Artikelilmiahs

Menampilkan 16.181-16.200 dari 49.935 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
1618119498B1J012140PERKEMBANGAN SEL SPERMATOGENIK Osteochilus vittatus DALAM MEDIA YANG MENGANDUNG TIROKSIN DENGAN BERBAGAI KONSENTRASI
Perkembangan sel spermatogenik memerlukan keterlibatan hormon gonadotropin dan hormon testosteron. Selain gonadrotropin dan testosteron terdapat hormon lain yang berperan dalam spermatogenesis, yaitu tiroksin. Peranan hormon tiroksin pada spermatogenesis ikan nilem belum diketahui sehingga perlu dilakukan penelitian. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi perkembangan sel-sel spermatogenik ikan nilem pada kondisi in vitro dalam medium yang mengandung tiroksin dengan konsentrasi berbeda dan mendapatkan konsentrasi hormon tiroksin yang sesuai untuk perkembangan sel-sel spermatogenik ikan nilem pada kondisi in vitro. Penelitian ini dilakukan secara ekperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan yaitu tanpa penambahan tiroksin (kontrol), penambahan tiroksin 15 ng.mL-1, penambahan tiroksin 30 ng.mL-1, dan penambahan tiroksin 45 ng.mL-1. Setiap perlakuan diulang sebanyak 6 kali. Parameter yang diukur berupa proporsi dan viabilitas sel-sel spermatogenik. Hasil perhitungan proporsi sel spermatogenik ikan nilem yang dikultur kontrol dan dengan penambahan konsentrasi tiroksin yang berbeda (15 ng.mL-1, 30 ng.mL-1 dan 45 ng.mL-1) berturut-turut, yaitu pada spermatogonia 0,403±0,198%, 0,275±0,135%, 0,060±0.079%, 0,074±0,098%; spermatosit 8,325±6,140%, 6,138±3,127%, 10,789±5,536%, 2,323±1,291%; spermatid 9,928±4,853%, 5,767±1,668%, 7,499±1,929%, 2,967±0,423%; dan spermatozoa 2,642±6,549%, 11,751±5,741%, 25,045±8,204%, 23.525±8,450%. Viabilitas sel dalam fragmen testis yang dikultur kontrol dan dengan penambahan konsentrasi tiroksin yang berbeda (15 ng.mL-1, 30 ng.mL-1, dan 45 ng.mL-1) berturut-turut adalah 99,640±0,298%, 99,8548±0,180%, 99,894±0,110%, 99,969±0,039%. Data tersebut menunjukkan bahwa penambahan hormon tiroksin sebesar 15-45 ng.mL-1 menurunkan proporsi spermatogonia (p<0,01), spermatosit (p<0,05), spermatid (p<0,01), namun meningkatkan proporsi spermatozoa (p<0,05) dan viabilitas sel (p<0,05) dalam fragmen testis ikan nilem. Hasil ini mengindikasikan bahwa tiroksin memiliki peranan dalam spermatogenesis ikan nilem.Development of spermatogenic cell needs involvement of gonadotrophin hormone and testosterone. In addition to gonadotrophin and testosterone, there is another hormone plays a role in spermatogenesis, namely the thyroxine. Role of thyroxine in the spermatogenesis of hard-lipped barb is not known yet therefore it is necessary to do research. The aims of this study were to evaluate the spermatogenic cells development in invitro condition using medium containing different concentrations of thyroxine and to determine concentration of thyroxine suitable for the hard-lipped barb spermatogenic cells development in invitro condition. This study was conducted experimentally using Complete Randomized Design (CRD) consisted of four treatments: control (without thyroxine), 15 ng.mL-1 thyroxine, 30 ng.mL-1 thyroxine, and 45 ng.mL-1 thyroxine. Each treatment was repeated six times. The parameters were the proportion and viability of spermatogenic cells. The results showed that the proportion of spermatogenic cell of the control and the treated groups (15 ng.mL-1, 30 ng.mL-1 and 45 ng.mL-1) were spermatogonia 0,403±0,198%, 0,275±0,135%, 0,060±0.079%, 0,074±0,098%; spermatocyte 8,325±6,140%, 6,138±3,127%, 10,789±5,536%, 2,323±1,291%; spermatid 9,928±4,853%, 5,767±1,668%, 7,499±1,929%, 2,967±0,423%; and spermatozoa 2,642±6,549%, 11,751±5,741%, 25,045±8,204%, 23.525±8,450% respectively. Cell viability in the testes fragment of the control and the treated groups (15 ng.mL-1, 30 ng.mL-1, dan 45 ng.mL-1 thyroxine) were 99,640±0,298%, 99,8548±0,180%, 99,894±0,110%, 99,969±0,039% respectively. These result showed that addition of 15 ng.mL-1 to 45 ng.mL-1 thyroxine decreased spermatogonia (p<0,01), spermatocyte (p<0,05), and spermatid (p<0,01) proportions, on the other hand the thyroxine increased the proportion of spermatozoa (p<0,05) and cell viability (p<0,05) in testes fragment. These results indicated that thyroxine has an important role in spermatogenesis of hard-lipped barb.
1618219488F1B010115IMPLEMENTASI KEBIJAKAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG PENDIDIKAN MENENGAH di SMAN 1 RAWALO KABUPATEN BANYUMAS Penelitian ini menganalisis implementasi standar pelayanan minimal bidang pendidikan pada Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Rawalo di Kabupaten Banyumas. Penelitian ini mengunakan metode kualitatif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan implementasi kebijakan Standar Pelayanan Minimal di SMAN 1 Rawalo Kabupaten Banyumas.
Menurut Edward III, faktor-faktor yang menentukan implementasi suatu kebijakan adalah komunikasi, sumber daya manusia dan keuangan, disposisi dan birokrasi. Pada aspek komunikasi, beberapa usulan dari pihak SMAN 1 Rawalo diterima oleh pemerintah kabupaten, aspek sumber daya manusia, pihak sekolah masih kekurangan guru yang tersertifikasi, dan kebutuhan terhadap pembiayaan penyelenggaraan pendidikan sudah terpenuhi, aspek disposisi, pengawasan masih belum maksimal karena pemerintah kabupaten, dan aspek birokrasi, keberadaaan Balai Pengendalian Pendidikan Menengah dan Khusus (BP2MK) menjadi jawaban atas hambatan secara struktural.
Hasil dari penelitian ini mendeskrispsikan penerapan kebijakan standar pelayanan minimal pada jenjang pendidikan menengah pada SMAN 1 Rawalo di Kabupaten Banyumas. Standar pelayanan minimal memiliki indikator yang harus dicapai oleh SMAN 1 Rawalo. Terpenuhi indikator-indikator tersebut menjadi dasar dalam penilaian terhadap penerapan kebijakan pada bidang pendidikan menengah. SMAN 1 Rawalo hanya mampu mencapai 70% indikator. Selain itu, terdapat juga faktor-faktor yang mempengaruhi penerapan kebijakan tersebut. Kelemahan pada implementasi SPM Pendidikan Menengah di SMAN 1 Rawalo terletak pada problem sumberdaya manusia.
Kesimpulan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan standar pelayanan minimal pada SMAN 1 Rawalo belum mampu memenuhi seluruh indikator. Keberadaan BP2MK merupakan solusi atas perubahan kewenangan penyelenggaraan pendidikan menengah dari kabupaten ke provinsi.
This research analyzes implementation of minimum service standard on education in State High School (Sekolah Menengah Atas Negeri, SMAN) 1 Rawalo in the Regency of Banyumas. This research uses qualitative method. it aims to comprehend and describe implementation of Minimum Service Standard in SMAN 1 Rawalo in the Regency of Banyumas.
According to Edward III, there are some factors that determinate implementation. Those factors are communication, human and finance resources, dispotition and bureaucracy. For the communication aspect, some proposals from SMAN 1 Rawalo are accepted by Regency Government. For the human resource aspect the school is still lacked of certified teachers. Meanwhile, the necessity of education financing is fulfilled. For the dispotition aspect, the supervision from the regency government has not been yet potential. Last, for bureaucracy aspect Middle and Special Education Control Center (Balai Pengendalian Pendidikan Menengah dan Khusus, BP2MK) solves the structural issues.
Result of this research describes implementation of minimum service standard on middle education level in SMAN 1 Rawalo in the Regency of Banyumas. The minimum service standard has several indicators that must be achieved. The achievement becomes the basis of assessment of policy implementation on middle education level. SMAN 1 Rawalo can only achieve 70% of the indicators. Besides, there are several factors that affect the policy implementation. The weakness of implementation of minimum service standard in SMAN 1 Rawalo is caused by human resources problem.
This research concludes the minimum service standard of SMAN 1 Rawalo has not accomplished all the indicators. The BP2MK is the solution for shift of authority of middle education from Regency to Province.
1618319499C1L012023The Effect of Profitability, Leverage, and Environmental Performance on Environmental Disclosure in Manufacturing Companies Listed in Indonesia Stock ExchangePerkembangan sektor industri memiliki peran penting dalam memberikan dampak positif terhadap perekonomian, namun disisi lain juga membawa efek negatif terhadap lingkungan yaitu semakin meningkatnya jumlah limbah industri yang berpotensi menimbulkan pencemaran sehingga dapat menyebabkan penurunan kualitas lingkungan. Kondisi tersebut membuat masyarakat membutuhkan informasi sejauh mana perusahaan telah melaksanakan aktivitas sosial dan lingkungannya untuk memastikan hak-hak mereka telah terpenuhi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh profitabilitas, leverage, dan kinerja lingkungan terhadap environmental disclosure.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bersumber dari data sekunder. Populasi dalam penelitian adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2013-2015 dan mengikuti PROPER tahun 2013-2015. Sampel dipilih menggunakan purposive sampling dan didapatkan 40 sampel perusahaan manufaktur. Periode penelitian ini dilakukan selama 3 tahun, sehingga total data sample yang diperoleh sebanyak 120 perusahaan manufaktur. Analisis data yang digunakan adalah Analisis Regresi Berganda.
Berdasarkan hasil penelitian maka diperoleh kesimpulan bahwa variabel profitabilitas, dan kinerja lingkungan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap environmental disclosure. Sedangkan variabel leverage memiliki pengaruh positif tidak signifikan terhadap environmental disclosure.
Development of industrial sector also had a negative impact on the environment such as increasing the amount of industrial waste that could potentially lead to environmental degradation. These conditions make the public needs information which the company has been carrying out its social and environmental activities to ensure their rights are met. The research objectives of this study are to analyze the effect of profitability, leverage, and environmental performance on environmental disclosure.
This is quantitative research with secondary technique as the data resources. The population in this research is manufacturing companies listed on the Indonesia Stock Exchange in 2013-2015 and follow PROPER years 2013-2015. Samples were selected using purposive sampling and obtained 40 samples of manufacturing companies. Period of this research conducted for 3 years, so the total of sample data obtained is 120 manufacturing companies. Analysis of the data used is Multiple Regression Analysis.
Based on the research results can be concluded that the variables of profitability and environmental performance has a positive and significant impact on environmental disclosure. While leverage variables have a positive influence not significant to environmental disclosure.
1618419500F1I013017Efektivitas CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) Dalam Menangani Perdagangan Ilegal Harimau Sumatera Tahun 2007-2016Penelitian ini berjudul “Efektivitas CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) Dalam Menangani Perdagangan Ilegal Harimau Sumatera Tahun 2007-2016”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi CITES di Indonesia terhadap perdagangan satwa liar yang bersifat komersial, khususnya harimau Sumatera. Dalam hal ini Indonesia mendapatkan ancaman “total trade ban” dari Sekretariat CITES.Namun saat ini Indonesia melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan populasi satwa liar.
Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa CITES secara efektif mengatasi perdagangan ilegal harimau Sumatera, hal ini dilihat dari perubahan Indonesia untuk merevisi Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 yang merupakan landasan hukum pelaksanaan CITES di Indonesia. Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 ini dianggap belum sesuai dengan Article 8 CITES, seperti tidak ada perlindungan hukum yang memadai untuk satwa liar yang tidak dilindungi didalam Undang-Undang tersebut
This research entitled "The Effectiveness of CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) in Handling Illegal Trade of Sumatran Tiger by The Year 2007-2016". This research aims to determine the implementation of CITES in Indonesia to the commercial wildlife trade, especially the Sumatran tiger. In this case Indonesia is getting the threat of "total trade ban" from the CITES Secretariat. However, Indonesia is making efforts to increase the wildlife populations.
The results of this research can be concluded that CITES effectively tackles the illegal trade of Sumatran tigers, as seen from Indonesia's changes to revise Law no. 5 of 1990 which is the legal basis for the implementation of CITES in Indonesia. Law no. 5 of 1990 is deemed incompatible with Article 8 CITES, as there is no adequate legal protection for wildlife that is not protected under the Act.

1618519501I1F015068PENGARUH PENGATURAN QUICK OF BLOOD (QB) BERDASARKAN KADAR HEMOGLOBIN TERHADAP UREUM REDUCTION RATIO (URR) PADA PASIEN HEMODIALISA RSUD BANYUMAS PENGARUH PENGATURAN QUICK OF BLOOD RATE (QB)
BERDASARKAN KADAR HEMOGLOBIN TERHADAP
UREUM REDUCTION RATIO (URR) PADA PASIEN
HEMODIALISA RSUD BANYUMAS

Sustriyani¹ Iwan Purnawan² Atyanti Isworo²

ABSTRAK

Latar Belakang: Hemodialisis merupakan salah satu terapi pengganti ginjal pada pasien gagal ginjal kronis (GGK) yang bertujuan membuang sampah nitrogen, sisa metabolisme, dan penarikan cairan. Anemia merupakan komplikasi yang sering muncul pada GGK. Pada kondisi anemia oksigen ke jaringan tubuh terganggu. Ureum Reduction Urea (URR) merupakan parameter adekuasi hemodialisis paling sederhana. Quick of blood rate (QB) berpengaruh terhadap URR. Pengaturan QB dengan memperhatikan kadar hemoglobin bertujuan untuk mengurangi komplikasi intradialisis (nyeri dada, hipotensi, kram otot)

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengaturan QB berdasarkan kadar hemoglobin terhadap URR pada pasien hemodialisis.

Metode: Penelitian ini menggunakan quasi experiment dengan posttest only with control group design. Pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Besar sampel 60 responden. Analisa data menggunakan uji t independent.

Hasil: : Mayoritas responden penelitian adalah laki-laki (66,7%). Rerata usia responden 48,6 tahun. Rerata kadar hemoglobin pada kelompok kontrol (9,65r/dl), kelompok intervensi (9,67gr/dl). Rata-rata Berat Badan (BB) responden kelompok kontrol (59,4kg), rerata BB kelompok intervensi (57,2). Rerata QB responden kelompok kontrol (247,0cc/menit), rerata QB kelompok intervensi (239,2cc/menit). Rerata URR pada kelompok kontrol (70,87%), pada kelompok intervensi (54,77%). Hasil analisis uji t independent menunjukkan nilai p=0,000, yang artinya ada perbedaan yang signifikan antara pengaturan QB berdasarkan kadar hemoglobin dan BB.

Kesimpulan: Pengaturan QB berdasarkan kadar hemoglobin efektif untuk pencapaian hemodialisis yang adekuat dengan parameter URR dibandingkan dengan pengaturan QB berdasarkan BB
THE EFFECT OF QUICK OF BLOOD RATE (QB) SETTING TO UREUM REDUCTION RATIO (URR) BASED ON HEMOGLOBIN CONDITIONS ON HEMODIALIZED PATIENTS IN BANYUMAS GENERAL HOSPITAL
Sustriyani1 Iwan Purnawan2 Atyanti Isworo3
ABSTRACT
Background: Hemodialysis is one of renal replacement therapy in patients with chronic renal failure (CRF) aimed at disposing of nitrogen waste, residual metabolism, and liquid withdrawal. Anemia is a frequent complication of CRF. In the condition of anemia, oxygen to the body tissue is disturbed. Ureum Reduction Urea (URR) is the simplest parameter of hemodialysis adequacy. Quick of blood rate (QB) effected to URR. QB regulation with regard to hemoglobin level aims to reduce intradialysis complications (chest pain, hypotension, .)
Objective: This study aims to determine the effect of regulating QB based on hemoglobin levels on URR in hemodialysis patients.
Method: This study used quasi experiment with postest only with control group design. Sampling used simple random sampling. Sample size was 60 respondents. Data analysis using independent t test.
Results: The majority of respondents to the study were men 66.7%. Mean age of respondent 48,6 years, Mean of hemoglobin level in control group (9,65 gr/dL) intervention group (9,67gr/dL). Average Weight of control group respondents (59.4 kg) of mean intervention group (56,7 kg). Mean of QB of control group respondents (247,0 cc/min), mean QB intervention group (239,2 cc/min), mean of URR in control group (70,87%), intervention group (54,77%). T independent indicates the value ( p = 0.000 )
Conclusions: QB setting with regard to effective hemoglobin levels for achieving adequate hemodialysis with URR parameters compared with QB setting based on weight.
1618619502C1C013050EVALUASI PENENTUAN HARGA POKOK PRODUKSI PADA PENGRAJIN VCO DAN NATA DI BUMDes SUN COCO KECAMATAN PETANAHAN KABUPATEN KEBUMENPenelitian ini merupakan penelitian kuantitatif berjudul “Evaluasi Penentuan Harga Pokok Produksi Pada Pengrajin VCO dan Nata di BUMDes Sun Coco Kecamatan Petanahan Kabupaten Kebumen”. Tujuan penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui keakuratan harga pokok produksi yang dihitung oleh pengrajin VCO berdasarkan pada metode full costing, (2) Untuk mengetahui keakuratan harga pokok produksi yang dihitung oleh pengrajin Nata berdasarkan pada metode full costing.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pengrajin yang terdaftar di BUMDes Sun Coco. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara dan observasi.
Hasil Penelitian menunjukkan bahwa perhitungan harga pokok produksi oleh pengrajin VCO sudah akurat berdasarkan metode full costing. Sedangkan perhitungan harga pokok produksi oleh pengrajin Nata belum akurat berdasarkan metode full costing. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman pengrajin nata mengenai perhitungan harga pokok produksi belum memadai sehingga diperlukan pelatihan mengenai akuntansi khususnya perhitungan harga pokok produksi.
This research is a quantitative research entitled "Evaluation Determination of Cost of Good Manufactured On VCO and Nata Craftsmen in BUMDes Sun Coco District Petanahan Kebumen". The purpose of this study are (1) To know the accuracy of cost of goods manufactured which according to the VCO craftsmen based on full costing method, (2) To know the accuracy of cost of goods manufactured according to Nata craftsman based on full costing method.
The population in this study are all craftsmen registered in BUMDes Sun Coco. Sampling technique in this research use purposive sampling technique. Data completion technique in this research use interview and observation.
The results showed that the cost of production by VCO craftsmen is accurate with full costing method. The calculation of the cost of production by Nata craftsmen has not accurated yet based on full costing method. This research shows that the understanding of nata craftsmen about cost of production calculation inadequate so it is required to hold a training about accounting especially on cost of production calculation.
1618719503F1A010091KEHIDUPAN PENGUSAHA KNALPOT DI PESAYANGAN KABUPATEN PURBALINGGA
(Studi tentang Perilaku Kewirausahaan Pengusaha Knalpot
Di Dukuh Pesayangan Kelurahan Purbalingga Lor Kecamatan Purbalingga Kabupaten Purbalingga)

RINGKASAN
Keinginan untuk mengembangkan usaha tentu saja perlu dukungan jiwa kewirausahaan. Jiwa kewirausahaan inilah yang akan mengantar dirinya menuju sebuah kreatifitas dan kemajuan. Sistem produksi knalpot yang masih mengandalkan proses manual atau dikerjakan dengan tangan, namun tidak membuat industri ini kalah saing, dan bahkan masih bertahan sampai saat ini. Berdasarkan kondisi tersebut, maka penelitian yang berjudul “Kehidupan Pengusaha Knalpot Di Pesayangan Kabupaten Purbalingga (Studi tentang Perilaku Kewirausahaan Pengusaha Knalpot Di Pesayangan Kelurahan Purbalingga Lor Kecamatan Purbalingga Kabupaten Purbalingga)” bertujuan mengetahui perilaku kewirausahaan pengusaha knalpot di Pesayangan Kabupaten Purbalingga dalam mengembangkan usahanya sampai saat ini.
Sasaran penelitian ini yaitu pelaku wirausaha industri knalpot di Pesayangan Purbalingga. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah interaktif.
Hasil penelitian diketahui bahwa usaha knalpot di Pesayangan Purbalingga sampai saat ini masih eksis sebagai akibat drai komiten dari pengusaha untuk memajukan usaha ini. Walaupun diantara pengusaha berawal dari usaha warisan, namun dengan tanggung jawab dan keinginan untuk maju akhirnya usaha ini tetap ada dan menjadikan Purbalingga sebagai Kota Produksi Knalpot. Jiwa wirausaha pengusaha knalpot diwujudkan dengan terus mencari peluang pemasaran baik di tingat lokal maupun nasional. Hal ini dilakukan melalui pemasaran secara online dan juga door to door ke beberapa bengkel. Kepercayaan diri yang kuat menjadi usaha ini dapat meningkat tiap tahunnya, yang tidak terlepas dari kualitas knalpot yang diproduksi. Orientasi ke masa depan dan juga sellau belajar drai kegagalan membuat pengusaha knalpot memiliki karakter yang kuat dalam berwirausaha, terlebih lagi dengan menerapkan kepemimpinan yang mampu memotivasi dan memberikan kesempatan kepada pekerja untuk berkreativitas.
Kegagalan pernah dialami oleh pengusaha knalpot dan hal ini menjadi pelajaran berharga bagi mereka. Semua itu semata-mata keinginanyang kuat dan masih berharap banyak dari usaha kanlpot ini di masa mendatang. Kaerna itulah untuk mendukung kesuksesan industri kanlpot di masa mendatang maka perlu dukungan pemerintah daerah (kabupaten dan provinsi bahkan nasional) melakukan pembinaan usaha terhadap industri knalpot ini baik berupa pemberian bantuan maupun penyuluhan dan pelatihan terhadap sumber daya manusia (SDM) secara intensif, termausk juga bantuan alat modern sehingga akan berimbas pada kualitas produk.

Kata kunci: Efektivitas, Pembinaan UMKM.

SUMMARY


The desire to develop a business certainly needs the support of entrepreneurial spirit. This entrepreneurial spirit will lead to a creativity and progress. Exhaust production systems that still rely on manual processes or done by hand, but do not make this industry less competitive, and even still survive to this day. Under these conditions, the study entitled "Life Entrepreneurs Muffler In Pesayangan The Purbalingga (Study on Behavior Entrepreneurship Entrepreneur Muffler In Pesayangan village Purbalingga Lor District of Purbalingga The Purbalingga)" aims to study the behavior of entrepreneurial businessman exhaust in Pesayangan The Purbalingga in developing its business to date .
The target of this research is the entrepreneur of the exhaust industry in Pesayangan Purbalingga. Data analysis method used in this research is interactive.
The survey results revealed that the exhaust business in Pesayangan Purbalingga until today still exists as a result drai komiten of entrepreneurs to advance this effort. Although among entrepreneurs originated from legacy businesses, but with responsibility and desire to advance this effort ultimately remain and make Purbalingga as Production City Muffler. The entrepreneurial spirit of the exhaust entrepreneur is realized by continuously searching for marketing opportunities both at local and national level. This is done through online marketing and also door to door to several workshops. Strong confidence into this business can increase every year, which can not be separated from the quality of the exhaust produced. Orientation to the future and learn drai sellau also make employers exhaust failure has a strong character in entrepreneurship, especially by applying a leadership that can motivate and provide the opportunity for workers to creativity.
Failure has ever been experienced by exhaust entrepreneurs and this becomes a valuable lesson for them. All of it is solely keinginanyang strong and still hope much from this business kanlpot in the future. Kaerna that is to support the success of the kanlpot industry in the future it is necessary to support the local government (district and provincial and even national) to conduct business development on this exhaust industry either in the form of assistance and counseling and training on human resources (HR) intensively, Modern tools that will impact on product quality.

Keywords: Effectiveness, Development of UMKM.


1618819505C1J013010Strategy of BAZNAS on Poverty Alleviation in Banyumas DstrictKemiskinan masih menjadi masalah polemik di Kabupaten Banyumas. Berdasarkan data pada beberapa tahun terakhir tingkat kemiskinan di Banyumas mengalami peningkatan. Jika dibandingkan dengan angka kemiskinan 35 Kabupaten / Kota di Provinsi Jawa Tengah, pada tahun 2015 tingkat kemiskinan di Kabupaten Banyumas berada di peringkat 8 tertinggi. Dilihat dari Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2), capaian di Kabupaten Banyumas cukup tinggi. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) di Kabupaten Banyumas berada di peringkat 8 termiskin dari 35 kabupaten / kota di Provinsi Jawa Tengah sedangkan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2), Kabupaten Banyumas berada di peringkat 11 termiskin. Selanjutnya, berdasarkan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskian (TNP2K) menunjukkan masing-masing Kecamatan di Kabupaten Banyumas didominasi oleh penduduk dengan 10% kesejahteraan terendah di Indonesia. Hal ini mengindikasikan bahwa Kabupaten Banyumas masih dikategorikan sebagai kabupaten miskin. Prosentase tingkat kemiskinan antar kecamatan di perkotaan dan kecamatan di perdesaan di Kabupaten Banyumas memiliki perbedaan yang sangat signifikan. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan yang tinggi antara kecamatan perkotaan dan kecamatan perdesaan di Banyumas.
Penelitian ini menggunakan metode campuran yang menggabungkan penelitian kualitatif dan kuantitatif. Teknik Pengumpulan data yang dilakukan menggunakan kuesioner yang dibagikan kepada pegawai BAZNAS Banyumas, instansi pemerintah daerah yang memiliki sinergi dengan BAZNAS Banyumas dan organisasi non pemerintah di Kabupaten Banyumas. Selain itu, wawancara mendalam dilakukan untuk mendapatkan lebih banyak uraian dan penjelasan. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Banyumas. Metode pengambilan sampel menggunakan purposive sampling yang mewakili pegawai BAZNAS Banyumas, Kementerian Agama di Kabupaten Banyumas, Dinas Sosial, Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Daerah, Tokoh Masyarakat, dan Akademisi . Total responden dari teknik pengumpulan data ini adalah tujuh (7) responden. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif statistik, deskriptif kualitatif, dan matriks Strength-Weakness-Opportunity-Threath (SWOT).
Hasil analisis menunjukkan bahwa kemiskinan masih merupakan masalah yang berkelanjutan di Kabupaten Banyumas. Tingkat kemiskinan di Kabupaten Banyumas masih lebih tinggi dari tingkat rata-rata. Dilihat dari Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2), capaian di Kabupaten Banyumas cukup tinggi. Data dari Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) juga menunjukkan jumlah <40% kesejahteraan terendah di Kabupaten Banyumas adalah 790.550 penduduk, sama dengan 48.77% dari total penduduk Banyumas. BAZNAS Banyumas memiliki peran penting dalam pengentasan kemiskinan melalui pengelolaan dana zakat. BAZNAS Banyumas melaksanakan program dan kegiatan untuk meningkatkan kualitas kehidupan mustahik. Pada pengentasan kemiskinan di Kabupaten Banyumas, BAZNAS mendistribusikan kebutuhan makanan pokok, biaya perawatan medis, kompensasi orang-orang miskin, kompensasi sebelum hari raya renovasi rumah tidak layak huni, kompensasi kepada orang-orang berutang (ghorim) biaya pendidikan untuk siswa-siswi miskin , Pelatihan kejuruan, kewirausahaan, peternakan, dan bantuan modal. Matriks SWOT menghasilkan empat strategi yaitu Strength-Opportunity (SO Strategy) yaitu dengan cara meningkatkan intensitas kerja sama antar BAZNAS Kabupaten Banyumas dengan pihak eksternal instansi pemerintah, Weakness-Opportunity (WO Strategy) yaitu dengan cara memperbaiki manajemen BAZNAS, Strength-Threath (ST Strategy) yaitu dengan cara melakukan sosialisasi dan pengarahan terkait dengan program yang dijalankan, dan Weakness-Threath (WT Strategy) yaitu dengan cara memperbaiki sistem perencanaan yang terkait dengan program.
Implikasi dari analisis di atas adalah yang pertama, kemiskinan harus segera diatasi karena kemiskinan merupakan masalah polemik. Instansi Pemerintah dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Banyumas dapat bersinergi untuk mengatasi masalah kemiskinan di Banyumas. Kedua, BAZNAS Banyumas dapat menjalankan program secara intensif dan lebih beragam serta kreatif melalui pendekatan religius. Selain itu, BAZNAS Banyumas juga perlu melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap program tersebut. Ketiga, BAZNAS harus memperhatikan poin-poin SWOT. Dengan maksimalisasi kekuatan untuk meraih peluang, meminimalkan kelemahan untuk mendapatkan lebih banyak peluang, meningkatkan kekuatan untuk menghindari ancaman, dan meminimalkan kelemahan sehingga ancaman dapat dihindari.
Poverty is still a polemical problem in Banyumas District. Based on recent data, in recent years the poverty rate in Banyumas has increased. When it is compared with the poverty rate of thirty-five Districts /Cities in Central Java Province, in 2015 the poverty rate in Banyumas District is ranked 8th highest. Judging from the Poverty Depth Index (P1) and Poverty Severity Index (P2), Banyumas District achievement figures are high. The Poverty Depth Index (P1) of Banyumas District is ranked 8th poorest of the thirty-five districts /Cities in Central Java Province while Poverty Severity Index (P2), Banyumas District is ranked 11th poorest. Further, based on Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskian (TNP2K) showed each Sub-District in Banyumas District is dominated by population whom lowest 10% of prosperity in Indonesia. It indicates that Banyumas District is still categorized as a poor district. The percentage rate of poverty number in each classification between urban sub-district and rural sub-district in Banyumas District has a very significant difference. It means there is high gap between urban sub-districts and rural sub-districts in Banyumas.
This research uses mixed methods which combine qualitative and quantitative research. Data collection Technique conducted uses questionnaires that distributed to employees of BAZNAS Banyumas, local government institutions that have synergies with BAZNAS Banyumas and islamic non-government organizations in Banyumas District. Moreover, indepth interview is conducted to get more descriptions and understandings. This research is conducted in Banyumas District. Method of sampling uses purposive sampling that represents employees of BAZNAS Banyumas, Ministry of Religious Affairs in Banyumas, Social Services (Dinas Sosial), People’s Welfare of Banyumas Local Government (Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Daerah), Banyumas Community Leader (Tokoh Masyarakat), and Academician. The total respondent from this data collection technique is seven (7) respondents. Data analysis technique used is descriptive statistics, descriptive qualitative,and Strength-Weakness-Opportunity-Threath (SWOT) matrix.
The results of analysis shows that poverty is still a ongoing problem in Banyumas District. the poverty rate in Banyumas District is still higher than the average level. Judging from the Poverty Depth Index (P1) and Poverty Severity Index (P2), Banyumas District achievement figures are high. The data from Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) also shows the total number of the lowest <40% of prosperity in Banyumas District is 790,550 population, it is 48.77% from the total of Banyumas population. BAZNAS Banyumas has significant role on poverty alleviation through zakat fund management. BAZNAS Banyumas carries out programs and activities to improve the quality of mustahik life. On poverty alleviation in Banyumas District, BAZNAS distributes basic needs of food, cost of medical treatment, montly poor people compensation, compensation before Ied annually, renovation of improper house, compensation to the owed people (ghorim), tuition fees aids for the poor student, vocational training, entrepreneurship, cattle breeding, and capital assistance. SWOT Matrix results four strategies which are Strength-Opportunity (SO Strategy) which means to increase intensity of cooperation between BAZNAS Banyumas District with external parties of government institutions, Weakness-Opportunity (WO) which means to improve BAZNAS management, Strength-Threath (ST Strategy) which means to conduct socialization and direction related to the programs being run, and Weakness-Threath (WT Strategy) which means to improve planning systems related to the programs.
The implications from analysis above are the first, problem should be overcome soon since poverty is a polemic problem. Government institution and Non Government Institution (NGO) in Banyumas can hand in hand to solve the poverty problem in Banyumas. Second, BAZNAS Banyumas can run the programs intensively and more various and creative through religious approach. Beside it, BAZNAS Banyumas also need to conduct monitoring, advise and evaluation on those programs. Third, BAZNAS should concern on SWOT points. By strengths maximization to achieve opportunities, minimizing weaknesses to earn more opportunities, increasing the strengths to avoid the threaths, and minimizing the weaknesses then avoid the threaths.
1618919506F1D010031REFLEKSI KESENIAN LOKAL DALAM KAJIAN POLITIK KEBUDAYAAN KONTEMPORER MELALUI EKSISTENSI TARI LENGGER LANANG SEBAGAI IDENTITAS BUDAYA LOKAL DI KABUPATEN BANYUMASArtikel hasil penelitian ini bertujuan untuk antara lain: 1) memahami dan mendeskripsikan refleksi kesenian lokal dalam kajian politik kebudayaan kontemporer melalui eksistensi tari lengger lanang sebagai identitas budaya lokal di Kabupaten Banyumas; 2) mengetahui dan menjelaskan signifikasi eksistensi tari lengger lanang tersebut dalam merefleksikan identitas budaya lokal di Banyumas.
Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan fenomenologi dalam bingkai perspektif pascastrukturalias dan paradigma non positivisme, hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa adanya kesenian tari lengger lanang di Kabupaten Banyumas telah memiliki komodifikasi dalam perkembangannya. Dahulu kala tari lengger lanang dijadikan sebagai sarana ritual perwujudan syukur dan pemujaan terhadap dewi kesuburan, namun di era kontemporer telah menjadi salah satu kesenian populer di masyarakat tanpa adanya tahapan-tahapan yang mencerminkan identitas budaya lokal di Banyumas. Adapun pengaruh perubahan dari esensi tari lengger lanang disebabkan dari beberapa faktor yakni agama, politik dan sosial. Perubahan ini kemudian menjadi indikator signifikasi tari lengger lanang sebagai tari yang telah jauh berubah dari keaslian budaya lokal di Kabupaten Banyumas.

This research-based paper aims at 1) understand and describe the reflection of local art in the study of contemporary cultural politics through the existence of lengger lanang dance as a local cultural identity in Banyumas Regency; 2) to know and explain the significance of the existence of lengger dance lanang in reflecting the local cultural identity in Banyumas. By using a qualitative method and phenomenological approach in the framework of the post-structural perspective and the non-positivist paradigm, the result of the research reveals that the art of lengger lanang dance in Banyumas Regency has commodified in its development. Formerly, lengger lanang dance was used as a means of ritual of the embodiment of gratitude and worship of the goddess of fertility, but in the contemporary era has become one of the popular art in the community without any stages that reflect the local cultural identity in Banyumas. The influence of the change of lengger dance essence lanang caused by several factors namely religion, politics and social. This change then becomes indicator of lengger lanang dance significance as a dance that has been much changed from the authenticity of local culture in Banyumas Regency.

1619019507C1F015044Analisis Perbedaan Kinerja Pemeriksa Berdasarkan Gender pada Perwakilan BPKP Provinsi Sulawesi TenggaraPenelitian ini merupakan penelitian survei terhadap auditor di lingkungan kerja Perwakilan BPKP Provinsi Sulawesi Tenggara. Penelitian ini mengambil judul “Analisis Perbedaan Kinerja Pemeriksa Berdasarkan Gender pada Perwakilan BPKP Provinsi Sulawesi Tenggara”.
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan bukti secara empiris atas perbedaan kinerja antara auditor pria dan wanita pada Perwakilan BPKP Provinsi Sulawesi Tenggara dalam perspektif komitmen organisasi, komitmen profesi, motivasi, kesempatan kerja, kepuasan kerja, dan tekanan pekerjaan.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh auditor dalam lingkungan kerja Perwakilan BPKP Provinsi Sulawesi Tenggara. Jumlah responden yang diambil dalam penelitian ini adalah 45 responden terdiri dari 25 auditor pria dan 20 auditor wanita. Metode sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah sample jenuh.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data dengan menggunakan aplikasi for windows 11, didapatkan hasil sebagai berikut: (1) Terdapat perbedaan signifikan antara auditor pria dan wanita dalam hal komitmen organisasi, (2) Tidak terdapat perbedaan signifikan antara auditor pria dan wanita dalam hal komitmen profesi, (3) Tidak terdapat perbedaan signifikan antara auditor pria dan wanita dalam hal motivasi, (4) Terdapat perbedaan signifikan antara auditor pria dan wanita dalam hal kesempatan kerja, (5) Terdapat perbedaan signifikan antara auditor pria dan wanita dalam hal kepuasan kerja, dan (6) Terdapat perbedaan signifikan antara auditor pria dan wanita dalam hal tekanan pekerjaan.
Implikasi dari hasil penelitian ini yaitu, baik auditor pria maupun wanita memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing di mana hal tersebut dapat saling melengkapi dalam suatu organisasi, oleh karena itu sangat perlu diperhatikan proporsi jumlah auditor pria dan wanita dalam satu kantor perwakilan secara umum maupun dalam satu bidang sehingga dapat dicapai kinerja yang optimal. Upaya yang dapat dilakukan oleh BPKP adalah perbaikan dalam sistem penerimaan sumber daya manusia, penempatan, dan mutasi pegawai.
This research is a survey research on the auditor at BPKP Representative of Southeast Sulawesi Province. This research entitled "Analysis of Performance Differences Based on Gender Performance at BPKP Representatives of Southeast Sulawesi Province".
This study aims to obtain empirical evidence of differences in performance between male and female auditors at BPKP representatives of Southeast Sulawesi Province in the perspective of organizational commitment, professional commitment, motivation, job opportunity, job satisfaction, and job pressure.
The population in this study are all auditors at BPKP Representatives of Southeast Sulawesi Province. The number of respondents taken in this study was 45 respondents consisted of 25 male auditors and 20 female auditors. The sampling method used in this research is saturated sample.
Based on the results of research and data analysis using application for windows 11, the following results are obtained: (1) There are significant differences between male and female auditors in terms of organizational commitment, (2) There is no significant difference between male and female auditors in terms of professional commitment , (3) There were no significant differences between male and female auditors in terms of employment, (5) There were significant differences between male and female auditors in terms of job satisfaction, and (6) There is a significant difference between male and female auditors in terms of job stress.
The implication of this research result is that both male and female auditors have each advantages and disadvantages where it can complement each other within an organization, therefore it is important to note the proportion of the number of male and female auditors in a representative office in general as well as in One field to achieve optimal performance. Efforts that can be made by BPKP are improvements in the system of human resources recruitment, placement, and mutation of employees.
1619119508G1F012083Cost Effectiveness Analysis Penggunaan Fondaparinux dan Heparin pada Pasien Sindrom Koroner Akut di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Tahun 2015-2016Fondaparinux dan heparin merupakan antikoagulan yang direkomendasikan untuk terapi pasien Sindrom Koroner Akut (SKA), dimana keduanya memiliki efektivitas dan harga yang berbeda. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui antikoagulan yang lebih cost-effective antara fondaparinux dan heparin pada pasien SKA dengan perspektif rumah sakit.
Penelitian ini merupakan rancangan penelitian non eksperimental secara retrospektif. Sampel diambil dari data rekam medik dan keuangan di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto secara total sampling. Biaya yang dihitung adalah biaya medis langsung, dan outcome klinis yang dilihat adalah persentase pasien yang tidak mengalami readmission selama 30 hari. Analisis biaya menggunakan metode Cost Effectiveness Analysis dengan menghitung nilai Average Cost-Effectiveness Ratio (ACER) dan nilai Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola penggunaan antikoagulan yang paling banyak adalah fondaparinux sebesar 58,5% dibandingkan dengan heparin sebesar 41,5%. Berdasarkan analisis efektivitas, persentase pasien yang tidak mengalami readmission, fondaparinux lebih besar dibandingkan heparin, yaitu masing-masing sebesar 93,5% dan 86,3%. Biaya medis langsung untuk kelompok fondaparinux dan heparin masing-masing sebesar Rp.6.986.599,- dan Rp.6.593.593,-. Nilai ACER untuk fondaparinux dan heparin masing-masing Rp.74.691,- dan Rp.76.350,-, sedangkan nilai ICER adalah Rp.54.586,-. Berdasarkan perbandingan nilai ICER dengan nilai thershold hasilnya kurang dari 3 kali nilai GDP per kapita, maka disimpulkan bahwa fondaparinux merupakan terapi yang cost-effective.


Fondaparinux and heparin are anticoagulant that recomended for Acute Coronary Syndrome (ACS) therapy. Fondaparinux is more effective but more expensive than heparin. This research aimed to evaluate cost effectiveness of fondaparinux versus heparin in patients with ACS from perspective of health provider (hospital).
This study used a non-experimental analytic with retrospective data. Research data were taken from medical and financial records of RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto using total sampling technique. Anticoagulant treatment was considered effective by measuring percentage of patient who did not have readmission within 30 days of discharge. Cost-Effectiveness Analysis was obtained by measuring the Average Cost-Effectiveness Ratio (ACER) and Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER).
The result showed that from 53 patients, drug use for ACS were fondaparinux (58,5%) and heparin (41,5%). Fondaparinux was more effective than heparin with the percentage outcome for fondaparinux and heparin was 93,5% and 86,3%, respectively. Direct medical cost for fondaparinux IDR 6,986,599.- and for heparin IDR 6,593,593.-. The ACER value of fondaparinux group and heparin were IDR 74,691.- and IDR 76,350.-, repectively. While, ICER of readmission 30 days was IDR 54,586.-. It can be oncluded that fondaparinux was cost-effective because ICER value less than threshold value which is three times of the GDP per capita.
1619219509C1C013011Analisis Perbandingan Kinerja Perbankan Syariah di Indonesia dan Bahrain Ditinjau dari Indeks Maqasid SyariahBank syariah ada untuk memenuhi kebutuhan akan transaksi perbankan yang halal dan bebas dari riba. Maka, kinerja perbankan syariah juga dapat diukur dari segi maqasid syariah untuk melihat sejauh mana pencapaiannya terhadap tujuan-tujuan syariah yang ada. Maqasid syariah adalah tujuan-tujuan disyariatkannya hukum oleh Allah SWT yang berintikan kemaslahatan umat manusia di dunia dan kebahagiaan di akhirat.
Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kinerja perbankan syariah di Indonesia dan Bahrain ditinjau dari segi maqasid syariah. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling, sehingga menghasilkan sebanyak 13 sampel Bank Umum Syariah (BUS) yang terdiri dari 7 BUS di Indonesia dan 6 BUS di Bahrain. Sumber data yang digunakan berupa laporan tahunan pada 2011 – 2016. Perbedaan kinerja perbankan syariah di kedua negara diukur menggunakan Indeks Maqasid Syariah dan dianalisa dengan menggunakan Uji Mann Whitney. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kinerja perbankan syariah di Indonesia lebih baik dibandingan dengan perbankan syariah di Bahrain yang ditunjukkan melalui perbedaan tingkat kinerja perbankan syariah di Indonesia dan Bahrain yang signifikan.
Islamic banks exist to fulfill the need of banking transaction which is halal and free from riba. So that, Islamic banking performance can also be measured in terms of maqasid sharia to see the extent to which its achievements to the goals of sharia. Maqasid sharia is the objectives of law made by Allah SWT which has the essence of the benefit of mankind in the world and happiness in the hereafter.
This study aims to compare the performance of Islamic banking in Indonesia and Bahrain in terms of maqasid sharia. This research was conducted on Islamic commercial banks in Indonesia and Bahrain and sampling was done by purposive sampling, resulting in 14 samples of Islamic commercial banks (BUS) that consist of 7 BUS in Indonesia and 6 BUS in Bahrain. This study uses annual reports from 2011 to 2016 as its data source. The difference of Islamic banking performance in both countries was measured using the Sharia Maqasid Index and was analyzed using Mann Whitney Test. The result of this study indicates that the performance of Islamic banking in Indonesia is better, compared to Islamic banking in Bahrain. Based on hypothesis testing, it showed that there was significant difference in the performance level of Islamic banking in Indonesia and Bahrain.
1619319510C1F015062PENGARUH SIKLUS ANGGARAN DAN KUALITAS SDM PENGELOLA ANGGARAN TERHADAP PENYERAPAN ANGGARAN (STUDI PADA UNIT KANTOR DJBC)Penelitian ini berjudul “Pengaruh Siklus Anggaran Dan Kualitas SDM Pengelola Anggaran Terhadap Penyerapan Anggaran (Studi Pada Unit Kantor DJBC).
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pegawai yang terlibat dalam pengelolaan anggaran di 144 satker/kantor Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Untuk menghitung ukuran sampel digunakan rumus Slovin yang menghasilkan ukuran sampel minimal 84 responden responden. Teknik pemilihan sampel dilakukan dengan cara disproportionate stratified random sampling. Kuesioner diuji validitas dan reliabilitasnya sebelum melakukan pengumpulan data penelitian. Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan statistik deskriptif kausatif, uji asumsi klasik dan analisis regresi berganda dengan menggunakan software IBM SPSS version 21.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data menunjukkan bahwa perencanaan anggaran, pelaksanaan anggaran, monitoring anggaran dan kualitas SDM pengelola anggaran (secara simultan) berpengaruh (signifikan) terhadap penyerapan anggaran. Nilai koefisien determinasi menunjukkan bahwa perencanaan anggaran, pelaksanaan anggaran, monitoring anggaran dan kualitas SDM pengelola anggaran (secara simultan) berpengaruh terhadap penyerapan anggaran sebesar 66,3 persen, sedangkan sisanya sebesar 33,7 persen dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini yaitu politik, pengesahan APBD, sistem administrasi, gender dan usia pejabat perbendaharaan. Perencanaan anggaran, pelaksanaan anggaran, monitoring anggaran dan kualitas SDM pengelola anggaran (secara parsial) berpengaruh (signifikan) terhadap penyerapan anggaran.
Implikasi penelitian ini adalah penyerapan anggaran yang optimal dapat diwujudkan dengan memperbaiki kualitas SDM pengelola anggaran dan memperbaiki proses pelaksanaan anggaran (dengan fokus pada kompensasi pengelola anggaran).
This research entitled "The Influence of Budget Cycle And Quality Of Human Resources Budget Management To Budget Absorption (Study On DJBC Office Unit).
The population in this study are all employees involved in budget management in 144 unit / office of Directorate General of Customs and Excise (DJBC). To calculate the sample size used Slovin formula that produces a sample size of at least 84 respondents. Sample selection technique is performed by disproportionate stratified random sampling. The questionnaire tested its validity and reliability before conducting research data collection. Methods of data analysis in this study using causative descriptive statistics, classical assumption test and multiple regression analysis using IBM SPSS software version 21.
Based on the results of research and data analysis shows that budget planning, budget execution, budget monitoring and quality of human resources budget (simultaneously) have an effect (significant) on budget absorption. The value of coefficient of determination shows that budget planning, budget execution, budget monitoring and the quality of human resources budget manager (simultaneously) affect the budget absorption of 66.3 percent, while the rest of 33.7 percent influenced by other variables not examined in this study ie Politics, APBD approval, administration system, gender and age of treasury officials. Budget planning, budget execution, budget monitoring and quality of human resources budget manager (partially) have an effect (significant) to the budget absorption.
The implication of this research is that optimal budget absorption can be realized by improving the quality of human resources of budget manager and improving budget execution process (focu swith on budget management compensation).
1619419511F1D012061ASPIRASI POLITIK KIAI PESANTREN TERHADAP DINAMIKA RELASI KEKUASAAN DI KABUPATEN BANYUMAS PASCA KHITTAH NAHDLATUL ULAMAPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang aspirasi politik kiai terhadap dinamika relasi kekuasaan di Kabupaten Banyumas pasca khittah NU. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan paradigma konstruktivisme dan pendekatan fenomenologi. Penelitian ini juga menggunakan teknik analisis kualitatif deskriptif, dalam model analisis interaktif Miles dan Huberman. Penelitian ini berfokus untuk menjelaskan tentang aspirasi politik kiaiterhadap relasi kekuasaan di Kabupaten Banyumas dan melihat sejauh mana ideologi politik Islam dalam mempengaruhi aspirasi politik kiai di Kabupaten Banyumas. Sasaran penelitian ini adalah tiga kiai di Kabupaten Banyumas yaitu KH. Ahmad Sobri (Pondok Pesantren Al Falah), KH. Chariri Sofa (Pondok Pesantren Darussalam), dan KH. Zuhrul Anam Hisyam (Pondok Pesantren At Taujieh Al Islamy) dan beberapa aktor yang terkait. Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling dan snowball sampling. Pengambilan data menggunakan wawancara mendalam kemudian divalidasi dengan metode trianggulasi data.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kiai memiliki peran penting dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat. Kiai tidak hanya sebagai pemangku budaya, kiai juga sebagai political broker. Di mana kiai mempunyai andil besar dalam kehidupan sosial politik masyarakatnya. Khittah NU 1926 membuka ruang bagi para kiai untuk bebas menentukan pandangan politiknya. Kiai di Kabupaten Banyumas memiliki hubungan yang cukup baik dengan pemerintah baik secara langsung ataupun tidak langsung. Dalam studi ini, tiga kiai tersebut sangat memiliki hubungan yang cukup dekat dengan pemerintah. Kedekatan kiai dengan pemerintah tidak membuat kiai terpengaruh dengan kehidupan politik/duniawi. Dalam setiap pengambilan keputusan, kiai tidak melepaskan nila-nilai ke-Islaman yang telah tertanam di dalam diri kiai
This study aims to describe the kiai's political aspirations to the dynamics of power relations in Banyumas Regency after the Khittah NU. This research uses qualitative research method with constructivism paradigm and phenomenology approach. This research also uses descriptive qualitative analysis techniques, in Miles and Huberman interactive analysis model. This study focuses on explaining the kiai's political aspirations on power relations in Banyumas regency and looking at the extent of Islamic political ideology in influencing the kiai's political aspirations in Banyumas district. The target of this research is three kiai in Banyumas Regency that is KH. Ahmad Sobri (Al Falah Islamic Boarding School), KH. Chariri Sofa (Darussalam Islamic Boarding School), and KH. Zuhrul Anam Hisyam (At Taujieh Al Islamy Islamic Boarding School) and several related actors. Selection of informants using purposive sampling technique and snowball sampling. Data collection using in-depth interviews is then validated by data triangulation method.
The results of this study indicate that kiai have an important role in all aspects of community life.Kiai not only as cultural stakeholders, but kiai also as a political broker.In here kiai have a big share in the socio-political life of their community. Khittah NU 1926 opened space for the kiai to freely determine his political views. Kiai in Banyumas Regency has a good relationship with the government either directly or indirectly. In this study, the three kiai are very close to the government. The kiai's closeness to the government does not make the kiai affected by political/worldly life. In any decision-making, the kiai does not release the Islamic values that have been embedded within the kiai.
1619519512F1D010038MEMBANGUN GOOD GOVERNANCE DI DESA : STUDY REKRUITMEN PERANGKAT DESA DI DESA SOKARAJA KULON, KECAMATAN SOKARAJA, KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2014Penelitian ini berjudul “Membangun Good Governance di Desa : Study Rekruitmen Perangkat Desa di Desa Sokaraja Kulon, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas Tahun 2014”, yang bertujuan untuk mengetahui dan memahami mekanisme rekruitmen dalam pemerintahan desa khususnya yang diterapkan di desa Sokaraja Kulon pada tahun 2014 dikaitkan dengan peraturan yang berlaku dan prinsip-prinsip Good Governance. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan Study Kasus. Data diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Data dianalisis menggunakan metode analisis model interaktif Miles dan Huberman.Teknik triangulasi data digunakan dalam penelitian ini untuk menjamin validitas data.
Hasil penelitian ini menjelaskan mekanisme rekruitmen perangkat desa yang dilaksanakan di Sokaraja Kulon pada tahun 2014 berjalan tetapi belum memenuhi prinsip Good Governance dan belum sesuai dengan peraturan yang ada. Hal tersebut ditunjukkan dengan reaksi negatif masyarakat tentang rekruitmen perangkat desa tersebut dilihat dari wawancara. Terbukti dengan banyaknya kejanggalan yang ditemukan dalam proses rekruitmen, dari sosialisasi yang tidak dijalankan dengan baik, biaya pendaftaran yang tinggi, pembebanan biaya kepada calaon terpilih sebanyak setengah dari total pembiayaan, hingga hasil akhir yang tidak transparan. Selain itu ditemukan juga peraturan tambahan yang dibuat oleh panitia pelaksana diluar peraturan bupati, dimana peraturan tersebut bukannya melengkapi tetapi beberapa justru seolah-olah mengganti peraturan yang ada.
This research, Establishing Good governance in village : A Study of 2014 Village Administrators Recruitment in Sokaraja Kulon, Sokaraja, Banyumas, is aimed to find out the recruitment mechanism in village governance, particulary the one which was applied in Sokaraja Kulon in 2014 related to the regulations and good governance principles. Qualitative method with case study approach was applied in this research. The data were taken from observations, interviews, and document studies. Milles and Huberman interactive model analysis method was used to analize the data. Data ttianggulation technique was applied to check the validity of the data.
The result of the researchshow 2014 village administrator recruitment mechanism in sokaraja kulon was managed well but did not fulfil good governance principles and was not in line with regulations as seen in the interviews. The interviews showed negative response from the society. It was also demonstrated on irregularities in the recruitment process, registration fee too expesive for common people, stuch as disorganised, regulation that obligated the electad candidate to take care a half of election committee total expense that sum up to a tens million rupiah, to add more disseminationand untrasparent result. There were also additioned regulations designed by the committee, and they seemed to change the existing regulations instead of adding them.


1619619513F1D012017PENGARUH STATUS SOSIAL EKONOMI TERHADAP PARTISIPASI POLITIK PETANI DI DESA KLINTING KECAMATAN SOMAGEDE KABUPATEN BANYUMAS DALAM PEMILIHAN PRESIDEN TAHUN 2014Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh status sosial ekonomi terhadap partisipasi politik petani di Desa Klinting, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas. Status sosial ekonomi dapat diukur dengan tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan seseorang, sedangkan partisipasi politik seseorang dapat diukur dengan intensitasnya mengikuti saat pra-voting, voting, dan paska voting.
Metode yang akan digunakan adalah kuantitatif. Sampel dalam penelitian ini adalah petani yang sudah mempunyai hak pilih pada saat pemilihan presiden tahun 2014. Jumlah sampel sebanyak 87 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan metode kuesioner, studi pustaka, dan observasi lapangan. Gambaran dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif, uji validitas menggunakan analisis Product Moment dan uji reliabilitas menggunakan Alpha Cronbach. Dalam penelitian ini datanya bersifat ordinal maka dari itu korelasinya menggunakan Korelasi Spearman dan Regresi Ordinal.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan jika Ho di tolak dan Hk diterima dengan nilai 0,356** yang menunjukan koefisien korelasi Rho Spearman antara status sosial ekonomi (X) dengan partisipasi politik petani (Y), dengan adanya tanda ** ini menunjukkan nilai sig. (2-tailed) pasti < 0,05. Nilai probabilitasnya adalah 0,001 ini berarti nilai probabilitasnya jauh di bawah 0,05. Besar pengaruh status sosial ekonomi terhadap partisipasi politiknya 8%, nilai estimatesnya semuanya naik. Artinya, status sosial ekonomi berpengaruh terhadap partisipasi politik petani di Desa Klinting, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas.
This research aims to know the influence of economic social status towards farmer political participation in Klinting Village, Somagede, Banyumas Regency. Samuel Huntington stated if someone has higher economic social status, it is also related to the political participation. Moreover, this research will show the readers whether the Samuel Huntington’s theory is still occur in Klinting Village on the Presidential election in 2014 or not. The researcher used quantitave method. The sample of this research were the farmers who had the right to join the Presidential election in 2014. It had 87 participants. The data were collected by questioner method, literature review and field observation. The illustration on this research used descriptive analysis, the validity test used Product Moment analysis and the reliablity test used Alpha Cronbach. The data on this research were ordinally, so the correlation was using Spearman Correlation and Regression ordinal.
The result of this research shows that if Ho is rejected and Hk is received with the value 0,356** which is showing the coefficient correlation Rho Spearman between the economic social status (X) towards former political participation (Y). The sign ** shows sig value. (2 tailed) exactly 0,05. The probability is 0,001. It means the probability is so far under <0,05. The influence of economic social status towards its political participation has 8%, the estimation values are increasing. In conclusion, the economic social status influences the farmer political participation in Klinting Village, Somagede, Banyumas Regency.
1619719514C1F015024PENGARUH MANAJEMEN ASET TERHADAP PENGAMANAN BARANG MILIK DAERAH PADA PEMERINTAH KABUPATEN CILACAPPenelitian ini merupakan penelitian survey terhadap pengguna dan pengelola Barang Milik Daerah (BMD) pada Pemerintah Kabupaten Cilacap. Penelitian ini berjudul “Pengaruh Manajemen Aset terhadap Pengamanan Barang Milik Daerah pada Pemerintah Kabupaten Cilacap”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh manajemen aset khususnya kegiatan pembukuan, inventarisasi, dan pelaporan terhadap pengamanan BMD.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) yang berada pada lingkungan Pemerintahan Daerah Kabupaten Cilacap. Jumlah sampel yang diambil berjumlah 50 (lima puluh) SKPD. Simple Random Sampling digunakan dalam penentuan sampel.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data menggunakan analisis regresi linier berganda menunjukkan bahwa: (1) Pembukuan tidak berpengaruh terhadap keberhasilan pengamanan BMD, (2) Inventarisasi berpengaruh positif terhadap keberhasilan Pengamanan BMD, (3) Pelaporan berpengaruh positif terhadap keberhasilan Pengamanan BMD.
Implikasi dari kesimpulan di atas yaitu dalam upaya meningkatkan pengamanan aset, pengelola dan pengguna BMD pada SKPD hendaknya tidak hanya melakukan pembukuan yang bersifat pengamanan administratif, tetapi juga melaksanakan pengamanan yang bersifat fisik seperti pemasangan tanda batas, CCTV (Closed Circuit Television), dan membangun Sistem Pengendalian Internal (SPI) yang memadai. Inventarisasi perlu dilakukan secara berkala guna mengatasi ketidakakuratan data karena proses reorganisasi SKPD. Pelaporan juga perlu dilakukan guna menjaga data aset BMD selalu terbarukan dan dapat dipertanggungjawabkan.
This study is a survey research on users and managers of Barang Milik Daerah (BMD) at the Government of Cilacap Regency. This research entitled "The Influence of Asset Management on Security of Barang Milik Daerah at Government of Cilacap Regency". This study aims to determine the effect of asset management, especially bookkeeping activities, inventory, and reporting on BMD security. Population in this research is all SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) residing in Cilacap Regency Government area. The number of samples taken is 50 (fifty) SKPD. Simple Random Sampling is used in sampling. Based on the results of research and data analysis using multiple linear regression analysis showed that: (1) Bookkeeping did not affect the success of BMD security, (2) Inventory have positive effect on the success of BMD Security, (3) Reporting positively influence to success of BMD Security. The implications of the above conclusions are in the effort to improve the security of assets, managers and users of BMD in SKPD should not only carry out administrative safeguarding, but also carry out physical safeguarding such as the installation of boundary markers, CCTV (Closed Circuit Television), and build sufficient Internal Control System (SPI). Inventory needs to be done periodically to overcome data inaccuracies due to the reorganization process of SKPD. Reporting also need to be done in order to keep BMD asset data is always up to date and can be accounted for.
1619819515B1J012191KEANEKARAGAMAN DAN HUBUNGAN KEMIRIPAN VARIETAS SINGKONG (Manihot esculenta Crantz) BERDASARKAN KARAKTER MORFOLOGI DI KECAMATAN BINANGUN, KABUPATEN CILACAPSingkong (Manihot esculanta Crantz.) merupakan makanan pokok ke tiga setelah padi dan jagung di Indonesia. Varietas singkong yang banyak berpotensi untuk dikembangkan menjadi varietas unggul. Kecamatan Binangun merupakan daerah yang relatif cocok bagi pertumbuhan tanaman singkong dan merupakan salah satu daerah penghasil singkong terbesar di Cilacap. Analisis kekerabatan merupakan langkah awal pengenalan dalam upaya pemuliaan tanaman.Penelitian tentang kekerabatan penting dilakukan karena dilihat dari segi manfaat yaitu untuk mempermudah dalam mencari varietas pengganti (varietas substitusi) bila suatu varietas tanaman mengalami kendala dalam proses budidaya. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui keanekaragaman varietas singkong di Kecamatan Binangun dan mengetahui jauh dekatnya hubungan kemiripan antar varietas singkong di Kecamatan Binangun.
Metode yang digunakan adalah metode survei dengan teknik pengambilan sampel secara acak terpilih (Purposive Random Sampling) di 5 desa yang mewakili 17 desa, yaitu Desa Binangun, Desa Pesawahan, Desa Alangamba, Desa Jepara Kulon, dan Desa Jepara Wetan. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dengan mengamati karakter morfologinya, untuk mengetahui hubungan kemiripan dianalisis menggunakan metode UPGMA (Unweighted Pair Group Method with Arithmetic Mean) dengan software MEGA (Molecular Evolutionary Genetic Analysis) version 5.05. Parameter penelitian terdiri dari karakter morfologi batang, daun, dan umbi dari masing-masing varietas singkong.
Hasil penelitian di Kecamatan Binangun, Kabupaten Cilacap diperoleh 8 varietas singkong. Varietas tersebut diantaranya M. esculenta 'Adira I', M. esculenta 'Adira II', M. esculenta 'Malang I', M. esculenta 'Malang II', M. esculenta 'Malang VI', M. esculenta 'Mangi', M. esculenta 'Basiorao', dan M. esculenta 'Bogor'. Hubungan kemiripan terdekat yaitu varietas M. esculenta 'Malang VI' dan M. esculenta 'Bogor' dengan indeks dissimilaritas 0,000 sedangkan hubungan kemiripan terjauh yaitu varietas M. esculenta 'Malang II' dan M. esculenta 'Malang VI' dengan indeks dissimilaritas 2,303.
Cassava (Manihot esculanta Crantz.) is the 3rd staple food after rice and maize in Indonesia. Cassava varieties that have the potential to be developed into superior varieties. Binangun District is an area that is relatively suitable for the growth of cassava plants and is one of the largest cassava producing areas in Cilacap. Cluster analysis is the first step of introduction in plant breeding efforts. Cluster analysis is important because in terms of the benefit is to facilitate the search for a replacement varieties (varieties substitution) when a crop varieties have constraints in the cultivation process. The purpose of this study is to determine the diversity of cassava varieties in the district nearby Binangun and knowing much resemblance relationship between the varieties of cassava in Sub Binangun.
The method used is the method of survey sampling techniques were randomly selected (Purposive Random Sampling) in 5 villages representing 17 villages, namely Binangun, Pesawahan Village, Village Alangamba, Jepara Kulon village, and the village of Jepara Wetan. Data were analyzed descriptively by observing their morphological characters, to determine the relationship of similarity were analyzed using the UPGMA method (Unweighted Pair Group Method with Arithmetic Mean) with MEGA software (Molecular Evolutionary Genetics Analysis) version 5.05.
The research parameters consist of morphological character of steam, leaf, and tuber of each cassava varieties. These varieties including M. esculenta ‘Adira I’, M. esculenta ‘Adira II’, M. esculenta ‘Malang I’, M. esculenta ‘Malang II’, M. esculenta ‘Malang VI’, M. esculenta ‘Basiorao’, M. esculenta ‘Mangi’ and M. esculenta 'Bogor'. The closest similarity relations are varieties of M. esculenta 'Malang VI' and M. esculenta ‘Bogor’ with an index of 0.000, while the relationship resemblance dissimilaritas furthest is varietas of M. esculenta ‘Malang II’ and M. esculenta ‘Malang VI’ with 2,303 dissimilaritas index.
1619919516G1G010046PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN DENTAL ANTARA USIA REMAJA AWAL (13-16 TAHUN) DAN USIA REMAJA AKHIR (17-18 TAHUN) PENGHUNI PANTI ASUHAN DI KABUPATEN BANYUMASKecemasan dental merupakan fenomena psikologis yang sulit untuk diukur karena pasien bisa saja menyembunyikan perasaan mereka terhadap perawatan dental, jarum suntik, dan perawatan lainnya. Tingkat kecemasan dental dapat dipengaruhi oleh usia serta lingkungan seperti pada remaja yang tinggal di panti asuhan. Tahap usia remaja awal ditandai oleh emosi dan perasaan yang tidak stabil, berbeda dengan remaja akhir yang sudah muncul ketenangan dalam diri mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat kecemasan dental antara usia remaja awal (13-16 tahun) dan usia remaja akhir (17-18 tahun) penghuni panti asuhan di Kabupaten Banyumas. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu minimal sample size sehingga didapatkan jumlah responden sebanyak 120 orang yang kemudian dibagi dalam 4 kelompok, yaitu kelompok usia remaja awal penghuni panti asuhan, kelompok usia remaja akhir penghuni panti asuhan, kelompok usia remaja awal yang tinggal dengan orang tua kandung, dan kelompok usia remaja akhir yang tinggga dengan orang tua kandung. Data tingkat kecemasan dental dievaluasi menggunakan kuesioner Modified Dental Anxiety Scale (MDAS). Data kemudian dianalisis secara statistik menggunakan One Way ANOVA dengan nilai p<0,05 (p=0,000). Hasil penelitian ini menunjukan terdapat perbedaan yang signifikan pada tingkat kecemasan dental antar kelompok responden. Rerata tingkat kecemasan dental juga menunjukan bahwa remaja penghuni panti asuhan memiliki tingkat kecemasan dental yang lebih tinggi dibanding remaja yang tinggal dengan orang tua kandung pada kelompok umur yang sama. Simpulan penelitian ini terdapat perbedaan signifikan pada tingkat kecemasan dental antar kelompok responden. Remaja penghuni panti asuhan disarankan mendapatkan perhatian yang lebih agar bisa menurunkan tingkat kecemasan dental. Dental anxiety is a psychological phenomenon that is difficult to be measured because patients may hide their feelings toward dental care, needles, and other treatments. The level of dental anxiety can be affected by age and environment, for example adolescents living in orphanages. In early adolescent phase, adolescents is characterized by emotions and unstable feelings, in contrast to late adolescent phase, they have emerged calm within themselves. This study aims to determine differences in the level of dental anxiety in early adolescents (13-16 years old) and late adolescents (17-18 years old) that live at the orphanage in Banyumas Regency compared to those who live with their biological parents. This research used cross sectional method. The sampling technique was the minimum sample size so that the number of samples obtained as many as 120 respondents which were divided into 4 groups, the early adolescent group of the orphanage, the late adolescent group of the orphanage, the early adolescent group that live with their biological parents, and late adolescent group who live with their biological parents. Data on dental anxiety levels were evaluated using the Modified Dental Anxiety Scale (MDAS) questionnaire. Data were then analyzed statistically using One Way ANOVA with p value <0,05 (p = 0,000). The results of this study indicated that there was a significant difference in the level of dental anxiety between groups of respondents. The average level of dental anxiety also indicated that adolescents who live at the orphanage have higher dental anxiety levels than adolescents who live with biological parents in the same age group. Conclusions of this study there are significant differences in the level of dental anxiety between groups of respondents. Adolescents who live at the orphanage should be given more attention in order to lower the level of dental anxiety.
1620019519F1D012028Mistisisme dan Politik dalam Tradisi Ngalap Berkah Panembahan Kalibening Desa Dawuhan BanyumasPenelitian ini menjelaskan tetang Mistisisme dan Politik dalam tradisi ngalap berkah panembahan Kalibening desa Dawuhan Banyumas. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Memahami dan mendeskripsikan tradisi ngalap berkah merepresentasikan bertahannya mistisisme Jawa dalam Politik; 2) Mengetahui dan menjelaskan yang mendasari tradisi ngalap berkah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, sementara pendekatan penelitiannya adalah etnografi dengan empat jenis data analisis, yaitu analisis domain, analisis taksonomis, analisis komponensial dan analisis tematik. Karena sasaran utama dalam penelitian ini adalah masyarakat lokal Kalibening, maka empat jenis data analisis tersebut digunakan untuk memahami hubungan hubungan antar simbol yang melekat pada sasaran penelitian ini secara komperhensif yang kemudian membentuk makna dari tradisi ngalap berkah.
Hasil penelitian ini Mistisisisme dalam tradisi ngalap berkah merupakan cara pandang Jawa untuk mendapat sebuah keberkahan dari situs keramat. Masyarakat Dawuhan yang memiliki situs keramat salah satunya makam Kalibening menjadi kebanggan karena dijadikan lokasi untuk berziarah dalam mencari keberkahan berupa keselamatan hidup dan kepentingan berpolitik. Kepercayaan masyarakat lokal dan peziarah melakukan prosesi ziarah di dasari oleh ketokohan Mbah Kalibening dalam penyebaran agama Islam di wilayah Banyumas, Mbah Kalibening dianggap orang yang dekat dengan Allah karena memiliki keistimewaan dalam spiritual semasa hidupnya. Oleh karena itu, setelah meninggal makamnya menjadi simbol sebagai tempat penyambung do’a kepada ke sang pencipta bagi orang-otang yang mencari ketenangan batin dan ingin mendapatkan posisi di pemerintahan.
Di lokasi panembahan Kalibening terdapat sumur pesucen di mana sumber mata air tersebut dipercaya sebagai air barokah, sumur yang dianggap sakral oleh masyarakat Kalibening sering dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar dan peziarah. Terdapat 3 sumur di lokasi panembahan pertama dimanfaatkan untuk berwudhu, mencuci muka, untuk diminum kemudian sumur ke dua dan ke tiga untuk tempat mandi wanita dan pria. Selain sumur adapula batu mudjahadah sebagai lokasi untuk bermunajad prosesi ritual tersebut merupakan rangkaian prosesi dalam rangka mencari keberkahan di lokasi yang dianggap keramat.
This research discusses the Mysticism and Politict in the traditions of ngalap berkah in Panembahan Kalibening Dawuhan Banyumas. The research aims at: 1) Understand and describe the tradition of ngalap berkah represents the persistence of Javanese mysticism in politics; 2) Knowing and explaining the underlying traditions ngalap berkah. This research used qualitative methods, while research is an ethnographic approach to the four types of data analysis, ie domain analusis, taconomic analysis, componential analysis, and thematic analysis. Since the main goal of this research is the local communitu Kalibening, the four types of data analysis were used to understand the relationships between symbols inherent relationship to the goal of this research comprehensively which then make up the meaning of tradition ngalap berkah.
This results of this study in the tradition Mysticism ngalap berkah worldview Java to get a blessing form the sacred sites.Dawuhan community that has one tomb sacred sites Kalibening be used as the location for the pride for a pilgrimage in search for blessing in the form of safety of life and political interests. The trust of local people and pilgrims perform the pilgrimage procession in the underlying by Mbah Kalibening persona in the spread of Moeslim in Banyumas, Mbah Kalibening considered a person close to God as it has in the spiritual privilege during his lifetime. Therefore, after the death of his tomb became a symbol as a connector to prayer to the creator to the person on seeking peace of mind and want to get a position in the government
At the site there Panembahan Kalibening sumur pesucen wells where the water source is belived to be berkah water, wells that are considered sacred by the people Kalibening often used by the local community and pilgrims. There are three wells at the site of the first Panembahan used of ablutions, the face wash, to drink, and then well into the sevond and third place to sumur ladies and gentle. In addition to the well unisex Mudjahadah stone as the location for the ritual procession bermunajad a series of processions in order to find berkah in locations that are considered sacred.