Artikelilmiahs
Menampilkan 13.221-13.240 dari 49.632 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 13221 | 16557 | H1G012009 | BIOREMEDIASI HIDROKARBON MINYAK BUMI MENGGUNAKAN KONSORSIUM BAKTERI HIDROKARBONOKLASTIK DARI SAMUDERA HINDIA, SEGARA ANAKAN CILACAP, SELAT KARIMATA DAN SELAT LOMBOK | Pencemaran hidrokarbon minyak bumi sering terjadi di Indonesia akibat tingginya aktivitas transportasi laut dan pertambangan minyak, sehingga sangat beresiko terjadi pencemaran minyak bumi. Permasalahan tersebut diperlukan upaya untuk menaggulangi dengan metode yang ramah lingkungan berupa bioremediasi menggunakan konsorsium bakteri hidrokarbonoklastik untuk mendegradasi hidrokarbon minyak bumi. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh faktor pendukung dan kemampuan konsorsium bakteri hidrokarbonoklastik dalam menurunkan hidrokarbon minyak bumi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental dengan split plot design. Teknik bioremediasi yang diujikan yaitu konsorsium menggunakan gabungan isolat bakteri yang bersifat hidrokarbonoklastik berasal dari perairan Samudera Hindia, Segara Anakan Cilacap, Selat Karimata dan Selat Lombok. Perlakuan dilakukan 2 kali pengulangan, kemudian parameter diukur hari ke 0, 2, 7, 14 dan 28. Adapun prosedur penelitian yaitu : preparasi bakteri, uji biodegradasi dan pengukuran parameter (total hidrokarbon minyak bumi, total sel bakteri, suhu, pH dan oksigen terlarut). Berdasarkan hasil dan pembahasan faktor pendukung berpengaruh erat terhadap penurunan total hidrokarbon minyak bumi dengan nilai : total sel bakteri (-0,966), DO (0,949), pH (0,941) dan temperatur (-0,897). Kemampuan konsorsium bakteri hidrokarbonoklastik yang paling efektif dalam menurunkan total hidrokarbon minyak bumi secara berurutan yaitu 52% (Samudera Hindia), 41% (Segara Anakan), 34% (Selat Karimata), 39% (Selat Lombok) dan 0% (Kontrol). Kata Kunci : Bioremediasi, hidrokarbon, konsorsium, bakteri hidrokarbonoklastik. | Indonesia have big risk of petroleum hydrocarbon pollution in marine environment cause the highly of marine transportation and oil mining which has led to the need to clean up spilled petroleum using eco-friendly methods. Bioremediation is a promising approach for treating such contaminated environments using consortium bacterial hydrocarbonoclastic to degradation petroleum hydrocarbon. This study aims to determine the influence of the supporting factors and the ability of bacteria consortium hydrocarbonoclastic in reducing petroleum hydrocarbons. The method used in this study is an experimental method with a split plot design. Bioremediation techniques are consortium using a combination 5 isolates bacterial hydrocarbonoclastic that are derived from the Indian Ocean, Segara Anakan Cilacap Ocean, Karimata Strait, Lombok Strait and Control (without bacterial). The treatment was done two repetitions, then the measured parameter in days : 0, 2, 7, 14 and 28 days. The study procedures are preparation of bacteria, biodegradation experimental and measurement parameter (total petroleum hydrocarbons, total bacterial cells, temperature, pH and dissolved oxygen ). Based on the results and discussion of the factors supporting strong influence to the decrease of total petroleum hydrocarbons with values : total bacterial cells (-0.966), DO (0.949), pH (0.941) and temperature (-0.897). The ability of bacteria consortium hydrocarbonoclastic most effective in decrease total petroleum hydrocarbons that is 52% (the Indian Ocean), 41% (Segara Anakan Cilacap Ocean), 34% (Strait Karimata), 39% (Lombok Strait) and 0% (Control). Keywords : bioremediation, hydrocarbon, consortium, bacterial hydrocarbonoclastic. | |
| 13222 | 16558 | H1K012015 | VARIASI KONSENTRASI KANDUNGAN LOGAM BERAT Pb DAN Cd DALAM SEDIMEN PERMUKAAN DASAR LAUT DI PERAIRAN KEPULAUAN ARU, MALUKU | Kondisi perkembangan sosial dan ekonomi di Kepulauan Aru, Maluku Tenggara meyumbangkan limbah mengandung logam berat yang mempengaruhi konsentrasi logam berat dalam sedimen. Hal tersebut akan mempengaruhi kualitas lingkungan. Analisa besar butir sedimen digunakan untuk memisahkan sedimen fraksi kasar sedangkan sedimen fraksi halus menggunakan analisa pipet. Metode yang digunakan untuk analisis logam berat menggunakan metode AAS. Hasil analisis data menunjukkan kandungan logam berat Pb dalam sedimen di Perairan Kepulauan Aru masih berada dibawah nilai ambang batas (NAB). Sedangkan kandungan logam berat Cd dalam sedimen telah melewati NAB. Berdasarkan hasil analisis regresi, antara logam berat Pb dan Cd di lempung dan di lanau memiliki hubungan yang positif yaitu konsentrasi logam berat Pb dalam lempung cenderung lebih tinggi dari pada konsentrasi logam berat Pb dalam lanau begitupula terhadap konsentrasi logam berat Cd. Tingkat pencemaran dan kategori pencemaran logam berat Pb dan Cd di perairan Kepulauan Aru, Maluku dihitung menggunakan rumus Contamination Factor (CF) dan Indeks geoakumulasi (Igeo). Nilai CF Logam berat Pb tergolong dalam kategori kontaminasi rendah dan Igeo termasuk dalam kategori tidak tercemar, sedangkan tingkat pencemaran logam berat Cd berdasarkan nilai CF tergolong dalam kategori kontaminasi sangat tinggi dan nilai Igeo termasuk dalam kategori tercemar ringan. | The development economic and social condition in Aru Island, Maluku contributed waste water which consist heavy metals that will influence the concentration of the heavy metal in sediment. It will influence the quality of water area, because the content of heavy metal in waste water. Pipette analysis was used to divide the refined sediment fraction. AAS method was used to analyze the heavy metals. The result showed that the content of Pb in Aru water was under the threshold limit value (NAB), while the content of Cd in sediment had passed the NAB. Based on regression analysis, there was a positive relation between Pb and Cd in clay and silt. The concentration of Pb in clay tent to be higher than in silt, and it is so for the concentration of Cd. The contamination level and contamination category of Pb and Cd in Aru Island, Maluku were calculated using Contamination Factor (CF) and Geoaccumulation Index (Igeo). CF value of Pb was belong to low contaminated category and Igeo value was belong to uncontaminated category. Based on CF value, the contamination level of Cd was belong to the highest contaminated category, while the Igeo value was category of lightly polluted. | |
| 13223 | 16560 | C1J009023 | FACTORS INFLUENCING PRODUCTION OF WOVEN FABRIC IN NORTH WANAREJAN VILLAGE TAMAN SUB REGENCY PEMALANG REGENCY | .RINGKASAN Sarung tenun merupakan salah satu produk unggulan di Kabupaten Pemalang dengan prospek yang cukup cerah. Hal ini terbukti dengan kondisi permintaan pasar yang cukup baik dan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, baik pangsa lokal maupun untuk keperluan ekspor. Sayangnya peluang pasar yang baik, tidak diimbangi oleh tingkat produksi yang memadai sehingga berdampak pada rendahnya pendapatan yang diterima perajin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh modal, tenaga kerja dan bahan baku terhadap jumlah produksi sarung tenun dan menganalisis efisiensi usaha industri sarung tenun di Desa Wanarejan Utara Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus yang terjadi di Desa Wanareja Utara Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang pada tahun 2015. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perajin sarung tenun di Desa Wanarejan Utara Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang yang berjumlah 121 orang. Tehnik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode simple random sampling dan penentuan atau besarnya sampel dengan menggunakan metode Slovin. Berdasarkan perhitungan uji F maupun uji t dapat disimpulkan bahwa secara simultan maupun parsial, modal, tenaga kerja dan bahan baku memberikan pengaruh yang signifikan terhadap produksi pada Industri sarung tenun di Desa Wanareja Utara Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan modal, tenaga kerja dan bahan baku berpengaruh terhadap jumlah produksi sarung tenun dapat diterima. Berdasarkan hasil analisis efsiensi faktor produksi dapat disimpulkan penggunaan faktor produksi modal, tenaga kerja dan bahan baku tidak efisien. Tidak efisien disini maksudnya adalah peningkatan faktor produksi sudah tidak bisa dilakukan karena peningkatan ekonomi faktor produksi lebih besar dibandingkan dengan peningkatan ekonomi hasil produksi sarung tenun. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan secara ekonomis industri sarung tenun sudah efisien dapat diterima. | -SUMMARY Woven sarongs is one of the products excellent in Pemalang Regency with bright prospect. It is proven by the markets demand conditions were quite good and has increased from year to year, both the share of local as well as for export. Unfortunately good market opportunities, is not balanced by sufficient level of production so that result in low earned income craftsmen. This research is aim to analyze the influence of capital, labor and raw materials on total production woven sarongs and analyzed efficiency of industrial moven sarong in the North Wanarejan Village, Taman sub Regency, Pemalang Regency. Research method used are the case study in North Wanarejan Village, Taman sub Regency, Pemalang Regency by 2015. The population in this research is all craftsmen in Nort Wanarejan village is woven sarongs of Pemalang Regency by 121 people. Sampling techniques in this research is by using a simple random sampling method and sample sizes determine or using methods Slovin. Based on the calculation of F test and T test can be concluded that simultaneous or partial, capital, labor and raw materials have a significant influence on the production on Industry woven sarongs in North Wanarejan Village, Taman sub Regency, Pemalang Regency. Thus the hypothesis that capital, labor and raw materials affect the amount of production woven sarongs acceptable. Based on the analysis efficiency of production factor can be concluded the use of factors production, capital, labor and raw materials does not efficient. Inefficient here means increase in production factor is not usually done due to increased economic factor of production a greater compared to an increase economic production yield of woven sarongs. Accordingly the hypothesis that economically efficient industry woven sarongs is accepted. | |
| 13224 | 16561 | F1B010061 | Evaluasi Model Context, Input, Process, Product (CIPP) dalam Program Relokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) Ke Pusat Kuliner Pratistha Harsa Di Kota Purwokerto | Penelitian didasari munculnya program relokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) di Purwokerto ke Pusat Kuliner Pratistha Harsa. Relokasi PKL meliputi PKL Jl. Pereng yang direlokasi pada 12 Mei 2012 dan PKL Jl. Ragasemangsang yang direlokasi pada 14 Mei 2012. Pada 9 Juni 2012, Pusat Kuliner Pratistha Harsa diresmikan oleh Bapak Bupati Mardjoko. Pasca program diimplementasikan, muncul masalah terkait sepinya Pratistha Harsa. Berdasarkan hal tersebut, perlu kiranya dilakukan evaluasi dari diimplementasikannya program tersebut. Tujuannya, untuk menjelaskan hasil program relokasi PKL ke Pusat Kuliner Pratistha Harsa tersebut. Evaluasi yang digunakan, yaitu evaluasi model Context (apakah tujuan tercapai?), Input (apakah sumberdaya yang tersedia mendukung program dengan baik?), Process (apakah implementasi dilakukan dengan baik?), dan Product (apakah hasil sudah baik?). Penelitian menggunakan metode pendekatan campuran (data kualiatif dan data kuantitatif) berformat deskriptif. Hasil menunjukan, yaitu; 1). Tujuan menata PKL agar tidak lagi berdagang di jalanan belum tercapai. Sebab, pasca lama program relokasi PKL diimplementasikan masih ada PKL yang kembali berdagang di jalan atau di area yang tidak semestinya; 2). Pihak PKL sebagai kelompok sasaran memilih tidak mendukung diimplementasikannya program tersebut, sebab program relokasi PKL tersebut belum bisa menjamin hasil yang baik bagi PKL; 3) Implementasi tidak cukup baik, karena komunikasi kurang toleran dan komunikatif, karakter pihak pelaksana kaku, dan kondisi/ respon kelompok sasaran melakukan perlawanan saat proses relokasi; 4). Hasil program sejauh ini belum baik untuk PKL. Sebab, jumlah pendapatan PKL menurun, karena dimintai uang Rp.2000 perhari oleh pihak yang mengaku Karang Taruna. Sepinya Pratistha Harsa, karena area parkir kurang luas, akses sempit dan lokasi yang tidak terlihat dari jalan raya juga mempengaruhi penurunan pendapatan PKL. | The research is based on the emergence of a relocation program street vendors in Purwokerto to Pratistha Harsa Culinary Center. Relocation of Street Vendors at Street Pereng relocated on May 12, 2012 and Street Vendors at Street Ragasemangsang relocated on May 14, 2012. On June 9, 2012, Pratistha Harsa inaugurated by Mr. Mardjoko the regent of Banyumas. After program implemented, the problem arises related Pratistha Harsa did not crowded. Based on this, it would need to do an evaluation of the implementation of the program. The purpose is to explain the result of the relocation program of Street vendors to Pratistha Harsa Culinary Center. Evaluation used in this research is model evaluation Context (goal is reached?), Input (whether the resources available to support the program well?), Process (implementation is done well?), And Product (whether the result is good?). Research using a mixed approach (qualitative data and quantitative data) in descriptive format. Results showed; 1). Primary goals to organize a street vendors to didn't trade on undue area has not been reached, because long after the relocation program has been implemented, still any street vendors who returned to trade on undue area; 2). Street vendors as a target groups chose not to support the implementation of the program, because the program does not guarantee a good outcome for street vendors; 3). Implementation is not good enough, because the communication is less tolerant and communicative, the executor rigid character, and condition/ response of target groups is resistance when the relocation process; 4). The results of the program so far has not been good for street vendors especially about a reduce revenue. Street vendors revenue become reduce, because the part of claiming Karang Taruna exact money Rp.2000 to street vendors each day. The quiet of Pratistha Harsa, because the parking area is less extensive, narrow access and location are not seen from the highway, make revenue of street vendors become reduced to. | |
| 13225 | 16562 | A1L010088 | PENGARUH BAHAN PENJERAP ETILEN DAN KEMASAN TERHADAP TINGKAT KESEGARAN PISANG AMBON LUMUT | Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui pengaruh berbagai bahan penjerap etilen dan jenis kemasan terhadap tingkat kesegaran buah pisang ambon lumut 2) Mengetahui pengaruh berbagai bahan penjerap etilen dalam mempertahankan mutu buah pisang ambon lumut 3) Mengetahui tingkat kesegaran buah pisang ambon lumut pada berbagai jenis kemasan. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Penelitian ini berlangsung selama 1 bulan (Mei – Juni 2016). Penelitian ini menggunakan Rancangan percobaan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah jenis penjerap etilen dan faktor kedua adalah jenis kemasan. Variabel yang diamati yaitu : tingkat kesegaran, kadar vitamin C, susut bobot, kadar gula, uji organoleptik warna, dan uji organoleptik tekstur Hasil penelitian menujukan bahwa: Pemberian jenis bahan penjerap etilen terhadap tingkat kesegaran buah pisang ambon lumut sangat tergantung pada jenis kemasan yang digunakan. Kombinasi terbaik yaitu pada jenis penjerap etilen KMnO4 dan jenis kemasan styrofoam. Jenis penjerap etilen KMnO4 merupakan jenis penjerap etilen yang baik, dapat menghambat kematangan dan menjaga mutu buah pisang ambon lumut dalam lama penyimpanan 10 hari. Jenis kemasan styrofoam merupakan jenis kemasan yang baik karena berpengaruh terhadap tingkat kesegaran, susut bobot buah pisang ambon lumut dan uji organoleptik warna. | This research was aimed to: 1) know the effect of ethylene absorbent material and kind of packaging on the level of freshness ambon lumut bananas, 2) know the effect of many ethylene absorbent in maintaining the quality of ambon lumut bananas, 3) know the level of freshness of ambon lumut bananas in many kinds of packaging. This reasearch was conducted in Agronomy and Horticulture Laboratory of Farming Faculty , Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. This research was conducted for a month (may-june 2016). This research used experimental design in randomized factorial design with three replications. The first factor was absorbent and the second factor was kind of packaging.. The variables measured are: the level of freshness, vitamin C, weight loss, blood sugar, organoleptic color, texture and organoleptic tests.The results of this research showed that: administration of Ethylene Absorbent Material on the level of banana fruit freshness moss is highly dependent on the type of packaging used. The best combination is the type of Ethylene Absorbent Material KMnO4 and type of packaging styrofoam. Type Ethylene Absorbent Material KMnO4 is a type of ethylene penjerap good, can inhibit maturity and maintain the quality of fruit banana moss in a storage time of 10 days. Styrofoam packing type is a type of packaging is good because it affects the freshness, weight loss moss green banana fruit and organoleptic color. | |
| 13226 | 16563 | D1E011204 | HUBUNGAN FAKTOR SOSIAL EKONOMI DENGAN PRODUKTIVITAS PETERNAK KAMBING DI KECAMATAN KARANGLEWAS KABUPATEN BANYUMAS | Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji faktor sosial ekonomi meliputi pendidikan, luas lahan, modal, pengalaman beternak dan produktivitas peternak kambing meliputi penambahan jumlah ternak, pendapatan peternak serta menganalisa hubungan faktor sosial ekonomi dengan produktivitas peternak kambing di Kecamatan Karanglewas. Penelitian ini dilakukan dengan metode survey. Pengambilan sampel wilayah dilakukan secara Stratified Random Sampling wilayah yang memiliki populasi peternak tertinggi, sedang, rendah. Variabel yang diamati adalah faktor sosial ekonomi meliputi pendidikan, luas lahan, modal, pengalaman beternak dan Produktivitas peternak meliputi, penambahan jumlah ternak dan pendapatan. Jumlah sampel sebanyak 114 responden. Pengambilan responden dilakukan secara Random Samling (acak) sebesar 20% dari masing-masing desa yang terpilih. Data dianalisis menggunakan Analisis Deskriptif dan Analisis Regresi Berganda. Faktor sosial ekonomi meliputi pendidikan, luas lahan, modal, pengalaman beternak terbukti secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap penambahan jumlah ternak sebesar 50,9% sedangkan 49,1% dipengaruhi faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Faktor sosial ekonomi meliputi pendidikan, luas lahan, modal, pengalaman beternak terbukti secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap pendapatan peternak sebesar 56,1% sedangkan 43,9% dipengaruhi faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini, sedangkan hasil analisis pendidikan, modal, luas lahan, pengalaman beternak secara parsial keempat faktor sosial ekonomi tersebut berpengaruh terhadap produktivitas peternak. | This research aims to study the social economic factors include education, land area, capital, the experience of raising productivity and goat breeders include the addition of the number of livestock, the income breeders and analyze the relationship of social economic factors with a cattlemen goat productivity in district Karanglewas. This research was conducted with survey methods. Stratified Random Sampling was conducted in the territory of the region which had the highest population of farmers, medium population, and low. Population the observed variables were social economic factors, namely education, land area, capital, farming experience and productivity of the breeders namely the increase of the number of livestock and income of breeders. The number of samples were as many as 114 respondents. The collection of the respondents was carried out by means of Random Samling (random), as much as 20% from each village. The data were analyzed using Descriptive Analysis and Multiple Regression Analysis. The social economic factors of education, land, capital, extensive experience of raising the goat proved a significant effect simultaneously on the increase of a number of cattle as much as 50.9% whereas 49.1% was influenced by other factors not examined in this study. Social economic factors of education, land, capital, extensive experience of raising goat proved influential together significantly to the income of farmers as much as 56.1% whereas 43.9% was influenced by other factors not examined in this study. While the results of the analysis showed that the education, capital, land area and the experience of raising goat the four social economic factors partially affected the productivity of farmers. | |
| 13227 | 16564 | A1M012011 | PENGARUH PENGGUNAAN NITROGEN DAN JENIS PENGEMAS TERHADAP SIFAT SENSORIS KERIPIK DARI TEPUNG KENTANG VARIETAS GRANOLA SELAMA PENYIMPANAN | Kentang varietas Granola memiliki produktivitas yang tinggi, namun pemanfaatannya masih kurang di industri pangan. Pengolahan kentang varietas Granola menjadi keripik kentang diharapkan dapat meningkatkan potensi pemanfaatannya sebagai produk pangan. Keripik kentang merupakan produk yang diutamakan kerenyahannya sehingga perlu adanya penanganan yang tepat untuk mempertahankan kualitas kerenyahannya, salah satu caranya adalah dengan penggunaan nitrogen dalam kemasan dan aplikasi jenis pengemas yang sesuai. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui pengaruh penggunaan nitrogen dalam kemasan terhadap sifat sensoris keripik dari tepung kentang varietas Granola; 2) Mengetahui pengaruh jenis pengemas terhadap sifat sensoris keripik dari tepung kentang varietas Granola; 3) Mengetahui kombinasi perlakuan penggunaan nitrogen dalam kemasan dan jenis pengemas yang terbaik untuk meningkatkan kualitas keripik dari tepung kentang varietas Granola yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Faktor yang diteliti adalah penggunaan nitrogen (N) terdiri atas; tanpa penggunaan nitrogen (N1) dan penggunaan nitrogen (N2), serta jenis pengemas (K) terdiri atas; aluminium foil (K1), nilon (K2), polipropilen (K3), dan polietilen (K4). Berdasarkan faktor, diperoleh 8 kombinasi perlakuan dengan 3 kali ulangan sehingga diperoleh 24 unit percobaan. Variabel yang diamati berupa variabel sensoris yang meliputi warna, kerenyahan, rasa kentang, dan kesukaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi penggunaan nitrogen dengan jenis pengemas aluminium foil (N2K1) merupakan kombinasi yang terbaik dibandingkan dengan perlakuan yang lain. Hasil analisis keripik kentang dengan masa simpan 15 hari menunjukkan warna sedikit cokelat, tekstur sedikit renyah, rasa kentang netral, dan sedikit disukai panelis. Kemudian pada keripik kentang dengan masa simpan 30 hari menunjukkan warna netral, tekstur agak renyah, rasa kentang sedikit terasa, dan sedikit disukai panelis. | Potato varieties of Granola has high productivity, but its use is still lacking in the food industry. Processing potato varieties of Granola into potato chips is expected to increase the potential of its utility as a food product. The preferred quality product is the nature of crispy potato chips product, so it needs proper handling to maintain the nature of the product crisp, the way are by using nitrogen in packaging and applying appropriate types of packaging. The aims of this research are to: 1) Knowing effect of nitrogen use in the packaging to the chemical and sensory characteristics of chips from potato flour varieties of Granola; 2) Knowing effect of the variation type of packaging to the chemical and sensory characteristics of chips from potato flour varieties of Granola; 3) Knowing the combination treatment of nitrogen use in the packaging and the best type of packaging to improve the quality of chips produced from potato flour varieties of Granola The method used in this research is a randomized complete design (RCD) that arranged in a factorial with the 8 combinations of treatment and repeated 3 times to obtain 24 units experiment. Factors that been tested includes two factors: nitrogen use in the packaging (N), consists of without using nitrogen (N1) and using nitrogen (N2); types of packaging (K), consists of aluminum foil (K1), nylon (K2), polypropylene (K3), and polyethylene (K4). Sensory characteristics were tested are color, crispness, taste of potato, and preference of potato chips. The results of this research showed that the combination of using nitrogen in aluminium foil packaging (N2K1) is the best combination treatment than the other. The results of the analysis of potato chips with a shelf life of 15 days showed brown color, slightly crispy texture, potato taste neutral, and slightly preferred by panelist. Meanwhile, potato chips with a shelf life of 30 days showed neutral color, rather crispy texture, potato flavor that slightly tasted, and slightly preferred by panelist. | |
| 13228 | 16565 | A1M012061 | PENGARUH PENGGUNAAN NITROGEN DAN JENIS KEMASAN TERHADAP KUALITAS KERIPIK KENTANG DARI VARIETAS GRANOLA YANG DILAPISI DENGAN EDIBLE COATING SELAMA PENYIMPANAN | Keripik kentang merupakan jenis makanan ringan (snack food) yang terbuat dari irisan tipis kentang segar yang digoreng dengan menggunakan metode deep frying dengan suhu 160oC-180oC. Umumnya keripik kentang menggunakan bahan dasar kentang varietas Atlantik, sementara mayoritas produksi kentang di Indonesia adalah varietas Granola. Kentang jenis varietas Granola tidak sesuai untuk pembuatan keripik kentang karena memiliki kadar air yang tinggi dan menghasilkan keripik kentang dengan kualitas yang rendah. Upaya peningkatan kualitas keripik kentang varietas Granola dapat dilakukan dengan pengaplikasian edible coating dan penggunaan jenis kemasan yang sesuai. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui pengaruh penggunaan nitrogen dalam kemasan keripik kentang terhadap sensoris keripik kentang, (2) mengetahui pengaruh jenis kemasan terhadap sensoris keripik kentang, (3) mengetahui penggunaan nitrogen dalam kemasan dan jenis kemasan terbaik untuk mempertahankan kualitas keripik kentang selama penyimpanan. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Faktor yang diteliti adalah aplikasi nitrogen pada kemasan, terdiri atas N1 = penggunaan nitrogen dalam kemasan, N2 = tanpa nitrogen dalam kemasan serta jenis pengemasan (P), terdiri atas : P1 = alumunium foil, P2 = nilon, P3 = polipropilen (PP), P4 = polietilen (PE). Perlakuan disusun secara faktorial dengan 8 kombinasi perlakuan dan 3 kali ulangan sehingga diperoleh 24 unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemasan aluminium foil merupakan kemasan yang mampu menjaga kualitas keripik kentang varietas Granola selama penyimpanan, aplikasi nitrogen dalam kemasan berbagai jenis kemasan (aluminium foil, nilon, plastik PP, dan plastik PE) meningkatkan kualitas keripik kentang varietas Granola dari segi sensori yaitu warna, kerenyahan, rasa kentang dan kesukaan, perlakuan penggunaan nitrogen dan pengemas aluminium foil menunjukkan kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan yang lain. | Potato chips are a type of snacks made from thin slices of fresh potatoes fried in deep frying method with a temperature of 160oC-180oC. Potato chips generally use basic ingredient of potato variety Atlantic, while the majority of potato production in Indonesia is the variety Granola. Granola potato variety is not suitable for the manufacture of potato chips because it has a high water content and produce chips with low quality. Efforts to improve the quality of potato chips Granola variety can be done with the application of edible coating and the use of appropriate types of packaging. This research aims to: (1) find out the effect of nitrogen usage in the packaging of potato chips on the sensory properties, (2) find out the effect of packaging on the sensory properties, (3) determine the use of nitrogen in the packaging and best type of packaging to maintain the quality of potato chips during storage. The experimental design used in this research is Completely Randomized Design (CRD). Factors to be examined is the application of nitrogen on the packaging, consisting of N1 = nitrogen use in packaging, N2 = without nitrogen in the packaging and the type of packaging (P), consisting of: P1 = aluminium foil, P2 = nylon, P3 = polypropylene (PP), P4 = polyethylene (PE). The treatment arranged as factorial with 8 treatment combinations and 3 repetitions so obtained 24 experimental units. The results showed that aluminium foil packaging is able to maintain the quality of potato chips variety of Granola during storage, application of nitrogen in the packaging of various types of packaging (aluminium foil, nylon, plastics PP, and PE) improving the quality of potato chips Granola variety in terms of sensory namely color, crispness, potato taste and preferences, treatment of the use of nitrogen and aluminium foil packaging indicates better quality compared to other treatments. | |
| 13229 | 16567 | D1E012284 | Hubungan Ukuran Linier Tubuh dengan Bobot Karkas Sapi Peranakan Simmental di RPH Purwokerto | Penelitian bertujuan untuk mempelajari hubungan antara ukuran linier tubuh dengan bobot karkas sapi Peranakan Simmental. Materi penelitian yang digunakan adalah 50 ekor sapi Peranakan Simental jantan. Variabel yang diamati adalah ukuran linier tubuh yaitu lingkar dada (LD), dalam dada (DD), lebar dada (LeD) dan bobot karkas. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan teknik pengambilan data menggunakan pendekatan purposive sampling. Data penelitian dianalisis dengan analisis deskriptif, analisis regresi berganda, analisis variansi, analisis korelasi, koefisien determinasi dan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran lingkar dada, lebar dada, dalam dada dan bobot karkas sapi Peranakan Simmental masing – masing sebesar 178,82 ± 9,45 cm, 62,76 ± 5,30 cm, 43,58 ± 6,68 cm, dan 181,125 ± 19,75 kg, sedangkan persamaan regresi yang dapat digunakan untuk memprediksi bobot karkas adalah Bkar = -81,803 + 1,264 LD + 0,846 LeD. | The purpose of this research was to identify the relationship between the linear body size with the carcass weight of Crossed Simmental bulls. The reaserch materials used were 50 Crossed Simmental bulls. The Observed variables were linear body size breast girth, breast depth and breast width and carcass weight. The research method used was a survey with data collection techniques using purposive sampling approach. The research analysis used was descriptive analysis, multiple regression analysis, variance analysis, correlation analysis, determination coefficient and partial t-test. The results showed that each of breast girth, breast depth, breast width and carcass weight of Crossed Simmental bulls were 178.82 ± 9.45 cm, 62.76 ± 5.30 cm, 43.58 ± 6.68 cm, and 181.125 ± 19.75 kg, while the regression equation that can be used to predict carcass weight was Bkar = -81.803 + 1.264 LD + 0.846 LeD. | |
| 13230 | 16569 | H1F012006 | STUDI GEOLOGI KARAKTERISTIK ENDAPAN PANTAI DAN ENDAPAN LAUT DANGKAL PANTAI BINUANGEUN DAN SEKITARNYA, KECAMATAN MALINGPING, KABUPATEN LEBAK, PROVINSI BANTEN | Daerah penelitian terletak pada koordinat 105.9060 E – 106.0260 E / 6.852860 S – 6.812390 S, Wilayah pesisir Binuangeun secara geografi terletak dibagian Selatan Pulau Jawa Bagian Barat menghadap ke Samudera Hindia, dan secara administratif merupakan bagian dari wilayah Propinsi Banten Ada kenampakan morfologi yang menarik di daerah ini, yaitu keberadaan unit morfologi pematang pantai (beach ridges) dengan sejajar garis pantai di sepanjang pantai Binuangen. Dalam melakukan klasifikasi lingkungan pengendapan klastik di wilayah pesisir berdasarkan proses, Boyd dkk. (1992). Dari hasil sampel endapan pantai dan endapan laut dangkal (sedimen permukaan) di peroleh dengan analisis granulometri ditemukan ukuran yang bervariasi dengan nilai 2 ф – 3 ф (fine sand – medium sand). Pada kandungan foraminifera terdapat Alveoolina fiosculina (Loeblich dan Tappan), Amphistegina lessoni (d’Orbigny), Quenloculina sp. Berdasarkan loss on ignition (LOI) kandungan karbonat pada dataran pantai memiliki presentase 9 % dan kandungan karbon pada bagian pasang maksimum pantai 1.5 %. Sedangkan kandungan mineralogi terdapat mineral kuarsa, amfibol, magnetit, dan ilmenit. Kata Kunci : Granulometri, foraminifera, LOI, mineralogi, perairan Binuangeun. | The research area located at coordinates E 105.9060 - 106.0260 E / S 6.852860 - 6.812390 S. Binuangeun coastal areas are geographically located in the south western part of Java Island overlooking the Indian Ocean, and administratively part of the province of Banten, There morphological appearance of interest in this area, namely the existence of morphological units bund beach (beach ridges) with a pattern parallel to the coastline along the coast Binuangen. Within the classification of clastic depositional environment in coastal areas based process, Boyd et al. (1992). From the results of sediment samples coastal and shallow marine sediment (sediment surface) obtained by granulometri analysis found that size varies with the value of 2 ф - 3 ф (fine sand - sand medium). On the content contained foraminifera Alveolina fiosculina (Loeblich dan Tappan), Amphistegina lessoni (d’Orbigny), Quenloculina sp. Based on the loss on ignition (LOI) on the carbonate content of the coastal plain has a percentage of 9% and the carbon content at the maximum tide the beach is 1.5%. While there mineralogical content of mineral quartz, amphibole, magnetite, and ilmenite. Keywords : Granulometri, foraminifera, LOI, mineralogy, and Binuangeun waters | |
| 13231 | 16568 | D1E011175 | PENGARUH PENGGUNAAN FITOBIOTIK DALAM PAKAN TERHADAP BOBOT DAN PRESENTASE BOBOT HATI, EMPEDU, DAN PANKREAS PADA ITIK DAN ENTOK | Abstrak Penelitian berjudul “Pengaruh Penggunaan Fitobiotik Dalam Pakan Terhadap Bobot dan Persentase Bobot Hati, Empedu, Pankreas pada Itik dan Entok”. Penelitian dilaksanakan mulai tanggal 7 Agustus 2015 sampai tanggal 8 Oktober 2015 di desa Dukuhwaluh, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suplementasi fitobiotik dalam pakan terhadap bobot dan presentase bobot hati, empedu, dan pankreas dengan level 3%. Metode penelitian menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 2 x 5. Faktor pertama adalah jenis unggas air B1 (itik lokal) dan B2 (entok). Faktor kedua adalah suplementasi fitobiotik yang terdiri atas P0 (pakan basal), P1 (pakan basal ditambah bawang putih 3%), P2 (pakan basal ditambah kunyit 3%), P3 (pakan basal ditambah jahe 3%) dan P4 (pakan basal ditambah kencur 3%). Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa interaksi berpengaruh tidak nyata (P>0,05), jenis sepesies berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap bobot hati dan pankreas, penggunaan fitobiotik berpengaruh nyata (P<0,05). kesimpulan bahwa bobot hati dan pankreas entok lebih tinggi dari bobot hati dan pankreas itik. pemberian fitobiotik dalam pakan dapat meningkatkan bobot hati dan bobot pankreas pada itik dan entok Penggunaan fitobiotik bawang putih dalam pakan mampu meningkatkan bobot hati, dan bobot pankreas. | Abstract The research entitled "The Effect of Fitobiotics addition In Feed On Weight and presentage of Liver, Gall bladder, and Pancreas of ducks and muscovy ducks" was conducted on August 7th, 2015 until October 8th, 2015 in the Dukuhwaluh village, Kembaran Districts, Banyumas, Province of Central Java. This research aims to determine the effect of supplementation fitobiotik in the feed to the weights and the weight percentage of the liver, gall bladder, and pancreas with the 3% level. . The research method was experimental method by using a completely randomized design (CRD) factorial 2 x 5. The first factor was species consist of B1 (duck) and B2 ( muscovy duck) and the second factor was fitobiotic suplementation of ducks and muscovy ducks that was P0 (feed basal), P1 (feed basal plus garlic 3%), P2 (feed basal plus turmeric 3%), P3 (feed basal plus ginger 3%) and P4 (feed basal plus kaempferia galanga 3%). The results of analysis of variance showed that the interaction effect was not significant (P> 0.05), the type of species is highly significant (P <0.01) on the weight of the liver and pancreas, the use fitobiotik significant (P <0.05). Based on the results of this research concluded that the weight of the liver and pancreas muscovy duck higher than the weight of duck liver and pancreas. Addition of fitobiotics in feed could increase the liver and pancreas weights in ducks and muscovy duck, but could not effect gall bladder and liver weight percentage, the percentage weight of gall bladder and pancreatic weight percentage. The use of Fitobiotics garlic in the feed is able to increase the liver and pancreas weights. | |
| 13232 | 16500 | A1M012048 | PENGARUH METODE DAN WAKTU FERMENTASI TERHADAP KARAKTERISTIK TEPUNG AMPAS KELAPA TERMODIFIKASI | Kualitas tepung ampas kelapa berpotensi untuk ditingkatkan melalui fermentasi pada metode serta waktu inkubasi tertentu. Penentuan ini dilakukan dengan menguji pengaruh faktor tersebut terhadap karakteristik tepung. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mempelajari pengaruh metode dan waktu fermentasi dalam modifikasi tepung ampas kelapa terhadap kualitas tepung ampas kelapa yang dihasilkan; dan 2) Menentukan metode dan waktu fermentasi yang dapat menghasilkan tepung ampas kelapa termodifikasi terbaik berdasarkan karakteristik fisikokimianya. Faktor yang dicoba terdiri dari; metode yang meliputi perendaman (A), fermentasi dengan ragi tape 0,1% (B1) dan 0,5% (B2), serta ragi tempe 0,1% (C1) dan 0,5% (C2); serta waktu fermentasi yang terdiri dari 8 jam (T1), 16 jam (T2), dan 24 jam (T3). Variabel yang diuji meliputi kadar air, derajat putih dan rendemen. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis ragam, apabila diperoleh hasil berbeda nyata diuji lanjut dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT). Data yang diperoleh juga diuji menggunakan indeks efektivitas dengan urutan prioritas pembobotan berupa kadar air, derajat putih dan rendemen, untuk memilih sampel dengan nilai-nilai tertinggi. Sampel terpilih selanjutnya diuji pada variabel kadar protein, abu, lemak, karbohidrat dan serat kasar. Hasil analisis menunjukkan bahwa metode fermentasi berpengaruh terhadap kadar air, derajat putih dan rendemen. Metode perendaman menghasilkan tepung dengan derajat putih tertinggi dan rendemen terendah. Fermentasi menggunakan ragi menghasilkan tepung dengan kadar air dan derajat putih yang semakin tinggi, serta rendemen yang semakin rendah seiring peningkatan konsentrasi ragi. Kadar air dan kadar abu terbaik diperoleh pada B1T3 dengan nilai 3,68% dan 0,95%; kadar protein terbaik diperoleh pada C1T3 dengan nilai 5,18%; kadar lemak dan kadar serat terbaik diperoleh pada B1T2 dengan nilai 57% dan 64,18%; kadar karbohidrat terbaik diperoleh pada AT1 dengan nilai 38,56%; derajat putih terbaik diperoleh pada AT3 dengan nilai 68,05%; dan rendemen terbaik diperoleh pada C2T2 dengan nilai 18,69%. | Quality of coconut flour has a potential to be improved by fermentation through certain method and incubation time. This determination is done by testing the effect of these factors on characteristic of the flour produced. Objectives of this study are: 1) To study effect of fermentation method and incubation time on coconut flour modification, and their interaction effect on quality of coconut flour produced; 2) To determine fermentation method and incubation time which produce coconut flour with best physicochemical characteristics. The factors tried were; fermentation methods that consist of: soaking (A), fermentaion using “tape” yeast of 0.1% (B1) and 0.5% (B2), and fermentaiton using “tempe” yeast of 0.1% (C1) and 0.5% (C2); and fermentation times that consist of: 8 h (T1),16 h (T2), and 24 h (T3). Variables observed consist of moisture content, whiteness and yield. The observed datas were analyzed with analysis of variance and if the results is significally different, it futher tested using Duncan Multiple Range Test (DMRT. The observed datas also analyzed by efectivity index based on order of priority by moisture content, whiteness and yield, to choose samples with best scores. Then, the choosen samples were analyzed for their protein content, fat content, ash content, carbohydrate content and crude fiber content. The result revealed that fermentation method of coconut pulp were affect to water content, whiteness and yield of modified coconut flour produced. Soaking method was produced the highest whiteness and lowest yield. The more yeast used, the higher moisture content and whiteness, also lower yield produced. The best moisture and ash content obtained from B1T3 which scored 3.68% and 0.95%; the best protein content obtained from C1T3 which scored 5.18%; the best fat and fiber content obtained from B1T2 with scored 57% and 64.18 %; the best carbohydrate content obtained from AT1 which scored 38.56%; the best whiteness obtained from AT3 which scores 68.05%; and the best yield obtained from C2T2 which scored 18.69 %. | |
| 13233 | 16571 | A1L012163 | PERTUMBUHAN DAN HASIL KLON KENTANG (Solanum tuberosum L.) HASIL MUTASI G2 DI DATARAN MEDIUM | Penelitian ini dilakukan dengan tujuan 1) mengetahui pertumbuhan varietas kentang keturunan pertama hasil mutasi, 2) mengetahui hasil varietas kentang hasil mutasi dan 3) mengetahui klon kentang mutan terbaik di dataran medium. Penelitian dilaksanakan di Bulan Desember 2015 sampai bulan April 2016, bertempat di Desa Ketenger dengan ketinggian 552 mdpl, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas. Penelitian menggunakan rancangan bersekat (Augmented Design) dengan rancangan dasar Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial. Perlakuan yang dicoba adalah umbi hasil mutasi sebanyak 52 knol. Variabel yang diamati meliputi persentase tanaman hidup, tinggi tanaman, jumlah batang, diameter batang, jumlah daun, bobot tanaman segar, bobot tanaman kering, susunan daun, warna daun, jumlah daun menyimpang, jumlah umbi, diameter umbi, bentuk umbi, bobot total umbi per tanaman, warna kulit umbi, dan kebiasaan tumbuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan hanya berpengaruh pada bobot total umbi per tanaman. Mutan kentang yang memiliki kecenderungan unggul dari segi tinggi tanaman adalah D1G3, jumlah batang dan jumlah daun adalah D2A11, bobot tanaman segar adalah D1G2 dan bobot tanaman kering adalah D1G2, diameter umbi adalah D2G2, D1G10, D1M5 dan D2A11, jumlah umbi adalah D1G1, D2G2 dan D2M11, dan bobot total umbi per tanaman adalah D1G3 dan D2G2, Karakter kualitatif berdasarkan variabel bentuk umbi diperoleh varietas atlantik dari bentuk bundar menjadi short-oval (D2A11), mutan granola terdapat perubahan bentuk yaitu tipe bundar (D2G8, D2G2, D1G4, D2G7 dan D1G1), tipe long-oval ( D1G12), dan tipe oval (D1G1) Varietas MZ memiliki prubahan bentuk umbi dari bentuk ¬oval menjadi bentuk short-oval. Berdasarkan variabel warna kulit umbi tidak ada perbedaan pada mutan dan varietas cek. Berdasarkan variabel warna daun terjadi perubahan pada mutan atlantik yaitu dari hijau terang menjadi hijau sedang. Pada variabel kebiasaan tumbuh terjadi perubahan pada varietas atlantik dari agak tegak menjadi tegak dan belum ada mutan dari keturunan pertama yang melebihi varietas cek. | This study was conducted with the purpose of 1) determine the growth of potato varieties first offspring result of mutation, 2) know the results of the mutated potato varieties and 3) determine the best clones mutant potato in medium plain. The research conducted in the months of December 2015 through April 2016, located in the village of Ketenger with a height of 552 meters above sea level, Baturraden subdistrict, Banyumas. The study design was partitioned(AugmentedDesign)with the basic design of a randomized block design (RBD) non factorial. Treatment was attempted tuber result of mutation as much as 52 knol. The observed variables include the percentage of living plants, plant height, stem number, stem diameter, number of leaves, the weight of fresh plants, weight of dried plants, leaf arrangement, leaf color, leaf number deviates, tuber number, diameter bulb, tuber shape, the total weight of tubers per plant, tuber skin color and growth habit. The results showed that the treatment only affects the total weight of tubers per plant. Mutants potatoes that have a tendency to excel in terms of plant height is D1G3, the number of stems and leaves are D2A11, the weight of fresh plants is D1G2 and weight of dried plants is D1G2, the diameter of the bulbs is D2G2, D1G10, D1M5 and D2A11, the number of tubers is D1G1, D2G2 and D2M11, and the total weight of tubers per plant is D1G3 and D2G2, Character qualitative based variable tuber shape obtained varieties Atlantic from a circular shape into a short-oval (D2A11), mutant granola there are changes in the form that is the type of round (D2G8, D2G2, D1G4, D2G7 and D1G1), the type of long-oval (D1G12), and the type of oval (D1G1) varieties MZ has Interchangeability tuber shape of an oval shape into ashape. short-ovalBased on the tuber skin color variable was no difference in the mutant and the check varieties. Based on the variable leaf color changes on the Atlantic mutant that is from bright green to green medium. In the variable growth habit changes on varieties Atlantic on a little straighter be upright and no mutant from the first offspring that exceeds varieties checks. | |
| 13234 | 16572 | H1H012022 | EVALUASI PERTUMBUHAN DAN SURVIVAL RATE BENIH IKAN CUPANG (Betta splendens) TRANSGENIK CcBA-PhGH DENGAN PENAMBAHAN HORMON PERTUMBUHAN REKOMBINAN SECARA ORAL | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh rGH terhadap pertumbuhan, survival rate dan pola pemberian rGH yang paling tepat melalui metode oral pada benih ikan cupang transgenik dan non transgenik. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias Depok, pada bulan Februari-April 2016. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial 8 perlakuan dan 3 kali ulangan dengan dua faktor, yaitu faktor strain ikan (transgenik dan non transgenik) dan pola pemberian rGH (Perlakuan A tanpa perlakuan (kontrol), B pemberian rGH setiap hari sebanyak 1x dalam sehari, C pemberian rGH setiap 2 hari sekali sebanyak 2x dalam sehari, D pemberian rGH setiap 3 hari sekali sebanyak 3x dalam sehari). Pemberian rGH dengan dosis 30 µL /L artemia dan 30 µL /kg pakan dengan interval waktu yang. rGH yang digunakan berasal dari ikan kerapu kertang (ElrGH). Parameter yang diamati dalam penelitian ini meliputi berat dan panjang, berat dan panjang mutlak, specific growth rate dan survival rate. Hasil dari ANOVA menunjukkan bahwa pemberian rGH secara oral terhadap hasil berat dan panjang, berat dan panjang mutlak serta specific growth rate tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05), sementara itu hasil survival rate memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05). Hasil paremeter kualitas air meliputi suhu, DO, pH dan amonia masih dalam kisaran yang dapat ditolerir. | This study aims to determine the effect of rGH on growth, survival rate and feeding patterns exactly through the oral method in fry of transgenic and non-transgenic betta fish. The activities were conducted in Ornamental Fish Development and Research of Depok, on Februari until April 2016. The experiment was done using a two-factorial design in a Completely Randomized Design 8 treatments and 3 replications, the first factor in this experiment was fish strain (transgenic and non transgenic) and feeding patterns of rGH (treatment A without treatment (control), B provision of rGH once a day for 6 days, C provision of rGH twice a day for every two days, D provision of rGH third a day for every three days). The dose of rGH were 30 µL/L artemia and 30 µL/kg of feed at different time intervals. The recombinant growth hormone (rGH) produced by giant grouper (ElrGH). The parameters observed in this research are weight and length, the absolute of weight and length, specific growth rate and survival rate of transgenic and non-transgenic betta fish. The results of ANOVA showed that provision of rGH oral method on weight and length, the absolute of weight and length and specific growth rate in all treatment and control were similar (P>0,05), meanwhile the results of survival rate is higher than control (p<0,05). The results of water quality parameters during maintenance such as temperature, DO, pH and ammonia are still within the range that can be tolerated. | |
| 13235 | 16573 | A1M012067 | KARAKTERISTIK BISKUIT BERBAHAN UTAMA TEPUNG KOMPOSIT JAGUNG DAN BERAS MERAH DENGAN SUPLEMENTASI TEPUNG KACANG HIJAU GERMINASI | Jagung dan beras merah merupakan tanaman pangan lokal yang banyak dijumpai di Indonesia. Namun demikian, diversifikasi jagung dan beras merah masih belum optimal. Pengolahan jagung dan beras merah menjadi biskuit menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan pemanfaatannya. Penambahan tepung kacang hijau germinasi dapat meningkatkan nilai gizi biskuit. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Menentukan proporsi antara tepung jagung dan tepung beras merah dengan suplementasi tepung kacang hijau germinasi yang tepat agar menghasilkan biskuit yang memiliki sifat fisikokimia dan sensori biskuit terbaik. 2) Menentukan jumlah tepung kacang hijau germinasi terhadap tepung komposit yang optimal agar menghasilkan biskuit dengan karakteristik terbaik. 3) Menentukan kombinasi perlakukan terbaik antara proporsi tepung komposit dan tepung kacang hijau germinasi yang didasarkan pada aspek sifat fisik, kimia dan sensoris biskuit. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun faktorial dengan 9 kombinasi. Perlakuan diulang sebanyak 3 kali ulangan sehingga dihasilkan 27 unit percobaan. Faktor yang amati adalah proporsi tepung jagung: tepung beras merah (J) terdiri atas: 70%:30% (J1); 80%:20% (J2); 90%:10% (J3); proprosi penambahan tepung kacang hijau germinasi (K) terdiri atas: 10% (K1), 15% (K2), 20% (K3). Variabel yang diamati meliputi kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar protein total, kadar protein terlarut, kadar karbohidrat, energy, aroma, tekstur, flavor dan kesukaan. Data dianalisis dengan uji Friedman dan analisis ragam, jika menunjukan adanya pengaruh nyata dilanjutkan dengan perbandingan ganda dan DMRT pada taraf 5%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan 1). Proporsi tepung jagung : tepung beras merah (80%:20%), menghasilkan biskuit yang renyah dan nilai gizi yang tinggi. 2). Proprosi tepung kacang hijau 15% dapat menghasilkan karakteristik terbaik. 3). Kombinasi perlakuan terbaik diperoleh pada perlakuan tepung jagung : tepung beras merah (80%:20%) dengan penambahan tepung kacang hijau germinasi 15%, dengan nilai rata-rata masing-masing variable sebagai berikut: kadar air 2,29%, kadar abu 1,03%, kadar lemak 24,81%, kadar protein total 5,42%, kadar protein terlarut 0,53%, kadar karbohidrat by difference 66,44%, energi 510,74 kkal, tekstur 2,8 (renyah), aroma jagung 1,9 (agak terasa), flavor 2,6 (enak), dan tingkatan kesukaan 2,7 (disukai). | Corn and brown rice are local food plant which is many found in Indonesia. However, the diversification of corn and brown rice have not optimally used. Processing of corn and brown rice into biscuits can be an alternative to improve utilization. The addition of germinated mung bean flour can increase nutrional value of biscuits. This research aims to: 1) determine the proportion between corn flour and brown rice flour with supplementation of germinated mung bean flour which is appropriate in order to produce biscuits that have the best physical, chemical and sensory characteristics. 2) determine the amount of germinated mung bean flour toward an optimal composite flour in order to produce best characteristic of biscuits. 3) Determine the combination between the proportion of composite flour and germinated green been flour on physical, chemical and sensory characteristics of biscuits. The experimental design was Randomized Block Design with nine treatments combination that replicated three time, so there were 27 experimental unit. Factor observed were the proportions of corn flour: brown rice flour (J) : 70%:30% (J1); 80%:20% (J2); 90%:10% (J3); and the proportions of germinated mung bean flour addition (K) : 10% (K1), 15% (K2), 20% (K3). Variable observed were water content, ash content, fat content, total protein content, soluble protein content, carbohydrate content, energy, texture, aroma, flavor and preference. The result of this experiment could be concluded as: 1) Proportion of corn flour : brown rice flour (80%:20%), produce biscuits that is crunchy and have high nutrition value. 2) Proportion germinated mung been flour 15% can produce the best characteristics. 3) The combination proportion of corn flour : brown rice flour (80%:20%) which the addition of germinated mung bean flour 15%, produced the best biscuit with : 2,29% water content, 1,03% ash content, 24,81% fat content, 5,42% protein total content, 0,53% soluble protein content, 66,44% carbohydrate content by difference, 510,74 kkal energy, texture 2,8 (crunchy), corn aroma 1,9 (quite not strong), flavor 2,6 (delicious), and preference 2,7 (preferably). | |
| 13236 | 16574 | H1G011008 | JENIS, NISBAH KELAMIN DAN DISTRIBUSI PANJANG IKAN PARI YANG DIDARATKAN DI TPI TEGALSARI TEGAL JAWA TENGAH | Skripsi yang berjudul “Jenis, Nisbah Kelamin dan Distribusi Panjang Ikan Pari Yang Didaratkan di TPI Tegalsari Tegal Jawa Tengah" bertujuan untuk mengetahui jenis, nisbah kelamin dan distribusi frekuensi panjang ikan pari yang didaratkan di TPI Tegalsari, Tegal Jawa Tengah. Skripsi dilakukan dengan menggunakan metode survei melalui observasi dan wawancara dalam pengumpulan data primer dan sekunder. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan November dan Desember sebanyak 11 kali pengambilan sampel dengan teknik simple random sampling. Data dianalisis dengan uji chisquare dan analisis deskriptif yang disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Hasil yang diperoleh menunjukkan terdapat 2 jenis ikan pari yang tertangkap dan didaratkan di TPI Tegalsari selama penelitian yaitu Dasyatis zugei dan Dasyatis kuhlii dengan nisbah kelamin seimbang pada tiap bulan dan ikan tertangkap tergolong ikan masih muda dan belum matang gonad. Kata kunci : Ikan pari, jenis, nisbah kelamin, distribusi panjang | The entitled research is “The type, sex ratio and long distribution of stingray that landed at the fish auction Tegalsari, Tegal City Central Java” The research aimed to determine how type, sex ratio and long distribution of stingray that landed at the fish auction Tegalsari, Tegal City Central Java. Survey used observation and interview in the primary and secondary data collection. Sampling was carried out in November and December for 11 days as much as 11 times sampling with simple random sampling technique. Datas were analyzed by chisquare test and descriptively in tables and graphs. The results showed that there were two kinds of rays which are caught and landed at the fish auction Tegalsari for research that Dasyatis zugei and Dasyatis kuhlii with the sex ratio that not different in every month, and the fish were caught relatively young fish and immature gonads. Key words : Stingray, type, sex ratio, long distribution | |
| 13237 | 16576 | C1A011035 | Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Foreign Direct Investment Di Indonesia Tahun 2010-2014 | Indonesia merupakan negara berkembang dimana dalam proses pembangunannya dibutuhkan dana yang sangat besar, salah satu sumbernya dapat diperoleh melalui investasi asing langsung . Masuknya investasi asing ke suatu negara disebabkan oleh beberapa faktor yang ada di negara tujuan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh PDRB, BI RATE, Inflasi, Nilai Tukar, UMR, dan Nilai Total Ekspor terhadap Foreign Direct Investment tahun 2010-2014. Teknik analisis kuantitatif dalam penelitian ini menggunakan regresi data panel model Random Effect. Data yang digunakan dalam penelitian ini mencakup 31 provinsi yang ada di Indonesia dengan jumlah cross section adalah 31 provinsi dan time series selama 5 tahun dari tahun 2010-2014 Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) PDRB, UMR, Nilai tukar, Ekspor berpengaruh positif dan signifikan terhadap Foreign Direct Investment di Indonesia sedangkan BI RATE dan Inflasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Foreign Direct Investment pada tahun 2010-2014 2)Variabel nilai tukar merupakan variabel yang paling berpengaruh terhadap masuknya Foreign Direct Investment ke Indonesia. | Indonesia is developing countries where in the process of the development require very large fund, one of the source be in accordance with foreign direct investment.The entry of foreign investment into a country caused by several factors in the destination country.The purpose of this research is to analyze the influence of GDP, BI RATE, Inflation, Exchange Rates, Minimum Wage, and Total Value Of Exports to Foreign Direct Investment from 2010-2014. Technique the quantitative analysis in this research using panel data regression by random effect model.The data used in this research includes 31 provinces in indonesia by the number of cross section is 31 provincial and time series for five years from year 2010-14 The result showed that 1 ) GDP , Local Minimum Wage , Exchange Rate , Exports have had a positive impact and significantly to Foreign Direct Investment in indonesia while the BI RATE and Inflation rate have negative effects and significantly to foreign direct investment in the year 2010-2014. 2 ) Exchange Rate has the most influence variable against the inflow of Foreign Direct Investment to indonesia . | |
| 13238 | 16577 | F1I011043 | PERAN UNITED NATION MISSION IN NEPAL (UNMIN) DALAM OPERASI PEACEKEEPING PASCA PERANG SIPIL TAHUN 2007-2011 | United Nation Mission in Nepal (UNMIN) merupakan misi politik khusus yang dibentuk oleh PBB untuk membantu menstabilkan keadaan Nepal pasca perang sipil dengan melakukan operasi peacekeeping. UNMIN dibentuk atas permintaan negara Nepal sendiri. Peran UNMIN sebagai misi perdamaian khusus, secara umum membantu Nepal dalam mengawasi, membantu dan mendampingi pihak-pihak yang bertikai untuk melaksanakan proses menuju perdamaian sesuai dengan perjanjian yang telah dibuat. Dalam hal ini, UNMIN membantu pengawasan dan pelaksanaan perjanjian oleh pemerintah Nepal, Aliansi Partai Nepal dan Maois yang mengacu pada konstitusi 1990. Penelitian ini menggunakan konsep International peacekeeping operation, yang mana UNMIN sebagai AD HOC (organisasi yang di bentuk untuk satu tujuan) oleh PBB untuk melaksanakan operasi peacekeeping. Dalam operasi peacekeeping UNMIN melakukan dua upaya yaitu dalam bidang militer yakni: pendampingan implementasi perjanjian damai, memonitoring gencatan senjata dan dukungan kekuatan, menciptakan suasana aman, mencegah terjadinya penyebaran konflik, menuntun negara atau wilayah selama transisi untuk pemerintahan yang stabil, mengelola wilayah transisi. Sedangkan dalam bidang sipil antara lain; Membantu pihak-pihak yang sudah tidak berselisih untuk menjalankan perjanjian damai tersebut, memberikan dukungan kemanusiaan, membantu dalam perlucutan senjata, demobilisasi dan reintegrasi mantan kombatan, mengawasi pemilu, membuat peraturan kapasitas hukum berdasarkan asas demokrasi, mengkampanyekan hak asasi manusia, mengawal perbaikan ekonomi negara, mengatur pemerintahan transisi sebagai suatu wilayah bergerak menuju kemerdekaan. Hasil dari penelitian ini antara lain mendeskripsikan dan menganalisa peran UNMIN sebagai peacekeeper pasca perang sipil di Nepal tahun 2007 sampai 2011. UNMIN melakukan dua kegiatan dalam operasi peacekeeping-nya yaitu dalam kegiatan militer dan sipil. Dalam dua kegiatan tersebut UNMIN melakukan tugasnya guna menstabilkan keadaan Nepal. Akan tetapi UNMIN tidak dapat melakukan tugasnya secara maksimal, terdapat beberapa aktivitas yang tidak dapat dilakukan oleh UNMIN secara mendalam dikarenakan terbatasnya pergerakan UNMIN di Nepal serta mandat waktu yang diberikan oleh PBB. | United nation mission in Nepal (UNMIN) is a political mission which formed by United Nations for helping Nepal to stabilize the condition of the country after civil war with doing peacekeeping operation. UNMIN was formed by Nepal request. As a special mission for peacekeeping, in general, UNMIN helped Nepal for supervising and assist the hostile parties to apply the agreement of peace process which had been signed between Nepal Government, Seven Alliance Parties, and Maois based on 1990s constitution. This research uses international peacekeeping operation concept which is UNMIN plays a role as ad hoc by United Nation to do peacekeeping operation. On thus peacekeeping operation, UNMIN did two kinds of means which were on military method such as assisted the implementation of peace agreement, oversee the ceasefire, provide safe atmosphere, prevent conflict, and lead countries or regions during the transition to stable government, manage the transition region. Then, for the civil field, UNMIN help those sides implement the agreements, giving support for humanity, oversee the election, campaign for human rights, oversee the country’s economical growth and helping the movement of transition to being an independent country. The results of this research are; describing and analyze the role of UNMIN as peacekeeper after the civil war in Nepal in year 2007 until 2011. UNMIN did two kinds of operations for this mission such as military and civil activities. With these kinds of operation, UNMIN help Nepal to stabilize the country. However, UNMIN could not do the mandate maximal caused by any limitation and time limitation from the UN. | |
| 13239 | 16580 | E1A012144 | PENERAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) BERDASARKAN PASAL 74 UU NO. 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS DI PT. ANTAM (PERSERO) JAKARTA | Penelitian ini mengambil judul “Penerapan Corporate Social Responsibility Berdasarkan Pasal 74 UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas di PT. ANTAM (Persero) Jakarta.” Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) berdasarkan Pasal 74 UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas di PT. Antam (Persero) Jakarta. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif dengan analisis secara normatif kualitatif. Metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan studi kepustakaan dan wawancara sebagai data pendukung. Data yang terkumpul kemudian disajikan dalam bentuk teks naratif dan disusun secara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PT. ANTAM telah melaksanakan ketentuan Pasal 74 mengenai Tanggung Jawab Sosial Lingkungan/Corporate Social Responsibilitydi sekitar wilayah perusahaan dengan baik. Hal ini terbukti dengan perusahaan melaksanakan program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan yang berupa Program Kemitraan dan Program Bina Lingkungan, dan dengan adanya program-program tersebut perusahaan mendapatkan respon positif dari masyarakat. | This research entitled “Implementation of Corporate Social Responsibility based on law of the Republic Of Indonesia Number 40 OF 2007 Concering Limited Liability Companies at PT. ANTAM (Persero) Jakarta”. This thesis purpose is to know the application of Corporate Social Responsibility based on law of the Republic Of Indonesia Number 40 OF 2007 Concering Limited Liability Companies at PT. ANTAM (Persero) Jakarta. The methods that been used in this thesis is normative-juridical-with qualitative-normative analysis. The data collecting methods conducted with using literature studies and interviews as supporting data. Then the collected data is presented in narrative text and structures systematicly. This research shows that PT. ANTAM (Persero is already good in implementating provisions of article 74 regarding social responsibility environment/CSR around the company surroundings. This proven by the company that implementating social responsibility environment with partnership program and community development program, and with those program the company gained a positive response from the society. | |
| 13240 | 16581 | A1L012175 | Perkembangan Mikoriza dan Pertumbuhan Tanaman Jagung pada Berbagai Dosis Pupuk Hayati Mikoriza dan Kompos Azolla | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan mikoriza pada tanaman inang jagung, dengan pupuk hayati mikoriza dan kompos azolla serta mengetahui komposisi pupuk hayati mikoriza dan kompos azolla yang paling efektif untuk pertumbuhan tanaman jagung. Penelitian dilaksanakan di screen house Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman mulai bulan April sampai Juli 2016. Percobaan dilakukan dengan menggunakan rancangan Central Composite Second Order Design (CCSOD), terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah dosis pupuk hayati mikoriza, yaitu 4g/pot, 8g/pot 12g/pot,16g/pot, 20g/pot. Faktor kedua adalah dosis kompos azolla, yaitu 3g/pot, 6g/pot, 9g/pot, 12g/pot, 15g/pot. Penentuan perlakuan menggunakan rancangan oktagon atau segi delapan dan pada titik pusat diulang sebanyak lima kali, sehingga diperoleh 13 fraksi kombinasi dosis perlakuan yang dicoba. Variabel yang diamati meliputi presentase infeksi mikoriza, jumlah spora, tinggi tanaman inang jagung, jumlah daun, bobot tajuk segar, dan bobot tajuk kering. Hasil analisis menggunakan Respon Surface Methodology (RSM) menunjukkan bahwa perlakuan pupuk hayati mikoriza dan kompos azolla memberikan pengaruh yang sama terhadap semua variabel pengamatan. Berdasarkan hasil penelitian dosis paling tepat pupuk hayati mikoriza dan kompos azolla adalah 4g pupuk hayati mikoriza dan 3g kompos azolla per pot. | This research aims to study mychorrhiza development on host plant corn, with variations combination of mychorrhiza biofertilizer and azolla compost, knowing the most effective combination for corn development of mychorrhiza biofertilizer and azolla compost. The research was conducted in screen house of Faculty of Agriculture, University of Jenderal Soedirman from April until July 2016. This research using Central Compposite Second Order Design (CCSOD), which consisting of 2 factor. Firs factor is dose of mychorriza biofertilizer, 4g/pot, 8g/pot, 12g/pot, 20g/pot. Second factor is azolla compost, 3g/pot, 6g/pot, 9g/pot, 12g/pot, 15g/pot. Determine the combination treatment used by agular coordinate of octagonal five replication, so it was obtained 13 combination treatment. Observer variabel were mychorriza infection, amount of mychorrhiza spore, plant height, number of leaf, fresh and dry of shoot. The result of analysis from Respon Surface Methodology (RSM) showed the combination of mychorrhiza biofertilizer and azolla compost was given the same effect for all the observed variabel. Based on these results optimal dose of mychorriza biofertilizer and azolla compost is a 4g mychorrhiza biofertilizer and 3g azolla compost per pot. |