaan tahu bersifat inelastis, elastisitas silang menunjukkan bahwa tahu merupakan barang pengganti tempe dan telur, serta barang pelengkap daging ayam, dan elastisitas pendapatan menunjukkan bahwa tahu merupakan barang normal.The urban area of Kuningan Regency is a region that produces many tofu in Kuningan Regency. The average tofu consumption per capita of Kuningan regency in 2013 was mounted to 0.14 kg per capita while in 2014 increased to 0.16 kg per capita, it is necessary to analyze the factors that influence the demand of tofu in urban area of Kuningan Regency so that it can predict the needs of the community about tofu and know the impact if there is a change of price and income to the level of consumption and demand of tofu. This study aims to: 1) Knowing the characteristics of tofu consumers in urban areas of Kuningan regency; 2) Analyzing the factors that influence tofu in urban area of Kuningan Regency; 3) Calculating the elasticity of tofu demand in urban areas of Kuningan Regency. The sampling method was done by using multistage cluster sampling on 80 consuments in Kuningan districts (Kuningan Villages, Winduhaji Villages, and Karangtwang Villages). The research data in the form of primary data and secondary data was obtained through interviews, questionnaires and literature. The research was conducted in February 2017 with the objective of the study being household tofu consumers. Data analysis is descriptive analysis, multiple linear regression analysis, and the elasticity of demand.The results showed that the characteristics of tofu consumers in Kuningan the majority of professions as housewives, females, age range between 41 to 50 years, have completed the final education completed high school / vocational school, has the amount of household income more than equal to Rp5.000.000,00 per month, has 4 household members in the household, purchases tofu 12 times per month, and where to buy tofu is from the traditional market. Factors that significantly affect the demand for tofu in urban areas of Kuningan Regency are the price of tofu itself, the price of eggs, and the number of family members. The elasticity of tofu demand is inelastic, cross elasticity indicates that tofu is a substitute for fermented soybean and eggs, as well as complementary items of chicken meat, and income elasticity indicates that tofu is a normal good.
1617919496F1D013031KOLONIALISASI BUDAYA KOREA MELALUI K-DRAMA POPULER DI INDONESIAArtikel hasil penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan memahami kolonialisasi budaya Korea melalui K-drama popular di Indonesia. Kolonialisasi saat ini tidak lagi dilakukan dengan pendudukan langsung, melainkan dengan instrumen media dan budaya. Penjajahan gaya baru ini bersifat soft dan langsung menyerang individu dalam suatu wilayah. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan pascakolonial yang akan melihat teks sebagai praktik diskursus atau praktik wacana untuk menguatkan kekuasaan. Perspektif yang digunakan adalah pascastrukturalis dan paradigm kontruktivisme, hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa kolonialisasi budaya Korea melalui K-drama terjadi ketika produk-produk media Korea mulai masuk dan mendominasi di layar televisi Indonesia. K-drama yang menginternalisasi budaya Korea dan mendominasi televisi Indonesia sedikit banyak memberi pengaruh pada khalayak pencinta K-drama. Kolonialisasi budaya Korea terlihat dengan banyaknya produk media Korea di Indonesia, baik di televisi, media cetak dan internet, yang kemudian berdampak pada produk media Indonesia dalam memberitakan Korea. Namun, pengaruh Korea tidak sepenuhnya diterima, ada juga perlawanan mikro dari masyarakat yang sadar akan tujuan Korea menyebarkan budaya popnya. Bahkan pengaruh Korea juga memberi kontribusi terhadap tumbuh kembang budaya popular Indonesia. This search-based paper aims to describe and understand the colonialization of Korean culture through popular K-drama in Indonesia. The current colonization is no longer done directly, but by media and cultural instruments. This new colonization style comes with a soft form and attacks the individual in a region directly . This research uses qualitative methods and postcolonial approach which shows the text as practice discourse or discourse to strengthen power. This research uses poststructuralist as a perspective and constructivism as a paradigm which reveals that Korean culture colonization through K-drama when Korean media products start to enter and dominate television screen in Indonesia. K-dramas internalize Korean culture and dominate television in Indonesia have much to do with K-drama lovers. Korean culture colonization is demonstrated by the abundance of Korean media products in Indonesia, in television, print and internet, then impacts to Indonesian media products in Korean news. However, Korean influence is not fully accepted, there is also micro-resistance from people who aware of Korea's purpose to spreading their pop culture. Korean influences even contribute to the growth of popular Indonesian culture
1618019497F1B010076KUALITAS PELAYANAN DALAM PEMBUATAN E-KTP DI KECAMATAN RANDUDONGKAL KABUPATEN PEMALANGMelayani kepentingan masyarakat merupakan tugas utama bagi pemerintah. Hal yang harus diperhatikan ialah bahwa suatu pelayanan terdiri dari penyelenggara dan penerima layanan. Ruang lingkup pelayanan publik yang dipegang oleh pemerintah semakin luas meliputi berbagai aspek kehidupan masyarakat, hendaknya dibarengi dengan kualitas pelayanan yang baik. Dalam hal ini adalah kantor kecamatan Randudongkal sebagai instansi pemerintah yang ditunjuk untuk menyelenggarakan pelayanan pembuatan KTP elektronik. Oleh karena itu sudah sewajarnya bagi penyelenggara pelayanan publik untuk memberikan pelayanan yang prima kepada masyarakat.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas pelayanan dalam pembuatan e-KTP yang diselenggarakan oleh kantor kecamatan Randudongkal. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yakni bersumber dari pendapat Zeithaml (dalam Hardiyansyah, 2011) mengenai SERVQUAL atau indikator yang digunakan untuk mengukur kualitas pelayanan. Skala SERVQUAL meliputi lima dimensi yaitu: tangibles, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah kuantitatif deskriptif dengan pengumpulan data yang diperoleh dari pembagian kuesioner dan observasi.
Hasil penelitian menunjukan bahwa kualitas pelayanan dalam pembuatan e-KTP di kantor kecamatan Randudongkal sudah berjalan cukup baik, terutama pada kemampuan pegawai yang dapat memberikan rasa nyaman pada masyarakat yang sedang melakukan prosedur pembuatan e-KTP dimana pegawai bersedia memberikan informasi terkait prosedur pembuatan e-KTP kepada masyarakat. Tak lupa juga pegawai selalu menanyakan kelengkapan prosedural kepada pemohon yang baru datang, apabila ada persyaratan yang kurang maka pegawai langsung mengarahkan pemohon dengan jelas agar dapat melengkapi persyaratan sesuai dengan prosedur pembuatan e-KTP. Hal yang perlu dibenahi terkait kualitas pelayanan ialah masalah sarana prasarana dimana alat perekaman data hanya ada satu unit. Lalu pada tempat tunggu juga perlu ditambah kursi lebih banyak agar masyarakat dapat menunggu dengan nyaman.
Serve the interests of community is the main task for the government. The thing to be aware of is a service that consists of the organizer and the recipient of the service. The scope of public services held by the government is increasingly widespread with various aspects of community life, so that coupled with the quality of good service. In this case is the Randudongkal sub-district office as a government agency appointed for electronic ID card making service. Therefore it is reasonable for public service providers to provide excellent service to the public.
The purpose of this research is to find out the quality of service in making e-ID card held by Randudongkal district office. The theory used in this research that comes from the opinion Zeithaml (in Hardiyansyah, 2011) about SERVQUAL or indicators used to measure the quality of service. SERVQUAL scale includes five dimensions: tangibles, reliability, responsiveness, assurance, and empathy. The method used in this research is quantitative descriptive with data collection obtained from the division of questionnaires and observations.
The results showed that the quality of service in making e-ID card in Randudongkal district office has been running quite well especially on the ability of employees who can provide a sense of comfort to the community who are doing procedur making e-ID card, which employees are willing to provide information related to the procedure of making e-ID card to community. Employees always ask the procedural completeness to new applicants, if there is a lack of requirements then the employees direct the applicant clearly in order to complete the requirements in accordance with the procedure of making e-ID card. Things that need to be considered related the quality of services is a matter of facilities infrastructure where device data recording there is only one unit. Then in the waiting room also need added seats more so that people can wait comfortably.