Artikelilmiahs

Menampilkan 16.121-16.140 dari 49.935 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
1612119437F1B010046KUALITAS PELAYANAN DALAM PEMBUATAN SERTIFIKAT TANAH DI BADAN PERTANAHAN NASIONAL KABUPATEN BANYUMASTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kualitias pelayanan dalam pembuatan sertifikat tanah di Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Banyumas yang dilihat dari indikator kualitas pelayanan menurut Zheithaml et al, yakni tangibles (bukti fisik), reliability (keandalan), responsiveness (daya tanggap), assurance (jaminan), dan emphaty (empati). Penelitian dilakukan menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan pendekatan survey. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik accidental sampling. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner, observasi, dan dokumentasi. Pengujian validitas data menggunakan korelasi Product Moment, dan reliabilitas data menggunakan teknik Alpha Cronbach. Data kemudian dianalisis menggunakan distribusi frekuensi dan interpretasi data.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kualitas pelayanan dalam pembuatan sertfikat tanah di Badan Pertanahan Nasional masuk dalam kategori sedang yang dapat dilihat dari lima indikator yaitu: tangibles 62 %, reliability 53%, responsiveness 71%, assurance 76%, dan emphaty 75%.
Para responden secara garis besar merasa bahwa kualitas pelayanan di Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Banyumas sudah cukup baik. Meskipun demikian, masih perlu adanya penyederhanaan prosedur dalam pelayanan pembuatan sertifikat tanah, dan kualitas pelayanan dalam pembuatan sertifikat tanah harus ditingkatkan terutama pada ketepatan waktu penyelesaian sertifikat.
The purpose of this research is to find out the service quality in the term of service in creation of land certificate in The National Land Agency of Banyumas Regency seen from indicators of service quality according to Zheithaml et al, which are: tangibles, reliability, responsiveness, assurance, and emphaty. This research was using quantitative descriptive method with survey approach. Sampling technic was using accidental sampling. Data collected from questionnaire, observation, and documentation. Data validity examined by Product Moment correlation technic, and data reliability examined by Alpha Croanbach technic. Data then analyzed by frequency distribution and data interpretation.
The results of this research showed that service quality in the term of service in creation of land certificate in The National Land Agency of Banyumas Regency fell into medium category that could be seen from five indicators as follow: tangibles 62 %, reliability 53%, responsiveness 71%, assurance 76%, dan emphaty 75%.
Respondents generally feel that service quality in The National Agency of Banyumas Regency is quite satisfying. Even so, it is essential to simplified procedure of land certificate creation service, and service quality in land certificate creation service needs to be improved especially about punctuality of land certificate completion.
1612219438F1B010034Implementasi Kurikulum 2013 Tingkat SLTA di Kabupaten Banyumas (Studi Kasus di SMA Negeri 2 Purwokerto)Taraf kehidupan yang layak adalah sebuah hal yang tentu diinginkan oleh setiap orang tidak terkecuali, dari kalngan manpun pastinya menginginkan peningkatan taraf hidup. Segala macam upaya untuk meningkatklan taraf hidup tentu akan diselenggarakan, salah satu faktor yang cukup berpengaruh terhadap perubahan taraf hidup manusia adalah pendidikan. Dengan ilmu pengetahuan kita dapat menentukan arah hidup kita masing masing. Orang-orang yang memiliki pendidikan atau minimal kecakapan maka dapat dipastikan akan memiliki taraf hidup yang lebih baik jika dibandingakn dengan orang yang tidak memiliki pendidikan yang layak.
Oleh karena itu pemerintah sendiri berupaya penuh untuk menyelenggarakan pendidikan di setiap jenjang, dari mulai Taman kanak-kanak hingga sampai ke-bangu perkuliahan. Di dalam sistem pendidikan itu sendiri akan ditemukan sebuah metode yang digunakan untuk mensukseskan program yang ada, metode tersebut dikenal adalah kurikulum.
Di Indonesia sendiri telah mengalami berbagai macam perubahan model kurikulum, hingga saat ini kurikulum yang digunakan oleh sistem pendidikan di Indonesia adalah kurikulum 2013, yang didalamnya terkandung berbagai macam metode guna mensukseskan wajib belajar 9 tahun.
Untuk menunjang kesuksesan kurikulum itu sendiri dibutuhkan kerjasama yang mantap antar organisasi terkait, dan beberapa poin tambahan agar kurikulum berjalan dengan lancar, beberapa poin tersebut meliputi komunikasi antar lembaga, sumber daya penunjang baik fisik dan non-fisik, serta struktur organisasi yang jelas di dalam lembaga tersebut.
Decent living standard is a thing that everyone wants is no exception, from the man who certainly wants to improve the standard of living. All kinds of efforts to improve the standard of living will certainly be held, one of the factors that influence the change of living standard is education. With education we can determine the direction of our lives each. People who have education or at least a skill will certainly have a better standard of living compared to people who do not have a decent education.

Therefore, the government itself is making every effort to provide education at every level, from Kindergarten up to the lectures. In the education system itself will be found a method used to succeed the existing program, the method is known as the curriculum. Indonesia has experienced a variety of curriculum model changes, until now the curriculum used by the education system in Indonesia is the 2013 curriculum, in which contained various methods to succeed the 9-year compulsory education.

To support the success of the curriculum itself requires a steady cooperation between related organizations, and some additional points for the curriculum to run smoothly, some of these points include inter-agency communication, physical and non-physical supporting resources, and clear organizational structure within the institution The.
1612319439B1J013104OPTIMASI MEDIUM PERTUMBUHAN DAN WAKTU INKUBASI TERHADAP BOBOT MISELIUM Schizophyllum commune DAN GOLONGAN METABOLIT SEKUNDER YANG DIHASILKANSchizophyllum commune merupakan salah satu jamur yang dapat mengakumulasi berbagai senyawa bioaktif seperti terpenoid, alkaloid, flavanoid, steroid, dan polisakarida yang memiliki aktivitas antimikroba. Pertumbuhan miselium dan metabolit sekunder dipengaruhi oleh medium pertumbuhan. Medium yang banyak digunakan untuk menumbuhkan miselium adalah medium cair. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh medium pertumbuhan terhadap bobot miselium S. commune dan golongan metabolit sekunder yang dihasilkan serta mengetahui medium yang paling efektif untuk pertumbuhan miselium S. commune dan golongan senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan. Adapun medium yang akan digunakan yaitu Modified Tien & Kirk medium (TaK), Mushroom Complete Medium (MCM), dan yeast malt extract (YM). Waktu inkubasi yang digunakan 10, 15, 20, dan 25 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bobot kering miselium tertinggi pada medium MCM dalam waktu inkubasi 25 hari seberat 1,37 g, sedangkan bobot kering terendah pada medium YM dalam waktu inkubasi 25 hari seberat 0,3 g. Data yang diperoleh dianalisis dengan ANOVA dengan tingkat kepercayaan 95%, hasil menunjukkan medium pertumbuhan dan waktu inkubasi berpengaruh terhadap bobot miselium karena F tabel < f hitung. S. commune mengandung senyawa metabolit sekunder golongan alkaloid, terpenoid dan flavonoid.Schizophyllum commune is one of the fungi that include in phylum Basidimycota. This fungi can accumulate various bioactive compounds such as flavonoids, terpenoids, steroids, and
polysaccharides that have antimicrobial activity. The growth of mycelium and production of secondary metabolite usually affected by the growth medium. The growth medium which widely used to cultivate mycelium is liqiud medium. The aims of this research were to know the effect of the growth medium and incubation time toward weight of mycelium S. commune and what kind of secondary metabolite compound that produced and to know the growth medium that gave the best effect toward the growth of S. commune’s mycelium. The kind of medium that used were Modified Tien & Kirk medium (TaK), Mushroom Complete Medium (MCM), dan Yeast Malt Extract (YM). While the incubation time that used were 10, 15, 20, and 25 days. The results of this research showed that the highest dry weight of mycelium was in MCM with the incubation time 25 days 1,37 gram, while the lowest dry weight of mycelium was in YM medium with the incubation time 25 days 0,3 gram. The data analyzed by ANOVA with the level of confidence 95%. The result showed that kind of growth medium and incubation time affected toward the weight of mycelium it proved by F table > F count. S. commune contains secondary metabolite compound that include in alkaloids, terpenoids, and flavonoids group.
1612419440F1B010103PENGARUH PARTISIPASI MASYARAKAT TERHADAP EFEKTIVITAS PROGRAM KELUARGA HARAPAN DI KECAMATAN PADAMARA KABUPATEN PURBALINGGAPenelitian ini berjudul “Pengaruh Partisipasi Masyarakat terhadap Efektivitas Program Keluarga Harapan di Kecamatan Padamara Kabupaten Purbalingga”. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh ketimpangan antara jumlah KSM penerima bantuan PKH dan jumlah penduduk miskin di Kabupaten Purbalingga. Jumlah penduduk miskin di Kabupaten Purbalingga adalah sebanyak 176.040 jiwa, sedangkan jumlah KSM penerima PKH di Kabupaten Purbalingga hanya 29.209 jiwa.

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui seberapa besar pengaruh partisipasi masyarakat terhadap efektivitas Program Keluarga Harapan di Kecamatan Padamara Kabupaten Purbalingga. Teori efektivitas yang digunakan yaitu teori dari Martin & Kettner dalam Keban (2008:222) yang mengatakan bahwa kriteria efektivitas meliputi hasil apa dan berapa yang dapat dinikmati (ketepatan jenis dan jumlah produk/pelayanan), siapa yang mengambil manfaat, dan berapa yang dapat menikmati hasil tersebut (ketepatan jenis dan jumlah orang/sasaran yang dijangkau), kapan dinikmati (ketepatan waktu), dan dimana dinikmati (ketepatan lokasi). Sedangkan teori partisipasi yang digunakan yaitu teori dari Cohen dan Uphoff (1977) yang dikutip oleh Mulyadi (2011:25) dengan indikator partisipasi yang meliputi Participation in implementation (partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan), Participation in benefits (partisipasi masyarakat dalam pemanfaatan), dan Participation in evaluation (partisipasi masyarakat dalam evaluasi). Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan teknik Non-Probability Sampling dengan teknik pengambilan sample Accidental Sampling Penelitian ini mengambil jumlah responden sebanyak 100 orang.
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa tingkat efektivitas Program Keluarga Harapan di Kecamatan Padamara Kabupaten Purbalingga masih tergolong dalam kategori sedang, atau dapat dikatakan belum optimal. Partisipasi masyarakat berpengaruh sangat kuat terhadap efektivitas Program Keluarga Harapan di Kecamatan Padamara Kabupaten Purbalingga.
This research entitled "The Effect of Community Participation on the Effectiveness of “Program Keluarga Harapan” in Padamara Sub-district of Purbalingga Regency". This research is motivated by the imbalance between the number of KSM beneficiaries and the number of poor people in Purbalingga Regency. The number of poor people in Purbalingga is 176,040 people, while the number of KSM beneficiaries in Purbalingga Regency is only 29,209 people.
The purpose of this study is to determine how much influence of public participation on the effectiveness of “Program Keluarga Harapan” in Padamara Sub-district of Purbalingga Regency. The effectiveness theory used is Martin & Kettner's theory in Keban (2008: 222) which says that effectiveness criteria include what results and how much can be enjoyed (the exactness and type of product / service), who takes the benefits, and how many can enjoy (The accuracy of the type and number of people / goals reached), when it is enjoyed (punctuality), and where it is enjoyed (location accuracy). While the theory of participation used is the theory of Cohen and Uphoff (1977) cited by Mulyadi (2011: 25) with participation indicators that include Participation in implementation (Participation in implementation), Participation in benefits (community participation in utilization), and Participation In evaluation (community participation in evaluation). The research method used is quantitative method with non-probability sampling technique and using accidental sampling. This study took the number of respondents as many as 100 people.
The results concluded that the effectiveness level of “Program Keluarga Harapan” in Padamara Sub-district of Purbalingga Regency is still classified as medium category, or it can be said not yet optimal. Community participation has very strong influence on the effectiveness of “Program Keluarga Harapan” in Padamara Sub-district of Purbalingga Regency.
1612519709B1J012060Variasi Intraspesies dan Kekerabatan Fenetik Betta splendens yang Diperdagangkan Di Wilayah PurwokertoIkan cupang (Betta splendens) merupakan salah satu kekayaan spesies ikan yang terdapat di Indonesia dan selama ini telah dimanfaatkan sebagai ikan hias oleh kalangan pecintanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya variasi intraspesies, hubungan kekerabatan, serta kunci identifikasi sederhana untuk ikan cupang yang terdapat di wilayah Purwokerto. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode survei. Pengambilan sampel dilakukan secara Purposive Random Sampling pada lokasi pembudidaya ikan cupang hias yang terdapat di wilayah Purwokerto. Data similaritas morfologi yang diperoleh dari beberapa subspesies ikan cupang dihitung nilai asosiasinya dan penggambaran hubungan dengan analisis pengelompokan menggunakan Numerical Taxonomy System (NTSYS) versi 2.2. Hasil analiis menunjukkan bahwa spesies ikan cupang yang diperdagangkan di wilayah Purwokerto adalah B.splendens, yang terdiri atas empat subspesies yaitu: plakat, giant, halfmoon dan serit. Keempatnya memiliki variasi intraspesies yang berupa warna tubuh, bentuk mulut dan bentuk sirip. Hubungan kekerabatan terdekat dari keempat subspecies ikan cupang adalah cupang halfmoon dan serit dengan koefisien asosiasi 2.073 dan tingkat kemiripan 95%, sedangkan kekerabatan terjauh terdapat antara cupang giant dan cupang serit dengan nilai koefisien 4.873. Berdasarkan karakter morfologi yang dimiliki dapat dirumuskan kunci identifikasi sederhana untuk subspesies ikan cupang hias (B. splendens).Betta fish (Betta splendens) is one of fish species founded in Indonesia and has been used as an ornamental fish by the lover. This study aims to determine the variation intraspesies, similarity, and simple identification key for B. splendens who founded in the region of Purwokerto. This research was conducted using survey method. Sampling is done by Purposive Random Sampling at location of betta fish cultivation that exist in Purwokerto area. The morphological similarity data obtained from several betta fish subspecies was calculated by their association value and the depiction of the relationship with grouping analysis using Numerical Taxonomy System (NTSYS) version 2.2. The results of analaysis indicate that the species of betta fish traded in Purwokerto is B. splendens, consisting of four subspecies: plakat, giant, halfmoon and serit. All four have intraspesies variations in the form of body color, mouth shape and fin shape. The closest similarity of the four betta fish subspecies is halfmoon and serit betta with the association coefficient of 2,073 and the similarity level is 95%, while the farthest similarity is between giant and serit with coefficient value 4.873. Based on the character of morphology can be formulated simple identification key for subspecies of betta fish (B. splendens).
1612619442E1A013184PELAKSANAAN PEMBINAAN NARAPIDANA NARKOTIKA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KHUSUS NARKOTIKA (Studi di Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Klas II A Jakarta)Mengefektifkan pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan serta peredaran gelap narkotika perlu adanya upaya penanggulangan, di mana salah satunya ialah dengan melakukan pembinaan terhadap Narapidana yang telah melakukan kejahatan penyalahgunaan Narkotika melalui Lembaga Pemasyarakatan. Hal tersebut semakin diperkuat dengan diundangkannya Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika yang memberikan sanksi secara tegas bagi mereka yang menyalahgunakan narkotika. Program pembinaan Narapidana narkotika sangat perlu diperhatikan pembinaan berupa rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial, karena orang yang terlibat narkotika masalahnya tidak hanya pada kerusakan fisiknya saja, tetapi juga kerusakan dengan mental atau jiwanya. Salah satu yang melakukan pembinaan tersebut adalah Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Klas II A Jakarta. Pengguna dan pengedar Narkotika di dalam Lembaga Pemasyarakatan ini dibina dan dibimbing agar dapat menyadari kesalahannya dan kembali menjadi warga masyarakat yang baik sehingga diharapkan kedepannya mereka tidak mengulangi kejahatan yang telah mereka lakukan sebelumnya. Penelitian ini disusun menggunakan metode pendekatan yuridis sosiologis. Spesifikasi Penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Penelitian ini dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Klas IIA Jakarta. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Teknik penentuan informan adalah purposive sampling dan snowball sampling. Metode penyajian data dilakukan dengan teks naratif yang disusun secara sistematis dan metode analisis data adalah kualitatif konten analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembinaan Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Klas II A Jakarta, secara umum meliputi pembinaan kepribadian dan pembinaan kemandirian. Lembaga Pemasyarakatan Narkotika lebih memperhatikan tingkat kesehatan Narapidananya dengan adanya program rehabilitasi. Namun secara keseluruhan mengenai pelaksanaan pembinaan Narapidana dari awal hingga akhir masih kurang sesuai dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan yang pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pembinaan dan Pembimbingan Narapidana, yaitu mengenai kurang lengkap dan konkritnya peraturan pelaksana pembinaan Narapidana di Lapas Narkotika, penegagak hukum, sarana dan prasarana, terbatasnya anggaran, dan peran serta masyarakat.




Kata Kunci: Pembinaan, Narapidana, Narkotika, Lembaga Pemasyarakatan.
Streamline the prevention and eradication of misuse and illicit narcotics is need for efforts to combat, where one of them is by doing coaching against inmates who have committed the crime of abuse of narcotic drugs through a correctional institution. It is strengthened with the promulgation of the legislation of the Republic of Indonesia No. 35 of 2009 about narcotics that gives sanction expressly for those who are abusing narcotics. The program construction of the inmates narcotics very noteworthy coaching in the form of medical rehabilitation and social rehabilitation, because the people involved narcotics problem is not only on physical damage, but also damage with mental or soul. The one who does the coaching is a Correctional Institution Narcotics Clas II A Jakarta. In this correctional institution, the Narcotic dealers and users built and mentored in order to realise his error and return to being a good community citizen so hopefully in the future they do not repeat the crime they have done previously. This research arranged in a juridical sociological approach.Specifications research use is descriptive.This research was conducted in Correctional Institution Narcotics Clas II A Jakarta. Sources of data in the form of primary data and secondary data. The technique informants was purposive sampling and snowball sampling. The presentation of data is a narrative text and systematic and The method of analysis data is qualitative content analysis. The results showed that the implementation of guidance of inmates in the Correctional Institution Narcotics Clas II A Jakarta, generally includes personality guidance and self-help. Narcotics Correctional Institution is more concerned with the health of the inmates with the rehabilitation program. But overall the implementation of guidance of inmates from beginning to end is still less in accordance with Law No. 12 of 1995 on Pemasyarakatan whose implementation is regulated by Government Regulation No. 31 of 1999 on the Guidance and Guidance of Inmates and Protege Correctional, which is less complete and concrete The implementing regulations of fostering inmates in Narcotics Correctional Institution, facilities and infrastructure, limited budget, participation of the community and the inmates themselves.

Key words : Coaching, Inmates, Narcotics, Correctional Institution
1612719443C1C010057ANALISIS KINERJA DENGAN PENDEKATAN VALUE FOR MONEY PADA RSUD 45 KUNINGANPenelitian ini merupakan penelitian deskriptif mengenai pengukuran kinerja dengan value for money pada RSUD 45 Kuningan. Penelitian ini mengambil judul “ANALISIS KINERJA DENGAN PENDEKATAN VALUE FOR MONEY PADA RSUD 45 KUNINGAN”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja RSUD 45 Kuningan diukur berdasarkan value for money, yaitu tingkat ekonomi, efisiensi, dan efektivitas pada tahun 2010-2013.
Metode analisis yang digunakan adalah dengan analisis value for money, yaitu mengukur dengan memperhitungkan rasio ekonomis, rasio efisiensi dan rasio efektivitas. Data yang digunakan adalah data sekunder, berupa data realisasi dan anggaran biaya dan pendapatan dan data rekam medis RSUD 45 Kuningan tahun 2010-2013.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: (1) Ditinjau dari elemen ekonomi berdasarkan perbandingan antara anggaran dengan realisasi biaya, kinerja RSUD 45 Kuningan tahun 2010-2013 dinyatakan telah ekonomis. (2) Ditinjau dari elemen efisiensi alokasi berdasarkan penghitungan efisiensi pelayanan yang diukur dengan rasio BOR, ALoS, BTO, TOI, kinerja RSUD 45 Kuningan tahun 2010-2013 telah efisien. (3) Dari segi efisiensi teknis yang diukur dengan membandingkan persentase realisasi pendapatan dengan persentase realisasi biaya, kinerja RSUD 45 Kuningan kurang efisien. Hal ini disebabkan karena pendapatan belum terealisasi disebabkan tingkat realisasi pendapatan yang lebih rendah daibandingkan dengan realisasi biaya. (4) Ditinjau dari elemen efektivitas berdasarkan mutu pelayanan dan cakupan pelayanan untuk pasien rujukan dan pasien dengan asuransi, kinerja RSUD 45 Kuningan dinyatakan telah efektif.
Implikasi dari penelitian ini, untuk meningkatkan kinerja ekonomi maka RSUD 45 Kuningan harus lebih fleksibel dalam menggunakan anggaran, mengalokasikan dana dari pos-pos yang belum terserap anggarannya ke pos-pos yang kekurangan anggaran. Untuk meningkatkan kinerja efisiensi RSUD 45 Kuningan perlu meningkatkan pendapatan melalui perbaikan dan penambahan sarana-prasarana yang dapat meningkatkan jumlah pelanggan, dan mengoptimalkan pendapatan dari sumber-sumber non-pajak.
This research is descriptive research about performance measurment using value for money on RSUD 45 Kuningan. This research entitle is “ Performance Analysis Within Value For Money Approache On RSUD 45 Kuningan”. This research aims to know performance of RSUD ’45 Kuningan based on value for money those are level of economic, efficiency and effectiveness in periode year 2010-2013.
The analysis method was used value for money analysis, by measuring the level of economic ratio, efficiency ratio, and effectiveness ratio. Data was used secondary data of revenue and cost realization and budget, in periode 2010-2013.
Based on result of this research and data analysis it has got conclution: (1) Measurement of economic using ratio of cost budget and realization show the performance of RSUD 45 Kuningan in periode year 2010-2013 has been economic. (2) Measurement of efficiency allocation using measurment of BOR, ALoS, BTO, and TOI show the performance of RSUD 45 Kuningan in periode year 2010-2013 has been efficien. (3) Measurement of efficiency technique using measurement of level of revenue realization and level of cost realization performance of RSUD 45 Kuningan is less efficien.This because the level of revenue realization is less than the level of cost realization. (4) Measurement of effectiveness using service quality and service coverage show the performance of RSUD 45 Kuningan in periode year 2010-2013 has been effective.
As the implication of the conclution above, in order to increase the level of economic, management should have fleksibility budget. The account which not use, the budget could allocated to the account which less budget. In order to increase level of efficiency, management could increase revenue by increase quantity and quality of service which bring increase a number of costumers, and optimized revenue from non-tax resource.
1612819445F1C013032MENJADI PENYIAR RADIO PROFESIONAL
(STUDI DESKRIPTIF KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA MAHASISWA ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN YANG BEKERJA SEBAGAI PENYIAR RADIO DI KOTA PURWOKERTO)
Studi ini membahas tentang proses pengembangan kemampuan komunikasi interpersonal yang dilakukan mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman yang bekerja paruh waktu sebagai penyiar radio untuk dapat menjadi penyiar radio yang profesional dari passion yang mereka miliki di dunia broadcasting. Studi ini menarik untuk diteliti melihat beberapa mahasiswa pekerja paruh waktu sebagai penyiar radio terlihat lebih menonjol dengan kecakapan berkomunikasi dan prestasi kerja yang dimiliki dibanding dengan mahasiswa pekerja paruh waktu yang lain. Objek dari studi ini adalah pada proses adaptasi dan implementasi variabel kemampuan komunikasi interpersonal atau interpersonal skill dari role model seorang penyiar radio profesional yang dipilih penyiar radio sebagai acuan pengembangan diri.
Studi deskriptif tentang pengembangan kemampuan komunikasi interpersonal ini diadaptasi dari variabel social skill milik Michael Argyle (1967, dalam Hartley, 1999: 35-37) diantaranya: (1) goals dan persepsi adalah latar belakang dan tujuan mahasiswa bekerja menjadi penyiar radio, (2) translation yaitu latar belakang keinginan mahasiswa yang bekerja menjadi penyiar radio untuk mengembangkan diri menjadi penyiar radio profesional, (3) motor response yaitu interpersonal skill yang diadaptasi dari role model sebagai penggerak dalam pengembangan diri, serta (4) feedback yaitu proses pengembangan diri dalam bentuk implementasi gambaran interpersonal skill sebagai umpan balik role model maupun pendengar kepada penyiar radio dalam suatu proses komunikasi interpersonal.
Mengambil empat informan yang dipilih dengan teknik snowball sampling dan pengumpulan data lewat wawancara mendalam, observasi, serta dokumentasi, hasil dari studi menunjukkan bahwa latar belakang dan tujuan mahasiswa bekerja menjadi penyiar radio adalah untuk mengisi waktu luang. Untuk mencapai target karir yang lebih tinggi, penyiar radio melakukan pengembangan diri dengan mengadaptasi kemudian mengimplementasi kemampuan komunikasi interpersonal yang dibutuhkan seorang penyiar radio kepada narasumber talkshow maupun pendengar untuk membangun hubungan yang baik kepada individu lain yang berkaitan dengan kegiatan siaran radio.
This study discusses about the process of developing interpersonal communication skills undertaken by students of Jenderal Soedirman University who work part-time as a radio announcer that wanted to be a professional radio announcer of their passion in the broadcasting world. The study is interesting to examine seeing some part-time college students as radio announcer more pronounced with their communications skill and work performance compared to other part-time students. The object of this study is on the process of adaptation and implementation the variables of interpersonal communication skills or interpersonal skills of the role model that is a professional radio announcer selected by radio announcer as a reference of self-development.
This descriptive study about the development of interpersonal communication skills is adapted from the social skill variables by Michael Argyle (1967, in Hartley 1999: 35-37) including: (1) goals and perceptions are the background and goals of students working as radio announcer; (2) translation is the background desire of students who work as a radio announcer to develop themselves become a professional radio announcer, (3) motor response is interpersonal skills adapted from the role model as a driver in self-development, and (4) feedback is the process of self-development in the form of implementation interpersonal skills as role model’s and listener’s feedback to radio announcer in an interpersonal communication process.
Taking four informants selected by snowball sampling technique and data collection through in-depth interviews, observation, and documentation, the results of the study indicate that the background and purpose of students working as radio announcer is to fill the spare time. To achieve higher career goals, radio announcer conduct self-development by adapting and then implementing the interpersonal communication skills needed by a radio announcer towards talkshow’s speaker as well as listeners to build a good relationships with other individuals related at radio broadcasting activities.
1612919446F1D013053PENGARUH CITRA KANDIDAT TERHADAP PERILAKU MEMILIH MASYARAKAT DI KELURAHAN KEDUNGWULUH KECAMATAN PURWOKERTO BARAT PADA PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH TAHUN 2013Artikel hasil penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah citra kandidat berpengaruh terhadap perilaku memilih masyarakat di Kelurahan Kedungwuluh Kecamatan Purwokerto Barat pada Pilkada tahun 2013. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah pemilih pada Pilkada tahun 2013 di Kelurahan Kedungwuluh sebanyak 7122 orang. Sampel yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 100 responden. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah kuesioner, studi pustaka, dan observasi lapangan. Teknik kuesioner digunakan untuk mengumpulkan data primer, sedangkan teknik studi pustaka digunakan untuk mengumpulkan data sekunder. Pengukuran data menggunakan skala Guttman. Uji validitas kuesioner dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis Product Moment dan uji reliabilitas kuesioner menggunakan teknik analisis belah dua Spearman Brown. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis regresi logistik, dengan tingkat signifikansi yang ditentukan sebesar 95%. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh signifikan antara citra kandidat terhadap perilaku memilih masyarakat dengan koefisien regresi 0,693 dan tingkat signifikan 0,213 (≥0,05). Nilai Exp (B) menunjukkan nilai Odds rasio 2,0, artinya, resiko perilaku memilih akibat citra kandidat sebesar 2,0 kali dibandingkan dengan perilaku memilih masyarakat bukan akibat citra kandidat. Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan bahwa citra kandidat memiliki pengaruh terhadap perilaku memilih masyarakat tidak dapat diterima. Artinya, secara keseluruhan citra kandidat tidak berpengaruh terhadap perilaku memilih masyarakat di Kelurahan Kedungwuluh pada Pilkada Tahun 2013. Faktor lain seperti kedekatan terhadap partai, isu dan kebijakan politik, perasaan emosional, peristiwa personal yang mungkin memengaruhi perilaku memilih masyarakat di Kelurahan Kedungwuluh.This research-based paper aims to determine whether the image of the candidate influences the society. This research uses quantitative method. The type of data in this research consists of primary data and secondary data. Primary data is obtained from the results of questionnaires that have been distributed to the respondents, while secondary data obtained from reliable sources are Banyumas Election Commission (KPUD) and Kedungwuluh urban village. The population in this research are voters of elections in 2013 in Kedungwuluh urban village as many as 7122 people. Samples taken in this research are 100 respondents. Data collection techniques in this research are questionnaires, literature studies, and field observation. The questionnaire technique is used to collect primary data, while the literature study technique is used to collect secondary data. Measurement data using Guttman scale. Test the questionnaire validity in this research using Product Moment analysis technique and reliability test questionnaire using Spearman Brown analysis technique. Data analysis technique used is logistic regression analysis technique, with significance level determined equal to 95%. Based on the results of the research showed that there is no significant influence between candidates' image on the behavior of the community chosen with regression coefficient of 0.693 and a significant level of 0.213 (greater than 0.05). Exp Value (B) shows the value of Odds ratio 2.0, that is, the risk of voting behavior due to candidate's image is 2.0 times compared to the behavior of society voting rather than the image of the candidate. Thus, the hypothesis stating that the candidate's image has an influence on the behavior of society voting is unacceptable. That is, the overall image of the candidate does not affect the behavior of society voting in Kedungwuluh urban village in The Regional Head Election of 2013. Other factors such as closeness to the party, political issues and policies, emotional feelings, personal events that may affect the behavior of society voting in Kedungwuluh urban village.
1613019448F1B013048KINERJA SATUAN POLISI PAMONG PRAJA (SATPOL PP) DALAM PENERTIBAN REKLAME DI KABUPATEN BANYUMASLatar belakang penelitian ini ialah adanya permasalahan mengenai jumlah reklame liar yang masih banyak ditemukan pada wilayah Kabupaten Banyumas. Menurut Perda Nomor 14 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Reklame, Satpol PP sebagai instansi penegakan perda mempunyai wewenang untuk menertibkan reklame di wilayah Kabupaten Banyumas. Penertiban reklame ini sangat penting kaitannya dengan kerapihan dan ketertiban kota serta sebagai sumber pendapatan asli daerah. Tujuan penelitian ini ialah untuk mendeskripsikan kinerja Satuan Polisi Pamong Praja dalam penertiban reklame di Kabupaten Banyumas.
Penelitian ini menggunakan indikator pengukuran kinerja oleh Mahsun yang terdiri dari lima aspek, yaitu kelompok masukan, kelompok proses, kelompok keluaran, kelompok hasil, kelompok manfaat dan kelompok dampak. Metode pada penelitian ini ialah metode kualitatif deskriptif. Teknik pemilihan informan dilakukan melalui purposive sampling dan snowball sampling. Sedangkan teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Metode analisis data menggunakan analisis interaktif dan untuk menjamin keabsahan data dilakukan menggunakan triangulasi sumber.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih terdapat keterbatasan pada sumber daya masukan; kurang maksimalnya pelaksanaan penertiban reklame karena hanya berdasar pada temuan dari internal satpol pp; namun dilihat dari aspek output, kegiatan penertiban reklame dinilai sudah cukup efektif dalam penegakan perda; dilihat dari aspek outcome meskipun Satpol PP mengalami keterbatasan sumber daya manusia namun tetap bisa berjalan dengan efektif. Dilihat dari aspek benefit adanya kegiatan penertiban reklame mampu mengurangi jumlah reklame liar yang ada meskipun masih tetap ada pelaku reklame yang memasang reklamenya tidak sesuai aturan; dan dilihat dari aspek impact kondisi reklame di wilayah perkotaan sudah cukup baik, namun pada wilayah perdesaan yang sulit dijangkau masih terdapat reklame liar terlebih yang sifatnya insidental.
The background of this research is the existence of problems regarding the number of wild advertisement that are still found in Banyumas regency. According to Regulation No. 14 of 2014 on the Implementation of Advertising, Satpol PP as the enforcement agencies of local regulations have the authority to discipline advertisement in the region of Banyumas regency. Controlling of advertisement is very important in relation to the neatness and order of the city as well as a source of local revenue. The purpose of this study is to describe the performance of Pamong Praja Police Unit (Satpol PP) in controlling the advertisement in Banyumas regency.
This research uses performance measurement indicator by Mahsun which consists of five aspects, that is input group, process group, output group, outcome group, benefit group and impact group. The method in this research is descriptive qualitative method. Informant selection technique is done through purposive sampling and snowball sampling. While the technique of data collection is done by in-depth interview, observation, and documentation. Methods of data analysis using interactive analysis and to ensure the validity of data is done using source triangulation.
The results show that there are still limitations on input resources; Less maximal implementation of the order of advertisement because it is only based on the findings of internal Satpol pp; But viewed from the aspect of output, the activity of controlling the advertisement is considered quite effective in enforcing the local regulations; Seen from the aspect of outcome although Satpol PP has limited human resources but can still run effectively. Viewed from the aspect of the benefit of the existence of advertising activities can reduce the number of advertisement illegal advertisement that exist even though there are still perpetrators who install the advertisement not according to the rules; And seen from the aspect of the impact of advertisement conditions in urban areas is good enough, but in rural areas that are difficult to reach there are still wild advertisement that is incidental.
1613119444B1J013014KADAR ASAM URAT TIKUS PUTIH (RATTUS NORVEGICUS) YANG DIBERI CHLORELLA VULGARIS DAN DIINDUKSI CCL4Abstract
Chlorella vulgaris merupakan salah satu mikroalga yang memiliki kandungan antioksidan tinggi yaitu β–karoten yang dapat menghambat bahaya radikal bebas dengan cara menangkap singlet oxygen. Radikal bebas dapat berasal dari senyawa toksik, salah satu senyawa toksik sumber radikal bebas yaitu CCl4, yang dibentuk dengan bantuan sinar ultraviolet dari reaksi CH4 dan Cl2. Tubuh yang terpapar oleh CCl4 maka akan mengalami kerusakan organ salah satunya ginjal, sehingga menyebabkan fungsi sel ginjal menjadi terganggu dalam mengekskresikan zat-zat sisa metabolisme bersama dengan urin salah satunya yaitu asam urat. Penelitian ini bertujuan, untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak C.vulgaris terhadap kadar asam urat tikus putih (R. novergicus) yang diinduksi CCl4, dan mengetahui dosis terbaik ekstrak C.vulgaris yang mampu menurunkan kadar asam urat tikus putih (R. novergicus) yang diinduksi CCl4. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang dicoba terdiri dari 6 perlakuan dan 4 kali ulangan. Variabel tergantung yang diamati yaitu perubahan kadar asam urat darah tikus, sedangkan parameter yang diukur yaitu kadar asam urat tikus (mg/dl). Hasil pengukuran kadar asam urat tikus hari ke-31 pada masing-masing kelompok perlakuan diperoleh hasil kadar rerata sebagai berikut, K+ (kontrol positif) berkisar 2.304 ± 0.556 mg/dl; perlakuan K- (kontrol negatif) berkisar 3.793±0.154 mg/dl; perlakuan Ks (kontrol standar) berkisar 1.054 ± 0.269 mg/dl; perlakuan P1 berkisar 2.663 ± 0.244 mg/dl; perlakuan P2 berkisar 2.662 ± 0.165mg/dl; perlakuan P3 berkisar 1.275 ± 0.293 mg/dl. Hasil ANOVA menunjukkan bahwa pemberian ekstrak C. vulgaris berpengaruh terhadap kadar asam urat tikus putih (R. norvegicus) yang diinduksi karbon tetraklorida (CCl4) (p<0.05). Hasil uji lanjut menunjukan bahwa perlakuan P1, P2 dan P3 dapat menurunkan kadar asam urat tikus putih (R. norvegicus) yang diinduksi karbon tetraklorida (CCl4) (p<0.05). Dosis terbaik ekstrak C. vulgaris yang mampu menurunkan kadar asam urat tikus putih (R. norvegicus) yang diinduksi karbon tetraklorida (CCl4) yaitu 5 mg/ 100 g BB tikus/ hari.


Kata kunci: asam urat, CCl4, Chlorella vulgaris, Rattus norvegicus
Abstract
Chlorella vulgaris is one of the micro-algae that has a high antioxidant content, which is b-carotene which can inhibit the dangers of free radicals by capturing singlet oxygen. Free radicals can come from toxic compounds, one compound toxic source of free radicals, namely CCL4 formed with the help of ultraviolet rays from the reaction of CH4 and Cl2. Body that is exposed by CCL4 then it will experience damage to organs one kidney, causing the function of the kidney cells being interrupted in the excrete the wastes of metabolism along with urine one of them is urine. This study aims to determine the effect of extract C. vulgaris against uric acid levels of white rats induced by CCl4, and know the best doses of the extract C. vulgaris which is able to lower the uric acid levels of white rats induced CCl4. The research method used was experimental method with completely randomized design, treatment that is tried consists of 6 treatments and 4 replications. The independent variable used was the dose of C. vulgaris extract given to white rats (R. norvegicus), while the dependent variable was the change of uric acid level of the rat. The doses used were 3, 4 and 5 mg/ 100 g BB rat/ day. The variable depending on the observed that changes in the levels of uric acid the blood of rats, while the parameters measured were the levels of uric acid of rats (mg/dl). The results of the measurement of uric acid levels rats day 31 in each treatment group obtained the results of the levels of the mean as follows K+ (positive control) ranged from 2.304 ± 0.556 mg/dl; treatment K- (negative control) ranged from 3.793±0.154 mg/dl; the treatment of Ks (standard control) ranged from 1.054 ± 0.269 mg/dl; treatment P1 ranged from 2.663 ± 0.244 mg/dl; treatment P2 ranged from 2.662 ± 0.165mg/dl; P3 treatment ranged from 1.275 ± 0.293 mg/dl. The results of ANOVA showed that administration of extracts of C. Vulgaris affect the uric acid levels of white rats induced by carbon tetrachloride (CCl4) (p<0.05), the test results further showed that the treatment of P1, P2, P3 can lower the uric acid levels of white rats (R. norvegicus) induced by carbon tetrachloride (CCL4) (p<0.05). The best dose extract of C. vulgaris which is able to lower the uric acid levels of white rats induced by carbon tetrachloride (CCl4) is 5 mg/100 g BB rat/day.

Key word: uric acid, CCl4, Chlorella vulgaris, Rattus norvegicus

1613219449G1B013097FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN AMBANG DENGAR PADA PEKERJA DIPO LOKOMOTIF
DAOP V PURWOKERTO TAHUN 2017
Latar Belakang: Transportasi dapat mengakibatkan dampak negatif apabila tidak dikelola dengan baik, seperti dapat menimbulkan efek berupa bunyi yang cukup besar sehingga dapat menyebabkan kebisingan. Bahaya kebisingan memberikan pengaruh buruk pada tenaga kerja seperti terjadinya gangguan pendengaran sehingga adanya perubahan nilai ambang dengar. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan ambang dengar pada pekerja Dipo Lokomotif Daop V Purwokerto

Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 38 sampel. Teknik pengambilan sampel menggunakan Purposive Sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan pengukuran ambang dengar dengan menggunakan Audiometri, intensitas kebisingan dengan menggunakan Sound Level Meter, penggunaan alat pelindung telinga dengan observasi, dan kuesioner data pekerja. Analisis data dengan analisis univariat, bivariat dengan chi square.

Hasil Penelitian: Hasil analisis bivariat menunjukan variabel yang berhubungan dengan ambang dengar yaitu intensitas kebisingan (p-value =0,021), sedangkan variabel yang tidak berhubungan yaitu umur (p-value = 0,604), masa kerja (p-value = 0,405) dan penggunaan apt (p-value = 1,000)

Simpulan: Ada hubungan intensitas kebisingan dengan ambang dengar pada pekerja Dipo Lokomotif Daop V Purwokerto

Kata kunci: Ambang dengar, Pekerja Dipo Lokomotif, Intensitas Kebisingan
Background: Transportation would has negative impact if it is not managed properly, such as a very loud sound that causing noise. The noise hazard adversely affects labor such as hearing loss as a result of the threshold changing. The purpose of this study was to determine the factors that correlate with auditory thresholds on employees of locomotive dipo regional operations V Purwokerto

Methods: This was quatitative study with cross sectional approach. The sample in this study as many as 38 samples. This technique used purposive sampling. The data was collected by measuring auditory thresholds using audiometry, the noise was measured by sound level meter, the use of hearing protective equipments was conducted by observation and questionaires jobs data. The data was analyzed by univariate, bivariate with chi square.

Results: The result of bivariate analysis show that the variable related to auditory thresholds is noise (p-value = 0,021 ) while the unrelated variables are age (p-value = 0,604 ), working period (p-value = 0,405 ), and the use of hearing protective equipment (p-value = 1,000 )

Conclusion: There was relations between noise and auditory thresholds on employees in the locomotive dipo regional operations V Purwokerto

Keywords: Auditory Threshold, Employees of Locomotive Dipo, Noise
1613319447F1B012082KINERJA BADAN USAHA MILIK DESA SERANG MAKMUR SEJAHTERA DI DESA SERANG KECAMATAN KARANGREJA KABUPATEN PURBALINGGAKinerja Badan Usaha Milik Desa Serang Makmur Sejahtera Di Desa Serang Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga. Kinerja Badan usaha Milik Desa dapat dilihat dari beberapa aspek antara lain yaitu: Input, Process, Output, dan Outcome. Metode yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif. Teknik pemilihan informan melalui Purposive Sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kinerja Badan Usaha Milik Desa Serang Makmur Sejahtera Di Desa Serang Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga cukup baik. Hal ini bisa dilihat dari beberapa sub aspek antara lain sumber daya manusia yang sudah mencukupi, anggaran cukup dan sarana prasarana yang sudah memadai.Dalam pengelolaan BUMDes SMS melibatkan masyarakat Desa Serang, dan didampingi oleh Balai Pemberdayaan Masyarakat yogyakarta. Pelaksanaan program berjalan 100%. Perkembangan pariwisata mengalami peningkatan yang cukup signifikan seperti pendapatan BUMDes SMS yang mengalami peningkatan serta peningkatan jumlah pengunjung tiap tahun.The Performance Of The Business Entity Belonging To The Village Of Prosperous Prosperous Village Of Serang, Serang Regency Karangreja Sub-district Of Purbalingga. The performance of the business entity belonging to the village can be seen from several aspects include: Inputs, Process, outputs, and Outcomes. The method used is descriptive research method. The technique of selection of informants through Purposive Sampling. The results showed that the performance of a business entity belonging to the village of Serang Prosperous Peace in the village of Serang Regency Karangreja Sub-district of Purbalingga is good enough. It can be seen from several aspects include the human resources which are already adequate, sufficient budgets and infrastructure that are already adequate. In the management BUMDes SMS involves Attacking the villagers, and accompanied by the porch community empowerment. Program implementation is running 100%. The development of tourism is experiencing significant increase as income BUMDes SMS has increased as well as the increasing number of visitors each year.
1613419450C1F015038Pengaruh Kompetensi, Independensi, dan Kualitas Tim Audit terhadap Kualitas Audit (Studi Kasus pada BPKP Perwakilan Jawa Timur)Penelitian ini menggunakan judul “Pengaruh Kompetensi, Independensi, dan Kualitas Tim Audit terhadap Kualitas Audit”. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh kompetensi, independensi dan kualitas tim audit terhadap kualitas audit pada Perwakilan BPKP Provinsi Jawa Timur.
Populasi dalam penelitian ini adalah auditor pada Perwakilan BPKP Provinsi Jawa Timur yang berjumlah 72 orang. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode analisis data primer. Data primer diperoleh dengan menyebarkan kuesioner. Penelitian ini menggunakan model analisis regresi berganda, uji kualitas data, uji asumsi klasik, dan uji hipotesis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi kompetensi auditor maka semakin tinggi pula tingkat kualitas audit, semakin tinggi tingkat independensi maka semakin tinggi pula kualitas audit, begitu pula dengan semakin tinggi tingkat kualitas tim audit maka semakin tinggi pula kualitas audit. Implikasi hasil penelitian ini, para auditor BPKP diharapkan meningkatkan kompetensi yang dimiliki, selalu bersikap independen dan menjaga kerja sama dalam sebuah tim sehingga proses audit dapat terlaksana dan menghasilkan audit yang berkualitas. Instansi BPKP juga diharapkan dapat menyaring calon auditor sesuai dengan background pekerjaan kelak serta mendukung seluruh auditornya dalam meningkatkan kompetensi dan implementasi peraturan-peraturan baik itu reward maupun punishment yang mendukung independensi auditor.
The title of this research is the effect of competence, independence, and quality of audit team toward audit quality. This research aims to examine the effect of competence, independence, and quality of audit team toward audit quality at BPKP Representative East Java Province.
The population in this research were all auditors at BPKP Representative East Java Province totaling 72 auditors. The type of research was quantitative research with primary data analysis methods. The primary data obtained by distributing the questioner. The research used multiple regression analysis model, the test data quality, classic assumption test, and hypothesis tests using SPSS software.
The results of the research shows that competence positively affects the audit quality, independence positively affects the audit quality, and quality of audit team positively affects the audit quality. The implication of this research, all auditors at BPKP should improve their competence, act independently, keep working together as a team so that the audit process can be conducted and afford a quality audit. BPKP is also expected to support all its auditors in improving their competence and implement the regulations that support auditor’s independence.
1613519455G1B013001PENGARUH PERSEPSI BIDAN PRAKTIK MANDIRI TENTANG PROGRAM
JAMINAN KESEHATAN NASIONAL TERHADAP KESEDIAAN MENJADI
JEJARING FKTP DI KECAMATAN SUMBANG DAN KEMBARAN
Latar Belakang: Salah satu upaya pemerintah Indonesia untuk menurunkan
kematian ibu adalah memperbaiki akses masyarakat untuk mendapat pelayanan
kebidanan melalui program Jaminan Kesehatan Nasional. Pelayanan kebidanan dan
neonatal pada program JKN melibatkan dokter keluarga dan bidan praktek mandiri
(BPM) sebagai jejaringnya. Sumbang dan Kembaran adalah kecamatan di Banyumas
dengan angka persalinan dan kepesertaan JKN tinggi. Dari 50 BPM yang ada di
Sumbang dan Kembaran, 7 diantaranya sudah berjejaring dengan BPJS (14%).
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh persepsi BPM tentang JKN
(persepsi paket, tarif, prosedur kerja sama, prosedur pelaksanaan dan manfaat)
terhadap kesediaan menjadi jejaring JKN di Sumbang dan Kembaran.
Metodologi: Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain cross sectional.
Populasinya adalah 50 BPM di Kecamatan Sumbang dan Kembaran. Sampel diambil
menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara
menggunakan kuesioner. Data dianalisis menggunakan Chi square dan Regresi
logistik berganda.
Hasil Penelitian: Hasil analisis hubungan uji Chi square menunjukkan bahwa ada
hubungan antara persepsi tentang tarif (p=0,000), prosedur kerja sama(p=0,000),
prosedur pelaksanaan (p=0,000) dan manfaat (0,000) dengan kesediaan BPM untuk
berjejaring dalam program JKN. Hasil analisis menggunakan regresi logistik
berganda menunjukkan persepsi tentang manfaat mempengaruhi kesediaan BPM
untuk menjadi jejaring dalam program JKN (nilai p=0,010).
Kesimpulan: ada pengaruh persepsi tentang manfaat terhadap kesediaan BPM
menjadi jejaring dalam program JKN.
Background: One of many efforts from Indonesia’s government to decrease
maternal and neonatal mortality is improve the access of community to get
obstetrics and neonatal services through the National Health Assurance (JKN).
Obstetrics and neonatal service in JKN program involving family doctor and
independent practice midwives (BPM) as networking. Sumbang and Kembaran
are subdistricts with high birth rates and JKN membership. From 50 BPM in
Sumbang and Kembaran, 7 of them are already networked with BPJS (14%). The
research aims to analyze the influence independent practice midwives’s
perception of JKN (perception of packages, tariff, implementation’s procedures,
cooperation’s procedure and benefit) towards willingness to be the network of
JKN in Sumbang and Kembaran.
Methods: The type of research was quantitative with cross sectional design. The
population was 50 independent practice midwives di Sumbang dan Kembaran.
Samples were taken using purposive sampling of 44 respondents. Data was
collected through interviews used questionnaires. Data were analyzed using Chi
square test and Multiple logistic regression.
Results: Analysis Chi square test showed there were corellation among
preception, tariff (p value=0,000), implementation’s procedures(p value=0,000),
cooperation’s procedure(p value=0,000) and benefit(p value=0,000) towards
willingness to be the network of JKN. The results through multiple logistic
regression analysis showed that the variables that influence on the willingness of
independent practices midwives to be the network of JKN was the perception of
benefit (p value=0,010).
Conclusion: There is the influence perception of benefit towards willingness of
midwives to be the network of JKN.
1613619451C1F015007ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA RSUD SETELAH MENERAPKAN POLA PENGELOLAAN KEUANGAN BADAN LAYANAN UMUM DAERAHPenelitian ini bertujuan menganalisis perbandingan kinerja keuangan dan kinerja pelayanan RSUD sesudah menerapkan pola pengelolaan keuangan BLUD dan melihat tren kinerja dari RSUD yang diteliti. Objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah kinerja keuangan dan kinerja pelayanan rumah sakit umum daerah milik pemerintah yang telah menerapkan PPK-BLUD. Jenis metode pengambilan sampel menggunakan purposive sampling method.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) RSUD mengalami peningkatan kinerja keuangan setelah menerapkan PPK-BLUD, (2) RSUD mengalami peningkatan kinerja pelayanan setelah menerapkan PPK-BLUD, (3) RSUD Kota Depok memiliki tren peningkatan kinerja keuangan yang lebih baik, (4) RSUD Kota Bekasi memiliki tren peningkatan kinerja pelayanan yang lebih baik, (5) Berdasarkan nilai rata-rata rasio tahun yang diteliti dibandingkan dengan standar yang ada, kinerja keuangan terbaik ditunjukkan oleh RSUD Kota Bekasi. Sedangkan untuk kinerja pelayanan paling baik diperoleh oleh RSUD Kota Depok.
The purpose of this study is to analyze the comparison of financial performance and service performance of hospitals after applying the financial management pattern of regional public service agency and to see the performance trends of the regional general hospital studied. The object used in this study is the financial performance and service performance of public hospital owned by the local government that has implemented financial management pattern of regional public service agency. Type of sampling method used is purposive sampling method.
The results shows that: (1) RSUD experience improvement of financial performance after applying PPK-BLUD, (2) RSUD experience improvement of service after applying PPK-BLUD, (3) RSUD Depok has better financial performance improvement trend, (4) RSUD Kota Bekasi has better service performance improvement trend, (5) Based on the average value of year ratios studied compared to the existing standard, the best financial performance is shown by RSUD Kota Bekasi. While for the best service performance obtained by RSUD Kota Depok.
1613719452F1D011001MISTISISME JAWA DAN POLITIK :
Praktik Ritual Kejawen Kepala Desa di Dawuhan Banyumas
Penelitian ini menjelaskan tentang mistisisme dan politik: praktik ritual kejawen politisi lokal di Dawuhan Banyumas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan secara jelas apa yang memotivasi para politisi dan wujud ritual politisi dalam melakukan ritual mistisisme. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan etnografi. Adapun teknik analisis data yang digunakan terdiri dari analisis domain, analisis taksonomi, analisis komponen, dan analisis tematik. Karena sasaran utama dalam penelitian ini adalah politisi yang melakukan ritual mistisisme di Banyumas serta paranormal atau guru spiritual yang memfasilitasi kepala desa yang melakukan ritual mistisisme, maka teknik analisis ini digunakan untuk memahami hubungan antar keduanya yang saling melekat, dan mempengaruhi satu sama lain secara komprehensif, yang membentuk pada motivasi dan wujud ritual mistisisme politisi di Banyumas.
Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa kepala desa memotivasi dirinya melakukan sebuah ritual mistisisme karena kepercayaan mereka terhadap makam dan benda-benda yang dianggap keramat memiliki andil dalam meraih kekuasaan. Para politisi Banyumas ini mengunjungi petilasan Ki Jaka Kaiman yang terletak di Desa Dawuhan. Sedangkan benda-benda yang dianggap keramat diraih dari kegiatan mencari, maupun dikasih oleh paranormal atau guru spiritual bahkan berasal dari warisan keluarga.
This research explains about mysticism and politics that manifestated through Javanese ritual practices done by local politicians in Dawuhan, Banyumas. This research aimed to discover and describe at a whole the politician’s motivations and ritual forms in doing the mysticism rites. The method used on this research is qualitative along with ethnographic approach. The data analysis techniques are consisted of domain analysis, taxonomy analysis, component analysis, and thematic analysis. Since the main objects in this research are the politicians who practice mysticism rites in Banyumas and the spiritual experts that facilitate the politicians in doing mysticism rites, this analysis technique is applied to understand the inherent relation between those objects that affect each other comprehensively, which forms the motivations and the mysticism ritual forms in Banyumas
The result shows that the politicians are self-motivated in practicing mysticism rites for their beliefs towards the influences of tombs and sacred goods in achieving the power they want. The Banyumas politicians often visit the tomb of Ki Jaka Kaiman which located in Dawuhan Village, while the sacred goods were obtained from self efforts or given by the spiritual experts, even from family legacy.
1613819453F1D010053AGENDA SETTING DALAM KEBIJAKAN REVITALISASI PEMBANGUNAN PASAR MANIS DI KOTA PURWOKERTO

Penelitian ini bertujuan untuk memahami dan mendeskripsikan proses agenda setting dalam kebijakan revitalisasi pembangunan Pasar Manis Di Kota Purwokerto.
Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa dalam proses revitalisasi pembangunan pasar manis Di Kota Purwokerto dilakukan pada masa pemerintahan Presiden Jokowi sesuai dengan program Nawacita oleh beliau. Revitalisasi pasar pada pemerintahan Joko Widodo memprioritaskan pasar yang secara fisik memerlukan peremajaan fisik. Revitalisasi pasar tidak hanya dari segi peremajaan fisik saja yang dilakukan tetapi peremajaan dari sektor manajemen, yaitu upaya menciptakan pengelolaan pasar rakyat yang professional, modern, dan transparan. Selain dari fisik dan manajemen, revitalisasi pasar dalam hal sosial budaya, yaitu upaya mewujudkan lingkungan pasar rakyat yang kondusif dan nyaman. Terakhir, revitalisasi ekonomi, yaitu upaya meningkatkan daya saing dan omzet, serta menjaga stok guna menjaga kestabilan harga barang kebutuhan pokok yang dapat memberikan efek ganda di sektor produksi.
Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah kehadiran program Nawacita dalam hal ini revitalisasi pasar pada masa Presiden Joko Widodo sangat memberikan dampak positif yang besar bagi Warga Purwokerto sendiri. Pasalnya dengan revitalisasi pasar tersebut akhirnya masyarakat purwokerto bisa melakuakan aktivitas jual beli yang jauh lebih nyaman karena kondisi pasar manis sekarang yang jauh lebih baik lagi dibanding pasar manis pada jaman dahulu.
This research aims to understand and describe the process of agenda setting in a policy of revitalization of development Pasar Manis in the Purwokerto
The results of this study revealed that in the process of revitalizing the sweet market development in the town of Purwokerto is done during the reign of President Jokowi in accordance with the program Nawacita by him. Revitalizing the market at Government Joko Widodo prioritize market that physically require physical rejuvenation. Revitalizing the market not only in terms of physical rejuvenation are done but the rejuvenation of the management of the sector, namely the effort of creating a people's market management professional, modern and transparent. A side from the physical and management, revitalizing the market in terms of social culture, namely efforts embody the people's market environment that is conducive and comfortable. Lastly, economic revitalization, namely an effort improve competitiveness and turnover, as well as keeping the stock in order to maintain the stability of prices of staple goods that can provide a double effect on production sector
The conclusions of this research program is the presence of Nawacita in this revitalizing the market at the time the President gave Joko Widodo great positive impact for the citizens of Purwokerto himself. Because with the market ultimately revitalizing the community's craft made activities can purwokerto and selling that much more comfortable because the sweet market conditions now are much better than the sweet market in antiquity.

1613919147F1D010050Partisipasi Masyarakat Dalam Pengembangan Pariwisata Pantai Menganti di Desa Karangduwur Kabupaten KebumenPenelitian ini berjudul “Partisipasi Masyarakat dalam Pengembangan Pariwisata Pantai Menganti di Desa Karangduwur Kabupaten Kebumen” bertujuan untuk memahami dan mendeskripsikan bagaimana partisipasi masyarakat dalam pengembangan pariwisata pantai menganti desa Karangduwur kabupaten Kebumen. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh dari hasil observasi, wawancara,dan studi dokumentasi. Kemudian data dianalisis menggunakan metode analisis model interaktif Miles dan Huberman. Untuk menjamin validitas data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi data. Hasil penelitian ini mendeskripsikan bagaimana partisipasi masyarakat dalam pengembangan pariwisata pantai Menganti desa Karangduwur kabupaten Kebumen. Partisipasi masyarakat menjadi faktor signifikan dalam pengembangan kawasan Pantai Menganti. Peran masyarakat, pemerintah maupun swasta sangat diperlukan dalam pembangunan daerah seperti pembangunan dalam sektor pariwisata. Partisipasi masyarakat setidaknya dapat mendorong pengembangan Pantai Menganti. Dengan adanya partisipasi setidaknya dapat membawa masyarakat menjadi lebih berdaya atau dengan kata lain terdapat pemberdayaan masyarakat melalui keberadaan Pantai Menganti. Pengembangan pariwisata pantai menganti tidak terlepas dari peran serta masyarakat sekitar dan pemerintah desa yang bekerja sama dengan BPKH Kebumen KPH kedu selatan dalam proyek pengembangan pariwisata di Kabupaten Kebumen. Masyarakat sekitar yang dimotori oleh kepala Desa Karangduwur pada tahun 2011 dengan mengadakan gerakan menanam seribu pohon dan pembuaan akses ke tempat sekitar pantai Menganti dengan dana iuran per kepala keluarga sebesar 30.000 rupiah. Proyek pengembangan di pantai Menganti berkembang pesat sehingga pada tahun 2014 pantai Menganti menjadi objek wisata yang menjadi primadona baru masyarakat Kebumen dan bahkan masyarakat luar Kebumen. Perkembangan pantai Menganti mampu mempengaruhi pendapatan masyarakat sekitar menganti seperti mulai ramainya warung-warung disekitaran pantai menganti dan banyaknya pengunjung di pantai menganti. Dalam pengelolaan pendapatan, pengelola Pantai Menganti membagi dalam beberapa pos, untuk perhutani, kas desa, serta untuk pengelola sendiri dalam hal ini LMDH. Sedangkan untuk Pemerintah Daerah Kebumen, pengelola tidak ada kewajiban untuk menyetorkan pendapatan, mereka hanya sebatas melakukan LPJ tentang pendapatan mereka.

Kata kunci : Partisipasi Masyarakat, Pantai Menganti, proyek pengembangan pariwisata.
The title of this research is people’s participation on Menganti Beach tourism development in Karangduwur Village, Kebumen Regency. The main purpose of this research is to define how the people’s participation could affect the development of the Menganti Beach tourism site. This research is using descriptive-qualitative methods, and case study approach. This research using cases with inductive characteristics from facts in the field and conclude those cases into the concept and theory level. In this research, deep interview technique and proper documentation technique is used as main data collection technique to ensure data validity and to get all the information needed to support the analysis and data interpretation. Then, all the data will be analyzed using Milies’s and Huberman’s interactive-analysis method. To ensure data validity and to get all the information needed to support the analysis and data interpretation, data triangulation technique will be used.
The result of this research define that how people’s participation could affect the development of Menganti Beach tourism site. People’s participation became a significant factor to the development of the Menganti Beach tourism site. Both of the people’s participation and also government and private participation on the region development really become the main factor of the tourism development. People’s participation could encourage the development of the tourism site, the people’s participation also help the local community empowerment within the Menganti Beach tourism site. The development of the Menganti Beach tourism site could be achieved because of the collaboration between the local governments with the BPKH Kebumen (South Kedu KPH). The locals who encouraged by the Karangduwur Village Chief in 2011, manage to organize the thousand-tree-planting movement and building the road access to the Menganti Beach from the locals self-contribution funds in the amount of 30.000 IDR per family.
The Menganti Beach tourism site project became fully developed in the 2014, the Menganti Beach tourism site also become the new favorite tourism site for the locals and even for the people from outside the Kebumen region. The development of the Menganti Beach also affect the income from the nearby shops because of the amount of the visitors that keep increasing. For the income management, Menganti Beach tourism site has divide into few posts, the one for Perhutani, village’ treasury, and also for the Menganti Beach maintenance fund while in this case, LMDH will manage the Menganti Beach maintenance funds. And for the local goverments, the Menganti Beach tourism site doesn’t have to deposit their income to them, the local goverment only needed the accountability papers about Menganti Beach.
1614019454F1D010055PROPAGANDA FASISME DALAM ANIME “SHINGEKI NO KYOJIN” KARYA HAJIME ISYAMAPenelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui dan mendeskripsikan tentang propaganda fasisme dalam anime “Shingeki no Kyojin” karya Hajime Isayama. Melalui perspektif pascastruktural dan paradigma dekonstruksi, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan semiotika sebagai pendekatannya. Berdasarkan pendekatannya, maka data yang terkumpul dalam penelitian ini dianalisa dengan menggunakan teknik analisis Semiotika Barthesian.
Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa propaganda fasisme dalam anime “Shingeki no Kyojin” benar-benar dihadirkan oleh Hajime Isayama dan memiliki relevansi bagi Jepang itu sendiri sebagai negara di mana anime tersebut berasal. Alhasil, kesimpulan dalam penelitian ini adalah propaganda fasisme dalam anime “Shingeki no Kyojin” dapat dilihat melalui penokohan, lagu pengiring serta pengaturan ruang dan waktu. Dalam penokohan, Eren Yeager, Armin Arlert dan Mikasa Ackerman dipercaya untuk merepresentasikan keyakinan dan semangat fasisme melalui kata-kata dan tindakannya. Sedangkan, lagu pengiring berjudul “Guren no Yumiya,” “Jiyuu no Tsubasa,” Utsushiki Zankoku na Sekai” dan “Great Escape” memperjelas eksistensi manusia yang dikehendaki oleh fasisme dengan ciri rasialis dan nasionalis. Jerman dan Jepang dipilih sebagai setting ruang dan waktu mempertegas propaganda fasisme karena keduanya adalah bekas negara fasis. Akan tetapi, konteks propaganda fasisme khusus ditunjukkan terkait permasalahan re-interpretasi Pasal 9 Konstitusi Demokrasi Jepang 1947 sekaligus kritik terhadap mentalitas bangsa Jepang. Dengan demikian, klaim anime sebagai tontonan anak-anak yang bertujuan menghibur terbantahkan karena anime bahkan menjadi bagian dari “soft power” bagi Jepang yang menjembatani “hard power” di bidang ekonomi sekaligus menjadi media propaganda dari ideologi fasis yang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Jepang modern.
This research aims at understanding and describing the fascism propaganda in the anime "Shingeki no Kyojin" by Hajime Isayama. Through the post-structural perspective and deconstruction paradigm, this research uses qualitative method with semiotics as its approach. Based on the approach, the data collected to analyze this research by using the analysis technique of Barthesian Semiotics.
The results of this research reveals that the propaganda of fascism in anime "Shingeki no Kyojin" is actually presented by Hajime Isayama and has relevance for Japan itself as the country where the anime originated. As a result, the conclusion in this research is fascism propaganda can be seen through the characterizations, song accompaniment and the setting of space and time in anime "Shingeki no Kyojin". In characterizations, Eren Yeager, Armin Arlert and Mikasa Ackerman believed to represent the faith and spirit of fascism of their words and actions. Meanwhile, the song entitled "Guren no Yumiya," "Jiyuu no Tsubasa," Utsushiki Zankoku na Sekai "and" Great Escape" clarified the human existence desired by fascism with racist and nationalist traits. Germany and Japan chosen as the setting of room and time to reinforce the propaganda of fascism as both are former fascist countries. However, the context of particular fascism propaganda shown in relation to the re-interpretation of Act 9 in 1947 Japanese Democracy Constitution as critics toward the mentality of the Japanese nation. In sum, the anime as kids television show to entertain people is undeniable because the anime becomes part of the "soft power" for the Japanese to connect the "hard power" in the economic sector as well as media propaganda of fascism ideology that connected with modern Japanese history.